Anda di halaman 1dari 97

i

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Sungai Batanghari merupakan sungai utama yang membentang di Provinsi

Jambi dengan panjang sungai 775 Km dengan bentuk morfologi yang berliku-

liku dan alur sungai relatif tidak stabil. Sungai Batanghari menjadi sumber

kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya, namun demikian juga dapat menjadi

sumber ancaman bagi kehidupan manusia apabila tidak dikelola dengan baik.

Perubahan bentuk Sungai Batanghari di Kota Jambi sangat dipengaruhi oleh

beberapa faktor antara lain:

1. Jenis tanah pada tebing-tebing sungai yang tidak mendukung kestabilan

tebing

2. Morfologi sungai yang dinamis menimbulkan gerakan yang lateral yang

terjadi dan sering menimbulkan erosi tebing dan longsor

3. Meningkatnya perkembangan lalu lintas transportasi sungai, sehingga

menimbulkan gelombang sungai yang mengakibatkan tebing sungai terkikis

dan rusak.

4. Terjadinya arus banjir pada beberapa daerah yang merupakan

berkembangnya erosi sehingga menambah hancurnya tebing sungai.

Sungai Batanghari memiliki anak-anak sungai yang juga berpotensi

menimbulkan bencana, karena pemukiman masyarakat dan jalur akses lalulintas

transportasi, berdekatan dengan anak sungai tersebut.

Adapun anak-anak sungai tersebut salah satunya adalah sungai Tembuku,

yang berlokasi di daerah Sijenjang Kecamatan Jambi Timur Kota Jambi.

1
Sungai Tembuku merupakan daerah aliran sungai (DAS) dengan panjang

sungai 5,35 km, dan luas daerah aliran 684,50 ha. Tebing sungai Tembuku tersebut

sangat dekat dengan jalan akses transportasi menuju Sijenjang. Kondisi seperti itu

sangat memungkinkan terjadinya longsor pada tebing sungai sehingga dapat

mengancam keselamatan para pengguna jalan dan masyarakat yang bermukim

dikawasan tersebut. Melihat kondisi akses transportasi di daerah lokasi tinjauan,

maka konstruksi turap yang sesuai untuk digunakan pada lokasi tersebut ialah turap

baja, dengan pertimbangan yaitu pelaksanaan pembangunan turap baja mudah

dilaksanakan dan waktu pelaksanaan yang relatif singkat, sehingga mobilisasi

kendaraan angkutan barang dan akses lalu lintas masyarakat tidak terganggu.

Sehubungan dengan itu semakin banyak dilakukan usaha perbaikan tebing

dengan cara membuat struktur penahan tanah. Dalam konstruksi penahan tanah,

dikenal adanya konstruksi penahan tanah lentur yang disebut sebagai dinding turap

(sheet pile wall), yang secara luas digunakan pada struktur-struktur tepi laut atau

pelabuhan, melindungi pengikisan pantai, membantu menstabilkan lereng-lereng

tanah, penahan dinding parit dan galian, serta untuk dam pengelak. Karena begitu

besar manfaat dari struktur tersebut maka penulis ingin menghitung secara analitis

perencanaan turap baja dengan menggunakan angker, berdasarkan teori dan

rumusan yang ada dan lazim dipakai.

I.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada penulisan tugas akhir ini adalah bagaimana cara

melakukan perhitungan perencanaan turap baja sebagai perkuatan tebing agar

struktur dapat berkerja dengan baik dan mendapatkan ukuran dimensi profil yang

tepat.

2
3

I.3 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dari penulisan tugas akhir ini adalah :

a. Merencanakan perkuatan tebing sungai dengan menggunakan turap sheet

pile baja berangkur.

b. Mengkaji ulang perhitungan perencanaan Turap sebagai struktur penahan

tanah di sungai tembuku.

Tujuan dari penulisan tugas akhir ini adalah :

a. untuk mendapatkan teknis perhitungan perencanaan pembangunan struktur

penahan tanah dengan menggunakan sheet pile baja.

b. Mendapatkan ukuran profil sheet pile baja yang tepat untuk digunakan pada

turap yang direncanakan.

I.4 Batasan Masalah


Batasan masalah pada penulisan tugas akhir ini meliputi hal-hal sebagai

berikut :

1. Perhitungan analisis gaya yang bekerja pada turap.

2. Perhitungan dimensi profil turap dan diameter baja angkur.

3. Data penyelidikan tanah dan sondir diambil dari konsultan supervisi.

4. Pengukuran penampang sungai tembuku.

5. Tipe profil turap baja menggunakan tipe U piles.

6. Elevasi sling pengikat sheet pile sesuai dengan kondisi di Sungai Tembuku.

7. Tidak meninjau metode pemancangan turap baja dan angkur.

I.5 Metodologi Penulisan


Penulisan tugas akhir ini memakai metode analisa perhitungan

menggunakan buku dan kajian literatur yang berhubungan dengan masalah yang
4

ditinjau dan pengambilan data dari konsultan supervisi berupa data tanah, data

sondir dan spesifikasi sheet pile baja.

I.6 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan laporan Tugas Akhir Perencanaan Turap Baja

Sebagai Perkuatan Tebing di Sungai Tembuku Kota Jambi dibagi dalam 5 (lima)

bab yang masing-masing bab terbagi dalam beberapa sub-sub, yaitu :

BAB I. PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan tentang latar belakang, maksud dan tujuan,

permasalahan, pembatasan masalah, metode pengumpulan data dan

sistematika penulisan.

BAB II. LANDASAN TEORI

Bab ini menguaraikan tentang pembahasan mengenai definisi turap

dan kegunaanya secara umum, struktur tanah, tekanan tanah aktif,

tekanan tanah pasif, macam-macam jenis turap, teori rankine tentang

tanah terhadap dinding penahan, teori coulomb tentang tanah

terhadap dinding penahan, teori tentang dinding penahan.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menguraikan tentang rangkaian kegiatan penelitian meliputi,

data teknis turap baja, metode pengambilan data, cara analitis dan

lokasi proyek.

BAB IV. PERHITUNGAN DAN ANALISIS

Bab ini menguraikan tentang data perencanaan turap dan

perhitungan perencanaan turap baja sebagai perkuatan tebing.


5

BAB V. PENUTUP

Bab ini menguraikan tentang kesimpulan hasil dan saran yang dapat

diberikan berdasarkan hasil perhitungan, serta data-data dan

lampiran.
BAB II LANDASAN TEORI
II.1 Uraian Umum
Dinding turap adalah dinding vertikal relatif tipis yang berfungsi kecuali

untuk menahan tanah, juga berfungsi untuk menahan masuknya air kedalam lubang

galian. Pemasangan yang mudah dan biaya pelaksanaan yang yang relatif murah,

turap banyak digunakan pada pekerjaan-pekerjaan, seperti:

- Penahan tebing galian sementara.

- Bangunan-bangunan di pelabuhan.

- Dinding penahan tanah.

- Bendungan elak, dan lain-lain.

Bila tanah yang ditahan dangkal, maka cukup digunakan turap kantilever.

Namun, bila kedalaman tanah yang ditahan sangat dalam, maka harus digunakan

turap yang diangker. Dinding turap tidak cocok untuk menahan tanah yang sangat

tinggi, karena akan memerlukan luas tampang bahan turap yang besar. Selain itu,

turap juga tidak cocok digunakan pada tanah yang mengandung banyak batuan-

batuan, karena menyulitkan pemancangan.

II.2 Definisi Tanah


Menurut Hardiyatmo, H .C 2002 adalah, tanah di alam terdiri dari campuran

butiran-butiran mineral dengan atau tanpa kandungan bahan organik. Tanah berasal

dari pelapukan batuan yang prosesnya dapat secara fisik maupun kimia. Diantara

faktorfaktor yang mempengaruhi struktur tanah adalah bentuk, ukuran, komposisi

mineral dan butiran tanah serta sifat dan komposisi dari air tanah. Berikut ini

diberikan penjelasan secara umum dari sifat-sifat teknis jenis tanah, antara lain:

6
7

II.2.1 Tanah Granuler


Tanah Granuler, seperti: Pasir, kerikil, batuan, dan campurannya,

mempunyai sifat-sifat teknis yang sangat baik. Sifat-sifat tanah tersebut, antara lain:

1. Merupakan material yang baik untuk mendukung bangunan dan badan jalan,

karena mempunyai kapasitas dukung yang tinggi dan penurunan kecil,

asalkan tanahnya relatif padat. Penurunan terjadi segera sesudah penerapan

beban. Jika dipegaruhi getaran pada frekuensi tinggi, penurunan yang besar

dapat terjadi pada tanah yang tidak padat.

2. Merupakan tanah yang baik untuk tanah urug pada dinding penahan tanah,

struktur bawah tanah dan lain-lain, karena menghasilkan tekanan lateral yang

kecil. Mudah dipadatkan dan merupakan material untuk drainase yang baik

karena lolos air.

3. Tanah yang baik untuk timbunan, karena mempunyai kuat geser yang tinggi.

4. Bila tidak dicampur dengan tanah kohesif, tidak dapat digunakan sebagai

bahan tanggul, bendungan, kolam, dan lain-lain karena permeabilitasnya

besar. Galian pada tanah granuler yang terendam air memerlukan

penanganan air yang baik.

II.2.2 Tanah Kohesif


Tanah kohesif, seperti : Lempung, lempung belanau, lempung berpasir atau

berkerikil yang sebagai besar butiran tanahnya terdiri dari butiran halus. Kuat geser

tanah jenis ini ditentukan terutama dari kohesinya. Tanah-tanah kohesif, umumnya

mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1. Kuat geser rendah

2. Bila dasarnya bersifat plastis dan mudah mampat (mudah turun)


8

3. Menyusut bila kering dan mengembang bila basah

4. Berkurang kuat gesernya, bila kadar air bertambah

5. Berkurang kuat gesernya bila struktur tanahnya terganggu

6. Berubah volumenya dengan bertambahnya waktu akibat rangkak (creep)

pada beban yang konstan

7. Merupakan material kedap air

8. Material yang jelek untuk tanah urug, karena menghasilkan tekanan lateral

yang tinggi.

II.3 Tekanan Tanah Lateral


Tekanan tanah lateral adalah gaya yang ditimbulkan oleh akibat dorongan

tanah di belakang struktur penahan tanah. Pada perhitungan dinding penahan tanah

yang umum, analisis didasarkan pada anggapan bahwa dinding bergerak secara

lateral dengan cara menggeser atau berotasi pada kaki dinding, sedemikian hingga

kuat geser tanah dibelakang dinding sepenuhnya termobilisasi. Dalam kondisi ini,

tekanan tanah lateral memenuhi teori-teori Rankine atau Coulomb.

Tekanan dari tanah kesuatu sturktur disebut tekanan tanah, struktur atau

dinding penahan umumnya ada dalam kondisi salah satu dari beberapa jenis tekanan

sebagai berikut :

II.3.1 Tekanan Tanah Aktif (Pa)


Tekanan tanah aktif terjadi apabila dinding bergerak menjauhi tanah di

belakangnya. Seandainya gaya yang dikerjakan lebih kecil dari pada tekanan tanah,

maka dinding atau tembok itu akan bergerak dan tanah akan ikut bergerak atau

melendut. Ini dikatakan tanah ada dalam keadaan aktif pada keseimbangan plastis.
9

Akan tetapi bila sutau struktur dinding penahan di bolehkan untuk bergerak

maju atau menjauhi tanah seperti terlihat pada gambar ( 2.1 ) berikut, maka tekanan

pada tembok akan menurun sebesar Pa = Ka . . H dimana Ka adalah koefisien

tegangan aktif. Biasanya tercapai keadaan keruntuhan dalam tanah. Tekanan yang

bekerja dalam hal ini disebut tekanan tanah aktif.

