Anda di halaman 1dari 27

Reservasi Perjanjian Internasional

Suatu negara berdaulat yang turut serta di dalam suatu perjanjian internasional diharapkan dapat
menyetujui seluruh isi pasal perjanjian, sehingga perjanjian itu dapat mengikat secara utuh dan
menyeluruh kepada setiap negara yang menyatakan terikat pada perjanjian tersebut. Dengan
demikian, pelaksanaan perjanjian itu akan menjadi utuh karena semua pihak sudah terikat pada
isi perjanjian itu tanpa kecuali.
Namun, pada kenyataannya sangat sulit bagi setiap negara yang ingin ikut dalam suatu perjanjian
menerima secara utuh pasal-pasal di dalam perjanjian tersebut, walaupun perjanjian itu
merupakan kesepakatan dari utusannya yang turut berunding dalam merumuskan perjanjian itu.
Bagi negara yang ingin tetap turut serta pada suatu perjanjian tetapi tidak setuju pada ketentuan
tertentu di dalam perjanjian itu, dapat mengajukan suatu pensyaratan.
Pensyaratan (RESERVASI),Pasal 2(1d) Konvensi Wina 1969, adalah suatu pernyataan sepihak,
dengan bentuk dan nama apapun, yang dibuat oleh suatu negara, ketika menandatangani,
meratifikasi, mengakseptasi, menyetujui, atau mengaksesi atas suatu perjanjian internasional,
yang maksudnya untuk mengesampingkan atau mengubah akibat hukum dari ketentuan tertentu
dari perjanjian itu dalam penerapannya terhadap negara yang bersangkutan.
Kalau reservasi merupakan pernyataan sepihak, berarti tidak perlu adanya persetujuan negara-
negara peserta suatu perjanjian internasional yang ingin direservasi
apapun bentuk dan nama dari pensyaratan itu.. nama lain dari pensyaratan yaitu deklarasi,
understand/ing, notes, dan reservasi. Di dalam Konvensi Wina '69, yang disebutkan secara tegas
sebagai nama lain dari pensyaratan hanyalah reservasi, sehingga yang mempunyai akibat hukum
hanyalah reservasi. Maksudnya adalah bila ada suatu perjanjian lalu suatu negara ingin
mereservasi, contohlah Indonesia ingin mereservasi terhadap pasal 2 ICCPR, lalu timbul akibat
hukumnya bagi Indonesia, dalam hal ini berupa "tanggapan" anggota-anggota peserta lain. Bagi
yang setuju terhadap reservasi yg diajukan Indonesia, maka tidak ada yang berkomentar, dan
akibat hukum yang berlaku bagi Indonesia bila reservasi itu diterima adalah pasal 2 ICCPR yang
baru direservasi. Tetapi bagi yang tidak setuju, akan membuat pernyataan tidak setuju, dan akibat
hukum yang berlaku adalah tetap Pasal 2 yang lama sebelum reservasi diajukan. (Kalau menurut
para ahli hukum, apa pun namanya, itu tetap merupakan pensyaratan). Bila negara2 peserta lain
tidak menyatakan sikap atas reservasi yang diajukan Indonesia tersebut, hal itu dianggap bahwa
negara2 itu menerima reservasi Indonesia.
Walaupun reservasi merupakan hak suatu negara, ada pembatasan yang harus diperhatikan oleh
suatu negara dalam mengajukan reservasi..,yaitu: (lihat Psl.19 Konvensi Wina '69)
persyaratan itu dilarang oleh perjanjian internasional
perjanjian itu menentukan, bahwa hanya pensyaratan yang khusus, yang tidak termasuk di dalam
pensyaratan yang merupakan masalah, yang dapat diajukan, Bila ada negara yang mereservasi
pasal tertentu yang secara tegas dinyatakan tidak boleh direservasi, maka reservasinya dianggap
tidak pernah ada dan tidak akan pernah berlaku
dalam hal-hal yang tidak termasuk di dalam nomor 1 dan 2 pensyaratan itu ternyata tidak sesuai
dengan objek dan tujuan dari perjanjian. --- bila pensyaratan dalam hal ini tetap diajukan,
ditakutkan akan menghambat usaha-usaha negara peserta untuk mencapai maksud dan tujuan
perjanjian itu sendiri, dan akhirnya akan merugikan negara peserta perjanjian itu sendiri.
Kalau ada suatu negara menyatakan penolakan terhadap Hak asasi manusia yang bersifat non-
derogable rights, dan ia mereservasi pasal yang berkaitan dengan HAM tersebut, maka reservasi
itu tidak boleh diajukan dan tidak boleh diterima karena hal itu bertentangan dengan maksud dan
tujuan perjanjian. Jurisprudensi yang dikeluarkan oleh Mahkamah HAM di Amerika Selatan
(terhadap pembatasan reservasi yang ke-3 ini), hakim menyatakan bahwa "apabila suatu negara
menyatakan reservasi yang tujuannya adalah memungkinkan negara tersebut untuk menunda
setiap hak-hak asasi manusia yang bersifat non-derogable rights di dalam konvensi negara-
negara Amerika mengenai HAM, maka reservasi tersebut harus dianggap sebagai incompentible
(tidak sesuai/bertentangan) dengan maksud dan tujuan dari American Convention of Human
Right".
selain itu, masih ada satu pembatasan lagi, yaitu reservasi tidak boleh diajukan terhadap
ketentuan perjanjian yang mengandung "jus cogens". Jus cogens sebagai kaidah hukum yang
sifat mengikatnya sangat kuat dan imperatif, jelas tidak boleh dikesampingkan oleh kaidah
hukum yang sifat mengikatnya lebih lemah, apalagi oleh suatu tindakan sepihak yang sangat
subjektif seperti pensyaratan.
Lalu bagaimana bila di dalam suatu perjanjian internasional tidak dinyatakan secara tegas bahwa
suatu negara boleh mereservasi dan tidak dinyatakan secara tegas pula di dalamnya bahwa suatu
negara tidak boleh mereservasi perjanjian tersebut. Apakah apabila ada negara yang ingin ikut
serta pada perjanjian tersebut tetapi dengan mengajukan reservasi, apa diperbolehkan??
Untuk hal tersebut di atas, bagi negara tersebut diperbolehkan untuk ikut serta dalam perjanjian
dan untuk mengajukan reservasi. Kembali lagi bahwa reservasi itu merupakan hak, jadi setiap
negara berhak untuk menggunakannya, asalkan reservasi yang diajukan tersebut tidak
bertentangan dengan 3 pembatasan yang telah disebut di atas. Advisory opinion yang
dikeluarkan oelh ICJ menyatakan bahwa di dalam hal tersebut di atas, suatu negara tetap boleh
mengajukan reservasi dengan tetap berpegang teguh pada ketentuan pasal 19 Konvensi Wina
1969.
Dapatkah suatu negara yang sudah mengajukan reservasi, kemudian menarik kembali reservasi
tersebut? Kecuali jika perjanjian itu menentukan sebaliknya, suatu pensyaratan dapat ditarik
kembali setiap waktu, dan penarikan kembali itu tidak membutuhkan persetujuan dari negara
yang sebelumnya telah menerimanya. (pasal 22 (1) KW'69).
Begitu pula dengan penolakan negara2 peserta perjanjian terhadap reservasi yang diajukan suatu
negara, penolakan tersebut dapat ditarik kembali setiap waktu. (Pasal 22 (2) KW'69).
Ide dasar Reservasi
Untuk memungkinkan perjanjian multilateral memperoleh peserta yang luas.
