Anda di halaman 1dari 12

KONTRAKSI OTOT GASTROKNEMUS DAN OTOT JANTUNG

KATAK

Oleh:
Nama : Rahma Adilah
NIM : B1A015074
Rombongan :I
Kelompok :4
Asisten : Karnia Rosmiati

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Kimball (1996) hewan vertebrata memiliki sebuah kelebihan


dibandingkan hewan avertebrata, salah satu kelebihannya yaitu lokomosi atau
kemampuan untuk bergerak secara kontinuitas dan didukung dengan bentuk tubuh
hewan tersebut. Amfibia merupakan hewan yang memiliki lokomosi yang unik
karena pergerakkan yang dilakukan oleh hewan kelas ini dengan cara melompat.
Kemampuan melompat hewan Amfibia dipengaruhi oleh keberadaan otot sebagai
alat gerak pasif pada bagian ekstrimitasnya.
Otot gastroknemus merupakan salah satu otot yang terdapat pada bagian
ekstrimitas posterior katak yang memungkinkan katak untuk melompat. Otot
gastroknemus ini terletak pada bagian tibia dan merupakan jenis otot rangka yang
melekat pada pertulangan dan bekerja secara voluntary (dibawah kontrol kesadaran).
Otot gastroknemus katak memiliki respon yang sangat cepat terhadap stimulus dan
mampu melompat sangat jauh dengan tenaga yang sangat kuat terutama ketika ada
pemangsa (Ville et al., 1988).
Keberadaan jantung pada hewan vertebrata juga menjadi pembeda diantara
hewan avertebrata. Jantung merupakan organ pemompa darah baik untuk seluruh
tubuh maupun untuk ke beberapa organ lainnya. Jantung memiliki peranan sangat
vital pada setiap hewan vertebrata. Kelas Amfibia memiliki jantung sebesar biji
kacang polong dan diselaputi oleh perikardium atau pembungkus jantung. Jantung
dapat memompa banyak darah pada hewan terutama pada Amfibia dikarenakan
adanya kontraksi yang disebabkan oleh otot jantung (Bavelander & Ramaley, 1979).

2.1 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui efek perangsangan elektrik


terhadap besarnya respon kontraksi otot gastroknemus dan efek perangsangan kimia
terhadap kontraksi otot jantung katak.
II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi

Alat yang digunakan adalah Universal Kimograf lengkap dengan asesorinya, baki
preparat, pipet tetes, jarum, kail, benang, pisau bedah, gunting, pinset, dan kertas
millimeter block
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah katak (Fejervarya
cancrivora), larutan ringer dan larutan asetilkolin 3-5%.

2.2 Cara Kerja

2.2.1 Pengukuran Kontraks Otot Gastroknemus


1. Universal Kimograf dan asesorisnya disiapkan.
2. Katak dimatikan dengan merusak otak dan sumsum tulang belakang
menggunakan jarum, tanda katak mati adalah tidak adanya reflek yang terjadi
apabila disentuh.
3. Katak diterlentangkan pada bak preparat, lalu irisan kulit dibuat melingkar pada
daerah pergelangan kaki katak. Irisan dilakukan dengan hati-hati karena jangan
sampai memotong tendon atau tendon dibawahnya.
4. Tepi kulit yang telah dipotong dipegang erat-erat dan kulit disingkap hingga
terbuka sampai lutut.
5. Otot gastroknemus dipisahkan dari otot lain pada tungkai bawah. Metode ini
dilakukan dengan hati-hati supaya tidak merusak otot gastroknemus.
6. Tendon diikat dengan benang yang cukup kuat dan panjang lalu tendon achiles
dipotong dengan gunting.
7. Jangan lupa otot gastroknemus selalu dibasahi dengan larutan ringer katak
menggunakan pipet tetes.
8. Katak dipasang pada papan fiksasi yang terdapat sebagai asesori Kimograf.
9. Besar atau tinggi skala pada kimograf dicatat untuk setiap rangsangan elektrik
yang digunakan. Pada percobaan ini dipakai 0, 10, 15, 20, dan 25 volt.
10. Grafik hubungan antara voltase dengan amplitude pada kontraksi otot
gastroknemus dibuat.
2.2.2 Pengukuran Kontraksi Otot Jantung
1. Universal Kimograf beserta asesorisnya disiapkan.
2. Katak dimatikan dengan merusak otak dan sumsum tulang belakang
menggunakan jarum, tanda katak mati adalah tidak adanya reflek yang terjadi
apabila disentuh.
3. Pembedahan dilakukan pada bagian dada katak mulai dari arah perut hingga
jantung katak kelihatan.
4. Penyobekan selaput selaput jantung katak atau pericardium dilakukan.
5. Perhitungan detak jantung dilakukan selama 15 detik lalu dikalikan 4.
6. 3 tetes asetilkolin 5% diteteskan ke jantung katak.
7. Perhitungan setelah diberikan asetilkolin 5% dilakukan selama 15 detik lalu
dikalikan 4.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1.1 Kontraksi Otot Gastroknemus


