Anda di halaman 1dari 5

PENGUKURAN FAKTOR IKLIM MIKRO PADA UDARA

DAN FAKTOR FISIKA-KIMIA PADA TANAH

Dina Aprilla Zefira


NIM : 1505116495
Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA
FKIP Universitas Riau Pekanbaru 28293
E-mail : dina.aprillazefira@student.unri.ac.id

ABSTRAK
Praktikum pengukuran faktor lingkungan dilaksanakan untuk mengetahui
faktor fisika dan kimia pada lingkungan mikro yang berbeda yaitu pada daerah
lindung/ternaung, daerah transisi/setengah lindung, dan daerah terbuka/terdedah.
Pengukuran faktor iklim dan fisika dilakukan pada 28 September 2017 dan untuk
faktor kimia pada tanggal 3 Oktober 2017 di sekitar Gedung F, FKIP, UR. Pada
praktikum ini digunakan metode eksperimen dengan menggunakan beberapa alat
seperti : termometer, soil tester, oven, timbangan analitik, lux meter,
thermohigrometer, dan furnace muffle
Kata kunci : udara, tanah, pengukuran

PENDAHULUAN
Makhluk hidup dapat melangsungkan hidupnya jika makhluk hidup
tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi lingkungan dapat berupa suhu, cahaya, temperatur dan lain
sebagainya. Faktor-faktor ini juga merupakan komponen abiotik dalam ekosistem
(Kimball, 1983:53).
Faktor lingkungan abiotik secara garis besar dapat dibagi atas faktor fisika
dan faktor kimia. Faktor fisika antara lain ialah suhu, kadar air, porositas, dan
tekstur tanah. Faktor kimia antara lain adalah salinitas, pH, kadar organik tanah,
dan unsur-unsur mineral tanah. Faktor lingkungan abiotik sangat menentukan
struktur komunitas hewan-hewan yang terdapat di suatu habitat (Suin, 1997:1).
Suatu kondisi diberi takrif sebagai suatu faktor lingkungan abiotik yang
berbeda dalam ruang dan waktu, dan terhadap kondisi ini makhluk memberi
tanggapan secara berbeda-beda. Contohnya meliputi suhu, lengas nisbi, pH,
salinitas, kecepatan arus air sungai, dan kadar pencemar. Suatu kondisi dapat
dimodifikasi oleh hadirnya makhluk lain, misalnya pH tanah dapat berubah oleh
hadirnya tumbuhan, suhu dan lengas udara mungkin berubah di bawah tajuk
pohon di hutan (Soetjipta, 1993:30).
Tanah dapat didefinisikan sebagai medium alami untuk pertumbuhan
tanaman yang tersusun atas mineral, bahan organik, dan organisme hidup. Apabila
pelapukan fisik batuan disebabkan oleh perubahan temperatur dan dekomposisi
kimia hasilnya memberikan sumbangan yang cukup banyak dalam pembentukan
tanah. Kegiatan biologis seperti pertumbuhan akar dan metabolisme mikroba
dalam tanah berperan dalam membentuk tekstur dan kesuburan tanah (Subba,
1994:225).
Cahaya juga memainkan peranan penting dalam penyebaran, orientasi, dan
pembungaan tumbuhan. Di dalam hutan tropika, cahaya merupakan faktor
pembatas dan jumlah cahaya yang menembus melalui sudut hutan tampak
menentukan lapisan atau tingkatan yang terbentuk oleh pepohonannya. Keadaan
ini mencerminkan kebutuhan tumbuhan akan ketenggangan terhadap jumlah
cahaya yang berbeda-beda di dalam hutan (Ewusie, 1990:94).
Temperatur dan kelembaban umumnya penting dalam lingkungan daratan.
Interaksi antara temperatur dan kelembaban, seperti pada khususnya interaksi
kebanyakan faktor, tergantung pada nilai nisbi dan juga nilai mutlak setiap faktor.
Temperatur memberikan efek membatasi yang lebih hebat lagi terhadap
organisme apabila keadaan kelembaban adalah ekstrim, yakni apabila keadaan
tadi sangat tinggi atau sangat rendah daripada apabila keadaan demikian itu adalah
sedang-sedang saja (Odum, 1996:34).

