Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN TUTORIAL MINGGU 2

MODUL 2

HARI 1

Oleh:

Kelompok 12b
Anggota:

Fetriza Helfia Sari (1510311006)

Fajar Octovan (1510311009)

Regi Alfajrin Putra (1510311013)

Wulan Dwi Yulistia (1510311034)

Suci Aidhil Fitria (1510311072)

Ivonne Olivia (1510312053)

Winda Yulistiawati (1510312084)

Muhammad Arief Saputra (1510312121)

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ANDALAS
SKENARIO

MODUL 2

Skenario 2 : Sekali Infeksi Tetap Infeksi

Meli, 20 tahun saat ini masih kuliah di salah satu universitas dikotanya. Tiap bulan dia
selalu datang ke puskesmas untuk mendapatkan obat. Meli mengalami infeksi tulang yang
sampai saat ini belum sembuh juga. Dari tulang tibianya keluar cairan yang selalu membasahi
kassa balutannya. Dokter mendiagnosis Meli mengalami osteomielitis.

Setahun yang lalu Meli pernah mengalami bengkak di lutut, dan didiagnosis sebagai
suatu penyakit autoimun. Ketika itu diperiksa Rh factor (RF) dan ACPA. Rencana akan
diberikan DMARDs tapi hasilnya tidak signifikan. Bengkak bertambah besar, keluarga merasa
tidak puas dengan pengobatan RS dan dibawa ke tempat pengobatan alternatif dengan pemijatan.
Setelah beberapa kali dipijat, bengkaknya pecah dan mengeluarkan nanah. Meli dibawa ke
puskesmas, awalnya diberikan antibiotika, namun setelah beberapa bulan tidak menunjukkan
hasil yang baik, akhirnya dirujuk ke RS untuk mendapatkan pemeriksaan dan terapi lebih lanjut.

Di RS, Meli menjalani beberapa rangkaian pemeriksaan laboratorium dan pencitraan.


Hasil laboratorium menunjukkan LED dan CRP meningkat, hasil X-ray cruris
didapatkansequester dan involucrum. Dokter merencanakan tindakan operasi terhadap Meli.
Bagaimanaandamenerangkanapa yang terjadipada Meli?

STEP 1 (KLARIFIKASI TERMINOLOGI)

1. Osteomielitis
Adalah infeksi tulang yang disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk ke tubuh, bisa
penyebab primer dari luka atau trauma serta idiopatik, dan bisa juga sekunder dari
penyebaran hematogen. Untuk derajat ada akut, subakut dan kronik.
2. Rh factor (RF)
Antibodi spesifik yang muncul dalam pemeriksaan darah penderita reumathoid artriits.
3. ACPA (anti-citrullinated protein andibody)
Suatu jenis autoantibodi spesifik yang muncul selama peradangan pada penderita
reumathoid artritis.
4. DMARDs (disease modyfing anti reumathic drugs)
Adalah tatalaksana awal yang diberikan pada penderita RA yang bertujuan untuk
menghambat dan meredakan gejala RA serta mencegah kerusakan permanen pada
persendian dan jaringan lainnya.
5. X-ray Cruris
x-ray yang dilakukan pada regio tungkai bawah, meliputi tulang tibia dan fibula.
6. Sequester
Segmen tulang yang mengalami nekrosis karena luka istemik akibat peradangan.
7. Involucrum
Adalah lapisan pertumbuhan tulang baru yang terstimulasi akibat adanya nekorosis pada
bagian tulang yang lain.
8. CRP
Protein yang dihasilkan oleh hati terutama saat terjadi inflamasi yang bersifat akut.
9. LED
Adalah pemeriksaan lab yang bertujuan untuk mengetahui kecepatan darah mengendap
pada plasma, dihitung dengan satuan mm/jam.

STEP 2 (RUMUSAN MASALAH)

1. Apakah ada hubungan usia dan jenis kelamin pada keluhan yang dialami oleh Meli?
2. Apakah penyebab infeksi tulang yang terjadi pada Meli?
3. Mengapa infeksi tulangnya tidak kunjung sembuh?
4. Mengapa dari tulang tibianya keluar cairan yang selalu membasahi kassa balutannya?
5. Mengapa Meli didiangnosis dengan Osteomielitis?
6. Megapa dokter mendiagnosis bengkak yang mucul pada lutut meli sebagai seuatu
oenyakit autoimun?
7. Apakah ada hubungan penyakit yang lalu dengan penyakit yang sekarang?
8. Mengapa oemberian DMARDs hasilnya tidak signifikan?
9. Mengapa bengkaknya bertmbah besar?
10. Mengapa setelah dipijat bengkaknya pecah dan mengeluarkan nanah?
11. Mengapa setelah diberikan antibiotik tidak memberikan perbaikan?
12. Apa pemeriksaan dan terapi lebih lanjut yang dilakukan?
13. Apa interpretasi dari hasil Lab dan x-ray?
14. Mengapa dilakukan tindakan operasi dan apa indikasinya?

