Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek
kehidupan, terutam sosio-psikologis. Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan
dengan sesama manusia. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri
terhadap lingkungan kehidupan sosial. Sepanjang hidup pola kehidupan sosial anak terbentuk.
Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang dewasa.
Pada jenjang ini kebutuhan remaja telah cukup kompleks cakrawala interaksi sosial, dan
pergaulan remaja telah cukup luas. Pergaulan remja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok,
dalam bentuk penetapan pilihan kelompok yang diikuti di dasari oleh berbagai penimbangan,
seperti moral, ekonomi, minat dan kesamaan bakat dan kemampuan. Masalah umum yang
dihadapioleh remaja dan yang paling rumit adalah penyesuaian diri. Faktor yang mempengaruhi
perkembangan sosial remaja yaitu keluarga, kematangan, status sosial ekonomi, pendidikan, dan
kapasitas mental, emosi, dan intelegensi.
Dalam perkembangan sosial para remaja dapat memikirkan dirinya sendiri dan orang lain.
Pemikiran terwujud dalam refleksi diri dan kritik hasil pergaulannya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja isi ringkasan kedua buku mengenai peran guru pada perkembangan hubungan
sosial pada remaja usia sekolah menengah?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui saja isi ringkasan kedua buku mengenai peran guru pada
perkembangan hubungan sosial pada remaja usia sekolah menengah

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 IDENDITAS BUKU

Judul Perkembangan Peserta Didik


Penulis Buku Prof.Dr H.Sunarto

Penerbit PT Rineka Cipta


Cetakan ke-1

Tahun Terbit 2002


Tebal 245 halaman

2
Judul Perkembangan Peserta Didik ( Mengenal
Psikologi Perkembangan Peserta Didik)

Penulis Buku Prof. Dr. Syamsu Yusuf LN., M.Pd., Dr. Nani
M. Sugandhi

Penerbit PT Raja Grafindo Persada

Cetakan ke-1

Tahun Terbit Februari 2011


Tebal 163 halaman

Kedua buku ini berjudul Perkembangan Peserta Didik disini saya akan membuat
ringkasan buku yang akan saya kritik terdiri dari satu Bab mengenai Peran Guru Mengembangan
Hubungan Sosial Remaja Usia Sekolah Menengah

3
2.2 Ringkasan Isi Buku

A. Perkembangan Hubungan Sosial Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)


1. Pengertian Hubungan Sosial
Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek
kehidupan, terutam sosio-psikologis. Manusia sebagai makhluk sosial senantiasa berhubungan
dengan sesama manusia. Bersosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri
terhadap lingkungan kehidupan sosial. Sepanjang hidup pola kehidupan sosial anak terbentuk.
Remaja adalah tingkat perkembangan anak yang telah mencapai jenjang menjelang
dewasa. Pada jenjang ini kebutuhan remaja telah cukup kompleks cakrawala interaksi sosial, dan
pergaulan remaja telah cukup luas. Pergaulan remja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok,
dalam bentuk penetapan pilihan kelompok yang diikuti di dasari oleh berbagai penimbangan,
seperti moral, ekonomi, minat dan kesamaan bakat dan kemampuan. Masalah umum yang
dihadapioleh remaja dan yang paling rumit adalah penyesuaian diri. Faktor yang mempengaruhi
perkembangan sosial remaja yaitu keluarga, kematangan, status sosial ekonomi, pendidikan, dan
kapasitas mental, emosi, dan intelegensi.Dalam perkembangan sosial para remaja dapat
memikirkan dirinya sendiri dan orang lain. Pemikiran terwujud dalam refleksi diri dan kritik
hasil pergaulannya.
Pada proses interaksi sosial ini, faktor intelektual dan emosional mengambil peran yang
sangat penting dan menempatkan anak-anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses
sosialisasi, internalisasi, dan enkulturasi. Sebab, manusia tumbuh dan berkembang didalam
konteks lingkungan sosial budaya. Lingkungan itu dapat dibedakan atas lingkungan fisik,
lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. Lingkungan social memberikan banyak pengaruh
terhadap pembentukan kepribadian anak, terutama kehidupan sosiospikologis.
Sosialisasi pada dasarnya merupakan proses penyesuaian diri terhadap kehidupan sosial,
yaitu bagai mana seharusnya seseorang hidup dalam kelompoknya, baik dalam kelompok primer
(keluarga) maupun kelompok sekunder (masyarakat). Proses sosialisasi dan interaksi sosial
dimulai sejak manusia lahir dan berlangsung hinggga ia dewasa. Menurut Piaget, interaksi sosial
anak pada tahun pertama sangat terbatas, terutama hanya dengan ibu dan ayahnya saja dan
terpusat pada egonya, belum memperhatikan lingkungannya. Baru pada tahun kedua, ia mulai
mereaksi lingkuang secara aktif. Prilaku emosionalnya telah berkembang dan berperan. Ia telah
belajar membedakan dirinya dengan oranglain, selain mengenal kedua orang tuanya, mengenal

