Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN METODE

PRAKTIKUM GEOFISIKA I
METODE GEOLISTRIK

Nama : Oktya Weddy A


NPM : 140710120008
Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 11 Desember 2014
Waktu : 10.00 14.30 WIB
Asisten Praktikum : Hendri Ardianto
Anindito Bayhaqie

LABORATORIUM GEOFISIKA
PROGRAM STUDI GEOFISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN METODE
PRAKTIKUM GEOFISIKA I
METODE GEOLISTRIK

Nama : Oktya Weddy A


NPM : 140710120008
Hari, Tanggal Praktikum : Kamis, 11 Desember 2014
Waktu : 10.00 14.30 WIB
Asisten Praktikum : Hendri Ardianto
Anindito Bayhaqie

Presentasi Laporan Jatinangor, 11 Desember 2014

( )
Intisari

Untuk mengetahui unsur yang terkandung dalam tanah, tidak mungkin


dilakukan dengan pembongkaran terhadap tanah, karena akan menghancurkan
lapisan tanah itu sendiri. Maka dalam hal ini perlu menggunakan alat yang bisa
mendeteksi (mengetahui keadaan bawah tanah) dengan menggunakan alat yang
bernama restivitimeter (geolistrik), yang kegunaannya adalah untuk mengetahui
karakteristiklapisan batuan bawah permukaan sampai kedalaman 300 m.
Geolistrik merupakan ilmu yang mempelajari sifat mineral bumi dalam
menghantarkan arus listrik. Banyak sekali manfaat dari metoda geolistrik ini
diantaranya utuk mengetahui struktur, stratigrafi, sedimentologi, muka air tanah,
aquifer, instrusi air asin, struktur geologi, pertambangan, arkeologi, geothermal,
dan perminyakan. Ada beberapa macam metoda geolistrik, antara lain: metoda
potensial diri atau self potential (SP), IP (induced polarization), dan resistivitas
(tahanan jenis). Dalam metode geolistrik resistivitas (tahanan jenis) ternyata
banyak ragam caranya yaitu metoda Dipole-Dipole, Schlumberger, Wenner, dan
Mise--LaMasse. Dalam metoda ini perangkat instrumentasi yang akan
digunakan adalah pembangkit tegangan dan pembangkit arus, dua alat ini yang
menjadi inti dari metoda geolistrik, dalam instrumentasi geolistrik ini.
Arus dari sumber DC dimasukan ke dalam bagian komutator, untuk
diubah menjadi arus bolak-balik karena bumi bersifat ground artinya semua
tegangan dan arus yang masuk ke tanah akan dibuat nol, jadi agar bumi bisa
diukur maka harus dipakai arus AC. Arus ini diinjeksikan ke dalam bumi melalui
elektroda-elektroda arus. Tanggapan tegangan sebagai akibat dari injeksi arus,
diukur melalui elektroda potensial.
Pada metode geolistrik, permasalahan mungkin saja muncul pada setiap
metoda geofisika termasuk dalam metode geolistrik. Terutama dalam hal
pengambilan data, pengolahan maupun saat interpretasi data. Dalam metoda
geolistrik, konfigurasi Schlumberger sangat cocok untuk pengukuran secara
vertical, sedangkan wenner lebih kearah lateral. Pengukuran yang telah dilakukan
dapat mengidentifikasi struktur dibawah permukaan, tetapi hanya dalam daerah
yang dangkal, sehingga untuk struktur-struktur dalam yang biasanya merupakan
reservoir hydrocarbon, metoda yang dipilihadalah metoda geofisika lain
(misalnya metode seismic).
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Tujuan

Mengetahui dan memahami fungsi bagian-bagian alat resistivity meter.


Mampu mengoperasikan alat resitivity meter.
Mengerti cara pengolahan data sounding resistivitas dengan
menggunakan kurva matching.
Dapat mempresentasikan hasil penafsiran data resistivitas di lapangan.
Memahami cara akuisisi data untuk sounding 1D dengan menggunakan
konfigurasi Schlumberger dan Wenner
Memahami cara pengambilan data dengan cara mapping menggunakan
konfigurasi Wenner (2D)
Melalukan pengolahan data mapping 2D dengan menggunakan Res2Dinv

I.2 Alat

Resistivity Meter Naniura NRD225 sebagai instrumen untuk melakukan


metode geolistrik 1D maupun 2D
Data Sounding 1D (konfigurasi Wenner dan konfigurasi Schlumberger),
sebagai data yang akan diolah
Data Mapping 2D (konfigurasi Wenner), sebagai data yang akan diolah.
PC/Laptop, untuk mengolah data dengan melakukan perhitungan dan
membuat pemodelan
Kertas Bilok, untuk memplotkan data.
Kurva Baku dan kurva bantu tipe Q, A, K dan H; sebagai kurva yang
digunakan dalam metode pencocokan kurva untuk mencari tren data.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Pendahuluan

Metode geolistrik adalah salah satu metode geofisika yang didasarkan pada
penerapan konsep kelistrikan pada masalah kebumian. Tujuannya adalah untuk
memperkirakan sifat kelistrikan medium atau formasi batuan bawah permukaan
terutama kemampuannya untuk menghantarkan atau menghambat listrik
(konduktivitas atau resistivitas).

Aliran listrik pada suatu formasi batuan terjadi terutama karena adanya
fluida elektrolit pada pori-pori atau rekahan batuan. Oleh karena itu resistivitas
suatu formasi batuan bergantung pada porositas batuan serta jenis fluida pengisi
pori-pori batuan tersebut. Batuan porous yang berisi air atau air asin tentu lebih
konduktif (resistivitasnya rendah) dibanding batuan yang sama yang pori-porinya
hanya berisi udara (kosong).

Metode geolistrik ada banyak macamnya, antara lain metode resistivitas,


metode polarisasi terimbas/induced polarization, dan metode potensial diri/self
potential.

Prinsip fisika yang digunakan pada metode geolistrik secara sederhana dapat
dianalogikan dengan rangkaian listrik. Jika arus dari suatu sumber dialirkan ke
suatu beban listrik, maka besarnya resistansi R dapat diperkirakan berdasarkan
besarnya potensial sumber dan besarnya arus yang mengalir.

II.2 Pengenalan Alat (Resistivity Meter)

Resistivity meter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur geolistrik


tahanan jenis. Sedangkan alat untuk mengukur geolistrik Induced Polarization
(IP) adalah IP Meter. Beberapa contoh model alat resistivity meter, yaitu
Resistivity Meter Naniura NRD22, Resisitivity Meter Naniura 300HF, dan
Res&IP Meter Supersting R8 Multichannel.

Resistivity Meter Naniura NRD300HF dan Naniura NRD22 merupakan alat


ukur geolistrik konvensional yang masih menggunakan 1 channel. Data yang
diperoleh dari pengukuran dengan menggunakan Resistivity Meter Naniura
NRD22S yaitu harga beda potensial (V) dan arus ( I ). Data V dan I ini kemudian
diolah untuk mendapatkan harga tahanan jenis semu ( apparent). Resistivity
meter NRD300HF banyak digunakan untuk pengukuran sounding 1D, sedangkan
untuk pengukuran 2D relatif masih jarang digunakan karena harus membuat
dahulu geometri pengukuran (stacking chart), tabel akuisisi, membuat format
konversi data lapangan ke format data software (dilakukan secara manual), dan
pelaksanaan pengukuran dilapangan yang cukup lama. Misalnya untuk
pengukuran geolistrik 2D dengan panjang lintasan 300m dan elektroda 30 buah
dan konfigurasi yang digunakan Wenner maka waktu yang dibutuhkan sekitar 5-6
jam tergantung dari kondisi medan dilapangan.

