Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

KONSERVASI ENERGI
SISTEM POMPA AIR

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Konservasi Energi

Oleh:
Kelompok 2
Kelas:
3 A

Anggota :
Didit Riantyo (141211009)
Fajar Rachman F. (141711012)
Vicky Nur I. (141711030)
Galuh Pratama K. (141711042)
Usep Nurhidayat T. (141711060)

Tanggal Praktikum: 07 Maret 2017


Dosen Pembimbing: Tina Mulya Gantina, MT.

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


Departemen Teknik Konversi Energi
Jln. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga, Bandung 40012
Telp: (022)2013789, Fax: (022)2013889
Homepage: www.polban.ic.id; Email: polban@polban.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Pompa merupakan salah satu jenis mesin fluida yang dapat memindahan fluida
melalui pipa dari suatu tempat ke tempat lain. Dalam menjalankan fungsinya pompa
mengubah energi gerak poros untuk mengerakan sudu-sudu menjadi gerak kemudian
menghasilkan fluida bertekanan. Pompa bekerja sesuai dengan kebutuhan, sehingga
perlakuan pada pompa akan mempengaruhi kinerjanya.
Selain itu pompa juga sering mengalami beberapa masalah saat beroprasi seperti
mesin pompa yang mengeluarkan suara bising, konsumsi energy yang besar, overheat
pada pompa, sampai motor listrik yang meledak. Oleh karena itu saat pengoprasian
pompa perlu dilakukan pengamatan dan pemeriksaan untuk mencegah masalah masalah
tersebut. Langkah awal yang bisa dilakukan untuk pemeriksaan adalah dengan pengujian
kinerja pompa. Jika ditemukan masalah pada pompa maka dilakukan analisis untuk
menentukan langkah konservasi pada pompa. Pada praktukum ini akan dilakukan
simulasi untuk melakukan konservasi pompa dengan 2 cara, yang pertama dengan
mengatur bukaan katup pada pompa saat beroprasi, dan kedua dengan melakukan
pemasangan capacitor bank pada bagian motor listrik pompa.
Bukaan katup menjadi parameter pemenuhan kebutuhan air dan proses
penghematan energi pada sistem pompa. Karena perubahan debit dengan pengaturan
bukaan katup air akan mempengaruhi putaran impeller yang mengakibatkan perubahan
tekanan pada impeller yang dipengaruhi oleh perubahan debit air. Perubahan tekanan
tersebut akan mempengaruhi efisiensi pompa tersebut. Berdasarkan hukum afinitas
perubahan putaran impeller berprngaruh terhadap Debit air, Daya Listrik dan Head pada
sistem pompa. Sehingga pada praktikum konservasi pada sistem pompa ini kita akan
mengetahui kebenaran dari hukum afinitas.

I.2 Tujuan
Setelah melakukan praktikum diharapkan mahasisiwa dapat :
a. Melakukan pengujian kinerja pompa pada kondisi exsisting (data kondisi yang ada)
b. Melakukan konservasi energi pada pompa dengan cara melakukan variasi bukaan katup
c. Melakukan konservasi energi pada pompa dengan cara pemasangan kapasitor
d. Membandingkan hasil konservasi dengan kondisi existing
BAB II
DASAR TEORI

II.1 Pengertian Pompa


Pompa adalah suatu alat atau mesin yang digunakan untuk memindahkan cairan
dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui suatu media perpipaan dengan cara
menambahkan energi pada cairan yang dipindahkan dan berlangsung secara terus
menerus. Pompa beroperasi dengan prinsip membuat perbedaan tekanan antara bagian
masuk (suction) dengan bagian keluar (discharge). Oleh karena itu, pompa berfungsi
mengubah tenaga mekanis dari suatu sumber tenaga (penggerak) menjadi tenaga kinetis
(kecepatan), dimana tenaga ini berguna untuk mengalirkan cairan dan mengatasi
hambatan yang ada sepanjang pengaliran. Berikut ini sistem pompa secara umum :

Gambar 2.1 Sistem Pompa Air

Perputaran impeler pompa sentrifugal menghasilkan head. Kecepatan keliling


impeler berhubungan langsung dengan kecepatan perputaran batang torak. Oleh karena
itu variasi kecepatan putaran berpengaruh langsung pada kinerja pompa. Parameter
kinerja pompa (debit alir, head, daya) akan berubah dengan bervariasinya kecepatan
putaran. Oleh karena itu, untuk mengendalikan kecepatan yang aman pada kecepatan
yang berbeda- beda maka penting untuk mengerti hubungan antara keduanya. Persamaan
yang menjelaskan hubungan tersebut dikenal dengan Hukum Afinitas :

Debit aliran (Q) berbanding lurus dengan kecepatan putaran (n)

Head (H) berbanding lurus dengan kuadrat kecepatan putarar (n)

Daya (P) berbanding lurus dengan kubik kecepatan putaran (n)


