Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PEMERIKSAAN SPESIFIK REGIO KNEE DAN KASUS


FISOTERAPI PADA REGIO KNEE

OLEH :

GABRIELA INTAN NGGASI

PO.714.241.141.010

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR

PRODI DIV FISIOTERAPI

2017
BAB I

PEMERIKSAAN SPESIFIK PADA REGIO KNEE

1. Knee Anterior Drawer Test


Tujuan : Tes untuk menilai integritas ligamen cruciatum anterior
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan : Meletakan kedua tangan untuk menyiapkan stabilisasi pada knee
pasien dengan kedua ibu jari mempalpasi tibia plateau. Praktikan selanjutnya secara
pasif memposisikan tungkai pasien flexi knee sekitar 900, sementara kaki pasien
diduduki untuk menstabilisasi. Praktikan kemudia menarik (translasi) tibia pasien ke
anterior terhadap femur. Lakukan tes yang sama pada tungkai pasien yang satunya
dan bandingkan hasil keduanya.
Positif Tes : Ekskursi anterior tibia bertambah disertai hilangnya resistensi normal
ligamen crusiatum anterior. Translasi tibia ke anterior normalnya kurang lebih 6mm.
Apabila ligamen cruciatum anterior mengalami tear, maka translasi tibia bisa
mencapai 15mm atau lebih.
Interpretasi : Positif tes mengindikasi tear ligamen cruciatum anterior.

2. Knee Posterior Drawer Test


Tujuan : Tes untuk menilai integritas ligamen cruciatum posterior
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan : Meletakan kedua tangan untuk menyiapkan stabilisasi pada knee
pasien dengan kedua ibu jari mempalpasi tibia plateau. Praktikan selanjutnya secara
pasif memposisikan tungkai pasien flexi knee sekitar 900, sementara kaki pasien
diduduki untuk menstabilisasi. Praktikan kemudia menarik (translasi) tibia pasien ke
posterior terhadap femur. Lakukan tes yang sama pada tungkai pasien yang satunya
dan bandingkan hasil keduanya.
Positif Tes : Ekskursi posterior tibia bertambah disertai hilangnya end-feel normal
sendi.
Interpretasi : Positif tes mengindikasi tear ligamen cruciatum Posterior.

3. Knee Varus Test


Tujuan : Tes untuk menilai integritas ligamen collateral lateral knee
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan : Meletakan satu tangan pada sisi medial joint line knee pasien sebagai
stabilisator dan tangan satunya pada ankle pasien sisi lateral untuk menyiapkan
gerakan. Praktikkan selanjutnya secara pasif memposisikan knee pasien kedalam full
ekstensi dan sedikit flexi knee sekitar 50 dari posisi ekstensi. Praktikan kemudian
mengaplikasikan varus force kearah medial knee pasien. Lakukan tes yang sama pada
tungkai pasien yang satunya dan bandingkan hasil keduanya.
Positif Tes :Nyeri pada bagian lateral knee dan/ atau terjadi peningkatan varus
moment dibanding knee yang satunya.
Interpretasi :Positif tes mengindikasi laksiti atau tear pada ligamen collateral
lateral.

4. Knee Valgus Test


Tujuan : Tes untuk menilai integritas ligamen collateral medial knee
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan : Meletakan satu tangan pada sisi medial joint line knee pasien sebagai
stabilisator dan tangan satunya pada ankle pasien sisi medial untuk menyiapkan
gerakan. Praktikkan selanjutnya secara pasif memposisikan knee pasien kedalam full
ekstensi dan sedikit flexi knee sekitar 50 dari posisi ekstensi. Praktikan kemudian
mengaplikasikan valgus force kearah lateral knee pasien. Lakukan tes yang sama pada
tungkai pasien yang satunya dan bandingkan hasil keduanya.
Positif Tes :Nyeri pada bagian medial knee dan/ atau terjadi peningkatan valgus
moment dibanding knee yang satunya.
Interpretasi : Positif tes mengindikasi laksiti atau tear pada ligamen collateral
medial.

5. Lachmans Test
Tujuan : Tes untuk menilai integritas ligamen cruciatum anterior
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan : Meletakan satu tangan pada sisi lateral proximal tungkai bawah
pasien untuk menyiapkan gerakan dan tangan satunya menstabilisasi tungkai atas.
Pratikan selajutnya secara pasif memposisikan tungkai pasien flexi knee 300.
praktikan kemudian menarik tibia pasien ke anterior terhadap femur.
Positif Tes :displacemen abnormal anterior tibia terhadap femur dengan
membandingkan tungkai yang satunya.
Interpretasi : Positif tes mengindikasi tear ligamen cruciatum anterior.

