Anda di halaman 1dari 3

1.

Pengertian Paradigma

Paradigma dapat didefinisikan bermacam-macam tergantung pada sudut pandang yang


menggunakannya. Paradigma menurut Guba (1990) seperti yang dikutip Denzin & Lincoln, (1994)
didefinisikan sebagai:

a set of basic beliefs (or metaphysics) that deals with ultimates or first principlesa world view that
defines, for its holder the nature of the world

Paradigma dapat diartikan sebagai seperangkat keyakinan atau kepercayaan yang mendasari seseorang
dalam melakukan segala tindakan. Selanjutnya Paradigma oleh Bhaskar (1989) diartikan sebagai:

... a) a set of assumptions, b) belief concerning and c) accepted assume to be true

2. Perkembangan Paradigma

Usaha megidentifikasikan teori-teori dan pendekatan-pendekatan ke sejumlah paradigma sejauh ini


telah menghasilkan pengelompokan yang bervariasi. Dikemukakannya setiap paradigma membawa
implikasi metodologi masing-masing. Menurut Burrel dan Morgan (1979) suatu pengetahuan (knowledge)
dibangun berdasarkan asumsi-asumsi filosofis tertentu. Asumsi-asumsi tersebut adalah ontologi,
epistemologi, hakikat manusia (human nature), dan metodologi. Perbedaan titik pandang ontological,
epistomological, human, dan methodological memberikan dua kutub polarisasi perspektif yaitu
pendekatan secara subjektif terhadap ilmu sosial dan pendekatan secara objektif terhadap ilmu sosial.
Pada dua kutub tersebut terjadi perdebatan yang terpusat pada empat hal yaitu:

Subjektif Objektif
Nominalis: Menganut paham bahwa social Realis: Menganut paham bahwa social
world dibentuk oleh kognitif individual world yang dibentuk oleh kognitif
Ontologi
bersifat tidak lebih dari label, nama dan individual bersifat hard, tangible, dan
konsep. struktur yang sulit dirubah.
Anti-positivism: menganut Positivism: untuk mencari
paham bahwa social world bersifat relatif penjelasan dan memprediksi apa yang
Epistimologi dan hanya dapat dipahami jika individu terjadi di social world dengan mencari
terlibat langsung dalam aktifitas yang sedang regularitas dan hubungan kausal yang
dipelajari. terdapat antara elemen di dalamnya.
Voluterisme: Menganggap bahwa manusia Determinisme: Menganggap bahwa
Human bersifat bebas dan independen. manusia dan aktifitasnya ditentukan oleh
Nature situasi dan lingkungan tempat dia berada.
Ideografik: Menilai bahwa untuk memahami Nomothetic : Melakukan pendekatan
social world harus dilakukan pengamatan dengan cara menekankan pentingnya
terhadap subjek investigasi secara penelitian menggunakan protokol yang
Metodologi komprehensif. Metode ini dilakukan dengan sistematis dan teknik.
berinteraksi dengan situasi setiap hari dari
subjek yang diinvestigasi.
Perdebatan yang terjadi antara empat hal di atas direfleksikan dalam dua kelompok tradisional
utama. Kelompok pertama adalah socialogical positivism yang berusaha untuk mengaplikasikan model
dan metode dari natural science untuk mempelajari masalah yang terjadi di masyarakat, Kelompok kedua
adalah german idealism yang memiliki dasar pandangan bahwa kebenaran utama terdapat pada spirit atau
ide daripada data yang ditangkap oleh indera.
Burrell & Morgan (1979) membagi paradigma tersebut sebagai a) paradigma fungsionalis (The
functionalist paradigm), b) paradigma interpretif (The Intrepretive Paradigm), c) paradigma radikal
structuralis (The Radical Structuralist Paradigm) dan d) paradigma radikal humanis (The Radical
Humanist Paradigm). Sedangkan Chua (1986) membagi paradigma dalam ilmu sosial menjadi 3
paradigma yaitu a) The Functionalist (Mainstream) Paradigm, b) The Interpretive Paradigm dan c) The
Critical Paradigm. Menurut Chua, pernyataan yang diungkapkan oleh Burrell & Morgan untuk
paradigma radikal humanis dengan paradigma radikal strukturalis dapat digabungkan menjadi satu
paradigma yaitu paradigma kritis (The Critical Paradigm).

