Anda di halaman 1dari 70

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Samsuhidajat dan De
Jong,2004). Fraktur cruris merupakan diskontinuitas jaringan tulang cruris. Fraktur
umumnya disebabkan oleh trauma. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat
berupa trauma langsung dan tidak langsung. Selain dapat menimbulkan patah tulang
(fraktur), trauma juga dapat mengenai jaringan lunak sekitar tulang cruris tersebut,
misalnya vulnus (luka), perdarahan, memar (kontusio), regangan atau robek parsial
(sprain), putus atau robek (avulsi atau ruptur), gangguan pembuluh darah, dan
gangguan saraf (neuropraksia, aksonotmesis, neurolisis) (Rasjad, 2010)
Setiap fraktur dan kerusakan jaringan lunak sekitar tulang tersebut harus
ditanggulangi sesuai dengan prinsip penanggulangan cedera muskuloskeletal. Prinsip
tersebut meliputi rekognisi (mengenali), reduksi (mengembalikan), retaining
(mempertahankan), dan rehabilitasi (Rasjad,2010 dan 2007). Untuk penanganan patah
tulang prinsipnya adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula
(reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang
(imobilisasi). Pada pengelolaan patah tulang batang cruris, mitela harus dipertahankan
cukup lama, terapi latihan sejak awal penanganan (Samsuhidajat dan De Jong,2004).
Agar penanganannya baik, perlu diketahui kerusakan apa saja yang terjadi, baik
pada tulang maupun jaringan lunaknya. Mekanisme trauma juga sangat penting untuk
diketahui (Rasjad,2010).

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi


1. Sistem Tulang
a. Tulang Tibia
Tulang tibia terdiri dari tiga bagian yaitu epyphysis proksimalis,
diaphysis dan epiphysis. Epiphysis proksimalis terdiri dari dua bulatan
yaitu condilus medialis dan condilus lateralis. Pada permukaan proksimal
terdapat permukaan sendiuntuk bersendi dengan tulang femur disebut
facies articularis superior yang ditengahnya terdapat peninggian disebut
eminentia intercondyloidea. Di ujung proksimal terdapat dataran sendi
yagng menghadap ke lateral disebut facies articularis untuk bersendi
dengan tulang fibula.
Diaphysis mempunyai tiga tepi yaitu margo anterior, margo medialis,
dan crista interosea disebelah lateral. Sehingga terdapat tiga dataran
yaitu facies medialis, facies posterior dan facies lateralis. Margo anterior
di bagian proksimal menonjol disebut tuberositas tibia.
Pada epiphysis distalis bagian distal terdapat tonjolan yang disebut
malleolus medialis, yang mempunyai dataran sendi menghadap lateral
untuk bersendi dengan talus disebut facies malleolus lateralis. Epiphysis
distalis mempunyai dataran sendi lain yaitu facies articularis inferior untuk
dengan tulang talus dan incisura fibularis untuk bersendi dengan tulang
fibula.
b. Tulang fibula
Tulang fibula terletak disebelah lateral tibia mempunyai tiga bagian
yaitu epiphysis proksimalis, diaphysis dan epiphysis distalis. Epiphysis
proksimalis membulat disebut capitulum fibula yang kearah proksimal
meruncing menjadi apex kapituli fibula. Kapitulum fibula mempunyai

2
dataran sendi yaitu faciesartycularis capituli fibula untuk bersendi dengan
tulang fibula.
Diaphysis mempunyai empat crista yaitu Krista lateralis, Krista
meedialis, Krista anterior, Krista interosea. Mempunyai tiga dataran yaitu
facies medialis, facies lateralis, facies posterior.
Epiphysis distalis kebelakang agak membulat dan sedikit keluar
disebut malleoluslateralis. Disebelah dalam mempunyai dataran sendi
yang disebut facies artycularis malleolus lateralis. Disebelah luar terdapat
suatu suleus disebut sulcus tendo musculi, tendo perineum dan dilalui
tendo otot peroneus longus dan peroneus brevis.

1 2

Gambar 1. Tulang Tibia dan Fibula kanan tampak depan (Putz,2000)


Keterangan gambar :
1. Tulang fibula
2. Tulang tibia

3
Gambar 2. Tulang tibia dan fibula dilihat dari belakang
(Spalteholtz,1987)
Keterangan gambar :
Tulang Tibia
1. Facies articularis superior condylus lateralis
2. Facies articularis superiorcondylus medialis
3. Condylus medialis
4. Linea musculisolei
5. Foramen Nutricium
6. Facies interosseus
7. Margo intercosseus
8. Margo medialis

4
9. Suleu smalleolaris
10. Malleolus medialis
Tulang fibula
1. Apexcaoitalis fibulae
2. Caputfibulae
3. Facies posterior
4. Crista medialis
5. Margo posterior
6. Malleolus lateralis
7. Facies artcilaris malleoli

2. Sistem Otot
Tabel 1. Otot-otot penggerak tungkai bawah bagian belakang

No Otot Origo Insertio Inervasi Fungsi


1 m. - Planumpopliteum - Bagian N. tibialis - Plantar
gastrocnemius di atas condilus belakang (VS1, VS2) fleksi
- Caputmedial medialis os.calcane kaki
e - Bagian atas dan us padasendi
- Caputlateral condyluslateralis - Fleksi
femoralis sendi
lutut

5
2 m. soleus - Bagian belakang - Bagian N. tibialis - Plantar
capitallum fibulae posterior (VS1, VS2) fleksi
dan bagian atas calcaneus kaki
facies pasterior pada
capitullum fibulae sendi
dan septum pergelang
intermus culare an kaki
posterior
3 m. tibialis - Membrana - Tuberosi - N. - Plantar
posterior - Interossea tas os. tibialis fleksi
- Fibula Naicular (VL5, kaki pada
- Tibia is VS1) sendi
- Os. pergelang
Coneifor an kaki
me os. - Inversika
Cuboide ki
um basis
metatars
al 2,3,4
4 m. plantaris - Bagian bawah linea - Bagian - N. - Plantar
supracondilaris posterio tibialis fleksi
dan os. planum r os. (VL5, sendi
popliteum femoris Calcane VS1) pergelang
us an kaki
- Fleksi
sendi
lutut

(Spalteholz, 1987)

6
Tabel 2. Otot-otot penggerak tungkai bawah bagian lateral
No Otot Origo Insertio Ivervasi Fungsi
1 M. peroneus - Condyluslateralis - sisi lateral N. - Plantar
longus tibiae os. perone fleksikaki
- Capitulumfibulae cuneiforme us - Eversi
- 2/3 bagian atas mediale superificial
lateraliscorpus - basis os. is
tibulae metatarsal I (VL4,VS1)

2 m.peroneus - 2/3 bagian bawah - tuberositas n. - Plantar


brevis fibulae lateralis os. peroneus fleksi
Metatarsal superficiali - Eversikak
ke 5 s (VL4, i
VS1)
(Spalteholz, 1987)
Tabel 3. Otot-otot penggerak tungkai bawah bagian depan
No Otot Origo Insertio Invervas Fungsi
1 m. extensor - Sisi lateraltibiae - keempat n.i - ekstensi
digitorum longus - faciesanterior jari kaki perone jari kaki
corpusfibulae lateral us
- membrana profundus
interossea
2 m. tibialis - bagian lateral - sisi N. - ekstensi
anterior condyluslateralis medial peroae kaki
tibia cuneiform us pada semi
- 2/3 corpustibia e medialis profundal pergelang
bagian atas - basis osI an kaki
- membranamedial - inversi

7
3 m. extensor - pertengahan - facies n. - ekstensi
hallucis longus medial facies superior profundus ibu
anterior fibularis basis (VL4-VS1) jarikaki
phalanx- - ekstensi
phalanx pada
distalis pergelang
ibu jari an kaki
kaki - inversika
ki
(Spalteholz, 1987)

1) Otot penggerak sendi lutut


a) Otot penggerak fleksi lutut antara lain : musculus biceps femoris,
musculus semitendinosus, semimembranosus.
b) Otot penggerak ekstensi lutut antara lain : musculus vastus lateralis,
vastus intermedius, musculus vastus medialis, musculus rectus
femoris.
c) Otot penggerak eksorotasi lutut antara lain : musculus biceps femoris,
musculus extensor fascialata, musculus gastrocnemius caput
medialis.
d) otot penggerak endorotasi lutut antara lain : musculus semitendinosus,
musculus semimembranosus, musculus gracilis, musculus popliteus,
musculus gastrocnemius caputlateral.
2) Otot penggerak sendi ankle.
a) Otot penggerak plantar fleksi antara lain : musculus Gastrocnemius,
musculus Soleus,musculus Plantaris, musculus Fleksor hallucis
longus, musculus Tibialis posterior, musculus peroneus longus,
musculus peroneus brevis.
b) Otot penggerak dorsi fleksi antara lain : musculus Tibialis anterior,

8
musculus extensor digitorum longus, musculus peroneus tertius,
musculus extensor hallucislongus.
c) Otot penggerak inversi antara lain : musculus Tibialis anterior,
musculusTibialis posterior,musculus fleksor halluces brevis.
d) Otot penggerak eversi antara lain : musculus peroneus longus,
musculus peroneus brevis,musculus peroneus tertius.

Gambar 3. Otot tungkai bawah kanan tampak depan (Putz,2000)

9
Keterangan gambar
1. m. Fibularis (peroneus) longus
2. m. Fibularis anterior
3. m.Gastrocnemius
4. m.Soleus
5. m.Digitorumlongus
6. m. Fibularis brevis
7. m. Extensordigitorum longus
8. m. Extensorhallucis longus

2 1

Gambar 4. Otot tungkai bawah kanan tampak belakang (Putz,2000)


Keterangan gambar :
1. m.Gastrocnemius lateralis
2. m.Gastrocnemius medialis
3. m.Gastrocnemius tendo
4. m.Soleus

10
3. Sistem Sendi
a. Sendi Lutut
Sendi lutut adalah sendi yang komplit yang melibatkan empat
tulang yaitu os femur, os tibia, os patella, serta os fibula. Lutut terdiri
dari dua persendian yang berada dalam satu kapsul yaitu sendi
tibiofemoral dan sendi patellofemoral (Norkin, 1995). tibiofemoral
dibentuk oleh condylus femoralis lateralis dan medialis yang berbentuk
cembung dengan tibia plateu yang berbentuk cekung. Sendi
patellofemoral dibentuk oleh facies patellaris tulang femur dengan tulang
patella.
Pada sendi lutut terdapat meniscus yang berbentuk bulan sabit.
Berfungsi sebagai penyebar pembebanan, ada dua yaitu meniscus
lateralis dan meniscus medialis (Kapanji, 1987). Terdapat bursa yang
merupakan suatu kantong yang berisi cairanya itu bursa suprapatellaris,
suprasubtendinosus, bursaintrapatellaris dan bursa prepatellaris
subcutanea. Ligament yang memperkuat sendi lutut yaitu ligament
collateral mediale, ligament collateral lateral, ligament cruciatum
posterior dan ligament cruciatum anterior. LGS lutut secara pasif
umumnya antara 130 dan 140. Hiperekstensi antara 5 sampai 10
masih dalam batas normal ( Williams, 1985). Secara aktif untuk fleksi
120 sampai 130 dan ekstensi 0 (Palmer,1990).
Disamping sendi tibiofemoral dan sendi patellofemoral masih ada
sendi ketiga yaitu sendi tibiofiburalis proksimal. Sendi ini tidak termasuk
kedalam sendi lutut karena secara fungsional lebih cendrung termasuk
sendi pergelangan kaki. (de Wolf, 1990).
b. Sendi pergelangan kaki
Sendi pergelangan kaki terdiri dari tiga persendian, yaitu
tibiofibularis distalis, sendi talocruralis dan subtalar (Norkin,1995). Sendi
tibiofibularis distal dibentuk oleh incisura fibularis tibia dengan facies

