Anda di halaman 1dari 59

GENERAL BUSINNESS ENVIRONMENT

ANALISIS PT. BANK RAKYAT INDONESIA


(PERSERO)

DISUSUN OLEH:
Deri Firmansyah (3203013008)
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah General Businness Environment

PROGRAM PASCA SARJANA


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
JAKARTA
2017
DAFTAR ISI

Cover Depan .................................................................................................................. 1

Daftar Isi ........................................................................................................................ 2

Bab I: Pendahuluan

1.1. Sejarah PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero).................................................. 3


1.2. Struktur Organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) 2014...................... 5
1.3. Laporan Keuangan Konsolidasian PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero)
2014 ................................................................................................................... 6

Bab II: Visi dan Misi ....................................................................................................... 9

Bab III: Analisis Eksternal

3.1. Kekuatan Ekonomi .............................................................................................. 11


3.2. Kekuatan Sosial, Budaya, Demografis, dan Lingkungan ................................... 14
3.3. Kekuatan Politik, Pemerintahan, dan Hukum ....................................................
17
3.4. Kekuatan Teknologi ............................................................................................ 20
3.5. Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (External Factor Evaluation EFE) ........... 23

Bab IV: Analisis Internal

4.1. Manajemen ......................................................................................................... 32


4.2. Pemasaran ...........................................................................................................
4.3. Keuangan/Akuntansi..........................................................................................
4.4. Produksi/Operasi ................................................................................................
4.5. Penelitian dan Pengembangan ............................................................................
4.6. Sistem Informasi Manajemen .............................................................................
4.7. Matriks Evaluasi Faktor Internal (Internal Factor EvaluationIFE) ......................
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Sejarah Bank BRI

Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang
terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di
Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De
Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau "Bank Bantuan dan
Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto", suatu lembaga keuangan yang melayani
orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Lembaga tersebut berdiri tanggal 16
Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.

Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1


tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di
Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun
1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif
kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi
Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960
dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari
BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian
berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke
dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan
Nelayan.

Setelah berjalan selama satu bulan, keluar Penpres No. 17 tahun 1965 tentang
pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan
baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi, Tani dan Nelayan (eks BKTN)
diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan
NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).

Berdasarkan Undang-Undang No. 14 tahun 1967 tentang Undang-undang


Pokok Perbankan dan Undang-undang No. 13 tahun 1968 tentang Undang-undang
Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral
dan Bank Negara Indonesia Unit II Bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-
masing menjadi dua Bank yaitu Bank Rakyat Indonesia dan Bank Ekspor Impor
Indonesia. Selanjutnya berdasarkan Undang-undang No. 21 tahun 1968 menetapkan
kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai bank umum.

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun


1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi
perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100% di tangan Pemerintah
Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk
menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi
PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat
ini.

(Sumber: http://bri.co.id/articles/9)
1.2. Struktur Organisasi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero)
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 78-79).
1.3. Laporan Keuangan Konsolidasian PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero)
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 579-580).

(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 581).
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 582).
BAB 2

VISI DAN MISI


2.1 Visi BRI
Menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah.

2.2 Misi BRI


1. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan
kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi
masyarakat.
2. Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar
luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dan teknologi
informasi yang handal dengan melaksanakan manajemen risiko serta praktek Good
Corporate Governance (GCG) yang sangat baik.
3. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang
berkepentingan (stakeholders).

Dengan visi yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah dan misi diatas maka bank
BRI di tuntut agar lebih mengutamakan pelayanan demi kepuasan kepada nasabah untuk
mencapai suatu tujuan. Pelayanan yang baik akan memberikan kesan positif bagi nasabah,
pelayanan merupakan sebuah kata kunci yang senantiasa diupayakan oleh suatu perusahaan
dalam rangka untuk mencari dan mempertahankan pelanggan yang ada dalam
menunjangkeberhasilan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Bagi Bank
BRI kehilangan nasabah merupakan bencana besar, karena tanpa nasabah apa artinya sebuah
bank. Fungsi tambahan dalam lembaga keuangan ini yaitu memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran. Bidang jasa perbankan meliputi berbagai kegiatan dalam
penyelenggaraan transaksi-transaksi yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat dan
dunia usaha. Selain kegiatan operasional tentunya bank harus dapat memberikan pelayanan
yang terbaik agar dapat memiliki kualitas pelayanan yang baik dimata nasabah. Terciptanya
kualitas pelayanan tentunya menciptakan kepuasan terhadap pengguna layanan yang pada
akhirnya dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya terjadinya hubungan harmonis
antara penyedia jasa dengan nasabah. Peningkatan kualitas pelayanan perlu dilakukan secara
terus menerus dalam rangka menjaga kepuasan nasabah. Inovasi-inovasi pelayanan perlu
dilakukan sesuai dengan masukan-masukan dari nasabah dan dengan kemampuan unit
pelayanan dalam memenuhi keinginan nasabah tersebut. Oleh karena itu, upaya untuk
meningkatkan kualitas pelayanan tidak lepas dari upaya untuk mengukur kepuasan
pelanggan, yang hasilnya merupakan bahan masukan bagi upaya perbaikan Kualitas
pelayanan yang diberikan perusahaan terhadap nasabah. Suatu pelayanan akan memiliki
kualitas yang baik apabila pelayanan tersebut mampu memenuhi harapan pelanggan.
Pelayanan dari Bank BRI ini juga mengutamakan usaha mikro, kecil dan menengah untuk
menunjang ekonomi masyarakat. Tidak hanya pelayanan saja melainkan Bank BRI juga
menggunakan teknologi informasi yang handal sehingga akses Bank BRI dapat dijagkau di
seluruh dunia. Dengan hal tersebut akan membuat Bank BRI menjadi bank terkemuka dan
mampu bersaing dengan para pesaing lainnya. Termukanya Bank BRI dengan banyaknya
nasabah akan dapat membuat keuntungan juga bagi para pemegang sahamnya.

1.4. Kebijakan Korporat


a. Kebijakan Penyusunan Rencana Bank
Rencana Bank terdiri dari :
1. Rencana Jangka Panjang (RJP/corporate plan) untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.

2. Rencana Bisnis Bank (RBB) Bank untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun.

3. Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) Bank untuk 1 (satu) tahun.

b. Kebijakan Usaha
Kebijakan dan peraturan internal BRI termasuk standard operatingprocedure
(SE/SK/BPO/Juklak) harus sejalan dengan kebijakan GCG yang telahditetapkan. Asas
GCG harus tercermin dalam semua kebijakan dan peraturan internal Bank baik yang
berkaitan dengan usaha Bank maupun berkaitan dengan manajemen intern Bank.

Setiap pengembangan produk dan/atau aktivitas baru harus dikaji dengan seksama
kesesuaiannya dengan ketentuan yang berlaku. Ketentuan terkait produk dan/atau
aktivitas baru Bank diatur dalam ketentuan tersendiri.

c. Kebijakan Pengawasan
1. Pengawasan Bank diimplementasikan dengan konsep 3 (tiga) garis
pertahanan/threelines of defense yaitu:
a. First Line of Defense

b. Second Line of Defense

c. Third Line of Defense


2. Kebijakan Pengawasan BRI terdiri dari :

a. Kebijakan pengendalian internal

Kebijakan pengendalian internal disusun dengan memperhatikan ruang lingkup


sebagai berikut :

i. Lingkungan pengendalian, contoh penerapan konsep three line of defense;

ii. Pengkajian dan pengelolaan risiko usaha, contoh risk assessment terhadap
produk dan/atau aktivitas bisnis bank;

iii. Aktivitas pengendalian yang dilaksanakan disetiap tingkatan struktur bank,


contoh kebijakan pengawasan atasan langsung,dual control dsb;
iv. Sistem informasi dan komunikasi, contoh informasi yang tersedia di dalam
Data Ware House (DWH);
v. Pemantauan, Evaluasi dan tindak lanjut atas aktivitas pengendalian intern,
contoh kebijakan penerapan perangkat manajemen risiko.
b. Pengawasan Internal

Kebijakan Kebijakan pengawasan internal antara lain meliputi kebijakan Audit


Intern, Strategi AntiFraud, Hukum dan Kepatuhan.

c. Kebijakan Pengawasan Eksternal

Pengawasan eksternal dilakukan oleh auditor eksternal dan lembaga pengawas


perbankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

d. Kebijakan Transparansi dan Pengungkapan

Kebijakan internal Bank terkait transparansi dan pengungkapan tertuang dalam :

1. Panduan transparansi dan pengungkapan (transparency and


disclosureguidelines);

2. Kebijakan Rahasia Bank; dan


3. Kebijakan tentang pelaporan baik laporan internal maupun eksternal termasuk
laporan kepada otoritas pengatur dan pengawas Bank, yang dituangkan dalam
kebijakan tersendiri menurut jenis laporan.

Evaluasi dan penyempurnaan kebijakan internal Bank dilakukan secara berkala oleh unit
kerja pembuat kebijakan (policy owner) sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan Bank.

Sumber : http://www.bri.co.id/articles/165 [diakses 08/05/2015,21.02 WIB]

1.5. Struktur Organisasi dan Job Description

Struktur tata kelola Bank meliputi struktur organ perusahaan utama dan pendukung

serta kebijakan Bank dalam rangka pelaksanaan usaha, yaitu sbb :

1) Organ Utama

Terdiri atas :

a. Rapat Umum Pemegang Saham

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan forum dari instansi


tertinggi Organ Bank, yaitu pemegang saham. RUPS terdiri atas :

1. RUPS Tahunan, untuk mengesahkan beberapa agenda yang wajib


diselenggarakan dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan
setelah tahun buku berakhir.
2. RUPS lainnya, dapat diselenggarakan setiap waktu berdasarkan
kebutuhan untuk kepentingan Perusahaan.

b. Dewan Komisaris

Dewan komisaris terdiri dari Komisaris dan Komisaris Independen.


