Anda di halaman 1dari 18

NAMA : AANG SUPRIYATNA

NIM : 151220000036
PRODI : T. ELEKTRO

KONVERTER DAYA

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dewasa ini peralatan elektronika daya cukup berkembang dengan pesat. Hal
ini terlihat dengan semakin banyaknya penggunaan peralatan elektronik baik pada
rumah tangga, perkantoran maupun industri. Seperti kita ketahui bahwa peralatan
tersebut membutuhkan catu daya sumber tegangan arus searah sementara catu
daya yang tersedia adalah sumber tegangan arus bolak balik. Oleh karena itu,
dibutuhkan alat yang dapat mengkonversi sumber tegangan arus bolak balik
menjadi sumber tegangan arus searah yang dikenal juga dengan Penyearah atau
Rectifier. Khusus untuk peralatan rumah tangga maupun perkantoran umumnya
menggunakan penyearah satu fasa gelombang penuh dengan dioda. Catu daya
seperti ini umumnya menggunakan 4 (empat) buah dioda hubungan jembatan.
Kebutuhan akan pengendalian, pengkondisian dan konversi daya elektrik
dari satu bentuk ke bentuk lain dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan.
Teknologi elektronika secara umum dan teknologi elektronika daya secara khusus
memegang peranan sangat penting dalam metode konversi energi elektrtik dari
satu bentuk ke bentuk lain tersebut. Salah satu bentuk konversi daya elektrik
adalah pengubahan tegangan bolak-balik menjadi tegangan searah menggunakan
penyearah atau lebih sering dikenal dengan nama rectifier.
Kinerja penyearah dinyatakan dalam parameter-parameter unjuk kerja.
Unjuk kerja penyearah satu fasa dengan metode konvensional biasanya rendah,
tetapi dapat diperbaiki dengan menggunakan filter pada sisi masukan penyearah
tersebut.
Pengujian dengan simulasi komputer pada beberapa jenis metode
dilakukan untuk mendapatkan bentuk gelombang dan nilai dari arus dan tegangan
untuk menunjukkan perbaikan unjuk kerja penyearah tersebut.

II. TEORI DASAR


Konversi daya listrik merupakan suatu sistem proses daya listrik pada sistem
inputnya ke suatu bentuk yang diinginkan di sisi outputnya. Ada dua jenis daya
listrik yaitu sistem AC dan sistem DC. Yang keduanya dapat dikonversi dalam 4
cara, yakni: [1]
a. Konversi dc/dc (dc/dc converter)
b. Konversi dc/ac (inverter)
c. Konversi ac/dc (converter/rectifier)
d. Konversi ac/ac. (cycloconverter).
Karena sumber daya utama yang tersedia adalah sumber daya arus bolak
balik maka dalam penggunaannya sering juga dikombinasikan dari empat jenis
konversi di atas. Seperti dc/dc converter membutuhkan rectifier untuk
mendapatkan sumber dc sementara Uninterruptable Power Supply (UPS)
merupakan kombinasi dari rectifier dan inverter. Jadi pada sistem dc/dc dan dc/ac
converter selalu membutuhkan rectifier.
Idealnya sumber daya listrik arus bolak balik akan menyalurkan daya listrik
ke konsumen pada suatu frekuensi tertentu dengan harga dan amplitudo yang tetap
sehingga bentuk gelombang tegangan dan arusnya merupakan bentuk sinusoidal
murni. Dalam melayani beban maka beban listrik dapat dikategorikan dalam dua
bagian yakni beban linier dan beban non linier. Beban linier sifatnya tidak
merubah bentuk gelombang arus maupun tegangan sedang beban nonlinier akan
menghasilkan bentuk gelombang arus dan tegangan yang tidak sinusoidal murni
lagi yang sering juga dikenal dengan bentuk gelombang yang terdistorsi yang
mengandung harmonisa.
Penyearah merupakan beban non linier yang banyak menyumbang harmonisa
pada saluran tenaga listrik yang dapat dibedakan dalam 4 (empat) jenis, yakni:
Penyearah satu fasa setengah gelombang.
Penyearah satu fasa gelombang penuh.
Penyearah tiga fasa setengah gelombang.
Penyearah tiga fasa gelombang penuh.
Umumnya penyearah satu fasa gelombang penuh dengan dioda digunakan
untuk peralatan elektronik rumah tangga maupun perkantoran. Sedang penyearah
tiga fasa digunakan untuk pengoperasian peralatan pada industri.
Penyearah satu fasa atau single phase rectifier berfungsi untuk mengubah
arus dan tegangan bolak-balik menjadi arus dan tegangan searah. Komponen
utama dalam proses penyearahan tersebut adalah dioda. Berikut ini dijelaskan dua
jenis penyearah pada sistem satu fasa

