Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KASUS KEPERAWATAN BEDAH

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN MUSKULOSKELETAL:


SCOLIOSIS DI POLI ORTHOPEDI RSD dr. SOEBANDI
JEMBER

OLEH:
Ananta Erfrandau, S.Kep
NIM 122311101015

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat: Jl. Kalimantan No. 37 Jember Telp./Fax. (0331) 323450
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pendahuluan berikut dibuat oleh:


Nama : Ananta Erfrandau, S.Kep
NIM : 122311101015
Judul : Laporan Pendahuluan gangguan Muskuloskeletal: Scoliosis di Poli Orthopedi
RSD dr. Soebandi Jember

telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:


Hari :
Tanggal :
Jember, .........................2017

TIM PEMBIMBING

Pembimbing Akademik, Pembimbing Klinik,

__________________________ _________________________
NIP.............................................. NIP............................................
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi Scoliosis
Skoliosis adalah deformitas tulang belakang yang ditandai oleh lengkungan
ke lateral dengan atau tanpa rotasi tulang belakang. Skoliosis dapat berupa
skoliosis fungsional yang dapat diperbaiki sedang-kan skoliosis struktural yang
cenderung menetap (Freeman, 2004). Kata skoliosis berasal dari bahasa Yunani
skolios yang berarti bengkok. Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang
berupa lengkungan ke samping/ lateral. Jika dilihat dari belakang, tulang belakang
pada skoliosis akan berbentuk seperti huruf C atau S (Brice, 2008).

Skoliosis adalah deformitas tulang belakang berupa deviasi vertebra ke arah


samping atau lateral (Soetjaningsih, 2004). Menurut Rahayussalim Skoliosis
adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi pembengkokan
tulang belakang ke arah samping kiri atau kanan. Kelainan skoliosis ini sepintas
terlihat sangat sederhana. Namun apabila diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi
perubahan yang luarbiasa pada tulang belakang akibat perubahan bentuk tulang
belakang secara tiga dimensi, yaitu perubahan sturktur penyokong tulang
belakang seperti jaringan lunak sekitarnya dan struktur lainnya (Rahayussalim,
2011)
Skoliosis adalah lengkungan (curvature) lateral tulang punggung, yang selalu
merupakan kondisi patologik. Hal itu dapat disertai kifosis tulang belakang
(kifoskoliosis) atau lordosis (lordoskoliosis) (Tamin, 2010). Skoliosis merupakan
suatu kelainan yang menyebabkan suatu lekukan yang abnormal dari spine. Spine
mempunyai lekukan-lekukan yang normal ketika dilihat dari samping, namun ia
harus nampak lurus ketika dilihat dari depan. Kyphosis adalah suatu lekukan yang
dilihat dari sisi dimana spine bengkok ke depan (maju). Lordosis adalah suatu
lekukan yang dilihat dari sisi dimana spine bengkok ke belakang.
Orang-orang dengan skoliosis mengembangkan lekukan-lekukan tambahan
ke setiap sisi, dan tulang-tulang spine melingkar pada masing-masing seperti
sebuah pencabut sumbat botol. Skoliosis adalah sebuah kondisi lengkungan ke
samping pada tulang belakang yang dapat merusak ruas-ruas spine kebanyakan
anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Spne manusia mempunyai banyak
keistimewaan lengkungan-lengkungan alami yang membantu tubuh kita untuk
bergerak dan menjadi fleksibel.
Pada umumnya skoliosis dibagi atas dua kategori diantaranya adalah skoliosis
struktural dan non struktural. Skoliosis struktural: suatu kurvatura lateral spine
yang irreversible dengan rotasi vertebra yang menetap. Rotasi vertebra terbesar
terjadi pada apex. Jika kurva bertambah maka rotasi juga bertambah. Rotasi ini
menyebabkan saat forward bending costa menonjol membentuk hump di sisi
convex, sebaliknya dada lebih menonjol di sisi concav. Skoliosis struktural tidak
dapat dikoreksi dengan posisi atau usaha penderita sendiri.

