Anda di halaman 1dari 13

Makalah

POLITEKNIK MANUFAKTUR NEGERI BANGKA BELITUNG


TAHUN PEMBELAJARAN 2017 / 2018
KAWASAN INDUSTRI AIR KANTUNG SUNGAILIAT BANGKA 33211

Telp. (0717) 93586 / 95252, Fax. (0717) 93585


Website : www.polman-babel.ac.id
Email : polman@polman-babel.ac.id
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan
rahmat dan hidayah-NYA sehingga penulis dapat menuysun Makalah ini dengan baik.
Tersusunnya Makalah ini merupakan bukti bahwa penulis telah mempelajari Materi
Pancasila & Penyimpangan-nya.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, antara lain :
1. Kedua Orang Tua Yang selalu memberi dukungan berupa materi dan doa.
2. Ibu Arie Gunarti, M.IH. Selaku dosen pembimbing.
3. Teman-teman yang telah banyak memberikan dukungan dan doa
Sehingga Makalah ini selesai dengan baik.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan yang terdapat
dalam maklah ini. Penulis yang mengharapkan kritik dan saran yang bersifatnya
membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis mengharapkan makalah
ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca semua. Amin.

PENULIS

KELOMPOK 2

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................................... i


DAFTAR ISI ..................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2. Pengertian Pancasila ........................................................................................................ 1
1.3. Pancasila Sebagai Pandangan Hidup.............................................................................. 1
1.4. Pancasila Sebagai Dasar Negara ..................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................................. 3
2.1. Makna Sila Kemanusiaan Yang Adil & Beradab .......................................................... 3
2.1. Butir Butir Sila Ke-2 ..................................................................................................... 3
2.2. Nilai Nilai Yang Terkandung Dalam Sila Ke-2........................................................... 4
2.3. Nilai Yang Terkandung Dalam Sila Pancasila ............................................................... 4
2.4. Penerapan Sila Ke-dua Dalam Kehidupan Sehari-hari ................................................ 5
2.5. Beberapa Contoh Penyimpangan Terhadap Nilai Pancasila Ke-2 .............................. 5
2.6. Kronologi Pembakaran Pelaku Begal Motor oleh Warga Pondok Aren .................... 6
2.6.1. Pelanggaran Sila Ke-2 Dalam Kasus Pembakaran Begal Motor ......................... 6
2.6.2. Alasan Warga Melakukan Pembakaran Terhadap Pelaku Begal ....................... 7
2.6.3. Terhadap Pelaku "Pembegalan Motor" Harus Bagaimana ................................. 7
2.6.4. Berlaku-kah Hukum bagi Massa Pembakar Pelaku Begal................................... 8
PENUTUP ........................................................................................................................................ iii
3.1. Kesimpulan....................................................................................................................... iii
3.2. Saran ................................................................................................................................. iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sila kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan suatu gagasan manusia yang sangat
menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Sila ini, didasari oleh sila sebelumnya yaitu,
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, karena pada hakikat-nya manusia adalah gabungan
kodrat rohani dan raga dimana kodrat itu harus dijamin hak-hak asasi manusianya seperti yang
tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 yang menjamin hak-hak asasi
manusia, dimana kedudukan kodrat ini adalah sebagai makhluk yang berdiri sendiri dan
merupakan makhluk yang berdiri sendiri dan merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha
Esa yang berbudi luhur.

Mengingat betapa penting-nya Hak Asasi yang harus dijamin-kan kepada setiap orang
guna melindungi harkat maupun martabatnya, maka Pancasila sila ke-dua ini merupakan
sesuatu yang relevan dan harus di syukuri keberadaannya yaitu, sebagai penegas bahwa kita
harus selalu menghargai martabat orang lain.

Pada sila ke-dua ini terdapat butiran-butiran yang dapat menjelaskan lebih rinci apa
yang ada didalam sila ke-dua tersebut. Dengan adanya butiran-butiran sila ke-dua tersebut
diharapkan manusia atau lebih tepat nya bangsa indonesia dapat mengamalkan apa yang ada
dalam sila ke-dua tersebut. Sehingga bangsa ini senantiasa berdasar kepada kemanusiaan yang
adil dan beradab dalam bermasyarakat.

