Anda di halaman 1dari 2

KERANGKA ACUAN

DETEKSI DINI KESEHATAN JIWA DAN NAPZA


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TERARA TAHUN 2016

A. Latar Belakang
Masalah kesehatan jiwa masyarakat dewasa ini semakin meningkat, yaitu dengan
semakin meningkatnya tindak kekerasan, tingginya kenakalan remaja, meningkatnya
penyalahgunaan NAPZA, meningkatnya tawuran dan pengangguran merupakan indikasi
keadaan masyarakat yang sakit.
Gangguan jiwa dan perilaku menurut The World Health Report 2001 dialami kira
kira 25% dari seluruh penduduk pada suatu masa dari hidupnya. Sekitar 30% dari seluruh
penderita yang dilayani dokter di pelayanan kesehatan primer (puskesmas) adalah penderita
yang mengalami masalah kesehatan jiwa. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2007
(Riskesdas), 11,6% untuk gangguan mental emosional diatas 15 thun dan 0,46% untuk
gangguan jiwa berat.
Akan tetapi tidak selamanya orang yang berobat ke Rumh Sakit Jiwa (RSJ) menderita
gangguan jiwa. Sebab dalam gangguan jiwa ada beberapa fase yang perlu diketahui
masyarakat. Dengan demikian, peran puskesmas sangat besar dalam melakukan penapisan
atau deteksi dini terhadap pasien gangguan jiwa sebelum dirujuk ke RSJ.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan jiwa
sehingga status kesehatan jiwa masyarakat meningkat.
2. Tujuan Khusus
a. Terpaparnya informasi kesehatan jiwa dan deteksi dini gangguan jiwa kepada tenaga
puskesmas sehingga puskesmas dapat memberikan pelayanan kesehatan jiwa dan
deteksi dini gangguan jiwa masyarakat.
b. Terpaparnya informasi kesehatan jiwa kepada kader kesehatan, tokoh masyarakat,
tokoh agama, aparat desa dan kelompok beresiko agar terbangun pandangan dan sikap
yang positif.
c. Terbangunnya sistem rujukan yang baik sehingga pelayanan kesehatan jiwa dapat
berkesinambungan.
C. Rincian Kegiatan
1. Pendataan penderita gangguan jiwa diseluruh dusun di Kecamatan Terara.
2. Pengobatan pasien dengan gangguan jiwa yang masih bisa dilakukan di fasilitas kesehatan
tingkat puskesmas.
3. Rujukan pasien dengan gangguan jiwa berat ke Rumah Sakit.
4. Penyuluhan kesehatan jiwa di posyandu, sekolah, puskesmas dan sebagainya.
5. Penyuluhan kesehatan jiwa dan bahaya penyalahgunaan NAPZA di sekolah SMP dan
SMA.
D. Sasaran
1. Terkumpulnya data penderita gangguan jiwa dari seluruh wilayah kerja Puskesmas Terara.
2. Terlaksananya upaya kuratif pengobatan pasien dengan gangguan jiwa yang masih bisa
diterapi di tingkat Puskesmas Terara.
3. Berjalannya sistem rujukan dan rujukan balik pasien dengan gangguan jiwa berat.
4. Meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai gangguan jiwa dalam hal ini masyarakat
mampu mengendalikan resiko dan faktor pemicu gangguan jiwa, masayarakat dalam
lingkup kecil yaitu keluarga juga diharapkan peka dalam membantu memfasilitasi pasien
penderita gangguan jiwa untuk mendapatkan pengobatan rutin.
5. Diharapkan tingkat penggunaan NAPZA, rokok dan sebagainya di kalangan remaja SMP
dan SMA di seluruh wilayah kerja Puskesmas Terara.
E. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan pada setiap bulan Mei.
F. Pelaksanaan Kegiatan
1. Pendataan penderita gangguan jiwa dilakukan dengan cara pendataan dimana pemegang
program turun ke lapangan dan akan dibantu oleh perangkat desa diantaranya kepala
dusun, kepala RT dan RW untuk menunjukkan keluarga dengan penderita gangguan jiwa.
2. Upaya kuratif penanganan penderita gangguan jiwa akan dilaksanakan berintegrasi
dengan pelayanan medis serta penyediaan obat obatan psikofarmaka yang standar sesuai
dengan kapasitas puskesmas.
3. Dibentuk sistem rujukan pasien dengan gangguan jiwa ke fasilitas kesehatan lebih lanjut
untuk pasien gangguan jiwa berat yang tidak dapat dilayani di puskesmas.
4. Penyuluhan kesehatan jiwa akan diberikan pada masyarakat melalui penyuluhan
posyandu, sekolah, penyuluhan di puskesmas, pembuatan leaflet dan poster mengenai
penyakit gangguan jiwa.
5. Penyuluhan mengenai bahaya penyalahgunaan NAPZA pada anak sekolah SMP dan SMA
di wilayah kerja Puskesmas Terara
G. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan dan Pelaporan