Anda di halaman 1dari 15

Kretin Endemik pada Daerah dengan Gangguan Akibat

Kekurangan Yodium
F1

102013003 Margaretha Himawan

102013027 Reinhar Rusli

102013052 Selvi Gunawan

102013215 Nabilla Chusnah

102013253 Yovan Mas Agustias

102013287 Evialy Hady

10201375 Bryan Jeremiah Fiady Simanjuntak

102013386 Eldiana Lepa

102013487 Marliani Hanifah Binti Mahmud

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Terusan Arjuna No. 6, Jakarta Barat.
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
Pendahuluan
Masalah kekurangan yodium sesungguhnya telah mendunia dan bukan hanya masalah
gangguan gizi di Indonesia. Berdasarkan tafsiran WHO dan UNICEF, sekitar 1 juta penduduk di
negara yang berkembang beresiko mengalami kekurangan yodium. Salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang dapat menghambat peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia adalah
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) adalah sekumpulan gejala yang timbul,
karena tubuh seseorang kekurangan unsur yodium terus menerus dalam jangka waktu cukup
lama, hingga sekarang masih merupakan masalah gizi di Indonesia. GAKY dapat terjadi baik
perempuan, pria, anak-anak, dewasa maupun orangtua yang tinggal di daerah kekurangan
yodium. Yodium merupakan unsur pokok dalam pembentukan hormon tiroid, maka adanya
persediaan unsur ini yang cukup dan terus menerus merupkan suatu keharusan. Faktor
kandungan yodium lahan setempat sangat penting, khususnya bagi daerah terpencil di mana
penduduknya hanya makan makanan yang berasal dari produksi setempat yang lahannya rendah
kandungan yodiumnya.

Secara epidemiologi kebutuhan yodium per orang per hari hanya 1-2 mikrogram per
kilogram berat badan. Apabila tidak terpenuhi secara kontinyu dan berlangsung lama akan
menimbulkan gondok. Gondok dikatakan endemik apabila lebih dari 5% penduduk atau anak
sekolah berusia 6-12 tahun menderita gondok.
Selain karena kurang yodium, masalah GAKY juga disebabkan oleh beberapa faktor
seperti faktor geografi faktor lingkungan : goitrogen, cemaran limbah pabrik seperti Pb dan Hg,
faktor unsur kelumit (trace element) dan faktor Gizi (Kekurangan Energi Protein dan Kurang
Vitamin A).

Anamnesis
Pada pasien dengan pasien dengan GAKY dilakukan anamnesis seperti biasa yakni
diawali dengan menanyakan keluhan utama lalu ditanyakan di mana lokasi benjolan, sejak kapan
mengalami kejadian seperti ini, sudah berapa lama, keluhan sakitnya ringan, berat, kualitas
sakitnya seperti apa, apakah menganggu jalan napas, menganggu menelan, bila ditekan benjolan
bisa bergerak dan lunak, atau apakah keras dan tidak bisa digerakkan.
Apakah keluhan utama disertai dengan keluhan lainnya seperti banyak berkeringat,
mudah mengalami kelelahan, jantung berdebar, konsentrasi menurun, jika /ada wanita biasanya
terdapat menstruasi yang lebih sering, tidak tahan terhadap suhu dingin, kenaikan berat badan
yang tidak diketahui penyebabnya, sembelit, otot mudah keram, pada wanita hamil sering
mengalami keguguran. Pada riwayat penyakit dahulu dapat ditanyakan apakah pasien pada
waktu bayi lahir pernah dilakukan tes hipotiroid, lahir dengan prematur atau tidak, pasien pernah
ada riwayat tindakan bedah di leher. Pada wanita hamil ditanyakan apakah ada riwayat bayi yang
lahir beberapa saat kemudian meninggal ataupun riwayat keguguran. Pada riwayat penyakit
keluarga ditanyakan apakah ada salah satu anggota keluarga yang bertubuh cebol, mengalami
hipotiroid, lahir dengan retardasi mental, tuli, bisu atau cacat bawaan lainnya, atau kah pernah
mengalami keguguran saat hamil.
Pada riwayat obat-obatan, apakah sebelumnya pernah mendapat penyinaran dengan
Yodium, atau pernah mendapat obat-obatan yang mengandung hormon tiroid ataupun obat anti
tiroid (karbimazol,metimazol,propiltiourasil).
Pada riwayat ekonomi dan sosial, ditanyakan apakah pasien tinggal di daerah
pegunungan yang di mana terjadi pengikisan yodium di tanah oleh air, tanyakan apakah pasien
suka mengkonsumsi umbi-umbian, penggunaan garam tidak beryodium, pada dataran rendah
apakah terpapar pestisida misalnya adanya logam berat, menjadi blocking agent, menghambat
pemanfaatan yodium oleh kelenjar tiroid)

