Anda di halaman 1dari 15

KONSEP DASAR PROMOSI DAN SEJARAH PROMOSI KESEHATAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah PromosiKesehatan Dan Ilmu Perilaku Kelas
C
(Kamis, 3 November 2016, Ruang Kuliah 11)

Dosen Pengampu :
Iken Nafikadini, S.KM., M.Kes
Mury Ririanty, S.KM., M.Kes
Novia Luthviatin, S.KM., M.Kes

Disusun Oleh :
1. Bima Dwi Yulianto 152110101092
2. Mery Alviani 152110101095
3. Maya Indriyana Dewi 152110101098
4. Cindy Ila Sabila 152110101101
5. Assalia Nilofar 152110101103
6. Hartika Esty Puspitasari 152110101105

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS JEMBER

2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah
Dasar Promosi Kesehatan dan Ilmu Prilaku yang berjudul Konsep Dasar Promosi dan
Sejarah Promosi Kesehatan dengan tepat waktu.

Dalam penyusunan makalah ini, kami mendapat hambatan dan kesulitan. Namun berkat bantuan dari
beberapa pihak, hambatan dan kesulitan tersebut dapat terselesaikan. Oleh karena itu, kami mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak serta ibu Mury Ririanty, S.KM.,M.Kes selaku dosen mata kuliah
Dasar Promosi Kesehatan dan Ilmu perilaku yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan
maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk kesempurnaan
makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita semua.

Jember, Oktober 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang......................................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ................................................................................................................... 2
1.3. Tujuan Penulisan ..................................................................................................................... 2
BAB 2 PEMBAHASAN............................................................................................................................... 3
2.1. Sejarah Perkembangan Promosi Kesehatan ........................................................................... 3
2.2. Health Public Policy (Kebijakan Berwawasan Kesehatan) ...................................................... 5
2.2.1. Pengertian Kebijakan Berwawasan Kesehatan (Health Public Policy) ............................ 5
2.2.2. Mengembangkan Kebijakan Berwawasan Sehat (Build Health Public) .......................... 6
2.3. Community Action (Gerakan Masyarakat).............................................................................. 6
2.3.1. TujuanPemberdayaan Masyarakat (Gerakan Masyarakat) ............................................ 8
2.3.2. Prinsip dalam Pemberdayaan Masyarakat ..................................................................... 9
2.4. Contoh Studi Kasus ................................................................................................................. 9
2.5. Kebijakan yang Dilakukan dari Studi Kasus ........................................................................... 10
BAB 3 PENUTUP .................................................................................................................................... 11
3.1. Kesimpulan............................................................................................................................ 11
3.2. Saran ..................................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 12

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pendidikan kesehatan yang dikenal dengan promosi kesehatan adalah suatu
pendekatan untuk meningkatkan kemauan (willingness) dan kemampuan (ability)
masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan. Tujuan promosi kesehatan
bukan sekedar menyampaikan pesan-pesan atau informasi-informasi kesehatan agar
masyarakat mengetahui dan berperilaku hidup sehat, tetapi juga bagaimana mampu
memelihara dan meningakatkan kesehatannya.

Pengertian Promosi Kesehatan :

a. Soekidjo Notoatmojo (2005):


1. Pertama, promosi kesehatan dalam konsep Level and Clark (4 tingkat pencegahan
penyakit) berarti peningkatan kesehatan
2. Kedua, upaya memasarkan, menyebarluaskan, memperkenalkanpesan-
pesan kesehatan, atau upaya- upaya kesehatan sehingga masyarakatmenerima
pesan-pesan tersebut.
b. WHO (1984), merevitalisasi pendidikan kesehatan dengan istilah
promosikesehatan,kalau pendidikan kesehatan diartikan sebagai upaya
perubahan perilaku maka promosi kesehatan tidak hanya untuk perubahan perilakute
tapi juga perubahan lingkungan yang memfasilitasi perubahan perilaku tersebut.
Ottawa Charter (1986),the process of enabling people tocontrol over and
improve their health.(Proses pemberdayaan masyarakatuntuk memelihara,
meningkatkan dan melindungi kesehatannya).
Promosi Kesehatan bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan
kegiatanterdepan yang harus terpadu dengan program-program kesehatan
lainnya.Pentingnya pendekatan Promosi Kesehatan untuk setiap upaya kesehatan
yangakan menjaga keberlangsungan proses pemberdayaan sehingga masyarkat
dapatmenerima dan meneruskan kegiatan dengan sumberdaya yang dimiliki".Promosi
kesehatan telah meningkat modern sejak tahun 1980. Konsepnya pertamakali digunakan
pada tahun 1970 oleh Mentri Kesehataan Nasional danKesejahteraan, Marc Lalonde.
Perspektif dari promosi kesehatan dipengaruhi olehfaktor kesehatan lingkungan dan
perubahan perilaku dan gaya hidup, bukan olehkarakter biomedis. Hal ini dipengaruhi