B. Epidemiologi
Sebanyak 75-85% kasus skoliosis merupakan idiofatik, yaitu kelainan yang
tidak diketahui penyebabnya. Sedangkan 15-25% kasus skoliosis lainnya
merupakan efek samping yang diakibatkan karena menderita kelainan tertentu,
seperti distrofi otot, sindrom Marfan, sindrom Down, dan penyakit lainnya.
Skoliosis idiopatik dengan kurva lebih dari 10 derajat dilaporkan dengan
prevalensi 0,5-3 per 100 anak dan remaja. Sebagian besar skoliosis terdiagnosis
pada anak dengan rentang usia 10 hingga 15 tahun. Berdasarkan data The
American Academy of Orthopaedic Surgeons, sekitar 1.26 juta pasien dengan
masalah gangguan tulang belakang di layanan kesehatan, 93% diantaranya
didiagnosis skoliosis. Delapan puluh lima persen pasien skoliosis merupakan
skoliosis idiopatik. Enam puluh hingga 80% kasus skoliosis idiopatik terjadi pada
perempuan. Skoliosis idiopatik pada remaja merupakan penyakit yang sering
terjadi dengan prevalensi 0.47-5.2%. Karena pada wanita memiliki level hormon
relaxin yang lebih tinggi dibandingkan pria. Berkaitan dengan faktor tersebut,
dapat menyebabkan peningkatan pada fleksibilitas dan inbalance yang lebih besar.
Sehingga berpengaruh pada bentuk alignmenttubuh atau postural yang tidak baik.

C. Etiologi
Penyebab dan patogenesis skoliosis belum dapat ditentukan dengan pasti.
Kemungkinan penyebab pertama ialah genetik. Banyak studi klinis yang
mendukung pola pewarisan dominan autosomal, multifaktorial, atau X-linked.
Penyebab kedua ialah postur, yang mempengaruhi terjadinya skoliosis postural
kongenital. Penyebab ketiga ialah abnormalitas anatomi vertebra dimana lempeng
epifisis pada sisi kurvatura yang cekung menerima tekanan tinggi yang abnormal
sehingga mengurangi pertumbuhan, sementara pada sisi yang cembung menerima
tekanan lebih sedikit, yang dapat menyebabkan pertumbuhan yang lebih cepat.
Selain itu, arah rotasi vertebra selalu menuju ke sisi cembung kurvatura, sehingga
menyebabkan kolumna anterior vertebra secara relatif menjadi terlalu panjang jika
dibandingkan dengan elemen-elemen posterior (Machida, 2010).
Penyebab keempat ialah ketidakseimbangan dari kekuatan dan massa
kelompok otot di punggung (Kuaster, 2012). Abnormalitas yang ditemukan ialah
peningkatan serat otot tipe I pada sisi cembung dan penurunan jumlah serat otot
tipe II pada sisi cekung kurvatura. Selain itu, dari pemeriksaan EMG didapatkan
peningkatan aktivitas pada otot sisi cembung kurvatura.
Penyebab seseorang dapat mengalami skoliosis tidak dapat diketahui secara
pasti. Penyebab seseorang dapat mengalami skoliosis bermacammacam. Ada
yang disebabkan karena faktor genetik, neuromuskuler dan ada pula yang
idiopatik. Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:
1. Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam
pembentukan tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatu
2. Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau
kelumpuhan akibat penyakit berikut:
a. Cerebral palsy
b. Distrofi otot
c. Polio
d. Osteoporosis juvenil
3. Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui. Pada kebanyakan kasus-kasus,
penyebab dari scoliosis tidak diketahui (idiopathic). Tipe dari scoliosis ini
digambarkan berdasarkan pada umur ketika scoliosis berkembang. Jika orang
itu kurang dari 3 tahun umurnya, ia disebut infantile idiopathic scoliosis.
Scoliosis yang berkembang antara umur 3 dan 10 tahun disebut juvenile
idiopathic scoliosis, dan orang-orang yang diatas 10 tahun umurnya
mempunyai adolescent idiopathic scoliosis.
Ada tiga tipe-tipe utama lain dari scoliosis: (1) Functional: Pada tipe scoliosis
ini, spine adalah normal, namun suatu lekukan abnormal berkembang karena
suatu persoalan ditempat lain didalam tubuh. Ini dapat disebabkan oleh satu kaki
adalah lebih pendek daripada yang lainnya atau oleh kekejangan-kekejangan di
punggung. (2) Neuromuscular: Pada tipe scoliosis ini, ada suatu persoalan ketika
tulang-tulang dari spine terbentuk. Baik tulang-tulang dari spine gagal untuk
membentuk sepenuhnya, atau mereka gagal untuk berpisah satu dari lainnya. Tipe
scoliosis ini berkembang pada orang-orang dengan kelainn-kelainan lain termasuk
kerusakan-kerusakan kelahiran, penyakit otot (muscular dystrophy), cerebral
palsy, atau penyakit Marfan. Jika lekukan hadir waktu dilahirkan, ia disebut
congenital. Tipe scoliosis ini seringkali adalah jauh lebih parah dan memerlukan
perawatan yang lebih agresif daripada bentuk-bentuk lain dari scoliosis. (3)
Degenerative: Tidak seperti bentuk-bentuk lain dari scoliosis yang ditemukan
pada anak-anak dan remaja-remaja, degenerative scoliosis terjadi pada dewasa-
dewasa yang lebih tua. Ia disebabkan oleh perubahan-perubahan pada spine yang
disebabkan oleh arthritis. Pelemahan dari ligamen-ligamen dan jaringan-jaringan
lunak lain yang normal dari spine digabungkan dengan spur-spur tulang yang
abnormal dapat menjurus pada suatu lekukan dari spine yang abnormal. (4) Lain-
Lain: Ada penyebab-penyebab potensial lain dari scoliosis, termasuk tumor-tumor
spine seperti osteoid osteoma. Ini adalah tumor jinak yang dapat terjadi pada spine
dan menyebabkan nyeri/sakit. Nyeri menyebabkan orang-orang untuk bersandar
pada sisi yang berlawanan untuk mengurangi jumlah dari tekanan yang diterapkan
pada tumor. Ini dapat menjurus pada suatu kelainan bentuk spine.

