Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN POSTPARTUM BLUES

Di susun Oleh : Kelompok 12

Indah Prahitaningtias (04121003034)


Intan Gandini (04121003013)
Kiki Rezeki oktaviyani (04121003007)
Mitra Yuni Ratna Sari (04121003029)

Dosen Pengajar : Ns. Jum Natosba., S.Kep.,M.Kep.,Sp.Kep.Mat

Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran

Universitas Sriwijaya

2014/2015

1
Kata Pengantar

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat,
taufik serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Asuhan
Keperawatan pada Klien PostPartum Blues dengan waktu yang telah di rencanakan

Dalam proses penyelesaian tugas makalah ini tentunya banyak pihak yang telah
memberikan bantuan berupa ilmu, saran dan kritik yang menunjang yang berarah positive pada
tugas penulis.

Penulis menyadari bahwa tugas makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu
penulis harapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak demi penyempurnaan
selanjutnya.

Akhirnya hanya kepada Allah SWT kita kembalikan semua urusan dan semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama bagi kami mahasiswa/I ilmu keperawatan.

Inderalaya, 04 februari 2015

Penulis

2
Daftar Isi

KATA PENGANTAR............................................................................................... 2
DAFTAR ISI............................................................................................................. . 3
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... . 4
1.1 Latar Belakang.................................................................................................... . 4
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................... . 5
1.3 Tujuan.................................................................................................................. . 5
BAB II TINJAUAN TEORI...................................................................................... 6
2.1 Definisi................................................................................................................. 6
2.2 Individu yang beresiko....................................................................................... . 7
2.3 Etiologi................................................................................................................. 7
2.4 Patofisiologi......................................................................................................... 8
2.5 Manifestasi klinis................................................................................................. 8
2.6 Penatalaksanaan................................................................................................... 9
2.7 WOC.................................................................................................................... 11
2.8 Pemeriksaan penunjang....................................................................................... 12
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN..................................................................... 13
3.1 Pengkajian............................................................................................................ 13
3.2 Riwayat kesehatan............................................................................................... 13
3.3 Pemeriksaan fisik................................................................................................ 15
3.4 Diagnosa keperawatan......................................................................................... 16
3.5 Rencana keperawatan........................................................................................... 16
3.6 Implementasi....................................................................................................... 22
3.7 Evaluasi................................................................................................................ 23
BAB IV PENUTUP................................................................................................... 24
4.1 Kesimpulan dan saran......................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 26

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kehamilan merupakan kondisi dramatis terhadap kondisi biologis, perubahan psikologis
dan adaptasi dari seorang wanita yang pernah mengalaminya.Sebagian besar kaum wanita
menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang ahrus dilalui tetapi sebagian
wanita menganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan
selanjutnya. Perubahan fisik adan emisonal yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap
penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan
prokreasi, kebangaan yang ditimbulkan dari norma-norma social cultural dan persoalan
dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari
reaksi emosional ringan hingga ketingkat gangguan jiwa yang berat.
Masa nifas adalah suatu masa dimana tubuh menyesuaikan baik fisik maupun psikologis
terhadap proses melahirkan yang lamanya kurang lebih 6 minggu. Selain itu pengertian masa
nifas adalah masa mulainya persalinan sampai pulihnya alat-alat dan anggota badan yang
berhubungan dengan kehamilan /persalinan (Ahmad Ramli, 1989). Dan dari pengertian diatas
dapat disimpulakn bahwa masa nifas adalah masa sejak selesainya persalinan hingga
pulihnya alat-alat kandungan dan anggota badan serta psikososial yang berhubungan dengan
kehamilan/persalinan selama 6 minggu. Dalam proses adaptasi pada masa postpartum
terdapat 3 metode yang meliputi immediate puerperineum yaitu 24 jam pertama setelah
melahirkan, early puerperineum yaitu setelah 24 jam hingga 1 minggu dan late
puerperineum yaitu setelah 1 minggi sampai 6 minggu.
Perubahan psikologi pascapartum pada seorang ibu yang baru melahirkan terbagi dalam 3
fase :
a. Taking in fase dimana si ibu ingin merawat dirinya sendiri, banyak bertanya dan bercerita
tentang pengalamannya selama persalinan yang berlangsung selama 1 sampai 2 hari.
b. Taking hold fase dimana si ibu mulai focus dengan bayinya yang berlangsung 4 sampai 5
minggu

4
c. Letting go fase dimana si ibu mempunyai persepsi bahwa bayinya adalah perluasan dari
dirinya, mulai focus kembali pada pasangannya dan kembali bekerja mengurus hal-hal
lain.

