Anda di halaman 1dari 31

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Menurut Depkes tahun 2006, kanker merupakan penyebab kematian nomor dua di
dunia setelah penyakit kardiovaskuler. Kanker merupakan salah satu jenis penyakit tidak
menular yang menjadi masalah kesehatan dikarenakan kasus kanker yang terus meningkat
setiap tahun.1 Seiring peradaban zaman, sel-sel kanker sudah menyebar ke seluruh wilayah di
dunia. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya 100 jenis penyakit kanker yang sudah
beredar di dunia. WHO melaporkan bahwa terdapat 6,25 juta penderita kanker di dunia.1
Salah satu jenis penyakit kanker dari 100 jenis penyakit kanker yang sampai saat ini menarik
perhatian, khususnya kaum wanita adalah kanker leher rahim.1
Berdasarkan data Globocan, International Agencies for Research on Cancer (IARC)
tahun 2012, kanker leher rahim menempati urutan keempat seluruh kanker pada perempuan
dan ketujuh secara umum dengan incidence rate 17 per 100.000 perempuan, kasus baru yang
ditemukan 8,8% (528.000 kasus) dengan angka kematian 8,2% (275.008) per tahun dari
seluruh kasus kanker pada perempuan di dunia.2
Berdasarkan data Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC)
tahun 2012, kanker payudara menempati urutan kedua seluruh kanker pada perempuan
dengan incidence rate 40 per 100.000 perempuan dan 1,67 juta kasus baru yang terdiagnosis
pada tahun 2012 (25% dari seluruh kanker), baik di negara maju maupun negara
berkembang.2
Di Indonesia, berdasarkan data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Indonesia
tahun 2010 diketahui bahwa kanker leher rahim menempati urutan kedua dimana terdapat
5.359 kasus (12,8%) rawat inap. Sedangkan, kanker payudara menempati urutan pertama
dimana terdapat pasien rawat inap sebanyak 12.014 kasus (28,7%).2
Kabupaten Karawang merupakan salah satu wilayah yang terletak di pantai utara Jawa
Barat. Masyarakat di Kabupaten Karawang memiliki ciri khas seperti lebih terbuka dan
mobilitas sosial tinggi. Hal tersebut menjadikan kehidupan masyarakat di Kabupaten
Karawang lebih bebas. Sebagai Kabupaten yang masyarakatnya identik dengan musim kawin
pada musim panen, masyarakat di Kabupaten Karawang biasanya menikah pada usia muda
khususnya bagi kaum wanita.1 Selain itu, Kabupaten Karawang merupakan salah satu
Kabupaten yang dijadikan pilot proyek Kementrian Kesehatan. Kabupaten Karawang terpilih
selain karena tingginya kasus penularan penyakit menular seksual dan tingginya kasus HIV
1
positif khususnya di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Karawang merupakan salah satu
wilayah terdekat yang dapat dijangkau oleh Kementrian Kesehatan dalam pemantauan dan
evaluasi program dibandingkan dengan 5 daerah pilot proyek lainnya. Kabupaten Karawang
terpilih sebagai lokasi pilot proyek deteksi dini kanker leher rahim sejak tahun 2007 sampai
dengan sekarang.1 Data yang diperoleh dari periode Januari sampai dengan Desember 2013
baru mampu menapis 34,9% dan dari periode Januari - Agustus 2014 baru mampu menapis
23,6% dari seluruh wanita usia subur dari target sebesar 85%.
Di Kabupaten Karawang, kasus kanker leher rahim yang ditemukan pada tahun 2011
sebanyak 0,3% dari seluruh wanita usia subur dan kasus kanker payudara sebanyak 0,6% dari
seluruh wanita usia subur.3 Berdasarkan data rekapan dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Karawang menunjukkan bahwa terdapat 5 Puskesmas dengan kasus IVA positif tertinggi
yaitu Tempuran, Klari, Pedes, Rengasdengklok, dan Jatisari. Dimana, data hasil tes IVA yang
menunjukkan positif untuk Puskesmas Klari selama tahun 2010 2011 sebanyak 41 kasus.1
Puskesmas Kecamatan Klari sendiri memulai penapisan kanker leher rahim dan kanker
payudara sejak tahun 2008 dan secara kumulatif dari Januari hingga Agustus 2014 baru
mampu menapiskan 30,4% dari seluruh wanita usia subur dan dengan target sebesar 85%.
IVA merupakan salah satu metode untuk melakukan deteksi dini adanya kanker leher
rahim. Skrining dengan IVA ini dinyatakan lebih mudah, lebih sederhana, dan lebih murah
dibandingkan dengan tes pap smear. Faktanya, angka skrining kanker leher rahim di
Indonesia hanya berkisar kurang dari (5%) (idealnya sekitar 80%). Deteksi dini kanker
payudara menggunakan metode Clinical Breast Examination (CBE).3

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut :
Menurut Depkes tahun 2006, kanker merupakan penyebab kematian nomor dua
di dunia setelah penyakit kardiovaskuler yang terus meningkat setiap tahun dan
menurut WHO terdapat 6,25 juta penderita kanker di dunia.
Berdasarkan data Globocan, International Agencies for Research on Cancer
(IARC) tahun 2012, kanker leher rahim menempati urutan keempat seluruh
kanker pada perempuan dan ketujuh secara umum dengan incidence rate 17 per
100.000 perempuan, kasus baru yang ditemukan 8,8% (528.000 kasus) dengan
angka kematian 8,2% (275.008) per tahun dari seluruh kasus kanker pada

2
perempuan di dunia, dan kanker payudara menempati urutan kedua seluruh
kanker pada perempuan dengan incidence rate 40 per 100.000 perempuan dan
1,67 juta kasus baru yang terdiagnosis pada tahun 2012 (25% dari seluruh
kanker), baik di negara maju maupun negara berkembang.
Di Indonesia, berdasarkan data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di
Indonesia tahun 2010 diketahui bahwa kanker leher rahim menempati urutan
kedua dimana terdapat 5.359 kasus (12,8%) rawat inap. Sedangkan, kanker
payudara menempati urutan pertama dimana terdapat pasien rawat inap sebanyak
12.014 kasus (28,7%).
Di Kabupaten Karawang, kasus kanker leher rahim yang ditemukan pada tahun
2011 sebanyak 0,3% dari seluruh wanita usia subur dan kasus kanker payudara
sebanyak 0,6% dari seluruh wanita usia subur.
Hasil tes IVA yang menunjukkan positif untuk Puskesmas Klari selama tahun
2010 2011 sebanyak 41 kasus.
Puskesmas Kecamatan Klari baru mampu menapiskan 30,4% dari seluruh wanita
usia subur dan dengan target sebesar 85%.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan, masalah dan penyelesaiannya dalam
unsur-unsur sistem program deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara
di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari 2014
hingga Oktober 2014.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya cakupan konseling perempuan berusia 30-50 tahun di
Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari
2014 hingga Oktober 2014.
2. Diketahuinya cakupan penyuluhan kelompok perempuan berusia 30-50
tahun di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode
Januari 2014 hingga Oktober 2014.
3. Diketahuinya cakupan penapisan kanker leher rahim pada perempuan
berusia 30-50 tahun di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten
Karawang periode Januari 2014 hingga Oktober 2014.