Spesifikasi Resistivity meter Naniura NRD300Hf terdiri dari dua bagian,


yaitu :

Pemancar (Transmitter)
Catu Daya / DC in (power supply) : 12V, minimal 6 AH
Daya keluar (output power) : 300 W untuk catu daya > 20A
Tegangan keluar (output voltage) : 500V maksimum
Arus keluar (output current) : 2000mA
Ketelitian arus (currect accuracy) : 1 mA
Sistem pembacaan : Digital
Catu daya digital meter : 9V, baterai kering
Fasilitas : Current loop indicator

Penerima (Receiver)
Impedansi maksimum (input impedance): 10 M Ohm
Batas ukur ukur pembacaan (range) : 0,1 mV s.d. 500V
Ketelitian (accuracy) : 0,1mV
Kompensator kasar : 10 x putar (precision multi turn potensiometer)
Kompensator halus : 1 x putar (wire wound resistor)
Sistem pembacaan : Digital (auto range)
Catu daya digital meter : 3 V ( 2buah baterai kering AA)
Fasilitas pembacaan : Hold (data disimpan di memori)
Massa alat : 5,5 kg

Keterangan gambar dari Naniura Resistivity Meter model NRD 22S

- Power : Untuk menghidupkan digital Voltmeter


- Tombol Start : Untuk mengirimkan arus
- Tombol Hold : Untuk menyimpan data potensial
- Compensator : Menetralisir Self Potential (SP) alam sebelum arus dikirimkan.
- Terminal P1 dan P2 : Hubungan ke elektroda potensial
- Terminal C1 dan C2 : Hubungan ke elektroda arus
- Display Potensial : Menampilkan nilai potensial secara Autorange
Selain Resistivity Meter Naniura, alat geolistrik yang lebih memudahkan
untuk pengukuran yaitu multichannel 28 electrodes yaitu Res & IP Meter
Supersting R8 Multichannel. Res & IP Meter Supersting R8 Multichannel ini
merupakan alat yang bisa digunakan untuk mengukur geolistrik tahanan jenis
1D/2D/3D/4D dan geolistrik induced polarization (IP) 2D/3D/4D. Data
pengukuran yang diperoleh dari alat ini sudah merupakan harga tahanan jenis
semu ( apparent) yang tersimpan di memori alat. Res & IP Meter Supersting R8
Multichannel terdiri dari 1 switch box, 28 elektroda, bentangan kabel maksimal
945m. Beberapa kelebihan Pengukuran resistivity 2D/3D dan IP 2D/3D dengan
menggunakan alat geolistrik Res & IP Meter Supersting R8 Multichannel, yaitu :

Pengukurannya relatif lebih cepat dibandingkan menggunakan Resistivity


Meter single channel atau IP Meter single channel. Pengukuran dengan
panjang lintasan 810 - 945m dan 28 elektroda dengan 3 konfigurasi
membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.
Tidak perlu melakukan konversi data secara manual karena sudah tersedia
software akuisisi datanya, yaitu software AGIS Admin.
Hasil pengukuran bisa langsung dilihat di lapangan (quick look).

II.3 Penafsiran Data Lapangan dengan Metode Pencocokan Kurva

Interpretasi geolistrik resistivity dapat dilakukan dengan metode


pencocokan kurva (Curve Matching/ the auxiliary point method) yang bisa
dilakukan secara manual ataupun komputeriasi. Secara manual bisa dilakukan
dengan menggunakan curve matching (metode pencocokan kurva), sedangkan
secara komputerisasi dapat dilakukan dengan menggunakan program Resint,
Resis, Resix, Resty, Progress, Earth Imager 1D dan lain-lain.
Dalam pengukuran dengan menggunakan metode geolistrik resistivity, hasil
pengukurannya masih merupakan tahanan jenis semu. Tahanan jenis terukur
diplot sebagai fungsi jarak elektroda memiliki bentuk yang sama dengan lengkung
teoritik jika diplot dalam skala yang sama. Lengkung ini dapat dibandingkan
langsung dengan lengkung teoritik dengan cara superposisi dengan sumbu tegak
dan datar, dengan menjaga agar kedua lengkung tersebut tetap sejajar. Kurva
lapangan ini menggambarkan susunan batuan yang ada di bawah permukaan.
Dalam melakukan interpretasi kurva lapangan dilakukan dengan
mencocokkannya terhadap kurva induk dua lapis (teoritik). Untuk interpretasi
kurva lapangan yang terdiri dari beberapa lapisan dapat digunakan kurva induk
dua lapis dan diperlukan kurva bantu. Kurva bantu diturunkan secara reduksi
dimana anggapan bahwa lapisan-lapisan bumi yang homogen dan isotropis diganti
dengan suatu lapisan
Macam-macam kurva bantu dibedakan menjadi 4 jenis:
1. Kurva bantu tipe A ; Bentuk kurva monoton naik. Bentuk kurva
semacam ini dapat dihubungkan dengan perubahan resistivitas 1 < 2
< 3.
2. Kurva bantu tipe H ; Kurva lapangan mempunyai bentuk yang
mengandung minimum. Hal ini dihubungkan dengan adanya urutan tiga
lapisan yang resistivitasnya berubah menurut: 1 > 2 > 3
3. Kurva bantu tipe K ; Kurva lapangan mempunyai bentuk yang
mengandung maksimum, dan dihubungkan dengan adanya urutan tiga
lapisan yang resistivitasnya berubah menurut: 1 < 2 > 3.
4. Kurva bantu tipe Q ; Tipe kurva ini kebalikan dari kurva tipe A,
bentuknya monoton turun dan dapat dihubungkan dengan perubahan
keadaan resistivitasnya dimana tipe ini bentuknya 1> 2 > 3.

II.4 Pengambilan Data Geolistrik Mapping 2D dengan Konfigurasi Wenner

Metode geolistrik tahanan jenis merupakan salah satu metode geolistrik


yang sering digunakan dalam survei geofisika untuk eksplorasi yang relatif
dangkal. Dalam aplikasi eksplorasi, metode resistivitas dapat memberikan
informasi yang tidak mungkin diberikan oleh metode lain.
Dalam survei geolistrik akan diperoleh nilai beda potensial, kuat arus, dan
nilai tahanan jenis batuannya. Tahanan jenis batuan yang didapat secara langsung
merupakan tahanan jenis semu yang memerlukan suatu pengolahan data lebih
lanjut untuk mendapatkan tahanan jenis yang sebenarnya untuk tiap-tiap lapisan.
Tahanan jenis sebenarnya tersebut digambarkan sebagai penampang 1D pada
setiap stasiun. Kemudian dari penampang 1D tersebut, dapat dikembangkan
menjadi penampang 2D dengan metode mapping dengan cara korelasi tiap tiap
statiun.

Geolistrik resistivitas 2D merupakan metode yang praktis. Dalam metode


resistivitas 2D pendugaan susunan lapisan geologi bawah permukaan berdasar
pada perbedaan resistivitas batuan atau tahanan jenis batuan. Arus listrik
diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua buah elektroda. Dari hasil pengukuran
arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda tertentu, dapat ditentukan
variasi harga hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik ukur.