11
articularis fibula. Sendi tibiofibularis proksimal dan distal diperkuat oleh
membrana interoseus yang terletak antara tibia dan fibula sendi
talocruralis dibentuk oleh ujung distal tulang fibula yang membentuk
permukaan cekung dengan talus yang permukaanya cembung. Sendi
subtalar dibentuk oleh tulang talus dan calcaneus.
4. Sistem Syaraf
Sistem persyarafan pada tungkai atas berasal dari plexus sacralis
mensyarafi otot-otot pada sekitar tungkai atas.
a. Sistem persyarafan tungkai atas
1) Nervus femoralis
Merupakan cabang tersebut dari cabang plexus lumbalis. Nervus
ini bersisi dari tiga bagian plexus anterior yang berasal dari n.
Lumbalis (L2, 3 dan L4). Nervus tersebut muncul dari tepi lateral
musculus Psoas di dalam abdomen dan berjalan kebawah diantara m.
Psoas dan M Iliacus. Ia terletak dibelakang fascia iliaca dan
memasuki paha lateral terhadap arteri femoralis dan selubung femoral
dibelakang ligamen inguinale dan berakhir dibawah ligamen
inguinale dan pecah menjadi divisi anterior dan posterior. Nervus
femoralis mensyarafi semua otot ruas anteroir paha (Sneel,1997).
2) Nervus obturatorius
Nervus obturatorius berasal dari plexus lumbal (L2, 3 dan 4) dan
muncul pada tepian m. Psoas didalam abdomen ia berjalan kebawah
dan kedepan pada dinding lateral pelvis untuk mencapai bagian atas
foramen obturatorium, hal ini pecah menjadi devisi anterior dan
posterior. Devisi anterior memberi cabang-cabang muscular pada
m.Brachialis, m.Adductor brevis dan adductor longus. Sedang devisi
posterior mensarafi articularis genus dan memberi cabang-cabang
muscular kepada m. Obturatorius externus, adductor magnus
(Chusid,1991).

12
3) Nervus gluteal superior dan inferior
Nervus gluteal superior dan inferior, cabang plexus sacralis
meninggalkan pelvis melalui bagian atas dan bawah foramen
ischiadicus majus diatas musculus piriformis. Dan bagian bawah
foramen isciadicus mensarafi tensorfacialata, m. Gluteus minimus
serta gluteus meximus (Sneel, 1993).
4) Nervus ischiadicus
Nervus ischiadicus merupakan cabang plexus sacralis (L4, 5 dan
S1, 2, 3) meningggalkan regio glutealis menuju kebawah sepanjang
caput longum m. Biceps femoris. Setelah sampai pertengahan paha
pada bagian posterior ditutupi oleh tepian m.Biceps femoris dan
m.Semimembranosus yang berdekatan. Nervus ini terletak pada apex
posterior m. Adductor magnus pada sepertiga pada bagian paha bawah
kemudian berahkir dan pecah menjadi n. Tibialis dan n. Peroneus
communis. Nervus ischiadicus pecah menjadi terminalpada bidang
lebih tinggi pada bagian atas paha, regio gluteal bahkan didalam pelvis
(Chusid,1991).

13
Gambar 5. Nerve peroenus communis L4,5 dan S1,2 (Chusid, 1991)
Keterangan gambar
1. Sciatic nerve
2. Comonperoneal nerve
3. Deep peroneal nerve
4. M. tibialis anterior
5. Supervicialperoneal nerve
6. M.extensor digitorium longus
7. M. Peroneus longus
8. M.extensor halluces longus
9. M. peroneus brevis
10. M. peroneustertius
11. M.extensor digitorium brevis
12. Suralnerve

14
Gambar 6. Nerve tibialis L4,5 dan S1,3 (Chusid, 1991)
Keterangan gambar
1. Sciatic nerve
2. Comonperoneal nerve
3. M.gastrocnemius
4. M.popliteus
5. M.plantaris
6. M.soleus
7. M.tibialis posterior
8. M.gigitorium longus
9. M.flexorhallucis nerve
10. Comonperoneal nerve
11. Medialsur alcutaneous nerve
12. Lateralsur alcutaneous nerve
13. Suralnerve
14. Medial plantar nerve
15. Lateral plantar nerve

15
5. Sistem Pembuluh Darah
a. Pembuluh darah arteri
Arteri membawa darah keluar dari jantung menuju tubuh dan
arteri ini selalu membawa darah segar berisi oksigen, kecuali arteri
pulmonare yang membawa darah kotor yang memerlukan
oksigenasi.Pembuluh darah arteri pada tungkai antara lain:
1) Arterifemoralis
Arteri femoralis memasuki bagian paha melalui bagian lutut
belakang dari ligamentum inguinale dan merupakan lanjutan dari
arteri iliaca external. Dan terletak dipertengahan antara SIAS (Spina
Iliaca Anterior Superior) dan symphysis pubis (Sneel, 1993). Arteri
femoralis merupakan pemasok darah utama bagian tungkai, berjalan
menurun hampir vertikal ke tuberculum adductor femoralis dan
berakhir pada lubang otot magnus dengan memasuki spatica poplitea
sebagai arteri poplitea.

16
Gambar 7. Pembuluh darah vena pada tungkai bawah dilihat dari
belakang (Spalteholtz,1987)
Keterangan gambar
1. V.provundum femoris
2. V.popliteum
3. V. saphena magna
4. V. saphenaparva

Gambar 8. Pembuluh darah arteri pada tungkai bawah (Carola, R,1990)


Keterangan gambar :
1. Common iliac vein
2. Internal iliac vein
3. External iliac vein
4. Femoralvein

17
5. Greatsaphenous vein
6. Poplitealvein
7. Smallsaphenous vein
8. Anterior tibial vein
9. Peroneal vein
10. Posterior tibial vein
11. Lateral plantar vein
12. Medial plantar vein
13. Dorsal venousarch
14. Dorsal vein of foot

Gambar 9. Pembuluh darah vena pada tungkai kanan (Carola, R,1990)

18
Keterangan gambar :
1. Commoniliac artery
2. Internaliliac artery
3. Externaliliac artery
4. Femoral artery
5. Deep(profunda) femoral artery
6. Popliteal artery
7. Anterior tibial artery
8. Proneal artery
9. Poster iortibial artery
10. Lateralplantar artery
11. Plantar arterial artery
12. Medial plantar artery
13. Dorsal metatarsal arteries
14. Dorsal arteryof foot
15. Perforating branch of personal artery
16. Anteriortibia lartery

B. Definisi Fraktur Cruris


Fraktur menurut Dorland (2010) adalah suatu diskontinuitas susunan
tulang yang disebabkan karena trauma atau keadaan patologis, sedangkan
menurut Apley (2010) adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang.
Cruris berasal dari bahasa latin crus atau cruca yang berarti tungkai
bawah yang terdiri dari tulang tibia dan fibula (AhmadRamali,1987).

C. Etiologi
Fraktur dapat terjadi karena kegagalan tulang humerus menahan tekanan
terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan (Rasjad,2007). Trauma
dapat bersifat:

19
1. Langsung
Menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah
tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutif dan jaringan lunak
ikut mengalami kerusakan.
2. Tidak langsung
Terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah
fraktur.
Tekanan pada tulang dapat berupa (Rasjad,2007) :
1. Tekanan berputar yang menyebabkan fraktur bersifat oblik atau spiral
2. Tekanan membengkok yang menyebabkan fraktur transversal
3. Tekanan sepanjang aksis tulang yang dapat menyebabkan fraktur impaksi,
dislokasi, atau fraktur dislokasi
4. Kompresi vertikal yang dapat menyebabkan fraktur kominutif atau memecah
5. Trauma oleh karena remuk
6. Trauma karena tarikan pada ligament atau tendon akan menarik sebagian
tulang

D. Faktor Risiko
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
1. Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
(Rasjad,2007)
2. Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan
untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas,
kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang. (Rasjad,2007)

20
E. Klasifikasi
1. Menurut Mansjoer (2002) ada tidaknya hubungan antara patahan tulang
dengan dunia luar di bagi menjadi 2 antara lain:
a) Fraktur tertutup (closed)
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar, disebut dengan fraktur bersih (karena kulit masih utuh)
tanpa komplikasi.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan
keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:

1. Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera


jaringan lunak sekitarnya.
2. Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan
jaringan subkutan.
3. Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak
bagian dalam dan pembengkakan.
4. Tingkat 3 : Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata
dan ancaman sindroma kompartement.
b) Fraktur terbuka (open/compound fraktur)
Dikatakan terbuka bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang
memungkinkan / potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari
luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah.
Derajat patah tulang terbuka :
1) Derajat I : Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokasi fragmen
minimal.
2) Derajat II : Laserasi > 2 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi
fragmen jelas.
3) Derajat III :Luka lebar, rusak hebat, atau hilang jaringan sekitar.

21
2. Menurut Mansjoer (2002) derajat kerusakan tulang dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Patah tulang lengkap (Complete fraktur)
Dikatakan lengkap bila patahan tulang terpisah satu dengan yang lainya,
atau garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang dan
fragmen tulang biasanya berubak tempat.

b. Patah tulang tidak lengkap ( Incomplete fraktur )


Bila antara oatahan tulang masih ada hubungan sebagian. Salah satu sisi
patah yang lainya biasanya hanya bengkok yang sering disebut green
stick. Menurut Price dan Wilson ( 2005) kekuatan dan sudut dari tenaga
fisik,keadaan tulang, dan jaringan lunak di sekitar tulang akan
menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak
lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah,
sedangkan pada fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh
ketebalan tulang.
3. Menurut Mansjoer (2002) bentuk garis patah dan hubungannya dengan
mekanisme trauma ada 5 yaitu:
a. Fraktur Transversal : fraktur yang arahnya malintang pada tulang dan
merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
b. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat dari trauma angulasi juga.
c. Fraktur Spiral : fraktur yang arah garis patahnya sepiral yang di sebabkan
oleh trauma rotasi.
d. Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang kea rah permukaan lain.
e. Fraktur Afulsi : fraktur yang di akibatkan karena trauma tarikan atau
traksi otot pada insersinya pada tulang.

