Anda di halaman 1dari 85

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU TENTANG

PENATALAKSANAAN DM PADA PASIEN DM DI PUSKESMAS


SANGATTA SELATAN

Oleh:

dr. Akhmad Fahrozy


dr. Erviani Maulidya
dr. Fitria Rimadhanty Setyaningtyas
dr. Hendry Purwanto
dr. Lita Novia Anggraini
dr. Samuel H. Sihotang
dr. Victor Julius

DOKTER INTERNSHIP
WAHANA KABUPATEN KUTAI TIMUR
SANGATTA
2016
DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul ............................................................................................................... I

Daftar Isi ....................................................................................................................... xii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 4
C. Pertanyaan Penelitian ........................................................................................ 4
D. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 5
E. Manfaat Penelitian ............................................................................................ 5
F. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................................ 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum
1. Geografi........................................................................................................ 7
2. Demograi...................................................................................................... 8

A. Diabetes Melitus
1. Pengertian Diabetes Mellitus ..................................................................... 7
2. Klasifikasi Diabetes Mellitus ..................................................................... 8
3. Patofisiologi Diabetes Mellitus .................................................................. 9
4. Faktor Resiko Diabetes Mellitus ................................................................ 10
5. Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus ......................................................... 13
6. Komplikasi Diabetes Mellitus .................................................................... 14
B. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
1. Edukasi ....................................................................................................... 15
2. Diet ............................................................................................................. 16
3. Exercise ...................................................................................................... 17
4. Terapi Obat ................................................................................................. 18
5. Pemantauan Kadar Gula darah dan Mencegah Komplikasi ....................... 20
C. Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan .......... .................................................................. 21
2. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan ..................................... 22
3. Tingkat Pengetahuan .................................................................................. 23
D. Perilaku
1. Definisi Perilaku ........................................................................................ 25
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku ............................................. 26
3. Pengukuran Perilaku ................................................................................. 27
4. Tujuan Perubahan Perilaku Pasien DM .................................................... 28
E. Kerangka Teori ............................................................................................... 30

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL


A. Kerangka Konsep ............................................................................................ 32
B. Definisi Operasional ........................................................................................ 33

BAB IV METODE PENELITIAN


A. Desain Penelitian ............................................................................................ 38
B. Populasi dan Sampel........................................................................................ 38
C. Teknik Pengambilan Sampel .......................................................................... 39
D. Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................................... 40
E. Instrumen Penelitian ....................................................................................... 40
F. Metode Pengumpulan Data .............................................................................. 43
G. Pengolahan Data ............................................................................................. 44
H. Teknik Analisa Data ........................................................................................ 45
. I. Etika Penelitian ................................................................................................ 47

BAB V HASIL PENELITIAN..................................................................................... 46

BAB VI PEMBAHASAN............................................................................................ 59

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN..................................................................... 72

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Diabetes melitus (DM) adalah salah satu penyakit kronik yang terjadi

pada jutaan orang di dunia (American Diabetes Assosiation/ADA, 2004). DM

merupakan sekelompok penyakit metabolik dengan karakteristik terjadinya

peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemi), yang terjadi akibat kelainan

sekresi insulin, aktivitas insulin dan keduanya (Smeltzer & Bare, 2008). DM

adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen

dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Jika telah

berkembang penuh secara klinis, maka DM ditandai oleh hiperglikemia,

arterosklerotik, mikroangiopati dan neuropati (Price. et al. 2005).

Menurut survey yang dilakukan oleh World Health Organization / WHO

(2011), prevalensi DM diperkirakan terus bertambah dan lebih meningkat di

negara-negara yang sedang berkembang. WHO (2011), menyebutkan

penyandang DM di dunia pada tahun 2000 berjumlah 171 juta orang. Jika

tidak ada tindakan lanjut untuk penanganan DM, jumlah ini diperkirakan akan

meningkat menjadi 552 juta pada tahun 2030. International Diabetic Federation

(IDF) memperkirakan bahwa sebanyak 183 juta orang tidak menyadari bahwa

mereka mengidap DM. Sebesar 80% orang dengan DM tinggal di negara

berpenghasilan rendah dan menengah, (IDF, 2011). Pada tahun 2006, terdapat

lebih dari 50 juta orang yang menderita DM di Asia


Tenggara (IDF, 2009). Jumlah penderita DM terbesar berusia antara 40-59

tahun (IDF, 2011).

Hasil dari Riskesdas (2013) mengatakan bahwa prevalensi DM di

perkotaan cenderung lebih tinggi daripada di pedesaan, dan cenderung lebih

tinggi pada masyarakat yang pendidikannya tinggi. Penyakit Diabetes

Mellitus termasuk 10 penyakit terbanyak di Kecamatan Sangatta Selatan.

(Laporan Triwulan, 2016).

Prevalensi DM yang terus meningkat, secara tidak langsung akan

meningkatkan angka kesakitan dan kematian akibat komplikasi DM.

Diperkirakan pada tahun 2030 berjumlah 366 juta penderita DM dan 3,2 juta

kematian setiap tahunnya yang disebabkan oleh komplikasi penyakit ini,

seperti penyakit jantung, ginjal, kebutaan, aterosklerosis, bahkan sebagian

tubuh bisa diamputasi (PERKENI, 2006). Dampak DM terhadap kehidupan

dan kesehatan merupakan hal yang perlu di pertimbangkan dan hal-hal kecil

secara signifikan dapat berkembang dengan cepat pada pasien DM yang dapat

menimbulkan kecacatan dengan merusak fungsi tubuh individu dan kualitas

hidupnya sehingga memberikan dampak negatif terhadap kualitas dan lama

hidup (Hogan, et all., 2010).

Melihat kenaikan DM secara global yang terutama disebabkan karena

perubahan gaya hidup yang kurang sehat, maka dapat disimpulkan dalam

kurun waktu satu atau dua dekade yang akan datang kejadian DM di

Indonesia akan meningkat drastis. Tindakan pengendalian DM untuk

mencegah komplikasi sangat diperlukan, khususnya dengan menjaga tingkat


gula darah sedekat mungkin dengan noral.pengendalian gula darah ini sangat

sulit untuk dipertahankan. Kejadian ini disebabkan karena tidak disiplinnya

penderita dalam penatalaksanaan DM (Waspadji, 2007).

Menurut Perkeni (2006) penatalaksanaan DM terdiri dari 5 pilar yaitu;

edukasi, diet DM, exercise/latihan fisik, kepatuhan obat, selain itu juga

termasuk pencegahan DM dengan pemantauan kadar gula darah dan

perawatan kaki. Sesuai dengan tujuan penatalaksanaan DM yang disebutkan

dalam Perkeni (2006) yaitu untuk menciptakan perilaku sehat dalam

penanganan DM sesuai dengan penatalaksanaan yang dianjurkan. Perilaku

sehat adalah suatu respon organisme terhadap stimulus atau obyek yang

berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan

dan minuman serta lingkungan (Notoatmodjo, 2003).

Berdasarkan penelitian tentang perilaku dari Rogers yang dikutip oleh

Notoatmojo (2007) mengatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan

domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan atau perilaku

seseorang. Pengetahuan penderita tentang DM merupakan sarana yang dapat

membantu penderita menjalankan penanganan DM selama hidupnya sehingga

semakin baik penderita mengerti tentang penyakitnya semakin mengerti

bagaimana harus berperilaku dalam penanganan penyakitnya (Waspadji,

2004)

Penelitian yang dilakukan Gultom (2012), didapatkan hasil gambaran

tentang manajemen DM-nya rendah. Pada penelitian Mahmudin (2012)

didapatkan hasil yang menunjukkan 80,3% mayoritas responden memiliki

manajemen mandiri DM tipe 2 yang baik pada aspek nutrisi dan kepatuhan
pada terapi obat 91,8%, sementara tidak baik pada latihan fisik 52,5% dan

monitor gula darah 50,8%.

Hasil dari pengamatan pada penderita DM yang berkunjung di

Puskesmas Sangatta Selatan didapatkan hasil bahwa pasien sudah

mendapatkan informasi tentang cara penatalaksanaan DM dari dokter dan tim

kesehatan yang ada di Puskesmas Sangatta Selatan. Disini peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian tentang gambaran pengetahuan dan perilaku

tentang penatalaksanaan DM pada pasien DM di Puskesmas S a n g a t t a

S e l a t a n karena semakin meningkatnya penderita DM di puskesmas

Sangatta Selatan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan dari latar belakang di atas, DM merupakan

penyakit kronik yang banyak ditemukan di Indonesia. Prevalensi penderita

DM di dunia semakin meningkat bersamaan dengan komplikasinya.

Pencegahan keparahan penyakit DM dilakukan dengan penatalaksanaan DM,

hal ini berkaitan dengan pengetahuan dan perilaku penderita DM dalam

melakukan penatalaksanaan DM. Sehingga disini peneliti tertarik melakukan

penelitian dengan tujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan

perilaku tentang penatalaksanaan DM di Puskesmas Sangatta Selatan.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran pengetahuan dan perilaku penatalaksanaan DM pada

pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan ?


D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku tentang

penatalaksanaan DM pada pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan data demografi pasien Diabetes Melitus di

Puskesmas Sangatta Selatan meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan,

pekerjaan, penyakit penyerta dan lama menderita DM.

b. Mengetahui pengetahuan dan perilaku pasien DM tentang

Penatalaksanaan DM (edukasi, diet, obat-obatan DM, latihan jasmani,

pemantauan kadar gula darah dan perawatan kaki).

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapakan dapat menjadi latihan peneliti dan

meningkatkan critical thinking peneliti untuk mengetahui karakteristik

penderita DM, pengetahuan dan perilaku pasien DM tentang

penatalaksanaan DM. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk

melengkapi salah satu tugas selama menjalankan program dokter

internship di Wahana Puskesmas Sangatta Selatan.

2. Bagi Puskesmas

Penulisan penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pihak tim kesehatan

di puskesmas untuk memberikan pendidikan kesehatan sedini mungkin

untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penatalaksanaan DM


dan merubah perilaku pasien DM untuk mencegah keparahan penyakit

dan meningkatkan kualitas kesehatan pasien DM.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan oleh Dokter Internship Wahana Puskesmas

Sangatta Selatan yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan

dan perilaku tentang Penatalaksanaan DM pada pasien DM di Puskesmas

Sangatta Selatan . Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan

pendekatan kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah semua penderita DM

yang datang berkunjung ke Puskesmas Sangatta Selatan. Tehnik pengambilan

sampel (non probability sampling) yaitu accidental sampling dengan jumlah

sampel 58 . Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Sangatta Selatan pada

bulan Mei 2016.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Umum

1. Geografi
Wilayah kerja Puskesmas Sangatta Selatan meliputi Kecamatan Sangatta

Selatan yang mencakup 4 desa, yaitu: Desa Sangatta Selatan, Desa Singa

Geweh (termasuk Muara Gabus), Desa Sangkima (termasuk Sangkima Airport)

dan Desa Teluk Singkama (Sangkima Lama/Sangkima DAM).

Adapun letak geografisnya antara 1155626BT-1185819BT dan

1170LS-15239LU. Batas-batasnya yaitu:

a) Sebelah Utara : Kecamatan Sangatta Utara


b) Sebelah Selatan : Kecamatan Teluk Pandan
c) Sebelah Barat : Taman Nasional Kutai/ Kabupaten KUKAR
d) Sebelah Timur : Laut/ Selat Makassar

UPT. Puskesmas Sangatta terletak di Ibu kota Kecamatan Sangatta

Selatan (yaitu di Desa Sangatta Selatan) yang berbatasan langsung dengan ibu

kota Kabupaten Kutai Timur (kecamatan Sangatta Utara) dibatasi oleh sungai

Sangatta, sehingga jarak tempuh dari kota Kabupaten Kutai Timur ke kota

Kecamatan Sangatta sangat dekat (1 km) dan desa terjauh dari kota

Kabupaten Kutai Timur adalah desa Teluk Singkama ( 25 km) dan desa

Sangkima ( 13-20 km).


Peta Wilayah Kerja UPT. Puskesmas Sangatta Selatan

Adapun Gambaran Umum Luas Wilayah Kecamatan di Wilayah Puskesmas


Sangatta Selatan dapat di lihat pada grafik berikut:

NO DESA LUAS JUMLAH JUMLAH RATA-RATA KEPADATAN


WILAYAH PENDUDUK RUMAH JIWA/RUMAH PENDUDUK
(km) TANGGA TANGGA per km

1 Sangatta Selatan 5,001 16,396 5,392 3.04 3,28

2 Singa Geweh 3,552 9,192 3,209 2.86 2,59

3 Sangkima 4,023 4,630 1,808 2.56 1,15

4 Sangkima Lama 2,130 2,830 1,241 2.28 1,33

14,716 33,055 11,650 2.84 2,25

Dari Tabel 1 tampak jelas bahwa desa Sangatta Selatan merupakan daerah

terluas, yaitu seluas 5001 km dan dengan mempunyai jumlah penduduk

terbanyak yaitu 16,396 jiwa hal ini di sebabkan desa ini merupakan daerah

perniagaan, ini berbanding terbalik dengan desa Sangkima Lama.

2. Demografi

Jumlah penduduk Puskesmas Sangatta Selatan Kecamatan Sangatta

Selatan tahun 2014 berjumlah 33.055 jiwa. Distribusi penduduk menurut jenis

kelamin adalah terdiri dari 18.028 jiwa penduduk laki-laki dan 15.027 jiwa
penduduk perempuan dengan rasio jenis kelamin 119.97 hal ini dapat dilihat

pada tabel di bawah.

Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin Wilayah Kerja Puskesmas
Sangatta Kecamatan Sangatta Selatan Tahun 2013

No DESA JUMLAH TOTAL RASIO JENIS


KELAMIN
LAKI-LAKI PEREMPUAN
1. Sangatta Selatan 9.098 7.298 16.396 124.66
2. Singa Geweh 4.928 4.264 9.192 115.57
3 Sangkima 2.469 2.161 4.630 114.25
4 Sangkima Lama 1.533 1.304 2.837 117.56
JUMLAH 18.028 15.027 33.055 119.97

Penduduk yang berada di wilayah kerja UPT. Puskesmas Sangatta Selatan

terdiri berbagai suku, seperti: suku kutai, suku jawa, suku bugis, suku banjar

yang hampir sebagian besar penganut agama Islam. Untuk pengantar bahasa

dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa Indonesia. Untuk memenuhi

kebutuhan penduduk sehari-hari, mata pencaharian penduduk sangat beragam.

Ada yang berprofesi sebagai pedagang, petani, pekerja swasta (pertambangan

dan perminyakan) serta pekerja PNS.

Proporsi jumlah sarana pendidikan terhadap jumlah penduduk usia sekolah

menurut tingkatannya memperlihatkan adanya kesenjangan antara jumlah

sarana pendidikan yang tersedia dengan jumlah penduduk usia sekolah.

Distribusi Jumlah Sarana Pendidikan dan Jumlah Penduduk Usia Sekolah


Menurut Tingkatannya
No Tingkat Pendidikan Jumlah Sekolah
1. TK 7
2. SD dan Sederajat 15
3. SMP dan Sederajat 5
4. SMA dan Sederajat 3
Sumber: UPT. Pendidikan Kec. Sangatta Selatan.

B. Diabetes Melitus

1. Pengertian Diabetes Mellitus


Menurut WHO (2006), Diabetes melitus adalah gangguan metabolik

yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah yang disebut

Hiperglikemia dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan

protein yang disebabkan karena kerusakan dalam produksi insulin dan

kerja dari insulin tidak optimal. Diabetes melitus adalah suatu kumpulan

gejala yangn timbul karena adanya peningkatan kadar glukosa darah

akibat penurunan sekresi insulin yang progresif yang dilatar belakangi

oleh retensi insulin (Suyono,2009).

Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis

dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya

toleransi karbohidrat. Apabila sudah berkembang penuh secara klinis,

maka diabetes melitus ditandai oleh hiperglikemia, arterosklerotik,

mikroangiopati dan neuropati (Price & Wilson, 2006). Sedangkan

menurut (Lemone & Burke, 2008) diabetes melitus adalah sekelompok

penyakit yang dikarakteristikan oleh hiperglikemia akibat dari kelainan

sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya.

Menurut Perkeni (2011) dan ADA (2012) Diabetes mellitus adalah

suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemi

yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, gangguan kerja insulin atau

keduanya, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata,

ginjal, saraf dan pembuluh darah

2. Klasifikasi Diabetes Mellitus menurut WHO (2006)

a. Diabetes Melitus Tipe 1

Pada Diabetes Melitus Tipe satu dikenal dengan Diabetes


tergantung Insulin. Tipe ini berkembang jika sel-sel Beta Pnkreas

memproduksi insulin terlalu sedikit atau tidak memproduksi sama

sekali, yang disebabkan autoimunitas atau idiopatik. Diabetes Tipe 1

disebabkan karena kerusakan sel beta yang menyebabkan defisiensi

insulin absolut (Sutjahjo dkk, 2006). Penderita Diabetes Tipe 1 ini

sekitar 5-10% penderita DM.

b. Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes Melitus tipe 2 dikenal sebagai diabetes tidak tergantung

insulin. Diabetes tipe ini berkembang ketika tubuh masih

menghasilkan insulin tetapi tidak cukup dalam pemenuhannya atau

bisa juga insulin yang dihasilkan mengalami resistensi yang

menyebabkan insulin tidak dapat bekerja secara maksimal. Kondisi

pada pasien tipe 2 bervariasi, mulai dari resistensi insulin disertai

defisiensi insulin relatif sampai yang domin. an defek sekresi insulin

disertasi resistensi insulin (Sutjahjo dkk, 2006). Sekitar 90-95%

penderita DM adalah Diabetes Tipe 2.

c. Diabetes Melitus Gestasional (DMG)

DMG diakibatkan dari kombinasi kemampuan reaksi dan

pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup. Biasanya terjadi pada

kehamilan dan akan sembuh setelah melahirkan. Penderita DMG

terjadi 2-5% dari seluruh kehamilan.

d. Diabetes Melitus Tipe Lain

DM disebabkan karena kelainan genetic, penyakit pancreas, obat,

infeksi, antibody, sindroma penyakit lain. Diabetes tipe lain dapat juga
disebabkan defek genetik fungsi insulin, defek genetik kerja insulin,

penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia

(Sutjahjo dkk, 2006).

3. Patofisiologi Diabetes Mellitus

Semua tipe Diabetes Melitus, sebab utamanya adalah hiperglikemi

atau tingginya gula darah dalam tubuh yang disebabkan sekresi insulin,

kerja dari insulin atau keduanya (Ignativicius & Workman, 2006).

Defisiensi insulin dapat terjadi melalui 3 jalan, yaitu (ADA, 2012) :

a. Rusaknya sel-sel pancreas. Rusaknya sel beta ini dapat

dikarenakan genetik, imunologis atau dari lingkungan seperti

virus. Karakteristik ini biasanya terdapat pada Diabetes Melitus

tipe 1.

b. Penurunan reseptor glukosa pada kelenjar pankreas.

c. Kerusakan reseptor insulin di jaringan perifer.

Diabetes mellitus mengalami defisiensi insulin menyebabkan

glukagon meningkat sehingga terjadi pemecahan gula baru

(glukoneogenesis) yang menyebabkan metabolisme lemak maningkat

kemudian terjadi proses pembentukan keton (ketogenesis). Terjadinya

peningkatan keton di dalam plasma akan menyebabkan ketonuria (keton

dalam urin) dan kadar natrium menurun serta pH serum menurun yang

menyebabkan asidosis.

Defisiensi insulin ini menyebabkan penggunaan glukosa oleh sel

menjadi menurun sehingga kadar glukosa darah dalam plasma tinggi

(hiperglikemi). Jika hiperglikemianya parah dan melebihi ambang ginjal


maka timbul glikosuria. Glukosuria ini akan menyebabkan deuresis

osmotik yang meningkatkan pengeluaran kemih (poliuri) dan timbul rasa

haus (polidipsi) sehingga terjadi dehidrasi. Glukosuria menyebabkan

keseimbangan kalori negatif sehingga menimbulkan rasa lapar (polifagi).

Penggunaan glukosa oleh sel menurun mengakibatkan produksi

metabolisme energi menjadi menurun sehingga tubuh menjadi lemah

(Price, 2000).

4. Faktor Resiko

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya peningkatan kadar

gula darah dan DM yaitu :

a. Usia

Golberg dan Coon (2006) menyatakan bahwa usia sangat erat

kaitannya dengan kenaikan kadar glukosa darah, sehingga semakin

meningkat usia, maka prevalensi DM dan gangguan toleransi gula

darah semakin tinggi. Umumnya manusia mengalami perubahan

fisiologis yang menurun dengan cepat setelah usia 40 tahun. DM

sering muncul setelah usia lanjut terutama setelah berusia 45 tahun

pada mereka yang berat badannya berlebih, sehingga tubuhnya tidak

peka terhadap insulin. (Hadibroto et al, 2010)

b. Jenis Kelamin

Meskipun belum diketahui secara pasti jenis kelamin terhadap

diabetes mellitus dan peningkatan kadar gula darah, namun jenik

kelamin menjadi salah satu faktor resiko diabetes mellitus. Insiden

diabetes adalah 1,1 per 1000 orang/tahun pada wanita dan 1,2 per 1000

orang/tahun pada laki-laki (Creator, et al, 2010).


c. Keturunan (Genetik)

Diabetes melitus dapat diturunkan dari keluarga sebelumnya yang

juga menderita DM, karena kelainan gen mengakibatkan tubuhnya

tidak dapat menghasilkan insulin dengan baik. Tetapi resiko terkena

DM juga tergantung pada faktor kelebihan berat badan, kurang gerak

dan stress. (Hadibroto et al, 2010)

d. Kegemukan/Obesitas

1) Perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup barat

Stres kronis cenderung membuat seseorang mencari makanan yang

manis-manis dan berlemak tinggi untuk meningkatkan kadar

serotonin otak. Serotonin ini memiliki efek penenang

sementara untuk menurunkan stres, tetapi gula dan lemak dapat

berakibat fatal dan beresiko terjadinya DM.

2) Makan berlebihan

Obesitas bukanlah karena makanan yang manis dan kaya lemak

saja, tetapi juga disebabkan karena konsumsi yang terlalu banyak

yang disimpan danlam tubuh dan sangat berlebihan

3) Hidup santai dan kurang aktifitas

(Hadibroto et al, 2010)

e. Lama Menderita DM

Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis dan menahun. Oleh

karena itu pengendalian terhadap kanikan gula darah perlu sekali

diperhatikan. Dampak dari tidak terkontrolnya gula darah adalah

komplikasi. Komplikasi kronik DM adalah sebagai akibat kelainan

metanolik yang ditemui pada pasien DM (Waspadji, 2009). Semakin


lama pasien menderita DM dengan kondisi hiperglikemi, maka

semakin tinggi kemungkinan terjadinya komplikasi kronik.

f. Penyakit Penyerta

Penderita DM mempunyai resiko untuk terjadinya penyakit

jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak dua kali lebih

besar, lima kali mudah terkena ulkus atau gangren, tujuh kali lebih

mudah terkena gagal ginjal terminal, 25 kali lebih mudah mengalami

kebutaan akibat kerusakan retina dari pada penderita non diabetes

mellitus (Waspadji, 2009). Bila sudah terjadi penyulit, usaha untuk


penyembuhan melalui pengontrolan kadar gula darah dan pengobatan

penyakit tersebut ke arah normal sangat sulit. Kerusakan yang sudah

terjadi umumnya akan menetap (Waspadji, 2009).

5. Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus

Tanda dan Gejala Diabetes Melitus dapat digolongkan menjadi gejala

akut dan gejala kronik (Ignativicius dan Workman, 2006; Perkeni, 2011) :

a. Gejala Akut Penyakit Diabetes Melitus

Gejala penyakit Diabetes Melitus dari satu penderita ke penderita

lain bervariasi, bahkan mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun

sampai saat tertentu. Permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi serba

banyak (poli) yaitu banyak makan (poliphagi), banyak minum

(polidipsi) dan banyak kencing (poliuri). Keadaan tersebut, jika tidak

segera diobati maka akan timbul gejala banyak minum, banyak

kencing, nafsu makan mulai berkurang/berat badan turun dengan cepat

(turun 5 10 kg dalam waktu 2 4 minggu), mudah lelah, dan bila

tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual, bahkan penderita akan jatuh

koma yang disebut dengan koma diabetik.

b. Gejala Kronik Diabetes Melitus

Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita Diabetes Melitus

adalah kesemutan; kulit terasa panas, atau seperti tertusuktusuk jarum;

rasa tebal di kulit; kram; capai; mudah mengantuk, mata kabur,

biasanya sering ganti kacamata; gatal di sekitar kemaluan terutama


wanita; gigi mudah goyah dan mudah lepas kemampuan seksual

menurun, bahkan impotensi dan para ibu hamil sering mengalami

keguguran atau kematian janin dalam kandungan, atau dengan bayi

berat lahir lebih dari 4 kg (Soegondo dkk, 2004).

6. Komplikasi DM dan Pencegahan

Angka kejadian komplikasi pada pasien DM sekitar 15% terjadi pada

DM Tipe 1 dan 85% terjadi pada DM tipe 2 (Bate and Jerums, 2003).

Kondisi kadar gula darah tetap tinggi akan timbul berbagai komplikasi.

Komplikasi pada Diabetes Melitus dibagi menjadi dua yaitu komplikasi

akut dan komplikasi kronis. Komplikasi akut meliputi ketoasidosis

diabetik, hiperosmolar non ketotik, dan hipoglikemia (Perkeni, 2011).

Komplikasi kronik adalah makroangiopati, mikroangiopati dan neuropati

(Soegondo dkk, 2004).

Secara umum komplikasi DM dibagi menjadi 2:

a. Komplikasi Makrovaskular (Makroangiopati)

Komplikasi meliputi penyakit pembuluh darah besar, termasuk

penyakit jantung koroner dan stroke, adalah penyebab terbesar

kematian dan kesakitan pada pasien DM. Pencegahan komplikasi

Makrovaskular pengaturan gaya hidup meliputi modifikasi diet,

latihan fisik secara teratur, berhenti merokok, mengatasi hipertensi,

kontrol dyslipidaemia, kontrol hiperglikemi, pengontrolan kadar gula

darah secara intensif mengurangi resiko terjadinya retinopathy.


b. Komplikasi Mikrovaskular (Mikroangiopati)

Secara umum mekanisme komplikasi mikrovaskular merupakan

dampak dari hiperglikemia yang lama, dengan kekambuhan

hipertensi. Bentuk-bentuk komplikasi mikrovaskular adalah diabetic

nephropathy, peripheral neuropathy, retinopathy.

C. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Tujuan penatalaksanaan secara umum menurut PERKENI (2006) adalah

meningkatkan kualitas hidup penderita DM. Prinsip penanganan Diabates

Melitus secara umum ada lima sesuai dengan Konsensus Pengelolaan DM di

Indonesia (2006) dan Perkeni (2011) yaitu :

1. Edukasi

Diabetes Melitus umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan

perilaku telah terbentuk dengan kokoh. Keberhasilan pengelolaan diabetes

mandiri membutuhkan partisipasi aktif penderita, keluarga dan

masyarakat. Tim kesehatan harus mendampingi penderita dalam menuju

perubahan perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku,

dibutuhkan edukasi yang komprehensif pengembangan ketrampilan dan

motivasi. Edukasi secara individual dan pendekatan berdasarkan

penyelesaian masalah merupakan inti perubahan perilaku yang berhasil.