Adanya kedaulatan yang dimiliki negara
Perumusan Reservasi (pasal 19 Konvensi wina)
Suatu Negara pada waktu melakukan penandatangan, ratifikasi, menerima, mengesahkan atau
aksesi terhadap suatu perjanjian boleh mengajukan reservasi kecuali jika :
Reservasi itu dilarang oleh perjanjian
Perjanjian itu sendiri menyatakan bahwa hanya reservasi-reservasi tertentu yang tidak
termasuk reservasi yang dipersoalkan, boleh diajukan
Dalam hal tidak termasuk di dalam sub paragraph (a) dan (b), maka reservasi itu
bertentangan dengan tujuan dan maksud perjanjian
Pasal 20 Konvensi Wina 1969
reservasi yg diizinkan oleh perjanjian tidak memerlukan penerimaan oleh negara peserta
lainnya
Jika penerapan perjanjian secara keseluruhan sebagai syarat utama untuk terikat oleh
perjanjian maka reservasi memerlukan penerimaan seluruh peserta perjanjian
Jika perjanjian merupakan instrumen konstitusi organisasi internasional maka reservasi
memerlukan penerimaan dari organ kompeten organisasi tersebut
Reservasi dapat dilakukan dengan :
Tidak memerlukan persetujuan negara peserta lainnya
Perlu persetujuan dari :
1. Semua negara peserta
2. Organ yang kompeten dari organisasi internasional ybs
Akibat hukum Pensyaratan / reservasi:
Merubah ketentuan yang disyaratkan dalam perjanjian
Memodifikasi akibat hukum ketentuan tertentu dalam hal pelaksanaannya oleh negara
ybs
Prosedur reservasi :
Reservasi, pernyataan menerima reservasi, menolak reservasi harus diformulasikan dalam
dalam bentuk tertulis dan disampaikan kepada negara peserta lain dan negara yang
berhak menjadi peserta
Jika reservasi diformulasikan pada saat penandatangan maka harus diformalkan pd saat
meratifikasi atau mengikutsertai perjanjian.
Pembatalan reservasi, dan penolakan reservasi :
Pembatalan/penarikan diri dari reservasi dapat setiap saat dilakukan dan tidak
memerlukan penerimaan dari negara anggota atau organisasi
Pembatalan penolakan reservasi dapat dilakukan setiap sehat
Pembatalan reservasi dapat efektif setelah pemberitahuan tertulis di terima oleh peserta
perjanjian lainnya
Pembatalan penolakan reservasi dapat efektif setelah pemebritahuan tertulis diterima oleh
negara pengaju reservasi
Asas Retroaktif
Hukum Pidana Indonesia pada dasarnya menganut asas legalitas sebagimana yang diatur dalam
Pasal 1 ayat (1) KUHP yang menyatakan Tiada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas
kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada sebelum perbuatan
dilakukan. Salah satu konsekuensi dari ketentuan dari pasal tersebut adalah larangan
memberlakukan surut suatu perundang-undangan pidana atau yang dikenal dengan istilah asas
retroaktif. Pada awalnya, larangan pemberlakuan surut suatu peraturan pidana terdapat dalam
Pasal 6 Algemene Bepalingen van Wetgeving voor Nederlands Indie (AB) S.1947-23, kemudian
muncul dalam Konstitusi, yaitu UUDS 1950 Pasal 14 ayat (2). Larangan asas retroaktif juga
ditegaskan dalam Pasal 28 I ayat (1) Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan:
Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan
hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang
tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
Adapun dasar pemikiran dari larangan tersebut adalah:
a. Untuk menjamin kebebasan individu dari kesewenang-wenangan penguasa.
b. Pidana itu juga sebagai paksaan psikis (teori psychologische dwang dari Anselm von
Feurebach). Dengan adanya ancaman pidana terhadap orang yang melakukan tindak pidana,
penguasa berusaha mempengaruhi jiwa si calon pembuat untuk tidak berbuat.
Meskipun prinsip dasar dari hukum berpegang pada asas legalitas namun dalam beberapa
ketentuan peraturan perundang-undangan asas legalitas ini tidak berlaku mutlak. Artinya
dimungkinkan pemberlakuan asas retroaktif walaupun hanya dalam hal-hal tertentu saja.
Pemberlakuan surut diizinkan jika sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1 ayat (2) KUHP yang
menyebutkan Bilamana ada perubahan dalam perundang-undangan sesudah perbuatan
dilakukan, maka terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yang paling menguntungkannya.
Suatu peraturan perundang-undangan mengandung asas retroaktif jika :
a. menyatakan seseorang bersalah karena melakukan suatu perbuatan yang ketika perbuatan
tersebut dilakukan bukan merupakan perbuatan yang dapat dipidana; dan
b. menjatuhkan hukuman atau pidana yang lebih berat daripada hukuman atau pidana yang
berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan (Pasal 12 Ayat 2 Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia).
Asas Retroaktif tidak boleh digunakan kecuali telah memenuhi empat syarat kumulatif:
(1) kejahatan berupa pelanggaran HAM berat atau kejahatan yang tingkat kekejaman dan
destruksinya setara dengannya;
(2) peradilannya bersifat internasional, bukan peradilan nasional;
(3) peradilannya bersifat ad hoc, bukan peradilan permanen; dan
(4) keadaan hukum nasional negara bersangkutan tidak dapat dijalankan karena sarana, aparat,
atau ketentuan hukumnya tidak sanggup menjangkau kejahatan pelanggaran HAM berat atau
kejahatan yang tingkat kekejaman dan destruksinya setara dengannya.
Beberapa ketentuan yang mengatur mengenai asas retroaktif ini diatur dalam Penjelasan Pasal 4,
Pasal 18 ayat (3) UU No. 39 Tahun 1999 (khusus yang berkaitan dengan hukum pidana) dan
Pasal 43 UU No. 26 Tahun 2000, Pasal 46 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
(Perpu) No. 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang menjadi UU
No. 15 Tahun 2003 dan Perpu No. 2 Tahun 2002 tentang Pemberlakuan Perpu No. 1 Tahun 2002
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme pada Peristiwa Bom di Bali tanggal 12 Oktober
2002 yang akhirnya menjadi UU No. 16 Tahun 2003.
Asas Retroaktif Dalam Instrumen Hukum Internasional
Pada saat ini larangan pemberlakuan surut (non retroaktif) suatu peraturan pidana sudah menjadi
hal yang umum di dunia internasional, misalnya dalam Artikel 99 Konvensi Jenewa Ketiga 12
Agustus 1949, Pasal 4 dan Pasal 28 Konvensi Wina 1969 (Vienna Convention on the Law and
Treaties) yang mengatur perjanjian antara negara dan negara dan Pasal 4 dan Pasal 28 Konvensi
Wina 1986 (Vienna Convention on the Law of Treaties between States and International
Organizations or between International Organizations). Selain itu dapat pula dilihat dalam Pasal
11 ayat (2) Universal Declaration of Human Right 1948, Pasal 15 ayat (1) International
Covenant on Civil and Political Rights 1966/ICCPR, Pasal 7 European Convention for the
Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms and Its Eight Protocols, Pasal 9
American Convention on Human Rights dan Rome Statute of the International Criminal Court
(1998) yang tetap mempertahankan prinsip-prinsip asas legalitas, terutama dalam Pasal 22-24.
Meskipun ketentuan dalam hukum internasional menentukan demikian, bukan berarti tidak ada
kecualian, artinya kesempatan untuk memberlakukan asas retroaktif tetap terbuka. Ini terjadi
karena ketentuan hukum internasional tersebut di atas memberi kemungkinan untuk melakukan
penyimpangan. Ini dapat dilihat dari ketentuan dalam Pasal 28 Konvensi Wina 1969 dan Pasal
28 Konvensi Wina 1986 yang rumusannya sama persis. Kemudian Pasal 64 dan Pasal 53 kedua
konvensi itu juga memberi kemungkinan berlakunya asas retroaktif. Ketentuan lain dapat kita
lihat dalam Pasal 103 Piagam PBB dan Pasal 15 ayat (2) ICCPR yang merupakan pengecualian
terhadap Pasal 15 ayat (1).
Dari praktek hukum pidana internasional, dapat dilihat bahwa asas retroaktif ini diberlakukan
terhadap beberapa peristiwa tertentu, yang pada akhirnya praktek ini mempengaruhi pembuatan
ketentuan penyimpangan atau pengecualian dari asas non retroaktif pada instrumen hukum
internasional. Mahkamah pidana internasional Nuremberg 1946 dan Tokyo 1948 yang mengadili
penjahat perang pada Perang Dunia II, International Criminal Tribunal for the Former
Yugoslavia (ICTY) dan International Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR) merupakan contoh
penerapan asas retroaktif. Pelanggaran terhadap asas non-retroaktif tersebut merupakan
momentum penting, merupakan benchmark dalam perkembangan politik hukum pidana pasca
Perang Dunia Kedua, sekalipun telah menimbulkan pro dan kontra dikalangan para ahli hukum
pidana di seluruh dunia.