4
keluarga dan teman-teman sebayanya. Saat mulai belajar di sekolah, ia mulai mengembangkan
interaksi sosial dengan belajar menerima pandangan, nilai dan norma social. Menginjak masa
remaja, ia mampu berinteraksi dengan teman sebayannya, terutama lawan jenisnya, pada
akhirnya, pergaulan sesama manusia menjadi suatu kebutuhan dalam kehidupannya. Kebutuhan
bergaul dan berhubungan social dengan oranglain ini mulai dirasakan sejak anak berusia enam
bulan. Pada saat itu, anak telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu, ayah, dan anggota
keluarganya. Mulai mengenal dan mampu membedakan social, seperyti marah, senyum, dan
kasih sayang. Dan menyadari bahwa manusia itu saling membutuhkan satu sama lain dalam
memenuhi dan mempertahankan kehidupannya dimasyarakat.
Dengan demikian, jelas bahwa hubungan social merupakan hubungan antar manusia yang
saling membutuhkan dan dimulai dari tingkatan yang sederhana dan terbatas sampai pada
tingkatan yang lebih luas dan kompleks, semakin dewasa dan bertambah umur, tingkat hubungan
social juga berkembang menjadi amat luas dan kompleks. Pada jenjang perkembangan remaja,
seorang remaja bukan saja memrlukan orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, tetapi
untuk betpartisipasi dan berkontribusi memajukan kehidupan masyarakatnya.
2. Karakteristik Perkembangan Sosial Remaja
Dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan, remaja mulai memperhatikan dan
memahami nilai dan norma pergaulan dalam kelompok remaja, kelompok anak-anak, kelompok
orang dewasa, dan kelompok orang tua. Pergaulan dengan sesama remaja lawan jenis sangat
penting, tetapi tidak mudah dilakukan. Kehidupan social usia remaja ditandai oleh menonjolnya
fungsi intelektual serta emosionalnya, dan mengalami sikap hubungan social yang bersifat
tertutup ataupun terbuka seiring dengan masalah pribadi yang dialaminya. Erik Erickson
menyatakan keadaan ini sebagai krisis identitas. Proses pembentukan diri dan konsep diri
merupakan suatu yang kompleks. Konsep diri tidak hanya terbentuk dari bagaimana remaja
percaya tentang keberadaannya, tetapi juga bagaimana orang lain menilai tentang
keberadaannya.
Erickson mengemukakan bahwa perkembangan remaja berada pada tahap keenam dan
ketujuh dari 8 tahapan remaja menuju jenjang usia dewasa. Dalam tahapan tersebut remaja mulai
menemukan jati dirinya sesuai dengan atau berdasarkan situasi kehidupan yang mereka
alami.dalam hal ini, Erickson berpendapat bahwa penemuan jati diri seseorang didorong oleh

5
pengaruh sosiokulkutural. Berbeda dengan pandangan Sigmud Freud bahwa kehidupan social
remaja didorong oleh dan berorientasi pada kepentingan seksualnya.
Pergaulan remaja banyak diwujudkan dalam bentuk kelompok, baik kelompok kecil
maupun kelompok besar, yang dipilih didasari oleh derbagai pertimbangan, seperti, moral,
ekonomi, minat, dan kesamaan bakat dan kemampuan. Factor penyesuaian diri adalah masalah
yang umum dan rumit yang dihadapi olah remaja. Didalam kelompok besar akan terjadi
persaingan ketat karena tiap individu bersaing untuk tampil menonjol, dan biasanya hal ini
menjadi penyebab terjadinya perpecahan. Selain itu di dalam kelompok terbentuk juga suatu
persatuan dan rasa solidaritas yang kuat yang diikat oleh nilai dan norma kelompok yang telah
disepakati bersama. Nilai positif dalam kehidupan berkelompok adalah tiap-tiap anggota belajar
berorganisasi, memilih pemimpin, dan mematuhi peraturan. Ada kalanya, tindakan kelompok
kurang mengindahakan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat karena lebih
memperhatikan keutuhan kelompoknya. Dalam mempertahankan dan melawan serangan
kelompok lain, merka mengutamakan rasa solidartitas serta semangat persatuan dan keutuhan
kelompoknya tanpa mempedulikan objektivitas kebenaran
Dalam kelompok kecil yang terdiri dari pasangan remaja yang berbeda jenis, penyesuaian
diri tetap menjadi permasalahan yang cukup berat, karena dalam penyesuaian diri kemampuan
intelektual dan emosional mempunyai pengaruh yang kuat. Saling pengertian dan kekurangan
dan kelebihan masing-masing dan upaya menahan sikap menonjolkan diri terhadap pasangannya,
memerlukan tindakan intelektual yang tepat dan kemampuan mengendaliak emosional. Dalam
hal hubungan yang lebih khusus, yang mengarah pada pemilihan pasangan hidup, pertimbangan
factor agama dan suku bangsa menjadi masalah yang amat rumit. Karena masalah ini
bersangkutan dengan kepentingan keluarga dan kelompok masyarakat yang lebih besar.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial
a. Faktor Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang memberikan banyak pengaruh
terhadap berbagai aspek perkembangan social anak dan merupakan media sosialisasi yang paling
efektif. Dalam keluarga berlaku nilai dan norma kehidupan yang harus dipatuhi. Sika orang tua
yang terlalu mengekang dan membatasi pergaulan akan berpengaruh terhadap perkembangan
social bagi anak-anaknya, sebaliknya jika terlalu memberikan kebebasan akan menyebabkan
perkembangan anak akan tidak terkendali.

6
b. Kematangan
Proses sosialisasi tentusaja memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk member dan
menerima pandangan atau pendapat orang lain diperlukan kematangan intelektual dan
emosional. Selain itu, kematangan mental dan kemampuan berbahasa ikut pula menentukan
keberhasilan seseorang dalam berhubungan sosial.
c. Status sosial ekonomi
Masyarakat akan memandang seorang anak dalam konteksnya yang utuh dengan keluarga
anak itu. Dari pihak anak itu sendiri, prilakunya akan memlihatkan kondisi normative yang telah
ditanamkan oleh keluarganya. Ia akan menjaga status sosial telah ditanamkan oleh keluarganya.
Hal itu mengakibatkan anak akan menempatkan dirinya dalm pergaulan yang tidak tepat dan
akan berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi terisolasi dari kelompoknya. Akibat lain, anak-
anak dari keluarga kaya akan membentuk kelompok elit dengan nilai dan norma sendiri.
d. Pendidikan
Pendidikan merupakan media sosialisasi yang terarah bagi anak. Pendidikan sebagai
pengoper ilmu yang normative, akan member warna terhadap kehidupan sosial anak dimasa yang
akan dating. Pendidikan moral diajarkan secara terprogam untuk membentuk kepribadian anak
agar mereka bertanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.
e. Kapasitas mental: emosi dan inteligensi
Kapasitas emosional dan kemampuan berfikir mempengaruhi banyak hal, seperti
kemampuan belajar, memecahkan masalah, berbahasa, dan menyesuaikan diri terhadap
kehidupan masyarakat. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi dan memiliki emosi yang
stabil akan mampu memecahkan berbagai permasalahn hidupnya di massyarakat. Oleh karena
itu, kemampuan intelektual tinggi, pengendalian emosional secra seimbang sangat menentukan
keberhasilan dalam perkembangan sosial anak. Remaja yang berkemampuan intelektual tinggi
mampu bersikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain.
4. Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku
Dalam perkembangan sosial, para remaja dapat memikirkan perihal dirinya dan oranglain
yang terwujud dalam refleksi diri, yang sering mengarah pada penilaian diri dan kritik dari hasil
pergaulannya dengan orang lain. Pikiran ramaja sering dipengaruhi ole ide-ide dan teori-teori
yang menyebabkan sikap kritisnya terhadap situasi dari orang lain, termasuk orang tuanya. Sikap