1.2. Pengertian Pancasila


Pancasila adalah kumpulan nilai atau norma yang meliputi sila-sila Pancasila
sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, alinea ke-IV yang telah
ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Pada hakikatnya pengertian Pancasila dapat
diartikan kepada dua pengertian, yakni Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia
dan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Pancasila terdiri dari dua
penggalan kata sanskerta yaitu, panca dan sila. Kata panca berarti lima dan kata sila berarti
prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan
bernagara bagi seluruh rakyat indonesia

1.3. Pancasila Sebagai Pandangan Hidup


Pancasila dalam pengertian ini sering disebut juga way of life atau jalan hidup,
weltanschauung atau pandangan dunia, wereldberschouwing atau pandangan dunia,
wereld en levens beschouwing yang berarti (pandangan dunia, pandangan hidup, pasangan
hidup, pedoman hidup, petunjuk hidup). Dalam hal ini, pancasila dipergunakan sebagai
petunjuk hidup sehari-hari.

Dengan kata lain pancasila sebagai weltanschauung atau pandangan dunia


merupakan kesatuan, tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan sila dalam pancasila merupakan
satu kesatuan organis. Pancasila sebagai norma fundamental sehingga berfungsi sebagai cita-

1
cita atau ide yang semestinya selalu diusahakan untuk dicapai oleh tiap penduduk Indonesia
sehingga cita-cita itu bisa terwujud menjadi kenyataan.

Oleh karena itu, dapat dikemukakan bahwa pancasila sebagai pegangan hidup bangsa,
penjelmaan falsafah hidup bngsa, dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari tidak boleh
bertentangan dengan norma-norma agama, kesusilaan, sopan santun, dan tidak bertentangan
dengan norma-norma hukum yang berlaku.

1.4. Pancasila Sebagai Dasar Negara


Pancasila dipergunakan sebagai dasar mengatur sebuah pemerintahan negara atau
mengatur penyelenggaraan negara. Pengertian Pancasi sebagai dasar negara sesuai dengan
bunyi Pembukaan UUD 1945, yang menyatakan :

... Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu UUD
Negara Indonesia, yang berbentuk dalam suatu susunan negara Indonesia yang
berkedaulata rakyat dengan berdasar kepada ... .

Pancasila mempunyai kedudukan istimewa dalam kehidupan kenegaraan dan hukum


bangsa Indonesia. Fungsi pokok Pancasila adalah sebagai dasar negara, sesuai dengan
Pembukaan UUD 1945, sebgai sumber hukum atau sumber dari tertib hukum, sebgaimana
tertuang dalam Ketetapan MPRS NO.XX/-MPRS/1966. Pengertian Pancasila yang bersifat
yuridis ketatanegaraan.
Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang dibentuk oleh para pendiri bangsa
Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila mengandung nilai-nilai yang sejatinya sudah ada
dalam bangsa Indonesia itu sendiri. Sehingga Pancasila mampu menjadi wajah bagi
masyarakat Indonesia yang beragam. Pancasila mempunyai kedudukan istimewa dalam hidup
kenegaraan dan hukum bangsa Indonesia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Makna Sila Kemanusiaan Yang Adil & Beradab


Perikemanusiaan adalah daya serta karya budi dan hati nurani manusia untuk
membangun dan membentuk kesatuan diantara manusia (seluruh umat manusia). Makna dari
kemanusiaan mengadung arti bahwa kita sebagai manusia yang selalu dan pasti memerlukan
interaksi dengan manusia yang lain maupun dengan lingkungan, terutama kepada Tuhan Yang
Maha Esa bagi yang menganut agama tertentu. Jadi sebagi manusia, kita harus memanusiakan
manusia yang lain. Kita dalam berinteraksi kepada manusia yang lain harus dengan cara-cara
yang sebagaimana manusia pada umumnya. Sikap moral dan tingkah laku manusia yang
didasarkan pada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan norma-norma dan
kebudayaan pada umumnya baik terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia maupun
terhadap lingkungannya.