6. Pivot ShiftTest
Tujuan : Tes untuk menilai adanya instabiliti rotasi anterolateral dan laksiti
pada ligament cruciatum anterior
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan : Meletakan satu tangan di bagian posterior knee dan tangan satunya
pada tumit pasien untuk menyiapkan gerakan. Praktikan selanjutnya secara pasif
menggerakan tungkai pasien kearah flexi hip sekitar 450dan abduksi sekitar
300disertai knee flexi 500 (posisi reduksi). Praktikan kemudian mengendorotasikan
tibia pasien melalui kaki sebagai lever. Dengan tetap mempertahankan endorotasi,
aplikasikan valgus stress dengan menggunakan tangan yang ditempatkan dibawah
knee pasien ke arah ekstensi.
Positif Tes :subluksasi condylus lateral tibia kedepan terhadap tibial plateau
melalui pendekatan ekstensi knee, yang terkadang disertai bunyi cliking.
Interpretasi : Positif tes mengindikasi instabiliti rotasi anterolateral dan laksiti pada
ligamen cruciatum anterior.

7. Reverse PivotTest
Tujuan : Tes untuk menilai adanya instabiliti rotasi posterolateral
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan : Meletakan satu tangan dengan ibu jaridibagian antero medial knee
pasien dan jemari lainnya pada sisi latero posterior untuk menstabilkan knee pasien.
Tangan praktikan satunya pada tumit pasien untuk mempertahankan eksorotasi tibia
selama tes. Prsktiksn selanjutnya secara pasif menggerakkan tungkai pasien ke arah
flexi hip sekitar 450 dan knee flexi sekitar 800, saat tangan praktikan yang berada pada
tumit pasien mempertahankan eksorotasi tibia, aplikasikan bersamaan dengan vslgus
stress terhadap knee pasien. Praktikan kemudian mengekstensikan knee pasien secara
perlahan dan pada posisi flexi sekitar 200-300, iliotibial band berada di anterior
sebagai aksis rotasi, lalu secara tiba- tiba bawa condylus lateral tibia pasien kearah
belakang kedalam posisi netral, mengindikasikan tes positif.
Interpretasi : Positif tes mengindikasi instabiliti rotasi posterolateral knee.

8. ApleysTest 1
Tujuan : Tes untuk memprofokasi nyeri akibat tear meniskus. Tes ini memiliki
dua komponen yaitu : tes rotasi kompresi dan tes rotasi distraksi
Prosedur Tes : Pasien tengkurap denga posisi awal knee flexi 900.
Praktikan : meletakan satu tangan diatas tumit pasien dan tangan satunya di atas
plantaris kaki pasien untuk menyiapkan kompresi. Praktikan selanjutnya
mengaplikasikan penekanan secara kuat sepanjang aksis longitudinal tibia pasien.
Sekali lagi lakukan kompresi disertai dengan endorotasi dan eksorotasi tibial.
Positif Tes :nyeri dengan atau tanpa apprehension ketika rotasi diaplikasikan
dibawah kompresi
Interpretasi : Positif tes mengindikasi tear meniskus.

9. Apleys Test 2
Tujuan : Tes untuk memprofokasi nyeri akibat tear meniskus.
Prosedur Tes : Pasien tengkurap denga posisi awal knee flexi 900.
Praktikan : meletakan satu tangan pada ankle pasien dan tangan satunya pada
dorsum kaki pasien untuk menyiapkan distraksi. Sementara satu lutut praktikkan
diletakan pada posisi posterior distal paha pasien dengan kuat tetapi comfortable
untuk mempertahankan posisi paha tetap di bed selama tes dilakukan. Praktikan
selanjutnya secara pasif mengaplikasikan distraksi pada knee pasien secara
longitudinal sepanjang garis tibia. Sekali lagi lakukan distraksi disertai dengan
endorotasi dan eksorotasi tibial.
Positif Tes :nyeri berkurang ketika tes distraksi dilakukan
Interpretasi : Positif tes mengindikasi tear meniskus.