D. Tanda dan Gejala


Gejalanya berupa:
a. Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping
b. Bahu dan/atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya
c. Nyeri punggung
d. Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama
e. Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60) bisa
menyebabkan gangguan pernafasan.
Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan
dan pada punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri;
sehingga bahu kanan lebih tinggi dari bahu kiri. Pinggul kanan juga mungkin
lebih tinggi dari pinggul kiri. Awalnya penderita mungkin tidak menyadari atau
merasakan sakit pada tubuhnya karena memang skoliosis tidak selalu memberikan
gejalagejala yang mudah dikenali. Jika ada pun, gejala tersebut tidak terlalu
dianggap serius karena kebanyakan mereka hanya merasakan pegalpegal di
daerah punggung dan pinggang mereka saja (Jamaluddin, 2007). Skoliosis tidak
menunjukkan gejala awal. Kesannya hanya dapat dilihat apabila tulang belakang
mulai bengkok. Jika keadaan bertambah buruk, skoliosis menyebabkan tulang
rusuk tertonjol keluar dan penderita mungkin mengalami masalah sakit belakang
serta sukar bernafas. Dalam kebanyakan kondisi, skoliosis hanya diberi perhatian
apabila penderita mulai menitik beratkan soal penampilan diri. Walaupun skoliosis
tidak mendatangkan rasa sakit, rata-rata penderita merasa malu dan rendah diri.
Biasanya penderita tidak banyak mengeluhkan apa-apa. Bahkan kadangkala orang
sekitarnya yang merasa terganggu dengan struktur bengkok tersebut misalnya
orang tua penderita, pasangan (Rahayusalim, 2011). Derajat pembengkokan
biasanya diukur dengan cara Cobb dan disebut sudut Cobb. Dari besarnya sudut
skoliosis dapat dibagi menjadi (Kawiyana dalam Soetjiningsih, 2004). Klasifikasi
Dari Derajat Kurva Skoliosis yaitu:
a. Skoliosis ringan : sudut Cobb kurang dari 200
b. Skoliosis sedang : sudut Cobb antara 210 400
c. Skoliosis berat : sudut Cobb lebih dari 410
Cara mengukur Cobb Angle pada pasien skoliosis yaitu dengan cara sebagai
berikut:
a. Tentukan tulang punggung yang paling miring di bagian atas kurva dan
menarik garis sejajar dengan pelat ujung superior vertebra.
b. Tentukan tulang punggung yang paling miring di bagian bawah kurva dan
menarik garis sejajar dengan pelat ujung rendah vertebralis.
c. Tarik memotong garis tegak lurus dari dua baris sejajar.
d. Sudut yang dibentuk antara dua garis sejajar adalah sudut Cobb.