2.1.1. Penyearah Satu Fasa Dioda Setengah Gelombang


Pada penyearah satu fasa dioda setengah gelombang terdapat satu buah
dioda yang berfungsi untuk memblok setengah gelombang negatif dari tegangan
dan arus bolak balik yang mengalir dari sumber tegangan menuju beban, seperti
ditunjukkan Gambar 1.
Gambar 1. Rangkaian dan gelombang keluaran penyearah setengah gelombang
Tegangan keluaran rata-rata penyearah dioda setengah gelombang
dirumuskan pada Persamaan (1) dan Persamaan (2)
1
= 2 0 2 sin() () ............... (1)
2
= ................................................... (2)
Arus keluaran rata-rata pada penyearah dioda setengah gelombang dirumuskan
pada Persamaan (3)
2
= = ............................................ (3)
Arus rms masukan pada penyearah dioda setengah gelombang adalah :
2
1 2
= 0 ( ) 2 () () = (4)
2 2
VA sisi masukan ditunjukkan pada Persamaan (5) :
2
= = ....................................... (5)
2
Daya masukan pada dioda setengah gelombang adalah :
2 2
= 0 = 2 ............................................ (6)
Dan Faktor Daya (Power Factor) adalah :
2 2
2 2 2
= = 2
= ...................... (7)
2
2
2.1.2. Penyearah Satu Fasa Dioda Gelombang Penuh
Keunggulan utama dari penyearah satu fasa dioda jembatan dibandingkan
dengan jenis penyearah yang lain adalah turunnya tegangan puncak balik (peak
inverse voltage) dari masing-masing dioda dan meningkatnya TUF (Transformer
Utilization Factor) dari transformator catu. Rangkaian penyearah satu fasa dioda
jembatan gelombang penuh ditunjukkan pada Gambar 2. berikut :
Gambar 2. Rangkaian, gelombang masukan dan gelombang keluaran penyearah dioda
gelombang penuh satu fasa
Pada penyearah dioda satu fasa gelombang penuh tegangan keluaran rata-rata
dirumuskan oleh Persamaan (8) :
22
, = ............................................... (8)
Tegangan RMS keluaran adalah , = dan daya masukan (input power)
diperoleh dari Persamaan (9) berikut :
2
= ........................................................
(9)

Penyearah dioda frekuensi jala-jala (line frequency) mengubah tegangan
masukan bolak-balik menjadi tegangan keluaran searah. Bentuk gelombang arus
jala-jala tergantung pada jenis beban yang dicatu penyearah. Beban penyearah satu
fasa umumnya adalah peralatan elektronik seperti televisi, peralatan kantor,
battery charger, electronic ballasts sampai pemakaian di industri untuk tingkatan
daya rendah.
Secara umum beban adalah bersifat non linier, sehingga akan
menghasilkan bentuk gelombang arus jala-jala yang tidak sinusoidal, Sedangkan
beban membutuhkan suatu catu tegangan dengan kandungan riak (ripple) yang
rendah. Bentuk gelombang yang tajam (narrow) dari arus jala-jala akan
mengurangi unjuk kerja dari penyearah. Beberapa akibatnya adalah kandungan
harmonisa yang tinggi, faktor daya yang rendah, pemanasan berlebihan pada
peralatan, rugi-rugi bertambah, distorsi tegangan jala-jala melalui impedansi jala-
jala. Adanya distorsi tegangan jala-jala akan mempengaruhi beban lain yang
terhubung ke jaringan distribusi listrik.
Memperbaiki bentuk gelombang dari arus jala-jala dibutuhkan untuk
mengurangi harmonisa arus jala-jala, dengan demikian akan memperbaiki faktor
daya masukkan penyearah. Ada beberapa cara untuk memperbaiki faktor daya
penyearah satu fasa dioda jembatan, yaitu metoda pasif dan metoda aktif. Metode
aktif adalah memakai saklar aktif (yang diatur dengan pengendali luar) bersamaan
dengan komponen reaktif untuk meningkatkan keefektipan bentuk gelombang
arus jala-jala dan menghasilkan tegangan keluaran yang dapat dikendalikan.
Metoda pasif adalah penambahan elemen pasif (kapasitor dan induktor) pada
rangkaian dioda penyearah jembatan untuk memperbaiki bentuk gelombang arus
jala-jala tanpa dapat mengatur nilai tegangan keluaran penyearah.
2.1.3. Fakor Daya
Faktor Daya, PF (Power Factor), diartikan sebagai perbandingan antara
daya aktif (active power) P dengan daya semu (apparent power) S.

