Anda di halaman 1dari 55

ANALGESIK

ANALGESIK

M. Wellyan Apt.
Manajemen Nyeri
Apakah yang dimaksud nyeri?
Mekanisme pertahanan tubuh untuk
menginformasikan adanya kerusakan atau
penyakit
Bagian dari proses penyembuhan yang normal
ANALGESIK
ANALGESI K
I. Analgesik Opioid (narkotika)
Agonis reseptor opioid morfin HCl, fentanil, kodein
II. Analgesik non opioid (non narkotik) dan non
steroidal anti-inflammatory drugs - NSAIDs
asam asetilsalisilat, parasetamol, antalgin, indometasin, ibuprofen,
piroksikam, Na diklofenak, ketorolak , ketoprofen.
III. Zat dengan mekanisme kerja campuran
(komponen opioid dan non opioid)
tramadol
Klasifikasi Nyeri
Berdasarkan Onset dan Durasi
Nyeri akut
Onset tiba-tiba
Biasanya reda setelah diobati

Nyeri kronik
Menetap atau kambuhan
Seringkali sukar diobati
Sumber Nyeri
Sumber Area Terlibat Sifat Pengelolaan

Somatik Kulit, Rasa Narkotika,


jaringan berdenyut, NSAID
muskuloskele tertikam
tal
Viseral Organ dalam Rasa sakit, Narkotika,
(ginjal, usus berdenyut, NSAID
halus, hati) tajam, kaku

Neuropatik Syaraf Rasa terbakar, Narkotika,


mati rasa, NSAID,
gatal/geli antidepresan,
antikonvulsan
ANALGESI
NALGESIK
K
NARKOTIKA
Sejarah Narkotika
Opium diekstrak dari biji candu (Papaver
somniforum)
Digunakan ribuan tahun utk menimbulkan efek
Euphoria (rasa gembira)
Analgesia
Sedasi
Obat diare
Penekan batuk
Sejarah Narkotika

Digunakan utk tujuan medis dan juga


rekreasional sejak jaman Yunani dan
Romawi kuno
Opium dan laudanum (campuran opium
dg alkohol) digunakan utk mengobati
hampir sebagian besar penyakit
Morpheus
adalah dewa tidur
dan mimpi dlm
mitologi Yunani kuno.

Friedrich Wilhelm Adam


Sertrner, seorang
Apoteker dari Jerman
, mengisolasi
senyawa morfin dari
opium pada tahun
1805.
Latar Belakang Sejarah
Penemuan jarum suntik pada tahun 1856
menyebabkan penyalahguna obat mampu
menyuntikkan sendiri narkotika.
Tidak berhasilnya pengendalian penggunaan
narkotika disebabkan karena efek euforia,
toleransi, dan ketergantungan narkotika.
Reseptor Opioid
Merupakan kelompok G-protein coupled
receptors (GPCRs) dengan senyawa opioid
sebagai ligand.
Senyawa opioid endogen diantaranya:
dynorphins, enkephalins, endorphins,
endomorphins dan nociceptin.

Subtipe reseptor opioid:


mu, delta, kappa, epsilon, sigma
Aktivasi Reseptor Opioid
Respon Mu-1 Mu-2 Kappa Delta Sigma

