Anda di halaman 1dari 15

Paraf Asisten

LAPORAN PRAKTIKUM SINTESIS SENYAWA ORGANIK


Judul : Sintesis Dibenzalaseton
Tujuan Percobaan : Mempelajari Reaksi Aldol Kondensasi Melalui Pembuatan
Dibenzalaseton
Pendahuluan
Senyawa karbonil adalah senyawa dengan atom C yang berikatan rangkap dengan
atom O. Senyawa karbonil pada aldehid memiliki atom H pada posisi alfa () sehingga dapat
terjadi reaksi kondensasi aldol (aldehid-keton) atau yang dikenal dengan reaksi Clainsen-
Schmidt (Fessenden, 1986).
Aldehida dan keton yang memiliki atom hydrogen pada kedudukan bila direaksikan
dengan basa kuat akan mengalami reaksi kondensasi aldol. Hydrogen dalam keadaan basa
bersifat asam. Produk yang dihasilkan dikenal sebagai aldol karena produk mengandung
gugus fungsi aldehida dan gugus hidroksi (Sastrohamidjojo, 2010).
Reaksi kondensasi merupakan reaksi di mana dua molekul atau lebih bergabung
menjadi satu molekul yang lebih besar dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil
seperti air. Kondensasi aldol berasal dari dua molekul aldehid yang berkombinasi membentuk
aldehid tak jenuh dan air. Aldehida diolah dengan basa seperti NaOH dalam air, ion enolat
yang terjadi dapat bereaksi pada gugus karbonil dari molekul aldehida yang lain. Hasilnya
ialah adisi satu molekul aldehida ke molekul aldehida lain. Produk yang dihasilkan
merupakan suatu aldehida -hidroksi yang disebut aldol. Hasil kondensasi aldol ada dua tipe
produk yaitu keton -hidroksi, dan keton ,-takjenuh (Fessenden, 1986).
Benzaldehida (C6H5CHO) adalah sebuah senyawa kimia yang terdiri dari cincin
benzena dengan sebuah substituen aldehida. Benzaldehida merupakan aldehida aromatik
yang paling sederhana. Benzaldehida pada suhu kamar berupa cairan tidak berwarna dengan
aroma seperti badam (almond). Benzaldehida merupakan komponen utama pada ekstrak
kacang almond, dan dapat diekstraksi dari beberapa sumber alami seperti aprikot, ceri, dan
biji persik. Benzaldehid tidak memiliki hidrogen alfa sehingga tidak memungkinkan
pembentukannya menjadi ion enolat yang bertindak sebagai nukleofil sedangkan aseton bisa
menjadi ion enolat karena adanya basa NaOH yang ditambahkan (Susanti, 2007).
Dibenzalaseton memiliki nama lain 1,5-diphenylpenta-1, 4-dien-3-one dengan titik
leleh 112C. Senyawa ini berbentuk padat dengan warna kuning pucat, sedikit larut dalam
alkohol dan eter, dan mudah larut dalam kloroform dan aseton. Struktur dibenzalaseton
adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Struktur dibenzalaseton


(Sethi, 2003).
Dibenzalaseton dibuat dari kondensasi aseton dengan dua benzaldehida yang
ekivalen. Karbonil aldehida lebih reaktif dibanding dengan keton dan bereaksi cepat dengan
anion dari keton menghasilkan -hidroksiketon yang dengan mudah menjadi katalis dehidrasi
basa (Williamson, 2007).
Dibezalaseton dapat dibuat dengan menggunakan benzaldehida dengan aseton. Gugus
karbonil yang reaktif akan bereaksi dengan ion aseton yang telah mengalami deprotonasi
akibat adanya basa. Anion ini akan menyerang dibenzalaseton dan akan membentuk -
hidroksi keton. Selanjutnya basa yang digunakan berlebih akan mendehidrasi air dari molekul
keton sehingga dapat dihasilkan mono atau dibenzal aseton. Mekanisme reaksi umum:

Gambar 2. Mekanisme reaksi sintesis dibenzalaseton


(Fessenden, 1986).
Senyawa dibenzalaseton yang telah berhasil disintesis ternyata memiliki kegunaan
sebagai tabir surya dengan nilai SPF yang tinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa turunan
dibenzalaseton yaitu dianisalaseton berfungsi sebagai tabir surya di daerah UV A dan UV B,
sedangkan diveratralaseton berfungsi menyerap sinar di daerah UV B dan UV C. Bentuk lain
dari dibenzalaseton yaitu dibenzalaseton asimetris yang memiliki jumlah, posisi dan jenis
substituen yang berbeda pada cincin sebelah kiri dan sebelah kanan. Senyawa ini dapat
direkayasa dengan cara dobel kondensasi aldol dari aseton dan dua macam benzaldehida atau
turunan benzaldehida yang berlainan. Perbandingan yang dipakai adalah 1:1:1. Senyawa
dibenzalaseton asimetris yang telah disintesis adalah benzalveratralaseton yang disintesis
dengan bahan dasar aseton, benzaldehida dan veratraldehida (Handayani, 2009).

