Anda di halaman 1dari 151

Ind

SUPLEMENII

FARMAKOPE
HERBAL
INDONESIA
EDISI I

2011

KEMENTERIAN KESEHA T AN REPUBLIK INDONESIA


Katalog Dalam Terbitan. Kementerian Kesehatan RI

615.1
Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat
s Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia edisi I
2011,-- Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2011
ISBN 978-602-235-043-9
1. Judul I PHARMACOPOEIAS
II. FORMULARIES III. HERBAL MEDICINE
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
karuniaNya 8uku Suplemen 11 Farmakope Herbal Indonesia Edisi [ ini dapat diselesaikan dan
diterbitkan.
Penggunaan obat bersumber dari alam di Indonesia merupakan bagian dari budaya dan
tela h dimanfaatkan oleh masyarakat sejak berabad-abad yang lalu. Namun demikian, secara
umum mutu simplisia ya ng mempengaruhi keamanan dan manfaat terhadap kesehatan belum
sepenuhnya didukung oleh standar yang memadai. Mengingat hal tersebut perlu ditetapkan
standar mutu simplisia dan ekstrak untuk digunakan masyarakat dalam berbagai keperluan
un tuk men ca pai derajat kese hatan yang optimal.
Buku ini merupakan lanjutan Suplemen I dari Farmakope Herbal Indonesia Edisi I yang
merupakan buku standar di bidang Fa rm asi untuk simplisia dan ekstrak yang berasa l dari
tumbuhan. Standar ini berisi persyaratan mu tu yang terdiri dari organoleptik, makroskopik,
mikroskopik , kandungan kimia , metode anal isi s termasuk prosedur dan peralatannya.
Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia Edisi I ini juga mencantumkan semua lampiran
dalam Farmakope Herbal Indonesia Edisi I dan Suplemen I Farmak ope Herbal Indonesia yang
ditambah dengan beberapa sen yawa identitas dan pembanding serta penetapan kadar fenol
total. Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia Edisi I ini berisikan 41 monografi simpl isia
dan ekstrak.
Penyusunan Suplemen " Farmakope Herbal Indonesia Edi si I merupakan kerjasama
antara Kementerian Kesehatan dan 8adan Penga was Obat dan Makanan (8adan POM)
dengan melibatkan para pakar dari berbagai perguruan tinggi far masi dan kedokteran serta
pakar independen sebaga i Tim Editor. Panitia penyusunan Suplemen If Fannakope Herbal
Indonesia Edisi I ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
I 756/MENKES/SKIV IlIl20 II.
Denga n terbitnya Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia Edisi I ini diharapkan dapat
melengkapi Farmako pe Herbal Indonesia Edisi 1 dan Suplemen I Fannakope Herbal Indonesia
sebagai sta ndar mutu si mplisia dan ekstrak tanaman obat untuk kepentingan kesehatan baik
praktisi , industri obat herbal dan regul ato r.
Kepada semua pihak yang telah berperan , serta berpartisipasi mulai dari persiapan
sampai terbitnya buku ini , kami ucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tinggi nya.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan atas sumbangsihnya.

Jakarta, Desember 20 I 1
Direktur Jenderal
Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

ttd

Ora. Sri Indrawaty, Apt., M.Kes


NIP 19530621 198012200 I

III
DAFTAR lSI

Kata Pengantar..... . .... . .... ......... .. .... ... . .......... .. ... . .... .. .. .. .... . ... .. ... . .. .......... III

Daftar Jsi. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . ... . . . y

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1756/MENKES/SK/VIII/20 II


Tentang Pembentukan Panitia Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia .............. ... VII

Keputllsa n Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2345/MENKES /SKlXlI20 11


ten tang Pemberlakuan Suplemen II Farmakope Herbal
Indonesia..... . . .. . ... ........ ..................... .......... .. .. ..... ............ .. .. ..... .. ................... .... .... xv
Daftar Monografi .. .. ............. .. .. .......... ... .. .... .... .. ... . ...... ...... ... ... ........ ...... . XVII

Daftar La mpiran.... .. .. ....... .... .. .. .......... ... .. ............. . ..... ......... ... .. .... ..... .... XIX

Ketentuan Umum.... .. .......... . .. ............ . ... .. .. .. .... ..... .. .. . .. ............. ... ... . .... . . XX I

Monografi .... .. . ... .. . . ....... ... ... .. .. ..... . . .. . ... ... ... ... ... .. . ........ .. .. ..... ....... .. .. ... .
Lampiran. .......... ... ........ . ... ....... .... . .... .......... .. ... . .. .......... ... ... .. . .......... .... 93
Pereaksi, Larutan Pereaksi dan Larutan Penampak Bercak... ... ... .. . .......... ..... .. .... .. . 117
Daftar Tabel
Tabel I. Labll Tentukur, Pipet Volume dan Buret... . .............. .. .. . .. ... . ...... ..... . 94
Tabel 2. Lubang Pengayak Baku.... ......... ....... ... ..... ... ..... .... ..... ............... 107
Tabel 3. Klasifikasi Serbuk Berdasarkan Derajat Hallls.. .. . .. .... .. .......... . .. .. .. .... 107
lndeks.. . .. .... .... . .... ........... . . ... ...... . . ..... . .... ... .... .. ...... .. ... .. ..... . ..... . .... .. .. .. 120

v
MENTERIKESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 1756/MENKES/SK/VIII /2 011
TENTANG
PEMBENTUKAN PANITIA SUPLEMEN II FARMAKOPE HERBAL INDONESIA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang a. bahwa Farmakope Herbal Indonesia perlu disesuaikan


dengan perkembangan ilmu pengetahuan dalam
bentuk suplemen;
b. bahwa untuk penyusunan naskah Suplemen II
Farmakope Herbal Indonesia perlu dibentuk Panitia
Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu ditetapkan
Keputusan Menteri Kesehatan ten tang Pembentukan
Panitia Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia;
Mengingat 1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 ten tang
Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998
Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonia Nomor 3781);
3. Peraturan Menteri Kes ehatan Nomor
1144/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kementerian Kesehatan (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 585)
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
189 /Menkes / SK/III/ 2006 tentang Kebijakan Obat
Nasional;

VII
MENTERIKESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

-2-

5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor


381 /Menkes/ SK/III/ 2007 tentang Kebijakan Obat
Tradisional Nasional;
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
261 /Menkes/SK/IV /2009 tentang Pemberlakuan
Farmakope Herbal Indonesia Edisi Pertama;
7. Keputusan Menteri Kesehatan
374/Menkes/SK/V/2009 tentang Sistem Kesehatan
Nasional;
MEMUTUSKAN:

Menetapkan KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG


PEMBENTUKAN PANITIA SUPLEMEN II FARMAKOPE
HERBAL INDONESIA.

KESATU Membentuk Panitia Suplemen II Farmakope Herbal


Indonesia dengan susunan anggota sebagai tercantum
dalam Lampiran Keputusan ini.

KEDUA Panitia Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia terdiri


dari Panitia Pengarah, Panitia Penyusun Monografi dan
Dewan Redaksi yang masing-masing mempunyai tugas;
1. Panitia Pengarah;
a . Memberikan arahan penyusunan Suplemen II
Farmakope Herbal Indonesia;
b. Membahas dan menetapkan naskah monografi
yang akan dimuat dalam Suplemen II Farmakope
Herbal Indonesia;
c . Memberikan rekomendasi atas pembahasan
seluruh naskah kepada Menteri Kesehatan
melalui Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan
Alat Kesehatan.
2. Panitia Penyusun Monografi;
a. Membantu Panitia Pengarah dalam menetapkan
naskah monografi yang akan dimuat dalam
Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia;

VIII
MENTERIKESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

-3 -

b. Melaksanakan penyusunan naskah monografi


yang akan dimuat dalam Suplemen II Farmakope
Herbal Indonesia;
c. Memberikan rekomendasi atas hasil pembahasan
monografi kepada Ketua Panitia Pengarah.
3. Dewan Redaksi ;
a. Membantu Panitia Pengarah dalam menyusun
Draft Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia;
b. Memeriksa dan mengedit naskah Suplemen II
Farmakope Herbal Indonesia;
c. Memberikan rekomendasi atas hasil penyusunan
naskah Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia
kepada Ketua Panitia Pengarah.

KETIGA Panitia Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia terdiri


dari tenaga ahli dalam suatu bidang yang terkait
dengan farmakope, berpengalaman dan masih aktif
dalam pengembangan ilmunya dan bertanggungjawab
kepada Menteri Kesehatan.

KEEMPAT Pembiayaan untuk kegiatan Panitia Suplemen II


Farmakope Herbal Indonesia dibebankan pada DIPA
Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian.

KELIMA Hal-hal yang dianggap perlu dan belum diatur dalarn


Keputusan ini akan diatur lebih lanjut oleh Direktur
Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
KEENAM Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan .

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 16 Agustus 2011

MENTERI KESEHATAN,

ttd

ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH

IX
MENTERIKESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

-4 -

LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN
NOMOR 1756/MENKES/SK/VIII/2011
TENTANG
PEMBENTUKAN PANITIA SUPLEMEN II FARMAKOPE
HERBALINDONESIA

SUSUNAN KEANGGOTAAN PANITIA SUPLEMEN II FARMAKOPEHERBAL


INDONESIA

1. PANITIA PENGARAH
Penanggungjawab MenteriKesehatan
Ketua Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan A1at
Kesehatan
Waki1 KetuaI Kepa1aBadanPengawas ObatdanMakanan
Waki1 KetuaII: StafAhli MenteriBidangTeknologi Kesehatandan
G10balisasi
Anggota l. DirekturJendera1 BinaUpayaKesehatan
2. Direktur Jendera1 Bina Gizi danKesehatan
IbudanAnak
3. Kepa1aBadanLitbangKeseha tan
4. Kepa1aBadanStandardisasiNas iona1
5 . KetuaLembagaIlmuPengetahuanIndonesia
6 . Deputi Bidang Pengawasan Obat
Tradisiona1, Kosmetik dan Produk
Komp1emen BadanPOM
7. Deputi Kepa1a BPPT Bidang Tekno1ogi
AgroindustridanBiotekno1ogi
8. Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan
Kesehatan
9. KetuaGPJamu

Sekretaris 1. Direktur Bina Produksi dan Distribusi


Kefarmasian (KEMENKES)
2. Direktur Standardisasi Obat Tradisiona1 ,
Kosmetik dan Produk Komp1ementer
(BPOM)

x
MENTERIKESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

-5-

3. Kepala Balai Besar Penelitian dan


Pengembangan Tanaman Obat dan Obat
Tradisional (KEMENKES)

SeksiseksidanSekretariatPanitiaPengarah :
SeksiI :Tata Nama, Farmasi, UmumdanPerundangundangan:
1. Ketua Drs . RuslanAspan, Apt., MM (BPOM)
2. Wakil KetuajSekretaris Drs . KetutRitiasa, Apt. (BPOM)
3. Anggota 1. Prof. Dr. Supriyatna(UNPAD)
2. Prof. Dr. AmriBachtiar(UNAND)
3. Dr. EkoBarotoWaluyo (Bogoriensis)
4. Dra. Nurhayati, Apt. (Universitas
Pancasila)
5. Ir. Yuli Widiastuti MP(B2P2TOOT)
6. Prof. Dr. Dachriyanus (UNAND)
SeksiII : Biologi j Farmakognosi :
1. Ketua Prof. Dr. Asep GanaSuganda(ITB)
2. Wakil KetuajSekretaris Prof. Dr. ErnawatiSinaga,Apt, MS (UNAS)
3. Anggota 1. Dr. EllyWahyudin, Apt. (UNHAS)
2. Dr. 1. BrotoS Kardono (LIPI)
3. Dr.SlametIbrahim (ITB)
4. Drs. Amril Djalil, M.Si (UI)
5. Dr. MoelyonoMW. ,M.S. ,Apt . (UNPAD)
6. Dr. KomarRuslan(ITB)
7. Dr. DjokoSantoso, M.Si (UGM)

SeksiIII :Fitokimia j KimiaBahanAlam :


1. Ketua Prof. Dr. SUwijiyoPramono,Apt.,DEA(UGM)
2. Wakil KetuajSekretaris:Dr. BernaIlyas, Apt. (UI)
3. Anggota l. Prof. Dr. DayarArbain,Apt. (UNAND)
2. Dr. PandapotanNasution,Apt. (USU)
3. Dr. Sherley, Apt. (BPOM)
4. Dr. SubagusWahyuono, Apt. (UGM)
5. Dr. Elfahmi(ITB)
6. Dr. BambangPrayogo (UNAIR)

XI
MENTERIKESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

-6-

Seksi IV : Farmakologi f Posologi f Toksikologi f Mikrobiologi :


1. Ketua Prof. Dr. dr. Hedi Rosmiati Dewoto, SpFK
(FKUI)
2. Wakil KetuafSekretaris: Dr. Ketut Adnyana (ITB)
3. Anggota 1. Prof. Dr. Lukman Hakim , Apt. (UGM)
2. Prof. Dr. Elin Yulinah S . (ITB)
3. Prof. Dr. Anas Subarnas (UNPAD)
4. Dr. Katrin Basyah, MS (UI)
5. Dra. Nur Ratih Purnama, Apt., M.Si
6. Drs. Riza Sultoni, Apt., MM

Seksi V : Farmasetika f Teknologi Farmasi :


1. Ketua Prof. Dr. Yeyet Cahyati S. (ITB)
2. Wakil KetuafSekretaris: Dr. Yoshita Djajadisastra, MSc., Apt. (UI)
3. Anggota 1. Prof. Dr. Adek Zamrud Adnan, Apt.
(UNAND)
2. Dr. Rifatul Widjhati , Apt., MSc . (BPPT)
3 . Prof. Dr. Yudi Padmadisastra, MSc.
(UNPAD)
4. Dr. Atiek Sumiati, Apt., M.Si (UI)
5. Dra. R. Dettie Yuliati, Apt., M.Si
(BINFAR)
6. Drs. Burhanuddin Taebe, M.Si
(UNHAS)
7. Drs. Awaluddin Saragih, M.Si (USU)

Sekretariat Direktorat Bina Produksi dan Distribusi


Kefarmasian (KEMENKES)

II . PANITIA PENYUSUN MONOGRAFI

Ketua Drs. T Bahdar J Hamid, Apt., M.Pharm


Wakil Ketua Drs. Hary Wahyu T, Apt.
Sekretaris 1. Dra. Sri Hariyati, Apt., M.Sc
2 . Dra. R. Dettie Yuliati, Apt., M.Si
Anggota 1 . Prof. Dr. Marchaban , DESS, Apt.
(UGM)
2. Prof. Dr. Wahyono, SU , Apt. (UGM)
3. Dr. Nurlaili Barmawie (Balitro)
4. Dr. Gemini Alam, Apt. (UNHAS)

XII
MENTERIKESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

-7-

5. Drs. SiamSubagyo,Apt., MSi.


6. Drs .Arnold Sianipar,Apt., M.Pharm.
7. Dr. Sherley, Apt.
8. Dr. TepyUsia, Apt.
9. Drh. Sukirno
10.Drs. Bambang Dwiyatmoko, Apt.,
MBiomed
11.Ora . HerminiTetrasari,Apt., M.Kes.
12.Drh. Rachmi Setyorini, MKM
13.Ora. RiniTriaSuprantini,Apt., M.Sc
14.PulanWidyanati, S.Si, Apt.
15.Dewi Kurniasari, S.F, Apt.
16.MiaPermawati, S.Farm, Apt.
17.RohayatiRahafat, S.Si, Apt.
18.IkkaTjahyaningrum,S.Si.,Apt.
19.Drs. ElonSirait,Apt, M.ScPH
20.LizaFetrisiani, S.Si, Apt
21.DitaNovianti, S .Si, Apt., MM
22.IsnaeniDiniarti , S.Farm, Apt.
23.Muhammad Zulfikar Biruni, S .Farm,
Apt.
24.Ari AriefahHidayati, S.Farm,Apt.
25 .DiaraOktania, S.Farm
26.IkeSusanti, S.Farm
27.Paryono, SAP
28.DamarisParrangan
29.Nofiyanti

Sekretariat Direktorat Standarisasi Obat Tradisional,


Kosmetik dan Produk Komplementer
(BPOM)

XIII
MENTERI KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

-8 -

III. DEWAN REDAKSI


Ketua Drs . Richard Panjaitan,Apt., SKM
Wakil Ketua Drs. T. Bahdar Johan Hamid, Apt.,
M.Pharm.
Sekretaris 1. Dra. R DettieYuliati, Apt, M.Si
2. RohayatiRahafat, S.Si., Apt ,
Anggota 1. Dra. Nani Sukasediati,Apt., MS
2. Drs. KetutRitiasa,Apt.
3. Drs .JanaharMurad ,Apt.
4. Drs. SyahrialTaher,Apt.
5. Drs. KetutKertawijaya, Apt.

MENTERI KESEHATAN,

ttd

ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH

XIV
MENTERIKESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 2345/MENKES/SK/XI/2011
TENTANG
PEMBERLAKUAN SUPLEMEN II FARMAKOPE HERBAL INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA ,

Menimbang : a. bahwa untuk menyesuaikan perkembangan ilmu


pengetahuan perlu memberlakukan Suplemen II
Farmakope Herbal Indonesia;
b . bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan
Keputusan Menteri Kesehatan ten tang Pemberlakuan
Suplemen II Farmakope Herbal Indonesia;

Mengingat 1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 ten tang


Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1995 tentang
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 67,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3609);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998
Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3781);
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 381/Menkes/
SK/III/2007 ten tang Kebijakan Obat Tradisional
Nasional ;
5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 261/Menkes/
SK/IV /2009 tentang Pemberlakuan Farmakope
Herbal Indonesia Edisi Pertama;

xv
MENTERIKESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA

-2-

6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144jMenkesj


Per jVIIIj20 10 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Kesehatan (Berita Negara Republik
IndonesiaTahun2010Nomor585);
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1756jMenkesjSKjVIIIj2011 tentang Pembentukan
Panitia Penyusunan Suplemen II Farmakope Herbal
Indonesia;
8.K eputusan Menteri Kesehatan Nomor
2109jMenkesjSKjXj2011 ten tang Pemberlakuan
Suplemen IFarmakopeHerbal Indonesia;

MEMUTUSKAN :

Menetapkan KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG


PEMBERLAKUAN SUPLEMEN II FARMAKOPE HERBAL
INDONESIA.
KESATU Mengesahkan dan memberlakukan Suplemen II
Farmakope Herbal Indonesia sebagaimana tercantum
dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak
terpisahkandariKeputusanMenteri ini.
KEDUA Keputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

DitetapkandiJakarta
padatanggal 22 November2011

MENTERIKESEHATAN,

ttd

ENDANG RAHAYU SEDYANINGSIH

XVI
DAFTAR MONOG RAFI
SUPLEMEN II FARMAKOPE HERBAL INDO NESIA E lSI I

l. Buah Anyang-Anyang 22. Daun Kemuni llg


2. Ekstrak Kental Buah Anyang-Anyang 23. Ekstrak Kental DU LI n K I lunin g
3. Herba Bandotan 24. Bunga Krisan
4. Ekstrak Kental Herba Bandotan 25. 'kstrak Kcntal l1l1n ga h.. isa l
5. Ekstrak Kental Bawang Putih 26. Herba Patikan Ke bo
6. Daun Bayam Duri 27. Ekstrak Kental Herb<1 Pati h. al I d"1n
7. Ekstrak Kental Daull Bayam Duri 28. Buah Pisan g BatLl
8. Herba Benalu 29. Ekslrak Ke nla l BlIah Pi dllg l1:il l
9. Ekstrak Kelltal Herba Benalu 30. Bunga Rosela
10. Daun Binahong 31. Ekstrak Kental Bunga
11. Ekstrak Kental Daun Binahong 32. Daun enggu gu
12. Daun Gandapura 33. Ekstrak Keltt;) 1 f cll1l1 St.:ltggll gll
13. Ekstrak Kental Daun Gandapura 34. Duun Sengitan
14. Rambut Jagung 35. Ekstrak Kcntal Dil un eng l :.111
15. Ekstrak Kental Ralllbut Jagung 36. Buah Seprantll
16. Kulit Batang Jamblang 37 . Ekstrak Ke nta l Buu h o;;cprd lllll
17. Ekstrak Kental Kulit Batang Jalllblang 38. Herba Sidagu ri
18. Kulit Buah Jeruk Nipis 39. Ekstrak Kental H erb' S, lel ,:- IIi
19. Ekstrak Kental Kulit Buah Jeruk Nipis 40. Dalln Teh
20. Bunga Kecolllbrang 41. Ekstrak Kenta I D<lLl n rl h
21. Ekstrak Kental Bunga Kecombrang
DAFTAR LAMPI RAN

< II > Senyawa Identitas dan Pembanding Farmakope Herbal Indonesia


<2 1> Peralatan Volumetrik
<3 I > Termometer
<41 > Timbangan
<S I > Spektrofotometri
<61 > Kromatografi
<71 > Penetapan Kadar Minyak Atsiri
<81 > Penetapan Kadar Abu Total
<82> Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam
<83> Penetapan Kadar Air
<91 > Penetapan Kadar Sari Larut Air
<92> Penetapan Kadar Sari Larut Etanol
< II I> Penetapan Susut Pengeringan
< 12 1> Pengayak dan Derajat Halus Serbuk
< 141 > Pencucian PeraJatan Kaca
< I S I> Penetapan Kadar Flavonoid Total
< 161 > Penetapan Kadar Fenol Total Cara Folin Ciocalteu
<301 > Pembuatan Serbuk Simplisia
<31 I> Pembuatan Ekstrak
<321 > Pembuatan Larutan Uji Simplisia
<40 I> Penjelasan Istilah Mikroskopik

XIX
KETENTUAN UMUM

KETENTUAN UMUM DAN PERSYARATAN UMUM

Ketentuan umum dan persyaratan umum, untuk selanjutnya disebut " Ketentuan Umum".
Ketentuan Umum menetapkan prosedur singkat pedoman dasar untuk penafsiran dan
penerapan standar, pengujian , penetapan kadar, dan spesifikasi lain dari FHT.
Jika dibuat pengecualian terhadap Ketentuan Umum, maka dalam monografi atau
lampiran pengujian umum yang bersangkutan akan diungkapkan terlebih dahulu dan
dijelaskan secara khusus tujuan atau maksud pengecualian tersebut. Untuk menekankan
bahwa pengecualian seperti itu ada, Ketentuan Umum menggunakan ungkapan "kecuali
dinyatakan lain". Jadi, harus diterima sebagai kenyataan bahwa jika ada perbedaan dengan
Ketentuan Umum, maka ungkapan kata-kata khllSllS dalam standar, pengujian, penetapan
kadar, dan spesifikasi lain tersebut bersifat mengikat. Demikian juga, jika tidak ada kata-kata
khusus yang bertentangan, maka berlaku Ketentuan Umum.

FARMAKOPE

Farmakope ini bernama Farmakope Herbal Indonesia , berisi monografi simplisia dan
sediaan ekstrak. Farmakope ini merupakan standar sil11plisia dan ekstrak yang digunakan
untuk pengobatan. Singkatan nama buku ini adalah FHT.
Jika digunakan istilah FHI tanpa keterangan lain, selama periode berlakunya FHI 1111,
maka yang dimaksudkan adaJah Farmakope Herbal Indonesia dan semua suplemennya.

SYARATMUTU

Syarat mutu adalah semua paparan yang tertera dalam monografi merupakan syarat
mutu simplisa dan ekstrak yang bersangkutan. Suatu simplisia dan ekstrak tidak dapat
dikatakan berl11utu FHI jika tidak mel11enuhi syarat mutu tersebut. Syarat mutu ini berlaku
bagi simplisia dan ekstrak dengan tujuan pemeliharaan kesehatan dan pengobatan, tidak
berlaku untuk keperluan lain.

SIMPLISJA

Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk
pengobatan dan belum mengalami pengolahan . Kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan
simplisia tidak lebih dari 60.
Simplisia segar adalah bahan alam segar yang belum dikeringkan.

XXI
Simplisia Nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh , bagian tumbuhan atau
eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adaJah isi sel yang secara spontan keluar dari tumbuhan
atau dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau zat nabati lain yang dengan cara
tertentu dipisahkan dari tumbuhannya.
Serbuk Simplisia Nabati adalah bentuk serbuk dari simplisia nabati, dengan ukuran
derajat kehalusan tertentu . Sesuai dengan derajat kehalusannya, dapat berupa serbuk sangat
kasar, kasar, agak kasar, halus dan sangat hal us.
Serbuk simplisia nabati tidak boleh mengandung fragmen jaringan dan benda asing yang
bukan merupakan komponen asJi dari simplisia yang bersangkutan antara lain telur nematoda,
bagian dari serangga dan hama serta sisa tanah.
Nama Latin Simplisia ditetapkan dengan menyebut nama marga (genus), nama jenis
(species) dan bila memungkinkan petunjuk jenis (varietas) diikuti dengan bagian yang
digunakan.
Nama Latin dengan pengecuaJian ditetapkan dengan menyebut nama marga untuk
simplisia yang sudah lazim disebut dengan nama marganya.
Nama lain adalah nama Indonesia yang paling lazim, didahului dengan bag ian
tumbuhan yang digunakan.
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati
atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung.

