Anda di halaman 1dari 34

TUGAS EKONOMI DAN KEWIRUSAHAAN SIPIL

JASA KONSULTANSI

Disusun oleh :

Ksatrio Pinayung R 21010112130162


Intan Tri Lestari 21010112130141
Atyanta Cendikya C B 21010112130143
Gita Silvia P 21010112130144
Lucky Rahadian 21010112130145
Hane Syafarini 21010112130146
Heru Budhi K 21010112130147
Ramadhana Fajar S 21010112130149
Emha Afif A 21010112130151
Mada Prakoso S 21010112130152
Aziola Dharma H 21010112110153
Cahyo Trie Utomo 21010112130154
Adya Dwi Rinarto 21010112130156
Hananti Nur Sayekti 21010112130157
Mila Roofi P 21010112110158
Fernando Daniel M T 21010112130159
` Agung Adyawardhana 21010112130160
Yanuar Adhiya P 21010112140161
Yoga Winursita 21010112130163

JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015
Jasa Konsultansi

Abstrak
Keberhasilan proyek pembangunan sarana dan prasarana yang dilakukan oleh
pemerintah sangat ditentukan oleh peran dari para pelaku konstruksi, salah satunya adalah
konsultan. Mekanisme rekrutmen dan seleksi jasa konsultan dalam kegiatan pengadaan
proyek konstruksi milik pemerintah dilakukan sesuai Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun
2003. Sedangkan penilaian konsultan proyek konstruksi tersebut diperinci dalam Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum Nomor 43 Tahun 2007 tentang standar dan pedoman pengadaan
jasa konsultansi. Akan tetapi, pemilihan konsultan konstruksi masih menemui banyak kendala
dalam penerapannya. Hal ini umumnya dikarenakan kriteria evaluasi yang digunakan
menimbulkan subyektifitas panitia pengadaan.

I. Pendahuluan
Keberhasilan proyek pembangunan sarana dan prasarana yang dilakukan oleh
pemerintah sangat ditentukan oleh peran dari para pelaku konstruksi yang terlibat,salah
satunya adalah keterlibatan penyedia jasa konsultasi. Konsultan menawarkan jasa berupa
keahlian dan kecakapan dalam merencanakan maupun melakukan pengawasan terhadap
jalannya proyek konstruksi. Kriteria dan standar untuk mengukur kualifikasi konsultan
tidaklah mudah ditentukan karena beberapa kriteria dalam pemilihan konsultan bersifat
intangible (prinsip tidak berwujud).
Proses pemilihan konsultan pada proyek konstruksi milik swasta belum memiliki
pedoman baku, hal ini sangat tergantung pada kebijakan perusahaan terkait. Lain halnya
dengan proses pemilihan konsultan pada proyek pemerintah. Penyedia jasa pada proyek
pemerintah memerlukan prosedur yang lebih kompetitif dibandingkan pada proyek swasta.
Pelaksanaan pengadaan jasa konsultansi pada proyek pemerintah mengacu pada
Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003. Keppres ini menunjukkan adanyatanggung
jawab pemerintah selaku pengguna jasa untuk menciptakan persaingan yang sehat. Agar
penerapan ketentuannya menjadi lebih operasional, pemerintah menyusun standar dan
pedoman pengadaan jasa konsultansi berdasarkan Keputusan Menteri Pemukiman dan
Prasarana Wilayah Nomor 257 Tahun 2004. Seiring adanya perubahan nomenklatur,
Keputusan Menteri tersebut disempurnakan menjadi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum
Nomor 43 Tahun 2007. Hal ini bertujuan agar pengguna jasa mendapatkan konsultan yang
diyakini mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik, dengan harga penawaran yang
paling menguntungkan negara.
Pemerintah berusaha memilih konsultan yang memiliki kualifikasi yang baik untuk
mencapai keberhasilan proyek dimana biaya, waktu dan kualitas terpenuhi. Meskipun
demikian, pedoman evaluasi untuk menyeleksi konsultan pada proyek pemerintah tersebut
dirasa masih memiliki kelemahan dalam hal kelengkapan kriteria, baik kriteria evaluasi
prakualifikasi maupun evaluasi penawaran. Kriteria yang digunakan untuk memilih
konsultan pun masih bersifat bias. Sehingga hal ini dapat menyebabkan keputusan yang
tidak tepat dan pada akhirnya tidak menguntungkan bagi pihak pengguna jasa.

II. Sejarah dan Perkembangan Jasa Konsultansi


Menurut literatur, konsultan pertama adalah Arthur D. Little yang mendirikan
usahanya pada tahun 1886 di Cambridge, Massachusets. Beliau memberikan bantuan
teknis (engineering) kepada kliennya. Perusahaan tersebut kini telah mengalami
kebangkrutan. Booz Allen Hamilton kemudian mendirikan perusahaan dengan struktur
serupa di awal abad 20.Kemudian pada tahun 1926, seorang professor dari Universitas
Chicago, James McKinsey, mendirikan perusahaan accounting and engineering advisors
yang memperkenalkan pendekatan dan framework yang berbeda. Ia tidak merekrut
insinyur tradisional, melainkan eksekutif berpengalaman yang di-training dengan
seperangkat analisis dan pengetahuan yang kontemporer di masa itu, meliputi strategi,
kebijakan, goal, organisasi, prosedur, facilities, dan personnel.
Sejarah mencatat inovasi yang cukup spektakuler dilakukan oleh Boston Consulting
Group (BCG). Dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, BCG mengembangkan
konsep tentang growth share matrix yang menjadi alat untuk menilai attractiveness suatu
perusahaan dalam sebuah industri. Framework ini kemudian banyak diadopsi oleh
konsultan lain dalam memahami persoalan bisnis dan peluang yang dapat dimanfaatkan.
Sejak itu, consulting firm mengalami kemajuan dan bertumbuh dengan pesat. Beberapa
melakukan merger dan konsolidasi. Beberapa yang lain melakukan rebranding dan
merubah struktur organisasinya. Begitu pula dengan pendekatan, metodologi, maupun
framework yang digunakan dan dikembangkan juga kian kompleks dan komprehensif.
III. Pengertian Jasa Konsultansi
Jasa Konsultansi adalah jasa layanan profesional yang membutuhkan keahlian tertentu
diberbagai bidang keilmuan yang mengutamakan adanya olahpikir (brainware). Jasa
konsultansi didefinisikan adalah layanan jasa keahlian profesional dalam berbagai bidang
dalam rangka mencapai sasaran yang diinginkan pengguna jasa. Output jasa konsultansi
merupakan suatu piranti lunak, nasehat, rekomendasi, rencana, rancangan, ataupun
layanan jasa profesional seperti manajemen proses, pengawasan, audit, dan sebagainya.
Di sektor konstruksi yang dikategorikan jasa konsultansi adalah jasa perencanaan
konstruksi dan jasa pengawasan konstruksi.
Konsultan adalah seorang tenaga profesional yang menyediakan jasa kepenasihatan
(consultancy service) dalam bidang keahlian tertentu, misalnya akuntansi, pajak,
lingkungan, biologi, hukum, koperasi dan lain-lain. Perbedaan antara seorang konsultan
dengan ahli biasa adalah sang konsultan bukan merupakan pegawai perusahaan sang
penggunalayan (client), melainkan seseorang yang menjalankan usahanya sendiri atau
bekerja di sebuah perusahaan kepenasihatan, serta berurusan dengan berbagai
penggunalayan dalam satu waktu.

