Anda di halaman 1dari 245

https://sites.google.

com/site/thomchrists/dunia-gaib-mahluk-halus/mahluk-halus

Penggolongan Mahluk Halus

Secara umum orang-orang awam maupun paranormal dan praktisi supranatural menyebut nama
jenis mahluk halus berdasarkan penampakan sosoknya, misalnya semua sosok hitam besar berbulu
di sekujur tubuhnya disebut gondoruwo. Atau yang bersosok ular disebut siluman. Atau yang
bersosok perempuan berjubah putih panjang sampai ke tanah disebut kuntilanak. Tetapi seringkali
penyebutan jenisnya berdasarkan sosok-sosok tersebut tidak selalu tepat, karena banyak mahluk
halus yang sosoknya serupa, tetapi sebenarnya dari jenis yang berbeda.

Begitu juga terjadi di dunia manusia, misalnya manusia mengelompokkan jenis binatang berdasarkan
anatomi tubuhnya, misalnya singa, harimau, phanter, macan tutul, macan kumbang, dsb,
dikelompokkan sebagai jenis "kucing besar", walaupun perwatakan mereka sama sekali tidak mirip
dengan kucing. Yang wataknya bisa dikategorikan mirip dengan kucing mungkin hanya hewan-hewan
seperti cheetah, kucing hutan dan kucing gunung.

Berdasarkan hemat penulis, seringkali sikap berpikir dan generalisasi pengelompokkan mahluk halus
berdasarkan sosok wujudnya, selain tidak selalu tepat, juga dapat menjadi kendala yang jika terjadi
masalah dengan suatu mahluk halus tertentu menyebabkan penanganannya menjadi sulit, bahkan
keliru.

Ada beberapa kriteria dasar pengertian yang Penulis gunakan dalam menilai mahluk halus untuk
membedakan jenis-jenisnya, karakternya dan tentang pengaruh keberadaannya masing-masing
terhadap manusia. Diperlukan suatu kemampuan kebatinan - spiritual khusus untuk dapat
melakukan pembedaan ini ketika kita menemukan sesosok mahluk halus tertentu, sehingga mungkin
apa yang Penulis tuliskan disini akan berbeda sekali dengan pengertian orang-orang lain pada
umumnya.

Penulis membuat penggolongan besar mahluk halus bukan sekedar berdasarkan penampakkan
sosok wujudnya saja seperti yang sudah diungkapkan dalam tulisan : Hakekat Wujud dan Watak
Mahluk Halus, tetapi juga berdasarkan pandangan dari sisi asal-usulnya, sifat energinya, sifat
pengaruh energinya dan 'rasa' energinya, dan penilaian atas karakter dan perwatakannya yang
merupakan bagian yang mendasar dari sisi kepribadian suatu mahluk halus yang akan membedakan
antara suatu mahluk halus dengan mahluk halus lainnya, walaupun sosok wujudnya mirip.

Untuk belajar mendeteksi keberadaan mahluk halus, mencaritahu sifat perwatakannya, tujuan dan
pengaruh keberadaannya, dapat dibaca dalam tulisan : Olah Rasa dan Kebatinan dan Ilmu Tayuh /
Menayuh Keris.

Berdasarkan kriteria penilaian di atas, terhadap masing-masing jenis mahluk halus dilakukan
penggolongan yang akan membedakannya antara satu jenis dengan jenis lainnya, sehingga jenis
kuntilanak, gondoruwo, peri, sukma / arwah, dsb, akan berbeda dengan jenis bangsa jin dan berbeda
juga dengan jenis bangsa buto. Sehingga walaupun sosok wujud penampakan bangsa jin banyak
yang mirip dengan sosok dan wujud mahluk halus lain, tetapi rasa dan sifat energinya berbeda,
kekuatan dan karakternya juga berbeda, sehingga bisa diketahui bahwa walaupun sosok
penampakannya sama, tapi sebenarnya mereka tidak sama, berbeda jenisnya.
Penulis melakukan pembedaan mahluk halus dengan penggolongan sbb :

1. Penggolongan mahluk halus berdasarkan asal-usulnya.

2. Penggolongan mahluk halus berdasarkan "rasa" energinya.

3. Penggolongan mahluk halus berdasarkan sifat energinya.

4. Penggolongan mahluk halus berdasarkan sifat pengaruh energinya.

5. Penggolongan mahluk halus berdasarkan sifat perwatakannya.

Semua penggolongan itu menggunakan kriteria dasar yang kita sendiri akan bisa juga
mempelajarinya dan kriterianya didasarkan juga dari sisi pengaruhnya masing-masing terhadap
manusia.

1. Penggolongan mahluk halus berdasarkan asal-usulnya

Berdasarkan asal-usulnya, semua mahluk halus dibagi dalam 2 kelompok pokok :

Pertama : Makhluk halus yang aslinya adalah roh / sukma manusia.

Kedua : Makhluk halus yang asli tercipta sebagai makhluk halus.

Yang termasuk dalam kategori pertama, yaitu makhluk halus yang aslinya adalah roh / sukma
manusia, adalah arwah manusia, roh manusia yang moksa, roh sedulur papat, roh manusia yang
merogoh sukma, pocong, dan bangsa siluman.

Bangsa siluman disini asal-usulnya adalah sukma manusia, yang karena sesuatu sebab, mungkin juga
karena kutukan, setelah kematiannya kemudian wujud sukmanya berubah menjadi sosok lain yang
tidak sama lagi dengan sosoknya dulu ketika masih hidup, atau mungkin karena kekuatan ilmunya,
kemudian sifat energinya berubah menjadi seperti bangsa jin, yang tidak lagi sama dengan sifat
energi sukma manusia pada umumnya (baca : Bangsa Siluman).

Yang termasuk dalam kategori kedua, yaitu makhluk halus yang asli tercipta sebagai makhluk halus,
adalah jenis-jenis mahluk halus lain yang sejak awal memang sudah tercipta sebagai mahluk halus,
yang aslinya tidak berasal dari manusia yang dulu pernah hidup, seperti bangsa kuntilanak,
gondoruwo, jin, buto, bidadari, dsb.

Pembedaan asal-usul sesosok mahluk halus apakah aslinya berasal dari sukma manusia ataukah
sebenarnya merupakan jenis mahluk halus yang lain adalah pembedaan yang bersifat sangat
mendasar dan penting (sekaligus juga sensitif), karena terkait dengan rahasia kehidupan manusia
yang sudah meninggal dan rahasia kehidupan manusia di alam roh.

Banyak tabir rahasia yang tidak terungkap mengenai kehidupan manusia sesudah kematiannya.
Sekalipun sebenarnya banyak manusia yang bisa mengetahuinya, namun seringkali justru manusia
sendiri yang menutup-nutupinya, ditambah lagi adanya pandangan yang dengan sengaja
membelokkan pemahaman manusia dan menjadikannya tabu untuk dibicarakan, menyebabkan
rahasia ini menjadi semakin tersamar, yang kemudian justru memunculkan banyak cerita mitos dan
tahayul, pengkultusan dan syirik, yang tidak jelas kebenarannya. Padahal sebenarnya inilah hakiki
dari semua kepercayaan kepada Tuhan.

Kesalah-pemahaman dan salah penafsiran tentang rahasia itu telah banyak menyebabkan manusia
yang telah berada di alam roh merasa bingung mendapati kondisi yang tidak pernah terbayangkan
semasa hidupnya dan sama sekali berbeda dari apa yang pernah diketahuinya. Adanya kekeliruan
pemahaman dan salah penafsiran telah membelokkan manusia dari pemahaman yang benar,
padahal nantinya semua manusia juga akan membuktikan sendiri kebenarannya, karena semua
manusia juga nantinya akan berpindah ke alam roh, yang juga menyebabkan manusia yang masih
hidup, sekalipun tekun beribadah dan merasa beriman, tidak akan pernah siap menerima
kematiannya dan tidak tahu nantinya akan kemana.

Secara spiritual sesosok mahluk halus sukma manusia / arwah bisa ditelusuri hubungannya dengan
seseorang (perihal garis keturunan seseorang dengan leluhurnya), sedangkan mahluk halus dari jenis
lain secara umum tidak ada kaitan keturunan dengan manusia.

Dalam tulisan Kesaktian Mahluk Halus Penulis sudah menuliskan sifat energi mahluk halus yang
membedakan roh / sukma manusia dengan jenis mahluk halus lain. Dari perbedaan sifat energinya
itu akan menjadi semakin jelas apakah sesosok halus yang ditemui oleh manusia sebenarnya adalah
bangsa jin, kuntilanak, dsb, walaupun mengaku-aku atau menampakkan diri sebagai sosok sukma
manusia tertentu yang sudah meninggal. Mengenai kehidupan manusia yang sudah berada di alam
roh, Penulis sudah menuliskannya dalam tulisan berjudul Roh Manusia / Sukma / Arwah.

Upaya penggolongan-penggolongan yang lain di bawah ini akan semakin memperjelas perbedaan
asal-usul suatu sosok mahluk halus apakah aslinya berasal dari sukma manusia ataukah sebenarnya
merupakan jenis mahluk halus lain yang aslinya bukan sukma manusia.

2. Penggolongan mahluk halus berdasarkan "rasa" energinya

Penggolongan mahluk halus berdasarkan rasa energinya ini dimaksudkan untuk kita mendeteksi
keberadaan mereka dari keberadaan energi mereka, dengan cara merabanya dengan tangan atau
mendeteksi menggunakan kepekaan rasa batin, dan juga untuk merasakan hawa / suasana yang
ditimbulkan oleh adanya mereka, misalnya suasana teduh atau panas, angker atau wingit, damai
atau menakutkan, dsb.

Dalam cara merasakan keberadaan sesosok mahluk halus dengan merasakan kehadiran energinya ini
akan lebih baik bila kita sebelumnya menyalurkan energi kita ke tangan, sehingga sentuhan atau
benturan energi yang terjadi akan lebih dapat dirasakan. Untuk belajar mempertajam kepekaan rasa
pada tangan kita atau dengan menggunakan kepekaan rasa batin dapat dibaca di tulisan berjudul
: Olah Rasa dan Kebatinan.

Mahluk halus, selain sukma manusia, seperti jin atau gondoruwo, keberadaan energinya lebih
terasa, lebih besar, tebal dan padat, diibaratkan seperti rasa ketika kita menggerakkan tangan di
dalam air, lebih padat terasa. Hawanya ada yang terasa hangat, ada yang panas menyengat, ada juga
yang dingin seperti uap es.
Makhluk halus yang merupakan roh / sukma manusia, keberadaan energinya, bila diraba dengan
tangan, energinya sangat halus, hampir tidak terasa. Bisa diibaratkan kita menggenggam atau
menangkap asap dengan tangan kosong, halus, hampir tak terasa. Bila terasa biasanya hanya seperti
gerakan angin saja. Hawanya biasanya terasa hangat, tetapi ada juga yang dingin.

Bangsa siluman yang asal-usulnya adalah sukma manusia, bila yang berubah hanya wujudnya saja,
maka sifat energinya masih sama dengan sukma manusia yang lain. Bila yang berubah adalah sifat
energinya, maka bila keberadaan energinya kita rasakan dengan telapak tangan, maka rasanya tidak
lagi seperti asap atau gerakan angin seperti umumnya sukma manusia, tetapi sama seperti bila kita
merasakan keberadaan energi jin atau dedemit, yaitu lebih padat, lebih terasa, ibaratnya seperti
menggerakkan tangan di dalam air.

Kita perlu mengenal sifat dan rasa energi masing-masing jenis mahluk halus. Masing-masing jenis
mahluk halus memancarkan suatu rasa energi tertentu sesuai sifat energinya dan sesuai
perwatakannya masing-masing. Misalnya, jenis kuntilanak atau gondoruwo memancarkan rasa
energi sendiri-sendiri dan mempunyai kekuatan dan kepadatan energi sendiri-sendiri yang berbeda
dengan jenis mahluk halus lainnya. Sehingga kalau ada bangsa jin yang sosoknya serupa dengan
kuntilanak atau gondoruwo, kita akan bisa mengenali dengan rasa bahwa itu sebenarnya adalah
bangsa jin, bukan kuntilanak atau gondoruwo, karena rasa energinya berbeda.

Semua kuntilanak atau gondoruwo kekuatannya dan sifat energinya sama sesuai jenisnya masing-
masing. Jika ada sesosok halus lain, walaupun sosok wujudnya mirip, tetapi jika kepadatan energi
dan kekuatannya berbeda, maka bisa dipastikan bahwa itu sebenarnya bukanlah jenis kuntilanak
atau gondoruwo, walaupun sosoknya mirip.

Roh / sukma manusia biasanya energinya halus, tetapi tajam, sehingga kalau ada jenis bangsa jin,
atau kuntilanak atau dhanyang yang menyamar sebagai sukma seseorang yang sudah meninggal,
kita akan bisa mengetahui bahwa itu adalah tipuan, karena energi mereka lebih padat / tebal tidak
seperti energi sukma manusia.

Dalam melihat gaib mungkin akan lebih baik kalau kita bisa meminta sosok halusnya untuk duduk
atau berdiri di hadapan kita atau di samping kita untuk berkomunikasi, sehingga akan lebih jelas
tampilan sosoknya dan lebih terasa hawa energinya, bukan hanya berupa gambaran sosoknya saja.

Energi suatu roh halus apakah terasa hangat, panas atau dingin, biasanya melambangkan juga
perwatakannya.

Secara umum, hawa energi mahluk halus akan terasa hangat pada tangan kita.

Bila hawanya terasa panas, ini menggambarkan perwatakannya yang keras dan menonjolkan
kewibawaan, sebagiannya juga emosional dan mudah marah. Sebaiknya kita berhati-hati bila berada
di lingkungan gaib yang berhawa panas.

Bila hawanya terasa sejuk, ini menggambarkan perwatakannya yang bisa menahan diri, tidak mudah
marah.

Bila hawanya terasa dingin seperti uap es, ini menggambarkan sosok gaibnya tidak mengedepankan
emosinya, banyak yang lebih mengedepankan naluri / instingnya.
Hawa panas di atas tidak selalu menggambarkan perwatakan sosok gaib yang galak / ganas, tetapi
lebih menggambarkan perwatakannya yang keras dan menonjolkan kewibawaan, tetapi sebagiannya
memang juga emosional dan mudah marah.

Hawa dingin di atas juga bukan berarti menggambarkan perwatakan sosok gaib yang kalem / teduh,
tetapi lebih menggambarkan perwatakannya yang tidak mengedepankan emosi, banyak yang lebih
mengedepankan naluri / instingnya.

Banyak sosok gaib yang hawa energinya dingin seperti uap es, tetapi jauh lebih galak dan ganas dan
jauh lebih berbahaya daripada yang hawanya panas. Contohnya adalah sosok-sosok gaib yang
seperti macan kumbang (macan hitam), yang seperti ular, dan yang seperti ular naga jawa (berbadan
dan berkepala seperti naga, tetapi tidak berkaki). Sosok-sosok itu biasanya jauh lebih ganas dan
berbahaya daripada yang hawanya panas. Biasanya juga tidak emosional. Dari rasa / hawa energinya
tidak terasa kondisi psikologisnya karena lebih mengedepankan naluri / instingnya yang sewaktu-
waktu dapat menyerang tanpa ada sebab / alasan yang jelas.

Jadi dalam rangka mengenal kepribadian sesosok mahluk halus, selain hawanya, kita juga harus tahu
dengan tepat sosok wujudnya, karena sosok wujudnya itu juga menggambarkan bentuk
kepribadiannya.

Dari rasa energinya kita juga bisa membedakan apakah sesosok mahluk halus itu adalah arwah
manusia ataukah roh lain seperti jin, dsb. Tetapi ini hanyalah patokan awal, tidak bisa dijadikan
patokan mutlak, karena ada juga mahluk halus lain yang rasa energinya halus mirip seperti sukma
manusia.

Masing-masing jenis mahluk halus mempunyai sifat dan kepadatan energi sendiri-sendiri. Misalnya
roh sukma manusia keberadaan energinya terasa halus seperti hembusan angin saja. Jenis
kuntilanak juga terasa halus, tetapi energinya lebih terasa dibanding sukma manusia. Keberadaan
energi jenis gondoruwo lebih padat terasa daripada jenis kuntilanak dan menimbulkan rasa yang
tidak baik untuk kesehatan manusia, seperti rasa udara / cuaca yang menyebabkan sakit panas
dalam, nggreges-nggreges, dan keberadaannya di sekitar tempat tinggal manusia dapat
menyebabkan manusia menjadi mudah sakit-sakitan, terutama anak-anak dan bayi.

Rasa keberadaan energi mahluk halus jenis buto mirip seperti rasa keberadaan energi gondoruwo,
tetapi kadarnya jauh lebih padat dan bertekanan. Para mahluk halus, sekalipun tidak dapat melihat
wujudnya yang buto setelah mereka merasakan adanya kehadiran buto dari rasa energinya, mereka
akan segera menyingkir menyelamatkan diri, karena energinya sangat kuat dan terasa penuh dengan
sifat adigang-adigung sok kuasa penuh hawa kekerasan.

Rasa keberadaan energi bangsa jin sangat bervariasi, lebih banyak dipengaruhi oleh perwatakannya
yang keras atau lembut dan tingkat kesaktiannya. Yang perwatakannya keras / emosional
keberadaan energinya akan lebih terasa daripada yang perwatakannya kalem / lembut. Semakin
tinggi kesaktiannya pancaran energinya lebih besar dan lebih kuat, tetapi energinya itu semakin
halus dan semakin sulit dirasakan (semakin sulit dideteksi). Semakin tinggi kesaktiannya
penampakan wujudnya juga semakin sulit dilihat (dimensi gaibnya semakin tinggi), sehingga secara
umum bangsa jin yang kesaktiannya tinggi sulit sekali sosok wujudnya terlihat oleh manusia, bahkan
keberadaannya terdeteksi saja tidak, sehingga jarang sekali ada manusia yang bisa melihat mereka,
tetapi banyak orang yang sok tahu dan memunculkan dogma dan pengkultusan yang tidak benar,
yang tidak sesuai kesejatiannya.

Mahluk halus bangsa dewa sangat sulit dirasakan kehadiran energinya, sangat halus, dan sangat sulit
dilihat, bahkan para mahluk halus sendiri pun banyak yang tidak bisa melihat bangsa dewa, bahkan
tidak menyadari keberadaan para dewa, walaupun ada dewa hadir di dekat mereka.

Secara alami aura energi masing-masing mahluk halus akan terpancar pada jarak tertentu sesuai
kekuatan energinya. Pancaran energi ini akan dirasakan manusia sebagai penyebab rasa merinding
takut, tetapi bagi yang pernah olah rasa atau melatih kebatinan tertentu pancaran energi mahluk
halus dapat dirasakan berupa rasa sesak di dada pada jarak yang lebih jauh sebelum muncul rasa
merinding.

Rasa merinding itu juga bisa dibedakan. Jika rasa itu berasal dari adanya sesosok bangsa jin biasanya
rasa merindingnya terasa berat dan rasanya seperti "mencengkeram" dan ada juga yang sampai
menyebabkan orang lemas ketakutan. Tetapi jika rasa itu berasal dari adanya sesosok sukma
manusia biasanya rasa merindingnya hanya terasa tajam menusuk.

Secara alami pada umumnya jati diri dan keberadaan mahluk halus tidak ingin diketahui oleh
manusia. Sosok-sosok halus yang menimbulkan rasa merinding itu adalah karena mereka dengan
sengaja menunjukkan keberadaannya kepada manusia untuk maksud tertentu. Kalau tidak begitu
maka keberadaan mereka tidak akan menimbulkan rasa merinding, mungkin terasakan saja tidak.

Biasanya semakin tinggi kekuatan gaib mahluk halus, walaupun pancaran energinya besar, tetapi
pancaran energinya semakin halus dan semakin sulit dirasakan oleh manusia (juga semakin sulit
dilihat) dan keberadaan sosok itu juga tidak menimbulkan rasa merinding, sehingga keberadaan
mahluk halus yang kesaktiannya tinggi akan sangat sulit dideteksi keberadaannya oleh manusia.
Kadangkala sesama mahluk halus pun tidak bisa melihat mahluk halus lain yang kekuatannya jauh di
atasnya, tetapi masih bisa merasakan kehadiran energinya, sehingga bila mereka merasakan
kehadiran energinya, maka mereka akan berhati-hati dan menyingkir.

Cara merasakan keberadaan sesosok mahluk halus dengan merasakan kehadiran energinya ini dapat
dilakukan dengan merasakan getaran / setruman energinya di telapak tangan kita, akan lebih baik
bila kita sebelumnya menyalurkan energi kita ke tangan, sehingga sentuhan atau benturan energi
yang terjadi akan lebih dapat dirasakan. Untuk belajar mempertajam kepekaan rasa pada tangan kita
dapat dibaca di : Olah Rasa dan Kebatinan.

Selain belajar mempertajam kepekaan rasa di tangan kita, tulisan di atas juga memberikan tuntunan
untuk kita belajar mempertajam kepekaan rasa batin, sehingga walaupun keberadaan sesosok
mahluk halus tidak terasakan kehadiran energinya, dan tidak dapat dilihat dengan kemampuan
melihat gaib, tetapi kita bisa mendeteksi keberadaannya dengan adanya rasa berat di dada pada
jarak yang lebih jauh sebelum muncul rasa merinding.

Secara alami semua mahluk halus akan memancarkan suatu hawa / aura energi dari tempat
keberadaannya masing-masing yang sesuai dengan sifat psikologis dan perwatakan mahluk
halusnya. Bila kita sudah cukup peka rasa dan batin, kita akan dapat mengenali dari hawa / aura
energinya itu apakah sesosok mahluk halus itu bersikap bersahabat atau tidak, sedang marah atau
tidak, sedang sedih atau tidak, apakah sifat wataknya menonjolkan kesaktian dan kegagahan, apakah
sifat energinya baik atau tidak untuk manusia, apakah keberadaannya berbahaya untuk kita, dsb.

Dan masing-masing rasa energi mahluk halus itu berbeda, rasa energinya berbeda antara sukma
manusia, bangsa jin, kuntilanak, gondoruwo, buto, dsb, dan juga berbeda rasanya bila energi itu
berasal dari adanya mustika dan pusaka di alam gaib bila ada keberadaannya di dekat kita, sehingga
tanpa melihat sosok wujudnya, dari pengenalan rasa itu kita bisa mengenali sosok halus jenis apa
yang ada di suatu tempat. Rasa energi itu akan terasa ketika kita datang / berada di suatu tempat
sebagai rasa gaib dari suasana alam di tempat tersebut, sesudah itu barulah digunakan kemampuan
melihat gaib untuk menegaskan sosok wujudnya seperti apa.

3. Penggolongan mahluk halus berdasarkan sifat energinya

Para mahluk halus dapat membuat suatu bentukan energi, yang dapat dijadikan perisai energi
pagaran diri untuk perlindungan dan bertahan dari serangan mahluk halus lain, atau menyalurkan
energinya untuk menyerang, atau untuk merubah penampilan wujudnya, atau untuk banyak tujuan
yang lain.

Kemampuan para mahluk halus dalam membuat bentukan energi itu akan membedakan jenisnya
bahwa mereka bukanlah roh manusia, karena roh manusia tidak dapat melakukan itu.

Secara umum dipahami bahwa sifat fisik mahluk halus adalah bersifat energi. Perbedaan sifat fisik
energi ini akan membedakan antara mahluk halus yang adalah sukma manusia dengan mahluk halus
lain yang bukan sukma manusia, walaupun menampakkan suatu sosok yang serupa. Sudah dituliskan
dalam tulisan Hakekat Wujud dan Watak Mahluk Halus bahwa sosok wujud mahluk halus tidaklah
menggambarkan kesaktiannya. Kesaktian mahluk halus harus secara khusus diukur masing-masing
kekuatan energinya berikut perbedaan sifat dan kemampuan energi mahluk halus yang itu akan
membedakan apakah sesosok mahluk halus adalah sukma manusia atau bukan, selengkapnya dapat
dibaca di : Kesaktian Mahluk Halus.

Selain yang sengaja disalurkan keluar tubuh, aura energi dari keberadaan sesosok mahluk halus juga
akan terpancar dalam jarak tertentu yang akan dirasakan oleh manusia sebagai bersifat baik atau
tidak baik, bersifat positif atau negatif, menyebabkan rasa tertekan di dada, atau menimbulkan rasa
merinding. Jika si mahluk halus dengan sengaja membuat merinding manusia, bila asalnya dari jenis
sukma manusia, maka rasa merindingnya hanya akan terasa tajam saja, tetapi jika asalnya dari jenis
mahluk halus lain, selain merindingnya terasa tajam, juga akan memberikan rasa berat di dada
(karena adanya tekanan energi mereka).

4. Penggolongan mahluk halus berdasarkan sifat pengaruh energinya

Penggolongan ini didasarkan pada pengaruh energi masing-masing mahluk halus terhadap
manusia.

1. Golongan Berenergi Positif.

Adalah golongan mahluk halus yang energinya selaras dengan energi tubuh dan psikologis manusia.

Jika manusia hidup berdekatan dengan mereka, manusia tidak akan mengalami gangguan kesehatan
tubuh ataupun psikologis. Kedekatan manusia dengan mahluk halus tersebut mungkin malah dapat
dirasakan menambah energi dan semangat hidup manusia. Tetapi walaupun begitu, bila mahluk
halus tersebut "menempel" di tubuh manusia, biasanya si manusia akan merasakan sakit pegal-pegal
di tubuhnya atau merasakan pusing ringan, karena tidak tahan dengan keberadaan energinya.

Jadi selama mahluk halus tersebut tidak menempel di tubuh manusia, manusia dan sang mahluk
halus dapat hidup berdampingan.

2. Golongan Berenergi Negatif.

Adalah golongan mahluk halus yang energinya tidak selaras dengan energi tubuh dan psikologis
manusia (energinya bersifat negatif bagi manusia).

Walaupun hanya berdekatan dengannya, manusia dapat mengalami gangguan kesehatan tubuh
ataupun psikologis, pengaruh energinya bisa menjadikan manusia mudah sakit-sakitan, atau
memunculkan banyak sakit-penyakit atau menjadikan mudah marah dan bertengkar. Apalagi bila
mahluk halus tersebut menempel atau berdiam di tubuh manusia, biasanya akan menjadikan si
manusia mengalami sakit cukup berat atau mengalami sakit kepala berat.

Jadi manusia dan mahluk halus tersebut tidak dapat hidup berdampingan, apalagi kalau mahluk
halus tersebut sampai menempel / bersemayam di dalam tubuh manusia.

Sebagai contoh, sudah biasa bila sebuah rumah atau di sekitarnya ada berpenghuni mahluk halus.
Bila para mahluk halus tersebut energinya bersifat positif, maka manusia yang berdiam di rumah itu
akan baik-baik saja. Bahkan mungkin ada mahluk halus yang pancaran energinya menjadikan
manusia bersemangat dalam bekerja, menjadikan orang senang untuk datang berkunjung (dan
menambah jumlah pengunjung warung / toko), mendatangkan suasana teduh, ceria, tenteram, dsb.

Dalam batasan ini dianggap bahwa pengaruh energi keberadaan mereka itu bersifat positif bagi
manusia dan manusia tidak perlu merasa takut atau terganggu dengan keberadaan mereka. Dan
juga tidak perlu sampai mendatangkan orang pinter untuk melakukan pembersihan gaib, karena
justru nantinya malah bisa merubah keseimbangan alam yang ada, atau dikemudian hari malah
mengundang datangnya mahluk halus lain, yang mungkin ada yang bersifat negatif, untuk tinggal
disitu.

Tetapi bila di antara para mahluk halus tersebut ada yang berenergi negatif, walaupun mahluk
tersebut tidak berniat dan tidak berbuat mengganggu ataupun menyerang, pancaran energi dari
keberadaannya dapat berpengaruh negatif bagi manusia di rumah itu.

Contohnya adalah mahluk halus jenis dedemit gondoruwo, jenis bangsa jin yang sosoknya hitam
tinggi besar, dan yang sosoknya putih, berwajah menyeramkan, matanya mendelik keluar dan kuku-
kukunya panjang. Pengaruh negatif energinya terhadap manusia adalah menjadikan manusia sakit
atau mudah sakit-sakitan, dari sakit kulit, masuk angin, pegal-pegal, mulas-mencret, sakit kepala
sampai kanker atau yang penyakit lain yang sampai menyebabkan kematian, atau bisa menyebabkan
keguguran dan kematian anak di dalam kandungan, atau jika ada jenis bangsa jin yang energinya
berhawa panas akan menyebabkan manusia mudah marah dan bertengkar, tidak betah tinggal di
rumah, malas bekerja, orang malas datang berkunjung, warung / toko sepi pengunjung, dsb.
Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa sakit-penyakit kulit, sakit perut mulas-mencret,
meriang, kepala pusing, kanker / tumor, kanker otak, kanker rahim, kista rahim, kerusakan ginjal,
liver, keguguran dan kematian anak di dalam kandungan, dsb, tidak semuanya awalnya semata-mata
bersifat medis, dan kondisi manusia mudah marah dan bertengkar, tidak betah tinggal di rumah,
malas bekerja, orang malas datang berkunjung, warung / toko sepi pengunjung, dsb, tidak semuanya
bersifat psikologis asli manusia, karena asal-muasal penyebab terjadinya bisa juga adalah akibat dari
pengaruh energi keberadaan sesosok mahluk halus, bisa sebagai efek dari keberadaan mahluk halus
berenergi negatif di sekitar tempat tinggal si manusia, atau kepemilikan jimat dan benda gaib yang
tidak baik isi gaibnya.

Bila seseorang telah beberapa kali mengalami kejadian keguguran kehamilan, atau bayi meninggal di
dalam kandungan, atau sering sakit-sakitan (terutama anak-anak), selain orangnya memeriksakan
dirinya secara medis, perlu juga diperiksa kemungkinan adanya keberadaan mahluk halus berenergi
negatif di lingkungan tempatnya tinggal.

Sakit manusia yang disebabkan oleh adanya mahluk halus di dalam tubuh manusia (ketempelan /
kesambet / disantet), selain dapat diketahui dengan cara penglihatan gaib, juga dapat diketahui bila

diraba / dipijat / diurut pada bagian yang sakit akan terasa ada hawa yang berbeda, atau ada rasa
setruman listrik tipis, yang berbeda dengan bagian tubuhnya yang lain (bila tangan yang meraba
cukup peka). Untuk melatih / belajar cara mendeteksinya silakan dibaca tulisan berjudul : Olah Rasa
dan Kebatinan. Contoh pengaruh perbuatan atau keberadaan sesosok mahluk halus terhadap
manusia bisa dibaca di : Pengaruh Gaib thd Manusia.

Penggolongan mahluk halus dari pengaruh energinya terhadap manusia, berpengaruh positif
ataukah negatif, dapat dijadikan patokan untuk melakukan pembersihan gaib, yang dibersihkan
hanyalah yang bersifat negatif saja terhadap manusia (baca : Pembersihan Gaib).

Pengertian tentang mahluk halus berenergi negatif di atas termasuk juga khodam jimat / benda gaib
/ pusaka dan khodam ilmu / pendamping yang berenergi negatif dan yang energinya berhawa panas.
Atau juga yang semula normal, tetapi karena ada sugesti dari si manusia untuk kewibawaan /
penundukkan, atau sugesti untuk keselamatan / penjagaan gaib yang sifatnya menyerang / agresif,
maka kemudian khodam-khodamnya juga akan terpengaruh mengikuti isi sugestinya menjadi galak
dan berhawa panas, yang akibatnya dapat merusak suasana nyaman dalam pergaulan / hubungan
sosial, membuat pembeli enggan datang, membuat orangnya dijauhi, atau mengganggu jalan
kerejekian dan hubungan kerja. Apalagi kalau orangnya juga sok berwibawa, perilakunya tidak
bersahabat, atau menjadi temperamental mudah emosi.

Contoh lainnya yang energinya bersifat negatif terhadap kesehatan manusia adalah jenis halus
sukma manusia yang tinggal bersemayam di tubuh manusia yang masih hidup, di dalam badannya
atau di dalam kepalanya (ketempatan mahluk halus). Jika sukma manusia itu berdiam di dalam
kepala, biasanya akan sering membuat kepala pusing, dan jika tinggal di dalam badan bisa membuat
banyak organ dalam tubuh manusia yang ditempatinya rusak berat karena kebebanan energinya.
Ada sejenis bangsa jin yang sosoknya berbulu hitam tinggi besar yang sering sekali menjadi khodam
ilmu / pendamping seseorang, atau menjadi penghuni benda-benda gaib dan jimat, perabotan, atau
tinggal di rumah manusia. Penulis tidak menggolongkan jenis ini sebagai bergolongan putih atau

hitam, tetapi sosok halus jenis ini berenergi negatif yang pengaruh energinya itu dapat
memunculkan sakit-penyakit di tubuh manusia, apalagi jika ada sosok jenis ini yang tinggal
bersemayam di dalam tubuh manusia yang dapat menyebabkan si manusia sampai mengalami
gangguan kejiwaan.

Jenis bangsa jin hitam tinggi besar itu juga sebagian besar berintelijensi rendah yang sering dalam
usahanya mencari tempat tinggal mereka masuk bersemayam di dalam tubuh manusia. Akibatnya,
selain si manusia dapat mengalami gangguan kesehatan dan pikirannya, juga banyak yang sampai
mengalami gangguan jiwa (gila). Tentang ini Penulis sudah menuliskan fenomenanya dalam halaman
berjudul Pengaruh Gaib thd Manusia.

Keberadaan mahluk halus tersebut di dalam tubuh atau di dekat manusia mungkin tidak
berpengaruh negatif untuk yang sengaja dipasang sebagai khodam ilmu / pendamping, atau khodam
benda gaib, karena mahluk halus itu sebelumnya sudah menyelaraskan dahulu energinya dengan
energi si manusia.

Tetapi jika jenis itu datang sendiri kepada manusia atau datang sendiri masuk menjadi "isi" benda
gaib kita, kemungkinan besar ia masih dalam kondisi aslinya yang memancarkan energi negatif,
sehingga si manusia tetap beresiko mendapatkan pengaruh negatif energinya terhadap kesehatan
dan psikologisnya dan beresiko suatu saat khodam tersebut masuk bersemayam di dalam tubuhnya.

Jika sosok jin hitam itu menjadi khodam ilmu / pendamping manusia, keberadaannya itu dapat
menjadi khodam bagi si manusia, tetapi sebagian besar nantinya akan menyulitkan dalam proses
kematian si manusia.

Jika sosok jin hitam itu tinggal bersemayam di dalam badan manusia, keberadaannya itu dapat
menjadi khodam kekuatan bagi si manusia, tetapi nantinya pasti akan menyulitkan dalam proses
kematian si manusia.

Dalam kondisi aslinya memang sosok jin hitam besar itu berenergi negatif. Jenis itu bisa dengan
mudah diusir hanya dengan mengoleskan minyak jafaron ke bendanya. Tetapi jika anda sudah
mempunyai benda-benda gaib yang khodamnya adalah bangsa jin hitam tinggi besar tersebut,
sebaiknya dicoba dulu bendanya / khodamnya diwiridkan amalan gaib yang sesuai dengan tuah yang
anda inginkan, misalnya diwiridkan amalan gaib untuk tuah kekuatan badan, pengasihan, penglaris
dagangan, dsb (amalan gaibnya bisa dicari di internet). Mudah-mudahan sesudah tersugesti
mengikuti isi amalan gaibnya sosok hitam itu akan berubah karakter energinya, tidak lagi berenergi
negatif seperti aslinya dan nantinya intelijensi mereka menjadi lebih baik sehingga tidak akan
memberatkan dalam proses kematian manusia.

Tips lain. Jika anda mempunyai benda berkhodam semisal batu akik yang isinya bangsa jin berbulu
hitam tinggi besar tersebut, jika benda itu bertuah biasanya tuah utamanya adalah untuk kekuatan
badan, dengan isi khodam jenis itu biasanya batu anda itu, jika dipakai, tuahnya kuat dan terasa,
bagus sebagai jimat, jadi mungkin bisa dipertimbangkan untuk tidak diusir.
Cobalah dengan cara sambat persuasif atau dengan cara-cara tayuhan seperti dicontohkan dalam
tulisan berjudul Ilmu Tayuh Keris khodam batunya itu diperintahkan supaya merubah energinya
menjadi positif dan selalu positif, supaya tidak lagi berenergi negatif dan tidak perlu lagi anda usir
dengan jafaron.

Dengan cara-cara itu usahakan supaya khodamnya benar-benar berubah menjadi berenergi positif
dan selalu dipantau apakah benar kondisinya selalu positif dan ditayuh juga apakah jika batunya
dioleskan minyak jafaron khodamnya itu masih akan pergi. Kalau masih berenergi negatif maka
khodamnya akan pergi jika batunya dioleskan minyak jafaron, tetapi jika sudah benar-benar berubah
menjadi positif dan selalu positif, khodamnya tidak akan pergi oleh minyak jafaron. Coba juga anda
rasakan apakah rasa energi negatifnya atau rasa mengganggu ketika memakai cincin itu masih ada
terasa.

Lebih baik lagi kalau dengan cara-cara persuasif itu anda bisa juga mengsugesti khodam jin berbulu
hitam itu untuk merubah wujudnya secara permanen menjadi bersosok seperti manusia, sehingga
intelijensinya pun akan menjadi lebih baik, karena ia akan menjiwai kondisi wujudnya yang sudah
seperti manusia, tidak lagi seperti sebelumnya yang seperti orang utan. Sampaikan juga jika nanti ia
mempunyai pasangan dan anak, pasangan dan anaknya itu pun supaya berubah wujud juga menjadi
seperti manusia.

Jin berbulu hitam itu aslinya memang berenergi negatif, entah dia baik ataukah jahat.

Kita bisa memerintahkannya untuk memperbaiki kondisi energinya menjadi positif, tapi itu tidak
langgeng, sewaktu-waktu bisa kembali lagi negatif seperti aslinya.

Lebih baik kalau dia, pasangannya dan anak-anaknya kita perintahkan merubah wujud menjadi
seperti manusia.

Sesudah berubah kemudian disuruh juga supaya mereka merubah energinya supaya positif sesuai
dengan wujudnya dan psikologisnya yang sudah seperti manusia. Dengan begitu perubahannya akan
bersifat langgeng.

Sebaiknya berubahnya energinya menjadi positif sampai benar-benar mereka tidak terpengaruh lagi
oleh minyak jafaron, karena kalau masih terpengaruh minyak jafaron berarti energi positifnya tidak
100% positif, masih ada negatifnya.

Kalau benar kondisinya sudah positif dan selalu positif, maka khodamnya itu tidak perlu lagi anda
usir dengan minyak jafaron. Batunya dioleskan dengan minyak jafaron pun sekarang khodamnya
tidak akan pergi, bahkan minyak jafaron itu sekarang bisa menjadi sesajinya.

Masukan-masukan di atas adalah untuk orang-orang yang memiliki sosok jin hitam besar tersebut
sebagai khodam benda gaibnya, bukan untuk orang-orang yang di dalam badannya sudah
ketempatan jenis halus tersebut dan bukan untuk orang-orang yang memiliki jenis halus itu sebagai
khodam ilmu / pendamping. Untuk orang-orang itu sebaiknya mereka melakukan pembersihan gaib.
Cara merubah negatif menjadi positif di atas bisa juga dilakukan terhadap khodam pendamping jenis
itu, tetapi Penulis tidak merekomendasikan itu. Untuk khodam pendamping sebaiknya anda memiliki
yang intelijensinya lebih baik daripada jenis itu.

Sosok jin hitam tinggi besar itu dan sosok-sosok halus lain yang berenergi negatif, jika dianggap
mengganggu, atau ingin diusir, keberadaannya dapat dibersihkan / diusir / akan pergi jika kita
mengoleskan minyak jafaron pada benda-benda kita atau ke tubuh kita jika kita ketempatan mahluk
tersebut, atau kita mandi dengan campuran minyak jafaron. Mereka juga akan pergi setelah terkena
asap bakaran minyak jafaron. Tatacara pembersihannya silakan dibaca dalam tulisan
berjudul Pembersihan Gaib 2.

Penggolongan positif dan negatif dalam tulisan ini adalah berdasarkan pengaruh energi dari sesosok
mahluk halus terhadap manusia. Tetapi ada orang lain yang menyebutkan suatu mahluk halus
bersifat positif atau negatif dari sifat mahluk halusnya apakah bertendensi menyerang manusia
ataukah tidak. Perbedaan dalam menggolongkan sifat mahluk halus ini, yang berbeda dasar
pengertiannya walaupun menggunakan istilah yang sama positif dan negatif, cukuplah untuk
menjadi tambahan pengetahuan bagi kita.

5. Penggolongan mahluk halus berdasarkan sifat perwatakannya

Penggolongan ini didasarkan pada sifat perwatakan masing-masing mahluk halus dan pengaruhnya
terhadap manusia (juga pengaruhnya terhadap mahluk halus lain).