Voltase (V) Amplitudo (mm)
0 0
5 0.5
10 0.1
15 0.7
20 1.5
25 0

Tabel 3.1.2 Kontraksi Otot Jantung


Kelompok Sebelum Sesudah
1 68 64
2 68 44
3 92 8
4 32 8
5 56 44

Perhitungan kontaksi otot jantung (Kelompok 4):


Sebelum ditetesi asetilkolin: 8 x 4 = 32
Sesudah ditetesi asetilkolin: 2 x 4 = 8
2
Amplitudo (mm)

1.5

0.5

0
0 5 10 15 20 25

Tegangan (V)

Grafik 3.1.1 Hubungan antara Tegangan dan Amplitudo dari Kontraksi Otot
Gastroknemus katak.
Gambar 3.1.1 Pembedahan katak
dari arah perut ke jantung
3.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada percobaan pengukuran


kontraksi otot gastroknemus pada katak (Fejervarya cancrivora) menunjukkan
bahwa otot gastroknemus yang diberi stimulus berupa rangsangan elektrik sebesar 0
volt, 5 volt, 10 volt, 15 volt, 20 volt dan 25 volt. Hasil menunjukkan berbeda antara
masing-masing besaran tegangan atau rangsangan elektrik yang diberikan. Hasil
yang didapatkan pada rangsangan elektrik sebesar 0 volt besar kontraksi pada
kimograf atau amplitudo 0 mm, pada rangsangan elektrik sebesar 5 volt besar
kontraksi pada kimograf atau amplitudo 0.5 mm, pada rangsangan elektrik sebesar 10
volt besar kontraksi pada kimograf atau amplitudo 0.1 mm, pada rangsangan elektrik
sebesar 15 volt besar kontraksi pada kimograf atau amplitudo 0.7 mm, pada
rangsangan elektrik 20 volt besar kontraksi pada kimograf atau amplitudo 0.15 mm
dan pada rangsangan elektrik 25 volt besar kontraksi pada kimograf atau amplitudo 0
mm.
Menurut Storer (1961) yang menyatakan bahwa semakin tinggi rangsangan
yang diberikan maka amplitudo yang terukurpun akan semakin besar. Hal ini terjadi
karena daya rangsangan akan memberikan stimulus pada reseptor yang kemudian
akan dijawab dengan kontraksi otot gastroknemus yang masih berfungsi dengan
bantuan larutan ringer katak, mesti katak telah mati, adapun jika terjadi data yang
diperoleh tidak sesuai dengan teori, hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa
kemungkinan. Kemungkinan yang mungkin terjadi diantaranya adalah kesalahan
dalam menghitung rata-rata amplitudo, tombol pengatur voltage tidak stabil sehingga
tidak sesuai dengan ukuran voltage yang harus diberikan, atau karena jumlah serabut
yang berkontraksi dalam setiap individu berbeda-beda.
Hasil pengamatan mengenai pengukuran kontraksi otot jantung pada katak
(Fejervarya cancrivora ) sebelum ditetesi asetilkolin pada kelompok 1 dan kelompok
2 sebanyak 68 denyut, kelompok 3 sebanyak 92 denyut, kelompok 4 sebanyak 32
denyut, dan kelompok 5 sebanyak 56 denyut. Hasil pengamatan otot jantung katak
setelah ditetesi asetilkolin menurun pada kelompok 1 menjadi 64 denyut, kelompok 2
dan kelompok 5 menjadi 44 denyut, kelompok 3 dan kelompok 4 menjadi 8 denyut.
Menurut Storer (1961) bahwa dalam keadaan normal adanya stimulus berupa
asetikolin akan berfungsi memberikan rangsangan secara kimiawi pada otot jantung
katak, sehingga merangsang kerja otot jantung bekerja lebih lambat. Hal ini
menunjukan bahwa dalam percobaan ini, larutan asetilkolin berperan sebagai
neurotransmitter yang dilepaskan oleh saraf - saraf parasimpatis dan juga saraf -
saraf preganglionik. Penurunan yang terjadi karena asetilkolin meningkatkan
permeabilitas membran sel terhadap ion K sehingga menyebabkan hiperpolarisasi,
yaitu meningkatnya permeabilitas negativitas dalam sel otot jantung yang membuat
jaringan kurang peka terhadap rangsang.