IV. Macam-Macam Jasa Konsultansi dalam Proyek Konstruksi


Dalam kegiatan pembangunan gedung atau rehabilitasi/renovasi gedung (kecuali
renovasi ringan), terdapat beberapa kegiatan pemilihan penyedia barang/jasa seperti
pengadaan Jasa Konsultan Perencanaan, Jasa Konsultan Manajemen
Konstruksi/Pengawas, Jasa Konsultan Pengawas, Pelaksana Konstruksi. Pada sub bab ini
hanya akan dibahas mengenai jasa konsultansi saja.

a. Jasa Konsultan Manajemen konstruksi


Perbedaan dari Jasa Manajemen Konstruksi dengan Jasa Konsultan Pengawas adalah
dari jenis pekerjaan konstruksi yang akan dilaksanakan. Untuk Manajamen Konstruksi
adalah pekerjaan yang cukup kompleks minimal berlantai IV, atau bangunan dengan luas
total diatas 5000 m2, bangunan khusus atau yang melibatkan lebih dari satu konsultan
perencana maupun lebih dari satu pekerjaan pemborongan atau pekerjaan konstruksi
yang dilaksanakan lebih dari satu tahun, sedangkan Jasa Konsultan Pengawas adalah
untuk pekerjaan pembangunan gedung yang sederhana.
Dari sisi pelaksanaan tugas manajeman konstruksi sudah mulai bekerja/membantu
KPA/PPK diawal kegiatan seperti menyusun kerangka acuan kerja dan membantu
dalam proses pelelangan sampai dengan pengawasan konstruksi fisik/serah terima
pekerjaan kedua, sedangkan untuk jasa konsultan pengawas hanya membantu dalam
pelaksanaan pekerjaan konstruksi fisik sampai dengan serah terima pekerjaan kedua
dan tidak turut membantu proses pelelangan.Dengan perbedaan tersebut maka untuk
pekerjaan konstruksi yang bersifat kompleks proses penunjukan jasa konsultansi
Manajemen Konstruksi dilakukan lebih awal, sedangkan untuk pekerjaan sederhana
penunjukan pengawas bersamaan dengan proses pelelangan konstruksi.

b. Jasa Konsultan Pengawas


Konsultan pengawas adalah badan hukum yang diserahi tugas oleh pemberi tugas
untuk melaksanakan pengawasan proyek.Kegiatan pengawasan bertujuan agar hasil
pekerjaan bangunan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan.Tugas utama
pengawas sangat penting dalam pengarahan di lapangan.

Organisasi dari Pengawas Konstruksi terdiri atas:


1. Penanggung jawab proyek;
2. Penanggung jawab lapangan;
3. Pengawas pekerjaan Arsitektur;
4. Pengawas pekerjaan Struktur;
5. Pengawas pekerjaan utilitas (Mekanikal/Elektrikal)

Konsultan pengawas berfungsi melaksanakan pengawasan pada tahap konstruksi


(mengawasi seluruh kegiatan pekerjaan konstruksi mulai dari penyiapan, penggunaan
dan mutu bahan, pelaksanaan pekerjaan serta pelaksanaan hasil atas hasil pekerjaan
sebelum penyerahan)dan mulai bertugas sejak ditetapkan berdasarkan surat perintah
kerja pengawasan sampai dengan penyerahan kedua pekerjaan oleh pemborong.
Konsultan Pengawas dapat dirangkap oleh Perencana untuk pekerjaan dengan klasifikasi
konsultan kelas kecil.

Kegiatan konsultan pengawasan konstruksi adalah sebagai berikut:


1. Memeriksa dan mempelajari dokumen untuk pelaksanaan konstruksi yangakan
dijadikan dasar dalam pengawasan;
2. Mengawasi pemakaian bahan, peralatan dan metode pelaksanaan serta mengawasi
ketepatan waktu dan biaya pekerjaan konstruksi;
3. Mengawasi pelaksanaan pekerjaan konstruksi dari segi kualitas, kuantitas dan laju
pencapaian volume/realisasi fisik;
4. Mengumpulkan data dan informasi di lapangan untuk memecahkan persoalan yang
terjadi selama pekerjaan konstruksi;
5. Menyelenggarakan rapat-rapat lapangan secara berkala dan membuat laporan
mingguan dan bulanan pekerjaan pengawasan, dengan masukan hasil rapat-rapat
lapangan, laporan harian, mingguan dan bulanan pekerjaan konstruksi yang dibuat
oleh pemborong;
6. Menyusun BA persetujuan kemajuan pekerjaan untuk pembayaran angsuran,
pemeliharaan pekerjaan dan serah terima pertama dan kedua pekerjaan konstruksi
yang dibuat oleh pemborong;
7. Meneliti gambar-gambar untuk pelaksanaan (shop drawings) yang diajukan
kontraktor dan meneliti gambar-gambar yang sesuai pelaksanaan di lapangan ( As
Built Drawings);
8. Menyusun daftar cacat/kerusakan sebelum serah terima I mengawasi perbaikan pada
masa pemeliharaan dan menyusun laporan akhir pekerjaan pengawasan;
9. Bersama konsultan perencana menyusun petunjuk pemeliharaan dan pengunaan
bangunan tersebut;
10. Membantu pengelola proyek dalam menyusun dokumen pendaftaran dan membantu
mengurus IPB (Ijin Penggunaan Bangunan) dari pemda setempat.

Berikut adalah hak dan kewajiban Konsultan Pengawas:


a) Kewajiban konsultan pengawas secara umum:
1. Mengawasi pelaksanan pekerjaan konstruksi dari segi kualitas, kuantitas dan laju
pencapaian volume/realisasi fisik.
2. Menilai hasil pelaksanaan pekerjaan dan membuat berita acara penyerahan pekerjaan.
3. Mengadakan pemeriksaan terhadap semua bahan yang dipakai dan berhak menolak
jika tidak memenuhi persyaratan teknis.
4. Mengambil kebijaksanaan lapangan apabila terdapat kesulitan teknis di lapangan,
misalnya:
Mengadakan perubahan-perubahan kecil pada gambar-gambar untuk penyesuaian
pelaksanaan yang tidak mempengaruhi harga pekerjaan.
Perubahan-perubahan pekerjaan yang membawa akibat pada perubahan harga
pekerjaan/kontrak, harus diajukan terlebih dahulu kepada Pemimpin Pelaksana
Kegiatan untuk mendapatkan persetujuan.
Menyelesaikan masalah-masalah yang menyebabkan keterlambatan pelaksanaan.

b) Hak konsultan pengawas secara umum:


1. Merupakan wakil pemberi tugas dalam hal pengawasan pelaksanaan pekerjaan.
2. Berhak menolak pekerjaan dari kontraktor berdasarkan penilaian-penilaian yang
diberikan.

c. Jasa Konsultan Perencana


Konsultan perencana adalah suatu badan hukum yang diserahi tugas oleh pimpinan
proyek untuk melaksanakan perencanaan pekerjaan.

Organisasi dari Perencana terdiri atas :


1. Penanggung jawab proyek;
2. Tenaga Ahli Arsitektur;
3. Tenaga Ahli Struktur;
4. Tenaga Ahli Utilitas (Mekanikal/Elektrikal);
5. Tenaga Ahli Estimasi Biaya;
6. Tenaga Ahli lainnya.

Konsultan Perencanaan berfungsi melaksanakan pengadaan dokumen perencanaan,


dokumen lelang, dokumen pelaksanaan konstruksi, memberikan penjelasan pekerjaan
pada waktu pelelangan dan memberikan penjelasan serta saran penyelesaian terhadap
persoalan perencanaan yang timbul selama tahap lnstruksi dan Konsultan Perencana
mulai bertugas sejak tahap perencanaan sampai dengan serah terima pekerjaan pertama
oleh pemborong.Konsultan Perencanaan tidak dapat merangkap sebagai pengawas untuk
pekerjaan yang bersangkutan, kecuali untuk pekerjaan dengan klasifikasi konsultan kelas
kecil.

Kegiatan konsultan perencanaan meliputi perencanaan lingkungan, site/tapak


bangunan atau perencanaan fisik bangunan gedung negara, kegiatan konsultan perencana
meliputi:
1. Persiapan atau konsepsi perencanaan;
2. Penyusunan pra rencana, membuat rencana tapak, prarencana bangunan, perkiraan
biaya, laporan perencanaan dan mengurus perijinan sampai mendapatkan advis
planning, keterangan persyaratan bangunan dan lingkungan dan IMB pendahuluan
dari Pemda setempat;
3. Penyusunan pengembangan rencana seperti rencana arsitektur, rencana struktur,
rencana utilitas beserta uraian konsep perhitungannya, garis besar spesifikasi teknis
dan perkiraan biaya;
4. Penyusunan rencana detail seperti membuat gambar-gambar detail, rencana kerja dan
syarat, rincian volume pelaksanaan pekerjaan, rencana anggaran biaya pekerjaan
konstruksi dan menyusun laporan akhir pekerjaan;
5. Membantu PPK/ULP dalam menyusun program dan pelaksanaan pelelangan
(penjelasan pekerjaan termasuk menyusun Berita Acara penjelasan pekerjaan,
membantu melaksanakan evaluasi penawaran, menyusun kembali dokumen
pelelangan dan melaksanakan tugas-tugas yang sama jika terjadi pelelangan ulang);
6. Melakukan pengawasan berkala, seperti memeriksa pelaksanaan pekerjaan dan
kesesuaiannya dengan rencana secara berkala, melakukan penyesuaian gambar dan
spesifikasi teknis pelaksanaan bila ada perubahan, memberikan penjelasan terhadap
persoalan-persoalan yang timbul selama masa konstruksi, memberikan rekomendasi
tentang penggunaan bahan dan membuat laporan akhir pengawasan berkala;
7. Menyusun petunjuk penggunaan, pemeliharaan dan perawatan gedung, termasuk
petunjuk yang menyangkut peralatan dan perlengkapan mekanikal dan elektrikal
bangunan.