Pemeriksaan Fisik
Pada inspeksi posisikan kepala pasien agak kebelakang, dan dengan menggunakan
pencahayaan tangensial yang ditujukan langsung ke arah dagu pasien, pasien diminta menekuk
kepala ke belakang sedikit, periksa daerah bawah kartilago krikoid untuk melihat kelenjar tiroid,
kemudian pasien diminta untuk menelan (misalnya dengan memberi air minum). Kemudian
perhatikan dengan seksama gerakan ke atas dari kelenjar tiroid saat menelan tadi, serta
perhatikan bentuk dan simetris atau tidaknya kelenjar tiroid tadi. Pada saat menelan tadi,
kartilago tiroid, kartilago krikoid dan kelenjar tiroid akan terlihat naik, kemudaian kembali turun
ke tempat asalnya.1
Palpasi, pasien diminta untuk menundukan kepalanya sedikit dengan tujuan untuk
merelaksasi otot sternomastoid. Jari kedua tangan pemeriksa diletakkan tepat di bawah kartilago
krikoid, pasien diminta untuk meneguk air dan menelannya seperti pada pemeriksaan inspeksi,
lalu pemeriksa merasakan ismus tiroid naik pada telapak jari-jari.
Geser trakea ke arah kanan dengan jari-jari tangan kiri, lalu dengan jari-jari tangan kanan
pemeriksa meraba bagian lateral untuk menemukan lobus kanan kelenjar tiroid pada celah/ruang
antara trakea yang tergeser tadi dengan otot sternomastoid, dan temukan lateralnya (lateral
margin). Pemeriksaan melakukan hal yang sama untuk menemukan lobus kiri, perhatikan
ukuruan, bentuk dan konsistensi dari kelenjar tiroid dan temukan adanya nodus atau nyeri.
Ukuran tiroid dengan palpasi (meraba kelenjar tiroid). Pengukuran dengan palpasi telah
memiliki teknik standar untuk mengukur endemic gondok. Klasifikasi gondok yang
disederhanakan:
a. Grade 0 : tidak teraba dan tidak terlihat
b. Grade 1 : teraba pada posisi leher tengadah tapi tidak terlihat pada posisi normal
c. Grade 2 : terlihat pada posisi normal
Auskultasi, bila kelenjar tiroid membesar, dengan stetoskop yang diletakkan diatas lokasi
kelenjar tiroid dapat terdengar adanya bruit, yaitu bunyi sejenis yang terdengar pada murmur
jantung. Bruit dapat sinkron dengan sistolik atau diastolik atau terus-menerus (continous)
mungkin dapat terdengar pada penyakit hipertiroidisme. Bayi hipotiroid kongenital dapat
menunjukkan gejala letargi, ikterus, konstipasi, sering tersedak, kulit teraba dingin, tangisan
serak, kulit kering, perut buncit, hernia umbilikalis, hipotonia, fontanel posterior melebar, lidah
besar, edema, refleks lambat, dan goiter.
Antropometri anak meliputii pengukuran berat badan, tinggi badan (panjang badan),
lingkar kepala dan lingkar lengan atas. Pengukuran tinggi badan dapat dilakukan dengan sangat
mudah dalam menilai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pemeriksaaan Penunjang
Berat ringannya endemik disamping dengan prevalensi dapat juga dengan memeriksa
ekskresi yodium urin (EYU) atau Urinary Excretion of Yodium (UEI). Dalam keadaan seimbang
yodium yang masuk tubuh dianggap sama dengan yang dieksresikan lewat urin. Jadi
pemeriksaan urin dianggap menggambarkan asupan yodium.
Data yang dimaksudkan dinyatakan dalam; jumlah mikrogram ekskresi yodium dalam
sehari (mikrogram yodium/24 jam urin) atau karena sulit mengumpulkan sampel urin 24 jam di
pelaksaannya maka dinyatakan dalam mikrogram yodium per gram kreatinin urin sewaktu
(mikrogram yodium/gram Kreatinin urin) atau mikrogram/dL urin sewaktu.
Menurut Djokomoejanto gondok endemik terbagi dalam 3 grade; Endemik Grade I
(ringan) dengan nilai median eksresi yodium urin > 50 mikrogram yodium/ gram kreatinin, atau
median urin antara 5,0-9,9 mikrogram/dl. Dalam keadaan ini kebutuhan hormon tiroid untuk
pertumbuhan fisik maupun mental terpenuhi. Prevalensi gondok pada anak sekolah 5-20%.3
Endemik Grade II (sedang) endemik dimana nilai median ekskresi yodium urin antara 25-
50 mikrogram yodium/g kretinin, atau median antara 2,0-4,9 mikrogram/dL. Hormon tiroid
mungkin tidak mencukupi. Ada risiko hipotiroidisme tetapi tidak terlihat kretin endemik yang
jelas. Prevalensi gondok anak sekolah sampai 30%.3
Endemik Grade III (berat) endemik dengan nilai median ekskresi yodium urin<25
mikrogram yodium/g kreatinin atau < 2 mikrogram/dL. Terjadi resiko sangat tinggi untuk
lahirnya kretin endemik dengan segala akibatnya. Prevalensi gondok anak sekolah >30%,
prevalensi kretin endemik dapat mencapai 1-10%.3
Status nutrisi yodium (berdasarkan UEI anak usia sekolah) memberikan indikasi untuk
berbagai kelainan dan diharapkan mampu memberi ramalan dan interpretasinya.