10. Meniscal QuadrantTest


Tujuan : Tes untuk mengidentifikasi lokasi lesi pada meniskus
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan :secara pasif menggerakkan tungkai pasien dalam empat qudran
test.untuk mengetes antero medial quadrant, gerakkan knee pasien kearah atas full
flexi hip dan knee, eksorotasi tibia, lalu bawa tungkai kearah bawah full ekstensi
knee. Untuk mengetes antero lateral quadrant, gerakan knee pasien kearah atas full
flexi hip dan knee, endorotasi tibia, lalu bawa tungkai kearah bawah full ekstensi
knee. Untuk mengetes postero medial qudrant, gerakan knee pasien kearah full
extensi, endorotasi tibia lalu bawa tungkai kearah atas full flexi hip dan knee. Untuk
mengetes postero lateral qudrant, gerakan knee pasien kearah full extensi, eksorotasi
tibia lalu bawa tungkai kearah atas full flexi hip dan knee.
Positif Tes :nyeri disertai bunyi clicking/ popping selama pergerakkan
Interpretasi :quadrant yang menimbulkan nyeri atau suara popping
mengindikasikan lokasi lesi meniscus pada area tersebut.

11. Mc Murrays Test


Tujuan : Tes untuk menilai integritas meniscus dan menentukan lesi pada
meniscus
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan :meletakkan satu tangan pada sisi anterior knee pasien dengan ibu jari
mempalpasi joint line knee, dan tangan satunya pada tumit pasien untuk menyiapkan
gerakan. Praktikan selanjutnya secara pasif menggerakkan tungkai pasien kearah flexi
hip dan knee sekitar 900. Praktikan kemudian mengaplikasikan gerakan swing pada
tungkai pasien, seperti menggambar huruf U degan acra mengendorotasikan dan
mengeksorotasikan tibia pasien sambil membawa tungkai kearah flexi dan ekstensi.
Positif Tes :nyeri disertai bunyi clicking/ popping selama pergerakkan
Interpretasi :positif test mengindikasikan tear meniskus ( melokalisasi lesi pada
meniscus).

12. Patellar Apprehension Test


Tujuan : Tes untuk mendeteksi nyeri/instability yang bersumber dari patella
femoral articulation
Prosedur Tes : Pasien terlentang dengan posisi knee ekstensi
Praktikan : meletakkan kedua thumb pada sisi medial patella. Praktikan
selanjutnya secara pasif menggeser dan menekan patella pasien kearah lateral secara
perlahan serta terkontrol.
Positif Tes : nyeri disertai bunyi rasa cemas pasien atau berusaha
mengontraksikan quadriceps selama untuk mencegah patella glide ke lateral dan
merasa tidak cemas ketika patella glide ke medial.
Interpretasi : positif test mengindikasikan patologi patella femoral articulation.

13. Patello Femoral Grind Test


Tujuan : Tes untuk memprovokasi nyeri dan/atau apprehension yang berasal
dari patella femoral joint
Prosedur Tes : Pasien terlentang dengan posisi knee ekstensi
Praktikan : meletakkan satu tangan dibagian superior pole patella dan tangan
satunya dibagian inferior pole patella menggunakan pinch grip dengan ibu jari dan
jari telunjuk kedua tangan untuk memfiksasi apex dan basis patella pasien, praktikan
selanjutnya secara pasif dan perlahan menggerakkan serta menekan patella pasien
melawan femur kearah proximal dan distal dimana permukaan posterior patella slide
melawan condylus femoral.
Positif Tes : nyeri dibagian anterior knee
Interpretasi : positif test mengindikasikan patologi patella femoral joint.

14. Clarke Sign


Tujuan : Tes untuk menilai mengidentifikasi adanya chondromalacia patella
Prosedur Tes : Pasien terlentang dengan posisi ekstensi knee
Praktikan : meletakkan satu tangan dibagian superior pole patella dan tangan
satunya pada fossa poplitea pasien. Praktikan selanjutnya menekan patella pasien
kearah caudal yang mengulur tendon serta otot quadriceps praktikan lalu minta pasien
untuk mengkontraksikan otot quadriceps secara perlahan dan hati-hati sementara
praktikan menahan gerakan yang terjadi pada patella pasien
Positif Tes : maneuver menyebabkan nyeri retropatellar dan pasien tidak dapat
menahan kontraksi
Interpretasi : positif test mengindikasikan adanya chondromalacia patella

