Anda di halaman 1dari 9

TUGAS ANATOMI DAN FISIOLOGI MANUSIA

Nama: Vini Sindy Karoliansya Maukeno


NIM : G 701 16 027
Kelas : C

1. Jelaskan mekanisme cedera sel pada manusia!


1. Prinsip Umum yang Relevan Cedera Sel (Mekanisme Umum)
1. Respons selular terhadap stimulus yang berbahaya bergantung pada
tipe cedera, durasi, dan keparahannya.
2. Akibat suatu stimulus yang berbahaya bergantung pada tipe, status,
kemampuan adaptasi, dan susunan genetik sel yang mengalami jejas.
3. 4 sistem intraselular yang paling mudah terkena jejas adalah; (1)
Keutuhan membran sel, (2) Pembentukan adenosin trifosfat (ATP), (3)
sintesis protein, dan (4) Keutuhan perlengkapan genetik.
4. Komponen struktural dan biokimiawi suatu sel terhubung secara utuh
tanpa memandang lokus awal jejas, efek multipel sekunder yang
terjadi sangan cepat.
5. Fungsi sel hilang jauh sebelum terjadi kematian sel, dan perubahan
morfologi jejas sel atau mati.

2. Prinsip Biokimiawi Dasar yang Muncul pada Penyebab Cedera


(Mekanisme Biokimiawi)
1. Deplesi ATP, hilangnya sintesis ATP (baik melalui fosfoirilasi
oksidatif mitokondria maupun glikolisis anaerobik) menyebabkan
penutupan segera jalur homeostatis yang paling kritis.
2. Deprivasi Oksigen atau Pembentukan Spesies Oksigen Reaktif,
sebagian pengurangan spesies oksigen teraktivasi juga merupakan
mediator penting pada kematian sel. Spesies radikal bebas ini
menyebabkan peroksidasi lipid dan efek delesi lainnya pada struktur
sel.
3. Hilangnya Homeostatis Kalsium, iskemia atau toksin menyebabkan
masuknya kalsium ektrasel melintasi membran plasma, diikuti
pelepasan kalsium dari deposit intraselular. Peningkatan kalsium
sitosol sebaliknya mengaktivasi bermacam fosfolipase (mencetuskan
kerusakan membran), protease (mangatabolisasi protein membran dan
struktural) ATPase (mempercepat deplesi ATP), dan endonuklease
(memecah material genetik). Hilangnya homeostatis kalsium tidak
selalu merupakan puncak kejadian yang perlu pada jejas sel
ireversibel.
4. Defek Permeabilitas Membran Plasma, dapat langsung dirusak oleh
toksin bakteri tertentu, protein virus, komponen komplemen, limfosit
sitolitik, atau sejumlah agen fisik atau kimiawi. Bisa juga sekunder,
yang disebabkan oleh hilangnya sintesis ATP atau disebabkan oleh
aktivasi fosfolipase yang dimediasi kalsium. Hilangnya berier memban
menimbulkan kerusakan gradien konsentasi metabolit yang diperlukan
untuk mempertahankan aktivitas metabolik normal.
5. Kerusakan Mitokondria, peningkatan kalsium sitosol, stres oksidatif
intrasel, dan produk pemecahan lipid, menyebabkan semuanya
berkulminasi dalam pembentukan saluran membran mitokondria
interna dengan kemampuan konduksi yang tinggi (disebut juga
Transisi Permeabilitas Mitokondrial). Pori nonselektif ini
memungkinkan gradien proton melintasi membran mitokondria untuk
menghilang sehingga mencegah pembentukan ATP. Sitokrom c
(protein mudah larut penting pada rantai transpor elektron) juga bocor
keluar ke dalam sitosol; di sini mengaktifkan jalur kematian apoptotik.
Dengan konsep umum ini maka perlulah fokus pada tiga bentuk cedera sel
yang lazim terjadi, yaitu:

1. Cedera Hipoksik

Efek pertama hipoksia adalah pada respirasi aerobik sel, yaitu fosforilasi
oksidatif oleh mitokondria; sebagai akibat penurunan tegangan oksigen,
pembentukan ATP intrasel jelas berkurang. Hasil deplesi ATP mempunyai
efek luas pada banyak sistem dalam sel.

Aktivitas pompa natrium yang diatur ATP membran plasma menurun,


selanjutnya terjadi akumulasi natrium intrasel dan difusi kalsium keluar
sel. Hal ini disertai hasil isosmotik cairan, menyababkan pembengkakan
selular akut. Kondisi ini dieksaserbasi oleh peningkatan beban osmotik
dari akumulasi metabolit lain, seperti fosfat anorganik, asam laktat, dan
nukleosida purin.