Sebagaimana dapat dilihat dari hukum diatas, penggandaan kecepatan putaran
pompa sentrifugal akan meningkatkan pemakaian daya 8 kalinya. Sebaliknya penurunan
kecepatan yang kecil akan berakibat penurunan pemakaian daya yang sangat besar. Hal
ini menjadikan dasar bagi penghematan energi pada pompa sentrifugal dengan kebutuhan
aliran yang bervariasi. Hal yang relevan untuk dicatat bahwa pengendalian aliran oleh
pengaturan kecepatan selalu lebih efisien daripada oleh kran pengendali. Hal ini
disebabkan kran menurunkan aliran namun tidak menurunkan pemakaian energi pompa.
Sebagai tambahan terhadap penghematan energi, terdapat manfaat lainnya dari kecepatan
yang lebih rendah tersebut.
Umur bantalan meningkat. Hal ini disebabkan bantalan membawa gaya
hidrolik pada impeler (dihasilkan oleh profil tekanan dibagian dalam wadah
pompa), yang berkurang kira - kira sebesar kuadrat kecepatan. Untuk sebuah
7
pompa, umur bantalan sebanding dengan kecepatan pangkat tujuh ( n ).
Getaran dan kebisingan berkurang dan umur seal meningkat selama titik tugas
tetap berada didalam kisaran operasi yang diperbolehkan.
11.2 Head
Tekanan diperlukan untuk memompa cairan melewati sistem pada laju tertentu.
Tekanan ini harus cukup tinggi untuk mengatasi tahanan sistem, yang juga disebut
head. Head total merupakan jumlah dari head statik dan head gesekan (friksi).

a. Head statik
Head statik merupakan perbedaan tinggi antara sumber dan tujuan dari cairan yang
dipompakan. Head statik merupakan aliran yang independen dan dapat dihitung dengan
persamaan berikut:
Head Static = Head Discharge (Hd) Head Suction (Hs)
a. Head statik terdiri dari:
1. Head hisapan statis (Hsuction) : dihasilkan dari pengangkatan cairan relatif
terhadap garis pusat pompa. Hs nilainya positif jika ketinggian cairan diatas garis pusat
pompa, dan negatif jika ketinggian cairan berada dibawah garis pusat pompa (juga
disebut pengangkat hisapan)
2. Head pembuangan statis (Hdischarge) : jarak vertikal antara garis pusat pompa
dan permukaan cairan dalam tangki tujuan.

Gambar 2.2 Head statik

b. Head gesekan atau friksi (Hf)


Head gesekan merupakan kehilangan yang diperlukan untuk mengatasi tahanan
untuk mengalir dalam pipa dan sambungan sambungan. Head ini tergantung pada
ukuran, kondisi dan jenis pipa, jumlah dan jenis sambungan, debit aliran, dan sifat dari
cairan. Head gesekan (friksi) ini sebanding dengan kuadrat debit aliran seperti
diperlihatkan dalam gambar 2.8. Loop tertutup sistem sirkulasi hanya menampilkan head
gesekan atau friksi (bukan head statik)
Gambar 2.3 Head gesekan (friksi) versus aliran
Dalam hampir kebanyakan kasus, head total sistem merupakan gabungan antara
head statik dan head gesekan seperti diperlihatkan dalam gambar berikut.

Gambar 2.4 Sistem dengan head statik rendah


3. Kurva kinerja pompa
Head dan debit aliran menentukan kinerja sebuah pompa sebagai kurva kinerja atau
kurva karakteristik pompa. Pada pompa sentrifugal, head secara perlahan turun dengan
meningkatnya aliran. Dengan meningkatnya tahanan sistem, head juga akan naik. Hal ini
pada gilirannya akan menyebabkan debit aliran berkurang dan akhirnya mencapai nol.
Debit aliran nol hanya dapat diterima untuk jangka pendek tanpa menyebabkan pompa
terbakar.

Gambar 2.5 Kurva kinerja pomp


4. Titik operasi pompa
Debit aliran pada head tertentu disebut titik tugas. Kurva kinerja pompa terbuat dari
banyak titik-titik tugas. Titik operasi pompa ditentukan oleh perpotongan kurva sistem
dengan kurva pompa sebagaimana ditunjukkan dalam gambar berikut.

Gambar 2.6 Titik operasi pompa (US DOE, 2001)

II.3 Klasifikasi Pompa


Klasifikasi pompa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu pompa
kerja positif (positive displacement pump) dan pompa kerja dinamis (non positive
displacement pump).
Pompa perpindahan positif (positive displacement pump)
Pada pompa perpindahan positif energi ditambahkan ke fluida kerja secara periodik
oleh suatu gaya yang dikenakan pada satu atau lebih batas (boundary) sistem yang dapat
bergerak. Pompa perpindahan positif terbagi menjadi :

a) Pompa torak ( Reciprocating pump )


