Anda di halaman 1dari 11

Rangkuman Materi Kuliah

Pekerjaan Lapangan I

Pekerjaan Lapangan II
(Audit Internal)

Disusun oleh :
Ridah Alawiah Rahman
A31114315

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017
1| P a g e
RMK BAB VI

Pekerjaan Lapangan I

1. Proses dan Tujuan Pekerjaan Lapangan (Field Work)

Proses

Field work merupakan proses untuk mendapatkan keyakinan secara


sistematis dengan mengumpulkan bukti secara objektif mengenai operasi entitas,
mengevaluasinya dan melihat apakah operasi tersebut telah memenuhi standar yang
dapat diterima dan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan; dan menyediakan
informasi untuk pengambilan keputusan oleh manajemen.

Istilah proses yang sistematis mengimplikasikan langkah-langkah audit


terencana yang dirancang untuk memenuhi tujuan-tujuan audit. Istilah tersebut juga
memiliki makna bahwa auditor internal akan menerapkan persyaratan profesional
dalam melakukan audit, serta menerapkan penelaahan yang tepat saat
mengumpulkan, menyusun, mencatat, dan mengevaluasi bahan bukti audit.

Persyaratan profesional berarti kebebasan penuh dari segala bias yang


akan mempengaruhi pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti. Bebas dari bias
dicapai melalui independensi dan objektivitas, baik dalam kenyataan maupun
persepsi. Objektifitas nyata muncul dari perilaku mental yang tidak memihak,
perilaku yang mendasarkan pada pengetahuan dan menuilai bukti benar-benar
murni dalam kenyataannya tanpa memandang orang yang menyediakannya.
Penilaian seperti ini harus dicapai tanpa memedulikan perasaan, prasangka, opini,
dan kepentingan, serta tekanan dari pihak eksternal.

Tujuan

Field Work bertujuan untuk membantu pemberian keyakinan dengan


melaksanakan prosedur-prosedur audit yang ada di program audit, sehingga
menjadi sesuai dengan tujuan audit yanag ingin dicapai.

2| P a g e
2. Pembuatan Strategi Untuk Melaksanakan Field Work
Tahap persiapan untuk melakukan pekerjaan lapangan dilakukan pada saat survei
pendahuluan telah diselesaikan dan program audit telah disiapkan. Bagian-bagian dari
rencana strategis mencakup:

1. Kebutuhan pegawai - merencanakan jumlah dan kualifikasi staf yang akan


melakukan audit.
2. Kebutuhan sumber daya dari luar (sumber dari luar, sumber dari mitra,
penggunaan ahli, peminjaman staf, dan sebagainya). menidentifikasi
kebutuhan sumber daya dari luar jika audit dilakukan pada hal yang bersifat
khusus dimana tidak adanya staf yang memiliki pengetahuan khusus tersebut.
3. Pengorganisasian staf audit mengidentifikasi apakah rencana berbentuk
ramping (dengan lapisan supervisi yang terbatas) atau gemuk (banyak lapisan
supervisi) tergantung pada kompleksitas kerja dan rentang kontrol yang
dibutuhkan.
4. Wewenang dan tanggung jawab - mencakup alur wewenang yang berkaitan
dan secara khusus menggambarkan otorisasi yang didelegasikan ke setiap lini
dan staf dalam tim audit.
5. Struktur pekerjaan lapangan - urutan-urutan progam audit direncanakan.
Aktivitas yang berurutan saling berhubungan untuk meyakinkan bahwa
terdapat susunan alur kerja.
6. Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan - Estimasi waktu harus mencakup
kebutuhan waktu untuk aspek aiministratif seperti penghubung
antarkelompok dan dalam kelompok, kebutuhan waktu untuk kegiatan non
operasi dan pendokumentasian serta penulisan draf laporan audit berisi hasil-
hasil pekerjaan lapangan.
7. Metode pekerjaan lapangan - Ada enam metode, yaitu: observasi, konfirmasi,
verifikasi, investigasi, analisis, dan evaluasi.
8. Metode pendokumentasian - melibatkan akumulasi bahan bukti dan
penyiapan kertas kerja. Bagian ini membutuhkan antisipasi hasil-hasil metode
pekerjaan lapangan dan juga penggunaan akhir dari audit.
9. Penyiapan laporan - Laporan harus dirancang dengan mempertimbangkan
pembaca dan pengguna. Pertimbangan kemampuan dan tanggapan pembaca
haruslah menjadi perhatian utama dalam rancangan dan isinya.