Perubahan perilaku hampir sama dengan proses edukasi yang

memerlukan penilaian, perencanaan, implementasi, dokumentasi dan

evaluasi (PERKENI, 2006).


Edukasi DM adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan

dan keterampilan bagi pasien DM guna menunjang perubahan perilaku,

meningkatkan pemahaman pasien tentang penyakitnya, sehingga tercapai

kesehatan yang optimal, penyesuaian keadaan psikologis dan peningkatan

kualitas hidup (Soegondo et al, 2009).

2. Diet

Diet DM sangat dianjurkan untuk mempertahankan kadar glukosa

darah mendekati normal, mencapai kadar serum lipid yang optimal, dan

menangani komplikasi akut serta meningkatkan kesehatan secara

keseluruhan (Sukardji, 2009). Standar yang dianjurkan adalah makanan

dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein, lemak,

sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut (PERKENI, 2006):

a. Karbohidrat : 60 70% total asupan energy

b. Protein : 10 20% total asupan energy

c. Lemak : 20 25 % kebutuhan kalori

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur,

stres akut, dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan mempertahankan

berat badan ideal. Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari berat badan

ideal dikali kebutuhan kalori basal (30 Kkal/kg BB untuk laki-laki dan 25

Kkal/kg BB untuk wanita). Kemudian ditambah dengan kebutuhan kalori

untuk aktifitas, koreksi status gizi, dan kalori yang diperlukan untuk

menghadapi stres akut sesuai dengan kebutuhan. Pada dasarnya kebutuhan

kalori pada diabetes tidak berbeda dengan non diabetes yaitu harus dapat

memenuhi kebutuhan untuk aktifitas baik fisik maupun psikis dan untuk
mempertahankan berat badan supaya mendekati ideal (PERKENI, 2006).

Menurut PERKENI (2006) bahan makanan yang dianjurkan dan tidak

dianjurkan untuk penderita Diabetes Mellitus

Tabel 2.1 Bahan Makanan Yang dianjurkan dan tidak dianjurkan untuk Penderita DM

Makanan yang dianjurkan Makanan yang tidak dianjurkan

a. Sumber karbohidrat kompleks : nasi, a. Makanan yang mengandung banyak gula

roti, kentang, singkong, ubi dan sagu. : gula pasir, gula jawa, sirop, jeli, buah-

buahan yang diawetkan dengan gula,


b. Sumber protein rendah lemak : ikan,
susu kental manis, minuman ringan, es

ayam, tanpa kulit, susu skim, tempe, krim, kue manis, dodol, cake, dan tarcis.

tahu dan kacang-kacangan. b. Makanan yang mengandung banyak


lemak
c. Sumber lemak dalam jumlah terbatas :
: cake, makan siap saji (fast food),
makanan yang diolah dengan cara di
goreng- gorengan.
panggang, dikukus, dibakar dan direbus.
c. Makanan yang mengandung banyak
garam

: ikan asin, telur asin, makanan yang

diawetkan.

3. Exercise (latihan fisik/olah raga)

Dianjurkan latihan secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang

lebih 30 menit, yang sifatnya sesuai dengan CRIPE

(Continous, Rhythmical, Interval, Progresive, Endurance Training) sesuai

dengan kemampuan pasien. Kegiatan sehari hari seperti berjalan kaki

ke pasar, menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan. Selain

untuk menjaga kebugaran juga, latihan jasmani dapat menurunkan berat

badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki


kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan

jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan kaki, bersepeda santai,

jogging, dan berenang (Soegondo,2005).

Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status

kesegaran jasmani. Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan

jasmani bisa ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat komplikasi

DM dapat dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau

bermalas-malasan (PERKENI,2006). Latihan Fisik pada pasien DM

sangat dianjurkan untuk mengendalikan berat badan, kadar gula darah,

tekanan darah dan yang paling penting memicu pengaktifan produksi

insulin dan membuat kerjanya menjadi lebih efisien. Kecuali untuk pasien

DM yang tidak terkontrol akan meningkatkan kadar gula darah (Yunir &

ssoebardi, 2006).

4. Terapi Obat

Pemberian terapi obat hipoglikemik oral (OHO) atau dengan injeksi

insulin dapat membantu pemakaian gula dalam tubuh pada penderita

diabetes. Pemberian terapi insulin dimulai apabila obat-obat penurun gula

oral dan pengelolaan gaya hidup tidak optimal. Pemberian insulin dengan

memperhatikan inisiasi atau peningkatan dosis insulin untuk melihat hasil

tanggapannya. IDF (2005) menjelaskan ke diabetisi sejak waktu diagnosa

bahwa insulin itu merupakan satu opsi yang tersedia untuk membantu

manajemen diabetes mereka dan diperlukan cara memelihara kendali

glukosa darah, khususnya dalam jangka lebih panjang.

Pengobatan diabetes secara menyeluruh mencakup diet yang benar,

olah raga yang teratur, dan obat - obatan yang diminum atau suntikan
insulin. Pasien Diabetes tipe 1 mutlak diperlukan suntikan insulin setiap

hari. Pasien Diabetes tipe 2, umumnya pasien perlu minum obat

antidiabetes secara oral atau tablet. Pasien diabetes memerlukan suntikan

insulin pada kondisi tertentu, atau bahkan kombinasi suntikan insulin dan

tablet.

Jika pasien telah melakukan pengaturan makan dan latihan fisik

tetapi tidak berhasil mengendalikan kadar gula darah maka

dipertimbangkan pemakaian obat hipoglikemik.

Tujuan Pengobatan DM adalah :

a. Jangka pendek : hilangnya keluhan dan tanda DM, mempertahankan

rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian glukosa darah.

b. Jangka panjang: tercegah dan terhambatnya progresivitas penyulit

mikroangiopati, makroangiopati dan neuropati

5. Pemantauan kadar gula darah dan mencegah komplikasi

Gula merupakan bentuk karbohidrat yang paling sederhana yang

diabsorbsi kedalam darah melalui sistem pencernaan. Kadar gula darah ini

ankan meningkat setelah makan, dan biasanya akan turun pada level

terendah pada pagi hari sebelum orang makan. Kadar gula darah diatur

melalui umpan balik negatif untuk mempertahankan keseimbangan dalam

tubuh (Price, 2006; Smeltzer, 2008). Menurut kriteria diagnostik

PERKENI (2006) seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki

kadar gula darah puasa 126 mg/dL pada plasma vena dan 100 mg/dL

pada darah kapiler sedangkan gula darah sewaktu 200 mg/dL pada

plasma vena dan 200 pada darah kapiler.


Kadar gula darah sangat penting dipertahankan pada kadar yang

stabil, sekitar 70-120 mg/dL untuk mempertahankan fungsi otak dan

suplai jaringan secara optimal. Kadar glukosa darah juga perlu dijaga agar

tidak meningkat terlalu tinggi, mengingat gula juga berperan terhadap

tekanan osmotik cairan ekstra seluler (Robbins, 2007).

Penderita Diabetes rentan untuk mengalami komplikasi berupa luka

atau borok yang sukar sembuh. Seringnya mereka mendapati luka yang

sukar sembuh pada daerah kaki, dimana untuk itu perawatan kaki yang

teratur sangat diperlukan antara lain yaitu:

a. Jaga kelembaban kulit dengan menggunakan lotion yang tidak

menimbulkan alergi.

b. Potong kuku secara teratur dan ratakan ujung kuku dengan

menggunakan kikir, jangan pernah memotong ujung kuku terlalu

dalam.

c. Menggunakan alas kaki yang nyaman dan sesuai dengan bentuk serta

ukuran kaki.

d. Menggunakan bahan sepatu yang lembut dan sol yang tidak keras.

Pakai sepatu tertutup jika hendak bepergian keluar rumah.

e. Waspada jika terdapat luka sekecil apapun, segera obati dengan

antiseptik. (Perkeni, 2006)

Pemeriksaan kadar gula darah bertujuan untuk mencegah dan

mendeteksi kemungkinan terjadinya hipoglikemi dan hiperglikemi

sehingga dapat segera ditangani untuk menurunkan resiko komplikasi dari

DM (Smeltzer et al, 2008).


D. Pengetahuan

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan

terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).

2. Faktor faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

a. Pengalaman

Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun oramg

lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas

pengetahuan seseorang.

b. Tingkat Pendidikan

Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang.

Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan

mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan

seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.

c. Keyakinan

Biasanya keyakinan diperoleh secara turun menurun dan tanpa adanya

pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa mempengaruhi

pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu sifatnya positif maupun

negatif.
d. Fasilitas

Fasilitas fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, televisi,

majalah, koran, dan buku.

3. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain

kognitif mempunyai 6 tingkatan, antara lain:

a. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah

mengingat kembali atau recall terhadap suatu hal yang spesifik dan

seluruh bahan yang dipelajari atau ransangan yang diterima.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara

benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan

materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk mengungkapkan materi

yang telah dipelajari pada suatu atau kondisi sebenarnya. Aplikasi di

sini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus,

metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau suatu lain.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam


suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama

lain.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis merujuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-

penilaian ini di dasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri

atau menggunakan kriteria-kriteria yang sudah lama.

Menurut Suriassumantri dan Jujun (2005), ada dua cara pada

manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar yaitu melalui rasio

dan pengalaman. Rasio adalah pengetahuan yang bersifat abstrak dan pra

pengetahuan yang di dapatkan melalui penalaran manusia tidak

memerlukan pengamatan fakta yang ada. Sedangkan pengalaman adalah

jenis pengetahuan yang didapat dari indra manusia berdasarkan

pengalaman pribadi berupa fakta dan informasi yang konkret dan

memerlukan pembuktian lebih lanjut.

Menurut Arikunto (2010) tingkat pengetahuan dikategorikan menjadi

3 yaitu:

a. Kategori baik : menjawab benar 76% - 100%

b. Kategori Cukup : menjawab benar 56% - 75%

c. Kategori Kurang: menjawab benar < 56%


E. Perilaku

1. Definisi Perilaku

Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau

aktivitas organisme yang bersangkutan. Perilaku manusia hakekatnya

adalah suatu aktivitas manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia

mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup; berjalan, berbicara,

bereaksi, berpakaian, dan lain sebagainya. Perilaku dapat dikatakan apa

yang dikerjakan secara langsung atau secara tidak langsung (Notoatmodjo,

2011).

Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme)

terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem

pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan. Hal yang paling penting

dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan

perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan

atau promosi kesehatan sebagai penunjang program kesehatan yang

lainnya. (Notoatmodjo, 2010)

Menurut Skiner (1938) dalam Notoatmodjo (2010) berdasarkan teori

S-O-R, perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :

a. Perilaku Tertutup (covert behavior)

Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut

masih belum dapat diamati orang lain secara jelas. Respons seseorang

masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi,

pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk


unobservable behavior atau covert behavior yang dapat diukur

adalah pengetahuan dan sikap.

b. Perilaku Terbuka (overt behavior)

Perilaku terbuka ini terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut

sudah berupa tindakan atau praktik ini dapat diamati orang lain dari

luar atau observable behavior.

Menurut Notoatmodjo (2007) ada beberapa tahapan yang terjadi pada

manusia sebelum berperilaku berdasarkan pengetahuan, yaitu :

a. Awarness (kesadaran), orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.

b. Interest, yaitu orang mulai tertarik terhadap stimulus.

c. Evaluation, yaitu menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus

tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik

lagi.

d. Tria, yaitu orang sudah mulai mencoba perilaku baru.

e. Adoption, yaitu subyek telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku

Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2003), perilaku diperilaku

oleh 3 faktor utama, yaitu:

a. Faktor Predisposisi (predisposing factors)

Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat

terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-


hal yang berkaitan dengan kesehatan,sistem nilai yang dianut

masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, pekerjaan,

dan sebagainya.

b. Faktor pendukung (enabling factors)

Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau

fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya: air bersih, tempat

pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan

makanan bergizi, dsb. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan

seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos

obat desa, dokter atau bidan praktek swasta, dsb. Termasuk juga

dukungan sosial, baik dukungan suami maupun keluarga.

c. Faktor penguat (reinforcing factors)

Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat

(toma), tokoh agama (toma), sikap dan perilaku pada petugas

kesehatan. Termasuk juga disini undang-undang peraturan-peraturan

baik dari pusat maupun dari pemerintah daerah yang terkait dengan

kesehatan.

3. Pengukuran Perilaku

Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui

dua cara, secara langsung, yakni dengan pengamatan (obsevasi), yaitu

mengamati tindakan dari subyek dalam rangka memelihara kesehatannya.

Sedangkan secara tidak langsung menggunakan metode mengingat


kembali (recall). Metode ini dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap

subyek tentang apa yang telah dilakukan berhubungan dengan obyek tertentu

(Notoatmodjo, 2005).

4. Tujuan Perilaku Kesehatan Pasien DM

Menurut Notoatmodjo (2003), perilaku kesehatan adalah suatu respon

(organisme) terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan

penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan.

Dari batasan ini, perilaku pemeliharaan kesehatan ini terjadi 3 aspek, yaitu :

a. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan bila sakit, serta pemeliharaan

kesehatan jika sudah sembuh dari sakit.

b. Perilaku peningkatan kesehatan, apapbila seseorang dalam keadaan sehat.

c. Perilaku gizi (makanan) dan minuman.

