Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK

IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSIONAL SENYAWA ORGANIK

Tujuan Percobaan :
1. Mempelajari teknik pengukuran fisik untuk mengidentifikasi suatu senyawa organik
2. Uji kimia untuk mengidentifikasi gugus fungsional senyawa organik

Pendahuluan
Senyawa kimia mempunyai sifat fisik dan kimia yang berbeda antara senyawa satu
dengan yang lainnya. Sifat fisik dan kimia bisa dilihat dari gugus fungsi yang menempel
pada senyawa. Gugus fungsi adalah kelompok atom dengan pola ikatan tertentu yang bisa
digunakan sebagai penanda. Gugus fungsi tersebut antara lain alkane, alkena, alkuna,
alkohol, alkanon, aldehida, ester, dan lain-lain. Masing masing gugus fungsi tersebut
memiliki ciri khusus karena ikatan yang dibentuk tidak sama satu dengan yang lain. Alkohol
memiliki gugus fungsi OH, sedangkan alkena memiliki ikatan hidrokarbon dengan dua
ikatan rangkap (Sjaifullah, 2008).
Pengidentifikasian gugus fungsi dapat dilakukan dengan mereaksikan sampel dengan
reagen tertentu. Alkohol dapat diidentifikasi dengan metode Lucas, yaitu sampel uji
ditambahkan dengan reagen Lucas dan diamati perubahan yang terjadi. Metode tes kromat
dilakukan dengna menambahkan sedikit aseton dan asam kromat, kemudian diamati
perubahan yang terjadi. Metode iodoform dengan menambahkan sedikit NaOH, sedangkan
metode tes Feri klorida dengan menambahkan beberapa feri klorida. Metode reaksi dengan
Na2CO3 dan NaHCO3 dengan menambahkan zat tersebut ke dalam sampel yang akan
diidentifikasi (Dewi, 2013).
Hidrokarbon dapat diidentifikasi dengan beberapa uji, yaitu uji bromin dan uji Baeyer.
Uji bromin bertujuan untuk mengetahui pengaruh cahaya dalam mempercepat terjadinya
reaksi hidrokarbon. Hasil positif uji bromin apabila gas HBr berwarna coklat sampai kuning
terbentuk. Sifat gas ini bersifat asam dan beracun. Uji Baeyer dilakukan untuk menunjukkan
Kereaktifan hidrokarbon alifatik, alisiklik, dan aromatik terhadap oksidator KMnO4
yang merupakan katalis. Hasil positif uji Baeyer ditandai dengan adanya perubahan pada
larutan yang tidak berwarna hingga menjadi endapan hitam (Andrian, 2012).
Alkohol dan hidrokarbon memiliki reagen spesifik untuk menguji gugus fungsi. Setiap
gugus fungsi memiliki reaksi yang spesifik dengan reagen tertentu sehingga dapat digunakan
untuk mengidentifikasi suatu senyawa. Percobaan ini akan mempelajari bagaimana cara
mengidentifikasi suatu gugus fungsi dari senyawa organik (Andrian, 2012).

Material Safety Data Sheet (MSDS)