Pompa torak adalah sebuah pompa dimana energi mekanis penggerak pompa dirubah
menjadi energi aliran fluida yang dipindahkan dengan menggunakan elemen yang bergerak
bolak balik di dalam sebuah silinder. Fluida masuk melalui katup isap dan keluar melalui
katup buang dengan tekanan yang tinggi. Pompa ini mengeluarkan cairan dalam jumlah yang
terbatas dengan debit yang dihasilkan tergantung pada putaran dan panjang langkah torak.
Volume cairan yang dipindahkan selama satu langkah piston atau plunyer akan sama dengan
perkalian luas piston dengan panjang langkah.
b) Pompa putar ( Rotary pump )
Pompa putar adalah pompa yang mentransfer energi dari penggerak ke cairan
menggunakan elemen yang bergerak berputar didalam rumah (casing). Fluida ditarik dari
reservoir melalui sisi isap dan didorong melalui rumah pompa yang tertutup menuju sisi
buang pada tekanan yang tinggi. Berapa tekanan fluida yang akan keluar pompa tergantung
pada tekanan atau tahanan aliran sistem. Sedangkan debit yang dihasilkan tergantung pada
kecepatan putar dari elemen yang berputar. Elemen yang berputar ini biasanya disebut
sebagai rotor.
c) Pompa diafragma (Diaphragm pump )
Pompa diafragma adalah pompa yang mentransfer energi dari penggerak ke cairan
melalui batang penggerak yang bergerak bolak-balik untuk menggerakan diafragma sehingga
timbul isapan dan penekanan secara bergantian antara katup isap dan katup tekan. Keuntungan
pompa diafragma ini adalah hanya pada diafragma saja yang bersentuhan dengan fluida yang
ditransfer sehingga mengurangi kontaminasi dengan bagian lain terutama bagian penggerak.
Pompa dinamik (non positive displacement pump).
Pompa dinamik terdiri dari satu impeler atau lebih yang dilengkapi dengan sudu-sudu,
yang dipasangkan pada poros-poros yang berputar dan menerima energi dari motor
penggerak pompa serta diselubungi dengan sebuah rumah (casing). Fluida berenergi
memasuki impeler secara aksial, kemudian fluida meninggalkan impeler pada kecepatan yang
relatif tinggi dan dikumpulkan didalam volute atau suatu seri laluan diffuser, setelah fluida
dikumpulkan di dalam volute atau diffuser terjadi perubahan dari head kecepatan menjadi
head tekanan, yang diikuti dengan penurunan kecepatan. Sesudah proses konversi ini selesai
kemudian fluida keluar dari pompa melalui katup discharge. Pompa dinamik dapat dibagi
dalam beberapa jenis :

a) Pompa Sentrifugal (Centrifugal Pump)


Pompa ini digerakkan oleh motor. Daya dari motor diberikan pada poros pompa untuk
memutar impeler yang dipasangkan pada poros tersebut. Akibat dari putaran impeler
yang menimbulkan gaya sentrifugal, maka zat cair akan mengalir dari tengah impeler
keluar lewat saluran di antara sudu-sudu dan meninggalkan impeler dengan kecepatan
yang tinggi.
Zat cair yang keluar dari impeler dengan kecepatan tinggi kemudian melalui saluran
yang penampangnya semakin membesar yang disebut volute, sehingga akan terjadi
perubahan dari head kecepatan menjadi head tekanan. Jadi zat cair yang keluar dari flens
keluar pompa head totalnya bertambah besar. Sedangkan proses pengisapan terjadi
karena setelah zat cair dilemparkan oleh impeller, ruang diantara sudu-sudu menjadi
vakum, sehingga zat cair akan terisap masuk.
Selisih energi persatuan berat atau head total dari zat cair pada flens keluar dan flens
masuk disebut sebagai head total pompa. Sehingga dapat dikatakan bahwa pompa
sentrifugal berfungsi mengubah energi mekanik motor menjadi energi aliran fluida.
Energi inilah yang mengakibatkan pertambahan head kecepatan, head tekanan dan head
potensial secara kontinu. Sekarang ini pemakaian pompa sentrifugal sangat banyak
digunakan dan telah berkembang sedemikian maju sehingga banyak menggantikan
pemakaian pompa-pompa lain.
Keuntungan pompa sentrifugal dibandingkan jenis pompa lain:
IV.1. Pada head dan kapasitas yang sama, dengan pemakaian pompa sentrifugal
umumnya paling murah.
IV.2. Operasional paling mudah
IV.3. Aliran seragam dan halus.
IV.4. Kehandalan dalam operasi.
IV.5. Biaya pemeliharaan yang rendah.

Berdasarkan arah aliran di dalam impeler pompa sentrifugal dibagi menjadi :

a. Aliran radial (Radial flow)


b. Aliran aksial (Axial flow)
c. Aliran campur (Mixed flow)

b. Pompa Efek Khusus (Special Effect Pump)


1. Pompa Jet (Jet Pump)
Pompa jet merupakan suatu kombinasi pompa sentrifugal volut dan susunan venturi
nosel. Pompa jet biasanya digunakan untuk mengangkat atau menarik air dari sumur
yang dalam ke suatu tempat yang lebih tinggi. Pada pompa jet, air pada tekanan tinggi
dipompakan melewati sebuah nosel dimana air akan dipercepat di dalam nosel, sehingga
energi tekanan akan diubah menjadi energi kinetik. Dan setelah melewati nosel air akan
masuk ke dalam venturi, dimana air yang telah dipercepat akan menyebabkan tekanan
menjadi turun, sehingga pompa jet dapat menghisap air.
2. Pompa Gas lift (Gas Lift Pump)
Prinsip dari pompa gas lift adalah memanfaatkan udara atau gas yang tertekan untuk
mengangkat air. Campuran udara dan air akan naik didalam pipa yang dikelilingi oleh
air. Pada dasarnya pompa gas lift terdiri dari pipa vertikal yang sebagian terendam dalam
air dan tabung supply udara yang menyediakan udara yang tertekan diberikan ke pipa
vertikal. Campuran udara dan air bisa naik sampai ke atas permukaan air karena massa
jenis dari campuran udara dan air tersebut lebih rendah dari massa jenis air itu sendiri.

