Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM

SISTEM TELEKOMUNIKASI ANALOG DAN DIGITAL


MODULASI FM

Oleh:

FENNY ANDINY

1541160049

2B JTD

Kelompok 2 :

1. Fathony Ilham Eka Putra


2. Alvian Iqbal Fahmi
3. Fenny Andiny
4. Dhisa Anugrah Gustiani

PROGRAM STUDI JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2015-2016
1. Tujuan
a. Mengetahui dan memahami teori dasar modulasi FM
b. Mensimulasikan modulasi FM software matlab
c. Mempraktekkan modulasi FM
d. Mengetahui tentang spectrum dan sinyal Modulasi FM
2. Teori dasar
2.1 Modulasi Frekuensi (FM)
FM adalah salah satu metode modulasi, dimana kombinasi antara
sinyal informasi dengan sinyal carier menyebabkan output dari modulator
FM mempunyai frekuensi yang bervariasi menurut amplitudo dari sinyal
pemodulasi. Berikut ini adalah bentuk dari modulasi gelombang FM.

Gambar2.1 sinyal termodulasi FM


Dikatakan modulasi FM karena frekuensi sesaat (fi)diubah-ubah
secara linear oleh perubahan sesaat dari sinyal informasi. Hal ini berarti
nilai sesat dari frekuensi sudut (angular)adalah sama dengan
frekuensicarrier ditambah dengan komponen perubahan waktu yang
sebanding dengan sinyal informasi.
Secara sistematis dapat dibuktikan bahwa;
Frekuensi sesaat (fi) = fc+ kf (mt)
Dimana, kf adalah konstanta frekuensi Hz/s
Sehingga, persamaan sinyal termodulasi FM dapat ditulis
i = c + kf (mt)

=

f di = fi . dt =( + . ())
i = ct + kf .
jadi, SFM = Ac cos i
SFM = Ac cos { ct + kf . }

Deviasi frekuensi sesaat dari carrier yang termodulasi terhadap frekuensi


dari carrier yang tidak termodulasi adalah sebanding dengan amplitude
sesaat dari sinyal pemodulasi.

=
2

Sedangkan, nilai indeks modulasinya didapatkan dari;


SFM = Ac cos { ct + kf . }
SFM = Ac cos { ct + kf cos () . }
.
SFM = Ac cos { ct + cos () + }

.
SFM = Ac cos { ct + sin }


SFM = Ac cos { ct + sin }

SFM = Ac cos { ct + sin }



Jadi, indeks modulasinya () =

Bentuk gelombang nya bervariasi, menghasilkan banyak frekuensi,


tergantung pada variasi frekuensi yang dimodulasi. Amplitudo sinyal carrier
nya konstan tetapi frekuensi akan berubah sesuai dengan perubahan amplitudo
isyarat pemodulasi. Jika amplitudo pemodulasi meningkat, frekuensi
pembawa akan lebih tinggi daripada frekuensi normalnya.Amplitudo
pemodulasi turun, frekuensi pembawa akan lebih rendah daripada frekuensi
normalnya. Dapat juga diterapkan untuk kondisi sebaliknya. Oleh karena
frekuensi pembawa berubah mengikuti amplitudo pemodulasi maka frekuensi
pembawa akan berayun di atas dan di bawah frekuensi normal sesuai dengan
frekuensi pembawa. Amplitudo dan jeda antara komponen frekuensi pada
bidang sisi dipengaruhi oleh deviasi frekuensi dan frekuensi isyarat
pemodulasi.Karena amplitudo isyarat FM adalah konstan, jadi meskipun
amplitudo pada frekuensi berubah-ubah maka jumlah total bidang sisi adalah
tetap.

Spektrum Sinyal FM

Gambar 2.2 Spektrum Sinyal FM


Lebar bandwidth sinyal FM adalah tak berhingga. Namun pada praktek
biasanya hanya diambil bandwith dari jumlah sideband yang signifikan.
Jumlah sideband signifikan ditentukan oleh besar indeks modulasinya seperti
dalam fungsi tabel besel berikut.
Gambar 2.3 Contoh Tabel Fungsi Besel Untuk Modulasi Frekuensi
(Frequency Modulation, FM)
Ji : nilai amplituda komponen frekuensi sideband ke i (i0)
Jo : nilai amplituda komponen frekuensi sinyal pembawa (bukan sideband)
mf : indeks modulasi
Lebar bandwidth pada modulasi FM dapat ditentukan menggunakan teorema
arson sebagai berikut :
BWFM = 2(fd + fm)