3| P a g e
10. Rencana kontingensi - Rencana harus memuat kondisi terbaik yang bisa
dicapai, yang biasa, dan yang terburuk.

3. Tim Audit dengan Pengarahan Mandiri

Tim merupakan sebuah unit operasional, yang sering kali terdiri dari ahli-
ahli dalam berbagai bidang audit, dan memiliki kepemimpinan dalam rotasi atau
dasar-dasar lainnya. Tim tersebut membuat keputusan sendiri, sering kali dengan
bantuan ahli yang bersama pimpinan tim memberikan keahlian dan bantuan dalam
proses pengambilan keputusan. Tim tersebut menerima tanggung jawab atas
pekerjaannya dan berbagi tanggung jawab bila terjadi kegagalan - termasuk pula
penghargaan dan bonus, jika ada, untuk pekerjaan yang bagus. Harus terdapat
resolusi mengenai tujuan-tujuan dasar organisasi, independensi, pekerjaan audit
yang tidak bagus, dan pengambilan keputusan yang tidak memadai.

Untuk beroperasi secara efektif, tim harus beranggotakan orang-orang yang


tidak egois dan sepakat untuk berbagi kepemimpinan. Pembimbing (yang
mungkin membimbing lebih dari satu tim) diberi banyak tanggung jawab
administratif. Karena lebih besarnya produktivitas dan efektivitas yang dimiliki
tim maka tim audit seperti ini dianggap sebagai aset operasional baru yang
potensial.

4. Audit Berhenti-Kemudian-Lanjut

Teknik "audit berhenti-kemudian-lanjut" membantu menghilangkan audit


dengan pengembalian yang rendah yang melewati proses penyaringan awal.
Konsep dasar di balik pendekatan berhenti-kemudian-lanjut adalah untuk
memberdayakan auditor lapangan untuk menghentikan audit, jika tidak ada
indikasi adanya risiko-risiko yang substansial atau tidak ada temuan-temuan
penyimpangan potensial. Saat audit tersebut dihentikan, auditor pindah ke audit
selanjutnya yang termasuk dalam rencana audit tahunan departemen.

Komite Audit dari Dewan Komisaris di Edison diperkenalkan dengan teknik


audit berhenti-kemudian-lanjut dan kemudian menerapkannya karena audit ini:

- Memaksa tuiuan aktivitas audit untuk memusatkan sumber dayanya pada hal-
hal berisiko tinggi dan aktivitas-aktivitas dari perusahaan (yaitu bekerja pada

4| P a g e
titik tinggi dalam kurva prioritas) dan memberikan Komite Audit keyakinan
bahwa rebih banyak upaya audit yang dihabiskan pada hal-hal tersebut daripada
bidang-bidang berisiko rendah.

- Memungkinkan fleksibilitas auditor untuk berhenti-kemudian-lanjut, guna


mengurangi atau meningkatkan lingkup audit, dan memotivasi auditor untuk
fokus pada aktivitas-aktivitas perusahaan yang akan menghasilkan temuan-
temuan yang paling bermanfaat dan bernilai tinggi bagi organisasi.
- Meningkatkan jumlah audit di atas cakupan audit minimum, karena auditor
melakukan lebih banyak audit dengan jangka waktu yang lebih pendek setiap
tahun.
5. Control Self-Assessment
Control self-assessment (CSA) merupakan salah safu jenis audit partisipatif.
Audit tersebut diterapkan untuk mendapatkan informasi yang terbukti sulit untuk
dikumpulkan oleh staf audit tradisional.

