Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH MANAJEMEN FARMASI

PERIZINAN APOTEK

KELOMPOK 2 KELAS E :
AHMAD SAUCI
DINA SELVIA
EVIKA RAHARDINI
IJJAT
NURUL FARIDA

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL


PROFESI APOTEKER
JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul PERIZINAN APOTEK

Makalah ini berisikan tentang Syarat Pendirian, Syarat Perizinan Dan Alur Perizinan Apotek.
Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang Perzinan
Apotek.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah
ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai
segala usaha kita. Amin.

Jakarta, September 2017

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh
Apoteker. Pekerjaan Kefarmasian meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan
Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat,
pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Perbekalan kesehatan adalah semua
bahan dan peralatan yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yaitu suatu
usaha untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan.
Fungsi apoteker sebagai pengelola apotek (APA) adalah :

1. Pemodal
Apoteker menghendaki adanya laba dan modal yang dikeluarkan cepat kembali.
2. Pengelola
Apoteker bertanggung jawab terhadap kelangsungan berjalannya apotek.,
3. Penanggung jawab teknis farmasi
Apoteker mengawasi pelayanan resep dan mutu obat yang dijualnya, memberikan
pelayanan informasi obat, serta membuat laporan mengenai obat-obat khusus.

Tugas apoteker sebagai APA adalah sebagai informan, oleh karena itu seorang apoteker
haruslah bertindak sebagai orang yang paling pintar di apotek. Apotekerlah yang memberikan
penjelasan, jawaban kepada pasien maupun para petugas apotek, terutama asisten apoteker.
Selain itu berhubungan dengan adanya tanggung jawab terhadap mutu obat di apotek, maka
apoteker harus sumber-sumber pembelian dan para pembeli obat sebagai lalu lintas obat. Tugas
lain apoteker adalah mematuhi peraturan perundang-undangan farmasi, serta membuat laporan
bulanan narkotika, obat KB, alat suntik, dll.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017


Tentang Apotek pasal 11 disebutkan bahwa Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian wajib
memiliki surat izin praktik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Setiap
pendirian Apotek wajib memiliki izin dari Menteri. Menteri melimpahkan kewenangan
pemberian izin kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Izin sebagaimana dimaksud
berupa SIA. Dalam hal pemerintah daerah menerbitkan SIA, maka penerbitannya bersama
dengan penerbitan SIPA untuk Apoteker pemegang SIA. Masa berlaku SIA mengikuti masa
berlaku SIPA
BAB II
ISI

A. Syarat Pendirian Apotek


Syarat umum pendirian apotek meliputi :
1) Apoteker dapat mendirikan Apotek dengan modal sendiri dan/atau modal dari
pemilik modal baik perorangan maupun perusahaan.
2) Dalam hal Apoteker yang mendirikan Apotek bekerjasama dengan pemilik
modal maka pekerjaan kefarmasian harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh
Apoteker yang bersangkutan.
Pendirian Apotek harus memenuhi persyaratan, meliputi:
1) Lokasi
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat mengatur persebaran Apotek di
wilayahnya dengan memperhatikan akses masyarakat dalam mendapatkan
pelayanan kefarmasian.
2) Bangunan
Bangunan Apotek harus memiliki fungsi keamanan, kenyamanan, dan
kemudahan dalam pemberian pelayanan kepada pasien serta perlindungan dan
keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak, dan
orang lanjut usia. Bangunan Apotek harus bersifat permanen. Bangunan bersifat
permanen yang dimaksud adalah dapat merupakan bagian dan/atau terpisah dari
pusat perbelanjaan, apartemen, rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan
bangunan yang sejenis.

3) Sarana, prasarana, dan peralatan


Bangunan Apotek paling sedikit memiliki sarana ruang yang berfungsi:
a. penerimaan Resep
b. pelayanan Resep dan peracikan (produksi sediaan secara terbatas)
c. penyerahan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
d. konseling
e. penyimpanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatandan
f. arsip.
Prasarana Apotek paling sedikit terdiri atas:
a. instalasi air bersih;

b. instalasi listrik

c. sistem tata udaradan

d. sistem proteksi kebakaran.