SUHU

Suhu Kecuali dinyatakan lain, semua suhu dalam FHI dinyatakan dalam derajat
Celcius(O).
Suhu ruang Suhu ruang adalah suhu pada ruang kerja. Suhu ruang terkendali adalah
suhu ruang yang diatur 15 sampai dengan 30
Hangat Hangat adalah suhu 30 sampai dengan 40
Sejuk Sejuk adalah suhu 8 sampai dengan 15
Oingin Dingin adalah suhu yang kurang dari 8
Lemari pendingin Lemari pendingin mempunyai suhu 2 sampai dengan 8
Lemari pembeku Lemari pembeku mempunyai suhu -20 sampai dengan -10
Penyimpanan Kecuali dinyatakan lain, simplisia disimpan di tempat terlindung dari
sinar matahari dan pada suhu ruang .

XXII
BOBOT DAN UKURAN

Bobot dan Ukuran yang digunakan dalam FHI adalah sistem metrik. Satuan bobot dan
ukuran serta singkatannya yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
kg : kilogram
g : gram
mg : miligram
: mikrogram
L : liter
mL : mililiter
: mikroliter
m : meter
em : senti meter
mm : milimeter
nm : nanometer

KADAR LARUTAN

Molaritas diberi simbol M, adalah jumlah gram molekul zat yang dilarutkan dalam
pelarl1t hingga volume I L.
Normalitas diberi simbol N, adalah jl1mlah bobot ekuivalen zat yang dilarl1tkan dalam
pelarl1t hingga volume 1 L.
Persen bobot per bobot (bib) menyatakan jumlah gram zat dalam J00 g larutan atall
cam pl1ran.
Persen bobot per volume (b/v) menyatakan jumlah gram zat dalam J00 mL larutan,
sebagai pelarut dapat digunakan air atau pelarl1t lain.
Persen volume per volume (v/v) menyatakan jumlah mL zat dalam 100 mL larutan.
Persen volume per bobot (v/b) menyatakanjl1mlah mL zat dalam J00 g bahan.
Pernyataan persen tanpa penjelasan lebih lanjut untuk campuran padat atau setengah
padat, yang dimaksud adalah bib, untllk larutan dan suspensi suatu zat pad at dalam cairan
yang dimaksud adaJah b/v, untuk larutan cairan di dalam cairan yang dimaksLld adalah v/v,
dan untuk Iarutan gas dalam cairan yang dimaksud adalah b/v.

PENAFSlRAN ANGKA, PENlMBANGAN DAN PENGUKURAN

Penafsiran Angka signifikan yang tertera pada FHI, tergantllng pada tingkat ketelitian
yang dikehendaki. Bilangan yang merupakan batasan, mempllnyai ketelitian sampai
persepuJuh satuan angka terakhir bilangan yang bersangkutan; misalnya pemyataan tidak
kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 100,5% berarti tidak kurang dari 99,50% dan tidak
lebih dari 100,50%.

XXlll
Bilangan yang tidak merupakan batasan, mempunyai ketelitian 0,5 ke bawah dan ke atas
harga satuan angka terakhir bilangan yang bersangkutan; misalnya bilangan 10,0 mempunyai
nilai antara 9,95 dan 10,05.
Penimbangan dan Pengukuran Pengertian lebih kW'ang dalam pernyataan untuk
jumlah bahan yang diperlukan untuk pemeriksaan atau penetapan kadar, berarti bahwa jumlah
yang harus ditimbang atau diukur tidak boleh kurang dari 90% dan tidak boleh lebih dari
I 10% jumlah yang tertera. Hasi] pemeriksaan atau penetapan kadar didasarkan pad a
penimbangan atau pengukuran secara saksama sejumlah bahan tersebut.
Dengan pernyataan limbang saksama dimaksudkan bahwa penimbangan dilakukan
sedemikian rupa sehingga batas kesalahan penimbangan tidak boleh lebih dari 0, I% jumlah
yang ditimbang; misalnya dengan pernyataan timbang saksama 50 mg, berarti bahwa batas
kesalahan penimbangan tidak lebih dari 0,05 mg. Penimbangan saksama dapat juga
dinyatakan dengan menambahkan angka dibelakang koma angka terakhir bilangan yang
bersangkutan; misalnya dengan pernyataan timbang 10,0 mg dimaksudkan bahwa
penimbangan harus dengan saksama.
Dengan pernyataan ukur saksama dimaksudkan bahwa pengukuran dilakukan dengan
memakai pipet atau buret yang memenuhi syarat yang tertera pad a bobot dan ukuran.
Pengukuran saksama dapat juga dinyatakan dengan perkataan pipet atau dengan
menambahkan angka di belakang koma angka terakhir bilangan yang bersangkutan;
misalnya dengan pernyataan pipet 10 mL atau ukur 10,0 mL dimaksudkan bahwa pengukuran
harus dilakukan saksama .
Bobot Tetap Penimbangan dinyatakan sudah mencapai bobot tetap apabila perbedaan
dua kali penimbangan berturut-turut setelah dikeringkan atau dipijarkan selama I jam tidak
lebih dari 0,25% atau perbedaan penimbangan seperti tersebut di atas tidak me]ebihi 0,5 mg
pad a penimbangan dengan timbangan analitik.
Perbesaran Mikroskop Kecuali dinyatakan lain dalam monografi, perbesaran
mikroskop yang dimaksud adalah 40 x 10.

HAMPA UDARA

Hampa udara Kecuali dinyatakan lain, istilah dalam hampa udara dimaksudkan kondisi
tekanan udara kurang dari 20 mmHg.
Apabila dalam monografi disebutkan pengeringan dalam hampa udara di atas pengering,
dapat digunakan desikator vakum atau piston pengering vakum atau alat pengering vakul11
lainnya yang sesuai.

PENGUJIAN DAN PENETAPAN KADAR

Alat Spesifikasi dari ukuran tertentu, jenis wadah atau alat dalam pengujian atau
penetapan kadar hanya diberikan sebagai rekomendasi. Apabila disebutkan labu tentukur atau
alat ukur, atau alat timbang dengan ketepatan tertentu, harus digunakan alat tersebut atau alat
lain dengan ketelitian paling sedikit sama dengan alat tersebut. Apabila disebutkan wadah

XXIV
kaca dengan aktinik rendah atau tidak tembus cahaya, dapat digunakan wadah bening yang
telah dilapisi bahan yang sesuai atau dibungkus agar kedap cahaya.
Tangas uap Jika dinyatakan penggunaan tangas uap, yang dimaksud adalah tangas
dengan uap panas mengalir. Dapat juga digunakan pemanas lain yang dapat diatur, hingga
suhu sam a dengan suhu uap mengalir.
Tangas air Jika dinyatakan penggunaan tang as air, tanpa menyebutkan suhu teJ1entu
yang dimaksud adalah tangas air yang mendidih kuat.
Prosedur Prosedur penetapan kadar dan pengujian diberikan untuk menetapkan
kesesllaian dengan persyaratan identitas, kadar, mutu, dan kemurnian yang tertera dalam FHI.
Semua bahan resmi yang beredar apabila diuji menggunakan prosedur yang telah
ditetapkan dalam FHI harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam monografi.
Prosedur lain yang tidak tercantum dalam FHI dapat digunakan asal dapat dibuktikan
memberikan ketelitian dan ketepatan yang paling sedikit sama dengan metode FHI. Apabila
prosedur lain, atau metode alternatif memberikan hasil yang berbeda dengan metode FHI,
maka yang dianggap benar adalah hasil yang menggunakan prosedur FHI.
Apabila dalam syarat kadar bahan dalam monografi ada pernyataan "dihitung terhadap
zat yang telah dikeringkan", zat yang bersangkutan tidak perlu dikeringkan terlebih dahlliu
sebelum dilakukan penetapan kadar. Penetapan kadar dapat menggunakan zat yang belum
dikeringkan, kemudian hasilnya diperhitungkan terhadap zat yang telah dikeringkan dengan
menggunakan faktor yang diperoleh dari hasil penetapan SllSUt pengeringan, seperti yang
tertera pada monografi yang bersangkutan.
Apabila dalam pengujian diseblltkan "menggunakan zat yang sebelumnya lelah
dikeringkan dan lidak mengandung minyak menguap" dan tidak ada penjelasan mengenai cara
pengeringannya, maka digunakan cara seperti yang tertera pad a Penetapan Susut Pengeringan
atau Penetapan Kadar Air Metode Gravimetri. Jika dalam pengujian disebutkan
"menggunakan zat yang sebelumnya telah dikeringkan dan mengandung minyak menguap"
dan tidak ada penjelasan mengenai cara pengeringannya, maka digunakan cara seperti yang
tertera pada Penetapan Kadar Air Metode Destilasi.
Pernyataan "Iebih kurang" untuk bobot atau volume zat yang digunakan untuk
penguj ian atau penetapan kadar, mempunyai makna dalam batas-batas 10% dari bobot atau
volume yang ditetapkan dan perhitungan hasilnya didasarkan atas bobot atau volume yang
benar-benar digunakan. Toleransi ini juga berlaku untuk ukuran-ukuran yang lain.
Penetapan blangko Apabila diperlukan koreksi terhadap suatu penetapan dengan cara
penetapan blangko, penetapan dilakukan menggunakan pereaksi yang sama, cara yang sama
seperti pada larutan atau campuran yang mengandung zat yang ditetapkan.
Pengenceran Apabila dinyatakan suatu larutan diencerkan "secara kuantitalif dan
bertahap", larutan tersebllt diukur saksama dan diencerkan dengan air atau pelarut lain
dengan perbandingan tertentu dalam satu atau beberapa langkah.
Pemijaran sampai bobot tetap KecuaJi dinyatakan lain pernyataan "Pijarkan sampai
bobot telap", dimaksudkan pemijaran harus dilanjutkan pada suhu 8000 25 hingga hasil
dua penimbangan berturut-turut berbeda tidak lebih dari 0,5 mg tiap gram zat yang digunakan;
penimbangan kedua dilakukan setelah dipijarkan lagi selama 15 menit.
Larutan Kecuali dinyatakan lain, larutan untuk pengujian atau penetapan kadar dibuat
dengan "Air" sebagai pelarut.
Air Kecuali dinyatakan lain, yang dimaksud dengan air dalam pengujian dan penetapan
kadar adalah Air yang dimurnikan.

xxv
Setiap peralatan dan metode yang digunakan dalam penguJlan dan penetapan kadar
harus divalidasi terlebih dahlilu .
Semua alat ukur massa, volume dan suhu yang digunakan untuk pengujian dan
penetapan kadar harus dikalibrasi secara berkala oleh laboratorium yang terakreditasi.
Organoleptik Pernyataan "tidak berbau", "praktis tidak berbau ", "berbau khas lemah"
atau lainnya, ditetapkan dengan pengamatan setelah bahan terkena udara selama 15 menit.
Waktu 15 menit dihitung setelah wadah yang berisi tidak lebih dari 25 g bahan dibuka. Untuk
wadah yang berisi lebih dari 25 g bah an penetapan dilakukan setelah lebih kurang 25 g bahan
dipindahkan ke dalam cawan penguap 100 mL. Bau yang disebutkan hanya bersifat deskriptif
dan tidak dapat dianggap sebagai standar kemurnian dari bahan yang bersangkutan.

PENANDAAN

Penandaan Pada wadah harus diberi label yang berisi sekurang-kurangnya Nama
lndonesia dan Nama Latin simplisia.

SENYA W A IDENTITAS DAN PEMBANDING

Senyawa Identitas Kandungan kimia simplisia yang dapat digunakan untllk


identifikasi . Dalam hal senyawa identitas tidak tersedia, identifikasi simplisia dan sediaannya
dapat menggunakan zat pembanding.
Zat Pembanding Bahan yang sesuai sebagai pembanding dalam pengujian dan
penetapan kadar yang telah disetujui, yang dibuat, ditetapkan dan diedarkan. Jika suatu
pengujian atau penetapan kadar perlu menggunakan monografi dalam FHI sebagai
pembanding maka dapat digunakan suatu bahan yang memenuhi semua persyaratan
monografi FHI.
Daftar senyawa identitas dan pembanding tercantum dalam lampiran.

XXVI

..
MONOGRAFI
BUAH ANYANG-ANYANG
Elaeocarpi Grandiflori Fructus

Buah anyang-anyang adalah buah masak Elaeocarpus grandiflorus lE. Smith, suku
Elaeocarpaceae, mengandung tanin tidak kurang dari 0,17%.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa buah berbentuk jorong, pangkal dan ujung runcing, masing-masing buah
mempunyai satu biji berbentuk memanjang dengan celah membujur, bagian ILlar keras seperti
kayu, mempunyai tonjolan seperti duri-duri melengkung, panjang 2-5 mm; warna buah
kuning sampai kuning cokelat; baLI lemah; rasa pahit.

H
[em

Simplisia buah anyang-anyang

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah kristal kalsium oksalat bentuk prisma, tetes minyak, berkas
pengangkut bentuk tangga, sklereida, parenkim epikarpium dan endosperm.

I. Kristal kals ium oksalat 2. Tetes minyak


bentuk prisma
3. Berkas pengangkut bentuk tangga 4. Sklereida

5. Parenkim epikarpium 6. Endosperm

Fragmen serbuk simplisia buah anyang-anyang

Senyawa identitas (+) Katekin


Struktur kimia:

HO

OH

(+) Katekin

Pola kromatografi
Lakukan Kromatograji lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatografl <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Toluen P-aseton P-asam asetal P (60: 140: 1)
Fase diam : Silika gel 60 F 254
Larutan uji : 5% dalam metanol P, gunakan Larutan uji KLT seperti teliera pada
Kromalograji <61>
Larutan pembanding : Katekin 0,1 % dalam etanol P
Volume penotolan : Totolkan 10 ilL Lanttan uji dan 5 ilL Larutan pembanding
Deteksi : Besi(/lI) klorida 1% LP

2
Keterangan
S : Simplisia buah anyang-anyang
P : Pembanding katekin
R( pembanding katekin 0,63
R( l. 0, II
RJ 2.0,19
R( 3.0,63

S P

Susut pengeringan <Ill> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81> Tidak lebih dari 3,0%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,3%

Sari larut air <91> Tidak kurang dari 5,3%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 7,2%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar tanin Tidak kurang dari 0,17%
Timbang saksama lebih kurang 2 g serbuk simplisia (W), tambahkan 200 mL air, rebus
selama 30 menit. Dinginkan, masukkan ke dalam labu tentukur 250-mL, tambahkan air
sampai tanda. Biarkan padatan mengendap, saring me1alui kertas saring dan buang 50 mL
filtrat pertama. Pipet 50 mL ke dalam cawan penguap yang telah ditara, keringkan dan
0
panaskan pada suhu 105 hingga bobot tetap (TJ). Pipet 80 mL sisa filtrat masukkan ke dalam
labu Erlenmeyer tambahkan 6 g serbuk kulit sapi, kocok selama 60 menit, saring. Pipet 50 mL
filtrat ke dalam cawan penguap yang telah ditara, keringkan dan panaskan pada suhu 105
hingga bobot tetap (T 2)' Tentukan ke1arutan serbuk kulit sapi dengan mencampur 6 g kulit
sapi dengan 80 mL air, kocok selama 60 menit, saring. Pipet 50 mL filtrat ke dalam cawan
penguap yang telah ditara, keringkan dan panaskan pada suhu 105 hingga bobot tetap (To).

3
Hitung persentase tanin dalam zat uji yang digunakan dengan rumus:

EKSTRAK KENTAL BUAH AN YANG-AN YANG


Elaeocarpi Grandiflori Fructus Extractum Spissum

Ekstrak kental buah anyang-anyang adalah ekstrak yang dibuat dari buah Elaeocarpus
grandiflorus lE. Smith, suku Elaeocarpaceae, mengandung tanin tidak kurang dari 3,4%.

Pembuatan Ekstrak <311 >


Rendemen Tidak kurang dari 7,9%

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; wama kuning kecokelatan; bau khas; rasa pahit.

Senyawa Iden titas (+) Katekin


Struktur kimia :

HO

OH

(+) katekin

Kadar air <83> Tidak lebih dari 10,3%

Abu total <81> Tidak lebih dari 1,8%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,1 %

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar tanin Tidak kurang dari 3,4 %
Timbang saksama lebih kurang 2 g serbuk simplisia (W), tambahkan 200 rnL air, rebus
selama 30 menit. Dinginkan, masukkan ke dalam labu tentukur 250-mL, tambahkan air
sampai tanda. Biarkan padatan mengendap, saring melalui kertas saring dan buang 50 mL
fiitrat pertama. Pipet 50 mL ke dalam cawan penguap yang telah ditara, keringkan dan
panaskan pada suhu 105 0 hingga bobot tetap (T,). Pipet 80 mL sisa filtrat masukkan ke dalam
labu Erlenmeyer tambahkan 6 g serbuk kulit sapi, kocok selama 60 menit, saring. Pipet 50 mL
filtrat ke dalam caw an penguap yang telah d itara, keringkan dan panaskan pada suhu 105

4
hingga bobot tetap (T2). Tentukan kelarutan serbuk kulit sapi dengan mencampur 6 g kulit
sapi dengan 80 mL air, kocok selama 60 menit, saring. Pipet 50 mL filtrat ke dalam cawan
penguap yang telah ditara, keringkan dan panaskan pada suhu 105 hingga bobot tetap (To).
Hitung persentase tanin dalam zat uji yang digllnakan dengan rumus:

HERBA BANDOT AN
Agerati Conyzoidii Herbae

Herba bandotan adalah seillruh bag ian di atas tanah tumbllhan Ageratum conyzoides L., sllkll
Asteraceae, mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 0,40% (v/b) dan flavonoid totaJ tidak
kurang dari 0,61 % dihitung sebagai rutin .

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa semua bagian tumbuhan di atas tanah terdiri atas batang, daun dan bunga,
batang berbentuk silindris, mengkerut, berambut, bunga berupa kumpuian bunga majemuk
bentuk cawan di ujung batang, helaian daun berbentuk bulat teJur, rapuh, pertuJangan daun
menyirip, kedua permukaan kasar, pangkaJ helaian daun rata, tepi bergerigi , ujung runcing;
warna batang cokeJat, warna heJaian daun hijau kecokelatan; bau aromatik, khas, lama
kelamaan agak memualkan; rasa agak pahit, agak keJat.

... H
lcm

Simplisia herba bandotan

5
Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah fragmen kepala sari dengan serbuk sari, rambut penutup, sisik
kelenjar asteraceae, epidermis bawah daun dengan stomata tipe anomositik, epidermis batang,
fragmen berkas pengangkut dengan penebalan bentuk spiral dan serbuk sari lepas, epidermis
atas mahkota bunga dan epidermis bawah braktea involukralis.

I. Fragmen kepala sari dengan serbuk sari 2. Rambut penutup

3. Sisik kelenjar asteraceae 4. Epidermis bawah daun dengan stomata


tipe anomositik

5. Epidermis batang 6. Fragmen berkas pengangkut dengan


penebalan bentuk spiral
dan serbuk sari lepas

7. Epidermis atas mahkota bunga 8. Epidermis bawah braktea involukralis

Fragmen serbuk simplisia herba bandotan

6
Senyawa identitas Nobiletin (5 ,6,7,8,3',4',-heksametoksiflavon)
Struktur kimia :

Nobi letin (5,6,7,8,3' ,4',-heksametoksiflavon)

Pola kromatografi
Lakukan Kromatografi lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatografi <6\ > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak Asam asetat P 15%
Fase diam Selulosa mikrokristal
Larutan uji 10% dalam metanol P
Larutan pembanding Rutin 1% dalam metanol P
Volume penotolan
Deteksi

Totolkan 1 flL Larutan uji dan 5 flL Larutan pembanding
UV 366

Keterangan :
S : Simplisia daun bandotan
P : Pembanding rutin
Rr pembanding rutin 0,52
Rj 1. 0,10
Rr2.0,22
Rr3.0,52
Rr 4. 0,62
Rj 5. 0,70

S P

Susut pengeringan < 111 > Tidak lebih dari 10%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 11 ,3%

7
Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 2,1%

Sari larut air <91> Tidak kurang dari 11,4%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 17,5%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar minyak atsiri Tidak kurang dari 0,40% v /b
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Minyak Atsiri < 71 >
Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,61 % dihitung sebagai rutin.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151> Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 425 nm.

EKSTRAK KENT AL HERBA BANDOTAN


Agerati Conyzoidi Herbae Extractum Spissum

Ekstrak kental herba bandotan adalah ekstrak yang dibuat dari herba Ageratum conyzoides L.,
suku Asteraceae, mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 0,18% dan flavonoid tidak
kurang dari 5,16% dihitung sebagai rutin.

Pembuatan Ekstrak <311>


Rendemen Tidak kurang dari 9,61 %

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; warna hijau kehitaman; bau khas; rasa pahit dan kelat.

Senyawa Identitas Nobiletin


Struktur kimia :

Nobiletin

Kadar air <83> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 1,20%

8
Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,06%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar minyak atsiri Tidak kurang dari 0,18%
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Minyak Atsiri <71 >
Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 5, 16% dihitung sebagai rutin
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang sera pan
maksimum lebih kurang 425 nm.

EKSTRAK KENT AL UMBI LAPIS BA WANG PUTIH


Allii Sativi Bulbi Extractum Spissum

Ekstrak kental umbi lapis bawang putih adalah ekstrak yang dibuat dari umbi Allium sativum
L., suku Liliaceae, mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 0,05% v/ b.

Pembuatan Ekstrak
Rendemen Tidak kurang dari 26%
Gunakan etanol P sebagai pelarut

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; warna cokelat; bau khas aromatis menyengat; rasa pedas, agak
kelat.

Senyawa Identitas Alisin


Struktur kimia :

Alisin

Kadar air <83> Tidak lebih dati 12%

Abu total <81 > Tidak .Iebih dari 2,7%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,7%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar minyak atsiri Tidak kurang dari 0,05% vlb
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Minyak Atsiri < 71 >

9
DAUN BAYAM DURI
Amaranthi Spinosi Folium

Daun bayam duri adalah daun Amaranthus spinosus L., suku Amaranthaceae, mengandung
flavonoid total tidak kurang dari 0,28% dihitung sebagai rutin.

Identitas Simplisia
Pemerian
Berupa helaian daun kering melipat atau menggulung tidak beraturan dengan tangkai daun
yang panjang, pangkal tumpul atau membulat, tepi daun tidak rata, beringgit atau bergerigi
tidak tajam ; warna hijau kehitaman; tidak berbau ; rasa sedikit asam.

H
I em

Simplisia daun bayam duri

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah rambut penutup berkelenjar, rambut penutup, kristal kalsium
oksalat bentuk roset dan prisma, epidermis atas, berkas pengangkut dengan penebalan bentuk
spiral, jaringan epidermis bawah dengan stomata dan epidermis tangkai daun.

I. Rambut penutup berkelenjar 2. Rambut penulup

10
J. Kristal kalsillm oksalat
ben tll k roset bentllk prisma

5. Epidermis atas 6. Berkas pengangkut dengan


penebalan bentuk spiral

7. Epidermis bawah 8. Epidermis tangkai dalln


dengan stomata

Fragmen serbuk simpiisia daun bayam duri

Senyawa identitas Rutin


Struktur kimia :
OH

OH

HO

CH,
OH o
I
HO
HJr/C
00
HO
OH
Rutin

iL
Po)a kromatograti
Lakukan Kromatograji lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatograji <61> dengan
parameter sebagai berikut :
F ase gerak : Etil asetat P -asam format P -air ( I 00: 15: I 7)
Fase diam : Silika gel 60 F254
Larutan uj i : 5% dalam metanol p, gunakan Larutan uji KLT seperti tertera
pada Kromatograji <61 >
Larutan pembanding : Rutin 1% dalam etanol P
Volume penotoJan : Totolkan 10 flL Larutan uji dan 0,5 flL Larutan pembanding
Deteksi : Sitroborat LP, panaskan lempeng pada suhu 100 selama 5 - 10 menit
danUV 366

Keterangan
S: Simplisia bayamduri
P: Pembandingrutin
RJ pembandingrutin0,50
RJ 1. 0,15
RJ 2.0,33
RJ 3.0,50
RJ 4. 0,68
RJ 5. 0,74
RJ 6.0,79
RJ 7.0,86

S P

Susut pengeringan < 111 >Tidaklebihdari 10%

Abu total <81> Tidaklebihdari 9,1%

Abu tidak larut asam <82>Tidak lebihdari 0,3%

Sari larut air <91> Tidakkurangdari 7,5%

Sari larut etanol <92>Tidakkurangdari 7,6%

12
Kandungan Kimia Simplisia
Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,28% dihitung sebagai rutin.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total <151 >Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 425 nm.

EKSTRAK KENTAL DAUN BAYAM DURI


Amaranthi Spinosi Folium Extractum Spissum

Ekstrak kental daun bayam duri adalah ekstrak yang dibuat dari daun Amaranthus spinosus
L. , suku Amaranthaceae, mengandung flavonoid total tidak kurang dari 2,79% dihitung
sebagai rutin.

Pembuatan Ekstrak <311 >


Rendemen Tidak kurang dari 9,71 %

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; warna hijau kehitaman; bau khas; rasa sedikit asam.

Senyawa Identitas Rutin


Struktur kimia :
OH

OH
?7
HO


T
HO
00

HO
OH

Rutin

Kadar air <83> Tidak lebih dari 10,6%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 8,5%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,04%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 2,79% dihitung sebagai rutin.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total <151 >Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 425 nm.

13
HERBA BENALU
Scurrulae Atropurpureae Herbae

Herba benaJu adaJah herba Scurrula atropurpurea (Bl.) Danser. , suku Loranthaeeae,
mengandung flavonoid total tidak kurang dari 0,28% dihitung sebagai kuersitrin.