Berikut adalah hak dan kewajiban yang dimilik Konsultan Perencana


Kewajiban konsultan perencana secara umum:
a. Menyusun uraian, maksud dan tujuan perencanaan.
b. Mengumpulkan data-data lapangan, penyelidikan tanah dan lingkungan.
c. Membuat perencanaan dan pengurusan untuk mendapatkan izin pendirian
bangunan serta hasil penelitian dan pengujian anggaran untuk pelaksanaan
konstruksi fisik.
d. Membuat gambar-gambar kerja dan perhitungan konstruksi, listrik, tata udara
serta plumbing.
e. Membuat gambar detail, rencana kerja dan syarat-syarat (RKS), rencana volume
dan biaya, jadwal pelaksanaan dan pelelangan.
f. Memberi penjelasan pekerjaan (Aanwijzing) dan melakukan pengawasan secara
berkala dari segi arsitektur.

Hak konsultan perencana secara umum:


a. Berhak mendapatkan imbalan jasa atas kerja yang telah dilakukan.
b. Berhak mendapatkan peninjauan dan dokumentasi terhadap pelaksanaan
pekerjaan.
c. Berhak menolak pekerjaan dari kontraktor berdasarkan penilaian-penilaian yang
diberikan.

V. Undang-Undang yang Mengatur


PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 2012
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 54 TAHUN
2010 TENTANG PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH
Pasal 1
16. Jasa Konsultansi adalah jasa layanan profesional yang membutuhkan keahlian tertentu
diberbagai bidang keilmuan yang mengutamakan adanya olah pikir (brainware).
17. Jasa Lainnya adalah jasa yang membutuhkan kemampuan tertentu yang
mengutamakan keterampilan (skillware) dalam suatu sistem tata kelola yang telah
dikenal luas di dunia usaha untuk menyelesaikan suatu pekerjaan atau segala
pekerjaan dan/atau penyediaan jasa selain Jasa Konsultansi, pelaksanaan Pekerjaan
Konstruksi dan pengadaan Barang.
27. Seleksi Umum adalah metode pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi untuk pekerjaan
yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Jasa Konsultansi yang memenuhi syarat.
28. Seleksi Sederhana adalah metode pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi untuk Jasa
Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

Pasal 15
1. Pemilihan Penyedia Barang/Jasa dalam ULP dilakukan oleh Kelompok Kerja ULP.
2. Keanggotaan Kelompok Kerja ULP wajib ditetapkan untuk:
A. Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa lainnya dengan nilai diatas
Rp200.000.000,00 (duaratus juta rupiah);
B. Pengadaan Jasa Konsultansi dengan nilai diatas Rp50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah).
Pasal 16
2. Paket Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah) dapat dilaksanakan oleh Kelompok Kerja ULP atau Pejabat
Pengadaan.

Pasal 42
1. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi pada prinsipnya dilakukan melalui Metode
Seleksi Umum.
2. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi melalui Metode Seleksi Umum diumumkan
sekurang kurangnya di website Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi,
papan pengumuman resmi untuk masyarakat, dan Portal Pengadaan Nasional melalui
LPSE, sehingga masyarakat luas dan dunia usaha yang berminat serta memenuhi
kualifikasi dapat mengikutinya.

Pasal 43
1. Seleksi Sederhana dapat dilakukan terhadap Pengadaan Jasa Konsultansi dalam hal
Seleksi Umum dinilai tidak efisien dari segi biaya seleksi.
2. Seleksi Sederhana dapat dilakukan untuk pengadaan Jasa Konsultansi yang:
a. bersifat sederhana; dan
b. bernilai paling tinggi Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
3. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi melalui Metode Seleksi Sederhana diumumkan
paling kurang di website Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah/Institusi, papan
pengumuman resmi untuk masyarakat, dan Portal Pengadaan Nasional melalui LPSE,
sehingga masyarakat luas dan dunia usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi
dapat mengikutinya.
4. Daftar pendek dalam Seleksi Sederhana berjumlah 3 (tiga) sampai 5 (lima) Penyedia
Jasa Konsultansi.

Pasal 47
1. Kelompok Kerja ULP/Pejabat Pengadaan menyusun dan menetapkan metode
pemasukan Dokumen Penawaran.
2. Metode pemasukan Dokumen Penawaran terdiri atas:
a. metode satu sampul;
b. metode dua sampul; atau
c. metode dua tahap.
3. Metode satu sampul digunakan untuk Pengadaan Barang/Jasa yang sederhana, dimana
evaluasi teknis tidak dipengaruhi oleh harga dan memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a. Pekerjaan yang bersifat sederhana dengan standar harga yang telah ditetapkan
Pemerintah;
b. Pengadaan Jasa Konsultansi dengan KAK yang sederhana; atau
c. Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang spesifikasi teknis atau
volumenya dapat dinyatakan secara jelas dalam Dokumen Pengadaan.
4. Selain Pengadaan Barang/Jasa yang memiliki karakteristik sebagaimana dimaksud
pada ayat (3), metode satu sampul digunakan dalam Penunjukan Langsung/Pengadaan
Langsung/Kontes/Sayembara.
5. Metode dua sampul digunakan untuk Pengadaan Barang/Jasa dimana evaluasi teknis
dipengaruhi oleh penawaran harga, dan digunakan untuk:
a. Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang menggunakan
evaluasi sistem nilai atau sistem biaya selama umur ekonomis.
b. Pengadaan Jasa Konsultansi yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. dibutuhkan penilaian yang terpisah antara persyaratan teknis dengan harga
penawaran, agar penilaian harga tidak mempengaruhi penilaian teknis; atau
2. pekerjaan bersifat kompleks sehingga diperlukan evaluasi teknis yang lebih
mendalam.

Pasal 49
1. Metode evaluasi penawaran dalam pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi dapat
dilakukan dengan menggunakan:
a. metode evaluasi berdasarkan kualitas;
b. metode evaluasi berdasarkan kualitas dan biaya;
c. metode evaluasi berdasarkan Pagu Anggaran; atau
d. metode evaluasi berdasarkan biaya terendah.
1. Semua evaluasi penawaran Pekerjaan Jasa Konsultansi harus diikuti dengan
klarifikasi dan negosiasi, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Harga Satuan yang dapat dinegosiasikan yaitu biaya langsung nonpersonil yang
dapat diganti (reimburseable cost) dan/atau biaya langsung personil yang dinilai
tidak wajar;
b. aspek biaya yang perlu diklarifikasi atau negosiasi terutama:
1. kesesuaian rencana kerja dengan jenis pengeluaran biaya;
2. volume kegiatan dan jenis pengeluaran; dan
3. biaya satuan dibandingkan dengan biaya yang berlaku di pasar/kewajaran
biaya;
c. klarifikasi dan negosiasi terhadap unit biaya langsung personil dilakukan
berdasarkan daftar gaji yang telah diaudit dan/atau bukti setor Pajak Penghasilan
tenaga ahli konsultan yang bersangkutan;
d. biaya satuan dari biaya langsung personil paling tinggi 4 (empat) kali gaji dasar
yang diterima tenaga ahli tetap dan paling tinggi 2,5 (dua koma lima) kali
penghasilan yang diterima tenaga ahli tidak tetap;
e. unit biaya langsung personil dihitung berdasarkan satuan waktu yang telah
ditetapkan.

