Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH TRANSPORTASI UDARA

BAB I
PENDAHULUAN

Indonesia adalah sebuah negara besar yang terdiri atas belasan ribu pulau-pulau baik besar
maupun kecil yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, yang terhampar dari barat ke timur
wilayahnya. Hal inilah yang menjadikan Indonesia sebagai Negara Kepulauan terbesar yang
pernah ada. Yang menjadi masalah apakah Pemerintah Republik Indonesia mampu dan sanggup
untuk menjangkau semua pulau yang ada yang tidak sedikit dari pulau-pulau tersebut terletak
pada daerah-daerah yang cukup terpencil sehingga sulit untuk dijangkau oleh alat-alat
transportasi biasa. Jika pemerintah memiliki solusi untuk masalah ini maka fungsi manajemen
dan fungsi kontrol pemerintah dari pusat ke daerah-daerah tersebut dapat berjalan dengan
sempurna.

Berbicara masalah transportasi, di dunia ini terdapat berbagai macam jenis alat-alat transportasi
baik yang beroperasi di darat, laut, maupun udara sekalipun. Untuk wilayah di Indonesia semua
jenis alat transportasi tersebut dapat digunakan dengan baik, namun untuk daerah- daerah
perbatasan dan pulau-pulau terpencil maka alat transportasi udara lokal menjadi alternatif
terbaik untuk hal itu.

Bentuk kontur wilayah Indonesia yang cukup bergunung-gunung menjadikan alat transportasi
darat tidak cukup efektif untuk digunakan kecuali di daerah kota-kota besar yang penyediaan
fasilitas jalan rayanya sudah cukup baik. Untuk menjangkau hal itu pemerintah harus benar-
benar fokus akan hal transportasi udara ini. Sebagai langkah awal mungkin pemerintah bisa
kembali memperjuangkan industri strategisnya yang konsen terhadap masalah transportasi
udara. Sebenarnya terkait masalah industri strategis seperti ini, Indonesia adalah satu-satunya
negara berkembang di dunia ini yang memiliki pabrik industri yang mampu merancang sekaligus
memproduksi pesawat terbang dan pesawat udara. Kelebihan inilah yang seharusnya
dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah untuk bisa memulihkan kembali negara ini dari
keterpurukan.

Kebutuhan manusia sekarangpun sudah merujuk pada penggunaan alat transportasi yang dapat
beroperasi dalam jangka waktu yang singkat yang mampu mengantarkan mereka ke tempat
tujuan dengan cepat dan efektif. Alat transportasi apalagi yang mampu memenuhi kebutuhan
seperti ini kalau bukan transportasi udara yaitu pesawat udara dan pesawat terbang. Beberapa
tahun belakangani ini pesawat merupakan alternatif terbaik yang menjadi pilihan masyarakat
sebagai alat transportasi luar kota. Hal itu dikarenakan harga tiket pesawat sekarang-sekarang
ini relatif menyamai harga tiket kapal atau bahkan bus kota sekalipun. Orang-orang kelas
menengah ke atas dan para eksekutif yang beranggapan bahwa waktu sangat berharga dalam
menajalankan aktivitas mereka juga merupakan pangsa pasar dalam hal ini.

Dikarenakan begitu pentingnya masalah pengadaan alat transportasi udara ini, pemerintah bisa
terus mengembangkan program industrialisasi pesawat udaranya walaupun terdapat banyak
hambatan dari negara-negara asing terkait akan hal ini, seperti embargo suku cadang pesawat,
lisensi atau sertifikasi uji kelayakan beroperasinya pesawat udara, dan lain sebagainya. Hal itu
sebenarnya mereka lakukan dikarenakan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan
Inggris juga negara eropa lainnya tidak menginginkan ada negara dunia ketiga yang memiliki
kemampuan mengembangkan industri pesawat terbangnya seperti Indonesia.