7
kritis ini juga ditunjukkan dalam hal-hal yang sudah umum baginya pada masa sebelumnya,
sehingga ia merasa bahwa tata cara, adat istiadat yang berlaku di lingkungan keluarga
bertentangan dengan sikap kritis yang tampak pada pelakunya.
Pengaruh egosentris masih sering terlihat pada pikiran remaja, karena hal berikut:
a. Cita-cita dan idealism yang baik, terlalu menitikberatkan pikiran sendiri, tanpa memikirkan
akibat lebih jauh dan tanpa memperhitungkan kesulitan yang mungkin menyebabakan kegagalan
dalam menyelesaikan persoalan.
b. Kemampuan berfikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain dalam
penilaiannya.
Pencerminana sifat egois sering dapat menyebabkan kekakuan para remaja dalam cara
berfikir maupun bertingkah laku. Persoalan yang timbul pada masa remaja adalah perkembangan
fisik yang dirasakan mengagnggu dirinya dalam bergaul, karena menduga orang lainikut tidak
puas dengan penampilan dirinya. Hal ini menimbulkan perasaan seperti selalu diamati orang lain,
malu, dan membatasi gerak-geriknya yang berakibat kecanggungan dalam bertingkah laku.
Proses penyesuaian diri yang dilandasi sifat egonya menimbulkan reaksi lain, yaitu melebih-
lebihkan dalam penilaian diri, merasa dirinya hebat sehingga berani melakukan aktifitas yang
tergolong membahayakan.
Melalui banyak pengalaman serta dalam menghadapi pendapat orang lain, sifat egonya
semakin berkurang dan pada akhir masa remaja, pengaruh egosentrisitas cenderung semakin
kecil. Sehingga iia dapat berhubungan dengan orang lain tanpa meremehkan pendapat dan
pandangan orang lain.
5. Mengembangkan Keterampilan Sosial pada Remaja
Sebagai makhluk sosial, remaja dituntut untuk mampu memecahkan persoalan yang
timbul dari hasil interaksi dengan lingkungan sosial dan mampun menempatkan diri sesuai
dengan norma yang berlaku. Oleh karena itu, ia dituntut menguasai keterampilan-keterampilan
soaial dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkuangan sekitarnya (aspek psikososial).
Keterampilan tersebut dikembangkan sejak anak-anak, misalnya dengan memberikan waktu
yang cukup bagi anak-anak untuk bermain dengan teman sebayanya, memberitugas dan
tanggung jawab sesuai dengan perkembangan anak, dan sebagainya. Dengan mengembangkan
keterampilan sejak dini, anak akan mudah memenuhi tugas-tugas perkembangan berikutnya
sehingga ia dpt berkembang secara normal dan sehat.

8
Pada masa remaja keterampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin
penting, karena remaja sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dan pengarung
teman_teman serta lingkungan sosial sangat menentukan. Jika hal tersebut gagal , akan
menyebabkan remaja sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga
menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan, berprilaku kurang normative, dan bahakan dapat
menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan criminal, tindakan
kekerasan, dan sebagainya.
Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai remaja adalah memiliki keterampilan
sosial untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari. Keterampilan sosial tersebut
meliputi kemampuan berkomunikasi, menghargai diri sendir dan orang lain, mendengarkan
pendapat orang lain, membri atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang
berlaku, dan sebagainya.
Menurut hasil studi Davis dan Forsythe (1984), dalm kehidupan remaja terdapat delapan
aspek keterampilan sosial yaitu:
a. Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak dalam mendapatkan
pendidikan. Anak yang dibesarkan dalam keluarga tidak harmoni tidak mendapatkan kepuasan
psikis cukup akan sulit mengembangkan keterampilan sosialnya. Hal ini dapat terlihat dari:
Kurang adanya slaing pengertian
Kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan orang tua dan saudara
Kuarng berkomunikasi secara sehat
Kurang mampu mandiri
Kurang mampu memberi dan menerima sesame saudara
Kurang mampu bekerja sama
Kurang mampu mengadakan hubungan yang baik
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, penting bagi orangtua untuk menjaga
keharmonisan keluarganya. Keharmonisan dalam hal ini tidaklah identik dengan keluarga yang
utuh, orang tua single terbukti dapat berfungsi efektif dalam membantu perkembangan
psikososial anak. Orang tua sebaiknya menciptaka suasana demokratis di dalam keluarga agar
remaja dapat menjalin komunikasi yang baik antar anggota keluarga. Dengan demikian segala
konflik yang timbul akan mudah diatasi.