Bisa jadi kejadian yang mendorong inovasi ini menjadi menonjol adalah
pengembangan konsep COSO tentang kontrol internal. Konsep ini
mengidentifikasi aspek-aspek kontrol internal yang kurang substantif
dibandingkan metode tradisional yang sedang dipertimbangkan. Control self-
assessment memperbaiki kekurangan ini dengan menggunakan staf untuk
mengevaluasi aspek-aspek kontrol internal ini berdasarkan apa yang mereka lihat,
alami, dan praktikkan.

Metode yang digunakan adalah mengembangkan semacam pertemuan yang


dilakukan staf audit, tetapi terdiri dari karyawan klien yang akan mengevaluasi
dan mengukur aspek-aspek dari kontrol internal. Peserta audit internal membuat
pertanyaan dan masalah yang akan didiskusikan. Peserta dari klien membahas
bahan-bahan tersebut dan mencapai kesimpulan mengenai diterapkannya aspek-
aspek kontrol internal dan efektivitas yang sedang didiskusikan. Mereka juga
berusaha mengidentifikasi penyebab masalah dan aktivitas perbaikan yang
mungkin.

6. Bagian-bagian Field Work

Tujuan-tujuan audit terkait dengan tujuan-tujuan operasi, namun memiliki


maksud yag berbeda. Tujuan-tujuan audit dirancang untuk menentukan apakah

5| P a g e
tujuan-tujuan operasi tertentu telah dicapai. Tujuan audit dicapai dengan
menerapkan prosedur-prosedur audit untuk menentukan apakah prosedur-prosedur
operasi berfungsi sebagaimana mestinya dan mencapai tujuan-tujuan operasi.
Tujuan operasi ditetapkan oleh manajemen. Tujuan audit ditetapkan oleh auditor.

Prosedur-prosedur audit adalah sarana-sarana yang digunakan auditor untuk


memenuhi tujuan-tujuan auditnya. Prosedur-prosedur audit merupakan langkah-
langkah dalam proses audit yang menjadi pedoman bagi auditor dalam
melaksanakan penelaahan yang direncanakan, berdasarkan tujuan-tujuan audit
yang ditetapkan.

7. Audit SMART

Metode audit SMART (Selective Monitoring and Assessment of Risks and


Trends) merupakan gabungan penentuan risiko dan audit analitis. Hal ini
dimaksudkan untuk mencerminkan efektivitas sistem kontrol internal dan
memungkinkan auditor untuk dengan segera mengidentifikasi masalah-masalah
potensial, tren yang tidak menguntungkan dan fluktuasi-fluktuasi yang tidak
normal. Metode ini menggunakan indikator-indikator kunci sebagai elemen
dasar dari proses audit. Terdapat empat tahap dalam audit SMART yaitu:

Pemilihan bidang-bidang kunci untuk pengawasan dan penentuan;


Pengembangan indikator-indikator kunci untuk pengawasan dan penentuan;
Implementasi;
Pemeliharaan teknik-teknik audit SMART.
Indikator-indikator kunci yang dimaksud di atas adalah:

Penuh makna
Tepat waktu
Sensitivitas
Keandalan
Dapat diukur
Praktis

6| P a g e
RMK BAB VII

Pekerjaan Lapangan II

1. Teknik Audit Internal


Teknik-teknik audit seperti melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan,
menganalisis, memverifikasi, menginvestigasi, dan mengevaluasi diterapkan pada
beragam kondisi dalam mengumpulkan bahan bukti audit.

Teknik teknik tersebut dapat digunakan sendiri sendiri maupun gabungan,


namun diterapkan dalam kerangka tertentu tergantung pada subjek yang diaudit
dimana hasil akhirnya adalah rekomendasi dan opini audit.