Menurut Fradson (1992) adanya kontraksi otot dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu :
1. Meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut otot karena
stimulasi berurutan yang berlangsung beberapa detik.
2. Frekuensi hasil penjumlahan kontraksi.
3. Menurunnya kapasitas bekerja.
4. Relaksasi tidak dapat terjadi.
5. Treppe adalah meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada serabut otot
karena stimulasi berurutan yang berseling beberapa detik. Kekuatan kontraksi
terus meningkat sampai kira-kira 30 kontraksi. Pengaruh ini mungkin
disebabkan oleh meningkatnya ion Ca2+ di dalam serabut otot yang
meningkatkan pula aktivitas myofibril. Treppe pada umumnya dianggap sebagai
gejala pemanasan dimana suatu otot yang istirahat menyusun suatu kontraksi
yang lebih kuat mencapai kemampuan maksimalnya, dengan berulangnya
stimulus pada frekuensi optimal.
6. Sumasi merupakan hasil penjumlahan dua jalan, yaitu dapat berupa dua motor
berganda dan sumasi bergelombang.
a. summari unit motor berganda : banyak unit motor yang dirangsang untuk
berkontraksi secara simultan pada otot.
b. summari gelombang : frekuensi stimulasi kepada unit unit motor
ditingkatkan.
7. Tetani (tetanus) yaitu frekuensi stimulasi menjadi demikian cepat sehingga tidak
ada peningkatan frekuensi, tegangan terbesar yang dapat dicapai otot telah
tercapai.
8. Fatigue yaitu menurunnya kapasitas kerja yang disebabkan oleh pekerjaan itu
sendiri. Jangka waktu bahwa suatu tegangan atau kontraksi otot dapat
dipertahankan tergantung pada tersedianya suplai energi dalam bentuk ATP dan
kalsium bagi filamen protein kontraktil.
9. Rigor dan rigor motoris. Kejadian tersebut terjadi apabila sebagian besar ATP di
dalam otot telah habis yang menyebabkan otot tidak bisa relaksasi. Hal inilah
yang menyebabkan kita merasa lelah berlebih.
Jantung merupakan suatu pembesaran otot yang spesifik dari pembuluh darah
atau suatu struktur muskular berongga yang bentuknya menyerupai kerucut dan
dilingkupi atau diselimuti oleh kantung perikardial (perikardium). Peranan jantung
sangat penting dalam hubunganya dengan pemompaan darah keseluruh tubuh
melalui sistem sirkulasi darah. Sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam
pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-
garam, antibodi dan senyawa N, dari tempat asal keseluruh bagian tubuh sehingga
diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliran darah sampai ke bagain-
bagian jaringan jaringan tubuh (Afandi & Usman, 2001).
Bagian jantung katak yang bertindak sebagai pemacu jantung adalah sinus
venosus. Ventrikel akan memompakan darah ke dalam sebuah arteri bercabang yang
mengarahkan darah melalui dua sirkuit: pulmokutaneuscircuit mengarah ke jaringan
pertukaran gas, dimana darah akan mengambil oksigen sembari mengalir melalui
kapiler. Darah yang kaya oksigen kembali ke atrium kiri jantung, dan kemudian
sebagian besar di antaranya dipompakan ke dalam sirkuit sistematik. Sirkuit sistemik
membawa darah yang kaya oksigen ke seluruh organ tubuh dan kemudian
mengembalikan darah yang miskin oksigen ke atrium kanan melalui vena (Kimball,
1996). Otot gastrokneusus dipilih untuk analisis karena otot ini menghasilkan gaya
yang diperlukan untuk melompat (Reilly et al., 2013).
Kontraksi sel otot jantung terjadi oleh adanya potensial aksi yang dihantarkan
sepanjang membran sel otot jantung. Jantung akan berkontraksi secara ritmik akibat