1. Golongan Putih.

Adalah golongan mahluk halus yang perwatakannya tidak berkecenderungan jahat terhadap
manusia. Bukan berarti mereka tidak berbahaya dan tidak akan mencelakakan / menyerang
manusia, tetapi tidak berkecenderungan bersikap jahat dan tidak bertendensi menyerang /
menyakiti manusia. Walaupun begitu, manusia tetap harus berhati-hati dan waspada, karena dapat
saja suatu saat mereka menyerang / menyakiti manusia, tetapi selama tidak ada perbuatan manusia
yang salah, manusia dan mahluk halus tersebut dapat hidup berdampingan.

2. Golongan Hitam.

Adalah golongan mahluk halus yang perwatakannya berkecenderungan jahat terhadap manusia.
Sifat jahatnya ini bisa dalam bentuk perbuatannya yang sengaja menyakiti dan membuat manusia
sakit, membuat manusia celaka, bahkan sengaja membunuh manusia, bisa juga perbuatannya yang
sengaja menipu / menyesatkan manusia. Jadi, manusia harus berhati-hati dan waspada, karena
dapat saja mereka mengganggu, mencelakakan atau menyesatkan manusia, walaupun tidak ada
perbuatan si manusia yang menyalahi mereka. Manusia dan mahluk halus tersebut tidak dapat
hidup berdampingan.

3. Golongan Abu-Abu.

Di tengah-tengah antara golongan hitam dan putih, ada mahluk halus yang aura kejiwaannya
berwarna abu-abu. Biasanya mereka adalah mahluk halus kelas rendah yang terpengaruh oleh yang
golongan hitam. Biasanya mereka suka usil, menakut-nakuti, mengganggu dan mencelakakan
manusia, dan suka dengan sengaja bersikap merendahkan manusia dan menipu / menyesatkan
manusia. Manusia dan mereka tidak dapat hidup berdampingan.

4. Golongan Yang Harus Diwaspadai.

Ada golongan mahluk halus yang secara perwatakannya tidak digolongkan sebagai putih, hitam, atau
abu-abu, tetapi harus diwaspadai dan dihindari.

Jenis-jenis ini dinilai dari sifat karakternya yang berbeda dari jenis mahluk halus lainnya yang umum,
sehingga keberadaan mereka bisa mendatangkan bahaya bagi manusia, sehingga harus diwaspadai.

Contohnya adalah mahluk halus yang sulit dibaca jalan pikirannya dan lebih sering menggunakan
insting atau nalurinya dalam bertindak, seperti yang sosoknya berwujud ular, gondoruwo, banaspati
dan buto. Jenis-jenis ini bisa menyerang tanpa alasan yang jelas, apalagi kalau kaget atau merasa
terancam.

Juga ada jenis bangsa jin yang sosoknya tinggi besar dan berbulu hitam di seluruh tubuhnya seperti
gondoruwo. Jenis ini tidak mempunyai sikap berpikir seperti manusia, intelijensinya rendah, lebih
banyak bertindak berdasarkan insting dan perasaannya. Dalam usahanya mencari tempat tinggal
banyak mahluk halus jenis ini menjadikan tubuh manusia sebagai tempatnya tinggal yang sering
sekali akibatnya menjadikan si manusia mengalami kelainan atau gangguan jiwa (gila).

Ada juga sosok-sosok halus tertentu yang harus diwaspadai karena perilakunya yang tidak
bersahabat terhadap manusia (juga tidak bersahabat terhadap mahluk halus lain).

Jenis halus lain yang harus diwaspadai adalah mahluk halus dari jenis sukma / arwah manusia yang

tinggal di dalam benda-benda gaib atau benda-benda antik / kuno dan yang tinggal / bersemayam di
dalam tubuh manusia yang masih hidup, di dalam badan atau di dalam kepalanya.

Mengenai perbuatan-perbuatan mahluk halus dan efek perbuatan mereka terhadap manusia sudah
Penulis tuliskan dalam halaman berjudul Pengaruh Gaib thd Manusia.

Kecenderungan jahat atau tidaknya sesosok mahluk halus tidak perlu ditunggu sampai benar mereka
berbuat jahat, karena dapat dilihat dari aura kejiwaannya. Bila aura kejiwaannya berwarna putih
bersih berarti dia berwatak baik, tidak berkecenderungan jahat, sebaliknya bila aura kejiwaannya
berwarna hitam seperti asap knalpot bus / truk, berarti sifat dasar wataknya jahat.

Pengertian tentang mahluk halus golongan hitam di atas tidak terbatas pada kondisi dan sifat-sifat
asli mahluk halusnya yang golongan hitam. Dalam pengertian ini, semua jenis mahluk halus, selain
yang berasal dari jenis sukma manusia (arwah / pocong / siluman) juga akan berubah menjadi
golongan hitam / abu-abu jika mereka mengeluarkan rasa jahat / marah atau sering melakukan
perbuatan jahat. Contohnya adalah mahluk halus gol.putih yang sering diperintahkan untuk
menyakiti seseorang (khodam teluh / santet) atau jika kita kesambet. Dalam keadaan itu mereka
akan berubah menjadi golongan hitam / abu-abu.
Sebenarnya banyak sekali fenomena perbuatan gaib yang tidak semuanya bisa kita sebutkan satu
per satu kejadiannya, baik yang dilakukan oleh gol.putih maupun gol.hitam, atau abu-abu, entah
perbuatannya ditujukan langsung kepada manusia ataupun menggunakan manusia sebagai
perantaraan perbuatan mereka, entah si manusia menyadarinya ataukah tidak. Jika kita mengetahui
/ menyadarinya, maka kita harus berwaspada terhadap tujuan dari perbuatan gaibnya itu dan efek
resikonya, jangan sampai perbuatannya itu dilandasi oleh tujuan yang negatif / jahat dan efeknya
merugikan kita.

Penulis mengelompokkan mahluk halus dari sisi perwatakan mereka bukan hanya gol.putih dan
hitam / abu-abu saja, tetapi ada juga yang tidak digolongkan sebagai hitam atau putih, tetapi adalah
golongan mahluk halus yang harus diwaspadai.

Yang dari gol.putih bukan berarti mereka adalah dari golongan yang pasti baik dan bukan juga
berarti tidak akan mencelakakan / merugikan manusia, tetapi penekanannya adalah bahwa mereka
sehari-harinya, baik berada di sekitar manusia ataukah tidak, tidak berkecenderungan jahat
terhadap manusia, sedangkan yang gol.hitam dan abu-abu sehari-harinya sudah berpikiran jahat /
jahil / iseng terhadap manusia, banyak efek / potensi negatifnya bagi manusia. Juga ada
pengelompokan golongan mahluk halus yang harus diwaspadai, karena memang perbuatan mereka
seringkali sebelumnya tidak terduga dan bisa merugikan / mencelakakan manusia.

Jadi terhadap suatu perbuatan mahluk halus atau keberadaannya, bila kita mengetahui /
menyadarinya, entah golongan putih ataukah dari golongan yang lain, kita tetap harus waspada,
terutama adalah pada potensi efek pengaruh dan resikonya terhadap kita.

Golongan Mahluk Halus Yang Harus Diwaspadai

Selain yang dari perwatakannya digolongkan putih, hitam atau abu-abu, ada mahluk halus yang dari
sisi perwatakannya tidak digolongkan putih atau hitam, tetapi harus diwaspadai dan dihindari. Jenis-
jenis ini dinilai dari sifat karakternya yang berbeda dari jenis mahluk halus lainnya yang umum,
keberadaan mereka berpotensi negatif bagi manusia, bisa mendatangkan bahaya sehingga harus
diwaspadai dan dihindari.

Misalnya mahluk halus yang sosoknya berwujud ular, atau jenis gondoruwo, banaspati dan buto.
Jenis-jenis itu sulit dibaca jalan pikirannya, dan lebih sering menggunakan insting atau naluri dalam
bertindak. Jenis-jenis itu bisa menyerang setiap saat tanpa alasan yang jelas, apalagi kalau kaget atau
merasa terancam.

Banyak bangsa jin yang sosok wujudnya ular. Ada yang besar, ada juga yang kecil. Ini berarti sosok
mahluk tersebut menggambarkan watak ular yang sulit ditebak jalan pikirannya, dan lebih banyak
menggunakan insting / naluri dalam bertindak, bisa menyerang tanpa sebab yang jelas. Dan sudah
pasti berintelijensi rendah. Jika menyerang manusia, mereka tidak memperhitungkan akibat
perbuatannya pada manusia itu, apakah akan menjadikannya sakit atau mati. Sebagian mahluk halus
berwujud ular ini ada yang suka bertempat tinggal / bersemayam / membuat sarang di dalam badan
manusia.
Aura kejiwaan sosok-sosok ular tersebut kebanyakan berwarna putih, artinya secara psikologis
mereka tidak berkecenderungan berlaku jahat kepada manusia maupun kepada mahluk halus lain.
Tetapi karena mereka lebih sering menggunakan insting atau nalurinya dalam bertindak, jenis ini
harus diwaspadai, karena mereka bisa menyerang kapan saja tanpa alasan yang jelas, apalagi kalau
kaget atau merasa terancam. Artinya, pada saat mereka menyerang itu mereka tidak bermaksud
berbuat jahat, hanya nalurinya saja yang membuat mereka melakukan itu. Karena itu jika mereka
ada di sekitar kita, maka keberadaannya harus diwaspadai dan harus dihindari.

Mahluk halus bersosok ular ini sering sekali menyerang manusia, membuat sakit manusia
(kesambet), karena tanpa sadarnya si manusia sudah menendang / menginjak si ular yang posisinya
memang di bawah seperti ular sungguhan di dunia manusia.

Ada juga jenis mahluk halus yang sebenarnya menurut pikirannya sendiri tidak bermaksud jahat
terhadap manusia, tetapi perilakunya begitu, dan aura perwatakannya memang juga abu-abu,
misalnya jenis Palasik, Wewe Gombel, Banaspati, dsb (baca : Bangsa Dedemit dan Bangsa Halus
Lain-lain).

Ada sejenis bangsa jin yang sosoknya berbulu hitam tinggi besar yang sering sekali menjadi khodam
ilmu / pendamping seseorang, atau menjadi penghuni benda-benda gaib dan jimat, atau tinggal di
perabotan dan rumah manusia. Penulis tidak menggolongkan jenis ini sebagai bergolongan putih
atau hitam, tetapi sosok halus jenis ini berenergi negatif yang pengaruh energinya itu dapat
memunculkan sakit-penyakit di tubuh manusia, apalagi jika ada sosok gaib jenis ini yang tinggal
bersemayam di dalam tubuh manusia yang dapat menyebabkan si manusia sampai mengalami
kelainan / gangguan kejiwaan.

Jenis bangsa jin hitam tinggi besar itu harus diwaspadai, karena sebagian besar berintelijensi rendah,
seperti orang utan, yang sering dalam usahanya mencari tempat tinggal mereka masuk bersemayam
di tubuh manusia. Akibatnya, selain si manusia dapat mengalami gangguan kesehatan, juga banyak
yang sampai mengalami gangguan jiwa (idiot dan gila). Tentang ini Penulis sudah menuliskan
fenomenanya dalam halaman berjudul Pengaruh Gaib thd Manusia.

Keberadaan mahluk halus jenis tersebut di dalam tubuh atau di dekat manusia mungkin tidak
berpengaruh negatif untuk yang sengaja dipasang sebagai khodam pendamping atau khodam ilmu,
atau khodam benda gaib, karena mahluk halus itu sebelumnya sudah menyelaraskan dahulu
energinya dengan energi si manusia.
Walaupun sosok jin hitam tinggi besar itu sudah tinggal dan menjadi khodam benda gaib maupun
khodam pendamping, karena intelijensinya yang rendah, tetap saja ada resiko bahwa sosok halus itu
suatu saat akan masuk bersemayam di dalam tubuh manusia, atau si manusia mendapatkan
pengaruh negatif energinya terhadap kesehatannya.

Jenis bangsa jin yang sosoknya hitam besar dan berbulu di seluruh tubuhnya (mirip gondoruwo) itu
sering menjadi penyebab manusia ketindihan yang akhirnya bisa sampai menyebabkan si manusia
mengalami gangguan jiwa.

Sosok jin hitam besar tersebut tidak dikategorikan putih atau hitam, tetapi dikategorikan sebagai
jenis mahluk halus yang harus diwaspadai, karena mereka tidak mempunyai sikap berpikir dan
perwatakan seperti manusia, intelijensinya rendah, perilakunya seperti orang utan atau gorilla, lebih
banyak bertindak berdasarkan insting dan perasaannya daripada pikirannya.

Umumnya jenis mahluk halus tersebut membutuhkan sesuatu sebagai tempat tinggalnya, bisa di
pohon, di rumah seseorang, batu kali, patung, batu akik, atau di tempat-tempat lain yang bahkan
mahluk halus lain tidak mau tinggal di dalamnya. Ada juga yang merasa cocok untuk masuk dan
tinggal di dalam tubuh manusia yang proses awalnya adalah apa yang biasa disebut ketindihan yang
akhirmya menjadikan si manusia sampai mengalami gangguan jiwa.

Jika sosok jin hitam itu menjadi khodam ilmu / pendamping manusia, keberadaannya itu dapat
menjadi khodam bagi si manusia, tetapi sebagian besar nantinya akan menyulitkan dalam proses
kematian si manusia.

Jika sosok jin hitam itu tinggal bersemayam di dalam badan manusia, keberadaannya itu dapat
menjadi khodam kekuatan bagi si manusia, tetapi nantinya pasti akan menyulitkan dalam proses
kematian si manusia.

Sosok halus hitam besar itu adalah dari jenis bangsa jin yang dalam kategori Penulis termasuk
mahluk halus yang kelasnya rendah dan daya pikirnya rendah. Sosok itu sendiri sebenarnya tidak
bermaksud mengganggu, tetapi kelas berpikirnya rendah, sehingga tidak bisa membedakan mana
tempat yang layak dan mana yang tidak untuk menjadi tempat tinggalnya. Tetapi ada beberapa
(sedikit) dari mereka yang kelihatannya tidak berbahaya dan tidak suka masuk ke dalam tubuh
manusia, sebagiannya tinggal di dalam benda-benda seperti batu akik (yang khodamnya alami,
bukan isian), sehingga perilakunya sama dengan yang golongan putih. Uraiannya tentang pengaruh
perbuatan mahluk halus tersebut sudah dituliskan dalam halaman berjudul Pengaruh Gaib thd
Manusia.
Dalam kondisi aslinya sosok jin hitam besar itu memang berenergi negatif. Jenis itu bisa dengan
mudah diusir hanya dengan mengoleskan minyak jafaron saja pada bendanya. Tetapi jika anda
mempunyai benda-benda gaib yang khodamnya adalah bangsa jin hitam tinggi besar tersebut,
sebaiknya dicoba dulu diberikan sesajinya misik putih dan bendanya diwiridkan amalan gaib yang
sesuai dengan tuah yang anda inginkan, misalnya diwiridkan amalan gaib untuk tuah kekuatan,
kewibawaan, penglaris dagangan, dsb (amalan gaibnya bisa dicari di internet). Mudah-mudahan
sesudah menerima sesajinya dan tersugesti mengikuti isi amalan gaibnya sosok hitam itu akan
berubah karakter energinya, tidak lagi berenergi negatif seperti aslinya dan nantinya intelijensi
mereka menjadi lebih baik lagi dan diharapkan tidak akan memberatkan dalam proses kematian.

Masukan di atas adalah untuk orang-orang yang memiliki sosok jin hitam besar tersebut sebagai
khodam benda gaibnya, bukan untuk orang-orang yang di dalam badannya sudah ketempatan jenis
halus tersebut dan bukan untuk orang-orang yang memiliki jenis halus itu sebagai khodam ilmu /
pendamping. Untuk orang-orang itu sebaiknya mereka melakukan pembersihan gaib.

Untuk yang di badannya sudah ketempatan mahluk halus tersebut sebaiknya segera membersihkan
dirinya dengan menggunakan minyak jafaron, sebaiknya jangan cuma mengoleskan minyaknya saja,
lebih baik mandi saja dengan campuran minyak jafaron supaya dengan cara mandi itu juga akan
membersihkan semua sisa energi negatif jin itu dari badannya.

Sosok jin hitam tinggi besar itu dan sosok-sosok halus lain yang berenergi negatif, jika dianggap
mengganggu, atau ingin diusir, keberadaannya dapat dengan mudah dibersihkan / diusir / akan pergi
jika kita mengoleskan minyak jafaron pada benda-benda kita atau ke tubuh kita jika kita ketempatan
mahluk tersebut, atau kita mandi dengan campuran minyak jafaron. Mereka juga akan pergi setelah
terkena asap bakaran minyak jafaron. Tatacara pembersihannya sudah dituliskan dalam halaman
berjudul Pembersihan Gaib 2.

Selain itu ada juga golongan mahluk halus yang perwatakannya tidak baik, yaitu mahluk halus yang
bersikap tidak bersahabat terhadap manusia maupun terhadap mahluk halus lain. Biasanya mereka
hidup sendiri atau tinggal di dalam komunitas yang perwatakannya sejenis. Mereka tidak menyukai
keberadaan mahluk lain di lingkungan keberadaannya. Biasanya mereka memancarkan aura energi
yang membuat mahluk lain tidak nyaman berada di dekatnya. Biasanya mereka sangat menonjolkan
kekuasaannya, kekuatannya dan akan menyerang siapa saja yang dianggap mengganggu dan
"menghukum" siapa saja yang dianggap melakukan "kesalahan" di lingkungan mereka.

Bila jenis mahluk ini berdiam di dalam sebuah rumah, toko, bangunan atau di suatu lokasi tanah
tertentu, maka rumah, bangunan dan lokasi itu akan terasa tidak nyaman, orang akan merasa takut
untuk datang, apalagi untuk tinggal di situ, warung dan toko akan dijauhi orang. Mereka akan
mengusir mahluk halus lain yang tidak sehaluan dan akan membuat berbagai macam gangguan
kepada manusia, atau membuat manusia celaka atau sakit, bahkan meninggal, supaya manusia tidak
tinggal disitu. Beberapa dari jenis mahluk halus ini akan merasa cocok mendampingi manusia yang
menonjolkan kekuatan, sok gagah, sok sakti, sok jagoan dan akan mengusir keberadaan khodam
pendamping manusia lain yang ditemuinya. Mereka juga akan memancarkan aura yang membuat si
manusia ditakuti dan menjadi tidak disukai oleh manusia lain.

Jenis-jenis mahluk halus yang perwatakannya negatif seperti tertulis di atas umumnya aura
kejiwaannya hitam atau abu-abu. Beberapa dari mereka (tidak semuanya) berasal dari jenis bangsa
jin, kuntilanak, peri yang tubuhnya tinggi seperti manusia, banaspati dan buto.

Selain yang tinggal di darat, ada banyak jenis itu yang merupakan jenis jin air. Jenis jin air ini tidak
menyukai kehadiran mahluk daratan, baik manusia maupun mahluk halus. Mereka bisa
mencelakakan siapa saja yang masuk ke lingkungan mereka. Karena itu kita, manusia, yang adalah
mahluk daratan, sebaiknya selalu berhati-hati ketika berada di lingkungan air, terutama di
lingkungan air yang tempatnya sepi dan jarang didatangi manusia (baca juga : Bangsa Jin Air dan Jin
Udara).

Jenis halus lain yang harus diwaspadai adalah mahluk halus dari jenis sukma / arwah manusia yang
tinggal di dalam benda-benda gaib atau benda-benda antik / kuno dan jenis sukma / arwah yang
tinggal bersemayam di tubuh manusia yang masih hidup, di dalam badan atau di kepala manusia.

Ada jenis halus sukma manusia (arwah) yang harus diwaspadai, yaitu yang tinggal menghuni di
dalam benda-benda gaib tertentu, seperti keris, batu akik, benda-benda antik / kuno, dsb. Tujuan
keberadaan mereka di dalam benda-benda itu adalah karena mereka membutuhkan tempat tinggal,
menjadikan benda-benda itu sebagai rumah mereka yang baru, bukan untuk menjadi khodam yang
memberikan tuah bagi manusia pemilik benda-benda itu. Seandainya ada benda-benda itu yang
menjadi milik kita, maka sebaiknya kita sangat berhati-hati dalam memilikinya, jangan sampai kita
melakukan kesalahan yang bisa menyebabkan sosok sukma di dalam benda-benda itu marah dan
"menegur" atau "menghukum" kita.

Ada juga mahluk halus sukma manusia (arwah) yang harus diwaspadai karena wataknya yang jelek
yang suka bersemayam di dalam tubuh manusia yang masih hidup, bersemayam di dalam badan
atau di kepala manusia, yang selain bisa menyesatkan jalan pikiran si manusia, memberikan banyak
bisikan gaib dan penglihatan gaib fiktif / ilusi / halusinasi, juga bisa mendatangkan kejadian-kejadian
gaib lain yang negatif.
Mahluk Halus Golongan Putih dan Hitam

Umumnya orang membedakan mahluk halus yang baik dan jahat atau golongan putih dan hitam dari
sosok wujud dan penampakannya. Jika perwujudannya kelihatan menyeramkan akan dikatakan tidak
baik / jahat, sebaliknya kalau perwujudannya bagus, ganteng / cantik, tutur katanya manis / lembut,
perilakunya bersahabat tidak kelihatan sebagai mahluk yang jahat / berbahaya, maka akan dikatakan
baik.

Yang di atas itu adalah yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam dalam menilai sesosok mahluk
halus, tetapi tidak sepantasnya orang-orang berilmu (dan yang mengaku mengerti gaib) melakukan
itu dalam menilai sesosok mahluk halus. Seharusnya mereka bisa melakukan pembedaan dengan
cara yang lebih baik lagi, bukan dengan cara awam seperti itu, karena dengan cara itu orang akan
mudah tertipu, apalagi kalau mahluk halusnya sengaja menipu mengelabui manusia dengan
menampakkan perwujudan dan perilaku yang kelihatan baik.

Penulis ada mengelompokkan mahluk halus dalam golongan putih dan golongan hitam dari sisi
perwatakannya.

Penekanan penggolongan putih dan hitam ini ada pada pembedaan sifat perwatakan mahluk
halusnya apakah dominan bersifat jahat / mencelakakan dan menyesatkan ataukah tidak.

Sekalipun banyak orang bisa melihat gaib, sekaligus juga ahli dalam hal agama, tetapi tidak
semuanya mampu mengenal dan membedakan karakteristik perwatakan mahluk halus apakah dari
golongan putih ataukah hitam dan menilai pengaruh / akibat perbuatan mereka terhadap manusia.
Tentang mahluk halus yang menyesatkan, yang mencelakakan, setan dan iblis, kebanyakan hanya
menjadi cerita saja dalam dunia kerohanian / agama, tetapi tidak banyak orang yang mampu
mengimplementasikan pengetahuannya tentang setan dan iblis dalam dunia nyata.

Cerita mengenai mahluk halus golongan putih dan hitam yang dituliskan di bawah ini sebagian
terkait dengan pandangan orang dalam beragama. Jika ada perbedaan pendapat mengenai yang
golongan putih dan hitam ini sebaiknya dibuktikan sendiri kebenarannya, jangan hanya
mendasarkan pendapat pada dalil dan dogma agama, karena seringkali yang nyata terjadi di dunia
tidak semuanya tertulis dalam agama.

Mahluk halus golongan putih adalah golongan mahluk halus yang perwatakannya tidak
berkecenderungan jahat terhadap manusia. Bukan berarti tidak jahat atau tidak berbahaya dan tidak
akan menyerang / mencelakakan manusia, tetapi tidak berkecenderungan bersikap jahat dan tidak
bertendensi mengganggu / menyakiti manusia. Walaupun begitu, manusia tetap harus berhati-hati
dan waspada, karena dapat saja suatu saat mereka menyerang / mencelakakan manusia, terutama
jika manusia "dianggap" melakukan kesalahan kepada mereka. Tetapi selama tidak ada perbuatan
manusia yang menyalahi mereka, tidak ada perbuatan manusia yang "dianggap" menyalahi mereka,
manusia dan mahluk halus tersebut dapat hidup berdampingan.

Mahluk halus yang dari golongan putih ini bukan berarti mereka adalah dari golongan yang pasti baik
dan bukan juga berarti tidak akan mencelakakan / merugikan manusia, tetapi penekanannya adalah
bahwa mereka sehari-harinya, baik berada di sekitar manusia ataupun tidak, tidak
berkecenderungan jahat terhadap manusia.

Mahluk halus golongan hitam adalah golongan mahluk halus yang perwatakannya
berkecenderungan jahat terhadap manusia. Sifat jahatnya itu bisa dalam bentuk perbuatannya yang
sengaja menyakiti dan membuat manusia sakit, membuat manusia celaka, bahkan sengaja
membunuh manusia, bisa juga perbuatannya yang sengaja menipu / menyesatkan manusia. Jadi,
manusia harus berhati-hati dan waspada, karena dapat saja mereka mengganggu, mencelakakan
atau menyesatkan, walaupun tidak ada perbuatan si manusia yang menyalahi mereka.

Mahluk halus golongan hitam dan abu-abu sehari-harinya sudah berpikiran jahat / jahil terhadap
manusia, banyak efek negatifnya bagi manusia. Manusia dan jenis halus tersebut tidak boleh hidup
berdampingan.

Mahluk halus, baik golongan putih maupun hitam, dari sisi pengaruhnya terhadap manusia ada 2
macam posisi keberadaannya.
Yang pertama adalah mahluk halus yang tidak tampak berinteraksi langsung dengan manusia.

Mahluk halus, golongan putih maupun hitam, apapun jenisnya, yang kesaktiannya tinggi, biasanya
hidup sendiri, tidak berkomunitas. Kalau berkomunitas, biasanya mereka berkomunitas dengan yang
sejenisnya saja dan kekuatannya setingkat. Yang kesaktiannya tinggi itu, walaupun kelihatannya
hidup sendiri, sebenarnya mereka juga berkomunitas, hanya saja sesuai tingkat kesaktian mereka
yang tinggi, dalam berkomunitas mereka tidak tinggal berdekatan, satu dengan lainnya bisa berjarak
puluhan, bahkan ratusan kilometer jauhnya, sehingga akan tampak bahwa mereka hidup sendiri.

Baik mereka hidup sendiri atau pun berkomunitas, selain yang berkesaktian rendah, banyak di
antara mereka adalah mahluk halus yang berkesaktian tinggi. Mereka tidak tampak berinteraksi
langsung dengan manusia. Jenis ini biasanya pengaruhnya tidak disadari oleh manusia karena
interaksinya dengan manusia tidak kelihatan langsung dan tidak terasa. Seringkali keberadaannya
saja tidak diketahui oleh manusia, karena semakin tinggi kekuatannya, akan juga semakin sulit untuk
dilihat. Walaupun pancaran energinya besar, tetapi energinya juga semakin halus dan semakin sulit
dideteksi keberadaannya.

Biasanya semua mahluk halus memancarkan suatu aura energi yang melingkupi area yang menjadi
wilayah kekuasaannya. Yang kesaktiannya tinggi (yang sampai ratusan atau bahkan ribuan kalinya
kesaktiannya Ibu Ratu Kidul) pancaran hawa energinya bisa melingkupi jarak yang sangat jauh, bisa
puluhan atau bahkan ratusan kilometer jauhnya. Sekalipun mereka hidup sendiri dan tampak tidak
berinteraksi langsung dengan manusia atau pun dengan mahluk halus lain, tetapi sebenarnya
mereka itulah yang pengaruhnya paling kuat dalam mempengaruhi psikologis para mahluk halus lain
dan manusia.

Secara fisiknya para mahluk halus adalah bersifat energi, sehingga secara alami dari tempat
keberadaannya mereka akan memancarkan suatu hawa energi yang sesuai dengan kondisi psikologis
dan sifat perwatakannya. Mahluk halus yang kesaktiannya tinggi, pengaruh hawa energi mereka
sangat kuat, pengaruhnya mencakup jarak yang jauh sampai beratus-ratus kilometer jauhnya, yang
bukan hanya akan mempengaruhi manusia, tetapi juga mempengaruhi mahluk halus lain di dalam
wilayah cakupan pancaran energinya. Hanya orang-orang yang tinggi tingkat kepekaan batinnya dan
tinggi spiritualitasnya saja yang bisa mendeteksi hawa pengaruh mereka. Berbeda dengan jenis
sukma manusia yang walaupun berkesaktian tinggi, tetapi pancaran aura energinya hanya beberapa
meter saja yang pancaran aura energinya itu menggambarkan hawa kekuatan kebatinan, kanuragan
atau spiritualnya.
Yang kedua adalah mahluk halus yang mudah diidentifikasikan berinteraksi langsung dengan
manusia dalam bentuk khodam ilmu, khodam pendamping, khodam jimat dan pusaka atau mahluk
halus lain yang tinggal di sekitar tempat tinggal manusia, atau yang tinggal di tempat-tempat / lokasi
yang ada interaksi langsung dengan manusia. Pengaruh perbuatan mereka lebih mudah untuk
diketahui, dan atas terjadinya suatu perbuatan gaib / kejadian gaib lebih bisa diidentifikasi sosok
halus pelakunya, karena ada interaksi antara mereka dengan manusia secara langsung maupun tidak
langsung.

Dengan demikian pengaruh dari mahluk halus golongan putih atau hitam yang berpengaruh
terhadap manusia bersifat kombinasi, yaitu kekuatan pancaran gaib dari mahluk halus yang hidup
sendiri, yang tidak tampak berinteraksi langsung dengan manusia, ditambah pengaruh dari yang
tampak ada interaksi dengan manusia. Dengan demikian, sekalipun manusia tidak secara langsung
berinteraksi dengan mahluk halus, manusia tetap berpotensi terpengaruh psikologisnya secara
positif atau pun negatif oleh pancaran gaib mahluk halus yang hidup sendiri.

Mahluk halus golongan putih, yang tampaknya hidup sendiri, yang tingkat kekuatan gaibnya tinggi,
dari tempat keberadaannya memancarkan hawa aura positif yang mempengaruhi psikologis manusia
dan mahluk halus lain. Manusia dan mahluk halus lain, yang eling dan menjaga kelurusan dan
kesucian hati dan pikiran, baik beragama ataupun tidak, akan terpengaruh menjadi semakin baik
kesadaran moralitas dan budi pekertinya.

Sedangkan mahluk halus golongan putih yang kekuatan gaibnya rendah, selain yang hidup sendiri di
dalam batu atau benda lain, biasanya hidup berkomunitas, sebagiannya hidup di lingkungan
manusia, sebagian lagi datang menjadi pendamping atau menjadi khodam ilmu dan jimat. Sebagian
dari mereka datang kepada manusia yang tekun bersemadi atau berdoa. Sebagiannya lagi datang
karena adanya sesaji, terutama sesaji dari orang-orang yang sedang mempraktekkan ilmu gaib dan
yang "ngalap berkah". Pengaruh keberadaan mereka biasanya tidak menyesatkan manusia, malah
ada yang tinggal di sekitar tempat tinggal manusia dengan sengaja membantu kehidupan manusia
tanpa diketahui dan tanpa meminta imbalan.

Mahluk halus golongan hitam, yang hidup sendiri, yang kekuatan gaibnya tinggi, melakukan
penyesatan tidak dengan mempengaruhi satu per satu individu, tetapi melakukannya secara masal,
yaitu dengan memancarkan hawa aura jahat yang mempengaruhi psikologis manusia dan mahluk
halus lain di dalam area pengaruhnya yang radiusnya bisa sampai beratus-ratus kilometer. Manusia
dan mahluk halus lain, beragama ataupun tidak, yang tidak eling dan tidak menjaga kelurusan dan
kesucian hati dan pikirannya akan menjadi terpengaruh, sehingga menjadi berhati dan berpikiran
jahat atau menjadi berperilaku menyimpang dari budi pekerti dan kesusilaan.

Mereka cukup cerdas dalam usahanya menyesatkan. Biasanya cara kerja mereka sangat halus.
Mereka menyerang sisi psikologis yang lemah pada manusia dan mahluk halus lain. Pada manusia
yang menganggap suci dan sakral urusan iman dan agama, mereka akan membelokkannya, sehingga
pemahaman kerohanian manusia menjadi menyimpang dan memunculkan sifat-sifat ke-Aku-an yang
kuat, yang menyimpang dari ajaran ketuhanan yang benar, menyimpang dari budi pekerti dan kasih.
Pada manusia yang suka bersenang-senang dan mengumbar keduniawiannya, mereka akan
menambah kuat kecenderungan sifat-sifat itu, sehingga korbannya akan semakin menyimpang dari
budi pekerti dan kesusilaan.

Sedangkan para mahluk halus golongan hitam dan abu-abu yang kesaktiannya rendah, selain yang
hidup sendiri di dalam batu atau benda gaib lain, biasanya hidup berkomunitas, sebagiannya hidup
di lingkungan manusia, sebagiannya lagi datang menjadi pendamping atau menjadi khodam ilmu dan
jimat (isian). Sebagian dari mereka datang kepada manusia yang tekun bersemadi atau berdoa.
Sebagiannya lagi datang karena adanya sesaji, terutama sesaji dari orang-orang yang sedang
mempraktekkan ilmu gaib dan yang "ngalap berkah". Keberadaan mereka, selain akan sengaja
menyesatkan manusia, juga akan dengan sengaja mengganggu, menyakiti atau mencelakakan
manusia.

Mahluk halus dari golongan abu-abu, yang suka usil, mengganggu atau mencelakakan manusia, atau
yang seringkali menakut-nakuti dan menipu dengan merubah wujudnya (jadi-jadian) menyerupai
mahluk halus lain, seperti menirukan wujud kuntilanak atau si muka rata, atau banaspati, atau
menyerupai sesosok manusia yang sudah meninggal, biasanya adalah mahluk halus kelas rendah dan
menengah, yang terpengaruh oleh yang golongan hitam. Selain terpengaruh secara psikologis,
mereka juga berada di bawah ancaman kekuatan mahluk halus golongan hitam yang lebih tinggi
kekuatannya.

Mahluk halus yang perwatakannya termasuk dalam golongan hitam dan abu-abu, keberadaannya
akan cenderung menyesatkan atau mencelakakan manusia. Dari sudut pandang pengaruhnya
terhadap manusia, mahluk halus dari golongan hitam dan abu-abu kami anggap sama dan sejenis,
jadi akan kami samakan penyebutannya sebagai golongan hitam.

Mahluk halus golongan hitam menyesatkan manusia dengan cara mengajarkan berbagai
pengetahuan dan keilmuan (melalui ilham yang mengalir dalam pikiran manusia), menyebabkan
manusia merasa hebat, sakti, merasa lebih tahu dan akhirnya akan menjadi sombong, atau dengan
mengajarkan kebijaksanaan dan ilmu agama dan mewujudkan banyak keinginan si manusia,
menyebabkan si manusia merasa dekat dengan Tuhan, karena merasa doa-doanya dikabulkan Tuhan
dan kata-katanya manjur selalu terjadi, merasa suci dan benar sendiri, merasa pantas menjadi tokoh
panutan atau bahkan merasa menjadi wakil / perantara Tuhan di bumi, hatinya akan dipengaruhi
menjadi sok suci dan benar, tetapi penuh dengan kebencian dan permusuhan dan akan juga
menyebarkan kebencian dan permusuhan, dan pikirannya akan penuh dengan ide-ide jahat untuk
mengumbar kebencian dan permusuhan itu (apalagi jika orangnya menjadi seorang pemimpin,
tokoh masyarakat atau tokoh agama).

Penyesatan itu awalnya tidak terasa dan sifatnya biasa-biasa saja, tetapi perlahan-lahan si manusia
akan diarahkan menjadi merasa hebat, kuat, sakti, dsb, yang ujung-ujungnya menyebabkan manusia
berperilaku tidak berbudi, atau mengarahkan si manusia menjadi merasa benar dan beriman lebih
daripada manusia yang lain, merasa dekat dengan Tuhan karena doa-doa dan kata-katanya manjur
selalu terjadi, merasa layak menjadi tokoh panutan atau merasa menjadi wakil Tuhan di dunia,
mempertuhankan agama, kemudian meningkat menjadi mempertuhankan dirinya sendiri yang akan
menganggap pendapat keagamaan dan ajarannya sebagai kebenaran mutlak dan akan
memaksakannya kepada orang lain. Ke-Aku-an manusia akan ditinggikan, sehingga masing-masing
manusia akan merasa "lebih" daripada orang lain dan akan menganggap orang-orang yang tidak
sejalan dengannya sebagai "rendah" dan sesat.

Penyesatan juga bisa dalam bentuknya menambah kuat kegemaran bersenang-senang dan
mengumbar nafsu duniawi, nafsu syahwat, keserakahan, ketamakan, kesombongan, berhati licik dan
penipu, kebencian, iri dan dengki, kebengisan, kekejian, kejahatan dan perilaku merusak, dan
perilaku-perilaku lain yang menyimpang dari budi pekerti dan kesusilaan, dan akan selalu mencari
pembenaran atas perbuatan-perbuatan yang menyimpang.

Mahluk halus golongan hitam sering mengikut kepada orang-orang yang rajin berdoa / zikir / wirid,
termasuk kepada orang-orang yang sering mengamalkan amalan doa atau amalan ilmu, apalagi
orang-orang yang kuat berdoanya karena kondisi yang terpaksa. Keberadaannya akan bersifat
menyesatkan, membuat doa-doa dan kata-katanya ampuh selalu terwujud, banyak mendapat
keberuntungan, membuat orangnya merasa benar jalan agama dan ibadahnya, tetapi pelan-pelan
dan halus orangnya akan disimpangkan menjadi jauh dari Tuhan, merasa benar sendiri dan akhirnya
orangnya akan memuliakan dirinya sendiri (kata-katanya manis memuliakan Tuhan dan perbuatan-
perbuatannya selalu mengatas-namakan Tuhan tetapi sebenarnya ia hanya memuliakan dirinya
sendiri, mencitrakan dirinya sendiri sebagai mahluk Tuhan yang mulia).

Jika orangnya sampai terpengaruh, maka pelan-pelan nantinya hatinya akan menyimpang, merasa
dekat dengan Tuhan tapi sebenarnya hatinya jauh dari Tuhan, merasa benar sendiri dan akhirnya
akan memuliakan dirinya sendiri (menganggap dirinya mulia). Jadi sekalipun orangnya kuat
agamanya dan rajin ibadahnya, dan mulutnya manis selalu memuji Tuhan, tapi hatinya akan
dipenuhi pemujaan akan kemuliaan dirinya sendiri, kemunafikan, rasa kebencian dan permusuhan,
pikirannya akan dipenuhi dengan pikiran-pikiran jahat dan kelicikan (dan tipu muslihat), dan
dipenuhi hasrat mengumbar kebencian dan permusuhan kepada orang-orang yang tidak sejalan,
sehingga tanpa disadarinya ia juga terpengaruh ikut menjadi hitam.

Dalam cerita lama kerohanian / agama atau cerita dunia spiritual, mahluk halus golongan hitam
secara spiritual sering dilambangkan dengan perwujudan naga, sebagai gambaran mahluk halus yang
kuat dan berbahaya bagi manusia, yang sejak dulu sudah "memangsa" manusia, menyimpangkan
manusia dari jalan kebenaran dan menjerumuskan manusia ke dalam kegelapan dan kesesatan.

Di kalangan keilmuan kebatinan dan spiritual khodam mahluk halus golongan hitam dianggap
"berat", dalam arti orang-orang yang berkhodam golongan hitam, atau mempunyai jimat yang
berkhodam golongan hitam, sedikit atau banyak biasanya orangnya akan terpengaruh, berat baginya
untuk tetap mampu menjaga ketulusan dan kelurusan hatinya.

Orang-orang yang bergelut dalam laku kebatinan dan spiritual ketuhanan, yang mampu
membedakan mahluk halus yang berpengaruh baik (putih) dan yang berpengaruh jahat (hitam),
akan menolak khodam golongan hitam, karena jenis khodam itu dianggap "berat", membuat mereka
semakin berat untuk tetap lurus menjaga hati dan spirtualitas ketuhanan mereka.

Tetapi orang-orang golongan hitam, yang bergelut dalam dunia kejahatan, yang mengagung-
agungkan kekuatan / kesaktian, yang mengagung-agungkan keilmuannya dan khodamnya, dan
orang-orang yang haus kekuasaan / kekayaan / keduniawian justru banyak mencari yang golongan
hitam, bahkan banyak yang dengan sengaja memuja mereka dalam ritual-ritual pemujaan mereka.

Mahluk halus dan khodam golongan hitam mudah ditemui di situs-situs pemujaan berhala (pemuja
setan), di situs-situs atau di tempat-tempat orang ngalap berkah, di makam-makam yang
dikeramatkan orang, bahkan di rumah-rumah ibadah yang dimuliakan dan yang orang sering datang
untuk meminta berkah. Mahluk halus dan khodam golongan hitam terasa sangat ampuh melebihi
yang dari golongan putih, mampu mewujudkan apapun keinginan manusia dan doa-doa mereka
selalu terkabul, sehingga mereka akan menganggapnya baik dan mereka akan memuja dan
memuliakan yang golongan hitam, atau mereka akan memuliakan tempat tersebut sebagai tempat
yang bagus untuk meminta berkah. Bahkan dari berkah yang diterima banyak orang yang
menganggap mereka sebagai kepanjangan tangan Tuhan.