Metanol
Metanol memiliki wujud cair, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Berat
molekul 34,04 g/mol. Titik didih 64,7C dan titik lelehnya tidak tersedia. Identifikasi bahaya
yang ditimbulkan dari methanol yaitu sangat berbahaya saat terjadi kontak dengan mata
(iritan), kulit (iritan), menelan dan inhalasi. Tindakan pertolongan pertama saat tertelan yaitu
jangan dipaksakan muntah kecuali diarahkan oleh tenaga medis (Anonim, 2016).
Toulena
Toulena memiliki wujud cair, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. pH
toulena tidak tersedia. Titik didih toulena adalah 110,6C dan titik leburnya -95C. Kerapatan
uap toluene adalah 4,5. Identifikasi bahaya dari toulena sangat berbahaya saat terkontak
dengan mata, kulit, menlan dan inhalasi. Tindakan pertolongan pertama saat terkontak
dengan mata yaitu segera bilas mata dengan air mengalir selama minimal 15 menit (Anonim,
2016).
Etanol
Etanol memiliki wujud cairan, berbau seperti alcohol, tidak berwarna. Titik didiih
etanol 78C sedangkan titik lelehnya -177C. Etanol larut dalm air panas dan air dingin.
Identifikasi bahaya dari etanol yaitu berbahaya dalam kasus kontak mata, kulit, menelan dan
inhalasi. Tindakan pertolongan pertama saat terjadi kontak dengan mata segera periksa dan
lepaskan kontak serta basuh dengan air mengalir selama minimal 15 menit (Anonim, 2016).
Asetonfenon
Asetonfenon memiliki wujud cairan, tidak berwarna, bau dan rasa tidak tersedia. pH
asetonfenon 7(netral), titik didih 201,7C dan titik leleh 19,7C. Asetonfenon larut dalam
methanol dan dietil eter serta sebagian larut dalam air dingin dan air panas. Identifikasi
bahaya yang disebabkan oleh asetonfenon yaitu berbahaya dalam kasus kontak mata(iritan),
kontak kulit (iritan), menelan serta inhalasi.
Tindakan pertolongan pertama apabila asetonfenon terhirup, segera pindahkan ke udara segar
(Anonim, 2016).
Klorobensen
Klorobensen memiliki wujud cair, tidak berwarn, bau tidak tersedia dan tidak berasa.
Titik didih 132C dan titik leburnya -45,6C. pH tidak tersedia. Kelarutan klorobensen dalam
methanol dan dietil eter serta air dingin. Identifikasi bahaya yang ditimbulkan dari
klorobensen yaitu berbahaya dalam kasus konta dengan mata yang menyebabkan iritan,
kontak kulit, inhalasi serta sangat berbahaya dalam kasus menelan. Tindakan pertolongan
pertama saat terkontak dengan kulit yaitu segera basuh kulit dengan air sebanyak-banyaknya
selama minimal 15 menit (Anonim, 2016).
Benzaldehida
Benzalehida memiliki wujud cair, berwarna kuning, berasa bitter dan tidak berbau.
Benzaldehida memiliki pH 5,9. Titik didihnya 178C dan titik lelehnya -56C. kelarutan
benzaldehida yaitu dalam air. Identifikasi bahaya dari benzaldehida yaitu berbahaya dalam
kasus kontak kulit, mata, menelan dan inhalasi. Tindakan pertolongan pertama saat
benzildehida tertelan yaitu jangan dipaksakan muntah kecuali diarahkan oleh tenaga medis
(Anonim, 2016).
Fehling B
Fehling B memiliki wujud cair, rasa, warna, bau tidak tersedia. Fehling B memiliki
titik didih 100C sedangkan titik leburnya tidak diketahui. pH fehling B yaitu pH umum dan
kelarutannya mudah larut dalam air dingin. Identifikasi bahaya dari fehling B yaitu sangat
berbahaya apabila terkontak dengan mata, kulit, menelan dan inhalasi. Tindakan pertolongan
pertama saat terjadi inhalasi yaitu segera pindahkan ke udara segar dan jika tidak bernafas
segera berikan pernafasan buatan (Anonim, 2016).
Fehling A
Fehling A berwujud cair, berwarna biru, tidak berbau dan tidak berasa. pH dari fehling
A tidak tersedia. Titik didih dan titik lebur tidak tersedia. Kerapatan uap dan kerapatan air
tidak tersedia. Kelarutan fehling A juga tidak tersedia. Identifikasi bahaya yang ditimbulkan
dari fehling A yaitu sangat berbahaya sangat jika tertelan. Tindakan pertolongan pertama saat
tertelan yaitu jangan dipaksakan muntah kecuali diarahkan oleh tenaga medis (Anonim,
2016).
Bromin
Bromin memiliki wujud cair, berbau pedas dan berwarna merah kecoklatan. Titik didih
bromin 58,78 C dan titik leburnya -7,25 C. berat molekul bromin sebesar 159,808 g/mol.
Kelarutan bromin yaitu dalam dietil eter. Identifikasi bahaya dari bromin sangat berbahaya
pada saat terjadi inhalasi dan menyebabkan sesak nafas. Tindakan pertolongan pertama yang
dilakukan yaitu segera pindahkan ke udara segar (Anonim, 2016).
Kalium permanganate