22
4. Menurut Smeltzer dan Bare (2001) jumlah garis patahan ada 3 antara lain:
a. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan
b. Fraktur Segmental : fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
c. Fraktur Multiple : fraktur diman garis patah lebih dari satu tapi tidak pada
tulang yang sama.
F. Patologi
Tindakan operasi pemasangan plate and screw ini dilakukan incise.
Kemungkinan otot yang terkena M. tibialis anterior, sedangkan arteri yang
mungkin terkena adalah arteri tibialis anterior. Akibat terpotongnya pembuluh
darah maka cairan dalam sel akan keluar ke jaringan dan menyebabkan
pembengkakan. Dengan adanya ini akan menekan ujung syaraf sensoris yang
akan menyebabkan nyeri. Akibatnya gerakan pada area tersebut akan terbatas
oleh karena nyeri itu sendiri (Appley&Solomon,2010).
Pada kasus fraktur untuk mengembalikan secara cepat maka perlu
tindakan operasi dengan immobilisasi (Apley, 2010). Immobilisasi yang sering
digunakan yaitu plate and screw. Untuk memasang plate and screw tersebut
perludilakukan operasi sehingga dilakukan incisi yang menyebabkan
kerusakan jaringan lunak di bawah kulit maupun pembuluh darah yang akan
diikuti dengan keluarnya cairan dari pembuluh darah dan terjadi proses radang
sehingga menimbulkan oedema. Proses radang ditandai dengan adanya
leukosit yang meningkat dan saat keluarnya cairan dari pembuluh darah
ditandai dengan adanya hemoglobin yang menurun sehingga mempengaruhi
kondisi umum pasien.
Adanya oedema akan dapat menekan nociceptor sehingga merangsang
timbulnya nyeri. Nyeri juga timbul karena adanya luka sayatan pada saat
operasi yang dapat menyebabkan ujung-ujung saraf sensoris teriritasi sehingga
penderita enggan untuk menggerakkan daerah yang sakit. Keadaan ini apabila

23
dibiarkan terus menerus akan menimbulkan spasme otot dan terjadi penurunan
lingkup gerak sendi (LGS) yang lama kelamaan akan mengakibatkan
terjadinya penurunan kekuatan otot diikuti dengan penurunan aktivitas
fungsional (Low,2000).
Pada kondisi fraktur fisiologis akan diikuti proses penyambungan.
Proses penyambungan tulang menurut Apley (2010) dibagi dalam 5 fase, yaitu:
fase haematoma, fase proliferasi, fase pembentukan kalus, fase konsolidasi,
fase remodeling.
1) Fase haematoma
Pada fase haematoma terjadi selama 1-3 hari. Pembuluh darah robek
dan terbentuk haematoma di sekitar dan di dalam fraktur. Tulang pada
permukaan fraktur, yang tidak mendapat persediaan darah akan mati
sepanjang satu atau dua milimeter.
2) Fase proliferasi
Pada fase proliferasi terjadi selama 3 hari sampai 2 minggu. Dalam 8
jam setelah fraktur terdapat reaksi radang akut disertai proliferasi dibawah
periosteum dan di dalam saluran medula yang tertembus ujung fragmen
dikelilingi jaringan sel yang menghubungkan tempat fraktur. Haematoma
yang membeku perlahan- lahan di absorbsi dan kapiler baru yang halus
berkembang ke dalam daerah fraktur.
3) Fase pembentukan kalus
Pada fase pembentukan kalus terjadi selama 2-6 minggu. Pada sel
yang berkembangbiak memiliki potensi untuk menjadi kondrogenik dan
osteogenik, jika diberikan tindakan yang tepat sel itu akan membentuk
tulang, cartilago dan osteoklas. Masa tulang akan menjadi lebih tebal
dengan adanya tulang dan cartilago juga osteoklas yang disebut dengan
kalus. Kalus terletak pada permukaan periosteal dan endosteal. Terjadi
selama 4 minggu, tulang matti akan dibersihkan.

24
4) Fase konsolidasi
Pada fase konsolidasi terjadi 3 minggu hingga 6 bulan. Tulang
fibrosa atau anyaman tulang menjadi padat jika aktivitas osteoklas dan
osteoklastik masih berlanjut maka anyaman tulang berubah menjadi
tulang lamelar. Pada saat ini osteoklas tidak memungkinkan osteoklas
untuk menerobos melalui reruntuhan garis fraktur karena sistem ini cukup
kaku. Celah-celah diantara fragmen dengan tulang baru akan diisi oleh
osteoblast. Perlu beberapa bulan sebelum tulang cukup untuk menumpu
berat badan normal.
5) Fase remodeling
Pada fase remodeling terjadi selama 6 minggu hingga 1 tahun.
Fraktur telah dihubungkan oleh tulang yang padat, tulang yang padat
tersebut akan diresorbsi dan pembetukan tulang yang terus menerus
lamelar akan menjadi lebih tebal, dinding-dinding yang tidak
dikehendaki dibuang, dibentuk rongga sumsum dan akhirnya akan
memperoleh bentuk tulang seperti normalnya. Terjadi dalam beberapa
bulan bahkan sampai beberapa tahun.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur, antara
lain:usia pasien, banyaknya displacement fraktur, jenis fraktur, lokasi
fraktur, pasokan darah pada fraktur, dan kondisi medis yang
menyertainya (Garrison,1996).

G. Tanda danGejala
Adapun tanda klinis saat sebelumoprasi dan setelah oprasi pada fraktur yaitu
1) Tanda klinis saat terjadi fracture antara lain :
Tanda gejala klinis post operasi pemasangan plate and screw
adalah: adanya rasa nyeri setelah operasi, adanya oedema, adanya
penurunan lingkup gerak sendi dari ankle, adanya penurunan aktivitas
fungsional berjalan.

25
2) Tanda klinis setelah operasi
Pada kasus fraktur yang telah dilakukan tindakan OREF dengan
pemasangan plate and screw maka akan memberikan gejala :
a. Adanya nyeri
Nyeri ini timbul dapat berupa nyeri tekan, gerak dan diam. Hal
ini diakibatkan karena rangsangan respon sensoris tubuh oleh karena
kerusakan jaringan dan juga bisa terjadi karena penekanan syaraf
sensoris karena desakan jaringan yang membengkak ( Wall and
melzack, 1999).
b. Adanya bengkak
Sebagai akibat dari pecahnya pembuluh darah arteri dari
operasi, sehingga akan terjadi pembesaran plasma darah balik yang
berlebihan dan sebagai akibatnya yaitu ketidakseimbangan
pengangkutan darah balik dengan darah yang merembes keluar.
c. Penurunan Lingkup Gerak Sendi.
Penurunan LGS disebabkan oleh adanya reaksi proteksi, yaitu
penderita berusaha menghindari gerakan yang menyebabkan nyeri
(Mardiman dkk, 1993). Apabila hal ini dibiarkan terus menerus akan
mengakibatkan penurunan lingkup gerak daripada sendi panggul dan
sendi lutut kanan.
d. Penurunan kekuatan otot
Penurunan kekutan otot terjadi karena adanya pembengkakan
sehingga timbul nyeri dan keterbatasan gerak serta aktifitas terganggu
dan terjadi penurunan kekuatan tungkai kanan (Mardiman dkk, 1993).
e. Penurunan kemampuanfungsional
Akibat adanya nyeri dan oedem maka jaringan yang meradang
dapat kehilangan fungsinya. Setiap sendi di sekitar area radang yang
digerakkan, maka akan timbul nyeri gerak sehingga pasien enggan
menggerakkan sendi tersebut berakibat terjadinya gangguan fungsi

26
H. Diagnosis
1. Anamnesis
Anamnesis terdiri dari:
a. Auto anamnesis:
Dicatat tanggal saat melakukan anamnesis dari dan oleh siapa.
Ditanyakan pemasalahan: mengapa datang, apa yang dirasakan, dan
kapan dikeluhkan, bagian mana yang dimaksud. Kemudian ditanyakan
gejala suatu penyakit atau beberapa penyakit atau beberapa penyakit yang
serupa sebagai pembanding. Ada beberapa hal yang menyebabkan
penderita datang untuk minta pertolongan:
1) Sakit/nyeri
Sifat dari sakit/nyeri:
- Lokasi setempat/meluas/menjalar
- Ada trauma riwayat trauma tau tidak
- Sejak kapan dan apa sudah mendapat pertolongan
- Bagaimana sifatnya: pegal/seperti ditusuk-tusuk/rasa
panas/ditarik-tarik, terus-menerus atau hanya waktu
bergerak/istirahat dan seterusnya
- Apa yang memperberat/mengurangi nyeri
- Nyeri sepanjang waktu atau pada malam hari
- Apakah keluhan ini untuk pertama kali atau sering hilang timbul
2) Kelainan bentuk/pembengkokan
- Angulasi/rotasi/discrepancy (pemendekan/selisih panjang)
- Benjolan atau karena ada pembengkakan
3) Kekakuan/kelemahan
- Kekakuan: Pada umumnya mengenai persendian. Apakah hanya
kaku, atau disertai nyeri, sehingga pergerakan terganggu?
- Kelemahan:Apakah yang dimaksud instability atau kekakuan otot
menurun/melemah/kelumpuhan

27
Dari hasil anamnesis baik secara aktif oleh penderita maupun pasif
(ditanya oleh pemeriksa; yang tentunya atas dasar pengetahuan mengenai
gejala penyakit) dipikirkan kemungkinan yang diderita oleh pasien,
sehingga apa yang didapat pada anamnesis dapat dicocokkan pada
pemeriksaan fisik kemudian.

b. Allo anamnesis:
Pada dasarnya sama dengan auto anamnesis, bedanya yang menceritakan
adalah orang lain. Hal ini penting bila kita berhadapan dengan anak
kecil/bayi atau orang tua yang sudah mulai dementia atau penderita yang
tidak sadar/sakit jiwa; oleh karena itu perlu dicatat siapa yang
memberikan allo anamnesis, misalnya:
- allo anamnesis mengenai bayi tentunya dari ibu lebih cocok daripada
ayahnya
- atau mungkin pada saat ini karena kesibukan orangtua, maka
pembantu rumah tangga dapat memberikan keterangan yang lebih baik
- juga pada kecelakaan mungkin saksi dengan pengantar dapat
memberikan keterangan yang lebih baik, terutama bila yang diantar
tidak sadarkan diri (Reksoprodjo,2009).
2. Pemeriksaan Fisik
Dibagi menjadi dua yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk
mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (status lokalis)
(Rasjad,2007 dan Reksoprodjo,2009) :

a. Gambaran umum:
Perlu menyebutkan:
1) Keadaan Umum (K.U): baik/buruk, yang dicatat adalah tanda-tanda
vital yaitu:
- Kesadaran penderita; apatis, sopor, koma, gelisah
- Kesakitan

28
- Tanda vital seperti tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu
2) Kemudian secara sistematik diperiksa dari kepala, leher, dada (toraks),
perut (abdomen: hepar, lien) kelenjar getah bening, serta kelamin
3) Ekstremitas atas dan bawah serta punggung (tulang belakang)
b. Pemeriksaan lokal:
Harus dipertimbangkan keadaan proksimal serta bagian distal dari anggota
terutama mengenai status neuro vaskuler. Pada pemeriksaan
orthopaedi/muskuloskeletal yang penting adalah:
1) Look (inspeksi)
- Bandingkan dengan bagian yang sehat
- Perhatikan posisi anggota gerak
- Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk
membedakan fraktur tertutup atau terbuka
- Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam samapai beberapa
hari
- Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan
kependekan
2) Feel (palpasi)
Pada waktu mau meraba, terlebih dulu posisi penderita diperbaiki agar
dimulai dari posisi netral/posisi anatomi. Pada dasarnya ini merupakan
pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah, baik si pemeriksa
maupun si pasien, karena itu perlu selalu diperhatikan wajah si pasien
atau menanyakan perasaan si pasien.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
- Temperatur setempat yang meningkat
- Nyeri tekan, nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya
disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat
fraktur pada tulang
- Krepitasi