Analisis Yuridis
Penolakan terhadap asas retroaktif dipicu dari adanya anggapan bahwa asas retroaktif merupakan
wadah dari political revenge (balas dendam politik) sehingga asas retroaktif dikatakan sebagai
refleksi dari lex talionios (balas dendam). Larangan akan pemberlakuan asas retroaktif dalam
instrumen hukum internasional dan hukum nasional setidaknya menjadi indikator bahwa asas ini
masih terbuka untuk diperdebatkan. Larangan mengenai asas retroaktif ini merupakan non
derogable rights (hak-hak yang tidak dapat ditangguhkan atau dibatasi (dikurangi)
pemenuhannya oleh negara, meskipun dalam kondisi darurat sekalipun) sebagaimana yang diatur
dalam Pasal 15 International Covenant on Civil and Political Rights yang diratifikasi melalui
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan International
Covenant On Civil And Political Rights (Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan
Politik) kecuali memenuhi syarat komulatif yakni:
a. sepanjang ada situasi mendesak yang secara resmi dinyatakan sebagai situasi darurat yang
mengancam kehidupan bernegara
b. penangguhan atau pembatasan tersebut tidak boleh didasarkan pada diskriminasi ras, warna
kulit, jenis kelamin, bahasa, agama atau asal-usul sosial,
c. pembatasan dan penangguhan yang dimaksud harus dilaporkan kepada Perserikatan Bangsa
Bangsa(PBB).
Pemberlakuan Asas Retroaktif sebaiknya tetap dipertahankan dalam peraturan perundang-
undangan di Indonesia. Hal tersebut didasari oleh beberapa alasan yakni:
a. Secara yuridis, asas retroaktif dimungkinkan melalui rumusan Pasal 28 J Undang-undang
Dasar Republik Indonesia 1945 yang menyebutkan:
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan
yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum
dalam suatu masyarakat demokratis.
b. Ketentuan internasional memberikan peluang untuk memberlakukan asas retroaktif, bahkan
telah menerapkan asas ini melalui pengadilan ad hoc di Nuremberg, Tokyo dan sebagainya
sebagaimana telah diauraikan sebelumnya.
c. Asas retroaktif merupakan senjata untuk menghadapi kejahatan-kejahatan baru yang tidak
dapat disejajarkan dengan tindak pidana yang terdapat dalam KUHP ataupun diluar KUHP.
Dengan demikian tidak ada pelaku yang dapat lolos dari jeratan hukum.
d. Pemberlakuan asas retroaktif merupakan cerminan dari asas keadilan baik terhadap pelaku
maupun korban.
e. Asas retroaktif sangat diperlukan dalam mengadili kejahatan luar biasa (extra ordinary crime).
Adapun kualifikasi extra ordinary crime dapat dilihat pada jumlah korban, cara dilakukannya
kejahatan, dampak psikologis yang ditimbulkan serta kualifikasi kejahatan yang ditetapkan oleh
PBB.
f. Sesuai dengan asas-asas hukum pidana internasional, penolakan terhadap asas retroaktif ini
semata-mata hanya dilihat melalui pendekatan hukum tata negara saja tanpa memperhatikan
aspek pidana (nasional dan internasional).
Asas Pacta Sunt Servanda
Asas pacta sunt servanda merupakan dalil yang absolut dalam sistem hukum internasional, dan
diwujudkan di dalam semua aturan-aturan hukum internasional. Asas pacta sunt servanda
merupakan asas hukum yang sudah diterima secara universal, merupakan asas berlakunya
perjanjian internasional dan asas ini telah dikukuhkan dalam Konvensi Wina 1969 tentang
Perjanjian Internasional Pasal 26, mengatur tentang berlakunya asas hukum pacta sunt servanda
bahwa every treaty in force is binding upon the parties to it and must be performed in good
faith, yang artinya bahwa, setiap perjanjian internasional yang sudah berlaku adalah mengikat
bagi para pembuatnya dan wajib dilaksanakan dengan itikad baik. Dalam mukadimahnya,
dinyatakan bahwa asas pacta sunt servanda telah diakui secara internasional. Draf Declaration on
Rights and Duties of States 1949 Pasal 13 juga mencantumkan asas ini bahwa every state has
the duty to carry out in good faith its obligations arising from treaties and other sources of
international law artinya bahwa, setiap negara mempunyai kewajiban melaksanakan dengan
itikad baik kewajiban-kewajiban yang timbul dari perjanjian-perjanjian internasional dan
sumber-sumber hukum internasional lainnya.
Mahkamah Internasional dalam kasus Gulf of Maine Case menyatakan bahwa, the concepts of
acquiescence in international law follow from the fundamental principles of good faith and
equity , artinya bahwa Mahkamah Internasional dalam pengambilan keputusan juga
menerapkan prinsip dasar itikad baik dan equity.
Martin Dixon dan Robert McCorquodale menyatakan dalam bukunya, Cases & Materials on
International Law, laporan dari ILC kepada Majelis Umum (MU) PBB mengenai prinsip pacta
sunt servanda, bahwa perjanjian-perjanjian internasional adalah mengikat negara-negara pihak
dan harus dilaksanakan dengan itikad baik, merupakan prinsip fundamental dari hukum
perjanjian internasional. Pentingnya prinsip ini ditegaskan dalam kenyataan, prinsip pacta sunt
servanda diabadikan dalam Mukadimah Piagam PBB.
Dalam yurisprudensi peradilan internasional dalam konteks dewasa ini, prinsip itikad baik
merupakan prinsip hukum yang membentuk bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan aturan
pacta sunt servanda. Untuk itu, dalam kasus tentang Rights of Nationals of the United States of
America in Morocco (Putusan 27 Agustus 1954) berdasarkan pasal 95 dan 96 dari Act of
Algeciras berbunyi: the power of making but it is a power which must be exercised
reasonably and in good faith. Mahkamah Internasional Permanen dalam menerapkan pasal-
pasal suatu perjanjian yang melarang diskriminasi terhadap minoritas, maka pasal tersebut harus
diterapkan dan dijamin ditiadakannya diskriminasi dalam kenyataan dan dalam hukum, jadi asas
itikad baik harus diwujudkan dalam putusan Mahkamah.
Prinsip pacta sunt servanda dianggap sebagai prinsip utama mengapa terdapat penaatan terhadap
kewajiban-kewajiban internasional. Prinsip ini lahir dari kehendak negara-negara dan juga
merupakan prinsip hukum kebiasaan internasional. Prinsip pacta sunt servanda diperlukan,
karena ada aturan-aturan hukum yang signifikan dalam masyarakat internasional. Kewajiban
melaksanakan isi perjanjian internasional oleh negara-negara yang telah menjadi pihak, memang
merupakan tujuan dibuatnya perjanjian internasional itu sendiri, sehingga bilamana
dipertanyakan, mengapa perjanjian internasional mempunyai kekuatan mengikat, maka satu-
satunya jawabannya adalah bahwa hukum internasional mengatur bahwa, setiap perjanjian yang
dibuat menciptakan kewajiban terhadap negara-negara pihak.
Teoretikus bernama Anzilotti, juga mendasarkan kekuatan mengikatnya perjanjian internasional
pada asas pacta sunt servanda. Sekali suatu negara menyatakan diri terikat pada suatu perjanjian
internasional, negara tersebut tidak diperbolehkan menarik diri dari kewajiban-kewajibannya,
mereka tanpa diketahui oleh negara-negara pihak lainnya. Sebagai contoh, pada tahun 1871,
Britania Raya, Prancis, Italia, Prusia, Rusia, Austria, dan Turki membuat Deklarasi dalam
Konferensi di London, bahwa:
that the Powers recognize it an essential principle of the Law of Nations that no Power can
liberate itself from the engagements of a treaty nor modify the stipulations thereof, unless with
the consent of the contracting parties by means of an amicable understanding.