Peralatan Apotek meliputi semua peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
pelayanan kefarmasian. Peralatan antara lain meliputi rak obat, alat peracikan,
bahan pengemas obat, lemari pendingin, meja, kursi, komputer, sistem
pencatatan mutasi obat, formulir catatan pengobatan pasien dan peralatan lain
sesuai dengan kebutuhan. Formulir catatan pengobatan pasien merupakan
catatan mengenai riwayat penggunaan Sediaan Farmasi dan/atau Alat
Kesehatan atas permintaan tenaga medis dan catatan pelayanan apoteker yang
diberikan kepada pasien

4) Ketenagaan.
Apoteker pemegang SIA dalam menyelenggarakan Apotek dapat dibantu oleh
Apoteker lain, Tenaga Teknis Kefarmasian dan/atau tenaga administrasi.
Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian wajib memiliki surat izin praktik
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
Dalam upaya membuka apotek yang baru berdiri, sering kali tertunda yang
disebabkan oleh hal hal kecil baik yang terdapat dalam proses pemeriksaan kelengkapan
sarana pendukung operasional apotek ataupun kelengkapan berkas - berkas lampiran dalam
mengajukan permohonan SIA. Untuk menghindari kekurangan kekurangan tersebut, maka
sebaiknya APA melakukan 3 hal yaitu :

1. Menginventarisasi semua kebutuhan perlengkapan sarana apotek, lalu membeli sesuai


dengan kebutuhan persyaratan pada saat mengurus SIA. Dalam melakukan inventarisasi
dan menyiapkan perlengkapan sarana apotek antara lain meliputi :
a. Menata ruangan peracikan dan penyerahan obat, ruang administrasi dan ruang kerja
APA, toilet
b. Memenuhi seluruh perlengkapan yang menjadi persyaratan
c. Memberi tanda ( ) untuk sarana yang sudah siap ( oke )
2. Menginventarisasi dan mengurus semua berkas berkas lampiran yang dibutuhkan dalam
mengajukan permohonan SIA.
a. Menginventarisasi berkas lampiran permohonan SIA
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9
Tahun 2017 Tentang Apotek berkas lampiran yang dibutuhkan dalam permohonan
SIA terdiri dari :
fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli

fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)

fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker

fotokopi peta lokasi dan denah bangunandan

daftar prasarana, sarana, dan peralatan


b. Mengurus dan memperoleh berkas lampiran permohonan SIA adalah sebagai berikut:
NPWP ( nomor pokok wajib pajak ) apotek
Apoteker menyiapkan lampiran ( surat keterangan domisili usaha, fotokopi
KTP APA dan berkas lainnya yang dibutuhkan ), kemudian APA membawa
berkas lampiran tersebut ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak untuk memperoleh
NPWP. Kepala kantor pelayanan pajak akan menerbitkan NPWP tersebut,
setelah dianggap memenuhi berkas persyaratan
Peta lokasi apotek (dibuat sendiri)
Denah bangunan apotek (dibuat sendiri)
B. Syarat Perizinan Apotek
Setiap pendirian Apotek wajib memiliki izin dari Menteri. Menteri melimpahkan
kewenangan pemberian izin kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Izin yang
dimaksud adalah berupa SIA (Surat Izin Apotek). SIA berlaku 5 (lima) tahun dan dapat
diperpanjang selama memenuhi persyaratan.
Untuk memperoleh SIA, Apoteker harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dengan menggunakan Formulir 1. Dalam
mengajukan permohonan izin Apotek terdapat syarat administratif yang harus
dilampirkan, yaitu :
a. fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli
b. fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)
c. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker
d. fotokopi peta lokasi dan denah bangunandan
e. daftar prasarana, sarana, dan peralatan
C. Alur Perizinan Apotek
Berikut alur peizinan apotek Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
9 Tahun 2017 Tentang Apotek :
(1) Untuk memperoleh SIA, Apoteker harus mengajukan permohonan tertulis kepada
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dengan menggunakan Formulir 1.