29
- Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi
arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai
dengan anggota gerak yang terkena. Refilling (pengisian) arteri
pada kuku, warna kulit pada bagian distal daerah trauma,
temperatur kulit.
- Pengukuran tugkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui
adanya perbedaan panjang tungkai
3) Move (pergerakan terutama mengenai lingkup gerak)
Setelah memeriksa feel pemeriksaan diteruskan dengan menggerakkan
anggota gerak dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada
pergerakan.
Pada anak periksalah bagian yang tidak sakit dulu, selaiam untuk
mendapatkan kooperasi anak pada waktu pemeriksaan, juga untuk
mengetahui gerakan normal si penderita. Pencatatan lingkup gerak ini
perlu, agar kita dapat berkomunikasi dengan sejawat lain dan evaluasi
keadaan sebelum dan sesudahnya.Apabila terdapat fraktur tentunya
akan terdapat gerakan abnormal di daerah fraktur (kecuali pada
incomplete fracture).Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat
gerakan dari setiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau
dengan ukuran metrik.Pencatatan ini penting untuk mengetahui apakah
ada gangguan gerak.Kekakuan sendi disebut ankilosis dan hal ini dapat
disebabkan oleh faktor intra artikuler atau ekstra artickuler.
- Intra artikuler: Kelainan/kerusakan dari tulang rawan yang
menyebabkan kerusakan tulang subkondral; juga didapat oleh
karena kelainan ligament dan kapsul (simpai) sendi
- Ekstra artikuler: oleh karena otot atau kulit
Pergerakan yang perlu dilihat adalah gerakan aktif (penderita sendiri
disuruh menggerakkan) dan pasif (dilakukan oleh pemeriksa). Selain
pemeriksaan penting untuk mengetahui gangguan gerak, hal ini juga

30
penting untuk melihat kemajuan/kemunduran pengobatan. Selain
diperiksa pada posisi duduk dan berbaring juga perlu dilihat waktu berdiri
dan jalan. Jalan perlu dinilai untuk mengetahui apakah pincang
disebabkan karena instability, nyeri, discrepancy, fixed deformity.

3. Pemeriksaan Radiologis
Dengan pemeriksaan klinik kita sudah dapat mencurigai adanya fraktur.
Walaupun demikian pemeriksaan radiologis diperlukan untuk menentukan
keadaan, lokasi serta ekstensi fraktur. Untuk menghindarkan nyeri serta
kerusakan jaringan lunak selanjutnya, maka sebaiknya kita mempergunakan
bidai yang bersifat radiolusen untuk imobilisasi sementara sebelum dilakukan
pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa
prinsip dua:
a. Dua posisi proyeksi; dilakukan sekurang-kurangnya yaitu pada antero-
posterior dan lateral
b. Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di proximal dan
distal sendi yang mengalami fraktur
c. Dua anggota gerak. Pada anak-anak sebaiknya dilakukan foto pada kedua
anggota gerak terutama pada fraktur epifisis
d. Dua trauma, pada trauma yang hebat sering menyebabkan fraktur pada dua
daerah tulang. Misalnya pada fraktur kalkaneus atau femur, maka perlu
dilakukan foto pada panggul dan tulang belakang
e. Dua kali dilakukan foto. Pada fraktur tertentu misalnya fraktur tulang
skafoid foto pertama biasanya tidak jelas sehingga biasanya diperlukan
foto berikutnya 10-14 hari kemudian.
Umumnya dengan foto polos kita dapat mendiagnosis fraktur, tetapi perlu
dinyatakan apakah fraktur terbuka/tertutup, tulang mana yang terkena dan
lokalisasinya, apakah sendi juga mengalami fraktur serta bentuk fraktur itu
sendiri. CT-Scan (Computed Tomography-Scan), meskipun tidak secara rutin

31
diperlukan, computed tomography adalah tambahan yang berguna selain x-
rays di beberapa keadaan. Hal ini memungkinkan visualisasi dari patah tulang
terutama di daerah yang sulit untuk ditangkap dengan x-ray karena struktur
tulang atasnya (misalnya, vertebrae cervicalis). Computed tomography
membantu dalam menentukan tingkat gangguan artikular permukaan dalam
patah tulang sendi dan patah tulang patologis untuk menilai kerusakan tulang
dan massa jaringan lunak.MRI (magnetic resonance imaging), meskipun tidak
secara rutin diperlukan, MRI menawarkan keuntungan, memberikan
tomografi yang sangat baik, kontras jaringan lunak, dan resolusi spasial
menggunakan teknologi radiasi non-invasif dan nonionisasi.MRI membantu
dalam mengevaluasi fraktur patologis dan mendiagnosis osteonekrosis dan
osteomielitis, yang keduanya merupakan false positif fraktur. Bone Scan,
pasien dengan fraktur patologis memerlukan scan tulang untuk mengevaluasi
penyakit tulang metastatik dan metabolik, yang melibatkan daerah lain dari
area fraktur (Reksoprodjo,2009)

4. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium meliputi:
a. Pemeriksaan darah rutin untuk mengenai keadaan umum, infeksi
akut/menahun
b. Atas indikasi tertentu: diperlukan pemeriksaan kimia darah, reaksi
imunologi, fungsi hati/ginjal
c. Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan sensitivity test
(Reksoprodjo,2009).
I. Penatalaksanaan
1. Terapi Konservatif
a. Proteksi saja
Misalnya mitella untuk fraktur tibia atau fraktur fibulla dengan kedudukan
baik.

32
b. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur
dengan kedudukan baik.
c. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Misalnya fraktur tibia atau fraktur fibulla. Reposisi dapat dengan anestesi
umum atau anestesi lokal dengan menyuntikkan obat anestesi dalam
hematoma fraktur. Fragmen distal dikembalikan pada kedudukan semula
terhadap fragmen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang
stabil dalam gips.
d. Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau
dipasang gips setelah tidak sakit lagi. Pada anak-anak dipakai traksi kulit
(traksi Hamilton Russel/traksi Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu
dan beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan beban tersebut mencukupi
untuk dipakai sebagai traksi definitif, bilamana tidak maka diteruskan
dengan immobilisasi gips. Untuk orang dewasa traksi definitif harus traksi
skeletal berupa balanced traction.
2. Terapi Operatif
a. Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan
radiologis
1) Reposisi tertutup-Fiksasi eksterna
Setelah reposisi baik berdasarkan kontrol radiologis intraoperatif maka
dipasang alat fiksasi eksterna.
2) Reposisi tertutup dengan kontrol radiologis diikuti fiksasi interna
Misalnya : reposisi fraktur tertutup supra condylair pada anak diikuti
dengan pemasangan paralel pins. Reposisi tertutup fraktur collumum
pada anak diikuti pinning dan immobilisasi gips.

33
Cara ini sekarang terus dikembangkan menjadi close nailing pada
fraktur femur dan tibia, yaitu pemasangan fiksasi interna intra meduller
(pen) tanpa membuka frakturnya.

b. Terapi operatif dengan membuka frakturnya :


1. Reposisi terbuka dan fiksasi interna ORIF (Open Reduction and
Internal Fixation)
Keuntungan cara ini adalah :
Reposisi anatomis.
Mobilisasi dini tanpa fiksasi luar.
Indikasi ORIF :
Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair nekrosis
tinggi, misalnya:
1. Fraktur talus.
2. Fraktur collum femur.
Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya :
- Fraktur avulsi.
- Fraktur dislokasi.
Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya :
- Fraktur Monteggia.
- Fraktur Galeazzi.
- Fraktur antebrachii.
- Fraktur pergelangan kaki.
Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih
baik dengan operasi, misalnya : fraktur femur.
2. Reposisi terbuka dan fiksasi eksterna OREF (Open Reduction and
Eksternal Fixation)
Keuntungan cara ini :

34
Fikstator ini memberikan kenyamanan agi pasien, mobilisasi awal
dan latihan awal untuk sendi di sekitarnya sehingga komplikasi
karena imobilisasi dapat diminimalkan.
Indikasi OREF :
Fraktur trbuka grade II (Seperti grade I dengan memar kulit dan
otot) dan grade III (Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan
pembuluh darah, saraf, otot dan kulit)
Fraktur terbuka disertai dengan hilangnya jaringan atau tulang yang
parah
Fraktur yang sangat kominutif (remuk) dan tidak stabil
Fraktur yang disertai dengan kerusakan pembuluh darah dan saraf
Fraktur pelvis yang tidak bisa diatasi dengan cara lain
Fraktur yang terinfeksi yang dimana fiksasi internal mungkin tidak
cocok. Misalnya pada infeksi pseudoartrosis (sendi palsu)
Non union yang memerlukan kompresi dan perpanjangan
Kadang-kadang pada fraktur tungkai bawah diabetes mellitus.
3. Excisional Arthroplasty
Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi, misalnya :
Fraktur caput radii pada orang dewasa.
Fraktur collum femur yang dilakukan operasi Girdlestone.
4. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis
Dilakukan excisi caput femur dan pemasangan endoprosthesis Moore
atau yang lainnya.
5. Penatalaksanaan Fraktur Terbuka
Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan
penanganan segera.
Tindakan sudah harus dimulai dari fase pra-rumah sakit :
a. Pembidaian

35
b. Menghentikan perdarahan dengan perban tekan
c. Menghentikan perdarahan besar dengan klem
Tiba di UGD rumah sakit harus segera diperiksa menyeluruh oleh
karena 40% dari fraktur terbuka merupakan polytrauma. Tindakan life-
saving harus selalu didahulukan dalam kerangka kerja terpadu (team
work).
Yang dapat dilakukan di Rumah Sakit atau Unit Gawat Darurat yaitu:
a. Obati sebagai suatu kegawatan
b. Evaluasi awal dan diagnosis kelainan yang mungkin akan menjadi
penyebab kematian
c. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat, di kamar operasi
dan setelah operasi
d. Segera lakukan debridement dan irigasi yang baik
e. Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya
f. Stabilisasi fraktur
g. Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari
h. Lakukan bone graft autogenous secepatnya
i. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena
6. Penatalaksanaan Fraktur Tertutup
Salah satu prinsip penatalaksanaan fraktur adalah untuk meminimalisir
pergerakan di daerah fraktur/cedera tersebut. Langkah-langkah yang
dilakukan yaitu:
- Rekognisi, yaitu memperkirakan atau memastikan daerah yang
dicurigai adanya fraktur
- Reduksi, berarti mengembalikan fragmen tulang pada
kesejajarannya dan rotasi anatomis Reduksi tertutup,
mengembalikan fragmen tulang ke posisinya ( ujung ujungnya
saling berhubungan ) dengan manipulasi dan traksi manual

36
- Immobilisasi, tau di pertahankan dalam posisi dan kesejajaranyang
benar sampai terjadi penyatuan
- Rehabilitasi, bertujuan untuk mengembalikan kondisi tulang yang
patah ke keadaan normal dan tanpa menggagu proses fiksasi
(Hoppenfeld and Vasantha Murthy. 2000

Penatalaksanaan secara umum:


Bila terjadi trauma, dilakukan primary survey terlebih dahulu.
Sebelum penderita diangkut, pasang bidai untuk mengurangi nyeri, mencegah
(bertambahnya) kerusakan jaringan lunak dan makin buruknya kedudukan
fraktur. Bila tidak terdapat bahan untuk bidai, maka bila lesi di anggota gerak
bagian atas untuk sementara anggota yang sakit dibebatkan ke badan penderita
(Purwadianto dan Budi,2000). Pilihan adalah terapi konservatif atau operatif.
Pilihan harus mengingat tujuan pengobatan fraktur yaitu mengembalikan fungsi
tulang yang patah dalam jangka waktu sesingkat mungkin (Reksoprodjo,2009)

J. Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat terjadi:
1. Tulang
a. Delayed Union
Kecepatan Union pada fraktura berhubungan erat dengan suplai darah
setempat. Pada tempat dengan suplai darah yang banyak jarang
menimbulkan masalah pada terbentuknya union. Di tempat dengan suplai
darah yang terganggu, maka union yang normal akan lambat terjadi dan
harus dipertahankan immobilisasi yang sempurna sampai terdapat tanda-
tanda union secara klinik dan radiologik (Aston & Hughes, 1983). Dapat
terjadi pada fraktur melintang, terutama bila terlalu banyak digunakan
traksi atau bila pasien belum melatih fleksor dan ekstensor siku secara
aktif (Apley & Solomon, 1995).

