Anda di halaman 1dari 18

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bidang tanah adalah bagian permukaan bumi yang merupakan satuan
bidang terbatas. Karena bidang tanah dipermukaan bumi merupakan bagian dari
ruang yang keberadaannya sangat terbatas, untuk itu pemanfaatannya harus
dilakukan secara terencana dan terkendali. Pemetaan bidang tanah dilakukan
dengan cara melakukan pengukuran posisi titik-titik batas dari bidang tanah untuk
mendapatkan kepastian letak bidang tanah tersebut di permukaan Bumi. Pemetaan
suatu bidang tanah dilaksanakan dengan cara terestrial, fotogrametris, atau metode
lainya. Saat ini metode penentuan posisi suatu titik di permukaan bumi mengalami
kemajuan yang demikian pesat. Hal tersebut ditandai dengan ketersediaan
peralatan alat ukur yang dilengkapi dengan teknologi digital terkini. Metode
penentuan posisi suatu titik di permukaan bumi dapat dibedakan menjadi dua
bagian. Pengukuran posisi titik-titik dengan metode ektraterestrial menggunakan
receiver gps saat ini sudah banyak digunakan. Hal tersebut ditunjang oleh
kemajuan teknologi sehingga hasil yang diperoleh mempunyai ketelitian yang
tinggi dengan waktu yang relatif singkat (Ningsih., dkk, 2014).
Global Positioning System (GPS) merupakan sistem penentuan posisi yang
menggunakan teknologi satelit. GPS mulai dikembangkan pada tahun 1973 oleh
Departemen Pertahanan Amerika dan mulai digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan geodesi sejak tahun 1983. Sistem GPS terdiri atas tiga segmen
utama, yaitu segmen angkasa, segmen sistem kontrol, dan segmen pengguna.
Segmen angkasa terdiri dari satelit-satelit yang terletak pada ketinggian sekitar
20200 km dari permukaan bumi. Segmen sistem kontrol terdiri dari stasiun
pemonitor dan pengontrol kondisi satelit. Sedangkan segmen pengguna
merupakan pemakai GPS termasuk alat-alat penerima (Risdianto, 2014).
Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia yang
terbentang dikhatulistiwa sepanjang 3977 mil dan terdiri atas 17508 pulau besar
dan kecil. Wilayah Indonesia yang luas memerlukan penanganan yang khusus
untuk tersedianya titik-titik kontrol geodetik secara nasional yang memiliki
referensi terhadap jaring kerangka dasar geodetik global. Titik-titik kontrol
2

geodetik tersebut memiliki peran yang penting dalam berlangsungnya kegiatan


pembangunan yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Seiring berkembangnya
teknologi pengukuran dan pemetaan, penentuan posisi titik-titik kontrol geodetik
telah menggunakan teknologi GPS (Global Positioning System). Di Indonesia,
GPS telah digunakan untuk menentukan koordinat titik-titik kontrol yang
membangun kerangka dasar nasional untuk survei dan pemetaan. Penggunaan
teknologi GPS untuk penentuan posisi, survei dan aplikasi pemetaan di Indonesia
secara sistematis dimulai sejak akhir tahun 1980-an. Dalam kegiatannya, metode
statik dan real time (absolut and diferensial) adalah dua metode penentuan posisi
yang sering digunakan (Rahadi., dkk, 2013).
Kebutuhan masyarakat akan penentuan atau pencarian letak suatu
bangunan atau tempat dengan korelasi yang ada antara suatu tempat dengan
tempat yang lain dan dengan kemajuan teknologi terutama pada visualisasi.
Sehingga masyarakat sekarang cenderung mengerti atau mengatahui suatu lokasi
berdasarkan apa yang pernah mereka perkirakan atau apa yang dilihat
sebelumnya. Oleh karena itu, diperlukan suatu penyajian peta yang menarik dan
mudah dipahami dengan mengandung kaidah kartografi pada setiap
objek bangunan yang cenderung lebih disukai dibanding dengan pembedaan
kategori nominal, terutama bagi masyarakat awam dalam membaca informasi-
informasi pada peta. Definisi kartografi adalah pemindahan informasi yang
terpusat pada basis data spasial yang dapat dipertimbangkan dengan sendirinya
menjadi suatu model yang beraneka ragam mengenai kenyataan geografi. Objek
kartografi adalah pembuatan peta sebagai refleksi dunia atau alam nyata
(real world) yang setepat mungkin dan berdasarkan jenis penyajian gambaran
dari wilayah permukaan bumi (Kertanegara., dkk, 2013).