3. Pompa hidrolik ram


Pompa hidrolik ram merupakan suatu alat untuk menaikkan sebagian dari sejumlah
besar air yang ada pada suatu tempat dengan ketinggian tertentu sampai ke tempat yang
lebih tinggi. Pompa hidrolik ram terpakai ketika beberapa sumber air alami seperti mata
air atau sungai berada pada ketinggian tertentu, misal pada daerah berbukit.

II.3 Spesifikasi pompa yang digunakan pada praktikum

Gambar 2.7. Pompa air


(Sumber: www.panasonic.com )
Gambar 2.8 Diagram kelistrikan pompa
(Sumber: www.panasonic.com )

Tabel 2.9 Spesifikasi pompa


(Sumber: www.panasonic.com )
Gambar 2.10. Bagian pompa
(Sumber: www.panasonic.com )

1. Tutup air pemancing 7. Penghubung pipa-hisap


2. Tutup terminal 8. Lubang hisap
3. Senur (kabel listrik) 9. Rumah pompa
4. Motor 10. Tutup impeller
5. Tutup kipas motor
6. Lubang keluaran air ** Pemasang grounding

II.4 Kualitas Daya


Kualitas daya yang dipasok ke sistem penggerak motor berkaitan dengan knerja
peralatan energi yang akan dioperasikan. Kualitas daya perlu dianalisa khususnya ketidak
seimbangan tegangan. Motor tiga fasa tidak toleran terhadap tegangan tidak seimbang.
Ketidakseimbangan tegangan akan mengakibatkan aliran arus yang tidak merata antara fasa
belitanya. Pengaruh tegangan tak seimbang ini adalah pemanasan terhadap motor listrik dan
rugi energi meningkat. Dapat dilihata ada Gambar 3.2. Pengaruh tegangan tak seimbang.

Gambar 2.11 Tegangan Tak Seimbang


II.4 Perhitungan Pada Pompa Air


Keterangan : = Efisiensi Pompa

Daya Hidrolis = g Q H[kW]


Keterangan:
3 3
= massa Jenis [kg/m ] ; untuk air 1000 kg/m
2
g = kecepatan gravitasi [m/s ]
3
Q= debit air [m /s]
H= head [m]
= 3

Keterangan:
I = Arus (A)
V = Tegangan (V)
= faktor daya
II.5 Konversi Energi Pada Sistem Pompa

Gambar 2.12 Skema konversi energi


Sumber: Himpunan Ahli Konservasi Energi (HAKE)

Kualitas daya listrik.

Kualitas daya yang dipasok ke sistem penggerak motor berkaitan dengan kinerja
peralatan energi yang dioperasikan. Kualitas supply daya listrik perlu dianalisa apakah sudah
sesuai dengan yang diharapkan. Parameter kualitas daya terdiri atas:

Ketidak-seimbangantegangan.
Ketidak-seimbanganarus.
Faktor daya rendah.
Tingkat harmonik(THD) arus.
Tingkat harmonik(THD) tegangan

Pemilihan Pompa

Memilih kapasitas pompa yang sesuai dengan kebutuhan. Kebanyakan pompa yang
terpasang tidak sesuai dengan kebutuhan, umumnya kapasitas pompa selalu lebih besar untuk
beban yang relative kecil, hal ini justru membuat pompa bekerja pada efisiensi yang rendah,
dan terdapat pemborosan energi. Sedangkan, pompa yang sesuai dengan kapasitas dapat
bekerja pada efisiensi maksimalnya dan lebih menghemat energi input listriknya.
PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA SISTEM POMPA

Minimise konsumsi air

Pilih jenis pompayang efisien.

Pilih (head &flow) pompa yang sesuai.

Pilih motorefisiensi tinggi sesuai dengan beban aktual.

Monitor parameter operasi seluruh system :Input (kwalias dayamotor, daya (kW), pump
(head, flow , temperatur).

Gunakan variable speed drives untuk flow yang bervariasi akibat permintaan proses yang
berubah ubah.

Untuk kasus dimana head flowlebih tinggi (5-15) % dari yang diperlukan impeller pompa
dapat dipotong , atau diganti dengan impeller diameter yang lebih kecil

Menggunakan pompa secara seri dan parallel sehingga ketidaksesuaian dalam


system design atau variasi kondisi operasi dapat ditangani secara benar.

II.6 Alat Kontrol Kecepatan Variable Speed Drive (VSD)


VSD atau yang biasa kita kenal dengan inverter dapat membantu dalam penghematan
konsumsi energi listrik dalam pengendalian kecepatan putar motor listrik dengan prinsip
peubahan frekuensi inputnya. VSD bisa mengelola lonjakan strating sesuai dengan kebutuhan
yang diinginkan sehingga dapat dilakukan upaya penghematan energi yang cukup besar.
VSD atau penggerak kecepatan yang bervariasi memiliki cara kerja yang dapat
menurunkan kecepatan pompa. Pengendalian kecepatan putaran pompa merupakan cara yang
sangat efisisen dalam mengendalikan aliran, dengan berkurangnya kecepatan pompa maka
pemkaian daya juga akan berkurang.
Secara sederhana untuk drive AC, Variable Speed Drive akan mengubah AC ke DC yang
biasanya diatur menggunakan teknik switching mengubah DC menjadi tegangan dan
frekuensi keluaran AC yang bervariasi. Frekuensi yang dihasilakan oleh VSD akan diatur
untuk mengubah kecepatan putar motornya.
VSD memperbolehkan pengaturan kecepatan putar motor-pompa berada diatas kisaran yang
kontinyu, menghindarkan kebutuhan untuk melompat dari satu kecepatan ke kecepatan
lainnya sebagaimana terjadi pada pompa yang memiliki kecepatan berlipat. Pengaturan
kecepatan pompa dengan menggunakan VSD ada dua jenis sistem:
VSD mekanis meliputi sarang hidrolik, kopling fluida, dan belt serta pully yang dapat
diatur.
VSD listrik meliputi sarang arus eddy, pengendali motor dengan rotor yang melingkar,
pengendali frekuensi yang bervariasi atau bisa disebut dengan Variable Frequency
Drives (VFDs).