Menurut kami, hambatan-hambatan seperti diatas yang sampai saat ini negara kita Indonesia
masih berkutat dengan hal itu dapat dihadapi dengan keberanian negara ini dalam mengambil
sikap. Indonesia seharusnya dapat meneruskan proyek N-250 nya yang merupakan pesawat
penumpang terbaik di kelasnya mengalahkan keluaran Boeing dan Airbus ketika ada pameran
pesawat terbang terbesar di dunia yang diselenggarakan di Paris, Perancis. Sikap yang dapat
pemerintah Indonesia ambil adalah tetap memproduksi N-250 tersebut untuk dipergunakan
sebagai alat transportasi dalam negeri. Kalau beroperasinya hanya di dalam negeri maka tidak
terlalu rumit dipermasaslahkan oleh hal-hal seperti sertifikasi dari luar negeri. Hal serupa inilah
yang juga dilakukan oleh negara Amerika Latin yakni Argentina untuk menjawab permasalahan
sertifikasi pesawat dan untuk mengembangkan kembali dunia dirgantaranya.

Jika perindustrian pesawat terbang ini dapat kembali dimaksimalkan maka pengadaan pesawat
sebagai alat transportasi alternatif terbaik akan menjadi suatu hal yang nyata dalam
menyelesaikan masalah-masalah transportasi di Indonesia yang berbenturan dengan estimasi
waktu. Karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa keefektifan waktu perjalanan hanya dapat
dipenuhi oleh alat transportasi yang beroperasi dengan cepat yaitu pesawat udara dan pesawat
terbang.
Walaupun saat ini seringkali terjadi peristiwa kecelakaan pesawat namun antusiasme
masyarakat menggunakan pesawat sebagai alat transportasi tidak berkurang. Hal ini
berdasarkan survey yang menyebutkan bahwa pesawat terbang masih menjadi andalan alat
transortasi yang efektif dari segi waktu. Meskipun sekarang ini terjadi beberapa kecelakaan,
namun data menyebutkan bahwa korban yang ditimbulkan akibat kecelakaan pada alat
transportasi menempatkan pesawat terbang sebagai transportasi yang paling sedikit memakan
korban jiwa. Ini menjawab semua pertanyaan akan aspek keselamatan pada pesawat.
BAB II
TRANSPORTASI UDARA

Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya
dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau mesin.
Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Di
negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah (subway) dan taksi. Penduduk
disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar menggunakan
angkutan umum sebagai transportasi mereka. Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi
darat, laut, dan udara. Transportasi udara merupakan transportasi yang membutuhkan banyak
uang untuk memakainya. Selain karena memiliki teknologi yang lebih canggih, transportasi
udara merupakan alat transportasi tercepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya

A. Sejarah Transportasi Udara


Pesawat terbang yang lebih berat dari udara diterbangkan pertama kali oleh Wright Bersaudara
(Orville Wright dan Wilbur Wright) dengan menggunakan pesawat rancangan sendiri yang
dinamakan Flyer yang diluncurkan pada tahun 1903 di Amerika Serikat. Selain Wright
bersaudara, tercatat beberapa penemu pesawat lain yang menemukan pesawat terbang antara
lain Samuel F Cody yang melakukan aksinya di lapangan Fanborough, Inggris tahun 1910.
Sedangkan untuk pesawat yang lebih ringan dari udara sudah terbang jauh sebelumnya.
Penerbangan pertama kalinya dengan menggunakan balon udara panas yang ditemukan
seorang berkebangsaaan Perancis bernama Joseph Montgolfier dan Etiene Montgolfier terjadi
pada tahun 1782, kemudian disempurnakan seorang Jerman yang bernama Ferdinand von
Zeppelin dengan memodifikasi balon berbentuk cerutu yang digunakan untuk membawa
penumpang dan barang pada tahun 1900. Pada tahun tahun berikutnya balon Zeppelin
mengusai pengangkutan udara sampai musibah kapal Zeppelin pada perjalanan trans-Atlantik
di New Jersey 1936 yang menandai berakhirnya era Zeppelin meskipun masih dipakai menjelang
Perang Dunia II. Setelah zaman Wright, pesawat terbang banyak mengalami modifikasi baik dari
rancang bangun, bentuk dan mesin pesawat untuk memenuhi kebutuhan transportasi
udara.Pesawat komersial yang lebih besar dibuat pada tahun 1949 bernama Bristol
Brabazon.Sampai sekarang pesawat penumpang terbesar di dunia di buat oleh airbus industrie
dari eropa dengan pesawat A380.
B. Kategori dan Klasifikasi

