Anda di halaman 1dari 5

PARADIGMA KRITIS

RINGKASAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Metodologi Penelitian Non-Positif

Oleh :

Nurul Fajriyanti
176020300111029

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
PARADIGMA KRITIS
Burrell dan Morgan (1979) memberikan 2 set asumsi tentang paradigma, yaitu asumsi tentang
ilmu pengetahuan dan asumsi tentang masyarakat. Saat seseorang mengambil asumsi bahwa
masyarakat perlu suatu perubahan radikal karena telah terjadi suatu penjajahan, di mana semua orang
menjadi naif dan perlu disadarkan dalam rangka pembebasan, maka pandangan ini dikategorikan
sebagai pandangan radikal. Burrell dan Morgan (1979) menjelaskan adanya dua paradigma kritis
yaitu: radikal humanis dan radikal strukturalis yang digambarkan berada pada dua kuadran sisi atas.
Radikal humanis memandang perubahan dilakukan lewat consciousness/ kesadaran sedangkan radikal
strukturalis melihat bahwa perubahan bisa dilakukan melalui struktur atau system.
Menurut Chua (1986) Pendekatan kritis lebih bertujuan untuk memperjuangkan ide peneliti
agar membawa perubahan substansial pada masyarakat. Penelitian bukan lagi menghasilkan karya
tulis ilmiah yang netral/tidak memihak dan bersifat apolitis, namun lebih bersifat alat untuk mengubah
institusi sosial, cara berpikir, dan perilaku masyarakat ke arah yang diyakini lebih baik. Oleh karena
itu, dalam pendekatan ini pemahaman yang mendalam tentang suatu fenomena berdasarkan fakta
lapangan perlu dilengkapi dengan analisis dan pendapat yang berdasarkan keadaan pribadi peneliti,
asalkan didukung argumentasi yang memadai. Secara ringkas, pendekatan kritis memfokuskan pada
alasan teoritis dan prosedur dalam memilih, mengumpulkan dan menilai data empiris. Paradigma ini
lebih mementingkan pada alasan, prosedur dan bahasa yang digunakan dalam mengungkap
kebenaran.
Paradigma Kritisme lahir karena ketidakpuasan dari paradigma yang lahir terlebih dahulu
yaitu paradigma fungsionalis/positivisme dan paradigma interpretifis. Pada paradigma fungsionalis
dilandasi dengan pemikiran yang dimulai dengan swift epistemology dari epistemology deduktif
platonik menjadi epistemology induktif empiric Aristotelian. Reaksi epistemology ini lahir dari
penolakan kebenaran yang bersifat spekulatif dan jauh dari maksud yang sebenarnya dari pencarian
kebenaran. Sedangkan paradigma interpretif lebih menekankan pada peranan bahasa, interpretasi dan
pemahaman (Chua 1969). Menurut Morgan (1979) paradigma ini menggunakan cara pandang para
nominalis dari paham nominalisme yang melihat realitas social sebagai suatu yang tidak lain adalah
label, nama, konsep yang digunakan untuk membangun realitas
Chua (1986) mengungkapkan bahwa upaya interpretif tetap memiliki kelemahan. Ada 3
kritisme dari paradigma interpretif ini (Habermas, 1978; Bernstein, 1976; Fay, 1975 dalam Chua,
1986) yaitu: Pertama, persetujuan pelaku sebagai standar penilaian kelayakan penjelasan masih
menjadi ukuran yang sangat lemah, kedua, perspektif kurang mempunyai dimensi evalutif. Ketiga,
peneliti interpretif memulai dengan asumsi order sosial dan konflik yang berisi skema interpretif,
sehingga terdapat kecenderungan untuk mengacuhkan konflik kepentingan antar kelas dalam
masyarakat.(Chua, 1986) Dari kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam paradigma interpretif,
maka paradigma kritis dikembangkan dari konsepsi kritis terhadap berbagai pemikiran dan pandangan
yang sebelumnya. Paradigma kritis menggunakan bukti ketidakadilan sebagai awal telaah, dilanjutkan
dengan merombak struktur atau sistem ketidakadilan dan dilanjutkan dengan membangun konstruksi
baru yang menampilan sistem yang adil.
A. Radikal Humanis
Pemikiran asli dari paradigma radikal humanis dapat ditelusuri ke belakang ke prinsip idealisme
Jerman dan gagasan Kantian bahwa realitas terakhir dari alam semesta adalah spritual dari materi di
alam. Dengan demikian berasal dari sumber intelektual yang sama dengan paradigma interpretif.
Meskipun orientasi dasarnya subyektif dua paradigma ini memiliki kesamaan yang dibuat untuk
melayani tujuan yang berbeda secara fundamental. Paradigma interpretif dan radikal humanis sama-
sama dibangun dari asumsi bahwa individu menciptakan dunia di mana ia hidup. Tetapi jika teori
interpretif menekankan pada pemahaman the nature atas suatu keadaan, radikal humanis
menggunakan subjek untuk mengkritik, berfokus pada apa yang dia tangkap sebagai manusia yang
secara esensi teralienasi. Proses mengkritik dalam paradigma ini berjalan sepanjang dua diskursus.
Pertama Idealis Subjektif, berdasar pemikiran Fichte, diasumsikan bahwa keadaan individu
merupakan suatu entitas kreatif yang berkelanjutan yang menghasilkan arus ide, konsep dan
perspektif yang terus berlanjut melalui di mana dunia luar diciptakan pada pikiran. Dunia luar
dipahami dalam terma proyeksi kesadaran individual. Kedua, Idealisme Objektif berdasarkan pada
karya Hegel dengan judul The Fenomenology Of Mind yang meneliti status ontologis dari
pengetahuan manusia yang mendemonstrasikan bagaimana pengetahuan melewati serangkaian
bentuk-bentuk dari kesadaran sampai suatu wilayah pengetahuan absolut (absolute knowledge)
diperoleh, di mana individu menyatu dengan absolut spirit yang meluas ke dalam alam semesta.
Kesadaran dan dunia eksternal dipandang sebagai dua sisi yang memiliki realitas yang sama. Burrel-
Morgan (1979) menyebutkan struktur paradigma radikal humanis terdiri dari 4, yaitu:
1. Solipsisme, yang merupakan area paradigma yang paling subjektifis, seperti dalam
interpretif. Ini menggambarkan posisi filosofis tanpa sociological equivalent.
2. French Eksistensialisme, bermaksud untuk mendemonstrasikan cara dimana ketiadaan dan
kebebasan merupakan aspek esensial dari hubungan ontologi antara dunia subyektif dan
dunia obyektif seperti dialami oleh individu manusia.
3. Individualisme Anarkis, pemikiran dari Max Stirner, mewakili sebuah perspektif anarkisme,
yang mengadvokasi kebebasan total individu, yang tak terhalang oleh bentuk regulasi
eksternal atau internal apapun.
4. Teori Kritis, merupakan brand filosofi sosial yang mengoperasikan secara simultan pada
tataran filosofi, teori dan praktik. Menyajikan alur prinsip pengembangan tujuan tradisi
idealis dan berada pada area kurang subjektifis dalam paradigma radikal humanis.