Glikolisis anaerob meningkat karena ATP berkurang dan disertai


peningkatan Adenosin Monofosfat (AMP) yang merangsang enzim
Fosfofruktokinase. Menimbulkan deplesi cepat cadangan glikogen.
Peningkatan glikolisis juga menyebabkan akumulasi asam laktat dan fofat
anorganik akibat hidrolisis ester fosfat, jadi menurunkan pH intrasel.

Penurunan kadar pH dan ATP menyebabkan ribosom lepas dari retikulum


endoplasma kasar dan polisom untuk berdisosiasi menjadi monosom,
dengan akibatnya terjadi penurunan sintesis protein. Jika hipoksia tidak
dihilangkan, selanjutnya menyebabkan kerusakan morfologik. Gambaran
ultrastruktur seperti mikrovili hilang, dan permukaan sel akan
menggelembung. Jika oksigen diperbaiki, semua gangguan yang telah
disebut akan reversibel; namun, jika iskemia tetap terjadi, jejas yang
ireversibel mengikuti.
2. Cedera Iskemia/Reperfusi

Berlawanan dengan hipoksia, pembentukan energi glikolitik dapat


berlanjut (walaupun kurang efiesien dibandingkan jalur oksidatif), iskemia
juga menganggu pengiriman substrat untuk glikolisis. Akibatnya,
pembentukan energi anaerob juga berhenti di jaringan yang iskemik
setelah substrat potensialnya mengalami kelelahan atau jika glikolisis
dihambat oleh akumulasi metabolit yang normalnya akan dibuang melalui
aliran darah. Kenskuensinya, iskemia mencederai jaringan lebih cepat
dibandingkan hipoksia.

Namun, dalam keadaan tertentu, terjadi perbaikan aliran darah pada


iskemik meskipun jaringan tetap hidup, secara paradoks, pada cedera
terakselerasi dan dieksaserbasi. Sebagai hasilnya, jaringan menyokong
kehilangan sel selain sel yang rusak ireversibel pada akhir episode
eskemik. Keadaan itu disebut Iskemia/ Jejas Reperfusi yang secara klinis
merupakan proses penting yang secara bermakna berperan pada kerusakan
jaringan pada infark miokar dan serebral.

Reperfusi jaringan iskemik dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut


melalui cara:

-Pemulihan aliran darah membasahi sel yang terganggu dalam konsentrasi


tinggi kalsium bila sel tersebut tidak mampu mengatur sepenuhnya
lingkungan ioniknya menyebabkan hilangnya keutuhan sel.

-Reperfusi sel yang mengalami jejas mengakibatkan rekruitmen sel radang


yang terjadi lokal; sel itu melepaskan spesies oksigen reaktif berkadar
tinggi yang mencetuskan kerusakan membran dan transisi permeabilitas
mitonkondria

-Mitokondria yang rusak pada sel yang terganggu, tetapi masih dapat
hidup, menghasilkan reduksi oksigen tak lengkap sehingga meningkatkan
produksi spesies radikal bebas; selain itu, sel yang mengalami jejas secara
iskemik memiliki mekanisme pertahanan antioksidan yang terganggu.

3. Cedera Sel yang Diinduksi Radikal Bebas

Kerusakan radikal bebas juga mendasari cedera zat kimia dan radiasi,
toksisitas oksigen dan gas lain, penuaan selular, pembunuhan mikroba
oleh sel fagositik, kerusakan sel radang, destruksi tumor oleh makrofag,
dan proses cedera lainnya.

Radikal bebas merupakan Spesies Kimiawi Dengan 1 Elektron Tak


Berpasangan Di Orbital Terluar. Sifatnya sangat tidak stabil dan mudah
bereaksi dengan zat kimia anorganik atau organik; saat dibentuk dalam sel,
radikal bebas segera menyerang dan mendegradasi asam nukleat serta
berbagai molekul membran. Selain itu, radikal bebas menginisiasi reaksi
Autokatalitik; sebaliknya, molekul yang bereaksi dengan radikal bebas
diubah menjadi radikal bebas, semakin memperbanyak rantai kerusakan.

Radikal bebas dapat dibentuk dalam sel oleh:

-Reaksi Redoks yang terjadi selama proses fisiologis normal.

-Nitrit Oksida (NO) merupakan mediator kimiawi penting yang normalnya


disintesis oleh berbagai tipe sel, yang dapat berperan sebagai radikal bebas
atau dapat diubah menjadi spesies nitrit yang sangat reaktif.

-Penyerapan Energi Radian (misalnya, Sinar Ultraviolet dan Sinar X).


Radiasi pengion dapat menghidrolisis air menjadi gugus hidroksil (OH-)
dan radikal bebas hidrogen (H+).