Tujuan
Tujuan dari praktikum geodesi dan kartografi yang berjudul Pengenalan
Alat-Alat Praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mengenal theodolit yang
digunakan pada praktikum geodesi dan kartografi, untuk mengetahui fungsi dari
theodolit tersebut dan untuk dapat menggunakan theodolit yang digunakan dalam
kegiatan yang berhubungan dengan geodesi dan kartografi.
3

TINJAUAN PUSTAKA

Ilmu Geodesi mempelajari mengenai pengukuran dipermukaan bumi,


bentuk muka bumi sebagai geoid maupun ellipsoid serta berbagai macam jenis
hitungan didalamnya. Yang dimaksud ellipsoid disini adalah ellip yang berotasi
pada sumbu pendeknya. Ellipsoid yang digunakan sebagai model bumi sering
disebut dengan Ellipsoid referensi. Seiring dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat, muncul berbagai macam
bentuk dari software yang dapat memberikan bantuan untuk melakukan hitungan
geodesi. Namun sejauh ini program dan software tersebut hanya memberikan
fasilitas input data dan setelah itu berisi eksekusi khusus untuk menampilkan
hasilnya, tanpa menampilkan penjelasan mengenai tahapan perhitungan selain itu
diperlukan speksifikasi khusus, dan bergantung pada sistem operasi tertentu dan
terkendala lokasi. Dalam bidang Geodesi dan Geomatika, posisi suatu titik
biasanya dinyatakan dengan koordinat (dua dimensi atau tiga dimensi) yang
mengacu pada suatu sistem koordinat tertentu. Sistem koordinat itu sendiri
didefinisikan dengan menspesifikasikan tiga parameter (Akhsin., dkk, 2016).
Pada umumnya peta adalah sarana guna memperoleh gambaran data
ilmiah yang terdapat di atas permukaan bumi dengan cara menggambarkan
berbagai tandatanda dan keteranganketerangan, sehingga mudah dibaca
dan dimengerti. Peta yang memberikan gambaran mengenai kondisi
permukaan suatu areal tertentu pada permukaan bumi yang dinyatakan dengan
simbol-simbol, tanda-tanda, serta keterangan dalam skala tertentu disebut
peta Topografi (Sendow dan Longdong, 2012).
Arti istilah "kartografi telah berubah fundamental sejak tahun 1960.
Sebelumnya kartografi didefinisikan sebagai "pembuatan peta. Perubahan
definisi disebabkan oleh kenyataan bahwa kartografi telah dikelompokkan dalam
bidang ilmu pengetahuan komunikasi dan hadirnya teknologi computer. Mengacu
dari definisi kartografi sebelumnya, kartografi sekarang didefinisikan sebagai
"penyampaian informasi geospasial dalam bentuk peta. Hal ini menghasilkan
pandangan, tidak hanya sebagai pembuatan peta semata, tetapi penggunaan peta
juga termasuk pada bidang kartografi. Dan benar bahwa hanya dengan menelaah
4