Nilai kemanusiaan yang adil mengandung suatu makna bahwa hakikat manusia sebagai
makhluk yang berbudaya dan beradab harus berkodrat adil. Nilai kemanusiaan yang beradab
mengandung makna bahwa beradab erat kaitannya dengan aturan-aturan hidup, budi pekerti,
tata krama, sopan santu, adat istiadat, kebudayaan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan
sebagainya. Berikut pokok pikiran dari sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab:
1. Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Maksudnya, kemanusiaan itu bersifat Universal.
2. Menjungjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Menghargai hak setiap
warga dan menolak rasisalisme.
3. Mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah (jasmani & rohani).

Pada hakikatnya manusia memiliki unsur-unsur yang diantaranya adalah susunan kodrat
manusia (terdiri atas jiwa dan raga), sifat kodrat manusia (terdiri atas makhluk sosial dan
individu), kedudukan kodrat manusia (terdiri atas makhluk yang berdiri sendiri dan makhluk
ciptaan tuhan).

2.1. Butir Butir Sila Ke-2


Sila ke-dua Pancasila ini mengandung makna warga Negara Indonesia mengakui adanya
manusia yang bermartabat (bermartabat adalah manusia yang memiliki kedudukan, dan
derajat yang lebih tinggi dan harus dipertahankan dengan kehidupan yang layak),
memperlakukan manusia secara adil dan beradab dimana manusia memiliki daya cipta, rasa,
karsa, niat dan keinginan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan hewan.

Jadi sila kedua ini menghendaki warga negara untuk menghormati kedudukan setiap
manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, setiap manusia berhak
mempunyai kehidupan yang layak dan bertindak jujur serta menggunakan norma sopan santun
dalam pergaulan sesama manusia. Butir-butir sila kedua adalah sebagai berikut:
1. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban antar sesama manusia.
2. Saling mencintai sesama manusia.
3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
4. Tidak bersikap semena-mena terhadap orang lain.
5. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

3
7. Berani membela kebenaran dan keadilan.

Merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu perlu
mengembangkan sikap saling menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain. Makna dari
sila ini diharapkan dapat mendorong seseorang untuk senantiasa menghormati harkat dan
martabat orang lain sebagai pribadi dan anggota masyarakat. Dengan sikap ini diharapkan
dapat menyadarkan bahwa dirinya merupakan makhluk sosial yang mempunyai hak dan
kewajiban yang sama. Atas dasar sikap perikemanusiaan ini, maka bangsa Indonesia
menghormati hak hidup bangsa lain menurut aspirasinya masing-masing dan menolak segala
bentuk penjajahan di muka bumi ini. Hal itu dikarenakan berlawanan dengan nilai
perikemanusiaan.

2.2. Nilai Nilai Yang Terkandung Dalam Sila Ke-2


Nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna, indah, meperkaya batin, dan menyadarkan
manusia akan harkat dan martabatnya. Menurut Dictionary Of Sociology An Related
Sciences nilai adalah suatu kemampuan yang dipercayai ada pada suatu benda untuk
memuaskan manusia.

Menurut C. Klukhon, nilai bukanlah keinginan melainkan apa yang diinginkan.


Sendangkan menurut kamus ilmiah populer nilai adalah ide tentang apa yang baik, benar,
bijaksanan, dan apa yang berguna, sifatnya lebih abstrak dari norma. Nilai dibagi menjadi dua
macam yaitu:
Nilai yang mendarah daging,
Nilai yang sudah menjadi kepribadian bawah sadar atau yang mendorong timbulnya tindakan
tanpa berpikir panjang lagi. Contohnya : orang yang taat beragama maka akan menderita saat
ia melanggar larangan dari norma agama tersebut.

Nilai Dominan
Nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai-nilai yang lain. Beberapa syarat suatu nilai
yang memiliki nilai dominan:
a. Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut.
b. Lamanya nilai tersebut dirasakan oleh anggota kelompok tersebut.
c. Tingginya usaha mempertahankan nilai tersebut.
d. Tingginya kedudukan orang-orang yang membawakan nilai tersebut.