1
oleh gagasan lebih lanjut mengenai definisidari promosi kesehatan. Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) di masa yang akandatang merubah promosi kesehatan dari pelayanan
medis menjadi pelayanankesehatan yang utama, yang direfleksikan dalam kebijakan
dunia. Pada tahun1977Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) di Alma Ata
menyerahkansemua anggota dari seluruh negara untuk meningkatkan standar
pelayanankesehatan dan mengurangi ketidaksamaan ke pelayanan kesehatan yang
terjamin bagi seluruh masyarakat produktif (WHO 1986).

Sekarang promosi kesehatanditafsirkan dan digunakan dalam berbagai macam cara.


Bisa saja didiskripsikansebagai proses bagi individual maupun kelompok yang terdorong
untukmenggunakan gaya hidup sehat, yang sasaran utamanya adalah
perubahan perilaku. Gagasan lain termasuk
pencegahan penyakit, perilaku hidup bersihsehat, meningkatkan kesadaran dalam isu
kesehatan, perlindungan umum terhadapkerusakan, pendidikan masyarakat mengenai
gaya hidup sehat dan persamaandalam kesehatan dan penyediaan pelayanan kesahatan.

1.2.Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana sejarah perkembangan konsep dasar promosi kesehatan?
1.2.2. Bagaimana penjelasan mengenai Health Public Policy atau Kebijakan
Berwawasan Kesehatan?
1.2.3. Bagaimna penjelasan mengenai Community Action atau Gerakan Masyarakat?
1.2.4. Bagaimana contoh studi kasus tentang permasalahan tersebut?
1.2.5. Bagaimana kebijakan yang dilakukan saat ini dari studi kasus tersebut?

1.3. Tujuan Penulisan


1.3.1. Untuk mengetahui perkembangan konsep dasar promosi kesehatan.
1.3.2. Untuk mengetahui penjelasan mengenai Health Public Policy atau Kebijakan
Berwawasan Kesehatan.
1.3.3. Untuk mengetahui mengenai Community Action atau Gerakan Masyarakat.
1.3.4. Untuk mengetahui studi kasus permasalahan topik makalah ini.
1.3.5. Untuk mengetaui kebijakan yang dilakukan dengan adanya studi kasus tersebut.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1.Sejarah Perkembangan Promosi Kesehatan


Sebelum menjadi promosi kesehatan pengertiannya di samakan dengan pendididkan
kesehatan, pada pendidikan kesehatan ditekankan pada perubahan perilaku masyarakat
dengan cara memberikan informasi kesehatan melalui berbagai cara dan teknologi. Dari
hasil studi yang di lakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para ahli
pendidikan kesehatan didapati bahwa pengetahuan masyarakat tentang kesehatan
meningkat tetapi tidak di imbangi oleh perubahan perilakunya. Disadari bahwa
pendidikan kesehatan belum memampukan masyarakat tetapi baru dapat memaukan.
Kemudian istilah Promosi Kesehatan mengalami perkembangan.

Sejarah Perkembangan Promosi Kesehatan :

a. Era propaganda dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (masa kemerdekaan sampai


1960an)

Pada tahun 1924 oleh pemerintah Belanda dibentuk Dinas Higiene. Kegiatan
pertamanya berupa pemberantasan cacing tambang di daerah Banten. Bentuk
usahanya dengan mendorong rakyat untuk membuat kakus/jamban sederhana dan
mempergunakannya. Lambat laun pemberantasan cacing tambang tumbuh menjadi
apa yang dinamakan Medisch Hygienische Propaganda. Propaganda ini kemudian
meluas pada penyakit perut lainnya, bahkan melangkah pula dengan penyuluhan di
sekolah-sekolah dan pengobatan kepada anak-anak sekolah yang sakit. Timbullah
gerakan, untuk mendirikan brigade sekolah dimana-mana. Perintisan Pendidikan
Kesehatan Rakyat oleh Dr. R. Mohtar

b. Era Pendidikan dan Penyuluhan Kesehatan (1960-1980)