penggunaan peta, dan pengolahan informasi yang dipetakan oleh pengguna,


memungkinkan untuk mengecek apakah informasi di dalam peta dipresentasikan
dengan cara yang terbaik. Unsur-Unsur yang termasuk di dalam definisi peta
adalah informasi geospasial, penyajian grafis, skala dan simbol. Suatu gambaran
konvensional, sebagian besar dibuat di atas bidang datar yang menggambarkan
fenomena nyata abstrak yang terdapat dalam suatu ruang maupun abstrak yang
terdapat dalam suatu ruang (Kraak dan Ormeling, 2013).
Dua hal penting di dalam lingkup rekayasa Geodesi dan Geomatika serta
sain Geodesi adalah posisi (positioning) dan koordinat. Posisi didefinisikan secara
sederhana sebagai keberadaan suatu objek terhadap objek lainnya, sementara
koordinat didefinisikan sebagai pernyataan posisi secara kuantitatif, atau dalam
definisi lainnya disebutkan koordinat adalah suatu besaran (numeris) untuk
menyatakan letak atau posisi suatu titik (objek) di dalam suatu ruang (lapangan).
Untuk menjamin adanya konsistensi dan standardisasi dari suatu koordinat, yang
berlaku untuk sistem lokal bahkan sampai global (dunia), maka perlu adanya
suatu sistem yang menyatakan koordinat. Sistem ini disebut Sistem Referensi
Koordinat atau Sistem Referensi Geodesi, dengan unsur-unsur atau parameter
penyusunnya berupa Sistem Referensi dan Kerangka Referensi Koordinat pada
sistem bumi statis, dan Sistem Referensi, Kerangka Referensi Koordinat serta
Datum Koordinat pada sistem bumi dinamis. Datum Koordinat selanjutnya terbagi
menjadi beberapa jenis yaitu Datum Statik, Semi Dinamik, Dinamik, Semi
Kinematik, dan Kinematik (Andreas., dkk, 2013).
Pengukuran penampang memanjang dan melintang dapat dilaksanakan
dengan berbagai macam alat ukur seperti Waterpass , Total station. Penampang
memanjang adalah irisan tegak pada lapangan dengan mengukur jarak dan beda
tinggi titik-titik di atas permukaan bumi. Profil memanjang digunakan untuk
melakukan pengukuran yang jaraknya jauh, sehingga dikerjakan secara
bertahap beberapa kali. Karena panjangnya sangat besar, skala vertikal yang
digunakan dibuat berbeda dengan skala horisontalnya. Cara pengukuran
penampang memanjang sama dengan cara pengukuran secara berantai.
Penampang memanjang digunakan untuk pekerjaan membuat trace jalan kereta
api, jalan raya, saluran air, pipa air minum, dan sebagainya. Penampang melintang
5

yang digunakan dalam menghitung pekerjaan rekayasa adalah sebuah penampang


vertikal, tegak lurus terhadap garis sumbu pada stasiun penuh dan
stasiun plus, yang menyatakan batas-batas suatu galian atau timbunan rencana
atau yang sudah ada (Bagus., dkk, 2015).
Pengukuran beda tinggi dapat diperolehdengan dua pendekatan yaitu
dengan metode sipatdatar menggunakan alat Waterpass dan metode trigonometris
menggunakan alat Total Station (TS) atau Theodolit. Kedua metode ini masing-
masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Metode sipatdatar menghasilkan
ketelitian lebih tinggi namun kurang praktis dan kurang ekonomis digunakan pada
area yang tidak datar, dibandingkan dengan pengukuran beda tinggi secara
trigonometris. Prinsip trigonometris menghasilkan ketelitian yang lebih
rendah namun memiliki kelebihan karena alat TS sangat praktis digunakan
di lapangan baik pada kondisi daerah pengukuran yang datar maupun
yang bervariasi sehingga waktu dan biaya yang dibutuhkan menjadi lebih efisien
dan ekonomis. Secara fisik alat ukur Total Station merupakan perpaduan antara
alat ukur jarak dan sudut elektronik yang dilengkapi dengan sistem memori
dan micro komputer untuk melakukan hitungan-hitungan sederhana. Waktu
pengukuran menggunakan alat Total Station dapat lebih cepat dibandingkan
dengan theodolit (Parseno dan Yulaikhah, 2010).
Pemetaan situasi dan detail adalah pemetaan suatu daerah atau wilayah
ukur yang mencakup penyajian dalam tiga dimensi koordinat horizontal dan
koordinat vertikal secara bersama-sama dalam suatu gambar peta. Prinsipnya
dengan menentukan objek-objek penting berdasarkan unsur sudut dan jarak dalam
jumlah yang cukup, sehingga dapat mewakili atau menggambarkan daerah
tersebut dan seisinya secara jelas mungkin dengan skala tertentu. Peralatan dan
perlengkapan yang digunakan biasanya dengan menggunakan alat theodolit dan
meteran. Seiring dengan perkembangan teknologi peralatan yang digunakan
menggunakan total station yang mana alat ini dapat menyimpan data dan
mengukur jarak secara langsung, bahkan sekarang ini pemetaan situasi dapat
dilakukan dengan menggunakan metode survei GNSS. Salah satu teknologi
pemetaan yang mulai dikembangkan di Indonesia yaitu GNSSCORS
(Hafiz., dkk, 2014).
6