Khodam yang dari golongan hitam biasanya kerjanya / tuahnya lebih ampuh daripada yang golongan
putih. Tetapi dibalik itu ada maksud lain dari khodamnya itu, yaitu supaya si manusia menjadi
semakin yakin dengan keampuhan khodamnya (dan yakin dengan kemuliaan dirinya sendiri),
menjadikannya semakin bergantung kepada khodamnya itu (kegaibannya), dan pelan-pelan dan
halus ia akan disimpangkan dari jalan yang lurus, menyimpang dari budi pekerti dan kesusilaan dan
menyimpang dari jalan ketuhanan yang benar.

Karena itu sebaiknya kita berhati-hati, harus bisa kita membedakan mana yang hitam dan mana yang
putih, jangan hanya menginginkan tuah dan keampuhannya saja. Jangan sampai nantinya tanpa
disadari kita juga ikut-ikutan menjadi golongan hitam. Dan jangan kita mengikuti anjuran
mendatangkan berkah Tuhan dengan cara-cara yang sekilas kelihatannya agamis, tetapi sebenarnya
itu adalah ajakan untuk "ngalap berkah", untuk mendatangkan berkah duniawi, bukan berkat yang
dari Tuhan. Itu adalah penyesatan halus dari setan dan iblis yang akan menyimpangkan kita dari
jalan ketuhanan yang benar, terutama yang anjurannya berasal dari orang-orang yang di
belakangnya berkhodam (diikuti sesosok mahluk halus) golongan hitam.

Tidak semua orang mampu mengenal dan membedakan mahluk halus golongan putih dan golongan
hitam dan karakteristik perwatakannya dan tidak semua orang mampu membedakan secara nyata
pengaruh mereka terhadap psikologis dan perilaku perbuatan manusia. Tentang mahluk halus yang
menyesatkan, yang mencelakakan, setan dan iblis, kebanyakan hanya menjadi cerita saja dalam
dunia agama / kerohanian. Tidak banyak orang yang mampu mengimplementasikan
pengetahuannya tentang setan dan iblis dalam dunia nyata.

Cerita mengenai mahluk halus golongan hitam ini sebagian terkait dengan pandangan orang dalam
beragama. Jika ada perbedaan pendapat mengenai yang golongan hitam ini sebaiknya dibuktikan
sendiri kebenarannya, jangan hanya mendasarkan pendapat pada dalil dan dogma agama saja,
karena seringkali yang terjadi secara nyata tidak semuanya tertulis dalam kitab suci agama dan kitab
suci agama juga tidak menuliskan semuanya itu.

Seseorang yang menjalani / menguasai ilmu berkhodam, seringkali tidak mengetahui bahwa
keilmuannya adalah menggunakan jasa mahluk halus (khodam / prewangan), karena
sepengetahuannya ilmunya adalah ilmu gaib kebatinan atau ilmu berdasarkan keagamaan.
Karenanya seseorang yang mempelajari / diajarkan / diturunkan suatu ilmu gaib seringkali tidak
menyadari adanya penggunaan jasa mahluk halus ini, karena dipikirnya ia hanya mengamalkan saja
ilmunya, atau laku tirakat dan puasanya, sesuai persyaratan ilmunya.
Seseorang yang menurunkan suatu ilmu berkhodam seringkali juga tidak menyatakan bahwa
keilmuannya adalah menggunakan jasa suatu mahluk halus, atau seandainya pun ia mengetahui dan
sudah menyatakan bahwa keilmuannya itu berkhodam, seringkali ia tidak dapat membedakan
apakah khodam gaibnya itu dari golongan putih ataukah golongan hitam, sehingga dengan demikian
ia juga bisa menjerumuskan orang lain.

Jika seseorang yang ilmunya berkhodam tidak mampu membedakan khodam golongan putih dan
hitam, apalagi orang-orang yang belajar kepadanya. Dan jika ia menurunkan suatu keilmuan
berkhodam kepada orang lain, ia juga tidak akan bisa membedakan apakah ilmu dan khodam yang
diturunkannya itu dari jenis golongan putih ataukah hitam. Kebanyakan orang memang tidak
memperhatikan apakah khodamnya itu dari golongan putih atau hitam, karena sesuai tujuannya
berilmu, yang dipentingkannya hanyalah keampuhan ilmu dan khodamnya saja.

Seorang guru mungkin tidak bermaksud mencelakakan atau menjerumuskan muridnya atau orang
lain yang belajar kepadanya dengan memberinya khodam golongan hitam. Mungkin itu terjadi
karena ketidak-tahuannya saja.

Seseorang yang akan mempelajari suatu ilmu gaib, atau sudah menyadari bahwa keilmuannya
adalah jenis ilmu berkhodam, sebaiknya bisa mengetahui jenis khodamnya, harus bisa membedakan
mana yang golongan putih dan mana yang golongan hitam, jangan menerima khodam dari golongan
hitam, karena dalam kehidupannya khodamnya itu akan cenderung menyesatkan dan pasti akan
menyulitkannya dalam proses kematian.

Selain yang merupakan khodam ilmu dan khodam dari leluhur, atau khodam dari benda-benda gaib,
khodam pendamping yang datang kepada seseorang seringkali datang sendiri, tidak dengan sengaja
didatangkan, tidak sengaja diundang dan seringkali tidak disadari keberadaannya. Banyak mahluk
halus yang datang sendiri kepada seseorang yang tekun beribadah dan rajin berdoa / wirid. Biasanya
seseorang yang tekun bersemadi, meditasi, zikir dan wirid, tubuhnya akan mengeluarkan energi
tertentu dan pikirannya akan memancarkan gelombang tertentu. Pancaran energi tubuh dan
gelombang pikiran inilah yang seringkali mengundang datangnya mahluk halus kepada seseorang,
walaupun kedatangannya itu tidak sengaja diundang.

Mahluk halus sering datang kepada manusia, walaupun seringkali tidak disadari, apalagi kepada
orang-orang yang sering khusyuk berdoa, wiridan, dsb, yang dalam keadaan itu tubuh dan pikirannya
mengeluarkan gelombang energi tertentu yang dapat mengundang datangnya sesosok mahluk halus
yang kemudian akan mendampinginya menjadi khodamnya, bisa juga masuk ke dalam badan /
kepalanya.
Yang perlu diwaspadai adalah efek pengaruh keberadaannya.

Jika itu dari golongan yang baik, mungkin kita bisa lebih merasa lega, tidak perlu terlalu was-was.

Tapi jika itu adalah dari golongan yang tidak baik, seharusnya kita berwaspada dan melakukan
pembersihan gaib, kalau bisa. Jenis golongan hitam dan sukma manusia jahat akan cenderung
menyesatkan manusia, apalagi jika si manusia kerap memuliakan dirinya sendiri sebagai mahluk
Tuhan yang mulia, atau ia kuat mengejar keduniawian.

Untuk belajar mencaritahu apakah sesosok gaib adalah dari jenis golongan putih ataukah hitam bisa
diketahui salah satunya dengan cara yang serupa dengan menayuh keris seperti dicontohkan dalam
tulisan berjudul Ilmu Tayuh Keris. Di dalam tayuhan mahluk halus golongan hitam biasanya akan
mengakui bahwa dirinya adalah golongan hitam, tetapi jenis sukma manusia jahat biasanya tidak
akan mengakui, malah akan menyesatkan tayuhan kita.

Atau dengan latihan olah rasa seperti dalam tulisan berjudul Olah Rasa dan Kebatinan.

Mahluk halus golongan hitam belum tentu energinya negatif. Yang golongan putih belum tentu
energinya positif.

Mahluk halus golongan hitam pada rasa energinya kita akan bisa merasakan adanya hawa jahat,
kebencian dan kelicikan (tipu muslihat). Tetapi pada jenis sukma manusia jahat biasanya kita tidak
bisa merasakan itu pada energinya. Kita akan lebih banyak berpegang pada ketajaman insting dan
naluri untuk bisa mendeteksi apakah mereka sebenarnya termasuk jenis yang jahat.

Dalam kita latihan olah rasa sebaiknya jangan hanya kita tujukan pada keinginan untuk bisa
merasakan / melihat sosok-sosok gaib mahluk halus / khodam saja, tapi dimatangkan untuk bisa juga
mendeteksi rasa energi dan watak mahluk halusnya.

Misalnya dari rasa energinya kita perkirakan sifat energinya, apakah mengandung hawa kekerasan,
kekuatan, kegagahan, keteduhan, keceriaan, dsb, sehingga juga akan bisa dikira-kira tuahnya,
apakah untuk kewibawaan, kekuatan, kekerasan dan penjagaan gaib, ataukah untuk pengasihan,
kerejekian, penglarisan, kesepuhan, dsb,

Dari rasa energinya juga bisa diperkirakan apakah energinya itu bersifat positif bagi manusia ataukah
negatif (apakah selaras dengan energi tubuh manusia, ataukah malah bisa mengganggu kesehatan /
pikiran).

Nantinya kita juga akan bisa membedakan rasa energi dan perwatakan mahluk halus / khodam
golongan putih dengan yang dari golongan hitam. Pada mahluk halus yang golongan hitam kita akan
bisa merasakan adanya hawa jahat, kebencian dan kelicikan (tipu muslihat jahat).
Mahluk halus golongan putih tidak bergaul / berkomunitas dengan yang dari golongan hitam,
sehingga jika seseorang mendapatkan khodam pendamping baru dari jenis golongan hitam, maka
akan bisa dipastikan bahwa semua jenis khodam golongan putih yang sebelumnya sudah dimilikinya,
yang seharusnya menyatukan diri dan mendampinginya, kemudian akan pergi semua, tidak akan
mau lagi menyatukan diri dan mendampinginya, bukan hanya khodam keris jawa, tapi juga khodam
batu akik dan mustika dan khodam ilmu / pendamping. Bahkan bisa jadi semua benda gaib yang
dipakainya atau yang dibawanya, seperti cincin batu akik dan mustika, juga akan menjadi kosong isi
gaibnya (khodamnya pergi). Penyebabnya adalah selain karena mahluk halus dari golongan putih
tidak mau berdekatan / bergaul / campur dengan yang dari golongan hitam, juga karena mahluk
halus yang dari golongan hitam itu mengambil alih semua peranan dari khodam yang lain (multi
fungsi), sehingga ia akan menjadi satu-satunya tempat bergantung si manusia. Dan mungkin juga
semua benda-benda gaib yang sudah kosong isinya itu kemudian akan diisi oleh khodam lain yang
juga golongan hitam, sehingga keampuhan keilmuan orang itu akan menjadi terasa semakin baik.

Kalau ada sesosok halus datang bukan untuk menyerang, tetapi untuk mengikut kita, apalagi kalau
sosok halus itu datang karena terpanggil oleh adanya doa-doa atau amalan kita, maka khodam-
khodam pendamping kita biasanya tidak akan melarangnya. Tetapi, kalau yang datang itu ternyata
adalah dari golongan hitam, maka khodam-khodam kita yang golongan putih kemudian akan
mundur semua dan pergi, karena mereka tidak mau bersama-sama / berdekatan dengan yang
golongan hitam. Karena itu kalau kita sudah mempunyai khodam pendamping, golongan putih,
sebaiknya disugestikan untuk memberikan pagaran gaib positif dan disugestikan mengusir semua
mahluk halus yang dari golongan hitam dan berenergi negatif, apapun tujuannya datang.

Ada juga orang / spiritualis yang khodamnya adalah dari jenis golongan hitam. Biasanya
spiritualisnya itu ampuh ilmunya, dan khodamnya ampuh untuk semua urusan gaib. Tetapi jika
khodamnya itu digunakannya untuk ilmu penarikan gaib, maka bisa dipastikan bahwa semua benda
gaib yang ditariknya, baik mustika maupun pusaka, akan kosong isinya, bendanya akan kosong tidak
berkhodam, karena khodam benda gaib tarikannya itu tidak mau berdekatan dengan khodam orang
tersebut yang dari golongan hitam. Atau bisa jadi semua benda-benda tarikannya itu di dalamnya
menjadi berkhodam golongan hitam juga. Jika orang itu memberikan / menurunkan / mentransfer
suatu ilmu / khodam kepada orang lain, maka kemungkinan besar orang lain itu akan juga
berkhodam golongan hitam (dan terasa ilmunya ampuh).

Mahluk halus golongan hitam dan abu-abu banyak juga yang membangun komunitas di situs dan
makam yang dikeramatkan, di tempat-tempat orang "ngalap berkah", tempat orang datang
menuntut pesugihan (kekayaan, penglarisan, kepangkatan, jabatan, karir, dsb) dan di tempat orang
menuntut ilmu kesaktian (ngelmu gaib). Sebagian anggotanya, bangsa jin atau dhanyang, ada yang
ditugaskan untuk mencari "pengikut baru". Ada di antara mereka yang mengikut kepada orang-
orang yang datang ngalap berkah ke tempat itu (menjadi khodamnya), atau mengikut kepada orang
lain yang tekun berdoa, ada juga yang mengikut manusia dengan menjadi khodam dari benda-benda
gaib. Biasanya orang-orang yang diikutinya akan merasakan dirinya banyak keberuntungan, banyak
keinginannya yang terkabul, atau ilmunya ampuh bertuah, tetapi sesuai status mahluk halus
khodamnya itu yang golongan hitam penghuni tempat ngalap berkah, nantinya si manusia, selain
akan mereka sesatkan, juga akan menjadi tumbalnya, arwahnya nantinya akan dibawa ke tempat
mereka.

Ada juga kasus yang orang datang kepada seorang spiritualis meminta ilmu gaib dan kesaktian,
pengasihan, penglarisan, perbaikan rejeki, kekayaan atau untuk menaikkan wibawa / pangkat / karir,
atau kejayaan duniawi lainnya. Kadangkala ada spiritualis yang khodam ilmunya berasal dari tempat-
tempat orang ngalap berkah / ngelmu gaib. Dengan demikian walaupun orang kliennya itu tidak
datang dan tidak mencari pesugihan ke tempat-tempat pesugihan, hanya datang berkonsultasi saja
kepada seorang spiritualis, tetapi karena khodam sang spiritualis untuk jasa yang dimintanya itu
terkait dengan tempat-tempat ngalap berkah / ngelmu gaib bisa saja orang si klien itu kemudian
akan juga berkhodam golongan hitam yang adalah transfer ilmu / jasa dari spiritualisnya. Biasanya
ilmu / jasa dari spiritualis itu sangat ampuh bertuah menaikkan kemuliaan si klien sesuai jasa yang
dimintanya, menjadikan si klien makmur berkelimpahan dari naiknya karir, pangkat dan jabatan atau
majunya usahanya, dan ilmunya ampuh terasa. Tetapi sesuai asal-usul khodamnya itu yang berasal
dari tempat-tempat ngalap berkah / ngelmu gaib, maka jasa yang dimintanya itu sama saja statusnya
dengan pesugihan, yang nantinya orangnya akan menjadi tumbalnya atau sesudah meninggalnya
arwahnya akan dibawa ke tempat-tempat pesugihan itu.

Seringkali kepemilikan sebuah benda gaib berkhodam atau jimat merupakan suatu kebanggaan bagi
pemiliknya. Begitu juga dengan keberadaan khodam pendamping, walaupun keberadaannya tidak
dengan sengaja diundang. Seseorang juga kadang merasa senang dan bangga, bila ada orang yang
bisa melihat gaib mengatakan bahwa ada sesosok gaib yang mendampinginya, menjaganya, dsb.

Tetapi sebaiknya jangan kita terdorong memiliki banyak khodam dan benda-benda berkhodam,
karena dengan begitu sama saja kita mengumpulkan mahluk halus. Satu hal yang perlu diwaspadai,
sebaiknya diperhatikan, apapun jenis gaibnya, bila khodamnya itu berasal dari golongan hitam,
entah gaibnya itu beragama ataupun tidak, pasti akan menyesatkan jalan pikiran manusia dan
pasti akan menyulitkan proses kematian seseorang.

Selain mahluk halus golongan hitam yang keberadaannya adalah khodam keilmuan gaib kita, mahluk
tersebut bisa juga terpanggil datang karena adanya wiridan amalan / doa kita. Seringkali terjadi pada
orang-orang yang tekun dan khusyuk berdoa mendekatkan diri kepada Tuhan, meminta rejeki atau
kesaktian, apalagi pada orang-orang yang kuat doanya karena kondisi yang terpaksa. Sesudahnya
orang tersebut merasakan omongannya ampuh bertuah, kata-katanya manjur selalu terjadi, atau
rejekinya bukan hanya membaik, tapi meningkat drastis dan selalu ada keberuntungan. Kondisi yang
seperti itu sebaiknya dicermati, apakah semua kesaktian, keberuntungan dan ampuhnya ilmunya itu
berasal dari adanya sesosok khodam golongan hitam.

Kadangkala khodam ilmu dari golongan putih tidak mau menjalankan perintah / keinginan seseorang
untuk melakukan perbuatan yang tidak baik atau perbuatan yang dianggapnya "berlebihan" (karena
sosok halus itu mempunyai kaidah kepantasan sendiri), sehingga orang tersebut merasa ilmu dan
khodamnya tidak ampuh. Kebalikannya dengan khodam ilmu dari golongan hitam, mereka tidak
peduli apakah tugas dan perbuatan mereka itu adalah jahat, baik atau tidak baik. Selama mereka
bisa memuaskan tuannya, bisa melakukan semua perintah tuannya, menjadikan tuannya merasa
ilmunya / khodamnya ampuh, tuannya bergantung pada keampuhan kerja mereka, maka mereka
merasa keberadaan mereka bersama si manusia sangat dibutuhkan dan mereka akan terus
menunjukkan kerja yang lebih.

Melebihi mahluk halus dari golongan putih, yang dari golongan hitam akan menunjukkan unjuk kerja
yang lebih, lebih ampuh tuahnya, bahkan mereka akan tetap bekerja walaupun tidak diperintah.
Banyak mahluk halus golongan hitam, dalam bentuk khodam ilmu / pendamping ataupun jimat
seseorang, seringkali dengan sengaja menyesatkan manusia dengan menciptakan kejadian-kejadian
yang menyebabkan manusia tuannya merasa ilmu / jimatnya atau khodamnya ampuh atau merasa
hidupnya penuh keberuntungan, atau merasa doa-doanya selalu dikabulkan Tuhan. Bahkan ada di
antara mereka yang sengaja mendatangkan uang tunai atau makanan atau benda-benda pusaka dan
jimat secara gaib kepada tuannya, atau sengaja mengalirkan rejeki dari orang lain yang datang.
Banyak juga yang dengan sengaja menciptakan "keberuntungan" dalam kejadian kecelakaan,
tuannya itu selamat, tetapi orang lain yang bersamanya celaka. Itu adalah kejadian-kejadian yang
kejadiannya sebenarnya disengaja (direkayasa) oleh khodamnya itu. Bahkan bila ada orang lain yang
bersikap negatif atau mencemooh si manusia tuannya, banyak di antara mereka yang mencelakakan
atau membunuh orang tersebut, diluar sepengetahuan tuannya. Bahkan bila orang itu bertengkar
dengan istri atau anaknya, kadangkala istri dan anaknya itupun bisa menjadi korban, karena
khodamnya itu menganggap mereka sebagai manusia yang mengganggu / menyalahi tuannya itu.

Fenomena-fenomena di atas banyak terjadi pada orang-orang tertentu yang memiliki keilmuan
tertentu, atau pada orang-orang tertentu yang mengamalkan suatu amalan gaib pribadi atau doa
pribadi, yang kemudian tanpa disadarinya perilakunya mengundang datang sesosok khodam
pendamping dari golongan hitam. Kejadian ini banyak terjadi pada orang-orang yang sangat tekun
mewirid suatu amalan keilmuan atau sangat tekun berdoa memohonkan rejeki, apalagi dalam
kondisi yang terpaksa. Bisa juga terjadi pada jenis jasa spiritualis yang kita mintakan tuahnya untuk
keberuntungan / kekayaan. Pada orang-orang itu, khodam yang dari golongan hitam akan bekerja
"lebih", sehingga terkesan ilmunya ampuh atau orangnya menjadi penuh dengan keberuntungan.
Malahan tanpa diminta pun khodamnya akan bekerja untuk memenuhi kepentingan tuannya,
apalagi kalau sengaja diperintahkan untuk itu. Kejadian-kejadian di atas jarang terjadi pada orang-
orang yang berkhodam golongan putih, karena khodam-khodam golongan putih biasanya memiliki
kaidah kepantasan sendiri atas perilaku dan perbuatannya.

Orang-orang yang memiliki khodam gaib dari golongan hitam, dalam bentuk benda-benda gaib
maupun khodam ilmu dan khodam pendamping, biasanya orang-orang tersebut akan mendapatkan
banyak "keberuntungan". Biasanya khodamnya bersifat multi fungsi, khodamnya akan melakukan
apa saja untuk menyenangkan tuannya, walaupun tidak diminta dan tidak dibacakan amalan
gaibnya. Khodamnya itu akan mendatangkan banyak keberuntungan kepada tuannya, menjadikan
tuannya selalu beruntung, rejeki lancar mengalir, kaya raya, usahanya maju, karirnya tinggi, selalu
mendapatkan apa yang diinginkannya, selalu selamat dalam kecelakaan dan marabahaya,
menjadikan ilmu tuannya ampuh (apalagi jika orangnya menjadi spiritualis atau praktisi ilmu gaib),
dan akan "menghukum" orang-orang yang tidak suka atau menyalahi tuannya.

Tanda-tanda di atas bisa dijadikan petunjuk untuk kita berwaspada. Sekalipun seseorang tidak
memiliki keilmuan tertentu, tidak pernah belajar keilmuan gaib, tetapi ia akan dapat merasakan
bahwa ada "sesuatu" yang ampuh yang selalu menjaga dan melindunginya dan memberinya
keberuntungan.

Orang-orang yang sudah merasakan khodamnya "ampuh" seperti di atas biasanya akan syok atau
marah bila khodamnya itu dikatakan golongan hitam, dan akan merasa berat dan tidak akan rela
kalau harus melepaskan khodamnya atau benda gaibnya itu. Dengan demikian secara psikologis
orang itu sudah masuk terjerumus ke dalam perangkap penyesatan khodamnya itu. Bahkan ada juga
orang yang menganggap khodamnya itu sebagai "pemberian" Tuhan, karena khodamnya itu
bersikap "baik", menjaga dan melindunginya dan selalu memberinya "berkah" dan keberuntungan,
apalagi jika yang diamalkannya adalah doa / amalan bernuansa agama.

Bila mahluk halus merasa sudah membantu manusia, maka si manusia 'harus' memberikan 'sesuatu'
sebagai upahnya (sesaji) karena mereka sudah 'bekerja'. Bila tidak diberikan, maka si manusia akan
mendapatkan beberapa 'teguran', yang bentuknya bisa berupa sakit-penyakit, naas, kesialan, atau
pertengkaran keluarga. Tetapi tuntutan upah yang tidak diterima oleh bangsa jin golongan hitam,
akibatnya bagi manusia lebih menyakitkan.

Teguran dan hukuman yang diterima manusia dari mahluk halus golongan hitam biasanya lebih
berat dan lebih menyakitkan dibandingkan teguran yang diterima manusia dari mahluk halus
golongan putih. Selain yang berupa sakit / penyakit, naas, kesialan, atau pertengkaran keluarga,
pancaran energi negatif teguran mereka, selain mengganggu secara psikologis, juga bisa
menyebabkan sel-sel tubuh manusia yang positif berubah menjadi bersifat negatif dan yang sudah
menjadi negatif akan memakan yang positif dan merubahnya menjadi negatif juga (bisa
mengakibatkan penyakit kanker / tumor, kanker otak, kanker rahim, kista rahim, kerusakan organ
ginjal, liver, jantung, dsb). Banyak juga teguran mereka yang berupa kematian. Bila sosok gaib
tersebut adalah khodam pendamping seseorang, hukuman itu seringkali tidak ditujukan kepada
orang tersebut, tetapi kepada orang-orang terdekatnya, kepada anggota keluarganya yang lain, bisa
orang tua, istri / suami, anak-anak dan anak di dalam kandungan. Mahluk halus golongan hitam tidak
mengenal batasan kepantasan atas perbuatan-perbuatan mereka.

Ini adalah salah satu perbedaan sifat dasar mahluk halus dengan sifat dasar manusia. Manusia dapat
berubah menjadi baik dan berbudi pekerti setelah mengenal agama dan Tuhan (walaupun banyak
juga manusia yang tekun beragama dan beribadah, tetapi perilakunya tidak menunjukkan budi
pekerti dan akhlak yang baik).

Mahluk halus yang sudah "diagamakan", sifat dasarnya akan tetap sama sesuai aslinya. Hanya saja
selama manusia yang meng-agama-kan mereka masih hidup, mereka akan menunjukkan perilaku
rajin beribadah. Tetapi ketika manusia itu sudah meninggal, berarti mereka telah terbebas dari
kungkungan manusia tersebut. Terserah mereka apakah akan tetap menjadi baik ataukah kembali
menjadi jahat (ada juga dari mereka yang menyerang balik dan menyiksa roh / arwah orang tersebut
sesudah meninggalnya sebagai pembalasan dendam).

Bila kita menyebutkan adanya Tuhan yang menjadi penguasa atas seluruh kehidupan, termasuk
berkuasa atas kehidupan mahluk halus, mereka tidak akan percaya, karena sebagai sesama mahluk
gaib mereka akan mencari keberadaan Tuhan yang dikatakan juga bersifat gaib. Tetapi karena si
manusia tidak bisa menunjukkan keberadaan Tuhan, sehingga mereka tidak dapat menemukan
Tuhan, dan kekuasaan Tuhan juga tidak dirasakan dalam sehari-harinya mereka, maka mereka tidak
akan percaya bahwa Tuhan benar ada, kecuali kita bisa menunjukkan keberadaan-Nya supaya
mereka bisa pergi mencari dan menemukanNya, kemudian percaya dan ikut menyembahNya. Dalam
kondisi yang seperti itu agama bagi mahluk halus seringkali hanya menjadi simbol saja dan menjadi
suatu hal yang bersifat pemaksaan (begitu juga sering terjadi di dunia manusia).

Beragama ataupun tidak, yang wataknya berkuasa akan tetap memaksakan kekuasaannya kepada
yang lebih lemah dan menindas. Yang suka berbuat jahat akan tetap berbuat jahat. Yang suka usil
dan mengganggu akan tetap berbuat usil dan mengganggu. Tetapi pengertian keagamaan pada
mahluk halus golongan putih akan dapat menambah kebijaksanaannya.

Mahluk halus dari golongan putih, diagamakan ataupun tidak, sifat dasarnya akan tetap sama, yaitu
tidak berkecenderungan jahat. Pengenalannya pada agama dapat menambah kebijaksanaannya dan
membuatnya semakin baik, sehingga dapat lebih mengenal budi pekerti dan kesusilaan.
Mahluk halus dari golongan hitam dan abu abu , yang watak dasarnya berkecenderungan jahat,
diagamakan ataupun tidak, sifat dasarnya akan selalu tetap, yaitu berkecenderungan jahat. Mereka
tidak mengenal akhlak yang baik, karena dunia mahluk halus tidak sama dengan dunia manusia.
Yang mereka lakukan hanyalah sebatas menjalankan tata laku ibadahnya saja sesuai yang
diperintahkan kepada mereka tanpa ada perubahan pada budi pekerti mereka. Justru pengetahuan
agama itu seolah-olah menjadikan mereka seperti memiliki "ilmu" baru, memiliki kekuatan baru,
sehingga pada saat mereka ber-'ulah' dan manusia ingin mengusir mereka, mereka tidak lagi
mempan dibacakan ayat-ayat suci, tidak lagi merasa 'panas' mendengar suara adzan, malahan
mereka dapat mengajari manusia bagaimana caranya membaca ayat-ayat suci, dan selain tetap
menyesatkan, mereka juga mentertawakan manusia karena kebodohannya sendiri, karena telah
mengajarkan mereka "ilmu".

Aturan dan hukum di dunia mahluk halus hanya ada di wilayah dan di lingkungan komunitas mahluk
halus yang di dalamnya ada sosok penguasanya. Komunitas itu bisa berupa perkumpulan biasa saja,
bisa juga kerajaan mahluk halus. Di luar itu kondisinya sama saja seperti di dunia manusia di tempat-
tempat dimana tidak ada aturan yang mengikat, dan tidak ada orang yang menjadi penguasa dan
menegakkan hukum. Yang perilakunya baik akan kelihatan baik, yang jelek akan kelihatan jelek.
Dunianya penuh dengan kekerasan, sehingga orang-orangnya juga akan berkarakter keras dan tidak
segan-segan untuk bertindak keras. Kekuatan (senjata dan kesaktian) akan menjadi sesuatu yang
utama harus dimiliki.

Dunia dan kehidupan mahluk halus berbeda dengan dunia dan kehidupan manusia. Para mahluk
halus, selain sukma manusia dan bangsa dewa, tidak mengenal budi pekerti dan akhlak yang baik
seperti di dunia manusia. Kehidupan mereka sangat bergantung pada kekuatan dan kekuasaan.
Mereka bebas berbuat apa saja, karena tidak ada hukum, penguasa dan penegak hukum yang harus
mereka patuhi, kecuali hukum dan aturan yang ditetapkan oleh atasan mereka dan mahluk halus lain
yang lebih berkuasa yang harus mereka patuhi. Berkelahi dan bertarung adu kekuatan dan menindas
yang lemah adalah hal yang biasa bagi mereka. Karena itu yang lemah harus mengalah dan mengikut
kepada yang kuat atau menyingkir supaya tidak menjadi korban.

Nyawa manusia tidak penting bagi mereka. Apapun perbuatan mereka dan akibatnya terhadap
manusia, tidak penting bagi mereka. Semua akibat perbuatan mereka terhadap manusia berupa
sakit / penyakit, keguguran kandungan, bayi meninggal di dalam kandungan, bayi lahir cacat, sakit
jantung, buang-buang air, kanker otak, kanker rahim, gagal ginjal, gagal jantung, kecelakaan, bahkan
kematian, tidak penting bagi mereka. Sama dengan kondisi bahwa manusia juga tidak menganggap
penting nyawa seekor ayam, kambing, cicak, kucing, anjing, dsb, dan membunuhi hewan yang
dianggap mengganggu seperti kecoa, tikus, ular, semut, nyamuk, dsb, adalah hal yang biasa, bukan
sesuatu yang jahat.
Ada manusia yang jahat atau suka iseng, menjepret cicak, mengikat burung, capung, menembaki
burung, menyakiti kucing / anjing, dsb. Begitu juga halnya para mahluk halus, ada yang suka
mengganggu, usil / jahil, menakut-nakuti, mencelakakan atau bahkan membunuh manusia.

Semakin jahat watak mahluk halus, keberadaannya akan menyesatkan dan semakin membahayakan
manusia.

Semakin tinggi kekuatan mahluk halus, semakin fatal akibat perbuatannya bagi manusia.

Manusia cenderung untuk tidak berhati-hati, karena manusia meremehkan pengaruh keberadaan
mereka, atau menjauhi mereka karena dorongan agama, atau karena memaksakan rasionalisasi
sikap berpikir manusia yang tidak mau menghubung-hubungkan semua kejadian di dunia manusia
dengan keberadaan mahluk halus.

Meskipun sekarang ini sudah jaman modern, bukan berarti kejadian supranatural dan para mahluk
halus itu menghilang dengan sendirinya tidak ada lagi. Di negara-negara yang sudah modern pun
selalu saja ada kejadian-kejadian supranatural atau sakit-penyakit yang sumber penyebab awalnya
adalah interaksi / perbuatan mahluk halus, walaupun manusia tidak mengakuinya. Baik kita percaya
ataupun tidak, mereka tetap ada, hanya interaksinya dengan manusia saja yang terasa berkurang.

Mahluk halus jahat dan penyesat selain yang dari jenis bangsa jin atau jenis halus lainnya, ada juga
yang dari jenis sukma manusia (arwah). Sebagian pengaruh buruk dari keberadaan mereka sudah
dituliskan dalam tulisan berjudul Pengaruh Gaib thd Manusia.

Penggolongan mahluk halus dari sisi perwatakannya ini dapat dijadikan acuan untuk melakukan
pembersihan gaib (baca juga : Pembersihan Gaib).

Jenis mahluk halus golongan hitam dan abu-abu dan yang berenergi negatif jika ada keberadaannya
bersama manusia dalam bentuk khodam ilmu / pendamping, khodam jimat dan pusaka, atau tinggal
di tempat tinggal manusia, keberadaannya dapat diusir dengan menggunakan minyak jafaron. (Baca
: Pembersihan Gaib 2).

Pembersihan gaib menggunakan minyak jafaron ini hanya efektif digunakan terhadap mahluk halus
golongan hitam dan yang berenergi negatif saja dari jenis gaib selain yang berasal dari sukma
manusia (arwah, pocong, siluman) jika ada di antara mereka yang dirasakan mengganggu.
Dituliskan di atas bahwa mahluk halus golongan hitam pasti akan menyulitkan dalam proses
kematian.

Tapi apakah yang dari golongan putih pasti tidak akan menyulitkan dalam proses kematian ?

Yang namanya resiko selalu ada.

Memang tidak bisa dipastikan apakah yang dari golongan putih pasti tidak akan memberatkan
kematian. Semuanya harus dilihat satu per satu sosok gaibnya untuk dinilai karakternya dan untuk
dinilai apakah nantinya akan ada resiko yang negatif jika berhubungan dengannya.

Tapi secara garis besarnya, yang dari golongan hitam pasti akan memberatkan dalam proses
kematian, bahkan dapat juga memberikan resiko lain baik selama si manusia masih hidup maupun
sesudah meninggalnya.

Mahluk Halus Khusus Untuk Diwaspadai : Setan dan Iblis

Penekanan penggolongan putih dan hitam di atas ada pada pembedaan sifat perwatakan mahluk
halusnya apakah dominan bersifat jahat / mencelakakan dan menyesatkan ataukah tidak.

Sekalipun banyak orang bisa melihat gaib, sekaligus juga ahli dalam hal agama, tetapi jarang sekali
ada yang mampu mengenal dan membedakan karakteristik perwatakan mahluk halus apakah dari
golongan putih ataukah hitam dan menilai pengaruh / akibat perbuatan mereka terhadap manusia.
Tentang mahluk halus yang menyesatkan, yang mencelakakan, setan dan iblis, kebanyakan hanya
menjadi cerita saja dalam dunia kerohanian / agama, tetapi tidak banyak orang yang mampu
mengimplementasikan pengetahuannya tentang setan dan iblis dalam dunia nyata.
Cerita mengenai mahluk halus golongan putih dan hitam ini sebagian terkait dengan pandangan
orang dalam beragama. Jika ada perbedaan pendapat mengenai yang golongan putih dan hitam ini
sebaiknya dibuktikan sendiri kebenarannya, jangan hanya mendasarkan pendapat pada dalil dan
dogma agama, karena seringkali yang terjadi secara nyata tidak semuanya tertulis di dalam kitab suci
agama dan kitab suci agama juga tidak menuliskan semuanya itu.

Ada jenis mahluk halus yang disebut iblis yang ceritanya dalam kitab suci dulu sudah menyesatkan
Adam dan Hawa, yaitu yang sosok aslinya seperti ular tanah berwarna hitam dengan panjang tubuh
+ 2 meter. Sosok halus ini beraura hitam dan kelicikannya luar biasa. Sekalipun tingkat kekuatan dan
kesaktiannya rendah, biasanya hanya antara 1 - 5 kalinya kekuatan gaib mustika merah delima,
tetapi ia tidak takut dengan lawan yang kekuatannya lebih tinggi, karena ia bisa menggerakkan
teman-temannya yang juga beraura hitam dan berkesaktian tinggi untuk membantunya. Karena
kekuatannya tidak cukup tinggi, maka kelicikannya adalah senjata utama yang diandalkannya.
Waspadalah bila anda menemukan sosok gaib jenis ini.

Selain yang berwujud ular di atas, ada banyak mahluk halus iblis yang sosoknya seperti manusia,
tubuh dan wajahnya seperti manusia, tetapi memiliki tanduk di kepalanya. Biasanya sosoknya tinggi
besar lebih dari 2 meter. Badannya kekar bertelanjang dada seperti manusia. Badan dan wajahnya
biasanya hitam gelap atau coklat kemerahan. Kesaktiannya ada yang tinggi, ada juga yang rendah.

Jenis bertanduk itu ada yang bertanduk satu seperti tanduk badak, ada yang bertanduk dua seperti
tanduk kerbau. Ada yang tanduknya pendek, ada yang panjang melingkar seperti tanduk kerbau
aduan. Kekuatannya ada yang rendah seperti gondoruwo, ada juga yang menengah dari beberapa
puluh kalinya kekuatan gaib mustika merah delima sampai beberapa ratus kalinya kekuatan gaib ibu
ratu kidul.

Yang bertanduk satu lebih sering membunuh atau mencelakakan manusia.

Yang bertanduk dua, yang biasa merasuk membuat kesurupan, atau mencelakakan dan membunuh
manusia biasanya kekuatannya rendah. Tetapi yang bertanduk dua itu, yang biasa menyesatkan
manusia, atau yang biasa memberi jasa pesugihan, biasanya kekuatannya kelas menengah, dari
beberapa puluh kalinya kekuatan gaib mustika merah delima sampai beberapa ratus kalinya
kekuatan gaib ibu ratu kidul.
Mahluk halus berwujud manusia dengan tanduk di kepalanya melambangkan sifat watak yang jahat
dan suka menyesatkan, tetapi tidak cukup licik jika dibandingkan dengan iblis ular hitam di atas, dan
tanduknya itu juga menggambarkan sikap yang suka menyerang mengagungkan kekuatannya. Jenis
bertanduk itu juga suka merasuki manusia, atau mencelakakan dan membunuh manusia.
Menghindarlah segera bila bertemu dengan sosok jenis ini, atau jika anda mengetahui ada
keberadaannya di sekitar tempat tinggal anda, apalagi menjadi khodam ilmu / pendamping anda,
segeralah lakukan usaha pembersihan gaib.

Ada juga sosok-sosok gaib golongan hitam berwarna kemerahan seperti kelelawar bersayap. Jenis
halus ini kekuatannya rendah, biasanya tidak sampai 5 md. Jenis ini sering sekali berperilaku seperti
setan yang memberikan bisikan-bisikan yang menyesatkan.

Jenis-jenis iblis di atas, yang sosoknya seperti manusia, yang bertanduk maupun tidak, banyak yang
menjadi khodam pendamping manusia, biasanya ia memposisikan dirinya di belakang si manusia
atau di belakang agak ke kanan.

Sosok-sosok halus yang disebutkan di atas adalah sosok-sosok mahluk halus yang secara tampilan
fisiknya dapat dengan mudah dibedakan dari mahluk halus lainnya, sehingga manusia yang
menemukannya, yang bisa melihatnya, akan dapat dengan mudah melakukan pembedaan dan dapat
segera melakukan tindakan yang diperlukan.

Selain mereka, masih ada banyak sosok halus lain golongan hitam yang sosoknya tidak semuanya
seperti manusia, tidak semuanya bertanduk, tetapi aura kejiwaannya hitam, dan kekuatannya tinggi.

Ada juga sosok halus lain golongan hitam yang sosok wujudnya seperti manusia, tetapi aura
kejiwaannya hitam. Contohnya adalah bangsa jin laki-laki yang wajahnya tampan rupawan, kulitnya
halus dan bersih dan pakaiannya bagus seperti seorang pangeran, atau bangsa jin perempuan yang
wajahnya cantik dan anggun, kulitnya halus dan bersih dan pakaiannya bagus seperti seorang putri
raja. Perwujudan mereka cantik dan ganteng seperti pangeran dan putri, sikap perilaku dan kata-
katanya manis, tetapi wataknya jahat dan licik. Diperlukan ketajaman insting, kemampuan deteksi
dan spiritualitas yang lebih untuk bisa mengetahui dan untuk bisa mendeteksi sifat jahatnya. Mereka
sering disebut pangeran dan ratu kegelapan. Aura kejiwaannya hitam (sangat hitam) dan
kelicikannya luar biasa, sangat senang menyesatkan manusia, menampilkan perwujudannya yang
bagus seolah-olah mereka adalah utusan Tuhan, tapi tidak segan-segan membunuh manusia jika
orang itu membuatnya kesal.
Selain yang sudah disebutkan di atas ada sosok-sosok lain yang beraura kejiwaan hitam (sangat
hitam), tetapi kekuatannya sangat tinggi, bisa sampai 30.000 kali lipat kesaktiannya Ibu Ratu Kidul
(30.000 KRK). Ini adalah jenis jin iblis yang kekuatan gaibnya paling tinggi di bumi. Kebanyakan
sosoknya seperti manusia laki-laki bertubuh tinggi besar kekar bertelanjang dada dengan tinggi
tubuh rata-rata 30 meter, tidak bertanduk. Jarang sekali ada manusia, bahkan mahluk halus, yang
mampu melihat dan mengetahui keberadaan mereka, kecuali mereka yang mengerti kegaiban dan
berkekuatan / berspiritualitas tinggi. Jenis ini tidak banyak bergerak dan jarang sekali berpindah
tempat, tetapi pancaran aura hitam kejiwaannya yang licik, jahat dan menyesatkan mencakup area
yang luas bisa sampai radius ratusan kilometer jauhnya.