Pada dasarnya ilmu yang dikembangkan masing masing ilmuan adalah sama karena didasarkan
pada empat dimensi yang ada dalam filsafat ilmu pengetahuan yaitu dimensi ontologis, dimensi
epistemologis, dimensi human nature dan dimensi metodologis. Burrel & Morgan menggembangkan
dimensi tersebut dan digambarkan sebagai berikut:
Dari gambar di atas penulis dapat memasukkan paradigma yang ada, baik menurut Burrell &
Morgan (1979), Chua (1986) maupun Bisman (2010). Dari paradigma yang diajukan oleh beberapa
peneliti, selanjutnya adalah 4 paradigma sesuai dengan paradigma yang diungkapkan para peneliti
sebelumnya yaitu paradigma fungsionalis/positivisme, paradigma interpretif/construktivisme, paradigma
kritis dan paradigma postpositivisme.

Paradigma postpositivisme ini muncul ketika adanya gugatan terhadap positivisme pada tahun
1970-1980an. Tokohnya; Karl R. Popper, Thomas Kuhn, para filsuf mazhab Frankfurt (Feyerabend,
Richard Rotry). Paham ini menentang positivisme, alasannya tidak mungkin menyamaratakan ilmu-ilmu
tentang manusia dengan ilmu alam, karena tindakan manusia tidak bisa diprediksi dengan satu penjelasan
yang mutlak pasti, sebab manusia selalu berubah.

Merujuk pada Bisman (2010) postpositivisme merupakan perbaikan positivisme yang dianggap
memiliki kelemahan-kelemahan, dan dianggap hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung
terhadap objek yang diteliti. Secara ontologis aliran postpositivisme bersifat critical realism (realisme
kritis) dan menganggap bahwa realitas memang ada dan sesuai dengan kenyataan dan hukum alam tapi
mustahil realitas tersebut dapat dilihat secara benar oleh peneliti.

Kata kritis dalam nama realisme kritis menegaskan bahwa pengetahuan tentang kenyataan tidak
bisa dikembangkan terlepas dari gagasan dan konsep yang telah ada. Berarti, pengetahuan atau teori yang
dihasilkan tentang kenyataan tidak dengan sendirinya benar, tetapi dapat salah dan perlu dikritik dengan
cara menguji ketidakbenarannya. Kemungkinan salah dapat dilihat dari sejarah perkembangan amat
panjang dan sering menyesatkan yang mendahului teori tersebut dan perdebatan hangat mengenai
keberlakuannya sesudah diumumkannya.

Sebagai aliran filsafat ilmu pengetahuan realisme kritis mempunyai tempat tersendiri dalam
proses perkembangan pemikiran. Tepatnya, realisme kritis adalah reaksi atas dua aliran filsafat ilmu
pengetahuan yang mendahuluinya, positivisme dan interpretif. Positivisme berangkat dari asumsi dasar
bahwa terdapat pemisahan mutlak antara pengetahuan (pikiran) manusia dan kenyataan; idealisme
menyatakan sebaliknya, bahwa pengetahuan (pikiran) manusia dan kenyataan tidak bisa dipisahkan sama
sekali. Reaksi realisme kritis terhadap dua aliran tersebut rumit. Artinya, realisme kritis di satu pihak
menolak unsur-unsur positivisme dan idealisme, di lain pihak mengangkat unsur-unsur tertentu dari dua
aliran tersebut dan mengintegrasikannya dalam pandangan baru. Pada intinya realisme kritis menawarkan
pendapat lain sekali tentang cara membangun ilmu pengetahuan dibandingkan positivisme dan idealisme.