METODE DAN ALAT


Praktikum dilakukan 14-16 di Gedung F FKIP Universitas Riau pada
tanggal 28 September-3 Oktober 2017. Metode yang digunakan dalam praktikum
ini adalah metode eksperimen. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
termohygrometer untuk mengukur faktor iklim termometer Hg, soil tester, oven, ,
timbangan analitik dan furnace muffle atau tungku pembakar untuk mengukur
faktor kimia dna fisika tanah
Langkah kerja dalam praktikum adalah dengan cara melakukan
pengukuran temperatur udara dan kelembapan relatif udara menggunakan
termohygrometer pada ketinggian satu meter dan dua meter dari permukaan tanah
di tiga tempat berbeda yaitu didaerah ternaung, transisi dan terdedah. Masing-
masing dilakukan selama lima menit yang kemudian hasilnya ditulis dalam tabel.
Untuk pengukuran suhu pada permukaan tanah dan kedalaman tanah
sedalam 30 cm menggunakan thermometer Hg di tempat berbeda yaitu didaerah
transisi, terbuka dan ternaung. Kemudian dilakukan pengukuran menggunakan
soil tester dengan menancapkannya di tempat berbeda yaitu didaerah transisi,
terbuka dan ternaung.
Untuk mengukur kadar air tanah (KAT) dilakukan dengan cara
pengeringan menggunakan oven, tanah ditimbang sebanyak 20 gram, lalu tanah
diletakkan di furnace muffle lalu dikeringkan dengan menggunakan oven pada
suhu 105 derajat celcius selama 2 jam setelah selesai ditimbang kembali tanah
yang telah dikeringkan selanjutnya dilakukan perhitungan dengan rumus kadar air
tanah = (berat basah-berat kering/berat basah) x 100%. Selanjutnya dilakukan
pengukuran kadar organik tanah (KOT), tanah dibakar sebanyak 5 gram tanah
yang sudah dikeringkan dengan menggunakan tungku pembakar (furnace meffle)
pada suhu 600 derajat celcius selama 3 jam , lalu tanah ditimbang setelah di oven
dan dilakukan pengukuran dengan kadar organik tanah = berat kering berat
abu/berat kering) x 100 %. Hasilnya dicatat pada tabel pengamatan yang sudah
tersedia.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pengukuran faktor iklim (iklim mikro) meliputi pengukuran temperatur
udara dan kelembaban udara menggunakan termohygrometer pada ketinggian 1
dan 2 meter dari permukaan tanah, masing-masing selama 5 menit, serta
pengukurann pH dengan soil tester. Lokasi pengamatan dan pengambilan sampel
dibagi menjadi tiga yaitu daerah ternaung, daerah transisi dan daerah terbuka.
Berikut ini adalah hasil dari pengukuran temperatur udara dan kelembaban udara :

Tabel 1. Hasil Pengukuran Temperatur Udara, Kelembaban Relatif Udara dan


Intensitas Cahaya pada Daerah Ternaung, Transisi dan Terbuka
(Terdedah)
Keterangan Temperatur Udara (oC) Kelembaban Intensitas
udara cahaya
Ternaung 33.5 57 0,847
Transisi 28.1 65 8.54
Terbuka 32,7 55,5 15.75
Rerata 31.43 59,2 8,37
Pada pengukuran iklim mikro, terdapat 3 macam faktor lingkungan yaitu :
temperatur udara, kelembaban udara, dan intensitas cahaya. Setiap pengukuran
menghasilkan variasi hasil. Hal ini dapat dipengaruhi oleh waktu pengambilan
data. Data di atas diambil pada jam 13.00 hingga jam 16.30 sehingga
menunjukkan fluktuasi yang beragam. Berdasarkan tabel diatas dapat diuraikan
melalui grafik berikut :