METODE PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat


Praktikum Geodesi dan Kartografi yang berjudul Pengenalan Alat-Alat
Praktikum yang dilaksanakan pada hari Rabu, 20 September 2017 pada pukul
09.45 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium
Manajemen Hutan, Program studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas
Sumatera Utara, Medan.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain theodolit manual,
theodolit semi digital, statif, rambu ukur, jalon, walking stick, bitterlich,
hagameter, clinometer, abney level, phi band, pita ukur, waterpass, planimeter,
kompas, califer dan plani.
Bahan yang digunakan adalah buku panduan, buku jurnal, buku data dan
buku kuis.

Prosedur Praktikum
1. Didirikan statif dengan bentuk kaki tiga sama sisi.
2. Diambil theodolit lalu diletakkan pada statif, kemudian di pasang sekrup.
3. Disetel nivo tabung dengan menggunakan sekrup yang ada pada ketiga
sisinya. Untuk mempermudah pengerjaannya, diusahakan nivo berada
diantara 2 sekrup. Fungsi nivo adalah untuk mengatur keseimbangan
theodolit.
4. Diputar teropong sejajar garis horizontal.
5. Diletakkan rambu ukur pada jarak ataupun ketinggian yang akan diukur.
6. Dilakukan pembacaan.
7

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Hasil yang diperoleh dari praktikum Geodesi dan Kartografi yang berjudul
Pengenalan Alat-Alat Praktikum adalah sebagai berikut:
1. Theodolit Manual
Keterangan:
1. Teleskop 7. Kunci penggerak
2. Pengatur mikrometer
3. Sentering optis
4. Piringan lingkaran
horizontal
5. Sekrup ABC 6. Sekrup penggerak halus vertikal
Rumus:
xj = xi + dijsinij
xj = xi + dijsinij

= 0 + +
60 3600
Perhitungan jarak jika memakai sudut vertikal (elevasi)
Do = (BA BB) x 100 x cos v, jarak optis
Do = (BA BB) x 100 x cos 2v, jarak datar
Theodolit manual berfungsi sebagai alat ukur tanah yang digunakan untuk
menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Kelebihannya
adalah dapat mengukur sudut horizontal dan vertikal dengan benar dan
kekurangannya adalah dimana pembacaan sudut horizontal dan sudut vertikal
hanya hanya bisa dibaca dengan manual.
Cara penggunaan:
1. Kendurkan sekrup pengunci perpanjangan.
2. Tinggikan setingi dada orang dewasa.
3. Kencangkan sekrup pengunci perpanjangan.
4. Buatkan kaki statif berbenuk segitiga sama sisi ke atas.
5. Letakkan theodolit dan atur nivo tabung.
8

2. Theodolit Digital
Rumus:
xj = xi + dijsinij
xj = xi + dijsinij

= 0 + +
60 3600

Perhitungan jarak jika memakai sudut vertikal (elevasi)


Do = (BA BB) x 100 x cos v, jarak optis
Do = (BA BB) x 100 x cos 2v, jarak datar
Theodolit semi digital berfungsi sebagai alat ukur tanah yang digunakan
untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak.
Kelebihannya adalah cara pembacaan sudut horizontal dan vertikalnya dibaca
dengan otomatis di layar,dan cara penyentringan alatnya pun berbeda dimana
theodolit digital hanya dengan cara sentering laser dan kelemahannya adalah sulit
dibawa dan penggunanannya sulit.
Cara penggunaan:
1. Diletakkan theodolit diatas statif yang sudah dipasang.
2. Diatur posisi theodolit dengan tepat.
3. Ketengahkan gelembung nivo tabung dengan 3 sekrup penyama rata.
4. Ketengahkan gelembung nivo tabung dengan memutar sekrup A dan B secara
bersamaan.
5. Setelah posisi, putar badan pesawat 900
6. Lakukan pengujian dan periksa kembali.
3. Statif
9

Statif berfungsi sebagai tempat atau dudukan theodolit maupun waterpass.