1. Munculnya istilah Pendidikan Kesehatan dan diterbitkannya UU Kesehatan
1960
2. Ditetapkannya Hari Kesehatan Nasional (12 November 1964)

c. Era PKMD, Posyandu dan Penyuluhan Kesehatan melalui Media Elektronik (1975-
1995)
1. Peran serta dan pemberdayaan masyarakat (Deklarasi Alma Ata, 1978)

3
2. Munculnya PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa)
3. Munculnya Posyandu
4. Penyuluhan kesehatan melalui media elektronik (dialog interaktif, sinetron dll)

d. Era Promosi dan Paradigma Kesehatan (1995-2005)


1. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I di Ottawa, Kanada, munculnya
istilah promosi kesehatan (Ottawa Charter, 1986) yang memuat 5 strategi pokok
Promosi Kesehatan, yaitu :
a) Mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan (healthy public
policy);
b) Menciptakan lingkungan yang mendukung (supportive environment);
c) Memperkuat gerakan masyarakat (community action);
d) Mengembangkan kemampuan perorangan (personnal skills)
e) Menata kembali arah pelayanan kesehatan (reorient health services): dan
f) Bergerak ke Depan (Moving Into The Future)
2. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan II di Adelaide, Australia (1988)
Konferensi ini menekankan 4 bidang prioritas, yaitu:
a) Mendukung kesehatan wanita;
b) Makanan dan gizi;
c) Rokok dan alkohol; dan
d) Menciptakan lingkungan sehat.
3. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan III di Sundval, Swedia (1991)
Konferensi ini mengemukakan 4 strategi kunci, yakni:
a) Memperkuat advokasi diseluruh lapisan masyarakat;
b) Memberdayakan masyarakat dan individu agar mampu menjaga kesehatan dan
lingkungannya melalui pendidikan dan pemberdayaan;
c) Membangun aliansi; dan
d) Menjadi penengah diantara berbagai konflik kepentingan di tengah
masyarakat.
4. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan IV di Jakarta, Indonesia (Jakarta
Declaration on Health Promotion, 1997)
Promosi Kesehatan abad 21 adalah :
a) Meningkatkan tanggungjawab sosial dalam kesehatan;
b) Meningkatkan investasi untuk pembangunan kesehatan;

4
c) Meningkatkan kemitraan untuk kesehatan;
d) Meningkatkan kemampuan perorangan dan memberdayakan masyarakat;
e) Mengembangkan infra struktur promosi kesehatan.
5. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan Kelima di Kota Mexico, Mexico,
tanggal5-9 Juni 2000, dengan tema Bridging the Equity Gap. Konferensi Mexico
inimenghasilkan Pernyataan Kementerian Mengenai Promosi untuk Kesehatan :
DariGagasan ke Tindakan (aksi) atau Mexico Minsterial Statement for Promotion
of Health: From Ideas to Action.
6. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan Keenam di Bangkok, Thailand,
tanggal7-11 Agustus 2005, dengan menghasilkan Piagam Bangkok untuk Promosi
Kesehatandi Dunia yang Mengglobal atau The Bangkok Charter for Health
Promotion in aGlobalized World.
7. Konferensi Internasional Promosi Kesehatan Ketujuh di Nairobi, Kenya :
tanggal26-30 Oktober 2009.

2.2.Health Public Policy (Kebijakan Berwawasan Kesehatan)


2.2.1. Pengertian Kebijakan Berwawasan Kesehatan (Health Public Policy)
Kebijakan Berwawasan Kesehatan (Health Public Policy) adalah strategi
promosi kesehatan yang ditujukan kepada para penentu atau pembuat kebijakan
agar mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan public yang mendukung atau
meningkatkan derajat kesehatan. Dengan kata lain, agar setiap kebijakan dalam
bentuk peraturan, peundang-undanan, surat-surat keputusan dan sebaginya selalu
berwawasan atau berorientasi kepada kesehatan publik. Misalnya, adanya
peraturan atau undang-undang yang mengatur adanya analisis dampak lingkungan
untuk mendirikan pabrik, perusahaan, rumah sakit dan sebagainya. Atau setiap
kebijakan yang dikeluarkan oleh pejabat public harus memperhatikan dampak
terhadap lingkungan (kesehatan masyarakat).