2.3. Nilai Yang Terkandung Dalam Sila Pancasila


Inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah landasan manusia. Maka
konsekuensinya dalam setiap aspek penyelengaraan Negara antara lain hakikat Negara,
bentuk Negara, tujuan Negara, kekuasaan Negara, moral Negara dan para penyelenggara
Negara dan lain-lainnya harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat manusia.

Hal ini dapat dipahami karena Negara adalah lembaga masyarakat yang terdiri atas
manusia-manusia, dibentuk oleh manusia untuk memanusia dan mempunyai suatu tujuan
bersama untuk manusia pula. Maka segala aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai dengan
hakikat dan sifat-sifat manusia Indonesia yang monopluralis, terutama dalam pengertian yang
lebih sentral pendukung pokok Negara berdasarkan sifat kodrat manusia monodualis yaitu
manusia sebagai individu dan makhluk sosial.

4
Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan hakikat Negara harus sesuai dengan hakikat
sifat kodrat manusia yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk social. Maka bentuk dan
sifat Negara Indonesia bukanlah Negara individualis yang hanya menekankan sifat makhluk
individu, namun juga bukan Negara klass yang hanya menekankan sifat mahluk sosial, yang
berarti manusia hanya berarti bila ia dalam masyarakat secara keseluruhan.

Maka sifat dan hakikat Negara Indonesia adalah monodualis yaitu baik sifat kodrat
individu maupun makhluk sosial secara serasi, harmonis, dan seimbang. Selain itu hakikat
dan sifat Negara Indonesia bukan hanya menekankan pada segi kerja jasmani belaka, atau
juga bukan hanya menekankan pada segi rohani nya saja, namun sifat Negara harus sesuai
dengan kedua sifat tersebut yaitu baik kerja jasmani maupun kejiwaan secara serasi dan
seimbang, karena dalam praktek pelaksanaannya hakikat dan sifat Negara harus sesuai dengan
hakikat kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk berdiri sendiri dan makhluk Tuhan.

2.4. Penerapan Sila Ke-dua Dalam Kehidupan Sehari-hari


Berikut adalah penerapan sila ke-dua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dalam
kehidupan sehari-hari :
1. Mengakui persamaan derajat
Persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia. Hal ini bearati semua
manusia dianggap sama baik dari segala sudut pandang. Sehingga disini tidak ada kelompok
yang lebih unggul.

2. Saling mencintai sesama manusia


Manusia adalah makhluk sosial yang berati manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia harus
saling berhubungan satu sama lain dengan baik. Mereka harus saling mencintai antar sesama
manusia tanpa membeda-bedakan satu sama lain.

3. Mengembangkan sikap tenggang rasa


Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, ras, suku bangsa, serta agama. Oleh
karena itu semua manusia yang menjiwai nilai-nilai Pancasila yang khususnya sila ke-dua
manusia harus memiliki rasa toleransi dan tenggang rasa atas perbedaan tersebut.

4. Tidak semena-mena terhadap orang lain


Sebagai manusia beradab kita harus bisa memanusiakan manusia sesuai dengan yang
seharusnya. Serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

5. Berani membela kebenaran dan keadilan


Sebagai warga negara yang baik dan taat hukum kita harus berani membela kebenaran. Selain
itu kita juga adil, kalau salah ya katakan salah, kalau benar ya katakan benar. Jangan salah
bilang benar ataupun sebaliknya.

2.5. Beberapa Contoh Penyimpangan Terhadap Nilai Pancasila Ke-2


Berikut beberapa contoh penyimpangan terhadap nilai pancasila ke-2 dalam kehidupan
bermasyarakat di Indonesia:
Pembakaran Pelaku Begal Motor oleh warga pondok aren (tangerang selatan)
Pembakaran Terduga pencuri ampli masjid oleh seorang provokator
Tragedi tahun 1998 di seluruh daerah nusantara (Indonesia)

5
2.6. Kronologi Pembakaran Pelaku Begal Motor oleh Warga Pondok Aren
RMOL. Seorang yang diduga pelaku begal motor tewas dibakar massa di Jalan Raya
Ceger, Pondok Karya, Pondok Aren, Tangerang Selatan dini hari tadi. Sebelum dibakar
warga, Pelakunya sempat dipukuli dulu, kata Kanit Reskrim Polsek Pondok Aren Iptu
Agung kepada detikcom, Selasa (24/2/2015). Begal juga ini sempat ditelanjangi warga yang
kesal akan aksi bandit ini.

