Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH HACCP

KODEX ALIMENTARIUS (SUSU) DAN ISO 22000 SERTA K3

Disusun oleh :
NURFI IKHSANI
H3113070

PROGRAM STUDI DIPLOMA TIGA TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya pada kita sehingga dapat menyelesaikan makalah ini demi
memenuhinya tugas Pengantar Manajemen Mutu. Terimakasih diucapkan pada dosen
pengampu yang telah membimbing dalam terselesaikannya Tak lupa juga terimakasih
kami ucapkan bagi semua pihak yang turut membantu untuk makalah.ini.
Tentu masihlah banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh
karenanya kritik dan saran maupun koreksi akan kami terima untuk perbaikannya.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Surakarta, 01 Oktober 2015

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. 1
KATA PENGANTAR .......................................................................................... 2
DAFTAR ISI ......................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .......................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 7
C. Tujuan ....................................................................................................... 7
BAB II ISI
A. Kodex Alimentarius .................................................................................. 8
B. ISO 22000 ............................................................................................... 12
C. Kesehatan dan Keselamatan Kerja .......................................................... 14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................. 21
B. Saran ........................................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah keamanan pangan sangat penting bagi industri pangan. Tuntutan
persyaratan keamanan pangan terus berkembang sesuai permintaan konsumen
yang juga kian meningkat. Pelaku bisnis dalam industri pangan mulai menyadari
bahwa produk yang aman hanya dapat diperoleh jika bahan baku yang digunakan
bermutu, penanganan dan proses pengolahan sesuai, serta transportasi maupun
distribusi yang memadai. Dengan demikian, pengendalian keamanan konvensional
yang hanya mengandalkan pengawasan produk akhir tidak lagi memenuhi
kebutuhan keamanan yang ada.
Sistem keamanan pangan modern menuntut industri untuk merencanakan
sistem pengawasan mutu sejak tahap penerimaan bahan baku hingga produk
pangan didistribusikan ke konsumen. Produk pangan yang dipasarkan harus
terjamin mutunya dan aman untuk dikonsumsi. Jaminan mutu dan keamanan
pangan merupakan usaha nyata, sungguh-sungguh, dan terus-menerus dilakukan
oleh perusahaan dalam meningkatan mutu produk untuk memberikan kepuasan
dan mendapatkan kepercayaan konsumen.
The International Organization for Standardization atau ISO adalah
organisasi yang mengembangkan standar internasional yang dapat digunakan di
seluruh dunia dengan salah satu tujuannya membantu negara berkembang
mempelajari dan mengembangkan berbagai teknologi yang sudah diterapkan oleh
negara maju, sehingga industri dapat bersaing dalam perdagangan global. Pada
tahun 2005 The International Organization for Standardization (ISO) telah
menerbitkan standar pangan terbaru, yaitu ISO 22000. Standar ISO dapat
diterapkan secara sukarela oleh setiap organisasi yang terkaitan dengan pangan di
seluruh dunia. ISO 22000 adalah panduan bagi industri atau organisasi untuk

4
mengelola sebuah sistem manajemen keamanan pangan yang pro aktif dan
fleksibel.
Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi pekerja
merupakan syarat yang seharusnya di laksanakan bagi perusahaan-perusahaan.
Selain dapat memimalisir adanya bahaya bagi pekerja juga dapat mengurangi
biaya pengeluaran jika keamanan kurang maka kemungkinan
adanyakecelakaandapat timbul. Oleh karenanya hal-hal semacam ini harus segera
dilakukan pencegahan untuk meminimalisir bahaya maupun kerugian yang timbul.
Angka kecelakaan kerja di Indonesia masihtermasuk buruk. Pada tahun
2004 saja, lebih dariseribu tujuh ratus pekerja meninggal di tempatkerja. Menurut
Juan Somavia, Dirjen ILO,industri konstruksi termasuk paling rentankecelakaan,
diikuti dengan anufaktur makanandan minuman (Kompas, 1/05/04). Tidak saja
dinegara-negara berkembang, di negara majusekalipun kecelakaan kerja konstruksi
masihmemerlukan perhatian serius. Penelitian yangdilakukan oleh Duff (1998)
dan Alves Diaz(1995) menyatakan hasil analisa statistik daribeberapa negara-
negara menunjukkan peristiwatingkat kecelakaan fatal pada proyek
konstruksiadalah lebih tinggi dibanding rata-rata untuksemua industri, dalam
Suraji (2000).
Sistem K3 pada industri pangan pengolahan hasil pertanian harus dikelola
sebagaimana dengan aspek lainnya dalam perusahaan seperti operasi, produksi,
logistik, sumber daya manusia, keuangan dan pemasaran. Aspek K3 tidak akan
bisa berjalan seperti apa adanya tanpa adanya intervensi dari manajemen berupa
upaya terencana untuk mengelolanya. Karena itu ahli K3 sejak awal tahun 1980an
berupaya meyakinkan semua pihak khususnya manajemen organisasi untuk
menempatkan aspek K3 setara dengan unsur lain dalam organisasi. Hal inilah yang
mendorong lahirnya berbagai konsep mengenai manajemen K3.Menurut
Kepmenaker 05 tahun 1996, Sistem Manajemen K3 adalah bagian dari sistem
secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan/desain,
tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses, dan sumber daya yang dibutuhkan,