Gambar2.4 Teorema Carson


dimana,
fd = frekuensi deviasi
fm = frekuensi maksimum sinyal pemodulasi
3. Simulasi matlab

Gambar2.5 Source Code Modulasi FM

Gambar2.6 Hasil Source Code Modulasi FM


4. Simulasi multisim

Gambar2.7 Rangkaian Modulasi FM

Gambar2.8 Hasil Rangkaian Modulasi FM


5. Alat dan bahan
5.1 Alat Dan Bahan Percobaan 1
a. Power Supply : 1 buah
b. Oscilloscope : 1 buah
c. Generator fungsi : 1 buah
d. Multimeter digital : 1 buah
e. Kabel banana to banana : 2 buah
f. Protoboard/U-Patch Panel Type C : 1 buah
g. Modul FM(Angle Modulator) : 1 buah
h. Resistor 220k : 2 buah
i. Potensiometer 1k : 1 buah
j. BNC to alligator : 1 buah
k. Jumper secukupnya
5.2 Alat Dan Bahan Percobaan 2
a. Power Supply : 1 buah
b. Generator fungsi : 2 buah
c. Oscilloscope : 1 buah
d. Kabel banana to banana : 2 buah
e. Kabel BNC to banana : 2 buah
f. Jumper secukupnya
5.3 Alat Dan Bahan Percobaan 3
a. Generator fungsi : 1 buah
b. Oscilloscope : 1 buah
c. Kabel banana to banana : 2 buah
d. Modul Angle Modulator : 1buah
e. Modul Angle Demodulator : 1 buah
f. Kabel BNC to banana : 2 buah
g. Jumper secukupnya
6. Langkah kerja dan hasil percobaan
6.1 percobaan I
a. alat dan bahan disiapkan
b. rangkaian dibuat seperti gambar dibawah ini

Gambar2.9 Rangkaian Percobaan I Modulasi FM


c. Kemudian susunlah rangkaian seperti yang ada di gambar pada modul

Gambar2.10 Percobaan I Modulasi FM


d. power supply dijumper di 15 volt dan 0 volt , kemudian jumper
dengan U-PATCH PANEL TYPE C dan hubungkan ke modul
FM/PM
e. multimeter digital dihubungkan ke input modulator (FM1)
f. nilai potensiometer diubah sampai nilai di multimeter digital
menunjukkan nilai +10 volt hingga 10 volt
g. baca frekuensi output nilai yang ditampilkan multimeter digital mulai
dari tegangan input +10 volt hingga 10 volt
h. amati hasil frekuensi output di osiloskop dan catat pada table 2.1
tabel 2.1 nilai frekuensi output dengan tegangan

Tegangan Frekuensi
input Output
modulator Modulator Hasil di Osiloskop
FM(1) FM(2)
(Volt) (kHz)

+ 10 21.19
+9 21.12

+8 21.10

+7 21.01
+6 20.83

+5 20.77

+4 20.70
+3 20.62

+2 20.60

+1 20.43
0 20.34

-1 20.30

-2 20.26
-3 20.16

-4 20.04

-5 19.96
-6 19.92

-7 19.84

-8 19.76
-9 19.69

-10 19.65

6.2 percobaan II
a. siapkan alat dan bahan
b. modul dirangkai sesuai urutan yaitu power supply , generator fungsi 1,
generator fungsi 2
Gambar 2.11 Rangkaian Percobaan II
c. sambungkan plug (jumper) pada +15 volt, 0 volt, -15 volt
d. kedua generator fungsi disambungkan ke osiloskop dengan cara
menghubungkan dengan kabel banana to BNC, probe hitam ke 0 volt /
ground dan probe merah ke 0.20vss dan BNC ke osiloskop channel
1 dan channel 2
e. mengecek masing-masing generator fungsi

Gambar 2.12 Test pada masing-masing generator fungsi


f. sinyal informasi (pada generator fungsi 1) dan sinyal carrier(generator
fungsi 2) digabungkan dengan menggunakan kabel banana to banana
dan dihubungkan pada 0..20vss dan ground 0 volt di generator
fungsi 1. Kemudian tumpuk dengan kabel banana to BNC seperti
pada (prosedur (e))
g. frekuensi dan amplitude diatur sesuai ketentuan
Generator fungsi Generator
1(sinyal fungsi 2 (sinyal Gambar sinyal output
informasi) carrier)

