Anda di halaman 1dari 29

46

BAB III
STRATIGRAFI

3.1 Stratigrafi Regional

Stratigrafi regional daerah penelitian menurut Djuri dan Sudjatmiko, S.

Bachri dan Sukido (1998) pada Peta Geologi Lembar Majene dan Palopo bagian

Barat yang sesuai dengan daerah penelitian yaitu sebagai berikut :

Tomd : Formasi Date; (Tertiary Oligocene Miocene Date) terdiri dari

Napal diselingi batulanau gampingan dan batupasir gampingan; tebal endapan

mencapai 500-1000 m; kandungan foraminifera menunjukkan umur Oligosen

Tengah - Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan laut dangkal. Di Lembar

Mamuju (Ratman dan Atmawinata. 1993) formasi ini disebut Formasi Rio.

Tomm : Formasi Makale; (Tertiary Oligocene Miocene Makale) terdiri

dari Batugamping terumbu, terbentuk di laut dangkal. Umurnya diduga Miosen

Awal - Miosen Tengah.

Tets : Formasi Toraja; (Tertiary Eocene Toraja Shalel) terdiri dari Serpih

coklat kemerahan, serpih napalan kelabu, batugamping, batupasir kuarsa,

konglomerat, batugamping, dan setempat batubara. Tebal formasi diduga tidak

kurang dan 1000 m. Fosil foraminifera besar pada batugamping menunjukkan umur

Eosen - Miosen (Budiman, 1981. dalam Simandjuntak, drr., 1993). Sedang

lingkungan pengendapannya laut dangkal. Formasi ini menindih tidak selaras

Formasi Latimojong dan ditindih tidak selaras oleh Batuan Gunungapi Lamasi.

Kls : Formasi Latimojong; Secara umum formasi ini mengalami

pemalihan lemah - sedang; terdiri atas serpih, filit, rijang, marmer, kuarsit dan

46
47

breksi terkersikkan; diterobos oleh batuan beku menengah sampai basa; di Lembar

Mamuju (Ratman dan Atmawinata, 1993) juga dijumpai batulempung mengandung

fosil Globotruncana berumur Kapur Akhir, dengan lingkungan pengendapan laut

dalam. Tebal formasi lebih dari 1000 m.

Gambar 3.1 Peta Geologi lembar Majene dan Palopo bagian Barat
48

3.2 Stratigrafi Daerah Penelitian

Pengelompokan dan penamaan satuan batuan pada daerah penelitian

didasarkan pada litostratigrafi tidak resmi yang bersendikan pada ciri litologi,

dominasi batuan, keseragaman gejala litologi, hubungan stratigrafi antara batuan

yang satu dengan batuan yang lain, serta hubungan tektonik batuan, sehingga dapat

disebandingkan baik secara vertikal maupun lateral (Sandi Stratigrafi Indonesia,

1996), dan dapat dipetakan dalam sekala 1 : 25.000.

Secara umum litologi penyusun daerah penelitian merupakan batuan

metamorf dan batuan sedimen. Berdasarkan litostratografi tidak resmi, maka pada

daerah penelitian dijumpai 3 (tiga) satuan batuan yang diurutkan dari muda ke tua,

yaitu :

1. Satuan batugamping

2. Satuan batulempung

3. Satuan filit

Pembahasan dan uraian dari urutan satuan stratigrafi daerah penelitian dari

tua ke muda adalah sebagai berikut :

3.2.1 Satuan filit

Satuan filit merupakan satuan batuan yang tertua pada daerah penelitian.

Pembahasan satuan filit pada daerah penelitian meliputi penjelasan mengenai dasar

penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi yang mencakup karakteristik

batuan pada pengamatan secara megaskopis dan mikroskopis, umur dan lingkungan

pembentukan, serta hubungan stratigrafi dengan satuan batuan pada daerah

penelitian.
49

3.2.1.1 Dasar Penamaan

Dasar penamaan satuan batuan ini berdasarkan pada litostratigrafi tidak

resmi yang bersandikan pada ciri fisik dan penyebaran yang mendominasi pada

satuan batuan ini secara lateral serta dapat terpetakan dalam peta skala 1:25.000.