Kelebihannya adalah mampu menopang theodolit atau waterpass dan
kekurangannya adalah bila pada bidang tidak rata dapat menyebabkan kesalahan
pengukuran.
Cara penggunaan:
1. Buka tali pengikat statif atau tripod dan pasangkan sedemikian rupa sehingga
ketiga kakinya terbuka (untuk berdiri dengan baik).
2. Pemasangan atau penyetelan statif atau tripod harus sesuai dengan tinggi
orang yang membidik atau mengukur, jangan terlalu tinggi atupun terlalu
rendah.
4. Rambu Ukur

Rumus:
AB = AT = TB
Rambu Ukur berfungsi sebagai alat bantu dalam menentukan beda tinggi
dengan menggunakan pesawat sipat datar. Kelebihan dari rambu ukur adalah
untuk mengukur dan mengetahui ukur tanah. Kekurangan rambu ukur adalah
terkadang garis tidak sejajar dengan garis jurusan nivo.
Cara penggunaan:
1. Atur ketinggian rambu ukur dengan menarik batangnya sesuai dengan
kebutuhan, kemudian kunci.
2. Letakkan dasar rambu ukur tepat diatas tengah-tengah patok (titik) yang akan
dibidik.
3. Usahakan rambu ukur tidak miring/condong (depan, belakang, kiri dan
kanan), karena bisa mempengaruhi hasil pembacaan.
4. Arahkan lensa pada teropong pesawat.
10

5. Jalon

Jalon berfungsi untuk menandai titik-titik tertentu yang akan diukur jarak atau
ketiggiannya. Kelebihannya adalah mudah ditancapkan ke dalam tanah dan
kekurangannya adalah susah ditancapkan pada tempat yang keras dan harus
menggunakan bantuan statif.
Cara penggunaan:
1. Ditegakkan pada kedua ujung jarak yang diukur.
6. Hagameter
Rumus:
Jika menggunakan skala ukur derajat (derajat sudut)
T = (tg tg ) . Jd
Jika menggunakan skala ukur persen (%sudut)
T = [(%MC %MA)/100].Jd

Hagameter biasanya digunakan untuk mengukur tinggi pohon. Kelebihannya


adalah membantu dalam menentukan jarak panjang dasar dengan cepat dan tepat.
Kekurangannya adalah apabila cuaca mendung, maka tidak akan ada bayangan
yang tampak.
Cara penggunaan:
1. Fungsikan alat penunjuk arah tinggi, dengan memutar tombol untuk berbagai
jarak pohon dari pengukuran ( bisa 10, 15, 20m dll ).
2. Atur posisi pembidik dengan jarak antara pembidik dengan pohon yang akan
di ukur sesuai dengan skala jarak yang digunakan.
3. Buka kunci jarum penunjuk dengan menekan knop / tombol.
4. Lakukan pembidik melaluhi visir ke pangkal pohon kemudian kunci dengan
menekan tombol / knop.
11

5. Baca dan catat skala yang ditunjukkan jarum.


6. Lakukan bidikan ke ujung pohon yang di inginkan ( puncak / cabang pertama
), kunci jarum penunjuk dengan menekan knop / tombol.
7. Baca dan catat skala yang di tunjukkan jarum.
7. Abney Level
Keterangan:
1. Lengan indikator
2. Lensa mata
3. Teropong/Tabung
4. Busur
5. Penjepit
Abney level berfungsi sebagai alat yang dipakai untuk mengukur
ketinggian yang terdiri dari skala busur derajat, mengukur derajat dan elevasi
topografi. Kelebihan abney level adalah mudah untuk digunakan, relative murah
dan akurat. Kekurangannya adalah walaupun lebih praktis ketika dibawa
kelapangan, tetapi tingkat ketelitian hasil pengukuran yang dicapai tidak terlalu
tinggi.
Cara penggunaan:
1. Pegang alat abney level, letakkan lubang tempat membidiknya di mata.
2. Bidikan ke suatu sasaran yang lebih tinggi dari mata kita.
3. Atur atau gerakan setengah lingkaran berskalanya ke atas atau ke bawah
sampai gelembung nivo yang terlihat di teropong tepat di benang mendatar.
4. Lihat angka skala pada setengah lingkarang tadi. angka tersebut menunjukkan
kemiringan atau bidikan yang kita lakukan.
8. Califer
Keterangan:
1. Kaki tetap
2. Kaki bergerak
3. Skrup Pengunci
4. Skala