Berdasarkan tujuannya, metode resistivitas dibagi 2 :

a. Sounding, dipakai bila ingin mendapatkan distribusi hambatan jenis


listrik bumi terhadap kedalaman dibawah suatu titik di permukaan bumi.
Disnini spasi antara elektroda dengan titik pengukuran diperbesar secara
berangsur-angsur.
b. Mapping, dipakai untuk mengetahui variasi hambatan jenis bumi secara
lateral mauoun horizontal. Kedalaman dibawah permukaan yang
tersurvey adalah sama. Dalam pengukuran ini jarak antar elektroda
dipertahankan tetap dan secara bersama-sama digeser sepanjang lintasan
pengukuran.

Jadi, Metode mapping merupakan metode yang bertujuan mempelajari


variasi resistivitas lapisan bawah permukaan secara horisontal, Sedangkan
sounding dalam arah vertikal. Pada mapping, elektroda digeser namun dengan
jarak yang tetap, sedangkan sounding semakin menjauhi titik tengah.
Dalam metode mapping dengan konfigurasi wenner, elektrode arus dan
elektrode potensial mempunyai jarak yang sama yaitu C1P1= P1P2 = P2C2
sebesar a. Jadi jarak antar elektrode arus adalah tiga kali jarak antar elektrode
potensial. Perlu diingat bahwa keempat elektrode dengan titik datum harus
membentuk satu garis.

Pada sounding, batas pembesaran spasi elektrode tergantung pada


kemampuan alat. Makin sensitif dan makin besar arus yang dihasilkan alat maka
makin leluasa dalam memperbesar jarak spasi elektrode tersebut, sehingga makin
dalam lapisan yang terdeteksi atau teramati. Sedangkan, Pada resistivitas
mapping, jarak spasi elektrode tidak berubah-ubah untuk setiap titik datum yang
diamati (besarnya a tetap).

Langkah lanjut jika pada Metoda Sounding adalah memplot harga tahanan
jenis semu hasil pengukuran versus spasi elektroda pada grafik log-log. Survei ini
berguna untuk menentukan letak dan posisi kedalaman benda anomali di bawah
permukaan.

Sedangkan, metoda mapping digunakan untuk menentukan distribusi


tahanan jenis semu secara vertikal per kedalaman. Pengukurannya dilakukan
dengan cara memasang elektroda arus dan potensial pada satu garis lurus dengan
spasi tetap, kemudian semua elektroda dipindahkan atau digeser sepanjang
permukaan sesuai dengan arah yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk setiap
posisi elektroda akan didapatkan harga tahanan jenis semu. Dengan membuat peta
kontur tahanan jenis semu akan diperoleh pola kontur yang menggambarkan
adanya tahanan jenis yang sama.

II.5 Pengolahan Data dengan Cara Manual, Software Res2Dinv dan IP2Win

Salah satu bidang yang memerlukan bantuan komputasi dalam segi


pemetaan, perhitungan sebaran dan penggambaran secara visual 2D atau 3D,
adalah geofisika. Proses-proses secara komputasi yang dikemas dalam bentuk
software memegang peranan penting dalam geofisika. Saat ini, sudah banyak
beredar perangkat-perangkat lunak untuk pemetaan dan pengolahan data geofisika
seperti res2inv, res3inv, IP2win, gravmag, mag2dc, mag3d, grav2dc, surfer 9,
Voxler 2, rockwork dan masih banyak lagi.
Patut disadari bahwa tidak ada software yang sempurna. Software tersebut
memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Untuk itu, seorang
geofisikawan harus mampu menguasai beberapa software - software geofisika
sehingga dapat mengkolaborasikannya yang mampu menghasilkan suatu model
yang akurat.
Pengolahan dan pemodelan data geolistrik dapat juga dilakukan secara
manual, disamping menggunakan software. Pengolahan data secara manual adalah
dengan rumus :

dimana yang didapatkan adalah semu.

Untuk mendapatkan asli, digunakan kurva baku dan kurva bantu tipe H, A, K,
dan Q. Pada kurva-kurva, ada nilai-nilai yang dituliskan sebagai . Nilai tersebut
adalah perbandingan resistivitas antara lapisan satu dengan lapisan di bawahnya.

2 3
= =
1 2

Dalam kasus 3 lapisan, dari pertama akan didapatkan 2 ( lapisan


kedua) yang asli dengan menggunakan 1 ( semu lapisan 1). Untuk berikutnya,
kita tidak menggunakan 2 asli untuk mendapatkan 3 , melainkan dengan 2
semu, dan akan mendapatkan nilai 3 asli.

Pemodelan yang dilakukan adalah dengan menggambarkan titik-titik


datum dimana sumbu x positif adalah jarak elektroda ke suatu acuan, dan sumbu y
negatif adalah kedalaman. Dari titik-titik datum tersebut, selanjutnya digambarkan
kontur. Hasil kontur merupakan sebaran nilai resistivitas di bawah permukaan.

Untuk pemodelan dengan software (dalam hal ini Res2Dinv dan IP2Win)
menggunakan data yang sudah diolah dengan cara manual menggunakan MS
Excel. Karena data yang dibutuhkan dalam software adalah data V, I, dan .

Untuk software Res2Dinv ada beberapa langkah yaitu penginputan


data, read data, inversi, sampai pada pencetakan hasil inversi. Data yang sudah
diolah dalam MS Excel, kita buat worksheet baru berisi tabel dp (datum point), a
(spasi terkecil), dan . Kemudian copy nilai nilai tersebut ke dalam sebuah text
editor (notepad) dengan format :
Baris pertama Nama Survey
Baris kedua spasi terkecil
Baris ketiga Jenis konfigurasi (Wenner = 1 atau Schlumberger = 7)
Baris keempat Jumlah data
Baris kelima ketik 1
Baris keenam ketik 0
Baris ketujuh dan seterusnya data hasil pengukuran
Diakhiri dengan 0 sebanyak empat kali.
Kemudian save as dengan extensi dat (*.dat). Langkah selanjutnya adalah
membuka program Res2Dinv.
Sebelum proses inversi dilakukan maka terlebih dahulu dilakukan
proses read data file dengan langkah langkah : file read data file. Kemudian
akan muncul jendela input 2D resistivity data file. Setelah diinput, selanjutnya
pada menu inversion, pilih "use logarithm of apparent resistivity", sehingga
muncul kotak dialog, dan pilih Use apparent resistivity. Langkah selanjutnya
adalah melakukan inversi, dengan langkah Inversion least squares inversion.
Pada jendela yang baru ini, pada kolom file name input data yang telah di-read
data file tadi. kemudian save.

Jika pengguna belum puas dengan model hasil inversi yang diperoleh,
maka dapat dilakukan pengeditan data. Langkah langkahnya adalah Edit
terminate bad datum points OK. Penghilangan data ini dimaksudkan untuk
menghilangkan data yang dianggap buruk yang dapat mengganggu model yang
diperoleh sehingga RMS Error yang diperoleh menjadi lebih kecil.

Jika model yang diperoleh sudah memuaskan kita dapat menyimpannya


dalam file gambar (*.bmp) secara permanen yaitu print save screen as bmp
file. Kemudian akan muncul jendela output bmp file, pada kolom file name
ketik nama file gambar yang diinginkan kemudian tekan save kemudian klik
OK.
Sedangkan pemodelan data dengan IP2Win sedikit berbeda dengan
Res2Dinv dilihat dari langkahnya, namun kesamaannya dengan Res2Dinv adalah
juga diawali dengan melakukan perhitungan di MS Excel. Langkah selanjutnya
yaitu dilakukan pemilahan data yang memiliki kesamaan pola agar didapatkan
data yang bagus saat pembuatan penampang.

