Anda di halaman 1dari 56

@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S.

, ITB

BAB. XV. Prinsip Directional Drilling

TUJUAN

Memahami alasan-alasan yang mendasari dilakukannya pemboran berarah


Mengenali Tipe-tipe pemboran berarah
o Shallow Deviation Type
o Deep Deviation Type
o Return to Vertical Type
Memahami proses pembuatan kemiringan lubang dan masalah-masalah
yang dihadapi
Mengenali metoda-metoda yang digunakan untuk pengarahan lubang
pemboran
Mengenali peralatan-peralatan survey
Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kemiringan dan arah lubang
pemboran
o Faktor formasi
o Faktor mekanis
Mengenali cara-cara pengontrolan terhadap penyimpangan sudut lubang
pemboran
Memahami penggunaan Bottom Hole Assembly dalam pemboran berarah
Memahami metoda-metoda perhitungan hasil survey pemboran berarah

Prinsip Directional Drilling 9


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

15.1. Pendahuluan
Pemboran berarah adalah suatu seni membelokkan lubang sumur
untuk kemudian diarahkan ke suatu sasaran tertentu di dalam formasi yang
tidak terletak vertikal dibawah mulut sumur. Di dalam membor suatu formasi,
sebenarnya selalu diinginkan lubang yang vertikal, karena dengan lubang
yang vertikal, kecuali operasinya lebih mudah, juga umumnya biayanya lebih
murah dari pada pemboran berarah. Jadi pemboran berarah hanya dilakukan
karena alasan-alasan dan keadaan yang khusus saja. Adapun alasan-alasan
dilakukannya pemboran berarah ini adalah :
A. Alasan topografis.
Pemboran berarah disini dilakukan apabila keadaan di permukaan tidak
memungkinkan untuk mendirikan lokasi pemboran, misalnya:
a. Formasi produktif terletak dibawah paya-paya, sungai (Gambar. 15.1).
b. Formasi produktif terletak di bawah bangunan-bangunan, perkotaan
(Gambar 15.2)

Gambar 15.1. Formasi Produktif di Bawah Paya-Paya, Sungai

10 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.2. Formasi Produktif Terletak di Bawah Perkotaan, Bangunan


B. Alasan geologis.
Pemboran berarah disini dilakukan untuk menghindari kesulitan apabila
dibor secara vertikal misalnya :
a). Adanya kubah garam (salt dome), (Gambar 15.3).
b). Adanya patahan, (Gambar 15.4).

Gambar 15.3. Pemboran Terarah Karena Salt Dome

Prinsip Directional Drilling 11


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15. 4. Pemboran Berarah Karena Patahan


C. Alasan-alasan lain :
a. Pemboran yang dilakukan dengan sistem gugusan sumur (cluster
system) untuk menghemat luasnya lokasi pemboran. Misalnya di
lepas pantai (Gambar 15.5). Di permukaan dibuat beberapa sumur,
kemudian di bawah permukaan lubang sumur tersebut menyebar.
Sistem ini juga dapat dilakukan pada pemboran di daratan.

Gambar 15.5. Pemboran Dengan Cluster System


b. Mengatasi semburan liar (blow out) dengan relief well. (Gambar 15.6)
c. Menghindari garis batas di permukaan. (Gambar 15.7).
d. Menyimpang dari garis lurus. (Gambar 15.8).

12 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.6. Relief Well

Gambar 15.7. Menghindari Garis Batas di Permukaan

Gambar 15.8. Pemboran Menyimpang dari Garis Lurus

Prinsip Directional Drilling 13


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

15.2. Tipe Pemboran Berarah


Gambaran umum dari suatu sumur pemboran berarah dan bagian-
bagian yang penting dapat dilihat pada (Gambar 15.9).

Gambar 15.9. Gambaran Umum Pemboran Berarah dan Bagian-Bagiannya


Pada dasarnya dikenal 3 macam pemboran berarah (Gambar 15.10), yaitu:

Gambar 15.10.Tipe Belok Pemboran Berarah


15.2.1. Tipe belok di tempat dangkal (Shallow Deviation Type).
Di sini titik belok (kick of point) terletak di kedalaman yang tidak begitu
jauh dari permukaan tanah (dangkal).
15.2.2. Tipe belok di tempat dalam (Deep Deviation Type).
Di sini titik belok terletak jauh di dalam permukaan tanah.

14 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

15.2.3. Tipe kembali ke vertikal (Return to Vertikal Type).


Mula-mula sama seperti tipe belok di tempat dangkal, tetapi
kemudian dikembalikan ke vertikal.
Adapun pemilihan tipe pemboran di atas didasarkan pada lokasi
koordinat di permukaan dan jarak antara lokasi permukaan dengan sasaran
(formasi produktif) apabila faktor-faktor lain tidak berpengaruh. Misalnya
apabila jarak sasaran tidak begitu jauh dari sumbu vertikal yang melalui
mulut sumur, maka kita memilih tipe belok di tempat dalam. Lain halnya
apabila jarak sasarannya jauh dari sumbu vertikal tadi, kita akan memilih
tipe belok di tempat dangkal.
15.3. Kemiringan Lubang Bor
Di dalam pemboran berarah, pada kedalaman titik belok tertentu,
lubang bor diarahkan ke suatu sasaran yang dikehendaki dengan sudut
kemiringan yang tertentu. Miringnya lubang bor ini mendatangkan banyak
kesulitan antara lain :
1. Fatigue failure pada drill pipe.
2. Key seating atau terjepitnya sebagian drill string karena goresan antara
drill string dengan dinding lubang bor seperti terlihat pada Gambar
15.15.
3. Berkurangnya umur drill pipe karena tension (tegangan) yang terjadi
pada tool joint (sambungan).
Kesulitan-kesulitan di atas disebabkan oleh perubahan sudut kemiringan
yang terlalu besar (mendadak) diantara dua titik di dalam lubang bor. Untuk
mengatasi kesulitan- kesulitan tersebut, perlu ditetapkan perbedaan sudut
maksimum yang diizinkan diantara dua titik survey (sudut dog leg). Dari
sudut dog leg ini dapat ditetapkan perubahan sudut kemiringan yang
diperkirakan tidak akan menimbulkan kesulitan.

Prinsip Directional Drilling 15


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.11. Key Seating36)


15.3.1. Alat-Alat Pembuat Sudut (Deflection Tool)
Setelah kedalaman titik belok ditentukan, maka mulai dari titik
tersebut kita mengarahkan lubang bor ke sasaran tertentu dengan
membelokkan lubang bor dengan sudut kemiringan tertentu. Alat-alat
pembelok ini adalah :
Badger bit
Spud bit
Knuckle joint
Whipstock
Turbodrill
Dyna drill
Setelah mencapai sudut tertentu (14 o misalnya) maka digunakan
bottomhole assembly baik untuk menambah atau memantapkan sudutnya.
a. Badger Bit.
Badger bit dan operasi alatnya dapat dilihat pada Gambar 15.12. Prinsip
kerja dari alat ini adalah adanya salah satu nozzle pada bit yang ukurannya
lebih besar dari yang lainnya. Hal ini akan mengakibatkan semburan lumpur
yang lebih besar sehingga lubang akan membelok ke arah dimana ukuran
nozzle lebih besar.

16 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.12. Badger Bit dan Cara Kerjanya


b. Spud Bit
Jenis alat ini dapat dilihat pada Gambar 15.13. Alat ini merupakan bit tanpa
roller, bentuknya seperti baji dan mempunyai nozzle. Cara kerjanya sama
dengan badger bit hanya disini ditambah dengan tumbukan.