9
b. Lingkungan
Sejak dini, anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan, yang meliputi
lingkungan rumah, lingkungan sosial/tetanga, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan
lingkungan masyarakat luas. Dengan demikina, anak sudah mengetahui bahwa dia memiliki
lingkuangan yang luas.
c. Rekreasi
Rekreasi merupakan kebutuhan sekunder yang sebaiknya terpenuhi, karena denga
rekreasi anak akan mendpatkan kesegaran fisik maupun psikis, terlepas dari rasa capek, bosan,
monoton, serta mendapatkan semangat baru.
d. Pergaulan dengan lawan jenis
Sebaiknya remaja tidak dibatasi pergaulannya hanya dengan teman-teman yang memiliki
jeni kelamin yang sama, karena pergaulan dengan lawan jenis akan memudahkan anak dalam
mengidentifikasi sex role behavior yang sangat penting dalam persiapan berkeluarga.
e. Pendidikan
Didalam sekolah diajarkan keterampilan sosial yang dikaitkan dengan cara-cara belajar
yang efisien dan berbagai teknik belajar sesuai dengan jenis pelajarannya. Dalam hal ini peran
orang tua adalah menjaga ketermpilan tersebut tetap dimiliki oleh anak dan dan dikembangkan
sesuai tapah perkembangannya.
f. Persahabatan dan solidaritas kelompok
Pada masa remaja, peran kelompok dan teman-teman sangat besar, sehingga lebih
mementingkan urusan kelompok dibanding urusan dengan keluarga. Dalam hal ini orang tua
memberi dukungan kepada anak selama kegiatan kempoknya bertujuan positif dan sekaligus
mengawasi agar remaja dapat memiliki pergaulan yang luas dan bermanfaat.
g. Lapangan kerja
Keterampilan sosial untuk memilih lapangan kerja sebenarnya telah disiapkan sejak anak
masuk sekolah dasar, mereka telah mengenal berbagai lapangan pekerjaan yang ada dalam
masyarakat sekitar. Setelah masuk SMA, mereka mendapat bimbingan karier untuk
mengarahkan karier masadepan, sehingga remaja yang terpaksa tidak dapt melanjutkan sekolah
ke perguruan tinggi akan siap untuk bekerja.

10
h. Meningkatkan kemampuan penyesuaian diri
Untuk menumbuhkan kemampuan penyesuaian diri, sejak awal anak diajarkan untuk
lebih memahami dirinya sendiri, agar mampu mengendalikan. Untuk itu, tugas
orangtua/pendidik adalah membekali diri anak dengan membiasakannya untuk menerima
dirinya, menerima oranglain, tahu dan mau mengakui kesalahannya, dan sebagainya. agar remaja
tidak terkejut menerima kritikan, mudah membaur, dan memiliki solidaritas yang tinggi. Selain
itu, sejak awal sebaiknya orangtua/pendidik memberikan bekal agar anak dapt memilih mana
yang penting dan mana yang kurang penting melalui pendidikan disiplin, tata tertib, dan etika.
6. Implikasi Pengembangan Hubungan Sosial Remaja terhadap penyelenggaraan
pendidikan
Remaja umumnya belum mamahami benar tentang nilai dan norma yang berlaku di
masyarakat, sehingga menimbulkan hubungan sosial yang kurang serasi dengan kondisi yang
terjadi dalam masyarakat. Pola kehidupan remaja yang berbeda dengan kelompok dewasa, dan
kelompok anak-anak akan menimbulkan konflik sosial. Penciptaan kelompok sosial remaja perlu
dikembangkan untuk memberikan ruang kepada mereka kearah prilaku yang bermanfaat dan
diterima oleh masyarakat. Disekolah perlu sering diadakan kegiatan, bakti sosial, kelompok
belajar, dan kegiatan-kegiatan lainnya dibawah asuhan guru pembimbing.

B. Perkembangan Bahasa Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)


1. Pengertian Perkembangan Bahasa
Fungsi bahasa yaitu alat komunikasi yang digunakan oleh seseorang dalam
pergaulannya atau berhubungan dengan orang lain. Penggunaan bahasa menjadi efektif saat
seorang individu berkomunikasi dengan orang lain.
Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, berarti faktor inteligensi
sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan bahasa. Perkembangan bahasa
dipengaruhi oleh lingkungan karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari
lingkungan.
Jadi, perkembangan bahasa adalah meningkatkan kemampuan penguasaan alat
berkomunikasi, baik dengan cara lisan, tertulis, tertulis maupun menggunakan tanda-tanda dan
isyarat. Menguasai alat komunikasi diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami
dan dipahami orang lain.

11
2. Karakteristik Perkembangan Bahasa Remaja
Pola bahasa yang dimiliki dan dikuasi anak adalah bahasa yang berkembang di dalam
keluarga atau disebut bahasa ibu. Perkembangan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan
dengan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku berbahasa. Pengaruh
pergaulan dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak
(remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok
sebaya.
Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga, masyarakat dan sekolah dalam
perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antar anak yang satu dengan anak yang
lain. Ini ditunjukan oleh pemilihan dan penggunaan kosa kata sesuai dengan tingkat sosial
keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan berpendidikan rendah, biasanya akan lebih
banyak menggunakan bahasa dengan istilah-istilah yang kasar. Sebaliknya, masyarakat terdidik
biasanya akan menggunakan istilah-istilah yang halus dan intelek.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu :
a. Faktor Umur
Dengan bertambahnya usia dan pengalaman bahasa seseorang akan berkembangan.
Faktor fisik juga ikut mempengaruhi. Pada masa remaja, perkembangan biologis yang
menunjang kemampuan berbahasa sudah mencapai tingkat kematangan. Disertai perkembangan
intelektual remaja akan mampu menunjukkan cara-cara berkomunikasi yang baik dan sopan.

b. Faktor Kondisi Lingkungan


Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil cukup besar terhadap
kemampuan berbahasa. Perkembangan bahasa di lingkungan perkotaan berbeda dengan
lingkungan pedesaan. Begitu pula dengan perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan,
daerah-daerah terpencil dan di kelompok sosial lain.

c. Faktor Kecerdasan
Untuk meniru bunyi atau suara, gerakan, dan mengenal tanda-tanda memerlukan
kemampuan motorik yang baik. Ketepatan meniru, mengumpulkan perbendaharaan kata-kata,

12
menyusun kalimat dengan baik dan memahami maksud pernyataan orang lain sangat dipengaruhi
oleh kemampuan kerja motorik dan kecerdasan seseorang.
d. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi
yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dan anggota keluarganya. Hal ini akan tampak
perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup didalam keluarga terdidik dan tidak
terdidik. Dengan kata lain pendidikan dan status sosial ekonomi keluarga berpengaruh terhadap
perkembangan bahasa. Begitu pula sebaliknya.
e. Faktor Kondisi Fisik
Yang dimaksud dengan kondisi fisik disini adalah kondisi kesehatan anak. Seseorang
yang cacat yang terganggu kemapuannya untuk berkomunikasi seperti bisu, tuli, gagap, atau
organ suara tidak sempurna akan menggangu perkembangan berkomunikasi dan mengganggu
perkembangannya dalam berbahasa.
4. Pengaruh kemampuan Berbahasa terhadap Kemampuan Berpikir
Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling mempengaruhi satu sama lain.
Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya, akan mengalami kesulitan dalam menyusun
kalimat yang baik, logis dan sistematis. Hal ini akan berakibat sulitnya dalam berkomunikasi.
Ketidaktepatan menangkap arti bahasa akan berakibat ketidaktepatan dan kekaburan
persepsi yang diperolehnya. Akibatnya hasil proses berpikir menjadi tidak tepat. Ketidaktepatan
hasil proses pikir ini diakibatkan kekurangmampuan dalam berbahasa.

