Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana alam seperti tanah
longsor dan gempa bumi. Kondisi geologi yang tersusun atas lapukan vulkanik
yang terdiri dari patahan dan kekar menyebabkan Indonesia memiliki tingkat risiko
tanah longsor yang cukup tinggi. Tanah longsor umumnya juga dipicu oleh kondisi
geografis Indonesia yang terletak di wilayah tropis yang memiliki curah hujan
relatif tinggi.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana sampai tahun 2015


tercatat bahwa ada 3075 lokasi di Indonesia yang mengalami tanah longsor. Lokasi
terjadinya tanah longsor untuk Provinsi Jawa Tengah sebanyak 1022, 941 lokasi di
Jawa Barat, 275 lokasi di Jawa Timur, 122 lokasi di Sumatra Barat, 66 lokasi di DI
Yogyakarta, 50 lokasi di Sulawesi Selatan, 52 lokasi di Kalimantan Timur, 55
lokasi di NTT, dan sisanya tersebar di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan,
Banten, Sulawesi Utara, serta Bali. Data pantauan Badan Nasional Penanggulangan
Bencana pada tahun 2011-2014 juga mencatat bahwa telah terjadi 680 kejadian
tanah longsor di Indonesia.

Salah satu daerah yang rawan terjadi tanah longsor di Provinsi Jawa Tengah adalah
Kabupaten Karanganyar. Berdasarkan data BAPPEDA Karanganyar tahun 2007
telah terjadi gerakan tanah di Kabupaten Karanganyar yang menimbulkan korban
jiwa sebanyak 64 orang meninggal dunia dan kerugian harta benda.

Kondisi geologi Kabupaten Karanganyar yang berupa perbukitan dengan


komposisi batuan yang tersusun atas endapan vulkanik muda produk Gunung Lawu
dan curah hujan yang tinggi menyebabkan Kabupaten Karanganyar berpotensi
mengalami tanah longsor. Air hujan yang jatuh di permukaan lereng, sebagian
mengalir di atas permukaan lereng (run off) dan sebagian lagi masuk ke dalam tanah
yang disebut sebagai infiltrasi. Infiltrasi air hujan akan menaikkan derajat

1
2

kejenuhan tanah dan menambah berat sendiri lereng. Air hujan yang berinfiltrasi
juga mereduksi tekanan air pori negatif dan tekanan efektif sehingga mengurangi
kuat geser pada lereng.

Penelitian mengenai mekanisme terjadinya longsor telah banyak dilakukan dengan


cara mengevaluasi faktor aman suatu lereng akibat pengaruh hujan menggunakan
metode elemen hingga. Simulasi menggunakan metode elemen hingga juga
memberikan hasil yang cukup baik dalam mempresentasikan mekanisme analisis
stabilitas lereng akibat infiltrasi air hujan. Analisis stabilitas lereng tidak hanya
membutuhkan pemahaman terhadap perilaku tanah dalam kondisi jenuh saja,
melainkan pemahaman perilaku tanah pada kondisi jenuh sebagian akibat dari
infiltrasi. Sifat teknis tanah jenuh sebagian dapat diperoleh melalui pendekatan
empiris berdasarkan sifat propertis tanah seperti gradasi ukuran butiran dan
hubungan berat volume tanah. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut
untuk mengetahui karakteristik hujan penyebab longsor dan prediksi terjadinya
longsor dengan mengkombinasikan pengaruh air hujan dan sifat tanah sehingga
dapat digunakan sebagai model analisis lereng yang lebih akurat. Analisis yang
dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan diharapkan dapat
mencegah dan menggurangi timbulnya korban akibat tanah longsor.

