Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penagihan pajak merupakan salah satu perhatian utama para pihak di
pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Sejalan dengan hal tersebut,
berbagai perundang-undangan telah ditetapkan dan mengalami perbaikan atau
penyempurnaan untuk menciptakan sistem penagihan pajak yang mampu memenuhi
berbagai tuntutan dan kebutuhan masyarakat, yaitu terbentuknya semangat ataupun
kesadaran diri dari masyarakat luas dalam pembayaran pajak sehingga dalam proses
penyelenggaraan pemerintahan pada umumnya dapat berjalan lancar.
Secara garis besar, Penagihan pajak merrupakan serangkaian upaya atau
tindakan agar penanggung pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak
dengan mengatur atau memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan
sekaligus memberitahukan surat paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan
penyitaan, melakukan penyanderaan, menjual barang-barang yang telah disita.
Tujuan penagihan pajak di dalam instansi pemerintahan antara lain adalah
untuk menjaga kestabilan pendapat keuangan baik di daerah maupun pusat. Karena
pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara. Meningkatkan efisiensi dan
efektivitas penagihan pajak sangatlah membutuhkan partisipasi masyarakat secara
aktif. Berikut ini akan dibahas secara singkat konsep utama penagihan pajak
berdasarkan peraturan terbaru, yaitu Undang-undang Nomor 19 Tahun 2000.
Harus diakui bahwa kesadaran masyarakat dalam pembayaran pajak masih
sangat kurang sehingga diperlukan adanya system penagihan pajak yang baik. Disini
system penagihan pajak sebagai upaya yang ditempuh agar semua pihak dapat
membantu kelancaran pembayaran pajak. Karena apabila pembayaran pajak
terhambat akan mengganggu sumber pendapatan dan penggunaan dana negara. Salah
satu penyebab tidak lancarnya pembayaran pajak adalah karena ketidakjelasan dari
sistem pembayaran pajak itu sendiri yang digunakan selama ini dan tidak dapat
memberikan gambaran yang komprehensif mengenai inisiatif, aspirasi dan kebutuhan
riil masyarakat dan potensi sumberdaya yang dimilikinya.

1
1.2. Rumusan Masalah

Dalam penyusunan makalah ini, kami merumuskan masalah yang akan kami
paparkan dalam pembahasan yaitu:

1. Apa yang dimaksud dengan Penagihan Pajak ?


2. Bagaimana penagihan pajak secara aktif dan pasif ?
3. Bagaimana tahapan Penagihan Pajak ?
4. Bagaimana cara Penagihan Pajak dengan Surat Paksa ?
5. Apa yang dimaksud dengan Penagihan Seketika dan Sekaligus ?

1.3. Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Penagihan Pajak.


2. Untuk mengetahui bagaimana penagihan pajak secara aktif dan pasif.
3. Untuk mengetahui Bagaimana tahapan Penagihan Pajak.
4. Untuk mengetahui Bagaimana cara Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.
5. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Penagihan Seketika dan
Sekaligus.

2
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Penagihan Pajak

Penagihan Pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu penagihan pasif


dan penagihan aktif. Penagihan pasif dilakukkan melalu Surat Tagihan Pajak atau surat
ketetapan pajak. Penagihan pajak aktif atau penagihan pajak dengan surat paksa diatur
dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000.

Penagihan pajak adalah serangkaian tindakan agar penanggung pajak melunasi


utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan mengatur atau memperingatkan,
melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa,
mengusulkan ppencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyenderaan,
menjual barang-barang yang telah disita.

2.1.1. Penagihan Pajak Pasif

Penagihan pajak pasif dilakukan dengan menggunakan Surat Tagihan Pajak


(STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat Keputusan Pembetulan yang menyebabkan pajak
terutang menjadi lebih besar, Surat Keputusan Keberatan yang menyebabkan pajak
terutang menjadi lebih besar, Surat Keputusan Banding yang menyebabkan pajak
terutang menjadi lebih besar. Jika dalam jangka waktu 30 hari belum dilunasi, maka
tujuh hari setelah jatuh tempo akan diikuti dengan penagihan pajak secara aktif yang
dimulai dengan menerbitkan surat teguran.

2.1.2. Penagihan Pajak Aktif

Penagihan pajak aktif merupakan kelanjutan dari penagihan pajak pasif, di


mana dalam upaya penagihan ini fiskus berperan aktif dalam arti tidak hanya
mengirim surat tagihan atau surat ketetapan pajak tetapi akan diikuti dengan tindakan
sita, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan lelang.

2.2. Tahapan Penagihan Pajak

Tahapan penagihan pajak antara lain sebagai berikut.

3
1. Surat Teguran
Apabila utang pajak yang tercantum dalam Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, tidak
dilunasi sampai melewati 7 (tujuh) hari dari batas waktu jatuh tempo (satu bulan
sejak tanggal diterbitkannya).
2. Surat Paksa
Apabila utang pajak tidak melunasi setelah 21hari dari tanggal surat teguran maka
anda akan diterbitkan Surat Paksa yang disampaikan oleh juru sita pajak negara
dengan dibebani biaya penagihan paksa sebesar Rp25.000 (dua puluh lima ribu
rupiah), utang pajak harus dilunasi dalam waktu 2 x 24 jam.
3. Surat Sita
Apabila utang pajak anda belum juga dilunasi dalam waktu 2 x 24 jam dapat
dilakukan tindakan penyitaan atas barang-barang Wajib Pajak, dengan dibebani
biaya pelaksanaan sita sebesar Rp 75.000 (tujuh puluh lima ribu rupiah).
4. Lelang
Dalam waktu empat belas hari setelah tindakan penyitaan, utang pajak belum
dilunasi maka akan dilanjutkan dengan tindakan pelelangan melalui Kantor
Lelang Negara. Dalam hal biaya penagihan paksa dan biaya pelaksaan sita belum
dibayar maka akan dibebankan bersama-sama dengan biaya iklan untuk
pengumuman lelang dalam surat kabar dan biaya lelang pada saat pelelangan.
2.3. Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa
2.3.1 Pengertian Umum
1. Penanggung pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas
pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi
kewajiban Wajib Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
2. Pejabat adalah pejabat yang berwenang mengangkat dan memberhentikan juru sita
pajak, menerbitkan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa,
Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Surat Pencabutan Sita, Pengumuman
Lelang, Surat Penentuan Harga Limit, Pembatalan Lelang, Surat Perintah
Penyanderaan dan surat lain yang diperlukan untuk penagihan pajak sehubung
dengan penanggung pajak tidak melunasi sebagian atau seluruh utang pajak
menurut undang-undang dan peraturan daerah.