Prinsip Directional Drilling 17


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.13. Spud Bit di Lubang Bor


c. Knuckle Joint
Knuckle joint adalah suatu drill string yang diperpanjang dengan sendi
peluru, sehingga memungkinkan putaran bersudut antara drill string dan
bitnya. Gambar 15.14 menunjukkan operasi suatu knuckle joint, dimana
sebelumnya dibuat terlebih dahulu pilot hole yang kemudian dibor kembali
dengan bit yang dirangkaikan dengan reamer.

18 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.14. Knuckle Joint 12)


d. Whipstock
Adalah suatu alat yang terbuat dari besi tuang yang berbentuk baji dengan
saluran yang melengkung tempat bergeraknya bit. Operasi dari whipstock
dapat dilihat dari Gambar 15.15. Dengan alat ini akan diperoleh lengkungan
sebesar 1 sampai 7 derajat.

Prinsip Directional Drilling 19


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15. Whipstock dan Operasi Alatnya 12)


e.Turbodrill.
Turbodrill adalah down hole mud turbin yang dapat memutar bit tanpa harus
memutar rangkaian bor (drill string). Kecepatan putaran sangat tergantung
kepada volume lumpur dan tekanan sirkulasi di permukaan. Adanya bent
sub pada turbodrill (Gambar 15.16) menyebabkan dapat membeloknya
lubang sumur.

20 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.16. Bent Sub Pada Turbodrill


f. Dyna Drill.
Dyna Drill adalah down hole mud motor. Alat ini dibuat oleh Dyna Drill Coy.
Seperti juga Turbodrill, Dyna Drill akan memutar bit tanpa harus memutar
drill string. Adanya bent sub pada Dyna Drill menghasilkan lengkungan yang
halus (smooth). Alat ini dapat dilihat pada gambar 15.17. Di dalam
pemakaiannya, Dyna Drill tergantung kepada kecepatan sirkulasi lumpur
dan beda tekanan pompa seperti terlihat pada Tabel 15.1. Dyna Drill Coy
juga telah membuat Tabel 15.2, untuk memilih kelengkungan lubang bor
yang sesuai dengan ukuran lubang bor dan perubahan sudut yang
diharapkan.

Prinsip Directional Drilling 21


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.17. Bent Sub Pada Dyna Drill


Tabel 15.1. Data Operasi Dyna Drill11)

Ukuran Volume Beda Kecepatan Diameter


Dyna Lumpur Tekanan Putar Lubang Bor
Drill in, Gpm psi rpm in
0D
5 225 225 400 6 7 7/8
6 1/2 325 225 350 8 --12
7 3/4 400 225 350 10 5/8 --15

22 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Tabel 15.2. Sudut Defleksi Yang Diharapkan Per 100 Ft. 11)
5 O.D. DYNA DRILL 6 O.D. DYNA DRILL 7 O.D. Dyna DRILL
BENT SUB HOLE DEFLECTION HOLE DEFLECTION HOLE SIZE DEFLECTION
ANGLE SIZE ANGLE SIZE ANGLE ANGLE
1o 6 3o 30 8 2o 30 9 7/8 2o 30
1o 4o 45 3o 30 3o 45
2o 5o 30 4o 30 5o 00
1o 3o 00 9 7/8 1o 45 10 5/8 2o 00
1o 6 4o 15 3o 00 3o 30
2o 5o 00 3o 45 4o 15
2o 5o 45 5o 00 5o 30
1o 7 7/8 2o 30 10 5/8 1o 15 12 1o 45
1o 3o 30 Thru 2o 00 2o 30
2o 4o 30 12 3o 00 3o 30
2o 5o 30 4o 00 5o 00

15.4. Pengarahan Lubang Bor


Sewaktu membelokkan lubang bor dengan alat-alat pembelok, lubang
bor harus selalu ke arah dimana sudut tersebut dapat mencapai sasaran.
Pengarahan ini dapat dilakukan pada titik belok atau setelah titik belok
apabila ternyata lubang yang dibuat telah menyimpang dari sasaran yang
dikehendaki.
15.4.1. Metoda Pengarahan
Kita mengenal dua cara di dalam pengarahan ini, yaitu metoda
Stokenbury Drill Pipe Alligment dan metoda Orientasi Dasar Lubang.
a. Metoda Stokenbury Drill Pipe Alligment.
Metoda ini caranya seperti Gambar 15.18.
Mula-mula alat pembelok di permukaan dihadapkan ke arah mana
sasaran dikehendaki, misalnya B-B'.
Pada drill pipe diikatkan suatu sighting bar (tanda) dan di arahkan
ke suatu titik, disini misalnya diarahkan ke kaki derrick (titik C).
Pasang drill pipe baru, kemudian di dekat puncak drill pipe ini
dipasang sighting bar yang kedua dan diluruskan dengan yang
pertama dengan bantuan teleskop.
Sighting bar yang pertama diturunkan, untuk kemudian dipasang
lagi pada drill pipe yang berikutnya dan diluruskan kembali seperti
tadi dengan teleskop.
Pertahankan agar sudut antara B-B' dan C-C' tetap besarnya.

Prinsip Directional Drilling 23


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Demikian seterusnya sampai seluruh drill string berada didasar


lubang.
Kelemahan metoda ini adalah memakan waktu yang panjang, juga
sering menimbulkan kesalahan sehingga cara ini jarang digunakan.

Gambar 15.18. Metoda Stokenbury Drill Pipe Alligment. 12)


b. Metoda Orientasi Dasar Lubang.
Metoda ini banyak digunakan pada operasi-operasi pemboran terarah.
Prinsipnya adalah sebagai berikut :
Misalkan, muka alat pembelok mempunyai arah 90 o ke arah
kanan dari kutub magnet utara yang telah ditentukan (Gambar
15.19) pada Shadow Graph Compass.

24 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.19. Metoda Orientasi Dasar Lubang

Turunkan alat pembelok ini ke dasar lubang. Sebuah kamera


memotret bersama-sama free compass dan shadow graph
compass.
Misalnya gambar yang didapatkan ternyata S 45 oE. Ini berarti arah
muka alat pembelok adalah S 45 oE ditambah putaran 90o kearah
kanan jadi S 45o W.
Jadi dengan mengetahui arah "muka" alat pembelok dalam lubang bor,
akan mudah mengubah kearah yang dikehendaki.
15.4.2. Alat-Alat Survey
Selama operasi pemboran berarah, setiap telah dicapai titik-titik di
kedalaman tertentu kita mengukur sudut kemiringan dan sudut arah lubang
bor (melakukan survey). Dari pengukuran ini dapat diketahui penyimpangan
sudut dari sasaran yang direncanakan sehingga dari setiap titik pengukuran
ini kita dapat mengoreksi penyimpangan bila arah dan kemiringan telah
menyimpang dan mengarahkan kembali kesasaran semula.
Tujuan dilakukan survey pada directional drilling adalah :
a. Untuk memonitor lintasan sumur sehingga dapat dibandingkan dengan
lintasan yang direncanakan.
b. Untuk mencegah collision dengan existing well di sekitarnya.

