Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH TEKNOLOGI PAKAN

Teknologi Pengolahan Konsentrat Secara Fisik

Disusun oleh:
Kelas : F
Kelompok : 9

Renodipta Dwida Hudoyo 200110150032


Fakhrizal Saefuloh 200110150150
Muhammad Fulqi Labib 200110150159
Eriska Restu Amaliyah 200110150303

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2017
I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tantangan untuk menghasilkan produk pangan hewani yang kontinu
semakin meningkat setiap tahunnya hal ini memiliki hubungan yang linier dengan
tumbuh pesatnya penduduk yang kian tak terkendali. Efek dari kebutuhan pangan
yang meningkat, berimbas pula pada industri pakan, sehingga industri pakan
diharapkan dapat menghasilkan pakan yang bergizi tinggi dan murah.
Luas lahan yang terbatas dan musim yang terjadi di Indonesia menghambat
tersedianya pakan bagi ternak. Pada saat musim hujan, pakan berlimpah karena
tanaman pakan tumbuh dengan subur. Namun ketika masuk musim kemarau, pakan
berkurang dan menjadi kurang ketersediannya bagi ternak. Sehingga dirasa perlu
adanya pemanfaatan bahan atau material produk ikutan (by product) pertanian
untuk diolah menjadi pakan konsentrat. Dengan proses pengolahan, bahan ikutan
produk hasil pertanian berkualitas rendah menjadi berkualitas baik jika diberikan
kepada ternak. Oleh karena itu, kami akan membahas teknologi pengolahan
konsentrat yang dilakukan secara fisik.

1.2 Identifikasi Masalah


1. Bagaimana pengolahan konsentrat secara fisik.
2. Bagaimana pengolahan kering dingin.
3. Bagaimana pengolahan kering panas
4. Bagaimana pengolahan basah panas.

1.3 Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui pengolahan konsentrat secara fisik.
2. Mengetahui pengolahan kering dingin.
3. Mengetahui pengolahan kering panas
4. Mengetahui pengolahan basah panas.
II
TINJAUAN PUSTAKA

Bahan pakan konsentrat mempunyai karakteristik umum yaitu: 1)


Carbonaceus concentrat adalah bahan pakan yang berenergi tinggi, terdapat pada
biji-bijian yang hasil ikutannya berserat rendah kurang dari 18 % . Kualitas protein
bervariasi tetapi biasanya rendah kurang dari 20 % mengandung phosfor cukup tinggi
tetapi kalsium dan vitamin D rendah, namun vitamin B tinggi. 2) Proteinaceous
adalah protein yang bervariasi ditentukan oleh jumlah dan rasio asam amino esensial
yang berada dalam pakan., 3) Proteinaceous Roughages adalah pada umumnya
berupa legum dengan karakteristik dapat memproduksi pakan yang palatable dalam
jumlah banyak per hektar. Kandungan protein dan kalsium tinggi. Kandungan
phosphor tinggi , kandungan vitamin A tinggi , dapat menaikkan kesuburan tanah dan
dapat dikombinasikan dengan rumput, 4) Carbonaceous Roughages, termasuk bahan
ini adalah corn dan sorgum silages, sorgum pasture, corn cabs, corn slover, cain stalk
dan straw atau jerami dan 5) adalah aditif material yaitu nutrien yang terdiri antibiotik
hormon (Kamal, 1994).
Konsentrat meliputi biji-bijian (jenis padi-padian, kacang-kacangan) hasil
ikutan dari penggilingan dan biji-bijian antara lain dedak padi, dedak jagung, dedak
gandum dan lain-lain. Konsentrat dikelompokan menjadi 2 yaitu Proteinaceous
concentrate dan Carbonaceous concentrate. Carbonaceous concentrate adalah
konsentrat yang mengandung energi tinggi, sedangkan Proteinaceous concentrate
adalah konsentrat yang kaya protein (Lubis, 1992).
Menurut Suparjo (2008) pengujian bahan pakan secara fisik merupakan
analisis pakan dengan cara melihat keadaan fisiknya. Pengujian secara fisik bahan
pakan dapat dilakukan secara langsung (makroskopis) maupun dengan alat
(mikroskopis). Pengujian secara fisik disamping untuk mengenali bahan pakan secara
fisik, juga dapat untuk mengevaluasi bahan pakan secara kualitatif. Pengujian bahan
pakan secara fisik dan mikroskopik sangat bermanfaat dalam penyusunan ransom.
Hal ini dikarenakan penyusunan bahan pakan sendiri sangat dipengaruhi oleh ukuran
partikel, jumlah partikel, bentuk partikel, densitas, kemampuan elektrolisitas, sifat
higroskopis dan florvabilitas (Axe, 1995).
Konsentrat adalah suatu bahan pakan yang dipergunakan bersama bahan
pakan lain untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan makanan dan
dimaksudkan untuk disatukan dan dicampur sebagai suplemen (pelengkap) atau
pakan pelengkap (Hartadi dkk., 1997).
III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Konsentrat