Kalium permanganate memiliki wujud padat, tidak berbau, berasa manis dan berwarna
ungu. Titik didih dan titik dan titik cair tidak tersedia. Berat molekulnya 158,03g/mol dan
berat jenisnya 27. Kelarutan kalium permanganate mudah larut dalam methanol dan aseton
sebagian larut dalam air dingin dan air panas. Identifikasi bahaya dari kalium permanganate
berbahaya dalam kasus menelan. Tindakan pertolongan yang dilakukan yaitu jamgan
memaksakan muntah kecuali diarahkan oleh tenaga medis (Anonim, 2016).
Perak nitrat
Perak nitrat berwujud padat, berwarna putih dan berasa bitter. Titik didih: Suhu
penguraian: 440 C dan titik leburnya 212 C. kelaruatn perat nitrat yaitu mudah larut dalam
air dingin, air panas dan dietil eter. Perak nitrat sangat berbahaya jika terjadi ko tak dengan
kulit yang menyebabkan iritan. Tindakan yang dilakukan yaitu dengan cara membasuh kulit
dengan air dingin minimal selama 15 menit (Anonim, 2016).
Aseton
Aseton memiliki wujud cair, berbau seperti mint, berasa pedas dan tidak berwarna.
Berat molekul aseton 58,08 g/mol sedangakan berat jenisnya 0,79. Titik didih aseton 56,2 C
dan titik leburnya -95,35 C. kelarutan saeton yaitu larut dalam air dingin dan air panas.
Identifikasi bahaya pada aseton yaitu berbahaya dalam kasus kontak mata. Tindakan
pertolongan pertama yaitu segera basuh mata dengan air mengalir selama minimal 15 menit
(Anonim, 2016).
Fenol
Fenol memiliki wujud padat, berbau manis tajam,dan berwarna merah kemudaan. Berat
molekul fenol yaitu 94,11g/mol. Titik didihya yaitu sekitar 182 C sedangkan titik lelehnya
adalah 42 C. Kelarutan fenol dalam methanol, dietil eter, air dingin dan aseton. Identifikasi
bahaya dari fenol sangat berbaha apabila terjadi inhalasi. Tinadakan pertolongannya dengan
cara memindahkan korban ke udara segar (Anonim, 2016).
Prinsip Kerja
Prinsip kerja yang digunakan pada percobaan ini adalah mengidentifikasi senyawa organik
berdasarkan gugus fungsi yang menandakan sifat fisik dan kimia suatu senyawa tersebut.
Uji ketidakhjenuhan reaksi dengan brom menggunakan prinsip berdasarkan reaksi adisi,
sedangkan pada reaksi oksidasi dengan kalium permanganat adalah berdasarkan reaksi
oksidasi, yaitu serah terima elektron. Uji halogen pada suatu senyawa bekerja berdasarkan
prisnsip reaksi substitusi, dimana suatu atom pada senyawa digantikan dengan atom atau
gugus fungsi lainnya. Uji alkohol bekerja bekerja berdasarkan prinsip reaksi oksidasi
dimana alkohol primer akan dioksidasi menghasilkan aldehid dan jika dioksidasi lagi akan
terbentuk asam karboksilat, sedangkan pada alkohol sekunder jika dioksidasi akan
menghasilkan keton. Uji aldehida dan keton juga bekerja berdasarkan prinsip reaksi
eliminasi, dimana reaksi ini akan dihasilkan ikatan rangkap pada atom berikatan tunggal.
Uji fenol bekerja pada prinsip reaksi kompleks, dimana senyawa yang dihasilkan pada
reaksi uji fenol akan membentuk senyawa kompleks.
Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, pemanas listrik, pipet
tetes, batang pengaduk, gelas ukur 50ml, pipet volum 10ml, termometer 0 110, penangas
air dan beaker glass 500ml.
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan 5% Br 2 dalam n-oktanol
atau CH2Cl2, toluena, etanol, aseton, heksena, sikloheksena, bensaldehida, fenol, toluena,
aseton, metanol, etanol, 1-propanol, 2-butanol, butiraldehida, asetofenon, n-oktanol,
klorobensena, asetil klorida, bensilklorida, t-butil bromida, larutan 1% Br2, larutan FeCl3
5%, larutan 2% KmnO4, larutan 5% Br2 dalam CH2Cl2, 5% Br2 dalam oktanol atau CH2Cl2
atau 1% dalam air, larutan 15% NaI dalam aseton, 2% AgNO3 dalam etanol 95%, 5 gram
CrO3 dalam 15 ml air dan 5 ml H2SO4 pekat, 2,4-dinitofenilhidrasin, dietilen glikol
atau DMF, HCl pekat, larutan 5% AgNO3, larutan 5% NaOH, larutan NH3 encer, Fehling
A: 34,64 g CuSO4.5H2O dalam 500 mL larutan, Fehling B: 65 g NaOH dan 173 g KNa
tartarat dalam 500 mL larutan.
Prosedur Kerja
1. Uji ketidak jenuhan
Uji kimia ketidakjenuhan dilakukan dengan dua kali percobaan yaitu reaksi dengan
brom dan oksidasi dengan KMnO4. Reaksi dengan brom yaitu dengan langkah awal reagen :
5% Br2 dalam oktanol atau CH2Cl2 atau 1% dalam air. Dimasukkan 4 tetes heksena atau
sampel lainnya yang disediakan, misalnya toluena, aseton, etanol, bensaldehida ke dalam
tabung reaksi bersih dan kering. Ditambahkan 2mL n-oktanol. Dikocok campuran tersebut