VSD nerupakan pengendali yang terbilang sangat popular dalam pengaturan


frekuensi listrik dari sumber daya yang dipasok ke motor untuk pengubah kecepatan putaran
motor. Untuk beberapa sistem, VSD menawarkan sesuatu yang berharga untuk memperbaiki
efisiensi pompa pada kondisi operasi berbeda-beda.
Sistem pengendalian kecepatan putar ddengan VSD pada aplikasi motor pompa
didesain untuk pengaturan pengasutan. Dengan kondisi pengasutan tetap menggunakan
metode star delta, diupayakan pengendalian untuk menurubnkan arus starting guna
tercapainya penghematan daya.
VSD dirancang untuk mengoperasikan motor induksi standard an oleh karena itu
dapat dengan mudah dipasang pada sistim yang ada. VSD kadang dijual secara terpisah
sebab motor sudah beroperasi ditempat, tetapi dapat juga dibeli bersamaan dengan motornya.
Bila beban bervariasi, VSD atau motor dengan dua kecepatan kadangkala dapat menurunkan
pemakaian energi listrik pada pompa sentrifugal dan fan sebesar 50% bahkan lebih.
VSD dapat mengontrol arus starting seperti layaknya softstarter yang dapat
mengendalikan lonjakan arus yang terjadi pada saat pengasutan dengan memperlambat arus
startingnya. VSD juga memungkinkan arus starting yang lebih kecil daripada menggunakan
metode DOL, star delta. Sehingga dapat meningkatkan efisiensi motor dan melakukan
penghematan energi.

Gambar 2.13 Grafik peluang penghematan dengan VSD


BAB III
METODE PENGUJIAN

III.1 Alat dan Bahan


a. Voltmeter
b. Amperemeter
c. Wattmeter
d. Clamp On
e. Meteran
f. Gelas ukur

III.2 Gambar Rangkaian

Gambar 3.1 Rangkaian Input Pompa Tanpa kapasitor

Gambar 3.2 Rangkaian Input Pompa Dengan kapasitor


Gambar 3.3. Sistem Pompa Air

III.3 Prosedur Kerja


a. Tanpa Kapasitor
1) Pastikan tangki terisi air
2) Periksa semua kedudukan alat ukur pada posisi yang benar
3) Pastikan Katup terbuka 100 %
4) Ukur tinggi head dan volume dalam bak penampung yang akan digunakan
5) Sambungkan sumber listrik tanpa menggunakan kapasitor seperti gambar 3.1
a) Lakukan variasi bukaan katup hingga 0 %
b) Data diambil setiap 30 detik, data yang harus diambil adalah sebagai
berikut:
Tegangan Input (V)
Arus Input (A)
Daya Pompa (W)
Faktor Daya
Bukaan Katup (%)
3
Debit air (m /s)
c) Untuk mengakhiri pengujian matikan mesin dengan mematikan sumber
listrik.
b. Menggunakan Kapasitor
1) Pastikan Katup terbuka 100 %
2) Ukur tinggi head dan Besar Volume tabung yang akan digunakan
3) Sambungkan sumber listrik tanpa menggunakan kapasitor seperti gambar 3.2.
4) Ukur tinggi head dan volume dalam bak penampung yang akan digunakan
a) Lakukan variasi bukaan katup hingga 0 %
b) Data diambil setiap 30 detik, data yang harus diambil adalah sebagai
berikut:
Tegangan Input (V)
Arus Input (A)
Daya Pompa (W)
Faktor Daya
Bukaan Katup (%)
3
Debit air (m /s)
c) Untuk mengakhiri pengujian matikan mesin dengan mematikan sumber
listrik.