Pasal 58
1. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi dengan metode Seleksi Umum meliputi tahapan
sebagai berikut:
a. metode evaluasi kualitas prakualifikasi dengan dua sampul yang meliputi
kegiatan:
1) pengumuman prakualifikasi;
2) pendaftaran dan pengambilan Dokumen Kualifikasi;
3) pemberian penjelasan (apabila diperlukan);
4) pemasukan dan evaluasi Dokumen Kualifikasi;
5) pembuktian kualifikasi;
6) penetapan hasil kualifikasi;
7) pemberitahuan dan pengumuman hasil kualifikasi;
8) sanggahan kualifikasi;
9) undangan;
10) pengambilan Dokumen Pemilihan;
11) pemberian penjelasan;
12) pemasukan Dokumen Penawaran;
13) pembukaan dokumen sampul I;
14) evaluasi dokumen sampul I;
15) penetapan peringkat teknis;
16) pemberitahuan dan pengumuman peringkat teknis;
17) sanggahan;
18) sanggahan banding (apabila diperlukan);
19) undangan pembukaan dokumen sampul II;
20) pembukaan dan evaluasi dokumen sampul II;
21) undangan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya;
22) klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya; dan
23) pembuatan Berita Acara Hasil Seleksi.

b. metode evaluasi kualitas dan biaya serta metode evaluasi pagu anggaran
prakualifikasi dengan dua sampul yang meliputi kegiatan:
1) pengumuman prakualifikasi;
2) pendaftaran dan pengambilan Dokumen Kualifikasi;
3) pemberian penjelasan (apabila diperlukan);
4) pemasukan dan evaluasi Dokumen Kualifikasi;
5) pembuktian kualifikasi;
6) penetapan hasil kualifikasi;
7) pemberitahuan dan pengumuman hasil kualifikasi;
8) sanggahan kualifikasi;
9) undangan;
10) pengambilan Dokumen Pemilihan;
11) pemberian penjelasan;
12) pemasukan Dokumen Penawaran;
13) pembukaan dokumen sampul I;
14) evaluasi dokumen sampul I;
15) penetapan peringkat teknis;
16) pemberitahuan dan pengumuman peringkat teknis;
17) undangan pembukaan dokumen sampul II;
18) pembukaan dan evaluasi dokumen sampul II;
19) penetapan pemenang;
20) pemberitahuan dan pengumuman pemenang;
21) sanggahan;
22) sanggahan banding (apabila diperlukan);
23) undangan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya;
24) klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya; dan
25) pembuatan Berita Acara Hasil Seleksi.

c. metode evaluasi biaya terendah/pagu anggaran prakualifikasi dengan satu sampul


yang meliputi kegiatan:
1) pengumuman prakualifikasi;
2) pendaftaran dan pengambilan Dokumen Kualifikasi;
3) pemberian penjelasan (apabila diperlukan);
4) pemasukan dan evaluasi Dokumen Kualifikasi;
5) pembuktian kualifikasi;
6) penetapan hasil kualifikasi;
7) pemberitahuan dan pengumuman hasil kualifikasi;
8) sanggahan kualifikasi;
9) undangan;
10) pemberian penjelasan;
11) pemasukan Dokumen Penawaran;
12) pembukaan Dokumen Penawaran;
13) evaluasi administrasi, teknis dan biaya;
14) penetapan pemenang;
15) pemberitahuan dan pengumuman pemenang;
16) sanggahan;
17) sanggahan banding (apabila diperlukan);
18) undangan klarifikasi dan negosiasi;
19) klarifikasi dan negosiasi; dan
20) pembuatan Berita Acara Hasil Seleksi.

2. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi dengan Metode Seleksi Sederhana dengan


metode evaluasi Pagu Anggaran atau metode biaya terendah dengan satu sampul
meliputi tahapan sebagai berikut:
a. pengumuman prakualifikasi;
b. pendaftaran dan pengambilan Dokumen Kualifikasi;
c. pemberian penjelasan (apabila diperlukan);
d. pemasukan dan evaluasi Dokumen Kualifikasi;
e. pembuktian kualifikasi;
f. penetapan hasil kualifikasi;
g. pemberitahuan dan pengumuman hasil kualifikasi;
h. sanggahan kualifikasi;
i. undangan;
j. pemberian penjelasan;
k. pemasukan Dokumen Penawaran;
l. pembukaan Dokumen Penawaran;
m. evaluasi administrasi, teknis, dan biaya;
n. penetapan pemenang;
o. pemberitahuan dan pengumuman pemenang;
p. sanggahan;
q. sanggahan banding (apabila diperlukan);
r. undangan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya;
s. klarifikasi dan negosiasi; dan
t. pembuatan Berita Acara Hasil Seleksi.

3. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi dengan Metode Penunjukan Langsung untuk


penanganan darurat meliputi tahapan sebagai berikut:
a. PPK dapat menerbitkan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) kepada :
1. Penyedia Jasa Konsultansi terdekat yang sedang melaksanakan pekerjaan
sejenis di lokasi penanganan darurat; atau
2. Penyedia Jasa Konsultansi lain yang dinilai mampu danmemenuhi kualifikasi
untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, bila tidak ada Penyedia Jasa
Konsultansi sebagaimana dimaksud pada angka 1.
b. Proses dan administrasi Penunjukan Langsung dilakukan secara simultan, sebagai
berikut :
1) opname pekerjaan di lapangan;
2) penetapan ruang lingkup, jumlah, dan kualifikasi tenaga ahli serta waktu
penyelesaian
3) pekerjaan;
4) penyusunan Dokumen Pengadaan;
5) penyusunan dan penetapan HPS;
6) penyampaian Dokumen Pengadaan;
7) pemasukan Dokumen Penawaran;
8) pembukaan dan evaluasi Dokumen Penawaran;
9) klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya;
10) penyusunan Berita Acara Hasil Penunjukan Langsung;
11) penetapan Penyedia; dan
12) pengumuman Penyedia.

4. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi dengan Metode Penunjukan Langsung untuk


bukan penanganan darurat meliputi tahapan sebagai berikut:
a. undangan kepada peserta terpilih dilampiri Dokumen Pengadaan;
b. pemasukan, evaluasi, dan pembuktian kualifikasi;
c. pemberian penjelasan;
d. pemasukan Dokumen Penawaran;
e. pembukaan dan evaluasi penawaran;
f. klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya;
g. pembuatan Berita Acara Hasil Penunjukan Langsung;
h. penetapan Penyedia; dan
i. pengumuman.
5. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi dengan metode Pengadaan Langsung dilakukan
dengan permintaan penawaran yang diikuti dengan klarifikasi serta negosiasi teknis
dan biaya kepada calon Penyedia.

6. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi dengan metode Sayembara meliputi paling


kurang tahapan sebagai berikut:
a. pengumuman;
b. pendaftaran dan pengambilan Dokumen Sayembara;
c. pemberian penjelasan;
d. pemasukan proposal;
e. pembukaan proposal;
f. pemeriksaan administrasi dan penilaian proposal teknis;
g. pembuatan Berita Acara Hasil Sayembara;
h. penetapan pemenang; dan
i. pengumuman pemenang.

7. Pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi Perorangan menggunakan tahapan Seleksi


Umum pascakualifikasi satu sampul, meliputi kegiatan sebagai berikut:
a. pengumuman;
b. pendaftaran dan pengambilan Dokumen Pengadaan;
c. pemberian penjelasan;
d. pemasukan Dokumen Penawaran;
e. pembukaan Dokumen Penawaran;
f. evaluasi penawaran;
g. evaluasi kualifikasi;
h. pembuktian kualifikasi;
i. pembuatan Berita Acara Hasil Evaluasi;
j. penetapan pemenang;
k. pengumuman pemenang;
l. sanggahan;
m. sanggahan banding (apabila diperlukan);
n. undangan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya;
o. klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya; dan
p. pembuatan Berita Acara Hasil Seleksi.

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 08 / PRT / M / 2011


PEMBAGIAN SUBKLASIFIKASI DAN SUBKUALIFIKASI USAHA JASA
KONSTRUKSI
Pasal 8
1. Klasifikasi bidang usaha jasa pengawasan arsitektur, sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 ayat (1) huruf a meliputi subklasifikasi bidang usaha jasa pengawas
administrasi kontrak.
2. Klasifikasi bidang usaha jasa usaha jasa pengawasan rekayasa (engineering),
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b meliputi subklasifikasi bidang
usaha:
A. jasa pengawas pekerjaan konstruksi bangunan gedung;
B. jasa pengawas pekerjaan konstruksi teknik sipil transportasi;
C. jasa pengawas pekerjaan konstruksi teknik sipil air; dan
D. jasa pengawas pekerjaan konstruksi dan instalasi proses dan fasilitas industri.
3. Klasifikasi bidang usaha jasa pengawasan penataan ruang, sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 5 ayat (1) huruf c meliputi subklasifikasi bidang usaha jasa pengawas dan
pengendali penataan ruang.