Mekanisme Reaksi
Mekanisme reaksi sintesis dibenzalaseton adalah
H H
O H O H

O + + O NaOH(aq)/EtOH
+ 2H2O
H3C CH3 H H

Tahap 1 : deprotonasi membentuk nukleofil, nukleofilik menyerang benzaldehida (elektrofil)


O -
O O
-OH
-
H3C CH3 H3C CH2 H3C CH2

-
O O
O
O CH3
H +
-
H3C CH2

Tahap 2 : protonasi untuk menjadikan netral hidroksi-keton, dilanjutkan deprotonasi

-
O O OH O

H OH CH3
CH3
- H H
HO

OH O OH O
-
CH3 - CH CH3
HO
H H

Tahap 3 : eliminasi hidroksida untuk membentuk ikatan pi alkena dan substitusi benzaldehida
O
OH O
- CH3
CH CH3

O O
O
H -
-OH CH2 + H

-
O O O OH O OH

-
- CH
H OH HO
H H
-
HO

2H2O +

Alat

Alat yang digunakan dalam praktikum sintesis dibenzalaseton adalah Labu erlenmeyer 125
ml, corong buchner, kertas saring, batang pengaduk, pipet mohr, pipet tetes, alat uji titik leleh,
botol semprot, gelas ukur

Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum sintesis dibenzalaseton adalah Benzaldehida, aseton,
etanol, NaOH, air, alumunium foil.
Prosedur Kerja
- Skema kerja
2,55 ml (0,025 mol)
benzaldehida

- Dimasukkan di dalam erlenmeyer


- Ditambahkan 20 ml etanol 95% dan 5 ml larutan NaOH 20%
- Ditambahkan 1,84 ml aseton dengan menggunakan pipet
- Ditutup erlenmeyer dengan cepat dan larutan dikocok
- Dilakukan pengocokan berulang kali selama 15 menit dan didiamkan
campuran selama 15 menit
- Dibuka erlenmeyer dan dikerok pada bagian sisi tabung dengan
menggunakan batang pengaduk apabila produk tidak mengkristal
- Dipisahkan padatan dengan cara penyaringan dan dicuci sebanyak 3 kali
dengan menggunakan 50 ml air
- Dilakukan rekristalisasi produk dengan 10 ml etanol panas
- Diidentifikasi produk dengan melakukan uji titik leleh.

Hasil

- Prosedur kerja
Ditimbang 2,55 ml (0,025 mol) benzaldehida di dalam erlenmeyer dan selanjutnya
ditambahkan 20 ml etanol 95% dan 5 ml larutan NaOH 20%. Dengan menggunakan pipet,
ditambahkan 1,84 ml aseton.
Erlenmeyer ditutup dengan cepat dan larutan dikocok. Pengocokan dilakukan berulang
kali selama 15 menit dan campuran didiamkan selama 15 menit. Bila produk tidak
mengkristal, dibuka erlenmeyer dan dikerok pada sisi tabung dengan batang pengaduk.
Padatan dipisahkan dengan penyaringan dan dicuci 3 kali dengan 50 ml air.
Rekristalisasi produk dilakukan dengan 10 ml etanol. Identifikasi produk dilakukan dengan
uji titik leleh.

Waktu yang dibutuhkan


Perlakuan Waktu
Penimbangan benzaldehida 3 menit

Penambahan etanol, NaOH dan aseton 5 menit

Pengocokan larutan 15 menit

Pendiaman campuran 15 menit

Pemisahan padatan (penyaringan dan


10 menit
dicuci dengan air)