Prinsip Directional Drilling 25


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

c. Untuk menentukan orientasi yang diperlukan untuk menempatkan alat


pembelok (deflection tool) pada arah yang tepat.
d. Untuk menentukan lokasi yang tepat dari dasar sumur (koordinat
dasar sumur).
e. Untuk menghitung dog-leg severity.
Peralatan yang digunakan terbagi atas dua macam yaitu Single Shot
dan Multi Shot, dimana Single Shot hanya dapat mencatat pengukuran sekali
sedangkan Multi Shot dapat berkali- kali. Prinsip kerja alat ini adalah sebagai
berikut (Gambar 15.20). Sebuah kompas dan unit pencatat sudut yang
berbentuk cakram dipotret bersama- sama oleh sebuah kamera. Hasil
pemotretan ini akan menghasilkan penyimpangan dari vertikal, karena adanya
fluida yang bebas bergerak, sedang arah dicatat pada unit pencatat (unit ini
terdiri dari 3 macam : 0-12o, 0- 20o dan 15- 90o).
o
Sudut kemiringan lubang bor = 5 1/2

Sudut arah lubang bor = N 42oE.

Efek Kemagnetan Bumi Terhadap Pengukuran Dengan Alat- Alat
Survey.

Gambar 15.20. Contoh Alat Survey dan Prinsip Kerjanya9)


Sebagai contoh pembacaan lihat Gambar 15.21 (ini adalah contoh alat
pencatat unit 0 -12o). Dari gambar ini dapat dibaca :

26 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.21. Cara Pembacaan Pengukuran Alat Survey 9)


15.4.3. Efek Kemagnetan Bumi Terhadap Pengukuran dengan Alat- Alat
Survey
Penggunaan alat-alat survey di dalam pengukuran sudut kemiringan
dan sudut arah memerlukan pemakaian drill collar yang anti magnetik (alat
survey ini diturunkan ke dalam lubang bor melalui drill pipe dan nantinya
akan terletak pada drill collar di dekat bit). Pemakaian drill collar anti
magnetik ini untuk menghindari kesalahan-kesalahan pengukur survey
(kompas). Tetapi efek kemagnetan bumi masih berpengaruh terhadap
pengukuran.
Thometz mengemukakan bahwa panjang drill collar anti magnetik
yang diperlukan tergantung dari besarnya sudut kemiringan dan sudut arah
lubang bor. Adanya tiga zone kemagnitan bumi yang berbeda digambarkan
pada Gambar 15.22. Akibat dari perbedaan kemagnetan ini dapat dilihat
bahwa kurva hubungan panjang drill collar anti magnetik yang diperlukan
dengan sudut kemiringan dan sudut arah, akan berbeda untuk ketiga zone
tersebut.
Sebagai ilustrasi, misalnya kita hendak melakukan survey di lokasi
pemboran dengan koordinat 60o lintang utara dan 160o bujur barat (daerah
Arctik), sudut kemiringan maksimum diharapkan 40 oE. Dari Gambar 15.23
daerah ini ada pada zone II. Oleh sebab itu, dipakai gambar untuk zone II.

Prinsip Directional Drilling 27


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Dari kurva 23 ternyata sudut-sudut ini jatuh dibawah kurva B. Jadi disini
diperlukan non magnetik drill collar sepanjang 60 ft.

Gambar 15.22. Pembagian Zone Kemagnitan Yang Sama9)

Gambar 15.23. Kurva Non Magnetik Drill Collar Yang Diperlukan


15.5 . Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemiringan dan Arah Lubang Bor
Lubang bor yang dihasilkan di bawah permukaan menyimpang dari
sudut yang diinginkan. Hal ini disebabkan lubang bor yang terjadi
berbengkok-bengkok dengan sendirinya. Hal semacam ini disebut Crooked
Hole (lubang bor pada pemboran terarah disebut Slant hole).
Penyebab Crooked Hole ini terdiri dari 2 faktor yang bekerja
bersama-sama yaitu faktor formasi dan faktor mekanis.
15.5.1. Faktor Formasi
Pada formasi yang berlapis-lapis dengan bidang perlapisan yang
miring maka lubang bor akan cenderung untuk tegak lurus pada bidang
perlapisan. Penembusan bit pada formasi akan meninggalkan suatu baji
kecil yang dapat bertindak sebagai whipstock kecil (miniature whipstock)

28 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

yang dapat membelokkan lubang sumur (Gambar 15.24). Teori ini disebut
Miniature Whipstock Theory.

Gambar 15.24. Miniature Whipstock Theory12)


Pada formasi dengan perlapisan yang berganti-ganti dari lunak ke
keras dan sebaliknya akan menyebabkan bit ditahan dengan berat sebelah
pada kedua sisinya, sehingga bit akan terperosok ke salah satu sisi dan
mengakibatkan bengkoknya lubang bor (Gambar 15.25). Teori ini disebut
Formation Drillability Theory.

Gambar 15.25. Formation Drillability Theory


Pada formasi dimana kemiringan bidang perlapisan lebih besar dari
45o, maka bit akan cenderung mengikuti bidang perlapisan (Gambar 15.26).

Prinsip Directional Drilling 29


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.26. Formasi Dengan Bidang Perlapisan > 45o


15.5.2. Faktor Mekanis
Faktor-faktor ini menyangkut :
Drill collar yang tidak cukup kekar sehingga mudah melengkung.
Beban pada bit yang berlebihan sehingga drill collar melengkung.
Perubahan botton hole assembly akan memberikan bentuk lubang
yang berlainan.
15.6. Pengontrolan Terhadap Penyimpangan
Dasar pemikiran pengaturan penyimpangan ini dapat diterangkan
dengan teori Pendulum. Untuk menerangkan teori ini lihat Gambar 15.27,
suatu drill string yang terdapat pada lubang bor yang miring. Karena ada
clearance antara drill collar dan dinding lubang, pada jarak tertentu di atas
bit, rangkaian drill string akan menempel pada dinding lubang bor. Titik ini
(P) disebut titik kontak (point of contact). Di atas titik ini rangkaian drill string
akan berbaring pada dinding lubang bor.

30 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.27. Drill String Pada Lubang Bor Yang Miring (Teori Pendulum)
Drill collar antara titik P dengan bit, akan bekerja sebagai gaya Fa
dimana gaya ini cenderung untuk membelokkan lubang ke arah vertikal atau
memperkecil sudut kemiringan. Selain daripada itu akan timbul pula gaya Fb
yang merupakan akibat dari berat pada bit. Gaya ini cenderung untuk
memperbesar sudut kemiringan karena membuat sudut dengan lubang bor
(sudut b).
Didalam waktu yang sama gaya Fa dan Fb ini akan bekerja bersama-
sama (dianggap tidak ada pengaruh formasi di sekitarnya), gaya-gaya ini
akan menentukan penyimpangan sudut kemiringan lubang bor.
Gaya Fa merupakan fungsi berat per satuan panjang drill collar antara
titik P dan bit, sedangkan gaya Fb tergantung kepada berat pada bit (weight
on bit). Tetapi pengaruh gaya Fb ini pun akan berkurang dan akibatnya
bending moment drill collar berkurang juga. Berkurangnya bending moment
ini akan menyebabkan jarak titik P dan bit bertambah sehingga gaya Fa
bertambah dan cenderung mengurangi penyimpangan lubang.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengontrol
penyimpangan sudut dapat dilakukan dengan mengatur titik kontak P atau
mengatur jarak titik P dengan bit. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan drill collar yang dirangkaikan dengan stabilizer.