Komisaris independen ditetapkan paling kurang 50% (lima puluh persen) dari
jumlah anggota Dewan Komisaris. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
Dewan Komisaris mengacu pada Anggaran dasar Bank, dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

c. Direksi
Direksi bertugas dan bertanggung jawab secara kolegial. Masingmasing
anggota Direksi dapat melaksanakan tugas dan mengambil keputusan sesuai
dengan pembagian tugas dan wewenangnya, tetapi pelaksanaan tugas dari
masingmasing anggota Direksi akhirnya tetap merupakan tanggung jawab
bersama. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi mengacu pada Anggaran
Dasar Bank, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Hubungan kerja Dewan Komisaris dan Direksi adalah hubungan check and balances
dengan prinsip bahwa kedua organ tersebut mempunyai tugas untuk menjaga
kelangsungan usaha Bank dalam jangka panjang dan mempunyai tujuan akhir untuk
kemajuan dan kesehatan Bank.

2) Organ Pendukung

Terdiri dari :

a. Komite-komite

a1. Komite di bawah Dewan Komisaris, antara lain :


a1.1. Komite Audit

a1.2. Komite Nominasi dan Remunerasi a1.3.


Komite Pengawasan Manajemen Risiko.

a2. Komite di bawah Direksi, antara lain :

a2.1. Komite Manajemen Risiko /Risk Management Committee (RMC);


a2.2. Komite Kebijakan Perkreditan (KKP);

a2.3. Komite Kredit (KK);


a2.4. Komite Aset dan Liabilitas / Asset-Liability Committee (ALCO); a2.5.
Komite Pengarah Teknologi dan Sistem Informasi / IT Steering

Committee (ITSC);

a2.6. Komite Kebijakan Sumber Daya Manusia; dan


a2.7. Komite lainnya yang dapat ditetapkan kemudian

b. Sekretaris Dewan Komisaris

Sekretaris Dewan Komisaris merupakan organ Dewan Komisaris yang diangkat oleh
Dewan Komisaris yang bertugas membantu pelaksanaan tugas dan tanggung jawab
Dewan Komisaris.

c. Sekretaris Perusahaan

Bank menunjuk Sekretaris Perusahaan untuk membantu Dewan Komisaris dan Direksi
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing terkait dengan
pelaksanaan GCG serta untuk mengelola komunikasi kepada pihak yang berkepentingan
(stakeholders) baik pihak intern maupun pihak ekstern.

d. Satuan Kerja Manajemen Risiko

Penerapan Manajemen Risiko meliputi :

1. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi

2. Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit

3. Proses Manajemen Risiko dan sistem informasi Manajemen Risiko

4. Sistem Pengendalian Internal


e. Satuan Kerja Kepatuhan

Satuan Kerja Kepatuhan merupakan Unit Kerja independen yang bertanggungjawab


dalam melaksanakan Fungsi Kepatuhan di BRI.

f. Satuan Kerja Audit Intern

Audit Intern merupakan unit kerja/satuan kerja yang secara struktural berada dibawah
pengawasan langsung Direktur Utama, bertanggung jawab langsung kepada Direktur
Utama dan memiliki garis komunikasi dengan Komite Audit. Audit Intern melakukan
kegiatan pemberian keyakinan (assurance) dan konsultasi yang bersifat independen dan objektif
dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan memperbaiki operasional Bank melalui
pendekatan yang sistematis dengan cara mengevaluasi dan meningkatkan kecukupan dan
efektifitas manajemen risiko, pengendalian intern dan proses tata kelola perusahaan.

g. Audit Ekstern

Pemeriksaan terhadap Bank dilakukan pula oleh eksternal Auditor yaitu Bank Indonesia, Badan
Pemeriksa Keuangan, pemeriksa lain sesuai regulasi dan Kantor Akuntan Publik. Bank wajib
menunjuk Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia dalam
pelaksanaan audit laporan keuangan Bank.

Sumber : http://www.bri.co.id/articles/165 [diakses 07/05/2015,19.42 WIB]

Pada dua halaman berikutnya, akan kami gambarkan posisi hierarki struktur organisasi di
Bank BRI.

Sumber : www.idx.co.idBBRI_Annual_Report_2014 [diakses 17/05/2015,14.12 WIB]


BAB 3

ANALISIS EKSTERNAL

Analisis Eksternal itu sendiri adalah upaya identifikasi tren kejadian dan faktor-faktor yang
berada di luar kendali suatu organisasi atau perusahaan, yang berpengaruh terhadap keputusan
manajemen suatu organisasi. Dalam kasus ini kita akan membahas analisis eksternal PT. Bank
Rakyat Indonesia Tbk. Analisis eksternal akan mengungkap peluang-peluang dan ancaman yang
dihadapi oleh Bank BRI sehingga manajer dapat merumuskan strategi guna mendapat keuntungan
dari peluang-peluang dan menghindari atau meminimalkan dampak dari ancaman yang ada.

Analisis eksternal terdiri dari 5 Kekuatan-Kekuatan Eksternal utama, yaitu :

1. Kekuatan Ekonomi
2. Kekuatan Sosial, Budaya, Demografis, dan Lingkungan
3. Kekuatan Politik, Pemerintahan, dan Hukum
4. Kekuatan Teknologi
5. Kekuatan Kompetitif

Selanjutnya kita akan membahas satu per satu hubungan antara Kekuatan-Kekuatan Eksternal
Utama dengan PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk, dimana melalui analisis setiap kekuatan tersebut
akan mengungkapkan peluang-peluang dan ancaman yang dihadapi oleh BRI.

3.1. Analisa Faktor Ekonomi


Kekuatan Ekonomi dapat dinilai dari beberapa kondisi perekonomian di Indonesia saat
ini:
1. Menguatnya Perekonomian Amerika
Dimana telah dikatakan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia
Chairul Tanjung di akhir masa jabatannya, memaparkan sejumlah fakta mengenai
ekonomi Indonesia dua tahun ke depan. Menurutnya, diperkirakan tahun 2015 ini hingga
2016 adalah tahun berat bagi perekonomian Indonesia dan negara berkembang lainnya.
Kondisi itu sudah bisa diprediksi dari sekarang berdasarkan beberapa indikator
diantaranya kembali menguatnya perekonomian Amerika yang berimbas pada
berkurangnya likuididitas negara-negara berkembang jelas Chairul.
http://swa.co.id/business-research/tahun-2015-ekonomi-indonesia-hadapi-tantangan-berat
2. Pelemahan Pertumbuhan Ekonomi dan Penurunan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar
Amerika
Hal senada juga disampaikan, Ekonom Raden Pardede dalam acara perpisahan dan
pembubaran Komite Ekonomi Nasional (KEN). Menurut Raden yang juga merupakan
wakil ketua (KEN), pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 masih diprediksi mengalami
peningkatan tipis bertumbuh disekitar 5,2 %, dengan asumsi stimulus fiskal dari hasil
penghematan subsidi BBM akan efektif pada semester kedua. Sementara itu, inflasi
diperkirakan berada di tingkat yang lebih tinggi dibanding tahun ini.
Hal tersebut dikarenakan imbas dari kenaikan harga BBM dan listrik, kata
Raden. Di lain pihak, menguatnya perekonomian Amerika juga menyebabkan suku bunga
di sana naik, sehingga suku bunga acuan BI diperkirakan akan naik sampai 8,5 %. Nilai
tukar akan berada di sekitar Rp12.200 - Rp12.700 per US$. Maret 2015 ini nilai tukar
Rupiah bahkan sudah mencapai Rp12.800 Rp13.000 per US$.
Pelemahan pertumbuhan ini juga terjadi secara merata di hampir semua negara
berkembang, bahkan dialami negara ekonomi besar seperti China, India, Brazil dan
Indonesia. Kondisi ini kelak juga akan membuat permintaan barang dan harga komoditas
jadi melemah, jelas Raden. http://swa.co.id/business-research/tahun-2015-ekonomi-
indonesia-hadapi-tantangan-berat
3. Meningkatnya Jumlah Pengangguran dan Kemiskinan Menyebabkan Tidak Meratanya
Pendapatan per Kapita
Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu
negara. Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu
negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan per kapita juga
merefleksikan PDB per kapita. Apabila tingkat pengangguran tinggi, maka pendapatan
nasional juga akan berkurang karena banyaknya orang tidak mendapat penghasilan.
Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan
tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin
makmur negara tersebut.
4. Perekonomian Indonesia yang Mengandalkan Sektor Pertanian atau Usaha Kecil
Menengah
Sektor pertanian di Indonesia sangat diperlukan untuk mendukung Indonesia
sebagai negara agraris.Sektor pertanian merupakan salah satu pendukung perekonomian
Indonesia.Banyak sekali potensi-potensi kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan.Selain
itu, sebagian besar penduduk Indonesia masih mengandalkan sektor pertanian sebagai
pekerjaan utama.Pertanian berperan sangat penting untuk ketahanan pangan di negeri ini.
Selain pertanian, perekonomian Indonesia juga didukung oleh banyaknya UKM-UKM
yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Melalui UKM-UKM yang didirikan oleh
perseorangan ini dapat membantu meningkatkan pendapatan per kapita dan menunjang
pertumbuhan perekonomian Indonesia
Tabel di bawah merupakan hubungan antara beberapa kondisi perekonomian
Indonesia saat ini dengan peluang-peluang dan ancaman yang dihadapi bank BRI.
Kondisi
Peluang Ancaman
Ekonomi
Menguatnya Meningkatnya tingkat suku
Perekonomia bunga di Amerika diikuti
n Amerika. dengan peningkatan suku
bunga yang ditawarkan,
sehingga mengurangi nasabah
yang melakukan pinjaman ke
bank. Suku bunga tinggi juga
dapat menyebabkan negative
spread (rugi dan modal
menjadi negatif).
Pelemahan Lemahnya pertumbuhan ekonomi di Penurunan nilai rupiah
Pertumbuhan Indonesia ( 5,2-5,5%) namun masih terhadap dollar AS berdampak
Ekonomi dan dianggap stabil, sehingga banyak pada kurangnya daya beli
Penurunan pengusaha membutuhkan pinjaman ke masyarakat indonesia, banyak
Nilai Tukar bank untuk modal usaha, melalui kredit industri yang mendapat laba
Rupiah modal usaha. sedikit, sehingga kemampuan
Terhadap untuk berinvestasi juga lemah,
Mata Uang akibatnya Layanan Kustodian
Asing (penitipan efek) BRI minim
digunakan.
http://www.bri.co.id/articles/11
6
Pendapatan Banyak yang tidak memiliki
per Kapita uang untuk berinvestasi,
Tidak Merata melakukan pinjaman, ataupun
memenuhi persyaratan untuk
membuka tabungan.
Perekonomia BRI sebagai bank pemerintah mendapat
n Indonesia tugas utama untuk membantu membiayai
yang masih industri-industri kecil, menengah, dan
ditopang koperasi utamanya bagi masyarakat
sektor pedesaan yang pelaksanaannya dengan
pertanian dan memiliki produk Kupedes (Kredit Umum
UKM Pedesaan).http://core.ac.uk/display/123540
87
Sektor pertanian atau perusahaan yang
bergerak dibidang agribisnis dapat
melakukan pinjaman berupa kredit
Agribisnis di Bank BRI.
http://www.bri.co.id/articles/116