E. Patofisiologi dan Clinical Pathway


Skoliosis dapat terjadi hanya pada daerah tulang spinalis atau termasuk
rongga tulang spinal. Lengkungan dapat berbentuk S atau C. Derajat lengkungan
penting untuk diketahui, karena hal ini dapat menentukan jumlah tulang rusuk
yang mengalami pergeseran. Pada tingkat rotari lengkungan yang cukup besar
mungkin dapat menekan dan menimbulkan keterbatasan pada organ penting yaitu
paru-paru dan jantung.
Aspek paling penting dalam terjadinya Deformitas (kelainan) adalah
Progresivitas pertumbuhan tulang. Dengan terjadinya pembengkokan tulang
Vertebra kearah Lateral desertai dengan rotari tulang belakang, maka akan diikuti
dengan perubahan perkembangan sekunder pada tulang Vertebra dan Iga. Oleh
karena adanya gangguan pertumbuhan yang bersifat progresif, disamping terjadi
perubahan pada Vertebra, juga terjadi perubahan pada tulang iga, dimana
bertambahnya kurva yang menyebabkan deformitas tulang igasemakin jelas.
Tulang iga turut berputar dan menimbulkan deformitas berupa Punuk Iga (Rib
Hump).
Pada Kanalis Spinalis terjadi pendorongan dan penyempitan Kanalis Spinalis
oleh karena terjadi penebalan dan pemendekan Lamina pada sisi Konkaf.
Keseimbangan lengkungan juga penting, karena ini mempengaruhi stabilitas dari
tulang belakang dan pergerakan pinggul. Perubahan yang penting dalam
keseimbangan dapat mempengaruhi gerak jalan.
Posisi Duduk Faktor Faktor
yang salah Genetik Hormonal

Kerja otot pada ruas tulang Kekurangan asam Defisiensi melatonin


belakang folat pada ibu
hamil
Sekresi melatonin
pada malam hari
Ketegangan Otot
Resiko tinggi
sambungan spinal pada
bayi Penurunan
Perkembangan otot tulang progresivitas
belakang terganggu skoliosis
Tulang belakang tidak
normal
Otot lemah

Tulang belakang
Ruas tulang melengkung miring ke
belakang lemah salah satu sisi

SKOLIOSIS

Deviasi Kelelahan tulang Tulang belakang melengkung, GANGGUAN


lateral corpus dan sendi dada kanan menonjol & skapula CITRA
spinal tampak bertambah tinggi TUBUH

Kekakuan otot
Derajat
Menekan area paru
deviasi
semakin besar
Terjadi
hambatan gerak Menghambat pergerakan rusuk
dan paru
NYERI
AKUT
GANGGUAN
MOBILITAS Penurunan ekspansi paru
FISIK

