Anda di halaman 1dari 5

PENCELUPAN POLIESTER DENGAN ZAT WARNA DISPERSI SISTEM KONTINYU METODA PAD

TERMOSOL DENGAN VARIASI PRE-DRY DAN KONSETRASI ZAT ANTI MIGRASI

1. Maksud dan Tujuan


1.1 Maksud
Untuk mengetahui proses pencelupan kain poliester dengan zat warna dispersi sistem
kontinyu metoda pad termosol.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi zat anti migrasi dan perbedaan
perlakuan pre-dry terhadap hasil celupan menggunakan sistem pad thermosol.
2. Dasar Teori
2.1 Poliester
Serat poliester adalah suatu serat sintetik yang terdiri dari polimer-polimer linier. Serat
tersebut pada umumnya dikenal dengan nama dagang dacron, teteron, terylene. Poliester
dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol
Sifat - sifat poliester :
1. Kekuatan tarik dan mulur
Kekuatan tarik sekitar 4,5-7,5 gram/denier, sedangkan mulurnya berkisar antara 25%
sampai 75%.
2. Elastisitas
Poliester mempunyai elastisitas yang baik sehingga dalam keadaaan normal kain poliester
tahan terhadap kekusutan. Apabila benang poliester ditarik dan kemudian dilepaskan,
pemulihan terjadi dalam satu menit adalah sebagai berikut:
3. Moisture Regain
Pada kondisi standar yaitu RH 65 2% dan suhu 20C 1% moisture regain serat poliester
hanya 0,4% sedangkan pada RH 100% moisture regain mencapai 0,6-0,8%.
4. Titik leleh
Serat poliester meleleh pada suhu 250C.
5. Ketahanan sinar
Poliester berkurang kekuatannya dalam penyinaran yang cukup lama, tetapi ketahanan
sinarnya masih lebih baik dibandingkan dengan serat lain.
6. Mengkeret
Serat poliester jika direndam dalam air mendidih akan mengkeret sampai 7%. Beberapa zat
organik seperti aseton, kloroform, trikloretilen pada titik didihnya akan mengakibatkan
serat poliester mengkeret.
7. Pembakaran
Poliester meskipun dapat dibakar tetapi nyala api tidak dapat menjalar karena serat yang
terbakar akan meleleh sehingga tidak meneruskan pembakaran.
8. Morfologi
Penampang melintang serat poliester berbentuk bulat dan di dalamnya terdapat bintik-
bintik, sedangkan penampang membujurnya berbentuk silinder dinding kulit yang tebal.
Sifat sifat Kimia poliester
Larut dalam meta-kresol panas, asam trifluoro asetat-orto-klorofenol.
Tahan terhadap zat-zat oksidator, alkohol, keton dan sabun dan zat zat pencucian kering.
Tahan terhadap asam lemah, meskipun pada suhu didih dan tahan terhadap asam kuat
dalam keadaan dingin.
Tahan terhadap alkali lemah, tetapi kurang tahan terhadap alkali kuat.
Mempunyai kritalinitas yang tinggi, bersifat hidrofob dan tidak mengandung gugus gugus
aktif sehingga sukar untuk dicelup.
Ikatan antara polyester dengan zat warna disperse adalah ikatan hidrofobik Dispersi
London yang merupakan ikatan fisika. Semakin besar ukuran molekul zat warna maka
semakin kuat pula ikatan zat warna dan serat yang terbentuk.
2.2 Zat Warna Dispersi
Zat warna dispersi adalah zaat warna yang kelarutannya dalam air hanya sedikit, akan tetapi
mudah didispersikan atau disuspensikan dalam air, serta mempunyai daya substantivitas
terhadap serat-serat yang bersifat hidrofob.
Zat warna dispersi merupakan zat warna non iionik yang tidak atau sedikit larut dalam air
dan mempunyai molekul yang relatif kecil, sederhana dan tidak mempunyai gugus pelarut. Oleh
karena itu zat warna dispersi sedikit larut dalam air dan sering digunakan untuk mencelup serat-
serat hidrofob seperti poliester.
Beberapa jenis zat warna dispersi yaitu antrakuinon, azo dan difenilamina