Dimana : Ka = Tan2 (45 /2) Pers. (2.1)

Ka = Koefisien tekanan aktif

= Berat isi tanah

H = Kedalaman tanah yang ditinjau

= Sudut geser

c = Kohesi tanah

Pa = Tekanan tanah aktif

Dikatakan terjadi tekanan tanah aktif pada dinding apabila dinding tersebut

bergerak menjauhi massa tanah atau apabila dinding ditekan oleh tanah. Seperti

terlihat pada gambar berikut ini:

Tanah mendorong dinding

Dinding penahan

Bidang longsor

Gambar II.1 Tekanan tanah aktif


Sumber : Fondasi I, 2011
10

Bila dinding penahan menerima suatu gaya akibat tekanan tanah dalam

kondisi diam atau seimbang, agar dinding tetap stabil maka diperlukan suatu gaya

yang sama besar dengan tekanan tanah tersebut secara berlawanan arah.

Seandainya gaya yang bekerja lebih kecil dari tekanan tanah maka dinding

penahan itu akan ikut bergerak. Ini dikatakan tanah berada dalam keadaan aktif

pada keseimbangan.

II.3.2 Tekanan Tanah Pasif (Pp)


Dikatakan terjadi tekanan tanah pasif pada dinding penahan apabila tanah

tertekan sebagai akibat dinding penahan mendorong tanah, bila suatu struktur

dinding penahan ditekan supaya bergerak kebelakang atau kearah tanah yang

ditahannya maka tekanan tanah akan naik menjadi sebesar Pp = Kp . . H dimana

Kp adalah koefisien tekanan tanah pasif.

Tekanan tanah lateral maksimum yang mengakibatkan keruntuhan geser

tanah akibat gerakan dinding menekan tanah urug, disebut tekanan tanah pasif. Hal

ini dapat dilihat pada gambar ( 2.2 ) berikut ini :

Dinding mendorong tanah

Dinding penahan

Bidang longsor

Gambar II.2 Tekanan tanah pasif


Sumber : Fondasi I, 2011
11

II.3.3 Tekanan Tanah Diam ( Po )


Tekanan tanah dikatakan diam apabila tidak terjadi gerakan pada dinding

atau tidak diperkenankan bergerak. Ditinjau suatu dinding penahan tanah dengan

permukaan tanah mendatar, dinding dan tanah urug dibelakangnya pada kondisi

diam, sehingga tanah pada kedudukan ini masih dalam kondisi elastis. Pada posisi

ini tekanan tanah pada dinding akan berupa tekanan tanah saat diam dan tekanan

tanah lateral (horisontal) pada dinding, pada kedalaman tertentu (z), dinyatakan

oleh persamaan :

h = Ko v = Ko z .......Pers.(2.2)

Dengan,

Ko = koefisien tekanan tanah saat diam

= berat volume tanah (kN/m3)

Perhatikan gambar berikut ini :

Tekanan tanah pasif

Dinding penahan

Gambar II.3 Tekanan tanah diam


Sumber : Fondasi I, 2011
12

Dalam setiap lapisan tanah dalam keadaan aslinya, terdapat tegangan

horisontal. Biasanya dengan tegangan horisontal ini lebih kecil dari pada tegangan

vertikal.

Yaitu, h = Ko . v ....Pers.(2.3)

= Ko . h

Dimana h = tegangan tanah horisontal

v = tegangan vertikal

h = kedalaman

= berat isi tanah

Ko = tekanan tanah diam

Besarnya koefisien tekanan tanah diam tergantung pada jenis tanahnya, nilai

Ko yang dipakai untuk beberapa macam tanah tertentu dapat dilihat pada tabel

(2.1), sebagai berikut :

Tabel II.1 Tekanan Tanah Diam

NO JENIS TANAH Ko

1 Pasir padat 0,35

2 Pasir lepas 0,45

3 Lempung normally consolidated 0,4 0,8

4 Lempung over consolidated 0,8 2,0


13

Sumber : L. D. Wesley 1977

Tegangan (h = Ko . h) ini bekerja dalam keadaan dimana deformasi

(gerakan) horisontal tidak terjadi, karena pada setiap tempat deformasi ini

dihindarkan oleh tanah disekelilingnya.

II.3.4 Tekanan Tanah Akibat Beban


Beban yang bekerja baik pada sisi tanah ataupun pada sisi galian akan

menyebabkan tambahan tekanan lateral pada dinding. Beban yang bekerja dapat

berupa : beban merata, beban jalur, beban garis dan beban terpusat. Bila beban yang

bekerja adalah beban yang merata maka tekanan tanah aktif atau pasif yang

ditimbulkan dapat dihitung sebagai berikut :

q=. h

Pa = q. Ka

Pp = q. Kp

Jadi akibat adanya beban terbagi merata ini, tambahan tekanan tanah aktif

pada dinding penahan tanah sebagai H dapat dinyatakan oleh :

Pa = q. Ka. H ...............Pers.(2.4)

Dimana : Pa = Tambahan tekanan tanah akibat tekan merata

Pa = Tekanan tanah aktif

Pp = Tekanan tanah pasif

q = Besarnya beban merata yang bekerja


14

Ka = Koefisien tekanan tanah aktif

Kp = Koefisien tekanan tanah pasif

= Berat isi tanah ( unit weight )

h = Kedalaman elemen tanah yang ditinjau

II.3.4.1 Beban titik


Beban titik pada kenyataan dapat berupa tiang-tiang lampu atau rambu.

Tekanan lateral akibat beban titik di atas tanah timbunan dapat dihitung dengan

persamaan Boussinesq (Spangler, 1938). (Pondasi I. H. C. Hardiyatmo, 2011) .

Jika beban titik P terletak sejauh seperti dalam Gambar (2.4).

Gambar II.4 Tekanan tanah lateral akibat beban titik


Sumber : H. C. Hardiyatmo (2011)
15

1,77 2 2
= untuk m > 0,4
2 (2 + 2 )3

0,28 2
= untuk m < 0,4
2 (0,16+ 2 )3

II.3.4.2 Beban Garis


Di dalam praktek, beban garis dapat berupa dinding beton, pagar, saluran

yang terletak di dalam tanah dan lain-lain. Untuk beban garis sebesar q persatuan

lebar, Terzaghi (1943) memberikan persamaan untuk tekanan tanah lateral.

4 2
= ( )untuk m > 0,4
(2 + 2 )2

4 2
= ( )untuk m > 0,4
(2 + 2 )2

Gambar II.5 Tekanan tanah lateral akibat beban garis


Sumber : H. C. Hardiyatmo (2011)
II.3.4.3 Beban jalur
Suatu beban terbagi merata memanjang/strip (q) dapat berupa jalan raya,

jalan kereta api, atau timbunan tanah yang sejajar dengan dinding penahan
16

tanahnya. Terzaghi (1943) memberikan persamaan untuk beban terbagi rata

memanjang sebagai berikut:

2
= ( sin cos 2). ......Pers.(2.5)

Dimana nilai dan adalah sudut yang ditunjukan pada gambar berikut dalam

satuan radian.

b a

+ 2
h = tan-1 ( )

+
= tan-1 ( ) tan-1 ()

Gambar II.6 Tekanan tanah lateral akibat beban terbagi rata


Sumber : H. C. Hardiyatmo (2011)

II.3.5 Tekanan Pengaruh Muka Air Tanah


Stabilitas suatu dinding penahan tanah tidak hanya bergantung pada tekanan

tanah yang bekerja saja akan tetapi juga pada tekanan air tanah yang bekerja pada

dinding tersebut.

Dengan adanya air tanah, maka berat isi tanah harus menggunakan berat isi

tanah terendam ( submerged = buoyancy ) yang biasa diberi notasi :

= b = sub ............Pers.(2.6)
17

= - w

Dimana :

= t = berat isi tanah ( ton/m3 )

= b = sub = berat isi tanah terendam ( ton/m3 )

w = berat isi air : w = 1 ( ton/m3 ) untuk air tawar

w = 1,03 ( ton/m3 ) untuk air laut

Apabila terdapat muka air tanah lebih tinggi dari pada dasar dinding maka

pengaruh air ini harus diperhitungkan. Hal ini berarti bahwa perhitungan harus

dilakukan dengan memakai tegangan-tegangan efektif. Seperti diperlihatkan pada

gambar (2.7) untuk muka air tanah yang rata.

H1 Tegangan Tanah Aktif

Muka Air Tanah B C

H Tegangan Air

H2

D E F

Gambar II.7 Diagram tegangan aktif memperhitungkan pengaruh air tanah


( L. D Wesley 1977 )
18

Tegangan tanah aktif dapat dihitung dengan rumus Rankine tetapi tegangan

vertikal yang dipakai adalah tegangan vertikal efektif. Dengan demikian di dapat

tegangan tanah aktif menurut garis CE dimana,

1 2
BC =

1+( ) 2 2
DE =

Tegangan total yang bekerja pada dinding adalah jumlah tegangan aktif

ditambah dengan air, seperti diperlihatkan pada gambar (2.7) tegangan air ialah

menurut CF.

yaitu, EF = w H2

II.4 Teori Rankine dan Coulomb Tentang Tekanan Dinding Penahan


Konsep tekanan tanah aktif dan pasif sangat penting untuk masalah-

masalah stabilitas tanah, pemasangan batang-batang penguat pada galian.Desain

dinding penahan tanah, dan pembentukan penahanan tarik dengan memakai

berbagai jenis peralatan pengukur.

Permasalahan disini hanyalah semata-mata untuk menentukan faktor

keamanan terhadap keruntuhan yang di sebabkan oleh gaya lateral.

Pemecahan di peroleh dengan membandingkan gaya-gaya (kumpulan gaya-gaya

yang bekerja).

Gaya I adalah gaya yang cenderung mengahancurkan

Gaya II adalah gaya yang cenderung mencegah keruntuhan

Gaya penghancur disini misalnya gaya-gaya lateral yang bekerja horizontal atau

mendatar.
19

Gaya penghambat misalnya berat dari bangunan/struktur itu sendiri. Gaya

berat dari bangunan ini memiliki arah kerja vertikal sehingga dapat mengahambat

gaya lateral atau gaya yang bekerja horizontal.

II.4.1 Tekanan Tanah Aktif (Menurut Rankine)


Teori Rankine ( 1857 ) mempertimbangkan keadaan tegangan pada massa

tanah ketika kondisi keseimbangan plastisnya telah tercapai, yaitu ketika

keruntuhan gesernya pada suatu titik terjadi pada seluruh tanah.

Disebut tekanan tanah aktif jika tekanan yang bekerja mengakibatkan

dinding menjauhi tanah yang ditahan, seperti ditunjukkan oleh gambar di bawah

ini:

Gambar II.8 Tekanan Tanah Aktif


Sumber : Braja M. Das,1994
20

Keruntuhan tanah mengikuti prinsip lingkaran Mohr (Mohr-Coulomb). Jika

pergerakan dinding membuat x semakin besar, maka pada akhirnya, lingkaran

Mohr akan menyentuh garis keruntuhan (Menurut Rankine, sudut keruntuhan


adalah sebesar (45 + ), sehingga keruntuhan akan terjadi. Tahanan geser tanah
2

mengikuti persamaan :

= + ....Pers.(2.7)

Dimana:

: Tahanan geser tanah

: Tekanan efektif tanah

c : Kohesi tanah

: Sudut geser tanah

Gambar II.9 Lingkaran Mohr Tekanan Aktif


Sumber : Braja M. Das,1994
21

Besar gaya-gaya yang bekerja mengikuti persamaan sebagai berikut:

= 1

= 1


1 = 3 2 (45 + ) + 2 (45 + )
2 2


3 = 1 2 (45 + ) 2 (45 + )
2 2

Dimana:

: Tahanan geser tanah

:Tekanan efektif tanah

c : Kohesi tanah

: Sudut geser tanah



ka : Koefisien tekanan tanah aktif = 2 (45 2)


Karena = 2 (45 + ), maka besar tekanan saat terjadi keruntuhan
2

menggunakan persamaan yang dikenal dengan nama Bells Equation, yaitu:


ha = V 2 (45 + ) 2 (45 + )
2 2

ha = V . 2 ........Pers.(2.8)

Dimana:

: Tekanan lateral aktif

: Tekanan efektif tanah

c : Kohesi tanah

: Sudut geser tanah



Ka : Koefisien tekanan tanah aktif = 2 (45 2)
22

Resultan tekanan aktif akibat beban luar dan pengaruh air dapat dideskripsikan

oleh gambar berikut ini:

Gambar II.10 Resultan Tekanan tanah Aktif


Sumber : Braja M. Das,1994

Total tekanan tanah yang bekerja dirumuskan mengikuti:

= 0,5 . 2 ....Pers.(2.9)

dimana:

: Total tekanan tanah aktif

: Tekanan efektif tanah

c : Kohesi tanah

H : Tinggi dinding penahan tanah



Ka : Koefisien tekanan tanah aktif = 2 (45 2)

Jika permukaan tanah yang ditahan, pada permukaan atas elevasinya meningkat,

maka rumus mencari Ka adalah sebagai berikut:


23

2 2
=
+ 2 2

Dimana:

: Sudut geser tanah

: Sudut elevasi tanah di permukaan atas dinding



ka : Koefisien tekanan tanah aktif = 2 (45 2)

Gambar II.11 Dinding penahan tanah dengan permukaan atas yang meningkat
elevasinya.