Pasal 9
Klasifikasi bidang usaha jasa konsultansi lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal
5 ayat (1) huruf d meliputi subklasifikasi bidang usaha:
A. jasa konsultansi lingkungan;
B. jasa konsultansi estimasi nilai lahan dan bangunan;
C. jasa manajemen proyek terkait konstruksi bangunan;
D. jasa manajemen proyek terkait konstruksi pekerjaan teknik sipil transportasi;
E. jasa manajemen proyek terkait konstruksi pekerjaan teknik sipil keairan;
F. jasa manajemen proyek terkait konstruksi pekerjaan teknik sipil lainnya;
G. jasa manajemen proyek terkait konstruksi pekerjaan konstruksi proses dan fasilitas
industrial; dan
H. jasa manajemen proyek terkait konstruksi pekerjaan sistem kendali lalu lintas.

Pasal 10
Klasifikasi bidang usaha jasa perencanaan dan pengawasan yang bersifat spesialis,
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) meliputi subklasifikasi bidang usaha:
A. jasa pembuat prospektus geologi dan geofisika;
B. jasa survey bawah tanah;
C. jasa survey permukaan tanah;
D. jasa pembuat peta;
E. jasa penguji dan analisa komposisi dan tingkat kemurnian;
F. jasa penguji dan analisa parameter fisikal;
G. jasa penguji dan analisa sistem mekanikal dan elektrikal; dan
H. jasa inspeksi teknikal.

Bagian Kedua
Pembagian Subkualifikasi Usaha Perencanaan Dan Pengawasan Konstruksi
Pasal 19
Pembagian subkualifikasi usaha perencanaan dan pengawasan konstruksi ditentukan
berdasarkan persyaratan dan kemampuan yang meliputi :
A. kekayaan bersih;
B. jumlah dan kualifikasi tenaga ahli untuk subklasifikasi/klasifikasi;
C. pengalaman;
D. penanggung jawab klasifikasi (PJK);
E. penanggung jawab teknik (PJT);
F. penanggung jawab badan usaha (PJBU);
G. kemampuan melaksanakan pekerjaan;
H. batasan nilai suatu pekerjaan; dan
I. maksimum jumlah klasifikasi dan subklasifikasi

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA


NOMOR : 14/PRT/M/2013
PERUBAHAN PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR
07/PRT/M/2011 TENTANG STANDAR DAN PEDOMAN PENGADAAN
PEKERJAAN KONSTRUKSI DAN JASA KONSULTASI
Pasal 1
11. Jasa Konsultansi adalah jasa layanan profesional yang membutuhkan keahlian tertentu
di berbagai bidang keilmuan yang mengutamakan adanya olah pikir (brainware).

Pasal 4a
2. Nilai paket pekerjaan Jasa Konsultansi sampai dengan Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus
lima puluh juta rupiah) diperuntukkan bagi usaha kecil.
3. Jasa konsultansi dapat dilakukan oleh konsultan perorangan dengan nilai sampai
dengan Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah).

Pasal 4b
1. Penggunaan surat jaminan untuk paket pekerjaan konstruksi sampai dengan Rp
2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) dan jasa konsultansi sampai
dengan Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) menggunakan surat
jaminan yang dikeluarkan oleh Bank Umum/Perusahaan Penjaminan/ Perusahaan
Asuransi, bersifat mudah dicairkan dan tidak bersyarat (unconditional), dan
diserahkan oleh Penyedia Barang/Jasa kepada PPK/Kelompok Kerja ULP untuk
menjamin terpenuhinya kewajiban Penyedia Barang/Jasa dengan substansi sesuai
yang tercantum dalam dokumen pengadaan.
2. Penggunaan surat jaminan untuk paket pekerjaan konstruksi di atas Rp
2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) dan jasa konsultansi di atas Rp
750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) menggunakan surat jaminan yang
dikeluarkan oleh Bank Umum, bersifat mudah dicairkan dan tidak bersyarat
(unconditional), dan diserahkan oleh Penyedia Barang/Jasa kepada PPK/Kelompok
Kerja ULP untuk menjamin terpenuhinya kewajiban Penyedia Barang/Jasa dengan
substansi sesuai yang tercantum dalam dokumen pengadaan.

VI. Syarat-syarat Pendirian Perusahaan Konsultansi


Sesuai dengan keputusan yang tercantum pada KEPRES No. 29 Tahun 1984 untuk
disebut sebagai pihak konsultan perencana, maka harus memenuhi syarat-syarat
administratif dan teknis.

1. Adapun syarat administratif sebagai berikut :


a. Memiliki akte notaris yang berisi tentang kepemilikan modal, bentuk badan hukum
serta organisasi.
b. Memiliki Surat Ijin Usaha Jasa Konstruksi (SIUJK).
c. Memiliki Nomor Wajib Pajak (NPWP).
d. Terdaftar pada panitia pengadilan atau departemen kehakiman (tergantung bentuk
usahanya).
e. Terdaftar pada badan perencana.
Untuk terdaftar pada DPU Propinsi Daerah Tingkat I (bidang Cipta Karya) suatu
konsultan harus memenuhi :
a) Mengisi formulir dan dokumen pendaftaran dengan lampiran-lampiran :
Akte pendirian.
SIUJK.
NPWP.
Mempunyai referensi bank.
b). Bukti-bukti administratif
Pimpinan perusahaan atau cabang.
Menyanggupi untuk bertanggung jawab kepada semua hasil perencanaan itu
sendiri.

2. Syarat teknis
a. Memenuhi persyaratan tenaga-tenaga dalam bidang teknik pembangunan yang dapat
dibuktikan dalam ijazah keahlian, pengalaman, dan referensi dari ahli perusahaan.
b. Memiliki nama perusahaan, persyaratan terdaftar pada Dirjen Cipta Karya tersebut,
umumnya hanya untuk bangunan-bangunan swasta biasanya atas kepercayaan
pemberi tugas dan diperkuat dengan bukti :
SIUJK
Referensi bank
Referensi pengalaman kerja

VII. Prosedur Mendirikan Perusahaan Konsultansi


1. Membuat akte perusahaan ke notaris. Biasanya akte perusahaan berisi informasi
tentang nama perusahaan, bergerak bidang apa, nama para pemilik modal,
pengurus perusahaan seperti direktur utama, direktur, dan para komisaris.
2. Mendapatkan Surat Keterangan Domisili Usaha. Biasanya untuk mendapatkan
surat ini perlu membawa salinan akte perusahaan, KTP Direktur atau
penanggungjawab, dan juga salinan sewa menyewa atau membawa sertifikat
rumah tergantung tempat kontrak atau hak milik sendiri. Surat ini ditandatangani
lurah atau kepala desa dan diketahui oleh camatpemerintah setempat. Biasanya
biaya administrasi sekitar Rp 200.00 sampai Rp 300.000 bisa juga ada yang lebih
dari itu.
3. Mengurus NPWP perusahaan. Untuk mendapatkan perusahaan, NPWP
perusahaan adalah mutlak. Untuk mendapatkan NPWP, memerlukan salinan akte
perusahaan dan surat keterangan domisili. Pembuatan NPWP hanya butuh
beberapa jam dan tidak dikenakan biaya administrasi.
4. Mendapat Surat Keputusan pendirian perusahaan dari Departemen Hukum dan
HAM. Surat ini diurus oleh notaris. Bila di kantor Departemen Hukum dan HAM,
di loket pengurusan SK, tertera biaya kira-kira Rp 1.000.000. Bila meminta
bantuan notaris tentu ada biaya tambahan.
5. Mengurus SIUP. SIUP merupakan bagian dari proses mendirikan perusahaan
agar perusahaan bisa beroperasi.Persyaratan untuk mendapatkan SIUP
Mengisi Formulir pengajuan SIUP dengan materai
Fotocopy KTP penanggung jawab perusahaan (Direktur)
Fotocopy NPWP Direktur
Surat keterangan Domisili Usaha
Fotocopy akte pendirian dan pengesahannya (SK dari Departemen Hukum
dan HAM)
6. Mengurus Tanda Daftar Perusahaan (TDP).Persyaratan untuk mendapatkan TDP
Mengisi formulir pengajuan TDP dengan materai
Fotocopy KTP penanggung jawab perusahaan (Direktur)
Pas Photo Direktur (berwarna dan berukuran 3*4 sebanyak 2 lembar)
Fotocopy NPWP Direktur
Surat Keterangan Domisili Usaha
Fotcopy akte pendirian dan pengesahannya (SK dari Departemen Hukum
dan HAM)
7. Mengurus Pengusaha Kena Pajak (PKP). Biasanya ini opsional dan untuk
penghasilan kotor perusahaan per tahun minimal Rp 5 Miliar. Bila mengikuti
tender di pemerintahan, no PKP perlu dimiliki.