Rekristalisasi produk 20 menit

Pengujian titik leleh 15 menit

Total Waktu 83 menit

Data dan Perhitungan


a. Data
Bahan Perlakuan Hasil
2.55 (0.025 mol) Ditambahkan 20 mL etanol
Tidak berwarna
benzaldehida 95% + 5 mL NaOH 20%
+ aseton 1.84 mL sedikit
Larutan tidak berwarna demi sedikit dengan pipet, Larutan berwarna orange
dikocok
Larutan berwarna kuning
Larutan orange Dikocok 15 menit
kunyit
Larutan berwarna kuning Ada endapan
Didiamkan 15 menit
kunyit
Residu = kuning, terdapat
larutan + endapan Disaring dengan buchner
sedikit gumpalan
Direkristalisasi dengan
Menghasilkan Kristal
Residu berwarna kuning pelarut etanol, disaring dan
berwarna kuning
dioven
Kristal ditimbang m = 0.1523 g
Kristal Uji titik leleh 108-1140C

b. Perhitungan
- Volume aseton : 1,84 mL - Massa jenis aseton : 0,79 g/mL
- Volume benzaldehida : 2,55 mL - Massa jenis benzaldehida : 1,04 g/mL
- Mr aseton : 58,08 g/mol - Mr benzaldehida : 106,03 g/mol
Mol aseton
Volume aseton : 1,84 mL
Masajenis : 0,79 g/mL
Berat Aseton : massa jenis volume aseton
: 0,79 g/mL 1,84 mL
: 1,45 g
1,45
Mol Aseton = 58,08 / = 0,025

Mol Benzaldehida
Volume benzaldehida : 2,55 mL
Masa Jenis : 1,04 g/mL
Massa Benzaldehida : massa jenis volume benzaldehid
: 1,04 g/mL 2,55 mL
: 2,652 g
2,652
Mol benzaldehida= = 106,03 / = 0,025

O O O
C C 2 H2O
2 H + CH CH C CH CH +
H3C CH3

Benzaldehida Aseton Dibenzalaseton Air

m 0,025mol 0,025 mol

r 0,025mol 0,025mol 0,025mol 0,025mol

S - - 0,025mol 0,025mol

Massa dibenzalaseton teoritis =



= 0,025 234,30

= 5,86

Rendemen (%) = 100%

0,1523
= 100%
5,86

= 2,6%
Hasil
Perlakuan Keterangan

Bahan: benzaldehida, etanol, NaOH

Setelah pencampuran benzaldehida,


etanol dan NaOH

+ aseton sedikit demi sedikit dengan


pipet
Dikocok selama 15 menit

Didiamkan selama 15 menit


Terbentuk endapan

Penyaringan dengan corong Buchner

Proses rekristalisasi dengan pelarut


etanol

Penyaringan hasil rekristalisasi


Penyaringan pertama
dilakukan 2 kali pada filtrat yang
didapat

Penyaringan ke dua

Hasil setelah pengeringan dengan


oven dan ditimbang
Uji titik leleh

Pembahasan Hasil
Praktikum ini membahas tentang sintesis dibenzalaseton yang bertujuan untuk
mempelajari reaksi aldol kondensasi melalui pembuatan dibenzalaseton. Dibenzalaseton
merupakan senyawa karbonil yang mempunyai hidrogen yang terikat pada atom karbon alfa.
Hidrogen yang terikat pada atom karbon alfa dapat mengalami reaksi kondensasi. Kondensasi
aldol merupakan suatu reaksi antara dua molekul aldehid atau dua molekul keton membentuk
senyawa yang mengandung gugusan aldehida (karbonil) dan alkohol (-OH). Dibenzalaseton
dapat dibuat dengan cara mencampurkan benzaldehida dengan aseton dan menambahkan
NaOH yang dapat bertindak sebagai katalis.
Langkah pertama yaitu 2,55 ml (0,025 mol) benzaldehida ditambahkan 20 ml etanol
95% dan 5 ml larutan NaOH 20%. NaOH berfungsi sebagai katalis yakni mempercepat reaksi
tetapi tidak ikut bereaksi dan juga pemberi suasana basa. Etanol berfungsi sebagai pelarut
yang akan menyumbangkan proton pada ion alkoksida yang terbentuk untuk menghasilkan
ion hidroksida yang diperlukan pada reaksi tahap awal (pembentukan karbanion). Selanjutnya
ditambahkan 1,84 ml aseton dengan menggunakan pipet. Aseton ditambahkan yaitu secara
tetes demi tetes agar reaksi yang terjadi itu bertahap. Karena jika aseton dituang begitu saja,
dikhawatirkan produk yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Benzaldehid digunakan
karena tidak memiliki hidrogen alfa sehingga tidak memungkinkan pembentukannya menjadi
ion enolat yang bertindak sebagai nukleofil. Sedang aseton bisa menjadi ion enolat karena
adanya basa NaOH yang ditambahkan yaitu NaOH berfungsi sebagai basa yang mengambil
hidrogen membentuk enolat. Enolat anion dapat bertindak sebagai nukleofil karbon dan
beradisi pada gugus karbonil pada molekul aldehida atau keton lainnya. Setelah penambahan
aseton kemudian dikocok selama 15 menit agar tercampur dan reaksi dapat terjadi secara
sempurna. Warna larutan sebelum pengocokan adalah orange dan setelah dilakukan