STEP 3 (HIPOTESA)

1. Untuk jenis kelamin, osteomielitis lebih banyak diderita oleh oleh laki-laki dengan
perbandingan antara laki-laki dan perempuan 2:1. Mungkin berhubungan dengan
higienisitas yang kurang dan juga aktivitas laki-laki yang lebih memungkinkan untuk
terjadinya suatu trauma ataupun luka.
Sedangkan untuk usia, pada anak-anak lebih banyak dijumpai osteomielitis yang bersifat
sekunder, yaitu yang bersifat hematogen yang biasanya mengenai tulang tibia atauoyn
fibula. Hal tersebut terjadi karena metafisis pada ank-anak yang memiliki vaskularisasi
yang banyak, hal tersebut bisa menjadi faktor predisposisi untuk oenyebaran osteomelitis
yang lebih parah.
Pada orang dewasa, jenis osteolielitis yang sering terjadi lebih disebabkan oleh trauma
ataupun postoperasi , dan biasanya mengenai tulang vertebrae ataupun tulang pelvis.
2. Etiologi utama dari osteomielitis adalah adanya infeksi yang disebabkan oleh
Staphylococcus aureus. Sedangkan untuk etiologi lainnya adalah:
Iatrogenik
Luka ataupun trauma yang memungkinkan bakteri masuk secara langsung
Imunocompromised
Infeksi jaringan lunak sekitar tulang yang menyebar ke bagian tulang, contohnya
ulkus dekubitus.
Untuk derajat penyakit:
Akut, biasanya terjadi pada anak-anak, menyebar melalui hematogen dan
terjadi selama 2 minggu.
Subakut, berlangsung sekitar 1-2 bulan.
Kronik, berlangsung lebih dari 2 bulan.
3. Scara klinis, jika terjadi infeksi di tulang, penyembuhannya akan lebih susah, hal tersebut
terjadi karena:
Sirkulasi yang kurang.
Tulang tibia merupakan tulang yang sangat peka, jika terjadi respon inflamasi
yang berlebihan maka akan membuat sitokin proinflamasi akan lebih banyak
muncu dan bengkaknya akan semakin bertambah.
Jika terjadi peningkatan tekanan di dalam tulang, maka akan menyebabkan
terjadinya gangguan pada sirkulasi, yang pada akhirnya akan menyebabkan
nekrosis pada tulangnya. Jika bengkak tidak kunjung kempes maka akan
terstimulasi oembentukan tulang baru.
Karena kerusakan pembuluh darah akibat infeksi, menyebabkan obat-obatan yang
digunakan tidak sampai ke tulang yang mengalami kerusakan.
4. Saat terjadinya inflamasi:
Inflamasi peningkatan tekanan pada tulang penurunan aliran darah ke tulang

Terperangkap di invoucrum Nekrosis tulang

Jaringan mati

Pertumbuhan tulang terhenti

Saluran havers Menyebar ke periosteum

Periosteum terangkat Stimulasi pembentukan tulang baru

Abses subperiosteum Involucrum

Mengenai jaringan lunak sekitar (selulitis)