Rumus: Skala utama + Skala nonius


12

Califer berfungsi untuk mengukur diameter pohon. Kelebihannya adalah


mudah digunakan pada pohon rebah, cukup teliti. Kelemahannya adalah alat berat
dan pengukuran dilakukan 2 kali jika diameter pohon besar sulit dilakukan.
Cara penggunaan:
1. Buka alat califer lalu ukur dan letakkan ke pohon untuk mengukur diameter
pohon.

9. Walking Stick
Keterangan:
1. Gelang lengkung
2. Gelang ukur
Rumus:
Fe x 0,1 m
Fe = tinggi pengukuran
Walking stick berfungsi untuk menopang atau menandakan suatu titik.
Kelebihannya adalah lebih ringan dan mudah digunakkan. Kelemahannya adalah
karena terbuat dari kayu jadi mudah lapuk.
Cara penggunaannya:
1. Proyeksikan ujung alat pada pangkal alat dan pangkal pohon sambil maju
mundur.
2. Setelah tepat, perhatikan ujung gelang dan proyeksikan ke pohon ditiitk dan
diberi tanda.
3. Ukur tanda tersebut.

Cara penggunannya:
1. Pastikan garis mendatar diafragm pada waterpass tersebut berada dalam posisi
tegak lurus terhadap sumbu, atur pusat garis arah nivo agar tegak lurus
terhadap sumbu.
13

10. Clinometer

Rumus:
CB/AB = DE/AD sehingga DE = AD.CB/AB
Clinometr berfungsi untuk mengukur ketinggian pohon. Kelebihannya
dalah memiliki prinsip-prinsip trigonometri sama. Kekurangannya dalah
pengukurannya harus dua pengamat.
Cara penggunaannya:
1. Letakkan ujung klinometer (titik A) tepat didepan mata
2. Arahkan ujung lain dari klinometer ke puncak benda (titik E)
3. Ukur jarak titik A ke benang penunjuk sudut (titik B)
4. Ukur jarak pangkal benang penunjuk sudut (titik C) ke titik B
5. Ukur jarak pengamat ke benda yang akan diukur ketinggiannya ( FG)
tinggi pengamat AF=DG
6. Jika menggunakan konsep kesebangunan segitiga, gunakan rumus.

11. Pita Ukur


Keterangan:
1. Penggulung
2. Pita ukur
3. Pegangan
Rumus: d = k/

Pita ukur berfungsi untuk mengukur diameter pada petak ukuran, jarak
atau penunjang. Kelebihannya adalah ringan dan mudah dibawa serta ketelitian
hasil pengukuran cukup baik. Kekurangannya adalah hasil pengukuran cenderung
14

bias dan overestimate terutama apabila batang tidak silindris, pita terlipat/
melintir, posisi alat miring terhadap sumbu batang.
Cara menggunakannya:
1. Pengukuran memakai pita ukur dimulai dari jarak nol meter yang dinyatakan
tepat diujung meteran.
2. Tarik pita menuju tiitk akhir dari objek yang akan diukur.
3. Pastikan pita tegak lurus sebelum mencatat hasil pengukuran.

12. Kompas

Kompas berfungsi sebagai alat navigasi untuk menentukan arah berupa


sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya
dengan medan magnet bumi secara akurat. Kelebihan dari kompas adalah
keringanannya sehingga mudah untuk dibawa dan digunakan. Kekurangan dari
kompas adalah untuk membuat kompas terdebut datar kita harus menggunakan
alat bantu yang datar dan bila membidik besar sudut kornpas tidak dapat langsung
diketahui.
Cara penggunaan:
1. Buka penutup kompas/cover dan posisikan pada posisi vertical.
2. Posisikan pembidik sedikit ke depan.
3. Bidik point yang di inginkan, lalu baca azimuth melalui lensa.
15