Contoh aplikasi di masyarakat :

a. Untuk mendirikan pabrik/industri sebelumnya harus dilakukan analisis dampak


lingkungan untuk menghindari kemungkinan terjadinya tercemaran dan tidak
berdampak pada kesehatan masyarakat.
b. Dalam perencanana pembangunan menara listrik tegangan tinggi (missal, PLTN
di daerah Jepara), para pengambil kebijakan dan pembuat keputusan harus
5
bener-bener bisa memperhitungkan untung rugi, dari kemungkinan dampak
radiasi yang akan ditimbulkan, serta kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa
berdampak pada kesehatan masyarakat di sekitarnya.
c. Adanya kebijakan tentang kawasan bebas rokok yang bertujuan untuk
mengurangi dampak asap rokok bagi kesehatan.
d. Pemerintah daerah mengeluarkan ijin mendirikan bangunan maka harus ada
ketentuan bahwa yang membuat bangunan harus didukung sarana kesehatan
seperti jamban keluarga.

2.2.2. Mengembangkan Kebijakan Berwawasan Sehat (Build Health Public)


Konferensi Internasional Promosi Kesehatan ke dua dilaksanakan di Adelaide,
Australiapada tanggal 5 - 9 April 1988. Konferensi yang diadakan hanya kurang
lebih 2 tahun setelahKonferensi Promosi Kesehatan yang pertama di Ottawa ini
diikuti oleh hampir sama dengan negara-negara yang hadir di Konferensi di
Ottawa. Konferensi Promosi Kesehatan yang kedua ini mengambil tema
Membangun Kebijakan Publik yang Berwawasan Kesehatan, merupakan strategi
Promosi Kesehatan yang pertama dari Ottawa Charter. Dipilihnya tema ini
sebenarnya untuk lebih mengoperasionalkan strategi promosi kesehatan dalam
Ottawa Charter tersebut, sehingga lebih memudahkan implementasi di negara-
negara peserta konferensi. Hasil kesepakatan Konferensi Promosi Kesehatan di
Adelaide ini dituangkan dalam rekomendasi Adelaide (Adelaide
Recommendation), yang isinya meliputi :

1. Lingkungan dan perilaku kondusif bagi kesehatan


2. Mengembangkan kebijakan public berwawasan sehat
3. Revitalisasi nilai azasi kesehatan
4. Pemerataan, akses dan pengembangan
5. Akuntabilitas untuk kesehatan
2.3. Community Action (Gerakan Masyarakat)
Kesehatan adalah hak asasi manusia dan merupakan investasi. Kesehatan adalah
faktor penting untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, secara sosial dan ekonomi.
Oleh sebab itu, setiap orang, di samping mempunyai hak, juga mempunyai kewajiban
untuk memelihara dan melindungi kesehatan diri dan lingkungannya. Walaupun
demikian, banyak orang dan masyarakat yang belum menyadari pentingnya kesehatan
dalam kehidupannya. Kesehatan masih dipandang dengan prioritas rendah dalam

6
kesehariannya, padahal kondsi sehat tidak membuat mereka tidak produktif, bahkan
menjadi konsumtif dan beban bagi orang lain. Oleh karena itu, masyarakat perlu dibantu
dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan mereka untuk hidup sehat.

Derajat kesehatan masyarakat akan efektif apabila unsur-unsur yang ada di


masyarakat tersebut bergerak bersama-sama. Dari kutipan piagam Ottawa, dinyatakan
bahwa: Promosi Kesehatan adalah upaya yang dilakukan terhadap masyarakat sehingga
mereka mau dan mampu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan sendiri.

Faktor perilaku dan lingkungan berkontribusi dan berpengaruh sangat besar dalam
peningkatan derajat kesehatan. Oleh sebab itu, pemberdayaan masyarakat dalam arti
menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan mereka untuk hidup sehat tersebut
sangat diperlukan agar masyarakat mampu mandiri untuk hidup sehat.

Adanya gerakan ini dimaksudkan untuk menunjukan bahwa kesehatan tidak hanya
milik pemerintah, tetapi juga milik masyarakat. Untuk dapat menciptakan gerakan kearah
hidup sehata, masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan. selain itu
masyarakat perlu diberdayakan agar mampu berperilaku hidup sehat. Kewajiban dalam
upaya meningkatkan kesehatan sebagai usaha untuk mewujudkan derajat setinggi-
tingginya, teranyata bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan.
Masyarakat justru yang berkewajiban dan berperan dalam mewujudkan derajat kesehatan
yang optimal.