Indentitas Simplisia
Pemerian Berupa semua bagian tumbuhan yang menempeJ seeara parasit pada tumbuhan
inang, bentuk batang silindris, mengkerut, bunga tersusun di ketiak daun, bentuk helaian daun
bulat telur, pertulangan daun menyirip, permukaan atas hein mengkiJap, permukaan bawah
berambut halus, pangkal helaian daun rata atau agak membulat, tepi berlekuk, ujung tumpul ;
helaian daun berwarna kuning atau eokelat, batang berwarna eokelat kehitaman; tidak berbau ;
tidak berasa.

Simplisia herba benalu

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah epidermis dan rambut penutup, untaian rambut penutup, rambut
penutup lepas, epidermis dengan stomata, epidermis perhiasan bunga, serabut sklerenkim,
epidermis batang dan parenkim batang.

14
I. . Epidermis dan ram but penutup

3. Ramb ut penutup 4. Epidermis dengan stomata

5. Epiderm is perhiasan bunga 6. Serabut sklerenkim

15
7. Epidermis batang 8. Parenkim batang

Fragmen serbuk herba benalu

Senyawa Identitas Kuersitrin


Struktur kimia :

OH

OH

HO

OH o

Kuersitrin

Pota kromatografi
Lakukan Kromatografi lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatografi <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak Dildorometan P-aseton P-asam format P (10 : 7 : 1)
Fase diam Silika gel 60 F254
Larutan uji 10% dalam metanol P, gunakan Larutan uji KLT seperti yang tertera
pada Kromatografi <61 >
Larutan pembanding Kuersitrin 0, I % dalam metanol P
Volume penotolan Totolkan masing-masing 5 flL Larutan uji dan Larutan pembanding
Deteksi Sitroborat LP, panaskan lempeng pada suhu 100 selama 5 - 10
menit dan UV 366

16
S : Simplisia oenalu
P : Pembanding kuersitrin
Rf pembanding ku ersitrin 0,35
Rf 1.0,05
Rf 2.0,35
Rf 3. 0,47
Rf 4.0,60
Rf 5. 0,73
Rf 6.0,80
Rf 7.0,90

s p

Susut pengeringan < Ill > Tidak lebih dari 10%

Abu total < 81 > Tidak lebih dari 6,0%

Abu tidak ]arut asam <82> Tidak lebih dari 1,0%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 1,2%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 1,3%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,28% dihitung sebagai kuersitrin
Lakukan penetapan kad ar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151> Metode 2.
Gunakan kuersitrin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 425 nm.

17
EKSTRAK KENTAL HERBA BENALU
Scurrulae Atropurpureae Herbae Extractum Spissum

Ekstrak kental herba benalu adalah ekstrak herba Scurrula atropurpurea (Bl.) Danser. , suku
Loranthaceae, mengandung flavonoid total tidak kurang dari 1,05% dihitung sebagai
kuersitrin.

Pembuatan Ekstrak <311 >


Rendemen Tidak kurang dari 20,5%
Gunakan etanol P sebagai pelarut

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; warna hijau kehitaman; bau khas; rasa pahit.

Senyawa Identitas Kuersitrin


Struktur kimia :
OH

OH

HO

OH o

Kuersitrin

Kadar air <83> Tidak lebih dari 12,1%

Abu total <81> Tidak lebih dari 5,2%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 2,3%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 1,05% dihitung sebagai kuersitrin
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan Kuersitrin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang
serapan maksimum lebih kurang 425 nm.

18
DAUN BINAHONG
Anrederae Scanden,:is Folium

Daun binahong adalah daun Anredera scandens (L.) Moq, suku Basellaceae mengandung
flavonoid total tidak kurang dari 1, J% dihitung sebagai rutin.

Identitas Simplisia
Pemerian Benlpa helaian daun berbentuk segitiga atau bulat telur atau jantung, pertulangan
daun menyirip, tulang-tulang daun cokelat kekuningan, kedua permukaan daun agak kasar,
agak tebal, pangkal helaian daun berlekuk, tepi berlekuk-lekuk, ujung meruncing; warna hijau
kecokelatan; bau sedikit menyengat; rasa kelat dan sedikit pahit.

H
lem

Simplisia daun binahong

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah epidermis bawah dengan stomata, mesofil daun dengan kristal
kalsium oksalat bentuk roset, epidermis atas dan berkas pengangkut dengan penebalan bentuk
spiral.

I. Epidermis bawah dengan stomata 2. Mesofil daun dengan kristal kalsium


oksalat bentuk roset

19
3. Epidermis atas 4. Berkas pengangkut dengan penebalan
bentuk spiral

Fragmen serbuk daun binahong

Senyawa Identitas 2,4-dihidroksi-6-metoksi-5-formil-3-metilkalkon


Struktur kimia :
CH,

HO OH
0

I C
II
O / '-.. H

OCH3
#

2,4-d ihidroksi -6-metoks i-5-formil- 3-meti IkaJ kon

Pola kromatografi
Lakukan Kromatograji lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatograji <61> dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak Eti! asetat P- asamformat P- air (5: 1: I)
Fase diam Silika gel 60 F254
Larutan uji 20% dalam etano! P, gunakan Larutan uji KLT seperti yang tertera
pada Kromatograji <6\>
Larutan pembanding Rutin 0,4% dalam etano! P
Volume penotolan Totolkan masing-masing 20 Larutan uji dan 10 Larutan
pembanding
Deteksi Sitroborat LP, panaskan lempeng pada suhu 1000 selama 5 - 10
menit dan UV 366

20
Keterangan :
S : Simplisia daun binahong
P : Pembanding rutin
Rj pembanding rutin 0,50
Rjl.0,07
Rr2. O,18
Rr3.0,50
Rj4. 0,80
Rr5.0.91

S P

Susut pengeringan < III > Tidak lebih dari 10%

Abu total <81> Tidak lebih dari 16,3%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 1,9%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 13,5%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 19,6%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar flavonoid Total Tidak kurang dari 1, 1% sebagai rutin.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Pen etapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 425 nm.

EKSTRAK KENTAL DAUN BINAHONG


Anrederae Scandensis Folii Extractum Spissum

Ekstrak kental daun binahong adalah ekstrak yang dibuat dari daun Anredera scandens (L.)
Mog. , suku Basellaceae, mengandung flavonoid total tidak kurang dari 8,96% dihitung
sebagai rutin.

21
Pembuatan Ekstrak <311 >
Rendemen Tidak kurang dari 11,91 %

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental ; wama cokelat keunguan; tidak berbau; rasa agak kelat.

Senyawa Identitas 2,4-di hidroksi-6-metoksi-5-formi 1-3-metil kalkon


Struktur kimia :
CH,

HO OH
:::?' 0

I II
O/C""- H

OCH,

2,4-d ihidroksi-6-metoksi-5-formi 1-3-meti lkal kon

Kadar air <83> Tidak lebih dari 8,85%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 1,64%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,05%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar flavonoid total tidak kurang dari 8,96% dihitung sebagai rutin
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 4 25 nm.

DAUN GANDAPURA
GauUheriae Fragrantissimae FoHum

Daun gandapura adalah daun dari Gaultheriafragrantissima Auct. non Wall., suku Ericaceae
mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 0,24% v/ b.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa daun tipis , berbentuk bulat telur memanjang sampai jorong, helaian daun
kaku , mengeras, terdapat bercak-bercak berwama merah kecokelatan, pertulangan daun
menyirip, pangkal daun rata atau agak membulat, tepi bergerigi kasar, ujung meruncing;
warna hijau kekuningan sampai kecokelatan; bau khas; rasa sedikit kelat kemudian tidak
berasa.

22
lem

Simplisia daun gandapura

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah epidermis atas dengan stomata, epidermis bawah dengan stomata,
berkas pengangkut penebalan tangga, epidermis dengan palisade, kristal kalsium oksalat
bentuk roset, kristal kalsium oksalat bentuk prisma dan mesofil berupa epidermis atas dengan
palisade.

I. Epidermis atas dengan stomata 2. Epidermis bawah dengan stomata

3. Berkas pengangkut penebalan tangga 4. Epidermis dengan palisade

23
5. Kristal kalsium oksalat bentuk roset 6. Kristal kalsium oksalat bentuk prisma

7. Mesofil berupa epidermis atas dengan palisade

Fragmen serbuk simplisia daun gandapura

Senyawa Identitas Metil salisilat


Struktur kimia :

OH

Metil saJisiiat

Pola kromatografi
Lakukan Kromatografi lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatografi <61> dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak Toluen P-aseton P (8:2)
Fase diam Silika gel 60 F 254
Larutan uji 20% dalam etanol p, gunakan Larutan uji KLT seperti tertera pada
Kromatografi <61 >
Larutan pembanding Eugenol 2% dalam etanol P
Volume penotolan Totolkan 20 flL Larutan uji dan 5 flL Larutan pembanding
Deteksi Anisaldehid-asam sulfat LP, panaskan lempeng pada suhu 100
selama 5 - 10 menit dan UV J6 6

24
S: Simplisia daun gandapura
P : Pembanding eugenol
RJ Pembanding eugenol 0,80
Rx 1. 0,09
Rx 2.0,16
Rx 3.0,22
Rx 4 . 0,44
Rx 5. 0,71
Rx 6 . 0,82
Rx 7.0,91
Rx 8. 0,98
Rx 9. 1,15

S p

Susut pengeringan < Ill > Tidak lebih dari 10%

Abu total < 81 > Tidak lebih dari 2,9%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 1,7%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 7,5%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 10,6%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar minyak atsiri tidak kurang dari 0,56% v/b
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Minyak Atsiri < 71>

EKSTRAK KENTAL DAUN GANDAPURA


GauItheriae Fragrantissimae Folii Extractum Spissum

Ekstrak kental daun gandapura adalah ekstrak yang dibuat dari daun Gaultheria
fragrantissima Auct. non Wall., suku Ericaceae, mengandung minyak atsiri tidak kurang dari
0,24% b/v.

25
Pembuatan Ekstrak <311>
Rendemen Tidak kurang dari 6,45%

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; wama hijau kehitaman; bau khas; rasa kelat dan sedikit pahit.

Senyawa Identitas Metil salisilat


Struktur kimia :

OH

Metil salisilat

Kadar air <83> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 1,3%

Abu tidak Jarut asam <82> Tidak lebih dari 0,07%

Kandungan Kimia Ekstra.k


Kadar minyak atsiri Tidak kurang dari 0,24% b/v
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Minyak Alsiri < 7 j >

RAMBUT JAGUNG
Zeae Maydis Stigmae

Rambut jagung adalah kepala putik dan tangkai kepala putik buah Zea Mays L. segar, suku
Poaceae, mengandung stigmasterol tidak kurang dari 0,04%.

Identitas SimpJisia
Pemerian Berupa benang-benang sisa putik, lemas tidak kaku; warna jingga kemerahan ; agak
mengkilat; bau aromatik lemah; rasa agak kelat.

26
Simplisia rambutjagung

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah epidermis dengan berkas pengangkut, parenkim dengan epidermis,
berkas pengangkut dengan penebalan tangga, epidermis tangkai plltik bagian pangkal, dan
parenkim bakal buah.

I. Epidermis dengan berkas pengangkut

3. Berkas pengangkut dengan penebalan tangga 4. Epidermis tangkai putik bagian pangkal

27
5. Parenkim bakal buah

Fragmen serbuk rambut jagung

Senyawa Identitas Stigmasterol


Struktur kimia :

H H

HO

Stigmasterol

Pola kromatografi
Lakukan Kromatograji lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatograji <61> dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak n-Heksan P-etilasetat P (4: 1)
Fase diam Silika gel 60 F254
Larutan uji 2% dalam etanol P
Larutan pembanding Stigmasterol 0,1% dalam etanol P
Volume penotolan : Totolkan secara terpisah masing-masing 5 !J.L Larutan uji dan Larutan
pembanding
Deteksi : Liebermann-Burchard LP

28
Keterangan:
S : Simplisia rambut jagung
P : Pembanding stigmasterol
Rfpembanding stigmasterol 0,65
Rjl.0,65

S P
Susut pengeringan < I II> Tidak lebih dari 10%

Abu total < 81> Tidak lebih dari 4,6%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,9%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 1,5%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 0,5%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar Stigmasterol Tidak kurang dari 0,04%
Lakukan penetapan kadar dengan cara KLT D ensitometri seperti yang tertera pada
Kromatografi <61>
Fase gerak Diklormetan P
Larutan uji Timbang seksama lebih kurang I g simplisia, larutkan dalam 25 mL etanol P di
dalam tabung reaksi, kocok dengan bantu an "vortex" selama 10 menit. Saring ke dalam {abu
tentukur 25-mL, tambahkan etanol P melalui kertas saring sampai tanda.
Larutan pembanding Stigmasterol 0, I % dalam etanol P, encerkan hingga diperoleh kadar
dengan serapan mendekati sera pan Landan uji.
Pengukuran Totolkan secara terpisah masing-masing 1 ilL Larutan uji dan Larutan
pembanding pada lempeng silika gel 60 F254 , eluasi dengan fase gerak, ukur pada panjang
gelombang serapan maksimum lebih kurang 254 nm. Hitung persentase stigmasterol dalam
zat uji dengan rumus :

29
01 _
1 0-
25 X
CP x -
Aux -100
Ap Wu

Au = Serapan Larutan uji


Ap = Serapan Lanttan pembanding
Cp = Kadar stigmasterol dalam mg per mL Larutan pembanding
Wu = Berat zat uji dalam mg

EKSTRAK KENTAL RAlVIBUT JAGUNG


Zeae Maydis Stigmae Extractum Spissum

Ekstrak kental rambut jagung adaJah ekstrak yang dibuat dari rambut Zea mays L., Suku
Poaceae, mengandung stigmasterol tidak kurang dari 0,2%.

Pembuatan Ekstrak <311>


Rendemen Tidak kurang dari 2,3%
Gunakan etanol P sebagai pelarut

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; warna cokelat kehitaman; bau khas; rasa manis.

Senyawa Identitas Stigmasterol


Struktur kimia :

H H

HO

Stigmasterol

Kadar air <83> Tidak lebih dari 6,8%

Abu total <8\ > Tidak lebih dari 8,4%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 5, \ %

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar stigmasterol Tidak kurang dari 0,2%

30
Lakukan penetapan kadar den ga n cara KLT Densitomelri seperti yang tertera pada
Kromalografl <6/ >
Fase gerak Diklormetan P
Lanttan uji Timbang seksama lebih kurang 100 mg ekstrak, larutkan dalam 25 mL etanol P di
dalam tabung reaksi . Saring ke dalam labu tentukur 25-mL, tambahkan etanol P melalui
kertas saring sampai tanda.
Lantlan pembanding Stigmasterol 0, I % dalam etanol P, encerkan hingga diperoleh kadar
dengan serapan mendekati serapan Larutan uji.
Pengukuran Totolkan secara terpi sah masing-masing I ).lL Lanttan uji dan Lanttan
pembanding pada lempeng siJika gel 60 F254 , eluasi dengan fase gerak, ukur pada panjang
gelombang serapan maksimum lebih kurang 254 nm. Hitung persentase stigmasterol dalam
zat uji dengan rumus :

01 _
10-
25 X
C P x -Au x -100
Ap Wu

Au = Serapan Lam/on uji


Ap = Serapan Larutan pembanding
CP = Kadar stigmasterol dalam mg per mL Larulan pembanding
Wu = Berat zat uji dalam mg

KULIT BATANG JAMBLANG


Syzygii Cumini Cortex

Kulit batang jamblang adalah kulit batang Syzygium cumini (L.) Skeels, suku Myrtaceae,
mengandung fenol total tidak kuran g dari 3,88% dihitung sebagai asam galat.

ldentitas Simplisia
Pemerian Berupa potongan kulit batang, menggulung, membujur atau seperti lempengan,
permukaan luar kasar dengan retak-retak membujur tidak beraturan, kulit bagian dalam
berserabut, kasar, tidak rata, bekas patahan sangat berserabut; permukaan luar abu-abu
kehitaman , permukaan bagian berwarna kecokelatan; bau khas; dan tidak berasa.

31
H
lcm

Simplisia kulit batang jamb lang

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah amilum, kristal kalsium oksalat bentuk roset dan bentuk prisma,
jaringan gabus, parenkim k0l1eks, parenkim kayu, sel batu, jari-jari teras dengan kristal
kalsium oksalat bentuk roset, serabut sklerenkim dan parenkim bernoktah.

I. Amilum 2. Kristal kalsium oksalat bentuk roset




po..


..


.... . .
. ....


,
.
"..-

."
.....
3. Kristal kalsium oksalat bentuk prisma 4. Jaringan gabus

32
5. Parenkim korteks 6. Parenkim ka)'1.1

7. Sel batu 8. Jari-jari teras dengan kristal


kalsium oksalat bentuk roset

9. Serabut sklerenkim 10. Parenkim bernoktah

Fragmen serbuk simplisia kulit batangjamblang

Senyawa identitas Asam galat


Struktur kimia:

HO OH

OH

Asam galat

33
Pola kromatografi
Lakukan Kromatografi lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatografi <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Toluen P-aseton P-asam asetat P (50:50:0,1)
Fase diam : Silika gel 60 F 254
Larutan uji : 5% dalam metanol P, gunakan Larulan uji KLT seperti tertera
pada Kromatografi <61 >
Larutan pembanding : Asam galat 0,1% dalam etanol P
Volume penotolan
Deteksi

: Totolkan J flL Larutan uji dan 0,5 flL Larutan pembanding
: Besi(lll) klorida P 10%

Keterangan
S: Simplisia kulit batang jambJang
P: Pembanding asam galat
Rr pembanding asam galat 0,37
Rj I. 0,37

S P

Susut pengeringan < Ill> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 2,4%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,2%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 13,2%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 13,4%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar fenol total Tidak kurang dari 3,88% dihitung sebagai asam galat
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Pen etapan Kadar Fenol Total Cara Falin Ciocalteu
<161 >

34
EKSTRAK KENTAL KULIT BATANG JAMBLANG
Syzygii Cumini Cortex Ex!ractum Spissum

Ekstrak kental kulit batang jamb lang adalah ekstrak yang dibuat dari kulit batang Syzygium
cumini (L.) Skeels, suku Myrtaceae, mengandung fenol total tidal< kurang dari 8,38% dihitung
sebagai asam galat.

Pembuatan Ekstrak <311 >


Rendemen Tidak kurang dari 12,46%

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental ; warna merah hati; bau khas agak menyengat; tidak berasa.

Senyawa Identitas Asam galat


Struktur kirnia :

HO OH

OH

Asam galat

Kadar air <83> Tidak lebih dari 16,2%

Abu total <81 > Tidak lebi h dari 1,6%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0, I %

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar fenol total Tidak kurang dari 8,38% dihitung sebagai asam galat
Lakllkan penetapan kadar sesllai dengan Penetapan Kadar Fenol Total Cara Falin Ciocalteu
<161 >

35
KULIT BUAH JERUK NIPIS
Citri Aurantifoliae Pericarpium

Kulit buah jeruk nipis adalah kulit Citrus aurant!folia (Christm. & Panz.) Swingle, suku
Rutaceae, mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 0,21 % vlb dan flavonoid total tidak
kurang dari 0,23% dihitung sebagai rutin.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa irisan tipis kulit buah dengan tepi tidak rata; permukaan luar berwarna
hijau kecokelatan, permukaan bagian dalam putih kekuningan; bau khas; rasa kelat, pahit, dan
sedikit asam.

H
lem

Simplisia kulit buah jeruk nipis

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah kristal kasium oksalat bentuk prisma, epidermis dengan stomata,
parenkim, parenkim dengan sel-sel kelenjar minyak, berkas pengangkut dengan penebalan
bentuk tangga dan serabut.

l. Kristal kalsium oksalat bentuk prisma 2. Epidermis dengan stomata

36
3. Parenkim 4. Parenkim dengan sel-sel kelenjar
minyak

5. Berkas pengangkut dengan penebalan 6. Serabut


bentuk tangga

Fragmen serbuk simplisia kulit buah jeruk nipis

Senyawa identitas Hesperidin


Struktur kimia:
OH

Hesperidin

Pola kromatograti
Lakukan Kromatografi lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatografi <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : til asetat P-asam formal P-air (100: 15: 17)
Fase diam : Silika gel 60 F254
Larutan uj i : 5% dalam metanol P, gunakan Larntan uji KLT seperti tertera
pad a Kromatografi <61 >
Larutan pembanding : Rutin 1% dalam etanol P
Volume penotolan : Totolkan 10 ilL Larutan uji dan 5 ilL Lamtan pembanding
Deteksi : Sitroborat LP, panaskan lempeng pada suhu 100 selama 5 - 10 menit
dan UV 366

37
Keterangan
S : Simplisia kulit buah jeruk nipis
P : Pembanding rutin
Rf pembanding nltin 0,68
Rf 1.0,09
R(2.0,IS
Rf3 .0,68
Rf 4.0,74
R(5.0,78
RJ 6.0 ,S6

S P

Susut pengeringan < II I> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81> Tidak lebih dari 7,0%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,4%

Sari )arut air <9 1> Tidak kurang dari 23,8%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 27,9%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar minyak atsiri Tidak kurang dari 0,42% v/b
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Minyak Atsin' < 71 >
Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,23% dihitung sebagai rutin.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur se rapan pada panjang ge10mbang sera pan
maksimum lebih kurang 425 nm.

38
EKSTRAK KENTAL KULIT BUAH JERUK NIPIS
Citri AurantifoJiae Pericarpii Extractum Spissum

Ekstrak kental kulit buah jeruk nipts adalah ekstrak yang dibuat dari kulit buah Citrus
aurantifolia (Christm. & Panz.) Swingle, suku Rutaceae, mengandllng minyak atsiri tidak
kurang dari 0,21 % dan flavonoid total tidak kurang dari 1,45% dihitllng sebagai rutin.

Pembuatan Ekstrak <311>


Rendemen Tidak kurang dari 14,09%

rdentitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental ; warna hijau kekuningan; bau khas; rasa asam.

Senyawa Identitas Hesperidin


Struktur kimia :

OH

OH
0 ___

HJC 0
HO OH

OH 0

Hesperidin

Kadar air <83> Tidak lebih dari 6,18%

Abu total <8 1> Tidak lebih dari 6,57%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,06%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar minyak atsiri tidak kurang dari 0,21 %
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Minyak Atsin < 7/ >
Kadar flavonoid total tidak kurang dari 1,45%
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Tolal <151 >Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 425 nm.

39
BUNGA KECOMBRANG
Nicolaiae Speciosae Flos

Bunga kecombrang adalah bunga Nicolaia speciosa (BI.) Horan, suku Zingiberaceae,
mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 0,44% v/b dan flavonoid total tidak kurang dari
0,06% dihitung sebagai rutin.

Identitas Simplisia
Pemerian 8erupa seluruh helaian daun-daun perhiasan bunga, bentuk memanjang, pangkal
bedekuk, tepi bergelombang; warna merah mud a, keunguan sampai merah muda pucat atau
kecokelatan; bau lemah, khas; rasa sedikit asam.

Simplisia segar bunga kecombrang

Mikroskopik
Fragmen pengenal berupa rambut penutup, kolenkim, epidermis dengan stomata, berkas
pengangkut dengan penebalan bentuk tangga dan epidermis perhiasan bunga.

I. Rambut penuLllp 2. Kolenkim

40
3. Epidermis dengan stomata 4. Berkas pengangkut dengan penebaJan
bentllk tangga

5. Epidermis perhiasan bllnga

Fragmen serbuk simplisia bunga kecombrang

Senyawa identitas Rutin


Struktur kimia:
OH

OH

HO


OH o
7
HO
HJr!C
00
HO
OH
Rutin

41
Pola kromatografi
Lakukan Kromatografi lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatografi <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Eti! asetat P-asam format P-air (l 00: 15 : (7)
Fase diam : Silika gel 60 F 254
Larutan uji : 5% dalam meta/wi P, gunakan Lamtan uji KLTseperti tertera
pada Kromatografi <61 >
Larutan pembanding : Rutin 1% dalam etanol P
Volume penotolan : Totolkan 10 flL Lamtan uji dan 5 Lamtan pembanding
Deteksi : Sitroborat LP, panaskan lempeng pada suhu 100 selama 5 - 10 menit
danUV J66

Keterangan
S :Simplisia bungakecombrang
P :Pembandingrutin
Rj pembandingrutin0,44
Rj 1.0,26
Rj 2.0,44
Rj 3.0,58
Rr4.0 ,69
Rr5 . 0,80
Rr6.0,91

S P

Susut pengeringan <Ill>Tidak lebihdari 10%

Abu total <81>Tidak lebihdari 10,6%

Abu tidak larut asam <82> Tidaklebihdari 4,7%

Sari larut air <91> Tidakkurangdari I1,6%

Sari larut etanol <92>Tidakkurangdari 16,5%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar minyak atsiri Tidakkurangdari 0,44% v/b
Lakukanpenetapankadarsesuaidengan Penetapan Kadar Minyak Ats iri < 7 J >

42
Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,06% dihitung sebagai rutin.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total <J5J >Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum Jeb ih kurang 425 nm.

EKSTRAK KENTAL BUNGA KECOMBRANG


Nicolaiae Speciosae Flos Extractum Spissum

Ekstrak kental bunga kecombrang adalah ekstrak yang dibuat dari bunga Nicolaia speciosa
(Bl.) Horan , suku Zingiberaceae, mengandung minyak atsiri tidak kurang dari 0,20% dan
flavonoid total tidak kurang dari 0,58% dihitung sebagai n1tin.