Penamaan batuan dari penyusun satuan batuan ini terdiri atas dua cara yaitu

pengamatan batuan secara megaskopis dan secara mikroskopis. Pengamatan secara

megaskopis ditentukan secara langsung di lapangan terhadap sifat fisik dan

komposisi mineralnya dengan menggunakan klasifikasi Travis (1955) sebagai dasar

penamaan. Pengamatan secara mikroskopis yaitu menggunakan alat bantu

mikroskop polarisasi untuk menentukan jenis dan nama batuan secara lebih rinci

dengan melihat sifat-sifat optik komponen penyusun batuan yang kemudian

penamaannya menggunakan klasifikasi batuan metamorf menurut Travis (1955).

Penamaan satuan batuan ini didasarkan atas dominasi litologi yang

menyusunnya yakni filit, maka satuan batuan ini dinamakan satuan Filit.

3.2.1.2 Penyebaran dan Ketebalan

Satuan ini menempati sekitar 47 % dari keseluruhan luas daerah penelitian

atau sekitar 25,75 km2. Satuan ini tersebar secara lateral yang memanjang dari

Timur Laut hingga Tenggara daerah penelitian yaitu pada daerah Bontongan hingga

Katangka dan sekitarnya. Ketebalan dari satuan ini tidak diketahui.

3.2.1.3 Ciri Litologi

Litologi yang menyusun satuan ini yaitu filit dan batugamping. Pada daerah

penelitian, secara umum litologi filit dijumpai dalam kondisi segar memperlihatkan
50

ciri fisik berwarna abu-abu kehitaman dan dalam kondisi lapuk berwarna coklat,

tekstur nematoblastik, foliasi dengan arah N 320 E. Secara megaskopis mineral-

mineral yang dapat diamati antara lain kuarsa dan muskovit. Berdasarkan ciri

fisiknya nama batuan ini adalah Filit (Foto 3.1, Foto 3.3, Foto 3.5, Foto 3.7).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Filit dengan nomor sayatan

AFP/FLT/4, AFP/FLT/11, AFP/FLT/23, dan AFP/FLT/31 secara umum memiliki

warna absorbsi kecoklatan, warna interferensi abu-abu, tekstur nematoblastik,

struktur schistose, bentuk subhedral-anhedral dengan ukuran mineral yang tidak

seragam antara 0,01 mm 1,2 mm, komposisi mineral terdiri dari mineral kuarsa

(13% - 21%), ortoklas (7% - 14%), biotit (2%-6%), material lempung (57% - 73%),

dan mineral opak (4% - 11%). Berdasarkan hasil analisis petrografis dan dengan

melihat karakteristik serta persentase dari komposisi mineral penyusun batuan,

maka batuan ini dinamakan Filit (Foto 3.2, Foto 3.4, Foto 3.6, Foto 3.8).

Foto 3.1 Singkapan Filit pada stasiun 4 daerah Gura difoto ke arah N86E
51

Foto 3.1 Singkapan Filit pada stasiun 4 daerah Gura difoto ke arah N78E

Foto 3.2 Pengamatan petrografi Filit pada stasiun 4 yang memperlihatkan mineral
Kuarsa (2B), Ortoklas (9H), material lempung (6G), dan mineral opak
(3G) difoto dengan perbesaran 50X

Foto 3.3 Singkapan Filit pada stasiun 11 daerah Buttu Tanglah difoto ke arah
N125E

Foto 3.4 Pengamatan petrografi Filit pada stasiun 11 yang memperlihatkan


mineral Kuarsa (11G), material lempung (7F), mineral opak (5A)
difoto dengan perbesaran 50X
52

Foto 3.5 Singkapan Filit pada stasiun 23 daerah Matawai difoto ke arah
N170E

Foto 3.6 Pengamatan petrografi Filit pada stasiun 23 yang memperlihatkan


mineral Kuarsa (7C), Biotit (9I), Ortoklas (3B), material lempung
(6G), dan mineral opak (3H) difoto dengan perbesaran 50X
53

Foto 3.7 Singkapan Filit pada stasiun 31 daerah Katangka difoto ke arah
N189E

Foto 3.8 Pengamatan petrografi Filit pada stasiun 31 yang memperlihatkan mineral
Kuarsa (4J), Biotit (6J), material lempung (11D), dan mineral opak (1B)
difoto dengan perbesaran 50X

Batugamping dalam keadaan segar memperlihatkan ciri fisik berwarna abu-

abu, sedangkan dalam kondisi lapuk berwarna coklat kehitaman. Batugamping ini
54

memiliki tekstur klastik dengan struktur berlapis, komposisi kimia karbonatan.