Begal motor yang dibakar warga ini membawa pedang saat beraksi. Berikut ini adalah
kronologi pembakaran maling motor tersebut berdasarkan data Humas Polda Metro Jaya:

Pukul 01.00 WIB


Sehabis membeli makanan, korban pembegalan Wahyu (22) dan Sri (20) menaiki motor
Honda Beat B 6878 WHO untuk kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang mereka
diikuti empat orang yang menaiki dua sepeda motor.

Pukul 01.15 WIB


Keempat pelaku pembegalan lalu menghadang motor korban di Jalan Masjid
Baiturrahim RT 02/RW 03 Kelurahan Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang
Selatan. Mereka menghadang Wahyu dan Sri dengan mengacungkan pedang sambil meminta
korban untuk berhenti.

Pukul 01.30 WIB


Namun Wahyu dan Sri memberikan perlawanan. Pedang yang digunakan salah seorang
pelaku pembegalan ini dirampas Sri, akibatnya salah satu pelaku yang memegang pedang
terjatuh. Korban pun berteriak hingga didengar warga sekitar yang kemudian mengepung
pelaku.

Tiga orang pelaku pembegalan bisa kabur, namun satu orang begal yang tertinggal jadi
bulan-bulanan warga. Massa yang sudah geram, tanpa di komando langsung memberikan
bogem mentah ke tubuh pelaku. Tidak hanya itu, pelaku juga ditelanjangi dan puncaknya
pelaku yang bertubuh kurus dengan usia sekitar 26 tahunan tersebut dibakar hidup-hidup.

Hingga saat ini polisi masih mendalami kasus tersebut. Korban sendiri sudah
diperbolehkan pulang setelah sejak semalam diperiksa di Mapolsek Pondok Aren.

2.6.1. Pelanggaran Sila Ke-2 Dalam Kasus Pembakaran Begal Motor


Kasus Pembakaran pelaku begal ini terkait dengan pelanggaran HAM yang tidak sesuai
nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila Sila ke-dua. Pelanggaran yang pertama adalah
menghilangkan hak untuk hidup bagi seseorang. Dimana pelaku begal ditelanjangi kemudian
dibakar hidup-hidup oleh warga hingga tewas.

Pelanggaran yang selanjutnya adalah pelanggaran hak untuk tidak mendapat perlakuan
yang kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat. Hal ini terjadi saat pelaku dipukuli
oleh warga bahkan ditelanjangi dan dibakar tanpa rasa ampun. Padahal, pelaku sudah meminta
ampun kepada warga.

Pelanggaran lainnya adalah hak untuk memperoleh keadilan. Dimana pelaku tersebut
mendapat perlakuan atas pembunuhan secara tidak wajar diluar prosedur hukum. Seharusnya
mereka hanya mendapat hukuman kurungan, tetapi warga tersebut menghakimi sendiri

6
terhadap pelaku begal. Kegiatan menghakimi sendiri ini tentu melanggar hukum dan hak asasi
manusia.

Setiap orang yang dituduh melanggar hukum berhak atas proses hukum yang adil
dan transparan dalam proses peradilan suatu negara. Tindakan main hakim sendiri
menghilangkan hak seseorang yang tertuduh atas suatu pelanggaran hukum. Selain itu
bab XA tentang Hak Asasi Manusia pada UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
(perhatikan penamaan, ini adalah nama resmi UUD pasca amendemen), Pasal 28D ayat
(1) menekankan hal yang sama, persamaan kedudukan dan perlakuan di hadapan
hukum.

