Anda di halaman 1dari 7

Pengukuran Faktor Fisika dan Kimia Tanah Terhadap Lingkungan

Mikro yang Berbeda (Daerah Terdedah, Daerah Transisi dan


Daerah Ternaung)
Wan Hardiana
E-mail: wan.hardiana@student.unri.ac.id, Phone: +6282261636527
Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA
Universitas Riau 28293

ABSTRAK

Praktikum dilakukan pada Area Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP Universitas


Riau pada 28 September 2017 yang bertujuan untuk mengetahui kondisin faktor
fisika dan kimia lingkungan pada lingkungan mikro yang berbeda (dibawah naungan
pohon, derah transisi/peralihan dan di daerah terbuka/terdedah). Metode yang
digunakan dalam praktikum ini adalah metode pengukuran langsung menggunakan
alat. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah termometer Hg, soil tester,
oven, cawan porselen, timbangan analitik dan furnace muffle atau tungku pembakar.

Kata kunci: Faktor Fisika, Faktor Kimia, dan Tanah

PENDAHULUAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara ekologi
adalah faktor biotik dan abiotik di lingkungan tumbuh tanaman tersebut. Faktor biotik
adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan
maupun hewan. Faktor abiotik, yaitu terdiri dari benda-benda mati seperti iklim, air,
tanah, udara, cahaya, matahari dan sebagainya.
Faktor lingkungan abiotik secara garis besar dapat dibagi atas faktor fisika dan
faktor kimia. Faktor fisika antara lain ialah suhu, kadar air, porositas, dan tekstur
tanah. Faktor kimia antara lain adalah salinitas, pH, kadar organik tanah, dan unsur-
unsur mineral tanah. Faktor lingkungan abiotik sangat menentukan struktur
komunitas hewan-hewan yang terdapat di suatu habitat (Suin, 1997:1).
Faktor fisika dan kimia tanah yang menentukan komposisi dan kerapatan
serangga permukaan tanah disuatu tempat adalam pH, suhu, kelembaban, makanan,
cahaya, tektstur tanah dan kadar organik tanah, sengga terjadi kelimpahan serangga
tanah (Odum, 1996).
Pengukuran faktor fisika-kimia tanah dapat di lakukan langsung di lapangan
dan ada pula yang hanya dapat diukur di laboraturium. Untuk pengukuran faktor
fisika-kimia tanah di laboraturium maka di lakukan pengambilan contoh tanah dan
dibawa ke laboraturium (Muhammad, 2003).
Suhu tanah yang merupakan salah satu contoh faktor fisika tanah mengalami
perubahan dari pengembunan secara terus menerus pada kedalaman yang dangkal di
banyak tanah di daerah Alaska yang beku sampai ke Hawai yang tropis, dimanapun
jarang ditemukan suhu tanah dapat mencapai 1000F (37,80 C) pada hari yang panas
sekalipun. Pada kebanyakan permukaan bumi, suhu tanah harian jarang mengalami
perubahan pada kedalaman 20inchi (51 cm). tapi dibawah kedalaman tersebut suhu
tanah akan mengalami perubahan yang secara lambat menunjukkan pertambahan
derajat suhu sekitar 20F (Donahue dkk, 1977).
.