2. Jenis Penugasan Audit


Berikut jenis penugasan audit:

a.Audit Fungsional
Audit fungsional (functional audit) adalah audit yang mengikuti proses dari
awal hingga akhir, melintasi lini organisai. Audit ini bertujuan untuk menentukan
seberapa baik fungsi-fungsi dalam organisasi akan saling berinteraksi dan bekerja
sama.

Audit fungsional memiliki kesulitan khusus karena luas dan cakupannya. Audit
fungsional yang bernilai bagi sebuah organisasi mencakup audit atas:

Pemesanan, penerimaan, pembayaran bahan baku dan perlengkapan.

Pengiriman langsung perlengkapan atau jasa ke departemen pengguna.

Penerapan perubahan pada produk.

Pengumpulan, pemisahan, dan penjualan barang sisa.

Pengendalian dan praktik keselamatan.

Program untuk mendeteksi konflik kepentingan.

Pengelolaan asset asset modal.

7| P a g e
Formulasi anggaran.

Fungsi fungsi pemasaran.

Dalam melakukan audit fungsional, dan audit jenis lainnya, auditor internal
harus selalu menyadari apa yang diharapkan oleh manajemen senior dari auditor
internal. Setiap organisasi diarahkan dan dipimpin oleh keputusan manajemen.
Keputusan yang baik tergantung keputusan yang tepat.

Dalam semua auditnya, auditor internal, sebagai konsultan sekaligus mitra bagi
manajemen, harus mengevaluasi informasi yang menjadi pengambilan dasar
pengambilan keputusan oleh manajemen dan memastikan bahwa sistem kontrol
berfungsi seperti yang diinginkan.

Manajemen puncak mengharapkan auditor internal mempraktikan indra keenam


untuk menemukan kemungkinan masalah tetapi sebelum solusi diberikan, auditor
harus didukung oleh fakta dan angka angka yang tak terbantahkan. Karena itu
manajemen senior mengharapkan auditor memiliki karakteristik berikut dalam
penugasannya:

Menguasai teknik teknik audit internal.

Mampu menetapkan sumber sumber informasi faktual.

Memiliki kapasitas untuk secara mendalam menganalisis informasi yang


diterima.

Memiliki kemampuan untuk membuat rekomendasi berdasarkan bukti bukti


yang kuat.

Memiliki sifat bersungguh sungguh, penuh intgegritas, dan rendah hati dalam
melakukan semua penugasan audit.

b. Audit Organisasional (dan Evaluasi Produktivitas)


Audit organisasional (organizational audit) tidak hanya memperhatikan
aktifitas yang dilakukan dalam organisasi tetapi juga dengan kontrol administratif
yang digunakan untuk memastikan bahwa aktifitas-aktifitas tersebut dilaksanakan.
Oleh karena itu auditor tertarik pada seberapa baik manajer organisasi memenuhi
tujuan organisasi dengan sumber daya yang ada.
8| P a g e
Khususnya dalam organisasi yang besar dengan berbagai operasi dan fungsi,
auditor disarankan untuk menetukan seberapa baik manajemen melakukan
pengelolaan, seberapa baik transaksi yang mengalir atau mengucur melalui saluran
pipa organisasi. Tolak ukur audit atau standar yang diterapkan pada operasi
organisasi dibangun dari elemen elemen yang membentuk kontrol adiministratif
yang dapat diterima.

Auditor internal harus mengetahui prinsip - prinsip perencanaan yaitu


menetapkan tujuan, membuat kebijakan dan prosedur, mempertahankan kontinuitas,
dan menilai ulang rencana dan sasaran dalam kondisi yang berubah. Mereka harus
mengenal prinsip - prinsip pengorganisasian yaitu pemberian tanggung jawab,
pendelegasian wewenang, dan pengembangan staf.