Prinsip Directional Drilling 31


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

15.6.1. Penggunaan Drill Collar Dengan Stabilizer


Pada dasarnya, penggunaan drill collar dengan stabilizer pada suatu
rangkaian drill string adalah untuk mengatur jarak titik kontak (P) dengan bit,
sehingga secara tidak langsung mengatur gaya Fa dan Fb serta akan
mengontrol penyimpangan. Sebagai gambaran dapat dilihat pada Gambar
15.28.
Bila kita bandingkan Gambar 15.28a dan 15.28b, akan terlihat bahwa
dengan memperbesar berat drill collar akan mengakibatkan titik kontak P naik
karena kekakuan drill collar naik dan sudut b mengecil. Hal ini
mengakibatkan berat collar antara bit dan titik P naik sehingga Fa membesar
dan Fb mengecil. Sekarang kita perhatikan Gambar 15.28c dan 15.28a.
Clearance drill collar pada Gambar 15.28c mengecil mengakibatkan titik P
mendekati bit. Hal ini menyebabkan gaya Fa mengecil dan Fb membesar.
Terakhir kita lihat Gambar 15.28d dan 15.28a. Pemasangan stabilizer
disini akan mengakibatkan Fa membesar dan Fb mengecil. Jadi dari uraian di
atas dapat disimpulkan bahwa pengaturan clearance dan penempatan
stabilizer yang tepat akan dapat mengontrol penyimpangan.

Gambar 15.28. Penggunaan Drill Collar Dengan Stabilizer Pada Suatu


Rangkaian Drill String

32 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

WILSON membuat hubungan antara ukuran drill collar minimum


dengan diameter casing dan diameter bit sebagai berikut :
Diameter (OD) drill collar yang diizinkan = (Diameter Casing-OD) -
(Diameter bit-OD).
WOODS dan LUBINSKY membuat grafik-grafik untuk penempatan
stabilizer(single stabilizer) agar weight on bit (WOB) dapat ditingkatkan
secara maksimal dengan sudut kemiringan lubang bor yang tertentu.
Gambar 15.29a dan 15.29b adalah salah satu dari grafik-grafik yang
telah dibuatnya.

Gambar 15.29. Grafik-grafik Untuk Penempatan Stabilizer (Single Stabilizer) 12)


Sebagai contoh, misalkan kita membor lubang dengan ukuran 8-3/4
inch dan ukuran drill collar 7 inch. Dengan kemiringan lubang maksimum 3 o
WOB = 5000 lb pada kedalaman tertentu.

Prinsip Directional Drilling 33


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Dengan melihat Gambar 15.29b. (tanda panah), akan dicapai


kenaikan 25% pada WOB apabila dipasang stabilizer pada posisi yang ideal.
Dari Gambar 29a dapat ditentukan bahwa posisi stabilizer yang ideal tersebut
adalah sejauh 87 ft dari bit.
15.7. Penggunaan Bottom Hole Assembly
Dengan latar belakang teori yang telah dipaparkan pada bagian 16.5,
pengaturan sudut kemiringan dan sudut arah dapat dilakukan dengan
mengatur atau mengkombinasikan rangkaian bottom hole assembly. Ini
biasanya dilakukan setelah mencapai sudut tertentu misalnya 14 o.
Pengaturan ini termasuk antara lain mengatur titik kontak, memilih jarak
penempatan stabilizer dari bit, memilih ukuran dan kekakuan drill collar yang
tertentu, mengatur WOB dan RPM, mengatur jarak stabilizer pertama dan
kedua dan lain-lain. Susunan bottom hole assembly yang ternyata berhasil
baik digunakan pada suatu sumur, belum tentu baik pula diterapkan disumur
lain, hal ini dikarenakan pengaruh daripada formasi yang dibor.
Dari uraian tersebut diatas, maka sangat diperlukan pengalaman di
dalam pengaturan rangkaian botton hole assembly ini agar diperoleh hasil
yang baik di dalam suatu operasi pemboran terarah. Disini letak seni
daripada pemboran terarah ini.
Berikut ini akan diuraikan mengenai penggunaan berbagai susunan
rangkaian bottom hole assembly yang umumnya digunakan sebagai dasar di
dalam pemilihan posisi bottom hole assembly di dalam suatu pemboran
terarah.
15.7.1. Vertical Hole Assembly
Susunan rangkaian ini umumnya digunakan untuk membor tegak lurus
dari permukaan sebelum titik belok (KOP), atau bagian setelah drop off
section (Gambar 15.30). Adapun susunan ini dapat digambarkan sebagai
berikut:
Bit - Monel DC - DC - Stab - 90'DC - Stab - 90'DC Stab
60' 90' 90'
dan seterusnya.
Apabila formasi yang dibor lunak, maka dianjurkan hal- hal dibawah ini :
1. WOB rendah

34 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

2. RPM tinggi
3. Output pompa sehingga sirkulasi lumpur cepat.

Gambar 15.30. BHA Untuk Seksi Vertikal9)


15.7.2. Build Up Assembly
Pada rangkaian ini reamer harus selalu ditempatkan di dekat bit.
Adanya beban pada bit menyebabkan bagian drill collar di atas reamer
membelok dengan kemiringan tertentu. Rate build up ini sangat tergantung
kepada WOB, posisi reamer dan ukuran drill collar Gambar 15.31.
Untuk perubahan sudut build up yang besar, dianjurkan :
1. WOB tinggi
2. Ukuran monel drill collar kecil
3. RPM dan rate pemompaan kecil apabila formasi lunak.
Rangkaian bottom hole assembly yang umumnya digunakan pada
build up section ini dapat digambarkan sebagai berikut .
Bit - Sub - Reamer - Monel DC - Stab - DC - Stab - 90'DC
4' 6' 60'

Prinsip Directional Drilling 35


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.31. BHA Untuk Menaikkan Inklinasi 9)


Untuk perubahan sudut build up kecil, dianjurkan :
1. WOB kecil.
2. Ukuran monel drill collar besar.
3. Tempatkan stabilizer pada puncak monel drill collar.
4. Tambah jarak bit - reamer.
5. Tambah RPM dan rate pemompaan pada formasi lunak.
15.7.3. Drop off Assembly
Dengan menambah jarak bit ke reamer, bagian bawah reamer
mempunyai tendensi untuk mengarah ke bawah. Karena berat rangkaiannya,
perlahan-lahan akan menghasilkan penurunan sudut pada drop off section
tergantung pada WOB, RPM dan posisi reamer serta stabilizer pada
rangkaian. Gambar 15.32.
Umumnya drop off assemblies ini berbentuk :
Bit - Monel DC - Reamer - DC - Stab - DC - Stab -90'DC- stab.
20'-30' 30' 30'

36 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.32.BHA Untuk Menurunkan Inklinasi9)


Untuk perubahan sudut drop off yang besar dianjurkan :
1. WOB kecil.
2. RPM dan rate pemompaan besar pada formasi lunak.
3. Ukuran monel besar.
4. Ukuran drill collar kecil diatas reamer.
Untuk perubahan sudut drop off yang kecil, dianjurkan:
1. WOB besar.
2. RPM dan rate pemompaan kecil pada formasi lunak.
3. Gunakan monel drill collar yang besar.
4. Kurangi jarak bit-reamer.
15.7.4. Tangent Assembly
Pada kasus ini sangat sukar menentukan tangent assemblies yang
dapat sekaligus mengatur atau mempertahankan kemiringan dan arah
lubang bor. Umumnya persoalan terbesar adalah di dalam mengontrol
sudut arah, sedang mengontrol sudut kemiringan agak lebih mudah.
Apabila WOB dan RPM diubah untuk dapat mempertahankan sudut arah,
tetapi efek lain yang mengubah sudut kemiringan atau sebaliknya, juga
faktor-faktor formasi sangat mempengaruhi.
Karena tangent assembly digunakan pada bagian dari lubang bor
dimana sudut arah dan kemiringan harus dipertahankan tetap, maka
rangkaiannya haruslah sekaku mungkin. Sangat sukar menemukan tangent