Pembuatan Ekstrak <311 >


Rendemen Tidak kurang dari 9,86%

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental ; warna cokelat kehitaman; bau khas; rasa asam.

Sen yaw a Identitas Rutin


Struktur kimia :
OH

OH

HO

o

T
OH

HO
0 0

HO
OH

Rutin

Kadar air <83 > Tidak lebih dari 10,9%

Abu total <81 > Tidak Jebih dari 7,5%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,1%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar minyak atsiri Tidak kurang dari 0,20% v/b
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Minyak Atsiri < 7J>

43
Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,58% dihitung sebagai rutin .
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 425 nm .

DAUN KEMUNING
Murrayae Paniculatae Folium

Daun kemuning adalah daun Murraya paniculata (L.) Jack, suku Rutaceae, mengandung
murangatin tidak kurang dari 0,20%.

Jdentitas Simplisia
Pemerian Berupa helaian daun berbentuk bulat telur sampai jorong, ujung daun meruncing,
pangkal daun runcing, tepi daun rata atau agak beringgit, permukaan daun licin dan
mengkilap ; warna hijau kecokelatan; bau khas; rasa pedas, pahit, kelat.

'.

Simplisia daun kemuning

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah epidermis atas, mesofil dengan sel minyak dan tetes minyak,
epidermis dengan sel-sel palisade, kri stal kalsium oksalat bentuk prisma, berkas pengangkut
dengan penebalan tangga dan kristal kalsium oksalat bentuk roset, dan epidermis bawah
dengan stomata tipe anomositik.

44
Mesofi I dengan sel minyak dan tetes minyak
(lOx I 0)

3. Epidermis dengan sel-sel palisade

5. Berkas pengangkut dengan penebalan tangga 6. Epidermis bawah dengan stomata tipe
dan kristal kalsium oksalat bentuk roset anomositik

Fragmen serbuk simplisia daun kemuning

45
Senyawa Identitas Murangatin
Struktur kimia :

HO'

Murangatin

Pol a kromatografi
Lakukan Kromatograji lapis tipis seperti yang tertera pad a Kromatograji <61> dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak Tolt/en P-etil asetat P (70:30)
Fase diam Silika gel 60 F254
Larutan uji 10% dalam etano! P, gunakan Larutan uji KLT seperti yang tertera
pada Kromatograji <61>
Larutan pembanding Murangatin 0,2 % dalam etano! P
Volume penotolan Totolkan 5 ilL Lanttan uji dan 2 ilL Lanttan pembanding
Deteksi UV366

46
Keterangan :
S : Simplisia daun kemuning
P : Pembanding murangatin
Rr pembanding murangatin 0,65
Rj 1.0,05
Rj 2.0,10
Rj 3.0,15
Rr 4. 0,25
Rj 5.0,35
Rj 6.0,55
Rj 7.0,65
Rr 8.0,70
Rj 9.0,80
Rr 10.0,85
Rj 11. 0,90

S P

Susut pengeringan < 1 I I> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81> Tidak lebih dari 10,5%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,4%

Sari larut air <91> Tidak kurang dari 5,3%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 2,0%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar murangatin Tidak kurang dari 0,20%.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan KLT Densitometri seperti yang tertera pad a
Kromatografi <61 >
Fase gerak Heksan P -eti! asetat P (7:3)
Larulan uji Timbang saksama lebih kurang 500 mg simplisia, larutkan dalam 25 mL etano! P
di dalam tabung reaksi, kocok dengan bantuan "vortex" selama 10 menit. Saring ke dalam
labu tentukur 25-mL, tambahkan etano! P melalui kertas saring sampai tanda.
Lamtan pembanding 0,1% dalam etano! P, encerkan hingga diperoleh kadar dengan serapan
mendekati serapan Lamtan uji.
Pengukuran Totolkan secara terpisah masing-masing 10 J.lL Landan uji dan Lamtan
pembanding pada lempeng silika gel 60 F254 , eluasi dengan fase gerak, ukur serapan pada

47
panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang 290 nm. Hitung persentase murangatin
dalam zat uji dengan rumus :

01 _
10 -
2S X
Cp X lOO
Au - x -
Ap Wu

Au = Serapan Lanttan uji


Ap = Serapan Lanttan pembanding
Cp = Kadar murangatin dalam mg per mL Lanttan pembanding
Wu = Berat zat uj i dalam mg

EKSTRAK KENTAL DAUN KEMUNING


Murrayae Paniculatae Folii Extractum Spissum

Ekstrak kental daun kemuning adalah ekstrak yang dibuat dari daun Murraya paniculata (L.)
Jack, suku Rutaceae, mengandung murangatin tidak kurang dari l, lO%.

Pembuatan Ekstrak <31 J>


Rendemen Tidak kurang dari 19,1%

ldentitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; cokelat tua; bau khas; rasa pahit.

Senyawa ldentitas Murangatin


Struktur kimia :


H3CO 0 0

, ,OH
,
HO'

Murangatin

Kadar air <83> Tidak lebih dari 19%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 3,1%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,9%

48
Kandungan Kimia Ekstrak
Kadar murangatin Tidak kurang dari 1,10%
Lakukan penetapan kadar dengan cara KLT Densitomelri seperti yang tertera pada
KromalograJi <61 >
Fase gerak Heksan P -elil asetat P (7:3)
Lamtan tU'i Timbang saksama lebih kurang 50 mg ekstrak, larutkan dalam 25 mL etanol P di
dalam tabung reaksi. Saring ke dalam labu tentukur 25-mL, tambahkan elanol P melalui
keltas saring sam pai tanda.
Larutan pembanding Murangatin 0,1% dalam etano/ P, encerkan hingga diperoleh kadar
dengan serapan mendekati serapan Lanltan uji.
Pengukuran Totolkan secara terpisah masing-masing 10 Lanttan tU'i dan Lamtan
pembanding pada lempeng silika gel 60 F254 , eluasi dengan fase gerak, ukur serapan pada
panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang 290 nm . Hitung persentase murangatin
dalam zat uji dengan rumus :

0/ _
1 0-
25 X C xAu- x100
-
p
Ap Wu

Au = Serapan Lamtan uji


Ap = Sera pan Lanttan pembanding
Cp = Kadar murangatin dalam mg per mL Lanttan pembanding
Wu = Berat zat uji dalam mg

BUNGA KRISAN
Chrysanthemi Morifolii Flos

Bunga krisan adalah bunga Chrysanthemum morifolium Ramatuelle, suku Asteraceae,


mengandung flavonoid total tidak kurang dari 0,33% dihitung sebagai mirisetin.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa seluruh bagian bunga yang terdiri atas bunga tepi dan bunga tengah
dengan helaian mahkota bunga tepi menggulung atau melipat, bentuk mahkota bunga tepi
jorong sampai lanset, bunga tengah mengumpul ; warna tepi mahkota bunga putih kekuningan,
mahkota bunga berwarna cokelat kehitaman ; tidak berbau ; tidak berasa .

49
Icm

Simplisia bunga krisan

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah serbuk sari, rambut pelindung (papus), epidermis braktea dengan
trikoma, epidermis bawah braktea dengan stomata, epidermis atas mahkota bunga, epidermis
bawah mahkota bunga, berkas pengangkut dengan penebalan bentuk spiral, epidermis atas
mahkota bunga dengan kelenjar komposit, serta berkas pengangkut pada dasar bunga.

I. Serbuk sa ri 2. Rambut pelindung (papus)

3. Epidermis braktea dengan 4. Epidermis bawah braktea


trikoma dengan stomata

50
. , ' . : ,w) .
. ,,-'L, "
. I .'.
... ..... . ..... . "l t. .
;",'.0.-
, -

.,-'
,..-:r.-. .",,.
:
,,'. "
,I . .
wA"
'_II
.'
. '1:..,.'
.J I. , --.

5, Epidermi s atas mahkota bunga 6, Epidermis bawah mahkota bllnga

7, Berkas pengangkut dengan penebalan 8, Epidermi s alas mahkota bunga dengan


benluk spiral kelenjar komposit

9, Berkas pengangkut pad a dasar bunga

Fragmeo serbuk simplisia bunga krisan

Senyawa identitas Mirisetio


Struktur kimia :

OH

OH

OH

OH

Mirisetin

51
Pola Kromatografi
Lakukan Kromalografi lapis lipis seperti yang tertera pada Kromalografi <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Toluen P- aselon P-asam aselal P (19 : II :2)
Fase diam : SiJika gel 60 F254
Larutan uji : 5% dalam elanol p, gunakan Larulan uji KLT seperti tertera
pada Kromatografi <61 >
Larutan pembanding : Mirisetin 0, I% dalam etanol P
Vol ume penotolan : Totolkan 10 ilL Lant/an uji dan 5 ilL Larutan pembanding
Deteksi : Sitroborat LP, panaskan lempeng pada suhu 100 selama 5 - 10 menit
dan UV J66

S : Simplisia bunga krisan


P : Pembanding mirisetin
C 12 Rj pembanding mirisetin 0,57
Rj 1.0,20
Rj 2. 0,24
11
Rj 3. 0,31

, !
10 Rf 4.0 ,36
Rr5.0,41
Rr 6. O,46
Rj 7.0,50
Rj 8. 0,53
Rj 9. 0,57

If
Rj 10. 0,67
Rj 11. 0,77
Rj 12.0,93

S P

Susut pengeringan < Ill> Tidak Jebih dari 10%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 9,8%

Abu tidak larut asam <82> Tidak Jebih dari 0,2%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 4,2%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 12,7%

52
Kandungan Kimia Simplisia
Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,33% dihitung sebagai mirisetin
Lakukan penetapan kadar seperti yang tertera pad a Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 >
Metode 2. Gunakan mirisetin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang
sera pan maksimum lebih kurang 425 nm.

EKSTRAK KENTAL BUNGA KRISAN


Chrysanthemi Morifolii Flos Extractum Spissum

Ekstrak kental bunga krisan ad alah ekstrak yang dibuat dari bunga Chrysanthemum
morifolium Ramatuelle, suku Asteraceae, mengandung flavonoid total tidak kurang dari
1,38% dihitung sebagai mirisetin.

Pembuatan Ekstrak <311 >


Rendemen Tidak kurang dari 22 ,71 %

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; warna kuning kecokelatan; bau khas; tidak berasa.

Senyawa Identitas Mirisetin


Struktur kimia :
OH

OH


OH

OH

OH 0

Mirisetin

Kadar air <83> Tidak lebih dari 11 , 1%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 9,4%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,03%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 1,38% dihitung sebagai mirisetin
Lakukan penetapan kadar seperti yang tertera pada Penetapan Kadar Flavonoid Total <151 >
Metode 2. Gunakan mirisetin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang
sera pan maksimum lebih kurang 425 nm.

53
HERBA PATlKAN KEBO
Euphorbiae Hirtae Herba

I-Ierba patikan kebo adalah keseluruhan bagian tumbuhan di atas tanah Euphorbia hirta L., suku
Euphorbiaceae, mengandung flavonoid total tidak kmang dari 0,5% sebagai kuersitrin.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa batang, daun dan bunga, bentuk batang bulat berkeriput, berambut,
berwarna hijau sampai hijau tua, helaian daun bentuk bulat telur sampai lonjong, ujung daun
runcing, tepi daun bergerigi, pangkal daun runcing, kedua permukaan kasar, berambut;
berwarna hijau sampai hUau tua, bunga merupakan bunga majemuk yang berada di ketiak
daun, berwarna kuning kecokelatan ; bau lemah; rasa agak pahit.

H
l em

Simplisia herba patikan kebo

Mikroskopik
Fragmen pen genal adalah fragmen bunga dengan perhiasan bunga, rambut penutup di bagian daun
dan batang, fragmen saluran getah, mesofil dengan berkas pengangkut dan saluran getah, epidermis
bawah dengan stomata, epidermis atas, berkas pengangkut dengan penebalan bentuk spiral, parenkim
batang, fragmen buah dan fragmen biji.

54
I. Fragmen bunga dengan perhiasan bunga 2. Rambut penutup

4. Mesofil dengan berkas pengangkut dan saluran


getah

5. Epidermis bawah dengan stomata 6. Epidermis atas

55
7. Berkas pengangkut dengan penebalan bentuk 8. Parenkim batang
spiral

9. Fragmen buah 10. Fragmen biji


(IOxIO)

Fragmen serbuk herba patikan kebo

Senyawa Identitas Kuersitrin


Struktur kimia :
OH

OH

"oy:; OH 0
I



CH,

Kuersitrin

56
Pola kromatografi
Lakukan Kromatograji lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatograji <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Asam asetat P-air (15 : 85)
Fase diam : Selulosa
Larutan uji : 10% dalam etanol p, gunakan Larutan uji KLT seperti tertera pada
Kromatograji <61 >
Larutan pembanding : Kuersitrin 0,1% dalam etanol P
Volume penotolan Totolkan 20 J.lL Landan uji dan 5 J.lL Landan pembanding
Deteksi Sitroborat LP, panaskan lempeng pad a suhu 100 selama 5-10 menit
dan UV 366

Keterangan:
S : Simplisia herba patikan kebo
P : Pembanding kuersitrin
Rfpembanding kuersitrin 0,47
Rj l.O,OO
Rj 2.0,05
Rj 3.0,37
Rr 4.0,47
Rr5. 0,75
Rr 6. O,85

S P

Susut pengeringan < 11 I> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81> Tidak lebih dari 10,0%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 2,0%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 10,0%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 10,8%

57
Kandungan Kimia Simplisia
Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,5% dihitung sebagai kuersitrin
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Tota! < lSI > Metode 2.
Gunakan kuersitrin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang
serapan maksimum lebih kurang 425 nm .

EKSTRAK KENTAL HERBA PATlKAN KEBO


Euphorbiae Hirtae Herbae Extractum Spissum

Ekstrak kental herba patikan kebo adalah ekstrak yang dibuat dari herba Euphorbia hirta L.
suku Euphorbiaceae, mengandung flavonoid total tidak kurang dari 3,5% dihitung sebagai
kuersitrin.

Pembuatan Ekstrak
Rendemen Tidak kurang dari 18,2%
Gunakan etanol P sebagai pelarut

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak ken tal; warna cokelat tua; ball aromatis; rasa khas.

Senyawa Identjtas Kuersitrin


Struktur kimia :
OH

OH

HO

OH o


CH3

Kuersitrin

Kadar air <83 > Tidak lebih dari 14,6%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 6,8%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,2%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 3,5% dihitung sebagai kuersitrin
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan Kuersitrin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang
serapan maksimum lebih kurang 425 nm.

58
BUAH PISANG BATU
Musae Balbisianae Fructus

Buah pisang batu adalah daging buah tua yang belum masak Musa balbis iana Colla, suku
Musaceae mengandung tanin tidak kurang dari 4,38%.

Identitas Simplisia
Pemerian 8erupa irisan buah berbentuk pipih, tepi tidak rata, sebagian terdapat patahan ;
bagian tengah tampak ruang-ruang ovarium yang berjumlah 6 dengan biji berwarna cokelat
kehitaman, kedua permukaan kasar berwama putih kecokelatan ; bau khas ; tidak berasa.

H
lem

Simplisia buah pisang batu

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah parenkim, fragmen biji, fragmen biji dengan berkas pengangkut
dengan penebalan tipe spiral, jaringan penguat dan parenkim dengan bentuk set memanjang.

59
I. Parenkim 2. Fragmen biji

3. Fragmen biji dengan berkas pengangkut 4. Jaringan penguat


dengan penebalan tipe spiral

5. Parenkim dengan bentuk seI memanjang

Fragmen serbuk buah pisang batu

60
Senyawa ldentitas (+) Katekin
Struktur kimia :

HO

OH

(+) Katekin

Pota kromatografi
Lakukan Kromafograji lapis lipis sesuai yang tertera pada Kromafograji <6 I> dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Tolu en P-C/selon P-asam aselal P (100: 100 : I)
Fase diam : Silika gel 60 F254
Larutan uji : 5% dalam elanol P, gunakan Larulan uji KLT seperti yang tertera
pada Kromatograji <61>
Larutan pembanding : Katekin 0, I% dalam etanol P
Volume penotolan : Totolkan 10 flL Larutan uji dan 0,5 flL Larutan pembanding
Deteksi : Besi(lIl) klOl'ida LP

Keterangan:
S: Simplisia buah pisang batu
P: Pembanding katekin
Rf pembanding katekin 0,62
R, l. 0,81
Rx2. O,95
Rx3. 1,IO
RA.I,18
Rx5. 1,32

S P
Susut pengeringan < II I> Tidak lebih dari 9%

61
Abu total <81 > Tidak lebih dari 3,9%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,09%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 10, 1%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 7,2%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar tanin Tidak kurang dari 4,38%.
Timbang saksama lebih kurang 2 g serbuk, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer, tambahkan
50 mL air, panaskan di atas tangas air selama 30 menit sambil diaduk. Diamkan selama
beberapa menit, saring melalui segumpal kapas ke dalam labu tentukur 250-mL, bilas labu
dengan air mendidih, saring ke dalam labu tentukur yang sarna. Ulangi pembilasan beberapa
kali hingga larutan tidak menunjukkan reaksi tanin dengan besi(Il) amonium sulfat.
Dinginkan larutan, tambahkan air sampai tanda. Pipet 25 mL larutan ke dalam labu
Erlenmeyer 1000 mL tambahkan 750 mL air dan 25 mL Asam indigo sulfonat LP, titrasi
dengan Kalium permanganat 0,1 N hingga larutan berwarna kuning emas. Lakukan penetapan
blangko.
Tiap mL Kalium permanganat 0,1 N setara dengan 0,004157 g tanin.

EKSTRAK KENTAL BUAH PISANG BATU


Musae Balbisianae Fructus Extractum Spissum

Ekstrak kental buah pisang batu adalah ekstrak yang dibuat dari daging buah pisang batu
Musa balbisiana Colla., suku Musaceae yang sudah tua tetapi belum masak, mengandung
tanin tidak kurang dari 15,14%.

Pembuatan Ekstrak <311 >


Rendemen Tidak kurang dari 12,45%

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; wama cokelat kemerahan; bau khas ; rasa agak kelat.

Senyawa Identitas (+) Katekin


Struktur kimia :

HO

OH
(+) Katekin

62
Kadar air <83> Tidak lebih dari 10,13%

Abu total <81> Tidak lebih dari 2,97%

Abu tidak tarut asam <82> Tidak lebih dari 0,04%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar tanin Tidak kurang dari 15,14%
Timbang saksama lebih kurang 0,65 g ekstrak, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer,
tambahkan 50 mL air, panaskan di atas tangas air selama 30 menit sambi] diaduk. Diamkan
selama beberapa men it, saring melalui segumpal kapas ke dalam labu tentukur 250-mL, bilas
labu dengan air mendidih, saring ke dalam labu tentukur yang sarna. Ulangi pembilasan
beberapa kali hingga lamtan tidak menunjukkan reaksi tanin dengan besi(II) amonium sulfat.
Dinginkan lamtan, tambahkan air sampai tanda. Pipet 25 mL lamtan ke dalam labu
Erlenmeyer 1000 mL tambahkan 750 mL air dan 25 mL Asam indigo suljonat LP, titrasi
dengan Kalium permanganat 0,1 N hingga larutan berwarna kuning emas. Lakukan penetapan
blangko.
Tiap mL Kalium permanganat 0,1 N setaro dengan 0,004157 g tanin.

BUNGA ROSELA
Hibisci Sabdariffae Flos

Bunga rosela adalah seluruh perhiasan bunga Hibiscus sabdarifJa L., suku Malvaceae,
mengandung antosianin total tidak kurang dari 0,02% dihitung sebagai sianidin30-
glukosida.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupaselumh bagian perhiasan bungaterdiri atas helaian daundaun kelopak dan
mahkota bunga, bentuk tidak beraturan; warna merah keunguansampai kehitaman; bau khas;
rasaasam.

63
rl
lem

Simplisia kelopak bunga rosela

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah kristal kalsium oksalat bentuk roset, serabut sklerenkim, epidermis
kelopak bllnga dengan stomata, serabllt, berkas pengangkllt dengan penebalan spiral, serbllk
sari dan epidermis mahkota bunga.

I. Kristal kalsium oksalat 2. Serabut sklerenkim


bentuk roset

3. Epidermis kelopak 4. Serabut


bunga dengan stomata

64
5. Berkas pengangkut 6. Serbuk sari
penebalan spiral

7. Epidermis mahkota bunga

Fragmen serbuk simplisia bunga rosela

Senyawa identitas Sianidin 3-0-glukosida


Struktur kimia :
OH

OH

HO O

OH


CH20H

Sianidin 3-0-glukosida

Pola kromatografi
Lakukan Kromatogra/i lapis lipis seperti yang tertera pada Kromalograji <61> dengao
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Asam asetal P 15%
Fase diam : Selulosa mikrokristal
Larutan uji : 5% dalam elanol P, gunakan Lam/an uji KLT seperti tertera
pada Kromalograjl <61 >
Larutao pembanding : Sianidin-3-0-glukosida 1% dalam elanoi P
Volume penotolan : Totolkan 10 flL Lantlan uji dan 1 J..IL Lant/an pembanding
Deteksi : UV J 66

65
Keterangan
S: Simplisia bunga rosela
P: Pembanding sianidin-3-0-glukosida
RJ pembanding sianidin-3-0-glukosida 0,59
Rx 1. 0,15
Rx 2.0,32
Rx 3.0,78
Rx 4.0,95
Rx 5. 1, 17

S P

Susut pengeringan < Ill > Tidak lebih dari 10%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 7,9%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 1,9%

Sari tarut air <91 > Tidak kurang dari 15 ,5%

Sari tarut etanol <92> Tidak kurang dari 16,3%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar antosianin total Tidak kurang dari 0,02% dihitung sebagai sianidin-3-0-glukosida.
Timbang saksama lebih kurang 3 g simplisia yang telah dihaluskan , masukkan ke dalam
Erlenmeyer bersumbat kaca, tambahkan 24 mL campuran etanol P-asam klorida 1 N (85: 15),
kocok dengan baik, atur pH hingga J dengan penambahan asam klorida 4 N, kocok selama 15
menit. Saring melalui penyaring membran dengan porositas 0,45 /lm. Masukkan filtrat ke
dalam labu tentukur 50-mL, tambahkan campuran etanol P-asam klorida 1 N (85: 15) sampai
tanda. Ukur sera pan larutan pada panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang 535
nm, menggunakan campuran etanol P-asam klorida 1 N (85 : J 5) sebagai blangko. Hitung
antosianin total dengan rumus :

66
c= ( -A) x ( -V-) x --xIO
EM 6
[; 1000 w

C Konsentrasi total antosianin sebagai sianidin-3-0-glukosida (mg/kg)


A Serapan larutan yang telah dikoreksi dengan blangko
Serapan jenis sianidin-3-0-glukosida (25965 cm-' M-')
V Volume total ekstrak (mL)
8M Sobot molekul sianidin-3-0-g1ukosida (449)
w Sobot sampel (g)

EKSTRAK KENTAL BUNGA ROSELA


Hibisci Sabdariffae Flos Extractum Spissum

Ekstrak kental bunga rosela adalah ekstrak yang dibuat dari bunga Hibiscus sabdarifJa L,
suku Malvaceae, mengandung antosianin tidak kurang dari 0,1% dihitung sebagai sianidin3-
Oglukosida.

Pembuatan Ekstrak <311>


Rendemen Tidakkurangdari 19,70%

Jdentitas Ekstrak
Pemerian Ekstrakkental; wamamerahhati; bau khas;rasaasam .

Senyawa Identitas Sianidin30glukosida


Struktur kimia :
OH

OH

HO o

OH

CH20H

Sianidin30glukosida

Kadar air <83 > Tidaklebihdari 10%

Abu total <81> Tidaklebihdari 2,6%

Abu tidak larut asam <82>Tidaklebih dari 0,1%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar antosianin Tidak kurangdari 0,1%dihitungsebagaisianidin30glukosida

67
Timbang saksama lebih kurang 0,3 g ekstrak yang telah dihaillskan, masukkan ke dalam
Erlenmeyer bersllmbat kaca, tambahkan 24 mL campuran etanal P-asam klarida 1 N (85: 15),
kocok dengan baik, atur pH hi ngga I dengan penambahan asam klarida 4 N, kocok selama 15
menit. Saring melalui penyaring membran dengan porositas 0,45 pm. Masukkan filtrat ke
dalam labu tentllkur 50-mL, tambahkan campllran etana! P-asam klorida 1 N (85 : \5) sampai
tanda. Ukur serapan larutan pada panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang 535
nm, menggunakan campuran etanal P-asam klarida 1 N (85 : 15) sebagai blangko. Hitung kadar
antosianin total dengan rumus :

C Konsentrasi total antosianin sebagai sianidin-3-0-glukosida (mg/kg)


A Serapan larutan yang telah dikoreksi dengan blangko
Serapan jenis sianidin-3-0-glukosida (25965 em-I M- 1)
V Volume total ekstrak (mL)
BM Bobot molekul sianidin-3-0-glukosida (449)
w Bobot sampel (g)

DAUNSENGGUGU
Clerodendri Serrati Folium

Daun senggugu adalah daun Cleradendntm serratum Spreng., suku Verbenaceae,


mengandung flavonoid total tidak kurang dari 0,3% dihitllng sebagai rutin.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa helaian daun berbentuk bulat telur memanjang, mengkerut, pertulangan
daun menyirip dengan ibu tulang daun menonjol di permukaan bawah, kedua permukaan
kasar, pangkal helaian daun runcing, tepi bergerigi tajam, ujung meruncing; warna helaian
daun cokelat tua; tidak berbau; tidak berasa .