Perubahan tersebut merupakan perubahan psikologisnyang normal terjadi pada seorang


ibu yang baru melahirkan.Namun, kadang-kadang terjadi perubahan psikologi yang
abnormal. Gangguan psikologi pasca partum di bagi dalam 3 kategori yaitu postpartum blues
atau kesedihan pascapartum, depresi pascapartum nonpsikologis dan psikosis pascapartum.

Dan pada makalah ini kamiakan membahas secara khusus mengenai postpartum
blues.Beberapa penyesuaian dibutuhkan oeh wanita dalm menhadapi aktivitas dan peran
barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik
dari segi fisik maupun segi psikologis.Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan
baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan dirindan mengalami gangguan-
gangguan psikologis dengan berbagi gejala atau sindrom yang oleh para peneliti dan klinisi
disebut POSTPARTUM BLUES.

1.2 Rumusan masalah


Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien postpartum blues???
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
1.3.1.1 menjelaskan konsep tentang postpartum blues
1.3.1.2 menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien postpartum blues
1.3.2 tujuan khusus
1.3.2.1 menjelaskan definisi dari postpartum blues
1.3.2.2 menjelaskan etiologi dari postpartum blues
1.3.2.3 menjelaskan patofisiologi dari postpartum blues
1.3.2.4 menjelaskan manifestasi klinis dari postpartum blues
1.3.2.5 menjeaskan penatalaksaan medis postpartum blues
1.3.2.6 menjelaskan komplikasi postpartum blues
1.3.2.7 menjelaskan WOC postpartum blues
1.3.2.8 menjelaskan pemeriksaan fisik postpartum blues
1.3.2.9 menjelaskan asuhan keperawatan pada klien postpartum blues

5
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi

Post partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun 1875 telah
menulis referensi di literature kedokteran tentang suatu keadaan disforia ringan pasca salin yang
disebut sebagai milk fever karena gejala disforia tersebut bersamaan dengan laktasi. Post
partum blues merupakan tipe depresi yang paling sering terjadi pada wanita pascapartum, yaitu
suatu gangguan penyesuaian terhadap peristiwa kehidupan (kelahiran anak). PPB sering disebut
juga maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan
yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan atau pada saat fase taking in,
cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima dan berlangsung dalam rentang
waktu 14 hari atau 2 minggu setelah persalinan. Wanita merasa jatuh dan mudah sekali
menangis tanpa alas an yang jelas. Banyak wanita memperlihatkan keletihn yang terlihat jelas,
kurang konsentrasi, dan perasaan kehilangan, kesedihan dan marah terhadap pasangan mereka.

Namun PPB ini sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak
ditatalaksanai sebagaimana seharusnya, akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak
menyenangkan dan dapat membuat perasaan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang
mengalaminya, dan bahkan kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadan
yang lebih berat yaitu depresi, yang bias membuat dampak lebih buruk, terutama dalam masalah
hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anak, karena stress dan sikap ibu yang
tidak tulus terus menerus bias membuat bayi tumbuh menjadi anak yang mudah menangis,
cenderung rewel, pencemas, pemurung, dan mudah sakit. Keadaan ini sering disebut peurperium
atau trimester keempat kehamilan.

Baby blues adalah keadaan dimana seorang ibu mengalami perasaan tidak nyaman
(kesedihan atau kemurungan) atau gangguan suasana hati setelah persalinan, yang berkaitan
dengan hubungannya dengan si bayi, ataupun dengan dirinya sendiri. Ketika plasenta di
keluarkan pada saat persalinan, terjadi perubahan hormone yang melibatkan endorphin,

6
progesterone, dan estrogen dalam tubuh ibu, yang dapat mempengaruhi kondisi fisik, mental dan
emosional ibu.

2.2 Individu yang beresiko

Secara global diperkirakan terdapat 20% wanita melahirkan menderita post partum blues,
di Belanda sekitar 2-10% ibu melahirkan mengidap gangguan ini. Beberapa kondisi yang dapat
memunculkan depresi postpartum blues :

A. ibu yang pernah mengalami gangguan kecemasan termasuk depresi sebelum hamil
B. kejadian-kejadian sebagai stressor yang terjadi pada ibu hamil, seperti kehilangan
suaminya.
C. Kondisi bayi yang cacat, atau memerlukan perawatan khusus pasca melahirkan yang
tidak pernah dibayangkan oleh sang ibu sebelumnya.
D. Melahirkan dibawah usia 20 tahun
E. Tidak adanya perencanaan kehamilan atau kehamilan yang tidak di rencanakan.
F. Ketergantungan pada alcohol atau narkoba
G. Kurangnya dukungan yang di berikan oleh anggota keluarga, suami, dan teman.
H. Kurangnya komunikasi, perhatian dan kasih saying dari suami
I. Mempunyai permasalahan keuangan menyangkut biaya dan perawatan bayi
J. Kurangnya kasih sayanng di masa kanak-kanak
K. Adanya keinginan untuk bunuh diri pada masa sebelum kehamilan.