Sumber : Braja M. Das,1994

Total tekanan tanah yang bekerja dirumuskan mengikuti:

= 0,5 2 . ....Pers.(2.10)

Dimana:

: Total tekanan tanah aktif

H : Tinggi dinding penahan tanah



Ka : Koefisien tekanan tanah aktif = 2 (45 2
)
24

II.4.2 Tekanan Tanah Pasif (Menurut Rankine)


Disebut tekanan tanah pasif jika tekanan yang bekerja mengakibatkan dinding

mendekati tanah yang ditahan.

Gambar II.12 Tekanan Tanah Pasif


Sumber : Braja M. Das,1994

Keruntuhan tanah mengikuti prinsip lingkaran Mohr (Mohr-Coulomb). Jika

pergerakan dinding membuat x semakin besar, maka pada akhirnya, lingkaran

Mohr akan menyentuh garis keruntuhan. Tahanan geser tanah

mengikuti persamaan :

= + ....Pers.(2.11)

Dimana:

: Tahanan geser tanah

: Tekanan efektif tanah


25

c : Kohesi tanah

: Sudut geser tanah

Gambar II.13 Lingkaran Mohr Tekanan Pasif


Sumber : Braja M. Das,1994

Besar gaya-gaya yang bekerja mengikuti persamaan sebagai berikut:

= 3

h = 1

1 = 3 2 (45 + ) + 2 (45 + ) ....Pers.(2.12)
2 2

Dimana:

: Tahanan geser tanah

:Tekanan efektif tanah

c : Kohesi tanah

: Sudut geser tanah



Kp : Koefisien tekanan tanah pasif = 2 (45 + 2)
26


Karena = 2 (45 + 2), maka besar tekanan lateral saat terjadi keruntuhan

mengikuti persamaan:


ha = V 2 (45 + ) 2 (45 + )
2 2

ha = V . 2 ........Pers.(2.13)

Dimana:

: Tekanan lateral pasif

: Tekanan efektif tanah

c : Kohesi tanah

: Sudut geser tanah



kp : koefisien tekanan tanah aktif = 2 (45 2)

Resultan tekanan aktif akibat beban luar dan pengaruh air dapat dideskripsikan

oleh gambar berikut ini:

Gambar II.14Resultan Tekanan tanah Pasif


Sumber : Braja M. Das,1994
27

Total tekanan tanah yang bekerja dirumuskan mengikuti:

= 0,5. 2

Jika permukaan tanah yang ditahan, pada permukaan atas elevasinya meningkat,

maka rumus mencari Ka adalah sebagai berikut:

+2 2
= .......Pers.(2.14)
2 2

Dimana:

: Sudut geser tanah

: Sudut elevasi tanah di permukaan atas dinding



kp : Koefisien tekanan tanah pasif = 2 (45 2)

Gambar II.15 Dinding penahan tanah dengan permukaan atas yang meningkat
elevasinya.
Sumber : Braja M. Das,1994

Total tekanan tanah yang bekerja dirumuskan mengikuti:

= 0,5 2 . ...................Pers.(2.15)
28

Dimana:

: Total tekanan tanah pasif

H : Tinggi dinding penahan tanah



kp : Koefisien tekanan tanah pasif = 2 (45 )
2

Besar rasio umum koefisien tekanan lateral tanah dapat diperkirakan melalui tabel

di bawah ini:

Tabel II.2 Rasio Koefisien Tekanan Tanah

Sumber: Gouw, 2009

II.4.3 Tekanan Tanah Aktif Menurut Coulomb

Menurut Coulomb, Friksi antara dinding dengan tanah dapat dimasukkan

dalam perhitungan, Sehingga perhitungan akan mengikutsertakan faktor interaksi

antara dinding dengan tanah yang ditahan. Adapun konsep gaya-gaya yang bekerja

dapat dideskripsikan sebagai berikut :


29

Gambar II.16 Gaya yang bekerja menurut Teori Coulomb (Tekanan Aktif)
Sumber : Braja M. Das,1994

Dimana :
H : Tinggi dinding penahan tanah

Pa : Total tekanan tanah aktif yang bekerja

: Sudut dilatasi Pa

: Sudut kemiringan dinding penahan tanah

W : Berat tanah pada baji keruntuhan

: Sudut kemiringan permukaan tanah atas terhadap horizontal

: Sudut geser tanah

: Berat jenis tanah

c : Kohesi tanah

R : Gaya perlawanan terhadap kelongsoran

Ka : Koefisien tekanan lateral aktif


30

v : Tegangan efektif tanah

Nilai Koefisien tekanan lateral aktif/Ka dihitung menggunakan Persamaan:

2 (+)
= 2 .........Pers.(2.16)
( +).Sin()
2 ..()[1+ ]
().(+)

Sedangkan, Tegangan lateral efektif dihitung menggunakan persamaan :

= . 2

II.4.4 Tekanan Tanah Pasif Menurut Coulomb


Pada tekanan tanah pasif, Konsep-konsep gaya yang bekerja dideskripsikan oleh
gambar di bawah ini:

Gambar II.17 Gaya yang bekerja menurut Teori Coulomb(Tekanan Pasif)


Sumber : Braja M. Das,1994

Dimana :

H : Tinggi dinding penahan tanah

PP : Total tekanan tanah Pasif yang bekerja

: Sudut dilatasi PP
31

: Sudut kemiringan dinding penahan tanah

W : Berat tanah pada baji keruntuhan

: Sudut kemiringan permukaan tanah atas terhadap horizontal

: Sudut geser tanah

: Berat jenis tanah

c : Kohesi tanah

R : Gaya perlawanan terhadap kelongsoran

KP : Koefisien tekanan lateral Pasif

v : tegangan efektif tanah

Nilai Koefisien tekanan lateral Pasif/Kp di hitung menggunakan Persamaan:

2 (+)
= 2 ....Pers.(2.17)
( +).Sin()
2 ..()[1+ ]
().(+)

Sedangkan, Tegangan lateral efektif dihitung menggunakan persamaan :

= . 2 ............Pers.(2.18)

II.5 Tipe Dari Dinding Turap


Tipe turap dapat dibedakan menurut bahan yang digunakan. Bahan turap
tersebut bermacam-macam, contohnya: Kayu, beton bertulang dan baja.

II.5.1 Turap Kayu


Turap kayu digunakan untuk dinding penahan tanah yang tidak begitu

tinggi, karena tidak kuat menahan beban-beban lateral yang besar. Turap ini tidak

cocok digunakan pada tanah berkerikil, karena turap cenderung pecah bila

dipancang. Bila turap kayu digunakan untuk bangunan permanen yang berada

diatas muka air, maka perlu diberikan lapisan pelindung agar tidak mudah lapuk.
32

Tiang turap kayu digunakan hanya untuk konstruksi ringan yang bersifat sementara,

misalnya untuk penahan tebing galian. Bentuk-bentuk susunan turap kayu dapat

dilihat pada Gambar II.15.

Gambar II.18 Turap kayu


(Sumber: H.C. Hardiyatmo, Fondasi II)
Tiang turap yang biasa digunakan adalah papan kayu atau beberapa papan

yang digabung (wakefield piles).

II.5.2 Turap Beton


Turap beton merupakan balok-balok beton yang telah dicetak sebelum

dipasang dengan bentuk tertentu. Balok-balok turap dibuat saling mengkait satu

sama lain. Masing-masing balok kecuali dirancang kuat menahan beban-beban

yang bekerja pada turap, juga terhadap beban-beban yang akan bekerja pada waktu

pengangkatannya. Ujung bawah turap biasanya dibentuk meruncing untuk

memudahkan pemancangan. Turap beton biasa digunakan pada bangunan

permanen atau pada detail-detail konstruksi yang agak sulit.


33

Gambar II.19 Turap Beton


(Sumber: H.C. Hardiyatmo, Fondasi II)

II.5.3 Turap Baja


Turap baja sangat umum digunakan, baik digunakan untuk bangunan

permanen maupun sementara, karena lebih menguntungkan dan mudah

penanganannya. Keuntungan-keuntungannya antara lain:

1. Turap baja kuat menahan gaya-gaya benturan pada saat pemancangan.

2. Bahan turap relatif tidak begitu berat.

3. Turap dapat digunakan berulang-ulang.

4. Turap baja mempunyai keawetan yang tinggi.


34

5. Penyambungan mudah, bila kedalaman turap besar.

Adapun beberapa spesifikasi dan jenis turap baja yang sering digunakan

pada konstruksi penahan tanah dapat dilihat pada gambar II. 20

Gambar II.20 Turap Baja


(Sumber: Sheetpiling.arcelormittal.com)
35

II.6 Jenis dan Metode Konstruksi Turap


Pada prinsipnya, perencanaan dinding turap dapat dapat dibagi menjadi dua

jenis, yaitu :

1. Dinding kantilever (cantilever walls)

2. Dinding berjangkar (anchored walls)

Turap dengan dinding kantilever, sebagaimana dinyatakan dalam namanya

adalah tiang yang ujungnya tertahan oleh tanah sehingga seolah-olah tergantung.

Stabilitas turap jenis ini sangat tergantung pada panjang penanaman tiang.

Sedangkan turap berjangkar, disamping ujungnya tertanam, disekitar ujung lainnya

dipasang jangkar yang akan memberikan gaya tarik melawan kecenderungan tiang

turap terdorong ke arah yang berlawanan dengan tanah.

II.6.1 Dinding Turap Kantilever


Yang dinamakan dinding turap kantilever adalah dinding penahan tanah

yang tidak menggunakan jangkar.

Dinding turap kantilever diperoleh dengan memancangkan turap tersebut

pada suatu kedalaman tertentu. Kestabilan dari dinding ini hanya merupakan hasil

mobilisasi tekanan tanah lateral pasif sebagai antisipasi dari tekanan-tekanan yang

bekerja pada dinding tersebut antara lain tekanan aktif dan tekanan residu air.

Untuk memperhitungkan tekanan lateral tanah, kondisi yang cocok untuk

dinding turap adalah kondisi rankine.


36

P
(Coulomb)
Sheet pile
(Dinding turap)
Pa 1
P (Rankine)
=0
Pp 1 O = Titik rotasi

Pa 2 Pp 2

Gambar II.21 Gaya-gaya yang bekerja pada dinding turap


Sumber: Joetata Hadihardaja, Fondasi I

Akibat beban tanah isian, dinding turap akan berotasi pada titik 0, dengan gaya-

gaya yang bekerja adalah :

Pa1 = total tekanan aktif diatas titik O

Pp1 = total tekanan pasif diatas titik O

Pa2 = total tekanan aktif dibawah titik O

Pp2 = total tekanan pasif dibawah titik O

II.6.1.1 Dinding Turap Kantilever Pada Pasir


Untuk mengembangkan hubungan untuk kedalaman penanaman tiang turap

yang dibutuhkan didalam tanah granuler seperti gambar (2.22) Tanah yang akan

ditahan oleh dinding turap, berada diatas garis galian, adalah juga tanah granuler.