a. Lebih berat dari udara


Pesawat terbang yang lebih berat dari udara disebut aerodin, yang masuk dalam kategori ini
adalah autogiro, helikopter, girokopter dan pesawat bersayap tetap. Pesawat bersayap tetap
umumnya menggunakan mesin pembakaran dalam yang berupa mesin piston (dengan baling-
baling) atau mesin turbin (jet atau turboprop) untuk menghasilkan dorongan yang
menggerakkan pesawat, lalu pergerakan udara di sayap menghasilkan gaya dorong ke atas, yang
membuat pesawat ini bisa terbang. Sebagai pengecualian, pesawat bersayap tetap juga ada
yang tidak menggunakan mesin, misalnya glider, yang hanya menggunakan gaya gravitasi dan
arus udara panas. Helikopter dan autogiro menggunakan mesin dan sayap berputar untuk
menghasilkan gaya dorong ke atas, dan helikopter juga menggunakan mesin untuk
menghasilkan dorongan ke depan.

b. Lebih ringan dari udara


Pesawat terbang yang lebih ringan dari udara disebut aerostat, yang masuk dalam kategori ini
adalah balon dan kapal udara. Aerostat menggunakan gaya apung untuk terbang di udara,
seperti yang digunakan kapal laut untuk mengapung di atas air. Pesawat terbang ini umumnya
menggunakan gas seperti helium, hidrogen, atau udara panas untuk menghasilkan gaya apung
tersebut. Perbedaaan balon udara dengan kapal udara adalah balon udara lebih mengikuti arus
angin, sedangkan kapal udara memiliki sistem propulsi untuk dorongan ke depan dan sistem
kendali.

C. Kondisi Perbatasan Indonesia


Ketika berbicara tentang perbatasan mungkin yang teringat oleh kita hanyalah permasalahan
Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan atau perseteruan di blok Ambalat yang sedang hangat-
hangatnya. Padahal sebenarnya masalah perbatasan lainnya juga sudah menumpuk dan telah
menjelma menjadi bom waktu yang siap meledak apabila tidak segera ditangani dengan serius.
Hal ini disebabkan secara fisik Indonesia merupakan negara terbesar kelima di dunia dan
berbatasan secara langsung di laut dengan 10 negara tetangga, dan di darat dengan 3 negara
tetangga. Tentu saja kita tidak boleh lupa kalau ini berarti di udara kita berbatasan dengan 13
negara atau bahkan mungkin lebih.

Indonesia di darat berbatasan dengan Malaysia, Papua Nugini dan Timor Larose. Walaupun
sudah terdapat peraturan-peraturan dan kesepakatan bersama menyangkut batas darat ini,
akan tetapi sampai saat ini masih ada saja permasalahan-permasalahan yang muncul. Salah
satunya adalah masalah kaburnya perbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan akibat
dirusaknya patok-patok batas, sehingga ratusan hektar wilayah kita masuk menjadi wilayah
Malaysia [Waluyo, 2005].

Sedangkan untuk wilayah laut yang berbatasan dengan 10 negara, kondisinya lebih ironis,
dimana baru sebagian kecil saja batas laut yang telah ditegaskan. Sebagian perbatasan yang
telah dibahas antara lain adalah dengan Malaysia, Singapura, Australia, PNG, Thailand dan India
[Tarmansyah, 2003]. Menurut data dari Departemen Kelautan dan Perikanan, Indonesia
memiliki 92 pulau terluar yang tersebar di 19 provinsi. Sebanyak 67 pulau di antaranya
berbatasan langsung dengan negara lain dan 12 pulau di antaranya rawan diklaim oleh negara
lain [Husodo, 2005].