perlahan lahan dan ditambahkan tetes demi tetes larutan brom sampai tidak terjadi
perubahan warna. Dicatat jumlah tetes tiap sampel. Reaksi oksidasi dengan KMnO4 yaitu
langkah awal reagen : larutan 2% KMnO4. Dilarutkan 4 tetes heksena atau sampel lainnya
yang disediakan, misalnya toluena, aseton, etanol, bensaldehida ke dalam sedikit mungkin
aseton atau air di dalam tabung reaksi kering dan bersih. Ditambahkan tetes demi tetes
larutan KMnO4 sampai terjadi endapan hitam (atau larutan menjadi keruh). Dicatat jumlah
tetes tiap sampel.
2. Uji halogen
Uji adanya halogen dengan langkah awal yaitu reagen : 2% AgNO3 dalam etanol
95,5%. Dimasukkan 3 tetes klorobensena atau sampel lainnya yang disediakan, misalnya n-
butil klorida, kloroform, bensil klorida, bensoil klorida, t-butil bromida di dalam tabung
reaksi kering dan bersih. Ditambahkan 2mL reagen AgNO3. Didiamkan selama beberapa
menit. Dimasukkan tabung reaksi ke dalam penangas air (50-60oC). Dicatat waktu yang
diperlukan untuk terjadinya endapan. Uji adanya halogen cara kedua menggunakan reagen:
larutan 15% NaI dalam aseton kering langkah awal ditambahkan 3 tetes klorobensena atau
sampel lainnya yang disediakan, misalnya n-butil klorida, kloroform, bensil klorida, bensoil
klorida, t-butil bromida ke dalam 2 mL reagen NaI di dalam tabung reaksi kering dan
bersih, kocoklah campuran dalam tabung reaksi dan biarkan sekitar 3 menit. Bila tidak
terjadi perubahan, masukkan tabung reaksi dalam penangas air pada suhu 50 0C dan catat
waktu yang diperlukan untuk terbentukknya endapan.
3. Uji alkohol
Uji adanya OH alkohol dengan dua cara yaitu cara pertama dengan langkah awal
tabung reaksi dibersihkan dan dikeringkan, masukkan 4 tetes sampel yang disediakan, yaitu
metanol, etanol, 2-butanol, ter-butanol, dan kloroform. Kemudian tambahkan 1 tetes aseton,
dan 1 tetes larutan asam kromat yang dibuat dengan melarutkan 5 gram CrO3 dalam 15 ml
air dan 5 ml H2SO4 pekat. Kocok campuran dan amati perubahan yang terjadi. Test positif
jika terjadi perubahan warna dari kuning ke biru kehijauan atau terbentuk endapan. Uji
adanya alkohol yang kedua menggunakan reagen asetil klorida dengan langkah awal
masukkan sekitar 5 tetes alkohol (metanol, etanol, propanol, butanol atau alkohol lain yang
diberikan) ke dalam tabung reaksi yang bersih dan kering. Tambahkan 3 5 tetes asetil
klorida dengan sangat hati-hati, diamkan beberapa saat (2- 4 menit) dan tambahkan 3-5 mL
larutan 15% NaHCO3. Ciumlah bau hasil reaksinya, bau harum menandakan terbentuknya
ester.
4. Uji aldehida dan keton
Uji aldehida dan keton menggunakan tiga cara yaitu pertama menggunakan reagen
fenilhidrazin, dietilen glikol atau DMF, HCl pekat. Langkah awal dimasukkan kedalam
tabung reaksi 2 tetes sampel (aseton, bensaldehida, butiraldehida, asetofenon, atau yang
lain), 2 ml etanol 95 %, dan 1 ml larutan fenilhidrazin. Lakukan penggojokan kuat-kuat.
Jika tidak terbentuk endapan , panaskan campuran dengan pembakar spiritus. Test positif
jika terbentuk endapan kunig-merah, catatlah perubahan warna terhadap sampel aldehida
dan keton. Cara yang kedua menggunakan reagen fehling A : 34,64 g CuSO4.5H2O dalam
500 mL dan fehling B : 65 g NaOH dan 173 g KNa tartarat dalam 500 mL larutan. Sampel
sebanyak 1 mL, 1 mL reagen fehling A dan B ke dalam tabung reaksi. Dipanaskan tabung
reaksi di dalam penangas air mendidih selama 5 menit. Diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi pada sampel aldehida dan keton. Cara yang ketiga degan cara tes tollen yang
menggunakan reagen : larutan 5% AgNO3, larutan 5% NaOH, larutan NH3 encer
(pengenceran 10 kali ammonia pekat). Langkah awal dimasukkan sampel, 1mL larutan 5%
AgNO3, 1mL larutan 5% NaOH, dan 5 tetes ammonia ke dalam tabung reaksi yang bersih.
Dipanaskan tabung reaksi di dalam penangas air mendidih selama 5 menit. Diamati dan
dicatat perubahan yang terjadi pada sampel aldehida dan keton.
5. Uji fenol
Uji Fenol, langkah awal yang dilakukan masukkan 2 tetes sampel ke dalam tabung
reaksi yang bersih dan kering, misalnya 2-butanol, etanol, dan fenol. Kemudian setiap tabung
reaksi ditambahkan 1 tetes larutan FeCl3 5 % . Melakukan penggojokan kuat-kuat, diamati
dan dicatat terjadinya perubahan berwarna yang terjadi pada setiap sampel. Perubahan warna
dari oranye ke kehjauan akan pudar terhadap perubahan waktu.