3
4. Diketahuinya cakupan perempuan dengan hasil positif dari tes Inspeksi
Visual dengan Asam Asetat (IVA) pada penapisan kanker leher rahim di
Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari
2014 hingga Oktober 2014.
5. Diketahuinya cakupan perempuan yang dilakukan krioterapi pada
penapisan kanker leher rahim dengan IVA positif di Puskesmas Klari,
Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari 2014 hingga
Oktober 2014.
6. Diketahuinya cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher
rahim di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode
Januari 2014 hingga Oktober 2014.
7. Diketahuinya cakupan penapisan kanker payudara pada perempuan berusia
30-50 tahun di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang
periode Januari 2014 hingga Oktober 2014.
8. Diketahuinya cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara
di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode
Januari 2014 hingga Oktober 2014.

1.4 Manfaat Evaluasi Program


1.4.1 Bagi Evaluator
1. Menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh saat kuliah.
2. Mempunyai pengalaman dan pengetahuan tentang evaluasi program deteksi
dini kanker leher rahim dan kanker payudara di Puskesmas dalam lingkup
wilayah kerjanya.
3. Melatih serta mempersiapkan diri untuk mengevaluasi program, khususnya
Program Kesehatan dengan pendekatan sistem bermula dari masukan,
proses, keluaran, dampak dan lingkungan.
4. Mengetahui kendala yang dihadapi dalam mengambil langkah-langkah
yang harus dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan antara
lain perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan.
1.4.2 Bagi Perguruan Tinggi
1. Mengamalkan Tri Dharma perguruan tinggi dalam melaksanakan fungsi
atau tugas perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan
pendidikan, penelitian dan pengabdian bagi masyarakat.
4
2. Mewujudkan perguruan tinggi sebagai masyarakat ilmiah dalam peran
sertanya di bidang kesehatan.
3. Mengenalkan fakultas kedoktean UKRIDA kepada masyarakat.
1.4.3 Bagi Puskesmas yang Dievaluasi
Dengan adanya masukan-masukan berupa hasil evaluasi dan beberapa saran-saran
maka diharapkan dapat menjadi umpan balik positif bagi Puskesmas Klari, Kecamatan
Klari dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas program deteksi dini kanker leher
rahim dan kanker payudara sehingga Puskesmas Kecamatan Klari dapat mengetahui
besarnya permasalahan khususnya mengenai kanker payudara dan kanker leher rahim
di wilayah kerja Puskesmas Klari, Kecamatan Klari serta faktor risiko yang ditemukan
sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan yang tepat.

1.4.4 Bagi Masyarakat


Menurunkan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh kanker leher
rahim dan kanker payudara dengan cara deteksi dini dan perlakuan yang tepat bagi
masyarakat yang membutuhkan sebagai upaya menghentikan penyakit pada tahap awal.

1.5 Sasaran
Semua perempuan berusia 3050 tahun yang ada di UPTD Puskesmas Klari,
Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari 2014 hingga Oktober 2014.

5
Bab II
Materi Dan Metode

2.1 Materi
Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari laporan hasil kegiatan bulanan
puskesmas mengenai program deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di UPTD
Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari 2014 hingga
November 2014, yang berisi kegiatan:
1. Konseling
2. Penyuluhan kelompok
3. Penapisan kanker leher rahim
4. Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
5. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim dengan IVA
positif
6. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim
7. Penapisan kanker payudara
8. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara

2.2 Metode
Evaluasi dilakukan dengan cara menegtahui cakupan program deteksi dini kanker leher
rahim dan kanker payudara di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang
periode Januari sampai Oktober 2014 yang kemudian dibandingkan dengan tolok ukur yang
ditetapkan dengan mengadakan pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, dan
interpretasi data dengan menggunakan pendekatan sistem sehingga dapat ditemukan masalah
yang ada dari pelaksanaan program deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di
Puskesmas Klari dan kemudian dibuat usulan dan saran sebagai pemecahan masalah tersebut
berdasarkan penyebab masalah yang ditemukan dari unsur-unsur sistem.

6
Bab III
Kerangka Teoritis

3.1 Bagan Pendekatan Sistem

Bagan 1. Teori Sistem

Bagan 1. Teori Sistem

Gambar di atas menerangkan sistem menurut Ryans adalah gabungan dari elemen-
elemen yang saling dihubungkan dengan suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu
kesatuan organisasi dalam upaya menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan.4
Pendekatan sistem adalah prinsip pokok atau cara kerja sistem yang diterapkan pada
waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi. Dibentuknya suatu sistem pada dasarnya
untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Untuk terbentuknya sistem
tersebut perlu dirangkai beberapa unsur atau elemen sedemikian rupa sehingga secara
keseluruhan membentuk suatu kesatuan dan secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai
kesatuan. 4
Ada 6 unsur yang saling berhubungan dan mempengaruhi pada system, yaitu :
1. Masukan (input)
Masukan adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem
dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut. Terdiri dari tenaga
(man), dana (money), sarana (material) dan metode (method).
2. Proses (process)
Proses adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem
dan berfungsi untuk mengubah masukan (input) menjadi keluaran (output) yang
direncanakan. Terdiri dari perencanaan (planning), organisasi (organization),
pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling).

7
3. Keluaran (output)
Keluaran adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari
berlangsungnya proses dalam sistem.
4. Umpan Balik (feed back)
Umpan balik adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan
keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.
5. Dampak (impact)
Dampak adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.
6. Lingkungan (environment)
Lingkungan adalah dunia di luar sistem yang tidak dikelola oleh sistem,
tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem. 4

3.2 Tolok Ukur Keberhasilan


Tolok ukur keberhasilan terdiri dari variabel masukan, proses, keluaran, lingkungan,
umpan balik, dan dampak. Digunakan sebagai pembanding atau target yang harus dicapai
dalam program penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara.