Pengolahan dengan menggunakan Ip2Win diawali dengan membuat file


baru pada software tersebut dengan cara menu file New VES Point, kemudian
masukkan nilai AB/2 atau AB/3 tergantung konfigurasi, nilai MN dan nilai
resisitivitas semu. Pada proses pemodelan perlu dilakukan smoothing, dengan cara
menu Edit Field Curveagar mendapatkan pola yang jelas dari grafik tersebut.
Setelah itu dilakukan pemodelan dengan menambahkan Split ataupun Join,
dimana fungsi tersebut adalah untuk menambahkan permodelan kurva (split) dan
menggabungkan hasil split tersebut (join). Pada proses pemodelan dilakukan
dengan memperhatikan presentase error. Semakin kecil presentase error maka
data akan semakin bagus. Setelah didapatkan hasil error yang baik maka akan
didapatkan informasi nilai resistivitas, nilai ketebalan dan nilai kedalaman pada
tabel. Dengan menggunakan data yang didapat tersebut dapat membuat model
penampang. Langkah terakhir adalah interpretasi data secara kualitatif dan
kuantitatif.
BAB III

PENGOLAHAN DATA

III.1 Pengolahan Data Sounding 1D Konfigurasi Schlumberger

Selama akuisisi data, yang kita dapatkan hanyalah nilai V dan nilai I. Untuk
mendapatkan nilai , kita harus melakukan perhitungan untuk mendapatkan
dengan menggunakan rumus = kV/I. Pengambilan data dilakukan 2 kali tiap
titik pengukuran, sehingga ada dua nilai yaitu 1 = kV1/I1 dan 2 = kV2/I2.
Selanjutnya adalah merata-ratakan kedua nilai resistivitas tersebut. Namun dalam
konfigurasi Schlumberger ini terdapat titik-titik yang mengalami overlap, dimana
pada jarak tertentu, nilai V yang diidapat tidak lagi stabil, sehingga harus
mengubah jarak MN. Pada titik-titik yang mengalami overlap, akuisisi data juga
dilakukan sebanyak 2 kali, sehingga terdapat nilai sebanyak 2 untuk tiap titik
yang mengalami overlap. Perhitunagn overlap ini juga melakukan perhitungan
1 dan 2 nya sesuai rumus yang ada.Hasil akhir dari pengolahan data adalah nilai
(resistivitas dengan satuan m) dan overlap jika ada.

k I (mA)
0,5 5 10 25 50 1 2 Overlap 1 Overlap 2
1 2,36 207 212
1,5 6,28 216 217
2,5 18,84 256 256
4 49,46 270 270
6 112,26 3,45 242 233
8 200,18 12,25 278 279 260 258
10 313,22 23,55 210 210
12 451,38 37,37 6,91 231 232
15 705,72 62,8 19,63 258 258
20 1255,22 117,75 47,1 200 202
25 1961,72 188,4 82,43 200 201 206 206
30 2825,22 274,75 125,6 17,27 241 243
40 5023,22 494,55 235,5 61,23 208 209 207 194
50 7849,22 777,15 376,8 117,75 170 181
60 11303,22 1122,55 549,5 186,83 119 118
75 17661,72 1758,4 867,43 314 127 123
100 31399,22 3132,15 1554,3 588,75 235,619 246 248 249 249
V (mV) (m)
rata-
Overlap Overlap Overlap Overlap overlap
1 2 1 2 rata
1 2 1 2 rata-rata
7740 7940 88,243 88,389 88,316
2760 2750 80,244 79,585 79,915
924 924 68,001 68,001 68,001
290 290,5 53,124 53,215 53,170
88,2 86,4 40,915 41,628 41,271
48,9 49 1147 1154 35,212 35,157 35,184 54,041 54,793 54,417
407 407 45,642 45,642 45,642
237,7 236,2 38,454 38,047 38,250
121,1 122 29,477 29,696 29,587
43,7 43,5 25,728 25,357 25,543
27,4 27,6 61,8 61,5 25,811 25,870 25,840 24,729 24,609 24,669
45,8 46,1 23,869 23,828 23,849
21,2 21,2 89,8 84,1 24,003 23,888 23,945 26,563 26,544 26,553
37,6 40,1 26,044 26,087 26,065
16,6 16,6 26,062 26,283 26,172
11,9 11,3 29,422 28,847 29,135
12,2 12 31,7 31,5 29,198 28,488 28,843 29,997 29,807 29,902

III.2 Pengolahan Data Sounding 1D Konfigurasi Wenner

Pengukuran sounding Wenner dengan satu dimensi, adalah pengukuran


dengan menjauhi titik tengah dengan nilai a (jarak elektroda) yang semakin
meningkat. Hal yang perlu diperhatikan, meskipun semakin menjauh, namun AB
selalu berjarak 3 kali MN.

Pengolahan data untuk konfigurasi Wenner pada dasarnya sama dengan


pengolahan data konfigurasi Schlumberger, dimana untuk mendapatkan harus
melakukan perhitungan = kV/I. Karena pada Wenner juga dilakukan dua kali
pengukuran untuk tiap titik, maka juga terdapat 1 = kV1/I1 dan 2 = kV2/I2.
Kemudian kita merata-ratakan kedua nilai ini, dan didapatkan nilai rata-rata
untuk digunakan pada langkah interpretasi. Selain , juga ada perhitungan
kedalaman dimana depth (d) = a/2.

A V (mV) I (mA) R depth


k
(m) 1 2 1 2 1 1 2 rata-rata (a/2)
1 6,28 2490 2482 235 238 10,596 10,429 66,5412766 65,49142857 66,01635 0,5
2 12,56 1671 1686 342 345 4,886 4,887 61,3677193 61,38017391 61,37395 1
3 18,84 1019 1011 402 404 2,535 2,502 47,7561194 47,14663366 47,45138 1,5
4 25,12 747 749 449 449 1,664 1,668 41,79207127 41,90396437 41,84802 2
5 31,4 443 443 393 392 1,127 1,130 35,39491094 35,48520408 35,44006 2,5
6 37,68 321,3 323,5 348 350 0,923 0,924 34,78903448 34,82708571 34,80806 3
7 43,96 306,4 306,9 383 389 0,800 0,789 35,168 34,68206684 34,92503 3,5
8 50,24 301,1 303,7 432 437 0,697 0,695 35,01681481 34,91507551 34,96595 4
9 56,52 295 302,6 500 508 0,590 0,596 33,3468 33,66722835 33,50701 4,5
10 62,8 255 254,2 528 529 0,483 0,481 30,32954545 30,17724008 30,25339 5
12,5 78,5 131,7 132,4 390 392 0,338 0,338 26,50884615 26,51377551 26,51131 6,25
15 94,2 131,9 132,2 465 468 0,284 0,282 26,7203871 26,60948718 26,66494 7,5
17,5 109,9 172,5 172,3 720 722 0,240 0,239 26,33020833 26,22682825 26,27852 8,75
20 125,6 122,4 123 640 644 0,191 0,191 24,021 23,98881988 24,00491 10
25 157 100,2 100 684 683 0,146 0,146 22,99912281 22,98682284 22,99297 12,5
30 188,4 68,4 68,2 603 603 0,113 0,113 21,37074627 21,30825871 21,3395 15
35 219,8 63,9 63,4 599 599 0,107 0,106 23,44777963 23,26430718 23,35604 17,5
40 251,2 66,7 66,6 661 661 0,101 0,101 25,34801815 25,31001513 25,32902 20
45 282,6 41 41,3 451 454 0,091 0,091 25,69090909 25,70788546 25,6994 22,5
50 314 53,9 54,3 609 615 0,089 0,088 27,7908046 27,72390244 27,75735 25
60 376,8 50,6 50,4 653 657 0,077 0,077 29,19767228 28,90520548 29,05144 30

III.3 Pengolahan Data Mapping 2D Konfigurasi Wenner

Pengukuran mapping 2D adalah pengukuran lateral yang dilakukan untuk


mendapatkan sebaran resistivitas semu secara 2D. Pertama, kita melakukan
pengukuran lateral seperti biasa, mulai dari ujung pertama ke ujung terakhir.
Setelah selesai, kita lakukan hal tersebut (pengukuran lateral dari ujunhg ke
ujung) dengan menaikkan jarak a (jarak elektroda). Dengan begitu, akan
didapatkan sebaran 2D.