15. Godfrey (Gravity) Test


Tujuan : Tes untuk mengidentifikasi instability ligament cruciatum posterior
tibia
Prosedur Tes : Pasien terlentang dalam posisi comfortable
Praktikan :meletakkan tangan kanan pada dorsum kaki kanan pasien dan tangan
kiri pada dorsum kaki kiri pasien, praktikan selanjutnya mengangkat kedua tungkai
pasien dan menahan keduanya pada posisi flexi hip 900 dan knee 900. Praktikan
kemudian mengamati dan membandingkan kedua tibial line pasien.
Positif Tes : jika posterior sag tibia trelihat dan jika diaplikasiskan tekanan pada
tibia secara manual ke posterior maka posterior displacement mungkin bertambah
Interpretasi : positif test mengindikasikan instability ligament cruciatum posterior
tibia.
BAB II
KASUS FISIOTERAPI PADA REGIO KNEE

A. Chondromalacia Patella

1. Defenisi

Chondromalacia patella atau Patellofemoral Syndrome adalah suatu


patologi adanya kerusakan pada kartilago patella, dimana terdapat pelunakan
atau pengkikisan dan kekerasan dari kartilago yang ditandai dengan adanya
nyeri pada bagian depan dari lutut terutama saat menekuk. Kerusakannya
dapat berubah dari ringan menjadi berat. Chondromalacia Patella
menggambarkan perubahan yang terjadi pada lapisan kartilago pada ujung
tulang dimana fungsinya menurun dan terjadi degenerasi. Chondromalacia di
dapat dari cedera pada kartilago yang masih sehat atau respon terhadap
pembebanan yang berlebihan pada kartilago. Beberapa penyebab yang telah
diketahui seperti injury atau cidera padalutut, terjadi karena adanya
penggunaan atau pembebanan yang berlebihan pada lutut, mal alignment pada
lutut, gangguan mekanik (trauma langsung atau tidak langsung) kecacatan
genu valgus atau genu varus, umur, over weight, over dan proses degenerasis .

2. Epidemiologi

Chondromalacia patella ditemukan bahwa tingkat prevelensi mencapai


36,2%, penyakit ini juga dapat dilihat pada setiap usia. Lebih umum pada 15
hingga 60 tahun, dan kejadian sering ditemukan pada wanita dibandingkan
pria. Prognosis untuk pemulihan fungsional penuh dalam kasus sindrom
patellofemoral sangat baik. Secara umum, sindrom ini berhasil diobati dengan
tindakan konservatif

3. Hasil Anamnesis

- Nyeri berjalan

- Deformitas kearah genu valgus

4. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi: - tidak tampak kelainan local. Perhatikan Q angle/genu
valgus

Tes cepat : - gerakan flexi dan ekstensi terjadi painfull arc

Tes gerak aktif : - flexi dan ekstensi


Tes gerak pasif - flexi dan ekstensi

Tes gerak isometric : - Gerak isometric ekstensi lutut nyeri

Tes khusus :

- Clarke sign

Palpasi : nyeri tekan pada condylus lateral dan medial

Joint play movement MLPP kompresi diatas patella posisi lutut


ekstensi dan semi fleksi.

Pengukuran Q angle dan genu valgus.

Tes kekuatan m. Vastus medialis

b. Pemeriksaan Penunjang
- X-Ray

5. Penegakan Diagnosis
Activity limition : - Naik turun tangga
- Berjalan
- Berlari
- Berdiri dari posisi jongkok
Body Function and structure impairment : Muscle weakness m. vastus
medialis
Participation Restriction : - Keterbatasan dalam pekerjaan
- Keterbatasan dalamberibadah
- Keterbatasan dalam olahraga
- Keterbatasan partisipasi
Diagnosa Fisioterapi : Nyeri pada patella disebabkan oleh chondromalacia

6. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan : mengembalikan gerak dan fungsional patella sehingga pasien
dapat beraktivitas seperti biasanya
Intervensi FT : pengutan otot, peningkatan ROM, US, SWD, TENS,
Tapping
Konseling-Edukasi : hindari naik tangga

B. Sprain Medial Collateral Ligament (MCL)

1. Defenisi

Sprain Medial Collateral Ligament (MCL) adalah robekan atau


putusnya ligamen pada bagian medial (dalam) aspek lutut. Bagian dalam dari
ligamentum ini melekat pada meniskus medial dan garis lurus dengan tibialis,
MCL bertindak untuk membatasi pemisahan berlebihan dalam sendi lutut,
agar tidak valgus.