Analgesia

Depresi
pernafasan
Euforia

Disforia

Menurunkan
pergerakan
saluran cerna
Ketergantung
an fisik
Mania,
halusinasi
Efek Morfin pada SSP
Efek Depresan Efek Stimulan
Analgesia Mual, muntah
Tidak acuh terhadap Pusat Vagal (bradycardia)
sekeliling Beberapa area kortikal dan
Mood dan subjektif hippocampal
Depresi pernafasan
Pusat batuk
Pusat pengatur suhu tubuh
Pusat Vasomotor
Manfaat morfin sebagai analgesik:
Nyeri pada myocardial infarction
Nyeri operasi
Nyeri akibat trauma, terbakar
Nyeri kronis yg hebat, misal: kanker
Nyeri akibat batu ginjal
Trauma pada toraks yg diikuti batuk
MORPHINE HYDROCHLORIDE
Rute pemberian
S.c dan i.m.
(efek dicapai setelah 10-15 menit)
oral
( 20-60 % memasuki sirkulasi darah umum)
Sublingual penyerapan lebih cepat
i.v. pada kondisi darurat
Injeksi Epidural atau intrathecal
Durasi aksi analgesik 4-6 jam
Dosis maksimum tunggal 0,02 g,
Dosis harian maksimal 0,05 g
Efek samping Morfin
Depresi pernafasan
Muntah
Bradycardia
Spasme pada sphincter saluran gastrointestinal
yg diikuti oleh konstipasi
Retensi urin
Menurunnya tekanan darah
KONTRAINDIKASI MORFIN
Depresi pernafasan akut
Gagal ginjal (karena akumulasi metabolit morphine-3-glucuronide
dan morphine-6-glucuronide)
Meningkatnya tekanan intrakranial
Biliary colic

Hati-hati pada:
Nyeri akibat inflamasi kronik
Anak berumur < 2 tahun
Efek Toleransi
Toleransi adalah berkurangnya respon terhadap aksi obat
Efek toleransi menyebabkan berkurangnya efek terhadap dosis
obat yg konstan atau dapat juga menyebabkan meningkatnya
kebutuhan dosis minimal utk menghasilkan efek yg diharapkan.
Berkaitan dengan ikatan obat-reseptor
Ketergantungan/adiksi
Ketergantungan secara fisik
Ketergantungan fisiologis
Withdrawal reactions
Tolerance and Dependence
Reaksi Withdrawal
Aksi Akut Morfin Gejala Withdrawal
Analgesia Nyeri dan lekas marah
Depresi pernafasan Hyperventilasi
Euforia Disforia dan depresi
Relaksasi/tidur Restlessness dan insomnia
Tranquilization/penenang Rasa takut dan bermusuhan
Tekanan darah menurun Tekanan darah meningkat
Konstipasi Diare
Kontraksi Pupil Pupil melebar
Hypothermia Hyperthermia
Keringnya sekresi Lacrimation, hidung meler
Dorongan seksual menurun Ejakulasi spontan
Kulit hangat dan berkeringat Rasa dingin
Fentanyl

Analgesik opioid sintetik kerja pendek


Efek analgesik lebih besar 300x
dibanding morfin
Efek analgesik setelah pemberian i.v.
Diperoleh setelah 1-3 menit, bertahan
selama 15-30 menit
fentanyl transdermal system
Digunakan pada nyeri
kronik
Dirancang utk
melepaskan obat menuju
kulit pada laju yg konstan
(25-100 mcg/jam)
Kodein
Opium alkaloid
Efek analgesik tidak terlalu kuat, namun
efek anti batuknya lumayan.
Dapat digunakan sebagai obat batuk kering
Dapat dikombinasikan dengan parasetamol
Keracunan Akut Analgesik Opioid
Depresi pernafasan
Euphoria
Relaksasi/tidur
Tranquilization/penenang
Tekanan darah menurun
Konstipasi
Kontraksi Pupil
Hypothermia
Sekresi kering
Kulit hangat/berkeringat
Penanganan Keracunan Akut
Naloxon (antagonis reseptor opioid)
diberikan secara i.v - 0,4-1,2 mg, jangan melebihi 10 mg
Suspensi 20-30 g arang aktif
Diuresis paksa
Atropin sulfat
ANALGESIK
NON--OPIOID
NON
Efek Farmakodinamik

Analgesik
Antipiretik
Anti-inflamasi
(kecuali paracetamol)
Mekanisme kerja analgesik non-opioid

Depresi aktivitas enzim COX/siklooksigenase


Penurunan produksi prostaglandin pada jaringan
perifer dan pada SSP
Menurunkan sensitifitas ujung-ujung syaraf dan
depresi transmisi impuls nociceptive pada struktur
SSP.
Efek anti nyeri dikaitkan sebagian dengan aktifitas
anti-inflamasi obat-obat ini.
Efek Penghambatan Enzim COX