3.2. Analisa Faktor Sosial,


Banyak sekali permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, yang kemudian
dari waktu ke waktu menjadi suatu permasalahan yang kompleks dan seakan-akan sulit
untuk dibenahi. Saat ini saya ingin membahas salah satu permasalahan sosial yang sudah
lama menjadi suatu permasalahan yang berlarut-larut dan bahkan semakin
parah.Permasalahan tentang pengangguran merupakan permasalahan yang sepertinya sudah
mendarah daging bagi masyarakat Indonesia , mengapa dapat dikatakan demikian? karena
masalah pengangguran sendiri dari hari ke hari semakin meningkat, menurut saya hal
tersebut di mulai dari masa krisis global yang melanda Indonesia , yang menyebabkan
banyak perusahaan gulung tikar dan mem PHK kan sejumlah karyawannya.
Permasalahan pengangguran juga merupakan permasalahan yang cukup serius bagi banyak
negara di dunia, bahkan hampir semua negara mengalami permasalahan tentang
pengangguran. Menjadi seorang pengangguran sendiri dapat mengakibatkan banyak hal
negatif bagi seseorang, baik dalam dirinya sendiri maupun di dalam kelompok sosialnya.
Pengangguran itu sendiri dapat menyebabkan meningkatnya jumlah kemiskinan di Indonesia
sehingga pada akhirnya menyebabkan daya beli masyarakat kita sangat lemah.
Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding dengan
jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi
masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan
pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan
dan masalah-masalah sosial lainnya.
http://pikarustia.blogspot.com/2013/06/hubungan-antara-pengangguran-dengan.html

3.3. Analisa Faktor Budaya,


3.4. Analisa Faktor Demografis
3.5. Analisa Faktor Lingkungan
1. Kondisi Sosial di Indonesia
Banyak sekali permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Indonesia, yang
kemudian dari waktu ke waktu menjadi suatu permasalahan yang kompleks dan seakan-
akan sulit untuk dibenahi. Saat ini saya ingin membahas salah satu permasalahan sosial
yang sudah lama menjadi suatu permasalahan yang berlarut-larut dan bahkan semakin
parah.Permasalahan tentang pengangguran merupakan permasalahan yang sepertinya
sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia , mengapa dapat dikatakan demikian?
karena masalah pengangguran sendiri dari hari ke hari semakin meningkat, menurut saya
hal tersebut di mulai dari masa krisis global yang melanda Indonesia , yang menyebabkan
banyak perusahaan gulung tikar dan mem PHK kan sejumlah karyawannya.
Permasalahan pengangguran juga merupakan permasalahan yang cukup serius bagi
banyak negara di dunia, bahkan hampir semua negara mengalami permasalahan tentang
pengangguran. Menjadi seorang pengangguran sendiri dapat mengakibatkan banyak hal
negatif bagi seseorang, baik dalam dirinya sendiri maupun di dalam kelompok sosialnya.
Pengangguran itu sendiri dapat menyebabkan meningkatnya jumlah kemiskinan di
Indonesia sehingga pada akhirnya menyebabkan daya beli masyarakat kita sangat lemah.
Pengangguran umumnya disebabkan karena jumlah angkatan kerja tidak sebanding
dengan jumlah lapangan pekerjaan yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali
menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas
dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya
kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.
http://pikarustia.blogspot.com/2013/06/hubungan-antara-pengangguran-dengan.html
2. Kondisi Budaya, Demografis, dan Lingkungan di Indonesia
Indonesia memiliki jumlah penduduk sebesar 245 juta jiwa, menjadikan negara ini
negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia. Pulau Jawa merupakan salah satu
daerah terpadat di dunia, dengan lebih dari 107 juta jiwa tinggal di daerah dengan luas
sebesar New York.
Indonesia memiliki budaya dan bahasa yang berhubungan namun berbeda. Sejak
kemerdekaannya Bahasa Indonesia (sejenis dengan Bahasa Melayu) menyebar ke seluruh
penjuru Indonesia dan menjadi bahasa yang paling banyak digunakan dalam komunikasi,
pendidikan, pemerintahan, dan bisnis. Namun bahasa daerah juga masih tetap banyak
dipergunakan.
Dari segi kependudukan, Indonesia masih menghadapi beberapa masalah besar
anatara lain :
a. Penyebaran penduduk tidak merata, sangat padat di Jawa - sangat jarang di
Kalimantan dan Irian.
b. Piramida penduduk masih sangat melebar, kelompok balita dan remaja masih
sangat besar.
c. Angkatan kerja sangat besar, perkembangan lapangan kerja yang tersedia
tidak sebanding dengan jumlah penambahan angkatan kerja setiap tahun.
d. Distribusi Kegiatan Ekonomi masih belum merata, masih terkonsentrasi di
Jakarta dan kota-kota besar dipulau Jawa.
e. Pembangunan Infrastruktur masih tertinggal; belum mendapat perhatian
serius.
f. Indeks Kesehatan masih rendah; Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian
Bayi masih tinggi.
http://id.wikipedia.org/wiki/Demografi_Indonesia

Kondisi Sosial Peluang Ancaman


Tingkat Pengangguran Banyak orang tidak
dan Kemiskinan yang berpenghasilan, tidak
Tinggi memiliki uang untuk
berinvestasi, melakukan
pinjaman, ataupun
memenuhi persyaratan
untuk membuka tabungan.

Kondisi Budaya,
Demografis, dan Peluang Ancaman
Lingkungan
Jumlah penduduk yang Memungkinkan untuk
banyak mmperoleh nasabah yang
banyak
Banyaknya penduduk Tidak meratanya
tidak diikuti dengan keuntungan yang didapat
persebaran yang merata cabang-cabang bank.
(terkonsentrasi di pulau Keuntungan cabang yang
Jawa, sangat jarang di berada di Pulau
Kalimantan dan Irian) Kalimantan dan Irian
relatif lebih rendah (akibat
lebih sedikit nasabah
daripada di Jawa)
Kelompok balita dan Banyaknya kebutuhan anak
remaja yang sangat besar membuat para orang tua
(akibat dari tingginya yang sudah bekerja untuk
angka kelahiran) semakin giat bekerja dan
menggunakan jasa bank
(membuka tabungan atau
menyetor uang untuk
keperluan anak)

3.6. Kekuatan Politik, Pemerintahan, dan Hukum


Kondisi Politik, Pemerintahan, dan Hukum di Indonesia dapat dilihat dari kebijakan-
kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah (Undang-Undang serta hukum yang mengatur
kegiatan perbankan di Indonesia). Salah satu kebijakan itu adalah kebijakan moneter.
Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk
mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih
sejahtera. Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset standar bunga pinjaman, "margin
requirement", kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir
atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain.
Kebijakan moneter pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang bertujuan untuk
mencapai keseimbangan internal (pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas harga,
pemerataan pembangunan) dan keseimbangan eksternal (keseimbangan neraca pembayaran)
serta tercapainya tujuan ekonomi makro, yakni menjaga stabilisasi ekonomi yang dapat diukur
dengan kesempatan kerja, kestabilan harga serta neraca pembayaran internasional yang
seimbang. Apabila kestabilan dalam kegiatan perekonomian terganggu, maka kebijakan
moneter dapat dipakai untuk memulihkan (tindakan stabilisasi). Pengaruh kebijakan moneter
pertama kali akan dirasakan oleh sektor perbankan, yang kemudian ditransfer pada sektor riil.
Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang
tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai
tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara
persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan
kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter dilakukan
antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku
bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi
bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kebijakan_moneter
Pendirian kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan (BI
Rate) yang diharapkan dapat memengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga deposito
dan suku bunga kredit perbankan. Perubahan suku bunga BI ini juga akan mengubah suku
bunga bank-bank lain termasuk BRI.
1. Kondisi Politik di Indonesia
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas
menyampaikan, proses politik di Indonesia saat ini sedang mengalami penurunan
demokrasi.
Hal itu karena lembaga politik di Indonesia tidak menegakkan identitas negara
hukum. Menurutnya, lembaga eksekutif dan legislatif sebagai penggerak negara
semestinya menerapkan prinsip demokrasi secara utuh.
"Dua pilar ini harusnya diimplementasikan dalam proses politik. Apakah undang-
undang kepolitikan mencerminkan negara hukum atau tidak? Menurut saya tidak.
Proses saat ini melahirkan demokrasi prosedural yang cacat," ujar Busyro dalam
acara diskusi di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa 25 November 2014.
Pada kesempatan itu, Busyro mengatakan, banyak kepala daerah hampir menjadi
'pasien' KPK, karena ditemukan adanya 400 izin usaha pertambangan yang bermasalah.
"Sebagian besar yang menikmati itu asing yang difasilitasi. Bukannya kita anti
asing. Kemudian bila asing difasilitasi sedemikian rupa dan negara hukum menjadi
rontok. Ini fakta bahwa negara kita sedang dalam penggerusan demokrasi," ungkapnya.
(IRIBIndonesia/Sindonews/RM)
http://indonesian.irib.ir/international/asia-dan-pasifk/item/88565-saat-ini-politik-
indonesia-dalam-kondisi-cacat
2. Kondisi Hukum di Indonesia
Seperti yang kenyataan yang ada saat ini bahwa hukum di Indonesia memang bisa
dikatakan runcing ke bawah, tumpul ke atas. Maksudnya adalah dimana hukum hanya
berlaku dan bisa menjadi sangat keras kepada masyarakat biasa atau kalangan bawah.
Sedangkan bagi kalangan atas atau pejabat-pejabat negara hukum menjadi sangat lunak
bahkan tidak direalisasikan sama sekali meskipun perbuatan yang dilakukan termasuk
melanggar dan menyimpang dari hukum.
3.7. Kekuatan Teknologi
Telah diketahui bahwa Indonesia bertindak konsumtif terhadap teknologi dimana
negara kita akan menggunakan semua teknologi baru yang ditemukan negara-negara lain. Saat
Kondisi Politik,
Pemerintahan, dan Hukum Peluang Ancaman
di Indonesia
Kebijakan moneter yang Pencegahan inflasi dapat Kebijakan moneter juga
dikeluarkan pemerintah menurunkan harga - harga membawa ancaman bagi BRI,
untuk menekan inflasi, salah barang, sehingga yaitu terjadi persaingan yang
satunya dengan meningkatkan daya beli ketat dengan bank-bank lain
menyesuaikan tingkat suku masyarakat, menyebabkan dalam mempertahankan
bunga pasar berdasarkan meningkatnya laba industri keuntungan, mengingat adanya
suku bunga BI. yang membuka peluang peraturan bunga pasar
untuk banyaknya orang yang maksimal yang sesuai dengan
akan menyimpan uangnya di BI rate.
bank atau melakukan
pinjaman untuk mulai usaha
baru (tidak terlalu
terpengaruh dengan bunga
pasar karena telah mendapat
laba yang cukup banyak).