2.3 Etiologi

Penyebab pasti belum diketahui secara pasti, namun banya factor yang di duga berperan
dapat menyebabkan postpartum blues.Diantaranya :

a. Factor hormonal yang berhubungan yang berhubungan dengan kadar estrogen,


progesterone, prolactin dan ekstradiol. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan
sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki
efek supresi aktivitas enzim monoamine aksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja

7
menginaktivasi enzim noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood
dan depresi.
b. Factor demografi yaitu umur dan paritas
c. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.
d. Latar belakang psikososial ibu seperti : tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan
yang tidak diinginkan, riwayat gangguan jiwa sebelumnya, social ekonomi serta
keadekuatan dukungan social dari lingkungan.
e. Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya.

Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa postpartum blues tidak berhubungan
dengan perubahan hormonal, biokimia dan perubahan gizi. 8%-12% wanita tidak dapat
menyesuaikan peran sebgai orang tua dan menjadi sangat tertekan sehingga mencari bantuan
dokter.

Ada juga pendapat bahwa kemunculan dari postpartum blues ini disebabkan oleh beberapa
factor dari dalam dan luar individu. Penelitian dari Dirksen dan De Jonge Andriaansen
(1985) menunjukkan bahwa depresi tersebut membawa kondisi yang berbahaya bagi
perkembangan anak di kemudian hari.

2.4 Patofisiologi

Sejarah kehamilan adalah factor utama yang menimbulkan terjadinya baby blues ini atau
biasa dikenal dengan PPB. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan berpengaruh pada
gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim
monoamine oksidase yaitu enzim otak yang bekerja menginaktivasi nonadrenalin dan serotonin
yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi.

Karena seorang ibu setlah melahirkan mengalami perubahan pada tingkat emosional.
Biasanya ibu akan mengalami kenaikan dalam respons psikologisnya. Sensitive dann lebih
membutuhkan perhatian, kasih sayang dari orang disekitarnya yang dianggap penting baginya.
Keabnormalitasan pada postpartum blues ini mengakibatkan rasa tidak nyaman, kecemasan yang
mendalam dari ibu, tak jarang terkadang ibu menangis tanpa sebab yang pasti. Khawatir pada
bayinya dengan ke khawatiran yang berlebihan.

8
2.5 Manifestasi klinis

Gejala PPB ini dapat dilihat dari perubahan sikap seorang ibu.Gejala tersebut muncul
pada hari ke-3 dan hari ke-6 setelah melahirkan. Beberapa perubahan tersebut diantaranya :

a. Sering menangis tiba-tiba


b. Merasa tidak bahagia
c. Penakut
d. Tidak mau makan
e. Tidak mau biacara
f. Sakit kepala
g. Mudah tersinggung
h. Masa terlalu sensitive dan cepas berlebihan
i. Tidak bergairah.

Gejala- gejala itu mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang
dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari.

2.6 Penatalaksanaan

Postpartum blues atau gangguan mental pasca salin seringkali terabaikan dan tidak
ditangani dengan baik. Banyak ibu yang berjuang sendiri dalam beberapa saat setelah
melahirkan. Mereka merasakan ada sesuatu hal yang salah namun mereka sendiri tidak benar-
benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila mereka pergi mengunjungi dokter untuk
meminta pertolongan seringkali hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih
banyak, tidak gelisah, minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa
gembira menyambut kedatangan bayi yang mereka cintai.

Penanganan gangguan mental pasca salin pada prinsipnya tidak berbeda dengan
penanganan gangguan mental pada momen-momen lainnya. Para ibu yang mengalami post
partum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini membutuhkan
dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang juga harus dipenuhi.Mereka
membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dari situasi
yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan atau istirahat, dan

9
seringkali akan merasa gembira mendapat pertolongan yang praktis. Dengan batuan dari
teman dan keluarga mereka mungkin perlu mengatur atau menata kembali kegiatan rutin
sehari hari atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan disesuaikan dengan konsep
mereka tentang keibuan dan perawatan bayi.Bila memang diperlukan dapat di berikan
pertolongan dari para ahli, misalnya dari seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman
dalam bidang tersebut.