Menurut hasil Konsesus PERKENI tahun 2011 perilaku pasien DM yang

diharapkan meliputi :

a. Mengikuti pola makan sehat.

b. Meningkatkan kegiatan jasmani.

c. Menggunakan obat diabetes dan obat-obatan dalam keadaan khusus secara

aman dan teratur.

d. Melakukan pemantauan gula darah mandiri dan memanfaatkan data yang ada.

e. Melakukan perawatan kaki secara berkala.

f. Memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami keadaan sakit akut

dengan tepat.

g. Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan mau

bergabung dengan kelompok penyandang diabetes mellitus serta mengajak


keluarga untuk mengerti pengelolaan diabetes.Mampu memanfaatkan fasilitas

pelayanan kesehatan yang ada.


E. Kerangka Teori

Diabetes
Mellitus

Penatalaksanaan DM
Edukasi DM
Diet
Exercise / Latihan Fisik
Terapi Obat
Faktor Predisposisi
Pemantauan Kadar Gula
Pengetahuan
Darah dan mencegah Sikap
komplikasi (perawatan kaki) Pendidikan
Pekerjaan
Tradisi dan
kepercayaan

Faktor Penguat
Pengetahuan Perilaku
Sikap dan perilaku
tokoh masyarakat, agama
dan petugas kesehatan.

Pengalaman
Tingkat Pendidikan
Faktor Pendukung
Keyakinan Sarana Prasarana
Fasilitas Lingkungan

Bagan 2.1 Kerangka Teori Penelitian

(sumber : PERKENI 2006, 2011; Waspadji, 2009 ; Notoatmodjo 2003, 2007)


BAB III

KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL

DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal

khusus. Konsep hanya dapat langsung diamati atau diukur melalui konstruksi

atau yang disebut variabel (Satroasmoro et.al, 2010). Kerangka konsep

merupakan rangkuman dari kerangka teori yang dibuat dalam bentuk diagram

yang menghubungkan antara variabel yang diteliti dan variabel lain yang

terkait (Sastroasmoro et. Al, 2010).

Variabel adalah simbol atau lambang yang menunjukkan nilai atau

bilangan dari konsep. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel

bebas (independen). Variabel bebas adalah variabel yang bila ia berubah akan

mengakibatkan perubahan variabel lain (variabel dependen, variabel

predictor, variabel resiko atau kausa) (Sastroasmoro et.al, 2010). Variabel

bebas pada penelitian ini adalah pengetahuan dan perilaku. Variabel

independen (independent variable) adalah tipe variabel yang menjelaskan

atau mempengaruhi variabel yang lain. (Pengaruh, Bebas, Stimulus,

Prediktor)

Variabel dependen (dependent variable) adalah tipe variabel yang

dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. (Dipengaruhi, Terikat,

Output, Kriteria, Konsekuen).


B. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah suatu definisi yang didasarkan pada

karakteristik yang dapat diobservasi dari apa yang sedang didefinisikan, atau

mengubah konsep-konsep yang berupa konstruk dengan kata yang

menggambarkan perilaku atau gejala yang diamati yang dapat diuji dan

ditentukan kebenarannya oleh orang lain (Dahlan, 2008).


Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel

Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Pengetahuan Hasil tahu setelah Menggunakan Kuesioner B Baik = skor 15 20 Ordinal


(76% - 100%)
orang melakukan skala Guttman tentang Cukup = skor 11
14 (56% - 75%)
penginderaan dengan 20 tingkat Kurang = skor < 11
(< 56%)
terhadap suatu obyek pertanyaan pengetahuan.
(Arikunto, 2006)
tertentu.

Perilaku (Notoatmodjo,
Suatu kegiatan 2003)
atau Menggunakan Kuisioner C

aktivitas organisme kuesioner tentang

yang bersangkutan. perilaku

(Notoatmodjo, 2011) pasien.

Perilaku Kegiatan mencari tahu Kuesioner C, Presentase jawaban Nominal


Menggunakan

Edukasi dan mengikuti kuesioner perilaku Ya dan Tidak

penyuluhan berkaitan dengan 2 edukasi

dengan penyakit DM pertanyaan

untuk meningkatkan menggunakan

pengetahuan. skala guttman

(PERKENI,2006)

Perilaku Diet Suatu kegiatan untuk Kuesioner C Rata-rata berapa kali Nominal
Menggunakan

memenuhi kebutuhan kuesioner perilaku Diet dalam satu minggu.

untuk aktifitas guna dengan 5 (1-7 hari)

mempertahankan pertanyaan
berat
badan mendekati dalam rentang

normal (PERKENI, satu minggu

2006)

Perilaku Suatu kegiatan sehari- Menggunakan Kuesioner C Rata-rata berapa hari Nominal

Exercise/latih hari seperti jalan kaki, Kuesioner perilaku dalam satu minggu.

an fisik lari pagi, senam, dll. dengan 3 Exercise/latih 1-7 hari

Pernyataan an fisik

dalam rentang

satu minggu.

Perilaku Suatu kegiatan yang Menggunakan Kuesioner C Rata-rata berapa hari Nominal

Kepatuhan bertujuan untuk Kuesioner perilaku dalam satu minggu

obat mengobati suatu dengan 3 kepatuhan (1-7 hari)

keadaan sakit. Pernyataan obat

dalam rentang

satu minggu.

Perilaku Suatu kegiatan untuk Menggunakan Kuesioner C Persentase jawaban Nominal

Pemantauan mengontrol gula darah Kuesioner perilaku Ya dan Tidak

Kadar Gula dalam keadaan dengan 2 pemantauan

Darah normal. Pertanyaan kadar gula

Menggunakan darah

skala Guttman
Perilaku Suatu kegiatan Menggunakan Kuesioner C Baik: skor >Median Ordinal

Perawatan untuk merawat kuesioner perilaku Kurang Baik: Skor <

Kaki kebersihan kaki dengan 5 perawatan Median

untuk mencegah pertanyaan kaki Berdasarkan uji

komplikasi DM menggunakan normalitas dengan

skala guttman Kolmogorov-

Smirnov Z

Usia Jumlah tahun sejak Melihatdata Kuesioner A < 45 tahu Rasio

lahir hingga ulang Responden tentang data >45 tahun

tahun terakhir. demografi (Hadibroto et al,

2010)
Jenis Gender yang dibawa Melihat data Kuesioner A Nominal
1. Laki-laki

Kelamin sejak lahir pada pasien Responden tentang data 2. Perempuan

DM yang dibedakan demografi

antara jenis kelamin

laki-laki dan

perempuan.

Penyakit Penyakit yang ada Melihat data Kuesioner A 1. Tidak Ada Nominal

Penyerta pada penderita DM Responden data 2. Ada

yangn disebabkan demografi

oleh DM.

Lama Lama terdiagnosa DM Melihat Data Kuesioner A Dalam tahun Rasio

Menderita yang dialami pasien Responden data

DM demografi
Pendidikan Pendidikan formal Melihat data Kuesioner A Tidak tamat SD Nominal

yang telah diikuti oleh Responden data SD

responden (SD, SMP, Demografi SMP

SMA, dan PT) SMA

PT

Pekerjaan Suatu kegiatan untuk Melihat data Kuesioner A IRT Nominal

menghasilkan uang. Demografi data Swasta

demografi Pensiun

Pedagang

Petani

PNS

Lain-Lain

Tidak Bekerja
BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian diartikan sebagai suatu cara ilmiah untuk mendapatkan

data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan

dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat

digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi suatu masalah

(Sugiyono, 2012).

A. Desain Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan deskriptif yaitu penelitian yang

bertujuan untuk menerangkan atau menggambarkan masalah penelitian yang

terjadi atau dengan kata lain, rancangan ini mendeskripsikan seperangkat

peristiwa atau kondisi populasi saat itu (Hidayat, 2008). Penelitian ini

menggunakan pendekatan kuantitatif.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Dalam metodologi penelitian, populasi digunakan untuk menyebutkan

serumpun atau sekelompok objek yang menjadi sarana penelitian. Oleh

karenanya, populasi penelitian merupakan keseluruhan (universum) dari

objek penelitian (Bungin, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah

semua pasien diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Sangatta

Selatan. Penyakit Diabetes Mellitus termasuk 10 penyakit terbanyak di

Kecamatan Sangatta Selatan.


2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang akan diteliti

(Arikunto, 2006). Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti

atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi.

Penghitungan sampel pada penelitian ini menggunakan rumus besar

sampel deskriptif kategorik (Dahlan, 2010).

Kriteria Inklusi Sampel :

a. Pasien dengan DM tipe 1 dan DM tipe 2.

b. Bersedia secara suka rela menjadi responden.

C. Tehnik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik

Nonprobability Sampling yaitu accidental sampling. Pengambilan sampling

dilakukan dengan cara mengambil semua sample yang datang saat penelitian

dilakukan.

D. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada periode 9 Mei tahun 2016 - 9 Juni 2016 di

Puskesmas Sangatta Selatan. Alasan peneliti memilih Puskesmas Sangatta

Selatan sebagai lokasi penelitian karena di Puskesmas Sangatta Selatan

karena di Puskesmas Sangatta Selatan belum dilakukan penelitian yang

serupa dengan penelitian ini.


E. Instrumen Penelitian

Untuk memperoleh informasi dari responden, peneliti menggunakan

instrumen penelitian yaitu kuesioner yang sudah tervalidasi dan telah

digunakan pada penelitian yang dilakukan oleh Ika Febty Dyah Chiptarini,

Gambaran Pengetahuan dan Perilaku tentang Penatalaksanaan DM pada

pasien DM di Puskesmas Ciputat, sesuai dengan tinjauan pustaka.

Kuesioner merupakan alat ukur dengan beberapa pertanyaan, dan alat ukur

ini digunakan bila responden jumlahnya besar dan tidak buta huruf (Hidayat,

2008). Kuesioner di penelitian ini menggunakan jenis kuesioner checklist

atau daftar cek yang merupakan daftar yang berisi pernyataan atau

pertanyaan yang akan diamati dan responden memberikan jawaban dengan

tanda cek () sesuai dengan hasilnya yang diinginkan.


1. Kuesioner A

Kuesioner ini bertujuan untuk mengetahui gambaran data demografi

responden yang terdiri dari inisial responden, umur, jenis kelamin,

penyakit penyerta, lama menderita, pendidikan, dan pekerjaan responden.

2. Kuesioner B

Kuesioner ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan responden

tentang diabetes mellitus dan penatalaksanaan diabetes mellitus.

Kuesioner terdiri dari 20 pertanyaan dengan 15 pertanyaan positif dan 5

pertanyaan negatif. Caranya responden memilih salah satu jawaban benar

(1), salah (0) pengukuran menggunakan skala Guttman (Hidayat, 2008)

dan pengkategorian nilai dibagi menjadi 3 yaitu baik, cukup dan kurang

(Arikunto,2006).

3. Kuesioner C

Kuesioner ini bertujuan untuk mengetahui perilaku atau pola hidup

sehari-hari pasien dalam penatalaksanaan diabetes mellitus, dengan 22

pernyataan terdiri dari 2 pertanyaan perilaku edukasi, 5 pertanyaan

perilaku diet, 2 pertanyaan perilaku latihan fisik, 3 pertanyaan kepatuhan

obat, 3 pertanyaan pemantauan KGD dan 7 pertanyaan perilaku

perawatan kaki.

F. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara-cara yang dapat

digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Metode (cara atau teknik)

menunjukkan suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda,

tetapi hanya dapat dilakukan penggunaannya melalui angket, wawancara,


pengamatan, ujian (tes), dokumentasi dan lainnya (Ridwan, 2005). Ada

beberapa tahap yang dilakukan peneliti dalam pengambilan data, yaitu :

1. Perijinan

Peneliti melakukan koordinasi dengan Ketua Tata Usaha di

Puskesmas Sangatta Selatan untuk mengidentifikasi penderita DM yang

sesuai dengan kriteria inklusi untuk langsung menjadi responden

penelitian.

2. Penentuan Responden

Penentuan responden peneliti menunggu di ruang poli dewasa apabila

ada pasien DM diberikan inform consent. Diberikan penjelaskan tujuan

dan manfaat dari penelitian ini, setelah bersedia menjadi responden,

dimohon untuk menandatangani surat berpartisipasi dalam penelitian.

3. Prosedur pengambilan data

Responden diberikan 3 kuesioner yaitu kuesioner data demografi,

pengetahuan dan perilaku. Setelah responden mengisi dengan benar dan

telah di koreksi kelengkapannya oleh peneliti, data dikumpulkan untuk di

olah.

G. Pengolahan Data

Langkah-langkah pengolahan data yang dilakukan peneliti, menurut Hastono

(2007), yaitu :

1. Editing

Editing merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian

kuesioner dan lembar observasi apakah jawaban yang ada sudah lengkap,

jelas, relevan dan konsisten. Data yang terkumpul terkait data demografi

responden, kuesioner pengetahuan dan kuesioner perilaku dilakukan


pengecekan kelengkapan isinya.

2. Coding

Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi

data berbentuk angka/bilangan (memberi kode). Kegiatan ini bertujuan

untuk mempermudah dalam pengolahan data menggunakan komputer.

3. Processing

Setelah lembar observasi dan semua kuesioner terisi penuh dan benar,

serta sudah melewati pengkodean, maka langkah selanjutnya adalah

memproses data agar data yang sudah di-entry dapat dianalisis.

Pemrosesan data dilakukan dengan cara meng-entry data dari kuesioner

ke paket program komputer yaitu program Microsoft Excel.

4. Cleanning

Cleanning (pembersihan data) merupakan kegiatan pengecekan

kembali data yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak, yaitu

dengan cara mengetahui data yang hilang, variasi data, dan konsistensi

data. Memastikan pengecekan data di komputer terhadap dat-data yang

diperoleh, memastikan tidak ada data yang missing. Setelah data

dinyatakan tidak ada permasalahn dilakukan proses analisa data yaitu

analisis univariat.