Permukaan air tanah berada pada kedalaman L1 dari puncak tiang. Ambilah sudut

gesek pasir sebagai . Intensitas tekanan aktif pada kedalaman z = L1 dapat

dinyatakan sebagai, P1 = L1 Ka
37

Gambar II.22Turap kantilever tertanam pada pasir. (a) variasi diagram


tekanan bersih (b) variasi momen
Sumber: Joetata Hadihardaja, Fondasi I

dimana,

Ka = koefisien tekanan aktif Rankine = tan2 (45 - / 2)


= Berat isi tanah di atas muka air

Pada kedalaman garis galian, tekanan hidrostatik dari kedua arah dinding

adalah sama dan oleh karena itu akan saling menghilangkan.

II.6.1.2 Dinding Turap Kantilever Pada Lempung


Dalam beberapa kasus, tiang turap cantilever harus dipancang ke dalam

lapisan lempung yang mempunyai kohesi taksalur (undrained cohesion), c (konsep

= 0). Gambar II. 20 memperlihatkan sebuah dinding turap yang dipancang

kedalam lempung dengan bahan isian dibelakang turap adalah tanah granuler yang

terletek diatas garis galian. Diagram ditribusi tekanan tanah diatas permukaan garis

galian dapat digambarkan.


38

Gambar II.23 Tiang turap cantilever tertanam pada lapisan lempung


Sumber: Joetata Hadihardaja, Fondasi I

Sedangkan diagram untuk distribusi tekanan tanah bersih dibawah

permukaan garis galian dapat ditentukan sebagai berikut.

Pada kedalaman z yang lebih besar dari L1 + L2 dan diatas titik rotasi,

tekanan aktif (pa) dari kanan ke kiri dapat dinyatakan dengan,

Pa = [L1+L2+sat (z L1-L2)] Ka ......Pers.(2.19)

Dimana Ka = koefisien tekanan tanah aktif Rankine; dengan = 0, besarannya

akan menjadi nol.

Dengan cara yang sama, tekanan pasif (Pp) dari kiri ke kanan dapat diberikan

sebagai,
39

Pp = sat (z - L1-L2) Kp +2c Kp ......Pers.(2.20)

Dimana Kp = koefisien tekanan tanah pasif Rankine; dengan = 0, besarannya

akan menjadi nol.

II.6.2 Dinding Turap Berjangkar


Pada dinding turap berjangkar , dikenal adanya sistem penjangkaran yang

ikut menahan tekanan-tekanan yang bekerja pada dinding. Sehingga terdapat dua

analisis yaitu analisis dindingnya sendiri serta analisis penjangkarannya. Tetapi

dalam perancangan, analisis secara keseluruhan harus pula dilakukan.

Untuk analisis dinding turapnya sendiri, dikenal adanya dua metode, yaitu

- Dinding turap dengan perletakan bebas (free end method)

- Dinding turap dengan perletakan jepit (fixed end method)

II.6.2.1 Dinding Turap Berjangkar Dengan Perletakan Bebas


Anggap-anggapan yang diambil dalam perancangan dinding turap dengan

perletakan bebas adalah :

1. Dinding turap mempunyai kekuatan yang cukup baik dibandingkan dengan

tanah disekelilingnya.

2. Tekanan tanah yang bekerja pada dinding turap dihitung berdasarkan kondisi

rankine atau coulomb.

3. Turap dianggap berotasi dengan bebas pada ujung bawahnya,namun tidak

diizinkan bergerak secara lateral di tempat angker.

4. Perletakan pada kedalaman D mempunyai momen = 0, hal ini berarti bahwa

penetrasi dari dinding tidak cukup dalam.


40

Lenturan
-
Penjangkaran
+
D
Sheet pile cukup kaku Diagram bidang M

Gambar II.24 Dinding turap berjangkar dengan perletakan bebas


Sumber: Joetata Hadihardaja, Fondasi I

Metode ini dapat digunakan baik untuk tanah berbutir kasar maupun

berbutir halus. Sedangkan hubungannya dengan angka keamanan, dengan

berdasarkan cara konvesional, dapat diambil sebagai berikut :

Tabel II.3 D cara konvensional tanah berbutir kasar dengan angka keamanan.

Kedalaman hasil Kedalaman Angka


perhitungan pelaksanaan keamanan
D D 2 1,7

D Didapat dengan 2 sampai 3


mereduksi nilai Kp 2 sampai 3
dengan angka keamanan
2 sampai 3
D D (1,5 sampai 2) 1,5 sampai 2
Didapat dengan 1,5 sampai 2
mereduksi nilai c tanah 1,5 sampai 2
dengan angka keamanan
1,5 sampai 2

Sumber: Joetata Hadihardaja, Fondasi I

Mencari dalamnya pemancangan dinding turap berjangkar dengan

perletakan bebas pada tanah berbutir kasar, dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara :
41

Cara 1. Mencari dalamnya pemancangan dengan mencari dalamnya pemancangan

minimum

Gambar II.25 Tekanan tanah yang bekerja pada dinding turap berjangkar
dengan perletakan bebas pada tanah berbutir kasar.
Sumber: Rekayasa Pondasi I, 1997

Mencari besarnya gaya jangkar TA

H=0

TA + PP PA = 0

TA = PA - PP ..........................Pers.(2.21)

Untuk mengetahui dalamnya pemancangan D, diambil :

MA = 0

PA yA PP yP = 0

Akan diperoleh persamaan pangkat tiga dalam D,

1 D3 + 2 D2 + 3 D + 4 = 0 .......Pers.(2.22)

dengan cara coba-coba diperoleh harga D.


42

Diagram tegangan diatas dapat juga dibuat diagramnya sebagai berikut :

(dengan melakukan super posisi).

Gambar II.26 Tekanan-tekanan yang bekerja pada dinding turap berjangkar


dengan perletakan bebas pada tanah berbutir kasar.
Sumber: Rekayasa Pondasi I, 1997

Seperti cara diatas, maka diperoleh :

Gaya jangkar :

H=0

TA = PA - PP

Dalamnya pemancangan D diperoleh dari,

MA = 0

PP h4 = PA ya

1 2
PA y = 2 Do2 (Kp - KA) (h2 + yo + 3 Do) ....Pers.(2.23)
43

Persamaan ini akan menghasilkan persamaan pangkat tiga dalam Do,

dengan bentuk umum persamaan sebagai berikut :

C1 Do3 + C2 Do2 + C3 Do + C4 = 0 ......Pers.(2.24)

Dimana,

()
C1 = 3

()
C2 = (h + yo)
2

C3 = - P A y

Dengan cara coba-coba akan didapat harga Do.


Cara 2, mencari dalamnya pemancangan dengan memberikan faktor keamanan
pada Kp

Gambar II.27 Distribusi tegangan dengan faktor keamanan pada Kp


Sumber: Rekayasa Pondasi I, 1997
44

Misalnya tegangan pasif yang diperhitungkan diwakili dengan segi empat

ABFE, biasanya dalam perhitungan, tidak dipertimbangkann kinerja fisik

mobilisasi tegangan. Jadi diagram tegangan tetap segitiga ABG, dengan luas

diagram tetap dan titik tangkap gaya juga tetap, yang berbeda hanya mobilisasi

tekanan dengan besar mobilisasi tergantung angka keamanan SF (Safety Factor)

yang diambil.

Sehingga gaya pasif beserta titik tangkapnya diketahui. Dengan cara yang

sama, besarnya gaya angker (TA) diketahui dari keseimbangan gaya horizontal

H = 0, dan dalamnya pemancangan (Do) diperoleh dengan mengambil MA= 0

Yang merupakan persamaan pangkat tiga dalam Do.

Dinding turap berjangkar dengan perletakan bebas pada tanah berbutir halus.

Gambar II.28 Tekanan-tekanan yang bekerja untuk tanah berbutir halus.


Sumber: Rekayasa Pondasi I, 1997
45

Pada gambar diatas terlihat adanya dua lapis tanah, yaitu lapis diatas dridge

line adalah tanah berbutir kasar (-soils) sedangkan dibawah dridge line adalah

tanah berbutir halus (c-soils). Untuk kasus ini, tanah diatas dridge line dapat

dianggap sebagai beban.

q = h1 + h3 = e H .....................Pers.(2.25)

Tegangan tanah aktif yang bekerja pada tanah sebagai dredge line adalah :

Pa = q Ka2 2 c 2

Pa = q 2 c = q - qu

Tegangan pasif yang bekerja pada tanah dibawah dridge line, Pp = qu

Resultan tegangan aktif dan pasif,

P = 2 qu q ......................................Pers.(2.26)

harga ini konstan untuk setiap kedalaman.

Untuk mendapatkan dalamnya pemancangan, diambil momen terhadap G, yaitu :

MG = 0


PA . y D (2 qu q) (h2 + 2 ) = 0 .........Pers.(2.27)

Jika persamaan ini diselesaikan, akan diperoleh persamaan pangkat dua dalam D

dimana,

C1 = 2 h2
46

2
C2 = 2 .....................................Pers.(2.28)

Sedangkan gaya jangkar didapat dengan mengambil H = 0

TA = PA - PP ....................................Pers.(2.29)

Kondisi turap labil apabila,

2 qu q = 0

4c q = 0 ........................................Pers.(2.30)

Dimana q = e H atau bias dituliskan H, sehingga persamaan diatas menjadi,

4cH=0

4c=H

1
= Nz = stability number = angka stabilitas
4

Ini berarti dinding turap akan mulai tidak stabil bila,


Ns = = 0,25 .............................Pers.(2.31)

Jadi stabilitas disini merupakan fungsi dari tinggi turap H dan harga c.

apabila harga adhesi dari dinding diperhitungkan ca, maka stability number

menjadi,


Nz = 1 + .........................Pers.(2.32)


Pada keruntuhan pasif, harga 1 +
1,25
47

Maka Ns menjadi,


Ns = 1,25

Untuk angka keamanan FS = 1,


= 0,25

Ns = 0,25 x 1,25 0,30

Jadi Ns = 0,30 FS

II.6.2.2 Dinding Turap Berjangkar Dengan Perletakan Jepit


Anggapan-anggapan yang diambil dalam metode ini adalah penetrasi dari

dinding turap cukup dalam, sehingga tanah dibawah dasar galian mampu

memberikan tahanan pasif yang cukup, untuk mencegah ujung bawah turap

berotasi.

Pada metode ujung tetap terdapat anggapan-anggapan sebagai berikut :

1. Tekanan tanah pada turap memenuhi teori Rankine dan Coulomb.

2. Turap bebas berotasi namun tidak diizinkan bergerak pada angkernya.

3. Titik balik B (Gambar 2.29b) ditentukan dari teori elastis. Lokasi titik

tersebut merupakan fungsi dari tanah timbunan.


48

Muka tanah

D T
Muka air

H
Pasir urug

Ka1

Dasar galian

y
x O O
B R1
Ka2 A B B R1
D

D R
E R C E
(a) (b) (c) (d)

Gambar II.29 Turap diangker dengan metode ujung tetap (Teng, 1962)
Sumber : Fondasi II, 2011
Didasarkan pada anggapan-anggapan tersebut, perancangan dinding turap

dengan metode ujung tetap dapat dilakukan sebagai berikut :

1. Tentukan besarnya tekanan tanah aktif dan pasif.

2. Tentukan kedalaman titik O, dengan persamaan:

2
= .....................Pers.(2.33)
2 (2 2 )

Dengan,

q = iHi = Tekanan overbuden aktif akibat tanah urug dan beban

terbagi rata pada elevasi yang sama dengan dasar galian.

Ka2, Kp2 = Koefisien tekanan aktif dan pasif tanah di bawah dasar galian.

3. Tentukan titik balik B, yaitu dengan menentukan jarak x berdasarkan

timbunan.
49

4. Tentukan gaya geser horisontal R1 pada titik balik B. R1 adalah reaksi

horisontal pada titik B dengan menganggap turap sebagai balok

sederhana yang ditumpu pada titik B dan angker.

5. Dengan menganggap bagian BE pada turap sebagai balok sederhana

(simple beam) (gambar 2.29d), hitung panjang BE dengan cara

mengambil momen terhadap ujung turap (E) sama dengan nol.