Sifat-sifat umum zat warna dispersi menurut J.L. Edward adalah sebagai berikut :
1. mempunyai berat molekul yang relatif kecil.
2. Kelarutannya dalam medium air kecil, tetapi kelarutannya dalam serat relatif besar.
3. Umumnya tidak mengion ( non ionik ) di dalam air.
4. Apabila digerus dengan halus dan didispersikan dengan zat pendispersi dapat dihasilkan
dispersi yang stabil dalam larutan pencelupan dengan ukuran partikel 0,5 - 2,0 mikron.
5. Mempunyai titik leleh sekitar 1500 C.
6. Mempunyai tingkat kejenuhan 30 - 200 mg zat warna/gram serat.
Berdasarkan ketahanan sublimasinya, zat warna dispersi dapat digolongkan menjadi:
Zat warna dispersi golongan A
Zat warna ini mempunyai berat molekul yang terkecil, tingkat ketahanan sublimasinya
rendah, tersublimasi penuh ( 90 - 100 % ) pada suhu sekitar 1300 C dan mempunyai sifat
kerataannya yang baik sekali. Zat warna golongan ini umumnya digunakan pada pencelupan
dengan menggunakan zat pengembang (carrier).
Zat warna dispersi golongan B
Zat warna ini memiliki sifat ketahannan sublimasi yang sedang, tersublimasi penuh pada
suhu sekitar 1500 C - 1700 C, dan mempunyai sifat kerataan yang baik. Zat warna ini dapat
digunakan untuk mencelup serat poliester dengan menggunakan bantuan zat pengembang dan
pada pencelupan suhu tinggi dan pemberian tekanan.
Zat warna dispersi golongan C
Zat warna ini memiliki sifat ketahannan sublimasi yang tinggi, tersublimasi penuh pada suhu
sekitar 1900C. zat warna ini biasanya digunakan untuk mencelup poliester dengan
menggunakan metode suhu tinggi dan pemberian tekanan dan metode termosol.
Zat warna dispersi golongan D
Zat warna ini memiliki sifat ketahannan sublimasi yang tinggi, tersublimasi penuh pada suhu
2200 C. zat warna ini biasanya digunakan untuk mencelup poliester dengan menggunakan
metode pada suhu tinggi dan metode termosol. Untuk membedakan sifat pencelupan zat warna
dispersi terhadap serat poliester, maka zat warna dispersi digolongkan berdasarkan ukuran
berat molekulnya. Besar kecilnya berat molekul zat warna dispersi sangat erat kaitanya dengan
ketahanan sublimasi zat warna. Semakin besar berat molekul yang dimiliki zat warna dispersi,
maka ketahanan sublimasinya semakin besar, begitu pula sebaliknya.
Jenis ikatan yang terjadi antara gugus fungsional zat warna dispersi dengan serat poliester
ada 2 macam yaitu :
1. Ikatan Van der Walls
Zat warna dispersi dan serat merupakan senyawa hidrofob dan bersifat non polar. Ikatan
yang terjadi pada senyawa hidrofob dan bersifat non polar ini ikatan fisika, yang berperan
dalam terbentuknya ikatan fisika adalah ikatan van der walls, yang terjadi berdasarkan
interaksi antara kedua molekul yang berbeda. Ikatan yang besar terjadi pada ikatan van der
walls pada zat warna dispersi dan serat poliester adalah dispersi London.
2. Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen merupakan gaya dipol yang melibatkan atom hidrogen dengan atom lain
yang bersifat elektronegatif. Kebanyakan zat warna dispersi tidak mengadakan ikatan
hidrogen dengan serat poliester karena zat warna dispersi dan serat poliester bersifat
nonpolar, hanya sebagian zat warna dispersi yang mengadakan ikatan hidrogen dengan
serat poliester yaitu zat warna dispersi yang mempunyai donor proton seperti OH atau
NH2.
Untuk zat warna dispersi celupan rata dapat menggunakan suhu 120 0C, sedangkan zat
warna dispersi yang kurang dapat memberikan celupan yang kurang rata dapat menggunakan
suhu 130 0C. Beberapa contoh zat warna dispersi yang dapat digunakan pada temperatur yang
tinggi antara lain :
Dispersol fast yellow GR (C.I. Disperse Yellow 39)
Dispersol fast yellow A (C.I. Disperse Yellow 1)
Dispersol fast Crimson B (C.I. Disperse red 13 )
Duranol Red X8B (C.I. Disperse Red 11)
2.3 Termosol
Proses termosol adalah proses pencelupan sistem kontinyu yang diperkenalkan oleh Du Pont
padatahun 1949. Zat warna dispersi yang sudah terdispersi di pad-kan pada kain poliester.
kemudian kain dikeringkan menggunakan pengering udara panas atau dengan infrared
radiation, yang nantinya akan memberikan migrasi zat warna yang kecil. penggunaan zat anti
migrasi pada bak pad sangat disarankan. Bahkan, migarsi zat warna selama pengeringan pada
kain poliester 100% sangat sulit untuk dihilangkan dan kain seperti itu cenderung lebih
mewarnai permukaan benang secara dalam. Pengeringan akhir menggunakan silinder panas.
Kain kering kemudian dipanaskan di udara atau dengan menggunnakan kontak pada
permukaan logam panas, pada rentan suhu 190-220C selama 1-2 menit. Kondisi spesifik
tergantung pada jenis peralatan, zat warna dan kainnya. Sebagaimana kain mendekati suhu
maksimum, zat warna dispersi mulai tersublimasi dan serat poliester mulai menyerap zat warna
yang telah berubah menjadi gas. (sublimasi adalah transformasi solid menjadi gas tanpa
perubahan fasa cair. contoh yang umumnya adalah penguapan es di hari yang dingin).
Pada suhu 200oC, zat warna tersublimasi, kemudian uap zat warna masuk kedalam serat, dan
berpenetrasi kedalam serat melalui proses difusi yang cukup cepat. zat warna dispersi komersial
untuk proses termosol biasanya diklasifikasikan berdasarkan tingkat sublimasinya. Hal ini
berhubungan dengan katahan lunturnya terhadap pemanasan dalam tekanan panas. Semakin
banyak zat warna dispersi yan menguap maka semakin banyak pula zat warna yang terserap
oleh bahan. jika tingkat sublimasi terlalu rendah, partikel zat warna akan tetap pada matriks
serat dan ketuaan warna yang dihasilkan akan rendah. Ketika tingkat sublimasi terlalu tinggi,
uap zat warna terbentuk semakin cepat yang kemudian terserap oleh poliester dan lolos dari
kedekatan serat, biasanya mengendap pada dinding mesin. Suhu dan waktu pemanasan harus
dikontrol secara hati-hati untuk mendapatkan tingkat sublimasi yang sesuai dan hasil warna
yang optimum.
Meski memiliki mekanisme pencelupan yang sederhana, terdapat beberapa masalah teknis
yang menyebabkan tingkat hasil celupan rendah. Pada awal padding zat warna kain harus
mengndung distribusi partikel zat warna merata. Oleh karena itu padding dan dispersi seragam
sangat penting. Migrasi zat warna harus diminimalisir terutama jika mengarah ke zat warna
lebih pada satu wajah kain dari yang lain. Selama tahap sublimasi, penting untuk memberikan
kondisi yang memungkinkan keseimbangan antara tingkat penguapan zat warna dan
penyerapan uap oleh serat. Proses Thermosol banyak digunakan untuk kain sempit PET 100%
seperti pita dan ikat pinggang.
3. Metode Pencelupan
3.1 Diagram Alir
Pembuatan larutan celup dan persiapan bahan