VIII. Struktur Organisasi Perusahaan Konsultansi


Contoh Struktur Organisasi Perusahaan Konsultan.
Komisaris adalah sekelompok orang yang dipilih atau ditunjuk untuk mengawasi
kegiatan suatu perusahaan.
Direktur utama adalah seseorang yang ditunjuk untuk memimpin PT.Direktur dapat
seseorang yang memiliki perusahaan atau seseorang yang professional.

IX. Kualifikasi SBU Konsultan


a. Kualifikasi Gred 2
1. Bentuk Badan Usaha
Permohonan sertifikasi badan usaha Jasa Pengawas Konstruksi (konsultan) dengan
kualifikasi Gred 2, dapat diajukan oleh badan usaha yang berbentuk;
i. Perseroan Terbatas (PT) swasta nasional
ii. Koperasi
iii. Firma dan
iv. Perseroan Komanditer (CV)

2. Tenaga Ahli
Untuk dapat mengajukan permohonan Sertifikasi Badan Usaha dengan kualifikasi
Gred 2 setiap perusahaan minimal harus memiliki tenaga ahli bersertifikat
keterampilan (SKT) untuk dapat ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Teknik
(PJT) dengan ketentuan sebagai berikut;
1.) Penanggung Jawab Teknik (PJT)
a. 1 orang tenaga ahli harus minimal harus memiliki SKT tingkat III
untuk ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Teknik (PJT).
b. PJT ini dapat dirangkap oleh Penanggung Jawab Badan Usaha
(pimpinan perusahaan)
2.) Penanggung Jawab Bidang (PJB)

Untuk permohonan sertifikasi golongan kecil dengan kualifikasi Gred 4, Gred 3 atau
Gred 2 tidak dipersyaratkan adanya Penanggung Jawab Bidang (PJB).

3. Kekayaan Bersih
Perusahaan yang mengajukan permohonan sertifikasi badan usaha dengan
kualifikasi Gred 2 harus memiliki kekayaan bersih minimal Rp. 50 juta sampai
dengan Rp. 600 juta.

4. Batasan Jumlah Bidang dan Sub Bidang


Batas maksimum sub bidang yang bisa diajukan untuk kualifikasi Gred 2 adalah 4
sub bidang.

5. Peryaratan Lainnya
Tidak dipersyaratkan pengalaman kerja

b. Kualifikasi Gred 3
1. Bentuk Badan Usaha
Permohonan sertifikasi badan usaha Jasa Perencana dan Jasa Pengawas
Konstruksi dengan kualifikasi Gred 3, hanya dapat diajukan oleh badan usaha
yang berbentuk;Perseroan Terbatas (PT), tidak termasuk untuk badan usaha PT
PMA

2. Tenaga Ahli
Untuk dapat mengajukan permohonan Sertifikasi Badan Usaha dengan
kualifikasi Gred 3 setiap perusahaan harus memiliki tenaga ahli bersertifikat
keahlian (SKA) untuk dapat ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Teknik
(PJT) dan Penanggung Jawab Bidang/Layanan (PJB/PJL) dengan ketentuan
sebagai berikut;
Penanggung Jawab Teknik (PJT)
1 orang tenaga ahli harus memiliki SKA minimal ahli muda untuk
ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Teknik (PJT).
PJT ini dapat dirangkap oleh Penanggung Jawab Badan Usaha
(pimpinan perusahaan)

Penanggung Jawab Bidang/Layanan (PJB/T)


i. Tenaga ahli harus memiliki SKA minimal ahli muda sesuai bidangnya
untuk ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Bidang/Layanan (PJB/L).
ii. Jumlah PJB/PJL ini 1 orang per-bidang
iii. Salah satu PJB dapat dirangkap oleh PJT

3. Kekayaan Bersih
Perusahaan yang mengajukan permohonan sertifikasi badan usaha dengan
kualifikasi Gred 3 harus memiliki kekayaan bersih sampai Rp. 200 juta sampai
dengan Rp. 1 milyar.

4. Batas Jumlah Bidang & Sub Bidang


kualifikasi Gred 3 untuk 3 bidang/layanan dengan jumlah 5 sub bidang/layanan,
dapat diberikan oleh perusahaan baru berdiri tanpa Pengalaman kerja.kualifikasi
Gred 3 untuk 3 bidang/layanan dengan jumlah 10 sub bidang/layanan, dapat
diberikan kepada perusahaan baru dengan pengalamanmaksimal 1 tahun sejak
bediri. Kualifikasi Gred 3 untuk 7 bidang/layanan dengan jumlah 25 sub
bidang/layanan, dapat diberikan kepada perusahaan yang telah memiliki pengelaman
kerja sesuai sub bidang

c. Kualifikasi Gred 4
1. Bentuk Badan Usaha
Permohonan sertifikasi badan usaha Jasa Perencana Konstruksi dan Jasa Pengawas
Konstruksi dengan kualifikasi Gred 4, hanya dapat diajukan oleh badan usaha yang
berbentuk;
1). Perseroan Terbatas (PT) swasta nasional
2). Perseroan Terbatas (PT) yang didirikan dalam rangka Penanaman Modal Asing
(PMA)
2. Tenaga Ahli
Untuk dapat mengajukan permohonan Sertifikasi Badan Usaha kualifikasi Gred 4
setiap perusahaan harus memiliki tenaga ahli bersertifikat keahlian (SKA) untuk
dapat ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Teknik (PJT) dan Penanggung Jawab
Bidang/Layanan (PJB/PJL) dengan ketentuan sebagai berikut;
Penanggung Jawab Teknik (PJT)
1). 1 orang tenaga ahli harus memiliki SKA minimal ahli madya untuk ditetapkan
sebagai Penanggung Jawab Teknik (PJT).
2). PJT ini tidak dapat dirangkap oleh Penanggung Jawab Badan Usaha (pimpinan
perusahaan/PJBU) atau PJB/L
Penanggung Jawab Bidang/Layanan (PJB/L)
1). Tenaga ahli harus memiliki SKA minimal ahli muda sesuai bidangnya untuk
ditetapkan sebagai Penanggung Jawab Bidang/Layanan (PJB/L).
2). Jumlah PJB/PJL ini 1 orang per-bidang
3). PJB tidak dapat dirangkap oleh PJT/PJBU
3. Kekayaan Bersih
Perusahaan yang mengajukan permohonan sertifikasi badan usaha dengan
kualifikasi Gred 4 harus memiliki kekayaan bersih minimal Rp. 1 milyar
4. Batas Jumlah Bidang & Sub Bidang
Kualifikasi Gred 4 tidak terbatas, sesuai kompetensinya

X. Pihak yang bersangkutan dengan jasa Konsultansi/ Personil Konsultansi


Konsultansi konstruksi adalah jasa perencanaan dan pengawasan konstruksi, dan
pihak pelaksana konsultansi disebut konsultan. Konsultan bisa disebut juga dengan pihak
yang dipekerjakan owner sebagai perwakilan owner saat pelaksaan proyek sedang
berlangsung.
Tentu saja dengan tugas yang sangat penting, jasa konsultansi berhubungan dengan
beberapa pihak yang bertujuan untuk kelancaran suatu proyek, baik dalam proses
pendirian jasa konsultan maupun saat proyek konstruksi sedang berlangsung. pihak
pihak tersebut antara lain:
1.) Notaris
Notaris adalah pihak yang menerbitkan surat-surat tentang pendirian perusahaan
konsultan

2.) Kantor Pajak


Pada proses awal pendirian suatu jasa konsultan, hal yang harus diurus adalah
perpajakan, setiap badan usaha harus memiliki nomor wajib pajak (NPWP). Kantor
pajak akan menerbitkan NPWP yang sesuai dengan pembagian regional tempat usaha
berada.