Konsentrat merupakan pakan penguat yang terdiri dari bahan pakan yang kaya
karbohidrat dan protein seperti dedak padi, jagung kuning dan bungkil-bungkilan.
Menurut Darmono (1993) bahwa Pakan penguat atau konsentrat adalah pakan yang
berasal dari biji-bijian dan mengandung protein yang cukup tinggi dan mengandung
serat kasar kurang dari 18 %. Hartadi et al. (1997) menambahkan bahwa konsentrat
adalah suatu bahan pakan yang dipergunakan bersama bahan pakan lain untuk
meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan makanan dan dimaksudkan untuk
disatukan dan dicampur sebagai suplemen (pelengkap) atau makanan pelengkap.
Pakan penguat atau konsentrat diberikan dengan tujuan menambah nilai gizi pakan,
menambah unsur pakan yang defisiensi dan meningkatkan konsumsi pakan
(Murtidjo, 1993).
Konsentrat dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu konsentrat sumber protein
dan konsentrat sumber energi. Konsentrat dikatakan sebagai sumber energi apabila
mempunyai kandungan protein kasar kurang dari 20% dan serat kasar 18%,
sedangkan konsentrat dikatakan sebagai sumber protein karena mempunyai
kandungan protein lebih besar dari 20% (Tillman et al.,1991).

3.2 Pengolahan Konsentrat Secara Fisik


3.2.1 Pengolahan Kering Dingin
Proses pengolahan konsentrat secara kering dingin adalah dengan
menggunakan mesin. Mesin harus tahan panas, sehingga jika gesekan mesin terlalu
panas dibutuhkan pendingin agar bahan konsentrat dapat diolah dengan sempurna dan
mesin harus dilengkapi dengan pendingin tersebut. Salah satu pengolahan secara
kering dingin adalah penggilingan dengan hammer mill. Proses penggilingan pada
bahan pakan untuk konsentrat bertujuan untuk merubah ukuran atau bentuk bahan.
Biasanya dilakukan pada bahan konsentrat yang berupa biji-bijian seperti jagung.
Bijian digiling agar menghasilkan bentuk yang lebih kecil sehingga mempermudah
pemberian pakan pada ternak.
Pakan konsentrat memiliki proses yang cukup panjang, yakni terdiri dari
pengolahan bahan makanan melalui proses penggilingan, pemecahan, hingga bahan
pakan menjadi tepung dan layak di jadikan bahan campuran kosentrat. Berdasarkan
kerja atau cara pembebanannya terhadap bahan pakan yang akan diproses, mesin
pemecah dibagi dalam tiga golongan, yaitu mesin pemecah dengan beban tekan,
mesin pemecah dengan beban impact, dan mesin pemecah berputar.
Pada mesin pemecah dengan beban tekan, pecahnya bahan terjadi karena
adanya beban tekan yang diberikan oleh alat kepada bahan. Besamya beban tekan
relatif lebih besar dari pada kekuatan yang dimiliki bahan. Menurut cara
pembebanannya, ada dua jenis mesin pemecah dengan beban tekan, yaitu tekanan
bolak-balik (jaw crusher, gyratory crusher, dan disc crusher dan tekanan kontinu).
Pada mesin pemecah dengan beban impact, pecahnya bahan adalah akibat beban
impact yang ditimbulkan oleh tumbukan antara komponen mesin yang bergerak cepat
dengan bahan. Jenis-jenis mesin pemecah dengan beban impact di antaranya hammer
crusher; dual rotor impact breaker, vertical impact crusher dan rotary knife cutter.
Prinsip kerja mesin pemecah berputar adalah ruang pemecah berputar pada
sumbunya.
A. Hammer Mill