37
b. Non Union
Dikatakan non-union bila secara radiologik terdapat celah yang nyata di
antara ujung-ujung tulang, disertai sklerosis fragmen tersebut (Aston &
Hughes, 1983).
c. Mal-Union
Suatu fraktura bisa bersatu dalam posisi yang jelek, baik karena ujung
tulang tumpang tindih yang menyebabkan pemendekan tulang atau
karena ujung tulang menyatu dalam bentuk deformitas anguler atau
karena menyatu dalam posisi terpuntir pada bidang longitudinal.
d. Avascular necrosis
2. Sendi
a. Adhesi
b. Sudecks atrophy
Bermula dari Refleks Distrofi Simpatetik (RSD). RSD adalah sindrom
nyeri, hiperestesia, gangguan vasomotor dan perubahan distrofik pada
kulit dan tulang dari ekstremitas yang terkena. RSD yang terjadi setelah
trauma jaringan lunak dengan temuan atrofi tulang yang predominan,
dirujuk sebagai atrofi tulang sudek (Garrison, 2001) atau Osteodistrofi
Sudeck (Aston & Hughes, 1983).
c. Stiffness
3. Otot dan Tendon
a. Post traumatic tendinitis
b. Myositis ossificans
c. Muscle wasting
4. Nervus
a. Neuropraxia
b. Axonotmesis
c. Neurotmesis

38
5. Artery
Gangguan suplai arteri (Reksoprodjo,2009).

K. Prognosis
Menurut Soeharso (1993), fraktur dapat disembuhkan atau disatukan
kembali fragmen-fragmen tulangnya melalui operasi. Namun ada sebagian
jenis fraktur yang sulit disatukan kembalifragmen-fragmen yaitu fraktur pada
tulang ulna, tulang radius, tulang fibula dan tulang tibia. Fraktur pada daerah
elbow, caput femur dan cruris dapat menyebabkan kematian karena pada
daerah tersebut dilewati saraf besar yang sangat berperan dalam kehidupan
seseorang. Prognosis fraktur tergantung dari jenis fraktur, usia penderita, letak,
derajat keparahan, cepat dan tidak adanya penanganan.
Prognosis pada pasca operasi fraktur cruris tergantung pada jenis dan
bentuk fraktur, bagaimana operasinya, dan peran dari fisioterapi. Prognosis
dikatakan baik jika penderita secepat mungkin dibawa ke rumah sakit sesaat
setelah terjadi trauma, kemudian jenis fraktur yang diderita ringan, bentuk dan
jenis perpatahan simple, kondisis umum pasien baik, usia pasien relative muda,
tidak terdapat infeksi pada fraktur dan peredaran darah lancar. Penanganan
yang diberikan seperti operasi dan pemberian eksternal fiksasi juga sangat
mempengaruhi terutama dalam memperbaiki struktur tulang yang patah.
Setelah operasi dengan pemberian eksternal fiksasi berupa plate and screw,
diperlukan terapi latihan untuk mengembalikan aktivitas fungsionalnya.
Pemberian terapi latihan yang tepat akan memberikan prognosis yang
baik bila mana:
1. Quo ad vitam baik jika pada kasus ini tidak mengancam jiwa pasien
2. Quo ad sanam baik jika jenis perpatahan ringan, usia pasien relative muda
dan tidak ada infeksi pada fraktur
3. Quo ad fungsionam baik jika pasien dapat melakukan aktivitas fungsional
4. Quo ad cosmeticam yang disebut juga dengan proses remodeling baik jika

39
tidak terjadi deformitas tulang.
Dalam proses rehabilitasi, peran fisioterapi sangat penting terutama dalam
mencegah komplikasi dan melatih aktivitas fungsionalnya. (Soeharso 1993).

40
BAB III
REHABILITASI MEDIK PADA FRAKTUR CRURIS

A. Definisi
Rehabilitasi medik adalah ilmu pengetahuan kedokteran yang
mempelajari masalah atau semua tindakan yang ditujukan untuk
mengurangi/menghilangkan dampak keadaan sakit/nyeri/cacat dan atau
halangan serta meningkatkan kemampuan pasien mencapai integrasi sosial.
Rehabilitasi medik pada fraktur yaitu berupa latihan untuk meningkatkan
ambulasi, mengurangi nyeri, meningkatkan lingkup gerak sendi-sendi di sekitar
fraktur maupun daerah yang berjauhan dari daerah fraktur pada anggota gerak
yang sama, dan memulihkan kekuatan otot. Latihan dilakukan segera untuk
mencegah terjadinya komplikasi akibat tirah baring yang lama, mencegah
disabilitas, penderita dapat kembali ke tingkat fungsional sebelum terjadinya
fraktur (Williams and Wilkins,2000).

B. Masalah Rehabilitasi Medik Jangka Pendek dan Panjang pada Fraktur


Cruris
Problematika rehabilitasi medik yang sering muncul jangka pendek
yaitu nyeri pada sendi engkel dan lutut, keterbatasan ROM pada sendi engkel
dan lutut, dan ADL. Jangka panjang yaitu fraktur transversal dan fraktur
terbuka memiliki insidensi tinggi non union, terganggunya distrofi reflex
simpatis, dapat terjadi disuse atrofi pada kaki yang cedera, dan tulang non
union. Masalah pada fraktur crurismeliputi impairment, functional limitation
dan disability (Emedicine, 2017)
1. Impairment
Problematika yang muncul adalah (1) adanya edemapada kaki atas terjadi
karena suatu reaksi radang atau respon tubuh terhadap cedera jaringan, (2)
adanya nyerigerak akibat luka sayatan operasi yang menyebabkan ujung -ujung

41
saraf sensoris teriritasi dan karena adanya edema pada daerah sekitar fraktur,
(3) penurunan luas gerak sendi karena adanya nyeri dan oedem pada daerah
sekitar fraktur, (4) adanya penurunan kekuatan otot karena nyeri.
2. Functional limitation
Terdapat keterbatasan aktifitas fungsional terutama aktifitas yang
menggunakan tangan
3. Disability
Disability merupakan ketidakmampuan dalam melaksanakan kegiatan yang
berhubungan dengan lingkungan disekitarnya yaitu kesulitan dalam melakukan
aktivitasnya (Williams and Wilkins,2000)

C. Goal Rehabilitasi Medik pada Fraktur Cruris


Goal rehabilitasi medik pada fraktur cruris adalah mengatasi nyeri,
memperbaiki deformitas, melindungi jaringan yang cedera, mencegah
komplikasi, mengembalikan gerakan sendi (ROM), dan memperbaiki kekuatan
otot (Williams and Wilkins,2000).

D. Modalitas Rehabilitasi Medik pada Fraktur Cruris


Terapi latihan merupakan salah satu modalitas fisioterapi yang
pelaksanaannya menggunakan gerak tubuh baik secara aktif maupun pasif
untuk pemeliharaan dan perbaikan kekuatan, ketahanan dan kemampuan
kardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas, stabilitas, rileksasi, koordinasi,
keseimbangan dan kemampuan fungsional (Kisner & Colby, 1996).
a. Latihan fisiologis otot
Mengikuti imobilisasi, otot disekitar bagian yang fraktur akan
kehilangan volume, panjang dan kekuatannya. Perlu penentuan program latihan
yang aman untuk mengembalikan panjang dan fisiologis otot dan mencegah
komplikasi sekunder yang biasanya mengikuti.

42
b. Mobilisasi sendi
Kekakuan sendi sering terjadi dan menjadi masalah utama ketika
anggota gerak badan tidak digerakkan dalam beberapa minggu. Fokus
rehabilitasi adalah melatih dengan teknik dimana dapat menambah dan
mengembalikan lingkup gerak sendi yang terpengaruh ketika fraktur sudah
sembuh. Bila di gips, mobilisasi sendi mulai diberikan secara hati-hati pada
minggu kedua. Sedangkan bila dengan internal fixasi, bisa diberikan sedini
mungkin (Wang, 2006)
c. Massage
Pelepasan keketatan otot dan trigger points yang terjadi pada otot yang
mengikuti pembidaian dan penge-gips-an akan mengurangi nyeri dan
mengembalikan panjang otot.
d. Pemanasan dan Terapi listrik
Sangat umum terjadi kekakuan jaringan lunak bila imobilisasi lama.
Pemanasan dan terapi listrik menunjukkan manfaat tambahan bagi terapi
manual dan terapi latihan dalam mengurangi nyeri dan mengembalikan panjang
otot.
Sedangkan terapi latihan dapat berupa:
1) Range of Motion (ROM)
Gerakan sebuah sendi dengan jangkauan parsial atau penuh yang bertujuan
untuk menjaga dan meningkatkan jangkauan gerak sendi.
1. ROM penuh (full ROM)
ROM penuh artinya ROM yang sesuai dengan dasar anatomi dari sendi itu
sendiri.
2. ROM fungsional
ROM fungsional adalah gerakan sendi yang diperlukan dalam melakukan
aktifitas sehari-hari atau kegiatan pasien yang spesifik. Contohnya: ROM

43
lutut dari ekstensi penuh (00) sampai fleksi 900 merupakan ROM yang tidak
penuh, tetapi ROM ini fungsional untuk duduk.
3. ROM aktif
Pasien disuruh melakukan gerakan sendi secar parsial atau penuh tanpa
bantuan orang lain. Tujuannya untuk memelihara ROM dan kekuatan
minimal akibat kurang aktifitas dan menstimulasi system kardiopulmoner,
Sasarannya otot dengan kekuatan poor sampai dengan good (2 sampai
dengan 4).
4. ROM aktif assistive
Pada latihan ini pasien disuruh kontraksikan ototnya untuk menggerakkan
sendi, dan ahli terapi membantu pasien dalam melakukannya.
5. ROM pasif
Latihan ini dengan menggerakkan sendi tanpa kontraksi otot pasien.
Seluruh gerakan dilakukan oleh dokter atau terapis. Tujuannya memelihara
mobilitas sendi ketika kontrol dari otot-otot volunter/ sendi hilang atau
pasien tidak sadar/ tidak ada respon. Sasarannya otot dengan kekuatan
zerro-trace (0-1).
2) Static contraction
Static contraction merupakan suatu terapi latihan dengan cara
mengkontraksikan otot tanpa disertai perubahan panjang otot maipin
pergerakan sendi. Tujuan kontraksi isometris ini adalah pumping action
pembuluh darah balik, yaitu terjadinya peningkatan perifer resistance of
blood vessel. Dengan adanya hambatan pada perifer maka akan didapatkan
peningkatan tekanan darah dan secara otomatis caridiac output akan
meningkat sehingga mekanisme metabolisme menjadi landar dan udem
menjadi menurun, dan akhirnya nyeri berkurang.
3) Relaxed passive exercise
Gerakan murni berasal dari luar atau terapis tanpa disertai gerakan dari
anggota tubuh pasien. Gerakan ini bertujuan untuk melatih otot secara pasif,