13. GPS (Global Postioning System)

1. LCD
2. Tombol On/Off
3. Tombol Arah
4. Antena
5. Tombol Mark

GPS mempunyai fungsi untuk menentukan koordinat, altitude, latitude


suatu tempat. Kelebihannya adalah keakuratan cukup tinggi. Kelemahannya
memiliki harga yang mahal.
Cara penggunaan:
1. Masukkan baterai ke GPS, lalu hidupkan.
2. Sebelum digunakan GPS disetting terlebih dahulu dengan menekan tombol
menu, lalu setting.
3. Kemudian liat posisi satelit yang tersedia.
4. Setelah ada 4 satelit yang dijangkau, maka tentukan sistem koordinat
5. Ambil titik dengan menekan beberapa detik tombol mark dan berinama dan
tanda.
6. Kemudian save.

Pembahasan
Praktikum Geodesi dan Kartografi yang berjudul Pengenalan Alat-Alat
Praktikum mengamati alat-alat yang akan digunakan selama praktikum. Alat
yang digunakan pada praktikum ada 17 alat dan salah satunya adalah yaitu
theodolit manual, theodolit semi digital, dan califer. Alat-alat ini dikenakan
sejalan dengan berkembangnya teknologi, seperti GPS (Global Positioning
System). Hal ini sesuai dengan pernyataan Rahadi (2013), yang menyatakan
bahwa seiring berkembangnya teknologi pengukuran dan pemetaan, penentuan
posisi titik-titik kontrol genetik telah menggunakan teknologi GPS.
Pada praktikum ini terdapat alat Waterpass dan theodolit. Waterpass
adalah alat survey yang lebih simpel dibandingkan theodolit, waterpass mengukur
16

elevasi atau ketinggian tanah. Theodolit merupakan alat ukur digtal yang
berfungsi untuk membantu pengukuran, memetakan suatu wilayah dengan cepat.
Theodolit dirancang untuk pengukuran sudut. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Parseno dan Yulaikhah (2010), yang menytakan bahwa kedua metode ini
memiliki kelemahan dan kekurangan. Metode sipatdatar (waterpass)
menghasilkan ketelitian lebih tinggi namun kurang praktis namun prinsip
trigonometri (theodolit) menghasilkan ketelitian lebih rendah namun praktis.
Terdapat dua jenis theodolit yaitu theodolit manual dan theodolit digital.
Namun, theodolit digital memiliki kelebihan, yaitu cara pembacaan
sudut horizontal dan vertikalnya dibaca dengan otomatis di layar sedangkan
theodolit manual pembacaannya lebih manual. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Suhendra (2011) yang menyatakan bahwa, berdasarkan fungsinya kedua alat
tersebut mempunyai tujuan yang sama, salah satunya adalah sebagai alat bantu
dalam proses penggambaran peta situasi pada lokasi tertentu. Akan tetapi
perbedaan kedua alat tersebut terletak pada proses centring (penyetelan) alat dan
pembacaan sudut koordinat.
Pada praktikum ini juga menggunakan Bitterlich stick, yaitu alat untuk
mengukur luas bidang dasar tegakan, akan tetapi dapat pula digunakan
menghitung diameter secara tidak langsung. Selain bitterlich stick terdapat juga
alat yang memiliki nama hampir sama yaitu spiegel relascope bitterlich yang
digunakan untuk mengukur diameter, tinggi serta luas bidang dasar. Alat-alat ini
diciptakan untuk mempermudah dalam melakukan pengukuran. Dalam
pengukuran diameter, tinggi dan luas diperlukan ketelitian dan kecepatan,
sehingga dicari teknik untuk meminimalkan pekerjaan pengukuran. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Hardjana (2013), yang meyatakan bahwa pengkuran diameter
relatif mudah, sedangkan pengukuran tinggi merupakan pekerjaan relatif sulit.
Untuk mengukur diameter pohon dapat dilakukan dengan menggunakan
alat phi band. Phi band adalah alat ukur dimensi pohon. Pemakaian alat phi band
juga sangat mudah karena tidak perlu menggunakan rumus lingkaran, skala yang
tercantum pada lat ini merupakan keliling dari pohon yang diukur. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Purnama (2016) yang menyatakan bahwa, alat yang digunakan
untuk mengukur tinggi adalah clinometer.
17