Pengolahan data untuk mapping 2D konfigurasi Wenner sama saja dengan


pengolahan data untuk sounding 1D konfigurasi Wenner, yaitu mencari nilai
dengan rumus = kV/I. Karena dalam mapping 2D ini juga dilakukan pengukuran
2 kali (meskipun ada beberapa titik yang dilakukan hanya sekali pengambilan
data), maka pengolahan data tersebut adalah 1 = kV1/I1 dan 2 = kV2/I2.
Bedanya mapping dan sounding, adalah kita menggunakan switch box, jadi kita
tidak perlu memindah-mindahkan elektroda, karena ke-28 elektroda sudah
tersambung ke switch box. Karena 2D, maka titik datum yang diperoleh adalah
sebanyak 117 titik, dimana tiap titik tersebut memiliki nilai masing-masing.
Nilai yang ditandai merah adalah nilai terbesar dan terkecil diantara 117 data
nilai .

switch box
an I (mA) V (mV) (m) Rho rata
I V I k
No (m) - rata
I1 V1 V2 I2 1 2 1 2 1 2
1 45 28 19 10 1 282,6 225 226 31,6 31,4 39,6896 39,26389 39,47675
2 40 28 20 12 4 251,2 265 266 42,2 42,6 40,00241509 40,22977 40,11609
3 35 28 21 14 7 219,8 154 153 31,4 31 44,81636364 44,53464 44,6755
4 30 28 22 16 10 188,4 314 315 73,4 73,1 44,04 43,72076 43,88038
5 25 28 23 18 13 157 202 203 55,5 54,1 43,13613861 41,84089 42,48851
6 20 28 24 20 16 125,6 286 288 109,9 110 48,26377622 47,97222 48,118
7 15 28 25 22 19 94,2 276 277 140,6 140,8 47,9873913 47,88217 47,93478
8 10 28 26 24 22 62,8 349 350 255,3 277,2 45,93936963 49,7376 47,83848
9 5 28 27 26 25 31,4 245 246 426 426 54,59755102 54,37561 54,48658
10 40 27 19 11 3 251,2 233 234 38,4 38,3 41,39948498 41,11521 41,25735
11 35 27 20 13 6 219,8 222 221 43,7 41,9 43,26693694 41,67249 42,46971
12 30 27 21 15 9 188,4 210 207 48,9 49,6 43,87028571 45,14319 44,50674
13 25 27 22 17 12 157 222 223 64,6 63,8 45,68558559 44,91749 45,30154
14 20 27 23 19 15 125,6 234 234 85,4 86,7 45,83863248 46,53641 46,18752
15 15 27 24 21 18 94,2 295 297 152,7 153,6 48,76047458 48,71758 48,73903
16 10 27 25 23 21 62,8 215 216 170,2 171,5 49,71423256 49,86204 49,78813
17 5 27 26 25 24 31,4 197 196 384,7 349,6 61,31766497 56,00735 58,66251
18 40 26 18 10 2 251,2 232 231 39,4 40 42,66068966 43,49784 43,07926
19 35 26 19 12 5 219,8 235 235 46,3 46,8 43,3052766 43,77294 43,53911
20 30 26 20 14 8 188,4 217 216 52,6 53,5 45,66746544 46,66389 46,16568
21 25 26 21 16 11 157 167 167 51,5 49,6 48,41616766 46,62994 47,52305
22 20 26 22 18 14 125,6 249 247 81,2 83,3 40,95871486 42,35822 41,65847
23 15 26 23 20 17 94,2 224 223 130,2 111,6 54,75375 47,14224 50,948
24 10 26 24 22 20 62,8 208 209 158,7 160,1 47,91519231 48,1066 48,0109
25 5 26 25 24 23 31,4 185 187 337,5 337 57,28378378 56,58717 56,93547
26 40 25 17 9 1 251,2 218 218 35,7 35,9 41,13688073 41,36734 41,25211
27 35 25 18 11 4 219,8 253 252 48,6 48,5 42,22245059 42,30278 42,26261
28 30 25 19 13 7 188,4 163 162 38,4 38,7 44,38380368 45,00667 44,69524
29 25 25 20 15 10 157 240 240 68,4 68,2 44,745 44,61417 44,67958
30 20 25 21 17 13 125,6 200 202 71,9 71,3 45,1532 44,33307 44,74313
31 15 25 22 19 16 94,2 229 230 112,9 111,9 46,44183406 45,83035 46,13609
32 10 25 23 21 19 62,8 217 217 164,4 154,6 47,57751152 44,74138 46,15945
33 5 25 24 23 22 31,4 266 267 507 509 59,84887218 59,85993 59,8544
34 35 24 17 10 3 219,8 228 230 44,4 44,2 42,80315789 42,23983 42,52149
35 30 24 18 12 6 188,4 220 219 51,9 51,9 44,44527273 44,64822 44,54675
36 25 24 19 14 9 157 206 206 59,3 59,6 45,19466019 45,4233 45,30898
37 20 24 20 16 12 125,6 209 209 73,5 73,3 44,17033493 44,05014 44,11024
38 15 24 21 18 15 94,2 226 228 106,2 106,1 44,26566372 43,83605 44,05086
39 10 24 22 20 18 62,8 285 284 212,4 212,3 46,80252632 46,94521 46,87387
40 5 24 23 22 21 31,4 194 195 362,7 363,5 58,70505155 58,53282 58,61894
41 35 23 16 9 2 219,8 253 254 47,5 48,1 41,26679842 41,62354 41,44517
42 30 23 17 11 5 188,4 262 262 61 61,1 43,86412214 43,93603 43,90008
43 25 23 18 13 8 157 245 245 72,3 72,4 46,33102041 46,3951 46,36306
44 20 23 19 15 11 125,6 181 182 65,3 65,6 45,31314917 45,27121 45,29218
45 15 23 20 17 14 94,2 270 267 124 124,8 43,26222222 44,03056 43,64639
46 10 23 21 19 17 62,8 253 253 200,5 201,1 49,76837945 49,91731 49,84285
47 5 23 22 21 20 31,4 224 256 849 821 119,0116071 100,7008 109,8562
48 35 22 15 8 1 219,8 284 284 50,9 64,4 39,39373239 49,84197 44,61785
49 30 22 16 10 4 188,4 542 545 123,9 126,5 43,06782288 43,72954 43,39868
50 25 22 17 12 7 157 332 340 105,3 95,6 49,79548193 44,14471 46,97009
51 20 22 18 14 10 125,6 512 513 189,8 190,6 46,5603125 46,66542 46,61287
52 15 22 19 16 13 94,2 411 412 188,6 189,1 43,22656934 43,23597 43,23127
53 10 22 20 18 16 62,8 488 493 343,6 346,5 44,21737705 44,13834 44,17786
54 5 22 21 20 19 31,4 456 458 756 760 52,05789474 52,1048 52,08135
55 30 21 15 9 3 188,4 448 450 101 101 42,47410714 42,28533 42,37972
56 25 21 16 11 6 157 417 421 114,8 115,9 43,22206235 43,22162 43,22184
57 20 21 17 13 9 125,6 407 406 138,6 138,6 42,77189189 42,87724 42,82457
58 15 21 18 15 12 94,2 246 247 123,2 123,7 47,17658537 47,17628 47,17643
59 10 21 19 17 15 62,8 276 277 202 202,5 45,96231884 45,90975 45,93603
60 5 21 20 19 18 31,4 342 344 596 601 54,72046784 54,85872 54,78959
61 30 20 14 8 2 188,4 270 270 156,3 157 109,0626667 109,5511 109,3069
62 25 20 15 10 5 157 288 289 81,6 81,8 44,48333333 44,43806 44,4607
63 20 20 16 12 8 125,6 263 263 209,6 209,6 100,0979468 100,0979 100,0979
64 15 20 17 14 11 94,2 197 197 101,5 101,2 48,53451777 48,39107 48,46279
65 10 20 18 16 14 62,8 297 295 217 218,2 45,88417508 46,45071 46,16744
66 5 20 19 18 17 31,4 265 265 164 163,6 19,43245283 19,38506 19,40875
67 30 19 13 7 1 188,4 241 241 49,3 49,3 38,53991701 38,53992 38,53992
68 25 19 14 9 4 157 283 284 75,1 76,4 41,66325088 42,23521 41,94923
69 20 19 15 11 7 125,6 174 174 61,6 61,2 44,46528736 44,17655 44,32092
70 15 19 16 13 10 94,2 277 277 132,3 132,3 44,99155235 44,99155 44,99155
71 10 19 17 15 13 62,8 217 218 170 116,5 49,19815668 33,56055 41,37935
72 5 19 18 17 16 31,4 250 258 460 467 57,776 56,83643 57,30622
73 25 18 13 8 3 157 385 391 121,4 96,9 49,50597403 38,9087 44,20733
74 20 18 14 10 6 125,6 366 123,6 42,4157377 42,41574
75 15 18 15 12 9 94,2 356 159,1 42,09893258 42,09893
76 10 18 16 14 12 62,8 333 260,5 49,12732733 49,12733
77 5 18 17 16 15 31,4 390 637 51,28666667 51,28667
78 25 17 12 7 2 157 337 92,4 43,04688427 43,04688
79 20 17 13 9 5 125,6 344 14,1 5,148139535 5,14814
80 15 17 14 11 8 94,2 306 130,4 40,1427451 40,14275
81 10 17 15 13 11 62,8 219 63,4 18,18045662 18,18046
82 5 17 16 15 14 31,4 355 321,8 28,46343662 28,46344
83 25 16 11 6 1 157 258 62 37,72868217 37,72868
84 20 16 12 8 4 125,6 323 110,7 43,04619195 43,04619
85 15 16 13 10 7 94,2 229 23,3 9,584541485 9,584541
86 10 16 14 12 10 62,8 307 198,4 40,5847557 40,58476
87 5 16 15 14 13 31,4 246 444 56,67317073 56,67317
88 20 15 11 7 3 125,6 307 104,9 42,91674267 42,91674
89 15 15 12 9 6 94,2 287 144,5 47,428223 47,42822
90 10 15 13 11 9 62,8 288 196,8 42,91333333 42,91333
91 5 15 14 13 12 31,4 271 74,7 8,655276753 8,655277
92 20 14 10 6 2 125,6 359 125,4 43,87253482 43,87253
93 15 14 11 8 5 94,2 371 126,1 32,01784367 32,01784
94 10 14 12 10 8 62,8 327 246 47,2440367 47,24404
95 5 14 13 12 11 31,4 230 373,3 50,96356522 50,96357
96 20 13 9 5 1 125,6 218 67,6 38,94752294 38,94752
97 15 13 10 7 4 94,2 260 192,5 69,74423077 69,74423
98 10 13 11 9 7 62,8 177 131 46,47909605 46,4791
99 5 13 12 11 10 31,4 247 386 49,07044534 49,07045
100 15 12 9 6 3 94,2 265 115,4 41,02143396 41,02143
101 10 12 10 8 6 62,8 252 165,2 41,16888889 41,16889
102 5 12 11 10 9 31,4 248 386,4 48,92322581 48,92323
103 15 11 8 5 2 94,2 218 101,6 43,90238532 43,90239
104 10 11 9 7 5 62,8 223 143,8 40,4961435 40,49614
105 5 11 10 9 8 31,4 206 283,9 43,27407767 43,27408
106 15 10 7 4 1 94,2 256 119 43,78828125 43,78828
107 10 10 8 6 4 62,8 318 220 43,44654088 43,44654
108 5 10 9 8 7 31,4 230 205,5 28,05521739 28,05522
109 10 9 7 5 3 62,8 383 21,9 3,590913838 3,590914
110 5 9 8 7 6 31,4 281 406 45,36797153 45,36797
111 10 8 6 4 2 62,8 304 207 42,76184211 42,76184
112 5 8 7 6 5 31,4 316 533 52,96265823 52,96266
113 10 7 5 3 1 62,8 174 127 45,83678161 45,83678
114 5 7 6 5 4 31,4 202 327,2 50,86178218 50,86178
115 5 6 5 4 3 31,4 341 516 47,5143695 47,51437
116 5 5 4 3 2 31,4 384 542 44,31979167 44,31979
117 5 4 3 2 1 31,4 302 424 44,08476821 44,08477