8
Bab IV
Penyajian Data

4.1. Sumber Data


Pengumpulan data dilakukan dengan data sekunder, yaitu:
1. Data Profil Kesehatan UPTD Puskesmas Klari, Kecamatan Klari tahun 2014.
2. Laporan Bulanan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dan Payudara di Puskesmas
Klari Klinik IVA Kabupaten Karawang periode Januari 2014 hingga Oktober
2014.

4.2 Data Umum


4.2.1 Data Geografis
Puskesmas Klari adalah salah satu dari tiga Puskesmas yang berada di lingkungan
wilayah Kecamatan Klari. Puskesmas Klari terletak dijalur ring road atau jalan
provinsi yaitu Jalan Raya Kosambi no. 20 Jawa Barat. Komplek Puskesmas Klari
Terletak di Desa Duren dan bertepatan berada di depan Kantor Kepala Desa Duren, di
samping kiri Kecamatan Klari, di belakang kompleks terdapat TK Mawar dan
disamping kanan rumah penduduk.
Luas wilayah kerja Puskesmas Klari Lebih Kurang 693.878 Ha, dengan batas-
batas sebagai berikut:

- Sebelah Utara : Puskesmas Telagasari

- Sebelah Selatan : Puskesmas Curug

- Sebelah Barat : Puskesmas Anggadita

- Sebelah Timur : Puskesmas Purwasari


Wilayah kerja Puuskesmas Klari Mencakup 8 (Delapan) Desa diantaranya yaitu:
1. Desa Cibalongsari
2. Desa Duren
3. Desa Pancawati
4. Desa Sumur Kondang
5. Desa Walahar
6. Desa Klari
7. Desa Belendung
8. Desa Kiara Payung

9
4.2.2 Demografi
Jumlah penduduk wilayah kerja UPTD Puskesmas DTP Klari Kecamat Klari
sebanyak 87521 jiwa yang terdiri dari laki-laki 45113 jiwa, Perempuan 42408 Jiwa, dan
jumlah KK 19397 KK. Jumlah Penduduk Kelompok Rentan wilayah kerja UPTD
Puskesmas Klari berdasarkan sumber data kependudukan kecamatan Klari yaitu bayi
3544 Orang, balita 13976 Orang, bumil 3084 Orang, lansia 9.839 Orang.
Agama yang dianut sebagian besar beragama Islam dengan komposisi agama
Islam 90%, agama Katolik 4%, dan agama Protestan 6%.
Mata Pencaharian penduduk di wiayah kerja Puskesmas Klari adalah
Petani/buruh Tani 9.354 orang, pengrajin 433 orang, buruh industri 22.997 orang,
bangunan 1.332 orang, penganngkutan 743 orang, pegawai negri 1.058 orang, ABRI
186 orang, peternak 9.037 orang, pensiunan 311 orang, dan pedagang 6.422 orang.
Tingkat pendidikan penduduk di wiayah kerja Puskesmas Klari adalah Siswa
6.240 Orang, Siswa SLTP 4.794 Orang, Siswa SLTA 3135 Orang.
4.2.3. Data Sarana yang dimiliki
Sarana kesehatan
Pustu : 2 buah
Polindes :-
Klinik 24 Jam : 12 buah
Praktek Dokter Swasta : 17
Pondokan Bidan :-
Rumah Bersalin : 5
Apotik : 5
Praktek Bidan Swasta : 18
BP : 2 buah
Posyandu : 77 buah
Posbindu : 8 buah
Sarana pendidikan
Taman Kanak-Kanak / PAUD : 6 buah
SD Negeri / Madrasah Ibtidaiyah : 29 buah
SMP / Madrasyah Tsanawiyah : 7 buah
SMA Negeri : 4 buah

10
4.3 Data Khusus
4.3.1 Masukan
1. Tenaga (Man)
Dokter umum : 3 orang, dokter terlatih 1 orang
Bidan : 28 orang, bidan terlatih 3 orang
Perawat : 5 orang
Petugas Program IVA : 4 orang terlatih, 8 kader IVA
Kader IVA yang aktif : 8 orang
Petugas farmasi : 1 orang
2. Dana (Money)
APBD : cukup
3. Sarana
Medis :
i. Tes IVA
a. Meja peralatan (trolley) : 1 buah
b. Wadah peralatan dengan tutup : 2 buah
c. Meja pemeriksaan : 2 buah
d. Lampu sorot sumber cahaya : 2 buah
e. Senter (bila listrik mati) : 3 buah
f. Baterai kering untuk senter : 5 buah
g. Bivalved spekulum : 70 buah
h. Kain perlak untuk meja ginekologi : 12 buah
i. Kain penutup perut pasien : 3 buah
j. Kursi pemeriksa : 2 buah
k. Gallipots antikarat : 4 buah
l. Kapas lidi kassa : Jumlah cukup
m. Sarung tangan disposable : Jumlah cukup
n. Spatula kayu : Jumlah cukup
o. Asam asetat 3-5% : Jumlah cukup
p. Masker : Jumlah cukup
q. Atlas IVA : 1 buah

