Anda di halaman 1dari 6

Nama : Mita Junita Putri, S.

KG
NIM : 04074881517009
Tugas Pedodonsia

Perawatan Estetik pada Gigi Fluorosis dengan Keramik Veneer dan Perlekatan
komposit secara langsung - Gambaran Umum dan Presentasi Kasus
(Kapil JhaJharia1, harSh haren Shah, aShutoSh paliwal, Viral pariKh, ShriKant patel
Journal of Clinical and Diagnostic Research. 2015 Jun, Vol-9(6): ZD28-ZD3028 28)

Abstrak

Perubahan warna gigi adalah masalah yang umum dan dapat terjadi pada semua umur.
Selain itu perawatan secara konvensional menjadi pilihan pada umumnya, pilihan baru
tersedia dengan teknik dan bahan yang lebih baik. Laporan kasus saat ini menggambarkan
seorang gadis berusia 17 tahun yang memiliki gigi bernoda dan berbintik-bintik, disebabkan
oleh fluorosis gigi dan menginginkan perawatan estetik. Pro dan kontra dari semua pilihan
pengobatan dipertimbangkan dengan hati-hati dan rencana perawatan yang dipilih
menggunakan keramik veneer dan perlekatan komposit secara langsung. Rencana perawatan
menghasilkan estetik dan fungsional yang baik.
Kata kunci : Perawatan Estetik, komposit gigi flourosis, perubahan warna gigi

Laporan Kasus
Seorang gadis berusia 17 tahun dirujuk ke klinik swasta di Jaipur, Rajasthan untuk
perawatan estetik pada gigi yang berubah warna. Pasien mengeluhkan tidak percaya diri saat
tersenyum karena giginya bernoda. Riwayat klinis didapatkan secara detail. Pasien tersebut
lahir di Gangapur, Rajasthan, India dan pernah tinggal di wilayah yang sama sejak saat itu.
Pasien memiliki kakak laki-laki yang juga menderita kondisi serupa.

Pemeriksaan intraoral menunjukkan perubahan warna menyeluruh pada giginya.


Semua gigi terlihat area berbintik-bintik dan putih berkapur. Lubang pada enamel dan
warnanya coklat kekuningan. Diastema di antara gigi insisif tengah rahang atas. Fraktur Ellis
kelas I pada kedua gigi insisif lateral rahang atas pada tepi insisal dan kedua gigi caninus
rahang atas pada ujung cusp.
Gambar 1a. Penglihatan pra-operasi menunjukkan fluorosis secara menyeluruh dengan perubahan
warna dan pitting. Gambar 1b. Mock-up komposit untuk fraktur insisif lateral rahang atas dan caninus
dan sentral insisif dengan keadaan diastema.

Tahap persiapan perawatan dimulai dengan analisis senyum, pemilihan warna, foto
dan model studi. Oklusi pasien ditentukan sebagai kelas I. Tahapan perawatan untuk fluorosis
gigi termasuk pemolesan, mikro / makroabrasi, pemutihan gigi, pelapis komposit, veneer
laminasi porselen dan mahkota veneer harus dijelaskan kepada orang tua pasien. Setelah
membahas pilihan pengobatan dan mempertimbangkan usia pasien dan tingkat keparahan
fluorosis, diputuskan untuk menggunakan keramik veneer pada gigi insisif dan gigi caninus
rahang atas. Direct veneer komposit direncanakan untuk gigi premolar rahang atas dan gigi
insisif rahang bawah, gigi caninus dan premolar pertama. Tepi palatal dari preparasi veneer
digunakan sebagai butt joint. Pada penilaian senyum pasien, daerah yang dapat terlihat
sampai permukaan bukal gigi premolar kedua rahang atas, dimana gigi molar pertama tidak
terlibat.