44
oleh karena itu gerakan berasal dariluar atau terapis sehingga dengan gerak
Relaxed passive exercise ini diharapkan otot menjadi rileks dan
menyebabkan efek penguranangan atau penurunan nyeri akibat insisi serta
mencegah terjadinya keterbatasan gerak serta menjaga elastisitas otot.
4) Hold Relax
Hold Relax merupakan teknik latihan yang menggunakan kontraksi otot
secara isometrik kelompok antagonis yang diikuti rileksasi otot tersebut.
5) Aktive exercise
Aktif exercise merupakan gerakan yang dilakukan oleh adanya kekuatan
otot dan anggota tubuh itu sendiri tanpa bantuan, gerakan yang dilakukan
melawan grafitasi penuh.
6) Latihan kekuatan (strengthening exercise)
Syarat melakukan latihan ini adalah (1) kekuatan otot di atas fair (50%) dam
(2) beban di atas 35% dari kemampuan otot
1. Isometric exercise
Pada latihan ini panjang otot tidak bertambah, terjadi kontraksi otot tanpa
pergerakan sendi. Kontraksi optimal enam detik, 1 kali perhari. Bertujuan
untuk meningkatkan penguatan oto ketika ada kontraksi lain seperti fraktur
yang tidak stabil atau adanya nyeri.
2. Isotonic exercise
Merupakan latihan dinamis menggunakan beban statis, tetapi kesepakatan
gerak otot tidak dikontrol. Kontraksi bersamaan dengan gerak sendi.
Latihan ini sering digunakan untuk meningkatkan kekuatan otot pada tahap
pertengahan dan tahap akhir dari rehabilitasi medik (Williams and
Wilkins,2000)

45
E. Program Rehabilitasi Medik Konservatif dan Operatif pada Fraktur
Cruris
1) Minggu 1 (hari pertama sampai hari ketujuh)
- Perhatian : tidak memberi beban pada ekstremitas yang cedera.
- ROM : jika menggunakan brace atau splint tidak boleh ada gerakan sendi
engkel. Jika ORIF atau ekternal fiksasi gerakan aktif semampunya dan aktif
assistive pada ROM sendi engkel dan lutut.
- Kekuatan otot : boleh ada strengthening isometric atau latihan
peregangan otot pada pergerakan sendi engkel dan lutut
- Aktivitas : tidak boleh ada ikut serta ekstemitas yang sakit.
- Treatment : 2 minggu
- Stabilitas pada lokasi fraktur : tidak ada sampai minimal
- Tahap penyembuhan tulang : fase awal penyembuhan dimulai dari fase
reparasi sel osteoprogenitor berdiferensiasi menjadi osteoblast.
- X-Ray : tidak ada sampai terbentuk sedikit kalus.
2) Minggu 2
- Perhatian : tidak memberi beban pada ekstremitas yang cedera.
- ROM : gerakan aktif dan aktif assistif gerakan sendi engkel dan lutut.
- Kekuatan otot : latihan beban yang ringan untuk sendi lutut. Boleh isometric
strengthening sendi engkel dan lutut.
- Aktivitas : tidak boleh ada ikut serta ekstemitas yang sakit pada aktivitas. .
Ekstremitas yang sehat digunakan untuk ADL.
- Treatment : 4 sampai 6 minggu
- Stabilitas fraktur : dengan adanya kalus fraktur akan menjadi stabil,
dibuktikan dengan pemeriksaan fisik.
- Tahap pembentukan tulang : fase reparasi, sejak terbentuknya kalus di
tempat fraktur sudah bisa dikatakan stabil walaupun kekuatan kalus lebih
lemah dibandingkan dengan tulang normal.

46
- X-Ray : pembentukan kalus mulai terlihat. Kalus sudah banyak terlihat di
daerah metafisis. Garis fraktur sudah tidak terlihat.
3) Minggu 4 sampai 6
- Perhatian : tidak melakukan aktivitas berat dengan bagian yang cedera
- ROM : aktif dan aktif assistive gerakan sendi engkel dan lutut
- Kekuatan otot : latihan penguatan isometrik kaki bawah, setelah minggu ke
6 latihan isometrik otot gastrocnemius
- Aktivitas : tidak boleh ada ikut serta ekstemitas yang sakit pada aktivitas
dan perawatan diri dasar.
- Treatment : 8 sampai 11 minggu
- Stabilitas fraktur : kalus telah stabil
- Tingkat pembentukan tulang : pada tulang yang retak digantikan oleh tulang
lameral pada daerah korteks. Proses remodelling ini dibutuhkan waktu
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
- X-Ray : terlihat banyak kalus dan garis fraktur mulai hilang. Kemudian
kanalis medularis daerah metafisis mulai terbentuk.
4) Minggu 8 sampai 12
- Perhatian : jangan digunakan terlebih dahulu untuk berolahraga.
- ROM : aktif, aktif assistif, dan aktif ROM sendi engkel dan PROM pada
lutut dan hip
- Kekuatan otot :NWB lower ekstremitas
- Aktivitas : menggunakan cruck untuk berjalan dan kaki belum digunakan
untu menapak
5) Minggu > 12 minggu
- Kekuatan otot : PWB pada lower ekstremitas
- Aktivitas : bvelajar berjalan menggunakan kaki ( menapak) sesuai dengan
kekuatan
- ROM : latihan rom aktif dan pasif rom (Williams and Wilkins,2000).

47
-
F. Okupasi Terapi
Tujuan Okupasi terapi (OT) adalah membantu seseorang menjadi
mandiri dalam beraktifitas baik dengan alat bantu ataupun tanpa alat bantu
terutama untuk aktivitas kesehariannya.
Jenis-jenis aktifitas yang dilakukan dalan terapi okupasi:
1.) Aktifitas sehari-hari
Okupasi terapis melatih aktifitas-aktifitas sehari-hari seperti memakai /
melepas celana,berjalan, berlari, naik tangga dll.
2.) Aktifitas rumah tangga
Okupasi terapis melatih untuk dapat melakukan kegiatan rumah tangga
3.) Aktifitas di waktu luang
Aktifitas ini lebih dikenal dengan Program Box system. Selain berfungsi
untuk mengisi waktu luang, juga berfungsi untuk menstimulasi fungsi kognitif
serta meningkatkan fungsi motorik halus (Williams and Wilkins,2000).

48
BAB IV
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
1. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
dan/ atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa
2. Fraktur Cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang cruris dan ditentukan
sesuai jenis dan luasnya.
3. Problematika fisioterapi yang sering muncul pada pasca operasi fraktur
crurismeliputi impairment, functional limitation dan disability.
4. Penanganan rehabilitasi medik seperti fisioterapi harus segera dilakukan
sehingga komplikasi yang sifatnya menetap dapat dicegah.
5. Penanganan rehabilitasi medik berupa meningkatkan kekuatan otot,
menambah lingkup gerak sendi dengan modalitas terapi berupa latihan.
Dimulai dari gerakan isometric, dilanjutkan gerakan isotonic secara
bertahap berupa ROM exercise dan latihan gerak fungsional.

49
DAFTAR PUSTAKA

Apley, Solomon ; Buku Ajar Orthopedi dan Fraktur Sistem Apley ; Edisi Kesembilan,
, 2010, halaman 733-750.

Aston, M., Hughes, S. 1983. Kapita Selekta Traumatologik dan Ortopedik (Astons
Short Textbook of Orthopedics and Traumatology). EGC: Jakarta.

Chusid, JG, 1993; Neuro Anatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional. Edisi
empat, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Emedicine. 2017. Cruris Fracture. Accessed: 2ndMarch 2017. Available from:


http://emedicine.medscape.com/article/825488-overview

Garrison, S. J, 1996; Dasar-dasar Terapi Latihan dan Rehabilitasi Fisik;


Terjemahan Hipocrates, Jakarta.

Kisner C., ColbyL.A.2012. TherapeuticExercise: Foundations and Techniques, 6th


Edition. Philadelphia: F. A. Davis Company.

Mansjoer, Arif. dkk. 2002. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius. FKUI.

Norkin and White, 1995; Measurement of Joint Motion a Guide to Goniometry;


Second Edition, F.A Davis Company , Philadelpia.

Price, S. A. dan Wilson, L. M. (2005). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit, Edisi 6, Volume 1. Jakarta: EGC.

Putz, R., Pabst, R. 2006. Sobotta Atlas of Human Anatomy Volume 1 Head, Neck, and
Upper Limb. Germany : Elsevier.

Rasjad, C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: PT. Yarsif Watampone, 2007, Bab.
14; Trauma.

50
Rasjad, C., dkk. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: EGC, 2010, Bab 42; Sistem
Muskuloskeletal.

Reksoprodjo, S. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara Publisher,


2009, Bab 9; Orthopaedi.

Sjamsuhidajat, R., De Jong, W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.

Snell, Richard. S, 1998. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Bagian 2.

MD
Susan, J Garison, 1996; Dasar - dasar Terapi dan Rehabilitasi Fisik: Hipokrates,
Jakarta.

Wang, E.D. & Hurst, L.C. Netters Orthopaedics 1st Edition. Philadelphia: Elsevier,
2006, Chapter 15; Elbow and Forearm.

Williams & Wilkins. Handbook Of Fractures. Philadelphia:Lippincott. 2010:p. 193-


229;604-614

51
LAPORAN KASUS
STATUS KASUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
Nama : An. ADP
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 8 tahun
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Klaten
Agama : Islam
Tanggal Masuk RS : 25 Februari 2017
Tanggal ppemeriksaan : 27 Februari 2017
No RM : xxxxxx
ANAMNESIS
Anamnesis bersifat autoanamnesis.
1) Keluhan Utama :
Nyeri kaki kanan bawah
2) Riwayat Penyakit Sekarang:
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun (pasien), mengeluh nyeri kaki
setelah dilakukan operasi OREF pada fraktur cruris dan metatarsal. Riwayat
penyakit pasein datang ke Rumah Sakit Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta ( 27
februari 2017) dengan keluhan nyeri kaki kanan bawah setelah kecelakaan
terlindas ban mobil sejak 7 jam SMRS (Sebelum Masuk Rumah Sakit). Pasien
menyebrang jalan ke sebrang kampung untuk bermain dengan temannnya tanpa
menoleh kanan kiri saat menyebrang. Posisi saat pasien terjatuh yaitu tidur
terlentang, dan kaki kanan terlindas ban. Setelah jatuh pasien masih dalam
keadaan sadar, tidak ada mual muntah dan pasien merasa kesakitan bagian kaki
kanan bawah dan jari kaki serta kulit terkelupas, dan pasien melihat tulang kaki
keluar dan berdarah. Pasien setelah terjatuh dibawa ke RS Dokter OEN Solo
Baru karena keluarga merasa lebih dekat dengan rumah, saat di Rumah Sakit

52
Dr. OEN Solo Baru sempat dilakukan penanganaan pertama dan rontgen namun
tidak bisa dilakukan operasi cito untuk kasus tersebut, kemudian pasien di rujuk
ke Rumah Sakit Prof. DR. R. Soeharso Surakarta untuk melakukan tindakan
operasi. Pasien sebelumnya belum pernah mengalami patah tulang dan operasi
pada tulang, dan ini merupakan operasi tulang pertama untuk pasien.