6. Kedalaman penetrasi turap D sama dengan jumlah panjang bagian BE

ditambah x (lihat gambar 2.29c). untuk keamanan, kalikan D dengan

faktor 1,2 - 1,4.

61
7. D = y + ..............Pers.(2.34)
2 (2 1 )

dengan,
y = jarak titik O dari garis galian tanah.
R1 = reaksi horisontal pada titik O
Ka2, Kp2 = koefisien tekanan tanah aktif dan pasif, tanah dibawah
garis galian

II.7 Penjangkaran
Tipe penjangkaran bila dilihat dari bentuk konstruksinya, dibedakan sebagai

berikut :

1. Blok angker (deadmen anchorage), tahanan yang diperoleh merupakan hasil

mobilisasi tekanan pasif tanah.

2. Tiang pancang (braced piles) yang digunakan apabila ditemukan adanya

lapis tanah lunak yang cukup tebal.

3. Dijangkarkan pada lapisan tanah (soil anchor) atau pada lapisan batuan

(rock anchor).

4. Dinding turap berfungsi sebagai deadmen.


50

5. Dijangkar pada existing structure.

II.7.1 Analisis System Penjangkaran


II.7.1.1 Blok Angker (deadmen anchorage)
Blok angker umumnya berpenampang bujursangkar dan dengan panjang

tertentu. Letak jangkar harus cukup jauh sehingga segitiga longsor pasif yang

terbentuk dari jangkar tidak mengganggu segitiga longsor aktif dari dinding turap.

Tanah asli

Garis galian

Batang angker

s
L
s

Gambar II.30 Pengangkeran dengan Blok angker


Sumber : Fondasi II, 2011
Terdapat dua jenis blok angker :

- Blok angker memanjang di dekat permukaan tanah.

- Blok angker pendek di dekat permukaan tanah.

II.7.1.1.1 Blok angker memanjang di dekat permukaa tanah


Menurut Teng (1962), jika kedalaman puncak blok angker sebesar h,

dengan h kurang dari 1/3 1/2 H (H = kedalaman dasar blok), kapasitas angker (T)

dapat dihitung dengan menganggap puncak blok angker memanjang sampai

permukaan tanah.
51

Permukaan tanah 2c = qu

H
T Pp
Pp Pa Pa
Tanah granuler Tanah kohesif
blok angker (tekanan awal)

Gambar II.31 Kapasitas blok angker memanjang di dekat permukaan tanah


Sumber : Fondasi II, 2011

Dari keseimbangan FH = 0, kapasitas angker ultimit :

Tu = Pp Pa ..................................Pers.(2.35)

dengan,

Tu = kapasitas ultimit blok angker (kN/m)

Pa = tekanan tanah aktif total (kN/m)

Pp = tekanan tanah pasif total (kN/m)

Pp dan Pa dapat dihitung dari teori-teori yang telah diketahui, yaitu dengan

menganggap gesekan dan adhesi antara tanah dan dinding blok angker nol.

II.7.1.1.2 Blok angker pendek di dekat permukaan tanah


Gambar 2.32 memperlihatkan blok angker dangkal dengan panjang L

yang didukung gaya angker T. Pengamatan-pengamatan dalam pengujian

menunjukkan bahwa saat keruntuhan terjadi, tanah yang terangkat lebih panjang

dari panjang blok angker.

H H
52

b
L a
Baji pasif Baji aktif xKa
H x
H
T
dx

c
Blok angker

Gambar II.32 Kapasitas blok angker pendek di dekat permukaan tanah


Sumber : Fondasi II, 2011

Teng (1962) mengusulkan persamaan untuk menghitung kapasitas ultimit

blok angker dangkal sebagai berikut:

1. Untuk tanah granuler (Pasir):

T Tu

Tu = L(Pp Pa) + 1/3 Ko ( + ) H3 tg ....Pers.(2.35)

2. Untuk tanah kohesif (Lempung jenuh):

T Tu

Tu = L(Pp Pa) + 2cH2 ...............................................Pers.(2.36)

dengan c = kohesi tanah

Faktor aman terhadap keruntuhan blok angker:

F = Tu / T .....................................................................Pers.(2.37)

dengan,

T = gaya tarik angker (kN)

Tu = gaya tahan angker ultimit (kN)


53

L = panjang balok angker (m)

Pa, Pp = tekanan tanah aktif dan pasif total

Ko = koefisien tekanan tanah saat diam (Ko dapat diambil = 0,4)

= berat volume tanah (kN/m3)

Kp, Ka = koefisien tekanan pasif dan aktif tanah

H = kedalaman dasar blok angker terhadap permukaan tanah (m)

= sudut gesek dalam tanah (derajat)

II.7.1.2 Tiang pancang sebagai jangkar (braced piles)


Tiang pancang sebagai jangkar dipakai apabila ada lapisan tanah jelek

yang terletak di sekitar dridge line yang tidak bisa diambil.

Gambar II.33 Tiang pancang sebagai jangkar


Sumber: Rekayasa Pondasi I, 1997
54

Besarnya gaya jangkar (Tult = Ap) diperoleh dari polygon gaya sebagai

berikut :

C T

Ap

Gambar II.34 Polygon gaya yang terbentuk


Sumber: Rekayasa Pondasi I, 1997

II.7.1.3 Jangkar Pada Lapisan Tanah


Penjangkaran pada lapisan tanah merupakan tension batter pile anchorage

yang dihubungkan langsung dengan dinding turap. Pada waktu analisis harus

diperhitungkan gaya vertikal V yang terjadi akibat posisi jangkar yang miring ke

bawah. Harga V ini berpengaruh pada kapasitas daya dukung dari dinding turap.

Gambar II.35 Tension batter pile anchorage (jangkar tiang miring tekan)
Sumber: Rekayasa Pondasi I, 1997
55

Gaya jangkar ultimate diperoleh dari polygon gaya dibawah ini :

Ap

Gambar II.36 Polygon gaya yang terbentuk


Sumber: Rekayasa Pondasi I, 1997

Tult = D d2 L K tan + ca D L .................Pers.(2.38)

dimana,

ca = 0,3 sampai 0,9 c

II.7.2 Letak Angker


Letak angker harus sedemikian rupa sehingga tidak terletak pada zona tanah

yang tidak stabil. Blok angker akan bekerja penuh jika:

1. Zona aktif turap yang akan runtuh tidak memotong bidang longsor blok

angker.

2. Blok angker terletak dibawah garis yang ditarik dari ujung bawah turap yang

membuat sudut terhadap horisontal.

Penempatan blok angker yang benar dan tidak benar, yang disarankan oleh

Teng (1962), diperlihatkan dalam gambar 2.37. penarikan garis untuk penentuan

letak angker, berawal dari titik yang berjarak dari garis galian, dimana pada titik

ini, jumlah M = 0 (gambar 2.37c).


56

Angker
Bidang longsor Bidang longsor
Angker

Dasar galian Dasar galian

= 45 + /2 = 45 + /2

(a)

Blok angker dalam area diarsir

Angker Angker

Angker
Bidang longsor

Dasar galian
a = (23)D' untuk ujung tetap
= 45 + /2 a = D' untuk ujung bebas
D'

(b) (c)

Gambar II.37 Penempatan angker


(a) Angker tidak memberikan tahanan.
(b) Kapasitas angker terganggu.
(c) Blok angker bekerja penuh (Teng, 1962).
Sumber : Fondasi II, 2011
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
III.1 Study Literatur
Berisi tinjauan teori-teori yang menjadi landasan olah pemikiran terhadap

permasalahan yang diteliti, serta menjelaskan definisi dari variabel-variabel yang

menjadi topik permasalahan.

III.2 Rumusan Masalah


Tahapan ini menguraikan tentang pokok-pokok masalah spesifik yang akan

diteliti , sehingga output dari penelitian tersebut tidak keluar dari topik penelitian.

III.3 Pengumpulan Data


Pengumpulan data digunakan untuk menganalisa permasalahan yang akan

dibahas. Adapun data yang dikumpulkan tersebut terbagi atas 2 (dua) jenis data

yaitu data primer dan data sekunder.

III.3.1 Data Primer


Data primer adalah data yang diperoleh melalui pengamatan dan survey

dilapangan seperti :

1. Peninjauan lokasi pekerjaan dengan tujuan untuk mengamati situasi lokasi

penelitian.

2. Pengambilan foto-foto lokasi pembangunan turap untuk pengamatan dan

analisa serta dokumentasi penelitian.

3. Pengambilan data elevasi muka air untuk mengetahui elevasi muka air tertinggi.

4. Pengukuran manual potongan penampang sungai tembuku.

57
58

Kondisi excisting Sei. Tembuku Kondisi excisting Sei. Tembuku

Monitoring Elev. Muka air Monitoring Elev. Muka air

Pengukuran manual penampang Sungai Pengukuran manual penampang Sungai

Gambar III.1 Foto Survey Lokasi Penelitian


Sumber : Data Olahan 2016. Foto Lokasi Pembangunan Turap Pada Proyek JFC
Kota Jambi
59

III.3.2 Data Sekunder


Data sekunder adalah data yang didapat dari beberapa pihak tertentu yang

tidak merupakan hasil survey yang dilakukan sendiri oleh penulis. Data-data

sekunder dalam penyelesaian tugas akhir ini diperoleh dari PT. Supraharmonia

Consultindo, pada proyek Pembangunan Prasarana Pengendalian Banjir Kota

Jambi, yang berupa:

a. Gambar layout Sungai Tembuku

Gambar III.2 Layout Sungai Tembuku


Sumber : PT. Supraharmonia Consultindo (2014)

b. Data-data penyelidikan tanah (Soil investigation)

Dari data penyelidikan tanah yang diperoleh dari konsultan supervisi, maka

dapat di uraikan hasilnya sebagai berikut :


60

Tabel III.1 Data hasil penyelidikan tanah dengan bor mesin

BM 1 BM 2
Tb 1 Tb 2 Tb 1 Tb 2
Hasil Uji
9,50-9,90 15,50-15,90 6,50-6,90 15,50-15,90
M/MT M/MT M/MT M/MT
(t/m3) 1,482 1,544 1,364 1,535
e 1,1586 1,2076 0,9368 1,2048
w (%) 29,73 18,67 50,41 18,14
wL (%) 35,4 17,9 44,95 16,8
Ip (%) 16,80 8,15 23,32 8,02
c (kg/cm2) 0,05 0,06 0,04 0,04
(derajat) 37o37'3" o
33 41'43" o
31 30'12" 39o2'46"
Cc (mm) 0,21 0,24 0,19 0,2
Cv (cm2/det) 5,27 x 10-03 4,80 x 10-03 5,62 x 10-03 4,80 x 10-03
Gs 2,61 2,62 2,5 2,62
K (cm2/det) 3,15 x 10-03 2,48 x 10-03 3,57 x 10-03 3,25 x 10-03
% lolos # 200 50,18 7,70 98,87 6,98
Sumber: PT Supraharmonia Consultindo (2014)

Percobaan sondir dimaksud untuk mengetahui kedalaman tanah keras,

homogenitas pada lapisan tanah secara horizontal, kepadatan lapisan tanah relative

dan hambatan pelekat. Diharapkan dengan diketahuinya nilai tekan konus dan

geseran lekat dati hasil sondir, dapat dilakukan prediksi jenis tanah dan besarnya

tekanan yang diijinkan.