KETIDAKEFEKTIFAN
POLA NAFAS
F. Penatalaksanaan Medis
Indikasi observasi ialah skoliosis dengan sudut kurvatura <25 0 pada pasien
yang masih dalam masa pertumbuhan dan <500 pada pasien yang masa
pertumbuhannya telah berhenti. Peme-riksaan dilakukan setiap 6-9 bulan untuk
kurvatura <200 dan tiap 4-6 bulan untuk kurvatura >20 0. Peralatan eksternal yang
dapat digunakan untuk terapi skoliosis, antara lain gips plaster, brace, atau
kombinasi. Tujuan penggunaan alat-alat ini ialah untuk mengoreksi kurvatura
skoliosis yang ada atau mempertahankan koreksi yang telah dilakukan oleh terapi
operasi.18 Penggunaan brace direkomendasikan pada skoliosis dengan kurvatura
> 200 pada pasien yang masih dalam masa pertum-buhan dan dengan progresifitas
sebesar 5-100 dalam periode 6 bulan (Judarwanto, 2012).
Milwaukee brace atau Cervico Torakal Lumbo Sacral Orthosis (CTLSO)
merupa-kan brace yang memberikan sanggahan pada pelvis dan koreksi dengan
deformitas rotatorik secara statik. Indikasi peng-gunaan Milwaukee Brace
meliputi skoliosis tahap awal yang sedang berkembang dan mendekati sudut
kurvatura 200. Kurvatura yang melebihi 500 bukan merupakan kandidat yang tepat
untuk penggunaan Milwaukee Brace. Pemakaian Boston brace paling efektif pada
skoliosis dengan puncak kurva di T6 sampai L3.20 SpineCor merupakan bentuk
ortosis yang fleksibel, dengan tujuan untuk mengurangi hambatan fisik dan
meningkatkan tingkat kepatuhan pasien menggunakan ortosis tersebut (Rivard &
Coillard, 2012)
Latihan pada pasien skoliosis bertujuan utama untuk mencegah morbiditas
sekunder dan mengurangi proses ekstra-spinal.20 Pada kasus skoliosis idiopatik
terutama pada pasien yang menggunakan brace, latihan penguatan otot-otot perut
dan bokong harus dilakukan untuk mencegah terjadinya atrofi otot. Latihan
lingkup gerak sendi fleksor panggul juga harus dilakukan untuk mencegah
kontraktur. Latihan yang dilakukan bertujuan untuk memperbaiki postur,
meningkatkan fleksibilitas, serta memperbaiki tonus ligamen dan otot (Negrini et
al, 2003)
Latihan dengan metode Klapp meliputi latihan peregangan dan penguatan
otot- otot punggung dengan menggunakan posisi kucing dan posisi berlutut yang
menyerupai hewan berkaki empat. Latihan ini merupa-kan bentuk terapi dimana
digunakan postur peregangan asimetris.Berbeda halnya dengan latihan metode
Woodcock yang menekankan pola latihan koreksi derotasi dan perbaikan otot
intrinsik tulang punggung. Menurut Woodcock, tanpa latihan derotasi,
pertambahan kurva sulit dicegah (Thamrinsyam, 2010).
Latihan metode X merupakan kombinasi latihan Woodcock dan Klapp.
Latihan ini mudah dikerjakan, dapat dikerjakan setiap hari, dan tidak memerlukan
tempat latihan khusus. Frekuensi yang diperlukan untuk bertemu dengan terapis
lebih jarang. Latihan ini merupakan modifikasi metode Klapp. Jika pada metode
Klapp latihan dilakukan dalam posisi berlutut, maka pada metode X latihan
dilakukan dengan posisi berdiri disertai fleksi trunkus; sudut fleksi trunkus
tergantung pada puncak kurvatura. Metode Schroth ialah salah satu bentuk terapi
skoliosis yang menggunakan latihan isometrik dan latihan-latihan lainnya untuk
memperkuat dan memperpanjang otot-otot yang asimetris pada skoliosis. Tujuan
latihan dengan metode ini ialah untuk memperlambat progresifitas kurvatura
spinal yang abnormal, mengurangi nyeri, meningkatkan kapasitas vital,
memperbaiki kurvatura yang ada (meskipun tidak 100 %), memperbaiki postur
dan penampilan, mempertahankan postur yang telah mengalami perbaikan, dan
menghindari tindakan operasi (Thamrinsyam, 2010).