Gambar 1.1 setelah operasi


3) Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien belum pernah mengalami patah tulang sebelumnya, dan pasien
baru pertama melakukan tindakan operasi pada tulang. Pasien menyangkal
memiliki penyakit lain seperti penyakit Kejang, Asma, Diabetes, Jantung, Paru,
Alergi, dan lain-lain.
4) Riwayat Fungsional :
a. Mobilitas : Terganggu
b. Aktifitas kehidupan sehari hari : Pasien tidak dapat melakukan
pekerjaan dan kegiatan seharihari dengan normal. Kegiatan tersebut
bersifat ringan sampai berat.
c. Kognisi : Baik
d. Komunikasi : Baik
e. Pekerjaan : Pasien merupakan seorang pelajar SD kelas 2

53
5) Riwayat Psikososial :
a. Dukungan keluarga : Baik
b. Situasi lingkungan : Pasien tinggal di rumah bersama dengan ayah dan
nenek karena ibu sedang merantau
c. Riwayat pekerjaan : Pelajar, pasien merupakan pelajar sekolah SD kelas
2
d. Riwayat psikiatri : Tidak ada gangguan mental
6) Riwayat Pengobatan Dan Alergi :
Pasien tidak memiliki riwayat alergi dan tidak pernah mondok di rumah
sakit.
RINGKASAN ANAMNESIS
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun (pasien), mengeluh nyeri kaki setelah
dilakukan operasi OREF pada fraktur cruris dan metatarsal. Riwayat penyakit pasein
dengan keluhan nyeri pada kaki kanan bawah karena terlindas mobil sejak 7 jam SMRS
(Sebelum Masuk Rumah Sakit). Posisi saat pasien terjatuh yaitu tidur terlentang, dan
kaki kanan terlindas ban. Setelah jatuh pasien masih dalam keadaan sadar, tidak ada
mual muntah dan pasien merasa kesakitan bagian kaki kanan bawah dan jari kaki serta
kulit terkelupas, dan pasien melihat tulang kaki keluar dan berdarah. Pasien setelah
terjatuh dibawa ke RS Dokter OEN Solo Baru karena keluarga merasa lebih dekat
dengan rumah, saat di Rumah Sakit Dr. OEN Solo Baru sempat dilakukan penanganan
pertama dan rontgen namun tidak bisa dilakukan operasi cito untuk kasus tersebut,
kemudian pasien di rujuk ke Rumah Sakit Prof. DR. R. Soeharso Surakarta untuk
melakukan tindakan operasi. Pasien sebelumnya belum pernah mengalami patah tulang
dan operasi pada tulang, dan ini merupakan operasi tulang pertama untuk pasien. Pasien
tidak memiliki riwayat alergi dan penyakit lain seperti jantung, paru, diabetes, dan lain-
lain. Pasien saat ini tinggal bersama ayah dan neneknya karena ibu pasien sedang
merantau. Pasien telah menjalani operasi debridement dan OREF pada kaki kanan
bawah dan jari kaki pada hari Sabtu, 25 Februari 2017.

54
PEMERIKSAAN FISIK
1) Status Generalis:
a. Keadaan Umum
Baik, compos mentis GCS E4V5M6, gizi kesan lebih (berat badan 18 kg,
tinggi badan 118 cm)
b. Tanda Vital
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 92 kali/ mnt, isi cukup, irama teratur, simetris
Respirasi : 22 kali/ mnt, irama teratur, tipe thorakoabdominal
Suhu : 36,5C peraksiler
c. Kulit
Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-), venectasi (-), spider
naevi (-), striae(-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-)
d. Kepala
Bentuk kepala normochepal, kedudukan kepala simetris, luka (-), rambut
hitam, tidak mudah rontok, tidak mudah dicabut, atrofi otot (-).
e. Mata
Conjungtiva palpebra pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan palpebra (-
/-), pupil isokor dengan diameter (3mm/3mm), reflek cahaya (+/+), edema
palpebra (-/-).
f. Telinga
Sekret (-), darah (-), nyeri tekan mastoideus (-).
g. Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), fungsi pembau baik

h. Mulut

55
Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-), pucat (-), lidah kotor (-), papil
lidah atrofi (-), stomatitis (-), luka pada sudut bibir (-), gigi caries (-), karang
gigi (-).
i. Leher
JVP tidak meningkat , trachea ditengah, simetris, pembesaran tiroid (-),
pembesaran limfonodi cervical (-).
j. Limfonodi
Kelenjar limfe retroaurikuler, submandibuler, servikalis, supraklavikularis,
aksilaris dan inguinalis tidak membesar.
k. Thorax
Bentuk simetris, retraksi intercostal (-), spider naevi (-), pernafasan
toracoabdominal, sela iga melebar (-), muskulus pektoralis atrofi (-),
pembesaran KGB axilla (-/-).
l. Jantung
- Inspeksi :ictus cordis tampak
- Palpasi :ictus cordis kuat angkat
- Perkusi :batas jantung kesan tidak membesar
- Auskultasi :bunyi jantung I-II murni, intensitas normal,
reguler, bising (-), gallop (-)
m. Pulmo
- Inspeksi : pengembangan dada kanan=kiri
- Palpasi : fremitus raba kanan=kiri
- Perkusi : sonor/sonor
- Auskultasi : SDV(+/+), Suara tambahan (-/-)
n. Punggung
Kifosis (-), lordosis (-), skoliosis(-), nyeri ketok kostovertebra (-)
o. Abdomen
- Inspeksi : dinding perut sejajar dinding dada
- Auskultasi : bising usus (+) normal

56
- Perkusi : timpani, pekak alih (-). Liver span : 6 cm
- Palpasi : supel, nyeri tekan (-). Hepar dan lien tidak
membesar.

p. Genitourinarius
Ulkus (-), sekret (-), tanda-tanda radang (-).
q. Ekstremitas
Extremitas superior Extremitas inferior
Dextra Sinistra Dextra Sinistra
Edema - - + -
Sianosis - - - -
Pucat - - - -
Akral dingin - - - -
Peting edema - - - -
Ekskoriasi - - - -
Hematoma - - - -

2) Status Neurologik:
Tidak terdapat kelainan
3) Status Lokalis
Tibia Fibula dan shaft metatarsal
a. Look : - Oedem (+)
- Deformitas (-)
b. Feel : - Nyeri Tekan (NT) (+)
c. Move : - Nyeri Gerak (NG) (+)

57
- Gerak engkel terbatas, nyeri (+)
- Gerak jari jari (+) terbatas, nyeri (-)

RANGE OF MOTION (ROM) PADA EKSTREMITAS INFERIOR


Gerak ROM Dextra ROM Sinistra

Ankle Sulit dievalusi


Dorsoflexsi (terpasang OREF 0-15
Plantarflexi dan nyeri) 0-55

Knee
Ekstensi 0 0
Flexi 0-135 0-135

Hip
Ekstensi 5-20 5-20
Fleksi 0-120 0-120
Abduksi 0-40 0-40
Adduksi 0-25 0-25
Endo Rotasi 0-35 0-35
Ekso Rotasi 0-45 0-45

Kesimpulan : ROM dalam batas normal kecuali pada ankle sulit dievalusi karena
terpasang OREF dan terdapat nyeri gerak.

58
MANUAL MUSCLE TESTING (MMT) PADA EKSTREMITAS INFERIOR
EKSTREMITAS INFERIOR DEXTRA SINISTRA
ANKLE Dorsoflexsi Sulit dievaluasi 5
Plantarflexi (Nyeri) 5

KNEE Ekstensi 4 5
Flexi Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi

HIP Ekstensi Sulit dievalusi Sulit dievalusi


Fleksi 5 5
Abduksi 5 5
Adduksi Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi
Endo Rotasi Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi
Ekso Rotasi Sulit dievaluasi Sulit dievaluasi

SENSIBILITAS
Sensibilitas Dextra Sinistra
Sensorik protopatik N N
Sensorik proprioseptik N N

REFLEK FISIOLOGIS
Reflek fisiologis Dextra Sinistra
patella N N
plantar Tidak bisa dinilai N

59
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto Rontgen
Sebelum operasi

Setelah operasi

2. Laboratorium
Hasil Laboratorium (Tanggal pemeriksaan 25 Februari 2017)
Sebelum OP (Tanggal pemeriksaan 25 Februari 2017)
Hb 10,2 Normal
Hematokrit 32 Normal
Leukosit 30.200 Menurun (Normal 4000-10.000)
Eritrosit 3,8 Normal
Trombosit 434.000 Normal
Prothrombin (PT) 18,7 Normal

60
INR 1,70 Normal
APTT 28,4 Normal
HbsAg Negatif Normal
GDS 99 Normal

Setelah OP (Tanggal Pemeriksaan 26 Februari 2017)


Hb 7,5 Anemia (11,5 14,5)
Hematokrit 23 Normal
Leukosit 23.800 Menurun (Normal 4000-10.000)
Eritrosit 2,8 Normal
Trombosit 370.000 Normal

Setelah OP (Tanggal Pemeriksaan 27 Februari 2017)


Hb 9,3 Anemia (11,5 14,5)
Hematokrit 29 Normal
Leukosit 14.500 Menurun (Normal 4000-10.000)
Eritrosit 3,4 Normal
Trombosit 240.000 Normal

DIAGNOSIS
Diagnosis Medis :
Open Fraktur 1/3 Distal Cruris (Tibia et Fibula) Dan Metatarsal Digiti III IV Pedis
Dextra
Diagnosis Fungsional :
- Impairment : Open Fraktur 1/3 Distal Cruris (Tibia et Fibula) Dan Metatarsal
Digiti III IV Pedis Dextra
- Disability : ADL (Activity Daily Living)
Limited ROM engkel dextra

61
Gangguan mobilisasi
Nyeri
Gangguan ambulasi
- Handicap : keterbatasan dalam aktivitas sosial ( tidak bisa bersekolah, tidak bisa
bermain dengan teman dll)
PROBLEM REHABILITASI MEDIK
Nyeri
ADL Terganggu
Limited ROM ankle dexra
Ganguan mobilisasi
Gangguan ambulasi
Ganguan dalam aktivitas sosial ( bersekolah, bermain)
TERAPI MEDIKAMENTOSA
Sebelum Operasi :
IVFD RL (Intravena Fluid Drip Ringer Laktat)
Antibiotik Profilaksis Injeksi Cefazolin 500mg
Setelah Operasi :
Injeksi Metamizol 3 x 500 mg
Fentanyl 100 mcg dalam RL 500 cc 10 tpm
Injeksi Cefazolin 500mg/ 8jam

PENATALAKSANAAN REHABILITASI MEDIK


Post OP
Fisioterapi = Ankle exercise
Isometric exercise ankle quadricep (d)
Elevasi Pedis Dextra
AROM ankle dextra
AROM / PROM genu dextra

62
Okupasi terapi : Latihan Aktivitas sehari-hari (ADL)
Mobilisasi (miring, duduk dll )
NWB lowes exstremitas (D)
Ambulasi NWB
Axillar cruck bilateral exc
Psikologi : Diperlukan
Ortotik prostetik : Axilar cruck bilateral
PSM : Tidak diperlukan

PROGNOSIS
a.Quo ad vitam : ad bonam
b. Quo ad sanationam :ad bonam
c. Quo ad funcionam : ad bonam