11
ii. Krioterapi
a. Unit Krioterapi : 1 buah
b. Krioterapi tip : 2 buah
c. Karet penahan untuk krio unit : 1 per unit
d. Tabung CO2 : 2 buah
e. Kereta dorong untuk tabung CO2 : 1 buah
f. Tang/ spanner : 1 buah
g. Mur/ baut Washers krio machine : Ada
h. Pengatur waktu/Timer : 1 buah
iii. Pencegahan Infeksi
a. Ember plastik dekontaminasi : 3 buah
b. Larutan klorin 0,5% : Jumlah cukup
c. Sabun bubuk : Jumlah cukup
d. Sikat gigi (untuk cuci alat) : 1 buah
e. Sarung tangan rumah tangga : 2 pasang
f. Tempat sampah plastik : Ada
g. Kantung plastik : Jumlah cukup
iv. Antibiotik untuk IMS : Jumlah cukup
Non-Medis :
1. Tinta stempel : 1 buah
2. Lembar balik : ada
3. Leaflet : ada
4. Poster : ada
5. Catatan medik pemeriksaan panggul / IVA dan payudara : Ada
6. Stempel untuk persetujuan ibu di kartu status ibu : Ada 1 buah
7. Buku acuan pencegahan kanker leher rahim dan kanker payudara :
Ada
4. Metode
a. Penyuluhan Kelompok dan Konseling
Penyuluhan kelompok hendaknya dilaksanakan baik di dalam maupun di
luar gedung. Untuk program di luar gedung, penyuluhan dijadwalkan
bersamaan dengan IVA keliling. Sebelum menjalani test IVA, perlunya
dilakukan sesi penyuluhan, konseling, dan juga edukasi pada setiap yang
menjalani test. Pada sesi tersebut dibahas beberapa topik, yaitu :3
12
Menghilangkan kesalahpahaman konsep dan rumor tentang IVA
dan krioterapi
Sifat dari kanker leher rahim atau payudara sebagai sebuah
penyakit
Faktor- faktor risiko terkena penyakit tersebut
Pentingnya penapisan dan pengobatan dini
Konsekuensi bila tidak menjalani penapisan
Mengkaji pilihan pengobatan bila hasil test IVA abnormal
Peran pasangan pria dalam penapisan dan keputusan menjalani
pengobatan
Pentingnya pendekatan kunjungan tunggal sehingga ibu siap
menjalani krioterapi pada hari yang sama jika mereka mendapat
hasil IVA abnormal
Arti test IVA positif atau negatif
Pentingnya membersihkan daerah genital atau kemaluan sebelum
menjalani test IVA
Pada anamnesis perorangan dicari faktor risiko baik kanker leher rahim
atau payudara yang tercantum dalam status pemeriksaan, seperti menstrusai
< 12 tahun, usia pertama berhubungan seksual < 17 tahun, sering keputihan,
merokok, terpapar asap rokok > 1 jam sehari, kurang konsumsi buah dan
sayur, sering konsumsi makanan berlemak dan berpengawet, kurang
aktifitas fisik (30 menit/hari), pernah pap smear, riwayat keluarga kanker
dan jenis kanker, menggunakan KB hormonal (pil > 5 tahun atau suntik > 5
tahun), riwayat tumor jinak payudara (dalam keluarga maupun diri sendiri),
riwayat operasi kandungan, menopause > 50 tahun, kehamilan pertama > 35
tahun, pernah atau tidak menyusui, pernah atau tidak melahirkan.3
b. Penapisan Kanker Leher Rahim
Upaya penapisan merupakan upaya pemeriksaan atau tes sederhana dan
mudah dilaksanakan pada populasi masyarakat yang sehat yang bertujuan
untuk mengetahui masyarakat yang sakit atau berisiko terkena penyakit di
antara masyarakat yang sehat. Dalam hal ini dilakukan Inspeksi Visual
dengan Asam Asetat (IVA) untuk pemeriksaan lesi prakanker leher rahim.
Tindakan sesuai prosedur tepat dan etis. Tempat untuk tindakan IVA berada
di Poliklinik KIA UPTD Puskesmas Klari dengan dokter dan bidan terlatih.
13
Tes IVA dilakukan dengan prosedur pasien berada dalam posisi litotomi,
kemudian dengan penerangan yang cukup, dilakukan inspeksi genitalis
eksternal dan lihat apakah terjadi discharge pada mulut uretra. Setiap
abnormalitas yang ditemukan, bila ada dicatat. Katakan pada pasien
spekulum akan dimasukkan dan mungkin ibu akan merasakan beberapa
tekanan. Dengan hati-hati masukan spekulum sepenuhnya atau sampai
terasa ada tahanan lalu secara perlahan buka bilah untuk melihat serviks.
Atur spekulum sehingga seluruh leher rahim dapat terlihat. Serviks diamati
apakah ada infeksi (cervicitis) seperti discharge/ cairan keputihan
(mucopus), ektropion (ectropion), kista Nabothian, nanah dan lesi
strawberry (infeksi Trichomonas). Kapas lidi yang bersih digunakan
untuk membersihkan cairan yang keluar, darah atau mukosa serviks dan
dilakukan indentifikasi ostium servikalis dan SSK serta daerah di
sekitarnya. Kapas lidi dibasahi dengan larutan asam asetat 3-5% dan
dioleskan pada serviks dan didiamkan selama kurang lebih 1 menit agar
diserap dan memunculkan reaksi. Periksa SSK dengan teliti dan apakah
serviks mudah berdarah dan dicari apakah ada bercak putih yang tebal atau
epitel aceto-white yang menandakan IVA positif. Leher rahim yang normal
akan tetap bewarna merah muda sementara hasil positif bila ditemukan
area, plak atau ulkus yang bewarna putih. Bila pemeriksaan visual pada
serviks telah selesai, gunakan kapas lidi yang baru untuk menghilangkan
sisa asam asetat dari serviks dan vagina. Spekulum dilepaskan secara
perlahan.
c. Penapisan dengan Hasil IVA Positif pada Penapisan Kanker Leher
Rahim
Tabel 2. Klasifikasi Lesi pada Hasil Tes IVA

Klasifikasi IVA Kriteria klinis

Tes negative Halus, berwarna merah muda, seragam, polos, ektropion, servisitis, ovula Nabothi dan
lesi acetowhite tidak signifikan.
Tes positif Bercak putih (aceto white epithelium yang sangat jelas terlihat) dengan batas yang tegas
dan meninggi, tidak mengkilap yang terhubung atau meluas dari SSK
(squamocolumnar junction)
Dicurigai kanker Pertumbuhan massa seperti kembang kol yang mudah berdarah atau luka bernanah atau

14
ulcer

Sumber: Departemen Kesehatan RI. Petunjuk teknis pencegahan deteksi dini kanker leher
rahim dan kanker payudara. Jakarta : Direktorat Jendral PP & PL Depkes RI; 2007
d. Penanganan dengan Krioterapi pada Penapisan Kanker Leher Rahim
Proses pembekuan leher rahim baik menggunakan CO2 terkompresi atau
NO2 sebagai pendingin (pendinginan terus-menerus selama 3 (tiga) menit
untuk membekukan, diikuti pencairan selama 5 (lima) menit kemudian 3
(tiga) menit pembekuan kembali. Tindakan sesuai prosedur legeartis.3

Tabel 3. Kriteria Tindakan Krioterapi di Puskesmas


Lesi yang dapat dilakukan krioterapai di Krioterapi yang tidak dapat dilakukan oleh
puskesmas dan unit pelayanannya dan RS yang tenaga dokter umum/bidan di puskesmas
mempunyai pelayanan ginekologi.

