Anda di halaman 1dari 6

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Kesehatan jiwa adalah kondisi yang memungkinkan perkembangan

fisik, intelektual emosional, secara optimal dari sekarang, dan perkembangan

ini berjalan selaras dengan orang lain (UU kesehatan jiwa no. 3 Tahun 1966

dalam Direja, 2011). Hal ini berarti apabila tidak terjadi keselarasan dan

keseimbangan jiwa maka akan terjadi gangguan jiwa. MenurutYosep (2011),

gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak abnormal,

baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental.

Masalah gangguan kesehatan jiwa menurut data World Health

Organization (WHO), di seluruh dunia memang sudah menjadi masalah yang

sangat serius. WHO (2011) menyatakan, paling tidak, ada satu dari empat

orang di dunia mengalami masalah mental. WHO memperkirakan ada sekitar

450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Di

Indonesia sendiri jumlah penderita gangguan jiwa berat atau skizofrenia pada

tahun 2013 adalah 1.729 dari 1.027.763 anggota rumah tangga yang menjadi

responden atau sample (Riskesdas, 2013). Jadi dapat dikatakan bahwa jika

dalam 1 juta sampel terdapat 1.729 orang yang menderita gangguan jiwa

maka dalam 237 juta jiwa penduduk Indonesia, terdapat 409.773 orang yang

menderita gangguan jiwa berat (skizofrenia).

Asuhan Keperawatan Pada..., RESTU ARDIYANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
2

Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan

utama pada proses fikir serta disharmoni (keretakan,perpecahan) antara

proses fikir,afek/emosi,kemauan dan psikomotor disertai distorsi

kenyataan,terutama karena waham dan halusinasi ;asosiasi terbagi-bagi

sehingga timbul inkoherensi (Direja, 2011). Skizofrenia terbentuk secara

bertahap dan klien tidak menyadari ada sesuatu yang tidak beres dalam

otaknya dalam kurun waktu yang lama. Kerusakan yang perlahan-lahan ini

yang akhirnya menjadi Skizofrenia yang tersembunyi dan berbahaya. Gejala

yang timbul secara perlahan-lahan ini bisa saja menjadi Skizofrenia akut.

Periode Skizofrenia akut adalah gangguan yang singkat dan kuat, yang

meliputi gangguan sensori persepsi halusinasi, penyesatan pikiran (delusi),

dan kegagalan berpikir (Yosep, 2011).

Persepsi adalah gaya mengenal barang,kualitas atau hubungan serta

perbedaan melalui proses mengamati, mengetahui dan mengartikan setelah

panca inderanya mendapat rangsang (Trimelia, 2011). Halusinasi adalah

proses diterimanya rangsang sampai rangsangan tersebut di sadari dan di

mengerti penginderaan/sensasi. Gangguan persepsi : ketidakmampuan

manusia dalam membedakan antara rangsang yang timbul dari sumber

internal (pikiran, perasaan) dan stimulus eksternal (Rusdi, 2013).

Berdasarkan studi kasus di Rumah Sakit Umum Daerah Banyumas

didapatkan bahwa penderita Skizofrenia menempati peringkat pertama

dibandingkan dengan gangguan jiwa lainnya. Pada tahun 2013 tercatat

gangguan jiwa Skizofrenia paranoid sebanyak 65 klien (10,5%) dari 620

Asuhan Keperawatan Pada..., RESTU ARDIYANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
3

klien. Pada 5 bulan terakhir tahun 2014 tercatat gangguan jiwa skizofrenia

paranoid sebanyak 56 klien 11,9%) dari 470 klien. Penderita penyakit jiwa

pada bulan maret 2014 sampai juni 2014 tercatat 912 orang. Sedangkan di

ruang Bima Rumah Sakit Umum daerah Banyumas terdapat penderita

penyakit gangguan jiwa 3 bulan terkhir dengan gangguan sensori persepsi

halusinasi sebanyak 210 orang.