Jika dinilai secara kepangkatan, sosok ular hitam di atas berpangkat setingkat menteri. Sekalipun
kekuatan gaibnya rendah, tetapi dihormati dan mempunyai kekuasaan untuk menggerakkan mahluk
halus golongan hitam lainnya. Sedangkan sosok-sosok bertanduk di atas berpangkat setingkat
prajurit sampai perwira, dan biasa menjadi "pelaksana tugas lapangan". Ada yang kesaktiannya
rendah, ada juga yang kesaktiannya tinggi. Yang disebut pangeran dan ratu kegelapan di atas adalah
raja dan ratu yang dihormati dan mempunyai kekuasaan untuk menggerakkan mahluk halus
golongan hitam lainnya. Jenis terakhir di atas yang seperti manusia laki-laki kekar bertelanjang dada
adalah mahluk halus golongan hitam yang kekuatannya paling tinggi, yang menjadi raja-raja dan
jenderal lapangan, yang menjadi penguasa-penguasa tertinggi di lingkungan mahluk halus golongan
hitam. Semua mahluk halus golongan hitam tunduk kepada mereka.

Secara keseluruhan sosok-sosok halus di atas adalah yang seringkali kita sebut sebagai setan dan
iblis (dan sejatinya adalah iblis), yang sifat perbuatannya, tujuan keberadaannya dan pancaran aura
kejiwaannya sengaja menyesatkan manusia atau mencelakakan. Sekalipun keberadaan mereka
tidak tampak mata manusia, tetapi pancaran aura kejiwaan mereka akan mempengaruhi manusia,
bahkan juga mempengaruhi mahluk halus lain ikut menjadi golongan hitam, sehingga mereka yang
tidak eling lan waspada, yang tidak menjaga kebersihan dan kelurusan hatinya, pikiran dan batinnya,
yang tinggi ke-aku-annya dan yang mempunyai kecenderungan menyimpang dari budi pekerti dan
kesusilaan, akan menjadi terpengaruh.

Secara umum mahluk-mahluk halus golongan hitam yang diceritakan sebelumnya di atas, sekalipun
ada yang bentuk tubuh dan wujudnya biasa saja sama dengan mahluk halus lainnya, tetapi sifat
perwatakannya jahat dan cenderung menyesatkan manusia. Mereka adalah kaki tangan / simpatisan
dari yang disebut iblis. Sekalipun kita tidak bisa melihat gaib, atau bisa melihat gaib tapi tidak bisa
melihat keberadaan mereka, dengan cara peka rasa kita bisa merasakan hawa energi mereka yang
mengandung hawa jahat, penuh kebencian dan kelicikan (tipu muslihat jahat) dan dengan pancaran
hawa aura energinya itu mereka memancarkan / menyebarkan sifat-sifat kelicikan, kemunafikan,
rasa kebencian dan permusuhan yang mempengaruhi psikologis mahluk halus dan manusia untuk
juga berhati penuh kelicikan, kemunafikan, kebencian dan permusuhan. Sebaiknya kita berwaspada,
mereka ada dimana-mana, mungkin juga ada di dekat kita, atau bahkan menjadi khodam kita, jangan
sampai kita terpengaruh penyesatan mereka.
Jenis mahluk halus iblis dan yang dari golongan hitam dan abu-abu jika ada keberadaannya bersama
anda dalam bentuk khodam ilmu / pendamping, khodam jimat dan pusaka, atau tinggal di tempat
tinggal anda atau di sekitarnya, sebaiknya keberadaannya diusir saja, lakukan saja dengan cara yang
mudah, yaitu menggunakan minyak jafaron. (Baca : Pembersihan Gaib 2).

Sukma Jahat Manusia

Sosok-sosok halus yang sudah disebutkan sebelumnya di atas, yang sifatnya jahat atau beresiko
merugikan, atau yang sering masuk merasuk ke dalam tubuh manusia, adalah dari jenis bangsa jin,
dhanyang, dedemit atau jenis mahluk halus lainnya.

Selain yang sudah disebutkan di atas ada juga mahluk halus jahat dan penyesat dari jenis sukma
manusia (arwah). Jenis sukma manusia ini lebih sulit untuk digolongkan secara pasti hitam atau putih
seperti jenis mahluk halus lainnya, apalagi oleh orang awam, karena sukma manusia bisa menipu
dan bisa dengan akalnya merubah-ubah sikap dan perilakunya, sama seperti manusia yang masih
hidup.

Selain yang bebas bergentayangan, yang harus diwaspadai adalah juga mahluk halus sukma / arwah
manusia yang tinggal di dalam benda-benda gaib atau benda-benda antik / kuno dan jenis sukma /
arwah yang tinggal bersemayam di tubuh manusia, di dalam badan atau di dalam kepala manusia
yang masih hidup (ketempatan mahluk halus).

Banyak dari mereka yang dulunya tidak berbudi baik dan dari golongan yang jahat masuk
bersemayam di dalam tubuh manusia, menjadikan tubuh manusia yang masih hidup sebagai rumah
mereka, dan mempengaruhi si manusia yang tubuhnya ditempatinya untuk berpikir, berbuat,
berperilaku dan berkepribadian sama seperti yang mereka inginkan, sesuatu yang umumnya tidak
dilakukan oleh sukma orang-orang yang berbudi pekerti baik.
Sebagian lagi hidup sendiri, atau membentuk kelompok-kelompok dari kalangan yang sejenis,
membentuk kekuasaan jahat di alam gaib.

Sebagian lagi dari mereka hidup berkomunitas. Kebanyakan menjadi penghuni tempat-tempat
angker dan wingit yang sewaktu-waktu bisa membuat manusia tewas / celaka. Atau mereka
menghuni tempat-tempat orang "ngalap berkah" dan memaksa mahluk halus dhanyang setempat
untuk tunduk kepada mereka, menjadikan mereka golongan hitam. Dengan cara itu mereka secara
langsung menyesatkan manusia dan sering membawa sukma manusia yang sudah meninggal ke
tempat kediaman mereka untuk diperbudak (dijadikan tumbal).

Selain mereka yang berkekuatan tinggi, ada banyak sukma yang kekuatannya rendah, umumnya
tidak lebih dari 5 md saja, yang kebanyakan dulunya adalah pelaku jahat ilmu gaib dan perdukunan,
yang selanjutnya banyak bersemayam di dalam kepala manusia yang masih hidup. Sekalipun
keberadaan mereka itu dengan sengaja telah menjadikan orangnya merasa bisa melihat gaib dan
merasa mengerti kegaiban, tetapi banyak penglihatan gaibnya yang bersifat fiktif, ilusi dan
halusinasi, yang itu adalah bentuk penyesatan mereka kepada si manusia, yang manusia itu
dijadikannya sarana mereka berpraktek ilmu gaib kembali.

Sebagiannya lagi yang kekuatannya lebih tinggi banyak yang masuk bersemayam di badan manusia
yang masih hidup. Mereka juga dengan sengaja menjadikan orangnya merasa bisa melihat gaib, peka
rasa dan merasa mengerti kegaiban, merasa tubuhnya kuat dan mengandung kegaiban /
"berkaromah" dan kata-katanya manjur selalu terjadi (atau malah menjadi sakit-sakitan karena
tubuhnya tidak tahan kebebanan energi mereka), tetapi banyak kegaibannya yang fiktif, ilusi dan
halusinasi, yang itu adalah bentuk penyesatan mereka kepada si manusia, yang manusia itu
dijadikannya sarana mereka menunjukkan kegaiban dari kesaktian mereka.

(Baca juga : Pengaruh Gaib Thd Manusia).

Mereka yang tinggal bersemayam di dalam kepala atau di dalam badan manusia yang masih hidup
itu umumnya bersifat menyesatkan, menjadikan orangnya semakin memuliakan dirinya sendiri,
menjadikan orangnya merasa dirinya istimewa dan percaya diri karena memiliki kegaiban, karomah,
atau berilmu gaib. Walaupun orangnya tekun beragama, agamis, merasa beriman, dan mulutnya
selalu menyuarakan nama Tuhan, tetapi hatinya akan semakin jauh dari Tuhan, karena akan
didorong oleh rasa keinginan dan hasrat memegahkan dirinya sendiri, dan menjadikan orang-orang
pengikutnya memuliakan diri mereka, bukan memuliakan Tuhan, bahkan menjadikan perhatian
orang-orang terpusat kepada mereka, bukan kepada Tuhan.
Sebenarnya kasus-kasus penyesatan seperti itu sudah juga terjadi di seluruh dunia yang umumnya
kasusnya jauh lebih parah daripada di Jawa, karena umumnya kasus-kasusnya berhubungan dengan
agama dan sudah memunculkan banyak nabi-nabi palsu dan orang-orang sesat yang dipuja dan
dimuliakan orang, yang sampai sekarang sudah menciptakan banyak pengikut yang berhasil
dipengaruhi untuk memuliakan agama tetapi hatinya malah menjadi jauh dari Tuhan. Sedangkan
mahluk halus dan sukma-sukma jahat lainnya mendorong orang menjadi penyembah berhala dan
mempertuhankan dirinya sendiri.

Sedangkan di Jawa kasus penyesatannya kebanyakan bersifat personal, individu. Tetapi yang bersifat
personal / individu itu menjadi fatal akibatnya jika orangnya adalah seorang pemimpin, tokoh
masyarakat, tokoh agama, atau orang-orang berpengaruh lainnya, karena mereka akan dipengaruhi
menjadi berhati jahat dan menyebarkan kebencian dan permusuhan dan pengaruh penyesatan pada
satu orang saja dari antara mereka akan dapat mempengaruhi banyak orang lain pengikut mereka.

Ada juga mahluk halus sukma manusia (arwah) yang tinggal di dalam benda-benda gaib tertentu,
seperti keris, batu akik, benda-benda antik / kuno, dsb. Tujuan keberadaan mereka di dalam benda-
benda itu adalah karena mereka membutuhkan tempat tinggal, menjadikan benda-benda itu sebagai
rumah mereka yang baru, bukan untuk menjadi khodam yang memberikan tuah bagi manusia
pemilik benda-benda itu. Seandainya ada benda-benda itu yang menjadi milik kita, maka sebaiknya
kita sangat berhati-hati dalam memilikinya, jangan sampai kita melakukan kesalahan yang bisa
menyebabkan sosok sukma di dalam benda-benda itu marah dan "menegur" atau "menghukum"
kita.

Juga mahluk halus sukma manusia (arwah) jahat harus diwaspadai karena wataknya yang jelek yang
suka bersemayam di dalam tubuh manusia, di dalam badan atau kepala manusia yang masih hidup
(ketempatan mahluk halus), yang selain bisa menyesatkan jalan pikiran si manusia, memberikan
banyak gambaran gaib fiktif / halusinasi, juga bisa mendatangkan kejadian-kejadian gaib lain yang
negatif.

Sukma manusia yang seringkali masuk merasuk dan bersemayam di tubuh manusia biasanya adalah
sukma (arwah) dari orang-orang yang dulu memiliki keilmuan gaib / kesaktian, sebagiannya dulu
hidup sebagai tokoh-tokoh sakti dunia kejahatan dan berilmu tinggi. Mereka biasanya berwatak
keras dan menonjolkan kesaktian dan kegagahan, cenderung menonjolkan kesombongan dan
mengandalkan kesaktiannya untuk memaksakan kehendaknya (juga sampai sekarang sesudah
mereka menjadi roh / sukma / arwah).
Sosok halus sukma / arwah yang kekuatannya rendah (1 - 2 md), biasanya akan bersemayam di
bagian kepala manusia, tetapi yang kekuatannya lebih tinggi biasanya akan bersemayam di dalam
badan manusia.

Ketika sesosok sukma (arwah) bersemayam di dalam kepala seseorang, biasanya sosok sukma
tersebut akan aktif memberikan bisikan gaib, penglihatan gaib, dsb, akan menjadikan si manusia
memiliki kemampuan melihat gaib, atau bisa mengetahui sesuatu yang gaib, bahkan ada yang bisa
meramal. Tetapi keberadaan sosok sukma tersebut bisa juga mengacaukan alam pikiran si manusia,
memenuhi pikiran si manusia dengan halusinasi dan penglihatan gaib fiktif yang tidak sesuai dengan
kondisi dan arti kejadian gaib yang sesungguhnya, banyak juga yang membisikkan kata-kata jahat
(fitnah) tentang orang lain, sehingga orangnya juga akan menjadi selalu berpikiran jahat / jelek
kepada orang lain.

Jika ada sesosok sukma (arwah) bersemayam di badan seorang manusia (yang masih hidup),
biasanya sehari-harinya si manusia tersebut juga akan merasakan adanya ide-ide atau bisikan gaib /
ilham dan kadang juga menerima penglihatan gaib yang berasal dari sosok halus di dalam tubuhnya
itu. Biasanya si manusia akan merasa memiliki kepekaan batin, mengerti hal-hal gaib. Tetapi
seringkali semua bisikan gaib itu bersifat menyesatkan walaupun halus tidak terasa, banyak juga
yang membisikkan kata-kata jahat tentang orang lain. Kadangkala juga si manusia akan merasakan
adanya dorongan emosi / amarah yang tidak jelas penyebabnya. Di sisi lain sosok sukma arwah
tersebut bisa menjadi khodam kekuatan bagi si manusia ketika si manusia sedang berkelahi dan akan
membantu memberikan inspirasi jika si manusia menjalani laku keilmuan kegaiban maupun
kanuragan.

Baik sosok sukma / arwah itu tinggal di dalam kepala maupun di dalam badan manusia yang masih
hidup biasanya keberadaannya akan membantu si manusia peka rasa, mengerti dan bisa mendeteksi
kegaiban, bahkan banyak yang menjadikan orangnya memiliki kemampuan gaib tertentu tanpa
sebelumnya pernah mempelajarinya. Tetapi banyak penglihatan gaib si manusia yang sifatnya
halusinasi / ilusi, tidak sungguh-sungguh terjadi. Sekalipun benar terjadi, tetapi arti kegaiban yang
ditangkap oleh si manusia seringkali bukanlah arti kejadian gaib yang sesungguhnya (tipuan). Yang
paling buruk adalah jika si sosok sukma itu berwatak sedemikian jahatnya sehingga ia benar-benar
menyesatkan jalan pikiran si manusia, menjadi setan dan iblis bagi si manusia, yang mempengaruhi
si manusia untuk juga berhati jahat dan berperangai buruk (akibatnya fatal jika orangnya adalah
seorang tokoh pemimpin, tokoh masyarakat atau tokoh agama yang akan dipengaruhi menjadi
berhati jahat dan menyebarkan kebencian dan permusuhan).

Baik yang hidup sendiri maupun yang berkomunitas, banyak dari mereka yang mendorong orang
menjadi sok kuasa, yang dalam kekuasaannya itu orang bertindak sewenang-wenang, menonjolkan
kesombongan dan mempertuhankan dirinya sendiri.
Bisa dipastikan bahwa mereka bukanlah sukma leluhur si manusia, kecuali sukma leluhur yang
berwatak jelek, karena sukma leluhur yang berwatak baik biasanya akan menempatkan dirinya
sebagai sosok pendamping dan pelindung, bukannya masuk merasuk dan bersemayam di dalam
tubuh manusia keturunannya.

Ada juga kasus-kasus yang sesosok halus sukma yang masuk bersemayam di dalam tubuh manusia
memiliki musuh di alam gaib, sehingga ia akan sering bertarung. Pada kasus itu sering sekali si sukma
itu menarik masuk mahluk halus lain di bawah kekuatannya untuk dijadikan tamengnya, bisa jenis
ular gaib, banyak juga yang sampai menarik masuk jenis jin iblis bertanduk dua. Keberadaan mereka
itu semakin memperparah gangguan gaib pada orangnya, pada psikologisnya dan pada fisiknya.

Gangguan gaib yang asalnya dari jenis sukma / arwah yang bersemayam di dalam tubuh manusia
yang masih hidup adalah jenis gangguan gaib yang paling sulit ditangkal. Yang bersemayam di dalam
kepala biasanya kekuatannya rendah, kalau lebih kuat biasanya akan bersemayam di dalam badan.

Sosok sukma manusia tersebut biasanya energinya halus sekali sehingga sulit dideteksi dan sulit
dirasakan keberadaannya, dan penampakannya juga halus sekali sehingga sulit dilihat
keberadaannya, ditambah lagi ada banyak sukma manusia pelakunya yang berkesaktian tinggi yang
kesaktiannya bisa sampai puluhan ribu kali lipat kesaktiannya ibu ratu kidul, jauh sekali di atas
kekuatan bangsa jin terkuat di bumi, apalagi dibandingkan khodam ilmu yang umum, dan untuk
mengusirnya hanya dapat dilakukan dengan menggunakan kekuatan gaib (tenaga dalam, kekuatan
kebatinan / spiritual, atau khodam) yang lebih tinggi saja.

Secara umum keberadaan sesosok gaib, apapun jenis dan wujudnya, yang bersemayam tinggal di
dalam tubuh manusia (di dalam kepala atau badannya) adalah kegaiban tingkat tinggi, sehingga
jarang ada orang, sekalipun orang itu berilmu tinggi / spiritualis kawakan, yang bisa dengan benar
mendeteksi keberadaannya, apalagi untuk menangkalnya, apalagi yang baru sekedar bisa melihat
gaib. Kebanyakan orang yang berusaha mendeteksi / melihat keberadaan sosok halus itu akan
dikelabui dan disesatkan pengertiannya, sehingga ia akan mengatakan bahwa orang yang
ketempatan mahluk halus itu memiliki khodam pendamping penjaga, berwujud harimau atau
prajurit, seringkali malah dikatakannya bahwa itu adalah khodam leluhurnya.

Bersemayamnya sesosok sukma jahat di dalam tubuh atau di dalam kepala seseorang sulit sekali
untuk diketahui, termasuk oleh orang-orang yang tajam penglihatan gaibnya dan yang sudah
bertahun-tahun berpraktek sebagai paranormal dan spiritualis supranatural, karena selain sukma
tersebut halus sekali energi dan penampakannya, menyamarkan keberadaan dirinya dengan suatu
energi (ilmu halimunan), juga ada yang keberadaannya tertutupi oleh mahluk-mahluk halus lain yang
sengaja ditariknya untuk menutupi dirinya. Apalagi jika sukma tersebut berkekuatan tinggi yang
bahkan mampu menarik mahluk halus jin iblis bertanduk dua untuk menutupi dirinya. Hanya orang-
orang yang sangat tinggi tingkat kepekaan / ketajaman kebatinan - spiritualnya saja yang mampu
mendeteksinya.

Tapi sekarang dari uraian pola perilaku dan fenomena yang sudah diceritakan di atas, tentang
kemampuan seseorang melihat gaib tanpa sebelumnya pernah belajar peka rasa, kita mendapatkan
bahan untuk berwaspada terhadap kemungkinan adanya keberadaan sukma jahat tersebut, atau
jenis mahluk halus lainnya, di dalam tubuh kita. Walaupun indikasi-indikasi kejadian seperti disebut
di atas belum tentu pasti menunjukkan adanya sesosok halus di dalam tubuh manusia, karena harus
diperiksa satu per satu kejadiannya, tetapi seharusnya itu menjadi bahan untuk kita berwaspada.

Sifat-sifat energi mahluk halus akan mengikuti perwatakannya. Sifat energi mahluk halus golongan
putih akan berbeda dengan yang dari golongan hitam. Dengan kepekaan rasa orang akan bisa
membedakan kehadiran sesosok halus dari rasa energinya apakah sosok halus itu dari golongan
putih ataukah dari golongan hitam. Dan dengan kepekaan rasa juga orang akan bisa membedakan
energi sesosok gaib apakah bersifat positif ataukah negatif.

Semua mahluk halus, selain yang dari jenis sukma manusia, fisiknya adalah berupa energi sehingga
perbuatan dan pergerakannya bisa dihalangi atau ditangkal dengan pagaran energi yang lebih kuat.

Mahluk halus golongan hitam dan yang berenergi negatif, karena fisiknya berupa energi maka
pergerakannya akan bisa dihalangi atau ditangkal selain dengan pagaran energi yang lebih kuat, juga
dengan pagaran gaib yang padat berisi energi positif yang berlawanan sifatnya dengan energi sosok
gaib yang negatif / hitam. Karena itu jika kita membuat pagaran energi, usahakan selain membuat
dindingnya keras, ada energi penolakannya, juga dibuat di dalamnya padat dengan energi positif,
sehingga jika ada sesosok halus golongan hitam yang mampu menembus dinding pagaran gaibnya,
diharapkan dia tidak akan mampu terus masuk ke dalamnya, karena padatnya energi positif di dalam
pagaran gaib yang sifatnya berlawanan dengan sifat energinya. Seandainya pun kekuatan gaib sosok
halus itu terlalu tinggi sehingga mampu masuk menembus pagarannya, diharapkan dia tidak akan
betah berlama-lama di dalamnya sehubungan dengan ketidak-nyamanan dari adanya energi positif
yang berlawanan sifat dengan energinya.

Pagaran gaib untuk melawan jenis sukma manusia memang sulit dibuat. Selain karena tingkat
kekuatan mereka bervariasi, ada yang rendah, ada juga yang tinggi sekali, juga karena mereka bisa
dengan akalnya beradaptasi dengan bentuk pagaran gaibnya untuk menerobosnya.
Jika untuk menangkal jenis sukma manusia itu digunakan pagaran gaib, maka pagarannya harus
bersifat absolut / solid.

Sekalipun jenis sukma manusia fisiknya juga berupa energi, tetapi tidak murni bersifat energi seperti
mahluk halus lainnya, tetapi dominan bersifat roh, yaitu roh / sukma (arwah) manusia. Lebih sulit
membuat pagaran energi untuk menahan jenis sukma manusia. Untuk menangkalnya pagarannya
harus bersifat absolut / solid. Tetapi kalau pagaran energi itu dibuat, berarti juga akan dapat
menahan roh manusia yang masih hidup (roh pancer dan sedulur papat).

Pagaran energi bersifat pasif, diam saja, tidak seperti roh atau khodam yang bisa bergerak bertindak
sendiri. Jadi untuk penjagaan gaib terhadap sukma manusia jahat itu lebih baik ditambahkan dengan
sesuatu yang bisa bertindak sendiri ketika sukma tersebut datang, misalnya penjagaan gaib dengan
khodam jimat / pusaka atau khodam pendamping. Paling baik adalah penjagaan oleh roh sedulur
papat kita sendiri kalau sudah kuat, berarti kita sendiri harus belajar "membangun" kekuatan gaib
dan sensitif peka rasa sebagai radar deteksi dini.

Dan untuk mengusir sukma jahat tersebut bukan dengan cara membuat pagaran energi, tetapi harus
dengan langsung menghantamkan energi yang lebih kuat kepada sosok sukma tersebut, bisa berupa
energi dari diri sendiri atau energi dari penggunaan khodam / benda gaib. Atau dengan
membungkusnya / mengisolasinya dengan pagaran absolut yang lebih kuat, kemudian pagaran dan
isinya dibuang jauh.

Jadi mahluk-mahluk halus penyesat, yang menyesatkan manusia, selain sosok-sosok halus dari jenis
bangsa jin atau jenis halus lainnya, ternyata ada juga sosok-sosok halus sukma manusia yang jahat.
Sebagian potensi pengaruh buruk dari keberadaan mereka sudah dituliskan dalam tulisan
berjudul Pengaruh Gaib thd Manusia.

Ini adalah salah satu jenis kegaiban tingkat tinggi yang jarang sekali manusia dapat mendeteksi dan
mengetahuinya, apalagi menangkalnya. Sulit untuk manusia, berilmu tinggi sekalipun, untuk bisa
mendeteksi, menangkal atau mengusir keberadaan sukma manusia jahat tersebut, apalagi bila
sukma jahat tersebut menyamarkan keberadaannya dan kesaktian gaibnya juga ada yang sampai
puluhan ribu kali lipatnya kesaktian Ibu Ratu Kidul, dan keberadaannya hanya dapat diusir dengan
kekuatan gaib yang lebih tinggi saja.
Mungkin tidak kita sadari bahwa ada banyak kasus dalam kehidupan manusia yang sumbernya
adalah pengaruh gaib. Salah satu gangguannya adalah yang bersifat fisik. Umumnya jenis halus
sukma manusia energinya tajam, tidak selaras dengan energi tubuh biologis manusia yang masih
hidup, energinya bersifat negatif bagi manusia. Manusia yang di tubuhnya ketempatan jenis halus
sukma manusia cepat atau lambat biasanya akan mengalami gangguan kesehatan, dari yang
kadarnya ringan sampai yang menyebabkan rusak beratnya organ-organ tubuh bagian dalam, di
kepala atau badannya.

Efek resiko lainnya, jenis halus sukma manusia yang masuk dan bertempat tinggal di dalam badan
manusia yang masih hidup pasti akan menyulitkan proses kematiannya, tetapi yang bertempat
tinggal di dalam kepala sifatnya relatif, tidak semuanya akan menyulitkan kematian orangnya.

Pengaruh gaib lainnya adalah kasus-kasus yang orang mendapatkan bisikan-bisikan gaib atau
kesadarannya ditunggangi oleh gaib sehingga orangnya terdorong untuk melakukan perbuatan-
perbuatan yang rendah, dipenuhi pikiran cabul, suka berzinah, memperkosa, suka marah-marah,
emosi tak terkendali, mengamuk, membunuh, dipenuhi pikiran jahat dan suka memfitnah dan
menghasut, menyebarkan kebencian dan permusuhan, dsb, bahkan ada yang sampai benar-benar
hilang kesadarannya, gila. Masing-masing pengaruh gaib itu terhadap psikologis manusia ada kadar
pengaruhnya sendiri-sendiri dari yang kadarnya ringan sampai yang berat.

Walaupun begitu selayaknya manusia sendiri yang harus dapat menahan diri dari segala macam
pengaruh penyesatan, untuk tidak terpengaruh, untuk tidak dikelabui / disesatkan pikirannya, untuk
tidak berbuat jahat, untuk tetap sadar dan menjaga keluhuran budi dan pekerti, apapun agamanya.
Walaupun di dalam dirinya atau di sekitarnya ada mahluk-mahluk halus jahat dan roh-roh penyesat,
ia tetap harus dapat mengendalikan diri untuk tidak terbawa pengaruhnya.

Memang yang utama adalah pengendalian diri, mengutamakan kesadaran yang tinggi untuk selalu
sadar untuk selalu menggunakan kesadaran yang tinggi untuk kontrol diri. Kita sendiri yang harus
tetap bisa kontrol diri, sehingga jika kita mengalami gejolak emosi, atau ada dorongan-dorongan
berbuat tidak baik atau berbuat yang tidak lazim, atau sekalipun di dalam diri kita atau di sekitar kita
ada pribadi-pribadi lain yang sifatnya menggoda / mengganggu / mempengaruhi / menyesatkan, kita
tetap bisa kontrol diri, tetap sadar.

Ada pertanyaan dari pembaca :

Saya membaca obrolan bapak dengan para pembaca yang dalam pencariannya untuk menemukan
Tuhan malah banyak mahluk2 yang mengaku Tuhan mendatangi mereka. Saya sangat tertarik
dengan tema itu. Kira2 apakah hanya dengan eling bisa menyelamatkan mereka dari
kesesatan? Lalu bagaimana orang2 bisa membedakan yang Asli dan Palsu?

Ulasan :

Roh-roh jahat dan penyesat ada dimana-mana. Ada yg datang mengikuti / mendampingi manusia,
ada yg masuk tinggal di dalam badan / kepala manusia (ketempatan mahluk halus). Mereka bukan
hanya datang kpd orang2 yg mencari Tuhan, tapi juga datang kpd orang2 yg awam maupun yg
agamis. Hanya saja orang2 agama dan para spiritualis agamis tidak mampu mengenalinya, apalagi
kalau mereka sendiri ternyata tanpa disadarinya sudah juga disesatkan. Lebih banyak itu hanya
menjadi cerita agama saja.

Seringkali sosok penyesat yg datang itu kekuatannya jauh di atas kemampuan kita untuk mendeteksi
dan menangkalnya. Jadi tinggal kita saja yg berusaha bertahan dari pengaruh penyesatannya. Belajar
membangun ketahanan terhadap penyesatan.

Untuk menghindari kita terbawa penyesatannya tidak cukup kita hanya berserah / bersandar pada
Tuhan. Itu hanya dogma saja. Bagaimana melakukannya kita berserah / bersandar pada Tuhan
? Pasrah tanpa berbuat apa-apa ?

Kita sendiri yg harus selalu eling, tajamkan insting dan peka rasa, kuatkan hikmat ketuhanan dan
belajar fokus kpd Tuhan di atas sana.

Kalau hanya mendengarkan bisikan gaib saja, atau mengawang2, tidak fokus kpd sumbernya,
seringkali kita tidak bisa membedakan sumbernya darimana. Karena itu dalam latihan olah rasa dan
melihat gaib ditekankan juga supaya kita bisa fokus, jangan mengawang-awang, dan dalam laku
kebatinan keagamaan / ketuhanan kita belajar fokus kpd Tuhan di atas sana.

Tambahan :
Ada banyak kejadian yang sifatnya terlalu tinggi untuk bisa kita atasi sendiri ataupun dengan
meminta bantuan orang lain. Sebaiknya kita belajar memperkuat benteng kita dan perlindungan kita
dengan menyatukan diri dengan kekuatan yang paling tinggi, yaitu Tuhan, juga dalam hal meminta
pertolongan. Salah satu caranya adalah dengan kita menekuni laku kebatinan ketuhanan seperti
yang sudah dituliskan dalam tulisan berjudul Kebatinan Dalam Keagamaan.

Selain kita tidak perlu berguru kemana-mana untuk keperluan itu, yang juga masih belum tentu bisa
digunakan untuk mengatasinya jika kejadian-kejadian di atas ternyata terjadi juga pada diri kita
sendiri, laku itu juga sejalan dengan jalan kepercayaan kita sendiri, tidak perlu mencari-cari cara yang
lain, ketekunan kita itu juga akan menambah kualitas kepercayaan dan kerohanian kita sendiri.
Selain kita akan menjadi lebih bisa bersugesti langsung kepada Tuhan, untuk berdoa ataupun untuk
meminta pertolongan, juga kekuatan dari sugesti kita itu akan bisa digunakan untuk banyak
keperluan.

Pengaruh Sinar Bulan Terhadap Mahluk Halus

Bangsa mahluk halus yang terhitung sebagai golongan putih dan golongan hitam, kondisi fisiknya
kuat atau lemah, sangat dipengaruhi oleh sinar bulan. Mahluk halus golongan putih mengambil
sinar bulan sebagai sumber utama kekuatan energinya, sedangkan mahluk halus golongan hitam
mengambil energi dari bumi.

Pada malam bulan purnama (dari bulan sabit menuju bulan purnama), mahluk halus golongan putih
berada dalam kondisi penuh energi. Secara umum kita bisa merasakan suasana yang segar bila
keluar rumah pada saat malam bulan purnama, karena banyak mahluk halus golongan putih yang
keluar bebas di alam untuk mandi sinar bulan purnama, dan pancaran energi positif mereka akan
menyehatkan kita secara fisik maupun psikologis. Sebaliknya, mahluk halus golongan hitam berada
dalam kondisi lemah kekurangan energi dan mereka berdiam di tempat gelap menghindari sinar
bulan.
Pada malam bulan purnama, apalagi pada malam hari Waisak, aura energi positif sinar bulan sedang
dalam kondisi puncaknya. Kondisi ini baik sekali untuk kesehatan dan untuk ritual menambah
kekuatan spiritual atau mencari wangsit.

Pada malam bulan sabit (dari bulan purnama menuju bulan sabit) atau malam mendung dan gelap
tanpa sinar bulan, mahluk halus golongan putih berada dalam kondisi lemah kekurangan energi,
sedangkan mahluk halus golongan hitam berada dalam kondisi penuh energi. Dalam kondisi alam
yang seperti ini para mahluk halus golongan hitam bebas memilih untuk tetap berdiam di tempatnya
berdiam atau keluar bebas di alam. Pancaran aura energi mereka membawa pengaruh negatif
terhadap fisik maupun psikologis manusia.

Pada malam bulan sabit, aura energi kekuatan bumi sedang dalam kondisi puncaknya. Kondisi ini
baik untuk ritual kebatinan dan keilmuan yang menyerap atau menggunakan kekuatan bumi sebagai
sumber kekuatan ilmunya. Tetapi untuk yang sengaja bertirakat untuk tujuan kebatinan, mencari
ilmu atau mencari wangsit, pada malam bulan sabit itu kebanyakan sosok halus yang datang kepada
mereka adalah yang dari golongan hitam dan wangsit / bisikan gaib yang mereka terima kebanyakan
juga berasal dari yang golongan hitam yang kebanyakan palsu dan bersifat menyesatkan. Karena itu
untuk tujuan bertirakat itu paling baik adalah dilakukan pada malam bulan purnama.

Kondisi sinar bulan ini dapat dijadikan suatu petunjuk, tetapi bersifat tidak pasti, hanya sebagai
petunjuk awal saja. Seseorang yang memiliki ilmu gaib berkhodam atau mempunyai khodam
pendamping, ada saat-saat tertentu yang ia merasa ilmunya itu terasa ampuh dan manjur, atau
keinginan-keinginannya banyak terkabul, atau jalan hidupnya terasa ringan banyak keberuntungan.
Bila itu terasa terjadi pada hari-hari yang malamnya adalah malam bulan purnama (dari bulan sabit
menuju bulan purnama), mungkin saja khodamnya itu dari jenis golongan putih. Bila itu terasa
terjadi pada hari-hari yang malamnya adalah malam bulan sabit (dari bulan purnama menuju bulan
sabit) atau hari-hari dan malam cuaca mendung tanpa sinar bulan, bisa jadi khodamnya itu adalah
dari jenis golongan hitam.

Kondisi sinar bulan ini tidak berpengaruh terhadap jenis mahluk halus yang berasal dari jenis sukma
manusia (arwah, pocong, siluman), dedemit gondoruwo, kuntilanak, palasik, wewe gombel,
banaspati, jenis buto, jenis bangsa jin yang sosoknya hitam besar dan yang sosok wujudnya ular.

Pada malam dan hari-hari yang malamnya adalah malam bulan sabit (atau dari bulan purnama
menuju bulan sabit) ada banyak gaib-gaib negatif yang berseliweran. Sebaiknya selama hari-hari itu
kita membatasi diri untuk tidak melakukan ritual atau begadang di luar rumah. Juga untuk laku
meditasi menurunkan energi bulan usahakan tidak melakukannya pada saat bulan sabit. Jangan
sampai apapun aktivitas yang anda lakukan pada malam dan hari-hari yang malamnya adalah malam
bulan sabit itu ada sesosok gaib negatif yang mengikuti anda. Gunakan minyak jafaron merah atau
turunkan energi positif untuk menolak datangnya gaib-gaib negatif (tetapi cara ini tidak dapat
digunakan untuk jenis halus sukma manusia).

Pertanyaan Seputar Perilaku Mahluk Halus

Ada banyak pertanyaan serupa mengenai perilaku mahluk halus, misalnya banyak orang yang
mengatakan bahwa mahluk halus suka menipu. Jadi kalau kita bertanya atau meminta petunjuk
kepada mereka, maka jawaban mereka adalah bohong dan menipu.

Di sisi lain banyak juga orang berkata bahwa mahluk halus lebih tegas daripada manusia. Kalau
jawabannya ya, akan mereka katakan ya, kalau jawabannya tidak, akan mereka katakan tidak. Jadi
mereka berkata yang sebenarnya, tidak menipu.

Mana yang benar ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, memang tidak akan ada jawaban yang pasti benar, karena
sebenarnya perilaku mahluk halus mirip juga dengan perilaku manusia.

Perilaku mahluk halus sama dengan manusia, ada yang jujur, ada juga yang suka berbohong. Ada
yang polos, lugu dan berintelijensi rendah, ada juga yang cerdik, bijaksana dan berintelijensi tinggi.

Manusia yang suka menyendiri, tidak suka bergaul, biasanya jarang berbohong. Begitu juga mahluk
halus yang hidupnya menyendiri, tidak berkomunitas, biasanya juga tidak suka berbohong.
Manusia yang suka bergaul, berkomunitas, suka berkumpul dan mengobrol dengan teman-
temannya, ada yang suka berbohong, ada juga yang tidak suka berbohong. Begitu juga mahluk halus
yang hidupnya berkomunitas, ada yang suka berbohong, ada juga yang tidak suka berbohong.

Dan seperti juga manusia, manusia yang jujur pun kadangkala juga berbohong. Begitu juga mahluk
halus. Karena itu kita harus pandai-pandai menilai, jangan sampai tertipu.

Tapi kalau dikatakan mahluk halus lebih keras dan tegas daripada manusia, secara umum pandangan
itu bisa dikatakan benar. Kehidupan di alam halus sangat mengutamakan kekuatan dan kesaktian,
maka semua yang hidup di alam halus secara umum lebih keras dan tegas daripada di dunia
manusia. Mereka juga tidak mengenal basa-basi. Jadi apapun yang kita katakan kepada mereka,
yang bisa disamakan dengan harapan atau janji, walaupun maksudnya hanya sekedar basa-basi,
pasti akan dituntut pemenuhannya. Jadi kita harus lebih berhati-hati terhadap perkataan dan
perilaku kita, jangan mengatakan sesuatu yang bisa disamakan sebagai janji / harapan, karena suatu
saat akan dituntut pemenuhannya. Mereka akan "menegur" kita kalau kita tidak memenuhi janji kita
itu.

Misalnya saja pada saat serah terima suatu benda pusaka atau jimat atau ilmu gaib seringkali disertai
pesan untuk merawat, memberi sesaji kembang atau minyak, laku-laku yang harus dijalankan dan
pantangan-pantangan tertentu yang tidak boleh dilanggar. Bila kita tidak mampu menjalaninya atau
merasa berat terbebani dalam jangka panjang, sebaiknya jangan kita sanggupi, jangan meng-iya-kan.
Walaupun kita menyatakan kesanggupan menjalankannya kepada orang yang memberi, tetapi
mahluk gaib benda tersebut atau khodamnya menjadi saksi janji kita, dan janji itu juga berkaitan
dengan dirinya. Bila kita tidak menjalaninya, gaib tersebut dapat menuntut pemenuhan janji kita dan
mungkin juga akan "menghukum" kita dengan caranya sendiri.

Begitu juga halnya dengan roh / sukma / arwah manusia yang sudah hidup di alam halus. Sekalipun
semasa hidupnya seseorang berwatak lembut dan halus, tetapi setelah hidup di alam halus, karena
pengaruh kehidupan di alam halus yang sangat mengedepankan kekerasan, ketegasan dan kekuatan,
mereka juga akan beradaptasi dan akan menjadi lebih galak / keras / tegas, lebih dari watak aslinya
semasa masih hidup.

Ada juga pertanyaan, apakah khodam akik atau keris atau mahluk halus lain yang bergolongan hitam
atau berenergi negatif, ketika ditayuh akan jujur mengakui bahwa dia dari gol. hitam atau berenergi
negatif ?
Jawab : biasanya ya, mereka akan mengakui itu. Tapi kalau itu dari jenis sukma manusia, kalau
wataknya jelek biasanya mereka tidak akan mengakui dan akan cenderung menipu.

Ada juga pertanyaan, apakah sosok iblis yang di tulisan mas tersebut yang berbentuk ular hitam
merupakan sosok IBLIS dari jaman Nabi ADAM...(yang dipanjangkan umurnya sampai Kiamat Tiba?).
Kalau iya kenapa kekuatannya cuma setingkat kanjeng Ratu Kidul ?

Pertanyaan kedua, adakah sosok Jin yang lebih tua umurnya dari IBLIS ? yang masih ada sampai
sekarang ?

Jawab :

Ada banyak iblis ular hitam, bukan hanya satu, hanya saja jarang ketahuan dimana keberadaannya,
karena mereka selalu bergerak berpindah tempat. Selain itu ada banyak mahluk halus jin berwujud
ular, tapi tidak semua orang bisa membedakan ular-ular gaib itu mana yang iblis, mana yang bukan.

Saya belum mengetahui ada mahluk halus, termasuk jin, yg mati dengan sendirinya karena usia tua,
jadi mungkin ada yg umurnya sudah tua sekali, mungkin juga adalah generasi pertama mahluk halus
diciptakan.

Yang lainnya mungkin adalah keturunan mereka.

Mungkin awalnya semua mahluk diciptakan dalam keadaan yang baik. Tetapi sesudah mereka hidup
sebagai mahluk duniawi, ada yang tetap baik, ada yang menjadi jahat.

