Anda di halaman 1dari 3

DIAGRAM GARIS

Penyajian data statistik dengan memakai diagram berbentuk garis lurus disebut dengan
diagram garis lurus ataupun diagram garis. Diagram garis biasanya dipakai untuk menyajikan
data statistik yang didapat berdasarkan pengamatan dari waktu ke waktu secara berurutan.
Sumbu X menunjukkan waktu pengamatan, Sedangkan sumbu Y menunjukkan nilai-nilai
data pengamatan untuk suatu waktu tertentu. Kumpulan waktu dan juga pengamatan
membentuk titik-titik pada bidang XY, Lalu selanjutnya kolom dari tiap dua titik yang
berdekatan tadi dihubungkan dengan garis lurus sehingga akan didapat diagram garis atau
sering disebut juga grafik garis.

DIAGRAM LINGKARAN
Penyajian data statistik dengan memakai gambar yang berbentuk lingkaran. Lalu bagian-
bagian dari daerah lingkaran, menunjukkan persen data. Untuk membuat diagram lingkaran,
pertama-tama terlebih dahulu ditentukannya besar persentase tiap objek terhadap keseluruhan
data dan besarnya sudut pusat sektor lingkaran.

DIAGRAM BATANG
Pada umumnya digunakan untuk menggambarkan perkembangan nilai-nilai suatu objek
penelitian dalam kurun waktu tertentu. Diagram batang menunjukkan berbagai keterangan
dengan batang-batang tegak ataupun mendatar dan sama lebar dengan batang-batang terpisah.
HASRAT KORUPSI DI BENGKULU
Cerita tertangkap tangannya Guberunur Bengkulu, Ridwan Mukti, bersama isterinya, Lily
Maddarati, belum lama ini seolah membuka luka lama warga Bengkulu.

Luka itu semakin nyata saat Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka kemiskinan di
provinsi ini menyentuh 18 persen, jauh di atas rata-rata nasional 11 persen.

Dalam catatan penegakan hukum, setidaknya sudah ada lima kepala daerah di Bengkulu yang
terjerat perkara korupsi.

Pertama Gubernur Bengkulu Agusrin M Najamudin yang pada tahun 2006 yang terbelit
dalam skandal pembukaan rekening lain, selain rekening resmi Pemprov Bengkulu untuk
menampung uang bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Tanah dan
Bangunan yang merugikan negara hingga Rp 21,3 miliar.

Terjadi pencairan dana cek bernilai puluhan miliar tidak wajar yang dilakukan Kadispenda
Bengkulu. Belakangan berdasarkan putusan MA, Agusrin mengetahui pencairan ini. Pada
perkara ini, Mahkamah Agung memvonis Agusrin dengan penjara 4,5 tahun.

Kepala daerah berikutnya, Bupati Seluma Murman Effendi. Pada tahun 2006, Pengadilan
Tipikor menyatakan, Murman Effendi bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan
penyuapan bersama beberapa anggota DPRD untuk meloloskan Perda Nomor 12 Tahun 2010
menjadi Perda Nomer 2 Tahun 2011 dalam waktu satu hari.

Perda tersebut mengatur tentang peningkatan dana anggaran pembangunan infrastruktur


peningkatan jalan dengan konstruksi hotmix dan jembatan melalui pelaksanaan pekerjaan
tahun jamak untuk lima tahun anggaran.

Menurut hakim, pengubahan perda itu mengindikasikan adanya penyalahgunaan jabatan oleh
Murman. Akibat pengubahan Perda ini, anggaran bertambah sekitar Rp 31,5 miliar sehingga
total anggaran proyek pembangunan jalan tersebut menjadi Rp 381,5 miliar.

Murman diganjar dua tahun penjara. Setelah itu Murman juga terjerat kasus korupsi dana
survei pembangunan pabrik semen dengan APBD tahun 2007 sebesar Rp 3,5 miliar.
Mahkamah Agung memvonisnya penjara delapan tahun.

Kemudian, pada tahun 2015, Bupati Mukomuko Ichwan Yunus juga merasakan dinginnya
penjara atas penggelapan aset daerah berupa memberikan kendaraan dinas pada pihak yang
tak berhak menerimanya. Ichwan diganjar dengan penjara 1,6 tahun.

Selanjutnya, pada 2017, Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah ditahan Kejaksaan Negeri
Bengkulu karena tersandung dalam dugaan korupsi penerbitan Surat Keputusan (SK) Tim
Pembina Rumah Sakit Umum Daerah M Yunus.

Negara dalam hal ini diduga dirugikan Rp 5,3 miliar. Perkara ini telah lama sempat mangkrak
di Mabes Polri, namun Junaidi baru dieksekusi pada Juli 2017.

Pada tahun 2017, KPK lalu menciduk Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti atas dugaan suap
Rp 1 miliar dari seorang kontraktor.