Adanya kebijakan Dapat mengurangi keuntungan


pemerintah yang membatasi yang diperoleh dan harus
jumlah bank. bersaing sangat ketat dengan
bank-bank lain.

Kondisi politik yang tidak Mengingat tahun 1998 dimana


stabil (banyak koruptor, keluarga Presiden Soeharto
demonstrasi, pertikaian antar membuat bangkrut 4 bank,
partai, tampak gejala akibat kondisi politik yang
penggerusan demokrasi tidak stabil (pemerintahan
dimana banyak pejabat otoriter dan tidak ada
berbuat seenaknya). demokrasi) dapat menjadi
ancaman bagi semua bank
termasuk BRI.
ini semua aspek kehidupan kita tidak terlepas dari namanya teknologi. Penemuan-penemuan
terabaru dari fitur-fitur yang canggih semakin memanjakan kita semua sebagai masyarakat
yang konsumtif akan teknologi. Kemajuan teknologi dapat menciptakan pasar baru,
menghasilkan perkembangan produk baru yang lebih baik, serta meniadakan hambatan biaya
antar bisnis. Kekuatan teknologi juga akan membuat kita melakukan pekerjaan secara efisien
dan cepat, serta meningkatkan kemampuan teknis karyawan yang bekerja di perusahaan atau
organisasi.
Teknologi juga berperan penting dalam dunia perbankan. Bisnis perbankan sangat
mempengaruhi ekonomi dunia saat ini. semenjak ditemukannya computer pada tahun 1955,
Teknologi Informasi (TI) berkembang sangat cepat, perkembangan Teknologi Informasi (TI)
sangat bermanfaat dalam dunia perbankan. Semenjak itu dunia perbankan berkembang sangat
cepat dengan memanfaatkan Teknologi Informasi (TI). Pada awalnya dunia perbankan hanya
sebagai jasa tempat penukaran uang (money changer). Lalu kemudian berkembang lagi
menjadi tempat penitipan uang, yang saat ini dikenal sebagai kegiatan simpanan (tabungan).
Kemudian berkembang lagi sebagai tempat peminjaman uang. Dan masih terus berkembang
hingga saati ini. Sekarang dunia perbankan telah berkembang bersama Teknologi Informasi
(TI) dan hasilnya adalah seperti yang kita lihat sekarang ini, contohnya adalah E-banking dan
lain-lain.
http://octhapoetra.blogspot.com/2013/06/pengaruh-teknologi-informasi-dalam.html

Kekuatan Teknologi Peluang Ancaman


Indonesia sebagai negara BRI yang merupakan bank Kompleks dan mahalnya
konsumtif akan teknologi pemerintah dengan tujuan teknologi informasi, karena
sehingga teknologi terbaru utama melayani pasar mikro sebagian besar teknologi ini
akan masuk dan pasti (UKM, pertanian, dsb) dapat masih disuplay oleh vendor-
digunakan di Indonesia. mengembangkan jasa dan vendor luar negeri.
pelayanannya dengan Perbankan yang merupakan
menggunakan teknologi suatu korporasi yang
terbaru. Sehingga tak hanya mempunyai ruang lingkup
mengandalkan pasar di kerja yang luas ditambah
perdesaan, BRI juga berhasil dengan operasional-
merambah perkotaan dengan operasional yang sangat
memperluas jaringan unit banyak harus ditunjang
kerja dan e-channel serta dengan suatu teknologi untuk
melakukan pengembangan memudahkan,
produk e-banking, termasuk mengefisienkan dan
produk dan layanan berbasis mengefektifkan kinerja
teknologi informasi (TI) tersebut. Apalagi dalam
lainnya. dunia perbankan dibutuhkan
suatu informasi yang up to
date bagi pihak manajemen
menengah ke atas untuk
memprediksikan langkah
bisnis yang akan diambil
sehingga berbagai kendala
yang mungkin muncul dapat
teratasi.
Ditemukannya teknologi Database komputer dapat
berupa komputer dimana kita digunakan untuk menyimpan
dapat menyimpan database data nasabah sehingga
memudahkan bank untuk
membangun hubungan
dengan nasabah
Internet banking sekarang Praktis dan memudahkan
juga menawarkan kartu baik untuk nasabah maupun
kredit online, pinjaman bagi bank. Bank akan lebih
personal, dan akun tabungan. praktis dalam melayani
Dan semua itu dilakukan nasabah dalam melakukan
secara online. transaksi karena jika nasabah
melakukan transaksi dengan
menggunakan fasilitas online
banking maka teller bank
tidak perlu melayani nasabah
secara manual. sehingga ini
akan memudahkan teller
karena jumlah nasabah yang
datang langsung ke bank
akan berkurang dan ini akan
membuat bank mendapatkan
keuntungan yang lebih. Oleh
karena itu dengan
ditemukannya teknologi
Internet Banking maka akan
semakin menarik masyarakat
untuk melakukan berbagai
transaksi di bank.
BAB IV

ANALISIS INTERNAL

4.1. Manajemen
Suatu perusahaan menggunakan konsep-konsep manajemen strategis untuk
merumuskan strategi yang baik sehingga menghasilkan sesuatu yang dapat menguntungkan
perusahaan. Bank BRI menerapkan konsep-konsep manajemen strategis tersebut. Dalam
rangka meningkatkan kualitas penerapan tersebut, BRI mengimplementasikan Good
Corporate Governance (GCG) melalui 3 (tiga) tahapan yaitu: perumusan, implementasi serta
monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan untuk
memastikan tercapainya tahapan/tujuan akhir yang diharapkan yaitu GCG Excellent. Di
bawah ini adalah skema mengenai tahapan-tahapan yang direncanakan Bank BRI dalam
mengimplementasikan GCG.

(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 323)
Pada tahun 2014, tingkat turnover BRI adalah sebesar 1.36%, yang dikategorikan
sangat rendah. Rasio ini juga lebih rendah dibandingkan tahun 2013 sebesar 1,86%. Hal
tersebut adalah salah satu hasil dari penciptaan lingkungan kerja yang kondusif, berupa
suasana yang sehat, aman, nyaman yang mampu menumbuhkan semangat berkarya dan
berinovasi pada seluruh jajaran (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tahun 2014 halaman 106 dan 497).
Struktur organisasi dari Bank BRI sesuai dengan apa yang dibutuhkan saat ini.
Apalagi, guna pengembangan organisasi, Bank BRI membentuk fungsi dibawah Direksi untuk
melakukan koordinasi di bidang-bidang utama bisnis BRI. Terdapat 4 koordinator baru yang
dibentuk, yaitu: Koordinator Bisnis Ritel, Koordinator Teknologi dan Sistem Informasi,
Change Management,serta Audit Intern (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 55).
4.2. Pemasaran
Sebagian besar dari jasa perbankan yang ditawarkan oleh BRI, seperti KUPEDES dan
KUR BRI, disasarkan untuk segmen UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Pada
tahun 2013, perusahaan mencatat 72,29% dari kredit outstanding merupakan dana untuk
segmen UMKM, sementara 24,58% digunakan untuk mendanai segmen korporat, dan 3,13%
sisanya merupakan dana untuk segmen Syariah. (Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tahun 2014 Halaman 249)
Berdasarkan segmentasi pasar yang berfokus pada sektor UMKM, BRI sukses
mencapai posisi yang sangat baik dibanding para pesaingnya. BRI sukses memposisikan diri
sebagai bank yang spesialis UMKM. Pangsa pasar BRI pada tahun 2012 adalah 28,08%
dari keseluruhan pasar, dan berkembang menjadi 29,50% pada tahun 2013. (Sumber: Laporan
Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 Halaman 100)
Sebagai perusahaan yang bergerak dalam jasa perbankan, pelayanan yang ada
merupakan hal yang penting untuk menunjang distribusi dana ke masyarakat Indonesia. BRI
telah menyediakan dan terus mengembangkan kemudahan akses ke berbagai layanan yang
disediakan. Contohnya adalah penyediaan electronicchannel yang mendukung fitur i-banking
dan m-banking, sehingga konsumen dapat mengakses berbagai layanan perbankan tanpa harus
berkunjung ke ATM atau Kantor Cabang. Bahkan untuk mendukung perkembangan electronic
channel yang dimiliki, BRI memutuskan untuk membeli satelit sendiri. Satelit yang dinamai
BRIsat tersebut akan diluncurkan pada Juni 2016 dan memiliki izin orbit selama 15 tahun.
(Sumber: http://swa.co.id/corporate/bri-miliki-satelit-sendiri-untuk-efiensi-dan-meningkatkan-
mutu-layanan)
Dalam upaya memberikan respon terbaik kepada masing-masing segmen pasar, BRI
menyusun struktur organisasi penjualannya dengan berfokus pada segmen-segmen pasarnya
(Bagian UMKM, Bagian Konsumer Pribadi, Bagian Bisnis Komersial, sertaBagian
Kelembagaan dan BUMN). Penetapan struktur organisasi ini memungkinkan BRI untuk
menjadi lebih reaktif terhadap dinamika yang terjadi dalam masing-masing segmen pasar. Hal
ini terbukti efektif dengan pangsa pasar BRI, terutama pada segmen pasar UMKM yang terus
bertumbuh dari tahun ke tahun.
BRI juga terus berupaya menjaga kualitas kredit yang diberikan, yang berimbas pada
keamanan dana nasabah. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan dari tingkat NPL (Non-
Payable Loan) yang berkelanjutan. Tingkat NPL yang rendah menunjukkan bahwa resiko
kredit macet yang dihadapi BRI sangat kecil.