"Proses peradilan singkat" yang dialami oleh setiap pelaku kriminalitas ini justru yang
melemahkan hukum di Indonesia, bukan sebaliknya. Akibat yang didapat pun tidak hanya
kerugian fisik semata, tetapi sekaligus kerugian non fisik.

Tidak hanya menyulitkan pihak-pihak terkait untuk menelusuri sindikat-sindikat terkait,


tetapi disatu sisi juga melemahkan hukum yang berlaku sebagaimana mestinya. Semakin
banyak tindakan "main-hakim sendiri" itu terjadi, maka semakin lemahlah penegakan hukum
itu dijalankan di Indonesia.

Maka bisa kita katakan, aksi main hakim sendiri inilah yang melemahkan sistem hukum
yang berlaku dan sekaligus mencoreng keadilan yang dijunjung tinggi oleh lembaga-lembaga
penegak hukum terkait.

Selain itu, pelanggaran yang terjadi adalah pelanggaran atas rasa aman. Di mana dalam
kasus ini menimbulkan rasa takut dan khawatir yang dialami oleh warga.

Berdasar pelanggaran-pelanggaran tersebut selain tidak sesuai dengan nilai-nilai yang


terkandung dalam Pancasila sila ke-dua perlakuan tersebut juga telah melanggar undang-
undang.

2.6.2. Alasan Warga Melakukan Pembakaran Terhadap Pelaku Begal


Ada beberapa hal yang menyebabkan masyarakat melakukan peradilan massa dan
melakukan pembakaran terhadap pelaku begal yang sudah sangat meresahkan di negeri ini.
Kriminolog Universitas Indonesia, Kisnu Widagso mengatakan, tindakan main hakim sendiri
seperti membakar hidup-hidup pelaku kejahatan bisa dipicu beberapa faktor. "Ada yang akibat
dendam karena pernah mengalami hal serupa, dan ada juga yang ikut melakukan akibat rasa
empati pada korban lain. Rasa empati itu berubah menjadi kebencian. Sehingga, saat ada
pelaku kejahatan tertangkap, output-nya pun seperti itu. Tapi tetap tidak seperti itu caranya,"
katanya. Rasa tidak percaya masyarakat kepada polisi, lanjut Kisnu, juga bisa menjadi pemicu
aksi vigilantisme tersebut. "Penanganan hukum yang tidak sesuai koridor jelas bisa
mengecewakan masyarakat, sehingga timbul rasa tidak percaya pada aparat," katanya.

2.6.3. Terhadap Pelaku "Pembegalan Motor" Harus Bagaimana


"Siapa yang harus bertanggung jawab?". Kita, tanpa terkecuali. Dalam banyak kasus
pembegalan motor, para pelaku-pelaku yang terlibat justru kebanyakan adalah anak-anak
muda. Dan beberapa di antaranya adalah anak-anak di bawah umur. Bagaimana anak-anak ini
bisa terlibat dalam kasus kriminalitas seperti ini? Maka, tanyakan kepada keluarga,
lingkungan, sekolah yang ikut berperan di dalamnya. Tentu kita tidak mau menjadi orang-

7
orang "apatis hukum" bukan? lalu kemudian "menghalalkan" segala macam cara untuk
mendapatkan keadilan.

2.6.4. Berlaku-kah Hukum bagi Massa Pembakar Pelaku Begal


Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, maka terlebih dahulu harus dipahami bahwa
menghilangkan nyawa orang merupakan suatu kejahatan. Salah satu contoh misalnya Pasal
338 KUHP yang menyatakan Barang siapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain
dipidana karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun.

Namun, pelaku penghilangan nyawa tersebut dapat lepas dari sanksi hukum jika ada
alasan pembenar maupun alasan pemaaf. Misalnya, karena terpaksa untuk membela diri.
Namun, untuk bisa membuktikan adanya alasan pemaaf atau alasan pembenar tersebut, maka
harus melalui proses peradilan.

Bagi pakar legisme, cara demikian harus ditempuh. Tidak ada vonis diluar dari proses
peradilan. Hal ini juga yang dilakukan oleh Budi Gunawan. Ketika yang bersangkutan
ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK, maka yang bersangkutan membela diri bahwa ia
tidak bersalah. Kemudian menempuh cara Praperadilan untuk menyatakan bahwa penetapan
tersangka tersebut tidak sah dan dikabulkan oleh hakim Sarpin.