Waktu yang dibutuhkan


No Prosedur Kerja Waktu
1 Preparasi alat dan persiapan praktikan 20 menit
2 Uji kimia ketidak jenuhan 20 menit
a. Reaksi dengan brom
b. Oksidasi dengan KMnO4
3 Uji adanya halogen 50 menit
a. Reagen AgNO3 + Pemanasan
b. Reagen NaI + pemanasan
4 Uji adanya alkohol 25 menit
a. Reagen asam kromat
b. Reagen asetil klorida
5 Uji aldehida dan keton 40 menit
a. Reagen: fenilhidrazin
b. Tes fehling
c. Tes tollen
6 Uji fenol 15 menit

Data dan Perhitungan


Berikut adalah tabel data percobaan yang telah dilakukan:
No. Uji Bahan Hasil Gambar

1. Ketidakjenuhan a. Toluena + a. Ada 2 fasa,


1-butanol+10 perubahan dari
a. Brom
tetes Br bening ke kuning
b. Aseton + dan kembali
1-butanol+4 kuning lagi
tetes Br b. Larutan menjadi
c. Etanol + kuning
1-butanol+4 c. Larutan dari bening
tetes Br ke kuning
d. Benzaldehid d. Larutan dari bening
+ 1-butanol+8 ke kuning dan
tetes Br kembali bening

5 b. KMnO4 a. Toluena+4 a. Endapan ungu


tetes KMnO4 kehitaman
b. Aseton b. Ungu pekat
c. Etanol c. Endapan ungu
d. Benzaldehid kehitaman
d. Endapan hitam
kecoklatan
2. Halogen a. Endapan gelembung
tetap ada setelah
a. 2% AgNO3 a. Klorobenzena
dipanaskan
dalam etanol
b. Endapan gelembung
95% b. Kloroform
hilang setelah
dipanaskan

b.15% NaI a. Klorobe a. Tidak ada endapan


dalam aseton nzena setelah dipanaskan
kering 10 menit
b. Kloroform b. Tidak ada endapan
setelah dipanaskan
10 menit

3. Alkohol a. Metanol+1 a. Dari bening


tetes aseton+1 menjadi hijau
tetes asam kebiruan, tidak ada
kromat endapan, panas
b. Etanol+1 b. Dari bening
tetes aseton+1 menjadi hijau
tetes asam kebiruan dan
kromat terdapat endapan
c. Ter-butanol+1 c. Hijau kebiruan tua,
tetes aseton+1 endapan hijau tua, 2
tetes asam fasa
kromat d. Dari bening
d. 2-butanol+1 menjadi hijau
tetes aseton+1 kebiruan dan
tetes asam terdapat endapan
kromat e. Dari bening
e. Kloroform+1 menjadi coklat
tetes aseton+1 kehitaman
tetes asam
kromat
4. Keton dan a. Benzaldehid a. terdapat endapan
Aldehid b. Aseton b. berwarna kuning
c. Asetofenon
(Tes Fehling) bening

c. berwarna kuning
bening

a. Fehling A a. Aseton a. warna aseton Sebelum pemanasan


b. Fehling B menjadi biru
c. Pemanasan b.terbentuk endapan
biru, 2 fasa, warna
menjadi biru gelap

c. Pemanasan :
terbentuk endapan dan Setelah pemanasan
2 fasa
a.Fehling A
b.Fehling B b. Aseton fenol
c.Pemanasan a. berwarna biru dan
terdapat gelembung di
bawah

b. terbentuk satu fasa,


biru tua ++

a.Fehling A c. tidak berwarna

b.Fehling B c. benzaldehida
c.Pemanasan
a. warna biru ada
gelembung di
permukaan

b. terbentuk 2 fase ada


gelembung lebih
banyak dibandingkan
aseton fenol

c. tidak terbentuk
endapan dan ada 2 fasa

Uji Tollen a. Aseton Sebelum: Setelah di


Sebelum:
Reagen NaOH a.endapan panaskan:
b. Asetofenol ditengah
a.gumpalan
atas
hitam di
bening
bawah dan
c. Benzaldehid hijau
bau
kecokltan
menyengat
b.ada
b.bau
endapan
menyengat
hijau
ada Setelah pemanasan
coklat ada
endapan
gelembung
hitam, 3
dan
fasa atas
terbentu 2
terbentuk
fasa
cembungan
c. warna dan
hitam endapan air
keabuan
c. ada
ada
gumpalan
gumpalan
hitam dan
hitam
endapan
terdapat di
atas
Reagen AgNO3

a. warna
menjadi
kekuningan
b.warna
tetap ada
gelembung
c. tidak
berwarna
ada
gelembung

Reagen NH3
a. ada
gumpalan
kecil di
bawah dan
terbentuk 2
fase
b.ada
endapan di
bawah dan
gelembung
di atas
c.ada
endapan
atau
gumpalan
besar hitam
di bawah
warna
hitam
kehijauan.
Di atas ada
gumpalan
hitam
5. Fenol a. Fenol+1 tetes a.kehitaman
FeCl3
Dengan FeCl3
b. 2-butanol+1
b. larutan berwarna
tetes FeCl3
kuning