Simplisia daun senggugu

68
Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah sisik kelenjar, epidennis atas, epidennis bawah dengan stomata,
mesofil daun dengan epidermis atas dan palisade.

J. Sisik kelenjar 2. Epidermis atas

3. Epidermis bawah dengan stomata 4. Mesofil daun dengan epidermis atas dan
palisade

Fragmen serbuk simplisia daun senggugu

Senyawa Identitas Asam oleanolat


Struktur kimia :

H
CH J

Asam oleanolat

69
Pola Kromatografi
Lakukan Kromatograji lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatograji <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak Asam asetat P-air (15 : 85)
Fase diam : Se lulosa
Lamtan uj i : 10% dalam etanol p , gunakan Laru/an uji KLT seperti tertera pad a
Kromatograji <61 >
Lamtan pembanding Rutin 0,1 % dalam etanol P
Volume penotolan Totolkan 20 ).lL Larutan uji dan 5 ).lL Larutan p embanding
Deteksi Silroborat LP, panask an lempeng pada suhu 100 selama 5-10 menit
dan UV 366

S : Simplisia daun senggugu


P : Pembanding mtin
Rr Pembanding rutin 0,5
Rx J.O,1
Rx 2.0,2
R, 3. 0,6
Rx 4.0,8
Rx 5. 1,2
Rx 6. 1,6

S P

Susut pengeringan < I 11 > Tidak lebih dari 10%

Abu total < 81 > Tidak lebih dari 9,6%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,8%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 20,1%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 12,5%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,3% dihitung sebagai rutin .
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 425 nm.

70
EKSTRAK KENTAL DAUN SENGGUGU
Clerodendronis Serrati Folii Extractum Spissum

Ekstrak kental daun senggugu adalah ekstrak yang dibuat dari daun Clerodendrum serraturn
(L.) Moon, suku Verbenaceae, mengandung flavonoid total tidak kurang dari 1,2% dihitung
sebagai mtin.

Pembuatan Ekstrak <311>


Rendemen Tidak kurang dari 20,6%
Gunakan etanol P sebagai pelamt

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; warna hijau kecokelatan; bau aromatis; rasa khas.

Senyawa Identitas Asam oleanolat


Struktur kimia :

Asam oleanolat

Kadar air <83 > T idak le bih dari 10%

Abu total < 81 > T idak lebih dari 10,4%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 1,5%

K andungan Kimia Ekstrak


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 1,2% dihitung sebagai mtin.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < lSI > Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pad a panjang gelombang serapan
maksimum lebih kurang 425 nm.

71
DAUN SENGITAN
Sambuci Javanicae Folium

Daun sengi tan adalah daun Sambucus javanica Reinw. ex 81., suku Caprifoliaceae,
mengandung flavonoid total tidak kurang dari 1,35% dihitung sebagai rutin.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa helaian daun berbentuk bulat telur, bulat telur memanjang sampai jorong,
pelTI1ukaan helaian daun kasar dan kusut, pangkal helaian daun runcing, tepi bergerigi, ujung
meruncing; warna helaian daun h0au kuning sampai kecokelatan; bau lemah; tidak berasa.

H
[em

Simplisia daun sengitan

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah epidermis atas dengan stomata, epidermis bawah dengan stomata,
kristal kalsium oksalat dan serabut sklerenkim.

72
I. Epiderm is atas dengan stomata 2. Epidermis bawah dengan stomata

3. Kristal kalsium oksalat 4. Serabut sklerenkim

Fragmen serbuk daun sengi tan

Senyawa Identitas Rutin


Struktur kimia :
OH

OH

HO


OH o
cr

HO
HJ:riC
00
HO
OH
Rutin

73
Pola kromatografi
Lakukan Kromatografi lapis tipis sepelii yang tertera pad a KromatograJt <61> dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Eti! asetat P-asamformat P-air (180: 15: I7)
Fase diam : Silika gel 60 F254
Larutan uji : 5% dalam etanol P, gunakan Lanttan uji KLT seperti yang tertera
pad a Kromatograf/ <61 >
Larutan pembanding : Rutin 1% dalam etanol P
Volume penotolan : Totolkan masing-masing 10 flL Lan/tan uji dan 5 flL Lanttan
pembanding
Deteksi : Sitroborat LP, panaskan lempeng pada suhu 100 selama 5 - 10 menit
dan UV 366

Keterangan:
S: Simplisia Sengitan
P: Pembanding Rutin
Rj Pembanding Rutin 0,44
Rj 1.0,08
Rj2.0,43
Rj 3.0,57
Rj 4.0,91

S P

Susut pengeringan < J 1 J> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 12,3%

Abu tidak larut asam <82> Tidak Jebih dari 0,8%

74
Sari larut air <91> Tidak kurang dari 14,5%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 16,2%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar Flavonoid Total Tidak kurang dari 1,35% dihitung sebagai rutin.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Tolal < 151> Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang ge\ombang serapan maksimum
lebih kurang 425 nm.

EKSTRAK KENTAL DAUN SENGITAN


Sambuci Javanicae Folii Extractum Spissum

Ekstrak kental daun sengitan adalah ekslTak yang dibuat dari daun Sambucus ja van ica Reinw.
ex BI. , suku Caprifoliaceae, mengandung flavonoid total tidak kurang dari 13,68% dihitung
sebagai rutin.

Pembuatan Ekstrak <31 I>


Rendemen Tidak kurang dari 9,45%

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; wama hijau kecokelatan; bau lemah; tidak berasa.

Senyawa Identitas Rutin


Struktur kimia :

OH

OH

HO

o

OH
cr

HO
00

HO
OH

Rutin

Kadar air <83> Tidak lebih dari 17,32%

75
Abu total <81 > Tidak lebih dari 8,52%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,04%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 13 ,68% dihitung sebagai rutin .
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151> Metode 2.
Gunakan rutin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang serapan maksimum
lebih kurang 425 nm .

BUAH SEPRANTU
Sindorae Sumatranae Fructus

Buah seprantu adalah buah Sindora sumatrana Miq., suku Fabaceae mengandung stigmasterol
tidak kurang dari 0,09%.

Jdentitas Simplisia
Pemerian Berupa buah berbentuk pipih, bulat, kedua permukaan kasar, terdapat tonjolan-
tonjolan belUpa duriduri yang pendek; warna hitam kecokelatan; tidak berbau ; rasa agak
kelat.

Icm

Simplisiabuahseprantu

76
Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah duri (spina), sel-sel epidermis perikarpium, sklereida, unsur xilem
dengan noktah, serabut sklerenkim, parenkim perikarpium dengan sel-sel palisade dan
endosperma dengan tetes minyak.

I. Duri (spina) 2. Sel-sei epidermis perikarpillm

3. Sklereida 4. Unsur xilelll dengan noklah

6. Parenkilll perikarpillm dengan sel-sel


palisade

7. Endosperllla dengan tetes minyak

Fragmen serbuk buah seprantu

77
Senyawa Identitas Stigmasterol
Struktur kimia :

H H

HO

Stigmasterol

Pola kromatografi
Lakukan Kromatografl lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatografl <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Benzen P- etanoi P (9:3)
Fase diam : Silika gel 60 F 254
Larutan uji : 5% dalam etanol P, gunakan Lamtan uji KLT seperti yang tertera
pada Kromatografl <61 >
Larutan pembanding : Stigmasterol 0,6% da1am etanol P
Volume penotolan : Totolkan masing-masing 10 f.lL Larutan uji dan 5 f.lL Larutan
pembanding
Deteksi : Lieberman Burchard LP

Keterangan:
S : Simplisia buah seprantu
P: Pembanding stigmasterol
R( pembanding stigmasterol 0,66
Rf 1. 0,66
Rf 2.0,75
Rf 3. 0,82
Rf 4.0,91

S P

78
Susut pengeringan < III> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81> Tidak lebih dari 2,9%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,34%

Sari larut air <91> Tidak kurang dari 9,9%

Sari larut etanol <92> Tidak kurang dari 13,5%

Kandungan Kimia SimpJisia


Kadar stigmasterol tidak kurang dari 0,09%.
Lakukan penetapan kadar dengan cara KLT Dens itometri seperti yang tertera pada
Kromatografi <61>
Fase gerak Di!dormetan P
Lanttan uji Timbang seksama lebih kurang I g simplisia, larutkan dalam 25 mL etano! P di
dalam tabung reaksi, kocok dengan bantuan "vortex" selama 10 menit. Saring ke dalam labu
tentukur 25-mL, tambahkan etanol P meJalui kertas saring sampai tanda.
Larufan pembanding Stigmasterol 0, I % dalam etanol P, encerkan hingga diperoleh kadar
dengan serapan mendekati serapan Lanttan uji.
Pengukuran Totolkan secara terpisah masing-masing 1 flL Lanttan uji dan Lanttan
pembanding pada lempeng silika gel 60 F154, eluasi dengan fase gerak, ukur serapan pada
panjang gelombang serapan maksimum lebihkurang 254 nm. Hitung persentase stigmasterol
dalam zat uj i dengan rumus :

01 _
10-
25 X Cp XA('- 100
x -
Ap Wu

Au = Serapan Lanttan uji


Ap = Serapan Lanttan pembanding
Cp = Kadar stigmasterol dalam mg per mL Larutan pernbanding
Wu = Berat zat uj i dalam mg

EKSTRAK KENTAL BUAH SEPRANTU


Sindorae Sumatranae Fructus Extractum Spissum

Ekstrak kental buah seprantu adalah ekstrak yang dibuat dari buah Sindora sumatrana Mig.,
suku Fabaceae, mengandung stigmasterol tidak kurang dari 0,45%.

Pembuatan Ekstrak <311>


Rendemen Tidak kurang dari 5,42%

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak keotal; warna cokelat keunguan; tidak berbau; rasa asam.

79
Senyawa Identitas Stigmasterol
Struktur kimia :
CH 3

H3C CH 3

CH 3 H
CH 3

CH 3 H

H H

HO

Stigmasterol

Kadar air <83 > Tidak lebih dari 8,44%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 0,81 %

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,07%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar Stigmasterol tidak kurang dari 0,45%
Lakukan penetapan kadar dengan cara KLT Densitometri seperti yang tertera pada
Kromatografi <61 >
Fase gerak Diklormetan P
Larutan uji Timbang seksama lebih kurang 100 mg ekstrak, larutkan dalam 25 mL etano! P di
dalam tabung reaksi . Saring ke dalam labu tentukur 25-mL, tambahkan etano! P melalui
kertas saring sampai tanda.
Larutan pembanding Stigmasterol 0,1% dalam etano! P, encerkan hingga diperoleh kadar
dengan serapan mendekati serapan Larutan uji.
Pengukuran Totolkan secara terpisah masing-masing I flL Larutan uji dan Larutan
pembanding pada lempeng silika gel 60 F 254, eluasi dengan fase gerak, ukur serapan pada
panjang gelombang serapan maksimum lebih kurang 254 nm. Hitung persentase stigmasterol
dalam zat uji dengan rumus :

0/ _
/ 0-
25 X
C P xAu- x100
-
Ap Wu

Au = Serapan Lanttan uji


Ap = Serapan Lanttan pembanding
Cp = Kadar stigmasterol dalam mg per mL Larutan pembanding
Wu = Berat zat uji dalam mg

80
HERBA SIDAGURI
Sidae Rhombifoliae Herbae

Herba sidaguri adalah herba Sida rhombi/alia L., suku Malvaceae, mengandung flavonoid
total tidak kurang dari 0,08% dihitung sebagai kuersetin.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa seluruh bagian tumbuhan di atas tanah terdiri atas batang, daun dan bunga,
batang berbentuk silindris, keras, berkayu , bunga tunggal terletak di ketiak daun dan ujung
batang, helaian daun berbentu k belah ketupat, menggulung ke dalam, peliulangan daun
menyirip, pada permukaan atas tulang daun tampak beralur, sedangkan pada permukaan
bawah anak tulang daun tampak menonjol , pangkal helaian daun runcing, tepi bergerigi tidak
tajam, ujung membulat atau tumpuJ ; batang berwama cokelat, daun berwarna hijau ; tidak
berbau ; tidak berasa.

Icm

Simplisia herba sidaguri

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah berkas pengangkut penebalan tangga, epidermis atas dengan rambut
sisik, parenkim dengan kristal kalsium oksalat, serabut, serbuk sari, trakea (unsur xilem) dan
ram but penutup bentuk bintang.

81
I. Berkas pengangkut penebalan 2. Epidermis alas dengan rambut sisik
tangga

3. Parenkim dengan krislal kalsium 4. Serabut


oksalat

5. Serbuk sari 6. Trakea (unsur xilem)

82
7. Rambut penutup bentuk bintang

Fragmen serbuk herba sidaguri

Senyawa Identitas 20-Hidroksiekdison


Struktur kimia :

OH

H
o

20-Hidroksiekdison

Pola kromatografi
Lakukan Kromatograji. lapis tipis seperti yang tertera pada Kromatograji. <61 > dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak Asam asetat P ]5%
Fase diam Selulosa mikrokristal
Larutan uji Timbang 1 g serbuk simplisia, masukkan ke dalam tabung reaksi,
tambahkan 10 mL etanol P, "vortex" selama 5 menit dan biarkan
terendam selama 1 jam. Saring dan uapkan hingga kering, tambah 10
mL n-heksan P, aduk dan enap-tuangkan. Larutkan residu dalam 5
mL metanol P.
Larutan pembanding Rutin 1% dalam metanol P
Volume penotolan Totolkan 20 Lanltan uji dan 10 Lamtan pembanding
Deteksi Sitroborat LP, panaskan lempeng pada suhu 100 selama 5 - 10
menit dan UV 366

83
Keterangan :
S : Simplisia daun sidaguri
P : Pembanding rutin
Rr pembanding rutin 0,65
Rx 1.0,62
Rx 2.0,77
Rx 3.0,92
Rx 4. 1,06
Rx 5. 1,22
Rx 6. 1,38

S P

Susut pengeringan < 111> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81 > Tidak Iebih dari 8,0%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 1,0%

Sari larut air <91 > Tidak kurang dari 6,0%

Sari Iarut etanol <92> Tidak kurang dari 3,0%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,08% dihitung sebagai kuersetin
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan kuersetin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang gelombang
sera pan maksimum lebih kurang 425 nm .

84
EKSTRAK KENTAL HERBA SIDAGURI
Sidae Rhombifoliae Herbae Extractum Spissum

Ekstrak kental herba sidaguri adalah ekstrak yang dibuat dari herba Sida rhombi/olia L., suku
Malvaceae, mengandung flavonoid total tidak kurang dari 0,72% dihitung sebagai kuersetin.

Pembuatan Ekstrak <311>


Rendemen Tidak kurang dari 14,3%
Gunakan etano! P sebagai pelarut

Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kental; wama cokelat kehitaman; bau khas; rasa khas dan pahit.

Senyawa Identitas 20-Hidroksiekdison


Struktur kimia :

OH

H
o

20-Hidroksiekdison

Kadar air <8 3> Tidak lebih dari 17,5%

Abu total <81> Tidak lebih dari 5,9%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,9%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar flavonoid total Tidak kurang dari 0,72% dihitung sebagai kuersetin
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Flavonoid Total < 151 > Metode 2.
Gunakan kuersetin sebagai pembanding dan ukur serapan pada panjang ge10mbang
serapan maksimum lebih kurang 425 nm .

85
DAUNTEH
Camelliae Sinensidis Folium

Daun teh adalah daun muda atau pucuk daun dari tanaman Camellia sinensis (L.) O.K, suku
Theaceae, mengandung fenol total tidak kurang dari 0,51 % dihitung sebagai as am galat.

Identitas Simplisia
Pemerian Berupa helaian daun berbentuk bulat telur memanjang sampai jorong, permukaan
atas licin lebih mengkilap, permukaan bawah kasar, pertulangan daun menyirip, dengan ibu
tulang daun menonjol pad a permukaan bawah, pangkal helaian daun runcing, tepi bergerigi
tajam, melekuk ke dalam, kaku, ujung meruncing, pangkal runcing; warna helai an daun hijau
tua; tidak berbau ; tidak berasa, lama kelamaan kelat.

Simplisia daun teh

Mikroskopik
Fragmen pengenal adalah kristal kalsium oksalat bentuk roset, epidermis atas dengan rambut
penutup, makrosklereida, serabut sklerenkim, epidermis atas, mesofil daun dengan berkas
pengangkut dan bintik kelenjar, epidermis bawah dengan stomata dan berkas pengangkut
penebalan spiral.

86
I. Kristal kalsium oksalat bentuk roset 2. Epidermis atas dengan rambut penutup

3. Makrosklereida 4. Serabut sklerenkim

5. Epidermis atas 6. Mesofil daun dengan berkas pengangkut dan


bintik kelenjar

87
7. Epidermis bawah dengan stomata 8. Serkas pengangkut dengan penebalan spiral

Fragmen serbuk daun teh

Senyawa identitas (+) Katekin


Struktur kimia :

HO

OH

(+) Katekin

Pola kromatografi
Lakukan Kromatografi lapis tipis sesuai yang tertera pada Kromatografi <61> dengan
parameter sebagai berikut :
Fase gerak : Toluen P-aseton P-asamformat P (5:4: 1)
Fase diam : Silika gel 60 F254
Larutan uji : 20% dalam metanol P, gunakan Larutan uji KLT seperti yang te11era
pada Kromatografi <61>
Larutan pembanding : Katekin 2% dalam metanol P
Volume penotolan : Totolkan masing-masing 10 f.1L Larutan uji dan 5 f.1L Larutan
pembanding
Deteksi : Besi(III) klorida 1% LP dan sinar tampak

88
Keterangan:
S: Simplisia daun teh
P: Pembanding katekin
RJ pembanding katekin 0,52
6 Rf 1. 0,05
Rf2.0,14
Rf 3.0,27
5 Rf 4.0,38
Rf 5.0,52
Rr 6.0,73

S P

Susut pengeringan < 1 J 1> Tidak lebih dari 10%

Abu total <81 > Tidak lebih dari 5,6%

Atu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,6%

Sari Jarut air <91 > Tidak kurang dari 8,4%

Sari larut etanoJ <92> Tidak kurang dari 4,5%

Kandungan Kimia Simplisia


Kadar fenol total Tidak kurang dari 0,51 % dihitung sebagai asam galat.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penetapan Kadar Fenol Total Cara Falin Ciocalteu
< 161 >

EKSTRAK KENTAL DAUN TEH


Camelliae Sinensis Folii Extractum Spissum

Ekstrak Kental Daun Teh adalah ekstrak yang dibuat dari daun Camellia sinensis (L.) O .K.
suku Theaceae mengandung fenol total tidak kurang dari 1,83% dihitung sebagai asam galat.

Pembuatan Ekstrak <311 >


Rendemen Tidak kurang dari 7,8%

89
Identitas Ekstrak
Pemerian Ekstrak kentaJ; cokeJat kehitaman; tidak berbau; rasa kelat.
Senyawa ldentitas (+) Katekin
Struktur kimia :

HO

OH

(+) Katekin

Kadar air <83> Tidak Jebih dari 16,0%

Abu total <8 1> Tidak lebih dari 2,0%

Abu tidak larut asam <82> Tidak lebih dari 0,4%

Kandungan Kimia Ekstrak


Kadar fenol total Tidak kurang dari 1,83% dihitung sebagai asam galat.
Lakukan penetapan kadar sesuai dengan Penelapan Kadar Feno! Tota! Cara Folin Ooea!leu
<161>

90
LAMPIRAN
-,
;
SENYAWA INDENTITAS DAN PEMBANDING
FARMAKOPE HERBAL INDONESIA <11>

SENY A W A IDENTITAS

(+) Katekin Luteol in


Alisin Mirisetin
Aloin A M iristisin
Andrografolid Murangatin
Asam anakardat Nobiletin
Asiatikosida Pinostrobin
Eti l p-metoksisinamat Piperin
Falerin Shogaol
Filantin Sinama ldehid
Galangin Sinensetin
20-Hidroksiekdison Sineo l
lsodeoksie Ie fantopi n Skopoletin
Tsokuersitrin Terpinen-4-o l
Katekin Tetrahidroa lstonin
Kubebin Tilirosida
Kuersetin Trans-anetol
Kuersitrin Viteksikarpin
Kurkumangosida Xantorizol
Kurkumin

PEMBANDING FARMAKOPE HERBAL INDONESIA

Alilsistein Mirisetin
Aloin Murangatin
Andrografolid Pinostrobin
Asam galat Piperin
Asiatikosida Rutin
Etil p-metoksisinamat S ianid in-3-0-g1ukosida
Eugeno l Sinamaldehid
Falerin Sinensetin
Tsodeoksie lefantopin Sineol
lsokuersitri n Skopoletin
Katekin Stigmasterol
Kubebin Tetrahidroalstonin
Kuersetin Tilirosida
Kuersitrin Trans-anetol
Kurkumin Viteksikarpin
LuteoJin Xantorizol

93
PERALATAN VOLUMETRIK <21>

Sebagian besar peralatan volumetrik yang digunakan dalam FHI adalah peralatan yang
dikalibrasi pada suhu 20, sedangkan penggunaan ala t tersebut di laboratorium pada suhu
ruang.
Penggunaan untuk memperoleh derajat ketelitian yang diinginkan dalam penetapan
kadar menurut FHl, termasuk diantaranya pengukuran secara volumetrik dan pernyataan
bahwa suatu pengukuran "diukur saksama ", alat harus dipilih dan digunakan dengan hati-hati.
Ukuran buret harus sedemikian hingga volume titran tidak kurang dari 30% vo lume nominal.
Bila volume titran yang diukur kurang dari 10 mL, umumn ya diperlukan buret 10 mL atau
mi krobu ret.
Rancangan alat volumetrik merupakan faktor penting dalam menjamin kesaksamaan .
Misalnya panjang skala dari gelas ukur haru s tidak kurang dari 5 kali diameter dalam ; ujung
buret dan pipet harus membatasi laju aliran agar tidak lebih dari 500 per detik.
Standar kesaksamaan toleransi kapasitas untuk labu tentukur, pipet volume dan buret
harus sesuai dengan yang tertera pada Tabel I.
Pipet vol ume dan pipet ukur yang dikalibrasi sebagai pemindah (td), cairan pada pipet
volume harus dialirkan dalam posisi tegak lurus dan disentuhkan pada dindin g labu
penampung untuk mengeluarka n sisa pada ujung pipet. Pembacaan vo lume pada buret harus
dapat diperkirakan hin gga mendekati 0,01 mL untuk buret 25 mL dan 50 mL, dan hingga
mendekati 0,005 mL untuk buret 5 mL dan to mL. Pipet yang dikalibrasi secara khusus (tc)
umumnya digunakan untuk pengukuran cairan kental sepetti sirup, dalam hal demikian labu
tentukur dapat dipakai sebaga i pengganti pipet tersebul. Untuk itu pipet atau labu tentukur
harus dibilas sampai bersih dan bilasan ditambahkan pada bagian cairan yang diukur.

a e a u
TbllLbTentu kur, P'tpet Vo Iume dan B uret
Labu tentuku
Volume yang dinyatakan (mL) 10 25 50 tOO 250 500 1000
Batas kesalahan (mL) 0,02 0,03 0,05 0,08 0,12 0, 15 0.30
Batas kesalahan (%) 0,20 0,12 0,10 0,08 0,05 0,03 0,03
Pipet volume
Volume yang dinyatakan (mL) I 2 5 10 25 50 100
Batas kesalahan (mL) 0,006 0,006 0,01 0,02 0,03 0,05 0,08
Batas kesal ahan (%) 0,60 0,30 0,20 0,20 0,12 0,10 0,08
Buret
Volume yang dinyatakan (mL) to (tipe mikro) 25 50
Pembagian skala (mL) 0,02 0,10 0, to
Batas kesalahan (mL) 0,02 0,03 0,05

94
T ERMOMETER <31 >

Termometer yang dimaksud adalah lermometer dari jenis air raksa dalam kaca dan
kolom di atas cairan diisi dengan nitrogen. Termometer dapat dikalibrasi untuk pencelupan
keseluruhan atau pencelupan sebagian. Sepanjang dapat dilaksanakan, setiap termometer
harus digunakan sesuai dengan kondisi pencelupan seperti pad a saat dikalibrasi.
Kalibrasi untuk pencelupan keseluruhan meliputi pencelupan termometer sampai bagian
atas kolom raksa dengan sisa batang termometer dibiarkan pada suhu ruang. Kalibrasi untuk
pencelupan sebagian meliputi pencelupan termometer hingga bagian yang ditandai dengan
goresan pada bag ian depan termometer dan menyisakan batang termometer yang dibiarkan
berhubungan dengan suhu ruang. Untuk penggunaan pada kondisi pencelupan lain, diperlukan
koreksi terhadap batang yang muncul hingga diperoleh pembacaan suhu yang benar.

TIMBANGAN <41 >

Pada penguj ian dan penetapan kadar menurut F HI di perl u kan penggunaan timbangan
yang beragam dalam kapasitas, kepekaan dan reprodusibilitas. Kecuali dinyatakan lain, jika
zat dinyatakan "timbang saksama" untuk penetapan kadar, maka penimbangan harus
dilakukan dengan neraca analitik. Kecuali dinyatakan lain, untuk uji batas secara titrimetri,
penimbangan harus memungkinkan diperolehnya angka signifikan dari bobot analit setara
dengan angka signifikan dari kadar titran. Setiap timbangan yang digunakan dalam pengujian
maupun penetapan kadar harus dikalibrasi secara berkala.