Dengan deklarasi tersebut, maka telah diakui sebagai prinsip hukum internasional bahwa setiap
negara pihak tidak akan menarik diri dari kesepakatan mereka terhadap suatu perjanjian ataupun
mengubahnya, kecuali atas kehendak dari negara-negara peserta melalui kesepakatan bersama.
Dalam Piagam PBB semua negara peserta harus memenuhi semua kewajiban yang tercantum
dalam Piagam dengan itikad baik. Ketentuan tersebut tercantum pada Pasal 2 par. 2 sebagai
berikut:
All members, in order to ensure to all of them the rights and benefits resulting from
membership, shall fulfill in good faith the obligations assumed by them in accordance with the
present Charter.
Dari ketentuan Pasal 2 par 2 tersebut, diketahui bahwa prinsip pacta sunt servanda telah diakui
secara internasional jauh sebelum diadopsinya Konvensi Wina 1969 tentang Perjanjian
Internasional. PBB adalah sebuah organisasi yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan
perdamaian dan keamanan internasional. Organisasi ini memiliki enam organ utama yaitu,
Majelis Umum, Dewan Keamanan, Ecosoc, Trusteeship, Sekretaris Jenderal dan Mahkamah
Internasional. Dari keenam organ tersebut, DK merupakan organ yang diberi tanggung jawab
utama (primary responsibility) untuk menyelenggarakan perdamaian dan keamanan
internasional. Dalam menjalankan fungsinya, DK akan mengeluarkan resolusi-resolusi yang
mempunyai kekuatan mengikat berlakunya berdasarkan ketentuan Pasal 25 Piagam PBB bahwa,
the members of the United Nations agree to accept and carry out the decisions of the Security
Council in accordance with the present Charter, maka atas dasar Pasal 25 tersebut, semua
resolusi yang dikeluarkan oleh DK harus ditaati. Misalnya resolusi DK untuk pengiriman
pasukan penjaga perdamaian (peace-keeping force) oleh Negara-negara anggotanya, maka
pemerintah Indonesia juga wajib menaatinya, yaitu dengan mengirimkan pasukan-pasukannya
untuk kepentingan perdamaian di negara-negara yang sedang bersengketa.
Organ utama lainnya dalam organisasi PBB yang memberlakukan asas pacta sunt servanda
adalah Mahkamah Internasional. Mahkamah Internasional merupakan organ utama PBB yang
dibentuk pada tahun 1945 dalam konferensi PBB mengenai Organisasi Internasional di San
Francisco sebagai pengganti Mahkamah Internasional Permanen (Permanent Court of
International Justice) yang dibentuk oleh LBB. Ketentuan mengenai Mahkamah Internasional
telah diatur dalam Pasal 92 sampai dengan Pasal 96 Piagam PBB. Namun dalam menjalankan
fungsinya, Mahkamah Internasional akan bekerja berdasarkan Statuta Mahkamah International
yang merupakan bagian integral dari Piagam PBB (Pasal 92 Piagam PBB). Di dalam Piagam
PBB yang khusus mengatur tentang Mahkamah Internasional telah ditentukan bahwa setiap
anggota PBB berusaha untuk mematuhi keputusan Mahkamah Internasional dalam perkara
apapun di mana anggota tersebut menjadi salah satu pihak (Pasal 94 Ayat (1) Piagam PBB).
Selanjutnya apabila sesuatu pihak dalam suatu perkara tidak memenuhi kewajiban-kewajiban
yang dibebankan kepadanya oleh suatu keputusan Mahkamah, pihak yang lain dapat meminta
perhatian DK, yang jika perlu, dapat memberikan rekomendasi atau menentukan tindakan-
tindakan yang akan diambil untuk terlaksananya keputusan (Pasal 94 (2) Piagam PBB). Statuta
Mahkamah Internasional menegaskan kekuatan mengikatnya keputusan Mahkamah dalam Pasal
59 yang menyatakan the decision of the Court has no binding force except between the
parties and in respect of that particular case, artinya bahwa keputusan Mahkamah hanya
mempunyai kekuatan mengikat terhadap pihak-pihak yang bersengketa dan hanya berkaitan
dengan perkara khusus yang dimajukan kepada Mahkamah.
Contoh keputusan Mahkamah Internasional dalam hal ini adalah keputusan dalam penyelesaian
sengketa antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Malaysia tentang Pulau Sipadan dan
Pulau Ligitan. Pemerintah Republik Indonesia dan Malaysia memperebutkan dua gundukan pasir
seluas 23 hektar. Luas Pulau Sipadan adalah 13 km2, lebih besar dari pulau Ligitan. Hingga
tahun 1980-an kedua pulau tersebut tidak berpenduduk. Bagi Indonesia, Sipadan-Ligitan
merupakan simbol kedaulatan. Bagi Malaysia, secara ekonomis nilainya pun tidak besar dan
tidak ada satu pun perjanjian internasional yang menyebut kedua pulau tersebut. Pada tahun
1917, untuk pertama kali, Sipadan nyata disebut dalam Tutle Preservation Ordinance, yang
dikeluarkan oleh Pemerintah Inggris untuk melindungi penyu. Protes Hindia Belanda atas
dimasukkannya Sipadan sebagai salah satu jangkauan ordonansi tersebut tidak ada tanggapan.
Sengketa timbul tahun 1969 di era Pemerintahan Soeharto. Pentingnya kedua pulau tersebut,
sehingga dipersengketakan, karena dua pulau tersebut dapat menjadi titik untuk menentukan
lebar laut wilayah, landas kontinen dan zona ekonomi eksklusif. Kepentingan ekonomi sangat
dominan dalam perebutan pulau tersebut, selain untuk mempertahankan keutuhan wilayah.
Setelah melalui negosiasi yang cukup memakan waktu, akhirnya Indonesia-Malaysia menyetujui
pengajuan sengketa ke Mahkamah Internasional dan perjanjian ditandatangani tahun 1997.
Proses beperkara berlangsung dan diputus pada era presiden ke-5 RI, pada Pemerintahan
Megawati. Pada 17 Desember 2002 di Den Haag, diputuskan oleh Mahkamah Internasional
mengenai kedaulatan atas Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan, bahwa:
In its Judgment, which is final, without appeal and binding for the Parties, the Court finds, by
sixteen votes to one, that sovereignty over Pulau Ligitan and Pulau Sipadan belongs to
Malaysia. Ligitan and Sipadan are two very small islands located in the Celebes Sea, off the
north-east coast of the island of Borneo.
Berdasarkan ketentuan dalam Piagam PBB, dalam Pasal 59 Statuta Mahkamah Internasional dan
keputusan Mahkamah Internasional dalam kasus Pulau Ligitan dan Sipadan tertanggal 17
Desember 2002 tersebut, maka para pihak dalam sengketa (Indonesia dan Malaysia) terikat
untuk melaksanakannya. Keputusan bersifat final, tanpa banding dan mengikat baik Indonesia
maupun Malaysia, dan berdasarkan keputusan Mahkamah Internasional Pulau Ligitan dan
Pulau Sipadan menjadi milik Malaysia.
CONTOH UU RATIFIKASI
A. Umum
1. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun perjanjian internasional:
-Aspek politis: dilarang membuat perjanjian internasional dengan negara yang tidak memiliki
hubungan diplomasi.
-Aspek yuridis: perjanjian internasional wajib mematuhi kaidah hukum.
-Aspek teknis: perjanjian internasional disusun dengan mempertimbangkan kesiapan
kementerian-kementerian terkait.
-Aspek keamanan: perjanjian internasional tidak boleh mengganggu stabilitas negara.
2. Untuk memastikan dijalankannya tahapan-tahapan penyusunan perjanjian internasional
(konsultasi, koordinasi, dan sebagainya), Kemlu memanfaatkan momentum kebutuhan
kementerian pemrakarsa akan surat kuasa (full power) dan/atau kertas perjanjian yang
dikeluarkan oleh Kemlu.
3. Perjanjian internasional yang mempersyaratkan ratifikasi tidak berlaku jika salah satu pihak
belum meratifikasi perjanjian tersebut. Setelah diratifikasi, berlakunya perjanjian tersebut
bergantung pada paham yang berlaku di negara tersebut: monisme atau dualisme.