Berdasarkan data dan permasalahan di atas dengan melihat akibat

yang lebih dalam dari meningkatnya angka kejadian penderita skizofrenia

yang antara lain berpengaruh terhadap gangguan sensori persepsi : halusinasi,

Maka peran perawat sangat diutamakan dalam mengatasi masalah tersebut,

sehingga penulis tertarik untuk melaksanakan asuhan keperawatan dengan

gangguan sensori persepsi : halusinasi penglihatan

B. Tujuan penulisan

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini yaitu :

1. Tujuan Umum

Melaporkan Asuhan Keperawatan pada Tn.A dengan gangguan sensori

persepsi : halusinasi penglihatan selama 3 hari di Ruang Bima Rumah

Sakit Umum Daerah Banyumas.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penulisan laporan ini adalah untuk memaparkan dan

melakukan pembahasan mengenai :

a. Pengkajian pada Tn. A dengan gangguan sensori persepsi : halusinasi

penglihatan.

Asuhan Keperawatan Pada..., RESTU ARDIYANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
4

b. Analisa data hasil pengkajian dan menetapkan diagnosa keperawatan

pada Tn. A dengan gangguan sensori persepsi : halusinasi penglihatan.

c. Rencana tindakan keperawatan pada Tn. A dengan gangguan sensori

persepsi : halusinasi penglihatan.

d. Implementasi keperawatan pada Tn. A dengan gangguan sensori

persepsi : halusinasi penglihatan.

e. Evaluasi terhadap implementasi keperawatan yang telah dilakukan

pada Tn. A dengan gangguan sensori persepsi : halusinasi penglihatan.

C. Pengumpulan data

Metode pengumpulan data untuk penyusunan laporan ini digunakan

cara sebagai berikut

1. Observasi Partisipatif

Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi terhadap klien

secara langsung, melaksanakan asuhan keperawatan pada klien.

2. Wawancara

Pengumpulan data dilakukan dengan cara tanya jawab atau anamnesis

pada klien, keluarga, dan pada perawat ruangan.

3. Studi Literatur

Pengumpulan data dilakukan dengan cara menggali sumber-sumber

pengetahuan melalui buku-buku atau jurnal terkini dengan cara membaca

dan mempelajari bahan yang berhubungan dengan halusinasi penglihatan.

Asuhan Keperawatan Pada..., RESTU ARDIYANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
5

4. Studi Dokumentasi

Pengumpulan data dilakukan dengan cara menelaah catatan-catatan

khusus klien yang terdapat pada format-format dokumentasi maupun yang

terdapat pada rekam medik.

D. Tempat dan waktu

Asuhan keperawatan pada Tn.A dengan gangguan sensori persepsi :

halusinasi penglihatan dilakukan di Ruang Bima RSUD Banyumas pada

tanggal 12-14 Juni 2014.

E. Manfaat penulisan

1. Bagi mahasiswa

Laporan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan pengalaman

bagi mahasiswa dalam melakukan asuhan keperawatan terhadap klien

jiwa dengan gangguan sensori persepsi halusinasi penglihatan.

2. Bagi tenaga kesehatan

Laporan ini diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi

tenaga kesehatan menangani klien jiwa dengan ganngguan sensori

persepsi halusinasi penglihatan.

3. Bagi instansi.

Laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam melakukan

asuhan keperawatan terhadap klien jiwa dengan gangguan sensori persepsi

halusinasi penglihatan.

Asuhan Keperawatan Pada..., RESTU ARDIYANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014
6

F. Sistematika penulisan

Sistematika penulisan untuk penyusunan tugas akhir ini adalah :

BAB I : PENDAHULUAN

Membahas tentang latar belakang masalah, tujuan penulisan, pengumpulan

data, tempat dan waktu, manfaat penulisan, serta sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Membahas tentang pengertian, etiologi, tanda dan gejala, rentang respons,

psikopatologi, pohon masalah, diagnosa keperawatan, dan rencana tindakan

keperawatan.

BAB III: LAPORAN KASUS

Membahas tentang asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien meliputi

pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana tindakan keperawatan,

implementasi dan evaluasi.

BAB IV: PEMBAHASAN

Menguraikan tentang pembahasan kasus. Pembahasan yang menelaah

kesenjangan antara teori dengan masalah laporan kasus dalam hal pengkajian,

diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi, serta

alternative pemecahannya.

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dan saran yang diberikan terkait tentang kesimpulan dari

pembahasan kasus secara teori dan langsung yang terjadi di lapangan serta

saran yang penulis berikan kepada berbagai pihak.

Tugas akhir ini diakhiri dengan daftar pustaka dan lampiran.

Asuhan Keperawatan Pada..., RESTU ARDIYANTO, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2014