5. Implikasi Pengembangan Kemampuan Bahasa Remaja terhadap Penyelenggara


Pendidikan
Kelompok belajar terdiri dari siswa yang bervariasi bahasanya, baik kemampuannya
maupun polanya. Menghadapi hal ini guru harus mengembangkan strategi belajar-mengajar
bidang bahasa dengan memfokuskan pada potensi dan kemampuan anak. Anak diminta
melakukan pengulangan (menceritakan kembali) pelajaran yang telah diberikan dengan kata dan
bahasa yang disusun sendiri. Dengan cara ini guru dapat melakukan identifikasi tentang pola dan
tingkat kemampuan bahasa murid-muridnya.
Dari identifikasi itu guru melakukan pengembangan bahasa murid dengan
menambahkan perbendaharaan bahasa yang tepat dan benar, sehingga para murid mampu

13
menyusun cerita lebih komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan
menggunakan pola bahasa mereka.
Perkembangan bahasa yang menggunakan model pengekspresian secara mandiri, baik
lisan maupun tertulis, dengan mendasarkan pada bahan bacaan akan lebih mengembangkan
kemampuan bahasa anak membentuk pola bahasa masing-masing. Oleh karena itu sarana
perkembangan bahasa seperti buku-buku, surat kabar, majalah, dan lain-lainnya hendaknya
disediakan di sekolah.
C. Perkembangan Emosi Peserta Didik Usia Sekolah Menengah (Remaja)

Kehidupan anak penuh dengan dorongan dan minat untuk mencapai atau memiliki
sesuatu. Apabila dorongan, keinginan atau minatnya dapat terpenuhi, anak cenderung memiliki
perkembangan emosi yang sehat dan stabil. Ia tidak akan tehambat oleh gejala ganggauan emosi.
Sebaliknya jika dorongan dan keinginannya tidak dapat terpenuhi karena kondisi lingkungan
yang kurang menunjang, sangat dimungkinkan perkembangan emosionalnya akan mengalami
gangguan.
Oleh karena itu, gejala-gejala emosional seperti rasa kecewa, marah, takut, bangga, malu,
cinta dan benci, harapan-harapan dan rasa putus asa perlu dicermati dan dipahami dengan baik
oleh orang tua dan guru.

14
2.3 Ringkasan Isi Buku Pembanding

A. Hakikat Perkembangan Sosial Remaja

Perkembangan sosial pada masa remaja merupakan puncak dari perkembangan sosial dari
fase-fase perkembangan. Bahkan, terkadang, perkembangan sosial remaja lebih mementingkan
kehidupan sosialnya di luar ikatan sosialnya dalam keluarga. Perkembangan sosial remaja pada
fase ini merupakan titik balik pusat perhatian. Lingkungan sosialnya sebagai perhatian
utama.Pada usia remaja pergaulan dan interaksi sosial dengan teman sebaya bertambah luas dan
kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya termasuk pergaulan dengan lawan jenis.
Pemuasan intelektual juga didapatkan oleh remaja dalam kelompoknya dengan berdiskusi,
berdebat untuk memecahkan masalah. Mengikuti organisasi sosial juga memberikan keuntungan
bagi perkembangan sosial remaja, namun demikian agar remaja dapat bergaul dengan baik dalam
kelompoknya diperlukan kompentensi sosial yang berupa kemampuan dan keterampilan
berhubungan dengan orang lain.

Syamsu (2001: 198) menjelaskan bahwa pada masa remaja perkembangan social
cognition, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain. Remaja memahami orang lain
sebagai individu yang unik, baik yang menyangkut sifat-sifat pribadi, minat nilai-nilai maupun
perasaannya. Pemahamannya ini, mendorong remaja untuk menjalin hubungan sosial yang lebih
akrab dengan mereka (terutama teman sebaya), baik melalui jaringan persahabatan maupun
percintaan (pacaran).Selanjutnya Syamsu (2001: 198) menjelaskan bahwa pada masa ini juga
perkembangan sikap conformity, yaitu kecenderungan untuk menyerah atau mengikuti opini,
pendapat, nilai, kebiasaan, kegemaran (hobby) atau keinginan orang lain (teman sebaya).
Perkembangan sikap konformitas remaja memberikan dampak yang positif maupun yang negatif
bagi dirinya.
Ada beberapa pengertian tentang perkembangan sosial, yaitu :
1. Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang dalam
bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi dengan unsur sosialisasi di masyarakat.
2. Singgih D Gunarsah, perkembangan sosial merupakan kegiatan manusia sejak lahir, dewasa,
sampai akhir hidupnya akan terus melakukan penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya yang
menyangkut norma-norma dan sosial budaya masyarakatnya.