H. Teknik Analisa Data

1. Analisa Univariat

Analisa univariat digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel

yang diteliti dalam penelitian, yaitu dengan melihat distribusi data pada

semua variabel (Sabri & Hastono, 2006). Analisis univariat dalam


penelitian ini adalah variabel independen yaitu pengetahuan dan perilaku,

serta data demografi responden. Analisis data numerik disajikan dalam

bentuk mean, standar deviasi, minimum, maksimum, sedangkan untuk

data kategorik disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase.

I. Etika Penelitian

Menurut Hidayat (2008), Dalam melaksanakan penelitian khususnya jika

menjadi subyek penelitian adalah manusia, maka peneliti ini harus memahami

hak dasar manusia. Manusia memiliki kebebasan dalam menentukan dirinya,

sehingga penelitian ini yang akan dilaksanakan benar-benar menjunjung

tinggi kebebasan manusia. Beberapa prinsip penelitian pada manusia yang

harus dipahami, yaitu :

1. Prinsip manfaat

Dengan berprinsip pada aspek manfaat, maka segala bentuk

penelitian yang dilakukan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk

kepentingan manusia. Prinsip ini dapat ditegakkan dengan membebaskan ,

tidak memberikan atau menimbulkan kekerasan pada manusia, tidak

menjadikan manusia untuk dieksploitasi. Penelitian yang dihasilkan nanti

dapat memberikan manfaat dan mempertimbangkan antara aspek resiko

dengan aspek manfaat, apabila dalam penelitian mengalami dilema etik.


2. Prinsip menghormati manusia

Manusia memiliki hak dan merupakan makhluk yang mulia, dan

harus dihormati, karena manusia berhak untuk menentukan pilihan antara

mau dan tidak untuk diikutsertakan menjadi subyek dalam penelitian.

3. Prinsip keadilan

Prinsip ini dilakukan untuk menunjang tinggi keadilan manusia

dengan menghargai hak atau memberikan pengobatan secara adil, hak

menjaga privasi manusia, dan tidak berpihak dalam perlakuan terhadap

manusia.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penelitian yang melibatkan

manusia adalah :

a. Informed Consent

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antar peneliti

dengan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan.

Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan

dengan memberikan persetujuan untuk menjadi responden. Tujuan

informed consent adalah agar subyek mengerti maksud dan tujuan

penelitian, mengetahui dampaknya. Beberapa informasi yang harus

ada dalam informed consent tersebut antara lain ; partisipasi pasien,

tujuan dilakukan tindakan, jenis data yang dibutuhkan, komitmen,

prosedur pelaksanaan, potensial masalah, kerasahasiaan, informasi

yang mudah dihubungi, dan lain-lain.


b. Anonamity (Tanpa Nama)

Merupakan jaminan dalam penggunaan subyek penelitian dengan

cara tidak memberikan atau mencantumkan nama responden pada

lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar

pengumpuloan data atau hasil penelitian yang akan disajikan.

c. Kerahasiaan

Memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi

maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah

dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok

data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.


BAB V
HASIL PENELITIAN

A. Hasil Analisa Univariat


1. Data Demografi Responden
a. Usia
Data responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 5.2. berikut ini:
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Data Demografi Berdasarkan Usia
Usia Frekuensi (n) Persentase (%)
< 45 9 19.15 %
> 45 38 80.85%
Total 47 100%
Sumber : data primer diolah (2016)

Data yang ada pada tabel 5.2 diatas dapat dilihat bahwa dari t o t a l

4 7 responden, mayoritas responden berusia > 45 tahun sebanyak 38 orang

(80.85%) dan usia < 45 tahun sebanyak 9 orang (19.15%).

b. Jenis Kelamin

Data responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada table 5.3. berikut ini :

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Data Demografi Berdasarkan Jenis


Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%)
Laki-laki 17 36.17%
Perempuan 30 63.83%
Total 47 100%
Sumber: data primer diolah (2016)

Data yang ada pada tabel 5.3 di atas terlihat bahwa dari 47 responden, mayoritas
responden adalah perempuan yaitu berjumlah 30 orang (63.83%), sedangkan laki-laki
berjumlah 15 orang (25,9%).

c. Penyakit Penyerta

Data responden berdasarkan penyakit penyerta dapat dilihat pada tabel 5.4.
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Data Demografi Berdasarkan Penyakit
Penyerta
Penyakit Penyerta Frekuensi (n) Persentase (n)

Hipertensi 12 25.53%

Gastritis 3 6.38%

Asam urat 1 2.13%

Hiperkolesterolemia 14 29.79%

Tidak Ada 17 36.17%

Total 47 100%

Sumber : Data primer diolah (2014)

Data yang ada pada Tabel 5.4 diatas terlihat bahwa dari 47 responden, mayoritas
pasien DM memiliki penyakit penyerta yaitu hiperkolesterolemia sebanyak
14 orang (27.97%), hipertensi sebanyak 12 orang (25.53%), gastritis 3 orang
(6.38%), dan asam urat 1 orang (2.13%), serta yang tidak ada penyakit penyerta
sebanyak 17 orang (36.17%).

d. Lama Menderita DM

Data responden berdasarkan lama menderita DM dapat dilihat pada tabel 5.5.
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Data Demografi Berdasarkan Lama Menderita
DM
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Lama 47 1 16 3.53 3.20
Valid N 47
(Listwise)
Sumber: data primer diolah (2016)

Data yang ada pada Tabel 5.5 diatas terlihat bahwa dari 47 responden, rata- rata
pasien menderita DM selama 3 tahun, minimal 1 tahun dan yang paling lama
16 tahun.

e. Pendidikan

Data responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada table 5.6.

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Data Demografi Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan Frekuensi Persentase (%)


PT (n)
2 4.26%
SD 20 42.55%
SMA 7 14.89%
SMP 8 17.02%
Tidak Sekolah 10 21.28%
Total 47 100 %
Sumber: Data primer diolah (2016)

Data pada tabel 5.6 terlihat bahwa dari 47 responden, mayoritas pasien DM pendidikan
terakhir SD yaitu sebanyak 20 orang (42.55%), disusul Tidak sekolah 10 orang
(21.28%) lulusan SMP 8 orang (17,2%), SMA 7 orang (14,89%), serta perguruam Tinggi
2 orang (4.26%).

. f. Pekerjaan

Data responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel 5.7 berikut ini :

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Data Demografi Berdasarkan Pekerjaan


Pekerjaan Frekuensi (n) Persentase (%)

IRT 18 38.30%
Swasta 6 12.77%
Pedagang 9 19.15%
Pensiun 2 4.26%
Petani 7 14.89%
PNS 2 4.26%
Lain-Lain 2 4.26%
Tidak Bekerja 1 2.13%
Total 100,0
Sumber: data primer diolah (2016)
Data pada tabel 5.7 terlihat bahwa dari 47 responden, mayoritas pasien DM berprofesi
sebagai IRT (Ibu Rumah Tangga) yaitu sebanyak 18 orang (38.30%), disusul pedagang
9orang (19.15%) petani 7 orang (14.89%), Swasta 6 orang (12.77%), serta pensiunan
PNS dan lain-lain yang tidak dikelompokkan masing - masing sebanyak 2 orang
(4.26%).

2. Gambaran Pengetahuan Pasien DM

Variabel Pengetahuan terdiri atas 15 pertanyaan. Gambaran distribusi jawaban


responden terhadap pertanyaan variabel pengetahuan dapat dilihat pada Tabel
5.8
Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pasien DM di Puskesmas
Sangatta Selatan tentang Penatalaksanaan DM
Pengetahuan Frekuensi (n) Persentase (%)
Baik 19 40.43%
Cukup 21 44.68%
Kurang 7 14.89%
Total 47 100 %
Sumber data primer diolah (2016)

Data yang ada pada Tabel 5.8 Di atas terlihat bahwa dari 47 responden,
mayoritas pasien DM memiliki pengetahuan tentang penatalaksanaan DM
Cukup sebanyak 21 orang (44.68%), Baik 19 orang (40.43%) dan h a n y a
s e d i k i t y a n g kurang y a i t u 7 orang (14.89%).

3. Gambaran Perilaku Penatalaksanaan DM

a. Perilaku Edukasi

Variabel Perilaku edukasi ini terdapat 2 pernyataan terkait tentang usaha pasien
dalam mencari tahu tentang penatalaksanaan DM dan penyuluhan DM yang
pernah pasien ikuti. Gambaran distribusi jawaban responden terhadap variabel
perilaku edukasi dapat dilihat pada Tabel berikut ini :

Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Perilaku Edukasi Berdasarkan Mencari


Tahu Penatalaksanaan DM
Mencari Tahu Frekuensi (N) Persentase (%)
Tidak 19 40.43 %
Ya 28 59.57 %
Total 47 100 %

Sumber : data primer diolah (2016)

Data yang ada pada Tabel 5.9 di atas terlihat bahwa dari 47 responden, yang
mencari tahu Penatalaksanaan DM sebanyak 28 orang (59.57%) dan yang tidak
mencari tahu sebanyak 19 orang (40.43%). Cara mencari tahu penatalaksanaan
DM dapat dilihat pada tabel 5.10 berikut:

Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Perilaku Edukasi Berdasarkan Cara


Mencari Tahu Penatalaksanaan DM

Mencari Tahu Frekuensi (N) Persentase (%)


Melalui

Dokter 27 96.43 %

Internet 1 3.57 %

Buku

Televisi

Total 28 100 %
Sumber : Data primer dioleh (2016)

Data yang ada pada Tabel 5.9 di atas terlihat mayoritas responden mencari tahu
Penatalaksanaan DM melalui dokter sebanyak 27 orang (96.43%), melalui
internet hanya 1 orang (3.57%), serta tidak ada responden menggunakan
sarana lain untuk menambah pengetahuan mengenai penyakitnya.

Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Perilaku Edukasi Berdasarkan yang


Mengikuti Penyuluhan

Mengikuti Penyuluhan Frekuensi (n) Persentase (%)


Tidak 38 80.85
Ya 9 19.15
Total 47 100,0
Sumber : Data primer diolah (2016)

Data yang ada pada tabel 5.11 diatas terlihat bahwa dari 47 responden, yang
mengikuti penyuluhan hanya sebanyak 9 orang (19.15%), dan yang tidak
mengikuti penyuluhan sebanyak 38 orang (80.85%).

b. Perilaku Diet

Variabel Perilaku diet ini terdapat 5 pernyataan terkait tentang pola makan

sehari-hari pasien DM. Gambaran distribusi jawaban responden terhadap

variabel perilaku diet dapat dilihat pada Tabel 5.12

Tabel 5.12 Distribusi Deskriptif Perilaku Diet per Minggu


Perilaku Diet N Min Max Mean Sd
Konsumsi Sayur per 47 0 7 3.72 2.17
minggu
Konsumsi Tinggi Gula 47 0 7 2.34 2.35
Membatasi porsi makan 47 0 7 3.76 2.57
nasi
Mengganti nasi dengan 47 0 7 2.23 2.25
(kentang, ubi, beras
merah)
Konsumsi makanan 47 0 7 3.51 2.22
yang digoreng/bersantan
Valid N (listwise) 47
Sumber : Data primer diolah (2016)

Data yanng ada pada Tabel 5.10 diatas terlihat bahwa dari 47 responden, rata-rata
dalam satu minggu pasien mengkonsumsi sayur 3 hari, mengkonsumsi tinggi gula 2
hari, membatasi porsi makan nasi 3 hari, mengganti nasi dengan rendah karbohidrat
2 hari dan mengkonsumsi makanan yang digoreng / bersantan 3 hari.

c. Perilaku Exercise/latihan fisik


Variabel Perilaku Exercise/latihan fisik ini terdapat 2 pernyataan terkait tentang
kegiatan olah raga pasien DM dalam satu minggu. Gambaran distribusi jawaban
responden terhadap variabel perilaku exercise/latihan fisik dapat dilihat pada
Tabel 5.13

Tabel 5.13 Distribusi Deskriptif Perilaku Exercise/Latihan Fisik per


Minggu
Perilaku Exercise N Min Max Mean Sd

Melakukan Senam 47 0 7 2.10 2.34

Senam minimal 30 menit 47 0 7 2.21 2.49

Valid N (listwise) 47

Sumber: data primer diolah (2016)


Data yang ada pada Tabel 5.13 diatas terlihat bahwa dari 47 responden, rata-rata
dalam satu minggu pasien melakukan olah raga selama 2 hari, dan olah raga
minimal 30 menit sebanyak 2 hari.

d. Perilaku kepatuhan obat

Variabel Perilaku kepatuhan obat ini terdapat 3 pernyataan terkait tentang


keteraturan minum obat sesuai jadwal dan dosis dalam satu minggu serta
kepatuhan kontrol obat jika habis. Gambaran distribusi jawaban responden
terhadap variabel perilaku kepatuhan obat dapat dilihat pada Tabel 5.14 dan 5.15
berikut ini :

Tabel 5.14 Distribusi Deskriptif Perilaku Kepatuhan Obat dalam


Satu Minggu
Perilaku Kepatuhan N Min Max Mean Sd
Obat
Minum obat sesuai jadwal 47 0 7 4.23 3.03

Minum obat sesuai dosis 47 0 7 5.95 1.89

Valid N (listwise) 47

Sumber: data primer diolah (2016)

Tabel 5.15 Distribusi Frekuensi Perilaku Kepatuhan Obat yang melakukan Kontrol
jika Obat Habis
Kontrol Obat Frekuensi (n) Persentasi (%)
Tidak 6 18.77
Ya 41 87.23
Total 47 100 %

Sumber : data primer diolah (2016)