COX-1 COX-2

Gastric ulcers Reduce inflammation

Bleeding Reduce pain

Acute renal failure Reduce fever

NSAID: anti-plateletmenurunnya kemampuan darah utk membeku


Indikasi pemberian analgesik non
narkotik

Sakit kepala
Sakit gigi
Sakit punggung
Neuralgia
Terkilir
Nyeri sendi
dysmenorrhea
Parasetamol
(Acetaminophen)
Bersifat analgesik dan antipiretik
Efek maksimal dicapai setelah 2 jam
pemberian oral, bertahan selama 4 jam.
Bisa merusak hati bila digunakan dalam
dosis besar, akibat terbentuknya metabolit
beracun
Parasetamol (Acetaminophen)
N-Acetyl-P-Aminophenol

Klasifikasi: analgesik, antipiretik, bukan termasuk NSAID

Mekanisme: menghambat sintesis prostaglandin via


inhibisi COX pada SSP (bukan perifer), tidak
menyebabkan ulkus lambung, pendarahan, atau gagal
ginjal. Secara perifer bersifat menghambat impuls
nyeri.
Menghambat pusat pengatur panas di hipotalamus
Farmakokinetika: para
parassetamol

Metabolisme: di hati
Waktu paruh: 1-3 jam (remaja), 2-5 jam (anak), 4
jam (bayi), 2-3 jam (dewasa)
Waktu utk mencapai konsentrasi puncak: 10-60
menit
Ekresi: urin

Antidot utk overdosis: Acetylcysteine


Asam asetilsalisilat (ASA)
Menghambat enzim COX secara ireversibel
Dosis antipiretik dan analgesik: 0,25 and 0,5 g tiap kali
pemberian
Dosis antiinflamasi: 3-4 g per hari (utk arthritis, myocarditis,
pleuritis, bronchitis, dll.
Dosis anti platelet sebagai profilaksis pembentukan trombus
(pada kasus IHD (ischemic heart disease), thrombophlebitis,
dll.) dosis harian 80-100 mg
ASA
Farmakokinetika: ASA
Absorpsi: lambung dan usus halus
Distribusi: merata, menuju banyak organ/jaringan
Metabolisme: hati
ASA kontra indikasi pada anak yg menderita demam
akibat virus dapat menyebabkan Reyes Syndrome
(kondisi pembengkakan hati dan otak)
Ada kemungkinan overdosis fatal

Ibuprofen dan NSAID lainnya memiliki profil farmakokinetika yg


hampir sama dg ASA
Antalgin
Metamizol
Na. diklofenak
Ibuprofen
Asam mefenamat
Meloxicam
Celecoxib
Etoricoxib
Traditional and selective COX-2
inhibitors
Ketorolak
Sifat analgetiknya melebihi ASA, dan setara
dengan analgesik narkotik
Juga bersifat anti-inflamasi, antipiretik, dan
antiplatelet yg ringan
Sangat efektif pada nyeri post operasi,
kanker,
Bisa diberikan secara oral, i/m, i/v

TIDAK utk
Sindroma nyeri kronik
Ketorolac
Ketoprofen
Ketoprofen
Sifat analgesik, anti-inflamasi, dan
antipiretik kuat
Dapat diberikan untuk kasus arthritis
dan nyeri karena berbagai akibat (post
operasi, mentruasi hebat, trauma)
Bisa diberikan per oral, i.m, dan juga
supositoria.
Ketoprofen
TRAMADOL
Tramadol adalah turunan opioid sintetik
Aktivitas analgesik serupa dengan morfin
Potensi penyalahgunaan rendah
Depresi pernafasan minimal
Pada pemberian i.v efek muncul setelah 5-
10 menit, oral setelah 30-40 menit. Efek
bertahan 3-5 jam.

Tramadol berefek agonis pada reseptor -opioid dan mempengaruhi


reuptake sistem noradrenergik dan serotonergik
Sekian