Sebaran Titik Datum

0
0 20 40 60 80 100 120 140

-5

-10

-15

-20

-25
BAB IV

INTERPRETASI

IV.1 Model 1D dengan IP2Win (Konfigurasi Schlumberger)


Aplikasi IP2Win memungkinkan kita untuk mengetahui jumlah lapisan
beserta tebal dan nilai resistivitas tiap lapisan. Berdasarkan hasil curve fitting yang
dilakukan oleh software IP2Win, didapatkan empat lapisan yang berbeda-beda
nilai nya. Lapisan pertama memiliki ketebalan 0.913 meter dan memiliki
senilai 84.2 m. Selanjutnya pada kedalaman 0.913 meter hingga kedalaman 7.62
meter, terdapat lapisan kedua yang memiliki senilai 49.5 m dengan ketebalan
6.7 meter. Untuk lapisan ketiga, dari kedalaman 7.62 meter hingga 12.1 meter,
ada lapisan yang resistivitasnya bernilai 8.4 m. Untuk lapisan keempat, yaitu
lapisan dengan kedalaman 12.1 meter hingga kedalaman tak hingga yang tak bisa
dijangkau lagi oleh alat geolistrik, mempunyai senilai 32.7 m. Jika kita lihat,
maka lapisan pertama itu adalah tanah lanau atau tanah berpasir, dan lapisan
kedua adalah schist. Namun, untuk lapisan kedua ini, bisa juga merupakan seperti
lapisan pertama yaitu tanah berpasir. Jenis lapisan ketiga adalah tanah yang
lembek atau tanah lempungan, namun pada rentang itu bisa juga menjadi batuan
beku grafit. Untuk lapisan keempat yang dalamnya tak hingga merupakan lapisan
tanah berpasir atau mungkin saja schist. Memang, dalam membandingkan nilai
resistivitas terhadap tabel resistivitas seringkali mengalami kendala, karena
adanya beberapa batuan yang mempunyai resistivitas yang mirip dan range yang
tumpang tindih. Sehingga, sebelum melalukan pengukuran, ada baiknya dilakukan
peninjauan secara geologi.