adanya impuls listrik yang dibangkitkan oleh jantung itu sendiri yang disebut
autorhytmicity. Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung, yaitu: sel kontraktil dan
sel otoritmik. Sel kontraktil melakukan kerja mekanis, yaitu memompa, sedangkan
sel otoritmik mencetuskan dan menghantarkan potensial aksi yang bertanggung
jawab untuk kontraksi sel-sel pekerja. Sel khusus jantung tidak memiliki potensial
membran istirahat, tetapi memperlihatkan aktivitas pacemaker (picu jantung),
berupa depolarisasi lambat yang diikuti oleh potensial aksi apabila potensial
membran tersebut mencapai ambang tetap. Dengan demikian, timbulah potensial aksi
secara berkala yang akan menyebar keseluruh jantung dan menyebabkan jantung
berdenyut secara teratur tanpa adanya rangsangan melalui saraf (Irawati, 2015).
Grafik yang dihasilkan pada kontraksi otot gastroknemus berasal dari
stimulus listrik yang diberikan sehingga menyebabkan otot berkontraksi secara
simultan dan menggerakan grafik pada kertas sehingga semakin besar tegangan yang
diberikan semakin jauh pin akan menyimpang dan menggoreskan grafik dikertas
Kimograf. Pemberian voltase pada kaki katak terutama pada otot gastroknemus ini
mengakibatkan adanya polarisasi respon pada saraf sehingga menekan ATP-ase
dalam penyaluran ATP. Penyaluran ATP mengakibatkan otot bergerak oleh voltase
tertentu. Otot gastroknemus juga sangat peka dengan perubahan suhu dan kenaikan
ataupun penurunan suhu mengakibatkan perubahan gerak isometrik dan lamanya
waktu maksimum relaksasi otot (Rosser, 2013).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Otot gastroknemus yang diberi stimulus berupa rangsangan elektrik sebesar 0
volt, 5 volt, 10 volt, 15 volt, 20 volt dan 25 volt menunjukkan hasil yang berbeda
antara masing-masing besaran tegangan atau rangsangan elektrik yang diberikan.
2. Otot jantung yang diberi tetesan asetilkollin menunjukan detak yang terus
melemah yang disebabkan oleh larutan asetilkolin berperan sebagai
neurotransmitter yang dilepaskan oleh saraf - saraf parasimpatis dan juga saraf -
saraf preganglionic yang menurunkan permeabilitas membran sel terhadap ion K
sehingga menyebabkan hiperpolarisasi.
DAFTAR REFERENSI

Affandi, R & Usman M. 2001. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru: Unri Press.

Bavelender, G & Ramalay. 1988. Dasar-dasar Histologi. Jakarta: Erlangga.

Frandson, G. 1992. Anatomi dan Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Irawati, L. 2015. Aktifitas Listrik pada Otot Jantung. Jurnal Kesehatan Andalas,
4(2), pp.596-599.

Kimball, J. 1996. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Reilly, B., David I., Rebecca L., Paul R & Craig E. 2013. Frogs and Estivation:
Transcriptional Insights into Metabolism and Cell Survival in a Natural
Model of Extended Muscle Disuse. Journal of Physiol Genomics, 45(10), pp.
377388.

Rosser, B & Bandman. 2013. Heterogeneity of Protein Expression with in Muscle


Fibers. International Journal Dev. Biol, 46(12), pp. 747754.

Storer, T. 1961. Element of Zoology. New York: Mc Graw Hill Book Company Inc.

Ville, C ., Warren F dan Barnes R. 1988. General Biology. New York: W. B.


Saunders Co.

Wulandari, R., Muhammad H & Dwi L. 2013. The Observation of Frog Species at
State University of Malang as a Preliminary Effort on Frog Conservation. The
Journal of Tropical Life Science, 3(1),pp.43-47