4. Pasal 26 Konvensi Wina 1969: perjanjian mengikat para pihak yang membuatnya dan harus
dilaksanakan dengan itikad baik. Pasal 27: negara tidak dapat menggunakan hukum nasional
untuk menjustifikasi kegagalannya dalam menjalankan kewajibannya yang timbul dari perjanjian
internasional.
B. Monisme & Dualisme
Hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional bergantung pada paham yang
diterapkan suatu negara. Terdapat dua paham dalam hal ini: dualisme dan monisme.
1. Dualisme
Paham ini memperlakukan hukum internasional sebagai sistem hukum yang terpisah dari hukum
nasional. Dengan kata lain, hukum internasional perlu ditransformasi ke dalam hukum nasional
supaya dapat diterapkan.
Menurut paham ini, perjanjian internasional yang memerlukan ratifikasi, setelah ratified by each
contracting party, tidak lantas masuk ke dalam hukum nasional. Perjanjian tersebut harus
melalui proses transformasi (meskipun ratifikasi dilakukan dengan UU atau Perpres). Demikian
pula halnya perjanjian internasional yang tidak memerlukan ratifikasi: tidak lantas masuk ke
dalam hukum nasional setelah ditandatangani, tetapi harus melalui proses transformasi terlebih
dahulu.
2. Monisme
Paham ini menempatkan hukum internasional dan hukum nasional sebagai bagian dari satu
kesatuan sistem hukum. Dengan demikian, terdapat hierarki atas kedua hukum ini. Ada yang
berpendapat bahwa hukum internasional merupakan bagian dari hukum nasional (disebut primat
hukum nasional), dan dengan demikian hukum nasional berkedudukan lebih tinggi dari hukum
internasional. Ada juga yang berpendapat bahwa hukum nasional merupakan bagian dari hukum
internasional (disebut primat hukum internasional), dan dengan demikian hukum internasional
berkedudukan lebih tinggi dari hukum nasional.
Menurut paham ini, setelah ratified by each contracting party, perjanjian internasional yang
memerlukan ratifikasi secara otomatis masuk ke dalam ruang lingkup hukum nasional tanpa
harus melalui proses transformasi. Demikian pula halnya perjanjian internasional yang tidak
memerlukan ratifikasi: otomatis masuk ke dalam ruang lingkup nasional setelah ditandatangani.
Catatan
Contoh UU ratifikasi: UU Nomor 17 Tahun 1985. Contoh UU transformasi: UU Nomor 6 Tahun
1996. Keduanya terkait dengan UNCLOS 1982.
Negara yang menganut paham dualisme antara lain AS, Inggris, dan Australia. Negara yang
menganut paham monisme antara lain Belanda, Jerman, Perancis. Bagaimana dengan Indonesia?
Menurut Damos Dumoli Agusman (2008), sistem hukum Indonesia belum mengindikasikan
apakah menganut monoisme atau dualisme. UNCLOS 1982 yang diratifikasi dengan UU Nomor
17 Tahun 1985 dan membutuhkan adanya UU Nomor 6 Tahun 1996 sebagai UU transformasi
merupakan contoh di mana Indonesia tampaknya menerapkan paham dualisme. Sebaliknya,
terdapat contoh-contoh di mana Indonesia tampaknya menerapkan paham monisme:
1. Pasal 13 UU Nomor 24 Tahun 2000: Setiap undang-undang atau peraturan presiden tentang
pengesahan perjanjian internasional ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Dalam penjelasan pasal tersebut disebutkan bahwa penempatan peraturan per-UU-an pengesahan
suatu perjanjian internasional di dalam lembaran negara dimaksudkan agar setiap orang dapat
mengetahui perjanjian yang dibuat pemerintah dan mengikat seluruh warga negara Indonesia.
Dengan demikian, berdasarkan ketentuan ini, UU yang meratifikasi suatu perjanjian
internasional sudah bisa mengikat seluruh warga negara Indonesia.
2. Pada kasus tanah Kedubes Saudi Arabia, fatwa MA tahun 2006 merujuk pada prinsip
kekebalan diplomatik dalam Pasal 31 Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik, yang
telah diratifikasi dengan UU Nomor 1 Tahun 1982. Hakim menggunakan perjanjian internasional
sebagai sumber hukum, padahal tidak ada UU transformasi atas konvensi tersebut.
Catatan
Kalau dirunut, paham dualisme dalam contoh UNCLOS di atas diterapkan sebelum terbitnya UU
24/2000, sementara paham monisme diterapkan sejak terbit UU 24/2000.
Q: Apakah ini berarti bahwa Indonesia menerapkan paham monisme dengan dasar hukum UU
24/2000?
A: Nggak tahu (mungkin aja ada kasus lain setelah tahun 2000 di mana dilakukan transformasi
atas ketentuan-ketentuan dalam perjanjian internasional).
C. Surat Menkeu Perihal Isu Perpajakan Terkait Posisi Runding Indonesia Dalam
Perundingan Perjanjian Bilateral/Multilateral
Pada tahun 2008, Menteri Keuangan membuat surat nomor S-640/MK.03/2008 yang ditujukan
kepada Presiden. Pokok-pokok isi surat tersebut sebagai berikut:
1. Draft perjanjian internasional sebaiknya tidak mengatur masalah perpajakan karena
pembebasan dan pemberian fasilitas perpajakan berdasarkan ketentuan perpajakan yang berlaku,
menimbulkan kesulitan administratif dalam pelaksanaannya di lapangan, dan beberapa alasan
lain.
2. Dalam draft perjanjian internasional, ketentuan berikut perlu diperhatikan:
a. pembebasan pajak dan pemberian fasilitas perpajakan.
pembebasan pajak dan pemberian fasilitas perpajakan hendaknya mengacu pada ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
hendaknya dimasukkan klausul Tax exemption and relief shall be in accordance with the
prevailing tax laws and regulations. Patut menjadi perhatian juga apabila ada klausul
pengecualian masalah perpajakan, namun pasal tentang expropriation dan/atau dispute settlement
dihidupkan kembali.
b. perluasan penafsiran dan penerapan isi perjanjian ke masalah perpajakan, khususnya pasal-
pasal mengenai national treatment, most favoured nation, dan expropriation/dispossession.
Definisi istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:
National treatment: A concept of international law that declares if a state provides certain rights
and privileges to its own citizens, it also should provide equivalent rights and privileges to
foreigners who are currently in the country.
Most favoured nation: perlakuan yang sama terhadap negara-negara yang memperoleh
perlakuan istimewa.
Expropriation/dispossession: pencabutan hak milik.
Perluasan penafsiran ke masalah perpajakan tidak boleh dilakukan karena ketentuan perpajakan
telah diatur dalam peraturan perpajakan serta tax treaty. Misalnya, ketentuan perpajakan
mengatur tarif PPh bagi WP DN berbeda dengan WP LN; jika penafsiran pasal natioanl
treatment diperluas ke masalah perpajakan, Indonesia bisa dianggap tidak mematuhi perjanjian
internasional. Begitu juga dengan ketentuan tarif P3B dan Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
(PPSP) yang berpotensi menyalahi ketentuan pasal most favoured nation dan
expropriation/dispossession dalam perjanjian internasional apabila penafsirannya diperluas ke
masalah perpajakan.
D. Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010
Dalam Pasal 26 ayat (1) PP Nomor 94 Tahun 2010 diatur bahwa dalam hal terdapat ketentuan
perpajakan yang diatur dalam perjanjian internasional yang berbeda dengan ketentuan
perpajakan yang diatur dalam UU PPh, perlakuan perpajakannya didasarkan pada ketentuan
dalam perjanjian tersebut sampai dengan berakhirnya perjanjian dimaksud, dengan syarat
perjanjian tersebut telah sesuai dengan Undang-Undang tentang Perjanjian Internasional.
Pada ayat berikutnya diatur bahwa pelaksanaan perlakuan perpajakan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan.