Berdasarkan ciri fisiknya nama batuan ini adalah Batugamping (Foto 3.3).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batugamping dengan nomor sayatan

AFP/BL/26 secara umum memiliki warna absorbsi coklat, warna interferensi abu-

abu kehitaman, tekstur non klastik, ukuran mineral 0,08 mm 0,42 mm, komposisi

mineral berupa kalsit (13%), material lempung (79%), dan pori (8%). Berdasarkan

hasil analisis petrografis dan dengan melihat karakteristik serta persentase dari

komposisi material penyusun batuan, maka batuan ini dinamakan Crystalline

(Dunham, 1962).

Foto 3.9 Singkapan Batugamping pada stasiun 26 daerah Lamba difoto ke


arah N129E
55

Foto 3.10 Pengamatan petrografi Crystalline pada stasiun 26 yang


memperlihatkan mineral kalsit (9E), material lempung (4A), dan pori
(8B) difoto dengan perbesaran 50X

3.2.1.4 Lingkungan Pembentukan dan Umur

Penentuan fasies metamorfisme didasarkan pada mineral-mineral

penyusunnya. Mineral-mineral tersebut digunakan dalam menginterpretasi batasan

kedalaman, temperatur dan besarnya tekanan yang mengontrol jalannya proses

metamorfisme tersebut.

Berdasarkan sayatan pada AFP/FLT/4, AFP/FLT/11, AFP/FLT/23, dan

AFP/FLT/31 terdiri dari kuarsa, ortoklas, biotit, material lempung, dan mineral

opak. Kumpulan mineral-mineral tersebut menunjukkan fasies metamorfisme

berderajat rendah berupa Fasies Sekis Hijau (Green Schist Facies) yang terbentuk

melalui metamorfisme regional zona epizone. Pada diagram fasies metamorfisme

memperlihatkan bahwa fasies ini terbentuk pada zona kedalaman 5 km 10 km,

dengan temperatur berkisar antara 3000C hingga 5000C dan tekanan antara 3000

8000 bar. Pembagian fasies metamorfisme yang digunakan didasarkan pada

klasifikasi yang disusun oleh Turner (1960) dalam Graha (1985), sedangkan

penentuan tingkat kedalaman, temperatur dan tekanan yang mengontrol


56

pembentukan setiap fasies metamorfisme menggunakan klasifikasi yang disusun

oleh Willie (1971) dalam Graha (1985).

Penentuan umur satuan filit didasarkan atas persamaan ciri fisik dan letak

geografis filit di daerah penelitian, dimana filit pada daerah penelitian dalam

kondisi segar berwarna abu-abu kehitaman, sedangkan pada kondisi lapuk

berwarna coklat, tekstur nematoblastik, struktur schistose, terdiri dari mineral

kuarsa dan muskovit. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa

Satuan filit di daerah penelitian dapat disebandingkan dengan filit anggota dari

Formasi Latimojong ( Kls ) oleh Djuri,dkk (1998). Formasi Latimojong terdiri dari

serpih, filit, rijang, marmer, kuarsit dan breksi terkersikkan, juga dijumpai

batulempung yang mengandung fosil Globotruncana berumur Kapur Akhir.

3.2.1.5 Hubungan Stratigrafi

Hubungan stratigrafi antara satuan ini dengan satuan di bawahnya tidak

ditemukan, sedangkan hubungan stratigrafi Satuan filit dengan satuan yang lebih

muda di atasnya yaitu satuan batulempung yaitu ketidakselarasan.

3.2.2 Satuan batulempung

Pembahasan satuan batulempung pada daerah penelitian meliputi

penjelasan mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi yang

mencakup karakteristik batuan pada pengamatan secara megaskopis dan

mikroskopis, umur dan lingkungan pengendapan, serta hubungan stratigrafi dengan

satuan batuan pada daerah

penelitian.
57

3.2.2.1 Dasar Penamaan

Dasar penamaan satuan batuan ini berdasarkan pada litostratigrafi tidak

resmi yang bersandikan pada ciri fisik dan penyebaran yang mendominasi pada

satuan batuan ini secara lateral serta dapat terpetakan dalam peta skala 1:25.000.