Sebelum memulai preparasi gigi, maket (mockup) direct komposit dibuat untuk
membentuk gigi yang fraktur dan menutup diastema garis tengah. Ukuran dan bentuk gigi
disetujui oleh pasien dan orang tuanya. Cetakan polyvinyl siloxane dibuat dan digunakan
sebagai template dalam prosedur lebih lanjut. Preparasi gigi dimulai dengan diamond bur
berukuran 0,5 mm dan alur kedalamannya ditandai dengan tinta yang tidak larut dalam air.
Pengurangan bagian labial dan insisal menggunakan template sebagai panduan untuk
mengukur kedalaman. Bagian proksimal dan kontak antar gigi tidak dipreparasi, hanya
permukaan mesial gigi insisif sentral rahang atas yang dipreparasi. Retraksi gingiva
menggunakan benang retraksi (Ultrapak, Ultradent, South Jordan, Utah, Amerika Serikat)
dilakukan pencetakan dengan tehnik double impression dan mengirim ke laboratorium untuk
pembuatan veneer IPS eXax (Ivoclar Vivadent AG, Schaan / Liechtenstain , Jerman).
Gambar 2a,b: Cetakan polivinil siloxan Gambar 3a. Preparasi gigi anterior rahang
atas untuk keramik veneer; Gambar 3b.
Sementasi keramik veneer

Gigi yang sudah siap dibilas dan dipoles dengan pumice dan air sebelum prosedur
sementasi. Keramik veneer diinsersikan pada gigi yang disiapkan dan pemilihan luting yang
akan digunakan. Pasta try-in yang larut dalam air (Variolink II, Ivoclar Vivadent AG, Schaan /
Liechtenstain, Jerman) digunakan untuk menentukan warna semen luting. Veneer dibilas
secara menyeluruh, etsa dengan 5% asam fluorida selama 20 detik (sesuai petunjuk
pabriknya), lalu dibilas dengan air dan salin. Aplikasi asam fosfat dan bonding pada gigi.
Sementasi veneer dilakukan sesuai urutan luting. Pastikan veneer benar benar pas pada gigi.
Pertama semen luting di light cure selama 1-2 detik dan kelebihan semen dibersihkan, lalu
dilanjutkan dengan agent luting lainnya.
Setelah veneer porselen menempel pada gigi, permukaan labial gigi anterior dan
premolar rahang atas dan anterior dan gigi premolar pertama rahang bawah disiapkan.
Diperlukan preparasi minimal pada gigi. Aplikasikan 37% etsa asam fosfat diikuti dengan
bahan bonding. Komposit dilapisi sesuai dengan warna yang diinginkan pada semua gigi.
Finishing restorasi komposit dan luting pada tepi margin ditunda sampai pertemuan
berikutnya. Oklusi pasien dievaluasi dan disesuaikan sehingga terhindar dari fraktur veneer.
Pasien diinstruksikan tentang tindakan pencegahan yang harus dilakukan setelah penempatan
veneer. Tindak lanjut periodik dijadwalkan untuk mengevaluasi kesehatan gingiva dan
kenyamanan pasien. Setelah satu tahun, evaluasi dilakukan dan pasien sangat puas dengan
perawatannya.

Diskusi
Efek berbahaya dari fluor dapat dikaitkan dengan penyerapan sistemik selama
perkembangan gigi, sehingga mengakibatkan fluorosis gigi. Fluorosis gigi adalah hasil
asupan endogenik kronis fluor dalam jumlah yang melebihi dosis harian optimal 1 ppm.
Fluorosis gigi memiliki hypomineralization enamel yang terjadi akibat efek fluorida yang
berlebihan pada ameloblas selama amelogenesis. Fluorida mengganggu mineralisasi enamel
dengan mengurangi konsentrasi ion kalsium bebas dalam matriks mineralisasi, yang
mengganggu proteinase, sehingga mengurangi matriks protein selama pematangan enamel.
Hal ini menyebabkan degradasi protein matriks enamel atau penghambatan penghapusan
protein matriks enamel yang terdegradasi. Retensi akibat fluor dari protein ini menyebabkan
kerusakan kristal dan kristal yang tidak sempurna. Permukaan kristal yang buruk
menyebabkan peningkatan porositas email dan dengan demikian terjadi perubahan optik dan
fisik. Choubisa SL dalam studinya di Rajsathan, India telah menemukan prevalensi flurosis
gigi setinggi 49,26%.