1. Re judicata atau keputusan tetap pengadilan
keputusan tetap suatu pengadilan menjadi suatu prinsip umum dan di pegang teguh, sebagai
landasan pembentuk kaidah hukum internasional. Contohnya keputusan-keputusan hakim
terkenal dari British Prize Court - Lord Stowell (1745-1836), yang mengetuai mahkamah
tersebut pada waktu perang Napoleon. Kemudian menurut Marshall C.J. dari Mahkamah Agung
Amerika Serikat, menerangkan bahwasanya keputusan-keputusan pengadilan setiap negara
menunjukkan bagaimana hukum internasional pada hal-hal tertentu, di mengerti negara-negara
tersebut, dan yang akan di pertimbangkan pada kaidah hukum yang berlaku di daerah ini.
2. Nullum Crimen Sine Lege
pasal 22 dan 23 statuta roma menjelaskan mengenai asas Nullum Crimen Sine Lege, yaitu suatu
asas hukum umum internasional yang menerangkan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat
bertanggung jawab secara pidana berdasarkan Statuta kecuali tindakan tersebut waktu dilakukan
merupakan suatu tindak pidana yang diatur dalam Yuridiksi Mahkamah. Menurut sejarahnya,
tujuan diterapkannya prinsip tersebut adalah untuk menghindari kesewenang-wenangan hukum.
Mahkamah Internasional dapat sewenang-wenang menghukum seseorang yang melakukan suatu
perbuatan dengan serta-merta menyatakan bahwa perbuatan tersebut adalah kejahatan atau
perbuatan pidana, padahal ketika perbuatan itu dilakukan, Statuta tidak menyatakan perbuatan itu
sebagai perbuatan pidana. Prinsip ini sendiri mulai diterima di Eropa pada akhir abad ke-19.
Hazewinkel-Suringa, seorang ahli hukum Belanda, juga memakai kata-kata dalam bahasa
Belanda untuk menjelaskan prinsip tersebut, yaitu Geen delict, geen straf zonder een
voorfgaande strafbepaling yang artinya bahwa sesuatu perbuatan yang dilarang atau pengabaian
sesuatu yang diharuskan dan diancam dengan pidana maka perbatan atau pengabaian tersebut
harus tercantum di dalam undang-undang pidana, dalam hal ini yang adalah Statuta Roma.
Moelyatno menulis bahwa prinsip tersebut mengandung tiga pengertian:
1)Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih dahulu
belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang.
2)Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi (kiyas).
3)Aturan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut.
Dengan adanya prinsip tersebut, maka Mahkamah Internasional hanya dapat menjatuhi hukuman
pidana kepada seorang terpidana sesuai dengan Statuta.
3. Asas konsensualisme/ Free will
Asas konsensualisme mengandung arti bahwa perjanjian itu terjadi sejak saat tercapainya kata
sepakat antara pihak-pihak mengenai pokok perjanjian, mengenai saat terjadinya kesepakatan
dalam suatu perjanjian. Asas konsensualisme juga dapat dilihat dalam Pasal 1320 ayat (1)
KUHPerdata. Pada pasal tersebut ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian adalah
adanya kata kesepakatan antara kedua belah pihak. Asas ini merupakan asas yang menyatakan
bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, melainkan cukup dengan adanya
kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan adalah persesuaian antara kehendak dan pernyataan
yang dibuat oleh kedua belah pihak. Contoh penerapan prinsip umum hukum "Konsensualisme"
adalah pada prosedur beracara di Mahkamah Internasional (International Court Of Justice),
dimana proses beracara hanya dapat dilakukan setelah adanya kemauan dan kesepakatan
bersama dari para pihak yang akan beracara. Jadi Mahkamah internasional tidak akan memulai
memeriksa/mengadili sebuah perkara sebelum para pihak yang bersengketa menyetujui bersama
untuk menyelesaikan perkaranya di Mahkamah Internasional. Hal ini didasarkan atas
prinsip/asas konsensualisme (free will), dimana Mahkamah Internasional beserta negara-negara
yang bersengketa di dalamnya sangat menjunjung dan menghargai prinsip Konsensualisme
tersebut.
4 . Asas Kebebasan Berkontrak / freedom of contract
Sutan Remy Sjandeini[4] mengemukakan, dari mempelajari hukum perjanjian negara-negara lain
dapat disimpulkan bahwa asas kebebasan berkontrak sifatnya universal, artinya berlaku juga
pada hukum perjanjian negara-negara lain, mempunyai ruang lingkup yang sama seperti juga
ruang lingkup asas kebebasan berkontrak dalam hukum perjanjian Indonesia.
5. Prinsip Yurisdiksi Teritorial(ratione loci)
Mahkamah konstitusi memiliki yurisdiksi atas kejahatan-kejahatan yang dilakukan odi wilayah
negara-negara pihak tanpa memandang kewarganegaraan dari pelaku. prinsip umum tersebut
dijelasakan dalam Pasal 12 ayat 2(a) dari statuta. mahkamah juga memilki atas kejatan-kejahatan
yang dilakukan negara-negara yang menerima yuridiksinya atas dasar ad hoc dan diwilayah yang
ditunjuk oleh Dewan Keamanan. konvensi Genoside tahun 1948 beberapapresden mengenai
gagasan bahwa suatu mahkamah pidana internasional dapat memilki yurisdiksi atas kejahatn-
kejahatan yang dilakukan di wilayah negara lain.
6. Singel Narcotic Drugs Convention
convention ini dibuat pada tahun 1961, adalah untuk memberi BANTUAN narkotika CONTROL
kepada negara negara di dunia, untuk menanggulangi lalu lintas ilegal narkotika baik
internasional maupun regional, memberikan bantuan perawatan ketagihan obat-obatan terlarang
terutama untuk negara - negara sedang berkembang, hingga pemberian dana PBB untuk
Pengendalian Penyalahgunaan Narkotika. dengan demikian dapat disimpulkan bahwa maksud
dari "Singel Narcotic Drugs Convention" adalah sebuah prinsip hukum umum yang berkaitan
dengan pencegahan dan memberantas Narkotika dengan kerjasama Internasional untuk
mewujudkan rasa damai dan aman di dunia, dan perlu diketahui juga bahwa prinsip hukum ini
termasuk prinsip hukum yang paling banyak di setujui oleh negara - negara di dunia.
7. Prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa-bangsa yang beradap
Yang dimaksud dengan prinsip- prinsip hukum umum adalah asas asas yang mendasari sistem
hukum modern. Salah satu asas itu adalah pacta sunt servanda. Pacta sunt servanda adalah
pepatah dalam bahasa romawi yang berarti setiap janji mengikat atau tiap tiap janji harus
ditepati. Dijelmakan dalam pasal 1338 KUHP yang berbunyi semua perjanjian yang dibuat
secara sah berlaku sebagai undang-undangbagi mereka yang membuatnya."
Sebagaimana diketahui, dalam hubungan antara negara satu dengan negara lain, diadakan
perjanjian dalam segala lapangan guna memperlancar hubungan tersebut. Oleh karena itu, pada
hakikatnya tidak ada kekuasaan yang lebih tinggi daripada kekuasaan negara, maka tidak ada
suatu kekuasaan yang dapat memaksakan kehendaknya untuk melakukan pengawasan, agar
perjanjian itu dapat dilaksanakan sebaik-baiknya. Asas ini bermaksud untuk memberikan
pedoman bagi tiap-tiap negara lain berdasarkan sesuatu perjanjian.
8. jus cogens
dalam sistematik Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian Internasional dimuat dalam
Bagian V yang mengatur hal pembatalan, berhenti berlakunya dalam penundaan berlakunya
perjanjian. Dalam bagian V Konvensi ini beberapa alasan dapat diajukan, misalnya untuk
pembatalan suatu perjanjian dengan adanya pelanggaral terhadap ketentuan-ketentuan tertentu
dalam hukum nasional negara peserta yang berkenaan dengan kuasa penuh dari negara pengirim
(Pasal 46 dan 47 Konvensi), adanya unsur kesalahan (Pasal 48), adanya unsur penipuan (Pasal
49) dan unsur kelicikan (Pasal 50)
9. General principle of law
Sebuah ajaran pengoptimalan hukum atau aturan hukum yang harus diikuti sejauh mungkin.