Penamaan batuan dari penyusun satuan batuan ini terdiri atas dua cara yaitu

pengamatan batuan secara megaskopis dan secara mikroskopis. Pengamatan secara

megaskopis ditentukan secara langsung di lapangan terhadap sifat fisik dan

komposisi mineralnya dengan menggunakan klasifikasi batuan sedimen menurut

Wentworth (1922), dalam Boggs (1987) sebagai dasar penamaan. Pengamatan

secara mikroskopis yaitu menggunakan alat bantu mikroskop polarisasi untuk

menentukan jenis dan nama batuan secara lebih rinci dengan melihat sifat-sifat

optik komponen penyusun batuan yang kemudian penamaannya menggunakan

klasifikasi batulempung menurut Selley (1976) dalam Endarto (2005), klasifikasi

batupasir menurut William, Turner, and C. M. Gilbert (1982) dan klasifikasi batuan

karbonat menurut Dunham (1962).

Berdasarkan data lapangan, satuan ini disusun oleh litologi batulempung,

batulempung karbonatan, batupasir, batugamping, namun batulempung lebih

dominan sehingga penamaan satuan batuan ini adalah satuan Batulempung.

3.2.2.2 Penyebaran dan Ketebalan

Satuan ini menempati luas sekitar 43% dari luas keseluruhan daerah

penelitian atau sekitar 24,05 km2. Satuan ini tersebar pada bagian barat laut hingga

timur dari utara hingga selatan daerah penelitian mulai daerah Tampan, Bontongan,
58

Raada, Rumbia, Madata, hingga Pangbarani. Kedudukan batuan secara umum

berarah relatif utara barat laut selatan menenggara N176o/21oE (pada stasiun 2).

Ketebalan dari satuan ini pada lokasi penelitian ditentukan berdasarkan hasil

dari perhitungan ketebalan pada penampang geologi A B yang berarah barat daya

timur laut dengan mengukur batas bawah dan batas atas lapisan pada penampang

geologi, sehingga diperoleh ketebalan satuan batulempung sebesar 1025 m (lihat

peta geologi).

3.2.2.3 Ciri Litologi

Litologi yang menyusun satuan ini yaitu batulempung, batulempung

karbonatan, batupasir, dan batugamping. Secara megaskopis pada daerah penelitian

dijumpai batulempung dalam keadaan segar memperlihatkan ciri fisik berwarna

abu-abu dan adapula yang berwarna merah, sedangkan dalam kondisi lapuk

berwarna kecoklatan. Batulempung ini memiliki tekstur klastik dengan struktur

berlapis, sortasi baik, kemas tertutup, ukuran butir lempung, dan komposisi kimia

silika. Berdasarkan ciri fisiknya nama batuan ini adalah Batulempung (Foto 3.11).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batulempung dengan nomor sayatan

AFP/BL/19 secara umum memiliki warna absorbsi coklat, warna interferensi abu-

abu, tekstur klastik, mud supported. Komposisi material terdiri dari kuarsa (3%),

dan material lempung (97%). Berdasarkan hasil analisis petrografis dan dengan

melihat karakteristik serta persentase dari komposisi material penyusun batuan,

maka batuan ini dinamakan Claystone (Selley, 1969).


59

Foto 3.11 Singkapan batulempung merah pada stasiun 19 daerah Rumbia


difoto ke arah N54E

Foto 3.12 Pengamatan petrografi Claystone pada stasiun 19 yang


memperlihatkan mineral Kuarsa (6G), dan material lempung (4E)
difoto dengan perbesaran 50X

Batulempung karbonatan dalam keadaan segar secara umum

memperlihatkan ciri fisik berwarna abu-abu dan adapula yang berwarna merah,

sedangkan dalam kondisi lapuk berwarna kecoklatan. Batulempung ini memiliki

tekstur klastik dengan struktur berlapis, sortasi baik, kemas tertutup, ukuran butir

lempung, dan komposisi kimia karbonatan. Berdasarkan ciri fisiknya nama batuan

ini adalah Batulempung karbonatan (Foto 3.13, Foto 3.15).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batulempung karbonatan dengan

nomor sayatan AFP/BL/1 dan AFP/BL/2 secara umum memiliki warna absorbsi
60

coklat, warna interferensi abu-abu, tekstur non klastik, mud supported. Komposisi

material terdiri dari skeletal grain (9% - 14%), material lempung (82% - 84%), dan

pori (4% - 6%). Berdasarkan hasil analisis petrografis dan dengan melihat

karakteristik serta persentase dari komposisi material penyusun batuan, maka

batuan ini dinamakan Wackestone (Dunham, 1962).