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Theodolit yang digunakan dalam praktikun geodesi dan kartografi adalah
theodolit semi digital.
2. Terdapat dua jenis theodolit yaitu theodolit manual dan theodolit semi digital.
3. Theodolit merupakan alat ukur atau alat yang membantu dalam pengukuran-
pengukuran pada sudut mendatar dan sudut tegak.
4. Perhitungan ukuran pada theodolit semi digital lebih cepat dibandingkan
theodolit manual.
5. Cara penggunaan dalam pengukuran, theodolit semi digital lebih mudah,
karena sudut horizontal dan vertikalnya terbaca dengan otomatis.
6. Dalam pengukuran diameter digunakan phi band yang penggunaannya praktis
tanpa menggunakan rumus lingkaran.
7. Bitterlich stick, clinometer, dan phi band diciptakan untuk pengukuran luas,
tinggi dan diameter.
8. Waterpass tidak dapat mengukur dengan sudut mendatar dan sudut tegak
sedangkan sedangkan theodolit dapat mengukur sudut mendatar dan sudut
tegak diantara dua buah titik di lapangan.

Saran
Sebaiknya pada praktikum Geodesi dan Kartografi, praktikan
mendapatkan kesempatan yang sama dalam menggunakan atau melakukan
percobaan pada alat dan saat praktikan melakukan pengukuran sebaiknya
praktikan dapat lebih teliti agar hasil yang didapatkan akurat.
18

DAFTAR PUSTAKA

Akhsin, M.I., Awaluddin, M., Suprayogi, A. 2016. Pembuatan Aplikasi


Pembelajaran Hitungan Geodesi Berbasis Web. Jurnal Geodesi Undip.
5(4): 133-134.

Andreas, H., Sarsito, D.A., Meilano, I. 2013. Tinjaun Sistem Referensi Geodesi di
beberapa Negara. Indonesia Journal of Geospatial. 1(2): 30-31.

Bagus, D., Awaluddin, M., Sasmito, B. 2015. Analisis Pengukuran Penampang


Memanjang dan Penampang Melintang. Jurnal Geodesi Undip. 4(2): 49.

Hafiz, E.G., Awaluddin, M., Yuwono, B.D. 2014. Analisi Pengaruh Panjang
Baseline terhadap Ketelitian Pengukuran. Jurnal Geodesi Undip. 3(1): 316.

Hardjana, A.K. 2013. Model Hubungan Tinggi dan Diameter Tajuk dengan
Diameter Setinggi Dada. Jurnal Penelitian Dipterokarpa. 7(1): 8.

Kertanegara, U. Laila, A., Sudarsono, B. 2013. Peninjauan Secara Kartografis


dalam Pembuatan Peta Kampus. Jurnal Geodesi Undip. 2(4): 12.

Kraak, M. dan Ormeling, F. 2013. Kartografi: Visualisasi Peta Geospasial.


Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ningsih, A.E., Awaluddin, M., Yuwano, B.D. 2014. Kajian Pengukuran dan
Pemetaan Bidang Tanah. Jurnal Geodesi Undip. 3(3): 71.

Parseno dan Yulaikhah. 2010. Pengaruh Sudut Vertikal terhadap Hasil Ukuran
Jarak. Jurnal Forum Teknik. 33(3): 149.

Purnama. H., Jumani, Biantary, M.P. 2016. Inventarisasi Distribusi Tegakan


Puspa. Jurnal Agrifor. 15(1): 57.

Rahadi, M.E., Awaluddin, M., Sabri. 2013. Analisis Ketelitian Pengukuran


Baseline Panjang GNSS dengan Menggunakan Perangkat Lunak. Jurnal
Geodesi Undip. 2(4): 194.

Risdianto, Herry. 2014. Penentuan Koordinat Geodetik Titik BM Pasut Jawa dari
Peta Pengamatann GPS. Jurnal Tekno Global. 3(1):22.

Sendow, T.K. dan Longdong, J. 2012. Studi Pemetaan Peta Kota. Jurnal Ilmiah
Media Engineering. 2(1): 37.

Suhendra, Andryan. 2011. Studi Perbandingan Hasil Pengukuran Alat Teodolit


Digital dan Manual. Jurnal Comtech. 2(2): 1015.