c. Etanol+1
tetes FeCl3
c. larutan berwarna
kuning

Pembahasan Hasil
Praktikum kali ini adalah mengenai identifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa.
Mengidentifikasi gugus fungsi dari suatu senyawa dapat diketahui dari hasil reaksi yang
terjadi dengan ditandai adanya perubahan warna, terbentuknya endapan, dihasilkannya bau
atau gas dan lain-lain. Percobaan pertama yang dilakukan adalah uji ketidakjenuhan suatu
senyawa. Uji ini ditandai dengan ada atau tidaknya ikatan rangkap pada suatu senyawa.
Senyawa yang jenuh menandakan adanya ikatan rangkap. Uji ketidakjenuhan dibagi
menjadi 2 yang dibedakan berdasarkan pereaksinya. Pereaksi pertama pada percobaan ini
adalah Br2. Senyawa yang bereaksi dengan Br2 jika terjadi perubahan dari bening menjadi
kuning dan kembali bening lagi setelah ditetesi Br2 secara terus menerus menandakan
bahawa senyawa tersebut jenuh. Hasil dari percobaan ditemukan bahwa senyawa yang
positif jenuh adalah toluene dan benzaldehida. Reaksi yang terjadi pada senyawa tersebut
adalah

1. Toluena
CHO
+ Br Br

bromine
benzaldehyde

2. Benzaldehida
CHO
+ Br Br

bromine
benzaldehyde

Reaksi yang kedua adalah oksidasi dengan KMnO4. Gugus fungsi dalam senyawa ini
adalah gugus karbonil, C=O. Senyawa aldehida satu atom hidrogen terikat pada karbon
dalam gugus karbonil. Senyawa keton, atom karbon pada gugus karbonil terikat pada dua
gugus hidrokarbon(alkil). Perbedaan antara aldehid dan keton adalah keberadaan sebuah
atom hidrogen yang terikat pada ikatan rangkap C=O dalam aldehid, sedangkan pada keton
tidak diemukan adanya atom hidrogen. Atom hidrogen pada senyawa aldehid tersebut
menjadikannya sangat mudah teroksidasi, dimana senyawa aldehid merupakan perduksi kuat.
Keton yang tidak memiliki atom hodrogen akan menyebabkan senyawa ini sangat slit
dioksidasi. Aldehid dapat dioksidasi dengan mudah menggunakan semua jenis agen
pengoksidasi, sedangkan keton tidak. Sampel akan terjadi reaksi positif apabila terbetuk
endapan hitam ketika seyawa ditambahkan KMnO4. Hasil dari percobaan, senyawa yang
positif adalah benzaldehid, etanol dan toluena. Reaksi yang terjadi adalah

CHO KMnO 4 COOH

benzaldehyde benzoic acid

O
H3C H3C
OH
+ KMnO 4
H

ethanol etanal

CH3
OH
+ KMnO4

Toluena etanal

Percobaan selanjutnya adalah uji ada tidaknya halogen pada suatu senyawa. Uji halogen
menggunakan reagen AgNO3 dan NaI. Sampel yang digunakan adalah kloroform dan
klorobenzena. Uji adanya halogen dengan menggunakan reagen AgNO3 akan menunjukkan
reaksi positif jika menghasilkan endapan putih berupa gelembung yang merupakan AgCl
karena Ag+ mengikat Cl (halogen) membentuk garam. Sampel pertama yang digunakan yaitu
kloroform. Kloroform ditambahkan dengan reagen AgNO3 larutannya tidak berubah/ tetap
tidak berwarna meski sudah didiamkan sebentar. Pemberian perlakuan pemanasan bertujuan
untuk mempercepat terbentuknya endapan. Hasil dari percobaan adalah diketahui bahwa
klorobenzena positif dapat bereaksi dengan AgNO3 menghasilkan endapan AgCl dan
mengakibatkan senyawa terdapat gugus fungsi halogen. Berdasarkan literatur dijelaskan
bahwa penambahan reagen AgNO3 pada kloroform akan menghasilkan endapan. Endapan
terjadi karena kloroform tidak memiliki elektron terkonjugasi sehingga kurang stabil. Cl-
yang bersifat basa lemah akan tergantikan oleh NO3- yang besifat basa kuat. Kloroform dalam
percobaan ini masih belum mampu membentuk endapan putih AgCl. Percobaan I I
menyimpang, karena kloroform sangat mudah menguap, sehingga reaksi tidak dapat terjadi
karena kloroform telah menguap terlebih dahulu.Reaksi yang terjadi adalah

Cl
-
CHCl 3 + AgNO 3 O
+
Cl + Ag Cl
N O
O

Kloroform dikloro nitra endapan

Cl O O
N
+ AgNO 3 + AgCl
O

chlorobenzene phenyl nitrate endapan putih

Perlakuan selanjutnya adalah kloroform dan klorobenzena direaksikan dengan NaI. Kedua
senyawa tersebut tidak mengalami reaksi yang ditanda dengan adanya perubahan warna.
Hal ini menandakan bahwa kloroform dan klorobenzena tidak bereaksi dengan NaI.