15
3. Abu Ahmadi, berpendapat bahwa perkembangan sosial telah dimulai sejak manusia itu lahir.
Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau anak tersenyum saat disapa. Hal ini
membuktikan adanya interaksi sosial antara anak dan lingkungannya.
4. Perkembangan sosial adalah kemajuan yang progresif melalui kegiatan yang terarah dari
individu dalam pemahaman atas warisan sosial dan formasi pola tingkah lakunya yang luwes
Hal itu disebabkan oleh adanya kesesuaian yang layak antara dirinya dengan warisan
sosial itu.Jadi, dapat diartikan bahwa perkembangan sosial akan menekankan perhatiannya
kepada pertumbuhan yang bersifat progresif. Seorang individu yang lebih besar tidak bersifat
statis dalam pergaulannya, karena dirangsang oleh lingkungan sosial, adat istiadat, kebiasaan-
kebiasaan kelompok dimana ia sebagai salah satu anggota kelompoknya.
B. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Remaja
Ada tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial remaja, yaitu :
1. Pengaruh Orang Tua
Orang tua sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku sosial remaja. Remaja telah
diperkenalkan tingkah laku-tingkah laku sosial, dan nilai-nilai bertingkah laku yang dijunjung
tinggi oleh orang tua. Disamping itu hubungan dengan orang tua merupakan hubungan paling
akrab dibandingkan dengan siapapun dalam kehidupan remaja. Hubungan yang mendalam dan
akrab besar pengaruhnya terhadap proses sosialisasi remaja. Namun, karena remaja menjadi
mandiri dan tidak mau lagi bergaul, diatur serta dituntut patuh oleh orang tua dalam kehidupan
sosial, maka terjadi konflik antara orang tua dan remaja. Andaikan konflik antara remaja dan
orang tua berlangsung terus menerus akibatnya adalah kemandirian sosial yang sempurna tidak
akan tercapai, karena hal berikut:
a. Orang tua (lingkungan sosial) yang membatasi kesempatan bagi remaja untuk mengambil
keputusan sendiri, maka tindakan orang tua seperti ini tidak memberi kesempatan pada
remajanya untuk mandiri.
b. Orang tua tidak dapat dijadikan model untuk memperoleh kemandirian sosial, karena orang
tua ini memiliki sifat tergantung. Orang tua yang tidak mandiri cenderung tidak memberikan
kesempatan mandiri bagi anak-anaknya dalam bertingkah laku sosial.
Biasanya pertentangan antara orang tua dan remaja tidak akan berlangsung lama dan akhirnya
menjadi hubungan yang harmonis. Jika terjadi hubungan yang harmonis kembali dengan orang

16
tua, maka remaja dapat memperkenalkan nilai-nilai baru kepada orang tuanya, sehingga orang
tua dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Para ahli social learning seperti Bandura (1980), Gewirz (1969) menyatakan bahwa nilai-
nilai yang dianut oleh orang tua diadopsi oleh anak dengan cara meniru. Jika mereka remaja
maka nilai-nilai itu mempengaruhi tingkah laku social remaja. Berikut ini dikemukakan berbagai
tipe pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua dan bentuk tingkah laku sosial yang akan
dimiliki remaja.

a. Tipe pemeliharaan menunjukkan cinta yang tulus dan sepenuh hati atau cinta tanpa syarat
terhadap anak dan remajanya, maka anak dan remajanya memperlihatkan hubungan sosial yang
baik dengan orang lain, cenderung memperlihatkan penilaian yang positif terhadap orang lain
karena ia memiliki penilaian yang positif terhadap dirinya sendiri.

b. Tipe pemeliharaan yang hangat, dalam memberikan batasan-batasan dan disiplin terhadap
anak dan remaja maka dalam bersosialisasi menampakkan tingkah laku yang sopan santun,
mudah bekerja sama, kurang agresif, mandiri dan memiliki sifat bersaing yang sehat dengan
teman sebaya.

c. Tipe pemeliharaan yang hangat tetapi terlalu bebas dibandingkan dengan tingkat
perkembangan mereka, anak-anak dan remaja mereka cenderung bertingkah laku sosial yang
tegas. Mereka cenderung agresif dan kurang mampu bekerja sama.

d. Tipe pemeliharaan yang menolak atau memusuhi, mengakibatkan remaja bertingkah laku
sosial yang buruk sehingga cenderung menampilkan hubungan sosial yang buruk dengan teman
sebaya, maupun dengan orang dewasa akan bertingkah laku nakal. Disamping itu, mereka
menjadi berprestasi rendah dibandingkan kemampuan kognitif yang mereka miliki.

e. Tipe pemeliharaan yang terlalu membatasi tingkah laku anak dan remajanya, menimbulkan
tingkah laku sosial yang salah suai karena anak memiliki perasaan yang tidak puas tentang
dirinya. Anak yang dibesarkan dengan pemeliharaan seperti ini mempunyai dorongan
keingintahuan yang rendah, kurang kreatif dan fleksibel dalam menghadapi masalah.

17
Status orang tua mempengaruhi hubungan sosial remaja. Status orang tua yang dimaksud
adalah status pernikahan tanpa suami atau tanpa istri. Jika remaja wanita hanya dibesarkan oleh
ibu saja maka hubungan sosialnya dengan pria kurang lancar karena memiliki perasaan malu
yang berlebihan, merasa tidak nyaman kalau berhadapan dengan pria dan bahkan ada yang
bersikap keras terhadap pria. Remaja pria yang dibesarkan tanpa ayah kurang menampakkan
sikap yang tegas dalam berhubungan sosial dengan teman sebaya, terutama lawan jenis.

2. Pengaruh sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan resmi yang bertanggung jawab untuk
memberikan pendidikan kepada siapapun yang berhak. Oleh karena itu remaja banyak
menghabiskan waktunya di sekolah semenjak berumur 4 tahun. Dengan demikian, sekolah
mempengaruhi tingkah laku remaja khususnya tingkah laku sosial remaja. Di sekolah seharusnya
banyak dilakukan kegiatan kelompok untuk mengembangkan tingkah laku sosial seperti
kerjasama, saling membantu, saling menghormati dan menghargai misalnya kelompok belajar,
kelompok pengembangan bakat khusus seperti kelompok menyanyi, menari, olahraga dan
keterampilan khusus lainnya.
Fungsi sekolah lainnya dalam mengembangkan tingkah laku sosial adalah menyiapkan model-
model bertingkah laku sosial baik itu guru, petugas administrasi maupun siswa-siswa lainnya.