Tabel 1. Nutrisi Yodium Berdasarkan UEI (sumber WHO 2007).3


Median UEI Asupan Yodium Status
g/L
<20 Tak mencukupi Defisiensi yodium berat
20-49 Tak mencukupi Defisiensi yodium sedang
50-99 Tak mencukupi Defisiensi yodium ringan
100-199 Cukup Optimal
200-299 Lebih dari cukup Ada risiko Iodine induced hyperthyroidisme dalam
kurun waktu 5-10 tahun sesudah pemberian garam
beryodium pada kelompok yang rawan
>300 berlebihan Ada risiko kesehatan yang tidak menguntungkan (IIH,
autoimmune thyroid disease)
Gejala dan Tanda
Survei epidemiologis untuk gondok endemik biasanya didasarkan atas besarnya kelenjar
tiroid dengan metoda palpasi; grade 0 tidak terlihat atau teraba gondok; grade 1 gondok teraba
tetapi tidak terlihat apabila dalam posisi normal (tiroid tak terlihat membesar). Apabila ada nodul
tetap masuk dalam grade ini, meskipun secara keseluruhan tidak membesar; grade 2
pembengkakan di leher yang jelas terlihat dalam posisi normal, dalam palpasi trioid memang
membesar (membesar bila ukurannya lebih dari volum falangs terminal terakhir ibu jari yang
diperiksa).
Defisiensi Yodium ditandai oleh berbagai gambaran klinik, yang semuanya disebut
Iodium Deficiency Desease (IDD) atau Gangguan Akibat Kurang Iodium, ialah gondok
endemik, dan kretin yang terdiri atas kretin neurologik dan kretin myxoedema.
Gondok endemik ditandai oleh pembesaran kelenjar gondok. Di daerah Gondok Endemik
terdapat sejumlah anggota masyarakat yang memperlihatkan pembesaran kelenjar gondok pada
berbagai tingkat.Kretin Myxoedema ditandai oleh kondisi oedema yang tidak mencekung pada
tekanan dengan jari seperti halnya oedema biasa.2
Kretin Neurologik menunjukkan gejala menonjol, tinggi badan dibawah orang normal
(cebol). Kondisi ini disertai berbagai tingkat keterlambatan perkembangan jiwa dan kecerdesan,
dari hambatan jiwa yang ringan sampai yang sangat berat yang disebut debilitas. Ekspresi muka
seorang Kretin memberikan kesan orang bodoh, dan pada pemeriksaan tingkat kecerdasan (IQ)
ternyata tertinggal. Mulut penderita ternganga dan memperlihatkan lidahnya seperti yang terlalu
besar untuk rongga mulutnya. 2
Terjadinya kretin endemik disebabkan oleh karena kekurangan yodium selama kehamilan
dan pada saat setelah kelahiran 2 type kretin: type nervosa, type ini terjadi akibat hypothyroid
pada ibu selama kehamilan. Kerusakan pada susunan saraf pusat : retadasi mental, gangguan
pendengaran, kerusakan batang otak, retardasi neuromotorik, tidak ditemui tanda-tanda goiter
dan hipotiroid pada anak
Type Myxodematosa, terjadi akibat defisiensi yodium dan disertai hipotiroid fetus selama
dalam kandungan atau pada masa neonatus, dan ditemukan goiter pada anak. Tampak tanda-
tanda hipotiroid: gangguan pertumbuhan, myxodematosa, rambut kering dan kasar, tonus otot
lembek, penimbunan lemak di pangkal leher, perut buncit, dapat terjadi hernia umbilicalis.
Kebutuhan Yodium Manusia
Untuk memenuhi kecukupan yodium sebaiknya di dalam menu sehari-hari sertakan
bahan-bahan pangan yang berasal dari laut. Kebutuhan yodium perhari sekitar 1-2 mikrogram
per kg berat badan. Kecukupan yang dianjurkan sekitar 40-120 mikrogram/ hari untuk anak
sampai umur 10 tahun, 150 mikrogram/ hari untuk orang dewasa. Untuk wanita hamil dan
menyusui dianjurkan tambahan masing-masing 25 mikrogram dan 50 mikrogram/ hari.