Hammer yang berarti martil menandakan prinsip kerja dari mesin ini adalah
pemecah bahan pakan menjadi lebih sederhana dan layak untuk di jadikan konsentat.
Bahan pakan yang di proses melalui hammer mill selalu dalam keadaan kering
karena ciri khas dari mesin ini yaitu mengolah bahan pakan secara kering dan dingin.
Pengolahan secara dingin disini adalah tidak melibatkan pamanasan apapun ketika
pemecahan berlangsung. Sistem kerja mesin ini adalaha bahan pakan akan di pecah
oleh palu yang terus berputar sehingga partikel bahan pakan akan menjadi lebih
sederhana. Saringan pada hammer mill memiliki beberapa ukuran screen.
Penggunaan ukuran screen tergantung dari kebutuhan kehalusan butiran yang akan
dibuat. Kapasitas kerja mesin merupakan parameter penting dalam mengukur kinerja
mesin terutama efisiensi waktu. Waktu sangat berpengaruh terhadap kapasitas kerja
mesin, semakin lama waktu yang digunakan kapasitas kerja mesin semakin rendah.
Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja mesin hammer mill
diantaranya:
1. Jenis bahan baku
Semakin besar ukuran partikel bahan baku, maka waktu yang digunakan
untuk menggiling juga semakin lama.
2. Keterampilan operator
Dalam memasukkan bahan baku ke corong harus sedikit demi sedikit untuk
menghindari macetnya mesin penggiling, jika terlalu banyak bahan baku yang
masuk dan macet, perlu membutuhkan waktu untuk mengaturnya kembali.
Kemacetan yang terjadi di dalam ruang pencacah ini dapat dikarenakan bahan
yang dimasukkan terlalu banyak sedangkan ruang penggilingan tidak mampu
atau kesulitan untuk menampung bahan yang digiling sehingga terjadi
penumpukan di ruang penggilingan, oleh karena itu bahan yang dimasukkan
tidak boleh terlalu banyak. Dengan mengatur katup mesin, bahan baku dapat
masuk secara teratur sesuai dengan yang dinginkan.
3. Kecepatan putaran mesin (rpm)
Semakin besar rpm yang digunakan maka semakin besar energi yang
dibutuhkan. Kemudian jika rpm putaran mesin terlalu kencang sehingga
bahan sulit masuk ruang penggilingan dan terpental keluar sehingga waktu
yang diperlukan untuk penggilingan menjadi lebih lama.
4. Ukuran diameter silinder dan jumlah palu
Ukuran diameter silinder dan jumlah palu yang yang sesuai memberikan
kinerja mesin yang optimal. Besarnya tumbukan dapat meningkat dengan
meningkatkan kecepatan palu.
B. Dry Rolling