Foto 3.13 Singkapan batulempung karbonatan pada stasiun 1 daerah


Kalimbua difoto ke arah N355E

Foto 3.14 Pengamatan petrografi Wackestone pada stasiun 1 yang


memperlihatkan skeletal grain (5B), material lempung
(10E), dan pori (7H) difoto dengan perbesaran 50X
61

Foto 3.15 Singkapan batulempung karbonatan pada stasiun 2 daerah


Tampang difoto ke arah N221E

Foto 3.16 Pengamatan petrografi Wackestone pada stasiun 2 yang


memperlihatkan skeletal grain (3F), material lempung (4B),
dan pori (8J) difoto dengan perbesaran 50X

Batupasir dalam keadaan segar secara umum memperlihatkan ciri fisik

berwarna abu-abu, sedangkan dalam kondisi lapuk berwarna kecoklatan. Batupasir

ini memiliki tekstur klastik dengan struktur berlapis, sortasi baik, kemas tertutup,

ukuran butir pasir halus, dan komposisi kimia silika. Berdasarkan ciri fisiknya nama

batuan ini adalah Batupasir (Foto 3.17, Foto 3.19).

Kenampakan mikroskopis dari litologi batupasir dengan nomor sayatan

AFP/BL/41 dan AFP/BL/48 secara umum memiliki warna absorbsi coklat, warna
62

interferensi abu-abu kehitaman, tekstur klastik, kemas terbuka, sortasi buruk,

ukuran mineral 0,03 mm 0,4 mm. Komposisi mineral terdiri dari kuarsa (44% -

45%), ortoklas (26% - 30%), biotit (4%- 5%), piroksin (7% - 9%), dan mineral

opak (14% - 16%). Berdasarkan hasil analisis petrografis dan dengan melihat

karakteristik serta persentase dari komposisi material penyusun batuan, maka

batuan ini dinamakan Quartzwacke (WTG, 1982).

Foto 3.17 Singkapan Batupasir pada stasiun 41 daerah Kalepe difoto ke


arah N122E

Foto 3.18 Pengamatan petrografi Quartzwacke pada stasiun 41 yang


memperlihatkan mineral kuarsa (3C), ortoklas (4D), biotit
(11H), piroksin (4C), dan mineral opak (3G) difoto dengan
perbesaran 50X
63

Foto 3.19 Singkapan Batupasir pada stasiun 48 daerah sungai Passui


difoto ke arah N38E

Foto 3.20 Pengamatan petrografi Quartzwacke yang memperlihatkan


mineral kuarsa (10A), ortoklas (2D), biotit (7B), piroksin (3D),
dan mineral opak (2G) difoto dengan perbesaran 50X

Batugamping dalam keadaan segar secara umum memperlihatkan ciri fisik

berwarna abu-abu, sedangkan dalam kondisi lapuk coklat kehitaman. Batugamping

ini memiliki tekstur bioklastik dengan struktur tidak berlapis, komposisi kimia

karbonat, yang tersusun oleh fosil makro dan mineral karbonat. Berdasarkan ciri

fisiknya nama batuan ini adalah Batugamping (Foto 3.21, Foto 3.23).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batugamping dengan nomor sayatan

AFP/BG/38 dan AFP/BG/42 secara umum memiliki warna absorbsi kecoklatan,

warna interferensi abu-abu, tekstur bioklastik, mud supported, komposisi material


64

terdiri dari grain (sekeletel grain) dan mud. Grain berupa foraminifera besar yaitu

Pellatispira orbitoidea, Nummulites gizehensis, Biplanispira inflata, Lepidocyclina

papuaensis, Discocyclina javana (78% - 83%) dan mud berupa mikrit (6%- 13%),

sparit (9% - 11%) yang merupakan mineral karbonat berupa kalsit. Berdasarkan

hasil analisis petrografis dan dengan melihat karakteristik serta persentase dari

komposisi material penyusun batuan, maka batuan ini dinamakan Packstone

(Dunham, 1962).