Post partum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar tentang menarik nafas
panjang dan meditasi, tidur ketika bayi tidur, berolahraga ringanm ikhlas dan tulus dengan
peran baru sebagai ibu, tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi, membicarakan rasa
cemas dan mengkomunikasikannya, bersikap fleksibel, dan bisa bergabung dengan kelompok
ibu-ibu baru. Dalam penanganan para ibu denga post partum blues dibutuhkan pendekatan
yang menyeluruh. Pengobatan medis, konseling emosional, bantuan praktis, dan pemahaman
secara intelektual tentang pengalaman dan harapan mereka mungkin pada saat tertentu.

Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan ditingkat perilaku,
emosional, intelektual, sosila dan psikologis secara bersama sama, dengan melibatkan
lingkunagnnya yaitu: suiami, keluraga, dan juga teman dekatnya.

10
2.7 WOC (web of caution)

11
2.8 Pemeriksaan penunjang

Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung post
prtum blues. Secara medis dokter menyimpulkan beberapa symptom yang tampak dapat
disimpulkan sebagai gangguan depresi post partum blues bila memenuhi kriteria gelaja yang
ada. Kekurangan hormone tyroid yang di temukan pada individu yang mengalami kelelahan
yang luar biasa ditemukan juga pada ibu yang mengalami postpartum blues.

Skrining untuk mendeteksi gangguan depresi sudah merupaka acuan pelayanan pasca
salin yang rutin di lakukan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa quisioner
sebagai alat bantu. Endinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) merupakan quisioner
dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi
selama 7 hari pasca salin. Pertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan,
perasaan bersalah, serta hal lain yang terdapat pada post partum blues.

EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya
meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 minggu kemudian.

12
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN POST PARTUM BLUES

3.1 Pengkajian

a) Identitas klien
Nama ibu : Ny. IR
Umur : 26 tahun
Agama : islam
Suku : jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : ibu rumah tangga
Alamat : jln. Raya, Jakarta Pusat
b) Identitas suami
Nama suami : Tn. A
Umur : 28 tahun
Agama : islam
Suku : jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : wiraswasta
Alamat : jln. Raya, Jakarta Pusat

3.2 Riwayat kesehatan

Anamnesa tanggal 1 januari 2015

1. Keluhan utama
Ibu dengan P2A0 post partum 4 haru yang lalu mengatakan sulit tidur, cemas, tidak nafsu
makan, perasaan tidak berdaya, tidak senang melihat bayinya, tidak peduli dengan
bayinya, dan tidak peduli dengan penampilan dan kebersihan dirinya.
2. Riwayat persalinan saat ini.

13
Anak lahi spontan pada hari minggu 28 desember 2014 pukul 18.30 WIB.
Kala I : lamanya 4 jam 15 menit, jumlah perdarahan blood slym dan berlangsung
normal
Kala II : pukul 15.30, persalinan spontan pervaginam, jenis kelamin perempuan,
BB 3000g, PB 48 cm, apgar score 8/10, rupture perineum tidak ada, perdarahan
50cc, lamanya 15 menit.
Kala III : plasenta lahir pukul 15.45 WIB dengan melakukan manajemen aktif
kala III, berat placenta 500gr, panjang tali pusat 30 cm, dengan jumlah perdarahan
250 cc lamanya 15 menit.
Kala IV :berlangsung normal, keadaan umum baik, kesadaran compos mentis,
kontraksi uterus baik, tidak ada nyeri tekan.
TD : 110/70mmHg, RR : 20x/menit, Suhu : 36,7C, Pols : 80x/menit, perdarahan
100 cc lamanya 2 jam.
3. Pola hidup sehari-hari
Nutrisi
Sebelum melahirkan : sebelum perut ibu merasa mulas, ibu makan 3x sehari, dan
minum 7-8 gelas/hari. Tapi setelah timbul rasa mulas nafsu makan ibu berkurang
tapi ibu banyak minum air putih.
Stelah melahirkan : ibu makan 2x sehari dengan porsi makan piring nasi,
mangkuk sayur bening, 2 potong tempe, ibu tidak suka minum susu, nafsu makan
berkurang, minum 6-8 gelas/hari.
Eliminasi
Sebelum melahirkan : ibu biasanya BAB 1x sehari, sering BAK.
Setelah melahirkan :setelah melahirkan baru BAB 1x
Istirahat
Sebelum melahirkan : sebelum perut ibu mulas ibu bisa tidur 6-7 jam/hari dan
tidur siang 1 jam dalam sehari
Setelah melahirkan : ibu mengatakan sulit tidur dan tidak pernah tidur siang, ibu
hanya tidur 3-4 jam / hari
Aktifitas