63
FOLLOW UP
Follow Up Senin, 27 Februari 2017 (Post OREF)
Rehabilitasi Medik Ortopedi
S Nyeri kaki kanan bawah (+) Nyeri post op (+)
O Lower Extremity Dextra KU : sedang, kesadaran : CM
Look : spastik (+), swelling (+) Regio humerus Sinistra Look :
Feel : Nyeri Tekan (+) Nyeri Gerak (+) elastis (+), rembes (+)
Move : ROM jari-jari terbatas. foot = Feel : NT (+), ROM terbatas karena
terbatas, ROM ankle terbatas. nyeri
A OF metatarsal III IV pedis dextra Post Debridement dan OREF open
OF tibia fibula de4xtra 1/3 distal fraktur 1/3 distal cruris (tibia fibula)
dextra dan metatarsal digiti iii iv
pedis dextra
P Meningkatkan fungsi Mengembalikan fungsi
Fisioterapi = Positioning lower Diet TKTP
extremity, ankle exercise, isometric Infus RL 14 tpm
exercise ankle (d) Injeksi cefazolin 500 mg/8jam
OT : Latihan ADL Injeksi Antalgin 500 mg/8jam
PSM : tidak diperlukan Vit C tablet 2 x 250 mg
Psikolog : diperlukan Rontgen post op
ROM exercise
Medikasi luka/ 2 hari

64
Follow Up Selasa, 28 Februari 2017 (Post OREF)
Rehabilitasi Medik Ortopedi
S Nyeri kaki kanan bawah (+) Nyeri post OP berkurang (+)
O Lower Extremity Dextra KU : sedang, kesadaran : CM
Look : terpasang elastic bandage (+), Regio ankle dextra
oedema (+) Look : elastis (+), rembes (+)
Feel : Nyeri Tekan (+) Nyeri Gerak (+) Feel : NT (+), ROM ankle
Hangat (+) MTP tebatas.
Move : ROM jari-jari terbatas. foot =
terbatas, ROM ankle terbatas.
A OF metatarsal III IV pedis dextra Post Debridement dan OREF
OF tibia fibula de4xtra 1/3 distal open fraktur 1/3 distal cruris
(tibia fibula) dextra dan
metatarsal digiti iii iv pedis
dextra
P Meningkatkan fungsi Mengembalikan fungsi
Fisioterapi = Positioning, AROM exercise Diet TKTP
jari-jari dan foot dextra, AROM exercise Infus RL 14 tpm
hip/knee dextra, Isometric exercise ankle et Injeksi cefazolin 500 mg/
cruris dextra, NWB dengan cruck 12jam
OT : Latihan ADL Injeksi Antalgin 500 mg/
PSM : tidak diperlukan 12jam
Psikolog : diperlukan Vit C tablet 2 x 250 mg
ROM exercise
Medikasi luka/ 2hari

65
Follow Up Selasa, 29 Februari 2017 (Post OREF)
Rehabilitasi Medik Ortopedi
S Nyeri kaki kanan bawah (+) Nyeri post OP berkurang (+)
O Lower Extremity Dextra KU : sedang, kesadaran : CM
Look : terpasang elastic bandage (+), Regio ankle dextra
oedema (+), rembes (+) Look : elastis (+), rembes (+)
Feel : Nyeri Tekan (+) Nyeri Gerak (+) Feel : NT (+), ROM ankle
Hangat (+) MTP tebatas.
Move : ROM jari-jari terbatas. foot =
terbatas, ROM ankle terbatas.
A OF metatarsal III IV pedis dextra Post Debridement dan OREF
OF tibia fibula de4xtra 1/3 distal open fraktur 1/3 distal cruris
(tibia fibula) dextra dan
metatarsal digiti iii iv pedis
dextra
P Meningkatkan fungsi Mengembalikan fungsi
Fisioterapi = Positioning, AROM dan Diet TKTP
PROM exercise jari-jari dan foot dextra, Infus RL 14 tpm
PROM exercise hip/knee dextra, Isometric Injeksi cefazolin 500 mg/
exercise ankle et cruris dextra, NWB dengan 12jam
cruck anak Injeksi Antalgin 500 mg/
OT : Latihan ADL 12jam
PSM : tidak diperlukan Vit C tablet 2 x 250 mg
Psikolog : diperlukan ROM exercise
Medikasi luka/ 2hari

66
Follow Up Rabu, 1 Maret 2017 (Post OREF)
Rehabilitasi Medik Ortopedi
S Nyeri kaki kanan bawah (+) Nyeri post OP berkurang (+)
O Lower Extremity Dextra KU : sedang, kesadaran : CM
Look : terpasang elastic bandage (+), Regio ankle dextra
oedema (+), rembes (-) Look : elastis (+), rembes (+)
Feel : Nyeri Tekan (+) Nyeri Gerak (+) Feel : NT (+), ROM ankle
Hangat (+) MTP tebatas.
Move : ROM jari-jari terbatas. foot =
terbatas, ROM ankle terbatas.
A OF metatarsal III IV pedis dextra Post Debridement dan OREF
OF tibia fibula de4xtra 1/3 distal open fraktur 1/3 distal cruris
(tibia fibula) dextra dan
metatarsal digiti iii iv pedis
dextra
P Meningkatkan fungsi Mengembalikan fungsi
Fisioterapi = Positioning, AROM dan Diet TKTP ekstra putih telur
PROM exercise jari-jari dan foot dextra, Infus RL 14 tpm
PROM exercise hip/knee dextra, Isometric Osteocare syr 1XC2
exercise ankle et cruris dextra, NWB dengan Antalgin syr 2XC1
walker anak Cefadroxyl syr 2XC1
OT : Latihan ADL Vit C tablet 2 x 125 mg
PSM : tidak diperlukan ROM exercise
Psikolog : diperlukan Latih mobilisasi NWB
Medikasi luka/ 2hari

67
Follow Up Kamis, 2 Maret 2017 (Post OREF)
Rehabilitasi Medik Ortopedi
S Nyeri kaki kanan bawah (menurun) Nyeri post OP berkurang (+)
O Lower Extremity Dextra KU : sedang, kesadaran : CM
Look : terpasang elastic bandage (+), Regio ankle dextra
oedema (+), rembes (+) Look : elastis (+), rembes (+)
Feel : Nyeri Tekan (+) Nyeri Gerak (+) Feel : NT (+), ROM ankle
Hangat (+) MTP tebatas.
Move : ROM jari-jari terbatas. foot =
terbatas, ROM ankle terbatas.
A OF metatarsal III IV pedis dextra Post Debridement dan OREF
OF tibia fibula de4xtra 1/3 distal open fraktur 1/3 distal cruris
(tibia fibula) dextra dan
metatarsal digiti iii iv pedis
dextra
P Meningkatkan fungsi Mengembalikan fungsi
Fisioterapi = Positioning, AROM dan Diet TKTP ekstra putih telur
PROM exercise jari-jari dan foot dextra, Osteocare syr 1XC2
PROM exercise hip/knee dextra, Isometric Antalgin syr 2XC1
exercise ankle et cruris dextra, NWB dengan Cefadroxyl syr 2XC1
walker anak Vit C tablet 2 x 125 mg
OT : Latihan ADL ROM exercise
PSM : tidak diperlukan Latih mobilisasi NWB
Psikolog : diperlukan Medikasi luka/ 2hari
Bila KU baik boleh pulang
Edukasi untu merawat luka
BLPL

68
PROYEKSI KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun (pasien), mengeluh nyeri kaki setelah
dilakukan operasi OREF pada fraktur cruris dan metatarsal. Riwayat sebelumnya
pasiendatang ke Rumah Sakit Prof. DR. R. Soeharso Surakarta dengan keluhan nyeri
pada kaki kanan bawah karena terlindas mobil sejak 7 jam SMRS (Sebelum Masuk
Rumah Sakit). Pasien menyebrang jalan kesebrang kampung untuk bermain dengan
temannnya tanpa menoleh kanan kiri saat meyebrang. Posisi saat pasien terjatuh yaitu
tidur terlentang, dan kaki kanan terlindas ban mobil. Setelah jatuh pasien masih dalam
keadaan sadar, tidak ada mual muntah dan pasien merasa kesakitan bagian kaki kanan
bawah dan jari kaki serta kulit terkelupas, dan pasien melihat tulang kaki keluar dan
berdarah. Pasien setelah terjatuh dibawa ke RS Dokter OEN Solo Baru karena keluarga
merasa lebih dekat dengan rumah, saat di Rumah Sakit Dr. OEN Solo Baru sempat
dilakukan penanganaan pertama dan rontgen namun tidak bisa melakukan operasi cito
untuk kasus tersebut, kemudian pasien di rujuk ke Rumah Sakit Prof. DR. R. Soeharso
Surakarta untuk melakukan tindakan operasi. Pasien sebelumnya belum pernah
mengalami patah tulang dan operasi pada tulang, dan ini merupakan operasi tulang
pertama untuk pasien. Pasien tidak memiliki riwayat alergi dan penyakit lain seperti
jantung, paru, diabetes, dan lain-lain. Pasien saat ini tinggal bersama ayah dan
neneknya karena ibu pasien sedang merantau. Pasien telah menjalani operasi
debridement dan OREF pada kaki kanan bawah dan jari kaki pada hari Sabtu, 25
Februari 2017.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan keadaan umum: Baik, kesadaran compos
mentis. Vital sign: TD: 110/80mmHg, Rr: 22x/menit, N: 92x/menit, Suhu : 36,50C.
Kepala, Leher, Paru- paru, Jantung, Abdomen, dan ekstremitas semua dalam batas
normal. Pada status lokalis terdapat Cruris ( Tibia Fibula ) dan shaft metatarsal oedem
(+), deformitas (-), tidak terpasang drain, adanya nyeri tekan (NT), nyeri gerak (kaki
kanan bawah dan jari kaki) (+)
Terapi yang dapat digunakan untuk melindungi dari infeksi pada pasien ini
adalah penggunaan obat golongan antibiotik berupa Cefazolin. Untuk mengatasi nyeri

69
pada pasien ini adalah penggunaan obat golongan NSAID berupa antalgin atau
methampiron. Selain itu pasien juga diberikan kalsium sirup yang bertujuan sebagai
asupan kalsium tambahan untuk tulang.
Pasien tetap diberikan edukasi agar menjalankan fisioterapi dengan Ankle
exercise, Isometric exercise ankle quadricep (d), Elevasi Pedis Dextra, AROM ankle
dextra, AROM / PROM genu dextra Okupasi terapi berupa : Latihan Aktivitas sehari-
hari (ADL), Mobilisasi (miring, duduk dll ), NWB lowes exstremitas (D), Ambulasi
NWB, , Axillar cruck bilateral exc. Pekerjaan pasien adalah sebagai seorang pelajar.
Pasien mengaku sehari hari melakukan aktifitas makan, minum, bab, bak dengan
bantuan orang lain. Hal yang paling penting adalah pemberian edukasi yang tepat pada
pasien agar rasa nyeri yang didapatkan dari fraktur dapat diminimalisir. Pasien dapat
diminta untuk mengurangi kegiatan yang dapat membebani sakit pada kaki bawah
kanan. Pasien juga harus diberikan pengetahuan yang baik mengenai cara melatih
kekuatan otot pasca operasi. Dapat diberikan terapi okupasi pada pasien tersebut, yaitu
ADL (activity daily living).

70