Foto 3.21 Singkapan batugamping pada stasiun 38 daerah Pangbarani


difoto ke arah N37E
65

Foto 3.22 Pengamatan petrografi Packstone pada stasiun 38 yang


memperlihatkan grain berupa foraminifera besar (5D), mud
berupa mikrit (2C), dan sparite (5B), difoto dengan
perbesaran 50X

Foto 3.23 Singkapan batugamping pada stasiun 42 daerah Dadoke difoto ke


arah N64E

Foto 3.24 Pengamatan petrografi Packstone pada stasiun 42 yang


memperlihatkan grain berupa foraminifera besar (1A), mud
berupa mikrit (10A), dan sparite (8E), difoto dengan
perbesaran 50X
66

3.2.2.4 Lingkungan Pengendapan dan Umur

Penentuan lingkungan pengendapan dan umur satuan batulempung pada

daerah penelitian ditentukan berdasarkan pada ciri-ciri fisik litologi dan posisi

stratigrafi yang bersendikan pada kesebandingan dengan umur relatif batuan secara

regional. Hal ini dilakukan setelah melakukan preparasi mikropaleontologi pada

batugamping sebanyak empat kali namun tidak menunjukkan adanya kenampakan

fosil foraminifera kecil (fosil mikro), tetapi terlihat pada sayatan petrografis berupa

fosil foraminifera kecil dan fosil foraminifera besar. Fosil mikro pada sayatan

petrografis tidak dapat dideskripsi dengan baik karena bagian tubuh fosil berupa

suture dan septanya tidak terlihat jelas. Berdasarkan hasil tersebut, diinterpretasikan

bahwa hal ini disebabkan penyebaran fosil yang tidak melimpah di daerah

penelitian atau dapat pula terjadi dikarenakan fosil yang sudah terubah menjadi

mineral kalsit sehingga saat dilakukan preparasi mikrofosil, fosil tersebut hancur.

Data lapangan yang mendukung yaitu komposisi kimia batugamping pada daerah

penelitian yaitu karbonatan dan keterdapatan fosil foraminifera besar pada batuan

yang dapat dilihat secara langsung tanpa menggunakan mikroskop.

Penentuan lingkungan pengendapan satuan batulempung ini menggunakan

klasifikasi lingkungan pengendapan oleh Boltovskoy dan Wright (1976) pada fosil

Pellatispira orbitoidea, Nummulites gizehensis, Biplanispira inflata, Lepidocyclina

papuaensis, Discocyclina javana, yaitu pada lingkungan inner neritic (shelf) zone

atau pada kedalaman 0-30 m (Tabel 3.1).


67

Tabel 3.1 Penentuan lingkungan pengendapan Satuan batulempung dengan menggunakan


klasifikasi lingkungan pengendapan oleh Boltovskoy and Wright (1976)
Neritik (Shelf) Zone Bathyal Zone Kandungan Fosil
Intertial Abyssal
Upper &
Zone Inner Middle Outer Lower Zone
Middle
Pellatispira orbitoidea

Nummulites gizehensis

Biplanispira inflate

Lepidocyclina papuaensis

Discocyclina javana,

130 - 1000 -
0-30 30 - 100 100 - 130 3000 - 5000 Kedalaman Laut (m)
1000 3000

Penentuan umur dari satuan batulempung di daerah penelitian

menggunakan umur relatif berdasarkan posisi stratigrafi dan kandungan fosil

foraminifera besar (fosil makro) yang terkandung dalam batuan. Pada pengamatan

petrografis dijumpai kandungan fosil berupa Pellatispira orbitoidea, Nummulites

gizehensis, Biplanispira inflata, Lepidocyclina papuaensis, Discocyclina javana.

