Anda di halaman 1dari 18

JIDL F AUI AL-QURAN AL-KARIM

Asep Sopian
asepsopian@upi.edu
Universitas Pendidikan Indonesia

Vera Aulia
veraaulia98@gmail.com
PPPPTK Bahasa

INTISARI

Dalam interaksi dan komunikasi antarmanusia tidak selamanya harmonis.


Adakalanya terjadi pebedaan pendapat atau berselisih paham yang
berujung pada perdebatan, baik untuk memperoleh kebenaran maupun
sekedar debat kusir.
Tulisan ini mencoba memaparkan pemikiran tentang debat (jidl) yang
dipaparkan dalam Al-Quran, baik metode maupun tatacara berdebat yang
elegan dan bermartabat.
Al-Quran sangat rinci dan jelas dalam memaparkan konsep jidl. Pada
gilirannya, siapapun yang sering atau tidak bisa menghindari perdebatan,
dapat merujuk pada Al-Quran.

Kata Kunci: Jidl, Al-Quran Al-Karim

PENGANTAR
Berselisih paham atau berbeda pendapat bahkan berdebat merupakan
keniscayaan bagi manusia yang memiliki karakter dan perilaku yang beragam.
Dalam perdebatan kadang kadang orang- orang yang berbeda pendapat
bertengkar dan saling menyerang dengan kata-kata untuk mengajukan alasan
atau argumen masing-masing. Kemahiran berdebat menunjukkan kadar dan
tingkat Intelligence Quotient (IQ) seseorang. Sebab, dalam proses berdebat
sudah pasti peranan ketajaman intelektual seseorang sangat besar. Namun,
walaupun demikian, hal ini tidak selamanya menjadi ukuran dilihat dari sudut
pandang bahwa suatu perdebatan itu bertujuan mencari kebenaran atau menguji
sebuah kebenaran yang telah diumumkan maupun yang akan diumumkan. Dalam
hal ini ketajaman intelektual seseorang bisa saja memanipulasi sebuah kebenaran
menjadi kebenaran baru yang tidak benar atau palsu.
Ada ungkapan, "Fakta berbicara". Ini menunjukkan yang sesungguhnya
atau bukan? Karena sering kali manusia lebih pintar bicara dari fakta sehingga
fakta yang bicara tanpa kata-kata atau fakta itu bisa dikalahkan oleh manusia
yang pintar menggunakan kata-kata. Sebagai contoh, banyak ditemui di gedung
parlemen, pengadilan, koran, majalah, pasar, dan di ruang diskusi. Mengapa
"fakta bicara" mungkin bisa dikalahkan oleh lidah manusia yang berbicara atau
jari-jari manusia yang menulis. Salah satu sebabnya adalah karena manusia yang
pandai mengajukan atau membuat, atau mengarang argumentasi, biasanya juga
mempunyai seni atau cara berdebat yang pandai. Kita mengenal seni sastra, seni
lukis, seni suara, seni tari dan sebutkanlah segerobak seni lainnya. Debat yang
ada seninya juga harus diberi arti positif, untuk mencari dan menguji kebenaran.
Seorang pendebat yang sungguh-sungguh ingin mencari kebenaran,
menguji kebenaran dan yang terpenting memenangkan kepentingan rakyat,
menyuarakan keadilan dan demokrasi, pun harus menguasai seni berdebat
dengan mementingkan kepandaian beragumentasi, ketrampilan berpikir cepat,
tidak terprovokasi, tidak cepat panas dan memaki tapi dengan tenang menjawab
semua tuduhan yang tidak benar, menyingkap manipulasi, menjelaskan dan
menguakkan dengan kata-kata jitu dan bukan memfitnah. Seni berdebat terletak
pada argumentasi yang jelas, meyakinkan dan menarik dan bukan memanipulasi.
Cepat marah dan terprovokasi sudah pasti bukan seni berdebat. Berdebat itu
sehat dan mencerdaskan otak. Hal ini selaras dengan penelitian Hadiyanto (2011)
yang menyatakan bahwa metode berdebat dapat meningkatkan kemampuan
critical thinking. Senada dengan pendapat Hadiyanto, Juliani, dkk. (2013)
menegaskan bahwa metode debat dapat meningkatkan hasil belajar PKn bahkan
mencapai ketuntasan belajar 91,8%. Di samping itu, menurut Mayasari (2014)
debat dapat meningkatkan keterampilan berbicara.
Topik debat dalam Al-Quran dijelaskan dalam berbagai ayat.
Kebenaran yang bersumber dari Al-Quran yang sudah jelas nampak dan nyata
dapat disentuh dan dirasakan manusia, dipertegas oleh berbagai bukti alam dan
tidak memerlukan argumentasi lain untuk menetapkan kebenarannya. Namun
demikian, kesombongan seringkali mendorong seseorang untuk membangkitkan
keraguan dan mengacaukan kebenaran tersebut dengan berbagai kerancuan yang
dibalut dengan metode yang dipandang ilmiah. Usaha demikian ini perlu
dihadapi dengan hujjah agar hakikat-hakikat tersebut mendapat pengakuan yang
semestinya, dipercaya, atau malah diingkari. Karena itu, perlu membantah
argument secara kongkrit dan realistis serta menghadapi orang orang yang
tidak sepaham dengan gaya atau uslub bahasa yang memuaskan, argumen yang
pasti dan bantahan yang ajeg.
Allah menyatakan di dalam Al-Quran bahwa berdebat merupakan salah
satu tabi'at manusia:

}54{

"Dan manusia adalah mahkluk yang paling banyak debatannya" (QS.
Al-Kahfi [8]: 54). Yakni paling banyak bermusuhan dan bersaing.

Rasulullah saw. juga diperintahkan agar menghadapi pertentangan dan


permusuhan orang-orang musyrikin dengan berdebat yang baik dan dapat
meredakan keberingasan mereka. Allah Ta'ala berfirman,

}125{

"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran


yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik" (QS. Al-
Nahl [16] :125)

Di samping itu, Allah memperbolehkan berdebat dengan Ahli Kitab


dengan cara yang baik. Allah Ta'ala berfirman,

}46{

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan cara
yang paling baik" (QS. Al-Ankabut [25] : 46)

Berdebat demikian bertujuan menampakkan hak (kebenaran sejati) dan


menegakan hujjah atas validitasnya. Berbeda dengan perdebatan orang yang
memperturutkan hawa nafsu, mereka berdebat hanya merupakan persaingan yang
batil belaka. Allah Ta'ala berfirman,

}56{
"tetapi orang-orang kafir membantah dengan yang batil" (QS. Al-
Kahfi [18]:56)

Kajian dalam tulisan ini bertemali dengan jidl dalam Al-Quran dan
gaya atau uslubnya dalam menampakkan kebenaran dan mematahkan aneka
tuduhan dan berbagai penentangan orang-orang yang tidak mau menerima
kebenaran secara realistis dan nyata.

PEMBAHASAN
Konsep Jidl
Dikatakan dalam KBBI (1994, hlm. 214), debat adalah pembahasan
dan pertukaran pendapat mengenai sesuatu hal dengan saling memberi alasan
untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Jadi berdebat ialah bertukar
pikiran tentang sesuatu hal dengan saling memberi alasan untuk
mempertahankan argumen.

Al-Qaan (t.t., hlm. 298) di dalam Mabahits fi 'Ulumil Qur`an berkata:


. :
Jadal atau jidl adalah bertukar pikiran dengan cara bersaing dan
berlomba untuk mengalahkan lawan.

Pengertian ini berasal dari ungkapan: Jadaltu al-habla yang berarti aku
kokohkan jalinan tali itu. Mengingat kedua belah pihak yang berdebat itu
mengokohkan pendapanya masing masing dan berusaha menjatuhkan lawan dari
pendirian yang dipengangnya.
Senada dengan pengertian di atas al-Asfahani (t.t., hlm. 87) berkata:
: : :
)179/1 : . : ( :
: . : :
: . :
:
: .