Keluar ke kulit melalui kloaka
5. a. manifestasi klinis
look: deformitas pada kai, dan adanya pus yang keluar
feels: nyeri tekan
move: gangguan pergerakan pada kaki
malaise, anoreksia
b. penunjang:
laboratorium, kultur, aspirasi biakan kuman
x-ray, usg, CT-scan, MRI.
6. Penyakit autoimun pada tulang contohnya adalah Reumathoid Artritis.
Etiloginya idiopatik.
Faktor resiko seperti genetik, yaitu adanya lokus HLLAGB-1
Untuk patogenesis, jika ada faktor predisposisi dari luar seperti adanya infrksi dan
itambahn dengan faktor genetik maka akan menyebakan inflamasi di daerah Synovialnya,
selanjutnya akan terjadi hipertropi dan penebalan, yang menyebabkan aliran darah
terhambat dan menyebabkan nekrosis pada tulang. Ada juga yang mengaitkan dengan
aktivitas dr IL-1 yang berlebihan.
Dokter mengira penyakit yang dialami Meli adalah RA karena sebelumnya MEli tidak
mengalami trauma dan ditemukannya pembengkakan di daerah sendi. RA diketahui
lebihn banyk terjadi pada perempuan daripada laki-laki dengan usia insidensi pada usia
20 tahunan.
7. Sebenatnya penyakit sekarang merupakan gejala kronik dari penyakitnya yang dahulu,
namun karena dahulu penyakitnya salah diagnosis menyebabkan penyakitnya
berkembang menjadi penyakit yang kronik.
8. Karena DMARDs diberikan sebagai tatalaksana awal pada penyakit autoimun yaitu RA.
Seharusnya jika diagnosis benar dan tatalaksana yang diberikan sudah benar makan kadar
ACPA dan RF pada Meli akan mengalami penurunan. Namun karena dari awala
diagnosis dokternya sudah salah, maka tatalaksana yang diberikan juga salah, sehingga
tidak meberikan perbaikan apapun.
9. Bengkak yang bertambah besar diakibatkan karena tatalaksana yang tidak benar,
tatalaksana yang tidak adequat sehingga menyebabkan penyakitnya menjadi terus
proggressive.
10. Bengkak yang pecag setelah dipijat terjadi karena adanya penekanan pada bagian yang
mengalami infalasi, sehingga menyebabkan pus yang telah terakumulasi akan keluar
melalui kloaka ke bagian luar.
11. Pemberian antibotik yang tidak menimbulkan perbaikan bisa disebakan karena antibiotik
yang diberikan tidak tepat, salah diagnosis, ataupun karena derajat penyakitnya sudah
kronik, sudah terjadi kerusakan pembuluh darah, hingga menyebakan obat0obatan
tersebut tidak mencapai dari organ targetnya. Bisa juga disebabkan ketidakpatuhan pasien
dalam meminum obat.
12. Untuk pemeriksaan lanjutan:
Lab : LED, CRP, dan CBC, bisa juga kultur bakteri
Radiologi : X ray cruris, MRI, CT-Scan dan juga USG.
13. Untuk hasil lab:
LED yang meningkat disebabkan karena infeksi menyebabkan terjadinya
leukositosis yang akan menambah kekentalan darah, sehingga waktu yang
dibutuhkan darah untuk mengendap akan lebih lama. Dan juga aktivasi dari
fibrinogen sehingga menyebabkan eritrositnya bersambung-sambung, beratnya
akan meningkat sehingga LED meningkat.
CRP meingkat terjadi karena infeksi berulang yang terjadi.
Pada X-ray cruris terlihat adanya sequester, yaitu tulang yang mengalami
nekrosis karena rusaknya pembluh darah sehingga nutirisi tidak tersalurkan dan
menyebabkan kematian jaringan. Sedangkan involucrum adalah gambaran tulang
baru yang muncul karena adanya tulang yang mengalami nekrosis.
14. Indikasi tindakan operasi:
Ditemukan sequester
Abses yang keluar ke permukaan kulit
Kecurigaan keganasan
Tidakan bedah yang bisa dilakukan seperti draunase bedah dan dbridement
jadingan yang sudah mati.
STEP 4 (SKEMA)
UDEM

INFEKSI INFLAMASI HIPEREMIS TEKANAN


TULANG INTRAOSTEUS
PUS

PRIMER SEKUNDER PENGOBATAN GANGGUAN


TIDAK ADEQUAT SIRKULASI
PERIOSTEUM

IMPLANT LANGSUNG HEMATOGEN


KE JARINGAN YANG PROGRESIF
TROMBOSIS
LUKA

INVOLUCRUM

INFEKSI NEKROSIS /
PASCA TRAUMA BERULANG SEQUESTER
BEDAH / LUKA
RA

KRONIS

PUS KELUAR
DD
DARI KLOAKA
PEM.
DIAGNOSIS
TERAPI PENUNJANG
OSTEOMIELITIS

LAB
KOMPLIKASI X-RAY

CRP LED

PROGNOSIS

STEP 5 (LEARNING OBJECTIVE)

Mahasiswa mampu menjelaskan:

1. Etiologi dan faktor resiko dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan
penyakit autoimun.
2. Epidemiologi dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan penyakit autoimun.
3. Patofisiologi dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan penyakit autoimun.
4. Manifestasi klinis dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan penyakit
autoimun.
5. Pemeriksaan penunjang dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan penyakit
autoimun.
6. Penegakan diagnosis dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan penyakit
autoimun.
7. Diagnosis banding dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan penyakit
autoimun.
8. Tatalaksana dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan penyakit autoimun.
9. Komplikasi dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan penyakit autoimun.
10. Prognosis dari penyakit infeksi tulang, infeksi jaringan lunak dan penyakit autoimun.