Berdasarkan kandungan fosil yang dijumpai pada pengamatan petrografis, maka

umur dari satuan batugamping pada daerah penelitian adalah Eosen Awal Eosen

Akhir (Early Eocene Late Eocene) yaitu pada zona Ta - Tb (Tabel 3.2).
68

Tabel 3.2 Penentuan umur Satuan batulempung dengan menggunakan klasifikasi huruf
Foraminifera besar di Indonesia (P. Bauman, 1971)

OLIGOCENE MIOCENE PLIOSEN TO


EOSEN SPECIES
RESENT

Early

Early
Late

Late

Recent
T
Ta Tb Tc Tg Th
d LETTER STAGES
e 1-3

e 4-5

f 1-2

f3

Pellatispira orbitoidea

Nummulites gizehensis

Biplanispira inflata

Lepidocyclina papuaensis

Discocyclina javana,

Foto 3.25 Fosil Foraminifera besar pada Satuan batulempung


69

3.2.2.5 Hubungan Stratigrafi

Penentuan hubungan stratigrafi antara satuan batulempung pada daerah

penelitian didasarkan pada ciri fisik, umur, dan kenampakan kontak litologi di

lapangan. Untuk itu hubungan stratigrafi antara satuan batulempung dengan satuan

yang lebih tua yaitu satuan filit adalah tidak selaras, sedangkan dengan satuan

batuan yang lebih muda yaitu satuan batugamping adalah tidak selaras.

3.2.3 Satuan batugamping

Pembahasan satuan batugamping pada daerah penelitian meliputi

penjelasan mengenai dasar penamaan, penyebaran dan ketebalan, ciri litologi yang

mencakup karakteristik batuan pada pengamatan secara megaskopis dan

mikroskopis, umur dan lingkungan pengendapan, serta hubungan stratigrafi dengan

satuan batuan pada daerah penelitian.

3.2.3.1 Dasar Penamaan

Dasar penamaan satuan batuan ini berdasarkan pada litostratigrafi tidak

resmi yang bersandikan pada ciri fisik dan penyebaran yang mendominasi pada

satuan batuan ini secara lateral serta dapat terpetakan dalam peta skala 1:25.000.

Penamaan batuan dari penyusun satuan batuan ini terdiri atas dua cara yaitu

pengamatan batuan secara megaskopis dan secara mikroskopis. Pengamatan secara

megaskopis ditentukan secara langsung di lapangan terhadap sifat fisik dan

komposisi mineralnya dengan menggunakan klasifikasi batuan sedimen menurut

Wentworth (1922), dalam Boggs (1987) sebagai dasar penamaan. Pengamatan

secara mikroskopis yaitu menggunakan alat bantu mikroskop polarisasi untuk


70

menentukan jenis dan nama batuan secara lebih rinci dengan melihat sifat-sifat

optik komponen penyusun batuan yang kemudian penamaannya menggunakan

klasifikasi batuan karbonat menurut Dunham (1962).

Penamaan satuan batuan ini didasarkan atas dominasi litologi yang

menyusunnya yakni batugamping, maka satuan batuan ini dinamakan satuan

Batugamping.

3.2.3.2 Penyebaran dan ketebalan

Satuan ini menempati luas sekitar 10 % dari luas keseluruhan daerah

penelitian atau sekitar 4,9 km2. Satuan ini tersebar pada bagian barat daya hingga

barat laut daerah penelitian mulai daerah Buttubatu dan Passui. Tidak dijumpai

kedudukan secara umum batuan di daerah penelitian.

Ketebalan dari satuan ini pada lokasi penelitian ditentukan berdasarkan hasil

dari perhitungan ketebalan pada penampang geologi A B yang berarah barat daya

timur laut dengan mengukur batas bawah dan batas atas lapisan pada penampang

geologi, sehingga diperoleh ketebalan satuan batugamping sebesar 675 m (lihat peta

geologi).

3.2.3.3 Ciri Litologi

Litologi yang menyusun satuan ini yaitu batugamping. Secara megaskopis,

pada daerah penelitian dijumpai batugamping dalam keadaan segar

memperlihatkan ciri fisik berwarna abu-abu sedangkan dalam kondisi lapuk

berwarna coklat kehitaman. Batugamping ini memiliki tekstur bioklastik dengan

struktur tidak berlapis, komposisi kimia karbonat, yang tersusun oleh fosil dan
71

mineral karbonat. Berdasarkan ciri fisiknya nama batuan ini adalah Batugamping

(Foto 3.15).

Kenampakan mikroskopis dari litologi Batugamping dengan nomor sayatan

AFP/BG/18 secara umum memiliki warna absorbsi kecoklatan, warna interferensi

abu-abu, tekstur bioklastik, mud supported, komposisi material terdiri dari grain

(sekeletel grain) dan mud. Grain berupa foraminifera besar yaitu Miogypsina

indonesiensis. dan mud berupa mikrit dan sparit yang merupakan mineral karbonat

berupa kalsit. Berdasarkan hasil analisis petrografis dan dengan melihat

karakteristik serta persentase dari komposisi material penyusun batuan, maka

batuan ini dinamakan Packstone (Dunham, 1962).