Selanjutnya, al-Jurjani (1405 H) berkata di dalam al-Ta'rift:

.

.

Dari definisi-definisi di atas, diperoleh kesimpulan bahwa jadal atau


Jidl adalah berdebat dengan menggunakan hujjah dan orang yang berdebat itu
saling bersaing dan mengalahkan argumen lawannya.

Kata Jidl dan Derivasinya Dalam Al-Quran

Berikut ini penulis sajikan kata jadal beserta derivasinya yang terdapat
di dalam Al-Quran , antara lain:

:
>125/ <
"dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik" (QS. Al-Nahl
[16] :125)

As-abuni (t.t) di dalam Mukhtashar Ibnu Kasir mengatakan bahwa:


}{
{ :
}
{ :
.}

"(yaitu) orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" (QS. Ghafir


[40]:35)

>68/ <
"Dan jika mereka mendebat kamu, maka katakanlah, 'Allah lebih
mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan'". (QS. Al-Hajj [22]:68)

>32/ <
"Sesungguhnya kamu telah berdebat dengan kami, dan kamu telah
memperpanjang bantahanmu terhadap kami,,," (QS. Hud [11]:32)

>58/ <
"mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan
dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang
suka bertengkar". (QS. Az-Zukhruf [43]:58)

>54/ <
"Dan manusia adalah mahkluk yang paling banyak debatannya" (QS.
Al-Kahfi [8]: 54). Yakni paling banyak bermusuhan dan bersaing.

>13/ <
"dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah" (QS. Ar-Ra'du
[13]:13)

>5/ <
"dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil" (QS. Ghafir
[40]:5)

Dari berbagai ayat di atas, jadal (debat) di dalam Al-Quran , terdiri atas
dua kelompok. Pertama, debat yang dilontarkan Allah kepada para penentang-
Nya. Dalam hal ini, Rasul sebagai pengemban Risalah-Nya, mendebat dan
membantah para pengusung kebatilan dengan cara yang hikmah dan
mengandung pelajaran serta bahasa yang lembut. Kedua, debat yang dilontarkan
oleh orang-orang kafir, mereka bermaksud mematahkan dan mengalahkan Al-
Quran dengan cara membantah kebenarannya melalui aneka hujjah dan
berbagai argumen batil.