Tingkat Non-Payable Loan BRI Tahun 2009-2013


(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2013 Halaman 13)

Dengan kualitas kredit yang terjamin, BRI menawarkan dana dengan suku bunga yang
amat menarik. Berikut perbandingan suku bunga dasar kredit dari BRI dengan beberapa
pesaingnya:

Suku Bunga Dasar Kredit (%)

Kredit Kredit Kredit Kredit Konsumsi

Nama Bank Korporasi Ritel Mikro KPR Non KPR

PT BANK RAKYAT INDONESIA


(PERSERO), Tbk 11.00 11.75 19.25 10.25 12.50

PT BANK MANDIRI (PERSERO), Tbk 10.50 12.50 19.50 11.00 12.50

PT BANK CENTRAL ASIA, Tbk 10.50 11.75 - 10.50 9.71

PT BANK NEGARA INDONESIA


(PERSERO), Tbk 11.00 12.35 - 11.10 13.25

PT BANK CIMB NIAGA, Tbk 11.50 12.50 20.00 11.75 12.25

PT BANK PERMATA, Tbk 12.00 12.50 - 12.50 12.25

(Sumber: www.bi.go.id/ id/perbankan/suku-bunga-dasar, diakses pada 14 Maret 2015)


Unsur lain dalam bauran pemasaran yang tak kalah pentingya adalah promosi. BRI
terus berusaha meningkatkan brand awareness masyarakat akan jasa-jasa yang ditawarkan.
Salah satu strategi promosi yang gencar dilakukan secara periodik adalah program undian
Untung Beliung Britama. Dapat diamati bahwa setiap tahun BRI mempromosikan program
tabungannya secara masif melalui bermacam media, terutama media internet dan televisi.
Dapat disimpulkan bahwa BRI telah menempuh langkah-langkah yang efektif dalam
memasarkan layanan perbankan yang ditawarkan. Hal ini dapat dilihat dengan berbagai
prestasi yang diraih oleh BRI dan layanannya. Pada 2014, BRI memperoleh Top Brand award
untuk:
1. Kategori Banking dan Finance
a. Tabungan Britama
b. BRI Syariah
c. BritAma Junio
d. Deposito Bank BRI
2. Kategori e-channel
a. BRI mobile
b. Internet Banking BRI
c. Call BRI
(Sumber:http://www.topbrand-award.com/top-brand-survey/survey-result/top_brand_index_2014)
4.3. Keuangan/Akuntansi
4.4. Produksi/Operasi
BRI terus berupaya menyelaraskan pengembangan bisnisnya dengan perkembangan
demografi masyarakat dengan senantiasa mengembangkan layanannya sesuai dengan
kebutuhan masyarakat Indonesia. Selain fokus pada segmen UMKM, BRI juga terus
mengembangkan berbagai produk consumer banking dan layanan institusional bagi
masyarakat perkotaan. Untuk mendukung upaya tersebut, BRI terus mengembangkan jaringan
kerja sehingga kini tercatat sebagai bank terbesar dalam hal jumlah unit kerja di Indonesia,
yaitu berjumlah 10.396 unit kerja termasuk 3 kantor cabang yang berada di luar negeri, yang
seluruhnya terhubung secara realtime online.
Dengan basis jumlah nasabah yang besar tercermin dari jumlah rekening yang lebih
dari 49 juta rekening simpanan, BRI terus mengembangkan layanan e-banking yang dapat
diakses masyarakat melalui internet, telepon, pesan singkat (ShortMessage Service/SMS),
maupun melalui layanan electronic channel lainnya seperti Automatic Teller Machine (ATM),
Cash Deposit Machine (CDM), Electronic Data Capture (EDC), dan KiosK dengan total
jaringan e-channel ini telah mencapai 152.443 unit.
Melalui 10.396 unit kerja konvensional serta layanan e-banking yang didukung oleh
20.792 unit ATM serta 131.204 unit EDC yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, BRI
bertekad untuk terus mendukung peningkatan efisiensi kegiatan perekonomian nasional
sekaligus meningkatkan kenyamanan dan kemudahan transaksi nasabah sesuai perkembangan
kebutuhan jasa layanan perbankan seluruh lapisan masyarakat Indonesia (sumber: Laporan
Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 66-67). Kesimpulannya,
fasilitas, sumber daya, dan pasar dari Bank BRI memiliki lokasi yang strategis, dimana
fasilitas yang dimiliki Bank BRI berada di seluruh pelosok Indonesia.
Bank BRI memiliki banyak teknologi dan selalu berinovasi menyediakan teknologi-
teknologi terbaru untuk memuaskan nasabahnya. Salah satu teknologi yang nantinya akan
diluncurkan pada pertengahan tahun 2016 adalah BRI-Sat (Program Satelit BRI). Satelit yang
akan dikelola oleh Bank BRI sendiri ini bertujuan untukmenghubungkan Kantor Pusat, Kantor
Wilayah, Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, BRI Unit,Kantor Kas, Teras BRI dan
Teras Keliling dengan jumlah total lebih dari 10.000 outlet, serta lebih dari100.000 jaringan e-
Channel (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014
halaman 123). Selain itu, satelit ini bertujuan meningkatkan kualitas pertukaran data dan
mengantisipasi pengembangan aplikasi berbasis teknologi informasi dimasa mendatang
(sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 238).
Kebijakan Bank BRI dalam rangka memajukan teknologi adalah kebijakan paperless
system. Kebijakan ini juga sebagai wujud tanggung jawab BRI terhadap lingkungan. Aplikasi
yang digunakan adalah:
a. E-office untuk kegiatan surat menyurat.
b. Loan Approval System.
c. E-SPJ untuk dokumentasi perjalanan dinas.
d. Portal SDM.
e. Sosialisasi kebijakan melalui public folder.
f. SMK Online untuk monitoring kinerja pekerja.
g. Perubahan Absensi manual dengan kertas menjadi dengan EDC
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 507).
Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Bank BRI dalam kondisi cukup baik. Tetapi,
berdasarkan hasil survey yang dihasilkan oleh pihak independen maupun secara internal
menunjukkan bahwa terdapat beberapa catatan yang perlu mendapatkan perhatian di masa
mendatang.Di antaranya adalah perlunya perbaikan dalam hal pelayanan dan fitur produk
serta jasa BRI (Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014
halaman 117). Kesimpulannya, fasilitas perlengkapan, mesin, dan kantor dalam kondisi cukup
baik.
4.5. Penelitian dan Pengembangan
4.6. Audit Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen (SIM) pada Bank BRI sangat kompleks dan banyak
digunakan di hampir semua divisi. Semua direksi pada Bank BRI menggunakan Sistem
Informasi. Contohnya, Komite Kebijakan Sumber Daya Manusia (SDM) menggunakan sistem
informasi untuk pengambilan keputusan bidang kebijakan SDM, Direktur Operasional
menggunakan sistem informasi untuk mengaudit baik internal maupun eksternal di bidang
operasional, dan masih banyak lagi (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tahun 2014 halaman 382 dan 432). Kesimpulannya, semua manjer dalam Bank BRI
menggunakan sistem informasi untuk membuat keputusan.
BRI telah membentuk komite-komite di bawah Direksi dengan tujuan untuk
mendukung efektifitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab operasional. Ada 7 komite dan
salah satunya adalah Komite Pengarah Teknologi dan Sistem Informasi (Information System
and Technology Steering Committee/ITSC). ITSC merupakan komite yang bertanggung jawab
memberikan arahan dan rekomendasi tentang kebijakan, pengembangan, dan implementasi
teknologi dan sistem informasi BRI. Struktur dan Keanggotaan ITSC meliputi Ketua
(Direktur Operasional), Wakil Ketua (Direktur Kepatuhan), Sekretaris (Kepala Divisi
Teknologi dan Sistem Informasi), dan memiliki 19 Kepala Divisi yang terdiri dari Divisi
Bisnis, Divisi Operasional, dan Audit Intern. Zulhelfi Abidin merupakan Koordinator/Kepala
Divisi Teknologi dan Sistem Informasi. Koordinator ini baru dibentuk dan disahkan pada
tahun 2014 bersamaan dengan 3 Koordinator lainnya, yaitu Koordinator Bisnis Ritel, Change
Management, serta Audit Intern. Tujuan pembentukkan kordinator tersebut untuk penguatan
peran teknologi & sistem informasi sebagai business enabler termasuk jaringan komunikasi
satelit dalam rangka mendukung peran BRI untuk pengembangan financialinclusion serta
mewujudkan destination statement tahun 2017 sebagai integrated bankingsolution (sumber:
Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman 55, 433, 434,
dan 537). Kesimpulannya, Bank BRI memiliki posisi CEO atau direktur sistem informasi,
yaitu adanya Koordinator Divisi Teknologi dan Sistem Informasi.
Bank BRI memiliki 4 tanggung jawab kepada konsumennya, dan salah satunya adalah
melaksanakan pengembangan sistem, pelaksanaan Program Anti Pencucian Uang dan
Pencegahan Pendanaan Terorisme (PPT). Cara untuk dapat melaksanakan tanggung jawab
tersebut adalah dengan maintenance data nasabah secara berkala sehingga data nasabah akurat
dan update (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014
halaman 519). Implementasi teknologi informasi seperti CBS yang telah dilakukan oleh BRI
menjadikan sistem yang ada dalam perusahaan tersebut menjadi terintegrasi. Kondisi ini tentu
akan mempermudah perusahaan untuk mengetahui perkembangan bisnisnya setiap saat karena
data yang ada dalam sistem tersebut adalah data yang online dan up to date dengan demikian
perusahaan akan dapat mengetahui aktivitas sehari-hari dari tiap departemen dan kantor
cabangnya. Dengan CBS, dapat menghubungkan kantor pusat dengan unit BRI yang tersebar
diseluruh wilayah Indonesia. Kondisi ini tentu akan mempermudah perusahaan dalam
melakukan kontrol untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam proses bisnis, dan apabila
kesalahan telah terjadi perusahaan dapat langsung mengetahui sehingga perusahaan dapat
meminimalisasi kerugiannya (Sumber: https://inapuspita40.wordpress.com/category/sistem-
informasi-manajemen/). Kesimpulannya, data dalam sistem informasi pada Bank BRI
dimutakhirkan (update) secara teratur.
Disamping pengembangan program, penambahan fitur-fitur aplikasi serta upgrading
infrastruktur TI, BRI juga melaksanakan program peningkatan kompetensi SDM di Divisi
bidang TI. Peningkatan kompetensi SDM di Divisi TSI dilakukan melalui berbagai training
yang relevan disertai rotasi antar bagian maupun promosi pekerja ke Kantor Wilayah.
Pendidikan bagi petugas IT dan e-channel kantor cabang divisi TSI meliputi pendidikan IT
praktis berupa maintenance dan troubleshooting perangkat IT serta e-channel.Dalam rangka
mendukung integrasi kegiatan operasional khususnya terkait jaringan komunikasi unit kerja di
seluruh wilayah Indonesia, BRI telah mempersiapkan program satelit. Terkait hal tersebut BRI
juga melaksanakan sejumlah training terkait persiapan program dimaksud. Beberapa jenis
training yang dipersiapkan meliputi:
a. Satellite engineering: Space system engineer development program, Satellite
communication system, Satellite Network Engineering.
b. E-Learning: Pengantar Teknologi Informasi, Security Awareness.
c. Soft skill: Problem Solving & Decision Making; Business Lobbying and Effective
Negotiation Skill; Dynamic Time Management & Stress Management; Managing
Time, Priorities, Pressure & Stress; Leadership; Team Building.
d. IT Best Practice Standard: CCNA, CISA, IT-IL, TOGAF, ECCHFI, Data Center
Professional.
e. IT Risk Management.
(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman
122).
Kesimpulannya, lokakarya dan pelatihan komputer disediakan bagi pengguna sistem
informasi.
Setiap pengguna sistem informasi pasti memiliki kata sandi. Hal ini bertujuan agar apa
yang sudah di input oleh pengguna dapat terjaga dengan aman dan terkendali. Selain itu,
mencegah dari adanya kebocoran informasi yang dapat merugikan Bank BRI dan
menguntungkan kompetitor lainnya. Selain itu, semua sistem informasi yang ada pada Bank
BRI ramah pengguna (user friendly), karena para pemakai sebelumnya telah dilatih, jadi pada
saat menggunakan sistem informasi, para pemakai dapat menggunakannya dengan mudah.
Sistem informasi pada Bank BRI secara terus-menerus diperbaiki sehingga menghasilkan
sistem informasi yang lebih terperinci, lebih baik, dan lebih berkualitas. Di bawah ini adalah
sistem informasi manajemen yang dimiliki oleh Bank BRI dan sudah diperbarui untuk
meningkatkan kualitas dan efektifitas implementasi Good Corporate Governance (sampai saat
ini).

(Sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun 2014 halaman
326).
Dalam membuat suatu keputusan, para penyusun strategi sebisa mungkin mengerti
strategi kompetitor sehingga apa yang akan dihasilkan nantinya dapat bersaing dengan para
kompetitor lain. Bank BRI dapat mengetahui strategi kompetitor dengan memberikan survey.
BRI secara periodik melakukan survey persepsi nasabah untuk mengetahui tingkat kualitas
layanan BRI.Survey tersebut dilakukan baik secara internal maupun eksternal oleh pihak
independen. Survey internal dilakukan minimal dua kali dalam setahun oleh setiap unit kerja
operasional BRI di seluruh Indonesia. Sementara itu, survey kepuasan nasabah oleh pihak
independen (eksternal) dilakukan setiap triwulan disertai perbandingan dengan kompetitor di
industri perbankan (sumber: Laporan Tahunan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tahun
2014 halaman 117). Kesimpulannya, para penyusun strategi perusahaan mengetahui sistem
informasi perusahaan pesaing, dilihat dari survey internal dan eksternal.

)
Analisis SWOT

Matriks Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman (Strenghs Weakness


OpportunitiesThreats-SWOT) adalah sebuah alat pencocokan yang penting dalam
membantu para manajermengembangkan empat jenis strategi. Empat strategi tersebut
adalah strategi SO, WO, ST, dan WT. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai
4 strategi tersebut.

Strategy SO (Strength-Opportunity). Strategi ini menggunakan kekuatan


internalperusahaan untuk meraih peluang-peluang yang ada di luar perusahaan.

Strategy ST (Strength-Threat). Melalui strategi ini perusahaan berusaha


untukmenghindari atau mengurangi dampak dari ancaman eksternal. Hal ini
bukan berarti bahwa perusahaan yang tangguh harus selalu mendapatkan
ancaman. Jadi kesimpulannya, strategi yang diterapkan adalah penghindaran
kompetisi secara langsung.

Strategy WO (Weakness-Opportunity). Strategi ini diterapkan


berdasarkanpemanfaatan peluang yang ada, dengan cara mengatasi kelemahan-
kelemahan yang dimilki.

Strategy WT (Weakness-Threat). Strategi ini merupakan taktik untuk


bertahan(defensif) dengan cara mengurangi kelemahan internal serta
menghindari ancaman. Suatu perusahaan yang dihadapkan pada sejumlah
kelemahan internal dan ancaman eksternal sesungguhnya dalam posisi yang
berbahaya.

Gambar 2.2. Tabel Matriks SWOT

Kekuatan Kelemahan
1. Memiliki ratusan cabang 1. Adanya pengendapan saldo di
yang tersebar di Indonesia rekening

2. Sudah dikenal nasabah 2. Strategi pemasaran kurang


dengan fasilitas yang luas
diberikan

3. Program marketing lebih 3. Fasilitas gedung kurang besar


lengkap dan variasi

mengikut
4. Sumber daya manusia yang 4. Karyawan kurang i
kompetitif SOP

5. Training yang dilakukan 5. Job karyawan terlalu banyak,


secara berkala dan pengajar kurang spesifik
profesional

6. BRI menggunakan sistem


yang terkomputerisasi

7. BRI memperbaruhi sistem 6. Seringnya kerjaan yang


menggunakan flash teknologi berkesan mendadak

Peluang Strategi SO Strategi WO

Memanfaatkan jenis
1 Menciptakan Produk dan 1. Memperbanyak program 1. branchless
Program yang bervariasi promosi atau pemasaran banking untuk meningkatkan
efektifita
kepada masyarakat (S3,O3) faktor efisien dan s
lokasi (W3, O2)

marketin
2 Membangun 35 ribu 2. Merealisasikan pembangunan 2. Menyusun progam g
branchless banking (bank cabang branchless banking yang inovatif agar tujuan
tanpa kantor) di seluruh agar semakin memudahkan promosi sepenuhnya tercapai
Indonesia masyarakat dalam (W2, O3)

bertransaksi (S6,S7,O2)

3 Memperluas promosi 3. Menjaga kepercayaan 3. Memikirkan strategi atau


inovasi untuk Product
iklan (pemasaran) pelanggan dengan Development
memperbaharui terus sistem agar pemasaran dapat
produk yang terkomputerisasi dikembangkan (W2, O1)
(S2, S6, O4)

4 Melakukan transaksi 4. Memperbaharui terus produk

online banking untuk kredit bank agar semakin


mempermudah nasabah meningkatkan minat
konsumen dan memperluas
pangsa terutama untuk sektor
UKM (S3, S4, O5,O6)

5 Munculnya UKM baru


yang membutuhkan
pinjaman untuk modal
usaha.

6 Tersebarnya unit-unit BRI


pada setiap daerah yang
jauh dari perkotaan.

7 Kecenderungan pola
hidup masyarakat yang
konsumtif, merupakan
salah satu peluang yang
perlu dicermati untuk
meningkatkan jenis
produk jasa kredit
perbankan dan kualitas
pelayanan bagi nasabah

Ancaman Strategi ST Strategi WT

8 Banyak bermunculan bank 1. Memikirkan program 1. Meningkatkan variasi


komersil yang pemasaran baru yang produk berkualitas yang
menyediakan produk dan inovatif agar mampu inovatif agar mampu
jasa yang berkualitas bersaing dengan bersaing dengan kompetitor
tinggi. kompetitor lain (S3, T8, (W1, T8,T12)
T10)

9 Tingkat inflasi yang terus 2. Menjaga kualitas SDM


meningkat mengurangi yang berkualitas agar

minat masyarakat untuk mampu menambah nilai


menyimpan uang di bank. pelayanan disbanding
kompetitor (S4, S5, T10)

10 Bank bank pesaing asing


membuka cabang-cabang
sehingga menimbulkan
kompetitor

11 Kebijakan pemerintah
yang membatasi jumlah
bank.

12 Tarif bank pesaing yang


lebih kompetitif

Dari matriks SWOT diatas dapat kita lihat bahwa ada lambang di setiap akhir
strategi yang kelompok kami buat. Lambang tersebut berupa : (S3, O3) , yang
menandakan bahwa point strategi 3 dan opportunity 3 merupakan dasar pemikiran
untuk strategi alternatif SO poin 1 dan begitu juga seterusnya. Hal ini melandasi
bahwa strategi itu tidak muncul dari kekosongan melainkan dari faktor internal dan
eksternal yang telah disesuaikan untuk menentukan strategi yang diinginkan.
Contohnya, perhatikan strategi WO poin 1 yaitu Memanfaatkan jenisbranchless
bankinguntuk meningkatkan faktor efisien dan efektifitaslokasi (W3, O2) , hal ini
menandakan bahwa strategi tersebut muncul karena adanya dasar berupa kelemahan
poin ke 3 dari Bank BRI yaitu fasilitas gedung kurang besar, kemudian
dikolaborasikan dengan peluang poin ke 2 yang dimiliki, berupa Membangun 35
ribu branchless banking (bank tanpa kantor) di seluruh Indonesia. Dari matriks
SWOT diatas, dapat dilihat bahwa strategi-strategi yang dihasilkan itu bukan untuk
menentukan mana strategi yang terbaik, oleh sebab itu tidak semua strategi dalam
matriks SWOT akan digunakan atau diterapkan.
Kelompok kami menyimpulkan bahwa Bank BRI lebih dominan dalam
strategi SO, dimana Bank BRI menggunakan kekuatan internal yang dimilikinya dan
mengambil kesempatan untuk meraih peluang-peluang yang ada di lingkungan
eksternal perusahaan.