3 Vpp, 92.5 KHz

1 KHz

Gambar 2.13 Output sinyal dari


penggabungan dua generator fungsi
6 Vpp, 92.5 Hz
Gambar 2.14 Output sinyal saat
tegangan dinaikkan 6Vpp

6 Vpp, 185 Hz

Gambar 2.15 Output sinyal saat


frekuensi dinaikkan 185 Hz
6 Vpp, 1 KHz

Gambar 2.16 Output sinyal saat


frekuensi dinaikkan menjadi 1 Khz
h. amati hasil keluaran pada osiloskop
6.3 Percobaan III
a. Rangkailah modul FM seperti rangkaian berikut ini

Gambar 2.17 Rangkaian Percobaan III


b. Keluaran FM dari FM modulator dihubungkan kemasukkan FM
demodulator. Aturlah switch ke T2 (f1 = 3.4 kHz) dan aturlah pula
frekuensi fc= 20 kHz pada potensio di modul FM modulator.frekuensi
sinyal informasi generator fungsi fm= 5 Hz atau 10 Hz gelombang sinus
Vm = 0 Vpp dan kemudian Vm= 5 Vpp untuk dihubungkan ke masukan
modulator Fm (a) dan kemudian ke masukan pre-emphashis (b)
Gambar 2.18 Frekuensi carrier diatur 20 KHz
c. Hubungkan kanal A dari osiloskop ke keluaran dari FM modulator (c)
dank anal B ke test point mulai dari point 1 sampai dengan 4 . time base
osiloskop diatur pada 10 s/cm (hasil pengamatan menggunakan Vm= 5
Vpp, dikarenakan output sinyal lebih jelas)
1. Keluaran limiter

Gambar rangkaian (test tiap point) Output sinyal

Gambar2.19 Keluaran Limiter Dari


Masukan Ke Modulatur FM
Gambar2.20 Keluaran Limiter Dari
Masukan pre emphasis

1. Keluaran product detector

Gambar rangkaian (test tiap point) Output sinyal

Gambar2.21 Keluaran product detector


Dari Masukan Ke Modulatur FM
Gambar2.22 Keluaran product detector
Dari pre emphasis

2. Masukkan VCO

Gambar rangkaian (test tiap point) Output sinyal

Gambar2. 23Masukkan VCO


Dari Masukan Ke Modulatur FM
Gambar2.24 Masukkan VCO
Dari pre emphasis

3. Keluaran VCO

Gambar rangkaian (test tiap point) Output sinyal

Gambar2. 25 Keluaran VCO


Dari Masukan Ke Modulatur FM
Gambar2.26 Keluaran VCO
Dari Masukan pre emphasis

Gambar2. 27 Keluaran demodulator


Dari Masukan pre emphasis

d. Hitung deviasi frekuensi untuk Vm = 5Vpp. Amati FM pada tegangan


dan waktu periodic
1. Pre emphasis

(a)

(b)
Gambar 2.28 Deviasi frekuensi saat sinyal informasi 5 Vpp, dimana (a)
t untuk f lower dan (b) t untuk f upper
2. Dari masukan modulator FM

Gambar 2. 29 Deviasi frekuensi saat sinyal informasi 5 Vpp


e. Dengan fm mulai dari 500Hz,1KHz,2KHz,3KHzsampai dengan 3.4
kHz, maka ukurlah tegangan keluaran dari demodulator:

Gambar 2.30 Saat frekuensi 500 Hz


Gambar 2.31 Saat frekuensi 1KHz

Gambar 2.32 Saat frekuensi 2 KHz


Gambar 2.33 Saat frekuensi 3 KHz

Gambar 2. 34Saat frekuensi 3.4 KHz


7. Analisis data
7.1 Analisi Data Percobaan I
Pada praktikum kali ini percobaan yang dilakukan adalah percobaan FM,
dari hasil percobaan pada tabel 2.1 dapat diketahui bahwa frekuensi output
modulator berubah-ubah seiring dengan perubahan tegangan input modulator.
Hal ini terjadi karena pada frekuensi modulator frekuensi sinyal pembaw
disesuaikan secara proporsional berdasarkan amplitudo sinyal informasinya.
Selain itu, pada hasil hubungan input +10V hingga -10V frekuensi output
yang dihasilkan menunjukkan nilai Kf yang berbeda-beda sehingga dari hasil
tersebut dapat diketahui bahwa linieritasnya tidak optimal.