Padding (WPU 60%)

Pre-Drying 100C - 1'

Termofiksasi 210C - 1'

Cuci Reduksi

Cuci Sabun

Pengeringan

Evaluasi
3.2 Skema Proses

3.3 Variasi Resep


Zat warna yang digunakan
Pendispersi Setamol
Resep Variasi 1 Variasi 2 Variasi 3 Variasi 4
Zat warna 10 g/L 10 g/L 10 g/L 10 g/L
Pendispersi 2 g/l 2 g/l 2 g/l 2 g/l
CH3COOH 30% Ph 5 Ph 5 Ph 5 Ph 5
Zat anti Migrasi 0 4 g/l 0 4 g/l
Zat anti Sadah 0,5 g/l 0,5 g/l 0,5 g/l 0,5 g/l
WPU 60% 60% 60% 60%
Pre-Dry - - 100 100
Termofiksasi 210 210 210 210

3.4 Perhitungan Zat


3.5 Fungsi Zat
zat warna dispersi : memberi warna pada kain .
asam asetar : mengatur ph pada suasana asam untuk menjaga kondisi kain .
zat pendispersi :mendispersikan zat warna dispersi hingga terdispersi menjadi
monomolekuler dan larut .
zat anti migrasi : mencegah migrasi zat warna saat proses pengeringan awal
dengan
Na2s2o4 : mereduksi zat yang tidak terfiksasi hingga larut dan dapat dihilangkan
saat pencucian
NaOH : mengaktifkan Na2s2o4 hingga menghasilkan hanasen
3.6 Data Pengujian

Anda mungkin juga menyukai