3. Pengaruh teman sebaya


Kelompok teman sebaya memungkinkan remaja belajar keterampilan sosial,
mengembangkan minat yang sama dan saling membantu dalam mengatasi kesulitan dalam
rangka mencapai kemandirian. Teman sebaya dijadikan tempat memperoleh sokongan dan
penguatan, guna melepaskan diri dari ketergantungan terhadap orang tua. Begitu pentingnya
peranan teman sebaya bagi perkembangan sosial remaja, maka apabila terjadi penolakan dari
kelompok teman sebaya dapat menghambat kemajuan dalam hubungan sosial.

18
C. Masalah yang Terkait dengan Perkembangan Sosial Remaja
Masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau
masyarakat, yang membahayakan kelompok sosial atau menghambat terpenuhinya keinginan-
keinginan pokok anggota kelompok sosial tersebut sehingga terjadi kepincangan sosial. Masalah
yang terkait dengan perkembangan sosial remaja adalah :

1. Siswa tidak toleran dan bersikap superior.

2. Kaku dalam bergaul.

3. Peniruan buta terhadap teman sebaya.

4. Kontrol orang tua

5. Perasaan yang tidak jelas terhadap dirinya atau orang lain.

6. Kurang dapat mengendalikan diri dari rasa marah dan sikap permusuhannya.

7. Sikap yang sangat agresif dan sangat yakin pada diri sendiri.

8. Perasaan tidak aman, yang menyebabkan remaja patuh mengikuti standar-standar kelompok.

9. Perasaan menyerah.

10. Terlalu banyak berkhayal untuk mengimbangi ketidakpuasan yang diperoleh dari kehidupan
sehari-hari.

11. Mundur ke tingkat perilaku yang sebelumnya agar supaya disenangi dan diperhatikan.

12. Terkenal sebagai orang yang tidak sportif.

13. Penampilan yang tidak sesuai dengan standar kelompok dalam hal daya tarik fisik atau
tentang kerapian.

14. Perilaku sosial yang ditandai oleh perilaku menonjolkan diri, menggangu dan menggertak
orang lain, senang memerintah, tidak dapat bekerja sama dan kurang bijaksana.

15. Kurangnya kematangan, terutama kelihatan dalam hal pengendalian emosi, ketenangan,
kepercayaan diri dan kebijaksanaan.

19
16. Sifat-sifat kepribadian yang mengganggu orang lain seperti mementingkan diri sendiri, keras
kepala, gelisah, dan mudah marah.

17. Status sosioekonomis di bawah status sosioekonomis kelompok dan hubungan yang buruk
dengan anggota-anggota keluarga.

18. Tempat tinggal yang terpencil dari kelompok atau ketidakmampuan untuk berpartisipasi
dalam kegiatan kelompok karena tanggung jawab keluarga atau karena bekerja sambilan.

D. Upaya Menumbuhkembangkan Perkembangan Sosial Remaja

Hal yang harus dilakukan remaja dalam upaya menumbuhkembangkan perkembangan sosialnya
adalah:

1. Di Lingkungan Keluarga

Menjalin hubungan yang baik dengan para anggota keluarga.

Menerima otoritas orang tua dan mau mentaati peraturan yang ditetapkan orang tua.

Menerima tanggung jawab dan batasan-batasan (norma) keluarga.

Berusaha untuk membantu anggota keluarga, sebagai individu maupun kelompok dalam
mencapai tujuannya.

2. Di Lingkungan Sekolah

Bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah.

Berpartisipasi aktif dalam kegiatan sekolah.

Menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah.

Bersikap hormat dan patuh terhadap guru dan semua personil sekolah.

Membantu sekolah dalam merealisasikan tujuan-tujuannya.

3. Di Lingkungan Masyarakat

Mengakui dan respek terhadap hak-hak orang lain.

20
Memelihara jalinan persahabatan dengan orang lain.

Bersikap simpati terhadap kesejahteraan orang lain.

Bersikap respek terhadap nilai-nilai, hukum, tradisi, dan kebijakan masyarakat.

E. Upaya Guru Pembimbing Mengatasi Masalah Perkembangan Sosial Remaja Sesuai


Bidang Bimbingan

Dalam masalah sosial, guru pembimbing sangat dibutuhkan dalam menangani masalah
ini. Dengan cara mendiagnosis masalah sosial siswa, diagnosis dilakukan dalam rangka
memberikan solusi terhadap siswa yang mengalami masalah sosial. Untuk mendapatkan solusi
secara tepat atas permasalahan sosialnya, guru pembimbing harus terlebih dahulu melakukan
identifikasi dalam upaya mengenali gejala-gejala secara cermat terhadap fenomena-fenomena
yang menunjukkan kemungkinan adanya permasalahan sosial yang melanda siswa. Diagnosis
dilakukan untuk mengetahui dan menetapkan jenis masalah yang dihadapi klien lalu menentukan
jenis bimbingan yang akan diberikan. Dalam melakukan diagnostic sosial siswa perlu ditempuh
langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengenal peserta didik yang mengalami masalah sosial.


Dalam mengenali peserta didik yang mengalami masalah sosial, cara yang paling mudah
adalah dengan melaksanakan sosiometri. Sosiometri merupakan suatu metode untuk
mengumpulkan data tentang pola dan struktur hubungan antara individu-individu dalam suatu
kelompok. Sehingga, akan tergambar siswa yang mengalami masalah sosial.
2. Memahami sifat dan jenis masalah sosial.
Langkah kedua dari diagnosis masalah sosial ini mencari dalam hubungan apa saja
peserta didik mengalami masalah sosial. Dalam hal ini guru pembimbing memperhatikan
bagaimana perilaku siswa dalam pergaulan, baik di sekolah, rumah dan masyarakat.

3. Menetapkan latar belakang masalah sosial.


Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang yang menjadi
sebab timbulnya masalah sosial yang dialami siswa. Cara ini dilakukan dengan mengamati
tingkah laku siswa yang bersangkutan, selanjutnya dilakukan wawancara dengan guru, wali
kelas, orang tua dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan informasi yang luas dan jelas.

21
4. Menetapkan usaha-usaha bantuan.
Setelah diketahui sifat dan jenis masalah sosial serta latar belakangnya, maka langkah
selanjutnya ialah menetapkan beberapa kemungkinan tindakan-tindakan usaha bantuan yang
akan diberikan, berdasarkan data yang diperoleh.