Menurut Depkes RI (2007), pemberdayaan masyarakat (di bidang kesehatan) adalah


upaya menumbuhkan kemampuan masyarakat agar mereka mempunyai daya atau
kekuatan untuk hidup mandiri (di bidang kesehatan). Upaya pemberdayaan tersebut
dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup
sehat, disertai dengan pengembangan iklim yang mendukung. Upaya tersebut dari, oleh,
untuk, dan bersama masyarakat sesuai dengan keadaan, masalah, dan potensi setempat.
Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat adalah proses, sedangkan output-nya
adalah kemandirian masyarakat (di bidang kesehatan). Kemandirian masyarakat di
bidang kesehatan tersebut berarti bahwa masyarakat data mengenali tingkat kesehatan
dan masalah kesehatan mereka, merencanakan dan mengatasinya, memelihara,
meningkatkan, dan melindunginya.

7
Untuk Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions)
promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam
mengatur prioritas, membuat keputusan, merencanakan strategi dan melaksanakannya
untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah memberdayakan
komunitas -kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka.
Pengembangan komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan material
dalam komunitas untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk
mengembangkan sistem yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam
masalah kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta terus menerus akan
informasi, memelajari kesempatan untuk kesehatan, sebagaimana penggalangan
dukungan. Gerakan Masyarakat merupakan suatu partisifasi masyarakat yang menunjang
kesehatan.

Contoh aplikasi di masyarakat:

a. Adanya gerakan 3 M dalam program pemberantasn DBD yaitu gerakan Menguras,


Menutup dan Mengubur. 3 M ini adalah sebuah ide program sederhana yang
diluncurkan Pemerintah beberapa tahun lalu.
b. Gerakan jumat bersih, perlu diketahuai di negeri tetangga malaysia ada gerakan jalan
seribu langkah (hal ini bisa kita contoh), bahkan untuk mengukurnya disana sudah
dijual alat semacam speedometer.

2.3.1. TujuanPemberdayaan Masyarakat (Gerakan Masyarakat)

a. Tujuan Umum
Masyarakat mampu mengenai, memelihara, melndungi, dan meningkat
kualitas kesehatannya, termasuk jika sakit, dapat memperoleh pelayanan
kesehatan tanpa mengalami kesulitan dalam pembiayaannya.
b. Tujuan Khusus
1. Memahami dan menyadari pentingnya kesehatan.
2. Memiliki keterampilan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatannya.
3. Memiliki kemudahan untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungannya.

8
4. Berupaya bersama (bergotong-royong) menjaga dan meningkatkan
kesehatan lingkungannya.

2.3.2. Prinsip dalam Pemberdayaan Masyarakat


Prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat adalah sebagai berikut :

a. Menumbuh-kembangkan potensi masyarakat.a


b. Menumbuhkan kontribusi masyarakat dalam upaya kesehatan.
c. Mengembangkan kegiatan kegotong-royongan di masyarakat.
d. Bekerja sama dengan mesyarakat.
e. Promosi, pendidikan dan pelatihan dengan sebanyak mungkin menggunakan
dan memanfaatkan potensi setempat.
f. Upaya dilakukan secara kemitraan dengan berbagai pihak.
g. Desentralisasi (sesuai dengan kebudayaan setempat).

2.4.Contoh Studi Kasus


REMAJA DAN PERILAKU MEROKOK

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tristanti (2016) pada SMK Muhammadiyah
Kudus menunjukkan bahwa terdapat sejumlah 21.8% siswa(remaja) mempunyai
perilaku merokok, sejumlah 57.1% dari jumlah siswa(remaja) merokok
menghabiskan 1 bungkus rokok sehari, dan sejumlah 71.4% dari jumlah
siswa(remaja) merokok telah mengenal rokok sejak berumur <15 tahun. Hal ini
dipengaruhi oleh factor intrinsik dan ekstrinsik terhadap perilaku merokok pada remaja.