4
3. Juru sita pajak adalah pelaksana tindakan penagihan pajak yang meliputi
penagihan seketika dan sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan dan
penyanderaan.
4. Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar penanggung pajak melunasi
utang pajak dan Biaya Penagihan Pajak dengan menegur atau memperingatkan,
melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat Paksa,
mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan,
menjual barang yang telah disita.
5. Utang pajak adalah pajak yang masih harus dibayar termasuk sanksi administrasi
berupa bunga, denda atau kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak
atau surat sejenisnya berdasarkan ketentuan peraturan perudang-undangan
perpajakan.
6. Biaya Penagihan Pajak adalah biaya pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan, Pengumuman Lelang, Pembatalan Lelang, Jasa Penilai,
dan biaya lainnya sehubungan dengan penagihan pajak.
7. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya Penagihan
Pajak.
8. Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan adalah surat perintah yang diterbitkan
oleh pejabat untuk melaksanakan penyitaan.
9. Objek Sita adalah barang Penanggung Pajak yang dapat dijadikan jaminan utang
pajak.
10. Barang adalah tiap benda atau hak yang dapat dijadikan objek sita.
11. Pemblokiran adalah tindakan pengamanan harta kekayaan milik Penanggung
Pajak yang tersimpan pada Bank dengan tujuan agar terhadap harta kekayaan
yang dimaksud tidak terdapat perubahan apapun, selain penambahan jumlah atau
nilai.
12. Penyitaan adalah tindakan Juru Sita Pajak untuk menguasai barang penanggung
pajak, guna dijadikan jaminan melunasi utang pajak menurut peraturan
perundang-undangan.
13. Hari adalah hari kalender.
14. Badan adalah sekumpulan orang dan/ atau modal yang merupakan kesatuan baik
yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi
perseroan terbatas, perusahaan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik
Negara atau Daerahdengan nama dan bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi,

5
dana pension, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi
social politik atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan
bentuk badan lainnya.
15. Pengadilan Negeri adalah Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya meliputi
tempat tindakan penagihan pajak dilaksanakan.
16. Surat teguran, surat peringatan, atau surat lain yang sejenis adalah surat yang
diterbitkan oleh Pejabat untuk menegur atau memperingatkan kepada Wajib Pajak
untuk melunasi utang pajaknya.
17. Penagihan seketika dan sekaligus adalah tindakan penagihan pajak yang
dilaksanakan oleh Juru Sita Pajak kepada penaggung pajak tanpa menunggu jatuh
tempo pembayaran, yang meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis pajak,
masa pajak, dan tahun pajak.
18. Lelang adalah setiap penjualan barang di muka umum dengan cara penawaran
harga secara lisan dan/ tertulis melalui usaha pengumpulan peminat atau oleh
calon pembeli.
a. Kantor lelang adalah kantor yang berwenang melaksanakan penjualan secara
lelang.
b. Risalah lelang adalah berita acara pelaksanaan lelang yang dibuat oleh pejabat
lelang atau kuasanya dalam bentuk yang ditentukan peraturan perundang-
undangan lelang. Pencegahan adalah larangan yang bersifat sementara
terhadap Penanggung Pajak tertentu untuk keluar dari wilayah negara
Republik Indonesia berdasarkan alas an tertentu sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.
c. Penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu kebebasan penanggung
pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu.
d. Gugatan atau Sanggahan adalah upaya hukum terhadap pelaksanaan
penagihan pajak atau kepemilikan barang sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang bersangkutan.
e. Kepala daerah adalah Gubernur, Bupati atau Walikota.
f. Pemerintah daerah adalah pemerintah daerah yang wilayah hukumnya
meliputi tempat tindakan penagihan pajak dilaksanakan.

6
2.4. Pejabat dan Juru Sita Pejabat
2.4.1. Pejabat
Menteri keuangan mempunyai wewenang menunjuk pejabat untuk penagihan
pajak pusat. Sedangkan untuk penagihan pajak daerah yang mempunyai wewenang
adalah Kepala Daerah. Pejabat yang melakukan penagihan pajak berwenang
melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Mengangkat dan memberhentikan Juru Sita Pajak.
2. Menerbitkan:
a. Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis;
b. Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus;
c. Surat Paksa;
d. Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan;
e. Surat Perintah Penyanderaan;
f. Surat Pencabutan Sita;
g. Pengumuman Lelang;
h. Surat Penentuan Harga Limit;
i. Pembatalan Lelang;
j. Surat lain yang diperlukan untuk pelaksanaan penagihan pajak.
2.4.2. Juru Sita Pajak
Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk diangkat menjadi Juru Sita Pajak
adalah sebagai berikut.
1. Berijazah serendah-rendahnya SMU atau yang setingkat dengan itu.
2. Berpangkat serendah-rendahnya Pengatur Muda/golongan II/a.
3. Berbadan sehat.
4. Lulus pendidikan dan pelatihan Juru Sita Pajak.
5. Jujur, bertanggung jawab,dan penuh pengabdian.

1. Tugas Juru Sita Pajak, antara lain sebagai berikut.


a. Melaksanakan Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus.
b. Memberitahukan Surat Paksa.
c. Melaksanakan penyitaan atas barang Penanggung Pajak berdasarkan Surat
Perintah melaksanakan penyitaan.
d. Melaksanakan penyanderaan berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan.

7
2. Juru Sita Pajak dalam melaksanakan tugasnya harus dilengkapi dengan kartu
tanda pengenal Juru Sita Pajak dan harus diperlihatkan kepada Penanggung Pajak.
3. Dalam melaksanakan penyitaan, Juru Sita Pajak berwenang memasuki dan
memeriksa semua ruangan termasuk membuka lemari, laci, dan tempat lain untuk
menemukan obyek sita di tempat usaha, di tempat kedudukan, atau di tempat
tinggal penaggung pajak, atau di tempat lain yang dapat diduga sebagai tempat
penyimpanan obyek sita.
4. Dalam melaksanakan tugasnya, Juru Sita Pajak dapat meminta bantuan
Kepolisian, Kejaksaan, Departemen yang membidangi hukum dan perundang-
undangan, Pemerintah Daerah setempat, Badan Pertanahan Nasional, Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut, Pengadilan Negeri, Bank atau pihak lain.
5. Juru Sita menjalankan tugas di wilayah kerja Pejabat yang mengangkatnya,
kecuali diterapkan lain dengan Keputusan Menteri atau Keputusan Kepala
Daerah.