METODOLOGI PENELITIAN

Praktikum ini dilakukan di ruang Laboratorium dan Laboratorium Alam


Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau pada
Hari Kamis, 28 September 2017 . Praktikum ini dilakukan dengan metode
pengukuran langsung menggunakan alat.
Alat yang digunakan adalah menggunakan termometer Hg, Soil tester, oven,
cawan porselen, timbangan analitik dan furnace muffle atau tungku pembakar.
Langkah kerja pengukuran faktor fisika dan kimia tanah yaitu dengan melakukan
pengukuran suhu pada permukaan tanah dan kedalaman tanah sedalam 30 cm
menggunakan thermometer Hg di tiga tempat berbeda yaitu didaerah transisi, terbuka
dan ternaung. Kemudian dilakukan pengukuran menggunakan soil tester untuk
mengukur kelembaban dan PH Untuk mengukur kadar air tanah (KAT) dilakukan
dengan cara pengeringan menggunakan oven, tanah ditimbang sebanyak 20 gram,
lalu tanah diletakkan di wadah (cawan porselen) lalu dikeringkan dengan
menggunakan oven pada suhu 105 derajat celcius selama 2 jam setelah selesai
ditimbang kembali tanah yang telah dikeringkan selanjutnya dilakukan perhitungan
dengan rumus kadar air tanah = (berat basah-berat kering/berat basah) x 100%.
Selanjutnya dilakukan pengukuran kadar organik tanah (KOT), tanah dibakar
sebanyak 5 gram tanah yang sudah dikeringkan dengan menggunakan tungku
pembakar (furnace meffle) pada suhu 600 derajat celcius selama 3 jam , lalu tanah
ditimbang setelah di oven dan dilakukan pengukuran dengan kadar organik tanah =
berat kering berat abu/berat kering) x 100 %. Hasilnya dicatat pada tabel
pengamatan yang sudah tersedia.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Hasil Pengukuran Temperatur dan pH tanah pada daerah ternaung, transisi
dan terbuka (terdedah).

Temperatur Kelembaban pH tanah Keterangan


tanah (0C) tanah (%)
28,31 33,31 6,19 Daerah
tertutup
30,09 26,18 6,43 Daerah
transisi
33,62 24,06 6,16 Daerah
terbuka

Berikut ini adalah grafik hasil pengukuran faktor fisika dan kimia tanah pada
daerah ternaung, transisi dan terbuka (terdedah):

40 33.31 33.62
28.31 30.09
26.18 24.06
30
20
6.19 6.43 6.16
10
0
Daerah Tertutup Daerah Transisi Daerah Terbuka

Temperatur Tanah Kelembaban Tanah (%) pH Tanah

Grafik 1. Hasil pengukuran faktor fisika dan kimia tanah

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa temperatur tanah di tempat terbuka
selalu lebih tinggi dibandingkan daerah transisi dan ternanung. Hal ini disebabkan
karena pada daerah terbuka tidak terdapat tanaman yang menyerap cahaya matahari
sehingga panas cahaya matahari langsung tertedah ke tanah.
Untuk kelembaban, pada daerah ternaung kelembaban tanah lebih tinggi
dibandingkan pada daerah transisi dan terbuka. Kelembaban tanah menunjukkan
kadar air yang terkandung di dalam tanah. Sedangkan pH tanah relatif sama karena
lokasi pengambilan data pada lokasi yang sama.
80 74.22 70.11
60
35.23
40
20
0.192 0.154 0.122
0
KAT (%) KOT(%)

Ternaung Transisi Terbuka

Grafik 2. Grafik hasil perhitungan KAT dan KOT

Dari grafik di atas dapat di lihat bahwa pada daerah terbuka Kadar Air Tanah
(KAT) lebih rendah karena proses evaforasi yang berlangsung sangat cepat. Proses
evaforasi berlangsung cepat karena pada daerah terbuka tidak ada vegetasi tumbuhan
yang menghalangi panas matahari. Intensitas penyinaran matahari pada jam-jam
tertentu memicu proses fotosintesis dan transpirasi. Dua proses fisiologis yang
berperan mendinginkan suhu udara dan tanah sekitar vegetasi

KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu
bahwa pada tiga daerah yang diperbandingkan dalam pengukuran temperatur,
kelembaban, pH, kadar air tanah maupun kadar organik tanah memiliki teori masing-
masing. Pada pengukuran temperatur bahwa daerah terdedah memiliki suhu tertinggi
dan ternaung dengan suhu terendah. Pada pengukuran pada daerah ternaunglah yang
paling tinggi, dari hal ini dapat diteorikan bahwa suhu berbanding terbalik dengan
kelembaban. Semakin tinggi suhu suatu darah maka semakin rendah kelembabannya
begitupun sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya pengaruh
lamanya penyinaran matahari.