5
bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan
kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam pengendalian resiko yang
berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien
dan produktif.
Makanan merupakan isu strategis dalam kebijakan suatu negara, tidak
hanya karena termasuk kebutuhan dasar yang berkaitan erat dengan kesehatan,
namun juga karena turut mempengaruhi perdagangan dan hubungan antara negara.
Standar keamanan merupakan salah satu aspek penting yang berperan dalam upaya
perlindungan keselamatan konsumen, namun perlu dipertimbangkan sedemikian
hingga penerapannya tidak menghambat industri dalam menjalankan kegiatan
usaha. Adanya perbedaan regulasi dalam menjamin keamanan pangan di setiap
negara dapat menyulitkan produsen dan eksportir dalam perdagangan pangan
internasional.
CAC (Codex Alimentarius Commission) merupakan badan antar
pemerintah yang dibentuk dengan tujuan antara lain untuk melindungi kesehatan
konsumen, menjamin praktek yang jujur dalam perdagangan pangan internasional
serta mempromosikan koordinasi standardisasi pangan. Codex dapat menjadi
referensi sebagai dasar perbaikan sistem produksi dan pengendalian pangan yang
lebih baik sesuai standar internasional.

6
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Codex Alimentarius?
2. Bagaimana tujuan dari Codex Alimentarius?
3. Bagaimana penerapan Codex Alimentarius pada industri pangan?
4. Apa itu ISO 22000?
5. Bagaimana tujuan dari ISO 22000?
6. Bagaimana penerapan ISO 22000 pada industri pangan?
7. Apa itu K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)?
8. Bagaimana tujuan dari K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)?
9. Bagaimana penerapan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) pada industri
pangan?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu Codex Alimentarius beserta tujuan dan penerapannya pada
industri pangan.
2. Mengetahui apa itu ISO 22000 beserta tujuan dan penerapannya pada industri
pangan.
3. Mengetahui apa itu K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) beserta tujuan dan
penerapannya pada industri pangan.

7
BAB II
ISI

A. Kodex Alimentarius
Codex Alimentarius (Latin untuk "Book of Food") adalah kumpulan
standar yang diakui secara internasional, praktek, pedoman dan rekomendasi
lainnya yang berhubungan dengan makanan, produksi pangan dan keamanan
pangan. Badan yang didirikan pada awal November 1961 oleh Organisasi Pangan
dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), bergabung oleh Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) pada bulan Juni 1962, dan mengadakan sesi pertama di
Roma pada bulan Oktober 1963. Tujuan utama Komisi adalah untuk melindungi
kesehatan konsumen dan memastikan praktek yang adil dalam perdagangan
pangan internasional. Codex Alimentarius diakui oleh Organisasi Perdagangan
Dunia sebagai referensi internasional untuk penyelesaian sengketa mengenai
keamanan pangan dan perlindungan konsumen.
Codex Alimentarius Commission (CAC), biasanya cukup disebut Codex,
merupakan badan antar pemerintah yang bertugas melaksanakan Joint FAO/WHO
Food Standards Programme (program standar pangan FAO/WHO). Codex
dibentuk dengan tujuan antara lain untuk melindungi kesehatan konsumen,
menjamin praktek yang jujur (fair) dalam perdagangan pangan internasional serta
mempromosikan koordinasi pekerjaan standardisasi pangan yang dilakukan oleh
organisasi internasional lain. Codex menetapkan teks-teks yang terdiri dari
standar, pedoman, code of practice dan rekomendasi lainnya yang mencakup
bidang komoditi pangan, kententuan bahan tambahan dan kontaminan pangan,
batas maksimum residu pestisida dan residu obat hewan, prosedur sertifikasi dan
inspeksi serta metoda analisa dan sampling. Beberapa komoditi pangan yang saat
ini dicakup oleh Codex adalah minyak dan lemak, ikan dan produk perikanan,
buah dan sayuran segar, buah dan sayuran olahan, jus buah dan sayuran, susu dan