Dan generasi pertama mahluk halus diciptakan mungkin bukan iblis, tetapi mereka menjadi iblis,
disebut iblis, sesudah wataknya jahat dan menyesatkan.

Dan penggolongan sebagai iblis atau bukan iblis dilihat dari sifat wataknya yg jahat dan
menyesatkan, bukan semata2 dari tingkat kesaktiannya, sehingga mahluk halus yg sifat wataknya
jahat dan menyesatkan ada yg kekuatannya tinggi, ada juga yg rendah. Yang menentukan adalah
sifat jahatnya, bukan kekuatannya.
Tulisan lebih lanjut untuk belajar mengetahui keberadaan dan pengaruh mahluk halus terhadap
manusia dapat dibaca dalam tulisan Menayuh Keris, Pengaruh Gaib Thd Manusia, dan Interaksi
Mahluk Halus.

Bangsa Siluman

Mengenai bangsa siluman, Penulis mempunyai pengertian sendiri tentang bangsa siluman yang
pengertian Penulis ini tidak sejalan dengan pengertian siluman di masyarakat.

Bangsa siluman dalam pengertian Penulis adalah sesosok mahluk halus yang entah sekarang
bentuknya apa tetapi sudah tidak asli lagi seperti sosok wujud aslinya yang adalah sukma manusia,
karena sebenarnya mahluk halus itu aslinya dulu adalah roh / sukma / arwah manusia.

Jadi bangsa siluman dalam pengertian Penulis adalah mahluk halus roh / sukma / arwah manusia,
tetapi sekarang wujudnya sudah berubah, sudah tidak sama lagi dengan wujud aslinya yang adalah
arwah manusia.

Tetapi di masyarakat ada banyak cerita tentang mahluk siluman dan mahluk jadi-jadian, dan
seringkali istilah siluman itu disamakan artinya sebagai mahluk jadi-jadian. Bangsa siluman tidak
sama dengan mahluk jadi-jadian yang sering merubah wujudnya menyerupai manusia atau
menyerupai mahluk halus lain dengan maksud menipu. Mahluk jadi-jadian biasanya adalah bangsa
jin kelas rendah yang suka mengganggu dan menakut-nakuti manusia. Tetapi cukuplah itu menjadi
cerita saja untuk memperkaya wawasan kita, jangan ditentangkan dengan cerita Penulis, karena
pengertian siluman di masyarakat itu tidak sama dengan pengertian siluman menurut pengertian
Penulis, karena Penulis mempunyai penggolongan sendiri tentang jenis-jenis mahluk halus.

Misalnya saja ada cerita tentang Prabu Siliwangi yang mempunyai banyak prajurit siluman macan.
Dari hasil deteksian Penulis, prajurit macannya itu aslinya adalah bangsa jin yang sosoknya macan,
bukan siluman.

Juga ada banyak mahluk halus ular sering disebut siluman ular, padahal dalam kategori Penulis
mahluk halus ular itu adalah asli bangsa jin yang wujudnya ular, bukan siluman.

Juga ada cerita tentang siluman harimau putih, tetapi menurut Penulis harimau putih itu bukan
siluman, tapi adalah bangsa jin.

Selain yang aslinya adalah bangsa jin, ada juga sosok halus ular, macan, dsb yang sebenarnya adalah
mahluk jadi-jadian, karena sosok-sosok itu adalah ubahan wujud mereka, sosok-sosok itu bukanlah
wujud mereka yang asli.
Jadi disini ada perbedaan penggolongan mahluk halus siluman antara versi Penulis dengan versi di
masyarakat, tetapi cukuplah itu untuk menambah pengetahuan kita saja, karena setiap orang boleh-
boleh saja mempunyai versi dan pendapat sendiri-sendiri.

Penulis mempunyai pengertian sendiri tentang siluman. Bangsa siluman menurut kriteria Penulis
adalah mahluk halus yang asal-usulnya adalah sukma manusia, yang karena sesuatu sebab, mungkin
karena kutukan, kemudian wujudnya berubah menjadi sosok lain, atau mungkin karena kekuatan
ilmunya sehingga sifat energinya berubah menjadi seperti bangsa jin, yang tidak lagi sama dengan
sifat energi sukma manusia pada umumnya.

Bagi yang hanya berubah wujudnya saja, maka sifat energinya masih sama dengan sukma manusia.
Bila yang berubah adalah sifat energinya, maka bila keberadaan energinya kita rasakan dengan
telapak tangan, rasanya tidak lagi seperti asap atau gerakan angin seperti umumnya sukma manusia,
tetapi sama seperti bila kita merasakan keberadaan energi jin atau dedemit, yaitu lebih padat terasa,
ibaratnya seperti menggerakkan tangan di dalam air.

Beberapa contoh siluman :

1. Ibu Kanjeng Ratu Kidul.

Menurut sejarahnya, Ibu Kanjeng Ratu Kidul dulunya adalah seorang putri bangsawan bupati, yang
hidup jauh sebelum jaman Ken Arok dan Singasari, yang mengalami penindasan dan kezaliman
dalam hidupnya. Dengan tujuan memperoleh kesaktian untuk menuntut balas, beliau bersama
adiknya melakukan laku prihatin dan tapa brata. Setelah segala kesaktian diperoleh dan berhasil
menuntut balas, beliau bersama dengan adiknya itu, dengan kekuatan ilmunya mereka moksa,
masuk ke alam gaib bersama dengan raga mereka.

Di alam gaib, bersama dengan para pengikutnya, mereka membangun kerajaan gaib. Ibu Kanjeng
Ratu Kidul berkuasa terutama di sepanjang pantai selatan pulau jawa, dari ujung timur sampai ujung
kulon. Posisi kerajaannya + 10 km sebelah selatan pantai Parang Tritis, Yogyakarta.

Ibu Kanjeng Ratu Kidul sering dikatakan sebagai mahluk siluman. Beliau, karena kekuatan ilmunya,
kondisi sifat fisik energinya berubah menjadi seperti sifat fisik energi bangsa jin, tidak lagi sama
dengan sifat fisik energi sukma manusia pada umumnya. Tetapi sosoknya tidak berubah, tetap masih
sesuai aslinya, cantik seperti putri keraton. Jadi yang berubah hanya sifat energi dari sukmanya saja,
tidak lagi sama dengan sifat energi sukma manusia pada umumnya, sedangkan sosoknya tidak
berubah.

(baca juga : Ibu Kanjeng Ratu Kidul).

2. Buaya Buntung dan Ular Buntung Tak Berekor.

Sosok gaib buaya buntung dan ular buntung tak berekor biasanya berasal dari sukma manusia yang
dahulu semasa hidupnya berambisi mengejar kesaktian kanuragan maupun kesaktian gaib yang
kesaktian tersebut saat diperoleh terkait hubungan dengan gaib tertentu (ngelmu gaib).

Tetapi manusia tersebut mati karena kalah dalam pertarungan. Kemudian wujud sukmanya berubah
menjadi buaya buntung atau ular buntung. Ekor yang buntung menjadi tanda bahwa dahulu mereka
mengalami kekalahan dalam suatu pertarungan.

Bila dahulu ilmu kesaktiannya berhubungan dengan mahluk gaib yang berdiam di air, maka
kemudian sosoknya berubah menjadi buaya buntung.

Bila dahulu ilmu kesaktiannya berhubungan dengan mahluk gaib yang berdiam di darat, maka
kemudian sosoknya berubah menjadi ular buntung.

3. Manusia Setengah Ular dan Siluman Kerbau.

Sosok manusia dengan pinggang ke bawah seperti ular dan sosok siluman kerbau biasanya berasal
dari sukma manusia yang dahulu semasa hidupnya berambisi mengejar kesaktian kanuragan
maupun kesaktian gaib yang kesaktian tersebut saat diperoleh terkait hubungan dengan gaib
tertentu.
Bedanya dengan buaya buntung dan ular buntung, manusia tersebut tidak mengalami mati karena
kalah dalam suatu pertarungan. Tetapi setelah kematiannya, wujud sukmanya berubah menjadi
sosok setengah manusia setengah ular atau menjadi siluman kerbau.

4. Buaya Putih dan Siluman Kera.

Sosok gaib buaya putih dan siluman kera biasanya berasal dari sukma manusia yang dahulu semasa
hidupnya berambisi mengejar kekayaan dengan cara pesugihan (atau ngalap berkah) atau menjalani
ilmu gaib tertentu untuk kekayaan. Setelah kematiannya, sukmanya berubah menjadi buaya putih
atau siluman kera.

Bila dulu kekayaannya berhubungan dengan mahluk gaib yang berdiam di air, maka kemudian
sosoknya berubah menjadi buaya putih.

Bila dulu kekayaannya berhubungan dengan mahluk gaib yang berdiam di darat, maka kemudian
sosoknya berubah menjadi siluman kera.

Sebagai catatan, banyak mahluk halus yang sosok wujudnya serupa dengan sosok-sosok siluman
seperti disebutkan di atas. Jadi walaupun ada mahluk halus sosok wujudnya sama dengan sosok-
sosok di atas, belum tentu dia adalah bangsa siluman, karena banyak sosok gaib, biasanya bangsa
jin, yang wujudnya mirip dengan sosok-sosok di atas. Jadi yang dimaksudkan siluman disini adalah
sosok-sosok gaib yang asli merupakan bangsa siluman, yang dulunya adalah manusia.

Contoh mahluk halus yang sosok wujudnya mirip dengan contoh siluman di atas adalah Nyi Blorong,
yang wujudnya adalah manusia perempuan dengan bagian pinggang ke bawah seperti ular.
Nyi Blorong adalah asli bangsa jin. Asal-usul aslinya adalah dari sebuah gunung di Jawa Barat. Dulu ia
pernah bertarung dengan Ibu Ratu Kidul untuk memperebutkan kekuasaan di pantai selatan jawa
dan wilayah jawa tengah dan jawa timur. Tetapi dia kalah. Atas seizin Ibu Ratu Kidul, Nyi Blorong
bertempat tinggal dan berkekuasaan di Pantai Karang Bolong dan sekitarnya (Kebumen-Cilacap,
Jawa Tengah).

Nyi Blorong ini berwatak jahat. Untuk mencari pengikut, dia memberikan kesaktian dan jasa
pesugihan kepada manusia yang memintanya, yang kemudian setelah orang tersebut meninggal
dunia atau tidak mampu memenuhi perjanjian akan dijadikan tumbalnya atau dijadikan budaknya.

Tetapi karena ketidaktahuan orang kemudian terjadi kekeliruan yang kaprah yang Nyi Blorong ini
disamakan orang sebagai Ibu Ratu Kidul dan pesugihan Nyi Blorong ini juga dikatakan sebagai
pesugihan Ibu Ratu Kidul.

------------

Dalam tulisan di halaman ini Penulis menuliskan fenomena wujud roh manusia / arwah dari
seseorang yang sudah meninggal yang berubah menjadi tidak lagi sama seperti wujud manusia
aslinya. Ada yang berubah menjadi siluman kera, siluman kerbau, buaya putih, dsb. Itu terjadi selain
mungkin karena adanya kutukan atas perilaku dan perbuatan seseorang semasa hidupnya, juga
karena sifat perwatakan manusia itu sendiri semasa hidupnya, sehingga setelah meninggal rohnya
berubah wujud menjadi sejenis siluman, yang tidak sama lagi dengan jenis-jenis sukma manusia yang
umum.

Seperti yang sudah dituliskan di halaman sebelumnya, sosok-sosok mahluk halus di alam gaib adalah
menggambarkan perwatakannya yang sesuai dengan perwujudannya masing-masing. Sekalipun
seorang manusia tidak berhubungan atau tidak pernah meminta bantuan kepada suatu gaib
tertentu, tetapi fenomena siluman seperti di atas tetap dapat terjadi. Dan seseorang yang kemudian
sukmanya berubah menjadi siluman, yang menentukan wujud sukmanya akan menjadi seperti apa,
bukan hanya perbuatannya, tetapi juga watak manusia itu sendiri. Ini adalah fenomena kegaiban
dalam hidup yang tidak semua manusia mengetahui dan percaya kebenarannya. Tidak ada cara lain
untuk percaya kecuali mengalaminya sendiri.
Contohnya, siluman monyet / kera adalah menggambarkan watak manusia yang rakus, tamak dan
serakah dan akan melakukan apapun cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, termasuk
dengan perbuatan-perbuatan yang tercela. Sekalipun semasa hidupnya tidak pernah berhubungan
atau meminta bantuan kepada gaib manapun, juga tidak pernah menjalani pesugihan, tetapi tetap
saja dapat terjadi bahwa kemudian sukma seseorang berubah menjadi monyet / kera karena adanya
kutukan akibat perbuatan-perbuatannya semasa hidupnya atau karena sifat perwatakannya sendiri.

Setelah sosoknya berubah menjadi monyet / kera, dia tidak dapat tinggal di dalam komunitas sukma
manusia, tetapi tinggal di dalam komunitas monyet / kera. Apa rasanya setelah tinggal di dalam
kawanan monyet / kera, kemudian dia kawin dengan monyet lain dan beranak-pinak, padahal di
dalam jiwanya dia sadar bahwa dia adalah manusia, bukan monyet. Ditambah lagi dengan
didengarnya adanya ucapan-ucapan manusia yang mengatakan bahwa kawanan monyet tersebut
adalah berasal dari sukma manusia yang semasa hidupnya menjalani pesugihan.

Fenomena-fenomena gaib seperti di atas memang benar terjadi, dan sebaiknya jangan hanya kita
jadikan bahan bacaan atau cerita saja, karena kejadian-kejadian di atas dapat juga terjadi pada diri
kita. Tulisan mengenai bangsa siluman ini seyogyanya memberikan kita suatu kebijaksanaan dalam
hidup, kebijaksanaan dalam berperilaku dan menjaga moral yang baik. Berbagai agama, kebatinan
dan spiritual pun mengajarkan supaya manusia menjadi pribadi yang baik dan berbudi luhur.
Kehidupan beragama dan segala laku amal dan ibadah seharusnya menjadikan pribadi yang baik,
ahklak yang baik, jangan hanya sekedar menekankan pada kerajinan beribadah formal atau ke-Aku-
an beragama saja. Agama mengajar manusia supaya selalu bersyukur dalam hidupnya. Agama tidak
melarang seseorang menjadi kaya, tetapi sifat sombong, tamak dan serakah itu yang harus dihindari.

------------

Bangsa Dedemit

Istilah Bangsa Dedemit digunakan untuk mengelompokkan berbagai macam mahluk halus yang
jenisnya sendiri-sendiri, tetapi semuanya tergolong sebagai tingkat rendah, yaitu dari sisi tingkatan
dimensinya (lebih mudah dilihat dibanding mahluk halus lainnya), kekuatan gaibnya, ataupun
intelijensinya.

Contoh Dedemit seperti yang sering kita dengar adalah :

1. Kuntilanak
Kuntilanak adalah sejenis mahluk halus yang sosoknya dan perangainya menyerupai manusia
perempuan, berambut panjang dan berpakaian putih panjang sampai ke tanah, tetapi kakinya tidak
tampak menginjak tanah. Tetapi tidak semua kuntilanak sosoknya seperti manusia perempuan muda
bergaun putih, ada juga yang seperti ibu-ibu gemuk.

Kuntilanak biasanya hidup berkelompok (berkomunitas). Sering tinggal di pohon-pohon buah yang
sudah pernah berbuah atau di pohon bunga yang pohonnya besar dan sudah pernah berbunga, atau
di lingkungan pemukiman yang berpohon dan teduh.

Tempat tinggal favorit komunitas kuntilanak adalah di lokasi tanah kering atau perumahan yang
dulunya daerah itu adalah rawa-rawa yang sudah dikeringkan airnya. Apalagi bila kemudian tanah di
daerah itu banyak ditanami pohon pisang.

Pohon buah yang buahnya biasa dimakan orang dan sudah pernah berbuah, seperti pohon jambu,
mangga, rambutan, dan pohon bunga yang pohonnya besar dan sudah pernah berbunga, sudah
umum bila pohon-pohon tersebut kemudian akan dihuni mahluk halus sebangsa kuntilanak.
Kuntilanak memiliki sifat seperti manusia perempuan yang juga suka dengan buah-buahan dan
bunga. Biasanya keberadaan mereka tidak mengganggu, kecuali pohonnya jauh dari rumah
pemiliknya atau jauh dari pemukiman atau pemiliknya kerap berbicara atau bersikap negatif
terhadap keberadaan mereka.

Pohon kamboja yang identik dengan kuburan biasanya malah tidak dihuni oleh mahluk halus, tetapi
tanaman kecil bunga mawar, melati, kenanga, biasanya malah ada mahluk halus perempuan bangsa
jin atau kuntilanak yang menungguinya, walaupun keberadaan mereka biasanya tidak bersifat
negatif. Apalagi pohon kembang kantil yang pohonnya besar, biasanya ada banyak kuntilanak dan
jenis sukma / arwah dan pocong yang tinggal di pohon itu.
Foto bangsa jin yang sosoknya mirip kuntilanak,
dikirimkan oleh Galuh Eska.

Perangai kuntilanak mirip seperti manusia perempuan, senang dengan buah dan bunga, senang
bercanda, senang menggoda manusia dan senang dengan anak kecil / bayi (biasanya bukan dengan
maksud mengganggu). Biasanya tidak jahat, walaupun ada juga yang suka jahil dan mengganggu.

Di dalam komunitas kuntilanak ada juga yang perangainya keras dan tidak menyukai kehadiran
manusia di lingkungan tenpat tinggal mereka dan kerap mengganggu manusia supaya tidak tinggal
disitu.

Di antara para mahluk halus, kuntilanak termasuk mahluk halus yang kekuatan gaibnya paling
rendah.

Sebagian dari mereka ada yang suka mengikut manusia dengan cara menempel di bagian tertentu
tubuh manusia. Walaupun secara energi mereka tergolong sebagai berenergi positif, tetapi manusia
yang ketempelan kuntilanak seringkali tidak tahan dengan keberadaan energi mereka di tubuhnya
dan sering merasa sakit / pusing ringan atau pegal-pegal. Sekalipun sudah kerokan atau dipijat,
tetapi rasa pusing atau pegal itu akan selalu ada selama kuntilanak tersebut belum pergi dari
tubuhnya. Keberadaan mereka di dalam tubuh manusia dapat diusir dengan mandi guyuran
rendaman daun kelor.

Tetapi banyak orang tidak dapat membedakan kuntilanak dengan mahluk halus lain yang sosoknya
mirip dengan kuntilanak. Ada banyak bangsa jin yang sosoknya seperti manusia perempuan,
berpakaian putih sampai ke tanah dan berambut panjang sering dikatakan sebagai kuntilanak. Ada
juga yang sosoknya mirip kuntilanak, tetapi pakaiannya ada yang berwarna merah, biru, kuning, dsb.
Itu sebenarnya adalah bangsa jin, bukan kuntilanak. Walaupun sosoknya mirip, tetap saja mereka
berbeda. Sifat energi dan psikologisnya pun berbeda antara bangsa jin dengan kuntilanak. Dan
walaupun sosoknya mirip seperti kuntilanak, tetapi kekuatannya lebih tinggi daripada kuntilanak,
sehingga tidak dapat diusir dengan daun kelor.

Jika ada sesosok kuntilanak yang secara alami menjadi khodam batu akik atau khodam benda gaib
lainnya, biasanya mereka akan memberikan tuah pengasihan.
Tetapi ada sebagian dari mereka yang berkarakter keras. Jika mereka menjadi khodam jimat atau
khodam pendamping, mereka akan menunjukkan bahwa mereka ampuh, dan mereka akan
melakukan apa saja untuk dianggap ampuh. Bentuk tuahnya bisa apa saja mengikuti kebutuhan si
manusia, bisa ampuh untuk pengasihan, kerejekian (menjurus pesugihan), bahkan menjadikan si
manusia tahan pukul atau bahkan kebal senjata tajam.

Sekalipun kekuatan gaibnya rendah, kuntilanak bisa saja bertuah kekebalan, karena sebenarnya
sosok kuntilanak banyak juga yang menjadi khodam jimat kebal isian. Ampuh tidaknya jimatnya
tergantung orang yang mewiridkan amalan gaibnya.

Jika ada sesosok kuntilanak yang menjadi khodam pendamping, mereka lebih suka mengikut kepada
manusia laki-laki. Jika menjadi khodam batu akik atau khodam jimat lainnya, mereka lebih suka jika
bendanya dimiliki oleh manusia laki-laki. Kepada laki-laki pemilik bendanya itu biasanya si khodam
kuntilanak akan sering memberikan mimpi bercinta. Selebihnya mereka akan memberikan unjuk
kerja yang ampuh. Tetapi sosok kuntilanak ini juga bersifat pencemburu, dan jika itu terjadi, ia akan
bertindak sama seperti halnya orang yang sedang cemburu. Jika itu terjadi, berarti mereka sudah
menunjukkan adanya tendensi yang negatif.

Jika anda memiliki benda yang berkhodam kuntilanak, atau memiliki khodam pendamping
kuntilanak, jika anda merasa cocok boleh saja dipelihara. Tapi sebaiknya anda harus bisa kontrol diri,
karena kalau lemah, secara psikologis anda akan dikuasainya. Jadi selama memilikinya sebaiknya
anda harus selalu bisa kontrol diri.

Jika khodam kuntilanak itu bersikap netral, mereka tidak akan terpengaruh oleh minyak jafaron
merah. Tetapi jika mereka bertendensi negatif seperti ditulis di atas, maka mereka akan menjadi
terpengaruh oleh minyak jafaron. Khodam jimat dan pendamping kuntilanak anda yang bertendensi
negatif itu akan pergi jika bendanya dioleskan dengan minyak jafaron, atau jika anda mandi dengan
campuran minyak jafaron, atau jika mereka terkena asap bakaran minyak jafaron. Dengan kata lain,
jika dirasakan adanya gangguan dari sosok kuntilanak yang bertendensi negatif tersebut minyak
jafaron ini dapat digunakan untuk mengusir keberadaan kuntilanak tersebut (baca juga :
Pembersihan Gaib 2).

2. Gondoruwo.

Gondoruwo adalah sesosok mahluk halus yang biasanya tingginya 3 - 4 meter dan berbulu hitam
atau hitam kecoklatan di seluruh tubuhnya seperti orang utan. Biasanya hidup sendirian. Sering
tinggal di bagian bawah pohon besar, di tembok rumah, atau di bagian bangunan yang teduh dan
sepi.
Energinya bersifat negatif bagi manusia, bisa menyebabkan manusia sakit-sakitan, terutama anak-
anak dan orang yang sensitif tubuhnya, jika si manusia sering berada di dekatnya atau jika ada
gondoruwo yang tinggal di dekat tempat tinggal manusia, terutama di dekat ruang tidurnya.

Gondoruwo termasuk mahluk halus yang sulit dibaca jalan pikirannya dan lebih banyak
menggunakan insting / naluri. Gondoruwo memiliki kekuatan gaib 2 kali kekuatan kuntilanak.

Sekalipun kekuatan gaibnya rendah, jika menjadi khodam jimat, gondoruwo bisa saja bertuah
kekebalan, karena sebenarnya sosok gondoruwo banyak juga yang menjadi khodam jimat kebal
isian. Ampuh tidaknya jimatnya tergantung orang yang mewiridkan amalan gaibnya.

Tempat tinggal favorit gondoruwo adalah di lokasi pemakaman, lokasi bekas pemakaman, di
bangunan yang di bawahnya ada makam, dan di bangunan-bangunan kosong yang dulunya dihuni
manusia.

Kadang ada gondoruwo yang mengikut manusia dengan cara berdiam di bagian tertentu tubuh
manusia. Karena mereka tergolong sebagai berenergi negatif, maka biasanya manusia yang
ketempatan gondoruwo akan merasakan sakit dan akan semakin parah sakitnya (berbeda dengan
ketempelan kuntilanak yang hanya pegal-pegal atau pusing ringan). Rasa sakit itu akan selalu ada
dan semakin berat / parah selama gondoruwo tersebut belum pergi dari tubuhnya.

Misalnya ada gondoruwo yang berdiam di bagian perut manusia, biasanya manusia tersebut akan
sakit perutnya, sakit maag, mulas, mencret, buang-buang air, dsb, yang kalau dibiarkan akan menjadi
semakin parah sakitnya dan dapat mengakibatkan kematian. Bila berdiam di bagian kepala, dapat
menyebabkan pusing atau sakit kepala yang berat, pandangan berputar-putar / vertigo, kehilangan
keseimbangan berdiri dan mudah jatuh tersungkur.

Keberadaan mereka di dalam tubuh manusia dan pengaruh negatif energinya dapat diusir dan
dinetralkan dengan mandi guyuran rendaman daun kelor atau mandi dengan campuran minyak
jafaron merah (baca juga : Pembersihan Gaib 2). Tetapi bila sakit yang diderita akibat keberadaan
gondoruwo tersebut sudah terlanjur merusak saraf manusia (terutama saraf keseimbangan di
kepala), maka harus juga dipulihkan dengan cara dipijat / diurut saraf-sarafnya atau dengan pijat
refleksi.

Kalau hanya membedakan dari sisi penampakan wujudnya seringkali orang tidak dapat membedakan
gondoruwo dengan mahluk halus lain yang sosoknya mirip dengan gondoruwo. Ada banyak bangsa
jin yang sosoknya berbulu lebat di seluruh tubuhnya, hitam, besar, tinggi, berwajah seram, sering itu
dikatakan sebagai gondoruwo. Tetapi tetap saja mereka berbeda. Sifat energi dan psikologisnya pun
berbeda antara bangsa jin dengan gondoruwo. Dan walaupun sosoknya mirip seperti gondoruwo,
tetapi bangsa jin itu kekuatan gaibnya cukup tinggi sehingga tidak dapat diusir dengan daun kelor.

3. Wewe Gombel.

Ada beberapa kejadian yang dialami oleh anak-anak, terutama bayi, yang sudah meninggal, yaitu
rohnya dijemput oleh sesosok mahluk halus yang biasa disebut wewe gombel. Sosoknya seperti ibu-
ibu tua agak gemuk dengan buah dadanya panjang menggantung. Anak-anak yang dijemputnya akan
dijadikan peliharaannya. Biasanya hidup sendirian di hutan atau di daerah berpohon yang sepi
bersama anak-anak yang dijemputnya.

Bila wewe gombel mendekati anak manusia yang masih hidup, biasanya si anak akan menangis
terus-menerus ketakutan. Wewe gombel ini bisa ditangkal dengan memborehkan bawang merah
dan bawang putih (yang sudah ditumbuk dihaluskan) di tubuh bayi / anak, seperti yang sudah biasa
dilakukan di dalam masyarakat Jawa, atau dengan sedikit mengoleskan minyak jafaron di dada atau
di kepala anak tersebut.

Wewe Gombel memiliki kekuatan gaib setingkat dengan kuntilanak.

4. Tuyul.

Tuyul adalah mahluk halus bertubuh seperti anak kecil yang seringkali dimanfaatkan manusia untuk
pesugihan dengan cara diperintahkan mencuri uang milik orang lain.

Orang yang memelihara tuyul berarti harus memeliharanya seperti layaknya ia memelihara anak
sendiri, misalnya menyediakan kamar dan tempat tidur, mainan, makanan / permen, menyusuinya
dan membawanya jalan-jalan.

Dalam kategori Tuyul ada 2 jenisnya.

Pertama adalah Tuyul yang berasal dari roh manusia (arwah anak-anak) yang diperintahkan menjadi
tuyul oleh orang-orang tertentu. Mereka tetap tergolong sebagai roh / sukma manusia. Biasanya
kekuatan gaib mereka rendah.

Yang kedua adalah Tuyul yang asli tercipta sebagai mahluk halus Tuyul, bukan berasal dari roh /
arwah manusia. Wujudnya mirip manusia anak-anak, tetapi sosoknya ada yang bermata satu (di
tengah jidat), ada yang bermata tiga, ada yang berkuping panjang dan lancip, ada yang memiliki
tanduk di kepalanya. Perilakunya juga mirip seperti anak-anak, yaitu senang bermain dan bercanda,
suka meminta mainan atau mencuri, dsb. Banyak di antara mereka yang berkelakuan jahat, galak
dan ganas dan berkekuatan gaib tinggi, Ada yang kekuatannya sama dengan Ibu Ratu Kidul, tidak
sama dengan jenis tuyul yang berasal dari sukma manusia anak-anak. Jenis tuyul yang kedua ini oleh
Penulis digolongkan sama dengan mahluk halus golongan hitam.

Jenis Tuyul yang kedua ini berbahaya, termasuk bagi pemiliknya. Walaupun bekerjanya lebih giat dan
hasil kerjanya lebih banyak daripada jenis yang pertama, tetapi mudah marah dan cenderung jahat.
Bila tuntutannya tidak dipenuhi mereka akan menyerang pemiliknya, bahkan mungkin
membunuhnya. Bila minta disusui, tuyul itu menuntut untuk disusui oleh manusia yang adalah istri si
pemilik tuyul tersebut. Nafsu minum susu dan daya hisap tuyul tersebut sangat kuat tidak seperti
anak-anak pada umumnya. Tuyul tersebut akan menguras habis air susu yang menyusuinya dan
darah wanita itupun akan ikut tersedot, apalagi bila air susunya tidak ada karena tidak sedang
menyusui. Orang yang menyusui tuyul tersebut akan kesakitan, kurus dan lemas. Bila sang majikan
mempunyai anak, tuyul tersebut sering juga merasa cemburu dan dapat mencelakakan atau bahkan
membunuh anak tersebut.

Untuk menangkal tuyul kita bisa membuatkan bola pagaran gaib absolut yang menyelubungi tempat
penyimpanan benda-benda berharga kita. Pagaran gaib itu bisa dibuatkan oleh khodam cincin batu
akik, pusaka, khodam pendamping, atau kita mencoba membuatnya sendiri, dengan sugesti
membuat pagaran gaib absolut yang tidak bisa ditembus oleh segala macam mahluk halus.

Secara umum kekuatan tuyul tidak lebih daripada kekuatan kuntilanak, tetapi jika ternyata yang
kerap mencuri benda-benda berharga itu bukan tuyul, tapi adalah mahluk halus lain, seperti babi
ngepet atau jenis jin pesugihan, pagaran gaibnya harus dibuat lebih kuat lagi. Karena kekuatan
mahluk halus yang mencuri itu belum diketahui, sebaiknya gunakan saja kekuatan kita atau khodam
yang terkuat yang kita miliki.

5. Sundel Bolong

Sundel Bolong adalah sesosok mahluk halus yang sosoknya menyerupai kuntilanak, berambut
panjang dan berpakaian putih panjang sampai ke tanah. Jumlahnya tidak banyak. Biasanya hidup
sendirian di bagian bawah pohon besar. Bedanya dengan kuntilanak adalah Sundel Bolong ini
punggungnya berlubang dan wajahnya menakutkan. Jika kita lewat di dekatnya, dari tempat
keberadaannya sering tercium bau busuk / bacin. Sundel Bolong memiliki kekuatan gaib setingkat
dengan kuntilanak.

6. Palasik

Palasik adalah sesosok mahluk halus yang sosoknya menyerupai kuntilanak, berambut panjang dan
berpakaian putih panjang sampai ke tanah. Biasanya hidup sendirian di bukit-bukit batu. Bedanya
dengan kuntilanak adalah Palasik ini wajahnya menakutkan, biasanya bertaring dan ada bekas darah
di sekitar taringnya. Palasik memiliki kekuatan gaib setingkat dengan kuntilanak.

Palasik hidup dengan meminum darah hewan ternak, manusia bayi dan anak-anak. Dilakukannya
pada jarak tertentu (+ 15 m). Dengan sorot matanya ia menghisap darah korbannya. Setelah puas,
korbannya akan ditinggalkannya (tidak sampai mati). Pada hari yang lain akan didatanginya lagi
korbannya itu untuk dihisap kembali darahnya. Sebenarnya yang diminumnya bukanlah darah, tetapi
energi dari darah.
Pada saat-saat tertentu ketika Palasik sedang haus darah, tubuhnya akan berubah menjadi sosok
kepala terbang dengan rambut panjangnya terurai (kadang dengan usus menggantung). Dia akan
mencari korban apa saja yang bisa dimangsanya, hewan ternak atau manusia. Bahkan isi perut
korbannya pun ikut dimakannya.

Gambar Palasik,

oleh Nikoagus Setiawan.

Bila Palasik ini mendekati hewan ternak, biasanya hewan-hewan itu akan diam ketakutan dan tidak
ada satupun yang bersuara. Tetapi manusia bayi dan anak-anak kecil yang didekati Palasik biasanya
akan menangis terus-menerus karena ketakutan. Bila berhasil dihisap darahnya, maka bayi dan
anak-anak itu akan sakit dan lemas seperti kekurangan darah. Bila terjadi beberapa kali bayi dan
anak tersebut bisa meninggal dunia karena lemah kekurangan darah.

Palasik ini bisa ditangkal dengan memborehkan bawang merah dan bawang putih (yang sudah
ditumbuk dihaluskan) di tubuh bayi / anak, seperti yang sudah biasa dilakukan di dalam masyarakat
Jawa, atau dengan sedikit mengoleskan minyak jafaron di dada atau di kepala anak tersebut.

Ada juga jenis mahluk halus lain yang gemar menghisap darah, yaitu yang sosoknya mirip seperti
pacet (lintah darat) dengan panjang tubuh sekitar 15 cm, berwarna hitam. Biasanya hidup di hutan
dan di daerah pepohonan yang jauh dari permukiman manusia. Korbannya bisa hewan hutan atau
manusia yang melintas di wilayahnya. Dia akan mendekati / mengejar mangsanya dengan cara
melentingkan tubuhnya.

Ada juga sejenis bangsa jin golongan hitam yang berwujud harimau. Biasanya tinggal di hutan, tetapi
akan mendekati permukiman manusia untuk mencari mangsa (sering disebut harimau jadi-jadian).
Jika tidak dapat menemukan hewan ternak untuk dimangsanya, jenis ini juga akan memangsa
manusia. Biasanya korbannya akan meninggal dunia, kadangkala juga isi perut korbannya akan ikut
dimakannya, persis seperti harimau sungguhan.

Ada juga manusia yang ketempatan mahluk halus jenis jin harimau ini. Keberadaan mahluk halus ini
akan berlaku sebagai khodam kesaktian ilmu harimau. Biasanya pada hari-hari tertentu manusia itu
akan haus darah dan akan memangsa hewan ternak berikut daging mentahnya, tetapi juga akan
memangsa manusia jika tidak dapat menemukan hewan ternak.

Dalam kondisi gaibnya jenis jin ini dapat ditangkal dengan borehan bawang merah dan bawang putih
(mahluk halus tersebut masih dapat mendekati manusia, tetapi tidak akan memangsa manusia yang
diborehkan bawang merah dan bawang putih), tetapi borehan bawang itu tidak dapat digunakan
menangkal perilaku negatif manusia yang ketempatan mahluk halus ini.

7. Gundul Pringis (Ndas Glundung / Setan Glundung)

Penampakan Gundul Pringis seringkali diawali dengan suara seperti jatuhnya buah kelapa dari
pohonnya. Namun ketika didekati ternyata kelapa itu mempunyai mata, hidung dan mulut yang bisa
menyeringai, yang kemudian berubah menjadi sebuah kepala manusia dengan mata yang tajam
menatap.

Gundul Pringis ini dapat mengejar orang dengan cara menggelinding dan menggigitnya hingga
terluka parah. Sekalipun tidak sampai terkena gigitannya, biasanya orang tersebut akan jatuh sakit
karena shock dan trauma.

8. Si Muka Rata

Penampakannya berwujud seperti manusia biasa, tetapi memiliki wajah yang rata, tanpa bentuk
mata, hidung atau mulut dan tidak ada lekuk-lekuk wajah sebagaimana wajah manusia. Biasanya
mereka tidak bersikap jahat atau mengganggu manusia.

Berbeda dengan mahluk halus lain yang keberadaannya tidak ingin diketahui oleh manusia,
kadangkala Si Muka Rata tidak peduli keberadaan mereka terlihat oleh manusia. Seringkali mereka
dengan sengaja mendatangi manusia dengan tujuan menolong atau memberitahukan sesuatu yang
bersifat penting bagi si manusia, walaupun kemudian si manusia tersebut malah ketakutan. Mereka
juga kerap menolong manusia yang sedang memancing atau menangkap ikan di danau atau empang,
sehingga tangkapan ikannya banyak.

Seringkali banyak penampakan Si Muka Rata yang sebenarnya adalah tipuan dari mahluk jin kelas
rendah yang sengaja menampakan diri sebagai Si Muka Rata dan mendatangi manusia dengan
tujuan menakuti-nakuti / menipu.
Foto bangsa jin yang sosoknya mirip kuntilanak,

dikirimkan oleh Galuh Eska.

Foto aslinya

Foto aslinya

setelah diberi sedikit pencahayaan

Foto aslinya

setelah diberi efek negative film

Bangsa Jin

Bangsa jin adalah jenis mahluk halus yang paling banyak jumlahnya dan yang paling sering
berinteraksi dengan manusia. Bangsa jin adalah jenis mahluk halus yang paling sering menjadi
khodam cincin / jimat atau menjadi khodam pendamping / khodam ilmu.

Bangsa jin memiliki bentuk wujud yang bermacam-macam dan terdiri dari berbagai tingkat
kesaktian dan dimensi. Berbeda pulau dan daerah, biasanya juga berbeda-beda wujud
umumnya. Ada yang menyeramkan / menakutkan. Ada juga yang cantik / ganteng, enak
dipandang. Ada yang menyerupai manusia. Ada juga yang menyerupai binatang. Ada juga yang
bentuknya aneh, tidak seperti bentuk mahluk hidup pada umumnya, seperti berbentuk asap,
berbentuk tali tambang, berbentuk kain selendang, berbentuk segulungan angin, dsb.
Banyak orang yang menganggap bahwa bila ada mahluk halus sosoknya besar, gagah, seram, pasti
juga sakti. Tetapi yang sebenarnya adalah, apapun bentuk sosok wujudnya, bukan merupakan
tolok ukur dari kesaktian / kekuatan gaibnya. Apapun wujudnya, kesaktiannya adalah bersifat
relatif.

Tetapi yang pasti, apapun wujudnya (wujudnya yang asli, bukan berubah dengan maksud
menyamar / menipu) merupakan gambaran kepribadian, perwatakan dan perilakunya, yang
semuanya sesuai dengan perlambang sosoknya masing-masing.

Misalnya :

- sosok macan, berarti watak dan perilakunya seperti macan, mudah marah, setia, mudah
berteman.

- sosok ular, watak dan perilakunya seperti ular, sulit ditebak pikirannya, dapat menyerang tanpa
alasan.

- sosok ular naga, berarti watak dan perilakunya seperti naga, berwibawa, berkuasa, setia.

- sosok raksasa buto, watak dan perilakunya seperti raksasa, kurang pikir, suka main kekerasan.

- sosok manusia, berarti watak dan perilakunya seperti manusia, bisa diajak bertukar pikiran.

(baca juga : Hakekat Wujud Mahluk Halus).

Banyak sosok gaib bangsa jin yang wujudnya seperti manusia. Tingginya sama seperti manusia.
Berpakaian dan berpenampilan seperti manusia, misalnya sosoknya berjubah, berpakaian prajurit,
berbaju hitam seperti baju petani, atau seperti pendekar, atau berpenampilan seperti anggota
kerajaan. Mereka berpikir dan berbicara seperti manusia. Kesaktian mereka relatif, ada yang
tinggi, ada yang rendah. Sosok seperti manusia ini menggambarkan kepribadiannya yang seperti
manusia, dapat berpikir dan bertindak seperti manusia. Jenis-jenis mahluk gaib seperti inilah yang
sering dijadikan tempat untuk bertanya, bertukar pikiran, meminta ilmu, meminta petunjuk,
wangsit, dsb. Tetapi seperti halnya manusia, mereka juga bisa menipu.

Dari sifat energinya, sebagian bangsa jin tergolong sebagai mahluk halus berenergi positif,
sebagian lainnya berenergi negatif, dan penggolongan berdasarkan watak dan kepribadiannya,
yaitu golongan hitam atau golongan putih, dan yang sulit dibaca jalan pikirannya, berlaku untuk
mereka (baca : Penggolongan Mahluk Halus).
Walaupun mereka ada di sekitar kita dan mungkin juga berdiam di rumah kita, biasanya mereka
tidak merasa ada hubungan dengan kita, 'urusan sendiri-sendiri'. Tetapi bila kita dianggap
mengganggu atau berbuat kesalahan terhadap mereka atau keberadaannya, mereka bisa marah
dan mungkin akan "menegur" kita dengan cara mereka sendiri.

Kadangkala tanpa sepengetahuan kita, ada mahluk jin bergolongan putih di sekitar kita yang kerap
menolong kita dan keluarga, misalnya membantu menjaga keamanan rumah, mengobati yang
sedang sakit, membantu memperlaris warung / toko, membantu memberi ilham untuk
penyelesaian masalah, dsb. Biasanya bila mereka sudah cocok dengan kita atau rumah kita, bila
sudah pernah membantu, mereka akan terus membantu tanpa meminta imbalan.