IV.2 Model 1D dengan IP2Win (Konfigurasi Wenner)


Berdasarkan hasil curve fitting yang dilakukan oleh software IP2Win,
didapatkan empat lapisan yang berbeda-beda nilai nya. Lapisan pertama
memiliki ketebalan 1.51 meter dan memiliki senilai 74.8 m. Selanjutnya pada
kedalaman 1.51 meter hingga kedalaman 13.6 meter, terdapat lapisan kedua yang
memiliki senilai 31.9 m dengan ketebalan 12.1 meter. Untuk lapisan ketiga,
dari kedalaman 13.6 meter hingga 40.8 meter, ada lapisan yang resistivitasnya
bernilai 12.6 m. Untuk lapisan keempat, yaitu lapisan dengan kedalaman 40.8
meter hingga kedalaman tak hingga yang tak bisa dijangkau lagi oleh alat
geolistrik, mempunyai senilai 749 m. Sebenarnya, antara lapisan yang
terbentuk oleh konfigurasi Schlumberger sama saj dengan lapisan yang terbentuk
dengan konfigurasi Wenner. Jenis lapisannya sama karena area yang diukur
merupakan area yang sama dengan Schlumberger. Walaupun, lapisannya sama,
namun ada perbedaan dalam nilai resistivitasnya. Perbedaan ini hanya
dikarenakan oleh perbedaan konfigurasi yang digunakan. Namun, dapat kita lihat,
pada Schlumberger, dimulai dari kedalaman 12.1 meter hingga kedalaman tak
hingga, nilai bernilai 32.7 m. Sekarang perhatikan bagian Wenner, lapisan
keempat dimulai dari kedalaman 40.8 meter hingga jauh ke dalam, nilai bernilai
749 m. Ternyata Wenner lebih mampu melihat lebih dalam daripada
Schlumberger. Kedalaman diatas 12.1 meter yang tidak dapat dijangkau oleh
Schlumberger ternyata dapat dijangkau oleh Wenner. Hal ini membuktikan bahwa
Wenner lebih dapat menjangkau lebih dalam dibandingkan Schlumberger.
Mengenai resistivitas yang bernilai 749 m diperkirakan adalah kuarsa ataupun
yang lebih masuk akal untuk lapangan merah adalah lapisan kerikil kering.

IV.3 Kontur Resistivitas Semu

Peta kontur diatas adalah peta kontur sebaran resistivitas semu, karena
seperti yang kita ketahui, saat dilakukan pengukuran, yang didapatkan adalah nilai
resistivitas semu. Nilai-nilai resistivitas semu tersebut diplotkan terhadap x
(spasial elektroda) dan y (kedalaman) akan menghasilkan peta kontur diatas. Nilai
resistivitas semu tertinggi adalah 105 m yaitu daerah yang berwarna biru dan
terdapat di tengah-tengah peta kontur. Nilai resistivitas semu terendah adalah 5
m (berwarna coklat) dan terletak mengelilingi closure-closure berwarna biru.
Warna coklat yang bergradasi menunjukkan nilai-nilai di pinggir peta mempunyai
nilai resistivitas dari 5 m hingga 40 m.

IV.4 Peta 2D Sebaran Resistivitas Asli (Peta Awal, dengan error = 13.4%)

Jika peta kontur dengan menggunaka Surfer seperti peta diatas adalah
sebaran resistivitas semu, maka peta berikut merupakan sebaran resistivitas asli
dari daerah pengukuran. Untuk mendapatkan resistivitas asli, dilakukan inversi
dari resistivitas semu. Inversi sendiri artinya adalah melakukan pengolahan data
kemudian memodelkan data-data tersebut kedalam gambar, dimana dalam
pemodelan tersebut membutuhkan perhitungan. Inversi yang dilakukan dalam hal
ini adalah inversi secara numerik/komputer, dimana sebenarnya juga ada proses
inversi secara analitik/matematis namun akan memakan waktu yang sangat lama.
Hasil yang didapat adalah penampang 2D sebaran asli dimana terdapat error
sekitar 13.4% dimana nilai asli terendah adalah 3.65 m sedangkan nilai asli
terbesar adalah 120 m. Bandingkan dengan semu yang berkisar dari 5 hingga
105. Jadi asli tentu saja berbeda dengan semu. Namun kesamaan antara peta
kontur semu dengan asli adalah nilai tertinggi berada di tengah-tengah peta
dimana disekelilingnya terdapat nilai-nilai yang lebih rendah bahkan sangat
rendah.
IV.5 Titik-Titik Datum yang Dibuang

Peta sebaran asli dibuat dari titik-titik datum hasil pengukuran. Ada
kalanya, garis hubung antar titik-titik datum tersebut tidak smooth dan malah
membuat hasil pemodelan menjadi kurang bagus. Lihat saja pada gambar di atas,
ada empat titik datum yang membuat garis tiap datum tidak halus, namun
melancip. Karena itulah, kita perlu membuang titik-titik datum yang jelek agar
hasilnya lebih bagus dan lebih smooth. Namun hal yang perlu diperhatikan,
semakin banyak membuang titik datum tidak berarti semakin smooth peta
nantinya. Jika kita membuang datum cukup banyak, nantinya peta kita tidak akan
mendekati keadaan geologi yang sebenarnya. Jadi, buang titik datum seperlunya
saja. Jika terdapat titik datum yang masih dapat ditolerir, lebih baik tidak usah
dibuang, agar peta kita lebih mendekati keadaan asli di bawah permukaan bumi.
Pada tampilan titik datum diatas, kita juga akan tahu dimana letak titik datum
yang kurang bagus tersebut. Umumnya titik datum yang kurang bagus adalah
karena pengukuran yang kurang akurat, atau adanya noise di dalam bumi yang
sama sekali tidak kita perlukan. Noise ini lebih baik dibuang agar tidak
mengganggu pekerjaan kita dalam melakukan pemodelan, dan juga untuk
mengurangi ketidakakuratan.
IV.6 Peta 2D Sebaran Resistivitas Asli (Peta Akhir, dengan error = 7.2%)

Setelah melakukan pembuangan titik-titik datum yang dianggap


mengganggu, maka akan muncul model penampang 2D yang baru, dimana titik-
titik datum jelek tersebut sudah dihilangkan. Model ini lebih mendekati keadaan
geologi yang sebenarnya, dilihat dari errornya yang bernilai 7.2%, dibandingkan
dengan model pertama yang errornya 13.4%. Pada peta ini, nilai terendah adalah
10.5 m sedangkan tertinggi adalah 122 m. Jelas tidak ada lagi nilai noise
anomali yang mengganggu pemodelan ini. Sehingga dapat kita katakan, bahwa
penampang inilah yang mewakili bagaimana bentuk bawah permukaan bumi yang
sebenarnya dari area yang kita ukur.