Prinsip Directional Drilling 37


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

assemblies yang ideal atau kombinasi yang tepat. Pada beberapa kasus
yang lain hasil akan baik dengan banyak ditempatkan stabilizer.
Beberapa susunan yang memberikan hasil yang baik adalah:
Bit-Reamer-Monel DC-Stab-Dc-Stab-DC-Stab-dst
Bit-10'DC-Reamer-Monel DC-Stab-DC-Stab-DC-Stab-dst.
Bit-15'DC-Reamer-15'DC-Reamer-Mone l DC-Stab-DC-Stab-dst
Bit-Reamer-Stab-Monel DC-Stab-Stab-DC-DC-Stab-dst.
15.8. Metoda Analisa Pemboran Berarah
Di dalam perencanaan suatu pemboran berarah, lubang bor yang
direncanakan dibuat pada bidang datar dengan sudut arah dan perubahan
sudut kemiringan tertentu. Tetapi seperti yang telah diterangkan pada sub-
bab yang lalu, lubang bor tidak akan terletak pada satu bidang disebabkan
pengaruh dari banyak faktor. Baik sudut kemiringan maupun sudut arah
lubang bor akan selalu berubah-ubah menyimpang dari yang telah
direncanakan. Sehingga pada praktek suatu pemboran berarah, setelah
dicapai kedalaman-kedalaman pemboran tertentu (biasanya setiap 50 - 100 ft
kedalaman), dilakukan pengukuran sudut kemiringan dan sudut arah
(dilakukan survey). Apabila terjadi penyimpangan, lubang bor tadi diarahkan
kembali ke arah yang telah ditetapkan semula.
Sebagai gambaran sebenarnya, penampang horizontal suatu contoh
sumur pemboran berarah dapat dilukiskan seperti terlihat pada Gambar 33.

Gambar 15.33. Penampang Horizontal Suatu Pemboran Berarah


Titik dan garis patah di dalam Gambar 15.33 (misalnya titik M) didapat
setelah kita mengetahui koordinat titik tersebut dan titik ini disebut titik survey.

38 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Terlihat dalam gambar bahwa titik tersebut menyimpang dari garis AE (garis
yang telah direncanakan). Sehingga dari titik tersebut kita membetulkan arah
kembali ke arah semula. Demikian seterusnya dengan titik survey
selanjutnya hingga dicapai sasaran.
Hal yang sama terjadi pula pada penampang vertikalnya, sudut
kemiringan yang terjadi akan selalu berubah-ubah menyimpang dari yang
telah direncanakan.
Dari uraian di atas, masalah yang terpenting adalah menentukan
koordinat titik-titik survey setepat mungkin disamping perencanaan
pemborannya. Karena dengan diketahuinya titik-titik survey ini, maka kita
dapatkan hal-hal berikut :
a. Mengetahui kedalaman vertikal (True vertikal depth) pada titik-titik
tertentu di dalam lubang sumur.
b. Mengetahui penyimpangan dari sasaran, sehingga pada setiap titik
survey dapat dikoreksi arah dan kemiringan lubang bor, mengarahkan
kembali ke sasaran semula bila terjadi penyimpangan.
c. Dari hal a dan b di atas, dengan kata lain dapat diketahui sejauh mana
lubang bor kita meleset atau berhasil mencapai sasaran.
15.8.1. Metoda-Metoda Perencanaan Pemboran Terarah
Di dalam merencanakan suatu pemboran terarah dikenal dua cara
yaitu Metoda Tangensial dan Metoda Radius Of Curvature. Metoda yang
disebutkan pertama merupakan metoda yang tertua yang dikenal sejak
dimulainya pemboran terarah. Sedangkan metoda yang terakhir
diperkenalkan oleh WILSON pada tahun 1968 yang merupakan perbaikan
dari metoda Tangensial.
15.81.1. Perencanaan Dengan Metoda Tangensial.
Dari Gambar 15.34, setelah titik belok ditentukan (titik 1), build up
section (1-2) dibuat dengan mengubah sudut kemiringan sampai dicapai
sudut maksimum yang diinginkan. Tangen section (2-3) dibuat dengan
mempertahankan sudut kemiringan maximum sampai kedalaman
tertentu.

Prinsip Directional Drilling 39


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Drop off Section (3-4) dibuat dengan mengembalikan sudut


maksimum ke nol derajat dan bagian back to vertical (4-5) dibuat dengan
mempertahankan sudut kemiringan nol derajat.
Pada perencanaan dengan metoda Tangensial, dianggap bahwa
interval-interval lubang berupa garis-garis patah (lurus untuk masing-
masing interval) baik untuk build up maupun drop off section. Jadi dengan
kata lain dianggap bahwa setiap interval yang diambil mempunyai sudut
kemiringan yang sama pada awal, maupun pada akhir interval. Disini
apabila diambil interval kecil-kecil (misal diambil MD setiap 100 ft) garis
lengkung MD dianggap garis lurus, makin kecil kita mengambil intervalnya
(misal 25 ft) perhitungan akan semakin teliti.

Gambar 15.34. Penampang Vertikal Suatu Lubang Bor (Metoda Tangensial).


TVD MD cos I ...........................................................................(15-1)

H MD sin I ................................................................................(15-2)

dimana :
TVD = True vertical depth (kedalaman tegak) pada suatu
interval lubang bor, ft.
H = Drift (throw) atau penyimpangan horizontal
pada interval tersebut, ft.

40 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

MD = Measure depth pada interval tersebut, ft


I = Besarnya sudut kemiringan pada interval tersebut, derajat.
Sudut = A adalah sudut arah yang tetap besarnya.
Berdasarkan persamaan-persamaan (15.1) dan (15.2) dapat dibuat suatu
program komputer perencanaan pemboran terarah dan dapat ditentukan TVD dan
H untuk setiap harga I per MD tertentu (misalnya 2 o/100ft, 4o/100 ft) hingga
dicapai sudut maksimum yang diinginkan.
15.8.1.2. Perencanaan Dengan Metoda Radius Of Curvature
a. Perhitungan Secara Segmental
Metoda ini diperkenalkan oleh WILSON.G.J pada tahun 1968, yang
merupakan perbaikan dari metoda tangensial.Tidak seperti pada metoda
tangensial, perencanaan ini tidak me nganggap interval-interval lubang bor
merupakan garis-garis lurus. Di dalam metoda ini, segmen lubang bor
dianggap berupa busur suatu lingkaran yang bersifat menyinggung di titik
awal dan akhir suatu interval lubang bor yang mempunyai sudut kemiringan
dan sudut arah tertentu. Karena di dalam prakteknya, memang alat-alat
pembelok seperti turbo drill, dyna drill dan lain-lain dapat menghasilkan
lubang dengan belokan yang kontinyu (smooth), sehingga lebih tepat
apabila segmen-segmen lubang bor dianggap berupa busur suatu
lingkaran.
Di dalam perencanaannya pemboran berjalan pada suatu bidang datar
dengan sudut arah tetap (Gambar 15.35).

Gambar 35. Penampang Vertikal Suatu Lubang Bor (Metoda ROC)


Apabila suatu bagian kecil interval lubang bor dM didalam gambar 15.35
kita perhatikan, maka akan didapatkan segmen kecil lubang bor.