Ada bangsa jin yang senang membantu atau berinteraksi dengan manusia, terutama adalah yang
memiliki kaitan dengan leluhur seseorang. Mereka memperlakukan kita seolah-olah kita adalah
anak cucu keturunannya. Kadang-kadang mereka datang menjenguk kita, mengobati yang sedang
sakit, atau mengikut kepada seseorang yang dia merasa cocok. Ketika mereka datang, mereka
menunjukkan bau-bauan tertentu atau rasa tertentu supaya manusia tahu bahwa mereka datang.
Ada juga yang datang "mengendarai" binatang tertentu dan hinggap di rumah kita, misalnya kupu-
kupu dan burung liar. Paling banyak adalah kupu-kupu yang berwarna coklat, dan ada yang
disebut kupu-kupu gajah karena ukurannya besar dan sayapnya lebar seperti telinga gajah. Bila
keberadaan binatang-binatang itu tidak mengganggu, sebaiknya juga jangan diganggu.

Kadangkala tanpa sepengetahuan kita, ada juga mahluk jin di sekitar kita yang berenergi panas
dan kerap menyusahkan kita dan keluarga, misalnya membuat suasana rumah 'panas', sehingga
kita mudah marah dan bertengkar, tidak betah di rumah, menyebabkan sakit-sakitan, warung /
toko sepi pengunjung, mendatangkan banyak kesialan, musibah, dsb. Mereka tidak bermaksud
jahat, hanya saja energinya tidak cocok dengan manusia. Tetapi jin yang bergolongan hitam
biasanya kecenderungannya bersikap jahat kepada kita, walaupun kita tidak berbuat jahat atau
salah kepada mereka.

Banyak mahluk jin yang berkesaktian rendah, bahkan lebih rendah daripada kesaktian kuntilanak
yang di antara para mahluk halus termasuk yang kesaktiannya paling rendah. Tetapi banyak juga
dari mereka yang berkesaktian tinggi, bahkan kesaktiannya bisa mencapai ribuan kali lipat
kesaktian Ibu Kanjeng Ratu Kidul. Biasanya semakin tinggi kesaktiannya, semakin halus
dimensinya (semakin sulit dilihat), dan walaupun energinya besar dan tajam, tetapi juga semakin
halus, semakin sulit dirasakan / dideteksi. Kebanyakan kita yang walaupun dapat melihat /
mengetahui kehadiran mahluk halus di sekitar kita, tetapi tidak dapat melihat / mengetahui /
mendeteksi keberadaan jin-jin berkesaktian tinggi di sekitar kita.

Banyak jin yang hidup sendiri, tetapi banyak juga yang bersosialisasi dan hidup dalam komunitas.
Yang menjadi penguasa di suatu tempat biasanya adalah jin yang hidup berkomunitas, bukan jin
yang hidup sendiri. Jin yang hidup sendiri, walaupun berkesaktian tinggi dan paling tinggi di
lingkungannya berada, belum tentu dia menjadi penguasa di lingkungannya berada. Biasanya jin
lain, yang walaupun kesaktiannya lebih rendah, dia yang menjadi penguasa dan merekrut banyak
pengikut di bawah kekuasaannya. Tetapi jin penguasa itu berusaha menjalin hubungan
pertemanan dengan jin sakti tersebut, supaya bila diperlukan saat bertahan dari serangan gaib
lain, dia bisa berlindung kepada jin tersebut.

Selain berlindung kepada jin sakti di lingkungannya, banyak jin yang berlindung kepada kesaktian
suatu benda gaib, benda mustika, atau pusaka, yang berada di alam gaib. Sering kita menyebut jin
tersebut sebagai 'penunggu' atau penjaga benda gaib. Benda gaib mustika atau pusaka itu sendiri
biasanya khodamnya bukan dari golongan jin, tetapi dari golongan tersendiri, sesuai jenis benda
gaibnya. Jin yang menjadi penjaga benda gaib tersebut biasanya kekuatannya 1/2 atau 3/4
kekuatan khodam benda gaibnya. Jadi khodam benda gaibnya lebih sakti daripada jin tersebut. Jin
tersebut bukan khodamnya, tetapi berusaha untuk 'menguasai' benda gaib tersebut dengan
maksud menjadikan benda tersebut sebagai jimatnya bila diperlukan dalam bertahan dari suatu
serangan.

Sebagian dari mereka juga menyukai emas dan intan. Seringkali emas dan intan yang disimpan
manusia di bawah tanah, jika dalam jangka waktu tertentu tidak diperhatikan / disentuh oleh si
manusia, maka barang-barang itu akan diambil oleh bangsa jin tersebut, dimasukkan ke alam gaib
dan dijadikan harta mereka yang berharga. Kita sering menyebut mereka sebagai khodam
penunggu harta karun gaib (Pusaka & Mustika di Alam Gaib).

Kekhususan Kegaiban Pulau Jawa

Di dunia gaib dan kehidupan mahluk halus, pulau Jawa merupakan satu-satunya tempat di bumi
ini yang memiliki keunikan dan kekhususan tersendiri dalam hal kegaiban, yang tidak ada dan
tidak akan pernah ada persamaannya dengan tempat lain di manapun di bumi ini. Sebagian
keunikan gaib ini kami tuliskan dalam halaman ini, sebagian lainnya terkandung di dalam tulisan di
halaman lain.

Salah satunya adalah adanya penjaga gaib berupa mahluk-mahluk halus yang sedang tapa, yang
hanya akan bangun dan bergerak dalam waktu dan kondisi tertentu saja. Para mahluk halus yang
sedang tapa itu, ketika sudah tiba waktunya, mereka akan serentak bangun dari tapanya untuk
melakukan suatu perbuatan gaib, sesuai apa yang sudah menjadi suratan alam. Selain itu juga ada
mahluk-mahluk halus yang selalu bergerak mengelilingi pulau Jawa, berpatroli.

Jin Daratan, Jin Air dan Jin Udara

Sesuai tempat kediamannya, bangsa jin digolongkan sebagai jin daratan, jin air dan jin udara.

Jin daratan bisa adalah bangsa jin dataran rendah, pesisir pantai, bukit, gunung dan hutan.

Jin air bisa adalah bangsa jin penghuni sungai, danau, situ, pantai dan laut.

Jin udara hidup dan berkedudukan di udara, + 1 km di atas laut atau daratan.

Masing-masing golongan jin tersebut tidak bersosialisasi dengan golongan jin dari tempat
kediaman yang lain. Bila ada jin daratan yang akan menyeberang ke pulau lain, selagi masih di
daratan ia harus menghindari lokasi yang penguasa gaib daratannya lebih kuat daripada dirinya,
dan sesampainya di laut, ia juga harus mencari 'jalan' yang keberadaan jin air / laut lebih rendah
kekuatannya daripada dirinya (mungkin terpaksa harus berliku-liku). Begitu juga jin air yang ingin
ke daratan atau melewati suatu pulau. Selain harus menghindari lokasi yang penguasa airnya lebih
kuat daripada dirinya, sesampainya di daratan, ia masih harus mencari 'jalan' yang keberadaan jin
daratan lebih rendah kekuatannya daripada dirinya.

Itulah sebabnya manusia yang mempunyai jimat untuk kesaktian kanuragan maupun kesaktian
gaib, terutama yang khodamnya sifatnya menonjolkan kekuatan dan kegagahan, bila berpindah
pulau, atau menyeberangi jembatan sungai, atau bila berada di atas laut, kadangkala kemudian
jimatnya tersebut tidak berfungsi. Sebabnya adalah karena khodamnya tidak dapat terus berada
di dalam jimat tersebut yang posisinya sedang berada di atas air yang mungkin di tempatnya
berada ada penguasa air yang lebih sakti daripada dirinya, dan terpaksa harus mencari 'jalan' lain
yang lebih aman baginya, atau mungkin juga sama sekali tidak dapat menyeberang, sehingga
jimatnya tersebut menjadi tidak berfungsi. Tetapi jimat yang berfungsi selain untuk kesaktian,
yang khodamnya tidak menonjolkan kekuatan dan kegagahan, misalnya untuk keselamatan,
pengasihan, dsb, biasanya bisa menyeberang, karena khodamnya lebih bisa mengkondisikan diri
untuk tidak menonjolkan kekuatan dan kegagahan, lebih bisa merendahkan diri untuk berkata:
'permisi numpang lewat'.
Selain sosok-sosok bangsa jin yang biasa berada di lingkungan manusia, atau yang sudah dikenal
atau biasa ditemui manusia, beberapa contoh sosok bangsa jin yang akan kami sebutkan adalah
sosok-sosok yang bersifat khusus, yang berdimensi tinggi (tetapi tidak terlalu tinggi), yang
mungkin belum banyak diketahui oleh manusia dan bisa menjadi bahan latihan melihat gaib untuk
kita yang sudah bisa melihat gaib.

Dunia Gaib dan Mahluk Halus

Cerita mengenai mahluk halus seringkali menjadi cerita dan dongeng yang merakyat, melegenda,
banyak pengkultusan pada tokoh-tokoh mahluk halus tertentu dan ada pihak-pihak tertentu yang
memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri dengan membesar-besarkan cerita dan menutup-
nutupi kebenarannya, sehingga akan tetap menjadi cerita misteri di masyarakat. Sebagian lagi ada
yang dengan sengaja memunculkan cerita mitos dan legenda yang tendensius mendiskreditkan
sesosok tokoh halus tertentu, fitnah, untuk kepentingannya sendiri. Sebagian lagi ada yang
menghubung-hubungkannya dengan agama yang mengajar orang untuk tidak percaya dengan
keberadaan mahluk halus dan pengaruhnya bagi manusia, sebagian lagi membelokkannya, menolak
hubungan dengan mahluk halus, tetapi mengarahkan pengkultusan kepada tokoh-tokoh tertentu
untuk dipuja-puja atau bahkan menjadi tempat untuk berdoa dan meminta "berkah".

Yang berhubungan dengan kegaiban dan fenomena-fenomena gaib, salah satu cara memahami
agama dengan benar adalah dengan memahami bahwa kitab suci hanya memuat cerita dan hal-hal
pokok saja supaya manusia mengenal ketuhanan (Tuhan dan Nabi-Nabi) dan menjadi tuntunan bagi
manusia untuk beribadah kepadaNya. Dan apa yang tertulis di dalam kitab suci konteksnya adalah
sesuai dengan masa terjadinya ketika suatu ayat / firman dituliskan, sehingga maksud dan isi ayat /
firman itu harus dimengerti dan dipahami kembali untuk diperiksa kecocokkan konteksnya dengan
kondisi kehidupan manusia pada masa sekarang, karena kondisi dulu dengan sekarang tidak sama,
harus diperiksa satu per satu kecocokkan suatu ayat / firman dengan konteksnya masing-masing di
jaman sekarang (sehingga kemudian muncul banyak interpretasi dan perdebatan di kalangan umat
beragama, walaupun masih satu agama).

Apa yang sudah tertulis di dalam kitab suci bukanlah merupakan satu-satunya kondisi yang ada
dalam kehidupan ini. Apa yang sudah tertulis dalam kitab suci harus dimengerti dan dipahami
kembali konteksnya pada masa sekarang supaya mendapatkan pemahaman yang benar. Dan apa
yang tidak tertulis di dalam kitab suci bukan berarti tidak ada, dan bukan berarti salah.

Banyak kejadian dan fenomena dalam kehidupan ini yang tidak semuanya tertulis dalam kitab suci,
dan sebagian besar terjadinya kejadian-kejadian itu juga bersifat alami, kejadiannya tidak dibuat-
buat, tidak mengada-ada, terjadi secara alami apa adanya. Kitab suci tidak memuat semua kondisi
yang ada di bumi ini. Dan semua kejadian dalam kehidupan manusia yang terjadi tetapi tidak tertulis
dalam kitab suci, atau terjadi tetapi tidak sesuai dengan yang tertulis di dalam kitab suci, bukanlah
selalu berarti menyimpang dari kitab suci dan agama atau berarti menyimpang dari iman dan moral
beragama.

Tulisan mengenai keberadaan mahluk halus, khususnya di Jawa, bukanlah bermaksud klenik atau
membesar-besarkan cerita mistik, juga bukan untuk dipertentangkan dengan agama jika ada
perbedaan di dalamnya, tetapi pengungkapannya dimaksudkan untuk menambah wawasan saja dan
untuk menambah kebijaksanaan bersikap, sepanjang pengetahuan yang kami miliki. Selain itu juga
dimaksudkan untuk menambah wawasan meluruskan cerita / dongeng di masyarakat atau cerita di
film-film horor yang menyeramkan yang terkait dengan tokoh-tokoh mahluk halus tertentu yang
menurut pihak-pihak yang paham sebagian besar cerita-cerita itu memberikan gambaran yang
keliru.

Sebagai tambahan, anda bisa menggunakan cara-cara yang serupa seperti dalam tulisan Ilmu Tayuh
/ Menayuh Keris untuk menilai kebenarannya, keberadaannya dan sifat-sifat karakter suatu sosok
gaib yang akan kami tuliskan dalam halaman-halaman berikutnya.

Kekhususan Kegaiban Pulau Jawa

Di dunia gaib dan kehidupan mahluk halus, pulau Jawa merupakan satu-satunya tempat di bumi ini
yang memiliki keunikan dan kekhususan nuansa gaib yang tidak pernah ada dan tidak akan pernah
ada persamaannya dengan tempat-tempat lain dimanapun di bumi. Keunikan dan kekhususan gaib
ini kami tuliskan dalam halaman-halaman berikutnya, tetapi kami tuliskan dengan bahasa cerita yang
sederhana, sehingga mungkin tidak banyak pembaca yang akan menyadarinya.

Kekhususan nuansa gaib ini tidak terlepas dari peranan para Dewa yang telah menjalankan tugasnya
untuk mengayomi tanah jawa, melindungi dan memelihara kerahasiaan kegaiban tanah jawa,
sehingga hanya sedikit sekali manusia, bahkan mahluk halus, yang dapat mengetahuinya. Hanya
manusia yang para Dewa berkenan saja yang bisa tahu. Itupun terbatas hanya sebagian rahasia saja,
tidak semuanya. Seseorang harus memiliki spiritualitas yang luar biasa tinggi dan memiliki wahyu
dewa dalam dirinya untuk dapat mengetahui keseluruhan rahasia itu.

Dan kegaiban tanah Jawa akan segera tiba pada puncaknya karena akan tiba masanya seluruh
mahluk halus di bumi ini akan tunduk berada di bawah kekuasaan seorang manusia dari tanah Jawa !
Ibu Kanjeng Ratu Kidul

Siapakah sesungguhnya Ibu Kanjeng Ratu Kidul itu?

Benarkah sungguh-sungguh ada ataukah hanya dongeng saja?

Percayakah anda dengan cerita tentang Ibu Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai
Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba anda tanyakan kepada mereka
yang hidup di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka sangat yakin dengan kebenaran cerita
itu.

Pertanyaan itu pantas timbul, karena Ibu Kanjeng Ratu Kidul termasuk mahluk halus. Hidupnya di
alam halus (gaib), sukar untuk dilihat, sukar untuk ditemui, sukar untuk dibuktikan dengan nyata.
Pada umumnya orang mengenalnya hanya dari cerita legenda mulut ke mulut saja.

Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan legenda tentang Ibu Kanjeng Ratu Kidul ini berawal. Namun
demikian, legenda mengenai penguasa mistik pantai selatan ini sudah melegenda di kalangan rakyat
suku Jawa dan Sunda, terutama yang tinggal di daerah pesisir selatan pulau Jawa. Di dalam legenda
itu juga ada kepercayaan bahwa penguasa pantai selatan itu, Ibu Kanjeng Ratu Kidul, merupakan
"istri spiritual" bagi raja-raja Mataram sejak dulu sampai sekarang.

Di sepanjang pantai selatan Jawa, dari ujung timur sampai Ujung Kulon, ada banyak tempat yang
menjadi (katanya) tempat petilasan Ibu Kanjeng Ratu Kidul atau dijadikan orang tempat untuk
pemujaan kepadanya. Anda juga pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor
308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ibu Kanjeng
Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu bisa masuk ke ruangan itu, tapi harus
melalui seorang perantara (kuncen) yang menyajikan persembahan dan tatalaku untuk bertemu
dengan sang Ratu.

Kuatnya kepercayaan masyarakat tentang Ibu Kanjeng Ratu Kidul sampai-sampai memunculkan
kepercayaan bahwa jika ada orang hilang di pantai selatan Jawa, pasti karena diambil oleh sang
Ratu.
Menurut sejarahnya, Ibu Kanjeng Ratu Kidul dulunya adalah seorang putri bangsawan bupati yang
pernah hidup jauh sebelum jaman Ken Arok dan Singasari, yang dulu mengalami penindasan dan
kezaliman dalam hidupnya. Dengan tujuan memperoleh kesaktian untuk menuntut balas, beliau
bersama adiknya menjalankan laku prihatin dan tapa brata. Setelah segala kesaktian diperoleh dan
berhasil menuntut balas, beliau bersama dengan adiknya itu, dengan kekuatan ilmunya mereka
moksa, masuk ke alam gaib bersama dengan raga mereka.

Di alam gaib, bersama dengan para pengikutnya, mereka membangun kerajaan gaib. Ibu Kanjeng
Ratu Kidul berkuasa terutama di sepanjang pantai selatan pulau jawa, dari ujung timur sampai ujung
kulon. Posisi berada kerajaannya + 10 km sebelah selatan pantai Parang Tritis, Yogyakarta. Di
istananya di laut selatan juga tinggal sukma ibu kandungnya yang sering disebut sebagai Kanjeng
Mbok.

Ibu Ratu Dewi Lanjar, adik Ibu Kanjeng Ratu Kidul, berkuasa terutama di pantai utara Pekalongan -
Tegal. Posisi kerajaannya + 10 km sebelah utara pantai Pekalongan, Jawa Tengah.

Mereka mendedikasikan kekuasaannya untuk membantu manusia yang kesusahan dan tertindas.
Kepada yang memintanya, selain memberi pertolongan berupa kesaktian dan bala tentara untuk
mengusir roh halus yang mengganggu manusia, mereka juga membantu dalam bidang ekonomi
berupa dana gaib dan membantu memperlancar rejeki dan usaha, tetapi bukan pesugihan. Mereka
tidak melayani pesugihan. Mereka akan membantu manusia yang meminta pertolongan tanpa
menuntut imbalan. Tetapi bila orang yang meminta tolong itu menyatakan suatu janji tertentu,
maka akan dituntutnya pelaksanaan janji itu.

Di sepanjang laut selatan pulau Jawa ada banyak berdiam jin laut yang kesaktiannya jauh melebihi
Ibu Ratu Kidul, tetapi mereka hidup sendiri-sendiri dan tidak menjadi penguasa wilayah. Ibu Kanjeng
Ratu Kidul menjalin pertemanan dengan mereka sebatas supaya tidak terjadi bentrokan yang dapat
merugikan dirinya sendiri. Jadi sekalipun Ibu Kanjeng Ratu Kidul menjadi ratu dan penguasa laut
selatan jawa, tetapi beliau sama sekali tidak berkuasa atas para jin laut yang kesaktiannya melebihi
dirinya.

Dulu ada semacam perjanjian atau kesepahaman bahwa manusia perempuan yang memakai baju
berwarna merah atau hijau gadung berarti menganggap Ibu Ratu Kidul sebagai keluarga atau orang
tua leluhurnya, sehingga seorang perempuan yang memakai baju merah atau hijau gadung di
wilayah kekuasaan Kerajaan Ibu Ratu Kidul, terutama di pantai selatan pulau Jawa, akan diajak
olehnya atau oleh prajurit / dayang-dayangnya untuk bergabung di Kerajaan Ibu Ratu Kidul, karena
dianggap keluarganya (pakaian merah dan hijau gadung adalah warna resmi pakaian di dalam
Kerajaan Ibu Ratu Kidul).

Ibu Kanjeng Ratu Kidul mempunyai anak perempuan bernama Nyi Rara Kidul yang juga cantik seperti
ibunya. Walaupun agak bandel dan suka mencobai orang yang sok sakti, tetapi tidak jahat.

Ibu Kanjeng Ratu Kidul juga mempunyai anak laki-laki bernama Raden Rangga, hasil perkawinannya
dengan Jaka Tingkir (Sultan Adiwijaya). Raden Rangga ini mempunyai kesaktian yang lebih tinggi
daripada ibunya, tetapi masih jauh jika dibandingkan dengan kesaktian ayahnya. Walaupun juga
seperti kakaknya, bandel dan suka mencobai orang yang sok sakti, tetapi patuh kepada orang
tuanya. Raden Rangga lebih sering berada di darat, di situs-situs Majapahit dan di Candi Dieng.

Ketika sedang bepergian, Ibu Kanjeng Ratu Kidul sering menggunakan kendaraan kebesarannya
berupa kereta kencana yang ditarik oleh 12 ekor kuda. Anaknya Nyi Rara Kidul lebih sering
menunjukkan kebesarannya dengan berdiri menunggangi gulungan ombak laut yang besar.
Sedangkan Raden Rangga memiliki tunggangan gajah sama seperti ayahnya.

Tidak seperti yang banyak menjadi cerita di masyarakat, mitos dan legenda, bahwa Ibu Kanjeng Ratu
Kidul mempunyai hubungan dekat dengan raja-raja keraton Yogya, atau bahkan dikatakan
bersuamikan raja-raja Yogya. Yang sebenarnya terjadi adalah Ibu Kanjeng Ratu Kidul sama sekali
belum pernah bertemu langsung dengan raja-raja Yogya, termasuk dengan Panembahan Senopati.
Tetapi beliau menghormati keraton Yogya, karena ada upaya dari pihak keraton yang melakukan
penghormatan kepadanya melalui para abdi dalem dan para spiritualisnya.

Sebenarnya ada segitiga kekuasaan gaib yang melingkupi Yogyakarta dan sekitarnya, yaitu kerajaan
Ibu Kanjeng Ratu Kidul di selatan, dan di utara Yogya adalah Eyang Sapujagat sebagai penguasa
gunung Merapi dan Eyang Krama di gunung Merbabu. Tetapi selama ini hanya gunung Merapi saja
yang diakui, sedangkan gunung Merbabu tidak diakui, sehingga kehidupan spiritual dan supranatural
yang terkait dengan keraton Yogyakarta seringkali menjadi pincang dan terganggu. Padahal segitiga
kekuasaan gaib itulah yang selama ini mengangkat pamor keraton Yogya dari dulu sampai sekarang,
sehingga walaupun raja-rajanya lemah karisma wibawanya, tetapi tetap dihormati oleh rakyatnya,
dan sampai sekarang keraton Yogya juga dihormati oleh pemerintah Indonesia.
Para penguasa segitiga kekuasaan gaib itu saling mengenal dan menjalin pertemanan satu dengan
lainnya, tetapi Eyang Krama dari gunung Merbabu sekarang sudah tidak lagi berada di tempatnya
semula, sudah pindah menetap di tempat lain.

Ibu Kanjeng Ratu Kidul juga mempunyai hubungan dekat dengan para dewa. Hubungannya adalah
dalam hal wahyu-wahyu dewa. Beliau banyak menerima permintaan dari orang-orang tertentu yang
ingin terpenuhi keinginannya menjadi bagian dalam kepemimpinan pemerintahan. Ibu Kanjeng Ratu
Kidul memintakan wahyu kepemimpinan untuk mereka kepada para dewa, supaya dengan wahyu
tersebut keinginan mereka terlaksana.

Ibu Kanjeng Ratu Kidul juga sudah mengetahui tentang sosok Satria Piningit yang akan menjadi Ratu
Adil di Tanah Jawa, tetapi beliau tidak berani mengungkapkannya. Beliau 'miris' dengan kegaiban
orang tersebut. Beliau sangat berhati-hati dan menjaga jarak, jangan sampai membuat kesalahan,
karena jika itu terjadi, bukan hanya dirinya, bahkan suaminya atau para dewa sekalipun, tidak akan
mampu menolongnya dari hukuman. Sekalipun Ibu Kanjeng Ratu Kidul bukan bawahannya, tetapi
beliau ada di bawah kekuasaan orang itu.

Dalam cerita mistis di masyarakat sering ada kesimpang-siuran cerita yang menyamakan Ibu Ratu
Kidul dengan Nyi Blorong.

Nyi Blorong adalah asli bangsa jin. Asal-usul aslinya adalah dari sebuah gunung di Jawa Barat. Dulu ia
pernah bertarung dengan Ibu Ratu Kidul untuk memperebutkan kekuasaan di pantai selatan jawa
dan wilayah jawa tengah dan jawa timur. Tetapi dia kalah. Atas seizin Ibu Ratu Kidul, Nyi Blorong
bertempat tinggal dan berkekuasaan di Pantai Karang Bolong dan sekitarnya (Kebumen-Cilacap,
Jawa Tengah).

Nyi Blorong ini berwatak jahat. Untuk mencari pengikut, dia memberikan kesaktian dan jasa
pesugihan kepada manusia yang memintanya, yang kemudian setelah orang tersebut meninggal
dunia atau tidak mampu memenuhi perjanjian akan dijadikan tumbalnya atau dijadikan budaknya.

Tetapi karena ketidaktahuan orang kemudian terjadi kekeliruan yang kaprah yang Nyi Blorong ini
disamakan orang sebagai Ibu Ratu Kidul dan pesugihan Nyi Blorong ini juga dikatakan sebagai
pesugihan Ibu Ratu Kidul.
Pada masa sekarang ada orang-orang yang mengatasnamakan Ibu Kanjeng Ratu Kidul dalam
keilmuannya, seolah-olah mereka sering bertemu dengan ibu Ratu Kidul atau keilmuannya ada
hubungannya dengan beliau. Padahal sebenarnya mereka tidak mengenal dan tidak pernah bertemu
dengan Ibu Ratu Kidul. Ibu Ratu Kidul juga tidak mengenal dan tidak pernah menemui mereka. Jadi
dalam hal ini mereka hanya menunggangi nama Ibu Ratu Kidul saja untuk kepentingan mereka.

Di sisi lain, ada juga spiritualis yang bertopeng memberikan jasa kebatinan kerohanian untuk
ketenangan hidup. Sebagiannya merekrut anggota dan mengadakan ritual di pantai selatan seolah-
olah mereka mengenal Ibu Ratu Kidul. Padahal sebenarnya mereka tidak mengenal dan tidak pernah
bertemu dengan Ibu Ratu Kidul. Ibu Ratu Kidul juga tidak mengenal dan tidak pernah menemui
mereka. Jadi dalam hal ini mereka hanya menunggangi nama Ibu Ratu Kidul saja untuk kepentingan
mereka. Padahal laku ritual, doa-doa dan ilmu-ilmu yang mereka ajarkan kepada para anggotanya
berlatar-belakang-kan agama, diambilkan dari kitab suci agama, untuk apa mereka meminta restu
kepada Ibu Ratu Kidul. Kenapa tidak meminta restu langsung kepada Tuhan ?

Ibu Kanjeng Ratu Kidul sering dikatakan sebagai mahluk siluman. Beliau, karena kekuatan ilmunya,
kondisi sifat fisik energinya berubah menjadi seperti sifat fisik energi bangsa jin, tidak lagi sama
dengan sifat fisik energi sukma manusia pada umumnya. Tetapi sosoknya tidak berubah, tetap masih
sesuai aslinya, cantik seperti putri keraton. Jadi yang berubah hanya sifat energi dari sukmanya saja,
tidak lagi sama dengan sifat energi sukma manusia pada umumnya, sedangkan sosoknya tidak
berubah (baca juga : Sifat Kesaktian Mahluk Halus).

Welcome to Javanese2000.
Seputar Budaya Kebatinan Jawa

Kebatinan dan Agama

Mistisisme dan Klenik

Pencarian Kebatinan Baru

Laku Prihatin dan Tirakat


Hari Baik - Hari Buruk

Ngobrol JODOH

Ngobrol Permasalahan Hidup 1

Ngobrol Permasalahan Hidup 2

Ngobrol Permasalahan Hidup 3

Kebatinan dan Spiritual

Kanuragan & Tenaga Dalam

Olah Rasa dan Kebatinan

Olah Batin dan Kebatinan

Ilmu Gaib dan Ilmu Khodam

Olah Sukma dan Kebatinan

Olah Spiritual dan Kebatinan

Olah Roh, Manunggaling Kawula Lan Gusti

Sedulur Papat Kalima Pancer

Sedulur Papat Yang Terpisah

Aku dan Guru Sejati

Sejatinya Manusia

Aku, Sejatinya Aku, dan Sukma Sejati

Sukma Sejati

Kebatinan Dalam Keagamaan

JIWA Yang SEPUH

JIWA Yang SEPUH 2

Terawangan / Melihat Gaib

Kesaktian Manusia

Belajar Keilmuan Batin

Kekhawatiran Melihat Gaib

Efek Negatif Ilmu Kebatinan ?


Gila Karena Ilmu Kebatinan ?

Meditasi Energi

Energi Alam dan Meditasi

Tempat-tempat Mistis

Ngobrol 1

Ngobrol 2

Ngobrol 3

Ngobrol 1 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol 2 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol 3 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol 4 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol 5 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol 6 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol 7 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol 8 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol 9 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol 10 Kebatinan-Kegaiban

Ngobrol Terawangan Gaib

Ngobrol Pantangan Ilmu

Ngobrol Belajar Keilmuan Gaib

Ngobrol Belajar Keilmuan Gaib

Ilmu / Rajah Kalacakra

Spiritual & Kebatinan Keris Jawa

Gaib Di Dalam Keris Jawa

Karakter-Karakter Keris Jawa

Status Keris dan Kelas Keris

Wahyu Keraton Di Dalam Keris Jawa


Keris Keningratan

Keris Lurus dan Keris Luk

Keris Jawa dan Empu Keris

Tata Cara Dalam Perkerisan

Perawatan Keris Jawa

Ilmu Tayuh / Menayuh Keris

Arti Mimpi Menayuh Keris

Tuah Keris

Tuah Keris - Filosofi Dasar

Tuah Keris - Jaman Sekarang

Tuah Keris - Jaman Sekarang-2

Filosofi Tuah Keris Jawa

Menyatunya Keris dgn Pemilik

Mengoptimalkan Fungsi Keris 1

Mengoptimalkan Fungsi Keris 2

Mengoptimalkan Fungsi Keris 3

Keris Pusaka Orang Tua

Pemilik Keris Sebenarnya

Keris Tayuhan & Keris Ageman

Keris Berhawa Aura Panas

Keris Kamardikan

Keris Tindih

Keris Junjung Derajat

Keris Combong dan Keris Pamengkang Jagad

Keris Berpamor Pemilih

Keris yang Dikosongkan Isinya

Keris dan Kesaktian


Keris Kyai Condong Campur

Ngobrol - Keris dan Kebatinan

Ngobrol - Keris 1

Ngobrol - Keris 2

Ngobrol - Keris 3

Ngobrol - Keris 4

Ngobrol - Keris 5

Pembuatan Keris Bali

Museum Pusaka Taman Mini

Benda-Benda Gaib dan Bertuah

Batu Akik

Mustika

Kesaktian Mustika

Benda-benda Bertuah Lain

Jimat Rajahan & Khodam Isian

Sesaji

Mengisi Khodam

Pengalaman Mengisi Khodam

Ngobrol 1 Benda Gaib

Ngobrol 2 Benda Gaib

Ngobrol 3 Benda Gaib

Ngobrol 4 Benda Gaib

Pasar Batu Akik Rawa Bening

Dunia Gaib dan Mahluk Halus

Hakekat Wujud Mahluk Halus

Kesaktian Mahluk Halus

Penggolongan Mahluk Halus


Interaksi Mahluk Halus

Rumah Angker / Wingit

Pantangan dan Larangan

Pengaruh Gaib Thd Manusia

Ketempatan Mahluk Halus 1

Ketempatan Mahluk Halus 2

Ketempatan Mahluk Halus 3

Ketempatan Mahluk Halus 4

Pagaran Gaib / Proteksi Diri

Pembersihan Gaib 1

Pembersihan Gaib 2

Pembersihan Gaib 3

Pembersihan Gaib 4

Pembersihan Gaib 5

KHODAM

Roh Manusia / Sukma / Arwah

Bangsa Siluman

Bangsa Dedemit

Bangsa Halus Lain-lain

Ibu Kanjeng Ratu Kidul

Pusaka & Mustika di Alam Gaib

Bangsa Jin

Bangsa Jin Daratan

Bangsa Jin Air dan Jin Udara

Bangsa Buto

Dewa

Dewa dan Wahyu Dewa


Dewa Wisnu & Wahyu Dewa

Dewa dan Tanah Jawa

Dewa dan Satria Piningit - 1

Dewa dan Satria Piningit - 2

Dewa dan Satria Piningit - 3

Dewa dan Satria Piningit - 4

Dewa dan Satria Piningit - 5

Dewa dan Satria Piningit - 6

Dewa dan Satria Piningit / Ratu Adil

Dewa dan Ramalan, Benarkah Manusia Dapat Mendahului Kehendak Tuhan ?

Ngobrol 1

Ngobrol 2

Ngobrol 3

Ngobrol - Khodam

Ngobrol - Ikatan Sukma

Ngobrol - Ramalan

Ngobrol - Putaran Jaman

Ngobrol - Satria Piningit

Ngobrol - Fenomena Kegaiban

Turunnya Wahyu Dewa

Kerajaan Galuh Di Cianjur

BHARATAYUDHA Di Alam Gaib

Dongeng Tanah Jawa

Gajah Mada dan Majapahit

Gajah Mada dan Perang Bubat

Syech Siti Jenar

Jaka Tingkir
Jaka Tingkir - Arya Penangsang

Arya Penangsang - Sutawijaya

Wafatnya Sultan Adiwijaya

Panembahan Senopati

Artikel Lain

Penyebab Awal Sakit-Penyakit

Sistem Kasta Di Masyarakat

Imperialisme - Kolonialisme

Liberalisme

Kapitalisme - Sosialisme - Komunisme

Negara Agama - Sekularisme

Penulis Lain

Pengalaman Memiliki Keris

Keris Tayuhan atau Keris Ageman

Bahan Material Keris

Pemindahtanganan & Mahar Keris

Nguri-Uri Budaya

Keris Kamardikan

Related Topics

DEWA

Bangsa Dewa yang benar-benar ada sosoknya adalah Dewa dan Dewi India, yang memiliki
peradaban, tempat tinggal dan pusat pemerintahan di Kahyangan. Mengenai siapa saja nama-nama
dewa dan tokoh-tokoh dewa dapat disimak dari kebudayaan dan kepercayaan bangsa India atau
dalam kisah pewayangan. Walaupun beberapa tokoh dalam pewayangan tidak sungguh-sungguh ada
sosoknya, dan ada juga jalan cerita yang dibelokkan, tidak lagi sesuai dengan cerita aslinya, tapi
cukup untuk menjadi dasar pengetahuan kita mengenai bangsa dewa dan perilakunya.
Di seluruh dunia ada kepercayaan dan pemujaan kepada dewa dan dewi, bukan hanya di jawa atau
Cina atau India saja, tapi juga di Eropa, Asia, Arab, Afrika, Amerika (Indian), Eskimo, Australia
(Aborigin), Jepang, dsb, tetapi tidak semua sosok dewanya benar-benar ada. Kebanyakan dewa dan
dewi itu adalah hasil ciptaan / pemikiran manusia sendiri (pemujaan pada mitos dan legenda), dan di
dalam persaingan antar bangsa masing-masing bangsa "menciptakan" sendiri dewa-dewa yang lebih
"hebat" daripada dewa-dewa bangsa lain untuk maksud dipuja.

Sosok-sosok dewa yang benar-benar ada hanya diketahui oleh orang-orang dan masyarakat yang
berbudaya kebatinan dan spiritual tinggi.

Di tempat-tempat yang budaya kebatinan dan spiritualnya tidak tinggi, biasanya dewa-dewa mereka
adalah dewa-dewa ciptaan pemikiran mereka sendiri untuk maksud dipuja (berhala). Termasuk raja-
raja mereka juga disebut keturunan dewa, supaya dipuja dan dihormati oleh rakyatnya.

Sosok dewa-dewi yang benar-benar ada adalah Dewa dan Dewi India. Pemujaan pada kedewaan
mereka bukan berdasarkan hasil pikiran manusia semata (animisme / dinamisme), tetapi
berdasarkan kemampuan spiritual bangsa India yang bisa mendeteksi dan mengenal mahluk halus
tingkat tinggi seperti dewa dan buto.

Pada jaman dulu, di negara India dan sekitarnya, yang hingga saat ini masih tetap merupakan
wilayah dengan budaya kebatinan dan spiritual nomor 1 tertinggi di dunia, kebanyakan tokoh
manusia dan orang-orang sakti dunia persilatan, selain menguasai ilmu-ilmu kesaktian, juga
menguasai kebatinan dan spiritual tingkat tinggi, sehingga mereka juga mengenal mahluk halus
berdimensi tinggi seperti dewa dan mengerti juga tentang wahyu-wahyu yang diturunkan oleh
dewa. Dan berkelahi / bertarung dengan mahluk halus berkesaktian dan berdimensi tinggi seperti
buto adalah sesuatu yang biasa.

Para Dewa berpusat tempat tinggal di Kahyangan, di lereng gunung Himalaya, sebagai pusat
pemerintahan Dewa, tetapi sehari-harinya mereka tersebar ke banyak tempat, bukan hanya di India,
nusantara dan Cina saja, tapi ke seluruh dunia. Dan wahyu-wahyu yang mereka turunkan adalah juga
untuk semua orang di dunia. Ada banyak sekali bangsa dewa, tetapi yang umumnya dikenal oleh
manusia biasanya hanya dewa-dewa utama saja yang menjadi tokoh-tokoh pemimpin di kalangan
dewa, sedangkan selain dewa-dewa utama ada juga dewa-dewa setingkat senopati dan prajurit.
Bangsa Dewa memiliki bentuk tubuh bermacam-macam. Kebanyakan memiliki bentuk tubuh dan
ukuran yang sama dengan manusia India, tetapi ada juga yang bertubuh seperti binatang, misalnya
Hanoman dan Sun Go Kong yang bertubuh seperti kera dengan tinggi + 2 m dan Ganesha yang
bertubuh manusia tetapi berkepala dan berwajah seperti gajah. Dalam kehidupan para dewa, ada
yang menjadi pemuka / tokoh pemimpin, ada yang menjadi senopati perang, ada juga yang menjadi
prajurit. Batara Indra adalah Dewa berwatak keras yang diserahi tugas untuk urusan keamanan
Kahyangan dan menjadi panglima perang bangsa dewa.

Pemerintahan dewa disusun oleh para tokoh / pemuka bangsa dewa. Manajeman mereka sangat
terkoordinasi. Sekalipun bangsa dewa memiliki pemerintahan kerajaan kahyangan, memiliki
pemimpin, panglima, senopati dan prajurit, tetapi tidak ada yang menjadi raja. Yang ada adalah
kepemimpinan yang diakui oleh semua dewa dan masing-masing dewa memiliki tugas dan peran
yang saling terkoordinasi.

Para Dewa mengemban tugas dari Sang Penguasa Alam untuk menuntun dan mengayomi kehidupan
manusia. Karena itu sebagian besar tujuan dari manajemen para dewa adalah untuk mempengaruhi
kehidupan manusia, supaya semuanya sesuai dengan kehidupan yang dikehendaki oleh para dewa,
yaitu tertib, beradab dan berbudi pekerti. Sehingga bila diketahui ada / akan ada seorang manusia
atau mahluk halus yang berpotensi menjadi perusak kehidupan maupun moral manusia, maka
mereka akan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencegah / mengatasinya.
Sesudahnya, bila ada manusia atau mahluk halus yang dianggap berjasa bagi dewa, atau dikasihi
dewa, maka mereka akan diangkat kepada derajat yang tinggi (menurut pandangan para dewa),
yaitu dijadikan dewa atau diberi kemuliaan setingkat dewa dan diberi tempat tinggal di kahyangan.

Dalam menjalankan tugasnya di bumi yang terkait dengan bangsa manusia, para dewa tersebar ke
banyak tempat. Mereka mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung.
Hubungan mereka terutama adalah dengan para pemimpin manusia (raja atau presiden) di seluruh
dunia dan tokoh-tokoh spiritual tertentu yang mereka berkenan, dan peran mereka tersebut masih
terus berlangsung hingga masa sekarang, tetapi tidak semua orang dapat melihat atau berhubungan
dengan dewa, karena tidak memiliki spiritualitas yang tinggi, yang menjadi dasar untuk mengenal
dewa.

Selain yang asli sebagai dewa / dewi, ada beberapa dewa dan dewi yang asal-usulnya berasal dari
bangsa manusia, karena dianggap berjasa kepada dewa, atau dikasihi oleh dewa. Ada juga yang
asalnya dari bangsa manusia atau bidadari yang diperistri oleh dewa. Mereka mendapatkan
penghormatan khusus dari para dewa, diakui / diangkat derajatnya menjadi dewa / dewi, diubah
secara fisik menjadi dewa dan dewi, diberi kekuatan dan kesaktian setingkat dewa, dan diberi
tempat tinggal bersama dewa di kahyangan.