1. Lesi aceto white yang menutupi serviks kurang 1. Lesi aceto white yang menutupi serviks lebih
dari 75% (jika lebih dari 75% serviks tertutup dari 75% permukaan leher rahim.
harus dilakukan oleh seorang ginekolog) 2. Lesi acetowhite meluas sampai ke dinding
2. Tidak lebih dari 2 mm di luar daerah kriotop. vagina atau lebih dari 2 mm di luar kriotip.
3. Lesi tidak meluas sampai dinding vagina. 3. Klien menginginkan pengobatan lain selain
4. Tidak dicurigai kanker. dari krioterapi atau meminta tes diagnosa lebih
lanjut.
4. Dicurigai kanker
5. Pada pemeriksaan bimanual, dicurigai adanya
massa ovarium (ovarium mass)

Sumber: Departemen Kesehatan RI. Petunjuk teknis pencegahan deteksi dini kanker
leher rahim dan kanker payudara. Jakarta : Direktorat Jendral PP & PL Depkes RI; 2007
e. Pelayanan Rujukan Kanker Leher Rahim
Bidan dan dokter umum harus merujuk pasien yang mengalami kondisi-
kondisi di bawah ini ke tingkat fasilitas perawatan yang lebih tinggi:
Lesi aceto-white lebih dari 75% permukaan serviks
Lesi aceto-white meluas sampai dinding vagina atau melebihi 2
mm dari tepi luar prob krioterapi.

15
Tabel 4. Pelayanan Rujukan Penapisan Kanker Leher Rahim Sesuai dengan Temuan IVA

Temuan IVA Tindakan Rujukan

Bila ibu dicurigari menderita kanker Segera rujuk ke RS Kab/Kota atau Propinsi yang
leher Rahim dapat memberikan pengobatan kanker yang memadai.

Ibu dengan hasil tes positif yang lesinya Rujuk untuk penilaian dan pengobatan di fasilitias
menutupi rahim lebih dari 75%, meluas terdekat yang menawarkan LEEP atau cone biopsy.
ke dinding vagina atau lebih luas 2 mm Jika tidak mungkin atau dianggap tidak akan pergi ke
dari probe krioterapi. fasilitas lain, beritahu tentang kemungkinan besar
ersintensi lesi dalam waktu 12 bulan dan tentang
perlunya pengobatan ulang.
Ibu dengan hasil tes positif yang Beritahu mengenai kelebihan dan kekurangan semua
memenuhi kriteria untuk mendapat metode pengobatan. Rujuk ke RS Kab/Kota atau
pengobatan segera tetapi meminta Propinsi terdekat yang menawarkan pengobatan
diobati dengan tindakan lain, bukan sesuai keinginan pasien.
dengan kriterapi
Ibu dengan hasil tes positif yang Rujuk ke fasilitas tersier (RS Propinsi/Pusat) yang
meminta tes lebih lanjut (diagnosis menawarkan klinik ginekologi (bila diindikasi).
tambahan), yang tidak tersedia di
Puskesmas.
Ibu dengan hasil tes positif yang Beritahu tentang kemungkinan pertumbuhan penyakit
menolak menjalani pengobatan dan prognosisnya. Anjurkan untuk datang kembali
setelah setahun untuk menjalani tes IVA kembali
untuk menilai status lesinya.
Sumber: Departemen Kesehatan RI. Petunjuk teknis pencegahan deteksi dini kanker
leher rahim dan kanker payudara. Jakarta : Direktorat Jendral PP & PL Depkes RI; 2007
f. Penapisan Kanker Payudara
Terdiri dari skrining kanker payudara (Clinical Breast Examination) dan
edukasi masyarakat tentang Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI).
Pemeriksaan sesuai prosedur yang tepat. Penapisan pada kanker payudara
yang dilakukan oleh petugas kesehatan dapat dilakukan dengan berbagai
cara, antara lain adalah Cinical Breast Examination (CBE). Pada
perempuan berumur 20-40 tahun, CBE dianjurkan untuk dilakukan tiga
tahun sekali. Untuk perempuan yang mendapatkan kelainan pada saat
SADARI dianjurkan untuk melaksanakan CBE sehingga dapat lebih
dipastikan apakah ada kemungkinan keganasan. Pada perempuan berusia di
atas 40 tahun, dilakukan CBE setiap tahun.3

16
g. Pelayanan Rujukan Kanker Payudara
Pada setiap kasus berat yang menunjukkan tanda bahaya yang tidak
dapat diatasi serta pada kasus yang dicurigai keganasan.

4.3.2. Proses
i. Perencanaan
Ada perencanaan tertulis mengenai:
1. Konseling
Dilakukan setiap hari pelayanan IVA yaitu setiap hari rabu sampai sabtu di
puskesmas oleh bidan di puskesmas dengan memberikan sesi konseling
perorangan kepada setiap wanita yang datang untuk menjalani pemeriksaan
Inspeksi Visual dengan Asam Asetat di puskesmas. Konseling perorangan
dilakukan sebelum, semasa dan sesudah pemeriksaan IVA dilakukan. Dilakukan
juga konseling dan sosialisasi kepada pasien yang menjadi sasaran yang datang
ke Balai Pengobatan Umum dengan menganjurkan kepada mereka untuk
menjalani pemeriksaan IVA.
2. Penyuluhan Kelompok
Dilakukan berkelompok satu kali setiap bulan di setiap desa oleh bidan-
bidan desa pada kelompok masyarakat dengan tujuan memberikan informasi
tentang kanker payudara dan kanker leher rahim, faktor- faktor risiko, serta
pentingnya tindakan skrining.
3. Penapisan kanker leher rahim
Dilakukan pada setiap hari rabu sampai sabtu oleh bidan di puskesmas atau
di tempat lain secara berkelompok oleh bidan desa serta satu bulan diadakan
satu kali di setiap desa.
4. Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan pada hari rabu sampai sabtu oleh bidan di puskesmas atau di
tempat lain secara berkelompok oleh bidan desa serta satu bulan diadakan satu
kali di setiap desa.
5. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim
Single Visit Approach yaitu dilakukan krioterapi untuk IVA positif pada
saat itu juga. Dilakukan setiap hari rabu sampai sabtu oleh dokter atau bidan
terlatih di puskesmas.