-Metabolisme Enzimatik Zat Kimia Eksogen (misalnya, Karbon


Tetrakloride).
3 Reaksi yang Paling Relevan dengan Cedera Sel Radikal Bebas
sebagai berikut:

1. Peroksidasi Lipid Membran, terutama pada Lemak Tak Jenuh.


Interaksi radikal lemak menghasilkan peroksida, yang tidak stabil dan
reaktif, dan terjadi reaksi rantai autokatalitik.
2. Fragmentasi DNA, reaksi radikal bebas dengan Timin pada DNA
mitokondria dan Nuklear menimbulkan rusaknya untai tunggal.
Memberikan inplikasi pada pembunuhan sel dan perubahan sel
menjadi ganas.
3. Ikatan Silang Protein, radikal mencetuskan ikatan silang protein yang
diperantarai Sulfhidril, menyebabkan peningkatan kecepatan degradasi
atau hilangnya aktivitas enzimatik. Reaksi radikal bebas juga bisa
secara langsung menyebabkan fragmentasi polipeptida.

Pembuatan radikal bebas juga merupakan bagian normal respirasi dan


aktivitas selular rutin lainnya, termasuk pertahanan mikroba. Untungnya,
radikal bebas memang tidak stabil, dan umumnya rusak secara spontan;
misalnya Superoksida, sangat cepat rusak dnegan adanya air yang masuk
ke dalam oksigen dan hidrogen peroksida. Namun, sel juga membentuk
beberapa sistem enzimatik dan nonenzimatik untuk menonaktifkan radikal
bebas.

-Kecepatan kerusakan spontan meningkat bermakna oleh kerja


Superoksida Dismutase (SOD) yang ditemukan pada banyak tipe sel.

-Glutation (GSH) Peroksidase juga melindungi sel adar tidak mengalami


jejas dengan mengatalisis perusakan radikal bebas. Rasio intrasel Glutation
Teroksidase (GSSG) menjadi Glutation Tereduksi (GSH) merupakan
refleksi status oksidasi sel dan aspek penting kemampuan sel untuk
mengatabolisme radikal bebas.

-Katalase terdapat dalam Peroksisom, langsung mendegradasi Hidrogen


Peroksida.
-Antioksidan endogen atau eksogen (misalnya, Vitamin E, A, dan C, serta
- Karoten) juga dapat menghambat pembentukan radikal bebas atau
memulung radikal bebas ketika selesai dibentuk.

-Zat Besi dan Tembaga yang diionisasi bebas dapat mengatalisis


pembentukan spesies oksigen reaktif. Namun unsur tersebut biasanya
diasingkan oleh cadangan dan/ atau protein transpor (misalnya, Transferin,
Feritin, dan Seruloplasmin).

4. Cedera Kimiawi

Zat kimia menginduksi jejas sel dengan salah satu dari 2 mekanisme
umum berikut ini:

1. Beberapa zat kimia bekerja secara langsung dengan cara bergabung


dengan komponen molekular kritis atau organel selular. Misalnya ,
pada keracunan Merkuri Klorida, merkuri berikatan dengan gugus
Sulfhidril berbagai protein membran sel.
2. Banyak zat kimia lain yang tidak aktif secara intrinsik biologis, tetapi
pertama kali harus dikonversi menjadi metabolit toksik reaktif, yang
kemudian bekerja pada sel target.

CCl4, misalnya, dikonversi menjadi radikal bebas toksik CCl3; terutama


di hati. Radikal bebas itu menyebabkan peroksidasi fosfolipid membran
autokatalitik, dengan kerusakan cepat retikulum endoplasma, yang
menyebabkan Perlemakan Hati. Hasil akhirnya bisa terjadi influks kalsium
dan akhirnya kematian sel.
2. Apa hubungan antara fosfolipid membrane sel dengan rasa
nyeri dan demam?

Fosfolipid merupakan penyusun membrane sel yang didalamnya terdapat enzim


fosfolipase yang bertugas untuk membantu fosfolipid membentuk asam
arikidonat. Asam arikidonat dalam jumlah yang banyak sebagai fosfolipid selaput
sel. Di bawah asam arikidonat terdapat enzim siklooksigenase, enzim ini memicu
adanya prostaglandin yang menyebabkan deman dan nyeri. Adanya obat-obat anti
nyeri, inilah yang bekerja menghambat enzim siklooksigenase yang memicu
adanya prostaglandin.
RUJUKAN

Kumar, Vinay; Ramzi S. Cotran; Stanley L. Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi
Robbins, Ed.7, Vol.1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Underwood, J.C. E. 1996. Patologi Umum dan Sistemik Edisi 2. Jakarta: EGC
Price.