8
produk susu, gula, produk kakao dan cokelat, produk turunan dari sereal, dan lain-
lain.
Makanan merupakan isu strategis dalam kebijakan suatu negara, tidak
hanya karena termasuk kebutuhan dasar yang berkaitan erat dengan kesehatan,
namun juga karena turut mempengaruhi perdagangan dan hubungan antara negara.
Standar keamanan merupakan salah satu aspek penting yang berperan dalam upaya
perlindungan keselamatan konsumen, namun perlu dipertimbangkan sedemikian
hingga penerapannya tidak menghambat industri dalam menjalankan kegiatan
usaha. Adanya perbedaan regulasi dalam menjamin keamanan pangan di setiap
negara dapat menyulitkan produsen dan eksportir dalam perdagangan pangan
internasional.
CAC (Codex Alimentarius Commission) merupakan badan antar
pemerintah yang dibentuk dengan tujuan antara lain untuk melindungi kesehatan
konsumen, menjamin praktek yang jujur dalam perdagangan pangan internasional
serta mempromosikan koordinasi standardisasi pangan. Codex dapat menjadi
referensi sebagai dasar perbaikan sistem produksi dan pengendalian pangan yang
lebih baik sesuai standar internasional.
Sidang CAC ke-36 diselenggarakan pada tanggal 1 5 Juli 2013 di Roma,
Italia. Tahun ini merupakan peringatan 50 tahun berlangsungnya sidang CAC pada
tahun 1963. Codex General Standards untuk pelabelan pangan yang dikemas
adalah standar internasional pertama yang merekomendasikan pelabelan masa
kadaluarsa. Codex pun telah mengharuskan pencantuman informasi komposisi
bahan pangan yang dapat menimbulkan alergi pada label pangan kemasan.
Codex menetapkan standar, pedoman, code of practice dan rekomendasi
lainnya yang mencakup bidang komoditi pangan, ketentuan bahan tambahan dan
kontaminan pangan, batas maksimum residu pestisida dan residu obat hewan,
prosedur sertifikasi dan inspeksi serta metoda analisa dan sampling. Beberapa
komoditi pangan yang saat ini dicakup oleh Codex adalah minyak dan lemak, ikan

9
dan produk perikanan, buah dan sayuran, susu dan produk susu, produk kakao dan
coklat, produk turunan sereal, dan lain-lain.
Dalam menjamin keamanan pangan, semangat yang diusung Codex adalah
menerapkan regulasi yang menjamin keamanan pangan tanpa hambatan yang tak
perlu. Sementara standar Codex berbasis konsensus dan transparan, negara
anggota World Trade Organization dapat menggunakan standar yang lebih tinggi
jika terdapat justifikasi ilmiah atau penilaian resiko dalam pengawasan produk.
Indonesia sendiri telah menjadi anggota Codex sejak tahun 1971 dan telah
berpartisipasi aktif dalam Codex, yakni sebagai ketua ASEAN Task Force on
Codex pada tahun 2002 dan 2008, Koordinator Asia untuk periode 2007-2009 dan
2009-2011. Indonesia pun telah berpartisipasi sebagai penyelenggara Sidang
Codex pada sidang ke-16 CCAsia pada 17-21 November 2008, sidang ke-25
CCPFV pada 25-29 Oktober 2010, sidang ke-17 CCAsia pada 22-26 November
2010, sidang ke-32 CCFFP pada 1-5 Oktober 2012. Partisipasi Indonesia dalam
penyusunan standar Codex tidak kalah penting, antara lain penyusunan standar
tempe untuk menjadi standar regional, serta bersama Thailand memperjuangkan
Standard Codex on Rambutans (CODEX STAN 246-2005).
Indonesia memiliki beberapa instansi yang lingkup tugas dan
kewenangannya terkait dengan pangan antara lain Kementerian Kesehatan, Badan
POM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian
Kelautan dan Perikanan, Badan Standar Nasional dan sebagainya. Untuk
merumuskan kepentingan dan posisi nasional terhadap Codex, terdapat koordinasi
di tingkat nasional antar kementerian yang memiliki kebijakan terkait, yang akan
diwakili secara resmi oleh Codex Contact Point.
Selain pemerintah, para pakar serta industri di bidang pangan dapat terlibat
dalam pembahasan agenda sidang Codex, antara lain dalam penyediaan data
ilmiah dalam mendukung posisi Indonesia, serta mengantisipasi isu terkait mutu
dan keamanan pangan.