Selanjutnya uraian ke-6 (enam) titik sondir adalah sebagai berikut :

Tabel III.2 Titik sondir No.I (S.1) Lokasi Sijenjang

Project Pembangunan Prasarana Pengendalian Banjir Kota Jambi

Site Kota Jambi


Location Sijenjang
Bore Hole No. S1
Perlawanan Jumlah Tekanan
MT Penet Konus Hambatan Lekat Konus
PK JHL
(Menigkat/Menurun)
(m) (kg/cm2) (kg/cm)
61

0,00 - 1,20 22,00 92 Meningkat


1,20 - 4,00 4,00 342 Menurun
4,00 - 9,40 21,00 600 Meningkat
9,40 - 14,20 28,00 952 Meningkat
14,20 - 19,80 150,00 2062 Meningkat
Sumber: PT Supraharmonia Consultindo (2014)

Tabel III.3 Titik sondir No.II (S.2) Lokasi Sijenjang

Project Pembangunan Prasarana Pengendalian Banjir Kota Jambi


Site Kota Jambi
Location Sijenjang
Bore Hole No. S2
Perlawanan Jumlah Tekanan
MT Penet Konus Hambatan Lekat Konus
PK JHL
(Menigkat/Menurun)
(m) (kg/cm2) (kg/cm)
0,00 - 12,40 35,00 936 Meningkat
12,40 - 14,80 65,00 1256 Meningkat
14,80 - 16,00 25,00 1452 Menurun
16,00 - 19,40 100,00 2152 Meningkat
19,40 - 22,80 150,00 2912 Meningkat
Sumber: PT Supraharmonia Consultindo (2014)

Tabel III.4 Titik sondir No.III (S.3) Lokasi Sijenjang

Project Pembangunan Prasarana Pengendalian Banjir Kota Jambi


Site Kota Jambi
Location Sijenjang
Bore Hole No. S3
Perlawanan Jumlah Tekanan
MT Penet Konus Hambatan Lekat Konus
PK JHL
(Menigkat/Menurun)
(m) (kg/cm2) (kg/cm)
0,00 - 7,20 37,00 372 Meningkat
7,20 - 13,20 105,00 1154 Meningkat
13,20 - 14,00 70,00 1314 Menurun
14,00 - 19,40 150,00 2604 Meningkat
Sumber: PT Supraharmonia Consultindo (2014)
62

Tabel III.5 Titik sondir No.IV (S.4) Lokasi Sijenjang

Project Pembangunan Prasarana Pengendalian Banjir Kota Jambi


Site Kota Jambi
Location Sijenjang
Bore Hole No. S4
Perlawanan Jumlah Tekanan
MT Penet Konus Hambatan Lekat Konus
PK JHL
(Menigkat/Menurun)
(m) (kg/cm2) (kg/cm)
0,00 - 10,80 65,00 1134 Meningkat
10,80 - 14,80 100,00 1884 Meningkat
14,80 - 15,20 75,00 1974 Menurun
15,20 - 20,20 150,00 3184 Meningkat
Sumber: PT Supraharmonia Consultindo (2014)

Tabel III.6 Titik sondir No.V (S.5) Lokasi Sijenjang

Project Pembangunan Prasarana Pengendalian Banjir Kota Jambi


Site Kota Jambi
Location Sijenjang
Bore Hole No. S5
Perlawanan Jumlah Tekanan
MT Penet Konus Hambatan Lekat Konus
PK JHL
(Menigkat/Menurun)
(m) (kg/cm2) (kg/cm)
0,00 - 6,40 30,00 458 Meningkat
6,40 - 8,00 14,00 586 Menurun
8,00 - 9,40 45,00 712 Meningkat
9,40 - 12,80 110,00 1188 Meningkat
12,80 - 17,00 60,00 1948 Menurun
17,00 - 18,40 100,00 2258 Meningkat
18,40 - 20,40 40,00 2678 Menurun
20,40 - 23,80 75,00 3388 Meningkat
Sumber: PT Supraharmonia Consultindo (2014)
63

Tabel III.7 Titik sondir No.IV (S.6) Lokasi Sijenjang

Project Pembangunan Prasarana Pengendalian Banjir Kota Jambi


Site Kota Jambi
Location Sijenjang
Bore Hole No. S6
Perlawanan Jumlah Tekanan
MT Penet Konus Hambatan Lekat Konus
PK JHL
(Menigkat/Menurun)
(m) (kg/cm2) (kg/cm)
0,00 - 6,40 25,00 490 Meningkat
6,40 - 11,20 40,00 1010 Menurun
11,20 - 12,80 95,00 1260 Meningkat
12,80 - 16,40 65,00 1990 Menurun
16,40 - 20,80 40,00 2810 Menurun
20,80 - 22,80 60,00 3210 Meningkat
Sumber: PT Supraharmonia Consultindo (2014)

Selanjutnya ringkasan hasil sondir ke-6 (enam) tititk dapat dilihat pada tabel

di bawah ini :

Tabel III.8 Ringkasan hasil sondir ke-6 titik

Kedalaman JHP
Titik qc=150 MAT
No Sondir Maxs Ket
Sondir
(M/MT) (kg/cm2) (kg/cm) (M/MT)
Lokasi
Sijenjang
1 S1 19,80 150 2062 -11,60 Ditemukan tanah keras
2 S2 22,80 150 2912 -11,00 Ditemukan tanah keras
3 S3 19,40 150 2604 -8,00 Ditemukan tanah keras
4 S4 20,20 150 3184 -9,20 Ditemukan tanah keras
Tidak ditemukan tanah
5 S5 23,80 75 3388 -6,40
keras
Tidak ditemukan tanah
6 S6 22,80 60 3210 -6,00
keras
Sumber : PT. Supraharmonia Consultindo (2014)

Hasil sondir dan bor mesin lengkap dapat dilihat pada lampiran.
64

c. Data Topografi (Cross section)

Guna : Untuk mengetahui Elevasi tanah, sehingga dapat melihat Letak


rencana Pembangunan Turap Baja
Jl. Raden fatah Sijenjang

Gambar III.3 Potongan Melintang Lokasi Penelitian


Sumber : PT. Supraharmonia Consultindo (2014)
d. Data Laporan cuaca

Guna : Untuk mengetahui data curah hujan pada lokasi pembangunan Turap
Baja di sungai Tembuku.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

Gambar III.4 Peta rata-rata curah hujan Kota Jambi


Sumber : BMKG Propinsi Jambi
65

III.4 Pengolahan Data


Data yang didapat baik data primer maupun data sekunder kemudian

dikumpulkan, lalu data tersebut diolah kedalam klasifikasi tahapan penyelesaian

penelitian.

III.4.1 Metode Pembahasan


Metode pembahasan menguraikan tentang langkah-langkah perencanaan

secara analitis, dari data-data yang ada dengan kegiatan sebagai berikut:

III.4.1.1 Analisa dan Perhitungan Pembebanan


Secara umum, untuk hitungan perancangan struktur turap terlebih

dahulu menganalisa beban-beban yang bekerja, dengan parameter-

parameter tanah yang telah diketahui dan beban-beban lain yang

bekerja diatas permukaan tanah, dihitung gaya-gaya yang bekerja

pada turap.

III.4.1.2 Analisa Konstruksi Turap atau Sheet Pile


Dalam perhitungan perencanaan konstruksi turap atau sheet pile

dapat dilakukan secara bertahap antara lain:

a. Panjang Sheet Pile yang dibutuhkan.

Dari data-data yang ada dianalisa perhitungan yang terjadi

akibat tekanan tanah untuk mendapatkan besarnya tekanan

tanah aktif yang bekerja pada sheet pile dengan menggunakan

diagram tekanan tanah, dalam hal ini menggunakan diagram

tekanan tanah. Dari hasil perhitungan tekanan tanah tersebut

dapat dihitung panjang sheet pile yang diperlukan untuk

mengamankan tebing sungai.

b. Pemilihan ukuran profil Sheet Pile


66

Mengingat konstruksi turap yang direncanakan terbuat dari Baja

(Steel Sheet Pile), maka dalam menganalisa konstruksi agar

mendapat dimensi konstruksi turap yang tepat dan ekonomis,

diperlukan momen maksimum yang terjadi pada sheet pile

antara lain:

1. Momen akibat tekanan tanah

2. Momen akibat beban-beban lain yang bekerja pada turap

Dari hasil perhitungan tersebut diambil momen maksimum yang

terbesar sebagai dasar pemilihan ukuran sheet pile.

c. Sling pengikat turap/ Sheet pile

Sling pengikat turap/ sheet pile bertujuan untuk

menghubungkan antara turap dengan jangkar dalam

mendistribusikan gaya-gaya yang terjadi pada turap dan

sebagian gaya-gaya tersebut akan dipikul oleh jangkar.

d. Konstuksi jangkar

1. Panjangnya jangkar

Berdasarkan pada beban yang dipikul oleh turap sebagian

dilimpahkan kepada jangkar, maka panjang jangkar yang

dibutuhkan dapat dihitung berdasarkan gaya-gaya yang

terjadi.

2. Penulangan jangkar

Dari hasil tersebut dapat dihitung besarnya momen

maksimum yang terjadi sebagai dasar dalam merencanakan

penulangan.
67

III.4.1.3 Daya Dukung Tanah


Daya dukung tanah

Untuk menghitung daya dukung tiang pancang dapat digunakan

rumus:


q= +
3 5

dimana :

q = Daya Dukung Tanah

NK = Nilai Konus

JHP = Jumlah Hambatan Lekat

O = Luas Penampang Turap

Diambil dari buku Mekanika Tanah (Wesley, 1977)

III.4.2 Kesimpulan
Pada tahap ini keseluruhan hasil analisis dan bahasan yang telah diuraikan

pada tahapan sebelumnya, selanjutnya dapat memberikan pertimbangan-

pertimbangan serta saran lebih lanjut terhadap hasil yang diperoleh dalam

penelitian ini. Pada akhirnya dapat dilakukan penyempurnaan dengan melakukan

kajian atau penelitian lebih lanjut serta konprehensif dan lebih mendetail

sebagaimana yang diharapkan.


68

III.5 Bagan Alir Tugas Akhir


Untuk mempermudah proses pelaksanaan perhitungan perencanaan dalam

analisis, dapat diperhatikan bagan alir dari kegiatan yang akan dilakukan, pada

gambar di bawah ini:

MULAI

STUDI LITERATUR

RUMUSAN MASALAH

PENGUMPULAN DATA

DATA PRIMER DATA SEKUNDER


- Lokasi Pekerjaan - Gambar Kerja
- Foto Dokumentasi - Data Penyelidikan Tanah
- Elevasi Muka Air - Data Topografi
- Potongan Melintang Sungai

DATA CUKUP
Tidak

Ya
PERHITUNGAN DESAIN TURAP BAJA:
- Diagram Tegangan Tanah Yang Terjadi
- Perhitungan Tekanan Tanah
- Perhitungan Panjang Dan Desain Profil Sheet Pile
- Perhitungan Angker

KESIMPULAN/ SARAN

SELESAI

Gambar III.5 Bagan Alir Penelitian


Sumber: Data Olahan 2016
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
IV.1 Perencanaan Turap

b= m a= m q (t/m)

Muka tanah

Angker

Lokasi perencanaan turap adalah sepanjang Sungai

Tembuku. Berdasarkan pengamatan dilapangan, turap yang


Muka tanah
y akan dihitung adalah yang menerima atau mendukung beban

maksimal, yakni lokasi dimana bagian daratan dari turap


D
terdapat tambahan-tambahan beban yang terdiri dari beban

terbagi rata, beban titik dan jalan.

Gambar IV.1 Perencanaan turap di Sungai Tembuku

Konstruksi Turap dan


tinjauan perencanaan
dinding Turap

Gambar IV.2 Denah lokasi penelitian

69
70

IV.2 Pemilihan Tipe Konstruksi Turap


Jl. Raden fatah Sijenjang

Gambar IV.3 Potongan melintang penampang sungai excisting


Data pengukuran elevasi yang dipakai:

- Elevasi air pada kondisi banjir = 11,35 m

- Elevasi top sheet pile rencana = 11,75 m

- Elevasi jalan raya/tanah tertinngi = 13,00 m

- Elevasi dasar sungai = 5,61 m

Dari data diatas maka diketahui panjang sheet pile (h) yang di butuhkan untuk

menahan tanah adalah:

h = Elevasi top sheet pile Elevasi dasar sungai

h = 11,75 5,61 = 6,14 m

Berdasarkan data pengukuran elevasi diatas diketahui panjang turap (h) yang

digunakan untuk konstruksi dinding turap adalah 6,14 m. Telah dijelaskan pada

teori-teori mengenai tipe turap serta klasifikasi mengenai pemilihan tipe turap

sebelumnya, bahwa tipe turap kantilever hanya mampu menahan tanah dengan

ketinggian tanah (h) antara 3 5 m, sedangkan bila ketinggian tanah lebih dari 5

(lima) m, maka harus menggunakan turap berjangkar. Dengan demikian maka


71

pemilihan tipe turap yang sesuai untuk menahan tanah dengan ketinggian h = 6,14

m tersebut adalah Dinding Turap Berjangkar.