80
60 temp. udara
40 humidity
20 intensitas cahaya
0
Ternaung Transisi Terbuka

Grafik Pengukuran Faktor Iklim


Menurut teori semakin banyak suatu daerah mendapatkan cahaya matahari
maka semakin tinggi suhu udaranya. Dari grafik diatas dapat dilihat suhu
meningkat sesuai dengan teori. Dari grafik diatas, untuk ketinggian kelembaban
tertinggi berada di daerah transisi. Hal ini dimungkinkan karena adanya massa air
dari tanah dan udara, serta naungan dari beberapa pohon yang ada. Hal ini juga
dapat disebabkan naungan atap gedung yang terdapat di sekitar.
Untuk kelembaban angkanya naik turun karena setiap daerah memiliki
perbedaan humiditas. Pada grafik di atas dapat juga disimpulkan bahwa semakin
terbuka daerah tersebut maka semakin tinggi pula intensitas cahayanya. Hal ini
disebabkan karena semakin terdedah daerah tersebut maka semakin kuat cahaya
yang diterima.
Tabel data pengukuran faktor kimia dan fisika
Temperatur Kelembaban
Ket ph tanah KOT (%) KAT(%)
tanah (0C) tanah (%)
Ternaung 29,25 47,5 5,6 0,122 35,23
Transisi 29,75 40 5,8 0,154 70,11
Terbuka 33,37 70 4,4 0,192 74,22
rerata 30,7 52,5 5,2 0,156 59,85
Dari data diatas dapat kita simpulkan bahwa setiap wilayah memiliki
kondisi faktor kimia dan fisika yang berbeda pula. Untuk uraiannya ada di grafik
berikut ini

80 temp tanah
60 humiditas
40 ph tanah
20 KOT
0 KAT
tertutup transisi terbuka

Grafik pengukuran faktor kimia dan fisika


Untuk pengukuran temperatur tanah, digunakan termometer hg yang dikur
di permukaan dan di kedalaman 30 cm. Sehingga didapatkan rata-rata seperti
diatas. Semakin terdedah wilayah tersebut maka semakin tinggi pula suhunya. Hal
ini diakibatkan karena panas cahaya matahari lebih banyak diterima oleh daerah
tersebut.
Untuk humiditas tanah yang paling tinggi berda di daerah terbuka. Hal ini
mungkin disebabkan karena daerah terbuka lebih banyak menerima curah hujan
dan tersimpan di dalam tanah. Hal ini berkaitan dengan kadar air tanah yang
terkandung didalamnya.
Pada kadar organik tanah yang paling tinggi berada di daerh tebuka. Hal
ini dimungkinkan karena pada daerah ini tumbuh rerumputan yang nantinya akan
menjadi zat hara. Ph tanah juga dapat dipengaruhi zat hara dan tanh itu sendiri,
karena dipengaruhi oleh unsur-unsur yang ada di dalamnya.

KESIMPULAN
1. Suhu udara suatu daerah sangat dipengaruhi oleh pancaran sinar matahari.
Daerah yang menerima pancaran sinar matahari secara langsung suhu
udaranya lebih tinggi dibandingkan dengan daerah yang terlindung
2. Kelembaban udara sangat dipengaruhi oleh kandungan uap air yang ada di
udara. Dalam hal ini, suhu udara akan menentukan tinggi rendahnya
kelembaban udara.
3. Kadar pH tanah dipengaruhi oleh kandungan air dan garam-garam mineral di
dalamnya. Dalam hal ini, tanah yang basah dan mengandung banyak air pH-
nya cenderung bersifat netral atau basa, sedangkan tanah yang kering dan
mengandung sedikit air cenderung bersifat asam.
4. Tinggi rendahnya kelembaban tanah dipengaruhi oleh kandungan air yang
terdapat di dalam tanah. Tanah yang banyak mengandung air memiliki
kelembaban yang lebih tinggi. Sedangkan tanah yang kering dan mengandung
sedikit air memiliki kelembaban yang rendah.
DAFTAR PUSTAKA

Ewusie, J. Y., 1990, Ekologi Tropika, ITB Bandung, Bandung.

Kimball, J. W., 1983, Biologi Jilid 3, Erlangga, Jakarta.

Odum, E. P., 1996, Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga, UGM Press, Yogyakarta.

Soetjipta, 1993, Dasar-dasar Ekologi Hewan, Depdikbud Dirjen Dikti,


Yogyakarta.

Subba, N. S., 1994, Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman,


Universitas Indonesia, Jakarta.

Suin, N. M., 1997, Ekologi Hewan Tanah, Bumi Aksara, Jakarta.