Metode Berdebat dalam Al-Quran

Dikatakan di dalam Mabahits fi 'ulumil qur`an (Al-Qattan, t.t.) Al-


Quran al-Karim dalam berdebat dengan para penantangnya banyak
mengemukakan dalail dan bukti yang kuat serta jelas yang dapat dimengerti
kalangan awam dan pakar. Ia membatalkan setiap kerancuan vulgar dan
mematahkannya dengan perlawanan dan pertahanan dalam uslub yang konkrit
hasilnya, indah susunannya, dan tidak memerlukan banyak daya akal atau banyak
penyelidikan.
Al-Quran tidak menempuh metode yang dipegang teguh olah para ahli
kalam yang memerlukan adanya muqaddimah (premis) dan natijah (konklusi),
seperti dengan cara ber-istidlal (inferensi) dengan seseuatu yang bersifat
universal atas yang parsial dalam qiyas syumul, atau ber-istidlal dengan yang
parsial atas yang universal dan qiyas istiqra`. Semua ini disebabkan:
Pertama, Al-Quran datang dalam bahasa Arab dan menyeru mereka
dengan bahasa yang mereka kenal.
Kedua, bersandar pada fitrah jiwa, yang percaya kepada apa yang
disaksikan dan dirasakan, tanpa perlu mendalam dalam beristidlal adalah lebih
kuat pengaruhnya dan lefih efekif hujjahnya.
Ketiga, meninggalkan perkataan yang jelas, dan mempergunakan
perkataan yang jelimet dan pelik merupakan kerancuan dan teka-teki yang hanya
dapat di mengerti oleh orang khs (ahli). Cara demikian yang ditempuh oleh ahli
logika tidak sepenuhnya benar. Karenanya, dalil-dalil tentang tauhid dan hidup
kembali di akhirat yang dapat diungkapkan dalam Al-Quran merupakan dalalh
tertentu yang dapat memberikan makna yang ditunjukkan secara otomatis tanpa
harus memasukkannya ke dalam qadliyah kulliyah (universal proportion).
Hal di atas sejalan dengan perkataan Ibnu Taimiyah (1977) di dalam
ar-Raddu 'alal Mantiqiyyin yang mengatakan bahwa dalil-dalil analogi yang
dikemukakan para ahli debat, yang mereka namakan 'bukti-bukti' untuk
menetapkan adanya Tuhan, Sang Pencipta, Yang Mahasuci dan Mahatinggi itu,
sedikit pun tidak dapat menunjukkan esensi Zat-Nya. Namun, hanya
menunjukkan sesuatu yang mutlak dan universal. Konsepnya itu sendiri tidak
terlepas dari kemusyrikanAdapun barangsiapa yang tidak mempunyai konsep
tentang sesuatu yang bebas dari kemusyrikan, karena dia belum mengenal Allah.
Selanjutnya, beliau mengatakan yang dilakukan ahli logika berbeda
dengan ayat-ayat yang disebutkan Allah di dalam Kitab-Nya, seperti firman-Nya:















}164{
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya
malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang
berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa
air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan
Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan
awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat)
tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
(QS. Al-Baqarah [2]:164), dan firman-Nya,








} 5{

}6{


Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan
ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan
itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).
Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia
menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang
mengetahui. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan
pada yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat
tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS.
Yunud [10]: 5-6), serta firman Allah Ta'ala,



}12{

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami
hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar
kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui
bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami
terangkan dengan jelas. (QS. Al-`Isra` [17]:12)

Ayat-ayat di atas menunjukkan esensi Pencipta Yang Tunggal, Allah


SWT, tanpa berbagi dengan yang lain.
Az-Zarkasy (1391 H, hlm. 24-25) berkata: Ketahuilah bahwa Al-Quran
telah mencakup segala macam dalil dan bukti. Tidak ada satu dalil pun, satu
bukti, atau aneka definisi mengenai sesuatu, baik berupa persepsi akal, maupun
dalil naqli yang universal, melainkan telah dibicarakan oleh Kitabullah. Namun,
Allah mengemukakannya sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan orang Arab; tidak
menggunakan aneka metode berfikir yang rumit. Hal ini dikarenakan dua hal:
Pertama, mengingat firman-Nya, "Dan Kami tidak mengutus seorang
rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya" (QS. Ibrahim [14]: 4).
Kedua, bahwa orang yang cenderung menggunakan argumentasi pelik
dan rumit itu sebenarnya ia tidak sanggup meneggakkan hujjah dengan kalam
yang jelas. Sebab orang yang mampu memberikan pengertian (persepsi) tentang
sesuatu dengan cara lebih jelas yang bisa dipahami sebagian besar orang, tentu
tidak perlu melangkah ke cara yang lebih kabur, rancu, dan teka-teki yang hanya
dipahami oleh segelintir orang. Karena itu, Allah memaparkan seruan-Nya dalam
berargumentasi dengan makhluk-Nya dalam bentuk argumentasi yang paling
jelas yang meliputi juga bentuk yang paling pelik.

Macam-macam Perdebatan di dalam Al-Quran.