Pada teori kritis dikenal tiga paham dengan berdasar pada pemikiran dari Lukacsian sociology,
Gramsci sociology, hasil karya the Frankfurt school. Perbedaan ketiganya pada tingkat substantif
tetapi semuanya didasarkan pada inversi Marx atas pemikiran sistem Hegelian.
Teori kritis merupakan kategori pemikiran sosiologis yang dibangun secara eksplisit atas karya
Marx muda. Sebagai istilah yang biasa digunakan untuk hasil karya dari teori sosial Frankfurt school,
tetapi disini akan diperluas penggunaannya untuk mencakup ketiganya yang saling terkait tetapi
diskrit pemikiran. Teori kritis adalah merek filsafat sosial yang berusaha untuk beroperasi secara
bersamaan pada filosofis, teoritis dan tingkat praktis dan berusaha untuk mengungkapkan masyarakat
apa adanya, membuka kedok esensinya dan modus operasi dan untuk meletakkan dasar bagi
emansipasi manusia melalui perubahan sosial yang mendalam. Ini adalah filosofi politik, dalam hal ini
menekankan perlunya untuk mengikuti logika analisis filosofis dan sosiologis seseorang dengan
tindakan praktis dari jenis radikal. Lukacs, Gramsci dan Frankfurt School, menyebarkan tujuan
keseluruhan teori kritis, tetapi berbeda dalam sifat dan metode kritik spesifiknya. Penjelasan terhadap
ketiga paham tersebut akan kami bahas dibawah ini.
Dalam perkembangannya teori kritis terdapat empat pemikir utama (lukacs, Gramsci,
Marcuse, dan Habermas) yang mempengaruhi teori kritis. Dari keempat pemikir tersebut dapat ditarik
suatu hubungan terkait persamaan konsep kunci seperti totality, consciousness, alineation, dan
critique yang akan disajikan dalam tabel di bawah ini.