Prinsip Directional Drilling 41


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

180
I x ..........................................................................................(15-3)

dimana :
I I = Sudut kemiringan, derajat
x = Suatu sudut di dalam radial
tetapi juga :
l b M ................................................................................................(15.4)

dimana :
b = Kecepatan sudut kemiringan, o/ft.
M = Jarak suatu titik M dari KOP, sehingga substitusi persamaan (15.4)
ke (15.-3) didapat :


x b
180
M ....................................................................................(15.5)
Dari gambar 16.35, apabila dM yang diambil sangat kecil, akan didapatkan :
dZ Cosx dM ......................................................................................(15.6)

Substitusi ke persamaan 5 didapatkan :

dZ cos b 180
M dM
diintegrasi menjadi :

Z 2 Z1 180 b
sin b M sin b M
180 180
2 1

atau :

Z 2 Z 1 180
b
sin I 2 sin I1 ...............................................................(15.7)
untuk titik di KOP, I 1 0 , sehingga :


Z 2 Z1 180
b
sin I .......................................................................(15.8)
2

Arah horizontal sepanjang build up section (=H) dapat dilihat dari gambar
16.35, apabila interval dM sangat kecil maka :
dH sin x dM .....................................................................................(15.9)

Kemudian persamaan ini disubstitusi ke persamaan (15-5).

42 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB


dH sin b
180
M x dM ......................................................................(15.10)

Apabila diintegrasi akan didapatkan :


H 2 H 1 180
b
cos I cos I .........................................................(15.11)
1 2

Untuk KOP, I 1 0 , sehingga :


H 2 H 1 180
b
1 cos I ................................................................(15.12)
2

Perlu diingat bahwa :

I 2 I1
MD2 MD1 ............................................................................(15.13)
b

Persamaan-persamaan di atas tetap berlaku untuk drop off section.


Apabila digunakan program komputer untuk perencanaan, maka dapat
dipakai persamaan-persamaan 15.7, 15.11 dan 15.13, untuk menghitung
TVD, MD dan Drift-nya.
b. Build-and-Hold Trajectory
Gambar 15.36 menunjukkan geometry build-and-hold trajectory,

Gambar 15.36. Build-and-Hold Type Well Path Untuk X3 < r19), 23)
dimana :
D1 : TVD kick of point, feet
D2 : TVD buildup section, feet

Prinsip Directional Drilling 43


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

D3 : TVD dasar sumur, feet


X 3 : Horizontal departure, feet
q : Rate of inclination angle buildup, o /panjang
Radius of curvature, r1 , adalah :
180 1
r1 = .......................................................................................(15.14)
q

Maximum inclination angle, diperoleh dari


90 0 90

atau,
..............................................................................................(15.15)

Dengan memperhatikan segitiga OAB, maka

BA r x3
tan 1 .........................................................................(15.16a)
AO D3 D1

dan

r x3
arctan 1 ...........................................................................(15.16b)
D
3 D 1

Dengan memperhatikan segitiga OBC, maka

r1
sin ..........................................................................................(15.17)
OB

dan
LOB r1 x3 2 D3 D1 2
Substitusi OB ke dalam persamaan 16-17 memberikan

r1
sin ................................................................(15.18)
r1 x3 2
D3 D1
2

Sudut inklinasi maximum untuk build-and-hold dimana x3 r1 adalah :


arcsin
r1 arctan r1 x3
D D ..............................(15.19)
r1 x3 2 D3 D1 2 3 1

Panjang busur, DC, adalah



LDC r1
180

44 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

atau

LDC ..............................................................................................(15.20)
B

Panjang CB dapat ditentukan dari segitiga BCO

CO r
tan 1
LCB LCB

dan

r1
LCB
tan

Total measured depth, , untuk TVD dari adalah


r
DM D1 1 ..............................................................................(15.21)
q tan

Horizontal departure dari buildup section dapat diperoleh dengan


memperhatikan segitiga D'OC, dimana

x 2 r1 r1 cos r1 1 cos ................................................................(15.22)

Untuk menghitung measured depth dan horizontal departure serta TVD


sepanjang build up section digunakan persamaan :
D N D1 r1 sin ' .................................................................................(15.23)

Dan
x N r1 r1 cos ' r1 (1 cos ' ) ...........................................................(15.24)

TVD pada akhir build up section adalah


D2 D1 r1 sin ...................................................................................(15.25)

Measured depth sepanjang build up section adalah :



DMN D1 .......................................................................................(15.26)
q

Measured depth pada setiap TVD D' ditentukan dari segitiga PP'C :

DMP D1 CP .................................................................................(15.27)
q

dimana
CP '
CP
cos

dan

Prinsip Directional Drilling 45


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

CP ' D' D2 D' D1 r1 sin

Oleh karena itu,

D ' D1 r1 sin
CP ..........................................................................(15.28)
cos

Substitusi persamaan 28 ke dalam persamaan 27, menghasilkan :


D ' D1 r1 sin
DMP D1 ............................................................(15.29)
q cos

Horizontal departure pada titik P adalah :


x ' x 2 P ' P ........................................................................................(15.30)

dimana
P' P CP ' tan
Menggabungkan persamaan 15.30, persamaan 15.22, dan CP'
menghasilkan :

x' r1 1 cos D' D1 r1 sin tan ...............................................(15.31)

Penurunan persamaan di atas berlaku jika . x3 r1


Cara lain untuk menghitung sudut inklinasi maksimum

D D1 r1 D D1
arctan 3 arccos sin arctan 3
r1 x3 D3 D1 r1 x 3

Untuk kasus x3 r1 , persamaan untuk menghitung sudut inklinasi


maksimum adalah:

D D1 r1 D D1
180 arctan 3 arccos sin arctan 3
x r
3 1 D
3 D1 x r
3 1

46 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Contoh 1 :
Diinginkan membor suatu sumur di bawah danau dengan menggunakan
directional drilling. Lintasan (trajectory) yang akan digunakan adalah build-and-
hold trajectory. Horizontal departure antara target dengan titik bor adalah 2655 ft
dan TVD 9650 ft. Rate of build up adalah 2.0/100 ft. Kedalaman kick off adalah
1600 ft.
Tentukan :
1. Radius of curvature
2. Sudut inklinasi maximum
3. Measured depth dari build up section
4. Total measured depth
5. Horizontal departure dari buildup section
6. Measured depth pada TVD 1915 ft
7. Horizontal displacement pada TVD 1915 ft
8. Measured depth pada TVD 7614 ft
9. Departure pada TVD 7614 ft

Prinsip Directional Drilling 47


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

c. Build-Hold-and-Drop (S) Trajectory


Lintasan jenis ini ditunjukkan oleh gambar 15.37 untuk r1 x3 dan
r1 r2 x 4 , dan gambar 15..38 untuk r1 x3 dan r1 r2 x 4 .Sudut

inklinasi maksimum untuk kondisi r1 r2 x 4 ,

D D r r D D
arctan 4 1 arccos 1 2 sin arctan 4 1 ......(15-33)
r1 r2 x 4 D4 D1 r1 r2 x 4

Gambar 15.37. Build-Hold-and Drop Untuk r1 < X3 and r1 + r2 > X49), 23)

48 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.38. Build-Hold-and-Drop and Hold (Modified-S) dimana r1 < X3


dan r1 + r2 < X49),23)

Sedang sudut inklinasi maksimum untuk kondisi r1 r2 x 4 ,

D D r r D D
180 arctan 4 1 arccos 1 2 sin arctan 4 1
x4 r1 r2 D4 D1 x 4 r1 r2
.............................................................................................................(15.34)
d. Build, Hold, Partial Drop, and Hold (Modified S Trajectory)
Gambar 16.39 menunjukkan tipe ini.
Panjang kurva LCA adalah:
'
LCA
q

dan
LCB r2 sin ' .................................................................................(15.35a)

untuk CO' B, maka dapat ditulis :

s BA r2 r2 cos ' r2 1 cos ' ......................................................(15.35b)

Prinsip Directional Drilling 49


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Persamaan 11-33 dan 11-34 dapat ditulis dengan mensubstitusi


D5 r2 sin ' untuk D4 dan x5 r2 1 cos ' untuk x 4 .