Juru Sita Pajak deberhentikan apabila:


1. Meninggal dunia;
2. Pensiun;
3. Karena alih tugas atau kepentingan dinas lainnya;
4. Ternyata lalai atau tidak cakap dalam menjalankan tugas;
5. Melakukan perbuatan tercela;
6. Melanggar sumpah atau janji Juru Sita Pajak;
7. Sakit jasmani atau rohani terus menerus.
2.4.3 Dasar Penagihan Pajak
Pajak Pusat
Pajak Pusat antara lain sebagai berikut :
1. Pajak Pengahasilan (PPh)
2. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn dan
PPnBM)
3. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
4. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (PPHTB)
5. Bea Masuk
6. Cukai

8
Pajak Daerah
Pajak Daerah Provinsi
Pajak Daerah Provinsi antara lain sebagai berikut.
1. Pajak Kendaraan Bermotor dan kendaraan di atas air
2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan kendaraan di atas air
3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor dan kendaraan di atas air
4. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan

Pajak Daerah Kabupaten/Kota


Pajak Daerah Kabupaten/Kota antara lain sebagai berikut.
1. Pajak Hotel
2. Pajak Restoran
3. Pajak Hiburan
4. Pajak Reklame
5. Pajak Penerangan Jalan
6. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C
7. Pajak Parkir
2.5. Penagihan Seketika Dan Sekaligus
Juru Sita Pajak melaksanakan penegihan seketika dan sekaligus tanpa
menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran berdasarkan Surat Perintah Penagihan
Seketika dan Sekaligus yang diterbitkan oleh Pejabat apabila terjadi hal-hal seperti
berikut ini.

1. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya untuk


berniat untuk itu.
2. Penanggung pajak memindahtangankan barang yang dimiliki atau dikuasai dalam
rangka menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan, atau pekerjaan yang
dilakukannya di Indonesia.
3. Terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan Badan
Usahanya atau menggabungkan usahanya, atau memekarkan usahanya, atau
memindahtangankan perusahaan yang dimiliki atau dikuasainya, atau melakukan
perubahan bentuk lainnya.
4. Badan Usaha akan dibubarkan oleh negara.

9
5. Terjadinya penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak ketiga atau
terdapat tanda-tanda kepailitan.

Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus sekurang-kurangnya memuat:

1. Nama Wajib Pajak, atau nama Wajib Pajak dan penanggung pajak;
2. Besarnya utang pajak;
3. Perintah untuk membayar;
4. Saat pelunasan pajak.

Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus diterbitkan oleh pejabat:

1. Sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran;


2. Tanpa didahului Surat Teguran;
3. Sebelum jangka waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak Surat Teguran diterbitkan;
4. Sebelum penerbitan Surat Paksa.
2.6. Surat Paksa
Surat paksa berkepala kata-kata DEMI KEADILAN BERDASARKAN
KETUHANAN YANG MAHA ESA, mempunyai kekuatan eksekutorial dan
kedudukan hukum yang sama dengan grosse akte yaitu putusan pengadilan perdata yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Surat Paksa sekurang-kurangnnya harus memuat:

1. Nama Wajib Pajak, atau nama Wajib Pajak dan Penanggung Pajak;
2. Dasar penagihan;
3. Besarnya utang pajak;
4. Perintah untuk membayar;

Surat paksa diterbitkan apabila terjadi hal-hal seperti berikut.

1. Penanggung pajak tidak melunasi utang pajak dan kepadanya telah diterbitkan
Surat Teguran atau Surat Peringatan, atau surat lain yang sejenis.
2. Terhadap Penanggung Pajak telah dilaksanakan Penagihan Seketika dan
Sekaligus, atau

10
3. Penanggung Pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum dalam
keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran pajak.
2.6.1. Pemberitahuan Surat Paksa
Surat Paksa diberitahukan oleh Juru Sita Pajak dengan pernyataan dan
penyerahan salinan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak. Pemberitahuan ini
dituangkan dalam berita Acara yang sekurang-kurangnya memuat hari dan tanggal
pemberitahuan Surat Paksa, nama Juru Sita Pajak, nama yang menerima, dan tempat
pemberitahuan Surat Paksa.
Surat Paksa Terhadap Orang Pribadi diberitahukan oleh Juru Sita Pajak Kepada:

1. Penanggung Pajak di tempat tinggal, tempat usaha atau di tempat lain yang
memungkinkan;
2. Orang Dewasa yang bertempat tinggal bersama ataupun yang bekerja di tempat
usaha Penanggung Pajak, apabila penanggung pajak yang bersangkutan tidak
dapat di jumpai;
3. Salah seorang ahli waris atau pelaksana wasiat atau yang mengurus harta
peninggalannya, apabila wajib pajak telah meninggal dunia dan harta warisan
belum dibagi;
4. Para ahli waris, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia dan harta warisan
telah dibagi.

Surat Paksa terhadap Badan diberitahukan oleh Juru Sita Pajak kepada:

1. Pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggung jawab, pemilik modal,


baik ditempat kedudukan badan yang bersangkutan, di tempat tinggal mereka
maupun di tempat lain yang memungkinkan, atau
2. Pegawai tetap di tempat kedudukan atau tempat usaha badan yang bersangkutan
apabila juru sita pajak tidak dapat menjumpai salah seorang sebagaimana
dimaksud pada nomor 1.

Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan pailit, Surat Paksa diberitahukan kepada
Kurator, Hakim Pengawas atau Balai Harta Peninggalan, dan dalam hal wajib pajak
dinyatakan bubar atau dalam likuidasi, Surat Paksa diberitahukan kepada orang atau

11
badan yang dibebani untuk melakukan pemberesan, atau likuidator. Jika tidak dapat
dilaksanakan, Surat Paksa disampaikan melalui pemerintah daerah setempat.
Dalam hal Wajib Pajak menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus
untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakan, Surat Paksa dapat diberitahukan
kepada penerima kuasa dimaksud. Jika tidak dapat dilaksanakan, Surat Paksa
disampaikan melalui pemerintah daerah setempat.
Dalam hal Wajib Pajak atau penanggung pajak tidak diketahui tempat
tinggalnya, tempat usaha atau tempat kedudukannya, penyampaian Surat Paksa
dilakukan dengan cara menempelkan Surat Paksa pada papan pengumuman kantor
pajak yang menerbitkannya, mengumumkan melalui media massa, atau cara lain yang
ditetapkan dengan keputusan menteri atau keputusan kepala daerah.
1. Dalam hal Surat Paksa harus dilaksanakan diluar wilayah kerja Pejabat, Pejabat
dimaksud meminta bantuan kepada Pejabat yang wilayah kerjanya melalui tempat
pelaksanaan Surat Paksa, kecuali ditetapkan lain dengan keputusan Menteri
Keuangan.
2. Pejabat yang diminta bantuan sebagaimana dalam nomor 1 wajib membantu dan
memberitahukan tindakan yang telah dilaksanakanya kepada pejabaat yang meminta
bantuan.
3. Dalam hal Penanggung Pajak atau pihak-pihak yang dimaksud dalam pasal 11 dan
pasal 12 menolak untuk menerima Surat Paksa, Juru Sita pajak meninggalkan Surat
Paksa dimaksud dan mencatatnya dalam Berita Acara bahwa Penanggung Pajak
tidak mau menerima Surat Paksa, dan dianggap Surat paksa telah diberitahukan.