Gambar 1. Asupan Yodium yang Dibutuhkan Manusia.4

Diagnogsis
Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) adalah rangkaian efek kekurangan
yodium pada tumbuh kembang manusia. Spektrum seluruhnya terdiri dari gondok dalam
berbagai stadium, kretin endemik yang ditandai terutama oleh gangguan mental, gangguan
pendengaran, gangguan pertumbuhan pada anak dan orang dewasa.5
Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) juga merupakan defisiensi yodium yang
berlangsung lama akibat dari pola konsumsi pangan yang kurang mengkonsumsi yodium
sehingga akan mengganggu fungsi kelenjar tiroid, yang secara perlahan menyebabkan kelenjar
membesar sehingga menyebabkan gondok.
Yodium sendiri adalah adalah sejenis mineral yang terdapat di alam, baik di tanah
maupun di air, merupakan zat gizi mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan
mahluk hidup. Dalam tubuh manusia yodium diperlukan untuk membentuk hormon tiroksin yang
berfungsi untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan termasuk kecerdasan mulai dari janin
sampai dewasa.
Defisiensi yodium akan menguras cadangan yodium serta mengurangi produksi
tetraiodotironin/T4. Penurunan kadar T4 dalam darah memicu sekresi Thyroid Stimulating
Hormon (TSH) yang selanjutnya menyebabkan kelenjar tiroid bekerja lebih giat sehingga
fisiknya kemudian membesar (hiperplasi). Pada saat ini efisiensi pemompaan yodium bertambah
yang dibarengi dengan percepatan pemecahan yodium dalam kelenjar.
Adapun pengertian dari gondok, endemik dan kretin adalah suatu istilah yang digunakan
untuk menyatakan pembesaran kelenjar tiroid; Gondok endemik, bukan penyakit melainkan
suatu istilah kesehatan dalam konsep kesehatan masyarakat yaitu apabila dalam masyarakat
terdapat prevalensi gondok / atau penderita gondok di masyarakat itu lebih dari 10 % dari jumlah
penduduk setempat, maka daerah tersebut disebut daerah gondok endemik. Seseorang disebut
kretin endemik apabila lahir di daerah gondok endemik. Kretin endemik merupakan akibat
defisiensi yodium berat pada masa fetal, merupakan indikator klinik yang penting bagi GAKY.
Umumnya terjadi pada daerah dengan defisiensi yodium berat dengan UIE < 25 ug/L. Prevalensi
pada daerah endemik berat 1-15%.
Syarat pokok dalam definisi kretin endemik secara epidemiologi; berhubungan dengan
gondok endemik dan defisiensi yodium berat. Kelainan kretin terjadi pada waktu bayi dalam usia
kandungan atau tidak lama setelah dilahirkan dan terdiri atas kerusakan pada saraf pusat dan
hipotiroidisme. 5
Secara klinis kerusakan saraf pusat bermanifestasi dengan : retardasi mental,gangguan
pendengaran sampai bisu tuli, gangguan neuromotor seperti gangguan bicara, cara berjalan yang
aneh. Hipotiroidi dengan gejala : miksedema pada hipotiroidisme berat; tinggi badan yang
kurang, cebol (Stunted Growth) dan osifikasi yang terlambat, pada pemeriksaan darah ditemukan
kadar hormon tiroid yang rendah