III.4 Pertanyaan
a. Buatlah tabel data yang akan digunakan!
b. Buat karakteristik pompa dengan
Kurva Bukaan katup terhadap debit aliran (Q)
Kurva Daya listrik terhadap debit aliran (Q)
Kurva pompa terhadap debit aliran (Q)
c. Analisis data hasil bercobaan berdasarkan grafik yang didapat!
d. Bandingkan peluang penghematan yang yang terjadi pada percobaan pompa
tanpa kapasitor dengan percobaan pompa yang menggunakan kapasitor!
e. Berikan kesimpulan saudara!
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, kelompok kami melakukan praktikum mengenai konservasi pada
pompa. Terdapat 2 cara konservasi yang diujikan dalam praktikum ini yang pertama dengan
variabel debit yang diubah menggunakan bukaan katup yang diatur dan kedua dengan
memasang capacitor bank (dengan nilai pada motor listrik 8F). Pompa yang digunakan
pada praktikum kali ini adalah pompa regeneratif yang lazim digunakan di rumah tangga.
Langkah awal pada praktikum kali ini adalah dengan melakukan pegujian pada sistem
pompa pada kondisi existing dari pompa tersebut (dari kondisi yang ada), lalu setelah
melakukan pengujian dengan menggunakan kondisi existing pompa, kami melakukan
pengujian dengan cara memasang kapasitor sebesar 8F. Adapun data yang kami amati
adalah debit air, head pompa, tegangan pada motor listrik, arus pada motor listrik, daya aktif
(P), daya semu (s), dan daya reaktif dari motor listrik. Data-data tersebut didapatkan dari
panel praktikum yand terdapat LCD untuk menunjukan data dari motor listrik, serta flow
meter untuk melihat debit dari pompa, sedangkan untuk head sendiri di dapatkan dengan cara
mengukur ketinggian ruangan tempat pompa dipakai, karena tepat sejajar dengan langit-
langit ruangan praktikum terdapat torn air sebagai tempat air yang mengalir dari pompa naik
ke penampung tersebut. Setelah didapat data-data tersebut maka kami mencari nilai efisiensi
dari pompa tersebut, dan di bandingkan hasil dari kondisi existing dan setelah dilakukan
konservasi pada system pompa.
Dari data praktikum, maka didapatkan beberapa grafik seperti berikut:

IV.1. Konservasi dengan mengatur bukaan katup

Grafik debit terhadap Daya (kW)


0,05
Debit (m3/m) /
bukaan katup
0,04

0,03

0,02 Percobaan 1
Percobaan 2
0,01

0
0 0,005 0,01 0,015 0,02
Daya Aktif (kW)
Hubungan bukaan katup dengan daya aktif berbanding terbalik. Semakin kecil bukaan
katup maka semakin besar P (daya aktif) yang di butuhkan untuk mengoprasikan pompa
begitu juga sebaliknya semakin besar bukaan katup maka semakin kecil daya aktif dan Q
yang di butuhkan untuk mengoprasikan pompa.

Grafik Bukaan katup terhadap Arus (I)


2
Debit (m3/m) / 1,8
bukaan katup 1,6
1,4
1,2
1
Percobaan 1
0,8
0,6 Percobaan 2
0,4
0,2
0
0 0,005 0,01 0,015 0,02
Arus (I)

Arus yang dihasilkan pun lebih besar saat bukaan katup kecil apabila dibandingkan
dengan arus yang dihasilkan saat bukaan katup besar.

Berdasarkan praktikum yang telah kami lakukan, profil konsumsi energi pada setiap
keadaan bukaan katup menunjukkan bahwa semakin kecil bukaan katup maka semakin besar
energi yang digunakan pada pengoprasian pompa dan semakin besar bukaan katup maka
konsumsi energi yang digunakan relatif lebih rendah dari bukaan katup yang kecil.

Peluang penghematan energi dengan menggunakan cara mengatur bukaan tutup kram
(katup) agar efisiensinya relatif besar yaitu dengan membuka katup 100% agar daya input
berbanding lurus dengan banyak laju alirnya

IV.2. Konservasi dengan memasang capacitor bank pada motor listrik


Kapasitor bank berfungsi sebagai penyuplai daya reaktif (VAR) untuk beban-beban
induktif seperti motor listrik (pompa air, mesin cuci, AC), ballast lampu dan trafo, yaitu
peralatan listrik yang memiliki kumparan. Daya reaktif ini diperlukan untuk pemagnetan di
dalam kumparan/lilitan. Dimana peralatan listrik yang sering digunakan dan dijumpai
memiliki karakteristik induktif, sehingga untuk menyeimbangkan karakteristik beban tersebut
perlu digunakan kapasitor yang berperan sebagai beban kapasitif.
Debit terhadap daya
0,045
0,04
0,035
Daya Aktif (kW)
0,03
0,025
0,02 Existing
0,015
0,01 Setelah
Konservasi
0,005
0
0 0,0001 0,0002 0,0003 0,0004
Debit (m3/s)

Dari grafik debit terhadap daya diatas dapat dilihat bahwa daya listrik pada motor
pompa dipengaruhi oleh besar debit yang keluar. Semakin besar debit air yang keluar dari
pompa maka semakin rendah konsumsi daya listrik pada motor pompa. Dan dapat dilihat
pula bahwa setelah melakukan pemasangan kapasitor, daya aktif dari motor listrik mengalami
kenaikan yang cukup signifikan.

Daya aktif terhadap cos phi


1
0,98
0,96
0,94
Cos phi
0,92
Existing
0,9
0,88 Setelah
Konservasi
0,86
0,84
0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05
Daya aktif (kW)
Debit terhadap power factor
1
0,98
Power Factor (lag) 0,96
0,94
0,92 Existing
0,9
0,88 Setelah
0,86 Konservasi
0,84
0 0,0001 0,0002 0,0003 0,0004
Debit (m3/s)

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa besar dari cos phi dipengaruhi oleh daya pada
motor pompa. Dapat dilihat bahwa semakin besar daya pada motor, semakin besar pula nilai
cos phi pada motor, nilai dari daya sendiri dipengaruhi oleh debit seperti dijelaskan pada
kurva sebelumnya. Bisa dilihat juga bahwa setelah dipasang kapasitor nilai dari cos phi
menjadi lebih tinggi. Selain itu pada grafik hubungan antara PF dengan debit, semakin besar
debit maka semakin kecil PFnya, namun saat di pasang kapasitor cosphinya cenderung
menjadi konstran pada keadaan debit manapun.