Untuk tipe 'S' ini, perhitungan MD dan H dapat dilakukan seperti


pada tipe Build - and - Hold.

Gambar 15.39. Build, Hold, Partial Drop dimana r1 < X3 dan r1 + r2 < X49), 23)
15.8.1.3. Perencanaan X-Y Trajectory
Gambar 15.40 dan 15.41 menunjukkan trajektori vertical dan
horizontal dari directional well, dimana :

A1 A A1
L DM sin A cos ...............................................(15.36)
2 2

L = Panjang Utara/Selatan

A1 A A1
M DM sin A sin ..............................................(15.37)
2 2

M = Panjang Timur/Barat
TVD dapat dihitung dengan

A1
D DM cos A ...................................................................(15.38)
2

dimana adalah pertambahan measured depth.

50 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.40. Trajektori Vertikal9)

Gambar 15.41. Trajektori Horizontal9)

Prinsip Directional Drilling 51


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Contoh 2:
Hitunglah Trajektori dari 8000 ke 8400 feet, dimana KOP pada 8000 feet dan
Build-Up Rate adalah 1o/ 100 ft, dengan sudut lead 10o dengan Right-hand rate
adalah 1o/100 ft. Arah Anual adalah N 3oE.
Asumsi bahwa 200 ft pertama dipakai untuk mengarahkan sudut lead, dimana
arah dibuat konstan sampai 8200 ft dan kemudian belok kanan dengan kecepatan
1o/100 ft.

52 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

15.9. Metoda-Metoda Perhitungan Hasil Survey Pemboran Berarah


Setelah perencanaan dibuat dan praktek pemboran terarah
dilaksanakan, seperti telah diterangkan terdahulu, pada setiap kedalaman-
kedalaman tertentu dilakukan pengukuran sudut kemiringan dan arah
lubang bor (dilakukan survey). Apabila pada titik-titik survey tersebut terjadi
penyimpangan, lubang bor diarahkan kembali ke arah yang telah
ditetapkan.
Ada beberapa metoda yang dapat menentukan koordinat titik-titik
survey ini. Berturut-turut akan dibicarakan metoda yang terdahulu hingga
yang terbaru ditemukan, dimana masing-masing metoda mempunyai
limitasi-limitasi tertentu di dalam menganalisa persoalan. Perlu diingatkan
bahwa metoda yang ditemukan kemudian merupakan perbaikan dari
metoda yang mendahuluinya.
Dalam rangka menganalisa persoalan, semua metoda yang akan
dibicarakan mendasarkan perhitungannya kepada pengukuran 3 besaran
yaitu kedalaman sumur ( MD M ), perubahan sudut kemiringan ( I ) dan
sudut arah ( A ) yang dicatat oleh alat-alat survey.
15.9.1. Metoda Tangential
Prinsip dari metoda ini adalah menggunakan sudut inklinasi dan
azimuth dari titik awal interval untuk menghitung vertical depth,
departure, dan posisi. Prinsip dari metoda tangential tersebut ditunjukkan
oleh gambar 16.42
VD MD cos I 2

H MD sin I 2

E D sin A2 MD sin I 2 sin A2

N D cos A2 MD sin I 2 cos A2

dimana :
MD : Pertambahan measured depth
VD : Pertambahan TVD
H : Pertambahan departure
N : Pertambahan koordinat arah utara
E : Pertambahan koordinat arah Timur

Prinsip Directional Drilling 53


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.42. Tangential Method : (a) Vertical Section;


(b) Plan View 36)
15.9.2. Metoda Balanced Tangential
Metoda ini membagi dua interval dimana untuk bagian atas interval
digunakan sudut inklinasi dan azimuth pada titik awal interval dan untuk
bagian bawah interval digunakan sudut inklinasi dan azimuth pada titik akhir
interval. Prinsip dari metoda ini ditunjukkan oleh Gambar 15.43.

MD
D1 sin I 1
2

MD
D 2 sin I 2
2

MD
D D1 D2 sin I 1 sin I 2
2

MD
VD1 cos I 1
2

MD
VD2 cos I 2
2

54 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.43. Balanced Tangential Method : (a) Vertical Section; (b) Plan
View 36)
MD
VD VD1 VD2 cos I 1 cos I 2
2

N N1 N 2 D1 cos A1 D2 cos A2

MD
sin I1 cos A1 sin I 2 cos A2
2

E E1 E 2 D1 sin A1 D2 sin A2

MD
= sin I 1 sin A1 sin I 2 sin A2
2

15.9.3. Metoda Angle Averaging


Prinsip dari metoda ini adalah menggunakan rata-rata sudut inklinasi
dan rata-rata sudut azimuth dalam menghitung vertical depth, departure,
dan posisi. Perhitungan dengan menggunakan metoda ini hampir sama
dengan menggunakan metoda tangensial.

I I2
D MD sin 1
2

I I2
VD MD cos 1
2

I I A A2
E MD sin 1 2 sin 1
2 2

Prinsip Directional Drilling 55


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

I I 2 A1 A2
N MD sin 1 cos
2 2

15.9.4. Metoda Radius of Curvature


Metoda ini menganggap bahwa lintasan yang melalui dua station
berbentuk kurva yang mempunyai radius of curvature tertentu. Prinsip
perhitungan dengan menggunakan metoda ini ditunjukkan oleh Gambar
15.44.
360MD
TVD sin I 2 sin I 1
2 I 2 I 1

360MD
H cos I 2 cos I 2
2 I 2 I 1

360 2 MD cos I1 cos I 2 sin A2 sin A1


N
4 2 A2 A1 I 2 I1

E
360 MD cos I 1 cos I 2 cos A2 cos A1
2

4 2 A2 A1 I 2 I 1

Gambar 15.44. Metoda Radius of Curvature 36)

56 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Gambar 15.45. Metode Minimum of Curvature36)


15.9.5. Metoda Minimum of Curvature
Persamaan metoda minimum of curvature hampir sama dengan
persamaan metoda balanced tangential, kecuali data survey dikalikan
dengan faktor RF .

2 DL
RF tan
DL Radian 2 derajat

dimana :

DL = dog-leg angle

CosDL cos I 2 I 1 sin I 1 sin I 2 1 cos A2 A1


MD
TVD cos I 1 cos I 2 RF
2

MD
N sin I1 cos A1 sin I 2 cos A2 RF
2

MD
E sin I1 sin A1 sin I 2 sin A2 RF
2

15.9.6. Metoda Mercury


Metoda mercury adalah perbaikan dari metoda balanced tangential
dengan memasukkan faktor koreksi panjang dari alat survey yang
dipergunakan.

Prinsip Directional Drilling 57


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

MD STL
TVD cos I 2 cos I 1 STL cos I 2
2

MD STL
N sin I 1 cos A1 sin I 2 cos A2 STL sin I 2 cos A2
2

MD STL
E sin I 1 sin A1 sin I 2 sin A2 STL sin I 2 sin A2
2

dimana :
STL adalah panjang peralatan survey.