1. Menyebutkan ayat-ayat kauniyah yang disertai perintah melakukan


perenungan dan pemikiran untuk dijadikan dalil penetapan dasar-dasar akidah,
seperti ketauhidan Allah dalam uluhiyah-Nya dan keimanan kepada malaikat,
Kitab-kitab, para rasul, dan hari kemudian. Perdebatan semacam ini banyak di
ungkap di dalam Al-Quran . Misalnya,

} 21{






}22{
Hai manusia, sembahlah Tuhan-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-
orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah Yang menjadikan bumi
sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air
(hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-
buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah
[2]:22)

Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia,
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di
laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan
dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran
angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat)
tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
(QS. Al-Baqarah [2]:164)

2. Membantah pendapat para penantang dan pembangkang, serta mematahkan


argumentasi mereka. Perdebatan semacam ini mempunyai beberapa bentuk:
a. membungkam lawan bicara dengan mengajukan pertanyaan tentang hal-hal
yang telah diakui dan diterima, baik oleh akal, agar ia mengakui apa yang
sebelumnya diingkari, seperti penggunaan dalil dengan makhluk untuk
menetapkan adanya Khalik, misalnya,

} 35{

} 36{
} 37{

} 39{
} 38{



} 41{ } 40{

} 42{
}43{
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang
menciptakan (diri mereka sendiri). Ataukah mereka telah menciptakan
langit dan bumi itu; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka
katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau
merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke
langit) untuk mendengarkan pada tangga itu hal-hal yang gaib) Maka
hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan
suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan
dan untuk kamu anak-anak laki-laki. Ataukah kamu meminta upah
kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang. Apakah ada
pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka
menuliskannya. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya Maka
orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. Ataukah
mereka mempunyai ilah selain Allah.Maha Suci Allah dari apa yang
mereka persekutukan. (QS. At-Thur [52]: 35-43)

b. Mengambil dalil dengan mabda` (sala mula kejadian) untuk menetapkan


ma'ad. Misalnya firaman Allah Ta'ala,
Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama Sebenarnya
mereka dalam keadan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru. (QS. Qaaf
[50]:15)

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia


diciptakan dari air yang terpancar yang keluar dari antara tulang sulbi laki-
laki dan tulang dada perempuan. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa
untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). (QS. At-Thariq [86]:8)

c. Membatalkan pendapat lawan dengan membuktikan (kebenaran)


kebalikannya, seperti

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan semestinya


dikala mereka berkata, "Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada
manusia". Katakanlah, "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang
dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu
jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu
perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya,
padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu
tidak mengetahui(nya)". Katakanlah,"Allah-lah (yang menurunkannya)",
kemudian (sesudah kamu menyampaikan al-Qur'an kepada mereka),
biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. Al-An'am
[6]:91)

d. Menghimpun dan memerinci, yakni menghimpun beberapa sifat dan


menerangkan bahwa aneka sifat itu bukanlah 'illah, alasan hukum, seperti,

(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan


sepasang dari kambing. Katakanlah:"Apakah dua yang jantan yang
diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam
kandungan dua betinanya". Terangkanlah kepadaku dengan berdasar
pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar. Dan sepasang
dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah, "Apakah dua yang jantan
yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam
kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyangsikan di waktu Allah
menetapkan ini bagimu. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-
orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan
manusia tanpa pengetahuan". Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-An'am 6:1443-144)k

e. Membungkam lawan dan mematahkan hujjahnya dengan menjelaskan


bahwa pendapat yang dikemukakannya itu menimbulkan suatu persepsi
yang tidak di akui oleh siapa pun, misalnya,

Dan mereka (orang-orang Musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah,
padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong
(dengan mengatakan): Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan
perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan
Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. Dia pencipta langit dan
bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai
isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala
sesuatu. (QS. Al-An'am [6]: 100-101)

Berbagai Uslub Al-Quran dalam Berhujjah


Al-Quran di dalam menyuruh, melarang, dan memberi pilihan kepada
hamba, tidak hanya memakai semacam uslub saja. Berikut ini uslub-uslub yang
terdapat di dalam Al-Quran, antara lain:

1. Uslub dalam menyuruh suatu perbuatan


Al-Quran dalam menuntut kita mengerjakan suatu pekerjaan
menggunakan sepulub macam uslub, yakni:
Pertama, menyuruh dengan jelas menggunakan kata suruhan, seperti
firman Allah Ta'ala:



}90{

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. Al-Nahl [16]:90),
dan




}58{
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan
hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya
kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. (QS. An-Nisa 4:58)

Kedua, menerangkan bahwa perbuatan yang diperintahkan itu


diwajibkan kepada yang dikenai hukum.





Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qisas
berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh (QS. Al-Baqarah
[2]:178)

Ketiga, mengabarkan bahwa perbuatan itu diwajibkan kepada semua


manusia atau golongan tertentu.




}97{
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim;
barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia;
mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi)
orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa
mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya
(tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran 3:97).

Keempat, berkaitan dengan sesuatu perbuatan yang dituntut kepada orang


yang dikenai perbuatan itu.
Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga
kali quru' (QS. Al-Baqarah [2]:228)

Kelima, memerintah dengan menggunakan fi'il amr atau fi'il mudlari`


yang disertai lam amr.

)238(

Peliharalah segala shalatmu, dan shalat wustha. Berdirilah untuk Allah


dalam shalatmu dengan khusyu'. (QS. Al-Baqarah [2]:238)
Keenam, dengan menggunakan kata fardu, seperti




}50{
sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada
mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki
supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ahzab 33:50)

Ketujuh, menyebut perbuatan sebagai sebagai pembalasan atau jawaban


suatu syarat, seperti

}280{
Dan jika orang berhutang itu dalam kesukaran, maka berilah tangguh
sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua
utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah
[2]:280)

Kedelapan, menyabut perbuatan disertai dengan lapaz khair. Misalnya,




dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah,
"Mengurus urusan mereka secara patut adalah lebih baik(QS. Al-
Baqarah [2]:220)

Kesembilan, menyebut perbuatan disertai dengan janji baik, seperti,






}245{
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat
gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan
Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu
dikembalikan. (QS. 2:245)

Kesepuluh, menyifatkan perbuatan dengan kebaikan, atau menerangkan


bahwa perbuatan itu dapat mengantarkan pada kebaikan, seperti,
akan tetapi sesungguhnya berbakti itu ialah beriman kepada Allah
(QS. Al-Baqarah [2]:177), dan

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna),


sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa
saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
(QS. Ali Imran [3]:92)

2. Uslub dalam mencegah suatu perbuatan


Dalam mengungkapkan larangan, Al-Quran menggunakan sembilan
uslub, yakni:
Pertama, dengan jelas memakai kata mencegah, seperti


dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan
permusuhan(QS. An-Nahl [16]:90)

Kedua, dengan memakai kata "mengharamkan", seperti



}3{
dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu'min...
(QS. An-Nur [24]:3)

Ketiga, dengan mengatakan "tidak halal", seperti





Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai
wanita dengan jalan paksa (QS. An-Nur [24]:19)

Keempat, memakai fiil mudlari` yang didahului kata "mencegah" atau fiil
amr yang menunjukkan kepada mencegah, seperti


Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang
lebih bermanfa'at, hingga sampai ia dewasa...(QS. Al-`An'am [6]:152),
dan



Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi(QS. Al-
`An'am [6]:120)

Kelima, menegasikan pekerjaan, seperti



}193{ ...
Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada
permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (QS. Al-
Baqarah [2]:193)

Keenam, meniadakan kebaikan suatu pekerjaan, seperti



Dan bukanlah kebaktian memasuki rumah-rumah dari
belakangnya(QS. Al-Baqarah [2]:189)

Ketujuh, menyebut perbuatan dengan disertai penjelasan pantasnya


diimpakkan dosa bagi yang mengerjakannya, seperti


}181{
Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu, setelah ia mendengarnya,
maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang
mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]:181)

Kedelapan, menyebut perbuatan yang disertai dengan ancaman, seperti



}34{

Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak dan tidak
menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka,
(bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, (QS. At-Taubah
[9]:34)