IV.3 Perencanaan Desain Sheet Pile

Jalan
Timbunan

Galian

Dasar galian

Gambar IV.4 Ilustrasi perencanaan dinding turap


Dalam perencanaan dinding turap menggunakan sheet pile, perlu diketahui

dasar penentuan lokasi titik pemancangan sheet pile tersebut. Gambar ilustrasi

diatas menjelaskan beberapa konsep dasar perencanaan turap.

Adapun konsep dasar yang dipakai pada penelitian ini adalah:

1. Luas penampang melintang sungai setelah dipancang harus lebih besar atau

sama dengan luas penampang melintang sungai sebelum dipancang.

2. Desain perencanaan tinggi top sheet pile harus mempunyai tinggi jagaan

diukur pada kondisi elevasi muka air sungai tertinggi.

Anggapan-anggapan diatas dipakai sebagai antisipasi dari meluapnya air sungai

pada saat kondisi banjir, agar nantinya konstruksi dapat bekerja dengan maksimal.

Hasil data topografi yang dipakai :


72

- Elevasi tanah atas 13,0 m

- Elevasi top turap 11,75 m

- Level muka air tertinggi 11,35 m

- Level dasar sungai 5,610 m

- Elevasi sling pengikat turap 10,800 m

- Tanah yang berada diatas elevasi top turap, dianggap beban merata yang

menambah tekanan tanah pada sheet pile.

IV.4 Perhitungan Konstruksi

Dari data penyelidikan tanah di dua titik lokasi dengan menggunakan bor

mesin, sample tabung diambil 2 tabung per titik dengan kedalaman yang berbeda.

Dimana pengambilan sample pada titik BM1 pada kedalaman 9,50-9,90 m dan

15,50-15,90 m. Pada titik BM2 diambil pada kedalaman 6,50-6,90 m dan 15,50-

15,90 m. Untuk melakukan perhitungan dalam perencanaan turap baja maka data

yang digunakan adalah BM2, dimana kedalaman sample tabung yang diambil

sesuai dengan perkiraan kedalaman perencanaan turap, sedangkan untuk sudut

geser () diperoleh melalui korelasi nilai NSPT terhadap parameter tanah. Adapun

datanya sebagai berikut :

Data hasil penyelidikan tanah di laboratorium


73

Tabel IV.1 Data hasil penyelidikan tanah dengan bor mesin

BM 1 BM 2
Tb 1 Tb 2 Tb 1 Tb 2
Hasil Uji
9,50-9,90 15,50-15,90 6,50-6,90 15,50-15,90
M/MT M/MT M/MT M/MT
(t/m3) 1,482 1,544 1,364 1,535
e 1,1586 1,2076 0,9368 1,2048
w (%) 29,73 18,67 50,41 18,14
wL (%) 35,4 17,9 44,95 16,8
Ip (%) 16,80 8,15 23,32 8,02
c (kg/cm2) 0,05 0,06 0,04 0,04
(derajat) 37o37'3" o
33 41'43" o
31 30'12" 39o2'46"
Cc (mm) 0,21 0,24 0,19 0,2
Cv (cm2/det) 5,27 x 10-03 4,80 x 10-03 5,62 x 10-03 4,80 x 10-03
Gs 2,61 2,62 2,5 2,62
K (cm2/det) 3,15 x 10-03 2,48 x 10-03 3,57 x 10-03 3,25 x 10-03
% lolos # 200 50,18 7,70 98,87 6,98
Sumber: PT Supraharmonia Consultindo (2014)

Sudut geser tanah ()

Tabel IV.2 Korelasi nilai NSPT terhadap parameter tanah


(Das, 1990, lihat juga Terzaghi and Peck, 1948)

Tanah Lempung Tanah Pasir

Nilai NSPT Unconfined Strength Kerapatan Sudut geser


Kepadatan
qu kg/cm2 [ Dr (%) ] (o)
0-2 Sangat lunak 0 - 0,25 Sangat Lepas
25 - 30
2 - 5,7 Lunak (soft) 0,25 - 0,5 [0-5]
Sedang Lepas
5 - 10,7 0,5 - 1,0 28 - 35
(Medium) [ 5 - 30 ]
10 - 20,7 Kaku (stiff) 1,0 - 2,0 Sedang
35 - 42
20 - 30 Sangat kaku 2,0 - 4,0 [ 30 - 60 ]
Padat (dense)
30 - 50 Keras (hard) > 4,0 38 - 46
[ 60 - 95 ]
Sumber: Rekayasa Pondasi, Abdul Hakam, 2008
74

Jalan

Dasar galian

Gambar IV.5 Ilustrasi perencanaan dinding turap


Pada gambar 4.5 dan tabel 4.1, posisi tanah lapis 1 terdapat dikedalaman 0,00 MT

s/d 7,39 MT pada dasar galian, sedangkan tanah lapis 2 terdapat dikedalaman 7,39

MT s/d 15,90 MT. Dilihat dari data bor log (data terlampir), diketahui:

Tabel IV.3 Sudut geser hasil korelasi nilai NSPT menurut tabel 4.1

hi (m) 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30
NSPT 2 3 7 13 15 17 29 33 42 51
(o) 25 28 28 35 35 35 35 38 38 38
Sumber: Rekayasa Pondasi, Dr. Abdul Hakam, 2008

Dari data tabel 4.3 diatas maka didapat sudut geser sebagai berikut:

- tanah lapis 1 = 28o

- tanah lapis 2 = 35o

Pengambilan nilai sudut geser terkecil merupakan asumsi dari semakin kecil nilai

sudut geser yang terjadi maka semakin besar nilai koefisien tekanan tanah yang

didapatkan.
75

Pada penelitian ini analisis gaya yang bekerja pada turap akan dihitung

berdasarkan 2 (dua) kondisi:

- Kondisi level air di depan dan belakang turap sama tinggi.

- Kondisi tidak ada air di depan turap.

1. Kondisi level air di depan dan belakang turap sama tinggi

Muka Air

Jangkar

Sheet pile

Dasar galian

Gambar IV.6 Turap dengan kondisi air dimuka dan belakang sama
tinggi

Gambar IV.7 Tegangan yang bekerja pada tanah


. 2,50.1
1 = = = 1,291
1+ 1 + 0,9368
76

Koefisien Tekanan Tanah di atas galian:

- Koefisien Tekanan Tanah Aktif (Ka)

28
1 = 2 (45 ) = 2 (45 ) = 0,361
2 2

- Koefisien Tekanan Tanah Pasif (Kp)

28
1 = 2 (45 + ) = 2 (45 + ) = 2,770
2 2

Koefisien Tekanan Tanah di bawah galian:

- Koefisien Tekanan Tanah Aktif (Ka)

35
2 = 2 (45 ) = 2 (45 ) = 0,271
2 2

- Koefisien Tekanan Tanah Pasif (Kp)

35
2 = 2 (45 + ) = 2 (45 + ) = 3,690
2 2

IV.4.1 Perhitungan Tekanan Tanah


Tanah timbunan atau tanah yang berada diatas elevasi turap, dianggap
menjadi beban merata tambahan (q). Beban-beban yang terjadi adalah :

Dari tanah itu sendiri :

13.00

1.25
11.75

Gambar IV.8 Penggambaran skalatis tanah diatas elevasi turap


77

h = 1,25 m

d1 = 1,291

q =h.

= 1,25 . 1,291

= 1,614 t/m2

Beban Lajur

b = 2.96 a = 3.00
q

2

1
H = 6.14
P

Gambar IV.9 Beban merata jalur yang bekerja pada dinding turap
78

Tabel IV.4 Distribusi pembebanan pada roda kendaraan

Sumber : Perkerasan jalan dengan Benkelmen beam No. 01/MN/BM/83

Dari tabel diatas maka diasumsikan beban merata q = 2,3 t/m2

1 = tan-1(/)

= tan-1(2,96/6,14)

= 25,738

+
2 = tan-1( )

= tan-1[(2,96 + 3)/6,14)

= 44,148

q
=( ) . [(2 1 )]
90
79

2,3
= ( ) . [6,14(44,148 25,738)]
90

= 2,889 t/m2

P merupakan gaya yang dihasilkan per satuan lebar dinding, yang

disebabkan oleh beban lajur.

R = (a + b)2 (90 - 2)

= (3 + 2,96)2 (90 44,148)

= 1628,736

Q= b2 (90 - 1)

= 2,962 (90 25,738)

= 563,038

2 (2 2 )()+57,30
=( )
2(2 2 )

6,142 . (44,148 25,738) (1628,736 563,038) + 57,30.3.6,14


=( )
2.6,14. (44,148 25,738)

= 3,025 m

Jadi beban merata lajur P = 2,889 t/m sejauh 3,025 m

Tekanan tanah pada kedalaman dasar galian:

q = iHi + q + P

= (0,4 1,291) + (5,74 1,364) + 1,614

= 9,960 t/m2

2
y =
(2 2 )2
80

9,960 . 0,271
=
(3,6900,271).1,535

= 0,514 m

Kedalaman 0 m = q.Ka1

= 1,614 0,361

= 0,583 t/m2

Kedalaman 0,4 m = q.Ka1 + h1dKa1

= 0,583+(0,41,2910,361)

= 0,769 t/m2

6,14 m (atas) = q.Ka1 + h1dKa1 + h21Ka1

= 0,583 + 0,186 + (5,741,3640,361)

= 3,595 t/m2

6,14 m (bawah) = q.Ka2 + h1dKa2 + h21Ka2

= (1,6140,271)+(0,41,2910,271)+(5,741,3640,271)

= 2,699 t/m2

Elevasi muka air di muka dan di belakang turap sama, maka tekanan air

pada turap nol. Hitungan tekanan tanah lateral dan momen terhadap A,

diperlihatkan pada gambar di bawah ini.


81

q = 1,614 t/m2

1 2
A T

P = 2,889 t/m
Pa = 16,378 t/m
total

z = 3.03
3 4 6
Dasar Galian 3,595 t/m2
5 2,699 t/m2
o

y = 0,514 m

Gambar IV.10 Beban-beban yang bekerja pada Turap


Tabel IV.5 Tekanan tanah lateral dan jarak momen terhadap A
Lengan Moment
No Tekanan Tanah Lateral Total ke A ke A
(t/m) (m) (t.m)
1 0,583 x 0,4 = 0,233 -0,73 -0,170
2 0,5 x( 0,769 - 0,583 )x 0,4 = 0,037 0,66 0,025
3 0,769 x 5,74 = 4,414 2,34 10,329
4 0,5 x 3,595 - 0,769 x 5,74 = 8,111 3,29 26,684
5 0,5 x 0,514 x 2,699 = 0,694 5,43 3,766
6 P = 2,889 2,18 6,298
Jumlah = 16,378 d1Pa = 46,932

Jarak titik tangkap resultan gaya tekanan tanah terhadap titik A :


46,932
d1 = = 2,866 m
16,378
82

2. Kondisi tidak ada air di depan turap

Jangkar

Sheet pile

Dasar galian

Gambar IV.11 Kondisi didepan turap tidak ada air

q = 1,614 t/m2

Gambar IV.12 Tegangan yang bekerja pada tanah


83

Diketahui:

d = 1,291 t/m3 1 = 1,364 t/m3 2 = 1,535 t/m3

q = 1,614 t/m2 P = 2,889 t/m2

Ka1 = 0,361 Kp1 = 2,770

Ka2 = 0,271 Kp2 = 3,690

q = iHi + q

= (0,4 1,291) + (5,74 1,364) + 1,614

= 9,960 t/m2

2 +2
y =
2 (2 2 )

(9,960 . 0,271)+(5,74 .1)