Etiologi
Kekurangan yodium pada masa kehamilan dan awal kehidupan menyebabkan
perkembangan otak terhambat. Titik paling kritis GAKY adalah trimester ke-2 kehamilan sampai
dengan 3 tahun setelah lahir. GAKY merupakan salah satu penyebab kerusakan otak yang dapat
dicegah.
Lokasi (Geografis dan non geografis), faktor lokasi dapat berpengaruh terhadap kejadian
GAKY, hal ini disebabkan kandungan yodium yang berbeda di setiap daerah. Penderita GAKY
secara umum banyak ditemukan di daerah perbukitan atau dataran tinggi, karena yodium yang
berada dilapisan tanah paling atas terkikis oleh banjir atau hujan dan berakibat tumbuh-
tumbuhan, hewan dan air di wilayah ini mengandung yodium rendah bahkan tidak ada.
Asupan energi dan protein, gangguan akibat kekurangan yodium secara tidak langsung
dapat disebabkan oleh asupan energi yang rendah, karena kebutuha energi diambil dari asupan
protein. Protein (albumin, globulin, prealbumin) merupakan alat transport hormon tiroid. Protein
transport berfungsi mencegah hormon tiroid keluar dari sirkulasi dan sebagai cadangan hormon.
Dengan adanya defisiensi protein dapat berpengaruh terhadap berbagai tahap dalam sintesis
hormon tiroid terutama tahap transportasi hormon.
Pangan goitrogenik, zat goitrogenik adalah senyawa yang dapat mengganggu struktur dan
fungsi hormon tiroid secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung zat goitrogenik
menghambat uptake iodide anorganik oleh kelenjar tiroid. Seperti tiosianat dan isotiosianat
menghambat proses tersebut karena berkompetisi dengan yodium, ada dua jenis zat goitrogenik
yang berasal dari bahan pangan yaitu: Tiosianat tedapat dalam sayuran kubis, kembang kol, sawi,
rebung, ketela rambat dan jewawut, isotiosianat terdapat pada kubis.
Genetik, faktor genetik dalam hal ini merupakan variasi individual terhadap kejadian
GAKY dan mempunyai kecenderungan untuk mengalami gangguan kelenjar tiroid. Faktor
genetik banyak disebabkan karena keabnormalan fungsi faal kelenjar tiroid.

Epidemiologi
Hasil Riskesdas tahun 2007, secara keseluruhan (perkotaan dan pedesaan) rumah tangga yang
mengonsumsi garam mengandung cukup yodium (> 30 ppm) di Indonesia mencapai 62,3%, namun masih
ada rumah tangga yang mengonsumsi garam mengandung yodium kurang sebesar 23,7% dan ada rumah
tangga mengkonsumsi garam yang tidak mengandung yodium sebesar 14,0%. Hal ini sejalan dengan hasil
penilaian status gizi dan keluarga sadar gizi (PSG-Kadarzi) di Kecamatan Sepatan Timur Tahun 2012,
dimana hanya sebesar 67.0% rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium.

Angka kejadian GAKY lebih sering ditemukan di daerah pegunungan, hal ini dikarenakan
komponen tanahnya yang sedikit mengandung yodium. Kandungan yodium yang rendah di pegunungan
disebabkan terjadinya pengikisan yodium oleh air hujan, sehingga hal tersebut menyebabkan pula
kandungan yodium dalam makanan juga sangat rendah. Air tanah, air dari sumber mata air atau air dari
sungai di daerah pegunungan tidak mengandung yodium yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh
manusia, demikian pula halnya dengan ternak serta tanaman yang tumbuh di pegunungan hampir tidak
mengandung yodium sama sekali. Karena sebab itulah maka angka kejadian GAKY lebih sering
ditemukan di daerah pegunungan dibandingkan dengan daerah pantai.
Total Goiter Rate (TGR) adalah angka prevalensi gondok yang dihitung berdasarkan
semua stadium pembesaran kelenjar gondok, baik yang teraba (palpable) maupun yang terlihat
(visible). TGR digunakan untuk menentukan tingkat endemisitas GAKY. Adapun kriteria daerah
endemik yakni, berat TGR > 30%, sedang TGR 20%-29,9%, ringan 5%-19,9%.3
Spektrum masalah GAKY, kelompok rentan yakni; Ibu dampaknya berupa keguguran;
kelompok Janin berupa lahir mati, cacat bawaan, peningkatan mortalitas perinatal, kematian
bayi, kretin neurolgi (keterbelakangan mental, tuli, mata juling, lumpuh spatis), kretin
myxedermatosa, cebol, kelainan fungsi psikomotor; kelompok neonates, rentan terhadap gondok
neonates dan hipotiroid neonates; kelompok anak dan remaja rentan terhadap gondok, gangguan
pertumbuhan fungsi fisik dan mental, dan hipotiroid juvenile.