14
Sebelum melahirkan : ibu masih bisa melakukan aktivtas seperti mengurus rumah
tangga seperti memasak.
Setalah melahirkan : saat ini ibu masih membutuhkan bantuan untuk melakukan
aktivitas.
Personal hygiene
Sebelum melahirkan : ibu mengatakan mandi 2x sehari, ganti pakaian 2x sehari
dan cucu rambut 1x sehari
Setelah melahirkan ; ibu mengatakan mandi 1x sehari ganti pakaian x sehari dan
mencuci rambut 1x seminggu.
Ekstremitas :
Simetris kanan dan kiri, tidak cacat, jari lengkap, tidak oedema, kuku jari terlihat
agak panjang dan kotor.
3.3 Pemeriksaan fisik
1. keadaan umum : ibu tampak cemas dan gelisah
kesadaran : composmentis
2. TTV
TD : 110/70 mmHg
Suhu : 36C
RR : 20x/menit
Pols : 80x/menit
3. Pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi
Rambut : hitam, pendek, terlihat kering dan kotor
Wajah : tidak oedem, agak kusam dan tidak ada cloasma gravidarum
Mata : konjungtiva agak pucat, sclera putih, (-)oedema pada mata,
penglihatan normal
Hidung : fungsi penciuman(+),kebersihan baik, polip (-), peradangan (-)
dan mukosa berwarna merah muda.
Mulut : fungsi pengecapan (+), stomatis (-), caries (-), bibir pecah-pecah
dan terlihat kering
Telinga : simetris kanan dan kiri, fungsi pendengaran (+), kebersihan
kurang, pengeluaran serum (-), daun telinga ada.

15
Leher : pembesaran kelenjar tyroid dan vena jugularis (-), terlihat agak
kotor
Dada : payudara simetris kanan kiri, putting susu menonjol, pembesaran (+),
benjolan pada payudara (-), konsistensi keras, kurang bersih, hyperpigmentasi
areola mamae
Abdomen : nyeri tekan (-), oedema (-) dan varises pada rectal, hemoroid (-)
Ekstremitas :
Atas : simetris kanan kiri, tidak cacat, bebas digerakkan, lengkap dan keadaannya
kurang bersih.
Bawah : simetris kanan dan kiri,tidak cacat, bebas digerakkan, lengkap dan
keadaannya kurang bersih.
3.4 Diagnosa keperawatan
Resiko kekerasan terhadap diri sendiri b.d status emosional post partum
Resiko gangguan proses menyusui b.d karateristik payudara ibu
Resiko terhadap perubahan peran menjadi orang tua b.d pengaruh komplikasi fisik
dan emosional
Kurang pengetahuan mengenai perawatn diri dan perawatn bayi b.d kurang paparan
informasi, kesalahan interprestasi, tidak mengenal sumber-sumber
Potensial terhadap pertumbuhan koping keluarga b.d kecukupan pemenuhan
kebutuhan- kebutuhna individu dan tugas-tugas adaftif memungkinkan aktualisasi diri
muncul ke permukaan.

3.5 Rencana keperawatan


Diagnose Tujuan/ kriteria hasil Intervensi Rasional
keperawatan
1. Resiko Mengenal Bantuan kontrol marah: - Tanda tanda
kekerasan penanganan klien - Observasi tanda kemaarahan dapat
terhadap diri dengan perilaku tanda kekerasan berisiko terjadi
sendiri b.d status kekerasan. pada klien kekerasan terhadap
emosional post Penanganan klien - Bantu klien diri sendiri maupun
partum dengan perilaku mengindetifkasi orang lain.