Sebagai bagian dari hukum, prinsip-prinsip umum hukum mengikat tidak mewakili keadaan
normatif dengan cara yang eksplisit norma hukum dilakukan, tetapi dapat dilihat sebagai aturan-
aturan hukum yang harus diikuti sejauh mungkin. Karena mereka tidak membawa kaku seperti
kekuatan mengikat sebagai norma-norma dari tatanan hukum yang benar, prinsip-prinsip ini
disebut "pengoptimalan ajaran". Sebagai contoh, prinsip yang berasal dari hukum Romawi yang
menyatakan bahwa perjanjian harus dijaga (pacta sunt servanda) adalah peradilan umum titik
tolak yang terdapat banyak pengecualian. Oleh karena itu dimungkinkan untuk dibebaskan dari
terlalu keras dan kurang adil kewajiban kontrak atas dasar, antara lain, prinsip akal sehat. Hukum
Finlandia mencakup berbagai prinsip-prinsip umum hukum membawa validitas hukum yang
dapat saling bertentangan tanpa berlaku demikian mereka yang terpengaruh.
10 Asas Legalitas as the general principle of law
Pada Jaman Romawi Kuno dikenal adanya istilah criminal extra ordinaria, yang berarti kejahatan-
kejahatan yang tidak disebutkan dalam undang-undang. Ketika hukum Romawi kuno diterima
oleh raja-raja Eropa Barat, istilah criminal extra ordinaria diterima pula. Kondisi ini kemudian
memungkinkan raja-raja yang berkuasa untuk bertindak sewenang-wenang terhadap perbuatan-
perbuatan yang dikatakan jahat-, namun belum diatur di dalam undang-undang. Lahirnya
Magna Charta Libertatum di Inggris pada 1215 merupakan salah bentuk reaksi terhadap praktik
kesewenang-wenangan raja di masa itu. Ini adalah fase pertama ketika manusia mulai
memikirkan dan memperjuangkan hak-haknya sebagai manusia. Upaya penghormatan terhadap
hak-hak asasi manusia sebenarnya telah ada sebelum lahirnya Magna Charta. Kitab suci agama
Hindu, Veda, telah membicarakan perlunya penghormatan atas hak-hak asasi manusia sejak
3000 tahun yang lalu. Piagam Madinah yang ditandatangani Nabi Muhammad SAW pada abad
ke 6 Masehi, sebenarnya juga merupakan deklarasi kesepakatan penghormatan terhadap hak-hak
asasi manusia
11. Prinsip proporsionalitas
Prinsip ini berasal dari hukum Jerman (di sana disebut sebagai Verhltnismssigkeit) di mana
mendasari beberapa ketentuan tertentu dalam Undang-Undang Dasar Jerman. Prinsip ini pertama
Komisi Eropa terkena hukum dalam kasus Handelsgesellschaft Internationale. Dinyatakan bahwa
"Sebuah otoritas publik tersebut tidak dapat mengenakan kewajiban atas seorang warga negara
kecuali sejauh mana mereka benar-benar diperlukan dalam kepentingan publik untuk mencapai
tujuan dari ukuran."
Jelas, karena itu, bahwa jika beban yang dikenakan jelas di luar proporsi ke objek dalam
tampilan, ukuran akan dibatalkan oleh Pengadilan.
12. Prinsip Hidup Berdampingan.
Doktrin Persamaan Derajat Negara-Negara (Doctrine Of The Equality Of States) di kembangkan
sejak pemulaan sejarah Hukum Internasional, ternyata doktrin tersebut masih bertahan hingga
sekarang dengan mendapat tambahan penekanan dengan menamakannya sebagai prinsip
persamaan Kedaulatan Negara-Negara dalam Declaration On Principles Of International Law
Concerning And Co-Operat6ion Among States In Accordance With The United Nations Charter
yang di keluarkan Majelis Umum PBB pada tahun 1970. Dengan adanya doktrin tersebut
Negara-Negara menikmati kesamaan hak-hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat
internasional tanpa memandang di bidang ekonomi, sosial, politik dan keadaan lainnya. Pasal 1
piagam PBB (UN charter) menyatakan penghargaan atas prinsip persamaan hak dan pada pasal 2
nya menyatakan atas prinsip-prinsip persamaan kedaulatan sesama anggotanya serta prinsip-
prinsip lain yang di akui sesama anggota PBB, misalnya asas tidak mencampuri urusan dalam
Negeri Negara lain, dan sebagainya. Ketentuan yang penting dalam piagam PBB pasal 74
tentang adanya prinsip umum mengenai bertetangga baik (Good-Neighborliness) di bidang
sosial, ekonomi, perdagangan dan bidang lainnya. Demikian pula dalam hukum internasional di
kenal adanya prinsip hidup berdampingan secara damai (PeacefulCo-Existence). Sebenarnya ada
lima prinsip hidup berdampingan secara damai yaitu saling menghormati kedaulatan teritorial
masing-masing, saling tidak melakukan agresi (Non Aggression), saling tidak mencampuri
urusan dalam Negeri masing-masing Negara (Non Intervention). Hidup berdampingan secara
damai, persamaan kedudukan dan kedaulatan. Diktrin tersebut sebenarnya telah tercantum dalam
berbagai perjanjian antar Negara, antara lain perjanjian Negara India dan Republik Rakyat China
29 April 1945, pada Dasa Sila Bandung sebagai hasil dari Konferensi Asia-Afrika pada tahun
1955 yang sampai sekarang masih di hormati oleh semua Negara di kawasan tersebut.
Masyarakat Internasional dalam prakteknya menghendaki adanya perdamaian dan keharmonisan,
sehingga masing-masing masyarakat Negara dapat menikmati hidup yang tenang dengan di
dukung oleh keharmonisan hukum yang berlaku. Kurang harmonisnya hubungan antara
Indonesia dan Australia sebagai Negara yang bertetangga hendaknya dapat di harmoniskan
kembali dengan mencermati makna dari Peaceful Co-Existence secara lebih mendalam.
Mengingat adanya hubungan timbal balik yang telah dilakukan dalam kurun waktu yang lama
oleh kedua Negara. Baik dibidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan, perdagangan dan bidang
hukum serta bidang lainnya. Keretakan hubungan ini hendaknya tidak berlangsung lama, tetapi
dapat segera di perbaiki melalui jalur diplomasi, negosiasi dan cara-cara lain yang layak di
tempuh untuk menormalkan kembali hubungan sebagai Negara bertetangga dengan
mengjhormati prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku. Nilai sebenarnya dari prinsip
Peaceful Co-Existence terletak penerapan secara tepat dari kaidah-kaidah yang tercantum dalam
piagam PBB sehingga masyarakat Internasional dapat mengendalikan diri masing-masing untuk
tidak saling bermusuhan dan lebih arief dapat dalam menyelesaikan berbagai masalah yang
dihadapi.
13. Pinsip umum hukum dalam bidang hukum dagang
Prinsip hukum perlindungan rahasia dagang secara garis besar dilakukan melalui 2 pendekatan,
yaitu common law approach dan statutory approach. Pada common law approach, rahasia dagang
tidak dianggap properti (hak milik) akan tetapi difo-kuskan pada hubungan hukum yang bersifat
confidencial dan fiduciary. Substansi atau lingkup informasinya meliputi informasi apa saja
sepanjang memiliki sifat kerahasiaan dan bukan merupakan informasi milik umum atau
pengetahuan umum. Elemen rahasia dagang dalam pendekatan ini adalah informasi rahasianya
bersifat relatif, ada kewajiban mera-hasiakan informasi tersebut karena diperjanjikan dan jika
terjadi tindakan perolehan, penggunaan atau pengungkapan tanpa izin, maka akan merugikan
pihak pemberi informasi.
Perlindungan hukum yang diberikan kepada pemberi in- formasi didasarkan pada prinsip
kontraktual yang upaya pemulihan hanya dalam bidang perdata. Sedang pada statutory approach,
rahasia dagang dianggap sebagai properti (hak milik) sehingga ada hak eksklusif bagi
pemiliknya. Substansi atau lingkup informasinya dan elemen rahasia dagang sama dengan
common law approach kecuali kewajiban merahasiakan informasi pada statutory approach tetap
ada meskipun tidak diperjanjikan untuk merahasiakannya. Perlindungan hukum yang digunakan
berdasarkan prinsip kontraktual, perbuatan melawan hukum, dan itikad baik. Upaya pemulihan
atas pelanggaran rahasia dagang dapat diajukan dalam bidang perdata maupun pidana.