= = ..(10)

Arus dan tegangan pada masukkan penyearah diharapkan sefasa untuk
mendapatkan faktor daya satu ( unity power factor ). Induktor dengan nilai tertentu
yang dipasang pada masukan penyearah diperlukan untuk memperbaiki bentuk
gelombang arus masukan penyearah, namun inductor ini akan menyebabkan arus
tertinggal (lagging) terhadap tegangan. Induktor akan menyebabkan daya reaktif
tertinggal (lagging VAR) seperti ditunjukkan pada Gambar 3.(a). Semakin besar
daya reaktif tertinggal akan menyebabkan sudut L semakin besar sehingga VA
masukan penyearah juga bertambah besar. Dari Persamaan di atas semakin besar
VA masukkan penyearah maka faktor daya masukkan penyearah akan semakin
kecil.
Watt V (volt)

VAR
VA

I (Ampere)

(a)

I (Ampere)

VA
VAR

Watt V (volt)

(b)
Gambar 3. Diagram vektor (a) VAR tertinggal (lagging) (b) VAR mendahului (leading)
Untuk memperkecil VA maka daya reaktif tertinggal harus dikurangi dengan
memasang kapasitor pada masukkan penyearah. Suatu kapasitor akan menyebabkan
daya reaktif mendahului (leading VAR) seperti pada gambar 3.(b). Semakin besar
sudut c maka semakin besar pula daya reaktif mendahului. Jadi, Pada masukkan
penyearah dengan memasang induktor akan memperbaiki bentuk gelombang arus
masukkan dan pemasangan kapasitor akan mengurangi daya reaktif tertinggal
sebagai akibat pemasangan inductor tersebut seperti tampak pada Gambar 4.
berikut :
Watt V (volt)

VAR2

VA2
VAR1

VA1

Gambar 4. Diagram vector perbaikan faktor daya


Dari Gambar 4, tampak bahwa VA1 akan lebih kecil dari VA2 karena
VAR1 sudah berkurang sebesar VAR kapasitif menjadi VAR2 setelah pemasangan
kapasitor. Dengan demikian akan memperbesar faktor daya (PF) masukan
penyearah.

2.2. Metode Perbaikan Faktor Daya Pada Penyearah Satu Fasa


Sebuah penyearah dioda jembatan satu fasa harus dirangkaikan dengan
sebuah kapasitor pada sisi keluaran. Pemakaian kapasitor bertujuan untuk
menggunakan kemampuan kapasitor untuk menyimpan muatan. Pada saat tercapai
kondisi puncak setengah gelombang positif tegangan keluaran, pada saat ini
kapasitor akan dimuati. Kondisi keadaan puncak akan setengah gelombang akan
kembali menuju nol, pada saat ini kapasitor akan berangsur-angsur melepaskan
muatan yang disimpannya
Karena tegangan hasil penyearahan mengandung ripple yang cukup besar,
maka untuk mengurangi kandungan ripple keluaran dilakukan dengan
menambahkan nilai kapasitor Cf pada sisi keluaran penyearah tersebut, seperti
ditunjukkan pada Gambar 5.
D1 D3
BEBAN

Vsumber C

D4 D2

Gambar 5. Rangkaian satu fasa dioda jembatan dengan menggunakan kapasitor


Dengan memakai kapasitor Cf bernilai besar maka akan mengakibatkan interval
konduksi dari dioda penyearah menjadi pendek tetapi arus jala-jala mengandung
bentuk gelombang yang tajam.
Dalam memperbaiki faktor daya masukan pada sebuah penyearah satu fasa
terdapat metode antara lain :
Metode konvensional
Metode filter input paralel
Berikut akan dijelaskan perbedaan dari kedua metode tersebut.

2.2.1. Metode Konvensional


Pada metode konvensional digunakan satu buah induktor pada sisi
keluaran penyearah, dengan memakai filter induktor pada sisi keluaran akan
mengakibatkan arus induktor akan kontinu. Untuk memperoleh faktor daya yang
maksimum dibutuhkan filter induktor dengan nilai yang cukup besar, namun
dengan semakin besarnya nilai induktor maka akan mengakibatkan bertambahnya
pengaturan pada tegangan keluaran dan sistem kurang ekonomis. Penyearah
dengan metode konvensional ditunjukkan pada Gambar 6. berikut :
L