= = 1,608 m
1,535.(3,6900,271)

Kedalaman 0 m = q.Ka1

= 1,614 0,361

= 0,583 t/m2

Kedalaman 0,4 m = q.Ka1 + h1dKa1

= 0,583+(0,41,2910,361)

= 0,769 t/m2

6,14 m (atas) = q.Ka1 + h1dKa1 + h21Ka1 + h2 w


84

= 0,583 + (5,741,3640,361) + (5,741)

= 9,149 t/m2

6,14 m (bawah) = q.Ka2 + h2w

= (9,9600,271) + (5,741)

= 8,439 t/m2

Hitungan tekanan tanah lateral dan momen terhadap A, diperlihatkan pada gambar

dibawah ini.

q = 1,614 t/m2

1 2
A T

P7 = 2,889 t/m

z = 3.03
Pa = 41,279 t/m
total

3 4 5 7
Dasar Galian 9,149 t/m2
8,439 t/m2
6
y = 1,608 m

Gambar IV.13 Penggambaran skalatis jarak tegangan ke titik A


85

Tabel IV.6 Tekanan tanah lateral dan jarak momen terhadap A


Lengan Moment
No Tekanan Tanah Lateral Total ke A ke A
(t/m) (m) (t.m)
1 0,583 x 0,4 = 0,233 -0,73 -0,170
2 0,5 x( 0,769 - 0,583 )x 0,4 = 0,037 0,66 0,025
3 0,769 x 5,74 = 4,414 2,34 10,329
4 0,5 x (9,149 - 0,769) x 5,74 = 24,051 3,29 79,126
5 0,5 x 5,74 x 1 = 2,870 3,29 9,442
6 0,5 x 1,608 x 8,439 = 6,785 5,75 39,013
7 P = 2,889 2,18 6,298
Jumlah = 41,279 d1Pa = 144,064

Pada diagram tekanan no.6, tekanan pada dasar galian didasarkan pada koefisien

tekanan Ka2.

Resultan gaya tekanan aktif terhadap titik A (angker) :

144,064
d1 = = 3,465 m
41,279

Dari 2 (dua) perhitungan analisis gaya yang bekerja pada dinding turap diatas, maka

pada penelitian ini dipakai kondisi paling kritis untuk merencanakan struktur

dinding turap tersebut. Adapun rinciannya sebagai berikut:

Tabel IV.7 Rincian analisis gaya pada turap

Kondisi tidak ada


Kondisi level air di depan
air
dan belakang turap sama tinggi di depan turap

Pa (total) 16,378 t/m 41,279 t/m

Jumlah momen ke A
46,932 tm 144,064 tm
(d1Pa)
86

Kondisi kritis yang ditunjukkan pada tabel diatas adalah kondisi tidak ada air di

depan turap, maka perhitungan dilanjutkan dengan menggunakan data tersebut.

Menentukan panjang penetrasi turap, dilakukan dengan mengambil MA = 0 (pada

angker) (jumlah momen ke A = d1Pa = 144,064 tm):

A T
d1 = 3,465 m

Pa total = 41,279 t/m

o
Tekanan tanah pasif

Gambar IV.14 Tegangan yang bekerja pada dinding turap

d1Pa D12 2 (Kp2 Ka2) (HW + b + y +2/3 D1) = 0

144,064 D12 1,535(3,690 0,271)(5,74+1+1,608+2/3 D1) = 0

144,064 2,624 D12 (8,348 + 0,67 D1) = 0

144,064 21,905 D12 - 1,758 D13 = 0

Dengan cara coba-coba, diperoleh D1 = 2,352 m

y + D1 = 1,608 + 2,352 = 3,960 m

Kedalaman penetrasi turap yang aman: D = 1,2 3,960 = 4,752 m

Panjang turap total = 6,14 + 4,752 = 10,892 m 11 m


87

IV.4.2 Mencari Dimensi Sheet Pile


Mmax = 144,064 tm

Mmax = 1440,64 kN.m

Digunakan turap profil Larssen dengan t = 210 MN, maka diperoleh :

1440,64
= 3
= 0,00686 3 = 686 3
210 10

Dari tabel profil turap Larssen, digunakan profil Larssen L601 dengan :

W = 745 cm3 > 686 cm3 dengan dimensi :

d
t

h
b

Dimana :

b = 600 mm

h = 310 mm

d = 7,5 mm

t = 6,4 mm
88

IV.4.3 Penentuan Diameter Baja Angkur


Jarak pemasangan baja angkur dipasang per 3 (Tiga) meter.

Perhitungan untuk menentukan diameter baja angkur, tegangan-tegangan yang


bekerja di pusatkan pada titik B. Jarak tegangan yang bekerja diperlihatkan pada
gambar 4.15.

q = 1,614 t/m2

1 2
A T

P7 = 2,889 t/m

3 4 5 7
Dasar Galian

6
y = 1,608 m

Gambar IV.15 Penggambaran skalatis jarak tegangan ke titik B


Tabel IV.8 Gaya dan momen akibat tekanan tanah aktif
Lengan Moment
No Tekanan Tanah Lateral Total ke B ke B
(t/m) (m) (t.m)
1 0,583 x 0,4 = 0,233 9,9 2,309
2 0,5 x( 0,769 - 0,583 )x 0,4 = 0,037 9,84 0,366
3 0,769 x 5,74 = 4,414 6,83 30,148
4 0,5 x( 9,149 - 0,769 )x 5,74 = 24,051 5,88 141,418
5 0,5 x 5,74 x 1 = 2,870 5,88 16,876
6 0,5 x 1,608 x 8,439 = 6,785 3,42 23,205
7 P7 = 2,889 6,99 20,194
Jumlah = 41,279 dBPB = 234,515
89

Jarak antar angkur : 3 m

Maka Pa dan dBPB dikalikan dengan 3, sehingga:

Pa = 3 41,279 = 123,837 t/m

dBPB = 234,515 3 = 703,545 tm

A T

Pa total
= 41,279 t/m

dT = 9.17
Dasar Galian

da = 5.705

Pp
dp = 0.78

Gambar IV.16 Penggambaran skalatis jarak PT dan Pp ke titik B


Tabel IV.9 Gaya dan momen akibat tekanan tanah pasif dan angkur
Lengan Moment ke
No Tekanan Tanah Lateral Total ke B B
(t/m) (m) (t.m)
PT T 9,17 9,17 T
Pp 0,5 x 1,535 x 3,69 x 2,352 = 6,661 0,78 5,196
Jumlah = 6,661 +T dTBPpB = 5,196+9,17T

Maka Pp dan dTBPpB dikalikan dengan 3, sehingga:

Pp = 3 6,661 + T = 19,983 + T t/m


90

dTBPpB = 3 5,196 + 9,17 T = 15,588 + 9,17 T tm

Pada kondisi balance, dBPB + dTBPpB = 0

-703,545 + 15,588 + 9,17.T = 0

687,957 = 9,17 T

T = 75,023 ton = 75023 kg

Diasumsikan angkur = 3200 kg/cm2 (Baja sedang U-32 menrut PBI 1971)

T = 75023 Kg


angkur = ( ), dimana A = luas penampang baja angkur = 0,25d2,

sehingga :


=
0,25 2


d2 =
0,25


d =
0,25

75023
d =
0,25 . 3,14 . 3200 /2

d = 5,465 cm 5,5 cm
91

IV.4.4 Perencanaan Blok Angkur


Ko diambil = 0,6

13.00
h = 0.56

10.800 H 3,16
Pp Pa

Gambar IV.17 Posisi blok angkur


Diketahui:

Elevasi titik pusat blok angker = 10,80

h = 0.56 m T = 75,023 t/m L = 2,6 m

H = 3,16 m = 28o

h H/3 0,56 3,16/3 0,56 1,053 OK.!.

Maka dapat dianggap tinggi blok angker = H

Pp = H2 1 Kp1 2

= 3,162 1,364 2,770 2

= 37,728 t

Pa = H2 1 Ka1 2

= 3,162 1,364 0,361 2

= 4,917 t
92

T L (Pp Pa) + 1/3 Ko ( + ) H3 tg

75,023 2,6(37,728-4,917)+1/30,61,364(2,770+0,361 )3,163tg28o

75,023 95,676

Dipakai H = 3,16 m, sehingga tinggi blok angker = H h = 3,16 0,56 = 2,6 m.

IV.4.5 Menentukan Panjang Baja Angker


Diketahui :

a = D (untuk metode ujung bebas) = 3,960 m

= 35o

13.00

10.800

Blok angkur

11

3,96

15,36

Gambar IV.18 Penggambaran skalatis posisi blok angkur dan panjang baja
angker.
Dari penggambaran secara skalatis diperoleh panjang baja angkur yang digunakan,

(L) = 15,36 m.
BAB V PENUTUP
V.1 Kesimpulan
1. Pada dua jenis kondisi yang dihitung pada penelitian ini, kondisi yang paling

ekstrem digunakan sebagai dasar perhitungan, yaitu kondisi Tidak Ada Air di

Depan Turap dengan Pa (Total) = 46,932 t/m.

2. Panjang Profil Sheet Pile Baja hasil perhitungan yaitu 10,892 m 11 m,

dengan kedalaman pemancangan di titik guling 4,752 m.

3. Profil Sheet Pile Baja yang digunakan adalah profil Larssen L601, dengan W=

745 cm3.

4. Dari hasil perhitungan, gaya angkur T = 75023 kg, maka diameter angkur yang

didapat melalui perhitungan pada penelitian ini sebesar 5,5 cm.

5. Blok angkur yang digunakan pada penelitian ini adalah, blok angkur pendek

didekat permukaan tanah dengan tinggi H berdasarkan perhitungan adalah

H=2,6 m.

6. Pada penelitian ini, untuk menentukan panjang baja angker diperoleh melalui

penggambaran skalatis, dimana posisi blok angker harus terletak didalam zona

aman terhadap bidang longsor. Panjang baja angker yang didapat, Langker =

15,36 m.

93
94

V.2 Saran
1. Sebelum melakukan perhitungan hendaknya kita memperoleh data teknis yang

lengkap, karena data tersebut sangat penting dalam membuat rencana analisa

perhitungan sesuai dengan standar dan syarat-syaratnya.

2. Ketelitian dalam pelaksanaan pengujian baik dalam menggunakan alat atau

pembacaan hasil yang tertera pada sebagian alat uji, serta situasi dan kondisi

dilokasi yang akan dibangun turap, merupakan hal penting untuk mendapatkan

hasil yang optimal dalam perencanaan desain turap.

3. Pembangunan turap sebagai struktur penahan tanah di sungai Tembuku, adalah

hal positif dan harus dilanjutkan di sungai-sungai seputar kawasan kota jambi,

karena selain sebagai struktur penahan tanah juga dapat memperindah daerah

di sekitar sungai, dan dapat digunakan oleh masyarakat sebagai tempat wisata.
95

DAFTAR PUSTAKA

Bowles, JE. 1993. Mekanika Tanah. Edisi 2. Erlangga. Jakarta.

DAS. M. Braja. 1994. Mekanika Tanah. Jilid 1. Erlangga. Surabaya.

DAS. M. Braja. 1994. Mekanika Tanah. Jilid 2. Erlangga. Surabaya.

Hakan, A. 2008. Rekayasa Pondasi. Penerbit CV. Bintang Grafika. Padang (Sumbar)

Hardiyatmo. HC. 2010. Analisis Dan Perancangan FONDASI II. Edisi 2. Gadjah

Mada University Press.

Hardiyatmo. HC. 2011. Analisis Dan Perancangan FONDASI I. Edisi 2. Gadjah

Mada University Press.

Joetata, H. 1997. Rekayasa Pondasi I Konstruksi Penahan Tanah. Penerbit

Gunadarma.

Sheetpiling.arcelormittal.com

Terzaghi, K. Peck, RB. 1987. Mekanika Tanah Dalam Praktek Rekayasa. Jilid 1.

Penerbit Erlangga.

Wesley. LD. 1977. Mekanika Tanah. Cetakan ke-6. Badan Penerbit Pekerjaan

Umum
96

Anda mungkin juga menyukai