Anda di halaman 1dari 5

PAtofisiologi

1. Aging Process
Katarak yang disebabkan oleh aging proses belum seutuhnya terjelaskan. Proses
ini terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Sesuai dengan bertambahnya usia lensa,
maka akan terjadi proses degenerasi lensa yang mengakibatkan penebalan , kekeruhan
dan penurunan kemampuan akomodasi pada lensa. Akan terbentuk lapisan konsentris
pada lapisan kortek sehingga akan menekan dan menekan nukleus lensa dan
mengakibatkan sklerosis.
Selain itu akan terjadi kristalisasi dari protein akibatk modifikasi kimia dan
beragregasi menjadi high-molecular-weight-protein. Hal ini mengakibatkan peningkatan
indeks refraksi lensa, dan memenyebabkan penyebaran cahaya dan penurunan
kemampuan peglihatan.
Terdapat 3 katarak yang terbentuk berdasarkan aging- process:
Katarak Nuklear
Pada dekade ke empat, maka akan terjadi pemadatan pada seluruh lensa terutama
nukleus. Pemadatan ini akan menghasilkan warna coklat kekuningan pada lensa.
Pada bagian terluar lensa lama kelamaan akan berubah menjadi kehitaman dan
akan berlanjut pada seluruh lensa. Pada akhirnya akan mengakibatakan miopia
lentikular dan kadang menimbulkan fokal points kedua dalam lensa yang
menyebabkan diplopia monokuler.
Katarak Kortikal
Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air yang berlebih sehingga lensa menjadi
cembung dan terjadi miopisasi dan perubahan indeks refraksi lensa .Biasanya
pasien dengan katarak kortikalis akan cendrung hiperopia. Pada pemeriksaan slit
lamp akan ditemui :
o Vacuoles
o Water fissure
o Lamella yang terpisah
o Cuneiform Katarak
Katarak Posterior Subscapular
Terjadi akibat kekeruhan bagian belakan lensa. Biasanya terjadi pada pasien
dengan Diabetes Melitus , pasca radiasi, dan trauma.

2. Obat yang menginduksi lensa


a. Kortikosteroid
Penggunaan dalam jangka panjang dapat menginduksi terjadinya PSCs.
Pemakaian kortikosteroid dapat pada rute sistemik,topika, subkonjungtival, dan
nasal spray. Penggunaan pada anak dapat menginduksi PSCs namun bis
reversible.
b. Phenotiazine
Merupakan obat psikotropik yang dapat mengakibatkan pigmentai pada aterior
epitelium lensa pada konfigurasi axial. Tergantung lama dan dosis pemberian.
c. Miotik
PAad penggunaan yang lama akan mengakibatkan terbentuknya vakuol kecil pada
dari posterior ke anterior lensa
3. Trauma
a. Katarak Traumatik (Kontusio)
Dapat melibatkan sebagian bahkan keseluruhan lensa dan menyebabkan
kekeruhan baik pada tahap akut ataupun sekuel. Manifestasi awalnya bisa
berbentuk stellate atau rosette-shaped-opacification.

b. Perforasi dan Penetrasi


Sering menghasilkan kekeruhan pada korteks yang mengalami ruptur dan
perburukannya cepat

.
c. Trauma Listrik
Syok yang disebabkan aliran listrik dapat mengyebabkan penggumpalan protein
pada lensa dengan cepat terutama terjadi apabila melewati kepala pasien. Ada
kemungkinan sembuh, stabil, bahkan memburuk menjadi katarak komplit
4. Katarak Metabolik
a. Diabetes Melitus
Jika glukosa darah meningkat, maka akan terjadi juga peningkatan glukosa di
dalam aqueous. Glukosa aqueous tersebut akan diabsorbsi ke dalam lensa, dan
akan direduktase oleh enzim aldosterase menjadi sorbitol yang akan tetap berada
di dalam lensa dan menyebbkan kekeruhan.
Selain itu, peningkatan glukosa akan menyebabkan peningkatan permeabilitas
lensa dan akan menyebabkan penyerapa air ke dalam lensa dan terjadi perubahan
kemampuan refraksi lensa. Hal ini akan menyebabkan presbiob pada usia muda.
b. Galaktosemia
Akumulasi galaktosa dan galaktitol dalam lensa.Oil Droplet

Gejala Klinis

Biasanya pasien dengan katarak senilis akan datang dengan keluhan penurunan funsi
penglihatan yang progresif dan keluhan sesuai dengan lokasi katarak pada lensa.

1. Penurunan visus.
2. Silau, baik pada cahaya lampu ataupun silau pada siang hari.
3. Perubahan miopik.
Biasanya akan terjadi peningkatan dioptri yang progresive pada pasien katarak dari
sedang hingga berat. Akibatnya pasien presbiob sering mengalami peningkatan
penglihatan dekat dan kurang membutuhkan kacamata mereka, atau yang disebut second
sight.Namun biasanya tidak terjadi pada katarak subkortikal anterior ataupun posterior.
4. Diplopia monokuler
5. Noda berkabut pada pandangan
6. Perubahan dioptri kacamata yang sering

Diagnosis

Katarak biasanya didiagnosis melalui pemeriksaan rutin mata. Sebagian besar katarak
tidak dapat dilihat oleh pengamat awam sampai menjadi cukup padat (matur atau hipermatur)
dan menimbulkan kebutaan. Namun, katarak, pada stadium perkembangannya yang paling dini,
dapat diketahui melalui pupil yang didilatasi maksimum dengan ophtalmoskop, kaca pembesar,
atau slitlamp.

Fundus okuli menjadi semakin sulit dilihat seiring dengan semakin padatnya kekeruhan
lensa, sampai reaksi fundus sama sekali hilang. Pada stadium ini katarak biasanya telah matang
dan pupil mungkin tampak putih.

Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien katarak adalah pemeriksaan sinar celah (slit-
lamp), funduskopi pada kedua mata bila mungkin, tonometer selain daripada pemeriksaan
prabedah yang diperlukan lainnya seperti adanya infeksi pada kelopak mata, konjungtiva, karena
dapat penyulit yang berat berupa panoftalmitis pasca bedah dan fisik umum.