17
6. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan setiap hari rabu sampai sabtu yang ditangani oleh dokter maupun
bidan terlatih di puskesmas, berupa sistem rujukan bagi pasien dengan efek
samping maupun komplikasi yang berat yang tidak dapat ditangai oleh tenaga
medis di puskesmas. Rujukan diberikan ke RSUD Karawang.
7. Penapisan kanker payudara
Dilakukan setiap hari rabu sampai sabtu oleh bidan di puskesmas atau
tempat lain secara berkelompok oleh bidan desa serta satu bulan diadakan satu
kali di setiap desa.
8. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara
Dilakukan setiap hari rabu sampai sabtu oleh dokter maupun bidan di
puskesmas, berupa sistem rujukan bagi pasien dengan efek samping maupun
komplikasi yang berat yang tidak dapat ditangani oleh tenaga medis di
puskesmas. Rujukan diberikan ke RSUD Karawang.
9. Pencatatan dan pelaporan
Setiap akhir bulan oleh bidan di puskesmas, berupa kegiatan pencatatan
hasil kegiatan program pencegahan kanker rahim dan payudara di puskesmas
setempat dan dilaporkan setiap bulan.
ii. Pengorganisasian Program Pelayanan IVA
Kepala Puskesmas
dr. Aziz Gopur

Penanggung jawab Pelaksana Pelayanan


IVA
dr. Hj. Farida Murdin
Koordinator IVA
Bd. Hj Sofiatun Sst
Koordinator Pelayanan
Bd. Elviana Christin Am.Keb
Bd. Nina Solehah Sst

Bidan-Bidan Desa

Bagan2. Struktur Organisasi Program Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) Puskesmas
Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang

18
iii. Pelaksanaan
1. Konseling
Dilakukan setiap hari rabu sampai sabtu kepada semua pasien oleh bidan di
pukesmas dan konseling dilakukan kepada sasaran perorangan sebelum, semasa
dan sesudah pemeriksaan IVA dilakukan. Sosalisasi kepada pasien yang
menjadi sasaran belum dijalankan pada hari kerja di Balai Pengobatan Umum
dan KIA.
2. Penyuluhan kelompok
Dilakukan tidak menentu tiap bulannya oleh bidan di puskesmas dan
bekerja sama dengan bidan desa.
3. Penapisan kanker leher rahim
Dilakukan hanya pada hari Rabu sampai Sabtu oleh bidan terlatih di
puskesmas. Terdapat data tertulis mengenai pelaksanaan penapisan kanker leher
rahim di tempat lain secara berkelompok di luar gedung (pabrik-pabrik) oleh
bidan terlatih satu bulan empat kali di setiap desa.
4. Penapisan dengan hasil IVA positif pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan hanya pada hari Rabu - Sabtu oleh bidan terlatih di puskesmas.
Terdapat data tertulis mengenai penapisan dengan hasil IVA positif pada
penapisan kanker leher rahim di tempat lain secara berkelompok oleh bidan
empat kali dalam sebulan di setiap desa.
5. Penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan hanya pada hari rabu - sabtu oleh dokter dan bidan terlatih
terlatih di puskesmas. Semua pasien yang ditemukan positif IVA pada hari
pelayanan IVA dan memerlukan tindakan krioterapi akan dijadwalkan untuk
dilakukan krioterapi pada hari rabu sampai sabtu di puskesmas.
6. Pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim
Dilakukan rabu sampai sabtu oleh dokter maupun bidan di puskesmas,
berupa sistem rujukan bagi pasien dengan efek samping maupun komplikasi
yang berat yang tidak dapat ditangani oleh tenaga medis di Puskesmas. Rujukan
diberikan ke RSUD Karawang atau rumah sakit yang bekenaan bagi pasien
7. Penapisan kanker payudara
Dilakukan hari Rabu-Sabtu di Puskesmas oleh bidan. Terdapat data tertulis
mengenai pelaksanaan penapisan kanker payudara di tempat lain secara
berkelompok oleh bidan desa satu kali dalam sebulan di setiap desa.
19
8. Pelayanan rujukan
Dilakukan pada hari Rabu-Sabtu di puskesmas oleh dokter maupun bidan di
Puskesmas, berupa sistem rujukan bagi pasien dengan efek samping maupun
komplikasi yang berat yang tidak dapat ditangani oleh tenaga medis di
Puskesmas. Rujukan diberikan ke RSUD Karawang atau rumah sakit yang
bekenaan bagi pasien.
9. Pencatatan dan pelaporan
Dilakukan pada setiap akhir bulan oleh bidan di Puskesmas.
iv. Pengawasan
Sistem pencatatan dan pelaporan bulanan oleh bidan terlatih.
Rapat bulanan yang dipimpin oleh kepala UPTD Puskesmas Klari,
Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang.

4.3.3 Keluaran
A. Cakupan konseling
Perkiraan target sasaran
Data Dinas Kesehatan Karawang tahun 2014, jumlah sasaran penapisan
Puskesmas Kecamatan Klari (wanita usia subur usia 30 50 tahun=
14.032 orang perempuan).5
Target penapisan 5 tahun = 85% x 14.032 = 11.927 WUS
Target yang akan ditapis tiap tahun = 11.927 = 2.385 WUS
5
Target yang akan ditapis tiap bulan = 2.385 = 199 WUS
12
Target yang akan ditapis tiap tahun % = 2.385 x 100% = 17 %
14.032
Target penapisan dalam 10 bulan = 199 x 10
= 1990 orang perempuan/10bulan
Target penapisan dalam 10 bulan % = _17%_ x10 bulan
12 bulan
= 14,2%
Cakupan Konseling
Jumlah peserta konseling di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari,
Kabupaten Karawang periode Januari - Oktober 2014.
20
Tabel 5. Jumlah Peserta Konseling Puskesmas Klari, Kecamatan Klari,
Kabupaten Karawang Periode Januari Oktober 2014.5
Bulan Peserta Konseling
Januari 2014 106
Februari 2014 73
Maret 2014 114
April 2014 0
Mei 2014 142
Juni 2014 150
Juli 2014 10
Agustus 2014 130
September 2014 159
Oktober 2014 164
Total 1048
Persentase konseling
Jumlah penapisan kanker leher rahim dan payudara
= x 100%
Jumlah perempuan yang mendapatkan konseling
1.048
= 1.048 x 100% = %

B. Cakupan Penyuluhan Kelompok


Jumlah peserta penyuluhan kelompok di Puskesmas Klari, Kecamatan
Klari, Kabupaten Karawang periode Januari - Oktober 2014.
Tabel 6. Jumlah Peserta Penyuluhan Kelompok Puskesmas Klari,
Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang Periode Januari Oktober 2014.6

Bulan Peserta Penyuluhan


Kelompok
Januari 2014 42
Februari 2014 35
Maret 2014 79
April 2014 0
Mei 2014 30
Juni 2014 79
Juli 2014 10

21
Agustus 2014
60
September 2014 93
Oktober 2014 98
Total 526 orang

Persentase penyuluhan kelompok


Jumlah peserta penyuluhan kelompok
= Pencapaian penapisan kanker leher rahim dan payudara x 100%
526
= 1.048 x 100% = , %