1.2 Tujuan Penelitian


Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. mengetahui karakteristik hujan yang paling mempengaruhi stabilitas lereng,
2. mengetahui pengaruh perubahan parameter kuat geser tanah terhadap
perubahan suction,
3. mengestimasi kedalaman bidang keruntuhan lereng,
4. mengestimasi waktu terjadinya longsor yang dipengaruhi oleh hujan.
3

1.3 Batasan Penelitian


1. Lokasi penelitian terletak di Desa Puntukrejo Kecamatan Ngargoyoso, Desa
Koripan dan Girilayu di Kecamatan Matesih serta Desa Gerdu di Kecamatan
Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.
2. Data hujan diperoleh dari data hujan harian tahun 1997-2012 dari stasiun
penakar hujan yang terletak di Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Matesih,
dan Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa
Tengah.
3. Sampel tanah untuk pengujian laboratorium menggunakan sampel tanah
terganggu (disturbed sample).
4. Perhitungan kapasitas infiltrasi menggunakan persamaan Green-Ampt dan
persamaan Philip yang mengasumsikan tanah tidak mengalami retakan.
5. Intensitas curah hujan rancangan yang digunakan dianggap konstan sepanjang
hari.
6. Infiltasi air yang masuk ke dalam lapisan tanah dianggap tetap ada (diam) dan
tidak terjadi aliran lateral.
7. Bidang keruntuhan lereng diasumsikan berada pada daerah batasan (interface)
antara tanah jenuh dengan tidak jenuh. Kedalaman lapisan tanah keras
dianggap sangat dalam.

1.4 Keaslian Penelitian


Prediksi waktu terjadinya longsor merupakan masalah yang telah lama dibahas
dalam analisis longsoran akibat curah hujan. Metode awal yang digunakan untuk
estimasi terjadinya longsor adalah dengan memisahkan antara terjadinya hujan
yang memicu longsor dan hujan yang tidak memicu longsor. Penelitian untuk
menemukan hubungan antara curah hujan yang mengakibatkan longsor dengan
durasi terjadinya hujan telah dilakukan oleh beberapa peneliti (Alleoti, 2004; Chen,
2006; Chleborad dkk., 2006). Metode empiris ini pada umumnya hanya berlaku
untuk memetakan longsoran potensial dan sistem peringatan dini untuk longsor.
Metode empiris yang menggunakan data curah hujan sebenarnya pada waktu
4

tertentu untuk memprediksi terjadinya longsor selama badai telah diteliti oleh
Keefer dkk. (1987).

Simulasi hidrologi pada lereng dengan distribusi tekanan air pori menjadi suatu hal
yang sulit untuk dimodelkan. Tekanan air pori yang diasumsikan menjadi suatu
kondisi yang tidak tetap tidak cukup untuk memodelkan distribusi tekanan air pori
pada periode hujan yang pendek. Asumsi yang digunakan adalah tekanan air pori
konstan yang diperoleh dari distribusi tekanan air pori dalam waktu yang lama,
tetapi pada kondisi sebenarnya tekanan air pori mengalami perubahan sepanjang
periode hujan dengan intensitas tertentu, seperti yang dapat diukur pada suatu
lereng (Rahardjo dkk., 2005). Kasus longsor yang telah terjadi beberapa di
antaranya merupakan longsoran pada kedalaman yang sangat dangkal yaitu hampir
mendekati permukaan lereng dimana merupakan tanah tidak jenuh (Krahn dkk.,
1989; Rahardjo dkk., 2005). Studi mengenai probabilitas dari longsoran pada saat
ini digunakan untuk mengestimasi longsoran berupa aliran debris (Chen dkk.,
2007).

Infiltrasi air hujan ke dalam tanah dapat menyebabkan nilai suction di dalam tanah
menurun. Perubahan nilai suction akibat infiltrasi terhadap lamanya hujan yang
terjadi dapat dianalisis secara numeris, sehingga hubungan antara durasi hujan
dengan kondisi lereng dapat diprediksi. Penelitian mengenai terjadinya longsor
menggunakan model kombinasi pengaruh infiltrasi, geologi, dan analisis stabilitas
lereng di Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Matesih, dan Kecamatan
Karangpandan Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah belum pernah
diteliti khususnya di lingkungan Universitas Gadjah Mada.