IV.7 Sayatan Kebawah (menggunakan IP2Win)

Lintasan I Lintasan II
x y a (m) semu (m) x y a (m) semu (m)
60 -5 10 40,58476 65 -5 10 18,18046
60 -10 20 44,32092 65 -10 20 100,0979
60 -15 30 43,39868 65 -15 30 43,90008
60 -20 40 41,25211 65 -20 40 43,07926
Lintasan III Lintasan IV
x y a (m) semu (m) x y a (m) semu (m)
70 -5 10 49,12733 75 -5 10 41,37935
70 -10 20 42,82457 75 -10 20 46,61287
70 -15 30 44,54675 75 -15 30 44,69524
70 -20 40 41,25735 75 -20 40 40,11609

Lintasan I Lintasan II

Lintasan III Lintasan IV

HASIL PEMODELAN LAPISAN TIAP LINTASAN


Berdasarkan peta kontur resistivitas semu, kita lakukan sayatan ke bawah
yaitu sayatan secara vertikal, karena kita sudah mengetahui bagaimana nilai
semu tiap titik datum. Kita mengambil empat lintasan atau sayatan ke bawah,
dimana tiap lintasan memiliki koordinat beserta nilai yang sudah tertera di atas.
Dari koordinat, nilai a, dan nilai tersebut, kita olah dalam IP2Win untuk
mendapatkan penampang 1D setiap lintasan dengan tiap lapisan untuk tiap
lintasan. Semua lintasan ternyata memiliki 2 lapisan, yaitu lapisan pertama dengan
ketebalan 5 meter, lalu lapisan kedua yang berada pada kedalaman 5 meter sampai
kedalaman tak hingga. Pada lintasan pertama, lapisan pertama adalah 39.1 m
sedangkan lapisan kedua adalah 43.9 m. Pada lintasan kedua, lapisan
pertama adalah 18.8 m sedangkan lapisan kedua adalah 81.2 m. Pada
lintasan ketiga, lapisan pertama adalah 56.6 m sedangkan lapisan kedua
adalah 41.7 m. Lalu, pada lintasan keempat, lapisan pertama adalah 41 m
sedangkan lapisan kedua adalah 44.8 m.

Semua nilai yang kisaran sekitar 40-an dianggap satu lapisan.


Sebenarnya semua lapisan adalah satu lapisan dengan jenis tanah biasa ( nya dari
1 hingga 100), namun kerapatannya berbeda-beda. Daerah yang berwarna coklat
mungkin memiliki kerapatan yang sama, dibandingkan dengan daerah pink pucat,
abu, kuning, ataupun merah gelap yang masing-masing memiliki kerapatan yang
berbeda-beda. Lapisan yang berwarna putih tidak didefinisikan jenis lapisan apa,
dikarenakan kita tidak tahu nilai resistivitasnya di daerah tersebut.

Untuk lintasan kedua, regresi yang paling akurat hanya sampai pada error
50.4% karena mengandung anomali resistivitas yang cukup signifikan, yaitu 18
dan 100 jadi susah untuk dikecilkan error-nya. Sedangkan untuk lapisan pertama,
ketiga, dan keempat, errornya dapat dikecilkan hingga 2 hingga 4%. Hal itu
karena pada lintasan tersebut memiliki nilai nilai resistivitas yang hampir mirip.
Penyusunan lapisan seperti ini layaknya seperti stratigafi. Jika pada
stratigarfi adalah menyesuaikan lapisan-lapisan berdasarkan umurnya, maka pada
metode geolistrik ini penyesuaian lapisan dilihat dari nilai resistivitasnya.
BAB V

KESIMPULAN

Metode geolistrik adalah metode aktif yang memanfaatkan respon bumi


terhadap arus yang diinjeksikan berupa nilai potensial. Nilai potensial ini yang
nantinya akan mengindikasikan bagaimana nilai resistivitas lapisan-lapisan di
dalam bumi. Pengukuran dengan metode geolistrik terbagi tiga yaitu metode
tahanan jenis, metode potensial diri, dan metode IP. Metode yang dipakai pada
laporan ini adalah metode tahanan jenis yang dilakukan di lapangan Merah
Kampus Unpad Jatinangor.

Instrumen yang digunakan untuk metode tahanan jenis ini adalah Naniura
NRD 225 untuk sounding dan ditambah dengan switch box untuk mapping 2D.
Instrumen ini dipasangkan pada elektroda arus dan elektroda potensial, dimana
nantinya alat ini akan mengubah arus DC menjadi arus AC lalu menangkap
respon potensial dari Bumi. Pengukuran yang dilakukan akan mendapatkan nilai
resistivitas semu yang nantinya akan diubah menjadi resistivitas asli.

Pemetaan dan sounding geolistrik adalah metode geofisika yang digunakan


untuk memperoleh gambaran resistivitas di bawah permukaan dan dilakukan
tanpa bersifat merusak atau membongkar tanah dan batuan yang akan diteliti.
Resistivitas dari batuan dipengaruhi oleh kandungan mineral, porositas batuan
(jumlah dan struktur), dan kandungan fluida(jumlah dan resistivitas). Pengambilan
data yang semakin banyak, maka akan menghasilkan model yang semakin akurat
dan lebih teliti dan dibutuhkan kesabaran dan ketelitian yang ekstra. Serta
penguasaan beberapa macam software untuk mengolah data data dari lapangan.

Pengukuran geolistrik dilakukan dengan menginjeksikan tegangan dan


arus listrik ketanah sehingga diperoleh data resistivitas tanah. Pengukuran
geolistrik 1-D mampu menunjukkan resistivitas dari lapisan-lapisan yang ada di
bawah tanah, tetapi lapisan-lapisan tersebut dianggap memiliki struktur yang
datar. Nilai resistivitas dipengaruhi oleh jenis batuan yang berada di
bawah permukaan. Apabila batuannya lebih berongga, makanilai resistivitasnya
besar.

Software software yang digunakan untuk interpretasi data geolistrik adalah


IPI2Win dan Res2Dinv. Dalam IP2Win, program ini mampu melakukan
perhitungan resistivitas secara otomatis dan menampilkannya dalam bentuk kurva.
Selain itu program ini juga menyediakan fasilitas untuk koreksi data
hasil pengukuran sehingga dapat memperkecil kesalahan interpretasi. Sedangkan
untuk Res2Dinv, program ini mampu melakukan inversi dari resistivitas semu
menjadi resistivitas asli, lalu menggambar sebaran data kedalam bentuk peta
sebaran resistivitas, dan mampu memperkecil kesalahan interpretasi dengan
membuang titik-titik datum yang tidak diperlukan.

Batu-batuan dikelompokkan menjadi konduktif dan resistif jika dilihat dari


nilai resistivitasnya. Batuan dengan resistivitas yang kecil menunjukkan bahwa
batuan itu konduktif, artinya sangat baik dalam menghantarkan arus listrik untuk
disebarkan ke dalam bumi. Jika nilai resistivitasnya besar, maka batuan tersebut
resistif dan sangat menghambat penjalaran arus listrik yang diinjeksikan kedalam
bumi. Dalam hal ini., dominasi lapangan merah adalah tanah berpasir dan batuan
beku dibawahnya (schist dan kuarsa).
DAFTAR PUSTAKA

Rafflesia, Putra Toba. Metode Geolistrik.


Valerious, Anna. Makalah Geolistrik.
Prasetyo, Ardi, dkk. Monitoring Pola Persebaran Lindi Menggunakan
Metode Geolistrik Wenner-Schlumberger
Telford, W. M., et al. 1996. Applied Geophysics 2nd Edition. Cambridge
University Press.
Syamsudin. Metode Geolistrik Tahanan Jenis 2D.
Hidayat, Irfan Mustawa. Pengolahan Data Menggunakan IP2Win Metode
Resistivity Konfigurasi Schlumberger
Perdana, Fajar. Metode Geolistrik.
Rifai, Adi Sufardi. Modul Geolistrik
Dafitra, Rahmat Wira. Penggunaan Res2Dinv
Sartono. 1998. Geofisika Eksplorasi. Jakarta : Dewan Riset Nasional
Santoso, Djoko. 2002 Pengantar Teknik Geofisika. Bandung : Penerbit ITB.
Grand, F.S and West, G.F. 1965. Interpretation Theory in Applied
Geophysics. McGraw-Hill Book Company