Contoh 3 :
Buatlah evaluasi Trajektori Pemboran dari data survey sbb :
MD Inklinasi Arah
7100 0 0
7200 10,1 S 68o W
7300 13,4 S 65o W
7400 16,3 S 57o W
7500 19,6 S 61o W
Hitunglah menggunakan metoda:
Hitunglah menggunakan metoda :
a. Tangential
b. Balanced Tangential
c. Angle Averaging
d. Radius of Curvature
e. Minimum of Curvature
f. Mercury, dengan panjang alat Survey = 15 feet

58 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

Contoh 4:
1. Perancangan Pemboran MiringPerencanaan pemboran miring
dilaksanakan berbentuk "Build and Hold" terhadap suatu target
dengan kedalaman TVD 8000 feet, Posisi target North (N) 1181 feet
dan East (E) 845 feet. Peralatan BHA yang dipakai akan
menghasilkan kecepatan pembentukan sudut kemirian (BUR) sebesar
1o / 100 ft, dimana pembentukan lengkungan pertama (KOP) pada
kedaaman pemboran (MD) 3000 feet.
Buatlah rencana lintasan (Trajectory) serta urutan-urutan
perhitungannya, dan isilah tabel berikut:
MD(feet) Inklinasi (I, o) TVD (feet) Displacement
(H, feet)
0 0 0 0
1000
2000
3000 (KOP)
4000
5000
6000
7000
8000

2. Evaluasi Trajektori Pemboran Miring Tentukanlah jarak displacement


(H) dan arah akhir (N-E) untuk setiap Measure Depth (MD) dengan
metoda Balanced Tangential. Berikanlah contoh secara lengkap tentang
perhitungannya:
Depth (MD) Inclination Direction Departure (H) Final Direction
(feet) (Degrees) (feet) (N-E)
5000 (KOP) 0 N 0 oE 0 N 0oE
5100 1.0 N 10oE
5500 2.5 N 12oE
6000 3.5 N 5 oW
7000 5.0 N 15oW
8000 3.0 N 35oW

3. Perancangan Pemboran MiringPerancangan pemboran miring dilakukan


berbentuk "Return to Vertical" terhadap suatu target dengan kedalaman TVD
8000 feet, Posisi target North (N) 1311 feet dan East (E) 1511 feet. Peralatan
BHA yang dipakai akan menghasilkan kecepatan peningkatan sudut

Prinsip Directional Drilling 59


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

kemiringan (BUR) sebesar 1o / 100 ft dan penurunan sudut sebesar 2o / 100


ft, dimana pembentukan lengkungan pertama (KOP) pada kedalaman
pemboran (MD) 2100 feet.Buatlah rencana lintasan (Trajectory) serta urutan-
urutan perhitungannya, dan isilah tabel berikut dengan selang MD 1000 feet,
dan dilengkapi titik SURFACE, KOP, EOB, EOT, EOD:
MD (feet) Inklinasi (Io) TVD (feet) Displacement (H, feet)
0 (Surface) 0 0 0
................ ................ ................ ................
................ ................ ................ ................
............... ............... ............... ...............

60 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

QUIZ

1. Jelaskan dengan singkat!


a. Alasan-alasan dilaksanakannya pemboran berarah
b. Penyebab belokan selama pemboran
c. Jenis Pemboran berarah
2. Sebutkan :
a. Alat-alat pembelokan sumur, dan jelaskan prinsip kerjanya!
b. Alat-alat survey!
c. Alat-alat Bottom Hole Assembly!
3. Sebutkan dan jelaskan metoda yang digunakan dalam pengarahan lubang,
gambarkan!
4. Jelaskan dengan Singkat apa yang dimaksud :
a. KOPb. TVDc. Measured Depthd. Inklinasie. Azimuthf. Displacementg.
Doglegh. Dogleg Severityi. MPDLS
Buat sketsa gambar untuk memperjelas penjelasan anda!Dari manakah data-
data tersebut diatas diperoleh!
5. a. Sebutkan tujuan dilakukannya survey pada pemboran berarah!
5 b. Metode-metode apakah yang dipakai dalam menganalisa titik survey!
6. Masalah-masalah apakah yang sering timbul dalam pemboran berarah,
jelaskan!
7. Sebutkan dan gambarkan peralatan yang dipakai untuk pertama kali
membelokan sumur (membentuk KOP)!
8. Prinsip apa dan terangkan cara-cara untk memperbesar, menetapkan dan
memperkecil sudut inclinasi!
9. Jelaskan 5 (lima) metoda perhitungan penentuan letak sumur pada direc-
tional drilling yang utama!
10. Masalah-masalah apa yang sering terjadi pada pemboran horizontal!

Prinsip Directional Drilling 61


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

DAFTAR PARAMETER DAN SATUAN

A = Azimuth, derajat
b = Kecepatan sudut kemiringan, o/ft
D = Jarak vertical, feet
DL = Sudut dogleg, derajat
DM = Total measured depth, feet
DN = Measured depth hingga build up section, feet
q = Rate of inclination angle, build up/panjang
= Sudut inklinasi maksimum, derajat
Z = Ketinggian sebenarnya suatu interval, feet
H = Horizontal departure, feet
I = Inklinasi, derajat
L = Panjang utara/selatan, feet
X = Jarak horizontal, feet
KOP = Kick of point
M = Jarak suatu titik M dari KOP / panjang timur/barat, feet
MD = Measured depth, feet
r = Jari-jari kelengkungan lubang , feet
E = Pertambahan koordinat arah timur , feet
H = Pertambahan horizontal departure , feet
MD = Pertambahan measured depth , feet
N = Pertambahan koordinat arah utara , feet
TVD = Pertambahan TVD , feet
I = Sudut inklinasi, derajat
= Inklinasi, derajat
= Azimuth, derajat

62 Prinsip Directional Drilling


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

DAFTAR PUSTAKA

1. Alliquander, "Das Moderne Rotarybohren", VEB Deutscher Verlag Fuer


Grundstoffindustrie,Clausthal-Zellerfeld, Germany, 1986
2. Mian M.A., "Petroleum Engineering Handbook for Practicing Engineer", Vol.2,
Penn Well Publishing Company, Tulsa-Oklahoma, 1992.
3. Aguilera R., "Horizontal Wells: Formation Evaluation, Drilling, and Production,
Including Heavy Oil Recovery", Gulf Publishing Company, Houston,
1991.
4. Short J., "Introduction to Directional And Horizontal Drilling", Penn Well
Publishing Company, Tulsa, 1993.
5. Azar J.J., "Drilling in Petroleum Engineering", Magcobar Drilling Fluid Manual.
6. Gatlin C., "Petroleum Engineering: Drilling and Well Completions", Prentice Hall
Inc., Englewood Cliffs, New Jersey, 1960.
7. nn., "Drilling", SPE Reprint Series no. 6a., SPE of AIME, Dallas-Texas, 1973.
8. Bourgoyne A.T. et.al., "Applied Drilling Engineering", First Printing Society of
Petroleum Engineers, Richardson TX, 1986.
9. Moore P.L., "Drilling Practices Manual", Penn Well Publishing Company, First
Edition, Tulsa-Oklahoma, 1974.
10. Moore P.L., "Drilling Practices Manual", Penn Well Publishing Company,
Second Edition, Tulsa-Oklahoma, 1986.
11. McCray A.W., Cole F.W., "Oil Well Drilling Technology", The University of
Oklahoma Press,1979.
12. Rabia. H., "Oil Well Drilling Engineering : Principles & Practice", University of
Newcastle upon Tyne, Graham & Trotman, 1985.

Prinsip Directional Drilling 63


@ Copyright 2009 By Dr.-Ing.Ir. Rudi Rubiandini R.S., ITB

64 Prinsip Directional Drilling