Veneer laminasi porselen pertama kali diperkenalkan pada sekitar tahun 1938 dan
semakin populer sampai sekarang. Veneer porselen memiliki tingkat ketahanan yang tinggi
dan keberhasilan klinis yang baik dengan biokompatibilitas yang sangat baik pada jaringan
gingiva dan periodontal. Indikasi utama veneer porselen meliputi gigi yang bernoda atau
yang gelap, hipokalsifikasi, diastema, gigi malposisi, gigi yang sedikit rotasi, perbedaan
ukuran dan bentuk gigi, veneer akrilik yang sudah tidak bagus lagi, sedikit penyimpangan
pada garis tengah, restorasi bernoda dan gigi yang diposisikan secara lingual. Gigi dengan
jarak interdental yang berlebihan, kebersihan mulut dan status periodontal yang buruk,
kebiasaan menggigit kuku, perubahan warna yang parah, gigi tidak pada garis midline yang
ekstrim adalah beberapa kasus dimana veneer dikontraindikasikan.

Sebelum gigi dipreparasi, gigi yang fraktur dan diastema dibentuk sesuai bentuk
idealnya dengan menggunakan komposit tanpa etsa atau bonding. Hal ini memungkinkan
pasien untuk memahami bentuk akhir giginya. Pasien dan orang tuanya merasa puas karena
sesuai harapan dan hasil akhirnya ditunjukkan pada mereka. Penting untuk memahami
keinginan pasien sebelum menyarankan perawatan apapun.

Smales dkk., menentukan tingkat keberhasilan klinis dari 110 keramik veneer selama
tujuh tahun dan menyatakan tingkat keberhasilan 96% untuk desain insisal overlap
dibandingkan dengan keberhasilan 86% pada veneer tanpa melibatkan insisal. Penempatan
akurat semua veneer sangat penting dalam kasus ini. Kontak proksimal gigi tidak ada yang
terlibat dalam preparasi gigi. Preparasi harus diperluas sampai ke sudut garis lingual pada 11
dan 21 untuk memungkinkan penutupan diastema di antara keduanya. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa penutupan diastema mungkin memerlukan preparasi daerah
interproksimal. Seluruh preparasi gigi dibatasi pada enamel untuk mencapai ikatan yang baik.
Karena tidak ada dentin yang terlibat, kejadian sensitivitas intraoperatif dan pasca operasi
juga sangat berkurang.

Instruksi post-operative tertulis harus diberikan kepada pasien seperti penggunaan


sikat gigi yang lembut, penggunaan flossing, dan penggunaan mouthguard saat terlibat dalam
olahraga dan kebiasaan parafunctional. Mereka juga harus diinstruksikan untuk tidak
menggunakan obat kumur, alkohol dan obat-obatan yang mengandung alkohol selama 48 jam
pertama dan untuk menghindari makanan keras, mengunyah es, menggigit kuku, dll.
Meskipun tingkat keberhasilan klinis veneer porselen yang baik, kegagalan tertentu mungkin
dapat terjadi karena berbagai alasan. Kegagalan meliputi fraktur parsial / parsial, penempatan
yang tidak akurat, ketidakcocokan warna, perubahan warna marginal, hilangnya integritas
marginal, sensitivitas pasca operasi dll. Kunjungan rutin pemeriksaan gigi dan perawatan
veneer yang tepat mungkin akan meningkatkan ketahanan tanpa komplikasi.
Kesimpulan
Fluorosis gigi adalah kondisi gigi yang mempengaruhi estetika, psikologi, dan
kepercayaan diri pasien. Terlepas dari berbagai pilihan perawatan yang tersedia saat ini,
perawatan tunggal mungkin tidak mencukupi dan mungkin ada kebutuhan untuk memilih
pendekatan multitreatment. Kasus ini berhasil dikelola oleh gabungan penggunaan veneer
perselen dan perlekatan komposit secara langsung pada pasien tersebut, sekarang senyumnya
sudah estetik kembali.