10
Selama setengah abad, Codex telah berperan sebagai referensi global dalam
perdagangan internasional mengenai standar keamanan pangan dengan berbasis
ilmu pengetahuan. Dalam menjamin keamanan pangan untuk melindungi
kesehatan dan keselamatan manusia, hewan atau tumbuhan, perlu dipertimbangkan
agar regulasi yang diterapkan tidak bersifat diskriminatif dan tidak digunakan
sebagai alasan untuk melindungi produsen domestik.
Konsep HACCP Menurut Codex Alimentarius Commision (CAC)
Konsep HACCP menurut CAC terdiri dari 12 langkah, dimana 7 prinsip
HACCP tercakup pula di dalamnya. Langkah-langkah penyusunan dan
penerapan sistem HACCP menurut CAC adalah sebagi berikut:

11
Indonesia mengadopsi sistem HACCP versi CAC tersebut dan
menuangkannya dalam acuan SNI 01-4852-1998 tentang Sistem Analisa
Bahaya dan Pengendalian Titik-Titik Kritis (HACCP) serta pedoman
penerapannya yaitu Pedoman BSN 1004/1999. Sistem yang penerapannya
masih bersifat sukarela ini telah digunakan pula oleh Departemen Pertanian RI
dalam menyusun Pedoman Umun Penyusunan Rencana Kerja Jaminan Mutu
Berdasarkan HACCP atau Pedoman Mutu Nomor 5.

B. ISO 22000
ISO 22000 adalah standar internasional yang dikeluarkan oleh komite teknis
organisasi standar international (ISO). Standar ini merupakan standar penunjuk
yang menggambarkan persyaratan sebuah sistem manajemen keamanan pangan.
Standar ini bertujuan
1) mengharmoniskan persyaratan sistem manajemen keamanan pangan untuk
usaha yang terkait dalam rantai pangan
2) memudahkan kerja badan usaha dan badan sertifikasi karena hanya
menggunakan satu standar, serta
3) memastikan standar dapat diperoleh dengan mudah di seluruh dunia tanpa
adanya monopoli oleh satu badan sertifikasi khusus.
Lembaga ISO tidak khusus merancang standar yang dipakai pada
perdagangan, namun kebutuhan standar dalam perjalanannya tidak terlepas dari
persyaratan dunia perdagangan. Keberhasilan penerapan standar ISO 9000 yang
dramatis pada tahun 1987 menjadikan ISO sebagai standar yang dinilai paling fair
dalam perdagangan dunia. Pembentukan komite teknis (Technical Committe-TC)
34 ISO adalah salah satu upaya untuk mengurangi kesimpangsiuran interpretasi
sistem sertifikasi HACCP dalam perdagangan dunia. Tahun 1998, TC 34
meluncurkan draf standar yang memasukkan prinsip HACCP ke dalam sistem
manajemen mutu.

12
Standar tersebut akhirnya terbit dalam format Technical References (TR)
dengan nomor seri ISO/TR 15161:2001 Guidelines on application of ISO
9001:2000 for the food and drink industry.Sertifikat ISO/TR 15161:2001 yang
diperkenalkan pada tahun 2001, tentu saja berbasis kepada ISO 9001:2000
sehingga tidak memberikan perubahan pengaruh terhadap pengakuan pasar.
Kondisi seperti ini tidak memberikan pengaruh berarti bagi kehausan
konsumen untuk memperoleh sertifikat HACCP. Beberapa industri makanan di
Indonesia kini mulai berfikir ulang mengenai manfaat lebih dari sertifikat ISO
9001 dibandingkan HACCP.
ISO 22000 menetapkan persyaratan-persyaratan dasar untuk sebuah sistem
manajemen keamanan pangan yang mengkombinasikan unsur-unsur kunci untuk
menjamin keamanan pangan sepanjang rantai pangan, hingga konsumen (ISOa).
Unsur-unsur kunci tersebut adalah komunikasi interaktif, sistem manajemen,
prerequisite programme (program prasyarat/kelayakan dasar), dan perinsip-prinsip
HACCP.
Komunikasi interaktif sepanjang rantai sangat penting karena komunikasi
menyediakan segala informasi yang berkaitan dengan keamanan pangan sehingga
dapat diketahui oleh seluruh organisasi dalam rantai pangan. Ada dua jenis
komunikasi, yaitu internal dan eksternal. Komunikasi eksternal adalah komunikasi
dengan pihak-pihak di luar perusahaan, yang memiliki interaksi dengan
perusahaan, misalnya suppliers, kontraktor, pelanggan atau konsumen, badan
hukum negara, laboratorium eksternal dan pihak lainnya, yang dapat
mempengaruhi efektivitas sistem manajemen keamanan pangan. Komunikasi
internal adalah interaksi dengan pegawai mengenai isu manajemen keamanan
pangan (ISOa, 2005).
Sistem keamanan pangan yang efektif adalah sistem yang diterapkan,
dioperasikan, dan diperbahrui di dalam kerangka sistem manajemen yang
terstruktur dan dimasukan ke dalam keseluruhan aktifitas manajemen di dalam
organisasi. Hal ini akan memberikan manfaat yang optimal untuk organisasi dan