Bidadari adalah sebangsa mahluk halus yang wujudnya mirip manusia perempuan, berpakaian
seperti penari atau perempuan ningrat jawa jaman dulu, yaitu memakai kain / kemben dan
berselendang seperti penari jawa, hidup sebagai rakyat dan menjadi pelayan para dewa. Dalam
waktu-waktu tertentu, biasanya pada malam bulan purnama, mereka diijinkan untuk turun ke bumi,
untuk pergi ke tempat-tempat yang mereka ingin datangi.

Dari sisi energinya bangsa Dewa termasuk mahluk halus yang berenergi positif terhadap manusia.

Dari sisi kekuatan dan kesaktiannya bangsa Dewa memiliki kemampuan untuk melipat-gandakan
kekuatannya sampai menjadi 3 kali lipat kondisi normalnya (triwikrama), dan kekuatan kesaktian
maksimal rata-rata dewa ketika bertriwikrama bisa mencapai 300 kali lipat kekuatan-kesaktiannya
Ibu Ratu Kidul.

Semua bangsa Dewa memiliki kemampuan triwikrama, yaitu suatu kemampuan untuk
memaksimalkan kekuatannya hingga mencapai 3 kali lipat kondisi normalnya. Keadaan ini biasanya
terjadi dalam kondisi bertarung atau kondisi yang mengharuskannya mengeluarkan segenap
kekuatannya. Yang sering kita dengar tentang triwikrama adalah triwikrama Dewa Wisnu.
Triwikrama Dewa Wisnu terkenal dalam pewayangan karena pada saat bertriwikrama tubuhnya
berubah menjadi raksasa tinggi besar menakutkan. Sedangkan dewa-dewa lain yang sedang
bertriwikrama bentuk tubuhnya tidak berubah, hanya kekuatannya saja yang bertambah.

Bangsa Dewa termasuk mahluk halus yang berdimensi tinggi. Sulit untuk dilihat dengan mata,
termasuk oleh orang-orang yang mampu melihat gaib (kecuali mereka menguasai dimensi spiritual
yang tinggi yang ditandai dengan lingkaran halo di belakang kepalanya). Bahkan para mahluk halus
sendiripun jarang ada yang bisa melihat Dewa. Biasanya para dewa-lah yang menunjukkan dirinya
kepada manusia, barulah manusia dapat melihat mereka. Selain sulit dilihat, energi fisik mereka pun
sangat halus dan sulit untuk dideteksi, sehingga jarang ada yang dapat mengetahui / merasakan
kehadiran mereka, termasuk para mahluk halus sekalipun, walaupun ada dewa hadir berada di
dekatnya.

Bangsa Dewa adalah mahluk halus yang berintelijensi tinggi seperti manusia. Mereka mempunyai
peradaban dan pemerintahan dewa. Pada dasarnya mereka mempunyai tempat tinggal tetap di
Kahyangan yang secara duniawi letaknya ada di lereng Gunung Himalaya, tetapi banyak Dewa yang
tinggal di antara manusia karena mempunyai maksud dan tujuan sendiri. Tetapi secara berkala
mereka bertemu atau kembali berkumpul di kahyangan untuk urusan pemerintahan Dewa (Penulis
pernah bertemu dengan para dewa yang sedang bersidang pada suatu malam purnama sekitar
tahun 2008, di suatu lokasi penggalian situs Majapahit yang baru ditemukan di daerah Pare,
Jombang-Kediri, Jawa Timur).

Misalnya Dewa Semar (Dewa Ismaya) dan Dewa Narada yang tinggal dan 'berkelana' di pulau Jawa.
Mereka sering berdiam atau mengunjungi Candi Dieng dan situs-situs Majapahit. Dewa Semar dan
Dewa Narada memiliki ikatan batin dengan tempat-tempat tersebut, karena sejak jaman dulu
mereka menjadi pengayom orang Jawa, terutama tokoh-tokoh pemimpinnya. Sesudah jaman
Majapahit berakhir-pun Dewa Semar dan Dewa Narada masih menjadi pengayom orang-orang
tertentu di Jawa, dengan tidak kelihatan mata.

Begitu juga dengan Dewi Kuan Im, Dewa Sun Go Kong dan Dewa kekayaan Tionghoa (lupa namanya),
yang lebih sering berada di daratan Cina, karena mempunyai misi tertentu disana.

Dewi Kuan Im dan bidadari,

oleh Nikoagus Setiawan.


Dewi Kuan Im adalah dewa perempuan yang biasanya berada di daratan Cina, cantik dengan sorot
wajah lembut dan teduh. Sama seperti Batara Guru, Dewi Kuan Im juga memiliki pancaran kekuatan
spiritual berupa lingkaran halo berwarna kuning di belakang kepalanya.

Dewi Kuan Im sering menampakkan diri kepada manusia dan sering menolong yang sedang
kesusahan. Kadang dalam penampakannya beliau duduk di atas sebuah singgasana berbentuk
seperti awan atau daun teratai dan membawa sebuah buku kitab berisi rahasia kehidupan, yang
akan diajarkan atau diturunkan dalam bentuk wahyu atau wangsit kepada manusia yang
menjalankan suatu laku tirakat / bertapa mencari pengetahuan spiritual tentang kehidupan. Dewi
Kuan Im adalah salah satu dewa yang telah memberi Budha Gautama wahyu keilmuan dan spiritual,
dan beliau mengetahui itu. Dan karenanya beliau sangat menghormati sang Dewi.

Dewa kekayaan Tionghoa (lupa namanya) bertubuh seperti orang tua Cina, gendut dan berkepala
botak.

Dewa Hanoman dan Dewa Sun Go Kong memiliki bentuk tubuh seperti kera besar dengan tinggi
tubuh + 2 m. Mereka mendedikasikan diri untuk membela kebenaran dan keadilan dan pantang
mundur walaupun harus berhadapan dengan mahluk yang lebih sakti sekalipun. Tetapi mereka
memiliki perbedaan. Hanoman bertubuh asli seperti kera putih besar kekar dan perwatakannya
seperti orang tua. Sun Go Kong bertubuh seperti manusia tetapi berbulu dan berekor seperti kera
dan perwatakannya seperti anak-anak yang suka bermain dan bercanda.

Dalam sejarah hidupnya, Dewa Hanoman pernah berguru kepada seseorang di Jawa Timur, yaitu
kepada Resi Mayangkara. Karena ketekunan lakunya kesaktiannya meningkat menjadi 2 kali lipat
daripada sebelumnya yang sama dengan kesaktian rata-rata dewa utama. Resi Mayangkara telah
menjadikan Hanoman sebagai dewa yang paling sakti, bahkan melebihi kesaktian Dewa Wisnu dan
Dewa Semar.

Kemudian setelah itu para dewa yang lain datang berbondong-bondong ingin juga belajar kepada
sang resi. Tetapi mereka tidak dapat menemukan keberadaan sang resi walaupun sudah dicari-cari
hingga ke pelosok negeri. Resi Mayangkara sudah lebih dulu moksa, masuk ke alam gaib bersama
dengan raganya. Dan di alam gaib pun beliau menggunakan suatu ilmu halimunan, sehingga tidak
ada mahluk halus, termasuk bangsa dewa, yang dapat melihatnya.

Resi Mayangkara memang tidak mau sembarang menerima murid, tetapi kepada Dewa Hanoman
beliau berkenan dan menaruh harapan. Perwatakan dewa Hanoman yang sepuh dan seperti prajurit
ksatria menjadikan Resi Mayangkara percaya bahwa Hanoman akan mengamalkan ilmunya hanya
untuk kebajikan.

Sampai sekarang situs tempat pertapaan Resi Mayangkara di dekat Pare, Jawa Timur, masih sering
didatangi oleh para peziarah yang berharap sesuatu kepadanya. Tetapi beliau sendiri sekarang sudah
tidak lagi tinggal di sana, yang ada adalah dhanyang-dhanyang setempat yang menjaga kesakralan
pertapaannya.

Situs tempat pertapaan Dewa Hanoman menimba ilmu tidak jauh letaknya dari situs tempat
pertapaan Resi Mayangkara di dekat Pare, Jawa Timur, dan masih sering didatangi oleh para
peziarah yang berharap sesuatu kepadanya. Tetapi sama seperti Resi Mayangkara, beliau sekarang
sudah tidak lagi tinggal di sana, yang ada adalah dhanyang-dhanyang setempat yang menjaga
kesakralan pertapaannya.

Dewa Semar dan Dewa Narada memiliki bentuk tubuh yang hampir sama, yaitu seperti orang tua
bertubuh gemuk dan gendut, dan tubuh agak membungkuk. Wajah mereka putih seperti memakai
bedak putih dengan tinggi badan kira-kira 2 m (seperti rata-rata tinggi badan orang Eropa). Perilaku
dan sikap sepuh berpikirnya sangat bijaksana, cocok menjadi orang-orang tua pengayom.

Seharusnya Dewa Semar yang menjadi pemimpin di Kahyangan. Sosok bijaksana dan mengayomi
ditambah kesaktiannya yang lebih tinggi dibandingkan dewa-dewa lain (tetapi tidak lebih tinggi dari
Dewa Wisnu, setara), menjadikannya sosok pemimpin yang diterima oleh semua dewa. Tetapi Dewa
Semar lebih suka tinggal di bumi bersama manusia, karena beliau memiliki misi tersendiri.
Kepemimpinan Kahyangan diserahkan kepada Batara Guru. Jadi secara de yure kepemimpinan ada
di tangan Batara Guru, tetapi secara de facto Batara Semar yang dijadikan pemimpin. Bahkan Batara
Guru pun mengkonsultasikan dulu semua keputusan yang sifatnya penting kepadanya, misalnya
tentang wahyu keprabon dan wahyu-wahyu besar lain yang akan diturunkan kepada seorang
manusia. Dewa Semar adalah dewa pemimpin yang turun ke bawah.

Tambahan :
Ulasan di bawah ini terinspirasi pertanyaan dari seorang pembaca dari penglihatannya tentang
adanya sosok gaib seorang perempuan cantik yang menghuni dasar sungai Gangga, yang berpakaian
kain sari India, memakai kerudung ala wanita India, warna pakaian dan kerudungnya merah.

Makara Sungai Gangga,

oleh Nikoagus Setiawan.

Sepengetahuan Penulis disana benar ada sosok itu, tetapi itu bukan Dewi, itu adalah pemimpin dari
para dhanyang yang menjaga Sungai Gangga, yang menyampaikan laporan tentang permohonan
orang-orang yang datang ke Sungai Gangga itu ke Kahyangan.

Dewi Gangga sendiri tinggal di istana kecil di bagian hulu Sungai Gangga di pegunungan. Di sungai itu
juga ada sesosok naga / makara sungai Gangga yang biasa menjadi tunggangan Dewi Gangga. Aslinya
panjang naga itu sekitar 1 km.

Sungai Gangga adalah sebuah sungai di India yang dianggap suci dan sakral dan dijadikan tempat
ritual keagamaan dan ritual pribadi oleh masyarakat setempat.

Dewi Gangga bertugas menjaga kesucian dan kesakralan sungai Gangga.

Dewa Ganesha juga sering turun mengunjungi orang-orang yang datang ke Sungai Gangga.

Dewa dan Wahyu Dewa


Pemerintahan dewa disusun oleh para tokoh / pemuka bangsa dewa. Manajemen mereka sangat
terkoordinasi. Sekalipun bangsa dewa memiliki pemerintahan di kahyangan, memiliki pemimpin,
memiliki panglima, senopati dan prajurit, tetapi tidak ada yang menjadi raja. Yang ada adalah
kepemimpinan yang diakui oleh semua dewa dan masing-masing dewa memiliki tugas dan peran
yang saling terkoordinasi.

Para Dewa mengemban tugas dari Sang Penguasa Alam untuk menuntun dan mengayomi kehidupan
manusia. Karena itu sebagian besar tujuan dari manajemen para dewa adalah untuk mempengaruhi
kehidupan manusia, secara langsung maupun tidak langsung, supaya sesuai dengan kehidupan yang
dikehendaki oleh para dewa, yaitu tertib, beradab dan berbudi pekerti. Sehingga bila diketahui ada /
akan ada seorang manusia atau mahluk halus yang berpotensi menjadi perusak kehidupan maupun
moral manusia, mereka akan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencegah /
mengatasinya. Sesudahnya, bila ada manusia atau mahluk halus yang dianggap berjasa bagi dewa,
atau dikasihi dewa, maka akan mereka angkat kepada derajat yang tinggi (menurut pandangan para
dewa), yaitu dijadikan dewa atau dewi, diberikan kemuliaan setingkat dewa dan diberi tempat
tinggal di kahyangan.

Dalam menjalankan tugasnya di bumi yang terkait dengan kehidupan manusia, para dewa tersebar
ke banyak tempat. Mereka mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung maupun tidak
langsung. Hubungan mereka terutama adalah dengan para pemimpin manusia (raja atau presiden)
di seluruh dunia, dan tokoh-tokoh manusia tertentu yang mereka berkenan, dan wahyu-wahyu yang
mereka turunkan adalah untuk semua manusia di seluruh penjuru bumi. Peran mereka tersebut
masih terus berlangsung hingga masa sekarang, tetapi tidak semua orang dapat mengetahuinya,
apalagi melihat dan berhubungan dengan dewa, karena tidak memiliki tingkat spiritualitas yang
tinggi, yang menjadi dasar untuk mengenal dewa.

Dari sisi perwatakannya, bangsa Dewa adalah mahluk halus yang berintelijensi tinggi seperti manusia
dan mengenal budi pekerti. Mereka mempunyai peradaban dan pemerintahan dewa. Pada dasarnya
mereka mempunyai tempat tinggal tetap di Kahyangan yang secara duniawi letaknya ada di lereng
Gunung Himalaya. Tetapi banyak Dewa yang tinggal di sekitar dunia manusia, karena mempunyai
maksud dan tujuan tersendiri. Tetapi secara berkala mereka kembali bertemu atau berkumpul di
kahyangan untuk urusan pemerintahan Dewa.

Para dewa mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung dengan cara memerintahkan,
menginspirasi atau menunjukkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh manusia tertentu
yang ditemuinya, atau mengatur suatu pertemuan seseorang dengan seseorang yang lain, sehingga
kemudian situasi dan kondisi menjadi berubah.
Dalam tindakan para dewa mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung ini peranan Dewa
Wisnu sangat menonjol. Dewa Wisnu hidup menyendiri, tidak melibatkan diri dengan manajemen
para dewa dan seringkali melakukan tindakan sendiri mendahului para dewa yang lain, tidak
berkoordinasi dengan dewa-dewa yang lain.

Dewa Wisnu tidak pernah terlibat dalam diskusi ketika para dewa akan menurunkan suatu wahyu
yang penting. Dewa Wisnu seringkali melakukan tindakan sendiri berupa 'penitisan' kepada manusia-
manusia tertentu. Walaupun dikemudian hari terbukti bahwa peranan Dewa Wisnu ini ternyata
sangat penting, tetapi kadangkala secara sepintas, ketika itu terjadi, penitisan tersebut dapat
dianggap merupakan 'tandingan' dari para manusia lain yang menjadi pilihan para dewa. Walaupun
tindakannya tersebut tidak disukai oleh para dewa yang lain, karena dilakukan tanpa adanya
koordinasi, tetapi mereka tetap saling menghormati dan menghargai bahwa tindakan masing-masing
dewa itu tentulah bertujuan baik, karena mereka juga adalah dewa-dewa yang baik, caranya saja
yang tidak disukai.

Para dewa mempengaruhi kehidupan manusia secara tidak langsung salah satunya adalah dengan
cara menurunkan wahyu-wahyu tertentu kepada manusia-manusia tertentu.

Pengertian Wahyu secara umum adalah diturunkannya restu Tuhan (Dewa) kepada seseorang yang
kewahyon sesuai tujuan wahyunya.

Wahyu hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja yang para Dewa berkenan, bukan
kepada sembarang orang, sehingga walaupun seseorang bertirakat atau bertapa brata di tempat-
tempat yang angker dan wingit, tidak pasti bahwa kemudian orang itu akan menerima wahyu.
Mungkin yang akan diterimanya hanyalah sebatas wangsit / bisikan gaib saja dari mahluk-mahluk
halus penghuni tempatnya bertirakat.

Wahyu hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja yang para dewa berkenan memberikan
wahyunya kepadanya, walaupun orang-orang itu tidak ada hubungan batin dan perbuatan dengan
dewa, karena para dewa bermaksud memberikan kebaikan kepadanya, atau karena adanya suatu
tujuan yang khusus yang orangnya dijadikan lokomotif perubahan jaman atau orangnya dijadikan
lokomotif perbaikan kehidupan.
Tuah / fungsi / manfaat utama sebuah wahyu adalah sebagai penginspirasi spiritual dan untuk
melipatgandakan pengaruh dari perbuatan-perbuatan orang-orang yang menerima wahyu.

Manfaat wahyu itu akan bekerja sendiri seiring dengan aktivitas dan perbuatan si manusia penerima
wahyu yang sejalan dengan sifat kegaiban wahyunya, sehingga perbuatan-perbuatannya itu
memberikan pengaruh yang lebih besar dibandingkan dirinya tanpa wahyu. Wahyu yang sudah ada
pada seseorang akan menjadi pasif peranan dan pengaruhnya jika orang si penerima wahyu tidak
melakukan aktivitas dan perbuatan yang sejalan dengan sisi kegaiban wahyunya.

Tujuan dari diturunkannya wahyu dewa adalah untuk menjadi penginspirasi pikiran orang-orang
penerimanya dan memperkuat pengaruh perbuatan dan pengaruh dari sifat-sifat baik yang ada pada
diri seorang manusia, sehingga pengaruh perbuatan dan pengaruh sifat-sifat baiknya itu menjadi
lebih besar daripada dirinya yang tanpa wahyu.

Wahyu dewa diturunkan kepada orang-orang tertentu yang (diharapkan nantinya) mempunyai posisi
atau pengaruh penting dalam kehidupan manusia, misalnya seorang pemimpin (raja / presiden) dan
para pejabatnya, para spiritualis / pemuka agama / kerohanian, dan para ksatria utama, yang
(diharapkan nantinya) keberadaan mereka sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia dan
menjadi perhatian dan panutan banyak orang.

Sebuah wahyu dimengerti dari sifat dan tujuan wahyunya diturunkan dan dari besar-kecilnya kadar
wahyu yang diturunkan kepada seseorang, tetapi di dunia manusia ada banyak penamaan wahyu
untuk membedakan suatu wahyu dengan wahyu yang lain.

Wahyu-Wahyu Utama

Ada banyak wahyu yang diturunkan kepada manusia.

Jenis-jenis wahyu yang dianggap sebagai wahyu utama / penting adalah :

1. Wahyu Keprabon dan Wahyu Makutarama.

2. Wahyu Kepangkatan dan Derajat.


3. Wahyu Kesepuhan dan Wahyu Spiritual.

4. Wahyu Wibawa dan Derajat dan Wahyu Keningratan.

Wahyu-wahyu di atas, pada masing-masing wahyu yang sejenis ada tingkatannya sendiri-sendiri,
tidak semuanya setingkat, dan wahyu sejenis dengan tingkatan yang sama juga tidak sama besarnya
/ kadarnya. Masing-masing sudah ada peruntukkannya sendiri-sendiri sesuai yang para dewa
berkenan.

1. Wahyu Keprabon dan Wahyu Makutarama.

Wahyu yang dianggap paling penting adalah Wahyu Keprabon dan Wahyu Makutarama, yaitu
wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan setingkat raja (presiden) yang diturunkan kepada
para pemimpin manusia di seluruh dunia.

Wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan memiliki sifat yang sangat penting, karena wahyu
itu terkait dengan seorang pemimpin negara yang posisinya dan perbuatan-perbuatannya
mempunyai pengaruh paling besar dalam kehidupan manusia di wilayah pemerintahannya masing-
masing. Tetapi tidak semua orang dapat menerima wahyu kepemimpinan, dan tidak semua orang
yang menjadi pemimpin / raja memiliki wahyu dewa dalam dirinya.

Ada banyak tingkatan dalam wahyu kepemimpinan pemerintahan dan tidak semuanya disebut
wahyu keprabon. Sesuai tingkatannya, ada wahyu kepemimpinan yang untuk setingkatan raja /
presiden, adipati, bupati, sampai lurah.

Wahyu Keprabon (wahyu raja) adalah wahyu kepemimpinan kenegaraan yang paling tinggi
tingkatannya, yang hanya diturunkan kepada orang-orang yang (diharapkan nantinya) menjadi raja /
presiden di dunia manusia.

Walaupun wahyu keprabon tingkatannya sama, yaitu wahyu kepemimpinan untuk orang-orang
setingkat raja / presiden, tetapi wahyu-wahyu itu tidak sama besarnya, sehingga tidak semua raja
yang menerima wahyu keprabon akan menjadi raja besar. Sedikit yang menjadi raja besar, lebih
banyak yang hanya menjadi raja kecil dan raja transisi saja.

Begitu juga wahyu kepemimpinan yang untuk tingkatan adipati / bupati / lurah, tidak semuanya
sama besarnya, sehingga tidak semua adipati / bupati / lurah akan besar kekuasaannya. Sedikit yang
kekuasaannya besar, lebih banyak yang kekuasaannya kecil dan singkat.

Masing-masing wahyu, tingkatannya, dan besar-kecilnya, sudah ada peruntukannya sendiri-sendiri


sesuai yang para dewa berkenan.

Sesuai sebutannya sebagai Wahyu Keprabon terkandung di dalamnya apa yang disebut Wahyu
Keraton, yaitu wahyu kepemimpinan yang akan dapat mengantarkan seseorang kepada posisi yang
tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja / presiden / kepala negara atau kepala
daerah, sesuai kelas dan peruntukkan wahyunya (sesuai tingkatan wahyunya).

Unsur penting dari sudah diterimanya wahyu keprabon, sesuai tingkatannya masing-masing, adalah
untuk penginspirasi dan penunjang jalan kepemimpinan si penerima wahyu, yang tanpa adanya
wahyu tersebut jabatan / posisinya akan mudah digoyang / diganggu, atau malah orangnya akan
jatuh karena jabatannya itu.

Wahyu Keprabon dan Wahyu Makutarama mempunyai tingkatan dan tujuan yang sama, yaitu
wahyu yang dianugerahkan kepada orang-orang tertentu yang menjadi pilihan dewa untuk menjadi
pemimpin setingkat raja dalam kehidupan manusia, tetapi wahyu-wahyu itu mempunyai sisi spiritual
yang berbeda.

Wahyu Makutarama sebenarnya adalah bentuk khusus dari wahyu kepemimpinan kenegaraan.

Wahyu makutarama memiliki makna kualitas spiritual yang jauh lebih baik daripada wahyu
keprabon, dan wahyu makutarama yang telah diterima oleh seseorang dapat juga mengundang
wahyu keprabon untuk turun kepada keturunan si manusia penerima wahyu makutarama.
Menurut legenda, kerajaan yang rajanya mendapatkan wahyu Makutarama akan menjadi negara
yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, rakyatnya tidak menderita kekurangan apapun dan
negerinya memperoleh perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Dalam wejangannya kepada Raden Arjuna, Prabu Kresna, dalam rupa Begawan Kesawasidhi,
mengatakan bahwa wahyu makutarama sebenarnya adalah ilmu yang dipakai oleh Prabu Rama
ketika menjadi raja, yang disebut Hasta Brata, yang tidak lain merupakan ilmu pemerintahan yang
harus dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin agar rakyat mengalami hidup aman, tentram,
damai dan berkecukupan (tata tentrem titi raharja).

Makna yang terkandung di dalam ajaran Hasta Brata adalah tentang perbuatan dan sifat-sifat budi
pekerti yang sempurna yang harus dimiliki dan dilakukan oleh seorang raja / pemimpin, sehingga
seorang raja yang teguh memegang hasta brata akan tetap berjaya dan membawa kesentosaan,
keadilan, kemakmuran dan akan dihormati dan dikasihi oleh rakyatnya, karena segala bentuk
pengayoman dan perlindungan didapatkan oleh rakyatnya dari rajanya yang berbudi luhur.

Wahyu makutarama hanya akan turun kepada seorang raja / pemimpin yang perwatakan dan
perbuatan-nya sesuai dengan sifat-sifat dalam Hasta Brata. Seorang pemimpin yang demikian itulah
yang akan menerima dan menjadi wadah yang sesuai bagi wahyu makutarama, sifat-sifat seorang
raja yang berjiwa luhur dan mulia.

Jadi, minimal ada dua sisi dalam Hasta Brata itu.

Pertama adalah sifat-sifat pribadi sang pemimpin yang harus sesuai dengan sifat-sifat dalam Hasta
Brata.

Kedua adalah perbuatan dan tindakan sang pemimpin yang harus sesuai dengan sifat-sifat dalam
Hasta Brata dan sang pemimpin harus mampu melakukan perbuatan dan tindakan untuk
mewujudkan Hasta Brata.

Wahyu makutarama yang sudah ada dalam diri seseorang akan menginspirasi orang tersebut untuk
terus teguh berpegang pada sifat-sifat baiknya itu dan mencegahnya dari perbuatan yang
menyimpang dari Hasta Brata.

Jadi untuk dapat menerima dan menjadi wadah wahyu makutarama, bukan hanya sifat-sifat
perwatakan dan pribadinya saja, tetapi orangnya juga harus mampu berbuat untuk mewujudkan
yang tersirat yang menjadi tuntutan wahyu makutarama. Dan dengan keberadaan wahyu tersebut
bersamanya karisma wibawa sang pemimpin akan memancar ke seluruh negeri dan akan dapat
dirasakan perbawanya oleh rakyatnya.

Sifat-sifat pribadi sang pemimpin tersebut dan mampu berbuat sesuai Hasta Brata akan dapat
menjadi tempat bernaung rakyatnya dan membawa kehidupan rakyat menjadi baik. Mudah-
mudahan kondisi sang pemimpin, rakyat dan negara yang baik akan juga diberkahi Tuhan.

Tetapi sulit sekali seseorang memiliki sifat-sifat semulia itu, karena walaupun sebenarnya sifat-sifat
itu ada dalam diri setiap orang, tetapi kehidupan duniawi seringkali telah membentuk manusia
menjadi pribadi yang juga duniawi, lebih mengedepankan kepentingan duniawi dirinya sendiri. Tidak
banyak orang yang mampu menjaga sifat-sifat kepribadian dan tidak banyak orang yang mampu
berbuat mewujudkan Hasta Brata, sehingga wahyu makutarama menjadi bersifat khusus dan hanya
sedikit sekali orang / pemimpin yang dapat menerima wahyu tersebut.

Sifat-sifat pribadi seorang pemimpin yang menerima wahyu makutarama memiliki kualitas pribadi
yang lebih tinggi daripada seorang pemimpin biasa, termasuk yang menerima wahyu keprabon.
Tetapi tidak banyak pemimpin manusia yang pribadinya memenuhi kriterianya, sehingga tidak
banyak orang yang menerima wahyu makutarama. Lebih banyak manusia yang hanya menginginkan
wahyu keprabon saja atau berambisi mengejar tampuk kekuasaan saja, bahkan banyak orang yang
melakukan intrik-intrik nista untuk mewujudkan ambisinya menjadi orang nomor satu di negerinya.

Bila wahyu keprabon dan wahyu makutarama diturunkan oleh para dewa kepada orang-orang yang
berbeda dalam waktu dan tempat yang sama, maka di dunia manusia, penerima wahyu keprabon
memiliki posisi yang lebih tinggi daripada penerima wahyu makutarama, karena hanya satu orang
saja yang dapat resmi memegang jabatan tertinggi kepemimpinan, dan orang itu adalah orang yang
menerima wahyu keprabon.

Walaupun begitu, mereka yang dianugerahi wahyu makutarama, walaupun di dunia manusia tidak
resmi memegang jabatan pemimpin tertinggi, tetapi diakui dewa setingkat dengan yang menerima
wahyu keprabon, bahkan diakui lebih tinggi daripada sang pemimpin yang menerima wahyu
keprabon saja tetapi tidak menerima wahyu makutarama, karena pengakuan makutarama berlaku
selamanya (termasuk setelah si manusia meninggal dunia), sedangkan pengakuan keprabon hanya
berlaku selama si manusia memegang jabatan pemimpin di dunia, dan seorang pemimpin yang
menerima wahyu makutarama memiliki sifat-sifat perwatakan dan perbuatan yang baik, yang lebih
daripada pemimpin lainnya yang menerima wahyu keprabon maupun yang tidak, sehingga orangnya
mendapatkan penghargaan dan dikasihi dewa, sehingga wahyu makutarama yang telah diterimanya
dapat juga mengundang wahyu keprabon untuk turun juga kepada keturunannya, sehingga
keturunannya juga dapat menjadi raja-raja di dunia manusia.
Wahyu keprabon yang telah diterima seseorang dapat mengundang wahyu keningratan atau wahyu-
wahyu lain yang lebih rendah untuk turun kepada keturunannya, sehingga orang-orang
keturunannya (keturunan ningrat) akan lebih mudah hidup mulia dan berderajat tinggi dibandingkan
orang-orang lain yang umum.

Tetapi wahyu makutarama yang telah diterima seseorang bukan hanya dapat mengundang wahyu-
wahyu yang lain untuk turun juga kepada keturunan-keturunannya, tetapi dapat juga mengundang
wahyu keprabon untuk turun kepada keturunannya, sehingga keturunannya dapat juga menjadi
raja-raja di dunia manusia (termasuk dapat mengundang wahyu keprabon yang besar derajatnya,
sehingga keturunannya dapat juga menjadi raja-raja besar di dunia manusia), tetapi sifatnya selektif,
tidak sembarang keturunannya bisa menerima wahyu, apalagi yang tidak menghargai dewa dan
wahyu.

Contohnya adalah yang dulu terjadi pada para Pandawa. Mereka semua dianugerahi wahyu
makutarama, artinya mereka semua diakui memiliki watak dan perbuatan yang baik, dan diakui juga
sebagai pemimpin, setingkat dengan raja. Tetapi hanya Yudistira yang menerima wahyu keprabon.
Yang menjadi raja pemimpin yang tertinggi kemudian memang adalah Yudistira (termasuk menjadi
raja atas saudara-saudaranya). Walaupun begitu para anggota Pandawa yang lain pun diakui juga
setingkat dengan raja yang menerima wahyu keprabon. Dan dengan wahyu makutarama itu
keberadaan mereka membawa kesejahteraan bagi rakyatnya di wilayah mereka masing-masing, dan
wahyu makutarama dalam diri mereka dapat mengundang wahyu keprabon untuk turun juga
kepada keturunan mereka, sehingga keturunan mereka juga dapat menjadi raja-raja di dunia
manusia.

Wahyu keprabon juga sudah banyak diturunkan kepada raja-raja di tanah Jawa, tetapi wahyu
makutarama hanya dianugerahkan kepada Ratu Tribhuana Tunggadewi saja, raja Majapahit (selain
dirinya menerima juga wahyu raja yang besar).

Manusia yang dianugerahi wahyu keprabon atau wahyu kepemimpinan lain sejenisnya, sesuai
tingkatannya masing-masing, entah bagaimana pun caranya, pastilah akan terpilih dan diangkat
menjadi pemimpin. Wahyu tersebut berfungsi untuk menambah wibawa dan kharisma seseorang
yang para dewa berkenan supaya manusia lain memilihnya dan mendukungnya sebagai pemimpin.
Selain itu, wahyu tersebut juga membantu membuka pikiran sang pemimpin, menginspirasinya
untuk dapat melakukan tindakan-tindakan kepemimpinan.
Tetapi kemudian, apa saja yang dilakukan oleh sang pemimpin tersebut murni adalah
tanggungjawabnya sendiri, yang mungkin saja tidak semua perilaku dan perbuatannya berkenan bagi
para dewa, sehingga kemudian wahyu tersebut diambil kembali dan diganti dengan wahyu lain yang
lebih kecil kadarnya. Secara manusiawi kita dapat melihat pemimpin-pemimpin yang telah
kehilangan pamor dan wibawanya, yang awalnya sedemikian besar kharisma dan wibawanya
sehingga disukai dan dielu-elukan orang, tetapi kemudian pudar karismanya, bahkan di-emoh-i, tidak
lagi diinginkan keberadaannya.

Wahyu Keprabon adalah wahyu kepemimpinan dalam bidang pemerintahan kenegaraan (Wahyu
Keraton).

Selain wahyu kepemimpinan dalam bidang pemerintahan kenegaraan yang disebut Wahyu
Keprabon / Keraton, juga ada wahyu kepemimpinan di bidang sosial, yaitu wahyu kepemimpinan
yang diberikan kepada orang-orang tertentu yang menjadi pemimpin perusahaan, ekonomi, politik,
kemasyarakatan dan sosial.

Wahyu-wahyu di bidang sosial itu sifat-sifatnya dan tingkatan-tingkatan wahyunya mirip dengan
wahyu keprabon, ada yang untuk seorang pemimpin perusahaan setingkat / sekelas raja, adipati,
bupati sampai lurah (perusahaan besar / konglomerasi, perusahaan menengah dan kecil), hanya saja
sebutannya bukan wahyu keprabon karena wahyunya bukan untuk kepemimpinan kenegaraan,
tetapi untuk kepemimpinan di bidang sosial. Bersama peranan orang-orang itu di dalamnya
perusahaan dan badan-badan sosial akan berkembang menjadi besar dan akan juga mengangkat
kemajuan perusahaan dan badan-badan sosial lainnya (menjadi lokomotif kemajuan bagi yang lain)
yang secara keseluruhan keberadaan mereka akan membawa kebaikan bagi kehidupan banyak
orang dan dunia.

Wahyu-wahyu di bidang sosial itu, sesuai tingkatannya masing-masing, banyak juga yang diturunkan
kepada orang-orang individu tertentu yang bersama wahyu yang diterimanya itu orang-orang itu
terinspirasi dan mendapatkan kemudahan dalam usahanya mengembangkan sistem atau produk
yang sistem atau produknya itu pengaruhnya besar dalam kehidupan orang banyak dan dunia,
menjadi lokomotif perubahan jaman.

Fungsi utama wahyu-wahyu tersebut adalah sebagai "penerang" dan "penginspirasi' yang akan
mencerahkan pikiran manusia-manusia yang kewahyon mengenai apa saja tindakan yang harus
dilakukannya dalam masing-masing peranannya dan sebagai penarik manusia lain supaya
mendukungnya dalam setiap tindakan dan perbuatannya.
2. Wahyu Kepangkatan dan Derajat.

Wahyu keprabon tidak berdiri sendirian.

Diturunkannya wahyu keprabon selalu disertai dengan diturunkannya wahyu kepangkatan dan
derajat , hanya saja waktunya tidak selalu bersamaan. Wahyu kepangkatan dan derajat diturunkan
kepada orang-orang tertentu yang hubungan kerjanya dekat dengan orang yang menerima wahyu
kepemimpinan, yang dengan telah diterimanya wahyu itu orangnya dalam aktivitasnya akan
menunjang si penerima wahyu keprabon.

Sesuai sebutannya sebagai Wahyu Keprabon terkandung di dalamnya apa yang disebut Wahyu
Keraton, yaitu wahyu kepemimpinan yang akan dapat mengantarkan seseorang kepada posisi yang
tinggi menjadi seorang kepala pemerintahan, menjadi raja, kepala negara atau kepala daerah, sesuai
kelas dan peruntukkan wahyunya (sesuai tingkatan wahyunya).

Di bawah wahyu keraton / keprabon, ada wahyu lain yang disebut wahyu kepangkatan dan derajat,
yaitu wahyu yang akan dapat mengantarkan seseorang kepada posisi / jabatan yang tinggi setingkat
menteri atau wakil kepala pemerintahan di dalam pemerintahan pusat atau daerah, sesuai kelas dan
peruntukkan wahyunya (sesuai tingkatan wahyunya).

Diturunkannya wahyu kepangkatan dan derajat dimaksudkan supaya orang yang menerima wahyu
tersebut dalam segala aktivitas dan tindakannya akan menunjang dan menaikkan wibawa dan
derajat orang lain yang menerima wahyu kepemimpinan. Biasanya orang yang menerima wahyu
kepangkatan dan derajat akan menjadi tangan kanan sang pemimpin, terutama menjadi wakil atau
pejabat langsung di bawah sang pemimpin.

Unsur penting dari sudah diterimanya wahyu keprabon, sesuai tingkatannya masing-masing, adalah
untuk menunjang jalan kepemimpinan si penerima wahyu, yang tanpa adanya wahyu tersebut
jabatan / posisinya akan mudah digoyang / diganggu, atau malah orangnya akan jatuh karena
jabatannya itu. Dan keberadaan orang lain yang menerima wahyu kepangkatan dan derajat, selain
wahyu itu akan menaikkan derajat dirinya sendiri, juga akan membantu memperlancar urusan-
urusan kepemimpinan dan akan juga menaikkan derajat / martabat orang si penerima wahyu
keprabon di mata umum.
Contoh wahyu kepangkatan dan derajat yang besar adalah yang dulu diterima oleh mahapatih
Gadjah Mada yang menerima wahyu kepangkatan dan derajat yang sama besar kadarnya dengan
wahyu raja yang diterima oleh rajanya, Ratu Tribhuana Tunggadewi.

3. Wahyu Kesepuhan dan Wahyu Spiritual.

Selain wahyu-wahyu yang sudah disebutkan di atas, masih ada banyak wahyu lain yang mempunyai
tujuan kegunaan sendiri-sendiri. Yang paling dianggap penting, selain wahyu kepemimpinan dan
wahyu kepangkatan adalah wahyu kesepuhan dan wahyu spiritual yang diturunkan kepada orang-
orang tertentu yang menjadi pemuka masyarakat, tokoh-tokoh spiritual / kepercayaan, ksatria-
ksatria utama, dan tokoh-tokoh manusia tertentu, yang peruntukkannya kepada siapa wahyu itu
akan diturunkan harus didiskusikan dahulu di dalam manajemen pemerintahan dewa. Salah satu
wahyu besarnya adalah yang dulu sudah diturunkan kepada Budha Gautama.

Wahyu kesepuhan akan memudahkan orang penerimanya untuk memahami dan mempelajari
keilmuan dan pengetahuan tingkat tinggi dan membantu mengarahkannya menjadi seorang sepuh
yang linuwih dan waskita.

Wahyu spiritual akan memudahkan orang penerimanya untuk memahami keilmuan dan
pengetahuan yang berdimensi tinggi yang akan sulit sekali dicapainya jika hanya mengandalkan
kemampuan dari diri sendiri saja.

Secara keseluruhan Wahyu Kesepuhan dan Wahyu Spiritual berfungsi untuk membuka pikiran,
menginspirasi dan menunjang kemampuan si manusia penerima wahyu supaya lebih mudah dalam
memahami, mempelajari dan menekuni pengetahuan dan keilmuan, apapun jenisnya, dari yang
tingkatannya rendah sampai yang tingkatan dan dimensinya tinggi, baik yang bersifat kesaktian,
kegaiban, kerohanian / keagamaan, maupun yang bersifat teknis ilmu pengetahuan dan teknologi
modern futuristik (sesuai jaman dan jalan kehidupan orangnya).

4. Wahyu Wibawa dan Derajat dan Wahyu Keningratan


Ada juga wahyu wibawa dan derajat dan wahyu keningratan.

Wahyu-wahyu itu berfungsi untuk memperkuat pancaran karisma wibawa seseorang sehingga
wibawa dan derajatnya dihormati oleh orang lain. Wahyu-wahyu itu akan mengantarkan orang si
penerima wahyu kepada derajat yang tinggi dan dihormati sesuai peruntukkan wahyunya.

Wahyu wibawa dan derajat banyak diturunkan kepada orang-orang tertentu karena statusnya yang
penting di masyarakat, seperti kepada orang-orang tertentu yang menjadi tokoh di masyarakat,
tokoh-tokoh sesepuh, tokoh-tokoh dunia usaha / bisnis, tokoh-tokoh politik dan sosial, tokoh-tokoh
agama dan kepada orang-orang ningrat (wahyu keningratan), yang orang-orang itu posisinya dan
statusnya dihormati, mempunyai pengaruh besar dan menjadi teladan bagi masyarakat. Wahyu-
wahyu itu akan menjadikan orang-orang si penerima wahyu terpandang dan dihormati statusnya,
mengantarkannya kepada derajat yang tinggi sesuai peruntukkan wahyunya.

Wahyu Wibawa dan Derajat dan Wahyu Keningratan akan mengantarkan orang penerimanya
kepada derajat yang tinggi dan dimuliakan (diakui dan dihormati) dan membuatnya diterima dimana
saja di banyak kalangan dan akan memudahkannya melakukan hubungan dengan manusia lainnya.