SPEKTRO FOTOMETRJ <51 >

PENGUKURAN SERAPAN ULTRAVIOLET DAN CAHAYA TAMPAK

Spek/rol%me/ri serapan merupakan pengukuran suatu interaksi antara radiasi


elektromagnetik dan l110lekul atau atom dari suatu zat kimia. Teknik yang sering digunakan
dalam anal isis farmasi meliputi spektroskopi serapan ultraviolet, cahaya tampak, inframerah
dan serapan atom. Pengukuran spektrofotometri di dalam daerah cahaya tampak, semula
disebut k%rime/!"i, tetapi istilah "kolorimetri" lebih tepat digunakan untuk persepsi tentang
warna.

Kegunaan Kom paratif Dae rah Spektru m

Untuk sebagian besar bahan atau zat pengukuran spektrum dalam daerah ultraviolet dan
cahaya tampak dapat dilakukan dengan ketelitian dan kepekaan yang lebih baik daripada
dalam daerah inframerah-dekat dan inframerah. Untuk menghasilkan pengukuran yang baik,
larutan yang diukur sebaiknya memberikan serapan sebesar 0,2-0,8 di daerah ultraviolet atau
cahaya tampak.
Spektrum ultraviolet dan cahaya tampak suatu zat pada umumnya tidak mempunyai
derajat spesifikasi yang tinggi. Walaupun demikian, spektrul11 tersebut sesuai untuk

95
pemeriksaan kuantitatif untuk berbagai zat, spektrum tersebut bermanfaat sebagai tambahan
untuk identifikasi.

Teori dan lstilah

Oaya dari suatu berkas radiasi akan berkurang sehubungan dengan jarak yang
ditempuhnya melalui medium penyerap. Oaya tersebut juga akan berkurang sehubungan
dengan kadar mo1ekul atau ion yang terserap dalam medium. Faktor daya dan medium
menentukan proporsi dari kejadian total energi yang timbul. Penurunan daya radiasi
monokromatis yang melalui medium penyerap yang homogen dinyatakan seeara kuantitatif
oleh Hukum Lambert-Beer, log (I/T) = A = abc; istilah tersebut didefinisikan sebagai berikut:
A = Serapan
T = % Transmitan
a = Serapan jenis
b = Tebal sel (em)
c = Konsentrasi

Prosedur Spektrofotometri Sera pan

Petunjuk operasional rinei dari spektrofotometer diberikan oleh pabrik. Untuk


mendapatkan hasil yang absah, harus dipahami keterbatasan, sumber kesalahan potensial dan
variasi alat. Petunjuk penggunaan untuk pemeliharaan, pembersihan, dan kalibrasi alat selia
teknik penanganan sel serapan harus diikuti sesuai petunjuk. Hal-hal berikut ini penting untuk
diperhatikan.
Periksa instrumen untuk ketepatan kalibrasi. Jika digunakan sumber radiasi yang
berkesinambungan, harus diperhatikan panjang gelombang dan skala fotometriknya; jika
digunakan sumber garis spektra, yang harus diperiksa hanya skala fotometrik. Sejumlah
sumber energi radiasi yang mempunyai garis spektra yang sesuai intensitasnya, mempunyai
ruang yang eukup pada rentang spektra yang dipilih. Sumber spektra kalibrasi tunggaJ untuk
UV dan eahaya tampak yang terbaik adalah lampu merkuri-kuarsa, menggunakan panjang
gelombang 253,7; 302,25; 313,16; 334,15; 365,48; 404,66 dan 435,83 nm. Merkuri-kaea juga
digunakan di atas 300 nm. Panjang gelombang 486,13 dan 656,28 nm dapat juga
menggunakan lampu hidrogen. Skala panjang gelombang dapat dikalibrasi dengan kaea
penyaring yang sesuai, yang digunakan pada pita serapan daerah UV dan eahaya tampak.
Kaea baku yang mengandung didimium (eampuran proseodimium dan neodimium) banyak
digunakan meskipun kaea yang mengandung holmium Jebih baik. Larutan baku holmium
oksida telah menggantikan penggunaan kaea holmium.
Jika perbedaan lebih dari I nm pada panjang gelombang 200-400 nm, dan lebih dari
3 nm pada panjang gelombang 400-600 nm, maka perlu dilakukan rekalibrasi.
Untuk memeriksa skala fotometrik, dapat digunakan kalium bikromat dengan
konsentrasi tertentu.
Pengukuran serapan kuantitatif biasanya menggunakan larutan zat pada sel yang sesuai.
Karena pelarut dan jendela sel keduanya menyerap eahaya, harus dilakukan koreksi pada
pengukuran serapan. Penetapan kadar menggunakan spektrofotometri biasanya menggunakan
panjang gelombang untuk puneak serapan spektra zat yang diuji. Spektrofotometer yang
berbeda menunjukkan perbedaan yang keeil pada puneak panjang gelombang yang nyata.

96
Untuk hasil yang baik membutuhkan pembandingan pada panJang gelombang serapan
maksilllum.
Larulan uji Bahan uji yang ditetapkan dengan Illenggunakan spektrofotometer UV atau
cahaya tampak umulllnya dilarutkan dalam suatu pelarut tertentu. Untuk Illenghasilkan
pengukuran yang baik, larutan yang diukur sebaiknya memberikan serapan sebesar 0,2-0,8 di
daerah ultraviolet atau cahaya tampak . Harus diperhatikan agar pelarut yang digunakan bebas
dari kontaminan yang memberikan serapan pada daerah spektra yang digunakan.
Perhilungan Penggunaan spektrofotometri serapan dalam penetapan kadar dan
pengujian umulllnya mempersyaratkan penggunaan pembanding. Beberapa pengukuran,
terutallla pada penetapan kadar, rumus yang ada digunakan untuk Illenghitung hasil yang
diinginkan. Bilangan konstanta biasanya tennasuk dalam rumus. Penurunan rUlllus berikut
menunjukkan pendekatan logika pada penetapan konstanta yang terdapat pada rumus
penetapan kadar yang tertera pada beberapa monografi.
Hubungan hukum Lambert-Beer absah untuk Jarutan pembanding (P) dan larutan uji (U)
(I) A" = abC"
(2) All = abC Ii

Ap adalah sera pan larutan pembanding, Cp adalah konsentrasi larutan pembanding, All
adalah serapan larutan uji dan C u adalah konsentrasi larutan uji. lika C p dan CII ditunjukkan
dengan unit yang sam a dan serapan dari kedua larutan diukur menggunakan sel pembanding
yang mempunyai dimensi yang sama, daya serap (a) dan ketebalan sel (b) sama, maka kedua
rUlllus dapat digabung untuk menetapkan CII

(3 ) C =C
II fJ
A
I'

lumlah contoh uji bentuk padat yang digunakan untuk anal isis biasanya dinyatakan
dalalll mg. Petunjuk pengenceran diberikan pada penetapan kadar dan konsentrasi enceran
larutan yang digunakan untuk pengukuran serapan, biasanya dinyatakan dalalll flg per mL.
lumlah dalam mg bahan uji dari senyawa atau bentuk sediaan pad at untuk analisis, mengikuti
volume dalam L, konsentrasi (Cu) yang didapat dari jumlah zat uj i yang terkandung
dalam bobot (W,J dalam mg dari senyawa [Colalan CII dinyalalwn dalam j.lg per mL alau mg
per LI
(4) W =VC
II II If

Bentuk rumus yang ditunjukkan pada penetapan kadar dalam monografi zat padat dapat
diturunkan dengan mengganti CII pada rumus (3) ke dalam rumus (4). Pada rangkuman
digunakan rumus (4) dengan pertimbangan keperluan konversi beberapa unit untuk mencapai
kesamaan pad a rumus (5), hingga diperoleh rumus akhir

(5) W =VC
II /I fl
A
I'

Penurunan yang sama digunakan pad a rumus yang tertera pada monografi untuk zat cair
yang kadarnya ditetapkan dengan menggunakan metoda spektrofotometri serapan. Untuk
sediaan cair, hasil perhitungan umumnya clinyatakan dalam jumlah mg bahan tiap mL secliaan.
ladi perlu untuk memasukkan dalam rumus tambahan persyaratan volume (V) dalam mL
larutan uji yang digunakan.

97
Penetapan kadar pad a daerah sinar tampak biasanya untuk membandingkan kesesuaian
serapan Larufal1 lU'i dan LarUlan pembonding yang mengandung sejumlah Pembonding yang
lebih kurang sama. Pada keadaan tertentu, dibolehkan tidak menggunakan Pembanding. Hal
ini dapat dilakukan jika kadar ditetapkan dengan menggunakan metoda spektrofotometri.
Untuk analisa rutin dibuat kurva baku dari Lorufon pembonding sebe lumnya. Kadar Landon
vji dapat ditetapkan dengan menginterpolasikan pada kurva baku.
Kurva baku haws selalu dikonfirmasi secara teraLur, dan dibuat baru pada penggunaan
spektrofotometer atau pereaksi baru.
Penetapan kadar dengan metoda spektrofotometri lebih baik dilakukan dengan
penyiapan langsung dan menggunakan kurva baku. Jika penetapan kadar dilakukan tidak
rutin, jangan gunakan kurva baku tetapi gunakan perbandinga n langs un g dengan Pembonding
yangjumlahnya lebih kurang setara dcngan bahan uji dan diperlakukan sa ma.
Perbondingon Vislial Jika warna atau kekeruhan dibandingkan secara Jangsung, tabung
pembanding warna yang digunakan, diameter dalam dan semua bahan yang di gunakan harus
sesuai. Untuk pembanding warna, tabung harus dapat dilihat dari bagian atas pada latar
belakang putih dengan sumber cahaya berasal dari dasar tabun g. Untuk pembanding
kekeruhan, tabling haws dapat dilihat secara horisontal dengan latar beJakang gelap dan
sumber cahaya langsung dari sisi tabung.
Pada penetapan uji batas yang menggunakan pembanding warna dalam dua wadah yang
serupa (misal tabung pembanding - padanan warna), lebih baik menggunakan alat yang sesuai
daripada dengan mata telanjang .

KROMATOGRAFI <61 >

Kromatografi didefini sikan sebagai prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu proses
migrasi diferensial dinami s dalam siste m yan g terdiri dari dua fase, salah satu diantaranya
berge rak secara berkesinambungan dengan arah tertentu dan di dalamnya zat-zat itu
menunjukkan perbedaan mobilitas disebabkan adanya perbedaan dalam adsorbsi, partisi,
kelarutan , tekanan uap , ukuran molekul ata u kerapatan muatan ion. Dengan demikian masing-
masing zat dapat diidentifikasi atau ditetapkan dengan metode analitik.
Bagian ini membahas istilah dan prosedur yang digunakan dalam kromatografi selia
memberikan informasi umum. Persyaratan khllsus uji kromatografi dan penetapan kad ar za t,
termasuk fase diam dan fase gerak, tertera da lam masing-masing monografi .
Teknik kromatografi UlllUlll melllbutuhkan zat terlarut terdistribusi di antara dua fase,
satu diantaranya diam (fase diam) , yang lainnya bergera k (fase gerak). Fase gerak membaw a
zat terlar ut melalui media , hingga terpisa h dari za t terlarut lainnya, yang tereluasi lebih awal
atau lebih akhir. Umumnya zat terlarut dibawa melewati media pemisah oleh aliran suatu
pe larut berbentuk cairan atau gas yang disebut eluen. Fase diam dapat bertindak sebagai zat
penjerap, se perti halnya penjerap alumina yang diaktill<an , silika gel, dan resin penukar ion ,
atau dapat bertindak ll1elarutkan zat terla rut sehingga terja di partisi antara fase diam dan fase
gerak. Dalam proses terakhir ini suatu lapisan cairan pada suatu penyangga yang inert
berfun gs i sebagai fase diam. Partisi merupakan mekanisme pemisahan utama dalam
kromatografi gas-cair. Dalam praktek, seringkali pemisahan disebabkan oleh suatu kombinasi
efek adsorpsi dan partisi.

98
Jenis-jenis kromatografi dalam anal isis kualitatif dan kuantitatif yang digunakan dalam
penetapan kadar dan pengujian pada FHI adalah Kromatografi Lapis Tipis (KL T),
Kromatografi Gas (KG), dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). KL T umumnya
lebih banyak digunakan untuk tujuan identifikasi, karena mudah dan sederhana serta
memberikan pilihan fase diam yang lebih luas dan berguna untuk pemisahan masing-masing
senyawa seeara kuantitatif dari suatu eampuran. KG dan KCKT keduanya membutuhkan
peralatan yang lebih rumit dan umumnya merupakan metode dengan resolusi tinggi yang
dapat mengidentifikasi serta menetapkan seeara kuantitatif bahan dalam jumlah yang sangat
keeil.
Penggunaan pembanding dalam uji identifi kasi Dalam KLT, perbandingan jarak
rambat suatu senyawa tertentu terhadap jarak rambat fase gerak, diukur dari titik penotolan
sampai titik yang memberikan intensitas maksimum pada bereak, dinyatakan sebagai harga Rr
senyawa tersebut. Perbandingan jarak rambat suatu senyawa tertentu dengan jarak rambat
pembanding dinyatakan sebagai harga R,. Harga Rf berubah sesuai kondisi pereobaan karena
itu identifikasi sebaiknya dilakukan menggunakan pembanding dan bahan uji pada lempeng
yang sama.
Untuk maksud ini kromatogram dibuat dengan menotolkan Lant/an IIji, Laru/an
pembanding, dan suatu eampuran Larulon IIji dan Lorulan pembanding dalam jumlah yang
kurang lebih sama pada lempeng lapis tipis, dalam satu garis lurus sejajar dengan tepi bavvah
lempeng kromatograri . Tiap penotolan eontoh mengandung zat uji yang bobotnya kurang
lebih sama. Jika zat uji yang diidentifikasi dan pembanding itu sama, terdapat kesesuaian dari
harga Rr pad a semua kromatogram, dan kromatogram Jari eampuran mengbasilkan bereak
tunggal , yailu R, adalah 1,0.
Penetapan letak bereak yang dihasilkan KLT letaknya dapat ditetapkan dengan : (I)
pengamatan langsung jika senyawanya tampak pad a cahaya tampak, ultraviolet gelombang
pendek (254 nm) atau gelombang panjang (366 nm); (2) pengamatan dengan eahaya tampak
atau ultraviolet setelah disel11prot dengan larutan penampak bereak .
Pada KG dan KCKT waktu retensi R, adalah waktu antara saat penyuntikan eontoh dan
muneulnya puneak eontoh yang tereluasi, sedangkan waktu retensi relatif R, adalah
perbandingan R, bahan uji, pembanding dan eampuran keduanya terhadap waktu retensi baku
internal. R, dan R, dapat digunakan sebagai parameter identifikasi.
Lant/on lIji atau turunannya, Lamlon p embanding serta larutan eampuran kedua bahan
tersebut sama banyak dapat disuntikkan berturut-turut menggunakan kolom dan kondisi
kromatografi yang sama.
Penyimpangan harga R, dan R, yang diukur untuk bahan uji dari harga yang diperoleh
untuk pembanding dan eampuran , tidak boleh l11elampaui taksiran keandalan yang ditentukan
seeara statistik dari penetapan kadar pemband ing seeara berulang.
ldentifikasi kromatografi dengan metode ini pada kondisi tertentu, memberikan pelunjuk
identitas yangjelas, namun tetap diperlukan konfirmasi lain untuk identirikasi yang absah.

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

Pada Kromatografi Lapis Tipis (KL T), zat penjerap merupakan Japisan tipis serbuk
halus yang dilapiskan pada lempeng kaea, plastik atau logam seeara merata, umumnya
digunakan lempeng kaea. Lempeng yang dilapisi dapat dianggap sebagai kolom kromatografi
terbuka dan pemisahan yang tercapai dapat didasarkan pada adsorpsi, partisi, atau kombinasi

99
kedua efek, yang tergantung dari jenis lempeng, eara pembuatan, dan jenis pelarut yang
digunakan. KLT dengan lapis tipis penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan senyawa
polar. Perkiraan identifikasi diperoleh dengan pengamatan bereak dengan harga Rj yang
identik dan ukuran yang hampir sama, dengan menotolkan bahan uji dan pembanding pada
lempeng yang sama. Pembandingan visual ukuran bereak dapat digunakan untuk
memperkirakan kadar seeara semi kuantitatif. Pengukuran kuantitatif dimungkinkan, bila
digllnakan densitometer, atau bereak dapat dikerok dari lempeng, kemudian diekstraksi
dengan pelarut yang sesuai dan diukur seeara spektrofotometri. Pada KL T dua dimensi,
lempeng yang telah dikembangkan diputar 90 dan dikembangkan lagi, umumnya
menggunakan bejana lain yang dijenllhkan dengan sistem pelarut yang berbeda.
Alat Alat dan bahan untuk kromatografi lapis tipis adalah sebagai berikut :
Lempeng kromatograjl , dengan tebal serba rata dan ukuran yang sesuai, umumnya 20 x
20 em. Jika tidak dinyatakan lain, lempeng lapis tipis yang digunakan dalam FHI adalah
lempeng silika atall sellliosa "pra lapis" (lempeng siap pakai).
Rak penyimpanan, digllnakan untllk menempatkan lempeng selama pengeringan atall
untuk membawa lempeng. Rak berisi lempeng harus disimpan dalam sllatu desikator atall
harus dapat ditutup kedap llntuk melindllngi lempeng terhadap pengarllh lingkungan, setelah
diangkat dari lemari pengering.
Zat penjerap, terdiri dari bahan penjerap yang haills, umllmnya berdiameter 5 flm hingga
40 yang sesllai untllk kromatografi. Zat penjerap dapat dilapiskan langsung pada lempeng
kaea atall dengan menggunakan perekat Paris (kalsillm slllfat terhidrasi 5% hingga 15%),
pasta kanji atau perekat lain. Perekat Paris tidak dapat memberikan permukaan yang keras
seperti pada pasta kanji, tetapi tidak terpengaruh oleh pereaksi penyemprot yang bersifat
oksidator kuat. Zat penjerap dapat mengandllng zat berfllloresensi yang menyerap eahaya
ultraviolet llntllk membantll penampakan bereak.
Bejana kromatografi, yang dapat memllat satu atall lebih lempeng dan dapat ditutup
kedap. Bejana dapat dilengkapi dengan rak penyangga, yang dapat menyangga lempeng yang
saling membelakangi , dengan tlltup bejana pada tempatnya.
Alat sablon, umllmnya terbuat dari plastik, digunakan sebagai alat bantu untllk
penotolan Larutan uji dan Lanttan pembanding pada jarak seperti yang dibutuhkan, serta
untuk membantll penandaan lempeng.
Pipet mikro , yang dapat mengeluarkan eairan sejllmlah volume tertentu. Jumlah total
Larutan uji dan Larutan pembanding yang hams ditotolkan, tertera pada masing-masing
monografi .
Alat penyemprot pereaksi, yang dapat menyemprotkan butir-blltir halus serta tahan
terhadap pereaksi.
Lampl! ultraviolet, yang sesllai llntuk pengamatan dengan panjang gelombang 254
sampai 366 nm .
Penjenuhan bejana Tempatkan kertas saring dalam bejana kromatografi. Tinggi kertas
saring 18 em dan lebarnya sarna dengan lebar bejana. Masllkkan sejumlah larutan
pengembang ke dalam bejana kromatografi, hingga tingginya 0,5 sampai 1 em dari dasar
bejana. Tlltup kedap dan biarkan hingga kertas saring basah selurllhnya. Kertas saring harus
selalu tereelup ke dalam larlltan pengembang pada dasar bejana. Keeuali dinyatakan lain pada
masing-masing monografi , prosedur KL T di lakukan dalam bejana jenuh.

100
Larutan uji KLT Timbang saksama lebih kurang 1 g serbuk simplisia, rendam sambil
dikoeok d i atas penangas air dengan 10 mL pelarut yang sesuai seJama 10 men it. Masukkan
filtrat ke daJam labu tentukur I O-mL tambahkan pelarut sampai tanda.
Prosedur KL T Totolkan Lant/an uji dan Larutan pembanding, menurut eara yang
tertera pad a masing-masing monografi dengan jarak antara 1,5 sampai 2 em dari tepi bawah
lempeng, dan biarkan mengering. Gunakan alaI sablon untuk menentukan tempat penotolan
dan jarak rambat, beri tanda pada jarak rambat.
Tempatkan lempeng pada rak penyangga, hingga tempat penotolan terletak di sebelah
bawah, dan masukkan rak ke dalam bejana kromatografi. Larutan pengembang dalam bejana
harus meneapai tepi bawah lapisan penjerap, totolan jangan sampai terendam. Letakkan tutup
bejana pada tempatnya dan biarkan sistem hingga fase gerak merambat sampai batas jarak
rambat. Keluarkan lempeng dan keringkan di udara, dan amati bereak dengan sinar tampak,
ultraviolet gelombang pendek (254 nm) kemudian dengan ultraviolet gelombang panjang (366
nm). Ukur dan eatatjarak tiap bereak dari titik penotolan serta catat panjang gelombang untuk
tiap bereak yang diamati. Tentukan harga R; atau R,. Jika diperlukan, semprot bereak dengan
pereaksi penampak bereak, amati dan band ingkan kromatogram bahan uj i dengan
kromatogram pembanding.
KLT Densitometri Alat untuk pengukur kuantitatif secara langsung pada lempeng KL T
adalah densitometer yang terdiri dari alat mekanik yang menggerakkan lempeng atau alat
pengukur sepanjang sumbu x dan sumbu y, perekam, integrator atau komputer yang sesuai;
dan untuk zat yang memberikan respon terhadap UV -eahaya tampak, fotometer dengan
sumber eahaya, alat optik yang mampu menghasilkan eahaya monokromatis dan foto sel
dengan sensitivitas yang sesuai, digunakan untuk mengukur pantulan. Pada kondisi dimana
fluoresensi diukur, diperlukan filter yang sesuai untuk meneegah eahaya yang digunakan
untuk eksitasi meneapai fotosel dengan membiarkan emisi yang spesifik dapat lewat. Rentang
linearitas dari alat peneaeah harus diverifikasi.
Jika perlu lakukan penotolan pad a lempeng tidak kurang dari 3 larutan baku dari zat
yang ditetapkan, dengan kadar diantara perkiraan zat dalam larutan uji (misal: 80%, 100%,
120%). Jika perJu lakukan derivatisasi dengan pereaksi dan rekam pantulan atau fluorosensi
pada kromatogram. Gunakan hasil pengukuran untuk perhitungan jumlah zat dalam Larutan
uji.

KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Kromatografi eair kinerja tinggi (KCKT) merupakan teknik pemisahan dengan fase
diam padat dan fase gerak eair yang umumnya dilakukan dalam suhu ruang. Pemisahan
diperoleh dari proses partisi, adsorpsi, atau penukar ion, tergantung dari tipe fase diam yang
digunakan. Zat yang dianalisis dilarutkan dalam pelarut yang sesuai. Metode ini umumnya
digunakan untuk anaJisis zat yang tidak stabiJ terhadap panas. Sebagian besar analisis zat
menggunakan kromatografi partisi yang dapat selesai dalam waktu 30 menit.
Alat Kromatografi eair kinerja tinggi terdiri atas reservoar berisi fase gerak, pompa yang
mendorong fase gerak melewati sistem dengan tekanan tinggi, injektor yang memasukkan
sam pel ke dalam fase gerak, kolom kromatografi, detektor dan alat pengumpul data misalnya
komputer, integrator atau perekam.
Sis/em pompa Sistem pompa KCKT mengalirkan fase gerak dari reservoar ke dalam
kolom dengan pipa beltekanan tinggi. Umumnya tekanan operasionaJ hingga 5000 psi atau
lebih tinggi, dengan laju alir hingga lebih kurang 10 mL per menit. Pompa untuk anal isis

101
kuantitatif harus terbuat dari bahan inert terhadap fase gerak yang korosif dan mampu
mengantarkan fase gerak dengan kecepatan tetap dengan fluktuasi minimal selama waktu
tertentu.
lnjeklor Tempat memasukkan Larulan uji ke dalam kolom dapat berupa injektor
manual , injektor " loop" atau otomatis dengan "autosampler".
K%m Untuk anal isis bahan uji , pemisahan terjadi karena partisi bahan uji dalam
Laru/an uji antara fase gerak dan fase diam. Sistem yang berupa fase diam polar dan fase
gerak non-polar disebut sebagai fase normal, susunan yang berlawanan yaitu fase gerak polar
dan fase diam non-polar dinamakan kromatografi fase balik. Kromatografi paliisi hampir
selalu digunakan untuk bahan uji yang mudah larut dalam hidrokarbon dengan berat molekul
kurang dari 1000. Afinitas bahan uji pada fase diam dan waktu retensinya pada kolom diatur
dengan membuat fase gerak lebih atau kurang polar. Polaritas fase gerak dapat diubah dengan
merubah komposisi dari komponen-komponennya.
Kolom yang di gunakan untuk pemisahan analitik biasanya memiliki diameter dalam 2
sampai 5 mm ; diameter kolom yang lebih besar digunakan untuk pemisahan kromatografi
preparatif. Kolom dapat dipanaskan untuk meningkatkan efisiensi pemisahan, tetapi jarang di
atas suhu 60 karena berpotensi untuk terjadi degradasi fase diam atau penguapan fase gerak.
Kecuali dinyatakan lain dalam monografi, kolom digunakan pada suhu ruang.
Kromatografi penukar ion digunakan untuk memisahkan zat larut air yang dapat
terionisasi dengan berat molekul lebih kecil dari 1500. Fase diam biasanya menggunakan
resin organik sintetis; resin penukar kation mengandung sisi aktif bermuatan negatif
digunakan untuk memisahkan zat bas a misal amina, sementara resin penukar anion memiliki
sisi aktif bermuatan positif digunakan untuk pemisahan zat bermuatan negatif, misal gugus
fosfat , sulfonat atau karboksilat.
Delektor Metode KCKT kompendial banyak yang menggunakan detektor
spektrofotometer. Detektor terdiri dari sel yang dapat dialiri dan dipasang pad a bagian akhir
kolom. Radiasi sinar UV melewa ti sel ke detektor. Komponen yang dieluasi dari kolom
masuk ke sel untuk menyerap radiasi dan menghasilkan perubahan tingkat energi yang dapat
diukur. Tersedia detektor denga n panjang gelombang tetap atau bervariasi. Detektor panjang
gelombang tetap pada satu panjang gelombang biasanya 254 nm .
AlaI pengwnpul data Alat pengumpul data menerima dan menyimpan luaran detektor
dan mencetak kromatogram lengkap dengan tinggi puncak, luas puncak, identifikasi bahan
uji dan variabel metoda. Alat ini juga digunakan untuk memprogram kromatografi cair,
mengontrol banyak variabel dan memungkinkan anal isis dalam waktu panjang tanpa
pengawasan.
Data juga dapat dikumpulkan pada perekam sederhana untuk pengukuran manual atau
pada integrator terpisah . Kemampuan perekam beragam mulai dari menghasilkan cetakan luas
puncak sampai menyediakan kromatogram yang luas dan tinggi puncaknya sudah dihitung,
serta mampu menyimpan data untuk proses berikutnya .
Cara Kerja Komposisi fase gerak secat-a signifikan mempengaruhi kinerja kromatografi
dan resolusi zat ke dalam campuran yang akan dikromatografi. Untuk analisis kuantitatifyang
akurat harus digunakan pelarut dan pereaksi dengan kemurnian tinggi. Air untuk penetapan
harus bennutu tinggi yaitu memiliki konduktivitas dan serapan UV yang rendah.
Pereaksi yang digunakan pada detektor jenis khusus (misalnya elektrokimia,
spektrometer massa) membutuhkan toleransi tambahan untuk penetapan jenis gangguan

102
tertentu . Komposisi zat memiliki efek yang lebih besar dibanding suhu terhadap faktor
kapasitas , k'.
Dalam kromatografi partisi, koefisien partisi dan pemisahan dapat diubah dengan
penambahan komponen lain dalalll fase gerak. Dalalll krolllatografi penukar ion, pH dan
kekuatan ion seperti juga perubahan komposisi fase gerak dapat mempengaruhi faktor
kapasitas. Teknik untuk Illengubah komposisi pelarut secara berkesinambungan selama proses
krolllatografi disebut eluasi gradien atau pengaturan pelarut. Hal ini kadang-kadang
digunakan untuk kromatografi pada call1puran kompleks komponen yang perbedaan faktor
kapasitasnya besar. Detektor yang peka terhadap perubahan pelarut seperti refraktOllleter
diferensial sukar digunakan pada teknik eluasi gradien.
Detektor harus mellliliki rentang dinalllik linier yang luas dan bahan yang akan diukur
hanls be bas dari zat pengganggu. Rentang dinalllik linier zat adalah rentang antara respon
sinyal detektor yang sebanding dengan jumlah zat. Rentang ini harus tiga kali lebih luas untuk
fleksibilitas Illaksimum dalam anal isis. Sistem KCKT dikalibrasi dengan membuat kurva
respon puncak dalam perbandingan terhadap konsentrasi Pembanding yang diketahui dengan
menggunakan prosedur baku eksternal atau baku internal.
Jika digunakan injektor otomatis atau "autosampler", akan diperoleh hasil kuantitatif
terpercaya dengan membandingkan langsung respon puncak Lamlan uji dan Larulan
pembanding. Jika digunakan injektor berupa siring yang tidak reprodusibel pada tekanan
tinggi, hasil kuantitatifyang baik didapatkan dengan menggunakan pembanding internal yang
ditambahkan ke dalam Larulan uji dan Lant/an pembanding. Hitung perbandingan respon
puncak zat dan baku internalnya.

PENETAPAN KADAR MINYAK ATSIRI < 71 >

Timbang saksama sejumlah bahan yang diperkirakan mengandung 0,3 mL minyak atsiri,
Illasukkan ke dalam labu alas bulat 1 L, tambahkan 200 sampai 300 mL air swing, hubungkan labu
dengan pendingin dan buret berskala. Untuk minyak atsiri dengan bobot jenis lebih kecil dari 1,
tambahkan 0,2 mL toluen atau ke dalam buret. Panaskan dengan tangas udara, sehingga
penyulingan berlangsung dengan lambat tetapi teratur. Setelah penyulingan selesai, biarkan selama
tidak kLuang dari 15 menit, catat VOlLl111e minyak atsiri pada buret. Kadar minyak atsiri dihitung
dalam % v/b.

103
-
-L

,-. .

PENETAPAN KADAR ABU TOTAL <81>

Timbang saksama 2 sampai 3 g bahan uji yang telah dihaluskan dan masukkan ke dalam
krus silikat yang telah dipijar dan ditara, pijarkan perlahan-lahan hingga arang habis,
dinginkan dan timbang.
Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan, tambahkan air panas, aduk, saring
melalui kertas saring bebas abu . Pijarkan kertas saring beserta sisa penyaringan dalam krus
yang sarna. Masukkan filtrat ke dalam krus, uapkan dan pijarkan hingga bobot tetap. Kadar
abu total dihitung terhadap berat bahan uji, dinyatakan dalam % bi b.

PENETAPAN KADAR ABU TIDAK LARUT ASAM <82>

Didihkan abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total dengan 25 mL asam
klorida encer LP selama 5 menit. Kumpulkan bagian yang tidak [arut dalam asam, saring
melalui kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas, pijarkan dalam krus hingga bobot
tetap. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap berat bahan uji, dinyatakan
dalam % bib.

104
PENETAPAN KADAR AIR <83>

AJat Labu 500 mL (A) hubungkan dengan pendingin air balik (C) melalui alat
penampung (8) yang dilengkapi dengan tabung penerima 5 mL (E) yang berskala 0, I mL.
Panaskan menggunakan pemanas listrik yang sUhunya dapat diatur atau tangas minyak.
Bagian atas labu tabung penyambung (D) sebaiknya dibungkus dengan asbes.

Pereaksi Toluen jenuh air Kocok sejumlah toluen P dengan sedikit aIr, biarkan
memisah dan buang lapisan air.
Prosedur Bersihkan tabung penerima dan pendingin dengan asam pencuci, bilas dengan
air, kemudian keringkan dalam lemari pengering. Timbang saksama sejumlah bahan yang
diperkirakan mengandung I sampai 4 mL air, masukkan ke dalam labu kering. Jika zat berupa
pasta, timbang dalam sehelai lembaran logam dengan ukuran yang sesuai dengan Ie her labu.
Untuk zat yang dapat menyebabkan gejolak mend adak saat mendidih, tambahkan batu didih
secukupnya. Masukkan lebih kurang 200 mL toluen jenuh air ke dalam labu, pasang
rangkaian alat. Masukkan toluen jenuh air ke dalam tabung penerima (E) melalui pendingin
sampai leher alat penampung (B). Panaskan labu hati-hati selama 15 menit.

105
Setelah toluen mulai mendidih, atur penyulingan dengan kecepatan lebih kurang 2 tetes
tiap detik, hingga sebagian besar air tersuling, kemudian naikkan kecepatan penyulingan
hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air tersuling, bag ian dalam pendingin dicuci dengan
toluen jenuh air, sambi! dibersihkan dengan sikat tabung yang disambungkan pada sebuah
kawat tembaga dan telah dibasahi dengan toluen jenuh air. Lanjutkan penyulingan selama 5
menit. Dinginkan tabung penerima hingga suhu ruang. Jika ada tetes air yang melekat, gosok
tabung pendingin dan tabung penerima dengan karet yang diikatkan pada sebuah kawat
tembaga dan dibasahi dengan toluen jenuh air hingga tetesan air turun. Baca volume air
setelah air dan toluen memisah sempurna. Kadar air dihitung dalam % v/b.

PENETAPAN KADAR SARI LA R UT AI R <91 >

Timbang saksama lebih kurang 5 g serbuk (4/18) yang telah dikeringkan di udara.
Masukkan ke dalam labu bersumbat, tambahkan 100 mL air jenuh kloroform, kocok berkali-
kali selama 6 jam pertama, biarkan selama 18 jam. Saring, uapkan 20 mL filtrat hingga kering
dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan 105 dan ditara, panaskan sisa pada
SUhll 105 hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam % sari larllt air.

PENETAPAN KADAR SARI LARUT ETANOL <92>

Timbang saksama lebih kurang 5 g serbuk (4/18) yang telah dikeringkan di udara.
Masukkan ke dalam labu bersumbat, tambahkan 100 mL elanol P, kocok berkali-kali selama
6 jam pertama, biarkan selama 18 jam. Saring cepat untuk menghindarkan penguapan etanol,
uapkan 20 mLfiltrat hingga kering dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan
l05 dan ditara, panaskan sisa pada SUhll l05 hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam % sari
larut etanol.

PENETAPAN SUSUT PENGERINGAN <111>

Susut pengeringan adalah pengurangan berat bahan setelah dikeringkan dengan cara
yang telah ditetapkan. Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, simplisia
harus dalam bentuk serbuk dengan derajat halus nomor 8, suhu pengeringan 105 dan susut
pengeringan ditetapkan sebagai berikut : Timbang saksama 1 sampai 2 g simplisia dalam
botol timbang dangkal bertutup yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu penetapan dan
ditara. Ratakan bahan dalam botol timbang dengan menggoyangkan botol, hingga merupakan
lapisan setebal lebih kurang 5 sampai 10 mm, masukkan dalam ruang pengering, buka
tutupnya, keringkan pad a SUhll penetapan hingga bobot tetap. Sebelum setiap pengeringan,
biarkan botol dalam keadaan tertutup mendingin dalam eksikator hingga suhu ruang.

106
PENGAYAK DAN DERAJAT HALUS SERBUK <121>

Pengayak dibuat dari kawat logam atau bahan lain yang cocok dengan penampang
melintang yang sama di seluruh bagian. Jenis pengayak dinyatakan dengan nomor yang
menunjukkan jumlah lubang tiap cm dihitung searah dengan kawat.

u ang p engaya k Ba k u
Tbl2Lb
a e
Perbandingan kira-kira Penyimpangan
Lebar nominal
Nomor Garis tengah jumlah ILias ILibang rata-rata maksimLim
lubang
pengayak nominal kawat terhadap ILi as pengayak lubang
( 111111)
(%) (%)
2 3,35 1,73 43 3,2
3 2,00 0,998 45 3,3
4 1,68 0,860 44 3,3
6 1,20 0,614 44 3,6
8 0,7 10 0,445 38 3,9
10 0,600 0,4 16 35 4,2
12 0,500 0,347 35 4,4
14 0,420 0,286 35 4,5
18 0,355 0,222 38 4,8
24 0,250 0,173 35 5,2
34 O, ISO 0, 119 36 5,6
40 0,150 0,104 35 6,3
I
4S 0, 125 0,087 35 6,5
60 0,105 0,064 39 7,0
68 0,0':)0 0,059 36 7,3
80 0,G75 0,052 35 8, I
120 0,053 0,032 39 9,1

Tabel 3. Klasifikasi Serbuk Berdasarkan Derajat Halus


NOl11or Pengayak Ukuran Untuk mendapat
(pm) derajat kehalusan
8 2360 Serbuk sangal kasar
20 850 Serbuk kasar
40 425 Serbuk agak kasar
60 250 Serbuk halus
80 ISO Serbuk sangat halu s

DERAJAT HALUS SERBUK

Derajat halus serbuk dinyatakan dengan nomor pengayak.


Jika derajat halus suatu serbuk dinyatakan dengan satu nomor, dimaksudkan bahwa semua
serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor tersebut.
Jika derajat halus suatu serbu k dinyatakan dengan dua nomor, dimaksudkan bahwa semua
serbuk dapat melalui pengayak dengan nomor terendah dan tidak lebih dari 40% melalui
pengayak dengan nomor tertinggi.

107
PENCUCIAN PERALATAN KACA <141>

Keberhasilan dalam penetapan menurut FHI tergantung pada kebersihan peralatan yang
digunakan. Salah satu bahan yang paling efektif untuk membersihkan peralatan kaca adalah
Asam nitrat P panas. Metode yang efektif untuk membersihkan bahan organik pada kaca
tanpa pemanasan adalah menggunakan campuran pembersih Asam pencuci.
Kaca cenderung menyerap asam kromat sehingga membutuhkan pembilasan lama.
Bahan pembersih alkali seperti natrium fosfat tribasa dan deterjen sintetik juga sangat
berguna, tetapi diperlukan waktu pembilasan lebih lama. Perlakuan khusus diperlukan untuk
membersihkan wadah yang digunakan pada pengukuran secara optik dan harus dihindari
penggunaan asam kromat dan larutan basa kuat.
Campuran pembersih asam kromat sangat korosif dan higroskopis sehingga harus
disimpan da/am botal bersumbal kaca di lempal yang aman. .fika campuran menjadi
benvarna hijau fidak baleh dikembalikan ke da/am bolo/ penyimpan dan harus dibuang
menurul peraluran yang berlakL!.

PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL <151>

Metode I
Lakukan penetapan kadar seperti tertera pada Speklrojolomelri <51 >
Pereaksi
Larutan HMT : Larutan heksametilentetramin 0,5% b/v
Larutan asam asetat glasial 5 % vlv dalam melanal P
Larutan aluminium klorida : Larutan Aluminium klor'ida 2% dalam Asam asetat glasial P
Lartllan uji Kecuali dinyatakan lain timbang saksama sejumlah 200 mg simplisia atau ekstrak
yang setara dengan 200 mg serbuk simplisia, masukkan ke dalam labu alas bulat, tambahkan
berturut-turut I mL larutan HMT, 20 mL aselan P dan 2 mL larutan asam /clarida P, refluks
selama 30 menit. Saring menggunakan kapas, masukkan filtrat ke dalam labu tentukur 100-
mL. Refluks kembali residu dengan 20 mL ase/on P selama 30 menit, saring dan campur
filtrat ke dalam labu tentukur 100mL. Tambahkan asetan P sampai tanda. Pipet 20 mL ke
dalam corong pisah, tambahkan 20 mL airdan ekstraksi 3 kali,tiap kali menggunakan 15 mL
etil aselat P. Masukkan fase etil asetat dalam labu tentukur 50mL tambahkan eti! asetal P
sampai tanda.
Enceran Larulan uji Pipet 10 mL Larulan uji ke dalam labu tentukur 25mL, tambahkan
larutanasam asetatglasial 5%vlv dalam melanal P sampai tanda.
Laru/an uji dengan larutan aluminium /clarida Pipet 10 mL Larutan uji ke dalam labu
tentukur 25mL, tambahkan 1mL larutan aluminium klorida dan larutan asam asetat glasial
5% vlvdalam metanol P sampai tanda.
Larulan Pembanding lanpa larutan aluminium klarida Larutan pembanding flavonoid 0,1%
dalam eti! asetat P. Buat pengenceran hingga dipero1eh serapan yang mendekati serapan
Laru/an llji
Larutan Pembanding dengan larulan aluminium /clarida Larutan pembandingditambah I mL
larutan aluminium klorida

108
Pengukuran Lakukan pengukuran 30 menit setelah penambahan larutan aluminium klorida
menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang yang sesuai seperti tertera pada
monografi. Hitung kadar flavonoid total sebagai flavonoid pembanding seperti tertera pad a
monografi dengan rumus :

% Kadar flavonoid total dihitung sebagaiflavonoid pembanding seperti


tertera pada monografi
Cp Konsentrasi Larutan pembanding
Au = Serapan Larutan uji dengan larutan aluminium klorida
Abu Serapan Larutan uji tanpa Im"utan aluminium klorida
Ap Serapan Larutan pembanding dengan larutan aluminium klorida
Abp Serapan Larutan pembanding tanpa larutan aluminium klorida
1,25 Faktor Konstanta

Me/ode 2
Larutan uji untuk simplisia
Timbang saksama lebih kurang I g serbuk simpl isia, ekstraksi dengan 25 mL etanol P kocok
dengan kecepatan 200 rpm selama 24 jam. Saring ke dalam labu tentukur 25-mL, tambahkan
elanol 80% melalui penyaring sampai tanda.
Larulan uji untuk ekstrak
Timbang saksama lebih kurang 0, I - J g ekstrak, larutkan dalam 10 mL etanol 80% , sentrifus
1000 x gravitasi selama 10 menit. Masukkan beningan ke dalam labu tentukur 25-mL
ekstraksi residu dua kali, tiap kali dengan 5 mL etanol 80%. Kumpulkan beningan ke dalam
labu tentukur yang sama, tambahkan etanol 80% sampai tanda.
Lamtan uji untuk ekstrak cair
Ukur saksama sejumlah volume ekstrak cair, encerkan dengan etanol 80% sampai kadar yang
sesuai untuk kolorimetri .
Lamlan pembanding Timbang saksama kurang lebih 10 mg pembanding, lamtkan dalam
elan 0/ 80%, encerkan secara kuantitatif dan jika perlU bettahap dengan etanol 80% hingga
kadar 25 , 50 dan 100 I1-g / mL.
Pengukuran Pipet secara terpisah 0,5 mL Lam/an uji dan LorI/Ian pembanding, tambahkan
pada masing-masing 1,5 mL elanol P, 0, I mL aluminium klorida P 10%, 0,1 mL nalrium
os'etat 1 M dan 2,8 mL air suling. Kocok dan diamkan selama 30 menit pada suhu ruang. Ukur
serapan pada panjang gelombang serapan maksimum . Lakukan pengukuran blangko dengan
cara yang sama, tanpa penambahan aluminium klorida, buat koreksi seperlunya.

Metode 3
Larulan uji Lakukan seperti yang tertera pada Melode 2
Larutan pembanding Timbang saksama lebih kurang 20 mg pembanding, lanJtkan dalam
metano/ P, buat pengenceran secara kuantitatif j ika perlu bertahap hingga kadar 500, 1000
dan 2000 I1-g / mL.
Pengukuran Pipet secara terpisah 1 mL LOll-lIon uji dan Lamlan pembanding, tambahkan pada
masing-masing 2 mL 2,4-dinilroJenilhidrazin P J % dan 2 mL melano/ P, panaskan pada suhu 50

109
selama 50 menit, dinginkan pada suhu ruang. Tambahkan 5 mL kalium hidroksida P J % dalam
me/anal P 70%, diamkan pada suhu ruang selama 2 menit. Pipet I mL campuran, tambahkan 5
mL me/anal P, sentrifus 1000 x gravitasi selama 10 menit. Masukkan beningan ke dalam labu
tentukur 25-mL, tambahkan metanal P sampai tanda. Ukur serapan pada panjang gelombang
serapan maksimum.

PENETAPAN KADAR FENOL TOTAL CARA FOLIN CIOCALTEU


<161>

Lakukan penetapan kadar seperti tertera pada Spektroja/ame/ri <51 >


Lant/an uji Timbang saksama sejumlah simplisia yang telah dihaluskan, masukkan ke dalam
labu tentukur, encerkan secara kuantitatif dan j ika perlu bertahap dengan metanal P hingga
kadar seperti yang tertera pad a masing-masing monografi.
Lar1l/an p embanding Timbang saksama sejumlah asam galat, masukkan ke dalam labu
tentukur, encerkan secara kuantitatif dan jika perlu bertahap dengan metana! P hingga kadar
lebih kurang I mg/mL.
Enceran laru/an pembanding Buat enceran Lant/an pembanding dengan kadar berturut-turut
lebih kurang 5; 15; 30; 50; 70; 100 bpj.
Prasedur Pada masing-masing I mL Lar1ltan uji dan Enceran larutan pembanding dalam
tabung reaksi, tambahkan 5 mL enceran Folin-Ciacal/eu Fena! LP (7,5% dalam air). Diamkan
selama 8 menit, tambahkan 4 mL NaOH 1%, inkubasi selama I jam. Ukur serapan masing-
masing larutan padapanjanggelombangserapan maksimum lebih kurang 730 nm .Buatkurva
kalibrasi.

PElVIBUATAN SERBUK SIMPLISIA <301>

Pembuatan serbuk simplisia merupakan proses awal pembuatan ekstrak. Serbuk


simplisia dibuat dari simplisia utuh atau potonganpotongan halus simplisia yang sudah
dikeringkan melalui proses pembuatan serbuk dengan suatu alat tanpa menyebabkan
kerusakan atau kehilangan kandungan kimia yang dibutuhkan dan diayak hingga diperoleh
serbuk dengan derajat kehalusan tertentu. Derajat kehalusan serbuk simplisia terdiri dari
serbuksangatkasar, kasar, agakkasar,halusdan sangathalus .
Kecuali dinyatakan lain, derajat kehalusan serbuk simplisia untuk pembuatan ekstrak
merupakan serbuk simplisia halus seperti tertera pada Pengayak dan derajat halus serbuk
<121>.

PEMBUATAN EKSTRAK <311>

Buat ekstrak dari serbuk kering simplisia dengan cara maserasi menggunakan pelarut
yang sesllai. Gunakan pelarut yang dapat menyari sebagian besar metabolit sekunder yang

110
terkandung dalam serbuk simplisia. Kecuali dinyatakan lain daJam monografi , gunakan etanol
70 % LP.
Masukkan satu bagian serbuk kering simpJisia ke dalam maserator, tambahkan 10
bagian pelarut. Rendam selama 6 jam pertama sambil sekali-sekali diaduk , kemudian diamkan
selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara pengendapan, sentrifugasi, dekantasi atau
filtrasi. Ulangi proses penyarian sekurang-kurangnya dua kaJi dengan jenis dan jumlah pelarut
yang sama.
Kumpulkan semua maserat, kemudian uapkan dengan penguap vakum atau penguap
tekanan rendah hingga diperoleh ekstrak kental
Hitung rendemen yang diperoleh yaitu persentase bobot (bib) antara rendemen dengan
bobot serbuk simplisia yang digunakan dengan penimbangan. Rendemen harus mencapai
angka sekurang-kurangnya sebagaimana ditetapkan pad a masing-masing monografi ekstrak.
Pembuatan ekstrak bisa dilakukan dengan cara lain seperti perkolasi, sokletasi atau
"counter current".

PEMBUATAN LARUTAN UJI SIMPLISIA <321>

Timbang sejumlah serbuk kering simplisia, refluks selama 30 menit menggunakan jenis
dan jumlah pelarut yang sesuai , saring, refluks kembali residu dengan cara yang sama
sebanyak 2 kali. Kumpulkan filtrat ke dalam labu tentukur yang sesuai, tambahkan pelarut
sampai tanda.