H
O O
C CH3
(E)
C +
pengocokan warna berubah menjadi kuning kunyit. Pada saat proses pengocokan, dalam
larutan terbentuk endapan seperti gel. Reaksi yang terjadi saat pengocokan adalah:

O O O O O
_
HO H
C H3C C CH2 H3C C CH2 H3C C CH2 + C
OH-
H3C CH3
OH H OH2 H
aseton

OH O
_ HO H HO H
CH CH3 CH CH3 CH CH3
_ OH
HC C CH C H2C C

benzalaseton O H2O O O

Reaksi diatas adalah tahap pertama dari mekanisme reaksi pembentukan


dibenzalaseton. Suatu aldehida tanpa hidrogen (benzaldehid) tidak dapat membentuk ion
enolat sehingga tidak dapat berdimerisasi dalam suatu kondensasi aldol. Namun jika aldehida
itu dicampur dengan senyawa yang memiliki hidrogen alfa (aseton), maka kondensasi antara
keduanya dapat terjadi. Reaksi ini disebut kondensasi aldol silang (cross aldol condensation).
Dalam keadaan murni aseton berbentuk keto, tetapi dengan adanya basa kuat seperti NaOH,
bentuk enol akan dengan cepat bereaksi untuk membentuk ion enolat. Ion enoat ini sangat
reaktif dan bertindak sebagai nukleofil lewat atom C negatif (karbanion). Karbanion ini akan
menyerang atom C karbonil dari benzaldehid (tidak memiliki H ) yang bermuatan parsial
positif, dan dengan dibantu oleh air akan terjadi suatu transfer proton dan terbentuklah
benzalaseton dan ion hidroksi. Reaksi tahap pembentukan dibenzalaseton yaitu:

H H H
O
C CH3 C C
(E)
+ C C (E) C (E) C
C C H H
H
H O O
Benzaldehyde dibenzalaseton
benzalaseton