Kondisi demografi daerah perbatasan juga sangat memprihatinkan, dimana sebagian daerah
perbatasan Indoensia tidak berpenghuni sehingga sangat rawan untuk dicaplok diam-diam oleh
pihak asing. Selain itu keadaan ini menjadikan gangguan dari luar seperti penyelundupan
barang-barang yang dilindungi sampai obat bius dan senjata api sangat rawan terjadi.

Kawasan-kawasan yang berpenghuni pun tidak luput dari berbagai masalah. Seperti yang terjadi
di Kalimantan, dimana kemiskinan akibat keterisolasian kawasan menjadi pemicu tingginya
keinginan masyarakat setempat menjadi pelintas batas ke Malaysia. Hal ini sangat manusiawi
apabila melihat perbatasan negara tetangga tersebut telah dikelilingi oleh jalan hotmix yang
mulus, dengan lampu jalan yang terang benderang, dan pendapatan penduduk yang cukup
tinggi serta bangunan yang teratur layaknya sebuah kota [Hamid , 2002].

Menyadari kenyataan tersebut maka untuk menangani masalah perbatasan ini tidak cukup
hanya dengan mengandalkan pendekatan keamanan (security approach), tetapi juga harus
ditunjang dengan pendekatan kesejahteraan dan pembangunan (prosperity/ development
approach). Salah satu solusinya adalah ketersediaan transportasi udara yang tepat dan dikelola
dengan baik sehingga dapat berfungsi maksimal sebagai sarana penghubung, katalis
pembangunan dan sekaligus sebagai media penunjang keamanan dan integrasi bangsa.

D. Kenapa Harus Transportasi Udara?


Sebagaimana transportasi pada umumnya, transportasi udara mempunyai fungsi ganda, yaitu
sebagai unsur penunjang (servicing sector) dan unsur pendorong (promoting sector) [Abubakar,
2000]. Peran transportasi udara sebagai unsur penunjang dapat dilihat dari kemampuannya
menyediakan jasa transportasi yang efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan sektor lain,
sekaligus juga berperan dalam menggerakan dinamika pembangunan.

Pendapat selama ini yang mengatakan bahwa biaya yang dikeluarkan apabila menggunakan
transportasi udara sangat besar, saat ini sudah terjawab dengan munculnya maskapai-maskapai
baru yang menawarkan layanan transportasi udara yang prima dengan harga yang sangat
kompetitif. Malahan apabila dilihat dari teori ekonomi fakta yang muncul bisa sebaliknya. Hal ini
dikarenakan transportasi udara khususnya pesawat terbang mampu memberikan nilai tambah
berupa kecepatan, sehingga memungkinkan peredaran uang yang lebih cepat dan tentunya hal
ini berarti penekanan biaya produksi [www.flytrain.web.id/index.php?lang=indo].

Sedangkan sebagai unsur pendorong, transportasi udara juga sudah terbukti mampu menjadi
jasa transportasi yang efektif untuk membuka daerah terisolasi dan juga melayani daerah-
daerah dan pulau-pulau terpencil. Tersedianya transportasi yang dapat menjangkau daerah
pelosok termasuk yang ada di perbatasan sudah pasti dapat memicu produktivitas penduduk
setempat, sehingga akhirnya akan meningkatkan penghasilan seluruh rakyat dan tentunya juga
pendapatan pemerintah.

Perkembangan pembangunan di daerah perbatasan secara tidak langsung akan menciptakan


mutiplier effect yang positif, seperti pemerataan penduduk, penciptaan lapangan kerja baru
serta stabilitas dan keutuhan wilayah. Kita seharusnya dapat belajar dari pengalaman pahit
lepasnya P. Sipadan dan P. Ligitan ke tangan Malaysia. Dari penjelasan media diketahui bahwa
ICJ/MI dalam mengambil keputusan akhir mengenai status kedua pulau tersebut ternyata tidak
menggunakan materi hukum umum yang diajukan oleh Indonesia maupun Malaysia. Kaidah
yang digunakan adalah dengan menggunakan kriteria pembuktian lain, yaitu continuous
presence, effective occupation, maintenance and ecology preservation. Kemenangan Malaysia
dikarenakan kedua pulau tersebut secara lokasi memang tidak begitu jauh dari Malaysia dan
ditambah lagi dengan adanya fakta bahwa Malaysia telah membangun beberapa prasarana
pariwisata di kedua pulau tersebut [Djalal, 2003]