Therapy pada pasien Scoliosis yang serng disering disebut The three Os:
a. Observasi
Observasi dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu <25 pada
tulang dalam masa pertumbuhan, atau <50 pada tulang yang sudah berhenti
masa pertumbuhannya. Rata-rata tmasa pertumbuhan tulang berhenti
tumbuh pada usia 19 tahun.
Foto kontrol pertama dilakukan 3 bulan setelah kunjungan pertama ke
dokter. Lalu sekitar 6-9 bulan berikutnya bagi yang derajat >20.
Observasi dengan pemeriksaan fisik dan X-ray dapat dilakukan tiap empat
hingga enam bulan untuk memantau perkembangan lengkungan.
Kebanyakan skoliosis yang diderita anak-anak tidak parah dan tidak
memerlukan perawatan karena tulang yang melengkung bisa kembali
normal seiring perkembangan anak
b. Orthosis

pemakaian alat penyangga yang dikenal dengan nama brace.

Pada kunjungan pertama, ditemukan derajat pembengkokan sekitar 25-400

Terdapat progresifitas peningkatan derajat sebanyak 250

Jenis dari alat orthosis ini antara lain :
Milwaukee
Boston
Wilmington dan Rosenberger brace
Lyon brace
c. Operasi
Operasi dilakukan apabila terdapat sudut lebih dari 40 atau terjadi
progresivitas dari sudut sebelum usia penderita mencapai dewasa.
Apabila terdapat deformitas yang memberikan gangguan.
Pengobatan konservatif yang tidak berhasil.
Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi deformitas rotasional dan
deviasi lateral serta melakukan artrodesis pada seluruh kurva primer.

G. Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul (PES)