3.) Pemerintah Kabupaten/Kota


Pemerintah adalah pihak yang berhak menerbitkan surat izin TDP (Tanda Daftar
Perusahaan) dan SIUP (Surat Izin Usaha Perdagangan) melalui Dinas perindustrian
dan perdagangan.

4.) INKINDO (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia)


Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) mempunyai fungsi :
1. Meningkatkan kesatuan dan persatuan anggota lembaga
2. Menegakan fungsi konsultan yang luhur, berwibawa, jujur, dan terpercaya di
Indonesia
3. Meningkatkan peran serta seluruh anggota lembaga dalam pembangunan nasional
4. Mengupayakan penataan usaha jasa konsultasi yang sebaik baiknya.
5. Melayani dan melindungi sesame anggota lembaga

5.) PERKINDO (Persatuan Konsultan Indonesia)


PERKINDO didirikan di Jakarta pada tanggal 30 Nopember 2006 dihadapan
Notaris Agus Majid, SH dengan akte No. 70. PERKINDO dideklarasi pada tanggal 27
Desember 2006 bersamaan dengan dilangsungkannya Musyawarah Nasional I di
Hotel Garden Kemang, Jakarta Selatan. Filosofi pendirian PERKINDO adalah
mengembangkan kemandirian Anggotanya dalam penguasaan Pasar Lokal, Nasional
dan Internasional. PERKINDO lahir bukan sebagai fasilitator penyedia Sertifikat
Badan Usaha (SBU) semata, akan tetapi untuk memajukan anak bangsa yang berbakti
kepada Nusa dan Bangsa melalui profesi jasa konsultansi.
6.) Lenders (Pemberi Pinjaman)
Pihak yang berhubungan dengan peminjaman modal untuk pendirian perusahaan
konsultansi
Sebelumnya telah disebutkan pihak pihak yang berkaitan dengan pendirian
perusahaan konsultan. Selanjutnya pihak-pihak yang berhubungan dengan konsultansi
pada saat pelaksaan konstruksi adalah dibawah ini

7.) Investor (Owner)


Owner adalah orang/perusahaan yang menanamkan modal pertama kali pada proyek.
Owner disini merupakan pihak yang memiliki ide untuk membangun suatu proyek.
Demi kelancaran suatu proyek owner harus melakukan perencanaan proyek, dan
pengawasan selama proyek berlangsung. Untuk melaksanakan tugas tersebut owner
harus mempekerjakan pihak yg berkompeten dalam hal tersebut, yaitu konsultan.
Semua kehendak owner tentang suatu proyek disampaikan kepada konsultan, yang
kemudian akan disampaikan pada pihak pelaksana konstruksi. Sehingga owner
merupakan pihak yang sangat berpengaruh pada jasa konsultansi.

8.) Kontraktor
Merupakan pihak yang akan melaksanakan atau membangun suatu proyek yang telah
disetujui oleh owner. Kontraktor dipilih oleh owner melalui suatu proses lelang.
Kontraktor dituntut untuk melaksanakan proyek sesuai waktu dan spesifikasi
bangunan yang telah ditentukan oleh owner. Bisv dikatakan kontraktor adalah pihak
yang melanjutkan tugas dari pihak konsultan perencana. Pekerjaan kontraktor harus
dipertanggungjawabkan terhadap owner melalui konsultan pengawas.

XI. Fungsi Lembaga Pengembangan Jasa Konsultansi


Fungsi pengembangan jasa konsultansi berfungsi sebagai satu satunya wadah
komunikasi, konsultasi, koordinasi antar anggota guna :
1. Meningkatkan kesatuan dan persatuan anggota lembaga
2. Menegakan fungsi konsultan yang luhur, berwibawa, jujur, dan terpercaya di
Indonesia
3. Meningkatkan peran serta seluruh anggota lembaga dalam pembangunan
nasional
4. Mengupayakan penataan usaha jasa konsultasi yang sebaik baiknya.
5. Melayani dan melindungi sesame anggota lembaga

XII.Peran Konsultan Dalam Sebuah Proyek


Dalam sebuah proyek terdapat macam-macam konsultan yang memiliki peran yang
berbeda. Misalnya konsultan perencana berperan merencanakan desain suatu bangunan
atau strukur, konsultan pengawas berperan mengawasi pelaksanaan konstruksi, dan
selanjutnya akan dijelaskan meenurut jenisnya.
i. Konsultan Perencana
Secara umum peran serta konsutan perencna adalah :
Mengadakan penyesuaian keadaan lapangan dengan keinginan pemilik bangunan.
Membuat gambar kerja pelaksanaan.
Membuat Rencana kerja dan syarat-sayarat pelaksanaan bangunan ( RKS ) sebagai
pedoman pelaksanaan.
Membuat rencana anggaran biaya bangunan.
Memproyeksikan keinginan keinginan atau ide ide pemilik ke dalam desain
bangunan.
Melakukan perubahan desain bila terjadi penyimpangan pelaksanaan pekerjaan
dilapangan yang tidak memungkinkan desain terwujud di wujudkan.
Mempertanggungjawabkan desain dan perhitungan struktur jika terjadi kegagalan
konstruksi.

Dalam sebuah proyek, konsultan perencana dapat memberikan sub pekerjaan


yang lebih spesifik seperti konsultan perencana arsitektur, dan konsultan struktur
bangunan, perencana MEP (mechanical, electrical, dan plumbing).

Peran konsultan arsitektur :


Membuat gambar/desain dan dimensi bangunan secara lengkap dengan spesifikasi
teknis, fasilitas dan penempatannya.
Menentukan spesifikasi bahan bangunan untuk finishing pada bangunan proyek ini.
Membuat gambar-gambar rencana dan syarat-syarat teknis secara administrasi untuk
pelaksanaan proyek.
Membuat perencanaan dan gambar-gambar ulang atau revisi bilamana diperlukan.
Bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil perencanaan yang dibuatnya apabila
sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Peran konsultan struktur bangunan :


Merencanakan dan merancang struktur yang sesuai dengan keinginan pemilik
proyek melalui kontraktor utama, baik struktur atas maupun struktur bawah.
Membuat perhitungan seluruh proyek berdasarkan teknis yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Membuat rancangan detail yang meliputi pembuatan gambar-gambar detail serta
rincian volume pekerjaan.
Memberikan penjelasan atas permasalahan yang timbul selama masa konstruksi.

Peran konsultan MEP (mechanical, electrical, dan plumbing) :


Merencanakan instalasi yang menggunakan tenaga mesin dan listrik serta berbagai
perlengkapan seperti misalnya AC, perlengkapan penerangan,plumbing, generator,
pemadam kebakaran, telepon, dan sound system sesuai dengan keadaan dan fungsi
bangunan.
Memberikan penjelasan pada waktu rapat, menyusun dokumen pelaksanaan dan
melakukan pengawasan berkala dan melaporkannya pada kontraktor utama.

ii. Konsultan Pengawas


Peran konsultan pengawas dalam sebuah proyek adalah :
Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan kontrak kerja.
Melaksanakan pengawasan secara rutin dalam perjalanan pelaksanaan proyek.
Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek untuk dapat dilihat oleh pemilik
proyek.
Konsultan pengawas memberikan saran atau pertimbangan kepada pemilik proyek
maupun kontraktor dalam proyek pelaksanaan pekerjaan.
Mengoreksi dan menyetujui gambar shop drawing yang diajukan kontraktor sebagai
pedoman pelaksanaan pembangunan proyek.
Memilih dan memberikan persetujuan mengenai tipe dan merek yang diusulkan oleh
kontraktor agar sesuai dengan harapan pemilik proyek namun tetap berpedoman
dengan kontrak kerja konstruksi yang sudah dibuat sebelumnya.
Konsultan pengawas juga memilki wewenang sebagai berikut :
Memperingatkan atau menegur pihak peleksana pekerjaan jika terjadi penyimpangan
terhadap kontrak kerja.
Menghentikan pelaksanaan pekerjaan jika pelaksana proyek tidak tidak
memperhatikan peringatan yang diberikan.
Memberikan tanggapan atas usul pihak pelaksana proyek.
Melakukan perubahan dengan menerbitkan berita acara perubahan ( site Instruction)
Mengoreksi pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor agar sesuai dengan
kontrak kerja yang telah disepakati sebelumnya.