13
pihak-pihak terkait. Dalam ISO 22000, prerequisite programme (PRP)
didefinisikan sebagai kondisi dan aktifitas dasar yang diperlukan untuk
memelihara lingkungan yang higienis di seluruh rantai pangan yang sesuai untuk
proses produksi, penanganan dan penyediaanproduk yang aman untuk dikonsumsi.
Sementara itu operational prerequisite (OPRP) adalah program prasyarat yang
dalam analisis bahaya diidentifikasi sebagai hal yang penting untuk
mengendalikan kemungkinan masuknya bahaya atau kontaminasi di dalam produk
atau lingkungan proses.
ISO 22000 mengintegrasikan prinsip-prinsip sistem HACCP dan penerapan
langkah yang dikembangkan oleh Codex Alimentarius Commission (CAC).
Analisis bahaya adalah kunci untuk sebuah sistem manajemen keamanan pangan
yang efektif, karena dengan melakukan analisis bahaya akan membantu organisasi
dalam menetapkan langkahlangkah pengendalian yang efektif. ISO 22000
mempersyaratkan bahwa semua bahaya yang mungkin ada dalam rantai pangan.
Selama melakukan analisis bahaya, organisasi menentukan strategi yang
digunakan untuk menjamin pengendalian bahaya dengan mengkombinasikan PRP,
OPRP, dan rencana HACCP.
Persyaratan-persyaratan dalam ISO 22000 ini bersifat umum dan ditujukan
untuk dapat diterapkan pada seluruh organisasi dalam rantai pangan tidak
memandang besar kecilnya organisasi maupun kompleksitasnya. Hal ini termasuk
organisasi yan secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam satu atau
lebih tahap dalam rantai pangan.
C. K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
Menurut Putra dkk (2004) Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
merupakan faktor yang paling penting dalam pencapaian sasaran tujuan proyek.
Hasil yang maksimal dalam kinerja biaya, mutu dan waktu tiada artinya bila
tingkat keselamatan kerja terabaikan. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang
berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya,
landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan.

14
(Ridley, 2004). Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) difilosofikan sebagai suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani
maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil
karya dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan
pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja. (Armanda, 2006).
Manajemen Keselamatan dan KesehatanKerja (MK3) adalah bagian dari
sistemmanajemen secara keseluruhan yang meliputistruktur organisasi,
perencanaan, tanggungjawab, pelaksanaan, prosedur, proses dansumber daya yang
dibutuhkan bagipengembangan, penerapan, pencapaian,pengkajian dan
pemeliharaan K3 dalam rangkapengendalian risiko yang berkaitan dengankegiatan
kerja, guna terciptanya tempat kerjayang aman, efisien dan produktif. Berangkat
darikajian Total Project Management (ECI,1995),keselamatan perlu diintegrasikan
dalam proyek,mulai dari konsepsi sampai proyek selesai (fromconception to
completion). Dikatakanselanjutnya bahwa kegiatan penilaian tentangkeselamatan,
kesehatan dan lingkungan perludimulai dari tahap perencanaan proyek
(projectplan), kontrak, evaluasi tender, konstruksi,sampai ke tahap pemeliharaan
dan bahkansampai ke perobohan (demolition) (ECI,1995).
Membahas K3 pentingnya menjalankan K3 diantaranya mencegah ketugian
fisik dan finansial yang bisa diderita karyawan, mencegah terjadinya ganggguan
terhadap produktivitas perusahaan, menghemat biaya premi asurasni dan
menghindari tuntutan hukum.Salah satu upaya dalam mengurangi kerugian bisnis
adalah dengan menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (biasa disingkat sebagai K3) merupakan hak
asasi karyawan dan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas
karyawan. Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi telah menetapkan peraturan perundangan mengenai Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang tertuang dalam