Dampak yang Ditimbulkan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium


Pada kekurangan yodium, konsentrasi hormon tiroid menurun dan hormon perangsang
tiroid/TSH meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak yodium. Bila
kekurangan berlanjut, sel kelenjar tiroid membesar dalam usaha meningkatkan pengambilan
yodium oleh kelenjar tersebut. Bila pembesaran ini menampak dinamakan gondok sederhana.
Bila terdapat secara meluas di suatu daerah disebut gondok endemik. Gondok dapat
menampakkan diri dalam bentuk gejala yang sangat luas, yaitu dalam bentuk kretinisme (cebol)
di satu sisi dan pembesaran kelenjar tiroid di sisi lain.
Ganong (1979) menyatakan bahwa kekurangan yodium dapat memberikan efek pada
sistem saraf janin dan bayi, dikarenakan hormon tiroid dapat merangsang penggunaan oksigen
dalam otak. Sedangkan efeknya pada pembentukan kalori adalah pada sistem katabolisme
protein yang menyebabkan berat badan menurun dan kelemahan otot.9
Gejala kekurangan yodium adalah malas dan lamban, kelenjar tiroid membesar, pada ibu
hamil dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat bayi
lahir dalam keadaan cacat mental yang permanen serta hambatan pertumbuhan yang disebut
sebagai kretinisme. Seorang anak yang menderita kretinisme mempunyai bentuk tubuh abnormal
dan IQ sekitar 20. Kekurangan yodium pada anak-anak menyebabkan kemampuan belajar yang
rendah.GAKY tidak hanya menyebabkan pembesaran kelenjar gondok tetapi juga berbagai
macam gangguan lain. Kekurangan yodium pada ibu yang sedang hamil dapat menyebabkan
abortus, lahir mati, kelainan bawaan pada bayi, meningkatakan angka kematian prenatal,
melahirkan bayi keratin. Kekurangan yodium yang diderita anak-anak menyebabkan pembesaran
kelenjar gondok, gangguan fungsi mental, dan perkembangan fisik.
Pada orang dewasa berakibat pada pembesaran kelenjar gondok, hipotiroid, dan
gangguan mental. Kekurangan yodium pada tingkat berat dapat mengakibatkan cacat fisik dan
mental, seperti tuli, bisu tuli, pertumbuhan badan terganggu, badan lemah, kecerdasan dan
perkembangan mental terganggu. Akibat yang sangat merugikan adalah lahirnya anak kretin.
Kretin adalah keadaan seseorang yang lahir di daerah endemik dan memiliki dua atau lebih
kelainan-kelainan berikut: perkembangan mental terhambat; pendengaran terganggu dan dapat
menjadi tuli; perkembangan saraf penggerak terhambat, bila berjalan langkahnya khas, mata
juling, gangguan bicara sampai bisu dan refleks fisiologi yang meninggi.3,4