D1 D3

BEBAN
Vsumber C

D4 D2

Gambar 6. Rangkaian penyearah satu fasa dengan metode konvensional


2.2.2. Metode Filter Input Paralel
Pada metode ini diletakkan rangkaian paralel induktor dan kapasitor pada
sisi masukan penyearah. Metode ini diharapkan dapat menghasilkan bentuk
gelombang arus masukan dengan kualitas lebih baik apabila dibandingkan dengan
metode konvensional. Filter di tune dengan tujuan menghasilkan suatu impendansi
yang sangat besar terhadap komponen harmonisa ketiga dari arus masukan.
Rangkaian dengan metode filter input paralel ditunjukkan pada Gambar 7 berikut :

Lf D1 D3
BEBAN

Cf
Vsumber C

D4 D2

Gambar 7. Rangkaian penyearah satu fasa dengan metode filter input paralel

III. METODE PENELITIAN


Untuk mengetahui besar faktor daya yang ditimbulkan oleh penyearah
dioda gelombang penuh satu fasa maka sistem akan didisain yaitu dengan metode
konvensional dan metode filter input parallel.

3.1. Disain Filter Pada Metode Konvensional


Terdapat beberapa asumsi yang digunakan dalam menentukan komponen
filter masukan dengan metode konvensional antara lain :
Sumber tegangan Vs dianggap ideal
Rugi-rugi induktor dan rugi-rugi kapasitor rangkaian jembatan dianggap
tidak ada
Beban dianggap beban resistif
Penyearah disimulasikan mempunyai beban 5000 Watt dengan sumber tegangan
ideal sebesar 220 Volt RMS dan frekuensi 50 Hz.
Berikut adalah parameter-parameter yang dibutuhkan dalam melakukan
disain penyearah
Tegangan sumber (Ei ) = 1 pu = 220 Volt RMS
Daya beban (Pr) = 1 pu
Tegangan beban (VL) = 1 pu
Beban yang disupply oleh penyearah adalah 5000 Watt = 1 pu
Ripple tegangan (Vripple) = 5%
Frekuensi = 50 Hz
5000
1 pu arus = = = 22,72 Ampere
220
220
1 pu impedansi = = = 9,68 ohm
22,72
1 pu t = 2. . = 2 3,14 50 = 314 raddetik
1 9,68
1 pu induktansi = 1 = = 30 mH
314
1 1 1
1 pu kapasitansi = = =
(1 1 ) (9,68 314) 3039,52
= 328,99 F
Daya 1,0 pu diperoleh pada tegangan 1,1 pu dengan induktansi sebesar 0,1
pu [1]. Maka nilai filter induktor sebesar 0,1 pu x 30 mH = 3,0 mH. Faktor daya
maksimum diperoleh pada saat tegangan beban (VL) sebesar 1,12 pu [1]. Sehingga
VL dihitung sebesar
= 1,12 220 = 246,4
Besar tegangan maksimum terhadap jatuh tegangan akibat proses
pengisian dan pengosongan kapasitor pada sisi keluaran penyearah atau Vo
diperoleh dengan menggunakan Persamaan (11)
= (11)
= 5% 2 220 = 15,55
Nilai impedansi Z2 ditentukan dengan menggunakan Persamaan (12)
2 = 2 + (2 )2 (12)
2 = 9,682 + (2 314 3103 )2 = 9,86
Besar arus ripple untuk frekuensi 2f (100 Hz) atau Io,2 diperoleh dengan
menggunakan Persamaan (13)

,2 = ...(13)
2
(2 220) 15,55
,2 = = 29,97
9,86
29,97
,2 = = 1,319
22,72
Nilai kapasitor pada sisi keluaran penyearah ditentukan dengan Persamaan (14)
100 ,2
= 2 2 (%)
..(14)

1001,319
= 21,1223145
= 8,33

Setelah diperoleh nilai kapasitor pada sisi keluaran penyearah (Cf ) sebesar 8,33
pu, maka nilai Cf sebenarnya adalah 8,33 pu x 328,99 = 2740
Nilai-nilai yang diperoleh dari hasil perhitungan disain akan
diimplementasikan pada rangkaian penyearah gelombang penuh satu fasa, seperti
pada Gambar 8. berikut :
Lf = 3,0 mili Henry

D1 D3
BEBAN

220 Vrms Cf = R = 9,68 ohm


2740 mikro Farad

D4 D2

Gambar 8. Disain penyearah dengan metode konvensional


Rangkaian pada Gambar 8. akan disimulasikan pada software Matlab-Simulink,
pada rangkaian pengujian menggunakan Matlab-Simulink dilengkapi pengukuran
pada sisi masukan dan sisi keluaran.