CHCl3 + NaI

Cl
+ NaI

chlorobenzene

Percobaan ketiga adalah uji alkohol dengan menggunakan asam kromat sebagai reagen.
Reaksi oksidasi alkohol dengan asam kromat dapat dipakai untuk identifikasi jenis alkohol
yang digunakan, apakah termasuk alkohol primer atau sekunder. Alkohol primer jika
dioksidasi akan menghasilkan aldehida lalu jika dioksidasi lagi akan membentuk asam
karboksilat. Alkohol sekunder jika dioksidasi akan menghasilkan keton. Reaksi oksidasi
dengan asam kromat dikatakan positif apabila menghasilkan larutan berwarna hijau
kebiruan dan endapan hijau. Oksidasi ini menyebabkan larutan orange yang mengandung
ion-ion dikromat(VI) direduksi menjadi sebuah larutan hijau yang mengandung ion-ion
kromium(III). Sampel yang digunakan yaitu metanol, etanol, ter-butanol, 2-butanol, dan
kloroform. Hasil dari percobaan ini senyawa yang positif terdapat gugus fungsi OH adalah
metanol, etanol, 2-butanol. Reaksi yang terjadi adalah
Metanol
O
H3C OH + H2CrO4 + H2SO4 OH + 2Cr2(SO4)3 + 13H2O
methanol formic acid

Etanol
H3C O
OH + H2CrO 4 + H2SO4 OH + 2Cr 2(SO 4)3 + 13H 2O
ethanol
H3C
acetic acid

2-butanol
OH O
CH3 + H2CrO 4 + H2SO4
OH + 2Cr 2(SO 4)3 + 13H 2O
H3C H3C
butan-2-ol 1-hydroxypropan-2-one

Percobaan keempat adalah uji aldehida dan keton. Uji adanya aldehida dan keton ini
menggunakan sampel benzaldehida, aseton, dan asetofenon. Reaksi positif tes Fehling pada
aldehid akan menunjukkan perubahan warna menjadi merah bata, sedangkan Fehling tidak
bereaksi dengan keton. Fehling adalah oksidator lemah yang merupakan pereaksi khusus
untuk mengenali aldehida. Pereaksi Fehling terdiri dari dua bagian, yaitu Fehling A dan
Fehling B.. Dalam pereaksi Fehling, ion Cu2+ terdapat sebagai ion kompleks. Pereaksi
Fehling dapat dianggap sebagai larutan CuO. Dalam pereaksi ini ion Cu2+ direduksi menjadi
ion Cu+ yang dalam suasana basa akan diendapkan sebagai Cu2O.
Larutan pertama adalah benzaldehid. Benzaldehid berwarna kuning bening. Hasil
pengamatan setelah penambahan Fehling A menjadi berwarna biru bening dan terbentuk 2
fase, penambahan Fehling B terbentuk warna biru pekat dan 2 fase, dan setelah pemanasan
menjadi berwarna biru keruh dengan 2 fase. Hal ini tidak sesuai, seharusnya benzaldehida
yang mengandung gugus aldehid berubah warna menjadi merah bata ketika direaksikan
dengan fehling. Aldehid mampu mereduksi ion tembaga(II) menjadi tembaga(I) oksida.
Larutan yang bersifat basa akan menyebabkan aldehid dengan sendirinya teroksidasi menjadi
sebuah garam dari asam karboksilat yang sesuai sehingga muncul endapan merah bata.
Kondisi ini bisa disebabkan karena benzaldehida merupakan senyawa aldehid aromatis
sehingga reagen Fehling kurang mampu mngoksidasi aldehid aromatis. Reaksinya
seharusnya sebagai berikut
O

CHO -

+ 5OH
-
+ 2Cu
2+
O
+ Cu 2O + 3H2O

benzaldehyde benzoic acid

Sampel kedua yang diuji adalah aseton. Aseton yang direaksikan dengan reagen
Fehling A menghasilkan warna biru bening dan ditambah Fehling B menjadi biru pekat.
Larutan kemudian dipanaskan namun tetap berwarna biru keruh. Hal ini menunjukkan
Fehling tidak beraksi dengan aseton yang mengandung gugus fungsi keton. Reaksinya
sebgaai berikut:
O
H3C + 5OH
-
+ 2Cu
2+

CH3
propan-2-one

Sampel ketiga adalah asetofenon yang dalam pengamatan menunjukkan berwarna biru
bening dan membentuk dua fase setelah ditambah reagen Fehling A. Penambahan Fehling B
menunjukkan sampel menjdadi berwarna pekat dan terbentuk dua fase. Pemanasan selama 5
menit menyebabkan warnanya menjadi biru kehitaman dan membentuk 2 fase. Hal ini
menunjukkan pada asetofenon tidak terjadi reaksi redoks dan menandakan bahwa asetofenon
merupakan gugus keton. Reaksinya sebagai berikut:
O