14. Prinsip tentang kebebasan berekspresi dan kesetaraan
Prinsip-prinsip ini berlandaskan pada pemahaman kesetaraan secara luas, yang mencakup hak-hak
atas kedudukan yang sejajar di muka hukum dan non diskriminasi juga perlakuan dan status yang
sejajar. Prinsip-prinsip ini mengakui bahwa masalah diskriminasi dan stereotip negatif berurat
akar pada fenomena sosial ekonomi dan politis. Oleh karena itu, penghapusan diskriminasi dan
streotip membutuhkan upaya-upaya berkelanjutan dan meluas, mencakup pendidikan, dialog
sosial dan pengembangan kesadaran. Jika masalah-masalah kontroversial, termasuk agama,
diperdebatkan di tingkat permukaan saja, maka akar sosial dari prasangka tidak akan bisa
terungkap dan kesetaraan pun tak berhasil diwujudkan. Dalam banyak kesempatan, pengekangan
kebebasan berekspresi lebih banyak diarahkan pada kelompok-kelompok yang kurang
beruntung, sehingga kesetaraan pun gagal terbangun. Perdebatan yang terbuka, bukan
pengekangan, penting untuk memerangi stereotip negatif terhadap individu dan kelompok dan
mengungkap kerugian yang timbul akibat prasangka.
15. Persetujuan mengikat para pihak dan harus dihormati.
Segala perselisihan, pertentangan, atau perbedaan yang mungkin timbul antara para pihak baik di
luar atau berkaitan dengan perjanjian ini akan diselesaikan secara damai antara para pihak.
Dalam hal perdamaian tidak bisa tercapai dalam waktu yang wajar, maka semua sengketa yang
timbul dari perjanjian ini akan diselesaikan dalam tingkat pertama dan terakhir menurut
peraturan prosedur SIAC atau Singapore International Arbitration Centre oleh arbitor yang
ditunjuk menurut peraturan tersebut.
16. Prinsip Pembatasan (Limitation Principle)
Dalam prinsip pembatasan ialah suatu prinsip yang menghendaki adanya pembatasan terhadap
sarana atau alat serta cara atau metode berperang yang dilakukan oleh pihak yang
bersengketa/berperang, seperti adanya larangan penggunaan racun atau senjata beracun, larangan
adanya penggunaan peluru dum-dum, atau larangan menggunakan suatu proyektil yang dapat
menyebabkan luka-luka yang berlebihan (superfluous injury) dan penderitaan yang tidak perlu
(unnecessary suffering); dan lain-lain.
Penggunaan tank untuk menghancurkan sasaran militer diperbolehkan, karena merupakan senjata
yang biasa dipakai atau senjata konvensional; sedangkan penggunaan racun, senjata beracun
(kimia) termasuk senjata biologi atau nuklir (senjata non-konvensional) tidak dapat dibenarkan
karena sifatnya yang dapat mengakibatkan kemusnahan secara massal tanpa dapat membedakan
antara objek sipil dan sasaran militer. Dalam hal ini pepralatan yang digunakan ada batas-batas
yang tidak boleh dilanggar
17. Ratifikasi dan adopsi hukum hak asasi manusia
Semua Negara sebaiknya meratifikasi perjanjian-perjanjian hak asasi manusia internasional dan
regional, melalui adopsi atau cara-cara lain, dan mengembangkan undang-undang di tingkat
nasional yang menjamin hak-hak atas kesetaraan dan kebebasan berekspresi.
18. Kerangka hukum untuk melindungi hak atas kebebasan berekspresi
Negara sebaiknya memastikan agar hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi, melalui
medium komunikasi apapun, termasuk hak atas informasi, tercantum dalam ketentuan-ketentuan
yang terdapat dalam konstitusi nasional atau aturan-aturan yang setara, yang selaras dengan
hukum hak asasi manusia internasional.
19. Kerangka hukum untuk melindungi hak atas kesetaraan
Negara sebaiknya memastikan agar hak atas kesetaraan tercantum dalam ketentuan-ketentuan
yang terdapat dalam konstitusi nasional atau aturan-aturan yang setara, yang selaras dengan
hukum hak asasi manusia internasional.
20. Akses terhadap Pemulihan
Negara sebaiknya menjamin ketersediaan pemulihan atas pelanggaran hak asasi manusia,
termasuk pelanggaran hak atas kebebasan berekspresi dan kesetaraan, yang efektif dan dapat
diakses oleh semua. Pemulihan ini sebaiknya mencakup pemulihan secara yuridis dan non
yuridis, melalui lembaga-lembaga hak asasi manusia dan/atau ombudsman.
21. Pembatasan
Negara sebaiknya tidak memberlakukan pembatasan atas kebebasan berekspresi yang tidak
sejalan dengan standar yang tercantum dalam Prinsip hukum umum dan, pembatasan yang
berlaku sebaiknya diatur dalam undang-undang, bertujuan untuk melindungi hak atau reputasi
orang lain, atau kesehatan dan moral masyarakat, dan dibutuhkan oleh masyarakat demokratis
untuk melindungi kepentingan-kepentingan tersebut
22. Penyebarluasan Kebencian
Negara sebaiknya mengadopsi legislasi yang melarang advokasi kebencian antarbangsa, ras atau
agama yang mengandung penyebarluasan diskriminasi, kebencian atau kekerasan (ungkapan
kebencian).3 Sistem hukum nasional sebaiknya memperjelas, baik secara eksplisit maupun
interpretasi yang otoritatif,
23. Asas teritorial
Menurut azas ini, negara melaksanakan hukum bagi semua orang dan semua barang yang ada di
wilayahnya dan terhadap semua barang atau orang yang berada diwilayah tersebut, berlaku
hukum asing (internasional) sepenuhnya.
24. Asas kebangsaan
Asas ini didasarkan pada kekuasaan negara untuk warga negaranya, menurut asa ini setiap
negara di manapun juga dia berada tetap mendapatkan perlakuan hukum dari negaranya, Asas ini
mempunyai kekuatan extritorial, artinya hukum negera tersebut tetap berlaku juga bagi warga
negaranya, walaupun ia berada di negara asing.
25. Asas kepentingan umum
Asas ini didasarkan pada wewenang negara untuk melindungi dan mengatur kepentingan dalan
kehidupan masyarakat, dalam hal ini negara dapat menyesuaikan diri dengan semua keadaan dan
peristiwa yang berkaitan dengan kepentingan umum, jadi hukum tidak terikat pada batas batas
wilayah suatu negara.
26. Egality rights
Pihak yang saling mengadakan hubungan itu berkedudukan sama
27. Reciprositas
Tindakan suatu negara terhadap negara lain dapat dibalas setimpal, baik tindakan yang bersifat
negatif ataupun posistif.
28. Courtesy
Asas saling menghornati dan saling menjaga kehormatan negera
29. Rebus Sig stantibus
Asas yang dapat digunakan terhadap perubahan yang mendasar/fundamentali dalam keadaan
yang bertalian dengan perjanjian itu.
30. Prinsip Jus Cogen
prinsip jus cogens adalah serangkaian prinsip atau norma yang tidak dapat diubah, yang tidak
boleh diabaikan, dan yang karenanya dapat berlaku untuk membatalkan suatu traktat atau
perjanjian antara negara-negara, dalam hal traktat atau perjanjian tersebut tidak sesuai dengan
salah satu prinsip atau norma. dalam kasus Internasional Bosnia-Herzegovina melawan
Yugoslavia, ICJ melakukan pelarangan terhadap tindakan agresi militer dan genocide, yang
bertentangan dengan prinsip Jus Cogens itu sendiri, yaitu memelihara perdamaian dunia.
ke- 30 prnsip-prinsip hukum internasional di atas merupakan sebagian dari sekian banyak
prinsip-prinsip hukum internasional yang ada dan diakui oleh dunia internasional.