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad, NS.,. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta

Odum, E. P. 1996. Dasar Dasar Ekologi. Terjemahan oleh T. Samingan.


Yogyakarta : Gadjah Mada Press.

Donahue, R.L., R.W. Miller, and J.C. Shickluna. 1977. Soils An Introduction to Soils
and Plant Growth Fourth Edition. Prentice Hall Inc, New jersey..

Muhammad, NS.,. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta


KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu
bahwa pada tiga daerah yang diperbandingkan dalam pengukuran temperatur,
kelembaban, pH, kadar air tanah maupun kadar organik tanah memiliki teori masing-
masing. Pada pengukuran temperatur bahwa daerah terdedah memiliki suhu tertinggi
dan ternaung dengan suhu terendah. Pada pengukuran pada daerah ternaunglah yang
paling tinggi, dari hal ini dapat diteorikan bahwa suhu berbanding terbalik dengan
kelembaban. Semakin tinggi suhu suatu darah maka semakin rendah kelembabannya
begitupun sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya pengaruh
lamanya penyinaran matahari.
Pada pengukuran temperatur pada permukaan dan tanah pada kedalama 15 cm
terjadi penurunan pada setiap daerah yang diujicobakan. Hal ini dipengaruhi oleh
kedalaman, warna, kadar air dan bobot volume tanah. Pada pengukuran pH didapat
bahwa rata-rata tanah yang kami ujicobakan merupakan tanah asam karena hal ini
disebabkan pengaruh penyinaran matahari secara langsung, suhu udara menjadi panas
sehingga tanah menjadi kering dan kekurangan air dan tanah cenderung bersifat
asam.
Kadar air tanah dan kadar organik tanah didapatkan tinggi pada daerah
ternaung dibandingkan dengan daerah transisi .Hal ini disebabkan karena tanah-tanah
bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur
halus. Oleh karena itu, tanah ternaung lebih banyak mengandung air karna memiliki
tekstur tanah yang halus. Karena peningkatan kadar air tersebut menyebabkan pula
peningkatan pada kadar organik tanah.
DAFTAR PUSTAKA

Amrul Mustanil (2011). Suhu Udara dan Suhu Tanah. From :


http://blogamrulmustanil.blogspot.com/2011/05/suhu-udara-dan-suhu-
tanah.html?m=1, diakses pada 20 Oktober 2016.

Buckman, H dan Brady, N. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta

Donahue, R.L., R.W. Miller, and J.C. Shickluna. 1977. Soils An Introduction to Soils
and Plant Growth Fourth Edition. Prentice Hall Inc, New jersey.

Foth, Henry d. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta.

Muhammad, NS.,. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Jakarta

Nita Nurfitah (2011). Suhu Tanah. From :


http://nitanurfitah.blogspot.com/2011/10/suhu-tanah.html?m=1, diakses pada
20 Oktober 2016.

Odum, E. P. 1996. Dasar Dasar Ekologi. Terjemahan oleh T. Samingan.


Yogyakarta : Gadjah Mada Press.

Slamet,supriyadi.2008. Kandungan Bahan Organik sebagai Dasar Pengelolaan


Tanah di Lahan Kering Madura.Embyio.05(2. 176 183).
Vivy, dhevy.201.http://dhevhy4ever.blogspot.co.id/2012/04/pengukuran-faktor-
fisika-kimia-tanah.html, diakses pada 20 Oktober 2016.

Watoni, A.H., dan Buchari. 2000. Studi Aplikasi Metode Potensiometri Pada
PenentuanKandungan Karbon Organik Total Tanah.JMS.05(1.23-40).