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus ditandatangani oleh
Apoteker disertai dengan kelengkapan dokumen administratif meliputi:

a. fotokopi STRA dengan menunjukan STRA asli

b. fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP)

c. fotokopi Nomor Pokok Wajib Pajak Apoteker

d. fotokopi peta lokasi dan denah bangunandan

e. daftar prasarana, sarana, dan peralatan.


(3) Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak menerima permohonan dan
dinyatakan telah memenuhi kelengkapan dokumen administratif sebagaimana
dimaksud pada ayat (2), Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota menugaskan tim
pemeriksa untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan Apotek
dengan menggunakan Formulir 2.
(4) Tim pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus melibatkan unsur dinas
kesehatan kabupaten/kota yang terdiri atas:
a. tenaga kefarmasian; dan

b. tenaga lainnya yang menangani bidang sarana dan prasarana.


(5) Paling lama dalam waktu 6 (enam) hari kerja sejak tim pemeriksa ditugaskan, tim
pemeriksa harus melaporkan hasil pemeriksaan setempat yang dilengkapi Berita
Acara Pemeriksaan (BAP) kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dengan
menggunakan Formulir 3.
(6) Paling lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja sejak Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota menerima laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan
dinyatakan memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
menerbitkan SIA dengan tembusan kepada Direktur Jenderal, Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi, Kepala Balai POM, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
dan Organisasi Profesi dengan menggunakan Formulir 4.
(7) Dalam hal hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dinyatakan masih
belum memenuhi persyaratan, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota harus
mengeluarkan surat penundaan paling lama dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja
dengan menggunakan Formulir 5.
(8) Tehadap permohonan yang dinyatakan belum memenuhi persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (7), pemohon dapat melengkapi persyaratan paling lambat
dalam waktu 1 (satu) bulan sejak surat penundaan diterima.
(9) Apabila pemohon tidak dapat memenuhi kelengkapan persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (8), maka Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota mengeluarkan
Surat Penolakan dengan menggunakan Formulir 6.
(10) Apabila Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menerbitkan SIA melebihi
jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (6), Apoteker pemohon dapat
menyelenggarakan Apotek dengan menggunakan BAP sebagai pengganti SIA.
Dalam hal pemerintah daerah menerbitkan SIA sebagaimana, maka penerbitannya
bersama dengan penerbitan SIPA untuk Apoteker pemegang SIA. Masa berlaku SIA
mengikuti masa berlaku SIPA.

Perubahan Izin
(1) Setiap perubahan alamat di lokasi yang sama atau perubahan alamat dan pindah
lokasi, perubahan Apoteker pemegang SIA, atau nama Apotek harus dilakukan
perubahan izin.

(2) Apotek yang melakukan perubahan alamat di lokasi yang sama atau perubahan
alamat dan pindah lokasi, perubahan Apoteker pemegang SIA, atau nama Apotek,
wajib mengajukan permohonan perubahan izin kepada Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota.

(3) Terhadap Apotek yang melakukan perubahan alamat di lokasi yang sama atau
perubahan nama Apotek tidak perlu dilakukan pemeriksaan setempat oleh tim
pemeriksa.

(4) Tata cara permohonan perubahan izin bagi Apotek yang melakukan perubahan
alamat dan pindah lokasi atau perubahan Apoteker pemegang SIA mengikuti
ketentuan.
Skema Alur Perizinan Apotek

Apoteker

Mengajukan Izin
Formulir 1 Apotek

Kepala Dinas Kesehatan


Kab/Kota
(Formulir 1)

Formulir 2 6 hari kerja

Tim Dinkes Kab/Kota


(Pemeriksaan)

Formulir 3 6 hari kerja

Pemerintah Daerah Menyelenggarakan


Kab/Kota Apotek dengan
BAP pengganti SIA
12 hari kerja

Belum Memenuhi Tidak


Persyaratan

Formulir 5 Formulir 6
Formulir 4

Surat Penundaan Surat


Surat Izin Penolakan
(diberi kesempatan
Apotek
melengkapi selama
1 bulan)
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2017 Tentang


Apotek