Auditor internal harus mengetahui prinsip - prinsip pengarahan yaitu


kepemimpinan, motivasi, dan komunikasi. Mereka harus mengenal prinsip - prinsip
kontrol yaitu menetapkan standar, mempertahankan standar, melatih karyawan agar
mematuhi standar, menerapkan sistem persetujuan dan penelaahan, memastikan
kepatuhan terhadap standar, merencanakan sistem pencatatan, pelaporan, dan
kontrol induk, serta mengawasi keseluruhan proses yang sedang berjalan.

Setiap organisasi harus ditelaah produktivitasnya yaitu efisiensi dan efektivitas


pengguna sumber daya yang dipercayakan kepada manajer. Meningkatkan
produktivitas merupakan kunci bertahannya organisasi dalam lingkungan yang
kompetetif.

3. Audit Terintegrasi
Konsep integrasi bisa luas dan mencakup aspek-aspek seperti penyediaan audit
yang berlaku sebagai:

Audit berkelanjutan atas elemen-elemen neraca dan operasional dalam audit


kinerja.

Pelaksanaan audit tetap tahap varians dari koperasi klien yang biasanya akan
diaudit secara terpisah.

Sebuah latihan dalam audit partisipasif yang klien:


9| P a g e
- Membantu perencanan audit, dan/atau

- Berpartisipasi dengan staf dalam pelaksanaan audit.

Sebuah audit yang sebenarnya menggabungkan berbagai tahap audit internal


yang berbeda seperti:

- Audit keuangan.

- Audit kinerja.

- Audit sistem informasi.

Jelasnya tingkat integritas tergantung pada:

Ukuran staf audit.

Keahlian yang dimiliki staf atau yang tersedia melalui sumber-sumber luar.

Filosofi audit yang dipegang manajemen organisasi dan organisasi audit.

Tingkat aktivitas teknologi di klien dan organisasi audit.

Biaya manfaat dari pengoperasian audit semacam itu.

4. Bukti Audit

Bukti audit (audit evidence) adalah informasi yang diperoleh auditor internal
melalui pengamatan suatu kondisi, wawancara, dan pemeriksaan catatan. Bukti audit
harus mempunyai dasar nyata untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti
audit terdiri dari :

Bukti fisik

Bukti fisik (physical evidence) diperoleh dengan orang, property, dan kejadian.
Bukti ini dapat berbentuk pernyataan observasi oleh pengamat atau oleh foto, bagan,
peta, grafik (bukti grafik bersifat persuasive), atau gambar lainnya.

Bukti Pengakuan

10| P a g e
Bukti pengakuan (testimonial evidence) berbentuk surat atau pernyataan
sebagai jawaban atas pertanyaan. Bukti ini tidak bersifat menyimpulkan, jika
dimungkinkan masih harus didukung oleh dokumentasi.

Bukti Dokumen

Bukti dokumen (documentary evidence) merupakan bentuk bukti audit yang


paling biasa. Dokumen bisa eksternal (mencakup surat atau memorandum yang
diterima pleh klien, faktur dari pemasok, dan lembar pengemasan) maupun internal
(dokumen yang dibuat dalam organisasi klien mencakup catatan akuntansi, salinan
korespondensi ke pihak luar, laporan penerimaan melalui email, dll).

Sumber bukti dokumen mempengaruhi keandalannya, sebuah dokumen


eksternal yang diperoleh langsung dari sumbernya lebih andal dibandingkan dokumen
yang didapatdari klien.

Bukti Analitis

Bukti analitis (analitycal evidence) berasal dari analisis dan verifikasi. Sumber
bukti ini adalah perhitungan, perbandingan dengan standar yang ditetapkan, operasi
masa lalu, operasi yang serupa, dan hukum atau regulasi, pertimbangan kewajaran,
dan informasi yang telah dipecah ke dalam bagian-bagian kecil

11| P a g e