CH3 + 5OH
-
+ 2Cu
2+

1-phenylethanone

Bagian kedua adalah uji tollen. Perekasi tollen adalah oksidator lemah, apabila diresksikan
dengan aldehid akan menjadi asam karboksilat yang ditandai dengan terbentuknya endapan
cermin perak.
Aldehid dengan pereaksi tollens akan teroksidasi membentuk endapan Ag yang akan
melekat pada tabung reaksi membentuk cermin perak dan merupakan reaksi positif.
Reaksinya yang terjadi adalah sebagai berikut
O

CHO

+ 2[Ag(NO 3)2]
+
+ OH-
O
+
+ 2Ag
NH3

benzaldehyde [(phenylcarbonyl)oxy]ammonium

Uji terakhir adalah uji fenol yang menggunakan FeCl3 sebagai pereaksi. Senyawa yang
ditambahkan FeCl3 akan menghasilkan reaksi positif apabila senyawa tersebut terjadi oerubahan
warna dari kuning menjadi kehijauan. Perubahan warna pada senyawa yang ditambahkan FeCl3 terjadi
karena adanya pembentukan senyawa kompleks. Senyawa kompleks yang terjadi ditandai dengan
perubahan warna menjadi kehijauan. Hasil dari percobaan ini yang positif adalah fenol yang
ditambahkan FeCl3. Reaksi yang terjadi pada percobaan ini adalah

OH 3-

+ FeCl3 Fe O + 3H Cl + 3H

6
ungu

Kesimpulan

Adapun kesimpulan pada percobaan identifikasi gugus fungsional senyawa organik


adalah:
Menguji atau mengidentifikasi suatu senyawa dapat dilakukan dengan berbagai reaksi
yang ada, misalnya reaksi adisi, eliminasi, oksidasi reduksi dll. Reaksi yang terjadi ditandai
dengan adanya perubahan warna, terbentuknya endapan ataupun dihasilkannya gas atau bau.
Reaksi-reaksi tersebut juga bekerja secara khusus dimana tidak semua senyawa dapat
direaksikan oleh semua reaksi tersebut, oleh karena itu reaksi-reaksi yang ada dapat
digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi suatu senyawa. Hasil dari praktikum ini
adalah
a. Uji ketidakjenuhan dengan reagen bromin Uji ketidakjenuhan dengan reagen KMnO4
akan menghasilkan reaksi oksidasi, dimana sampel yang menunjukkan nilai positif
adalah benzaldehida.
b. Uji adanya halogen mengguakan reagen AgNO3 dan NaI untuk mendeteksi keberadaan
halogen pada senyawa tersebut dengan reaksi positif yang menghasilkan endapan putih
dan larutan keruh, yaitu larutan klorobenzena.
c. Uji adanya OH alkohol menunjukkan reaksi positif ditandai dengan adanya endapan
hijau. Senyawa yang mengandung gugus fungsi OH adalah etanol, 2-butanol dan
metanol.
d. Aldehida dan keton dapat dibedakan dengan, tes fehling dan tollens dengan
menggunakan reaksi oksidasi. Reagen 2,4-dinitrofenilhidrazin mengahsilkan reaksi
positif untuk senyawa yang mengandung aldehida dan keton.
e. Uji Fenol dengan reagen FeCl3 digunkan untuk membedakan adanya rantai siklik dengan
adanya endapan kehitaman. Hasil yang didapat dari reaksi tersebut adalah senyawa
kompleks. Senyawa yang positif adalah fenol.
Referensi

Adriani, M., dan Wirjatmadi, B. 2012. Perana Gizi Dalam Siklus Kehidupan. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Toluene. [serial online].
https://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9924998. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Acetone. [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9926350. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of ethanol. [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922769. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Methanol. [serial online].
http://wwwwww.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9923386. Diakses tanggal 17
Oktober 2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Fehling A. [serial online].
https://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922548. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Fehling B. [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9987450. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Silver Nitrate. [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9926529. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Bromine. [serial online].
http://wwwwww.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9923756. Diakses tanggal 17
Oktober 2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Potasium Permanganate. [serial online].
https://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9924998. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Chloroform. [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9926350. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Butanol. [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922769. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Benzaldehide. [serial online].
http://wwwwww.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9923386. Diakses tanggal 17
Oktober 2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Acetonfenone. [serial online].
https://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9924998. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Anonim. 2016. Material Safety Data Sheet of Chlorobenzene. [serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9926350. Diakses tanggal 17 Oktober
2016.
Nuriman. 2007. Kimia Organik. Jember: Universitas Jember Press
Sjaifullah, Achmad, dan I Nyoman Adi Winata. 2008. Buku Ajar KIMIA ORGANIK 1.
Jember: Universitas Jember Press.
Saran

Praktikum identifikasi gugus fungsional senyawa organik, seharusnya praktikan harus


lebih teliti dan lebih memahami materi yang dilakukan saat percobaan agar hasil percobaan
sesuai dengan teori. Bahan yang digunakan seharusnya disesuaikan dengan buku petunjuk
praktikum.
Nama Praktikan
Rosita Dwi Rahmawati (151810301028)
Nuril Laili Mujidah (151810301029)
Adi Kurniawan E (151810301031031)