Dapat dijelaskan hubungan antara tegangan input dengan frekuensi output


yaitu semakin besar amplitudo input yang diberikan maka frekuensi yang
dihasilkan semakin besar pula. Dengan kata lain, pada saat sinyal berada pada
level positif (+), frekuensi sinyal output yang dihasilkan besar. Sedangkan
untuk amplitudo nol dan negatif, nilai frekuensinya semakin menurun.

Hubungan besarnya Kf (konstanta modulasi frekuensi) dengan


tegangan input dan frekuensi output yaitu ketika sinyal menghasilkan selisih
frekuensi yang semakin kecil maka konstanta yang dihasilkan juga semakin
kecil dan lebar sinyal yang dihasilkan semakin renggang.
Gambar 2. Grafik hubungan antara tegangan input dengan frekuensi output

7.2 Analisi Data Percobaan II


1. Perbandingan antara hasil percobaan 1 dengan percobaan 2.
Pada percobaan 1dan 2, diketahui V1 = 3Vpp, V2 = 6Vpp, f1 = 92.5Hz, f2 =
92.5Hz dan fc = 1 KHz
Dimana, V1 : amplitudo sinyal informasi
V2 : amplitudo sinyal informasi
f1 : frekuensi informasi
f2 : frekuensi informasi
fc : frekuensi carrier
Pada kedua percobaan tersebut yang membedakan adalah besar amplitudo
carriernya, sedangkan frekuensi nya sama. Berdasarkan perbedaan tersebut,
dihasilkan gelombang yang sama baik pada percobaan 1 dan percobaan 2
Hasil dari kedua percobaan tersebut menunjukkan perubahan amplitudo tidak
terlalu berpengaruh pada sinyal termodulasi FM-nya.
2. Perbandingan antara hasil percobaan 3 dengan percobaan 4
Pada percobaan 3, diketahui V1 = 6Vpp, f1 = 185Hz ,fc = 1KHz.
Untuk percobaaan 4,diketahui V1 =6Vpp, f1 = 1KHz ,fc = 1KHz..
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa nilai amplitude output sinyal adalah
sama. Namun, bentuk output sinyalnya berbeda pada saat frekuensi 185 Hz
output sinyal masih menunjukkan output sinyal modulasi FM. Sedangkan
pada frekuensi 1 Khz dapat dilihat output sinyal menyerupai sinyal carriernya.
7.3 Analisi Data Percobaan III
Pada percobaan ini digunakannya komponen pre-emphasis yang
ditempatkan pada tepat sebelum sinyal masuk ke dalam modulator FM.
Pre-imphasis digunakan dalam untuk mencegah pengaruh kecacatan pada
sinyal terima. Pengaruh kecacatan itu berasal dari differential gain (DG-
penguatan yang berbeda) dan differential phase(DP-fasa yang berbeda).
Pre-emphasis akan menekan amplitudo dari frekuensi sinyal FM yang
lebih rendah pada input
8. Kesimpulan
8.1 kesimpulan percobaan I
- Pada sistem FM frekuensi output modulator berubah-ubah seiring dengan
perubahan tegangan input modulator.
- Besarnya tegangan input yang diberikan dapat mempengaruhi frekuensi
output yang dihasilkan. Semakin besar nilai tegangan input, maka
frekuensinya semakin besar.
- Nilai konstanta yang dihasilkan bervariasi tergantung pada frekuensi
output yang dihasilkan, karena nilai selisih dari frekuensi output
mempengaruhi nilai konstanta begitupun dengan nilai selisih tegangan
input. Nilai kf akan menentukan kelinieritasan sinyal termodulasi FM.
8.2 kesimpulan percobaan II
- Perubahan nilai amplitudo tidak mempengaruhi proses modulasi
frekuensi
- Pada proses modulasi frekuensi, frekuensi carrier berubah sesuai
dengan amplitudo sinyal informasi, yaitu ketika amplitudo informasi
pada level positif, maka frekuensi carrier membesar, dan ketika
amplitudo informasi pada level negatif, maka frekuensi carrier
mengecil.
- Semakin besar nilai frekuensi carrier, maka semakin renggang
gelombang hasil modulasi frekuensinya.
8.3 kesimpulan percobaan III
- Pada bagian FM Demodulator terjadi pemisahan antara sinyal carrier
dengan sinyal informasi

- Pada pemancar FM, untuk mengantisipasi penurunan deviasi frekuensi


pemancar akibat dari penurunan amplitudo sinyal modulasi pada
frekuensi tinggi sinyal pemodulasi digunakan rangkaian pre-emphasi
- Pre emphasis digunakan untuk mencegah atau mengurangi kecacatan
sinyal

Anda mungkin juga menyukai