16
kekerasan. tanda tanda - Pasien mengetahui
Cara yang dipilih perilaku kekerasan respon marah.
untuk membantu (emosi, fisik, sosial, - Meminimalisir resiko
merubah perilaku spiritual) kekerasan .
klien. - Dukung dan
fasilitasi klien
untuk mencari
bantuan saat
muncul marah.
- Diskusi bersama
klien pengaruh
negatif perilaku
kekerasan terhadap
dirinya, orang lain
dan lingkungan.
2. Resiko gangguan Mengungkapkan - Kaji pengetahuan - Membantu dalam
proses menyusui pemahaman tentang dan pengalaman mengindentifikasikan
b.d karateristik proses atau situasi klien tentang butuhan saat ini
payudara ibu menyusui . menyusui - Mempunyai
Mendemostrasikan sebelumnya dukungan yang cukup
teknik dari menyusui. - Demonstrasikan meningkat
dan tinjau ulang kesempatan untuk
teknik teknik pengalaman
menyusui menyusui dengan
berhasil
- Membantu menjamin
suplai susu adekuat
dan mencegah putih
pecah
3. Nyeri b/d efek Mengindentifikasi - Tentukan adanya, - Mengindentifikasi
efek hormonal kebutuhan dan lokasi dan sifat kebutuhan kebutuhan

17
menggunakan ketidaknyamanan khusu
intervensi untuk - Inspeksi perbaikan - Dapat menunjukan
mengatasi perineum dan trauma berlebihan
ketidaknyamanan epiostomi pada jaringan
- Berikan kompres perineal dan
pada perineum, terjadinya komplikasi
khususnya selama yang memerlukan
24 jam pertama evaluasi/intervensi
setelah melahirkan lanjut
- Anjurkan duduk - Memberikan anestesi
dengan otot gluteal local, meningkatkan
terkontraksi diatas vasokonstriksi, dan
perbaikan mengurangi edema
epiostomy. danvasolidasi.
- Kolaborasi dalam - Penggunaan
memberikan obat pencegahan gluteal
analgesic 30-60 saat duduk
menit sebalum menurunkan stres dan
menyusui. tekanan langsung
pada perineun
- Memberikan
kenyamanan,
khususnya selama
laktasi, bila afterpain
paling hebat karena
pelepasan oksitosin
4. Gangguan pola - Pantau pola tidur - Pola tidur efeky=tif
tidur b/d respon dan catat hubungan dapat membuat
hormonal dan faktor faktor fisik pasien lebih segar
psikologis - Hindari suara keras - Suara keras dapat
(sangat gembira, dan penggunaan mengganggu tidur

18
ansietas, lampu saat tidur pasien
kegirangan), malam - Tidur siang dapat
nyeri atau - Berikan tidur siang memenuhi
ketidaknyamana jika diperlukan kebutuhan tidur
n, proses untuk memnuhi
persalinan dan kebutuhan tidur
kelahiran
melahirkan

5. Resiko terhadap Mengungkapkan - Kaji kekuatan, - Mengindentifikasi


perubahan peran masalah dan kelemahan, usia, faktor faktor resiko
menjadi orang pertanyaan tentang status perkawinan, potensial
tua b.d pengaruh menjadi orang tua. ketersediaan - Kemampuan klien
komplikasi fisik Mendiskusikan peran sumber pendukung untuk beradaptasi
dan emosional orang tua secara dan latar belakang secara positif untuk
realistis, dan secara budaya menjadi orang tua
aktif mulai melakukan - Perhatikan respon mungkin dipengaruhi
tugas perawatan bayi klien/pasangan oleh reaksi ayah
baru lahir dengan terhadap kelahiran dengan adekuat
tepat dan peran menjadi - Peran menjadi orang
orang tua tua dipelajari dan
- Evaluasi sifat individu memakai
menjadi orang tua peran orang tua
secara emosi dan meraka sendiri
fisik yang pernah menjadi model peran
dialami klien - Adanya komplikasi
- Evaluasi status fisik ibu mempengaruhi
masalalu dan saat kondisi psikologi
ini dan kejadian klien
komlikasi prenatal, - Ibu sering mengalami
intranatal dan kesedihan karena

19
pascanatal mendapati bayinya
- Evaluasi kondisi tidak seperti bayi
bayi : yang diharapkan
komunikasikan - Membantu
dengan staf meningkatkan peran
perawatan sesuai menjadi orang tua
dengan indikasi
- Rujuk pada
kelompok
pendukung
komunitas
6. Kurang Mengungkapkan - Pastikan persepsi - Terhadap hubungan
pengetahuan berhubungan dengan klien tentang anatar lama
mengenai pemahan perubahan persalinan dan persalinan dan
perawatan diri fisiologis, kebutuhan kelahiran, lama kemampuan untuk
dan perawatan individu, hasil yang persalinan dan melakukan tanggung
bayi b.d kurang diharapkan, tingkat kelelahan jawab tugas dan
paparan melakukan aktivitas klien. aktivitas
informasi, dan prosedur yang - Kaji persiapan klien - Aktivitas perawatan
kesalahan perlu menjelaskan dan motivasi untuk diri dan perawatan
interpretasi, alasan alasan untuk belajar bayi
tidak mengenal tindakan - Berikan informasi - Membantu membantu
sumber sumber tentang perawatan mencegah infeksi,
diri termasuk mempercepat
perawatan perinela pemulihan dan
dan higyne, penyembuhan,
perubahan berperan terhadap
fisiologis adaptasi yang positif
dari perubahan fisik
dan emosional
7. Potensial Mengungkapkan - Kaji hubungan - Perawat dapat