Totality
Pemahaman masyarakat mencakup dunia objektif dan subjektif mereka secara keseluruhan. Totalitas
melingkupi semuanya, tanpa batas. Pemahaman totalitas ini harus mendahului pemahaman elemen-
elemennya karena keseluruhan mendominasi bagian-bagian dalam kerangka keseluruhan cakupan.
Consciousness
Kekuatan yang menciptakan dan menyokong dunia sosial. Kesadaran dihasilkan dari dalam, tapi
dipengaruhi bentuk-bentuk melalui proses objektifikasi dan dialektika antara dimensi subjektif dan
objektif
Alineation
Negara di mana, dalam totalitas tertentu, irisan kognitif didorong antara kesadaran manusia dan
objektifikasi dunia sosial, sehingga manusia melihat apa yang esensial dari kreasi kesadaran sendiri
dalam bentuk yang keras, mendominasi, realitas eksternal. Irisan ini adalah irisan keterasingan, yang
memisahkan manusia dari jati dirinya dan menghambat pemenuhan potensi sebagai manusia
Critique
Dalam kritik mereka terhadap masyarakat kontemporer, teoritisi kritis berfokus pada bentuk dan
sumber alineasi, yang mereka lihat sebagai penghambat kemungkinan atau pemenuhan manusia sejati.
Berbagai eksponen pada pendekatan perspektif ini yaitu dengan cara yang agak berbeda, di berbagai
tingkat yang umum.
Lukacs : fokus pada konsep reifikasi, solusi sosio filosofis untuk permasalahan epistemologi
dan praktik menghadapi Marxisme tahun 1920-an.
Gramsci : fokus pada hegemoni ideologis sebagai refleksi sistem kepercayaan diantara
proletariat yang berkembang dalam sistem kelas. Sistem kepercayaan menekankan
pentingnya order, authority dan discipline dan disebarluaskan melalui institusi seperti
keluarga, sekolah dan tempat kerja
Marcuse : fokus pada one-dimensional man, memperhatikan karakteristik alienasi yang melekat
dalam perkembangan purposive rationality dalam masyarkat industri. Dia
menitikberatkan peran alienasi teknologi, sains dan logika. Manusia-manusia yang
hidup di dalamnya dibuatnya pasif, reseptif, dan tidak lagi menghendaki perubahan.
Tambahannya, kekuatan lain diidentifikasi dalam karya sebelumnya yang berkaitan
dengan represi libido yang berlebihan dan pemeliharaan kebahagian kerja melalui
penciptaan kemakmuran dan kebutuhan palsu.
B. Anti-Organisation Theory
Paradigma radikal humanis dikembangkan dalam kaitannya dengan studi organisasi, hasilnya
akan menjadi teori anti-organisasi. Karena perspektif radikal humanis berdiri dalam oposisi mendasar
dengan fungsionalis. Paradigma tersebut, mencerminkan inversi lengkap asumsi tentang sifat ilmu
pengetahuan dan masyarakat. Teori kritis berkontribusi untuk teori anti organisasi, dengan empat
konsep inti: totalitas - gagasan bahwa dunia sosial harus dipahami secara keseluruhan sebelum
seseorang dapat memahami bagian-bagiannya, kesadaran - kekuatan yang akhirnya menciptakan dan
memelihara dunia sosial, keterasingan himpitan/irisan kognitif antara kesadaran dan totalitas yang
memisahkan manusia dari makhluk yang sebenarnya, kritik - analisis sumber dan bentuk keterasingan
yang menghambat kemungkinan pemenuhan manusia sejati. Teori anti-organisasi memandang
organisasi memiliki status ontologis tidak tetap. Anti-organisasi menekankan pentingnya modus
organisasi mencerminkan totalitas tertentu, dan memandang konstruksi sosial abstrak berlabel
'organisasi' seperti mengasingkan 'Perantara' yang berfungsi untuk membingungkan manusia dalam
upaya untuk memahami dan menghargai sifat totalitas di mana mereka tinggal.