Data yang ada pada Tabel 5.14 dan 5.15 diatas terlihat bahwa dari 47 responden,
rata-rata dalam satu minggu pasien DM meminum obat sesuai jadwal dokter
sebanyak 4 hari, meminum obat sesuai dosis sebanyak 6 hari serta pasien DM
yang melakukan kontrol bila obat habis sebanyak 41 orang (87.23%) dan yang
tidak kotrol bila obat habis sebanyak 6 orang (18.77%).
e. Perilaku Pemeriksaan Kadar Gula Darah

Variabel Perilaku pemantauan kadar gula darah ini terdapat 2 pertanyaan terkait
tentang pemeriksaan kadar gula darah, dan tekanan darah. Gambaran distribusi
jawaban responden terhadap variabel perilaku pemeriksaan gula darah dapat dilihat
pada Tabel 5.16 berikut ini:

Tabel 5.16 Distribusi Frekuensi Perilaku Pemeriksaan Kadar Gula


Darah
Pemeriksaan KGD Frekuensi (n) Persentase (%)
Tidak 9 19.15
1x/bulan 22 46.81
2x/bulan 4 8.51
1x/2bulan 11 23.40
1x/3bulan 1 2.13
Total 47 100 %

Sumber: data primer diolah (2014)

Data yang ada pada Tabel 5.16 diatas terlihat bahwa dari 47 responden,
pasien DM yang tidak teratur memeriksakan gula darah sebanyak 9
orang (19.15%), yang melakukan 1x / bulan sebanyak 22 orang
(46.81%), melakukan 2x/bulan sebanyak 4 orang (8.51%), 1x / 2 bulan
sebanyak 11 orang (23.40%) dan 1x/3 bulan sebanyak 1 orang (2.13%).
Gambaran distribusi jawaban responden dalam pemeriksaan
tekanan darah dapat dilihat pada Tabel 5.17

Tabel 5.17 Distribusi Frekuensi Perilaku Pemeriksaan Tekanan


Darah

Pemeriksaan TD Frekuensi Persentase (%)


Tidak 10 21.28
1x/bulan 22 46.81
2x/bulan 4 8.51
1x/2bulan 10 21.28
1x/3bulan 1 2.13
Total 47 100 %

Sumber: data primer diolah (2016)


Data yang ada pada Tabel 5.17 d iatas terlihat bahwa dari 47 responden,
pasien DM yang tidak teratur sebanyak 10 orang (21.28 %), memeriksakan
tekanan darah secara teratur mayoritas melakukan 1x / bulan sebanyak 22
orang (46.81%), 1x/2bulan sebanyak 10 orang (21.28%), 2x/2 bulan
sebanyak 4 orang (8.51%) dan 1x/ 3 bulan sebanyak 1 orang (2.13%).

Tabel 5.18 Distribusi Frekuensi Perilaku Pemeriksaan Kolesterol


Pemeriksaan TD Frekuensi Persentase (%)
Tidak 21 44.68
1x/bulan 18 38.30
2x/bulan 0 0.00

1x/2bulan 6 12.77
1x/3bulan 2 4.26
Total 47 100 %

Sumber: data primer diolah (2016)

Data yang ada pada Tabel 5.18 iatas terlihat bahwa dari 47 responden,
pasien DM yang tidak teratur sebanyak 21 orang (44.68 %), memeriksakan
tekanan darah secara teratur mayoritas melakukan 1x / bulan sebanyak 18
orang (38.30%), 1x/2bulan sebanyak 6 orang (12.77%) dan 1x/ 3 bulan
sebanyak 2 orang (4.26%).

f. Perilaku Perawatan Kaki

Variabel Perilaku perawatan kaki ini terdapat 5 pertanyaan dengan


penilaian Baik dan Kurang Baik berdasarkan nilai median. Gambaran
distribusi jawaban responden terhadap variabel perilaku perawtan kaki
dapat dilihat pada Tabel 5.19 berikut ini :

Tabel 5.19 Distribusi Frekuensi Gambaran Perilaku Perawatan Kaki

Perilaku Perawatan Kaki Frekuensi (n) Persentase (%)


Baik 33 70.21
Kurang Baik 14 29.79
Total 47 100 %
Data yang ada pada Tabel 5.19 d iatas terlihat bahwa dari 47 responden, pasien
DM sebanyak 33 orang (70.21 %), telah memberikan perhatian ekstra untuk
perawatan kakinya dan hanya 14 orang (29.79%) yang masih kurang peduli terhadap
perawatan kaki.

BAB VI

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menjelaskan interpretasi hasil penelitian dan

keterbatasan penelitian. Interpretasi hasil akan membahas mengenai hasil

penelitian yang dikaitkan dengan teori yang ada pada tinjauan pustaka,
sedangkan keterbatasan penelitian akan memaparkan keterbatasan yang

terjadi selama pelaksanaan penelitian.

A. Analisa Univariat

1. Data Demografi Responden

a. Usia

Berdasarkan usia, prevalensi DM sering muncul setelah usia

lanjut terutama setelah berusia 45 tahun (Hadibroto et ala, 2010).

Menurut Goldberg dan Coon (2006) yang menyatakan bahwa usia

sangat erat kaitannya dengan kenaikan kadar glukosa darah, sehingga

semakin meningkatnya usia maka prevalensi DM dan gangguan

toleransi gula darah semakin meningkat. Proses penuaan yang

berlangsung setelah usia 30 tahun mengakibatkan perubahan anatomis,

fisiologis dan biokimia. Menurut Riskesdas (2013), prevalensi DM

menurut usia mayoritas 55-64 tahun. Menurut Rven dan De Fronzo

dalam Rahmadiliyani (2009) pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi

pankreas dan sekresi insulin yang berkurang. Menurunnya toleransi

glukosa pada usia lanjut berhubungan dengan berkurangnya sensitivitas

sel perifer terhadap insulin sehingga menyebabkan peningkatan kadar

gula darah pada usia lanjut. Hasil penelitian ini


menunjukkan karakteristik yang sesuai dengan teori dimana didapatkan

responden mayoritas usia 45 tahun sebanyak 38 orang (80.85%) dari

responden dan usia < 45 tahun sebanyak 9 orang (19.15%) dari responden.

Dari hasil penilitiaan tersebut, hasil yang didapat sesuai dengan teori.

b. Jenis Kelamin

Hasil penelitian berdasarkan jenis kelamin diperoleh responden

perempuan berjumlah 30 orang (63.83%), sedangkan laki-laki berjumlah 17

orang (36.18%). Mayoritas responden yang terlibat dalam penelitian ini yaitu

perempuan. Hal ini tidak sesuai dengan teori Creator (2010) yang

mengatakan insiden diabetes adalah 1,1 per 1000 orang/tahun pada

wanita dan 1,2 per 1000 orang/tahun pada laki-laki. Namun sesuai dengan

hasil penilitian Riskesdas (2013) yang mengatakan prevalensi perempuan

lebih tinggi daripada laki-laki, hal ini dikarenakan beberapa faktor resiko

seperti obesitas, kurang aktivitas/latihan f isik, usia, dan riwayat DM saat

hamil, menyebabkan tingginya kejadian DM pada perempuan (Radi, 2007).

c. Penyakit Penyerta

Berdasarkan penyakit penyerta, diperoleh gambaran dari 47 responden

pasien DM memiliki penyakit penyerta sebagai berikut hiperkolestrolemia

sebanyak 14 orang (29.79%), hipertensi sebanyak 12 orang (25.53%), gastritis

sebanyak 3 orang (6.38%), hiperurisemia sebanyak 1 orang (2.13%), dan

tidak memiliki penyakit penyerta sebanyak 17 orang (36.17%). Berdasarkan

penilitian diatas mayoritas yang tidak memiliki penyakit penyerta lebih besar

daripada yang memiliki penyakit penyerta, tetapi dari hasil yang memiliki

penyakit penyerta yang paling banyak adalah hiperkolestrolemia. Menurut

Rven dan De Fronzo, pada pasien DM mudah terkena penyakit hipertensi dan
jantung. Mudahnya terserang penyakit jantung karena peningkatan kadar

kolestrol pada pembuluh darah sehingga menyebabkan penyempitan

dan kelemahan otot jantung oleh karena kekurangan oksigen, sedangkan

hipertensi pada pasien DM terjadi karena peningkatan resistensi vaskular

akibat peningkatan insulin. Insulin selain merubah glukosa menjadi energi

juga dapat meningkatkan resistensi natrium pada ginjal dan meningkatkan

aktifitas saraf simpatis, Rven dan De Fronzo (2009).

d. Lama Menderita DM

Berdasarkan lama menderita DM, dari penelitian ini diperoleh hasil

rata-rata responden menderita DM selama 3.5 - 4.5 tahun. Menurut Waspadji

(2009) bahwa semakin lama pasien menderita DM dengan kondisi

hiperglikemia, maka semakin tinggi kemungkinan terjadinya komplikasi

kronik. Menurut penelitian Gultom (2012) menyatakan responden dengan

lama menderita > 3 tahun, sedangkan menurut penelitian Yusra (2012)

diperoleh mayoritas responden lama menderita DM > 4 tahun. Dan hasil ini

sesuai dengan teori yang dijelaskan Gultom dan Yusra sebelumnya.

e. Pendidikan

Hasil penelitian berdasarkan pendidikan, diperoleh gambaran bahwa 10

orang (21.28%) tidak sekolah, 20 orang (42.55%) pendidikannya SD, 8 orang

(17.02%) pendidikannya SMP, 7 orang (14.89%) pendidikannya SMA dan 2

orang (4.26%) pendidikannya perguruan tinggi. Dari hasil tersebut disimpulkan

mayoritas responden di Puskesmas Sangatta Selatan pendidikannya SD.

Menurut Notoatmodjo (2003) seseorang yang berpendidikan lebih tinggi

akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang

yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Sutanegoro dan Suastika dalam

Gultom (2011) mengatakan bahwa pendidikan merupakan dasar utama untuk


keberhasilan pengobatan.

f. Pekerjaan

Berdasarkan Pekerjaan, diperoleh hasil penelitian bahwa gambaran

responden mayoritas sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 18 orang (38.30%),

pedagang 9 orang (19.15%), p e t a n i s e b a n y a k 7 o r a n g ( 1 4 . 8 9 % ) ,

swasta 6 orang (12.77%), buruh s e b a n y a k 2 orang (4.26%), PNS sebanyak

2 orang (4.26%), pensiun s e b a n y a k 2 orang (4.26%), dan tidak bekerja

sebanyak 1 orang (2.13%). Menurut penelitian Gultom (2011) didapatkan

bahwa penderita DM lebih tinggi pada orang yang bekerja. Menurut Earnest

dan Hu (2008) mengatakan bahwa setiap orang yang memiliki jam kerja

tinggi dengan jadwal yang tidak teratur menjadi faktor penting dalam

meningkatnya penyakit diabetes mellitus. Hal ini tidak sesuai dengan hasil

penelitian ini yang memperoleh hasil penderita DM tertinggi adalah responden

yang Ibu Rumah Tangga.

2. Gambaran Pengetahuan tentang Penatalaksanaan DM

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang

merupakan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu (Notoatmodjo,2003).

Berdasarkan penelitian tentang perilaku dari Rogers yang dikutip oleh

Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan

domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan atau perilaku

seseorang. Pengetahuan penderita tentang DM merupakan sarana yang dapat

membantu penderita menjalankan penanganan DM selama hidupnya sehingga

semakin baik penderita mengerti tentang penyakitnya semakin mengerti

bagaimana harus berperilaku dalam penanganan penyakitnya (Waspadji, 2004).

Hasil dari penelitian berdasarkan pengetahuan tentang penatalaksanaan

DM, diperoleh gambaran dari responden terdapat 1 9 orang (40.43%) baik, 21


orang (44.68%) sedang, dan 7 orang (14.89%) kurang. Dari hasil ini dapat

disimpulkan bahwa gambaran pengetahuan pasien DM di Puskesmas Sangatta

Selatan mayoritas pengetahuannya cukup atau sedang.

3. Gambaran Perilaku Penatalaksanaan DM

Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang

bersangkutan. Perilaku kesehatan adalah suatu respon terhadap stimulus atau

obyek yang bekaitan dengan sakit dan penyakit (Notoatmodjo, 2003).

Menurut hasil konsesus PERKENI (2011), perilaku pasien yang diharapkan

adalah mengikuti pola makan sehat, meningkatkan kegiatan jasmani,

menggunakan obat diabetes dan obat-obatan dalam keadaan khusus secara

aman dan teratur, melakukan pemantauan gula darah mandiri dan

memanfaatkan data yang ada, melakukan perawatan kaki secara berkala,

memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami keadaan sakit akut yang

tepat, mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan

mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

Berdasarkan uraian diatas, pada penelitian ini sesuai penatalaksanaan

DM diperoleh gambaran perilaku sebagai berikut:

a. Perilaku Edukasi

Pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan yang mencari tahu tentang

penatalaksanaan DM sebanyak 28 orang (59.57%) dan yang tidak mencari

tahu sebanyak 19 orang (40.43%), dan mayoritas mencari tahu melalui dokter

sebanyak 27 orang (96.43%) dan mencari tahu melalui media internet sebanyak

1 orang (3.57%). Sedangkan perilaku edukasi yang mengikuti penyuluhan

sebanyak 9 orang (19.15%) dan tidak mengikuti penyuluhan sebanyak 38 orang

(80.85%). Edukasi DM adalah pendidikan dan pelatihan mengenai

pengetahuan dan keterampilan bagi pasien DM guna menunjang perubahan


perilaku, meningkatkan pemahaman pasien tentang penyakitnya, sehingga

tercapai kesehatan yang optimal, penyesuaian keadaan psikologis dan

peningkatan kualitas hidup (Soegondo et al, 2009).

b. Perilaku Diet

Berdasarkan perilaku diet, diperoleh gambaran dalam rentang satu

minggu rata-rata mengkonsumsi sayur 5 hari, konsumsi tinggi gula 2 hari,

membatasi porsi makan nasi 6 hari, mengganti nasi dengan rendah gula 3 hari

dan konsumsi makanan yang digoreng atau bersantan 4 hari. Diet DM sangat

dianjurkan untuk mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal,

mencapai kadar serum lipid yang optimal, dan menangani komplikasi akut

serta meningkatkan kesehatan secara keseluruhan (Sukardji, 2009).