20
terhadap keinginan untuk anggota keluarga membantu
pertumbuhan melaksanakan tugas satu dengan yang memberikan
koping keluarga tugas yang mengarah lain pengalaman positif di
b.d kecukupan pada kerjasama - Anjurkan RS dan menyiapkan
pemenuhan darianggota keluarga partisipasi keluarga terhadap
kebutuhan- baru. seimbang dari pertumbuhan melalui
kebutuhna Mengekpresikan orang tua pada tahap tahap
individu dan perasaan percaya diri perawatan bayi perkembangan
tugas-tugas dan kepuasan dengan - Berikan bimbingan dengan penyertaan
adaftif terbentuknya antisipasi mengenai tambahan anggita
memungkinkan kemajuan dan perubahan keluarga baru
aktualisasi diri adaptasi emosional normal - Fleksibilitas dan
muncul ke berkenaan dengan sensitisasi terhadap
permukaan periode pasca kebutuhan keluarga
partum membantu
- Kolaborasi dalam mengembangkan
merujuk klien/ harga diri dan rasa
pasangan pada kompeten dalam
kelompok orang tua perawtan BBL
pasca partum setelah pulang
sikomunitas - Membantu
menyiapkan
pasangan untuk
kemungkinan
perubahan yang
mereka alami,
menurunkan stres
berkenaan dengan
ketidak tahuan atau
dengan kejadian yang
tidak diperkirakan

21
dan dapat
meningkatkan koping
positif
- Meningkatkan
pengetahuan orang
tua tentang
membesarkan anak

3.6 Implementasi (Pelaksanaan)

3.6.1 Menjelaskan bahwa ibu berada dalam masa nifas dengan depresi, yang ditandai dengan
gejala sulit tidur, tidak nafsu makan, cemas, perasaan tidak berdaya, tidak senang melihat
bayinya, tidak ada perhatian dengan bayinya, tidak ada perhatian dengan penampilan,
kebersihan dirinya dan bayinya. Hal ini dapat dicegah dengan ibu merawat diri, makan
dengan menu seimbang, olahraga, istirahat untuk mecegah dan mengurangi perubahan
perasaan. Mintalah bantuan keluarga,teman, tetangga untuk menjaga bayinya sementara
saat tidur, rekreasi dan rencanakan acara keluar bersama bayi suamidan jika dilakukan
sejak dini depresi itu dapat dicegah. Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
ibu : TD : 100/80 mmHg, Suhu 36,90C, RR: 24x/menit, Nadi: 90x/menit.

3.6.2 Membantu ibu dalam pemenuhan kebutuhan sehari hari dengan melibatkan keluarganya
seperti pemenuhan nutrisi, personal hygine,dan kebutuhan yang lain.

3.6.3 Menganjurkan tentang perawatan bayi sehari hari seperti menggendongnya bila bayi
menangis, menyusuinya, mengganti popoknya bila basah, menjaga bayinya tetap kering,
bersih dan hangat, agar ibu merasa lebih dekat dengan bayinya, menyukainya dan mulai
tumbuh kasih sayangnya pada bayinya. Menganjurkan keluarga dan teman untuk
mendukung karena ibu membutuhan pengertian emosional, konseling, serta tenggang
waktu untuk lepas sejenak dari kegiatan merawata bayi, bantuan dari keluargadan teman
sangat berpengaruh dalam proses penyelesaian masalah.

3.6.4 Menganjurkan utuk ibu selalu merawat dirinya dan juga bayinya.

3.6.5 Menganjurkan kepada ibu untuk beristirahat cukup 8 jam sehari dan usahakanlah kalau
siang istirahat 1-2 jam waktu bayinya tidur. Menganjurkan pada keluarga selalu
memantau pola istirahat ibu.