Jadi, meskipun pelaku begal tersebut meresahkan masyarakat karena kejahatannya


tersebut seyogyanya masyarakat tidak main hakim sendiri. Karena berdasarkan Pasal 1 ayat 3
UUD 1945, Indonesia ini Negara hukum.

2.6.5. Bagaimana solusinya agar kasus ini tidak terulang kembali?


Dengan melihat semua masalah tersebut, sebaiknya langkah pertama yang dilakukan
pemerintah adalah lebih memberikan penyuluhan rutin tentang Pancasila kepada masyarakat.
Terutama ditekankan kepada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Karena dewasa ini,
nilai-nilai Pancasila yang ada di masyarakat sudah mulai luntur mengingat Pancasila
merupakan dasar negara Indonesia. Selain dasar negara, Pancasila juga perlu dianggap sebagai
peninggalan kaum terdahulu dan harus dijaga baik secara simbolik maupun dalam kehidupan
sehari-hari.

Jika kita sudah maksimal untuk menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila, maka kasus pembakaran pelaku begal dapat dicegah karena kita sudah bisa
menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila untuk menyelesaikan masalah
tersebut.

Langkah kedua terpusat kepada pihak yang berwenang, dimana mereka harus lebih sigap
dalam mengawasi kriminalitas yang ada. Misalnya, mereka bisa berkoordinasi untuk
melakukan patroli pada malam hari terutama di titik-titik yang rawan terhadap
kriminalitas.Supaya penegakan hukum yang ada di Indonesia bisa lebih efisien dan efektif.

8
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Pancasila dirumuskan bukan semata tanpa arti. Dalam setiap sila dalam Pancasila
mengandung nilai-nilai luhur. Nilai-nilai inilah yang jika diterapkan secara konsisten dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara dapat menjadi pendorong untuk kemajuan bangsa.

Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa dan sebagai dasar negara yang telah
dirumuskan oleh tokoh-tokoh pendiri bangsa dimana nilai-nilainya bersumber dari nilai
luhur bangsa. Meskipun begitu, penerapan perilaku yang sesuai terhadap nilai-nilai tersebut
masih sulit untuk diwujudkan.

Terfokus pada sila ke-dua Pancasila yang mengandung makna warga Negara Indonesia
mengakui adanya manusia yang bermartabat (bermartabat adalah manusia yang memiliki
kedudukan, dan derajat yang lebih tinggi serta harus dipertahankan dengan kehidupan yang
layak), memperlakukan manusia secara adil dan beradab dimana manusia memiliki daya
cipta, rasa, karsa, niat dan keinginan sehingga jelas adanya perbedaan antara manusia dan
hewan.

3.2. Saran
Kita sebagai generasi muda bangsa Indonesia harus bisa mengamalkan pancasila salah
satunya yaitu sila kemanusiaan yang adil dan beradab di dalam kehidupan sehari-hari. Kami
berharap sila kemanusiaan yang adil dan beradab kini tidak hanya menjadi teori semata
namun dapat meresapi dan melaksanakan nilai-nilai luhur pancasila dalam kehidupan sehari-
hari yang diwujudkan secara nyata baik keadilan di mata hukum, politik, ekonomi dan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai mahasiswa yang mengerti makna sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab kita
harus memiliki sikap saling menghargai antar sesama manusia dan memiliki sikap toleransi
terhadap pemeluk agama lain, suku lain, ras maupun budaya orang lain.

Penyimpangan yang terjadi terhadap nilai luhur pancasila bukanlah kesalahan satu pihak
saja. Tetapi lembaga yang terkait dengan penanaman nilai-nilai dasar pancasila juga turut
bertanggung jawab. Sehingga sangat diperlukan peranan dari pemerintah dan pihak-pihak
terkait untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat, sehingga
penyimpangan-penyimpangan terhadap nilai Pancasila menjadi berkurang.

iii