Foto 3.26 Singkapan Batugamping pada stasiun 18 daerah Buttubatu


dengan arah foto N37E.
72

Foto 3.27 Pengamatan petrografi Packstone yang memperlihatkan grain


berupa foraminifera besar (5D), mud berupa mikrit (2C), dan
sparit (5B), difoto dengan perbesaran 50X

3.2.3.4 Lingkungan Pengendapan dan Umur

Penentuan lingkungan pengendapan dan umur satuan batugamping pada

daerah penelitian ditentukan berdasarkan pada ciri-ciri fisik litologi dan posisi

stratigrafi yang bersendikan pada kesebandingan dengan umur relatif batuan secara

regional. Hal ini dilakukan setelah melakukan preparasi mikropaleontologi pada

batugamping sebanyak empat kali namun tidak menunjukkan adanya kenampakan

fosil mikro, namun terlihat pada sayatan petrografis berupa fosil makro. Data

lapangan yang mendukung yaitu komposisi kimia batugamping pada daerah

penelitian yaitu karbonatan.

Penentuan lingkungan pengendapan satuan batugamping ini menggunakan

klasifikasi lingkungan pengendapan oleh Boltovskoy dan Wright (1976) pada fosil

Miogypsina indonesiensis, yaitu pada lingkungan inner neritic (shelf) zone atau

pada kedalaman 0-35 m (Tabel 3.3).


73

Tabel 3.3 Penentuan lingkungan pengendapan Satuan batugamping dengan menggunakan


klasifikasi lingkungan pengendapan oleh Boltovskoy and Wright (1976)
Neritik (Shelf) Zone Bathyal Zone Kandungan Fosil
Intertial Abyssal
Upper &
Zone Inner Middle Outer Lower Zone
Middle

Miogypsina indonesiensis

130 - 1000 -
0-30 30 - 100 100 - 130 3000 - 5000 Kedalaman Laut (m)
1000 3000

Penentuan umur dari satuan batugamping di daerah penelitian

menggunakan umur relatif berdasarkan posisi stratigrafi dan kandungan fosil yang

terkandung dalam batuan. Pada pengamatan petrografis dijumpai kandungan fosil

foraminifera besar berupa Miogypsina indonesiensis. Berdasarkan kandungan fosil

yang dijumpai pada pengamatan petrografis, maka umur dari satuan batugamping

pada daerah penelitian adalah Miosen Tengah Miosen Akhir (Middle Miocene -

Late Miocene) yaitu pada zona f2 - f3 (Tabel 3.4).

Tabel 3.4 Penentuan umur Satuan batugamping dengan menggunakan klasifikasi huruf
Foraminifera besar di Indonesia (P. Bauman, 1971)

MIOCENE PLIOSEN
EOSE
OLIGOCENE TO SPECIES
N
RESENT
Early

Early
Late

Late

Recent

T T T T T
Th
a b c d g LETTER STAGES
e 1-3

e 4-5

f 1-2

f3

Miogypsina indonesiensis
74

Foto 3.28 Fosil Miogypsina indonesiensis pada sayatan tipis batugamping


stasiun 15

Walaupun didapatkan fosil pada batuan, namun yang dapat dideskripsi

hanya satu, sehingga fosil ini tidak dapat dijadikan sebagai penentu umur batuan.

Berdasarkan hal tersebut, maka satuan batugamping pada daerah penelitian dapat

disebandingkan dengan Formasi Makale yang diketahui berumur Miosen Awal

Miosen Tengah yang terbentuk pada lingkungan laut dangkal.

3.2.3.5 Hubungan Stratigrafi

Penentuan hubungan stratigrafi antara satuan batugamping pada daerah

penelitian didasarkan pada ciri fisik, umur, dan kenampakan kontak litologi di

lapangan. Untuk itu hubungan stratigrafi antara satuan batugamping dengan satuan

yang lebih tua yaitu satuan batulempung adalah ketidakselarasan, sedangkan

dengan satuan batuan yang lebih muda tidak diketahui.