Debit Terhadap Effisiensi


90
80
70
Efisiensi (%) 60
50
40 Existing
30 Setelah

20 Konservasi
10
0
0 0,0001 0,0002 0,0003 0,0004
Debit (m3/s)

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa besar efisiensi pompa tergantung oleh besar
daya hidrolis dan daya pada motor, dan semakin besar daya hidrolis maka efisiensi semakin
besar. Bisa dilihat di kurva bahwa nilai dari efisiensi semakin besar ketika debit besar pula,
juga dapat dilihat bahwa nilai efisiensi menjadi lebih rendah ketika dipasang kapasitor.
Saat konservasi dengan pemasangan capacitor bank perlu diperhatikan keadaan pompa
dan reaksi pompa saat di pasang pertamakali. Hal ini disebabkan meskipun pemasangan
kapasitor merupakan langkah untuk memperbaiki cos phi namun efek samping dari
pemasangannya adalah membuat motorlistrik bekerja lebih keras dan konsumsi energinya pun
menjadi lebih besar. Selain itu motor listrik akan menjadi lebih cepat panas saat kapasitor yang di
pasang terlalu besar, karena arus yang di hasilkan akan sangat besar. Dalam praktikum ini arus
yang dihasilkan sudah melebihi nominal pompa sehingga motor listrk mengalami overheating
dan lilitan dalamnya terbakar. Seperti yang kita tahu bahwa capasitor sendiri merupakan salah
satu jenis hambatan (beban), oleh karena itu saat pemasangan kapasitor terlalu besar, maka beban
yang diterima motor listrik menjadi besar juga.

Data dan analisis perhitungan


Konsdisi Existing

Head Debit Debit Tegangan Arus PF P S Q Eff


No (m) (m3/m) (m3/s) (V) (A) (lag) (kW) (kVA) (kVAR) Ph (kW) (%)

1 5 0.019 0.000316667 223.64 1.055 0.85 0.0197 0.02292 0.0121 0.015517 78.764
2 5 0.0145 0.000241667 221.73 1.0618 0.91 0.0215 0.02356 0.0094 0.011842 55.077
3 5 0.0115 0.000191667 221.64 1.1028 0.93 0.0228 0.0243 0.0086 0.009392 41.191
4 5 0.009 0.00015 221.96 1.1676 0.95 0.0244 0.02576 0.0079 0.00735 30.122
5 5 0.005 8.33333E-05 222.71 1.1736 0.953 0.0248 0.02589 0.0079 0.004083 16.465

Data Setelah Konservasi (pemasangan capacitor bank)


Head Debit Tegangan Arus PF P S Q Eff
No (m) (m3/m) Debit (m3/s) (V) (A) (lag) (kW) (kVA) (kVAR) Ph (kW) (%)

1 5 0.019 0.000316667 222.74 1.6984 0.9858 0.0375 0.03805 0.0044 0.015517 41.378
2 5 0.0145 0.000241667 222.84 1.784 0.9878 0.0396 0.03994 0.00626 0.011842 29.902
3 5 0.0115 0.000191667 222.56 1.8434 0.988 0.0407 0.04113 0.00629 0.009392 23.075
4 5 0.009 0.00015 222.69 1.8914 0.9884 0.0416 0.042 0.00637 0.00735 17.668
5 5 0.005 8.33333E-05 222.13 1.8934 0.9885 0.0417 0.04214 0.00642 0.004083 9.792
Contoh Perhitungan

Daya Hidrolis
Ph =

Ph = 1000 ( 3) 9.8 ( 2) 5 ( ) 0.000316667 ( 3)

Ph = 0.015517 kW

Efisiensi
=
100%

= 0.015517 100% 0.0197

= 78.76481 %

IV.3. Konservasi dengan pemasangan Variable Speed Drive


Dalam praktikum kali ini penggunaan VSD tidak kami ujikan, namun kami
mengambil referensi untuk pembahsan pengaruh pemasangan VSD terhadap penghematan
konsumsi energi dari jurnal tugas akhir Analisis Penghematan Energi pada Pompa FASUM
menggunakan Variable Speed Drive. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa sistem
pengendalian kecepatan putar dengan VSD pada aplikasi motor pompa didesain untuk
pengaturan pengasutan. Dengan kondisi pengasutan tetap menggunakan metode star delta,
diupayakan pengendalian untuk menurubnkan arus starting guna tercapainya penghematan
daya.
VSD dirancang untuk mengoperasikan motor induksi standard, oleh karena itu dapat
dengan mudah dipasang pada sistim yang ada. VSD kadang dijual secara terpisah sebab
motor sudah beroperasi ditempat, tetapi dapat juga dibeli bersamaan dengan motornya. Bila
beban bervariasi, VSD atau motor dengan dua kecepatan kadangkala dapat menurunkan
pemakaian energi listrik pada pompa sentrifugal dan fan sebesar 50% bahkan lebih.
VSD dapat mengontrol arus starting seperti layaknya softstarter yang dapat
mengendalikan lonjakan arus yang terjadi pada saat pengasutan dengan memperlambat arus
startingnya. VSD juga memungkinkan arus starting yang lebih kecil daripada menggunakan
metode DOL, star delta. Sehingga dapat meningkatkan efisiensi motor dan melakukan
penghematan energi.
Gambar 4.1 Pengaruh timing acceleration terhadap arus
Dari gambar diatas dapat diketahui semkain lama akselarasi VSD maka frequensi start
stop pompa semakin sedikit dan mengkomsi energi semakin banyak. Sedangkan untuk arus
starting maks relative tetap. Dari diatas maka dipilih pengaturan akselerasi 10 second, karena
frequensi start stop tidak terlalu berguna menjaga keawetan VSD dan konsumsi energi
relative masih rendah.
Dalam penggunaan VSD yang akan mengendalikan arus starting agar tidak terjadi
lonjakan yang menyebabkan pemborosan energi. Sehingga dengan pengaturan kecepatan
putar dengan mengatur frekuensi akan menimbulkan penurunan daya dikarenakan penurunan
arus startingnya.