Rolling disini terbagi menjadi dua proses yaitu dry rolling dan steam rolling.
Rolling adalah proses menekan bahan ke dalam pencetak berbentuk silinder. Proses
pengolahan pakan dengan cara rolling tanpa penambahan uap air disebut dry rolling.
Proses pengolahan pakan dengan cara rolling dan diberi uap air selama 1 8 menit
disebut steam rolling. Sistem kerja mesin ini yaitu adanya dua silinder baja yang
berputar menekan bahan pakan bahan yang masuk satu kali saja.
Manfaat dari proses penggilingan adalah ekstraksi zat yang diinginkan,
menganalisa komposisi zat yang terkandung, memperluas permukaan sehingga
mempercepat pengeringan, meningkatkan aktifitas kerja enzim, dan meningkatkan
daya cerna zat makanan hewan omnivore. Penggilingan dapat memudahkan
pencampuran secara homogen, seperti dalam membuat ransum. Bahan dalam bentuk
grit dapat diubah menjadi pecahan butiran dan bahan yang sudah dalam bentuk mash
pun dapat diubah menjadi lebih halus (Briggs dkk., 1999).
Faktor yang mempengaruhi kehalusan proses penggilingan: tipe/macam
butiran, kadar air : kadar air lebih banyak, butiran cepat keluar, ukuran saringan :
lebih halus, bahan keluar lebih lambat dan kecepatan hasil keluar dari mesin : butiran
lebih besar, cepat keluar
3.2.2 Pengolahan Kering Panas
Pengolahan konsentrat kering panas dapat dilakukan dengan micronizing,
popping, roasting, dan extrude.
A. Micronizing
Adalah pemanasan dengan cahaya infremerah, biji-bijian dipanaskan hingga
suhu 300F selama 25 50 detik, kadar airnya dapat berkurang hingga 7%. Popping
yaitu pemanasan cepat pada suhu 700800F sehingga airnya menguap dan biji-bijian
menjadi mekar, pati tergelatinisasi sehingga mudah dicerna secara enzimatik.
B. Popping
Popping yaitu pemecahan granula pati yang terdapat pada butiran (jagung,
sorgum, gandum) dengan panas temperatur 150c. Bergantung pada tekanan, kadar
air bahan, tipe butiran
C. Roasting
Yaitu pemanasan yang lebih lambat dari popping, dengan suhu 260-300F,
biji-bijian dilewatkan pada sebuah drum yang berputar di antara api, kadar air
berkurang tanpa adanya pemekaran. Ekstruksi dapat dilakukan dengan waktu pendek
dan temperatur tinggi, waktu panjang temperatur rendah, pressure cooking extruders
atau dry extruction cooker. Tujuan pengolahan biji-bijian adalah untuk gelatinisasi
pati sehingga pati nantinya akan mudah menyerap air agar mudah dicerna.
Gelatinisasi pati ditentukan oleh kombinasi antara kelembaban, panas, energi
mekanik, dan tekanan (Fahrenholz, 1996).
Roasting adalah teknik mengolah bahan makanan dengan cara memanggang
bahan makanan dalam bentuk besar didalam oven. Roasting bentuk seperti oven.
Sumber panasnya berasal dari kayu bakar, arang, gas, listrik, atau micriwave oven.
Waktu meroasting sumber panas berasal dari seluruh arah oven. Selama proses
meroasting berjalan, harus disiram lemak berulaang kali untuk memelihara
kelembutan daging dan unggas tersebut.
D. Extruding
Pemanpatan dengan tekanan tinggi: butiran dipaksa dengan kekuatan tertentu
agar melalui silinder penghalus; silinder runcing dan bergelombang Temperatur 95C