1. Pengaruh factor instrinsik terhadap perilaku merokok


Dari 32 siswa, yang dipengaruhi oleh faktor instrinsik sebanyak 8 siswa
dan yang tidak dipengaruhi oleh faktor intrinsik sebanyak 19 siswa. Dari 9
siswa yang tidak merokok , yang dipengaruhi oleh faktor instrinsik sebanyak
4 siswa, yang tidak terpengaruh faktor instrinsik 5 siswa. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian yaitu dari 7 siswa yang merokok 6 diantaranya dipengaruhi
oleh faktor instrinsik. Siswa yang merokok mempunyai rasa ingin tahu yang
besar (penasaran) terhadap wujud, penggunaan,rasa rokok. Sehubungan dengan
usia mereka yang masih remaja dimana masa remaja merupakan masa pencarian
jati diri bagi mereka maka mereka akan mencoba pengalaman baru termasuk

9
tentang rokok. Proses mencoba pengalaman baru ini belum diimbangi dengan
pengetahuan yang baik sehingga terkadang mereka belum memperhatikan
risiko dari pengalaman baru yang sedang mereka coba. Rasa penasaran
membuat mereka mencoba berulang-ulang sampai mereka merasa yakin atau
jenuh. Padahal di dalam rokok terkandung zat nikotin yang bersifat adiktif,
sehingga yang semula hanya berawal dari coba-coba akibat penasaran
kemudian berlanjut menjadi ketergantungan sehingga remaja tersebut
selanjutnya akan menjadi perokok berat.
2. Pengaruh factor ekstrinsik terhadap perilaku merokok
Dari 32 siswa , semua siswa yang merokok dipengaruhi oleh faktor
ekstrinsik dan ada 11 siswa yang dipengaruhi oleh faktor ekstrinsik tapi tidak
merokok.Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yaitu 7 siswa yang merokok
ternyata semua orangtuanya adalah perokok dan saudara yang tinggal satu
rumah pun juga perokok. Kebiasaan orangtua yang selalu merokok didepan
anaknya dan sikap orangtua yang tidak melarang anaknya untuk merokok
merupakan faktor pemicu dan penguat perilaku merokok pada anaknya.
Orangtua cenderung tidak mau tahu dan menganggap bahwa merokok adalah
hal yang wajar bagi anak remaja membuat mereka menjadi semakin percaya diri
untuk merokok.

Dari hasil penelitian didapatkan data bahwa faktor instrinsik berpeluang


lebih besar dari pada faktor ekstrinsik dalam mempengaruhi perilaku merokok
pada siswa, hal ini disebabkan karena tidak semua faktor ekstrinsik menarik minat
siswa untuk merokok, salah satunya adalah pengaruh iklan rokok.

2.5.Kebijakan yang Dilakukan dari Studi Kasus


Kebijakan yang sesuai dengan studi kasus tersebut yaitu Peraturan Menteri
Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 Tentang
Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah.

10
BAB 3
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Sejarah promosi kesehatan terdapat empat tahap yaitu era propaganda dan pendidikan
kesehatan rakyat, era pendidikan dan penyuluhan kesehatan, era PKMD, posyandu dan
penyuluhan kesehatan melalui media elektronik, dan era promosi dan paradigma
kesehatan

Kebijakan Berwawasan Kesehatan (Health Public Policy) adalah strategi promosi


kesehatan yang ditujukan kepada para penentu atau pembuat kebijakan agar mereka
mengeluarkan kebijakan-kebijakan public yang mendukung atau meningkatkan derajat
kesehatan.

Menurut Depkes RI (2007), pemberdayaan masyarakat (di bidang kesehatan) adalah


upaya menumbuhkan kemampuan masyarakat agar mereka mempunyai daya atau
kekuatan untuk hidup mandiri (di bidang kesehatan).

Kebijakan yang sesuai dengan studi kasus tersebut yaitu Peraturan Menteri
Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015 Tentang
Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Sekolah.

3.2. Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca khususnya kita sebagai
analis kesehatan dapat memahami tentang strategi promosi kesehatan dalam rangka
memajukan kesehatan masyarakat serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat ,
dan dengan promosi kesehatan yaitu melalui penyuluhan kesehatan atau pendidikan
kesehatan kita sebagai analis kesehatan dapat mencegah berbagai penyakit.

11
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2007. Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Puskesmas. Jakarta

Fauziana, Siti Erma. 2010. Pendekatan Dalam Promosi Kesehatan. Surakarta : Universitas
Sebelas Maret Surakarta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.Jakarta : Rineka Cipta.

Sofyan, Asep. 2009. Promosi Kesehatan. [Online] tersedia


https://asepsopyan.com/2009/01/04/promosi-kesehatan/ (diakses 28 Oktober 2016)

Tristanti, I, 2016, Remaja Dan Perilaku Merokok, Jurnal Penelitian, volume 3:, 328-342.

WHO. 1986. The Ottawa Charter for Health Promotion. Geneva: WHO, [Online] tersedia :
http://www.who.int/health promotion/conferences/previous/ottawa/en/ (diakses
tanggal 28 Oktober 2016)

12