PE NGUJIAN MIKROSKOPIK <40 1>

Pada pengujian mikroskopik, digunakan pereaksi air, f/uoroglusin LP dan kloralhidrat LP.
lstilah mikroskopik
Ami/um atoll pati Salah satu metabolit yang secara kimia merupakan senyawa karbohidrat
yang komplek (polimer) dan pada sel berupa butiran. Secara miroskopis butiran amilum atau
pati dari jenis tumbuhan tertentu berbentuk khas sehingga dapat dijadikan sebagai identitas
tumbuhan tersebul. Untuk melihat adanya amilum digunakan media air.
Berkas pengangkut Merupakan sekelompok jaringan yang terdiri dari floem dan xilem,
dengan atau tanpa kambium.
Endodermis Lapisan sel (biasanya satu lapis) yang membatasi korteks dan siJinder pusat, dan
secara mikroskopis sangat nyata pada struktur akar. Pada dinding radial dan melintangnya,
endodennis mengandung selapis suberin yang dikenal sebagai pita kaspari . Pada batang, telah
dibuktikan bahwa bagian korteks terdalam batang memiliki sifat kimiawi dan tisiologi yang
serupa dengan endodermis, walaupun seC31-a morfologi tidak terlihat.
Endokarp Jaringan yang paling dalam dari peri karp.
Endosperm Salah satu bagian biji di samping embrio dan kulit biji yang berfungsi sebagai
tempat cadangan makanan seperti patio

11 I
Epidermis Jaringan yang membentuk lapisan penutup di permukaan tumbuhan . Secara
mikroskopis sebagian besar bentuk selnya beragam dan untuk tumbuhan tertentu berbentuk
khas sehingga dapat digunakan sebagai identitas. Pada epidermis dapat juga ditemukan seI
penlltup stomata, berbagai rambut, sel sekresi dan sel sklerenkim. Sifat khas dari epidermis
bagian tumbuhan di atas tanah terdapat Iapisan kutikula pada dinding luar dan kutinisasi yang
teljadi pada sebagian atau seluruh dinding lainnya.
Epikarp (eksokarp/kulit luar) Jaringan paling luar dari peri karp.
Floem Alat translokasi atau pengangkut zat hara organik hasil fotosintesis ke seluruh bagian
lain dari tllmbuhan. Seeara mikroskopis floem terdiri dari sel tapis dan komponen pembuluh
tapis disertai seI pengantar. Oi samping itu terdapat pula parenkim, parenkim jari-jari
empulur, serat dan sklereid floem . Bentuk seI-seI floem jenis tllmbuhan telientu dapat
dijadikan sebagai identitas tumbuhan tersebut.
Jdioblas Sel yang memiliki isi yang berbeda dari sel sekelilingnya, misalnya mengandung
enzim, minyak, Iendir dan harsa.
Jaringan palisade atau jaringan liang Salah satu jaringan yang ada pada mesofil daun, selnya
lebih kompak, berbentuk memanjang tegak lurus terhadap permukaan helai daun, langsung di
bawah epidermis atas.
Jaringan sekresi Kumpulan sel khas yang tersebar, melipllti sel sekresi, ruang atau rongga
sekresi, saluran sekresi dan latisifer.
Kolenkim Jaringan hidup yang erat hubungannya dengan parenkim, dan sebagai penyokong
dalam organ yang muda, terdiri atas sel-sel dengan dinding yang biasanya menebal tidak
sama. Kolenkim tersusun sebagai berkas atau silinder dekat permukaan kortek pada batang,
tangkai daun dan sepanjang tulang daun besar pada helai daun. Kolenkim jarang ditemukan
pada akar.
Korleks Jaringan yang terletak antara epidermis dan silinder pusat (silinder ikatan pembuluh)
pada batang dan antara epidermis dan endodemis pada akar. Sebagian besar korteks berisi sel-
sel parenkim.
Kristal kafsium oksafal Salah satu zat ergastik berupa kristal yang umum ditemllkan pada
tumbuhan. Berbagai bentuk kristal seperti drus yaitu kristal prisma dengan ujung yang
runeing. Kristal ini dapat digunakan sebagai identitas tumbuhan. Kristal lain yang dapat
ditemukan adalah kalsium karbonat dan kalsium malat, walallpun jarang.
Kutikula Lapisan Jilin/malam/wax pada permukaan epidermis dari bagian tllmbuhan yang
terletak di atas tanah.
Lilosis Sel yang mengandung sistolit yaitu penumpukan kalsium nitrat atau kalsium oksalat di
ujllng struktur tangkai. Tangkai berupa tonjolan dari dinding ke arah daJam sel. Litosis atau
sistolit dapat dijadikan sebagai identitas tumbuhan tertentu.
Mesofif Bagian utama helai daun yang banyak mengandung kloroplas dan ruang antar sei.
MesofiI terdiri dari jaringan tiang (palisade) dan jaringan spon (bunga karang). Jaringan tiang
lebih kompak, sedangkan jaringan spon memiliki ruang antar seI yang luas. Jaringan tiang
bentuknya memanjang tegak lurus terhadap permukaan helai daun.
Mesokarp (daging buah) Bagian dari perikarp yang terJetak an tara epikarp dan endokarp.
Parenkim Jaringan sinambung dalam korteks akar, batang dan mesofil daun, jari-jari empulur
dan jaringan pembuluh. Sel parenkim bentuknya beragam, sering kali bersegi banyak.

112
Fungsinya antara lain dalam fotosintesis, penyimpanan bahan . Parenkim dapat juga
membentuk struktur tambahan seperti jaringan sekresi.
Periderm Jaringan komplek yang terdiri dari jaringan gabus ataufelem, kambium gabus atau
felogen danfeloderm (sel hidup yang dibentuk felogen ke arah dalam). Felogen terletak dekat
permukaan bagian bawah epidermis atau pada epidermis itu sendiri. Felogen membentuk
f elem (jaringan gabus) ke arah luar.
Perikarp Dikenal juga sebagai dinding buah atau kulit buah, yang secara struktur terdiri dari
eksokarp (epikarp), mesokarp dan endokarp .
Peris ike/ Perikambium yang terletak dj sebelah dalam endoderm is, bagian terluar dari silinder
pusat dan terdiri atas beberapa lapisan sel yang berbatasan dengan berkas pengangkut sering
merupakan identitas karena pembentukan sklerenkim.
Perisperm Jaringan yang mengandung persediaan makanan dan dibentuk di luar kantung
embrio .
Rambut ke/enjar Merupakan modifikasi epidermis dan berupa sel sekresi yang kandungan
utamanya minyak atsiri. Rambut kelenjar bentuknya bermacam-macam dan dapat dijadikan
identitas tumbuhan.
Rambut p enutup Merupakan modifikasi epidermis tapi bukan berupa set sekresi. Banyak
bentuk rambut penutup yang dapat digunakan sebagai identitas tumbuhan.
Rambut sisik Salah satu jenis rambut (trikoma) yang memipih dan bersel banyak, dapat
ditemukan tanpa tangkai (sesil).
Set balU Sel berdinding teba!. Bentuk sel batu dengan macam penebalannya sangat bervariasi
dan digunakan sebagai identitas tumbuhan.
Set gabus Sel dari jaringan gabus atau f e/em. Set berbentuk lempeng, tersusun rapat dan
dindingnya mengandung suberin (zat gabus). Jaringan gabus dapat digunakan sebagai
identitas tumbuhan.
Serabut Sel berbentuk isodiametrik, berdinding tebal dan umumnya berlignin.
Serat Berdasarkan !etaknya dibagi menjadi seral xi/em dan seral ek.stra xi/ern (luar xilem).
Berdasarkan teba! dinding dan jumlah noktah, serat xilem terdiri dari seral /ibriform dan seral
Ira/wid. Serat libriform dindingnya amat tebal dan jumlah noktahnya sedikit.
Sktereid Terdapat pada berbagai bagian tumbuhan, misalnya tempurung kelapa hampir
seluruhnya terdiri dari sklereid. Ada 4 macam sklereid yaitu brakisklereid (sel batu berbentuk
hampir isodiametrik); makrosk/ereid (berbentuk batang sering ditemukan dalam kulit biji) ;
oSleosklereid (berbentuk tulang dengan ujung-ujungnya yang membesar kadang-kadang
sedikit bercabang); asterosklereid (bercabang atau bentuk bintang, sering terdapat pada daun) .
Sk/erenkim Jaringan yang dibentuk oleh sel-set yang mengalami penebalan, dapat
mengandung lignin. Fungsi utamanya sebagai penyokong, kadang-kadang sebagai pelindung.
Secara umum, sklerenkim dibagi menjadi serat (fibres) dan sklereid. Bentuk serat dan atau
sldereid dapat dijadikan identitas tumbuhan .
Spiral Salah satu jenis penebalan dari komponen trakea. Komponen trakea adalah sel yang
membentuk pembuluh kayu . Bentuk penebalan komponen trakea dapat dijadikan sebagai
identitas suatu bagian tumbuhan.
Sloma (stomata) alau mulut daun Merupakan celah dalam epidermis yang dibatasi oleh dua
sel epidermis yakni set p enutup. Dengan mengubah bentuknya , sel penutup mengatur

113
pe\ebaran dan penyempitan celah. Sel stoma dikelilingi oleh set tetangga yang bentuknya bisa
sama atau berbeda. Struktur dan letak set penutup, serta jumlah, ukuran , letak sel tetangga
stoma dapat dijadikan identitas bagian tumbuhan. Stoma terdapat pada seillruh bagian
tumbuhan di atas tanah .
Testa Suatll lap isan sel yang terletak antara perikarp dan endosperm.
Tetes minyak Dapat berupa tetes minyak atsiri dan minyak lemak.
Trakeid Salah satu unsur trakeal (di samping komponen trakea). Merupakan seJ panjang
dengan ujun g runcing tanpa Illbang. Sel komponen trakea memiJiki lubang yang biasanya
terletak pada dinding ujung, kadang-kadang Jubang tersebut terdapat pada dinding lateral.
Tulang daun Bagian helai daun yang berguna untuk pengokoh dan berfungs i sebagai berkas
pengangkut. Pada beberapa tumbuhan; pada tlliang daun ditemukan kristal-kristal yang dapat
digunakan sebagai identitas daun tersebut.
Xi/em Dari segi struktur dan fungsi adalah jaringan komplek. Berfungsi dalam pengangkutan
air, penyimpanan makanan, serta penyokong. Sel-sel pengangkut air dikenal sebagai trakeid
dan trakea .

114
PEREAKSI, LARUTAN PEREAKSI DAN
LARUTAN PENAMPAK BERCAK
PEREAKSI DAN LARUTAN PEREAKSI

P = Pereaksi LP = Larutan Pereaksi

Air H2 0 Air yang dimurnikan yang diperoleh dengan destilasi, perlakuan penukar ion,
osmosis balik atau proses lain yang sesuai.
Aluminium klorida 6H 2 0 P AICI J .6H 20 pereaksi, mengandung tidak kurang dari 98,0%
AICb.6H 20
Amonia pekat P Amonium Hidroksida P, Larutan NH J 25 % (13,5 M), murni pereaksi.
Amonia LP Encerkan 400 mL Amonia Pekat P dengan air hingga 1000 mL. Larutan
mengandung antara 9,5% dan 10,5% NH J .
Anisaldehida P 4-Metoksibensaldehida, CH]O.C 6 H4 CHO, murni pereaksi.
Asam asetat P C2 H4 0 2 , murni peraksi, mengandung tidak kurang dari 32,5% dan tidak lebih
dari 33,5% C2 H4 0 2 .
Asam asetat encer LP mengandung tidak kurang dari 5,7% dan tidak lebih dari 6,3%
C2H4 0 2 , dibuat dari asam asetat P.
Asam asetat glasial P C 2 H4 0 2 , murni pereaksi, mengandung tidak kurang dari 99,5% dan
tidak lebih dari 100,5% C2H40 2 .
Asam format P HC0 2 H, murni pereaksi, mengandung tidak kurang dari 90,0% CH 20 2 .
Asam indigo sulfonat LP Larutkan 1 g indigo karmin P dalam 25 mL asam sulfat P,
tambahkan 25 mL asam sulfat P lagi dan encerkan dengan air secukupnya hingga 1.000 mL.
(pengenceran dilakukan dengan menuangkan larutan ke dalam sebagian besar air, kemudian
encerkan dengan air secukupnya hingga 1.000 mL).
Asam klorida P HCl, murni pereaksi, mengandung lebih kurang 25,0% HCI.
Asam klorida 1 N Larutan HCl, tiap 1.000 mL larutan mengandung 34,46 g HCI. Encerkan
85 mL asam klorida P dengan air hingga 1.000 mL
Asam klorida 0,] N Larutan HCl, Encerkan 100 mL asam klorida j N dengan air hingga
1000 mL.
Asam nitrat P HNO], murni pereaksi, mengandung tidak kurang dari 69,0% dan tidak lebih
dari 71,0% HNO J .
Asam Pencuci Natrium bikromat 200 g, air lOO mL, asam sulfat 1.500 mL. Larutkan Natrium
bikromat dalam air, secara perlahan-Iahan dan hati-hati tambahkan asam sulfat.
Asam sulfat P H2 S0 4 , murni pereaksi, mengandung tidak kurang dari 98,0% H 2S04.
Asam sulfat LP Larutan H2 S0 4, mengandung tidak kurang dari 94,0% dan tidak lebih dari
96,0% H2S04, dibuat dari asam sulfat P.
Asam sulfat encer LP Larutan Asam sulfat 10% yang dibuat dengan cara menambahkan
secara hati-hati 57 mL asam sulfat P ke dalam lebih kurang 100 mL air, dinginkan hingga
suhu kamar dan encerkan dengan air hingga 1.000 mL.
Aseton P (CH]hCO, murni peraksi.
Asetonitril P Metil sianida P, CH]CN, murni pereaksi.

117
Besi(III) klorida P FeCb.6H 20, murni pereaksi.
Bismut nitrat P Bi(N03)J.5H20, murni pereaksi, mengandung tidak kurang dari 98,0%
Bi(N0 3h5H 20.
Butanol P CH 3(CH 2hCH 2 0H, murni pereaksi.
Dietilamina P (C 2HshNH, murni pereaksi, mengandung tidak kurang dari 99,0% (C2HShNH.
Dikloroetan P Etilendiklorida, (CH 2hCI 2 , murni pereaksi.
Diklorometan P Metilendiklorida, (CH3hCb, murni pereaksi.
2,4-Dinitrofenilhidrazin P 2,4-C6H3(N02)2NHNH2, murni pereaksi.
2,4 Dinitrofenilhidrazin 1 % LP Larutkan I g zat dalam 2 mL asam sulfat LP, encerkan
dengan metanol P hingga 100 mL
Etanol P Etil alkohol, C 2H sOH, murni peraksi, 95%.
Etanol 70% LP Encerkan 737 mL etanol P dengan air secukupnya hingga 1.000 mL.
Etanol 90% LP Encerkan 948 mL etanol P dengan air secukupnya hingga 1.000 mL.
Eter P Dietileter, (C2HShO, murni pereaksi.
Eter minyak tanah P Petroleum eter, eter minyak tanah antara 40 sampaJ 60, murnJ
pereaksi.
Etil asetat P CH]COOC 2 Hs, murni pereaksi.
Floroglusinol P C6H3(OH)3.2H20, murni pereaksi.
Floroglusinol LP Larutan floroglusinol P 1% b/v dalam etanol (90%) P.
Heksa-metilen tetramini P (CH2)6N4, murni pereaksi.
Heksa-metilen tetramini LP Larutan heksametilen tetramin 0,5 % b/v.
Heksan P C 6 H14, murni pereaksi.
Iodum LP Larutkan lebih kurang 14 g iodum P dalam larutan 35 g kalium iodida P dalam
100 mL air, tambahkan 3 tetes asam klat'ida P, encerkan dengan air hingga 1.000 mL.
Iodum P T, murni pereaksi.
Iso-propanol P Propan-2-ol, CH3CHOHCH3, murni pereaksi.
Kalium hidroksida P KOH, murni pereaksi, mengandung tidak kurang dari 85,0% alkali
jumlah dihitung sebagai KOH dan tidak lebih dari 4,0% K2C0 3.
Kalium hidroksida 15% LP Larutkan 15 g Kalium hidroksida P dengan air secukupnya
hingga 100 mL.
Kalium iodida P KI, murni pereaksi.
Kloralhidrat P C2H3Cb02, murni pereaksi, mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak
lebih dari 100,5% C2 H3Ch02.
Kloralhidrat LP Larutkan 50 g kloralhidrat P dalam 20 mL air.
Kloroform P CH 3 CI, murni peraksi.
Metanol P Metif alkohol, CH 30H, murni pereaksi.
Natrium hidroksida P NaOH, murni pereaksi.

J 18
Natrium hidroksida 0,1 N Larutkan 4,0 g NaOH dalam air hingga 1000 mL.
Natrium karbonat P Na2CO), murni pereaksi.
Natrium molibdat P, murni pereaksi
Natrium tungstat P, mLlrni pereaksi
Silika gel 60 F254 Mengandung lebih kurang 13% CaS04. Y2 H20 dan lebih kurang 1,5%
indikator fluorosein yang berfluorosensi pada panjang gelombang 254 nm.
Toluen P C(, H5 CH), mumi pereaksi.
Vanilin P CgHgO) , mumi pereaksi, mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari
103,0% CgHxO), dihitung sebagai zat yang telah dikeringkan.

LARUTANPENAMPAKBERCAK

Aluminium klorida LP Larutan Aluminium !clarida 6H2 0 P 5%, dalam etanal P.


Anisaldehida-asam sulfat LP Larutan segar campuran 0,5 mL anisaldehida P, 10 mL asam
asetat glasial P, 85 mL metanal P dan 5 mL asam sulfat P.
Asam sulfat 5% dalam etanol LP Asam sulfat P 5 % dalam etanal P.
Sesi(III) klorida ] % LP Larutan I g Besi(Tll) klorida dalam air hingga 100 mL.
Siru permanen LP Fast Blue Salt B (FBS) reagent, Larutkan 500 mg 3.3' dimetoksibifenil-
4.4' bi s(diazonium)dikloridadalam 100 mL air.
Dragendorff LP Campur 20 mL larutan bismuth subnitrat P 40% b/v dalam asam nitrat P
dengan 50 mL kalium iodida P54 ,4% b/v, diamkan sampai memisah sempurna. Ambillarutan
jernihdan encerkandengan airsecLikupnya hingga 100 mL.
Folin-Ciocalteu Fenol LP Masukkan 100 gnatrium tungstat P, 25 gnatrium molibdatP, 700
mL air, 50 mL asam fosfat Pdan 100 mL asam klorida P, ke dalam labu 1500 mL. Refluks
campuran dengan hatihati selama lebih kurang 10 jam, kemudian tambahkan 150 g litium
sulfat P, 50 mL air,dan beberapa tetes brom P, didihkan campuran, tanpa kondensor, selama
lebih kurang 15 menit, atau hingga kelebihan brom hilang. Dinginkan ,dan encerkan dengan
air hingga 1.000 mL, dan saring. Filtrat tidak memberikan wama kehijauan. Sebelum
digunakanencerkan Ibagianfiltratdan I bagian air.
Kalium hidroksida etanol LP Larutan kalium hidroksida P 11,2% b/v dalam etanol (90%) P
(2N). Larutandibuatsegar.
Kalium hidroksida etanol LP Larutkan lebih kurang 34 g kalium hidroksida P dalam 20 mL
air dan tambahkan etanol bebas aldehida P hingga 1000 mL. Biarkan larutan dalam botol
tertutup rapat selal1la 24 jam. Kemudian enap tuangkan beningan secara cepatke dalam botol
yangsesuai, bertLltup rapat.
Liebermann Sourchard LP Campurkan 5 bagian volume asam sulfat P dengan 50 bagian
volume etonol 95% P. Tambahkan hatihati 5 bagian volume asam asetat anhidrid ke dalam
campuran tersebut,dinginkan.
Sitroborat LP larutkan 5gasom sitrat P dan 5gCtSaln horat P dalam etanol P hingga 100 mL.
Vanilin-asam sulfat LP Larutkan 5 g vanilin P dalam mam sulfat P hingga 100 mL.

119
INDEKS SUPLEMEN II FHI EDISI I

A Asam sulfat P, 117 D


Asam sulfat LP, 117
Abu tidak larllt asam, Asam sulfat 5% dalam Daun bayam duri, 10
penetapan kadar 104 etanol LP, 119 Daun binahong, 19
Abu total, penetapan Asam sulfat encer LP, Daun gandapura, 22
kadar, 104 117 Daun kemuning, 44
Agerati Conyzoidii Aseton P, I 17 Daun senggugu , 68
Herbae, 5 Asetonitril P, 117 Daun sengitan, 72
Agerati Conyzoidi Herbae Daun teh, 86
Extractum Spissum, 8 B Dietilamina P, 118
Air, 117 Dikloroetan P, 118
Air, penetapan kadar, 105 Bes i( III) klorida P, 118 Diklorometan P, 118
Allii Sativi Bulbi Besi(III) klorida 1% LP, Dragendorff LP, I 19
Extractum Spissum, 9 119
Aluminium klorida P, 117 Biru permanen LP, 119 E
Aluminium klorida 6H20 Bismut nitrat P, 118
P, 117 Buah anyang-anyang, I Ekstrak kental buah
Aluminum klorida LP, Buah pisang batll, 59 anyang-anyang, 4
119 Buah separantu, 76 Ekstrak ken tal buah
Amaranthi Spinosi Bunga kecombrang, 40 pisang batu , 62
Folium, 10 Bunga krisan, 49 Ekstrak keotal buah
Amaranthi Spinosi Bunga rosela , 63 seprantu, 79
Folium Extraclllm Butanol P, 118 Ekstrak kental bunga
Spissum, 13 kecombrang, 43
Amonia pekat P, 117 C Ekstrak kental bunga
Amonia LP, 117 krisan, 53
Anisaldehida P, 117 Camelliae Sinensidis Ekstrak ken tal bunga
Anisaldehid-asam sulfat Folium, 85 6 rosela,67
LP,II9 Camelliae Sinensis Folii Ekstrak kental dauo
Anrederae Scandensis Extractum Spissum, 89 bayam duri, 13
Folium, 19 Chrysanthemi Morifolii Ekstrak ken tal daun
Anrederae Scandensis Flos,49 binahong, 21
Folii Extractum Chrysanthemi Morifolii Ekstrak kental daun
Spissum, 21 Flos Extractum gandapura, 25
Asam asetat P, 117 Spissum , 53 Ekstrak kental daun
Asam asetat encer LP, Citri Aurantifoliae kemuning, 48
117 Pericarpium, 36 Ekstrak kental daun
Asam asetat glasial P, 117 Citri Aurantifoliae senggllgu, 71
Asam format P, 1 17 Peri carpi i Extractum Ekstrak kental daun
Asam indigo sulfonat LP, Spissum, 39 sengitan , 7S
117 Clerodendri Serrati Ekstrak ken tal daun teh,
Asam klorida P, 117 Folium, 68 89
Asam klorida 0,1 N, 117 Clerodendronis Serrati Ekstrak ken tal herba
Asam klorida IN LP , 117 Folii Extractum bandotan,8
Asam nitrat P, 117 Spissum, 71 Ekstrak kental herba
Asam pencuci, 117 benalu, 18

120
Ekstrak ken tal herba Heksa-meti!en tetramini Kromatografi lapis tipis,
patikan kebo, 58 LP,118 979
Ekstrak kental herba Heksan P, 118 Kulit batangjamblang, 31
sidaguri, 85 Herba bandotan, 5 Kulit buahjeruk nipis, 36
Ekstrak kental kulit Herba benalu, 14
batang jamblang, 35 Herba patikan kebo, 54 L
Ekstrak kental kulit buah Herba sidaguri , 81
jeruk nipis, 39 Hibisci Sabdariffae F1os, 63 Larutan penampak
Ekstrak kental rambllt Hibisci Sabdariffae Flos bercak, 119
jagung,30 Extractum Spissllm, 67 Liebermann-burchard LP,
Ekstrak kental umbi lapis 119
bawang putih, 9 I
Elaeocarpi Grandiflori M
Fructus, I fodum LP, 118
Elaeocarpi Grandiflori Iodum P, 118 MetanolP, 118
Fructus Extractum Iso-propanol , 1 18 Minyak atsiri , penetapan
Spissum,4 kadar, 103
EtanolP, 118 J Murrayae Paniculatae
Etanol 70% LP, 118 Folium, 44
Etanol 90% LP, 118 K Murrayae Paniculatae
Eter P, 118 Folii Extractum
Eter minyak tanah P, I 18 Kadar abu tidak larut Spissum, 48
Eti! asetat P, 118 asam, penetapan, 104 Musae Balbisianae
Euphorbiae Hirtae Kadar abu total, Fructus, 59
Herba, 54 penetapan, 104 Musae Balbisianae
Euphorbiae Hirtae Herbae Kadar air, penetapan , 105 Fructus Extractum
Extractum Spissllm, 58 Kadar fenol total, Spissum,62
penetapan kadar, I 10
F Kadar flavonoid total, N
penetapan, 108
Fenol total, penetapan Kadar minyak atsiri, Natrium hidroksida P, 118
kadar, 110 penetapan , 103 Natrium hidroksida 0,1 N,
Flavonoid total, Kadar sari larut air, 118
penetapan kadar, 108 penetapan, 106 Natrium karbonat P, 119
Folin-Ciocateau fenol LP, Kadar sari Jarut etanol , Natrium molibdat P, 119
119 penetapan, 106 Natrium tungstat P, 119
Kalium hidroksida P, 118 Nicolaiae Speciosae Flos,
G Kalium hidroksida 15% 40
Gaultheriae LP,118 Nicolaiae Speciosae Flos
Fragrantissimae Folium, Kalium hidroksida etanol Extractum Spissum, 43
22 LP, 119
Ga u I theriae Kalium iodida P, 118 0
Fragrantissimae Folii Ketentuan umum, xxi
Extractllm Spissum, 25 Kloralhidrat P, 118 P
Kloralhidrat LP, 118
H Kloroform P, 118 Pembanding farmakope
Kromatografi, 98 herbal indonesia, 93
Heksa-metilen tetramini Kromatografi cair kinerja Pembuatan ekstrak, 110
P,118 tinggi, 101

121
Pembuatan larutan uji R Susut pengeringan,
simplisia, II I penetapan , 106
Pembuatan serbuk Rambutjagung,26 Syzygii Cumini Cortex,
simplisia, 110 31
Pencucian peralatan kaca , S Syzygii Cumini Cortex
108 Extractum Spissum, 35
Penetapan kadar abu tidak Sambuci lavanicae
larut asam, 104 Folium, 72 T
Penetapan kadar abu total, Sambuci lavanicae Folii
104 Extractum Spissum, 75 Termometer, 95
Penetapan kadar air, 105 Sari larut air, penetapan Timbangan, 935
Penetapan kadar fenol kadar, 106 Toluen P, 119
total, 110 Sari larut etanol,
Penetapan kadar penetapan kadar, 106 U
flavonoid total , 108 Scurrulae Atropurpureae
Penetapan kadar minyak Herbae, 14 V
atsiri, 103 Scurrulae Atropllrpureae Vanilin P, 119
Penetapan kadar sari larut Herbae Ex tractum Vanilin-asam sulfat LP ,
air, 106 Spissum, 18 119
Penetapan kadar sari Senyawa id entitas , 93
larutan etanol , 106 Sidae Rhombifoliae W
Penetapan SLlSut Herbae, 81
pengeringan, 106 Sidae Rhombifoliae X
Pengayak dan derajat Herbae Extractum
halus serbuk, 107 Spissum,85 Y
Pengujian mikroskopik, Silika gel 60 F254 , 116
III Sindorae Sumatranae Z
Peralatan volumetrik, 94 Fructus, 76 Zeae Maydis Stigmae, 26
Pereaksi dan larutan Sindorae Sumatranae Zeae Maydis Stigmae
pereaksi, I 17 Fructus Extractum Extractum Spissum, 30
Spissum,79
Q Sitroborat LP, 119
Spektrofotometri,95

122