Tabel 4.1 Konsumsi Energi Sebelum menggunkan VSD


Hari Kwh Konsumsi Energi
Meter (kWh)

Rabu 15.528 -
Kamis 211.208 195.68
Jumat 407.247 196.039
Sabtu 613.936 206.689
Minggu 820.626 206.69
Senin 1030.244 209.618
Selasa 1225.479 195.235
Rabu 1430.643 205.164
Total 1415.115
Rata-rata perhari 202.159
Tabel 4.2 Konsumsi Energi Sesudah menggunkan VSD
Hari Kwh Konsumsi Energi
Meter (kWh)

Rabu 1469.865 -
Kamis 1582.491 112.626
Jumat 1690.365 107.874
Sabtu 1804.432 114.067
Minggu 1908.884 104.452
Senin 1998.08 89.196
Selasa 2096.392 98.312
Rabu 2186.172 89.78
Total 716.307
Rata-rata perhari 102.33

Grafik Hubungan Antara Konsumsi Energi Terhadap Waktu


250

200
Konsum
si energi
150

Kondisi Exciting 100

Setelah Pemasangan VSD


50

0
0 2 4 6 8 10
Hari

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Antara Konsumsi Energi Terhadap Waktu


Dalam penggunaan VSD akan dilakukan pengendalian terhadap arus starting agar
tidak terjadi lonjakan yang menyebabkan pemborosan energi. Sehingga dengan pengaturan
kecepatan putar dengan mengatur frekuensi akan menimbulkan penurunan daya dikarenakan
penurunan arus startingnya. Pada tabel 4.1, 4.2 dan grafik 4.1 merupakan data hasil
pengukuran kWH setelah dan sebelum menggunkan VSD serta perbandingnannya yang
dijelaskan dalam grafik.
BAB V
PENUTUP

V.I Kesimpulan
Bedasarkan praktikum konservasi Energi Pada Sistem Pompa Air dapat disimpulkan

bahwa:

1. Pengujian kinerja pompa exsisting dapat dilakukan dengan membandingkan energy


input berupa energy listrik dengan energy output yang berupa daya hidrolik.
2. Konservasi pada pompa dengan melakuka variasi bukaan katup, akan mempengaruhi
debit serta faktor daya. Semakin kecil debit air maka faktor dayanya semakin besar,
namun efisisensinya semakin menurun. Selain itu daya listrik dan arusnya menjadi
semakin besar.
3. Konservasi pada pompa dengam memasang capacitor bank, daya aktif mengalami
peningkatan yang cukup besar. Untuk nilai cos phinya (PF) menjadi lebih stabil yaitu
pada angka 0,988 pada kondisi debit besar atau pun kecil.
4. Besar efisiensi pompa tergantung oleh besar daya hidrolis dan daya pada motor,
semakin besar daya hidrolis maka efisiensi semakin besar. Saat pemasangan capacitor
bank, effisiensi pada sistem pompa mejadi lebih rendah dibandingkan dengan tidak
memasang capacitor bank.
5. Pemasangan capacitor bank harus diperhatikan dengan baik, karena apabila
pemasangan nilai kapasitor yang terlalu besar maka beban pada motor listrik akan
semakin besar. Hal ini menyebabkan motor listrik bekerja sangat berat dan konsumsi
energi menjadi lebih besar, selain itu menyebabkan overheating pada motor listrik.
6. Rata rata nilai effisiensi yang diperoleh saat pompa dalam kondisi existing adalah
sebesar 44,32% dengan nilai cos phi 0,918. Dan rata rata nilai effisiensi setelah
dilakukan konservasi dengan pemasangan capacitor bank adalah 24,363% dengan
nilsi cos phi 0,988.
7. Dalam hal penghematan energi Variable Speed Drive (VSD) dapat mengurangi
besarnya lonjakan arus starting dengan pengaturan timing acceleration dan kecepatan
putar motor pada saat starting.
8. Penggunaan VSD sangat berpengaruh pada konsumsi energi dari pompa, sehingga
penggunaan VSD dapat direkomendasikan untuk meningakatkan performa pompa dan
mengurangi konsumsi energy akibak lonjakan beban (fluktuasi putaran).
DAFTAR PUSTAKA

Modul konservasi pompa air Politeknik Negeri Bandung

Marupung, Ir. Parlindungan . PRINSIP KONSERVASI PADA SISTEM POMPA.

Prasetyo, Ria.2013.ANALISIS PENGHEMATAN ENERGI PADA POMPA FASUM


MENGGUNAKAN VARIABLE SPEED DRIVE.Universitas Gadjah Mada.