15
Peraturan Menteri Tenaga Kerja PER.05/MEN/1996. Dengan adanya SMK3,
diharapkan karyawan akan merasa lebih terlindungi serta terjamin keselamatan
serta kesehatannya, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja
(Idris, 2013).
Terdapat perubahan fokus dalam pengukuran kinerja K3, dari yang
berdasarkan data retrospektif (lagging indicator) seperti angka kecelakaan, waktu
yang hilang akibat terjadinya kecelakaan, dan sebagainya, menjadi leading
indicator seperti audit K3 atau pengukuran iklim K3 di perusahaan (Flin et al.,
2000). Perubahan ini disebabkan adanya kesadaran bahwa faktor organisasi,
manajerial dan manusia merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan
dibandingkan adanya kesalahan teknis (Weick et al., 1999).Komitmen manajemen
terhadap K3 tercantum dalam manual perusahaan, yang antara lain menyatakan
bahwa manajemen perusahaan berkomitmen untuk mengkomunikasikan kepada
karyawan terkait tentang pentingnya persyaratan pelanggan, lingkungan, kesehatan
& keselamatan kerja serta peraturan dan perundangan yang berlaku. seharusnya
perusahaan akan fokus kepada masalah-masalah kesehatan dan keselamatan kerja
dengan menciptakan suatu sistem kesehatan dan keselamatan kerja ditempat kerja
dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja
yang terintegrasi dalam upaya pencegahan penyakit, meminimalkan potensi yang
dapat menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, serta terciptanya tempat
kerja yang aman, efisien dan produktif. Perusahaan akan melakukan identifikasi
bahaya, pengujian resiko dan penerapan pengendalian terukur yang diperlukan
serta perusahaan akan menentukan sasaran-sasaran dan program untuk
peningkatan manajemen dan kinerja K3 yang berkesinambungan yang akan
dilakukan berkaitan dengan peningkatan kesehatan dan keselamatan kerja.
Menurut Covan (1995), keselamatan kerja mempunyai konteks yang lebih
luas, yaitu mencakup baik aspek keselamatan maupun aspek kesehatan kerja.
Pendapat yang sama dikemukakan oleh Handley (1977) bahwa keselamatan dan
kesehatan kerja merupakan gabungan pengertian, sehingga sebenarnya

16
penggunaan istilah kecelakaan kerja adalah mengacu pada masalah-masalah dalam
keselamatan dan kesehatan kerja. Oleh karena itu, upaya untuk menerapkan
prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja di suatu organisasi pada dasarnya
adalah untuk mencegah kecelakaan kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja
merupakan bagian integral dari perlindungan pekerja dan perlindungan
perusahaan. Pekerja adalah bagian integral dari perusahaan, jaminan keselamatan
dan kesehatan kerja akan meningkatkan produktivitas pekerja dan produktivitas
perusahaan (Sucofindo, 1998).
Istilah keselamatan telah mengandung unsur-unsur kesehatan, misalnya
adanya unsur risiko, bahaya, luka, dan penyakit. Maka pembahasan tentang
masalah-masalah kesehatan kerja sudah termasuk dalam keselamatan kerja
(Winarsunu, 2008). Penerapan SMK3 merupakan salah satu cara menjamin
konsistensi dan efektivitas perusahaan dalam pengendalian sumber bahaya dan
meminimalkan risiko, mengurangi dan mencegah kecelakaan dan penyakit akibat
kerja serta memaksimalkan efisiensi perusahaan yang pada akhirnya dapat
meningkatkan produktivitas perusahaan untuk memacu peningkatan daya saing
barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan, terlebih untuk mengantisipasi
pemberlakuan sertifikasi K3 ataupun standar K3 secara internasional. Sistem
manajemen K3 diarahkan untuk mengendalikan kecelakaan kerja, dan ini jelas
melengkapi konsep dalam standar manajemen modern yang juga didukung oleh
Sistem Manajemen Lingkungan, sehingga dapat memenuhi obsesi zero delay, zero
defect, zero emission, dan zero accident (Green Company, 2002).
Manajemen sebagai suatu ilmu perilaku yang mencakup aspek sosial dan
aspek eksak tidak terlepas dari tanggung jawab keselamatan dan kesehatan kerja,
baik dari segi perencanaan maupun pengambilan keputusan dan organisasi, segi
kecelakaan kerja, segi gangguan kesehatan, maupun pencemaran lingkungan harus
merupakan bagian dari biaya produksi. Sekalipun sifatnya sosial, setiap
kecelakaan atau tingkat keparahannya tidak dapat dilepaskan dari faktor ekonomi
dalam suatu lingkungan kerja. Pencegahan kecelakaan dan pemeliharaan hygiene