Dalam hal terjadi keadaan diluar kekuasaan pejabat atau sebab lain, Surat Paksa
pengganti dapat diterbitkan oleh Pejabat karena jabatan. Surat Paksa Pengganti
sebagaimana dimaksud mempunyai kekuatan eksekutorial dan kedudukan hukum yang
sama dengan Surat Paksa. Penanggung Pajak dapat mengajukan permohonan
pembetulan Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis, dan Surat
paksa yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan atau kekeliruan. Pejabat dalam
jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal diterima permohonan harus
memberi keputusan atas permohonan yang diajukan. Apabila dalam jangka waktu
sebagaimana yang dimaksud pejabat tidak memberi keputusan, permohonan
Penanggung Pajak dianggap dikabulkan dan penagihan ditunda untuk sementara waktu.
Pejabat karena jabatan dapat membetulkan Surat Teguran atau Surat Peringatan atau

12
surat lain yang sejenis, Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus, dan surat
Paksa yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan atau kekeliruan. Tindakan
pelaksanaan penagihan Pajak dilanjutkan setelah kesalahan atau kekeliruan dibetulkan
oleh Pejabat.
Pengajuan keberatan oleh Wajib Pajak tidak mengakibatkan penundaan
pelaksanaan Surat Paksa. Sedangkan ketentuan penagihan Bea Masuk, Cukai, dan Pajak
dalam Rangka Impor dengan Surat Paksa diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan
tersendiri.
2.7. Penyitaan
Penyitaan dilakukan berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan jika
penanggung pajak tidak melunasi utang pajak setelah lewat 2 x 24 jam setelah surat
pajak diberitahukan. Dalam melaksanakan penyitaan, Juru Sita pajak harus:

1. Memperlihatkan kartu tanda pengenal Juru Sita Pajak,


2. Memperlihatkan Surat Peerintah Melaksanakan Penyitaan,
3. Memberitahukan tentang maksud dan tujuan penyitaan.

Penyitaan dilaksanakan oleh Juru Sita Pajak dengan disaksikan oleh sekurang-
kurangnya dua (dua) orang yang telah dewasa, penduduk Indonesia, dikenal oleh Juru
Sita pajak, dan dapat dipercaya. Setiap penyitaan Juru Sita membuat Berita Acara
Pelaksanaan Sita, ditandatangani oleh Juru Sita, Penanggung pajak, dan saksi. Dalam
hal Penanggung pajak adalah Badan, maka Berita Acara pelaksanaan sita
dditandatangani oleh pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggungjawab,
pemilik modal, atau pegawai tetap perusahaan. Penyitaan dapat dilakukan meskipun
Penanggung Pajak tidak hadir, asalkan ada salah satu saksi dari pemerintah daerah
Berita Acara Pelaksanaan Sita ditandatangani oleh Penanggung Pajak dan saksi-saksi.
Berita Acara Pelaksanaan Sita tetap sah jika Penanggung Pajak menolak untuk
menandatangani. Salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita ditempelkan pada barang yang
disita atau barang yang disita berada ditempat umum. Atas barang yang disita ditempal
segel sita. Selain itu salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita disampaikan kepada:
1. Penanggung Pajak,
2. Polisi untuk barang bergerak yang kepemilikannya terdaftar,
3. Badan Pertahanan Nasional, untuk tanah yang kepemilikannya sudah terdaftar,

13
4. Pemerintah Daerah dan Pengadilan Negeri setempat, untuk tanah yang
kepemilikannya belum terdaftar,
5. Dirjen Perhubungan atau Laut, untuk kapal.

Pengajuan keberatan tidak menunda pelaksanaan sita.


2.8. Objek Sita
Penyitaan dilaksanakan terhadap barang milik Penanggung Pajak yang berada
ditempat tinggal, tempat usaha, tempat kedudukan, atau tempat lain termasuk yang
penguasaannya berada ditangan pihak lain atau yang dijaminkan sebagai pelunasan
utang tertentu yang dapat berupa:

1. Barang bergerak termasuk mobil, perhiasan, uang tunai dan deposito berjangka,
tabungan, saldo rekening koran, giro, atau bentuk lainnya yang dipersamakan
dengan itu, obligasi, saham atau surat berharga lainnya, piutang dan pernyataan
modal pada perusahaan lain, dan/atau
2. Barang tidak bergerak termasuk tanah, bangunan, dan kapal dengan isi kotor
tertentu.

Penyitaan terhadap Penanggung Pajak Badan dapat dilakukan terhadap barang


milik perusahaan, pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggung jawab,
pemilik modal, baik ditempat kedudukan yang bersangkutan, ditempat tinggal mereka,
maupun ditempat lain.
Penyitaan dilaksanakan sampai dengan nilai barang yang disita dipekirakan
cukup oleh Juru Sita Pajak untuk melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak.

1. Penyitaan terhadap perhiasan emas, permata dan sejenisnya dilaksanakan sebagai


berikut:
a. Membuat rincian tentang jenis, jumlah, dan harga perhiasan yang disita dalam
suatu daftar yang merupakan lampiran Berita Acara Pelaksanaan Sita,
b. Membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita,
2. Penyitaan terhadap uang tunai termasuk mata uang asing dilaksanakan sebagai
berikut:
a. Menghitung terlebih dahulu uang yang disita dan membuat rinciannya dalam
suatu daftar yang merupakan Lampiran Berita Acara Pelaksanan Sita,

14
b. Membuat Berita Acara Pelaksanan Sita,
c. Menyimpan uang tunai yang telah disita dalam tempat penyimpanan yang
selanjutnya ditempel dengan segel sita dan kemudian menitipkannya kepada
Penanggung Pajak atau menitipkannya pada Bank,
3. Penyitaan terhadap kekayaan Penanggung Pajak yang disimpan di bank berupa
deposito, tabungan, saldo rekening koran, giro, atau bentuk lainnya yang
dipersamakm dengan itu dilaksanakan sebagai berikut:
a. Pejabat mengajukan permintaan pemblokiran kepada bank disertai dengan
penyampaian Salinan Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan,
b. Bank wajib memblokir seketika setelah menerima permintaan pemblokiran dari
pejabat dan membuat berita acara pemblokiran, serta menyampaikan
salainannya kepada Pejabat dan Penanggung Pajak,
c. Juru Sita Pajak setelah menerima berita acara pemblokiran dari bank
memerintahkan Penanggung Pajak untuk memberi kuasa pada bank agar
memberikan saldo kekayaannya yang tersimpan pada bank tersebut kepada Juru
Sita Pajak,
d. Dalam hal Penanggung Pajak tidak memberikan kuasa kepada bank, Pejabat
meminta bank Indonesia melalui Menteri Keuangan untuk memerintahkan bank
untuk memberitahukan saldo kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada
bank yang dimaksud.
e. Setelah saldo kekayaan yang tersimpan pada bank diketahui, Juru Sita Pajak
melaksanakan penyitaan dan membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita, dan
menyampaikan salinan Berita Acara Pelaksanaan Sita kepada Penanggung Pajak
dan bank yang bersangkutan,
f. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran kepada bank setelah
Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak.
g. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran terhadap kekayaan
Penanggung Pajak setelah dikurangi dengan jumlah yang disita apabila utang
pajak dan biaya penagihan pajak tidak dilunasi oleh Penanggung Pajak
sekalipun telah dilakukan pemblokiran.
4. Penyitaan terhadap surat berharga berupa obligasi, saham dan sejenisnya yang
diperdagangkan di bursa efek dilaksanakan sebagai berikut:
a. Pemblokiran Rekening Efek pada Kustodian dilakuakan berdasarkan permintaan
tertulis dari Direktur Jenderal Pajak atau Pejabat yang ditunjuknya kepada Ketua