C. Cakupan Penapisan Kanker Leher Rahim


Jumlah penapisan kanker leher rahim di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari,
Kabupaten Karawang periode Januari - Oktober 2014 .
Tabel 7. Jumlah Penapisan Kanker Leher Rahim pada Wanita Usia 30 50
Tahun di Puskesmas Klari, Kabupaten Karawang Periode Januari Sampai
dengan Oktober 2014.5
Inspeksi
Visual
IVA Curiga
Bulan dengan Krioterapi Rujukan Komplikasi
(+) Ca
Asam
Asetat
Januari 2014 106 0 0 0 0 0
Februari 2014 73 0 0 0 0 0
Maret 2014 114 1 0 1 0 0
April 2014 0 0 0 0 0 0
Mei 2014 142 1 0 1 0 0
Juni 2014 150 1 0 1 0 0
Juli 2014 10 1 0 1 0 0
Agustus 2014 130 1 0 1 0 0
September 2014 159 2 0 1 0 0
Oktober 2014 164 3 1 2 0 0
Total 1.048 10 1 8 0 0

Persentase penapisan kanker leher rahim


Pencapaian penapisan kanker leher rahim
= Jumlah target penapisan kanker leher rahim x 100%
1.048
= 14.032 x 100% = , %%

22
D. Cakupan Penapisan dengan Hasil IVA Positif
Jumlah penapisan dengan hasil IVA positif di Puskesmas Klari, Kecamatan
Klari, Kabupaten Karawang periode Januari Oktober 2014 adalah 10
orang.
Persentasi penapisan dengan hasil IVA positif
Penapisan dengan hasil IVA positif
= Pencapaian penapisan kanker leher rahim x 100%
10
= 1.048 x 100% = 0.95%

E. Cakupan Penanganan dengan Krioterapi pada Penapisan Kanker


Leher Rahim
Jumlah penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim di
Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari -
Oktober 2014 adalah 8 orang.
Persentase penanganan dengan krioterapi
Penanganan dengan krioterapi
= x 100%
Penapisan dengan hasil IVA positif
8
= 10 x 100% = %

F. Cakupan Pelayanan Temuan Kasus Rujukan Penapisan Kanker Leher


Rahim
Cakupan temuan kasus rujukan kanker leher rahim
Jumlah temuan kasus rujukan pada penapisan kanker leher rahim di
Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari -
Oktober 2014 adalah 0 orang.
Persentase temuan kasus rujukan kanker leher rahim
Temuan kasus rujukan kanker leher rahim
= x 100%
Penapisan dengan hasil IVA positif
0
= 10 x 100% = %

G. Cakupan Penapisan Kanker Payudara


Jumlah penapisan kanker payudara di Puskesmas Klari, Kecamatan Klari,
Kabupaten Karawang periode Januari - Oktober 2014.

23
Tabel 8. Jumlah Penapisan Kanker Payudara Wanita Usia 30 50 Tahun di
Puskesmas Rengasdengklok, Kabupaten Karawang periode Januari 2014
sampai dengan September 2014.5
Bulan Clinical Breast Examination Benjolan (+) Rujukan
Januari 2014 106 0 0
Februari 2014 73 0 0
Maret 2014 114 1 0
April 2014 0 1 0
Mei 2014 142 4 0
Juni 2014 150 7 0
Juli 2014 10 9 0
Agustus 2014 130 9 0
September 2014 159 9 0
Oktober 2014 164 10 0
Total 1.048 50 0

Persentase penapisan kanker payudara


Pencapaian penapisan kanker payudara
= Jumlah target penapisan kanker payudara x 100%
1.048
= 14.032 x 100% = , %

H. Cakupan Pelayanan Rujukan pada Penapisan Kanker Payudara


Cakupan temuan kasus rujukan kanker payudara
Jumlah temuan kasus rujukan pada penapisan kanker payudara di
Puskesmas Klari, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang periode Januari -
Oktober 2014 adalah 0 orang.
Persentase temuan kasus rujukan kanker payudara
Temuan kasus rujukan pada kanker payudara
= Jumlah target penapisan kanker payudar per 9 bulan x 100%
0
= x 100% = %
1990

4.3.4 Lingkungan
1. Fisik
Lokasi dan transportasi
Strategis karena terletak dekat jalan raya dan tersedia sarana
transportasi umum seperti angkutan umum, dan ojeg.

24
Fasilitas kesehatan:
Fasilitas kesehatan yang lain seperti Rumah Sakit, Praktek Dokter,
Praktek Bidan Desa, klinik 24 jam, apotek dan Balai Pengobatan.
2. Non Fisik
Pendidikan :
Sebagian besar penduduk berpendidikan rendah yaitu tamat Sekolah
Dasar 44,04%.
Ekonomi :
Sebagian besar penduduk adalah buruh industri 44,33%

4.3.5 Umpan balik


Rapat kerja yang membahas laporan kegiatan setiap bulannya untuk
mengevaluasi program yang telah dijalankan di puskesmas : Ada.
Rapat kerja yang membahas laporan kegiatan setiap bulannya untuk
mengevaluasi program yang telah dijalankan di Dinas Kesehatan : Ada.

4.3.6 Dampak
1. Langsung
Menurunkan jumlah kesakitan kanker leher rahim dan kanker payudara :
Belum dapat dinilai.
Menurunkan jumlah kematian kanker leher rahim dan kanker payudara :
Belum dapat dinilai.
2. Tidak Langsung
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat : Belum dapat dinilai.

25
Bab V
Pembahasan

Tabel 9. Masalah Menurut Variabel Keluaran:


No. Variabel Tolok Ukur Pencapaian Masalah
1. Persentase penapisan kanker 14,2 % 7.47 % (+) 6,73%
leher rahim dan kanker
payudara.
2. Persentase penanganan dengan 100 % 80 % (+) 20%
krioterapi pada penapisan
kanker leher rahim.

Keterangan : (+) = bermasalah

Tabel 10. Masalah Menurut Variabel Lingkungan :


No. Variabel Pencapaian Keterangan

1. Lingkungan Non Fisik


a. Dukungan sosial a. Mayoritas istri akan meminta Mempengaruhi
persetujuan suami untuk melakukan
tindakan.
b. Agama b. Mayoritas penduduk di Kecamatan Mempengaruhi
Klari, Kabupaten Karawang beragama
muslim sehingga pemeriksaan sistem
reproduksi masih dianggap tabu.
Variabel selain tertera diatas tidak memiliki masalah berdasarkan tolok ukur

26
Bab VI
Perumusan Masalah

Masalah menurut keluaran (masalah sebenarnya):


A. Cakupan penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara masih kurang dari target
14,2 %, yaitu sebesar 7,47 %. Besarnya masalah adalah 6,73 %.
B. Cakupan penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim masih
kurang dari target 100 %, yaitu sebesar 80 %. Besarnya masalah adalah 20 %.