17
serta kesehatan kerja tidak saja dinilai dari segi biaya pencegahannya, tetapi juga
dari segi manusianya (Silalahi, 1995). Tujuan dan sasaran dari SMK3 adalah
menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja dengan
melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang
terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit
akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif
(Sucofindo, 1998).
Mengidentifikasi bahaya yang ada, penilaian risiko, dan penetapan
pengendalian yang diperlukan. Untuk penetapan pengendalian dalam rangka
menurunkan risiko dilakukan berdasarkan hirarki eliminasi, substitusi,
pengendalian teknik, tanda peringatan dan alat pelindung diri. Selain itu,
organisasi harus menanggapi keadaan darurat dan melakukan pencegahan atas
akibat penyimpangan terhadap ketentuan K3, dan secara berkala menguji prosedur
untuk menanggapi keadaan darurat Dalam prosedur kerja yang digunakan harus
sudah memasukkan mengenai adanya perhatian mengenai K3, terutama dalam
pengoperasian alat/mesin. Dalam pelaksanaan pekerjaan juga harus diidentifikasi
mengenai kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) yang diperlukan untuk aktivitas
tersebut. Risiko keadaan darurat yang dapat terjadi pada perusahaan, baik karena
adanya kesalahan dalam melakukan prosedur kerja maupun lainnya, perlu
diidentifikasi oleh perusahaan supaya dapat ditetapkan prosedur dalam
menghadapi tindakan darurat dan efeknya (Idris, 2013).
Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Bagian 6 Tentang
Kesehatan Kerja, pada Pasal 23 berisi:
1. Kesehatan kerja disenggelarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang
optimal.
2. Kesehatan kerja meliputi perlindungan kesehatan kerja, pencegahan penyakit
akibat kerja, dan syarat kesehatan kerja.
3. Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja.

18
Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tidak
terduga oleh karena latar belakang peristiwa itu tidak terdapat adanya unsur
kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk perencanaan. Oleh karena peristiwa
kecelakaan disertai kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan
sampai pada yang paling berat. (Austen dan Neale, 1991).
Perencanaan K3 yang baik, dimulai dengan melakukan identifikasi bahaya,
penilaian resiko, dan penentuan pengendaliannya. Tanpa peren-canaan, sistem
manajemen K3 tidak akan berjalan dengan baik. Dalam melakukan hal tersebut,
harus dipertimbangkan berbagai persyaratan perundangan K3 yang berlaku bagi
organisasi serta persyaratan lainnya seperti standar, kode, atau pedoman
perusahaan terkait atau yang berlaku bagi bagi organisasi (Kani dkk, 2013).
Menurut Putra dkk (2004) Penyusunan program K3 harus
mendokumentasikan dan terdiri atas :
1. Siapa yang menyusun dan bertanggung jawab terhadap program K3
2. Apa isi program K3 yang akan dilaksanakan
3. Bagaimana dan kapan harus mencapai tujuan program K3
4. Peninjauan program baik keberhasilan dan kegagalannya secara berkala
5. Selalu melakukan inovasi-inovasi terhadap program yang sudah dibuat
6. Implementasi program yang terukur
7. Tujuan dan sasaran K3 memiliki jadwal yang tepat, biaya ekonomis, serta hasil
pencapaian yang terukur.
8. Struktur Organisasi K3 dalam perusahaan.
ISO (The International Organization for Standardization) adalah badan
standar dunia yangdibentuk untuk meningkatkan perdaganganinternasional yang
berkaitan dengan barang danjasa. ISO merupakan organisasi internationalkhusus
dalam hal standarisasi. Saat ini, ISO adalahsebuah organisasi international yang
terdiri 130 negara yang berkedudukan di Jenewa, Swiss.Organisasi international
itu terdiri dari lembagastandar nasional, meliputi anggota masyarakatEkonomi

19
Eropa dan Asosiasi Perdagangan BebasEropa, Amerika Serikat, Jepang, China,
Singapuradan lain-lain (Suardi, 2004).
Menurut Putra dkk (2004) Tujuan ISO adalah mengembangkan dan
mempromosikan standar-standar untuk umum yang berlaku secara internasional.
Tujuan utama dari ISO adalah sebagai berikut:
1. Organisasi dapat mencapai dan mempertahankan kualitas produk atau jasa
yang dihasilkan, sehingga secara berkesinambungan dapat memenuhi
kebutuhan para pembeli.
2. Organisasi dapat memberikan keyakinan kepada pihak manajemennya sendiri
bahwa kualitas yang dimaksudkan itu telah dicapai
3. dan dapat dipertahankan.
4. Organisasi dapat memberikan keyakinan kepada pihak pembeli bahwa
kualitas yang dimaksudkan itu telah atau akan dicapai dalam produk atau jasa
yang dijual.
Menurut Putra dkk (2004)Manfaat dari penerapan ISO 9001:2000 telah
diperoleh banyak perusahaan. Beberapa manfaat dapat dicatat sebagai berikut:
1. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui jaminan kualitas
yang terorganisasi dan sistematik. Proses dokumentasi dalam ISO 9001:2000
menunjukkan bahwa kebijakan, prosedur, dan instruksi yang berkaitan dengan
kualitas telah direncanakan dengan baik.
2. Perusahaan yang telah bersertifikat ISO 9001:2000 diijinkan untuk
mengiklankan pada media masa bahwa sistem Manajemen Kualitas dari
perusahaan telah diakui secara internasional. Hal ini berarti meningkatkan
citra perusahaan serta daya saing dalam memasuki pasar global.