Kesembilan, menyifati suatu perbuatan dengan kejahatan, seperti





Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah
berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan
itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi
mereka. (QS. Ali Imaran [3]:180)

3. Uslub dalam memberi hak pilih untuk mengerjakan sesuatu atau tidak.
Pertama, menyandarkan kata "halal" kepada pekerjaan, atau dipertautkan
dengan pekerjaan, seperti


Dihalalkan bagimu binatang-binatang ternak, kecuali yang akan
dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan
berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. (QS. Al-Maidah 5:1)

Kedua, meniadakan dosa, seperti






}173{
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,
daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah. Namun, barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya)
sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka
tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah [2]:173)

Ketiga, memberi keringanan, seperti






}158{
Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi'ar Allah. Maka
barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak
ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya. Dan barang siapa
yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka
sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.
(QS. 2:158)

Simpulan
Dari uraian di atas, penulis memperoleh simpulan bahwa Al-Quran
adalah kalam Allah yang agung, bukan ciptaan manusia, atau Muhammad, yang
tentunya akan sangat berbeda dari perkataan manusia atau makhluk lain. Al-
Quran menyajikan aneka ungkapannya dengan gaya dan uslub yang sarat
dengan balaghah, fashahah, dan bayan. Begitu pula dalam jadal, ia menyuruh
Nabi saw. untuk menyeru para penantangnya dan berdebat dengan hikmah dan
penuh dengan pelajaran, bahkan dengan pekataan baik dan lemah lembut.
Karenanya, bila diaplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, kita bisa
mencontoh uslub dan metode Al-Quran dalam berdebat dan memaparkan hujjah.
Al-Quran memerintahkan berdebat, bila ada para penantang yang meragukan
kebenarannya dengan hikmah dan mau'izhah.

DAFTAR RUJUKAN

Al-Qura`n al-Karim
Al-Asfahani, (t.t) Mu'jam mufradat al-fazhil qur`anil karim, Beirut: Darul Fikr.
Al-Jurjani, A. (1405 H.). al-Ta'rift, Beirut: Darul Kitab al-Arabiy.
Al-Qaan, M. (t.t.). Mabahits fi 'ulumil qur`an, Riyadl: Mansyurat al-'Ashri al-
Haditsah
As-abuni, (1985). Shafwatut Tafasir: Jilid I, Beirut: Darul Qur`anul Karim,
Az-Zarkasy, A .(1391 H), Al-Burhan fi 'ulumil Qur`an, Beirut: Darul Ma'rifah,
Depdikbud, (1994). Kamu Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Yogyakarta: Balai
Pustaka
Hadiyanto, T. (2011). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Dalam
Pembelajaran Sejarah Kontroversial Melalui Metode Debat Pada Siswa
Kelas Xi Ipa 2 Di Sma Negeri 1 Tuntang Tahun Ajaran 2009/2010.
Paramitha: Historical Studies Journal, 21 (1). Diakses
dari http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/paramita/article/view/1033
Ibnu Taimiyah. (1977). Al-Raddu Ala lmantiqiyyin Cetakan ke-3. Pakistan:
Idaratu Turjuman as- Sunnah
Juliani, N.N., dkk, (2013). Metode Diskusi Debat Teknik Itemized Response
Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pkn Siswa. Jurnal Jurusan
Pendidikan PKn, 1 (2). Diakses dari
http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPP/article/view/400/hlm. 345
Mayasari, N. (2014). Peningkatan Keterampilan Berbicara Pada Mata Kuliah
Belajar Dan Pembelajaran Dengan Metode Debat Plus Dalam Proses
Pembelajaran Matematika Pada Mahasiswa Tingkat 2 Semester III di
IKIP PGRI Bojonegoro Tahun Pelajaran 2013 / 201. Jurnal Magistra.
Diakses dari http://journal.unwidha.ac.id/index.php/magistra/article/
view/424