Berdasarkan PERKENI (2006), makanan yang tidak dianjurkan pada penderita

DM adalah makanan yang banyak mengandung gula, makanan

berlemak/goreng-gorengan dan makanan banyak mengandung garam.

Berdasarkan uraian perilaku pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan tidak

sesuai dengan ketentuan Perkeni (2006), karena masih banyaknya pasien DM

yang mengkonsumsi makanan yang tinggi kadar gula, goreng-gorengan dan

bersantan.

c. Perilaku Exercise/Latihan Fisik

Berdasarkan perilaku Exercise/ Latihan Fisik, diperoleh gambaran

dalam rentang 1 minggu rata-rata pasien DM melakukan olahraga selama 2

hari, olahraga dilakukan minimal selama 30 menit. Menurut PERKENI

(2006) pasien DM dianjurkan latihan atau olahraga secara teratur (3-4 kali

seminggu) selama kurang lebih 30 menit. Latihan fisik pada pasien DM

bertujuan untuk mengendalikan berat badan, kadar gula darah, tekanan darah

dan yang paling penting memicu pengaktifan produksi insulin dan membuat
kerjanya menjadi lebih efisien. Kecuali untuk pasien DM yang tidak terkontrol

akan meningkatkan kadar gula darah (Yunir & ssoebardi, 2006). Hasil

penelitian perilaku Exercise/ Latihan Fisik pasien DM di Puskesmas Sangatta

Selatan t i d a k sesuai dengan teori.

d. Perilaku Kepatuhan Obat

Berdasarkan perilaku kepatuhan obat, diperoleh gambaran dalam

rentang satu minggu rata-rata pasien DM minum obat sesuai jadwal dan

dosis obat rutin 7 hari, dan apabila obat habis 41 orang (87.23%) dari

responden melakukan kontrol balik dan tidak kontrol saat obat habis sebanyak

6 orang (12.77%). Kepatuhan obat ini diperlukan untuk mempertahankan rasa

nyaman mengendalikan glukosa darah serta menghambat progresivitas

penyakit penyulit DM (PERKENI, 2006). Hasil penelitian perilaku kepatuhan

obat pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan sudah sesuai dengan tujuan

perilaku sehat menurut PERKENI.

e. Perilaku Pemeriksaan Pemantauan


a. Kadar Gula Darah

Berdasarkan Pemeriksaan Kadar Gula darah, diperoleh gambaran

mayoritas pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan melakukan pemeriksaan

gula darah 1 kali per bulan sebanyak 22 orang (46.81%) dari responden,

melakukan pemeriksaan gula darah 1 kali per 2 bulan sebanyak 11 orang

(23.40%) dari responden, melakukan pemeriksaan gula darah 2 kali per bulan

sebanyak 4 orang (8.51%) dari responden, melakukan pemeriksaan gula darah

1 kali per 3 bulan sebanyak 1 orang (2.13%) dari responden, dan tidak

melakukan pemeriksaan gula darah sebanyak 9 orang (19.15%) dari

responden. Pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan mayoritas melakukan

kontrol Gula 1x per bulan karena di setiap RW 1 bulan sekali diadakan


posbindu, dan mayoritas pasien DM lebih memilih kontrol di Posbindu.

Hasil penelitian ini sesuai dengan tujuan perilaku sehat menurut PERKENI

(2006).

b. Berdasarkan pemeriksaan tekanan darah diperoleh gambaran

mayoritas pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan melakukan pemeriksaan

tekanan darah 1 kali per bulan sebanyak 2 2 orang (46.81%) dari responden,

melakukan pemeriksaan tekanan darah 1 kali per 2 bulan sebanyak 1 0 orang

(21.28%) dari responden, melakukan pemeriksaan tekanan darah 2 kali per

bulan sebanyak 4 orang (8.51%) dari responden, melakukan pemeriksaan

tekanan darah 1 kali per 3 bulan sebanyak 1 orang (2.13%) dari responden,

dan tidak melakukan pemeriksaan tekanan darah sebanyak 1 0 orang

(21.28%) dari responden. Hasil penelitian ini sesuai dengan tujuan perilaku

sehat menurut PERKENI (2006), dan mayoritas pasien melakukan kontrol

tekanan darah saat berkunjung di Puskesmas Sangatta Selatan. Pemeriksaan

kadar gula darah bertujuan untuk mencegah dan mendeteksi kemungkinan

terjadinya hipoglikemia dan hiperglikemia sehingga dapat segera ditangani

untuk menurunkan resiko komplikasi dari DM (Smeltzer et al, 2008).

c. Berdasarkan pemeriksaan kolestrol diperoleh gambaran mayoritas

pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan melakukan pemeriksaan kolestrol 1

kali per bulan sebanyak 1 8 orang (38.30%) dari responden, melakukan

pemeriksaan kolestrol 1 kali per 2 bulan sebanyak 6 orang (12.77%) dari

responden, melakukan pemeriksaan kolestrol 1 kali per 3 bulan sebanyak

2 orang (4.26%) dari responden, dan tidak melakukan pemeriksaan kolestrol

sebanyak 2 1 orang (44.68%) dari responden. Hasil penelitian ini sesuai

dengan tujuan perilaku sehat menurut PERKENI (2006). Pemeriksaan kadar

kolestrol bertujuan karena biasanya pasien dengan DM kadang disertai dengan


peningkatan kadar kolestrol, dan mayoritas pasien melakukan kontrol kolestrol

saat berkunjung di Puskesmas Sangatta Selatan.

f. Perilaku Perawatan Kaki

Berdasarkan perilaku perawatan kaki DM, diperoleh gambaran rata-rata

pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan dalam melakukan perawatan kaki

yang baik sebanyak 33 orang (70.21%), dan melakukan perawatan kaki yang

kurang baik sebanyak 14 orang (29.79%). Perawatan kaki ini sangat baik untuk

mencegah terjadinya komplikasi pada kaki karena pada penderita DM sangat

rentan untuk mengalami gangguan sirkulasi darah (PERKENI, 2006), dan

penelitian ini sudah sesuai dengan teori.

B. Keterbatasan Penelitian

Peneliti menyadari masih banyak kekurangan dari penelitian ini. Hal ini

disebabkan karena adanya beberapa keterbatasan penelitian dalam pelaksanaan

penelitian ini antara lain :

1. Kebanyakan responden tidak bisa mengisi sendiri kuesioner jadi disini

peneliti yang membacakan pertanyaan dan membantu mengisi sesuai

jawaban responden.

2. Responden banyak yang tidak ingat seperti materi tentang penyuluhan

sehingga hasil tidak dicantumkan pada hasil.

3. Responden yang tergesa-gesa dalam mengisi/menjawab kuesioner.

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil uraian penelitian yang telah dikemukakan pada bab

sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai hasil keseluruhan temuan

penelitian sebagai berikut:

1. Data demografi responden penderita DM di puskesmas Sangatta Selatan

dari responden diperoleh mayoritas usia 45 tahun 38 orang (80.85%),

jenis kelamin mayoritas responden adalah perempuan yaitu berjumlah 30

orang (63.83%), penyakit penyerta hipertensi sebanyak 12 orang

(25.53%), lama menderita DM rata- rata pasien menderita DM selama 3.5

tahun, berdasaran pendidikan mayoritas pasien DM pendidikan terakhir

SD yaitu sebanyak 20 orang (42.55%), pekerjaan mayoritas sebagai ibu

rumah tangga (IRT) sebanyak 18 orang (38.30%).

2. Gambaran pengetahuan tentang penatalaksanaan DM pada pasien DM di

Puskesmas Sangatta Selatan yaitu pasien DM memiliki pengetahuan

tentang penatalaksanaan DM baik sebanyak 1 9 orang (40.43%), 21

orang (44.68%) sedang, dan 7 orang (14.89%) kurang.


3. Gambaran perilaku tentang penatalaksanaan DM pada pasien DM di

Puskesmas Sangatta Selatan yaitu:

a. Berdasarkan perilaku edukasi mayoritas responden mencari tahu

penatalaksanaan DM sebanyak 28 orang (59.57%) dan yang tidak

mencari tahu sebanyak 19 orang (40.43%), yang mencari tahu melalui

dokter sebanyak 27 orang (96.43%) dan mencari tahu melalui media

internet sebanyak 1 orang (3.57%), sedangkan untuk penyuluhan

mayoritas responden yang mengikuti penyuluhan sebanyak 9 orang

(19.15%) dan tidak mengikuti penyuluhan sebanyak 38 orang

(80.85%).

b. Berdasarkan perilaku diet pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan

rata-rata dalam satu minggu pasien mengkonsumsi sayur 5 hari,

mengkonsumsi tinggi gula 2 hari, membatasi porsi makan nasi 6 hari,

mengganti nasi dengan rendah karbohidrat 3 hari dan mengkonsumsi

makanan yang digoreng / bersantan 4 hari, dan perilaku pasien DM di

Puskesmas Sangatta Selatan tidak sesuai dengan ketentuan Perkeni

(2006), karena masih banyaknya pasien DM yang mengkonsumsi

makanan yang tinggi kadar gula, goreng-gorengan dan bersantan.

c. Berdasarkan perilaku exercise/ latihan fisik, pasien DM di Puskesmas

Sangatta Selatan rata-rata dalam satu minggu pasien melakukan

olahraga selama 2 hari, dan olahraga minimal dilakukan minimal

selama 30 menit.

d. Berdasarkan perilaku kepatuhan obat, pasien DM di puskesmas

Sangatta Selatan, rata-rata dalam satu minggu pasien DM meminum

obat sesuai jadwal dokter sebanyak 7 hari, meminum obat sesuai dosis
sebanyak 7 hari serta pasien DM dan mayoritas melakukan kontrol

bila obat habis sebanyak 41 orang (87.23%) dan tidak kontrol saat

obat habis sebanyak 6 orang (12.77%).

e. Berdasarkan perilaku pemeriksaan kadar gula darah, pasien DM di

Puskesmas Sangatta Selatan, mayoritas melakukan pemeriksaan gula

darah teratur setiap 1x/bulan sebanyak 22 orang (46.81%),

pemeriksaan tekanan darah sebanyak 2 2 orang (46.81%),

pemeriksaan kolestrol sebanyak 1 8 orang (38.30%).

f. Berdasarkan perilaku perawatan kaki pasien DM di Puskesmas

Sangatta Selatan, yang baik sebanyak 33 orang (70.21%) dan kurang

baik sebanyak 14 orang (29.79%).

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan kesimpulan maka dapat

diberikan beberapa saran kepada berbagai pihak yang berkenaan dengan

pengetahuan dan perilaku tentang penatalaksanaan DM pada pasien DM:

1. Bagi Pasien

Pasien perlu mempertahankan pengetahuannya yang baik, dan untuk yang

kurang bisa lebih ditingkatkan dengan mencari tahu atau mengikuti

penyuluhan tentangn bagaimana penatalaksanaan DM. Sehingga pasien

dapat memperbaiki keteraturan diet seperti mengurangi konsumsi

makanan atau minuman yang terlalu manis dan makanan yang digoreng

atau bersantan. Melakukan olah raga yang teratur minimal 3-4 hari dalam

satu minggu. Mempertahankan kepatuhan obat, pemantauan kadar gula

darah serta melakukan perawatan kaki.


2. Bagi Puskesmas

Puskesmas perlu mengadakan program penyuluhan tentang bagaimana

penatalaksanaan DM yang tepat, serta mengadakan program senam

diabetik. Sehubungan dengan begitu banyak penderita DM di wilayah kerja

Puskesmas Sangatta Selatan.

3. Bagi Peneliti

Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperluas judul penelitian

seperti faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan dan perilaku pasien

DM.
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association. 2004. Diagnosis dan classification of diabetes


melitus. Diabetes Care, 27(1), 55-60

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik edisi revisi VI.
Jakarta: Rineka Cipta

Badruddin, N., Basit, A., Hydrie, M.Z.I.,& Hakeem, R. 2002. Knowledge, Attitude
and Practices of Patients Visiting a Diabetes Care Unit. Jou of Nut:
Pakistan . /http://hanamuhdi.wordpress.com/ diunduh pada 20 Mei 2016

Bate, K.L., Jerums, G. 2003. Preventing complications of diabetes, 2003; 179:


498503

Bungin Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif edisi pertama. Jakarta:


Prenada Media Group

Dahlan, M.S. 2008. Langkah-langkah membuat proposal penelitian bidang


kedokteran dan kesehatan. Jakarta : Sagung Seto

Gultom, Y.T. 2012. Skripsi Tingkat Pengetahuan Pasien Diabetes Mellitus


Tentang Manajemen Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Pusat Angkatan
Darat Gatot Subroto Jakarta Pusat. Jakarta: FKUI

Hadibroto, et al. 2010. Diabetes: Informasi lengkap untuk penderita dan


keluarganya. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Hidayat A Aziz . 2008. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis


Data. Jakarta: Salemba Medika

Hogan. 2010. New Insight Into The Pathogenesis Of Diabetic Retinopathy.