Konsultan pengawas biasa diadakan pada proyek bangunan dengan skala besar
seperti gedung bertingkat tinggi, bagian ini bisa merangkap dalam hal management
konstruksi atau MK namun perbedaanya adalah MK mengelola jalanya proyek dari
mulai perencanaan,pelaksanaan sampai berakhirnya proyek sedangkan konsultan
pengawas hanya bertugas mengawasi jalanya pelaksanaan proyek saja. dalam kondisi
nyata dilapangan diperlukan kerjasama yang baik antara konsultan pengawas dengan
kontraktor agar bisa saling melengkapi dalam pelaksanaan pembangunan sehingga
tidak ada pihak yang dirugikan misalnya kontraktor dibatasi oleh waktu dalam
melaksanakan pekerjaan jadi akan sangat terpengaruh dari proses aproval material atau
shop drawing dari konsultan pengawas.

XIII. Kriteria Penilaian Teknis Konsultan


Keberhasilan proyek pembangunan sarana dan prasarana yang dilakukan oleh
pemerintah sangat ditentukan oleh peran pelaksana konstruksi, salah satunya konsultan.
Dalam menentukan pemilihan konsultan yang tepat dan profesional terdapat beberapa
penilaian. Penilaian konsultan proyek konstruksi tersebut diperinci dalam Peraturan
Mentri Pekerjaan Umum Nomor 43 Tahun 2007 tentang standar dan pedoman pengadaan
jasa konsultasi. Penilaian ini dilakukan dengan cara memberikan penilaian terhadap
kriteria-kriteria sebagai berikut :
1. Pengalaman Konsultan
a. Pengalaman melaksanakan pekerjaan sejenis selama kurun waktu 7 tahun terakhir
b. Pengalaman mengerjakan proyek di lokasi pekerjaan
c. Pengalaman manajerial dan fasilitas utama
d. Kapasitas perusahaan dengan memperhatikan jumlah tenaga ahli tetap
2. Pendekatan dan Metedologi
a. Pemahaman atas jasa layanan yang tercantum dalam Kerangka Acuan Kerja
(KAK).
Penilaian terutama meliputi : pengertian terhadap tujuan pekerjaan yang akan
dilaksanakan, lingkup serta jasa konsultansi yang diperlukan (aspek-aspek utama
yang diindikasikan dalam KAK, dan pengenalan lapangan.
b. Kualitas Metedologi.
Penelitian terutama meliputi ketepatan menganalisa masalah dan langkah
pemecahan yang disusulkan dengan tetap mengacu kepada persyaratan terhadap
inovasi, tanggapan terhadap KAK, khususnya mengenai data yang tersedia, jumlah
orang bulan (man-month) tenaga ahli dan tenaga pendukung, uraian tugas, jangka
waktu pelaksanaan laporan-laporan yang dipersyaratkan, jenis pekerjaan, jadwal
penugasan, organisasi, dan kebutuhan fasilitas penunjang.

c. Hasil Kerja (deliverable)


Penilain meliputi : analisis, gambar-gambar kerja, spesifikasi teknis, perhitungan
teknis dan laporan-laporan.
d. Fasilitas pendukung dalam melaksanakan pekerjaan yang diminta dalam KAK.

3. Kualifikasi Tenaga Ahli


a. Tingkat pendidikan formal, yaitu lulusan PTN/PTS yang telah lulus ujian negara
atau yang telah diakreditasi, atau perguruan tinggi luar negri yang telah
terakreditasi
b. Penglaman kerja profesional. Penilaian meliputi pengalaman pada pekerjaan
sejenis, memenuhi lama pengalaman seperti yang disyaratkan dalam KAK,
pengalaman jabatan seperti yang diinginkan, pengalaman mengikuti pelatihan
tenaga ahli konsultansi bidang ke-Pu-an dari LPJK
c. Lain-lain : Penguasaan bahasa Inggris, bahasa Indonesia (bagi penyedia jasa asing),
bahasa setempat, aspek pengenalan (formiliarity) atas tata cara, aturan, situasi dan
kondisi (custom) setempat.
Selain Kriteria penilain yang disebutkan dalam Peraturan Mentri Pekerjaan Umum
(2007), literatur lain juga menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai konsultan
pengawas konstruksi, Kriteria lain tersebut antara lain :
1. Reputasi (Corcoran, 1998; Cheng, et al., 2002; dan Lin, 2003)
2. Keharmonisan hubungan dengan pengguna jasa sebelumnya (Ling, 2003)
3. Keharmonisan hubungan dengan sesama penyedia jasa (Ling, 2003)
4. Beban Kerja
5. Memiliki rencana Quality Assurance/ Quality Control
6. Mencantumkan waktu kritis
7. Presentasi Proposal
8. Memahami ilmu dasar konstruksi
9. Memahami aspek legal dan administrasi proyek

Berdasarkan (Asdita Apriliasari dan Retno Indrayani dalam bukunya Kriteria


Penilaian Konsultaan Pengawas Proyek Konstruksi Milik Pemerintah). Ternyata ada
kriteria dalam pedoman Keputusan Mentri Pekerjaan Umum Nomor 43 tahun 2007 yang
dianggap tidak penting untuk menilai konsultan pengawas proyek konstruksi. Adapun
krietria yang dianggap tidak tepat tersebut adalah pengalaman mengerjakan proyek di
lokasi pekerjaan, penguasan bahasa asing, yaitu bahasa ingris dan bahasa Indonesia (bagi
penyedia jasa asing) dan aspek pengenalan (familiarty) atas tata cara, aturan dan kondisi
(custom) bagi tenaga ahli.

XIV. Kesimpulan
Jasa Konsultansi adalah jasa layanan profesional yang membutuhkan keahlian
tertentu diberbagai bidang keilmuan yang mengutamakan adanya olah pikir
(brainware). Jadi bisa diartikan sebagai layanan jasa keahlian profesional dalam
berbagai bidang dalam rangka mencapai sasaran yang diinginkan pengguna jasa.
Macam-Macam Jasa Konsultansi dalam Proyek Konstruksi
1. Jasa Konsultan Manajemen konstruksi
2. Jasa Konsultan Pengawas
3. Jasa Konsultan Perencana
Semua macam pekerjaan jasa konsultan mempunyai perbedaan yang signifikan
seperti contoh perbedaan dari Jasa Manajemen Konstruksi dengan Jasa Konsultan
Pengawas adalah dari jenis pekerjaan konstruksi yang akan dilaksanakan. Untuk
Manajamen Konstruksi adalah pekerjaan yang cukup kompleks minimal berlantai IV,
atau bangunan dengan luas total diatas 5000 m2, bangunan khusus atau yang
melibatkan lebih dari satu konsultan perencana maupun lebih dari satu pekerjaan
pemborongan atau pekerjaan konstruksi yang dilaksanakan lebih dari satu tahun,
sedangkan Jasa Konsultan Pengawas adalah untuk pekerjaan pembangunan gedung
yang sederhana. Sama pula dengan Jasa Konsultan perencana yaitu suatu badan
hukum yang diserahi tugas oleh pimpinan proyek untuk melaksanakan perencanaan
pekerjaan.
Dalam mendirikan sebuah jasa konsultansi harus memenuhi syarat yang ada.
Terdapat 2 syarat dalam mendirikan jasa konsultansi yaitu syarat administrasi dan
syarat teknik. Tentunya harus mematuhi atau mentaati undang undang mengenai jasa
konsultansi.

DAFTAR PUSTAKA

http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2012/09/30/peluang-usaha-jasa-konsultan-
properti-497804.html

http://membangunadab.blogspot.com/2011/08/definisi-jasa-konsultansi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Konsultan

http://arti-konsultan.blogspot.com/

http://pengadaan-barang-jasa.blogspot.com/2012/07/pengadaan-jasa-konsultansi.html

http://perizinanusaha.com/sbu/klasifikasi-sbu-konsultan/

http://amriwidiangga.blogspot.com/2013/01/unsur-unsur-pengelola-proyek.html

http://id.ahmad.wikia.com/wiki/Pengadaan_Barang/Jasa_Pemerintah/Metode/Cara_Pemiliha
n_Pengadaan