20
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Codex Alimentarius (Latin untuk "Book of Food") adalah kumpulan standar
yang diakui secara internasional, praktek, pedoman dan rekomendasi lainnya
yang berhubungan dengan makanan, produksi pangan dan keamanan pangan.
2. ISO 22000 adalah standar internasional yang dikeluarkan oleh komite teknis
organisasi standar international (ISO). Standar ini merupakan standar penunjuk
yang menggambarkan persyaratan sebuah sistem manajemen keamanan pangan.
3. Pentingnya menjalankan K3 diantaranya mencegah ketugian fisik dan finansial
yang bisa diderita karyawan, mencegah terjadinya ganggguan terhadap
produktivitas perusahaan, menghemat biaya premi asurasni dan menghindari
tuntutan hukum.
4. Jika penerapan K3 tidak dilaksanakan maka dapat menimbulkan masalah
kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada
akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja.
B. Saran
1. Perlu adanya komitmen dari manajemen puncak perusahaan untuk melaksan
akan sistem manajemen K3LM ini secara berkesinambungan pada setiap
proyek yang akan dilaksanakan.
2. Industri direkomendasi untuk lebih meningkatkan efektifitas dalam
perencanaan penerapan ISO 22000 meliputi (1) Penyusunan manual secara
tersendiri khusus untuk Sistem Manajemen Keamanan Pangan yang terpisah
dari Integrated Management System yang telah ada (2) Peningkatan komitmen
manajemen dengan cara mengkomunikasikan kebijakan mutu kepada seluruh
karyawan secara lebih efektif, mengadakan pelatihan dan memberikan sertifikat
bagi auditor internal.

21
DAFTAR PUSTAKA

International Organization for Standardizationa. 2005. International Standar ISO


22000, Food Safety Management Systems, Requirements for any
organization in the food chain. ISO. Jenewa.
British Retail Consortium.2005. BRC Global Standard for Food.
http://www.brc.org.uk/. [5Agustus 2007]
Badan Standardisasi Nasional. 2002. Panduan Penyusunan Rencana HACCP.
Pedoman 1004 BSN
Anonim, 2007. Food Safety Management System ISO 22000.
http://www.globalmark.com.au[07 April 2007]
Codex Alimentarius Comitte. 2003. Codex standard for fermented milk. Codex Stan
243. Food and Agriculture Organization. United Nation, Roma.
Armanda D, Penerapan SMK3 Bidang Konstruksi Medan, Jakarta.
Ridley J. 2004. Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Kani, Bobby Rocky., R. J. M. Mandagi., J. P. Rantung, G. Y dan Malingkas. 2013.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pelaksanaan Proyek
Konstruksi (Studi Kasus: Proyek Pt. Trakindo Utama). Jurnal Sipil
Statik Vol.1 No.6, (430-433) ISSN: 2337-6732.
Putra, A.A. Bayu Maha Kesuma., Ida Ayu Rai Widhiawati dan Ida Bagus Rai
Adnyana. 2004. Evaluasi Penerapan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja, Lingkungan, dan Mutu (K3lm) Proyek Kontruksi pada Pt.
Waskita Karya (Studi Kasus pada Proyek Dsdp Ii Icb 1). Jurnal Ilmiah
Elektronik Infrastruktur Teknik Sipil.
Idris, Andhika Sekar Putri. 2013. Perbandingan Tingkat Kinerja Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Sebelum dan Sesudah Penerapan OHSAS 18001 Di Pt.
Phapros, Tbk. Jurnal Studi Manajemen & Organisasi, Vol 10, No 2, (99-
12).
Santoso, Sigit. 2006. Kajian Pengembangan Manajemen Kesehatan dan Keselamatan
Kerja Berdasarkan OHSAS 18001. Sigma Epsilon ISSN 0853-9103.

22