1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan terjadinya kekakuan otot
3. Nyeri akut berhubungan dengan posisi tubuh miring lateral
4. Perencanaan/Nursing Care Plan
Paraf &
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
Nama
1. Ketidakefektifan pola NOC: NIC:
nafas berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan Oxygen therapy
penurunan ekspansi paru keperawatan selama 3 x 24 1) Posisikan pasien semi fowler
jam, diharapkan pola nafas 2) Pertahankan kepatenan jalan nafas
efektif dengan kriteria hasil: 3) Berikan oksigen tambahan sesuai
a. Klien tidak mengatakan advice dokter
sesak nafas 4) Monitor aliran oksigen
b. Retraksi dinding dada 5) Monitor posisi alat pemberian
tidak ada, oksigen
c. Tidak ada penggunaan 6) Monitor kerusakan kulit akibat
otot bantu pernafasan adanya gesekan perangkat oksigen
d. Kedalaman nafas normal Respiratory Monitoring
e. Pola nafas reguler, 1) Monitor rata-rata, kedalaman, irama
f. RR. Dalam batas normal dan usaha respirasi
16-24 x/menit 2) Catat pergerakan dada,amati
g. Auskulitasi suara nafas kesimetrisan, penggunaan otot
bersih / vesikuler tambahan, retraksi otot
supraclavicular dan intercostal
3) Monitor suara nafas, seperti
wheezing, ronkhi,
4) Monitor pola nafas : bradipena,
takipenia, kussmaul, dan
hiperventilasi
5) Monitor kelelahan otot diagfragma
(gerakan paradoksis)
2. Gangguan mobilitas fisik NOC: NIC:
berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan Improvement Exercises
terjadinya kekakuan otot keperawatan selama 3 x 24 1. Gali hambatan dalam melakukan
jam, diharapkan rentang hambatan;
gerak membaik kriteria 2. Dukung klien untuk memulai dan
hasil: melanjutkan latihan sepeti ROM,
1. Ambulasi miring kanan dan kiri;
2. Pergerakan 3. Dampingi klien pada saat
3. Keseimbangan mengembangkan program latihan
4. Pergerakan sendi untuk memenuhi kebutuhannya;
5. Kemampuan berpindah 4. Lakukan latihan bersama klien, jika
diperlukan;
5. Instruksikan klien terkait frekuensi,
durasi dan intensitas program latihan
yang diinginkan.
Exercise Therapy: Motion
1. Tentukan batasan pergerakan sendi
dan efeknya terhadap sendi;
2. Jelaskan pada klien dan keluarga
mengenai manfaat dan tujuan
melakukan latihan sendi;
3. Instruksikan klien/keluarga cara
melakukan latihan ROM aktif atau
pasif
Pain Management
1. Lakukan pengkajian nyeri
komprehensif meliputi lokasi,
karakteristik. Kualitas, intensitas atau
beratnya nyeri dan faktor pencetus;
2. Pastikan perawatan analgesik bagi
klien dilakukan dengan pemantauan
yag ketat
3. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen
nyeri.
3. Nyeri akut berhubungan NOC: NIC:
dengan posisi tubuh - Pain level Pain manajement
miring lateral - Pain control 1. Lakukan engkajian nyeri secara
- Comfort level koprehensif termasuk lokasi,
Setelah dilakukan asuhan karakteristik, durasi, frekuensi,
keperawatan selama 2x24 kualitas, dan faktor presipitasi
pasien skala nyeri pasien 2. Observasi reaksi non verbal dari
berkurang, dengan kriteria ketidaknyamanan
hasil: 3. Gunakan teknik komunikasi
1. Mampu mengontrol terapeutikuntuk mengetahui
nyeri pengalaman nyeri pasien
2. Melaporkan bahwa 4. Evaluasi pengalaman nyeri masa
nyeri berkurang lampau
Mampu mengenali nyeri 5. Control lingkungan yang dapat
skala, frekuensi, dan tanda mempengaruhi nyeri seperti suhu
nyeri) ruangan, pencahayaan, dan
kebisingan
6. Ajarkan tentang teknik
nonfarmakologi
7. Tingkatkan istirahat
8. Kolaborasi dengan tim medis
Analgesic administrasi
1. Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat
2. Ck instruksi dokter tentang jenis
obat, dosis, dan frekuensi
3. Cek riwayat alergi
4. Tentukan pilihan analgesic
tergantungtipe dan beratnya nyeri
5. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesic
pertama kali
H. Daftar Pustaka
Freeman TL, Freeman ED. Musculoskeletal rehabilitation. In: Cucurullo SJ,
editor. Physical Medicine and Rehabilitation Board Review. New
York: Demos Medical Publishing, 2004; p.281-3.
Jamaludin. 2006. Pertumbuhan Tulang Tidak Normal. Medan
Judarwanto W. 2012. Gangguan bentuk tulang punggung: Skoliosis
[homepage on the Internet]. [cited 08 April 2017]
Liklukaningsih. 2009. Definisi scoliosis. Diakses 08 April 2017 , dari
http//:Shalhachacha.blogspot.com/2004/4/definisi-scoliosis.html.
Lyon Brace [homepage on the Internet]. 2008 [cited 08 April 2017]. Available
from: http://bracingscoliosis.com/ lyon.aspx
Machida M. Causes Of Idiopathic Scoliosis. Spine 1999;24:2576-83.
Nanda Internasional 2015. Diagnosis Keperawatan 2015-2017. Oxford:
Willey Backwell.
Negrini S, Antonini G, Carabalona R, Minozzi S. Physical exercises as a
treatment for adolescent idiopathic scoliosis. A systematic review.
Pediatric Rehabilitation. 2003;6(3-4): 227-35
Rahayusalim. Dr. Sp.Ot(k). 2011. Kelainan Pada Tulang Belakang Anak.
Scoliosis.
Rivard CH, Coillard C. 2012. SpineCor System [monograph online]. [cited 08
April 2017]. Available from:
http://www.srs.org/professionals/education_materials/SRS_bracing_m
anual/section13.pdf
Soetjaningsih. 2004. Definisi scoliosis. Diakses 08 April 2017 dari
http//:Shalhachacha.blogspot.com/2004/4/definisi-scoliosis.html.
Texas Health Resources. Scoliosis [homepage on the Internet]. [cited 08 April
2017]. Available from: http://www.texashealth.org/body.cfm?id=3576
Thamrinsyam H. 2010. Terapi latihan skoliosis pola X. Simposium
Gangguan Tulang Belakang. Manado.