3.2.3 Pengolahan Basah Panas


A. Pelleting
Merupakan salah satu metode pengolahan pakan secara fisik yang banyak
diterapkan di industri pakan unggas, khususnya ayam. Ayam merupakan ternak yang
bersifat selektif terhadap pakan, yaitu cenderung memilih bahan pakan yang disukai.
Ayam menyukai pakan berbentuk biji-bijian (grains) terkait dengan morfologi sistem
pencernaannya, yaitu memiliki paruh untuk mematuk dan gizzard sebagai lokasi
pencernaan secara mekanik. Pellet merupakan bentuk bahan pakan yang dipadatkan
sedemikian rupa dari bahan konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk mengurangi
sifat keambaan pakan. Keambaan pakan yang diolah menjadi pellet berkurang karena
densitasnya meningkat. Pellet yang memiliki densitas tinggi akan meningkatkan
konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer, serta mencegah de-mixing
yaitu peruraian kembali komponen penyusun pellet sehingga konsumsi pakan sesuai
dengan kebutuhan standar (Stevens,1987).
Pengolahan pakan menjadi bentuk pellet (pelleting) memiliki sejumlah
keuntungan, antara lain meningkatkan konsumsi dan efisiensi pakan, meningkatkan
kadar energi metabolis pakan, membunuh bakteri patogen, menurunkan jumlah pakan
yang tercecer, memperpanjang lama penyimpanan, menjamin keseimbangan zat-zat
nutrisi pakan dan mencegah oksidasi vitamin. Keuntungan pakan bentuk pellet adalah
meningkatkan densitas pakan sehingga mengurangi keambaan atau sifat bulky,
dengan demikian akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang
tercecer. Selain itu, pellet juga memerlukan lebih sedikit tempat penyimpanan dan
biaya transportasi jika dibandingkan dengan bahan-bahan pakan penyusun pellet.
Menurut hasil sejumlah penelitian, manfaat pelleting adalah untuk
memudahkan penanganan pakan dan meningkatkan performans ternak. Pelleting
meningkatkan kepadatan dan daya alir, mencegah pakan tercecer dan diterbangkan
angin, serta meningkatkan konversi ransum. Peningkatan performans terjadi karena
terjadi peningkatan kecernaan, penurunan pemisahan bahan penyusun ransum, lebih
sedikit energi untuk mencerna pakan, serta peningkatan palatabilitas (Briggs dkk.,
1999).
Kualitas pellet merupakan aspek yang penting baik bagi produsen pakan
maupun peternak. Kualitas pellet ditentukan dengan durabilitas, kekerasan (hardness)
dan ukuran. Kualitas pellet yang baik membutuhkan konsekuensi bagi produsen
pakan, yaitu berupa tingginya biaya produksi, tingginya energi dan modal yang
dibutuhkan. Bagi peternak unggas, kualitas pellet yang baik akan menghasilkan
konversi pakan yang rendah, pertambahan bobot badan yang tinggi, dan
meminimalkan pakan yang terbuang. Menurut Behnke (1994), faktor-faktor yang
mempengaruhi kualitas pellet adalah formulasi (pengaruhnya sebesar 40%),
conditioning (20%), ukuran partikel (20%), spesifikasi die (cetakan) dari mesin pellet
(15%) dan pendinginan (5%).
Bahan pakan yang digunakan menentukan kualitas pellet secara signifikan.
Pengaruh protein mentah dan terdenaturasi serta pati jagung mentah dan terdenaturasi
sangat mempengaruhi durabilitas dan kekerasan pellet. Pakan yang terbuat dari isolat
protein kedelai dan jagung dijadikan pellet dengan dan tanpa steam conditioning.
Pregelatinisasi dan denaturasi protein menghasilkan PDI (pellet durability index) 70
sedangkan PDI pellet berbahan dasar mentah hanya sebesar 19. Protein berperan
penting bagi peningkatan durabilitas pellet. Namun perusahaan pakan pada umumnya
menekankan pada penggunaan gelatin pati untuk meningkatkan durabililitas pellet
karena pati lebih murah daripada protein.
Dikatakan bahwa gelatinisasi pati disebabkan oleh penguapan (steam
conditioning), tetapi hasil Stevens (1987) tentang gelatinisasi dalam 100% ransum
berbahan dasar jagung justru membuktikan fakta yang berkebalikan dengan opini
umum. Menurut Stevens (1987), 58,3% pati tergelatinisasi saat ransum mengalami
proses pelleting kering dan 25,9% pati tergelatinisasi saat ransum mengalami steam
conditioning hingga 80oC. Dari hasil penelitian tersebut diduga bahwa proses
shearing secara mekanik dalam die (cetakan) alat pellet menyebabkan panas sehingga
terjadi gelatinisasi. Efek pembasahan dari uap menurunkan panas dalam die sehingga
menurunkan gelatinisasi.
Bungkil kedelai yang diolah secara mekanik (mechanically expelled soybean
meal) juga merupakan bahan pakan tinggi minyak. Dibandingkan dengan bungkil
kedelai yang diolah dengan ekstraksi solvent (solvent-extracted soybean meal),
bungkil kedelai mekanik mengandung 5% minyak lebih banyak sehingga banyak
digunakan dalam industri pakan. Bungkil kedelai jenis ini menghasilkan pellet
dengan kepadatan tinggi, artinya durabilitas lebih tinggi sehingga tidak mudah
hancur saat pengangkutan (Briggs dkk, 1999).
B. Steam Rolling
Dimasak dalam uap panas dengan tekanan tinggi selama 3 5 detik kemudian
digiling.
C. Steam Plaking
Pemanasan dengan uap panas pada waktu lebih lama dari steam rolling; 12
menit. Temperatur 100 0c. Diameter hasil gilingan 0,05 mm.
D. Pressure Cooking
Pemanasan dengan uap panas pada tekanan tinggi Tekanan = 3 kg/cm2
Temperatur 143 0c. Kadar air berkurang sd 20%.
E. Exploanding
Pengolahan dengan uap panas dan tekanan tertentu dilanjutkan dengan
penggilingan Tekanan = 15 kg/cm2 Temperatur 200 0c Lama 18 20 detik
IV