3.2. Disain Filter Pada Metode Filter Input Paralel


Dalam melakukan disain, nilai tegangan masukan Vs, tegangan keluaran VL
dan daya keluaran Po dinyatakan dalam per unit (pu)
Penyearah disimulasikan mempunyai beban 5000 Watt dengan sumber
tegangan ideal sebesar 220 Volt rms dan frekuensi sebesar 50 Hz.
Berikut adalah parameter-parameter yang dibutuhkan dalam melakukan
disain penyearah
Tegangan sumber (Ei ) = 1 pu = 220 Volt rms
Daya beban (Pr) = 1 pu
Tegangan beban (VL) = 1 pu
Beban yang disupply oleh penyearah adalah 5000 Watt = 1 pu
Ripple tegangan (Vripple) = 5%
Frekuensi = 50 Hz
P 5000
1 pu arus = = = 22,72 Ampere
V 220
V 220
1 pu impedansi = = = 9,68 ohm
I 22,72
1 pu t = 2. . f = 2 x 3,14 x 50 = 314 rad/detik
1 pu impedansi 9,68
1 pu induktansi = 1 pu t = = 30 mH
314
1 1 1
1 pu kapasitansi = = =
(1 pu impedansi 1 pu t) (9,68 314) 3039,52
= 328,99 F
Sedangkan nilai filter Cr ditentukan dengan menggunakan Persamaan (3.5)
1
Cr = 9 2 L ..(15)
r
1
Maka nilai Cr = 9 12 0.31 = 0,3584 pu
Nilai kapasitansi filter input adalah : 0,3584 x 328,99 F = 117,91 F
Nilai tegangan beban VL pada faktor daya maksimum adalah 1,12 pu, maka nilai
tegangan beban adalah :
VL = 1,12 x 220 volt
VL = 246,4 Volt
Besar impedansi (ZLR dan ZCR ) untuk harmonisa orde ke-2 = 2*f = 2 *50 Hz =
100 Hz, ditentukan dengan Persamaan (16) dan Persamaan (17)
ZLR = 2 Lr (16)
ZLR = 2 314 9,3 x 103 = 5,84 ohm
1 1
= .(17)
ZCR 2 CR
1 1
ZCR
= 2314117,9 x 106
= ZCR = 13,5 ohm
Maka besar impedansi total (ZTOT) diperoleh dengan menggunakan Persamaan
(18)
1 1 1
Z
= Z + Z .(18)
TOT LR CR
1 1 1
= + = 0,243
ZTOT 5,84 13,5
1
ZTOT = = 4,076 ohm
0,243
Menurut Ziogas et.al [1] faktor daya maksimum dengan menggunakan
filter input paralel diperoleh pada tegangan beban 1,1 pu. Untuk daya 1,0 pu pada
tegangan beban 1,1 pu diperoleh nilai induktansi Lr sebesar 0,31 pu.
Maka nilai filter induktansi (Lr) diperoleh sebesar = 0,31 pu x 30 mH =
9,3 mH
Arus ripple harmonisa orde ke-2 keluaran penyearah dihitung berdasarkan
Persamaan (19) berikut :
V V
Io,2 = Z L + Ro .(19)
TOT L
Dengan nilai
VL = 1,12 pu x 220 Volt = 246,4 Volt
Vo = ripple (%) Vmaks
Vo = 5% 2 220 = 15,55 volt
Maka diperoleh besar
246,415,55
Io,2 = 4,076+9,68 = 16,78 Ampere
Dalam satuan per unit, diperoleh
16,78
Io,2 = = 0,738 pu
22,72
Selanjutnya adalah menentukan besar kapasitor pada sisi keluaran
penyearah (Cf ), dengan Persamaan (20)
100 Io,2
Cf = (20)
2 VLP 2 ripple
100 0,738 73,8
Cf = = = 4,659 pu
2 1,12 2 1 5 15,839
Maka besar kapasitor pada sisi keluaran
(Cf ) = 4,659 x 328,99 F = 1532,873 F
Nilai-nilai yang diperoleh dari hasil perhitungan disain penyearah satu
fasa dengan pemakaiaan filter paralel pada sisi masukan akan diimplementasikan
pada rangkaian penyearah gelombang penuh satu fasa, seperti pada Gambar 9.
berikut :

Lr = 9,3 mH D1 D3 BEBAN

Cr = 117,91 mikro Farad


220 Vrms Cr = 1532,873
R = 9,68 ohm
50 Hz mikro Farad

D4 D2

Gambar 9. Disain penyearah dengan metode pemakaian filter parallel pada sisi masukan