2. Epidemiologi
Karena penurunan terkait usia dalam elastisitas ligamen, orang dewasa
lebih rentan terhadap cedera MCL dari pada anak-anak atau remaja.
Karena cedera MCL biasanya terkait dengan aktivitas atletik. Biasanya
pada dewasa berusia 20 sampai 35 tahun. Meskipun demikian, cedera
MCL juga diamati pada orang tua karena jatuh. Insiden cedera MCL
tertinggi dalam olahraga seperti sepak bola Amerika (55%), ski (15%
sampai 20% dari semua cedera dan 60% dari semua cedera lutut), dan
rugby (29%), di mana valgus (memutar ke arah luar dari pertengahan-line)
dan pasukan rotasi eksternal pada lutut biasanya dialami. MCL terkait juga
dengan ligamen anterior cruciate, posterior cruciatum ligamen, meniskus,
tulang, dan / atau kompleks lateral.

3. Hasil Anamnesis
Terjadi trauma benturan pada tibia lalu pasien tidak dapat melanjutkan
olah raga saat itu. Pada waktu berjalan terasa lutut bergoyang.
4. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : Ada oedem

Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar : flexi dan ekstensi, endorotasi


dan eksorotasi, valgus dan varus

Tes khusus :

- Knee Valgus Test

- Knee Varus Test

Palpasi : nyeri pada sisi medial lutut nyeri dan trimgling

c. Pemeriksaan Penunjang
- X-Ray, MRI

7. Penegakan Diagnosis
Activity limition : Adanya gangguan keseimbangan saat berjalan,
berlari, loncat
Body Function and structure impairment : - Joint line tenderness,
oedem, nyeri, Instabilitas kearah valgus
Participation Restriction : tidak dapat melakukan olahraga yang
mencakup berlari dan koordinasi,rekreasi, ibadah
Diagnosa Fisioterapi : Adanya gangguan stability, adanya gangguan
koordinasi gerak

8. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan : Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan bengkak, pencapaian
normal ROM, adaptasi anatomi dan hipertropi otot, linear dan lateral
stabilisasi, berjalan dan berlari dengan seimbang, drill untuk kembali
ke olah raga.
Intervensi FT : pengutan otot, peningkatan ROM, US, cold pack,
TENS, Tapping
9. Konseling-Edukasi : kompres air dingin pada daerah bengkak dan elevasikan
kaki

C. Sprain Anterior Cruciate Ligament (ACL)

1. Defenisi

Sprain ACL injury adalah robek hingga putusnya jaringan ligament


anterior cruciate ligament pada sendi lutut yang menghubungkan tulang tibia
dengan tulang femur. ACL adalah salah satu ligament pada sendi lutut yang
sering bermasalah pada para pemain olahraga yang menggunakan kaki sebagai
tumpuan utama dalam permainannya, contohnya sepak bola, basket,
taekwondo dan lain-lain.
2. Epidemiologi
Insidensi cedera ACL pada populasi penduduk secara umum di USA
1:3000. Dimana secara gender wanita lebih banyak 2-8x lebih banyak
untuk cedera ACL dibanding laki-laki. Dan lebih banyak pada populasi
atlit olah raga sekitar 80.000 sampai 250.000 setiap tahunnya. (Bernard
R.Bach, 2010)

3. Hasil Anamnesis
Terjadi trauma hiperekstensi dan rotasi dan terdengar suara pop sound
lalu si atlet tidak dapat melanjutkan olah raga saat itu dan beberapa jam
kemudian terjadi bengkak pada lutut. Bila dilakukan berjalan terasa adanya
giving way
4. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : Ada oedem pada lutut

Tes cepat : Squat (ada giving away)

Tes gerak aktif : Nyeri dan kaku pada saat fleksi lutut
Tes gerak pasif : Nyeri dan ROM terbatas dengan firm end feel,
Keterbatasan gerak dalam capsular pattern.

Tes gerak isometric : Gerak isometric negative

Tes khusus : - Lachman Test, Anterior drawer test, dan Pivot shift
test

b. Pemeriksaan Penunjang
- X-Ray, MRI

5. Penegakan Diagnosis
Activity limition : Adanya gangguan keseimbangan saat berjalan,
berlari
Body Function and structure impairment : - Joint line tenderness,
oedem, nyeri, Instabilitas
Participation Restriction : tidak dapat melakukan olahraga yang
mencakup berlari dan koordinasi,rekreasi, ibadah
Diagnosa Fisioterapi : Adanya gangguan stability, adanya gangguan
koordinasi gerak

6. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan : Menghilangkan/ mengurangi nyeri dan bengkak, pencapaian
normal ROM, adaptasi anatomi dan hipertropi otot, linear dan lateral
stabilisasi, berjalan dan berlari dengan seimbang, drill untuk kembali
ke olah raga.
Intervensi FT : pengutan otot, peningkatan ROM, US, cold pack,
TENS, Tapping
7. Konseling-Edukasi : kompres air dingin pada daerah bengkak dan elevasikan
kaki