Upaya Penanggulangan GAKY


Mengingat masalah Gaky terutama disebabkan karena lingkungan yang miskin sumber
yodium, maka upaya penanggulangan ditekankan pada suplementasi yodium baik secara oral,
melalui garam beryodium maupun secara parentral melalui preparat yodium dosis tinggi.
Kegiatan GAKY yang dilaksanakan antara lain meliputi; upaya jangka pendek yakni
pemberian kapsul minyak beryodium kepada penduduk wanita umur 0 35 tahun, pria 0 20
tahun sesuai dengan dosis yang telah ditentukan, pemberian ini terutama kepada penduduk di
daerah endemik berat dan sedang;
Upaya jangka panjang, iodisasi garam merupakan kegiatan penanggulangan GAKY
jangka panjang. Program untuk meyodisasi garam konsumsi dimulai tahun 1975, dan
pelaksanaan program mulai tahun 1980 dikelola oleh perindustrian. Tujuan dari program ini
adalah semua garam yang dikonsumsi oleh masyarakat baik yang menderita maupun yang tidak
dan garam beryodium tersedia diseluruh wilayah Indonesia. Kapsul minyak beryodium 200mg
diberikan pada Wanita Usia Subur (WUS) sebanyak 2kapsul/tahun, sedangkan untuk ibu hamil,
ibu menyusui dan anak SD kelas 1-6 sebanyak 1 kapsul/tahun.
Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya dengan KIO3 yang dibutuhkan
tubuh untuk pertumbuhan dan kecerdasan. Garam beryodium yang digunakan sebagai garam
konsumsi harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) antara lain mengandung KIO3
sebesar 30 80 ppm. Konsumsi garam yang dianjurkan untuk setiap orang sekitar 6 gram atau
satu sendok teh setiap hari. Dalam kondisi tertentu, dimana keringat keluar berlebihan dianjurkan
untuk mengkonsumsi garam beryodium dua sendok teh sehari. Cara mengkonsumi garam
biasanya digunakan sebagai garam meja dan penambahan dalam pemasakan, pengaruh
pemasakan terhadap penurunan KIO3 membuktikan bahwa sayuran yang dimasak dengan cara
dikukus, pembubuhan garam dilakukan saat sayuran matang dan wadah ditutup setelah diberi
garam, maka kehilangan iodin dengan cara tersebut disebabkan oleh panas mengingat salah satu
sifat iodin mudah rusak oleh panas.
Garam beryodium yang baik dapat diketahui dengan cara membaca pada label kemasan
garam beryodium. Garam beryodium dikemas dalam plastik, tertutup rapat, tidak bocor dan pada
kemasan harus tertera tulisan garam beryodium. Cara penyimpanan garam beryodium dalam
wadah yang tertutup rapat dan kering, diletakkan di tempat yang sejuk, jauh dari panas api dan
sinar matahari langsung.
Strategi jangka panjang lainnya adalah Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE),
merupakan sebuah strategi pemberdayakan masyarakat dan komponen terkait agar mempunyai
visi dan misi yang sama untuk menanggulangi GAKY melalui kegiatan pemasyarakatan
informasi, advokasi,pendidikan/penyuluhan tentang ancaman GAKY bagi kualitas sumber daya
manusia. Juga terkait pentingnya mengkonsumsi garam beryodium, law enforcement dan social
enforcement, hak memperoleh kapsul beryodium bagi daerah endemik dan penganekaragaman
konsumsi pangan.3
Surveillans, merupakan kegiatan pemantauan yang dilakukan secara berkesinambungan
terhadap beberapa indikator untuk dapat melakukan deteksi dini adanya masalah yang mungkin
timbul agar dapat dilakukan tindakan/intervensi sehingga keadaan lebih buruk dapat dicegah.
Kegunaan surveillans yaitu mengetahui luas dan beratnya masalah pada situasi terakhir,
mengetahui daerah yang harus mendapat prioritas, memperkirakan kebutuhan sumber daya yang
diperlukan untuk intervensi, mengetahui sasaran yang paling
tepat dan mengevaluasi keberhasilan program.5
Target yang harus dicapai dalam program penanggulangan GAKY adalah :90 % rumah
tangga mengkonsumsi garam beryodium cukup (> 30 ppm ). Median Yodium Urine secara rata-
rata provinsi, kabupaten/kota adalah 100-299 ug/l.

Upaya Promotif dan Preventif GAKY


Melalui tingkat pendidikan untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya
mengkonsumsi garam beryodium. Pendidikan merupakan proses pembinaan tingkah laku
sehingga di dalam masyarakat pendidikan harus membimbing kearah kesadaran serta
kepercayaan yang memberikan dorongan motivasi yang sesuai dengan kecakapan yang
diperlukan serta kesempatan untuk berlatih. Pendidikan mempunyai tiga aspek yaitu :
pembentukan kepribadian, pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapan ilmu pengetahuan.4,5
Promosi Penanggulangan GAKY merupakan suatu proses atau upaya untuk
memberdayakan masyarakat atau sasaran sehingga masyarakat atau sasaran di daerah GAKY
meningkat pengetahuannya dan berperilaku positif yaitu mengkonsumsi garam beryodium dan
kapsul minyak beryodium (di daerah endemik sedang dan berat) dalam kehidupan.
Zat goitrogen terdapat pada setiap makanan pokok yang dikonsumsi penduduk setempat
karena situasi lingkungan, seperti singkong dan jenis padi tertentu. Keadaan ini sulit untuk
dianjurkan menghindari makanan tersebut bila makanan sehat alternative yang lain tidak
tersedia, juga sulit untuk memodifikasi sumber air minum untuk menghindari zat goitrogen
dalam air minum tersebut. 3
Yodium dapat diberikan melalui berbagai cara. Tablet yodium atau dalam bentuk lain
bisa diberikan tiap hari atau tiap minggu merupakan tindakan yang tidak praktis. Tindakan yang
penting dapat dikerjakan untuk populasi yang kekurangan yodium adalah; garam beryodium;
larutan minyak beryodium; air minum beryodium dan sebagainya.
Garam beryodium adalah hal yang sangat praktis untuk Negara berkembagn dengan
pabrik garam yang modern. Injeksi minyak beryodium mencukupi kebutuhan yodium untuk
setahun atau lebih. Minyak beryodium juga bisa diberikan per oral. Sumber air minum
beryodium dapat diberikan pada komunitas yang mempunyai sumber air sentral. Penambahan
yodium pada bahan roti dan makanan lainnya yang dikonsumsi secara luas akan sangat efektif
dalam pencegahan penyakit gondok endemik.3
Prosedur seperti ini sudah banyak diekenal di masyarakat secara luas. Untuk
memudahkan pemberian yodium pada masyarakat yang memerlukan pemberian yodium pada
masyarakat yang memerlukan peningkatan spontan asupan yodium sebaiknya meliputi beberapa
faktor. Faktor-faktor tersebut berupa pertumbuhan ekonomi berbagai masyarakat bisa membeli
makanan yang lebih baik tapi juga yang mengandung kaya yodium; komunikasi dan transportasi
yang lebih baik sehingga daerah kekurangan yodium yang sebelumnya terisolasi bisa
mendapatkan makanan dari daerah yang bahan makannanya mengandung cukup yodium;
industrialisasi produksi makanan yang mengandung cukup yodium.3
Keberhasilan dari profilaksis gondok endemik karena kekurangan yodium harus selalu
dimonitor. Pemeriksaan klinis dari kelenjar tiroid sangat penting, tetapi bila kelenjar tiroid sudah
terlihat membesar biasanya tidak bisa mengecil lagi, lebih baik dengan memonitor IEU.5
Memberikan dosis yodium dalam bentuk kapsul minyak pada ibu yang sedang hamil
dapat juga dilakukan dengan penyediaan garam dapur yang diperkaya dengan yodium dalam
bentuk KIO3.