American Academy Of Ophthalmology Annual Meeting In New Orleans.
Louisiana

Ignatavicius, D.D, & Workman, M.L. 2006. Medical Surgical Nursing : Critical
thinking for collaborative care. Fifth edition. St. Louis, Missouri: Elsevier
Saunder.
International Diabetes Federation. 2011. One Adult In Ten Will Have Diabetes By
2030. [http://www.idf.org/media-events/press-releases/2011/diabetes-atlas-
8th-edition] [Diunduh pada 28 Mei 2016]

LeMone.P, & Burke. 2008. Medical Surgical Nursing : Critical Thinking in


Clinical Care. Edisi 4. New Jersey : Pearson Prentice Hall

Mahmudin, A. 2012. Evaluasi Manajemen MandiriKkaryawan Penyandang


Diabetes mellitus tipe 2 setelah menjdapatkan edukasi kesehatan di PT
Indocement Tunggal Prakarsa Plantsite Citereup. Jakarta: FIKUI

Notoatmodjo, S. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka


Cipta

Parkeni. 2006. Diagnosis dan penatalaksanaan diabetes melitus.


http://dokteralwi.com / diabetes.html [20 Mei 2016].

Perkeni. 2006. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan bagi Penyandang


Diabetes.Jakarta: PERKENI

PERKENI.(2011).http;//Evaluasi manajemen.com, published 9 Februari 2013.

Price & Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi
6. Jakarta: EGC

Ridwan. 2005. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung:


Alfabeta

Robin et al. 2007. Robbin basic pathology. Edisi 7. Jakarta : EGC

Sabri, L, & Hastono, S.P. 2006. Statistik Kesehatan. Edisi revisi. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.

Sastroasmoro, S. & Ismael, S. 2011. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis.


Edisi ke-4. Jakarta : Sagung Seto

Siswono. 2005. P2m & PL dan LITBANGKES. http.www.depkes.go.id

Smeltzer & Bare. 2008. http;//Evaluasi manajemen.com, published 9 Februari


2013.
Smeltzer, S., & Bare. 2008. Brunner & Suddarths Textbook of
medical surgical nursing. Philadelpia : Lippincott

Soegondo. 2004. Diabetes Melitus, Penatalaksanaan Terpadu.


Jakarta: Balai Penerbitan FKUI

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Administrasi. Bandung :


Alfabeta.
Sukardji, K. 2009. Penatalaksanaan Gizi pada diabetes mellitus,
dalam Sidartawan, S, Pradana, S, & Imam S.
Penatalaksanaan diabetes terpadu. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.

Supranto J, 2000. Teknik Sampling untuk Survei dan Eksperimen.


Jakarta: Rineka Cipta.

Sutjahjo, et al. 2006. Konsensus pengelolaan dan pencegahan


dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia tahun
2006. Diambil tanggal 4 Juni 2016 dari
http://www.kedokteran.info

Suyono.2009. kecenderungan Peningkatan Jumlah Pasien Diabetes.


Jakarta: FKUI

Waspadji, (2007). Manajement Hidup sehat Diabetes Mellitus.


Jakarta: Balai Penerbit FKUI

World Health Organization, 2006, Definition and diagnosis of


diabetes mellitus and intermediate hiperglycaemia, Report
ofWHO/IDF Consultation 2006

World Health Organization, 2011, Definition and diagnosis of


diabetes mellitus and intermediate hiperglycaemia, Report
ofWHO/IDF Consultation 2011

Yunir., & Soebardi. 2006. Terapi non farmakologis pada diabetes


mellitus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Yusra. A. 2011. Tesis Hubungan Antara Dukungan Keluarga
Dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 di
Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat
Fatmawati Jakarta. Jakarta: FKUI
Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini bersedia menjadi responden penelitian
dengan :

Judul Penelitian : Gambaran Pengetahuan dan Perilaku Tentang Penatalaksanaan DM


Pada Pasien DM di Puskesmas Sangatta Selatan

Peneliti : Tim Dokter Internship Puskesmas Sangatta Selatan

Saya telah mendapat penjelasan dari peneliti tentang tujuan penelitian ini. Saya
mengerti bahwa data mengenai penelitian ini akan dirahasiakan. Semua berkas yang
mencantumkan identitas responden hanya digunakan untuk terkait penelitian. Saya mengerti
bahwa penelitian ini tidak akan berpengaruh negati terhadap diri saya dan berguna untuk
pengembangan Puskesmas Sangatta Selatan

Demikian surat pernyataan ini saya tandatangani tanpa suatu paksaan. Saya bersedia
untuk menjadi responden dalam penelitian ini secara sukarela.

Sangatta, 2016

Ttd,

(.......................................)
Lampiran 2

KUESIONER PENELITIAN

Tanggal Pengambilan Data : Tanggal 9 Mei - 9 Juni 2016


Kuesioner A : Data demografi responden
Petunjuk Pengisian : Pilihlah jawaban sesuai dengan yang anda rasakan dengan
memberi tanda () pada kolom yang telah disediakan
dan semua pertanyaan harus dijawab dengan satu pilihan.

1. Data Demografi
Nama Inisial :
Umur : ...................................Tahun
Jenis Kelamin :
Perempuan Laki-laki
Penyakit Penyerta :
Tidak Ada Ada, Sebutkan : . . . .
Lama Menderita DM : ........................ tahun
Pendidikan Terakhir :
Tidak tamat SD/ tidak sekolah
SD
SMP/SLTP
SMA/SLTA
Perguruan Tinggi
Pekerjaan :
PNS
Swasta
Petani
Pedagang
Lain-lain, sebutkan ....
Alamat :
No Telp/ Hp :
Tanggal Pengambilan Data : Tanggal 9 Mei - 9 Juni 2016
Kuesioner B : Tingkat Pengetahuan tentang DM dan Penatalaksanaan DM
Petunjuk Pengisian : Pilihlah jawaban sesuai dengan yang bapak/ibu ketahui,
dengan memberi tanda () pada kolom yang telah disediakan
dan semua pertanyaan harus dijawab dengan satu pilihan.

No Pertanyaan Benar Salah


1 Penyakit diabetes mellitus adalah penyakit kelebihan gula dalam
darah.
2 Penyakit diabetes mellitus disebut juga dengan penyakit kencing
manis.
3 Penyakit diabetes mellitus salah satunya juga disebabkan karena
kurang atau tidak adanya hormon insulin.
4 Umur, keturunan dari keluarga, dan berat badan/kegemukan
adalah merupakan faktor penyebab timbulnya penyakit diabetes
mellitus.
5 Penyakit diabetes mellitus ditandai dengan sering buang air kecil
(kencing)
6 Tidak enak makan, berat badan menurun, lemas, merupakan gejala
diabetes mellitus
7 Diabetes melitus dapat mengakibatkan gangguan pendengaran
8 Kerusakan organ ginjal dan infeksi pada kaki hingga membusuk
(luka tidak cepat sembuh) merupakan akibat penyakit diabetes.
9 Direbus, dibakar, dan dikukus merupakan cara memasak makanan
yang dapat meningkatkan kadar gula darah.
10 Pengaturan makan (diet) sangat diperlukan untuk menjaga
keseimbangan kadar gula darah.
11 Merokok dan alkohol harus dihindari oleh penderita diabetes
mellitus
12 Olah raga rutin sangat bagus untuk membantu mengontrol kadar
gula darah dan kolesterol dalam darah.
13 Olah raga yang baik untuk penderita diabetes mellitus dilakukan
selama kurang lebih 30 menit.
14 Meminum obat diabetes secara teratur sangat diharuskan untuk
mencegah terjadinya komplikasi diabetes.
15 Untuk mengendalikan gula darah, obat lebih penting dari pada diet
dan olah raga.
16 Terapi insulin diberikan apabila terapi jenis lain tidak dapat
mengontrol kadar gula darah.
17 Kadar gula darah 250 berarti nilainya normal
18 Untuk mencegah keparahan penyakit diabetes mellitus diperlukan
pemeriksaan kadar gula darah berkala atau teratur.
19 Penggunaan kaos kaki yang ketat diperbolehkan untuk penderita
diabetes mellitus
20 Menggunakan lotion dan menggunting kuku dengan tidak terlalu
dalam secara teratur sangat dianjurkan untuk menghindari infeksi.
Jumlah
Tanggal Pengambilan Data : Tanggal 9 Mei - 9 Juni 2016
Kuesioner C : Penderita DM
Petunjuk Pengisian : Isilah dengan tanda () pada kolom yang tersedia dari
pernyataan yang sesuai dengan kebiasaan bapak/ibu lakukan
sehari-hari.

1. Edukasi DM

No Pernyataan Dilakukan
Ya Tidak
1. Apakah anda mencari tahu tentang cara penatalaksanaan diabetes
mellitus (seperti ; diet yang baik, pengobatan yang teratur, olah
raga yang efektif, perawatan kaki) ?

Jika Ya,
Melalui media apa ? Internet / Membaca buku, tabloit, majalah /
Televisi / Radio / Dokter atau tim kesehatan lainnya. (lingkari
yang anda pilih)
2. Apakah Anda mengikuti kegiatan penyuluhan yang berkaitan
dengan diabetes mellitus (penyakit gula) ?

2. Diet

No Pernyataan Barapa hari anda melakukan dalam satu minggu


Tidak 1 2 3 4 5 6 7
Pernah
3. Saya mengkonsumsi
sayur atau makanan yang
di rebus, dipanggang atau
dikukus.
4. Saya mengkonsumsi
makanan yang banyak
mengandung gula
(permen, teh manis,
coklat, kue manis, cake ).
5. Saya makan nasi
sebanyak seperempat
porsi piring untuk tiap
makan besar.
6. Mengganti nasi dengan
(ubi, jagung, nasi merah,
kentang, oatmeal).
7. Saya memakan makanan
yang digoreng / bersantan
3. Exercise / Latihan Fisik

No Pernyataan Barapa hari anda melakukan dalam satu minggu


Tidak 1 2 3 4 5 6 7
Pernah
8 Saya melakukan olah
raga (jalan kaki, lari pagi,
badminton, bersepeda,
senam).
9. Saya melakukan olah
raga minimal 30 menit
setiap kali olah raga.

4. Terapi Obat

No Pernyataan Barapa hari anda melakukan dalam satu minggu


Tidak 1 2 3 4 5 6 7
pernah
10. Saya minum obat atau
suntik insulin mandiri
secara teratur sesuai
jadwal dari dokter.
11. Saya meminum obat
sesuai dosis obat yang
ditentukan dokter.
12. Saya melakukan kontrol ke dokter apabila obat habis.

1. Ya

2. Tidak

5. Pemantauan Kadar Gula Darah

No Pernyataan Dilakukan
Ya Tidak
13. Apakah anda memeriksakan kadar gula darah sewaktu ?

Jika Ya, berapa kali anda melakukannya ? ...........................


14. Apakah anda memeriksakan tekanan darah ?

Jika Ya, berapa kali anda melakukannya ? ........................


15. Apakah Anda melakukan tes laboratorium kolesterol ?

Jika Ya, berapa kali anda melakukannya? ........................


6. Perawatan Kaki

No Pernyataan Dilakuakan
Ya Tidak
16. Apakah Anda selalu menggunakan kaos kaki yang tidak terlalu
ketat di dalam rumah ?
17. Apakah Anda menggunakan alas kaki yang tertutup setiap
berpergian ?
18. Apakah anda mencuci kaki setiap hari menggunakan air dan
sabun?
19. Apakah anda selalu mengeringkan kaki yang basah sampai ke sela-
sela jari kaki ?
20. Apakah anda segera memotong kuku anda ketika kuku sudah
tampak memanjang?
21. Apakah anda selalu menggunakan lotion untuk melembabkan kaki?
22 Apakah anda segera mengobati apabila terdapat luka ?
Kisi- Kisi soal Kuesioner Pengetahuan DM

No Pertanyaan No item Jumlah soal Keterangan


1 Pengertian 1, 2 2 Item 1 dan 2
penyakit diabetes Favorable
2 Faktor-faktor 3, 4 2 Item 3 dan 4
penyebab Favorable
penyakit
3 Gejala-gejala 5, 6 2 Item 5 dan 6
penyakit diabetes Favorable
4 Komplikasi 7, 8 2 Item 8 Favorable Item 7 Unfavorable
dari diabetes
5 Diet teratur 9, 10, 11 3 Item 10 dan 11 Item 9 Unfavorable
Favorable
6 Exercise / latihan 12, 13 2 Item 12 dan 13
fisik dan olah raga Favorable
7 Kepatuhan 14, 15, 16 3 Item 14 dan 16 Item 15 Unfavorable
Obat / terapi Favorable
8 Pemantauan 17, 18 2 Item 17 dan 18 Item 17 Unfavorable
Kadar Gula Favorable
9 Mencegah 19, 20 2 Item 20 Favorable Item 19 Unfavorable
Jumlah Komplikasi 20 15 5
Pernyataan Positif Pernyataan Negatif Penilaian
B =1 S =1 Baik = skor 15 20 (76% - 100%)
S =0 B =0 Cukup = skor 11 14 (56% - 75%)
Kurang= skor < 11 (< 56%)

Kisi kisi pertanyaan kuesioner perilaku

No Pertanyaan No Item Jumlah Soal Keterangan


1 Edukasi DM 1, 2 2 Item 1 dan 2
Favorable
2 Diet 3, 4, 5, 6, 7 5 Item 3, 5 dan 6 Item 4 dan 7
Favorable Unfavorable
3 Exercise 8, 9 2 Item 8, 9, dan 10
Favorable
4 Obat 10, 11, 12 3 Item 11, 12, dan
13Favorable
5 Pemantauan 13, 14, 15 3 Item 14, 15, dan 16
KGD, TD, Favorable
Kolesterol
6 Perawatan Kaki 16, 17, 18, 7 Item 17,, 18, 19, 20,
19, 20, 21, 21, 22 dan 23
22 Favorable
Jumlah 22 20 2