Khusus Wahyu Keningratan, wahyu tersebut hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja
yang ningrat dan keturunan ningrat. Wahyu itu akan menjadikan orangnya tampak elegan,
berwibawa dan penuh karisma keagungan, mempermudah jalan hidup dan kerejekian dan
mempermudah orangnya mencapai derajat tinggi dan kemuliaan. Tetapi wahyu keningratan yang
sudah diterima oleh seseorang akan lemah pengaruhnya jika orangnya sendiri tidak menghargai
keningratan.

Di dalam wahyu keningratan terkandung di dalamnya sifat-sifat berbagai macam jenis wahyu, baik
wahyu kepangkatan dan derajat, wibawa dan derajat, spiritual dan kesepuhan, dan wahyu
keningratan, tetapi masing-masing sifat wahyunya itu akan menyesuaikan dirinya dengan karakter,
kepribadian, status sosial dan jalan kehidupan orangnya, sehingga orangnya tidak akan menerima
keseluruhan sifat-sifat wahyunya itu, yang akan diterimanya hanyalah yang sejalan saja dengan
kepribadian dan jalan hidupnya.

Secara sempit pengertian keningratan adalah orang-orang kalangan ningrat dan keturunannya saja,
bukan orang lain yang tidak ningrat dan tidak ada garis keturunan ningrat. Itu adalah pandangan
sempit di dunia manusia. Tetapi dalam hubungannya dengan dewa dan wahyu dewa pengertian
ningrat lebih dari itu.
Pengertian istilah ningrat dan keningratan yang tertulis di atas, dan yang terkait dengan dewa dan
wahyu dewa, berlaku bukan pada orang-orang yang hanya sekedar berstatus keturunan ningrat saja,
tetapi untuk mereka orang-orang ningrat dan keturunan ningrat yang menghargai keningratan
dirinya sendiri, yang menjaga wibawa dan derajat kepribadiannya yang tinggi dengan perilaku dan
perbuatan-perbuatan yang baik dan terhormat. Wahyu keningratan adalah untuk mereka itu, bukan
untuk orang-orang keturunan ningrat yang kepribadiannya rendah, yang tidak menghargai
keningratan dirinya sendiri, yang wahyu akan lemah pengaruhnya jika dimiliki oleh mereka. Silakan
dibaca juga tentang Hakekat Keningratan di halaman berjudul : Keris Keningratan.

Wahyu Keprabon adalah wahyu keningratan yang paling tinggi tingkatannya.

Wahyu keningratan adalah turunan dari wahyu keprabon (derajat yang lebih rendah daripada wahyu
keprabon).

Wahyu keprabon yang telah diterima seseorang dapat mengundang wahyu keningratan untuk turun
kepada keturunannya, sehingga orang-orang keturunannya (keturunan ningrat) akan lebih mudah
hidup mulia dan berderajat tinggi dibandingkan orang-orang lain yang umum.

Tetapi wahyu makutarama yang telah diterima seseorang bukan hanya dapat mengundang wahyu-
wahyu yang lain untuk turun juga kepada keturunan-keturunannya, tetapi dapat juga mengundang
wahyu keprabon untuk turun juga kepada keturunannya, sehingga keturunannya dapat juga menjadi
raja-raja di dunia manusia, tetapi sifatnya selektif, tidak sembarang keturunannya bisa menerima
wahyu, apalagi yang tidak menghargai dewa dan wahyu.

Wahyu Kepangkatan dan Derajat, Wahyu Kesepuhan, Wahyu Spiritual, dan Wahyu Wibawa dan
Derajat secara umum dapat diterima oleh orang-orang yang umum, bukan hanya yang keturunan
ningrat saja, tetapi juga orang-orang yang bukan keturunan ningrat, tetapi Wahyu Keningratan
hanya diturunkan kepada orang-orang ningrat dan keturunan ningrat saja.

Wahyu Kepangkatan dan Derajat, Wahyu Kesepuhan dan Wahyu Spiritual, dan Wahyu Wibawa dan
Derajat yang diterima oleh seorang ningrat / keturunannya secara umum semuanya disebut Wahyu
Keningratan. Pada seorang ningrat atau keturunannya wahyu-wahyu itu mewujud menjadi bersifat
keningratan, sehingga wahyu-wahyu itu bukan hanya akan bekerja sesuai sifat-sifat asli wahyunya,
tetapi juga akan mengangkat derajat hidup orang penerimanya.

Dengan demikian yang disebut Wahyu Keningratan itu pengertiannya bukan semata-mata hanya
sebatas wahyu yang diturunkan kepada orang-orang ningrat saja, tetapi terkandung juga di
dalamnya wahyu-wahyu yang lain, hanya saja wahyu-wahyu itu diberikan khusus hanya kepada
orang-orang ningrat / keturunannya saja sehingga secara umum disebut wahyu keningratan dan
semua wahyu-wahyu itu bukan hanya akan bekerja sesuai sifat asli wahyunya, tetapi akan juga
mempermudah jalan hidup dan kerejekian dan akan mempermudah orangnya mencapai derajat
tinggi dan kemuliaan.

Wahyu-wahyu yang sudah disebutkan di atas adalah wahyu-wahyu yang utama dan penting yang
seringkali para dewa sampai harus ikut mengawal perjalanan turunnya wahyu kepada orang si
penerimanya supaya dalam perjalanannya wahyu itu tidak diambil orang atau mahluk halus lain.

Sebuah wahyu dimengerti dari sifat dan tujuan wahyunya dan dari besar-kecilnya kadar wahyu yang
diterima oleh seseorang, tetapi di dunia manusia ada banyak penamaan wahyu untuk membedakan
antara wahyu yang satu dengan wahyu yang lain.

Masing-masing wahyu, sesuai fungsinya masing-masing, memiliki tingkatan sendiri-sendiri, dan


wahyu untuk tingkatan yang sama juga tidak semuanya sama besarnya / kadarnya.

Misalnya wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan.

Wahyu kepemimpinan pemerintahan kenegaraan tidak semuanya setingkat dengan wahyu


keprabon, karena sesuai tinggi-rendahnya tingkatannya, ada wahyu kepemimpinan kenegaraan yang
untuk setingkatan raja / presiden, adipati, bupati, dan lurah.

Untuk tingkatan wahyu yang sama juga tidak semuanya sama besarnya. Misalnya wahyu
kepemimpinan kenegaraan setingkat wahyu keprabon. Tidak semua wahyu keprabon sama besarnya
pada setiap raja, sehingga tidak semua raja akan menjadi raja besar. Sedikit yang menjadi raja besar,
lebih banyak yang hanya menjadi raja kecil dan raja transisi.

Begitu juga wahyu kepemimpinan kenegaraan yang untuk tingkatan adipati / bupati / lurah, tidak
semuanya sama besarnya, sehingga tidak semua adipati / bupati / lurah akan besar kekuasaannya.
Sedikit yang kekuasaannya besar, lebih banyak yang kekuasaannya kecil dan singkat.
Begitu juga halnya dengan wahyu-wahyu yang lain, masing-masing ada tingkatannya sendiri-sendiri
dan wahyu untuk tingkatan yang sama tidak semuanya sama besarnya.

Wahyu-wahyu tersebut di atas dianugerahkan kepada manusia-manusia yang perbuatan-


perbuatannya atau posisinya dianggap memiliki pengaruh penting dalam kehidupan manusia, sesuai
bidang kehidupannya masing-masing, sehingga dengan telah diterimanya wahyu-wahyu tersebut
keberadaan dan perbuatan orang-orang itu akan memberikan pengaruh kegaiban / psikologis yang
lebih besar daripada yang mampu dilakukannya tanpa wahyu. Sesudah menerima wahyu-wahyu
tersebut pengaruh dari keberadaan dan perbuatan mereka diharapkan memberikan pengaruh positif
yang signifikan lebih besar kepada masyarakat, sehingga orangnya dan perbuatan-perbuatannya
akan dapat menjadi panutan dan teladan dan menjadi lokomotif kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, pengertian wahyu itu adalah pemberian restu dari Tuhan (dan Dewa) untuk
orangnya yang terkandung di dalam pemberian wahyu itu harapan dan amanat supaya dengan telah
diterimanya wahyu itu keberadaan dan perbuatan orangnya menjadi signifikan lebih besar
pengaruhnya terhadap kehidupan banyak manusia yang itu akan sulit bisa dilakukannya tanpa
wahyu.

Sayang sekali banyak orang yang tidak mampu mengemban amanat dari wahyu yang sudah
diterimanya, baik wahyu kepemimpinan dan kepangkatan, wibawa dan derajat, ataupun wahyu
spiritual dan kesepuhan dan keningratan. Banyak perbuatan mereka yang para Dewa tidak
berkenan. Seharusnya dengan adanya restu dan berkah dan naiknya derajatnya mereka membentuk
diri menjadi pribadi yang baik, menjadi tokoh pengayom dan panutan masyarakat. Tetapi ternyata
banyak orang dan tokoh masyarakat yang dengan tingginya karismanya telah memanfaatkannya
untuk bermegah diri, untuk memaksimalkan hasrat duniawinya, untuk mengejar tahta, harta atau
wanita, menggerakkan dan menunggangi kekuatan massa untuk menaikkannya kepada derajat yang
tinggi menjadi penguasa (presiden, bupati, dsb), atau untuk mengeruk dan menumpuk kekayaan
untuk pribadi dan kelompoknya, atau memanfaatkan tingginya karismanya untuk mengejar wanita,
sehingga para Dewa mencabut kembali wahyunya dari padanya, sehingga orang-orang itu sesudah
dirinya tanpa wahyu kemudian kehilangan karismanya di mata masyarakat dan diabaikan, banyak
juga yang kemudian kehidupannya menjadi terpuruk dan hina.

Pada jaman dulu di negara India dan sekitarnya, seperti sudah dikisahkan di dalam pewayangan,
cerita tentang wahyu dewa menjadi cerita yang penting. Di sana, kebanyakan tokoh manusia dan
orang-orang sakti dunia persilatan, selain menguasai ilmu-ilmu kesaktian, juga menguasai kebatinan
dan spiritual tingkat tinggi, sehingga mereka juga mengenal mahluk halus berdimensi tinggi seperti
dewa, dan mengerti juga tentang kegaiban wahyu yang diturunkan oleh para dewa. Dan berkelahi /
bertarung dengan mahluk halus berkesaktian dan berdimensi tinggi seperti buto adalah sesuatu
yang biasa.

Wahyu-wahyu seperti yang diceritakan dalam dunia pewayangan adalah wahyu-wahyu besar.
Masing-masing diberi nama sendiri-sendiri sesuai sifat dan tujuan wahyunya untuk membedakan
antara wahyu yang satu dengan wahyu lainnya. Keberadaan wahyu-wahyu itu sangat penting karena
para tokoh manusia pada masa itu mengerti tentang kegaiban wahyu, sehingga ketika mengetahui
bahwa akan ada sebuah wahyu besar yang akan diturunkan para dewa ke dunia manusia, mereka
akan berebut untuk memilikinya dan mereka akan melakukan apa saja, termasuk tapa brata, untuk
menyesuaikan dirinya agar menjadi sesuai dengan persyaratan wahyunya, supaya dirinya dapat
menjadi wadah bagi wahyunya, supaya wahyunya berkenan bersemayam di dalam dirinya.

Tetapi wahyu-wahyu tidak akan turun dan menyatu kepada seseorang yang merubah
kepribadiannya secara dadakan hanya untuk bisa meraih sebuah wahyu. Wahyu-wahyu hanya akan
menyatu dengan orang-orang yang mapan kepribadiannya sesuai sifat-sifat wahyunya, sehingga
dengan telah bersemayamnya sebuah wahyu dalam diri seseorang, maka karisma dari sifat-sifat
orang itu akan memancar keluar berlipat-ganda kekuatannya dan dapat dirasakan perbawanya oleh
semua orang di sekitarnya dan wahyunya akan mengantarkannya kepada posisi, status dan derajat
yang sesuai dengan tujuan kegaiban wahyunya.

Sesudah masa kutukan keris Mpu Gandring berakhir, wahyu raja (wahyu keprabon) yang besar
diturunkan kepada raja Singasari yang bernama Sri Rajasa Kertanegara. Di bawah pemerintahannya
kerajaan Singasari berjaya menguasai suatu wilayah yang luas, sampai ke Kamboja. Tetapi raja
tersebut tewas terbunuh oleh pemberontakan Jayakatwang.

Sesudah runtuhnya kerajaan Singasari, Raden Wijaya menjadi perintis dan pendiri kerajaan
Majapahit. Tetapi kerajaan Majapahit mencapai kejayaannya di bawah kepemimpinan Ratu
Tribhuana Tunggadewi, yang menerima wahyu makutarama, sekaligus juga menerima wahyu besar
raja (wahyu keprabon) yang dulu diterima oleh kakeknya Sri Rajasa Kertanegara, raja terakhir
Singasari, dengan Gajah Mada sebagai mahapatihnya, yang menerima wahyu kepangkatan dan
derajat yang sama besar kadarnya dengan wahyu rajanya. Di bawah kepemimpinan mereka wilayah
kekuasaan Singasari dahulu diperluas lagi menjadi wilayah yang sekarang dikenal sebagai wilayah
Nusantara (baca juga : Gajah Mada dan Majapahit).
Wahyu-wahyu keprabon berikutnya yang diturunkan kepada raja-raja selanjutnya semakin kecil
kadarnya, sehingga raja-raja selanjutnya tidak mampu menjadi raja besar, hanya menjadi raja kecil
dan raja transisi saja, dan kerajaannya pun hanya menjadi kerajaan kecil dan transisi saja, tidak
mampu menjadi kerajaan besar.

Setelah jaman kerajaan berakhir dan berganti menjadi jaman Republik, seperti yang sudah diketahui
secara spiritual, dan sudah juga diramalkan sejak dulu, kepemimpinan negara Indonesia tidak
terlepas dari adanya wahyu keprabon.

Wahyu keprabon yang diturunkan kepada presiden pertama RI adalah wahyu yang penting. Presiden
itulah yang ditentukan sebagai pembuka jalan "kebangkitan" pemerintahan tanah jawa, dan batas-
batas wilayah Singasari - Majapahit dipulihkan kembali. Sayangnya, beliau tidak bisa "membesarkan"
Indonesia dan tidak bisa merangkul dan menyalurkan dengan benar banyak orang yang
semangatnya menggebu-gebu ingin tampil menjadi pemimpin dan penguasa.

Dalam sejarah negara Indonesia, wahyu keprabon yang diturunkan kepada presiden ke 2 Indonesia
adalah wahyu yang paling besar kadarnya, karena presiden itulah yang ditentukan sebagai
yang "membesarkan" negara dan bangsa Indonesia. Sayangnya, sang presiden tidak tahu kapan
masa tugasnya berakhir, sehingga harus secara paksa diturunkan dari tahtanya.

Wahyu keprabon yang diturunkan kepada "raja-raja" berikutnya semakin kecil dan ringan kadarnya,
sehingga "raja-raja"- nya tidak bisa menjadi "raja besar" dan tidak bisa mengangkat negara
Indonesia menjadi negara besar.

Tetapi nanti, seperti sudah diramalkan oleh para leluhur, seorang pemuda, yang disebut Sang Satria
Piningit, Sang Ratu Adil, adalah yang sudah ditentukan sebagai pewaris pemerintahan tanah jawa.
Sebagai orang yang dipilih dan dikasihi Dewa (dipilih dan dikasihi Tuhan), segala macam wahyu-
wahyu besar keprabon dan makutarama, berbagai wahyu besar kepemimpinan, spiritual,
kerohanian, kesepuhan, dsb, akan tumpuk padanya. Bahkan pusaka-pusaka dewa dan pusaka-
pusaka sakti tanah jawa, yang telah moksa dari kehidupan manusia, juga diwariskan kepadanya. Ia
tidak hanya akan menjadi "raja" di dunia manusia, tetapi juga akan menjadi raja di dunia mahluk
halus (semua mahluk halus akan tunduk padanya dan yang menentangnya akan remuk di
tangannya).
Demikianlah cara para dewa mempengaruhi kehidupan manusia secara tidak langsung. Selain
melakukannya dengan cara menurunkan wahyu-wahyu kepada manusia-manusia tertentu yang
terpilih, para dewa juga melakukan dengan cara lain, yaitu membuka jalan hidup seseorang
(individu) sehingga kehidupannya menjadi terangkat dan dapat mencapai kemuliaan. Tetapi
seringkali manusianya tidak menyadari itu, dan tidak percaya bahwa ada 'tangan-tangan gaib' yang
bekerja dalam kehidupannya, yang bahkan sebenarnya sudah bekerja sebelum manusia itu
lahir. Karena itu seringkali manusia menjadi sombong dan takabur, menganggap semua
keberhasilannya adalah keberuntungan dan hasil usahanya sendiri.

Wahyu adalah suatu jenis mahluk halus dari jenis tersendiri, yang memiliki tugas khusus dalam
kehidupan manusia, yang peranannya sangat terorganisir dan komandonya dipegang oleh para
Dewa. Kepada siapa mereka akan ditugaskan, semua kewenangannya ada di tangan para Dewa.
Tidak ada satu pun manusia atau mahluk halus dengan kemampuannya sendiri dapat meraih sebuah
wahyu, kecuali diperkenankan Dewa.

Wujud gaib wahyu berbentuk bola-bola cahaya. Secara fisiknya dimensinya sangat halus, sehingga
jarang sekali ada manusia yang mampu melihat wujud aslinya dan sulit mengetahui lokasi
keberadaan tempat tinggalnya. Yang sering terlihat hanyalah aura energinya saja, biasanya berwarna
putih kebiruan, kehijauan, keunguan atau kemerahan, ketika sebuah wahyu sedang turun kepada
seseorang yang kewahyon. Setelah tugasnya selesai mereka segera kembali ke asalnya.

Ada juga jenis mahluk halus lain yang sifatnya mirip dengan gaib wahyu, yaitu yang menjadi isi gaib
keris jawa. Wujudnya bisa bermacam-macam, sama seperti mahluk halus lain. Jenis ini juga
berdimensi halus, tetapi lebih mudah dilihat daripada wujud gaib wahyu dewa. Tetapi mereka tidak
dikomando oleh para dewa. Mereka lebih mandiri. Tetapi mereka juga menghormati para dewa yang
menjadi pengayom kehidupan manusia. Mereka mau turun untuk mengikut kepada seorang
manusia hanya jika diminta oleh seorang spiritualis (empu keris) yang memiliki wahyu dewa dalam
dirinya. Tuah / karisma wahyu dewa yang sudah ada di dalam diri seseorang akan menjadi berlipat
ganda pengaruhnya setelah wahyu dewa dalam dirinya berpadu dengan wahyu keris yang
dimilikinya.

Setelah tugasnya selesai, kebanyakan wahyu keris tidak segera kembali ke asalnya, tetapi memilih
tetap tinggal di dalam keris yang telah menjadi rumahnya yang baru. Tetapi banyak keris-keris yang
dulu terkenal sakti, kini telah menghilang dari kehidupan manusia, mereka moksa, masuk ke alam
gaib bersama dengan fisik kerisnya, karena tidak mau kerisnya jatuh ke tangan orang-orang yang
mereka tidak berkenan. Yang masih tinggal hanyalah keris-keris tiruan / turunannya saja.

Mahluk halus wahyu dewa dan wahyu keris jawa bertempat tinggal di udara di atas gunung
Himalaya, dekat dengan tempat tinggal para dewa di Kahyangan.

Dalam pengertian umum sehari-hari di masyarakat, wahyu ada yang disebut sebagai wisik / wangsit,
yaitu suatu bentuk pemberitahuan / bisikan gaib kepada seseorang tentang akan terjadinya suatu
kejadian tertentu.

Tetapi pengertian Wahyu secara umum adalah diturunkannya restu Tuhan (Dewa) kepada
seseorang yang kewahyon sesuai tujuan wahyunya. Wahyu hanya diturunkan kepada orang-orang
tertentu saja yang para Dewa berkenan, bukan kepada sembarang orang, sehingga walaupun
seseorang bertirakat atau melakukan tapa brata di tempat-tempat yang angker dan wingit, tidak
pasti bahwa kemudian orang itu akan menerima wahyu. Mungkin yang akan diterimanya hanyalah
sebatas wisik / wangsit / bisikan gaib saja dari mahluk-mahluk halus penghuni tempatnya bertirakat.

Sebuah wahyu dimengerti dari sifat dan tujuan wahyunya diturunkan dan dari besar-kecilnya kadar
wahyu yang diterima oleh seseorang, tetapi di dunia manusia ada banyak penamaan wahyu untuk
membedakan antara wahyu yang satu dengan wahyu yang lain. Misalnya Wahyu
Cakraningrat. Mengenai nama-nama wahyu yang dikenal oleh manusia para pembaca bisa mencari
sendiri dalam tulisan-tulisan di internet atau menanyakannya kepada orang-orang yang mengerti
pewayangan yang mungkin tahu nama-nama wahyu dan artinya.

Dewa Wisnu dan Wahyu Dewa

Dalam menjalankan tugasnya di bumi yang terkait dengan bangsa manusia, para dewa tersebar ke
banyak tempat. Mereka mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung maupun tidak langsung.
Hubungan mereka terutama adalah dengan para pemimpin manusia (raja / presiden) di seluruh
dunia, dan tokoh-tokoh manusia tertentu yang mereka berkenan, dan wahyu-wahyu yang mereka
turunkan adalah untuk semua manusia di seluruh penjuru bumi. Peran mereka tersebut masih terus
berlangsung hingga masa sekarang, tetapi tidak semua orang dapat melihat atau berhubungan
dengan dewa, karena tidak memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi, yang menjadi dasar untuk
mengenal dewa.

Para dewa mempengaruhi kehidupan manusia secara tidak langsung salah satunya adalah dengan
cara menurunkan wahyu-wahyu kepada manusia-manusia tertentu. Yang paling dianggap penting,
selain wahyu kepemimpinan kenegaraan dan wahyu kepangkatan, adalah wahyu spiritual dan wahyu
kesepuhan yang diturunkan kepada para pemuka masyarakat, tokoh-tokoh spiritual atau
kepercayaan, dan tokoh-tokoh manusia tertentu, yang peruntukkannya kepada siapa wahyu itu akan
diturunkan, harus didiskusikan dahulu di dalam manajemen pemerintahan dewa. Wahyu-wahyu
tersebut dianugerahkan kepada para manusia yang posisinya / kepemimpinannya dianggap memiliki
pengaruh penting dalam kehidupan manusia, sesuai bidangnya masing-masing.

Tetapi wahyu-wahyu tersebut tidak akan turun kepada seseorang yang merubah kepribadiannya
secara dadakan hanya untuk bisa meraih sebuah wahyu. Wahyu-wahyu tersebut hanya akan
menyatu dengan orang-orang yang mapan kepribadiannya sesuai sifat-sifat wahyunya, sehingga
dengan keberadaan wahyu tersebut dalam diri seseorang, maka karisma dari sifat-sifat orang itu
akan memancar keluar berlipat ganda kekuatannya dan dapat dirasakan perbawanya oleh semua
orang di sekitarnya.

Demikianlah cara para dewa mempengaruhi kehidupan manusia secara tidak langsung. Selain
melakukannya dengan cara menurunkan wahyu-wahyu tertentu kepada manusia-manusia tertentu
yang terpilih, para dewa juga melakukan dengan cara lain, yaitu membuka jalan hidup seseorang
sehingga kehidupannya menjadi terangkat dan dapat mencapai kemuliaan. Tetapi seringkali
manusianya tidak menyadari itu atau juga tidak percaya bahwa ada 'tangan-tangan gaib' yang
bekerja dalam kehidupannya, yang bahkan sebenarnya sudah bekerja sebelum manusia itu lahir.
Karena itulah seringkali manusia menjadi sombong dan takabur, menganggap semua
keberhasilannya adalah hasil usahanya sendiri.

Dalam tindakannya mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung para dewa menginspirasi,
memberi wejangan-wejangan, memerintahkan, atau menunjukkan tindakan-tindakan yang harus
dilakukan oleh manusia tertentu yang ditemuinya, atau mengatur suatu pertemuan seseorang
dengan seseorang yang lain, sehingga kemudian situasi dan kondisi menjadi berubah. Contohnya
adalah seperti Dewa Wisnu yang melalui Kresna manusia titisannya "mengajar" Arjuna, atau Dewa
Hanoman dan Dewa Semar yang kerap muncul di dunia manusia.

Selain itu beberapa dewa juga melakukannya dengan cara "penitisan" kepada manusia, yaitu
bersemayam di dalam tubuh manusia tertentu, biasanya dilakukan sejak si manusia tersebut masih
di dalam kandungan ibunya. Berbeda dengan wahyu dewa yang bersemayam di dalam tubuh
seseorang untuk melaksanakan tugas tertentu saja sesuai yang diperintahkan kepadanya, pengaruh
dari penitisan dewa lebih dari itu. Penitisan dewa biasanya menghasilkan kesaktian dan kewaskitaan
yang luar biasa, bahkan sejak si manusia tersebut masih kecil dan belum belajar ilmu kesaktian.
Dengan penitisannya, Dewa tersebut menyatu dengan kepribadian si manusia, membentuk
kepribadiannya, sehingga si manusia memiliki sifat-sifat kepribadian yang mirip dengan dewa yang
menitis, dan menginspirasi si manusia supaya melakukan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki
oleh Dewa tersebut. Keberadaan dewa tersebut juga menjadi sumber kekuatan gaib bagi si manusia
sejak si manusia itu belum belajar ilmu kesaktian. Keberadaan dewa tersebut juga menginspirasi si
manusia untuk menekuni spiritualitas dan kesaktian, sehingga biasanya seorang manusia titisan
dewa akan menjadi manusia yang sakti dan berspiritual tinggi.

Dengan demikian penitisan dewa di dalam diri seseorang mempunyai pengaruh dan keistimewaan
yang lebih dibanding wahyu yang diterima oleh seseorang. Dengan cara penitisan ini dewa yang
bersangkutan menjalankan misinya dalam kehidupan manusia secara langsung melalui perantaraan
manusia tempatnya menitis. Tetapi tidak banyak orang yang "beruntung" ketitisan dewa, karena
tujuan dewa menitis kepada seseorang bukanlah semata-mata karena kecocokkannya kepada orang-
orang tertentu, tetapi karena ada misi tertentu yang ingin diwujudkannya melalui manusia
titisannya.

Dalam tindakan-tindakan para dewa mengatur kehidupan manusia secara langsung, peranan Dewa
Wisnu sangat menonjol.

Dewa Wisnu hidup menyendiri. Pembawaannya agak angkuh, sangat percaya diri dengan kesaktian
dan kewaskitaannya, walaupun sebenarnya hanya beda tipis dibanding dewa-dewa utama lainnya.
Dewa Wisnu tidak melibatkan diri dalam manajemen para dewa dan seringkali melakukan tindakan
sendiri mendahului para dewa yang lain, tidak berkoordinasi dengan dewa-dewa yang lain.

Dewa Wisnu tidak pernah terlibat dalam diskusi ketika para dewa akan menurunkan sebuah wahyu
yang penting. Dewa Wisnu seringkali melakukan tindakan sendiri berupa "penitisan" kepada
manusia-manusia tertentu. Penitisannya itu dilakukan pada manusia tertentu dan pada masa-masa
tertentu yang bersifat kritis, yang tanpa adanya penitisan Dewa Wisnu, sulit bagi si manusia untuk
dapat menguasai keadaan. Manusia yang menjadi titisannya, biasanya, sesuai karakter Dewa Wisnu,
akan menjadi manusia yang berwibawa dan berkarisma tinggi, sakti dan waskita, dan menjadi tokoh
sentral yang dihormati oleh manusia di sekitarnya.
Walaupun dikemudian hari terbukti bahwa peranan Dewa Wisnu itu ternyata sangat penting, tetapi
pada saat penitisan itu terjadi, secara sepintas, penitisan tersebut dapat dianggap
merupakan 'tandingan' dari manusia lain yang menjadi pilihan para dewa. Walaupun tindakannya
tersebut tidak disukai oleh para dewa yang lain, karena dilakukannya tanpa adanya koordinasi,
tetapi mereka tetap saling menghormati dan saling menghargai bahwa tindakan masing-masing
dewa itu tentulah bertujuan baik, hanya caranya saja yang tidak disukai.

Contohnya adalah penitisan Dewa Wisnu pada pribadi Sri Rama ketika dalam hidupnya Sri Rama
harus menyelamatkan istrinya dari penculikan buto Rahwana. Walaupun dalam perkara itu Sri Rama
juga dibantu oleh dewa-dewa lainnya, termasuk Hanoman yang turun tangan langsung sebagai
ujung tombak pasukan Sri Rama, tetapi penitisan Dewa Wisnu telah menjadikan Sri Rama seorang
manusia yang berkesaktian tinggi yang diperlukan untuk berhadapan dengan Rahwana dan bala
tentaranya.

Penitisan itu juga telah menjadikan Prabu Rama seorang raja yang memiliki sifat-sifat perwatakan
yang sejalan dengan sifat-sifat wahyu makutarama (Hasta Brata), sehingga walaupun tidak
menerima wahyu makutarama, tetapi bersama Dewa Wisnu di dalam dirinya, karisma wibawa dari
sifat-sifatnya itu telah menjadikan Sri Rama seorang raja yang mengantarkan rakyatnya pada
kesejahteraan dan hidup sentosa, sama dengan seorang raja yang menerima wahyu makutarama.

Contoh lainnya adalah seperti dikisahkan dalam pewayangan berlakon Mahabharata dan
Bharatayudha. Jauh sebelum kejadiannya terjadi, para dewa sudah mengetahui bahwa nantinya
akan terjadi perang saudara besar-besaran di dalam keluarga besar Bharata, antara para Pandawa
dengan saudara-saudaranya para Kurawa. Perang itu akan menyeret banyak manusia ke dalamnya.
Bahkan banyak manusia yang sebelumnya berada di pihak yang benar dan netral, kemudian menjadi
berada di posisi membela yang salah.

Para dewa berkeputusan bahwa dalam setiap pertikaian, pihak yang benarlah yang harus menang
dan yang salah harus kalah, dan para dewa akan membela pihak yang benar. Dalam hal ini, pihak
yang dibenarkan adalah para Pandawa dan pihak yang disalahkan adalah para Kurawa. Sebelum para
dewa lain bertindak, Dewa Wisnu sudah lebih dulu menitis kepada Prabu Kresna sejak masih di
dalam kandungan ibunya, jauh sebelum perang Bharatayudha terjadi.
Mengapa Dewa Wisnu menitis kepada Prabu Kresna ?

Mengapa tidak menitis kepada para Pandawa ?

Apa maksud penitisannya ?

Sebelum perang Bharatayudha terjadi, para dewa sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Mereka
membina moral dan pekerti manusia-manusia yang akan terlibat di dalam pertikaian. Mereka juga
membekali manusia-manusia tertentu di pihak Pandawa dengan ilmu-ilmu kesaktian dan senjata-
senjata sakti yang sulit dicari tandingannya, karena itu adalah senjata-senjata milik dewa, yang
kemudian setelah urusannya selesai, senjata-senjata itu akan kembali lagi kepada dewa pemiliknya.
Ada juga dewa-dewa lain yang membekali kesaktian dan senjata kepada orang-orang yang nantinya
berada di pihak Kurawa, selain karena orang-orang tersebut dikasihinya, juga supaya di dalam
perang tersebut kekuatannya tidak berat sebelah.

Peranan dewa Wisnu di dalam titisannya, Prabu Kresna, terbukti sangat penting. Prabu Kresna
menjadi tokoh penting di dunia manusia, menjadi seorang raja yang dihormati, selain karena
kepemimpinannya, juga karena kesaktian dan kewaskitaannya, yang memberikan banyak
pencerahan dan pengayoman budi pekerti kepada banyak orang, terutama adalah kepada anak-anak
raja yang nantinya akan naik tahta menjadi raja, supaya menjadi raja yang berbudi pekerti dan
menjadi raja yang mengayomi dan melindungi rakyatnya.

Prabu Kresna juga berhasil memberikan "pencerahan" kepada Arjuna, yang ketika itu menolak untuk
maju berperang melawan saudara-saudaranya para Kurawa. Arjuna adalah salah satu tokoh penting
di pihak Pandawa, yang tanpa keikut-sertaannya dalam Bharatayudha, situasinya akan berubah
drastis. Karena sifat-sifat perwatakan dan perbuatan-perbuatannya, Arjuna menjadi ksatria yang
sangat dikasihi dewa.

Peranan dewa Wisnu yang berhasil memberikan "pencerahan" kepada Arjuna mendapatkan
penghargaan besar dari para dewa yang lain, karena di luar dugaan semua dewa, ternyata Arjuna
menolak untuk maju berperang melawan Kurawa. Karena peranan dewa Wisnu itulah, tanpa
mengabaikan peranan penting para dewa yang lain, pihak Pandawa dapat mengalahkan para
Kurawa, sehingga misi para dewa untuk menegakkan kebenaran menjadi berhasil.
Contoh lain tindakan-tindakan para dewa dalam mempengaruhi kehidupan manusia secara langsung
ini adalah seperti apa yang terjadi di pulau Jawa. Ketika para dewa menjatuhkan pilihannya kepada
raja Singasari, Sri Rajasa Kertanegara, dan raja-raja Majapahit di Jawa Timur, Dewa Wisnu melakukan
tindakan sendiri dengan menitis ke dalam diri Prabu Siliwangi, raja kerajaan Pajajaran di Jawa
Barat. Apa hubungannya ?

Pusaka dan Mustika di Alam Gaib

Mustika di Alam Gaib

Benda-benda tertentu yang digolongkan sebagai Mustika, adalah benda-benda gaib asli dan alami
yang secara fisik tidak boleh diasah, diubah atau dimodifikasi bentuknya, karena bila itu dilakukan
maka (dikhawatirkan) kegaiban dari benda itu akan hilang atau luntur. Sebuah batu yang tergolong
mustika, misalnya batu anti cukur, tidak boleh diasah untuk diperkecil bentuknya dan tidak boleh
digosok walaupun maksudnya supaya lebih mengkilat. Bila itu sampai dilakukan, dikhawatirkan
kemampuan batu itu untuk menjadikan anti cukur kemudian menjadi luntur (tidak anti cukur lagi).

Yang tergolong sebagai mustika adalah benda-benda yang dapat diketahui nilai kegaibannya
(seringkali harus dinilai secara kebatinan) dan kegaibannya kuat, dan fisik bendanya terbentuk asli
dari alam, bukan dibentuk oleh manusia, dan isi gaibnya bukan gaib "isian".

Mustika adalah benda-benda yang sarat dengan muatan gaib, karena itu secara alami benda-benda
mustika lebih banyak berada di alam gaib daripada di alam nyata manusia. Kegaiban itulah yang
menjadikannya sebuah mustika, yang berbeda dengan benda-benda serupa di dunia manusia.
Walaupun benda-benda mustika ini ada yang ditemukan di alam nyata, tetapi lebih banyak lagi yang
ada di alam gaib.

Menurut pengetahuan Penulis, benda mustika yang terbaik kegaibannya adalah yang diperoleh dari
alam gaib. Mustika dari alam gaib ini lebih banyak yang diperoleh dari hasil penarikan gaib. Tetapi
ada juga mustika dari alam gaib ini yang diperoleh tanpa disengaja, misalnya ada mustika yang
datang sendiri atau menampakkan diri kepada seseorang untuk diambilnya, karena merasa cocok
atau sudah waktunya benda itu mengikut kepada seseorang.

Banyak mustika, apapun jenisnya, bila dicari dengan sengaja biasanya tidak akan ditemukan. Tetapi
kadangkala ada orang yang beruntung, karena menemukannya dengan tidak sengaja. Misalnya, ada
orang yang beruntung tanpa sengaja menemukan sebuah mustika wesi kuning menggantung di
pohon jati, menggantung di pohon pisang, ada juga yang di pohon seri. Semula mereka mengiranya
sebagai kepompong biasa. Tetapi setelah dipegang, kepompong itu keras, tidak lembek. Kemudian
kepompong itu diambil dan dibawanya pulang. Beberapa kejadian ajaib pun dialaminya setelah
mendapatkan kepompong itu.

Mustika wesi kuning yang ditemukan dengan posisi menggantung di atas, kira-kira 2 meter di atas
tanah, biasanya bisa untuk jimat kekebalan, kegaibannya lebih baik daripada yang ditemukan di
tanah atau yang posisinya di bawah, yang biasanya tidak bisa untuk jimat kekebalan, hanya cukup
untuk jimat kekuatan badan.

Ada juga sebuah sumur yang airnya berwarna merah, yang sekalipun sudah berkali-kali dikuras
airnya, tapi tetap saja airnya berwarna merah, yang ternyata di dalam sumur tersebut terdapat
sebuah mustika merah delima yang sudah mewujud di dunia manusia.

Selain yang diperoleh dari alam gaib, ada juga mustika yang diperoleh dari alam nyata (alam
manusia), karena di alam manusia pun banyak benda-benda yang serupa dengan benda-benda
mustika di alam gaib. Tetapi mustika dari alam manusia ini kualitas kegaibannya adalah kelas 2. Yang
terbaik adalah mustika yang didapat dari alam gaib, yang hasil penarikannya sempurna.

Mustika dari alam gaib, yang didapat dari hasil penarikan gaib, akan benar menjadi mustika dengan
syarat hasil penarikannya sempurna. Kalau tidak sempurna maka kegaibannya sulit untuk bisa
ditunjukkan. Biasanya proses penarikan dari alam gaib dilakukan orang dalam 2 tahapan. Tahap
pertama adalah menarik dan menghadirkan benda gaibnya ke alam nyata. Tahap ke 2 adalah proses
menyempurnakan kegaiban benda gaibnya itu supaya 'mapan' di tempatnya dan berfungsi dengan
semestinya.

Cara yang umum dilakukan orang dalam proses penarikan gaib adalah dengan menggunakan jasa
khodam gaib tertentu (khodam ilmu penarikan gaib) untuk menghadirkan benda gaibnya ke dunia
manusia. Dengan cara ini biasanya akan terjadi "pemaksaan", yaitu dengan kekuatan gaibnya yang
lebih tinggi khodam tersebut merebut bendanya dari mahluk halus penjaganya, kemudian memaksa
benda gaibnya untuk mewujud di dunia manusia. Yang sering terjadi kemudian, walaupun bendanya
berhasil mewujud, tetapi tidak dengan kegaibannya, sehingga terpaksa harus disempurnakan lagi
kegaibannya. Itu juga kalau si orang penariknya mampu menyempurnakan kembali kegaibannya.
Pada banyak kasus penarikan gaib, benda gaibnya malah kosong, khodamnya tidak ikut serta di
dalam benda gaibnya. Bila itu terjadi, maka khodamnya harus dipanggil lagi untuk kembali tinggal di
dalam bendanya. Tetapi walaupun kemudian khodamnya sudah kembali, biasanya kegaiban benda
itu sulit sekali untuk disempurnakan.

Dalam kasus di atas, jika khodamnya tidak dipanggil kembali untuk tinggal di dalam bendanya,
berarti bendanya dibiarkan kosong. Walaupun bendanya kosong tidak berpenghuni gaib, tetapi
benda tersebut masih menyisakan energi bekas kehidupan sosok gaib sebelumnya. Sisa energi itulah
biasanya yang mengundang sosok gaib lain untuk kemudian datang dan masuk, tinggal di dalam
benda tersebut.

Karena kondisinya kosong tidak berpenghuni gaib, jika bendanya tidak dipagari, maka biasanya akan
ada sosok halus lain yang kemudian masuk dan tinggal di dalam benda tersebut. Dengan demikian
sosok gaib yang kemudian menjadi khodam benda tersebut bukanlah khodam aslinya, tetapi adalah
mahluk halus yang baru masuk tersebut. Umumnya yang kemudian masuk dan tinggal di dalam
bendanya adalah bangsa jin kelas rendah, kuntilanak atau gondoruwo. Karena itu terhadap benda-
benda hasil penarikan gaib kita harus waspada terhadap sosok gaib yang berdiam di dalam
bendanya, jangan sampai benda itu berisi sosok gaib yang berenergi negatif dan berwatak jelek.

Cara yang terbaik dalam melakukan penarikan gaib adalah dengan mengsugesti khodam benda
gaibnya sendiri untuk mewujudkan bendanya (dengan amalan gaib) dan memenuhi sesajinya sesuai
persyaratan khodam benda gaibnya. Jika ini dilakukan, biasanya benda gaibnya akan mewujud
dengan kegaiban yang sempurna.

Seringkali orang yang akan melakukan penarikan gaib akan mencari benda-benda gaib sampai ke
tempat-tempat yang jauh sekali jaraknya dari tempat tinggalnya, bahkan sampai ke gunung-gunung
dan hutan. Memang ada benda-benda gaib tertentu yang jarang sekali ada, sehingga harus dicari
sampai ke tempat-tempat yang jauh, misalnya mustika rante babi, stambul atau bambu petuk.
Tetapi untuk benda-benda gaib lain, biasanya ada banyak jumlahnya dan lebih mudah ditemukan.

Contohnya adalah mustika merah delima dan wesi kuning yang banyak dicari orang. Mustika-
mustika itu sangat banyak jumlahnya dan tersebar di banyak tempat. Ada yang sendiri-sendiri, tetapi
banyak juga