C. Radikal Strukturalis
Origins dan Tradisi Intelektual Paradigma radikal strukturalis berakar pada pandangan
materialis alam dan sosial. Bertujuan untuk memberikan kritik terhadap status quo dalam urusan
sosial. Fokus yang mendasari pada struktur dan cara menjalin hubungan dalam masyarakat.
Paradigma ini cenderung melihat masyarakat terdiri dari unsur-unsur yang berdiri bertentangan satu
sama lain. Mereka tertarik pada kontradiksi-kontradiksi, khususnya yang terkait dengan peran yang
mereka mainkan dalam menciptakan krisis ekonomi dan politik. Radikal Strukturalisme juga
merupakan pandangan yang berfokus pada sifat dasarnya konfliktual urusan sosial dan proses dasar
perubahan. Konflik dipandang sebagai sarana manusia mencapai emansipasi dari struktur dunia sosial
di mana dia tinggal. Struktur Paradigma Paradigma radikal strukturalis digambarkan dalam tiga
pendekatan:
(a) teori sosial Rusia;
(b) kontemporer Mediterania Marxisme; dan
(c) teori konflik.

Teori Sosial Rusia


Teori Sosial Rusia berdiri dalam tradisi Engelsian, yang telah diperkenalkan ke pikiran pra-
revolusioner oleh Plekhanov. Hal ini kemudian berkembang menjadi materialisme historis Bukharin,
dan dipengaruhi versi Kropotkin tentang komunisme anarkis. Meskipun pendekatan ini secara politik
berbeda, mereka berbagi seperangkat meta-teoritis asumsi yang tidak diragukan lagi positivistik dan
naturalistik. Mereka berada di wilayah paling objektivis dari paradigm ini.
Kontemporer Mediterania Marxisme
Kontemporer Mediterania Marxisme berdiri dalam tradisi karya Marx, terutama Capital dan
bacaan Lenin. Ada dua pemikiran utama , yaitu sosiologi Althusser dan sosiologi Colletti, selain
memiliki kesamaan satu sama lain dalam hal penolakan mereka terhadap kedua Hegelianised
Marxisme dan ortodoks Marxisme Rusia, tapi berbeda politik.
Teori Konflik
Teori konflik merupakan produk 'Weberianism radikal'. Para Weberians radikal saat ini membuat
banyak konseptual Weber untuk analisis masyarakat kontemporer. Karena dalam pengertian Weber
dari 'kandang besi birokrasi', dalam elaborasi tentang kompleksitas stratifikasi sosial modern, di
penekanannya pada kekuasaan dan otoritas, mereka menemukan wawasan yang kaya dan produktif.
Selanjutnya akan menjelaskan teori konflik Ralf Dahrendorf dan John Rex sebagai wakil dari
pemikiran sosial.
Dahrendorf menyajikan 'teori kelas sosial dan kelas konflik' sebagai berikut:
1. Tujuan pendekatan heuristic/pemecahan masalah yang diusulkan dalam penelitian ini adalah
penjelasan dari perubahan struktur dalam hal konflik kelompok.
2. Dalam rangka untuk melakukan keadilan untuk tujuan heuristik ini, perlu untuk
memvisualisasikan masyarakat dalam hal teori pemaksaan struktur social.
3. Pembentukan kelompok konflik mengikuti pola yang dapat digambarkan dalam hal model yang
melibatkan sebagian analitis, langkah sebagian hipotetis.
4. Dalam setiap hubungan ordinasi kooperatif dua, dan hanya dua, agregat posisi dapat
membedakan:. posisi dominasi dan posisi tunduk.
5. Masing-masing agregat ini ditandai dengan kepentingan laten umum; kolektivitas individu
sesuai dengan mereka merupakan kuasi-kelompok.
6. Kepentingan Laten diartikulasikan dalam kepentingan nyata; dan quasi-kelompok menjadi
bidang merekrut kelompok-kelompok kepentingan yang terorganisir dari jenis kelas.
7. Setelah pembentukan kelompok konflik jenis kelas selesai, mereka berdiri, dalam asosiasi
tertentu, dalam hubungan konflik kelompok (konflik kelas).
8. Konflik kelompok kelas struktur efek perubahan dalam asosiasi yang terjadi.
9. Keradikalan perubahan struktur co-varies dengan intensitas konflik kelas.
10. Ketiba-tibaan perubahan struktur co-varies dengan kekerasan konflik kelas.