Adapun peran langsung transportasi udara dalam masalah pertahanan dan keamanan juga
sangat banyak. Salah satunya adalah digunakannya radar penerbangan sipil untuk membantu
radar militer yang saat ini belum mampu mengawasi seluruh wilayah udara Indonesia. Selain itu,
walaupun masih diperdebatkan tetapi secara teori memungkinkan pesawat sipil untuk memiliki
fungsi ganda sebagai alat transportasi biasa dan sekaligus sebagai pesawat pengintai atau patroli
tidak tetap. Frekuensi penerbangan pesawat sipil yang sangat tinggi dapat dimamfaatkan untuk
melaporkan keadaan udara, bahkan darat dan laut.

E. Upaya Memaksimalkan Peran Transportasi Udara


Peran transportasi udara yang sangat besar ini tentu saja hanya dapat diperoleh dengan
dukungan berbagai pihak. Sudah saatnya transportasi udara menjadi prioritas utama dalam
upaya meningkatkan pelayanan prasarana transportasi dan komunikasi di daerah-daerah
perbatasan. Penulis yakin bahwa banyak investor yang dalam hal ini pengusaha transportasi
udara yang berminat membuka jalur penerbangannya ke daerah-daerah perbatasan apabila
faktor kebutuhannya juga tersedia.

Faktor kebutuhan yang dimaksud disini sudah pasti adalah tersedianya lapangan terbang yang
memadai serta berjalannya kegiatan ekonomi atau lainnya seperti pariwisata yang
memungkinkan adanya kebutuhan transportasi dari dan ke daerah tersebut. Dan yang tidak
kalah penting adalah kemauan pemerintah sebagai pengambil keputusan untuk mengeluarkan
kebijakan-kebijakan yang tepat menyangkut transportasi udara. Seluruh potensi high cost
economy di sektor transportasi udara harus dievaluasi dan dibenahi. Karena kalau tidak, maka
percuma saja langkah efisiensi yang mati-matian dilakukan oleh pelaku usaha (Pikiran Rakyat,
28 Juli 2003).

Selain itu perlu juga dikaji dan diteliti kemungkinan lain berupa inovasi-inovasi dalam
transportasi udara. Inovasi disini tidak hanya menyangkut pembuatan pesawat sebagaimana
yang dilakukan oleh IPTN, namun lebih luas dari itu termasuk juga didalamnya adalah
pembuatan roadmap penerbangan dalam negeri yang dapat menciptakan efisiensi dan
keteraturan penerbangan nasional. Dalam hubungannya dengan daerah-daerah perbatasan
dapat juga dilakukan pengkajian secara ekonomi untuk menggunakan sarana transportasi udara
alternatif seperti misalnya seaplane atau yang lebih dikenal dengan pesawat amphibi untuk
transportasi dari dan ke pulau-pulau kecil.
BAB III
PENUTUP

Dengan memprioritaskan tranportasi udara bukan berarti kita melupakan sejarah bahwa kita
adalah bangsa pelaut yang besar dan menjadi besar karena memiliki pelaut-pelaut yang
tangguh. Perlu dicermati bahwa para pendahulu kita dapat dikatakan terdepan dalam teknologi
transportasi pada masanya yang memang pada saat itu berada dalam era maritim. Namun saat
ini tidak dapat disangkal lagi kalau merupakan era dari transportasi udara.

Tentunya kita juga tidak akan mengabaikan transportasi-tranportasi lain, yang dalam hal ini
adalah transportasi darat dan laut. Solusi paling bijak harus dicari agar tidak ada pihak yang
dirugikan, salah satunya adalah dengan redesign jalur-jalur transportasi agar dapat saling
menunjang dan tidak sebaliknya saling menjatuhkan. Tetapi satu yang pasti adalah kita harus
dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi termasuk dalam bidang
transportasi udara agar dapat menjaga dan memelihara apa yang telah diwariskan oleh para
pendahulu kepada kita.