Faktor Faktor Lain yang Ikut Berpengaruh Terhadap Terjadinya GAKY


Faktor unsur kelumit (Trace Element), timbulnya gondok endemik tidak hanya
disebabkan oleh faktor geografis dan lingkungan dapat juga disebabkan oleh factor unsur kelumit
seperti timah hitam (Pb), air raksa (Hg), tembaga (Cu) dan selenium (Se). Faktor unsur kelumit
yang penting adalah unsur selenium (Se). Defisiensi Se dapat menyebabkan tubuh rentan
terhadap masuknya unsur Pb, Hg, dan Cu. Asupan yang berlebihan dari Pb dapat menghambat
pembentukan hormon tiroid karena Pb akan membentuk ikatan yang kuat dengan yodium.5
Faktor kurang energy protein dan kurang vitamin A, pada penderita KEP ada
kemungkinan terjadi gangguan penyerapan yodium sehingga akan memperberat masalah GAKY
di daerah gondok endemik, terutama bila konsumsi yodium terbatas.
Kekurangan vitamin A juga berdampak terhadap metabolisme yodium. Penelitian
menunjukkan bahwa anak balita yang diberi intervensi Selenium dan vitamin A terjadi
peningkatan status gizi (BB/U, TB/U) dan status yodium (TSH) lebih baik dibandingkan dengan
anak balita pembanding (control)

Kesimpulan
Untuk mengatasi masalah endemik kretin akibat gangguan kekurangan yodium,
diperlukan upaya berbagai pihak tidak hanya dokter tetapi semua berperan seperti pemangku
kebijakan di wilayah setempat. Penangangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium GAKY,
harus dilakukan sedini mungkin sehingga tidak terdapat daerah gondok endemik yang akan
mempunyai efek samping seperti kretin endemik.Selain itu diperlukan upaya pencegahan yang
akan tercapai jika masyarakat menyadari betul akan pentingnya kebutuhan yodium.

Daftar Pustaka

1. Kurnia Y, Santoso M, Rumawas JSP, Sumadikarya IK, Hidayat D, Sutandar W,


Kamadinata G. Buku panduan keterampilan klinis. Jakarta : Biro publikasi fakultas
kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, 2008.h.38-42.
2. Sediaotema AD. Ilmu gizi. Jakarta: PT Dian Rakyat, 2012.h.177-8.
3. Pramono B, Purnomo LB, Sinorita H. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta : Interna
Publishing, 2014.h.2464-70
4. Kebutuhan yodium.
http://www.who.int/nutrition/publications/micronutrients/iodine_deficiency/54015_mdis_
workingpaper1/en/. Diunduh pada 11 Agustus 2015.
5. Definisi GAKY. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/106/jtptunimus-gdl-nuningrahm-
5252-3-bab2.pdf. Diunduh pada 10 Agustus2015.