+ OH
CH CH3 CH OH H CH OH2

HC C HC C CH2 HC C CH2

benzalaseton O
O O
_
HO H

H O
+ HO H
CH CH CH CH CH2
Pada tahap ini yaitu terjadi suatu kondensasi antara benzaldehid dengan
benzalaseton dari tahap sebelumnya. Mekanismenya hampir sama dengan tahap satu, yang
membedakan adalah H disini diperoleh dari benzalaseton, sehingga enol yang terbentuk
adalah dari benzalaseton pula. Mula-mula benzalaseton diserang oleh nukleofil (OH-) pada C
karbonilnya, kemudian struktur tersebut mengalami tautomerisasi menjadi bentuk enol
dengan adanya transfer/serah terima proton. Pada struktur enol, ini ion enolat dari
benzalaseton menjadi suatu nukleofil dengan atom C alfa negatif (karbanion) sebagai gugus
reaktifnya. Ion enolat dari benzalaseton ini yang kemudian menyerang atom C karbonil dari
benzaldehida sehingga membentuk dibenzalaseton. Dalam pembentukan ini terjadi transfer
air, yang mula-mula dibutuhkan air untuk penstabil muatan, tetapi pada akhir reaksi juga
akan dihasilkan air dan ion hiroksida (yang berasal dari NaOH). Yang berarti disini NaOH
bersifat sebagai katalis.
Setelah pengocokan selama 15 menit, larutan didiamkan selama 15 menit agar
endapan terbentuk. Endapan yang terbentuk setelah pendiaman yaitu berupa kristal. Endapan
yang diperoleh dipisahkan dengan penyaringan dan dicuci 3 kali dengan 50 ml akuades.
Selain untuk memisahkan endapan dari fase cair atau pelarutnya, penyaringan dan pencucian
dengan akuades juga dilakukan agar endapan tidak ada yang tertinggal dalam wadah dan
dapat terpisah dari zat pengotor. Endapan yang didapat berupa kristal berwarna kuning
dimana menurut literatur dibenzalaseton berwarna kuning, jadi padatan kuning tersebut
merupakan kristal dibenzalaseton. Selanjutnya dilakukan rekristalisasi untuk mendapatkan
kristal dibenzalaseton yang murni. Rekristalisasi merupakan suatu pemurnian kristal atau
senyawa hasil isolasi dengan menggunakan pelarut tertentu sehingga diperoleh senyawa atau
kristal yang benar-benar murni. Rekristalisasi yang dilakukan menggunakan pelarut etatol
sebanyak 10 mL. Endapan yang dihasilkan dilarutkan dalam etanol yang dipanaskan agar
endapan lebih mudah larut yaitu dimana suhu mempengaruhi proses pelarutan, semakin
tinggi suhu proses pelarutan akan berjalan lebih cepat. Pelarut etanol digunakan dalam
rekristalisasi dibenzalaseton karena etanol merupakan cairan volatil yang mudah menguap
sehingga zat-zat yang tidak diinginkan akan menguap bersama etanol. Disaring hasil
pelarutan menggunakan kertas saring dan corong. Setelah itu filtrat yang didapat didinginkan
dengan bantuan es atau air dingin yang ditempatkan dalam suatu tempat agar endapan lebih
mudah terbentu, selain itu pendinginan dilakukan untuk mempermudah memisahkan
dibenzalaseton dengan pengotor yang larut pada etanol dingin. Kristal dibenzalaseton yang
terbentuk kemudian disaring menggunakan kertas saring.
Kristal yang didapatkan dari penyaringan kemudian di oven hingga kering untuk
menghilangkan cairan yang masih terkandung didalamnya hingga kering. Setelah kering,
kristal berwarna kuning tersebut ditimbang dan diukur titik lelehnya. Menurut literature titik
leleh dibenzalaseton terletak pada range 111-114o C, dan hasil uji titik leleh kristal yang
didapat yaitu 108-1140C. Hal ini telah sesuai karena perbedaan range tidak terlalu jauh.
Perbedaan range ini dikarenakan alat yang digunakan dalam uji titk leleh masih panas setelah
sebelumnya digunakan kelompok lain, sehingga mempengaruhi besarnya titik leleh.
Kemungkinan lain yaitu masihh terdapatnya pengotor atau zat lain dalam kristal yang dapat
meleleh pada range suhu 108-1100C. Massa kristal yang didapat sebesar 0.1523 g. Hasil
rendemen yang diperoleh adalah 2,6 % Rendemen yang diperoleh tidak maksimal karena
pada saat pengocokan digunakan pengocokan manual oleh praktikan, dan sering tidak
kontinyu seperti yang diinstruksikan sehingga hasil campuran yang diperoleh mungkin belum
cukup homogen.

Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum sintesis dibenzalaseton yang telah dilakukan adalah
Dibenzalaseton dapat disintesis dari benzaldehida dan aseton dengan kondensasi aldol silang
dalam kondisi basa menghasilkan dibenzalaseton berbentuk kristal kuning. Massa yang
diperoleh dalam percobaan adalah 0.1523 g dengan rendemen yang diperoleh 2,6 %. Titik
leleh kristal yang diperoleh terletak pada range 108-1100C.

Referensi
Fessenden, Ralph J., Fessenden, Joan S. 1986. Organic Chemistry, 3rd edition. United States
of America: Brooks/Cole Publishing Company.
Handayani, Sri., Indyah Sulistyo Arty, Retno Arianingrum. 2009. The Study of Crossed Aldol
Condensation at The Synthesis of Asymmetric Dibenzalacetone, Thailand: Proceeding
of PACCON.
Sastrohamidjojo, H. 2010. Kimia Organik Dasar. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Sethi, A. 2003. Systematic Lab Experiments in Organic Chemistry. New Delhi: New Age
International Limited.
Susanti, Intani, Utami, dan Sardjiman. 2007. Optimasi Sintesis 4-Dimetilamino Benzalaseton
dengan Variasi Kecepatan dan Waktu Reaksi Menggunakan Katalisator Natrium
Hidroksida. Jakarta: Majalah Farmasi Indonesia.
Williamson, dkk. 2007. Macroscale and Microscale Organic Experiments. Belmont:
Cengage Learning Inc.
Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti dan hati-hati, serta lebih efisien dalam melaksanakan
praktikum agar tidak memakan banyak waktu sehingga memperlancar jalannya praktikum.

Nama Praktikan

Dewi Adriana Putri (121810301053)

Anda mungkin juga menyukai