5. Pelaksanaan bantuan.
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari langkah sebelumnya, yakni melaksanakan
kemungkinan usaha bantuan. Pemberian bantuan dilaksanakan secara terus menerus dan terarah
dengan disertai penilaian yang tepat sampai pada saat yang diperkirakan. Bantuan untuk
mengentaskan masalah sosial terutama menekankan akan penerimaan sosial dengan mengurangi
hambatan-hambatan yang menjadi latar belakangnya. Pemberian bantuan ini bisa dilakukan
melalui layanan konseling kelompok yang memanfaatkan dinamika kelompok.
6. Tindak lanjut.
Tujuan langkah ini ialah untuk menilai sejauh manakah tindakan pemberian bantuan telah
mencapai bantuan telah mencapai hasil yang diharapkan. Tindak lanjut dilakukan secara terus
menerus, baik selama, maupun sesudah pemberian bantuan. Dengan langkah ini dapat diketahui
keberhasilannya.

Dalam menjalankan tugasnya, guru pembimbing harus mengacu kepada BK pola 17 plus
karena guru pembimbing sebagai sosok dalam penentu berhasil atau tidaknya proses konseling
itu. Adapun BK pola 17 plus itu terdiri atas enam jenis bidang bimbingan: bimbingan pribadi,
belajar, sosial, karir, berkeluarga, beragama. Dan sembilan jenis layanan: layanan orientasi,
informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, konseling perorangan, bimbingan
kelompok, konseling kelompok, konsultasi, mediasi. Serta lima kegiatan pendukung: aplikasi
instrumentasi, himpunan data, konfrensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus. Satuan
dari kegiatan pola BK 17 plus sebagai berikut : Dalam bidang bimbingan sosial, pelayanan
bimbingan dan konseling di sekolah berusaha membantu peserta didik mengenal dan
berhubungan dengan lingkungan sosialnya, yang dilandasi budi pekerti dan tanggung jawab
kemasyarakatan dan bernegara. Bimbingan pribadi berorientasi pada diri individu sendiri, bidang
pengembangan sosial, yaitu hubungan individu dengan orang-orang lain. Unsur-unsur
komunikasi dan kebersamaan dalam arti yang seluas-luasnya menjadi acuan pokok dalam bidang
pengembangan sosial.

22
2.4 Kritisi Buku

Ulasan mengenai kekurangan dan kelebihan buku


a. Kekurangan :
Pada dasarnya, buku ini hampir tidak ada kekurangan. Hal ini disebabkan karena penulis
dengan cerdas dan teliti memaparkan deskripsi mengenai hal-hal yang berkenaan dengan
perkembangan peserta didik. Buku ini dinilai cukup untuk mengetahui perihal perkembangan
peserta didik serta peran guru dalam perkembangan hubungan sosial pada remaja usia menegah.
Jika di bandingkan dengan buku perkembangan peserta didik karangan Prof Syamsu, buku ini
masih kurang dalam hal: Pertama dilihat dari bentuk tulisan buku ini terlalu rapat dan ukuran
hurufnya yang terlalu kecil jadi kelihatan seperti kurang rapi membuat pembaca sedikit bosan
untuk membacanya. Kedua ditinjau dari isinya, bahasa yang dipakai dalam buku ini sedikit lebih
susah dipahami hanya dengan sekali baca sehingga perlu untuk membaca ulang untuk
mendapatkan inti dari bahasannya sehingga pembaca dapat memahami dengan jelas materi yang
disampaikan.
b. Kelebihan :
Kelebihan buku ini terdapat dalam susunan atau skema penulisan yang teratur dan saling
berhubungan, bahasa yang digunakan tidak berbelit-belit
Dengan menggunakan bahasa resmi yang mudah dipahami oleh pembaca;
Buku ini cukup lengkap dalam membahas masalah perkembangan peserta didik;
Sampul depan atau cover buku ini juga terlihat menarik dengan gambar pensil warna
yang tertata indah;
Cukup memenuhi kebutuhan pembaca untuk mengetahui perihal perkembangan peserta
didik ,seta peran guru dalam perkembangan social pada remaja usia menenagah
Buku ini mengandung sebuah pembelajaran yang berguna bagi para pendidik (guru),
calon guru, mahasiswa, orang tua, atau semua pihak yang terkait dengan pendidikan
dalam memahami peserta didik.

23
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Setelah membaca buku ini dapat disimpulkan bahwa buku ini membahas tentang

pentingnya untuk setiap pendidik mengetahui sifat atau karakteristik dari peserta didik yang

dididiknya. Karena peserta didik merupakan sumber utama dan terpenting dalam proses

pendidikan Formal. Tidak ada peserta didik tidak ada guru. Karena peserta didik bias belajar

tanpa ada guru tetapi guru tidak dapat mengajar tanpa ada peserta didik. Tetapi dalam

perwujudan optimasi pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dibutuhkan kehadiran guru

yang professional.

Guru yang profesional adalah guru yang mengetahui hakekat dari peserta didiknya baik

hakekat pertumbuhannya maupun hakekat perkembangannya serta faktor-faktor yang

mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan peserta didik tersebut. Mengetahui kebutuhan

peserta didik yang dapat diidentifikasi dari dimensi pengembangannya yaitu kebutuhan

intelektual, kebutuhan sosial, kebutuhan fisik, kebutuhan emosional dan fsikologis, kebutuhan

moral dan kebutuhan homodivinous. Mengetahui karaketristik setiap peserta didik yang berbeda-

beda yang dapat dilihat dari kemampuan dasar baik kemampuan kognitif, afektif dan

psikomotorik, latar belakang siswa, perbedaan kepribadian dan cita-cita, pandangan, keyakinan

diri setiap pribadi peserta didik. Tidak kalah pentingnya seorang guru harus mengetahui hak dan

kewajiban peserta didiknya.

3.2 Saran
Menurut saya,agar buku ini lebih menarik lagi bagi seorang pembaca , di dalam buku ini
harus di tambah lagi gambar, supaya seorang pembaca lebih giat ataupun lebih menarik untuk
membaca buku ini.

24

Anda mungkin juga menyukai