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan, didapatkan kesimpulan bahwa :


1. Pengolahan konsentrat secara fisik diantaranya yaitu pengolahan secara kering
dingin, pengolahan secara kering panas dan pengolahan secara basah panas
dengan pelleting.
2. Pengolahan kering dingin pada konsentrat terdiri dari hammer milling dan
rolling.
3. Pengolahan kering panas pada konsentrat terdiri dari micronnizing, poppong,
roasting dan extrude.
4. Pengolahan basah panas pada konsentrat terdiri dari pelleting, steam rolling,
steam plaking, pressure cooking dan esploanding.
DAFTAR PUSTAKA

Axe , D.E. 1995. Factors Affecting Unifornity Of Amix. Mallinderoat Feed


Ingeredents: Mundelein IL.

Behnke, K. C. 1994. Factors Affecting Pellet Quality. Maryland Nutrition


Conference, Departement of Pouly Science and Animal Science. University of
Maryland.

Briggs, J.L. D.E. Maier, B.A. Watkins, dan K.C. Behnke. 1999. Effect of ingredients
and processing parameters on pellet quality.

Darmono, 1999. Tatalaksana Usaha Sapi Kereman. Kanisius. Yogyakarta.

Fahrenholz, C. 1996. Cereal Grains and By-Products: What's in Them and How Are
They Processed? (halaman 57-70). SmithKline Beecham, Pennsylvania.

Hartadi, S., S. Reksodihadiprodjo, A.D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk
Indonesia, UGM Press, Yogyakarta.

Kamal, M. 1994. Nutrisi Ternak I. Laboratorium Makanan Ternak Jurusan Nutrisi


Makanan Ternak. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

Lubis, D.A.1992. Ilmu Makanan Ternak. Cetakan Kedua. PT Pembangunan. Jakarta.

Murtidjo, B.A., 1993. Memelihara Kambing Sebagai Ternak Potong dan Perah.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Stevens, C. A. 1987. Starch gelatinization and the influence of particle size, steam
pressure and die speed on the pelleting process. Ph.D.Dissertation. Kansas
State University, Manhattan, KS.
Suparjo, Ir. 2008. Pengawasan Mutu Pada Pabrik Pakan Ternak.
Laboratorium Makanan Ternak. Universitas Negeri Jambi.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Rekshadiprojo, S. Prawirokusumo dan S.


Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.