15
Badan Pengawas Pasar Modal dengan menyebutkan nama Pemegang Rekening
atau Nomor Pemegang Rekening sebagai Penanggung Pajak, sebab dana alasan
perlunya pemblokiran tersebut dilakukan,
b. Berdasarkan permintaan Direktorat Jenderal Pajak atau Pejabat yang
ditunjuknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Ketua Badan Pengawas
Pasar Modal dapat menyampaikan perintah tertulis kepada kustodian untuk
melakukan pemblokiran terhadap Rekening Efek Penanggung Pajak,
c. Berdasarkan perintah tertulis dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal,
Kustodian melakukan pemblokiran.
d. Dalam hal permintaan pemblokiran tersebut disertai dengan permintaan
keterangan tentang Rekening Efek pada Kustodian, maka permintaan tertulis
Direktur Jenderal Pajak harus memuat nama penjabat yang berwenang mendapat
keterangan tersebut.
e. Kustodian yang melakukan pemblokiran dan memberikan keterangan tentang
Rekening Efek Pemegang Rekening membuat Berita Acara Pemblokiran dan
Berita Acara Pemberian Keterangan.
f. Berita Acara Pemblokiran dan Berita Acara Pemberian Keterangan tersebut
disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak dan salinannya disampaikan
kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Pemegang Rekenign sebagai
penanggung pajak, selambat-lambatnya 2 (dua) hari kerja setelah pemblokiran
dan pemberian keterangan tersebut dilakukan.
g. Juru sita pajak melaksanakan penyitaan atas efek dan/atau dana dalam rekening
efek pada Kustodian segera setelah menerima Berita Acara Pemblokiran dan
Berita Acara Pemberian Keterangan.
h. Juru sita pajak yang melakukan penyitaan harus membuat Berita Acara
Pelaksanaan Sita yang ditandatangani oleh juru sita pajak, penanggung pajak,
dan saksi-saksi.
i. Dalam hal penanggung pajak tidak hadir, Berita Acara Pelaksaan Sita
ditandatangani oleh juru sita pajak dan saksi-saksi.
j. Berita Acara Pelaksanaan Sita disampaikan kepada penanggung pajak, dan
salinannya disampaikan kepada Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan
Kustodian.

16
k. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran terhadap rekening efek
penanggung pajak kepada Kustodian, setelah penanggung pajak melunasi utang
pajak dan biaya penagihan pajak.
l. Pejabat mengajukan permintaan pencabutan pemblokiran terhadap rekening efek
penanggung pajak setelah dikurangi dengan jumlah yang disita apabila utang
pajak dan biaya penagihan pajak tidak dilunasi oleh penanggung pajak sekalipun
telah dilakukan pemblokiran.
m. Efek yang diperdagangkan di bursa yang telah disita, dijual di bursa melalui
Perantara Pedagang Efek Anggota Bursa atas permintaan pejabat.
5. Penyitaan terhadap surat berharga berupa obligasi, saham dan sejenisnya yang tidak
diperdagangkan di bursa efek dilaksanakan sebagai berikut:
a. Melakukan inventarisasi dan membuat perincian tentang jenis, jumlah, dan nilai
nominal atau perkiraan nilai lainnya dari surat berharga yang disita dalam suatu
daftar yang merupakan lampiran Berita Acara Pelaksanaan Sita.
b. Membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita.
c. Membuat Berita Acara Pengalihan Hak Surat Berharga atas nama dari
penanggung pajak kepada pejabat.
6. Penyitaan terhadap piutang dilaksanakan sebagai berikut:
a. Melakukan inventarisasi dan membuat perincian tentang jenis dan jumlah
piutang yang disita dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita Acara
Pelaksanaan Sita
b. Membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita.
c. Membuat Berita Acara Persetujuan Pengalihan Hak Menagih Piutang dari
penanggung pajak kepada pejabat, dan salinannya disampaikan kepada
penanggung pajak dan pihak yang berkewajiban membayar utang.
7. Penyitaan terhadap penyertaan modal pada perusahaan lain yang tidak ada surat
sahamnya dilaksanakan sebagai berikut:
a. Melakukan inventarisasi dan membuat perincian tentang jumlah penyertaan
modal pada perusahaan lain dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita
Acara Pelaksanaan Sita.
b. Membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita.
c. Membuat Akte Persetujuan Pengalihan Hak Penyertaan Modal pada perusahaan
lain dari penanggung pajak kepada pejabat, dan salinannya disampaikan kepada
perusahaan tempat penyertaan modal.

17
Penyitaan terhadap barang yang telah disita oleh kejaksaan atau kepolisian sebagai
barang bukti dalam kasus pidana, baru dapat dilaksanakan setelah barang bukti tersebut
dikembalikan kepada penanggung pajak.

Barang yang telah disita dititipkan kepada penanggung pajak, kecuali apabila
menurut pertimbangan juru sita pajak barang sitaan tersebut perlu disimpan dikantor
pejabat atau di tempat lain. Dalam hal penyitaan tidak dihadiri oleh penanggung pajak,
barang yang telah disita dititipkan kepada aparat Pemerintah Daerah setempat yang
menjadi saksi dalam pelaksanaan sita. Tempat lain yang dapat digunakan sebagai tempat
penitipan barang yang telah disita adalah Kantor Pegadaian, Bank, Kantor Pos atau
tempat lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

2.9. Pengecualian Objek Sita

Barang bergerak milik penanggung pajak yang dikecualikan dari penyitaan


adalah sebagai berikut:

1. Pakaian dan tempat tidur beserta perlengkapannya yang digunakan oleh penanggung
pajak dan keluarga yang menjadi tanggungan.
2. Persediaan makanan dan minuman untuk keperluan satu bulan beserta peralatan
memasak yang berada di rumah.
3. Perlengkapan penanggung pajak yang bersifat dinas yang diperoleh dari negara.
4. Buku-buku yang bertalian dengan jabatan atau pekerjaan penanggung pajak dan alat-
alat yang dipergunakan untuk pendidikan, kebudayaan, dan keilmuan.
5. Peralatan dalam keadaan jalan yang masih digunakan untuk melaksanakan pekerjaan
atau usaga sehari-hari dengan jumlah seluruhnya tidak lebih dari Rp 20.000.000 (dua
puluh juta rupiah).
6. Peralatan penyandang cacat yang digunakan oleh penanggung pajak dan keluarga
yang menjadi tanggungannya.