Dari gambar dibawah ini gambar 2.3 dapat kita lihat bahwa Bank BRI terletak pada posisi
kuadran 1. Hal ini menunjukkan bahwa BRI memiliki kekuatan dan peluang, sehingga dapat
mengarahkan seluruh potensi internal perusahaan untuk memanfaatkan peluang yang ada.
Posisi ini mendorong pihak BRI untuk mendukung strategi agresif yaitu menyerang dengan
penuh inisiatif dan terencana. Strategi agresif tersebut dapat berupa pengembangan pasar,
penetrasi pasar, pengembangan produk, integrasi ke depan, integrasi kebelakang, dan
integrasi horizontal serta diversifikasi konsentrik. Tahapan ini mendorong sebuah perusahaan
untuk melakukan ekspansi atau pertumbuhan lebih karena posisinya yang kuat.

BERBAGAI
PELUANG
Penciutan Ekspansi /pertumbuhan
3. Mendukung 1. Mendukung
Strategi Turn Strategi
Around Agresif

KEKUATAN KEKUATAN
EKSTERNAL INTERNAL

4. Mendukung 2. Mendukung
Strategi Strategi
Stabilisasi
BERBAGAI Kombinasi
ANCAMAN
Gambar 2.3. Kuadran Matrik SWOT Bank BRI

2.2. Analisis Porter

A. Model Lima Kekuatan Porter

1. Persaingan antarperusahaan saingan

Dalam menghadapi persaingan antarperusahaan BRI memiliki keunikan


dengan harga yang terjangkau dalam menyediakan fasilitas berupa produk
tabungan bagi para nasabahnya. Produk tabungan tersebut ditargetkan bagi
masyarakat pedesaan yang dinamakan SIMPEDES atau Simpanan Pedesaan.
Simpanan ini mensyaratkan setoran awal yang kecil dan terjangkau bagi
masyarakat pedesaan. Meskipun biaya yang ditawarkan rendah namun fasilitas
yang diberikan sudah termasuk lengkap, salah satunya dengan diberikannya kartu
BRI yang dapat berfungsi sebagai kartu ATM. Bagi para TKI, terdapat tabungan
SIMPEDES TKI. Walau dengan fitur yang lebih terbatas, tapi sangat
memudahkan kegiatan pengiriman uang dari negara tempat TKI bekerja ke daerah
asalnya. Bagi yang ingin merencanakan perjalanan haji, disediakan pula
Tabungan Haji. Tabungan ini memiliki beberapa keunggulan. Nasabah rekening
Tabungan Haji diberikan perlindungan asuransi jiwa dan kesehatan diri secara
gratis. Selain itu, tabungan ini juga dibebaskan dari biaya administrasi.

2. Potensi masuknya pesaing baru

Dalam industri perbankan jarang muncul pesaing baru karena dibutuhkan modal
yang besar dengan resiko yang tinggi sehingga sebagian besar investor yang ingin
membuka usaha lebih tertarik pada usaha yang sedang tren saat ini yakni bidang
teknologi. Oleh karena itu BRI lebih fokus untuk bersaing dengan pesaing yang ada saat
ini dengan berusaha untuk menjadi bank nomor satu di Indonesia.

3. Potensi pengembangan produk-produk pengganti

Dalam industri perbankan tidak ada produk karena yang diberikan adalah pelayanan
Jasa Keuangan.

4. Daya tawar pemasok

Dalam industri perbankan tidak ada tawar menawar di antara pemasok. 5.


Daya tawar konsumen

Dalam industri perbankan konsumen tidak dapat melakukan tawar menawar karena
harga telah ditetapkan oleh bank berdasarkan harga pasar.

B. Lima Strategi Generik Porter

Tipe 1: Kepemimpinan Biaya - Biaya Rendah Tipe


2: Kepemimpinan Biaya - Nilai Terbaik Tipe 3:
Diferensiasi

Tipe 4: Fokus Biaya Rendah Tipe 5:

Fokus Nilai Terbaik


UKURAN BESAR
1. Strategi Kepemimpinan Biaya (Tipe 1 & Tipe 2)

Bank BRI menjalankan strategi kepemimpinan biaya tipe 1 dan tipe 2 sehingga dapat
melayani berbagai segmen masyarakat. Selain itu nilai terbaik yang diberikan bank BRI
yaitu menyediakan banyak kelebihan di antaranya pembagian hadiah, mudah dalam
melakukan kredit, dengan potongan administrasi yang rendah. Berkat strategi ini bank
BRI dapat menjadi Bank yang memiliki rekening nasabah terbanyak.

2. Strategi Diferensiasi (Tipe 3)

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bank BRI memiliki keunikan dalam varian jenis
tabungan dengan harga yang terjangkau dan fasilitas yang lengkap seperti bank-bank
pada umumnya. Fasilitas itu antara lain, internet banking dan sms banking yang dapat
melakukan segala jenis transaksi antara lain pembayaran SIM dan STNK, pembayaran
zakat dan infaq, pembayaran tiket pesawat, pembayaran biaya pendidikan, pembelian
pulsa dan sebagainya.

3. Strategi Fokus (Tipe 4 & Tipe 5)

Bank BRI berfokus untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat mulai dari masyarakat
kalangan atas hingga bawah, dari masyarakat kota hingga masyarakat desa. Dengan
fokus ini BRI menerapkan strategi biaya rendah dengan berusaha memberikan fasilitas
terbaik, yang tidak kalah dengan fasilitas yang diberikan

oleh bank lainnya. Untuk menunjang fokus BRI yaitu menjangkau seluruh lapisan
masyarakat, maka BRI menerapkan kemudahan dan user friendly. Kemudahan yang
diberikan antara lain nasabah dapat melakukan berbagai transaksi perbankan tanpa harus
datang ke bank atau ATM. User friendly yang diberikan yaitu nasabah dapat
menggunakan kode singkat untuk memilih fitur phone banking.
C. Kesimpulan Analisis Porter

Menurut kelompok kami BRI telah memilih strategi yang tepat dalam memenuhi tujuan
utamanya yakni menjangkau seluruh lapisan masyarakat. BRI juga terus melakukan
pembaharuan dengan mengikuti perkembangan zaman guna menjamin kepuasan
pelanggan dengan tetap mengikuti persaingan yang semakin kompetitif.

Saran yang kami berikan kepada bank BRI yakni BRI harus meningkatkan pelayanan
dan fasilitas di kota sehingga masyarakat di kota bisa mengenal bank BRI dan tidak
menganggap bank BRI sebagai bank untuk masyarakat desa, melainkan bank untuk
seluruh rakyat Indonesia.

2.3. ANALISIS INDUSTRI : MATRIKS EVALUASI


FAKTOR EKSTERNAL

Pada bagian ini, kami akan melakukan analisis industri berupa analisis eksternal dari Bank
BRI dengan meninjau lebih lanjut mengenai Peluang dan Ancaman yang dihadapi. Peluang merujuk
kepada kondisi yang menguntungkan dalam lingkungan yang dapat menghasilkan manfaat bagi
kepentingan organisasi jika ditindaklanjuti dengan benar. Artinya, peluang adalah situasi yang hadir
tetapi harus ditindaklanjuti agar perusahaan dapat mengambil manfaat darinya. Ancaman mengacu
pada kondisi atau hambatan yang dapat mencegah perusahaan untuk mencapai tujuannya.

Analisis eksternal dilihat dari pihak Bank BRI merupakan sebuah hal penting yang harus
tetap diperhatikan untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam bersaing dengan pihak luar.
Berdasarkan hasil analisis dan data yang kami peroleh mengenai Bank BRI, berikut ini ringkasan
informasi yang kami peroleh.

2.3.1. Opportunities (peluang) merupakan kondisi peluang berkembang dimasa


datang yang terjadi. Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi, proyek atau
konsep bisnis itu sendiri. misalnya kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi lingkungan sekitar.
Analisa :

Pemerintah yang memiliki sepenuhnya bank BRI ini, maka pemerintah mengharapkan bank
ini terus dapat beoperasi sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah dan dapat terus
berkembang dalam menggerakkan roda perekonomian nasional, dan adanya kebangkrutan dari
beberapa bank swasta akibat dari krisis moneter yang baru-baru ini terjadi tentunya membuka
peluang pangsa pasar bagi bank ini dalam menjalankan dan mengembangkan produk yang sudah
ditinggal oleh bank yang sudah terlikuidasi oleh pemerintah khususnya Bank Indonesia yang
menangani semua permasalahn yang terjadi pada bank yang ada di Indonesia.