IV. ANALISA DATA


4.1. Pengujian dan Analisis Penyearah Dengan Menggunakan Kapasitor
Pada Sisi Keluaran
Pada penyearah dengan menggunakan kapasitor, dimana pada sisi keluaran
digunakan kapasitor dengan kapasitas 2740 mikro Farad. Nilai tersebut diambil
merupakan nilai kapasitor tertinggi dari metode konvensional dan metode filter
parallel. Gelombang tegangan dan arus pada sisi masukan ditunjukkan pada
Gambar 10 :
Gambar 10. Gelombang tegangan dan arus masukan Pada penyearah dengan menggunakan
kapasitor.
Dari Gambar dapat dilihat bahwa tegangan masukan dalam bentuk
sinusoidal dengan nilai tegangan masukan 220 Volt rms atau 311 V maksimum.
Namun arus masukan tidak dalam sinusoidal, arus masukan tersebut akan timbul
selama 2 mili detik dan akan berada pada titik nol selama 7 mili detik. Namun
karena pengaruh kapasitor pada sisi keluaran akan mengakibatkan arus pada sisi
keluaran akan tetap kontinu, seperti ditunjukkan pada Gambar 11. berikut :

Gambar 11. Gelombang tegangan dan arus keluaran pada penyearah dengan menggunakan
kapasitor
Pada Tabel 1 berikut ditunjukkan hasil pengukuran pada sisi masukan dan sisi
keluaran penyearah satu fasa dengan menggunakan kapasitor pada sisi keluaran
Tabel 1. Pengukuran pada sisi masukan dan keluaran penyearah dengan kapasitor pada sisi
keluaran

Nilai
Letak Pengukuran Jenis Pengukuran Satuan
Pengukuran
Arus (I) rms 62.42 Ampere
Tegangan (V) rms 220 Volt
Sisi Masukan Daya semu (S) 13730 VA
Daya Aktif (P) 7824 Watt
Daya Reaktif (Q) -3595 VAR
Arus (I) DC 28.23 Ampere
Arus (I) rms 28.33 Ampere
Tegangan (V) DC 273.3 Volt
Sisi Keluaran
Tegangan (V) rms 274.3 Volt
Daya (P) DC 7715 Watt
Daya (P) rms 7771 Watt
Dari data yang diperoleh pada Tabel 1. tersebut dilakukan analisa terhadap
daya DC, daya AC, efisiensi penyearah, faktor ripple, faktor penggunaan
transformator dan faktor daya.
Daya DC penyearah diperoleh dari Persamaan 21. berikut :
() = () () (21)
Daya AC penyearah diperoleh dari Persamaan 22. berikut :
() = () () (22)
Efisiensi penyearah merupakan perbandingan daya DC penyearah dengan daya
AC penyearah, seperti pada Persamaan 23. berikut :

= ..(23)

Faktor ripple (RF) adalah perbandingan tegangan AC dan tegangan DC, seperti
pada Persamaan 24. berikut :

= ..(24)

dimana tegangan AC diperoleh dengan menggunakan Persamaan 25. berikut :
2 2 .(25)
=
Faktor kegunaan transformator atau transformer utility factor (TUF) diperoleh
dengan menggunakan Persamaan 26. berikut ini :

= ( )
......(26)

Faktor daya atau Power Factor (PF) penyearah adalah merupakan perbandingan
antara daya aktif pada sisi masukan dengan daya semu pada sisi masukan
penyearah, seperti pada Persamaan 27. berikut :
()
= ()
.(27)
Selanjutnya dengan menggunakan Persamaan 21. sampai dengan
Persamaan 27, maka diperoleh hasil perhitungan pada Tabel 2. berikut :
Tabel 2. Hasil perhitungan penyearah dengan kapasitor pada sisi masukan
Nilai Perhitungan Satuan
Daya DC 7715,259 Watt
Daya AC 7770,919 Watt
Efisiensi 98,61 %
Faktor Ripple 8,56 %
TUF 56,18 %
Faktor daya 56,98 %
Dari data hasil perhitungan diperoleh bahwa efisiensi penyearah cukup tinggi
sebesar 98,61%, namun memiliki faktor ripple dan TUF yang cukup rendah
sebesar 8,56% dan 56,18%. Faktor daya penyearah juga cukup rendah sebesar
56,98 % diakibatkan timbulnya daya semu yang cukup tinggi dibandingkan
dengan daya aktif masukan penyearah.