Barang yang telah disita dititipkan kepada penanggung pajak, kecuali apabila
menurut juru sita pajak barang dimaksud perlu disimpan di kantor pejabat atau di tempat
lain.

18
2.9.1. Penyitaan Tambahan

Penyitaan tambahan dapat dilaksanakan apabila:

1. Nilai barang yang disita sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) nilainya
tidak cukup untuk melunasi biaya penagihan pajak dan utang pajak;
2. Hasil lelang barang yang telah disita tidak cukup untuk melunasi biaya penagihan
pajak dan utang pajak.
2.9.2. Pencabutan Sita

Pencabutan sita dilaksanakan apabila penanggung pajak telah melunasi biaya


penagihan pajak dan utang pajak atau berdasarkan putusan pengadilan atau putusan
pengadilan pajak atau ditetapkan lain dengan keputusan menteri atau Keputusan
Kepala Daerah.

2.9.3. Hak Mendahului

Hak mendahului untuk tagihan pajak melebihi segala hak mendahului lainnya,
kecuali terhadap:

1. Biaya perkara yang semata-mata disebabkan oleh suatu penghukuman untuk


melelang suatu barang bergerak maupun barang tidak bergerak;
2. Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud;
3. Biaya perkara yang semata-mata disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian
suatu warisan.

Terhadap barang sitaan penanggung pajak dilarang:

1. Memindahkan hak, memindahtangankan, menyewakan meminjamkan,


menyembunyikan, menghilangkan, atau merusak barang yang telah disita;
2. Membebani barang tidak bergerak yang telah disita dengan hak tanggungan untuk
pelunasan utang tertentu;
3. Membebani barang bergerak yang telah disita dengan fidusia atau diagunkan
untuk pelunasan utang tertentu;
4. Merusak, mencabutm atau menghilangkan segel sita atau salinan Berita Acara
Pelaksaan Sita atau segel sita yang telah sitempel pada barang sitaan.

19
2.10. Lelang
Apabila utang pajak dan/atau biaya penagihan pajak tidak dilunasi setelah
dilaksanakan penyitaan, pejabat berwenang melaksanakan penjualan secara lelang
terhadap barang yang disita melalui Kantor Lelang Pengecualian penjualan lelang
dilakukan terhadap objek sita berupa deposito berjangka, tabungan, saldo rekening
koran, giro, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dan barang sitaan
mudah rusak atau cepat busuk.
2.10.1. Prosedur Lelang

Prosedur lelang antara lain sebagai berikut:

1. Penjualan secara lelang terhadap barang yang disita dilaksanakan paling singkat
14 (empat belas) hari setelag pengumuman lelang melalui media massa.
2. Pengumuman lelang dilaksanakan paling singkat 14 (empat belas) hari setelah
penyitaan.
3. Pengumuman lelang untuk barang bergeraj dilakuan 1 (satu) kali dan untuk
barang tidak bergerak dilakukan 2 (dua) kali.
4. Pengumuman lelang terhadap barang dengan nilai paling banyak Rp 20.000.000
(dua puluh juta rupiah) tidak harus diumukan melalui media massa.
5. Pejabat bertindak sebagai penjual atas barang yang disita mengajukan permintaan
lelang kepada Kantor Lelang sebelum lelang dilaksanakan.
6. Pejabat atau yang mewakilinya menghadiri pelaksanaan lelang untuk menentukan
dilepas atau tidaknya barang yang dilelang dan menandatangani asli Risalah
Lelang.
7. Pejabat dan juru sita pajak tidak diperbolehkan membeli barang sitaan yang
dilelang. Larangan ini berlaku juga terhadap istri, keluarga sedarah dan semenda
dalam keturunan garis lurus, serta anak angkat.
8. Pejabat dan juru sita pajak yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (4) dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
9. Perubahan besarnya nilai barang yang tidak harus diumumkan melalui media
massa.

20
2.10.2. Pelaksanaan Lelang

Ketentuan-ketentuan dalam pelaksanaan lelang adalah sebagai berikut:

1. Lelang tetap dapat dilaksanakan walaupun keberatan yang diajukan oleh Wajib
Pajak belum memperoleh keputusan keberatan.
2. Lelang tetap dapat dilaksanakan tanpa dihadiri oleh penanggung pajak.
3. Lelang tidak dilaksanakan apabila penanggung pajak telah melunasi utang pajak
dan biaya penagihan pajak, atau berdasarkan putusan pengadilan, atau putusan
badan peradilan pajak, atau objek lelang musnah.
2.10.3. Hasil Lelang

Hal-hal yang berkaitan dengan hasil lelang adalah sebagai berikut:

1. Hasil lelang dipergunakan terlebih dahulu untuk membayar biaya penagihan pajak
yang belum dibayar dan sisanya untuk membayar utang pajak.
2. Dalam hal penjualan secara lelang, biaya penagihan pajak ditambah 1% (satu
persen) dari pokok lelang.
3. Dalam hal hasil lelang sudah mencapai jumlah yang cukup untuk melunasi biaya
penagihan pajak dan utang pajak, pelaksanaan lelang dihentikan walaupun barang
yang akan dilelang masih ada.
4. Sisa barang beserta kelebihan uang hasil lelang dikembalikan oleh pejabat kepada
penanggung pajak segera setelah pelaksanaan lelang.
5. Hak penanggung pajak atas barang yang telah dilelang berpindah kepada pembeli
dan kepadanya diberikan risalah lelang yang merupakan bukti autentik sebagai
dasar pendaftaran dan penagihan hak.

Penanggung pajak dapat melunasi utang pajak dan biaya yang timbul dalam
rangka penagihan pajak selama barang yang telah disita belum dijual, digunakan atau
dipindahbukukan. Dengan ketentuan-ketentuan berikut:

1. Besarnya Biaya Penagihan Pajak adalah Rp 50.000 (lima puluh ribu rupiah) untuk
setiap pemberitahuan Surat Paksa dan Rp 100.000 (seratus ribu rupiah) untuk
setiap pelaksanaan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan.
2. Besarnya tambahan biaya penagihan pajak yang dibayar oleh penanggung pajak
dalam hal barang yang telah disita dijual adalah:
a. Secara lelang, adalah 1% (satu persen) dari pokok lelang;

21
b. Tidak secara lelang adalah 1% (satu persen) dari hasil penjualan.
3. Biaya Penagihan Pajak dan tambahan biaya penagihan pajak merupakan
Penerimaan Negara Bukan Pajak.
4. Tata cara pengelolaan dan penggunaan biaya penagihan pajak dan tambahan biaya
penagihan pajak diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan.
2.11. Pencegahan Dan Penyanderaan
2.11.1. Pencegahan

Hal-hal yang berkaitan dengan pencegahan adalah sebagai berikut:

1. Pencegahan hanya dapat dilakukan terhadap penanggung pajak yang mempunyai


jumlah utang pajak sekurang-kurangnya sebesar Rp 100.000.000 (seratus juta
rupiah) dan diragukan iktikad baiknya dalam melunasi utang pajak.
2. Pencegahan dilakukan berdasarkan keputusan pencegahan yang diterbitkan oleh
menteri atas permintaan pejabat atau atasan pejabat yang bersangkutan.
3. Keputusan pencegahan memuat sekurang-kurangnya:
a. Identitas penanggung pajak yang dikenakan pencegahan;
b. Alasan untuk melakukan pencegahan;
c. Jangka waktu pencegahan, paling lama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang
paking lama 6 (enam) bulan.
4. Keputusan pencegahan disampaikan kepada penanggung pajak yang dikenakan
pencegahan, Menteri Kehakiman, pejabat yang memohon pencegahan, atasan
pejabat yang bersangkutan, dan kepala daerah setempat.
5. Pencegahan dapat dilaksanakan terhadap beberapa orang sebagai penanggung
pajak Wajib Pajak badan atau ahli waris.
6. Pencegahan terhadap penanggung pajak tidak mengakibatkan hapusnya utang
pajak dan terhentinya pelaksanaan penagihan pajak.
2.11.2 Penyanderaan

Hal-hal yang berkaitan dengan penyanderaan adalah sebagai berikut:

1. Penyanderaan hanya dapat dilakukan terhadap penanggung pajak yang tidak


melunasi utang pajak setelah lewat jangka waktu 14 (empat belas) hari terhitung
sejak Surat Paksa diberitahukan kepada penanggung pajak.

22
2. Penyanderaan hanya dapat dilakukan terhadap penanggung pajak yang
mempunyai utang pajak sekurang-kurangnya sebesar Rp 100.000.000 (seratus juta
rupiah) dan diragukan itikad baiknya dalam melunasi utang pajak.
3. Penyanderaan hanya dapat dilaksanakan berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan
yang diterbitkan oleh pejabat setelah mendapat izin tertulis dari Menteri atau
Gubernur Kepala Daerah Provinsi.
4. Permohonan izin penyanderaan diajukan oleh pejabat atau atasan pejabat kepada
Menteri Keuangan untuk penagihan pajak pusat atau kepada Gubernur untuk
penagihan pajak daerah.
5. Permohonan izin penyanderaan memuat sekurang-kuarngnya:
a. Identitas penanggung pajak yang akan disandera;
b. Jumlah utang pajak yang belum dilunasi;
c. Tindakan penagihan pajak yang telah dilaksanakan;
d. Uraian tentang adanya petunjuk bahwa penanggung pajak diragukan iktikad
baik dalam pelunasan utang pajak.
6. Masa penyanderaan paling lama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang untuk
selama-lamanya 6 (enam) bulan.
7. Surat Perintah Penyanderaan memuat sekurang-kurangnya :
a. Identitas penanggung pajak;
b. Alasan penyanderaan;
c. Izin penyanderaan;
d. Lamanya penyanderaan;
8. Tempat penyanderaan. Penanggung pajak yang disandera ditempatkan di tempat
tertentu sebagai tempat penyanderaan dengan syarat-syarat:
a. Tertutup dan terasing dari masyarakat;
b. Mempunyai fasilitas terbatas
c. Mempunyai system pengamanan dan pengawasan yang memadai.
9. Sebelum tempat penyanderaan dibentuk, penanggung pajak yang disandera
dititipkan di rumah tahanan Negara dan terpisah dari tahanan lain.
10. Penyendanderaan tidak boleh dilaksanakan dalam hal penanggung pajak sedang
beribadah, atau sedang mengikuti sidang resmi, atau sedang mengikuti Pemilihan
Umum.

23
11. Juru sita pajak harus menyampaikan Surat Perintah Penyanderaan langsung
kepada penanggung pajak dan salinannya disampaikan kepada kepala tempat
penyanderaan.
12. Dalam hal penanggung pajak yang akan disandera tidak dapat ditemukan, juru sita
pajak melalui pejabat atau atasan pejabat dapat meminta bantuan kepolisian atau
kejaksaan untuk menghadirkan penanggung pajak yang tidak dapat ditemukan
tersebut.
13. Penyanderaan mulai dilaksanakan pada saat Surat Perintah Penyanderaan diterima
oleh penanggung pajak yang bersangkutan.
14. Penyanderaan dilaksanakan oleh juru sita pajak disaksikan oleh 2 (dua) orang
penduduk Indonesia yang telah dewasa, dikenal oleh juru sita pajak dan dapat
dipercaya.
15. Dalam melaksanakan penyanderaan juru sita pajak dapat meminta bantuan
kepolisian atau kejaksaan.
16. Juru sita pajak membuat Berita Acara Penyanderaan pada saat penanggung pajak
ditempatkan di tempat penyanderaan, dan Berita Acara Penyanderaan
ditandatangani oleh juru sita pajak, kepala tempat penyanderaan dan saksi-saksi.
17. Berita Acara Penyanderaan paling sedikit memuat:
a. Nomor dan tanggal Surat Perintah Penyanderaan;
b. Izin tertulis Manteri Keuangan atau Gubernur;
c. Identitas juru sita pajak;
d. Identitas penanggung pajak yang disandera;
e. Tempat penyanderaan;
f. Lamanya penyanderaan;
g. Identitas saksi penyanderaan.
18. Salinan Berita Acara Penyanderaan disampaikan kepada kepala tempat
penyanderaan, Penanggung pajak yang disandera, dan Bupati atau Walikota.
19. Penanggung pajak yang disandera dilepas:
a. Apabila utang pajak dan biaya penagihan pajak telah dibayar lunas;
b. Apabila jangka waktu yang ditetapkan dalam Surat Perintah Penyanderaan itu
telah terpenuhi;
c. Berdasarkan putuskan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
tetap;

24
d. Berdasarkan pertimbangan tertentu dari Menteri atau Gubernur Kepala Daerah
Provinsi.

Sebelum penanggung pajak dilepas, pejabat segera memberitahukan secara tertulis


kepada kepala tempat penyanderaan sebagaimana tercantum dalam Surat Perintah
Penyanderaan.

Penyanderaan terhadap penanggung pajak tidak mengakibatkan hapusnya utang


pajak dan terhentinya pelaksanaan penagihan pajak.

2.12. Gugatan

Hal-hal yang berkaitan dengan gugatan adalah sebagai berikut.

1. Gugatan penanggung pajak terhadap pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah


Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman Lelang hanya dapat diajukan kepada
pengadilan pajak.
2. Dalam hal gugatan penanggung pajak dikabulkan, penanggung pajak dapat
memohon pemulihan nama baik dan ganti rugi kepada pejabat.
3. Besarnya ganti rugi paling banyak Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah).
4. Perubahan besarnya ganti rugi ditetapkan dengan Keputusan Menteri atau
Keputusan Kepala Daerah.
5. Gugatan penanggung pajak diajukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari
sejak Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman
Lelang dilaksanakan.
2.13. Sanggahan

Hal-hal yang berkaitan dengan sanggahan adalah sebagai berikut.

