Anda di halaman 1dari 2

SURVEILLANCE VAP

http://konsultan-rs.org/wp-content/uploads/2014/05/VAP-221x300.jpg

MAY 21, 2014 ADMIN LEAVE A COMMENT

VAPVentilator Associated Pneunomia (VAP) aadalah bentuk infeksi HAIs yang sering terjadi dan banyak
ditemukan di unit perawatan intensif. Penyebab utamanya adalah organisme gram negatif dan
kebanyakan organisme tersebut didapatkan pada peralatan yang dipakai. VAP ini terjadi sampai 40% dari
pasien yang menggunakan ventilasi mekanik lebih dari 48 jam, dan timbul antara 10-65% dari seluruh
pasien yang terpasang ventilator. Yang cukup memprihatinkan adalah mortalitas rate nya antara 24
sampai dengan 56 persen (American Journal Resprition Critical care, 2002). Kuman yang dominan
sebagai penyebab mortalitas adalah Pseudomonas dan Acinetobacter.

Ada dua klasifikasi VAP yaitu early-onset yang terjadi setelah 48-72 jam setelah dilakukan tracheal
intubasi. Organisme yang berperan biasanay Hemoplhyllus influenza, Streptococcus pneumoniae,
Staphylococcus aureus (methicillin sensitive), E. Coli dan Klebsiella.

Klasifikasi ke dua adalah late-onset yang terjadi setelah lebih dari 72 jam intubasi. Biasanya disebabkan
oleh Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter dan Staphylococcus aureus (methicillin resistant). Atau
biasanya multiple antibiotic resistant.

Pengertian surveillance VAP adalah pengumpulan data kejadian pneumonia akibat pemakaian ventilasi
mekanik lebih dari 48 jam, data dikumpulkan secara sistematik, dianalisis dan diinterpretasikan untuk
digunakan dalam perencanaan penerapan dan evaluasi, kemudian di desiminasikan secara berkala
kepada pihak-pihak yang memerlukan.

Untuk menentukan laju infeksinya, pertama anda tentukan numeratornya yaitu berupa jumlah pasien
terinfeksi akibat pengguinaan ventilator. Sedangkan denominatornya adalah jumlah hari penggunaan
ventilator. Besarnya laju infeksi ditentukan sebabagi numerator dibagi denominatornya dan dinyatakan
dalam persen.

Bila laju infeksi ini cukup besar dan ditunjang dengan hasil pembiakan bakteri yang menentukan jenis
bakteri yang ada, maka dapat dilakukan langkah-langkah pencegahannya. Dalam hal ini petugas sangat
berperan penting untuk mengurangi kejadian VAP. Biasanya kuman penyebab VAP terbanyak adalah
kuman yang sudah resisten terhadap antimikroba.
Untuk mencegah VAP harus dilakukan langkah-langkah yang memutus mata rantai perkembang biakan
bakteri tersebut. Ada empat tindakan utama dalam pencegahan VAP. Pertama, melakukan pendidikan
dan pelatihan terhadap petugas kesehatan mengenai Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit.
Selain itu juga pelatihan bed side teaching untuk petugas yang menangani pasien dengan mekanikal
ventilasi. Dan jangan lupa setelah itu melakukan audit kepatuhan petugas terhadap kepatuhan
menjalankan SPO pencegahan dan pengendalian VAP.

Kedua, mengurangi kolonisasi mikroorganisme, dengan jalan antara lain : hand hygiene bagi semua yang
bersentuhan dengan pasien, laringoscope blade selalu terlebih dahulu di alkoholise sebelum digunakan,
hindari re-intubasi, oral hygiene dan kebersihan mulut dijaga, penghisapan lendir, peralatan yang harus
steril, pemberian obat-obatan untuk menghindari stress ulcer, pengaturan penbggunaan obat untuk
selective Digestive Tract dan DVT/PUD Prophylaxis

Ketiga, menghindari aspirasi. Dengan cara secara rutin melakukan oral suctioning subglotic. Usahakan
posisi pasien dalam posisi tidur 30-45o bila tidak ada kontra indikasi, lakukan perawatan cuff ETT dan
lakukan pemeriksaan selang NGT secara teratur adakah terjadi kondensasi yang menandakan adanya
infeksi atau tidak.

Dan yang terakhir berfungsi sebagai alat evaluasi yaitu dengan melakukan surveillance VAP secara
teratur. (zs)