4.2. Pengujian dan Analisis Penyearah Dengan Menggunakan Metode


Konvensional
Pada penyearah dengan menggunakan metode konvensional, dimana nilai-
nilai komponen yang akan digunakan sudah dihitung sebelumnya pada Bab 3.
Gelombang tegangan dan arus pada sisi masukan ditunjukkan pada Gambar 12. :
Gambar 12. Gelombang tegangan dan arus masukan pada penyearah dengan metode
konvensional
Dari Gambar dapat dilihat bahwa tegangan masukan dalam bentuk sinusoidal
dengan nilai tegangan masukan 220 Volt rms atau 311 V maksimum. Namun arus
masukan tidak sinusoidal, arus masukan tersebut akan timbul selama 6 mili detik
dan akan berada pada titik nol selama 4 mili detik. Akibat pengaruh induktor pada
sisi keluaran akan mengakibatkan waktu timbulnya arus pada sisi masukan
semakin lama dibandingkan dengan penyearah hanya dengan memakai kapasitor
pada sis keluaran. Namun akibat pengaruh induktor tersebut terdapat lonjakan
tegangan sebesar 50% lebih dari tegangan puncak (mencapai 468 Volt) pada sisi
masukan selama 30 mili detik pada sisi keluaran, seperti ditunjukkan pada Gambar
13. berikut :

Gambar 13. Gelombang tegangan dan arus keluaran pada penyearah dengan metode
konvensional
Pada Tabel 3. berikut ditunjukkan hasil pengukuran pada sisi masukan dan sisi
keluaran penyearah satu fasa dengan metode konvensional
Tabel 3. Pengukuran pada sisi masukan dan keluaran penyearah dengan metode
konvensional
Letak Pengukuran Jenis Pengukuran Nilai Satuan
Pengukuran
Arus (I) rms 37.71 Ampere
Tegangan (V) rms 220 Volt
Sisi Masukan Daya semu (S) 8293 VA
Daya Aktif (P) 6498 Watt
Daya Reaktif (Q) 3509 VAR
Arus (I) DC 25.8 Ampere
Arus (I) rms 25.85 Ampere
Sisi Keluaran Tegangan (V) DC 249.8 Volt
Tegangan (V) rms 250.3 Volt
Daya (P) DC 6445 Watt
Daya (P) rms 6470 Watt
Dari data yang diperoleh pada Tabel 3. tersebut dilakukan analisa terhadap
daya DC, daya AC, efisiensi penyearah, faktor ripple, faktor penggunaan
transformator dan faktor daya dengan menggunakan Persamaan 21. sampai dengan
Persamaan 27., maka diperoleh hasil perhitungan pada Tabel 4. berikut :
Tabel 4. Hasil perhitungan penyearah dengan metode konvensional
Nilai Perhitungan Satuan
Daya DC 6444,840 Watt
Daya AC 6470,255 Watt
Efisiensi 99,18 %
Faktor Ripple 6,33 %
TUF 77,69 %
Faktor daya 78,36 %
Dari data hasil perhitungan diperoleh bahwa efisiensi penyearah cukup
tinggi sebesar 99,18%, Memiliki TUF yang cukup bagus sebesar 77,69%. Faktor
ripple penyearah lebih tinggi dari yang direncanakan pada disain penyearah (5%)
yaitu sebesar 6,33%. Faktor daya penyearah dengan metode konvensional lebih
bagus dari penyearah dengan menggunakan kapasitor pada sisi keluaran yaitu
sebesar 78,36%, adanya induktor dan kapasitor pada sisi keluaran mengakibatkan
berkurangnya daya semu pada sisi masukan.

4.3. Pengujian dan Analisis Penyearah Dengan Menggunakan Metode Filter


Paralel
Pada penyearah dengan menggunakan metode filter parallel, dimana nilai-
nilai komponen yang akan digunakan sudah dihitung sebelumnya pada Bab 3.
sistem sudah diimplementasikan pada Matlab-Simulink .Gelombang tegangan dan
arus pada sisi masukan ditunjukkan pada Gambar 14.:

Gambar 14. Gelombang tegangan dan arus masukan pada penyearah dengan metode filter
paralel
Dari Gambar 14. dapat dilihat bahwa tegangan masukan dalam bentuk
sinusoidal dengan nilai tegangan masukan 220 Volt rms atau 311 V maksimum.
Namun arus masukan tidak sinusoidal, arus masukan tersebut akan timbul selama
8 mili detik dan akan berada pada titik nol selama 2 mili detik. Apabila
dibandingkan dengan metode konvensional dan metode pemakaian filter pada sisi
keluaran, maka dengan metode filter parallel memiliki waktu timbulnya arus
masukan yang cukup lama. Akibat pemasangan filter pada sisi masukan akan
mempengaruhi kualitas daya masukan pada penyearah. Apabila dibandingkan
gelombang arus masukan pada ketiga metode, maka gelombang arus masukan
pada metode filter parallel lebih mendekati sinusoidal, artinya dengan metode
filter parallel tersebut kualitas daya masukan lebih bagus dibandingkan dengan
dua metode yang lain.
Gelombang keluaran tegangan dan arus pada penyearah dengan metode
filter parallel ditunjukkan pada Gambar 15. berikut:

Gambar 15. Gelombang tegangan dan arus keluaran pada penyearah dengan metode filter
parallel
Pada Tabel 5. berikut ditunjukkan hasil pengukuran pada sisi masukan dan sisi
keluaran penyearah satu fasa dengan metode konvensional
Tabel 5. Pengukuran pada sisi masukan dan keluaran penyearah dengan metode filter
parallel

Nilai
Letak Pengukuran Jenis Pengukuran Satuan
Pengukuran
Arus (I) rms 30.07 Ampere
Tegangan (V) rms 220 Volt
Sisi Masukan Daya semu (S) 6613 VA
Daya Aktif (P) 6381 Watt
Daya Reaktif (Q) 1082 VAR
Arus (I) DC 25.55 Ampere
Arus (I) rms 25.59 Ampere
Tegangan (V) DC 247.3 Volt
Sisi Keluaran
Tegangan (V) rms 247.7 Volt
Daya (P) DC 6317 Watt
Daya (P) rms 6339 Watt
Dari data yang diperoleh pada Tabel 5. tersebut dilakukan analisa terhadap
daya DC, daya AC, efisiensi penyearah, faktor ripple, faktor penggunaan
transformator dan faktor daya dengan menggunakan Persamaan 21. sampai dengan
Persamaan 27., maka diperoleh hasil perhitungan pada Tabel 6. berikut :
Tabel 6. Hasil perhitungan penyearah dengan metode filter paralel
Nilai Perhitungan Satuan
Daya DC 6318,515 Watt
Daya AC 6338,643 Watt
Efisiensi 99,00 %
Faktor Ripple 5,69 %
TUF 95,49 %
Faktor daya 96,49 %
Dari data hasil perhitungan diperoleh bahwa efisiensi penyearah menurun
sebesar 0,18% apabila debandingkan dengan metode konvensional. Penyearah
dengan metode filter parallel memiliki TUF yang jauh lebih bagus apabila
dibandingkan dengan metode konvensional dan metode kapasitor pada sisi
keluaran, TUF penyearah sebsar 95,49 %. Faktor ripple penyearah mendekati
disain sistem yang direncanakan sebesar 5,69%. Faktor daya penyearah dengan
metode filter parallel pada sisi masukan dapat diperbaiki apabila dibandingkan
dengan kedua metode yang lain, faktor daya sistem sebesar 96,49%.
Pada Tabel 7. berikut merupakan tabulasi data hasil perhitungan dan analisa dari
ketiga metode penyearah.
Tabel 7. Tabulasi perbandingan hasil perhitungan ketiga metode penyearah

Dari data pada Tabel 7 tersebut dapat dilihat bahwa penyearah dengan
metode filter parallel dapat memperbaiki efisiensi, faktor ripple, transformer
utility factor (TUF) dan faktor daya apabila dibandingkan dengan penyearah yang
hanya menempatkan kapasitor pada sisi keluaran, seperti ditunjukkan pada
Gambar 16. dan Gambar 17. Berikut:

10.00
Ripple Factor (%)

8.00
6.00 Kapasitor
4.00 Konvensional
2.00 Filter Paralel
0.00
Metode

Gambar 16. Perbandingan faktor ripple ketiga metode pada penyearah satu fasa
120.00
100.00

Faktor Daya (%)


80.00 Kapasitor
60.00
Konvensional
40.00
20.00 Filter Paralel
0.00
Metode
Gambar 17. Perbandingan faktor daya ketiga metode pada penyearah satu fasa

V. KESIMPULAN
Apabila dibandingkan dengan metode pemakaian kapasitor pada sisi
keluaran penyearah, maka penyearah dengan menggunakan filter parallel pada sisi
masukan dapat meningkatkan efisiensi sebesar 0,39% dan juga dapat
meningkatkan faktor daya penyearah sebesar 69,33% . Penyearah dengan
pemakaian filter parallel juga dapat menurunkan faktor ripple penyearah sebesar
33,54% apabila dibandingkan dengan metode pemakaian kapasitor pada sisi
keluaran penyearah.