1. Sanggahan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita hanya dapat
diajukan kepada Pengadilan Negeri.
2. Pengadilan Negeri yang menerima surat sanggahan memberitahukan secara
tertulis kepada pejabat.
3. Pejabat menangguhkan pelaksanaan penagihan pajak hanya terhadap barang yang
disanggah kepemilikannya sejak menerima pemberitahuan.
4. Sanggahan pihak ketiga terhadap kepimilikan barang yang disita tidak dapat
diajukan setelah lelang dilaksanakan.

25
2.14. Pembetulan Atau Penggantian

Hal-hal yang berkaitan dengan pembetulan dan penggantian adalah sebagai berikut.

1. Penanggung pajak dapat mengajukan permohonan pembetulan atau penggantian


kepada pejabat terhadap Surat Teguran ata Surat Peringatan atau surat lain yang
sejenis, Surat Perintah Penagigahan Seketika dan Sekaligus, Surat Paksa, Surat
Perintah Melaksanakan Penyitaan, Surat Perintah Penyanderaan, Pengumuman
Lelang, dan Surat Penentuan Harga Limit yang dalam penerbitannya terdapat
kesalahan atau kekeliruan.
2. Pejabat dalam jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal diterima
permohonan harus memberi keputusan atas permohonan yang diajukan.
3. Apabila dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan pejabat tidak memberikan
keputusan, permohonan penanggung pajak dianggap dikabulkan dan penagihan
ditunda untuk sementara waktu.
4. Pejabat karena jabatan dapat membetulkan Surat Teguran atau Surat Peringatan
atau surat lain yang sejenis, Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus,
Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, Surat Perintah
Penyanderaan, Pengumuman Lelang, dan Surat Penentuan Harga Limit yang
dalam penerbitannya terdapat kesalahan atau kekeliruan.
5. Tindakan pelaksanaan penagihan pajak dilanjutkan setelah kesalahan atau
kekeliruan dibetulkan oleh pejabat.
6. Dalam hal permohonan ditolak, tindakan pelaksanaan penagihan pajak dilanjutkan
sesuai jangka waktu semula.
2.15. Lain-Lain
1. Apabila setelah pelaksanaan lelang Wajib Pajak memperoleh keputusan keberatan
atau putusan banding yang mengakibatkan utang pajak menjadi berkurang atau
nihil sehingga menimbulkan kelebihan pembayaran pajak, Wajib Pajak tidak
dapat meminta atau tidak berhak menuntut pengembalian barang yang telah
dilelang. Pejabat mengembalikan kelebihan pembayaran pajak dalam bentuk uang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
2. Penagihan pajak tidak dilaksanakan apabila telah daluwarsa sebagaimana diatur
dalam undang-undang dan peraturan daerah.
3. Penagihan keberatan atau permohonan banding tidak menunda kewajiban
membayar pajak dan pelaksanakan penagihan pajak.

26
4. Pengajuan Gugatan tidak menunda pelaksanaan penagihan pajak.
2.16. Ketentuan Pidana

Ketentuan-ketentuan pidana antara lain sebagai berikut.

1. Penanggung pajak yang memindahkan hak, memindahtangankan, menyewakan,


meminjamkan, menyembunyikan, menghilangkan, atau merusak barang yang
telah disita dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan
paling lama 4 (empat) tahun, dan denda paling sedikit Rp. 1.500.000 (satu juta
lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 12.000.000 (dua belas juta rupiah).
2. Apabila pihak-pihak yang diberi tugas untuk mengalihkan atau menjual barang
sitaan (sesuai UU PPSP Pasal 25 ayat (3) huruf b, c, d, e) tidak melaksanakan
kewajibannya, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) minggu dan
paling lama 4 (empat) bulan 2 (dua) minggu dan denda paling sedikit Rp. 500.000
(lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah).
3. Setiap orang yang dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang, atau dengan sengaja mencegah, menghalang-
halangi atau menggagalkan tindakan dalam melaksanakan ketentuan undang-
undang yang dilakukan oleh juru sita pajak, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 1 (satu) minggu dan paling lama 4 (empat) bulan 2 (dua) minggu
dan denda paling sedikit Rp. 500.000 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak
Rp. 10.000.000 (sepuluh juta rupiah).
2.17. Kedaluwarsa Tindakan Penagihan Pajak

Berdasarkan Pasal 22 UU KUP, hak untuk melakukan Penagihan Pajak,


termasuk bunga denda, kenaikan, dan biaya penagihan, kedaluwarsa setelah lampau
waktu 10 tahun terhitung sejak terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian
tahun pajak, atau tahun pajak yang bersangkutan.

Penagihan Pajak dapat dilakukan setelah melampaui waktu 10 (sepuluh) tahun


dengan syarat-syarat sebagai berikut.

1. Diterbitkan Surat Teguran dan Surat Paksa. Kedaluwarsa dihitung sejak tanggal
penyampaian Surat Paksa tersebut.
2. Adanya pengakuan utang dari Wajib Pajak, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Hal ini dikarenakan sebagai berikut.

27
a. Adanya permohonan angsuran atau penundaan pembayaran utang pajak
sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran. Untuk ini, kedaluwarsa penagihan
pajak dihitung sejak tanggal surat permohonan angsuran atau penundaan
pembayaran utang pajak diterima.
b. Adanya permohonan keberatan. Untuk ini, kedaluwarsa penagihan pajak
dihitung sejak tanggal surat permohonan keberatan diterima.

Wajib pajak melaksanakan pembayaran sebagian utang pajaknya. Untuk ini


kedaluwarsa penagihan pajak dihitung sejak tanggal pembayaran sebagian utang
pajak tersebut.

28
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Penagihan pajak merupakan serangkaian upaya yang dilakukan agar
penanggung pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan cara
memperingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus memberitahukan
surat paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melakukan
penyanderaan, serta menjual barang-barang yang telah disita.
Penagihan pajak dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu penagihan pajak pasif
dan penagihan pajak aktif. Penagihan pajak pasif merupakan penagihan pajak yang
dilakukan dengan menggunakan Surat Tagihan Pajak atau Surat Ketetapan Pajak.
Sedangkan Penagihan pajak aktif merupakan kelanjutan dari Penagihan Pajak Pasif,
dimana dalam upaya penagihan ini Fiskus berperan aktif dalam arti tidak hanya
mengirim surat tagihan atau surat ketetapan pajak, tetapi akan diikuti dengan
tindakan sita dan dilanjutkan dengan pelaksanaan lelang.

29
DAFTAR PUSTAKA

Suandy, Erly. (2014). Hukum Pajak (6 ed.). Indonesia: Salemba Empat.

30