Peluang BRI

BRI adalah sebuah brand yang sangat spesifik di mana banyak orang bilang bahwa BRI
adalah The King of Micro Banking yang menguasai pangsa pasar di Indonesia. Oleh karena itu,
BRI melihat hal ini sebagai opportunity khususnya di kota besar untuk masuk ke bisnis ritel dan
consumer. BRI awalnya melihat ada opportunity di 14 kota besar untuk meraih dana masyarakat,
kemudian berdasarkan hal tersebut BRI mulai mengembangkan produk, fitur, serta layanan secara
bertahap. BRI juga menyempurnakan tampilan kantor baik secara eksterior maupun interior, lalu
BRI juga menyempurnakan IT sehingga sejak Q3 2008 BRI dapat mengkoneksikan seluruh
outletnya di Indonesia mulai dari teras, unit, kantor kas, Kantor Cabang Pembantu, Kantor Cabang,
Kantor Wilayah, dan Kantor Pusat secara realtime online. BRI juga mengembangkan E-Channel
dengan menambah jumlah ATM,kemudian pengembangan produk EDC (mini ATM), Mobile
Banking & Internet Banking, serta menyempurnakan fitur-fitur di E-Channel tersebut yang
disesuaikan dengan consumercentric (orientasi kebutuhan konsumen). Tidak berhenti sampai
dengan di situ, BRI juga

mengembangkan E-Money berupa kartu prepaid Brizzi (card based) & T-Bank (server
based), BRI juga masuk ke dalam sistem pembayaran seperti E-Commerce untuk
individual market, serta E-Tax &Cash Management System untuk institutional market.
(Sumber : http://swa.co.id/business-strategy/bri-raja-mikro-yang-masuk-ke-retail-dan-
consumer-banking, diambil tanggal 06/03/2015, pk. 12.39 WIB)
Berikut adalah jabaran dari beberapa Peluang yang ditangkap oleh Bank BRI yang kami dapat
dari analisis melalui sumber internet :

1. BRI Siap Bangun 35 Ribu Cabang Tanpa Kantor Tahun Ini


Berdasarkan berita hari Senin, 5 Januari 2015 13:58 WIB

JAKARTA - Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
Asmawi Syam menegaskan, tahun ini berencana membangun 35 ribu branchless banking
(bank tanpa kantor) di seluruh Indonesia.

Dia mengatakan, program ini untuk memaksimalkan pembangunan pemerintah untuk 1.000
desa nelayan di Indonesia.

"Kita sekarang sedang bangun branchless banking. Kita harapkan sampai akhir 2015
sebanyak 35 ribu. Kalau sekarang yang sudah ada kisaran 15 ribu branchless banking,"
ujarnya di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Senin (5/1/2015).

Sumber : http://ekbis.sindonews.com/read/946198/34/bri-siap-bangun-35-ribu-cabang-
tanpa-kantor-tahun-ini-1420441107 [diakses tanggal 17/03/2015, 19.14 WIB]

Analisis : Hal ini menunjukkan peluang dari Bank BRI untuk membuka jalan
mendekatkan diri dengan para masyarakat sebagai titik target sasaran nasabahnya. Ini tentu
sangat bermanfaat bagi kemajuan dalam implementasi strategis Bank BRI.

2. BRI realisasi keuntungan diatas 20%

Selama tiga tahun, rata-rata realisasi keuntungan saham-saham berkapitalisasi besar seperti
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PTBank Rakyat
Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)tumbuh di atas 10 persen.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mampu memberikan realisasi keuntungan
di atas 20 persen. Berdasarkan hitungan Liputan6.com, rerata realisasi keuntungan saham
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk tercatat 23,01 persen dari periode 2011-2014. Sementara
itu, capital gainsaham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar 20,63 persen.

Analis PT First Asia Capital, David Sutyanto menuturkan, ada sejumlah faktor yang
membuat harga saham BBRI dan BBCA bergerak positif. Pertama, PT Bank

Rakyat Indonesia Tbk fokus menyalurkan kredit di sektor ritel terutama usaha kecil
dan menengah (UKM).

Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2145728/4-saham-bank-terbesar-di-bursa-ri-siapa-
beri-imbal-hasil-tinggi [diakses tanggal 17/03/2015, 19.22 WIB]

Analisis : Dari berita diatas dapat kita simpulkan bahwa peluang BRI untuk maju
dengan fokus nya pada sektor UKM dapat terus dikembangkan dan dipertahankan, sebab
fokus strategis tersebut memberikan peluang bagi BRI untuk menaikkan harga saham dan
meningkatkan nilai kredibilitas masyarakat.

3. Pengguna Layanan e-Banking BRI Melonjak 128%

Liputan6.com, Jakarta - Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyatakan


nasabah yang menggunakan layanan e-banking terus meningkat. Hal tersebut terlihat dari
jumlah pengguna, transaksi, dan volume pada ATM, mobile banking, dan internet banking

Jumlah transaksi ATM BRI mengalami kenaikan 30,5 persen dari 823,2 juta menjadi 1,074
miliar. Pada mobile banking BRI jumlah tranksaksi naik sebanyak 67 persen dari 57,7 juta
menjadi 96,4 juta. Lalu jumlah transaksi internet banking naik 143 persen dari 16,1 juta
menjadi 39,2 juta.

Pihaknya mengungkapkan, untuk meningkatkan kualitas pelayanan Bank Rakyat Indonesia


mengembangkan unit kerja konvensional dan e-channel. Setidaknya sampai September 2014
telah menambahkan 665 unit kerja konvensional. Kemudian electronic data capture (EDC)
bertambah 32.144 unit serta ATM bertambah 3.910 unit. (Amd/Ahm)
Sumber : http://bisnis.liputan6.com/read/2123081/pengguna-layanan-e-banking-bri-
melonjak-128 [diakses tanggal 17/032015, 19.25 WIB]

Analisis : Bank BRI meraup peluang untuk menjagkau nasabah yang jauh lebih luas. Berita ini
merupakan salah satu tombak bagi BRI untuk melakukan pertahanan dan pengembangan ynag lebih
baik dalammenjaga kepercayaan dari masyarakat atau nasabah nya, sehingga produk e-banking ini
dapat dijadikan peluang untuk perluasan produk dan inovasi BRI

Tugas UAS Manajemen Strategis Analisis Bank BRI Page 21


2.3.2. Threats (ancaman) merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancamanini
dapat mengganggu organisasi, proyek atau banyaknya pesaing Bankkonsep bisnis itu
sendiri. Analisa Threats BRI :

Akhir-akhir ini sangat banyak bermunculan bank-bank baru dengan berbagai hasil merger
dalam meningkatkan permodalan yang cukup besar dan pengusaan teknologi perbankkan yang
canggih serta kemudahan transaksi merupakan ancaman harus diperhitunggkan. Selain itu,
dengan adanya promosi besar-besaran dan pembrian hadiah serta fasilitas lain yang sangat
bervariasi diberikan oleh bank BRI juga dapat memberikan ancaman yang sangat besar dan
dapat membahayakan keselamatan perkembangan Bank BRI kedepannya.

Sumber : https://dewiayupitaloka.wordpress.com/2010/11/13/bank-lembaga-keuangan/
[Dikutip tanggal 14/03/2015, 13.42 WIB]

Ancaman-ancaman tersebut dapat kita analisis dari point berikut :

b. Pesaing

Saat ini keberadaan BRI berada ditengah pertarungan raksasa-raksasa perbankan di Indonesia.
Persaingan dunia perbankan sangat ketat, terutama ketika bank-bank besar yang mulai kompetitif
dalam memberikan produk dan jasa layanan perbankan. Karena banyaknya pesaing-pesaing
baru,hal ini akan menyebabkan masyarakat lebih kritis dalam memilih bank mana yang akan
dijadikan lahan menabungnya. Pertimbangannya tentu saja tidak hanya hadiah-hadiah menarik yang
ditawarkan. Didukung dengan kepemilikan asset yang besar serta inovasi produk yang lebih
meenggiurkan menjadi pesaing yang cukup potensial dan perlu mendapat perhatian yang serius dari
pihak manajemen BRI.

Pesaing baru yang juga cukup potensial di dunia jasa keuangan dan perbankan saat ini adalah
munculnya berbagai macam bank yang memberikan layanan perbankan dengan basis pengelolaan
syariah. Bank bank yang lain sudah mulai membuka divisi yang memberikan layanan syariah,
seperti Bank Syariah Mandiri, BPD Syariah. Tampaknya ekspekstasi masyarakat terhadap bank-
bank syariah cukup tinggi. Bank-bank konvesional pun turut ikut ambil bagian dalam persaingan
ini, seperti contoh besar nya dalah BCA yang sudah memiliki cakupan market dan asset yang cukup
menjanjikan.

Tugas UAS Manajemen Strategis Analisis Bank BRI Page 22


c. Tekanan dari Produk Keuangan Lainnya

Pola hidup masyarakat yang konsumtif memungkinkan kebutuhan masyarakat akan sebuah
kredit cukup tinggi, hal ini rupanya juga dilirik oleh perusahaan pendanaan selain bank untuk
mengembangkan perusahaan mereka. Saat ini akan dengan mudah kita jumpai perusahaan
leasing dengan cukup pesat dapat berkembang dikarenakan berbagai kemudahan yang mereka
tawarkan terhadap nasabah dan masyarakat. Sedangakan kebutuhan masyarakat akan jasa
penyimpanan uang yang aman dengan memperoleh imbalan kompetitif merupakan pangsa yang
kini tidak hanya milik industri perbankan. Saat ini untuk kebutuhan jasa tersebut telah banyak
berdiri berbagai perusahaan sekuritas yang menawarkan produk reksadana dan investasi pasar
modal yang memberikan keuntungan yang jauh lebih besar daripada deposito perbankan.
Perusahaan asuransi yang juga mulai berinovasi sehingga saat ini masyarakat tidak hanya
mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan dari lembaga asuransi tapi juga keuntungan yang
cukup menggiurkan. Saat ini asuransi bisa kita perhitungkan sebagai sarana investasi yang cukup
menarik dan menjanjikan.

d. Tekanan dari nasabah

Dalam dunia bisnis dikenal ada lima tingkatan konsumen yang dalam hal ini dapat kita
samakan dengan nasabah, yaitu Terorist customer, Transactional customer, Relationship
customer, Loyal customer, dan Advocator customer. Dari berbagai macam konsumen atau
nasabah tersebut BRI harus bersaing secara kompetitif dengan banyaknya bank, perusahaan
pendanaan / leasing, dan perusahaan asuransi. Akan sangat menguntungkan jika BRI mendapat
konsumen atau nasabah yang masuk dalam kategori loyal customer dan advocator customer. Kini
masyarakat selaku konsumen dan nasabah akan dihadapkan pada semakin banyaknya pilihan
yang menarik, ini tentu saja kondisi yang sangat bagus karena konsumen dan nasabah bisa
memiliki pilihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka akan sebuah produk dan jasa
keuangan. Pada akhirnya tingkat kepuasan nasabah akan jasa layanan perbankan sangat
ditentukan oleh kualitas pelayanan bank kepada nasabah yang dapat diidentifikasi meliputi
faktor-faktor Reliability, Responsiveness, Assurance, Emphaty, dan Tangibles
General Businness Environtment | Analisis PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) 59

Anda mungkin juga menyukai