Masalah lain (penyebab):


1. Mayoritas penduduk di Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang beragama Muslim
sehingga pemeriksaan sistem reproduksi masih dianggap tabu.
2. Mayoritas istri akan meminta persetujuan suami untuk setiap tindakan dan masih
banyak suami yang berpendapat bahwa pemeriksaan sistem reproduksi belum begitu
penting.

27
Bab VII
Penyelesaian Masalah

7.1 Masalah 1 : Cakupan penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara masih kurang
dari target 14,2 %, yaitu sebesar 7,47 %. Besarnya masalah adalah 6,73 %.
Penyebab :
Mayoritas penduduk beragama Islam sehingga pemeriksaan alat reproduksi masih
dianggap tabu, sehingga masyarakat masih belum ada niat untuk memeriksakan
diri.
Masih kurangnya dukungan sosial suami kepada istri untuk melakukan
pemeriksaan.
Penyelesaian :
Menjelaskan kepada masyarakat mengenai pentingnya dilakukan pemeriksaan
IVA dan CBE.
Memperluas sosialisasi mengenai tindakan pemeriksaan kepada pihak pria atau
suami sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan dukungan mereka kepada
istrinya untuk melakukan pemeriksaan IVA dan CBE.

7.2 Masalah 2 : Cakupan penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher
rahim masih kurang dari target 100 %, yaitu sebesar 80 %. Besarnya masalah adalah 20
%.
Penyebab :
Sikap masyarakat yang pasrah akan penyakit, sikap dan rasa malu akan
penyakitnya apa bila diketahui oleh orang laen, sikap yang bulum dapat
menerima akan penyakit yang diderita.
Penyelesaian :
Memberikan penyuluhan kepada warga mengenai cara dan pentingnya dilakukan
krioterapi.

28
Bab VIII
Kesimpulan Dan Saran

8.1 Kesimpulan
Dari hasil evaluasi program deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara
yang dilakukan dengan cara pendekatan sistem di Puskesmas Kecamatan Klari,
Kabupaten Karawang periode Januari 2014 Oktober 2014 didapatkan:
1. Cakupan konseling sebesar 100%.
2. Cakupan penyuluhan kelompok sebesar 50,2%.
3. Cakupan penapisan kanker leher rahim sebesar 7,47%.
4. Cakupan penapisan kanker leher rahim dengan IVA positif yaitu 0,95%.
5. Cakupan penanganan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim sebesar 80%.
6. Cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker leher rahim 0 %.
7. Cakupan penapisan kanker payudara sebesar 7,47%.
8. Cakupan pelayanan rujukan pada penapisan kanker payudara 0 %.
Dari hasil di atas, terdapat dua masalah, yaitu:
A. Cakupan penapisan kanker leher rahim dan kanker payudara masih kurang dari
target 14,2 %, yaitu sebesar 7,47 %.
B. Cakupan penanganan dengan krioterapi pada penapisan kanker leher rahim masih
kurang dari target 100 %, yaitu sebesar 80 %.

8.2 Saran
Apabila saran ini dapat dijalankan, maka diharapkan masalah ini tidak akan kembali
muncul di Puskesmas Kecamatan Klari sebagai pokok masalah tahun depan. Saran
kepada puskesmas Klari yaitu:
1. Perlunya evaluasi di setiap lokakarya mini bulanan puskesmas mengenai cara
penyampaian penyuluhan dan konseling di antara dokter, bidan, dan bidan desa
sehingga perbaikan dan penuturan bahasa yang benar dapat membantu menarik
minat masyarakat untuk menyertai program penapisan kanker leher rahim dan
kanker payudara yang dijalankan di puskesmas atau di desa-desa.
2. Mengadakan penyuluhan tidak hanya untuk kelompok perempuan, namun juga
dilakukan pada kelompok pria atau suami untuk meningkatkan pengetahuan akan
pentingnya pencegahan kanker leher rahim sehingga dapat meningkatkan

29
kesadaran untuk melakukan pemeriksaan IVA dan meningkatkan dukungan dari
pihak pria atau suami terhadap kegiatan pencegahan kanker leher rahim.
3. Penyuluhan yang diadakan harus lebih bersifat interaktif dan dinamis dengan
mengikutsertakan narasumber dokter atau mereka yang menderita kanker leher
rahim sehingga kesadaran masyarakat akan meningkat seiring peningkatan
pengetahuan masyarakat. Adanya penghargaan pada kegiatan juga bisa
meningkatkan motivasi dari masing-masing pihak sehingga dapat terus
dilaksanakan dengan rutin
4. Diharapkan agar dokter atau bidan yang sudah terlatih agar melatih kembali para
bidan-bidan desa agar dapat melakukan tindakan IVA sehingga tindakan IVA
dapat dilaksanakan lebih banyak dan lebih sering lagi.
5. Pihak puskesmas juga membuat usulan kepada Suku Dinas Kesehatan agar
melengkapi media-media promosi seperti spanduk, dan video, sehingga diharapkan
pada tahun berikutnya dengan diadakan kegiatan rutin ini, cakupan penapisan
kanker leher rahim dan payudara dapat meningkat dan dapat menurunkan angka
kesakitan dan kematian akibat kanker payudara dan kanker leher rahim

30
Daftar Pustaka

1. Rahmadianani I. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian lesi kanker leher rahim
di Puskesmas Klari dan Puskesmas Pedes kabupaten Karawang tahun 2010-2011. Depok:
Fakultas kesehatan masyarakat Universitas Indonesia. Juli 2012. h.21
2. Incidens Cancers in the World Based on International Agency for Research on Cancer.
[updated 2010, cited on 2013]. Diunduh dari http://globocan.iarc.fr. pada tanggal 23
September 2014.
3. Departemen Kesehatan RI. Skrining kanker leher rahim dengan metode inspeksi visual
dengan asam asetat (IVA). Jakarta : Depkes RI; 2008.
4. Susanto DH. Pedoman evaluasi program. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan
Kedokteran UKRIDA. 2011.
5. Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang. Laporan hasil deteksi dini kanker leher rahim dan
payudara di puskesmas klinik iva kabupaten karawang periode Januari hingga Oktober
2014.

31