22
3.6.6 Menjelaskan faktor-faktor yang dapat memperberat depresi seperti kurangnya dukungan
keluarga dirumah, peubahan hormonal, lingkungan melahirkan, jumlah anak dan
hubungan seksual yang kurang menyenangkan setelah melahirkan.

3.6.7 Melakukan kolaborasi dengan dokter/psikiater untuk mendapatkan terapi yaitu psikoterapi
dan pengobatan seperti penenangan.

3.7 Evaluasi

3.7.1 Ibu mengerti tentang kondisinya saat ini.

3.7.2 Keadaan umur ibu cemas, kesadaran composmentis.

3.7.3 Tanda-tanda vital

- TD : 100/80 mmHg

- Nadi : 90x/mnt

- RR : 24x/mnt

-Suhu :36,90c

3.7.4 Ibu mengerti hal hal yang dijelaskan dan mau melakukan anjuran

3.7.5 Ibu sudah mau mandi sore, tapi belum mau cuci rambut

3.7.6 Ibu masih belum mau makan.

23
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Post partum blues adalah keadaan dimana seseorang ibu mengalami perasan tidak nyaman
(kesedihan/kemurungan)/ gangguan suasana hati setelah persalinan yang berkaitan dengan
hubungannya dengan si bayi, atau pun dengan dirinya sendiri. Ketika plasenta dikeluarkan
pada saat persalinan, terjadi perubahan hormon yang melibatkan edoprin, progesteron, dan
estrogen dalam tubuh ibu, yang dapat mempengaruhi kondisi fisik,mental dan emosional
ibu.

4.2 Saran

Postpartum blues dapat dicegah dengan cara :

1. Anjurkan ibu untuk merawat bayinya, yakinkan pada suami atau keluarga untuk selalu
memperhatikan si ibu
2. Menu makan yang seimbang
3. Olahraga secarateratur
4. Mintalah bantuan pada keluarga atau suami untuk merawat ibu dan bayinya
5. Rencanakan acara keluar bersama bayi berdua dengan suami
6. Rekreasi

Cara mengatasi gangguan psikologi pada nifas dengan postpartum blues ada dua cara yaitu :
1. Dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik
Tujuan dari komunikasi terapeutik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan
dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara:
a. Mendorong pasien mampu meredakan segala ketengan emosi
b. Dapat memahami dirinya
c. Dapat mendukung tindakan konstruktif
d. Dengan cara peningkatan suport mental
Beberapa cara peningkatan suport mental yang dapat dilakukan keluarga diantaranya:
a. Sekali-kali ibu meminta suami untuk membantu dalam mengerjakan pekerjaan
rumah seperti : membantu mengurus bayinya, memasak, menyiapkan susu, dll.
b. Memanggil orang tua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam menghadapi
kesibukan merawat bayi.
c. Suami harusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan lebih perhatian
terhadap istrinya.
d. Menyiapkan metal dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir

24
e. Memperbanyak dukungan dari suami
f. Suami menggantikan peran istri ketika istri kelelahan.
g. Ibu dianjurkan sering sharing dengan teman temannya yang baru saja melahirkan.
h. Bayi menggunakan pempers untuk meringankan kerja ibu
i. Mengganti suasana dengan bersosialisasi
j. Suami sering menemani istri dalam mengurus bayinya

2. Selain hal diatas, penanganan terhadap klien postpartum blues dapat dilakukan pada diri
klien sendiri, diantaranya dengan cara:
a. Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi
b. Tidurlah ketika bayi tidur
c. Berolahraga ringan
d. Ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu
e. Tidak perfectionis dalam hal mengurus bayi
f. Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan
g. Bersikap fleksibel
h. Kesempatan merawat bayi hanya datng 1 x
i. Bergabung dengan kelompok ibu

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Herdman, Heather. 2010. Diagnosis Keperawatan. Jakarta : Penerbit buku kedokteran


2. Morhead, Sue. 2008. Nursing Outcomes Clasification (NOC). America : Mosby
3. Mc closkey Dochterman, Joanne. 2004. Nursing Interventions Clasification (NIC).
America : Mosby
4. Marlyn E. Doengoes, Mary Frances Moorhouse, Alice C.Geissler (2002), Rencana
Auhan Keperawatan : Pendoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan
Pasien Edisi 3. Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta
5. Adele Pilliters, Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak, EGC : Jakarta, 2002
6. Bobak, Lawdermik, Jensen. (2004). Buku Ajar : Keperawatan maternitas edisi 4, Jakarta:
EGC
7. Budi Santosa, Panduan Diagnosa Keperawtan Nanda 2005-2006.Prima Medika: Jakarta

26