D. Jumpers Knee (Tendinitis patellaris)

1. Defenisi
Jumpers knee / Tendinitis patellaris adalah peradangan pada tendon
patella yang disebabkan penggunaan tendon yang berlebih selama
beraktivitas. Kontraksi otot yang berulang dapat menyebabkan ketegangan
tendon sehingga tendon mengalami peradangan (Darrow, 2002).
2. Epidemiologi
Berdasarkan survei pada tahun 2006-2007 oleh Utomo dan Damayanti
cidera sendi lutut 62% disebabkan karena kecelakaan lalu lintas dan 38%
disebabkan cidera olahraga. Dalam artikel yang dimuat dari sebuah pelatihan
fisioterapi Afrika tahun 2005 oleh Mike Hagen, salah satu cidera olahraga
yang sering terjadi adalah tendinitis patellaris atau sering disebut jumpers
knee dengan prosentase sebanyak 25-31%, sedangkan sisanya adalah cidera
ligament. Jurnal sport medic tahun 2001 menyatakan nyeri tendon pada atlet
khususnya jumping athletes paling sering terjadi di atas patella sebanyak 25%,
tepat dibawah patella 65%, dan 10% pada insertio tendon di tuberositas tibia.

3. Hasil Anamnesis
Pasien datang dan mengeluhkan nyeri pada lutut sisi depan bagian
bawah, nyeri diam saat pasien dalam posisi berdiri, nyeri tekan pada
tendon patella, nyeri gerak saat berjalan dan naik tangga, Nyeri hilang
setelah beraktifitas. Nyeri meningkat ketika melompat .
4. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang
c. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : Ada oedem pada lutut

Palpasi nyeri tekan pada infra patela

Pemeriksaan fungsi gerak dasar : Nyeri pada saat tes isometric ke


arah ekstensi

d. Pemeriksaan Penunjang
- X-Ray, MRI

5. Penegakan Diagnosis
Activity limition : Adanya nyeri saat berlari, melompat, menendang
Body Function and structure impairment : - Nyeri, Quadriceps
inaktif
Participation Restriction : Tidak dapat melakukan olahraga yang
mencakup berlari, melompat dan menendang
Diagnosa Fisioterapi : Adanya nyeri saat berlari, meloncat dan menendang.
adanya gangguan koordinasi gerak.

6. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan : Menghilangkan/ mengurangi nyeri, pencapaian normal ROM,
adaptasi anatomi dan hipertropi otot, linear dan lateral stabilisasi,
berjalan dan berlari dengan seimbang, drill untuk kembali ke olah raga.
Intervensi FT : pengutan otot, peningkatan ROM, US, TENS, Tapping
7. Konseling-Edukasi : latihan exercise

E. Meniscus Tears

1. Defenisi

Robekan pada meniskus karena gerakan fleksi, rotasi, lutut terkunci

2. Epidemiologi

Epidemiologi : Injuri pada meniscus dengan angka insiden dari 12% ke


14% dan prevalensi dari 61 kasus per 100.000 orang (Majewski M, 2006)

3. Hasil Anamnesis

Pasien datang dengan cedera pada area lutut insiden terjadi pada
aktivitas olahraga dimana posisi lutut terpelintir dan sedikit menekuk. Pada
sata jalan sering terasa lutut terkunci
4. Pemeriksaan fisik dan dasar penunjang

a. Hasil pemeriksaan fisik

Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar : Tes gerak pasif terbatas pola


kapsuler dan nyeri, Rotasi medial, lateral, valgus/varus tes postif
nyeri
Tes khusus : Apleys Test, McMurray Test

b. Pemeriksaan penunjang
MRI, X-Ray

5. Penegakkan diagnosa

Activity limitation : Nyeri fleksi maupun ekstensi, naik tangga


Body structure and body function : Nyeri dan Gangguan
mobilisasi
Participation restriction ; tidak dapat Olahraga, bekerja
Diagnosa
Adanya nyeri sekitar sendi, mobilitas single joint terbatas, gait pattern
fuction.

6. Rencana Penatalaksanaan
Tujuan
Meningkatkan kemampuan stabilisasi kaki dan penguatan kaki yang lemah
Intervensi : Stabilisasi, Strengthening, manipulasi meniscus