Anda di halaman 1dari 20

9

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan

oleh Septi Yuliana (2013) yang berjudul Patologi Sosial Tokoh Utama Pada Novel 86

Karya Okky Madasari. Penelitian berjudul Gejala Patologi Sosial Para Tokoh Dalam

Novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye: Tinjauan Psikologi Sastra berbeda dari

penelitian yang telah dilakukan oleh Septi Yuliana. Pertama, perbedaannya berupa

sumber data. Penelitian ini menggunakan sumber data yang berupa novel Negeri Para

Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk karya Tere Liye sedangkan penelitian yang telah

dilakukan oleh Septi Yuliani berupa novel berjudul 86 karya Okky Madasari. Kedua,

perbedaan penelitian ini terletak pada tokoh cerita yang dianalisis. Tokoh yang dianalisis

dalam penelitian ini tidak hanya difokuskan pada tokoh utamanya saja melainkan

terhadap para tokoh sedangkan penelitian yang telah dilakukan oleh saudari Septi Yuliani

difokuskan pada tokoh utama. Ketiga, perbedaanya terdapat pada rumusan masalah.

Penelitian ini memiliki rumusan masalah berupa bentuk tindak patologi sosial apa

sajakah yang dilakukan para tokoh dan penyebab para tokoh melakukan tindak patologi

sosial sedangkan penelitian yang telah dilakukan oleh Septi Yuliani berupa fenomena

patologi sosial apa saja yang terdapat dalam novel berjudul 86 karya Okky Madasari.

Adapun demikian, persamaannya terdapat pada pendekatan yang digunakan yaitu sama-

sama menggunakan pendekatan penelitian psikologi sastra. Berdasarkan uraian tentang

penelitian terdahulu, maka orisinalitas penelitian dengan judul Tindak Patologi Sosial

Para Tokoh Dalam Novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye: Tinjauan Psikologi

Sastra dapat dipertanggungjawabkan.


9
10

B. Unsur Intrinsik Novel

1. Tokoh

Aminuddin (2013: 79) menjelaskan bahwa tokoh merupakan pelaku yang

mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu

cerita. Menurut Zaidan, dkk., (2007: 206), tokoh merupakan orang yang memainkan

peran dalam karya sastra. Dalam hal ini, Nurgiyantoro (2013:247) mengemukakan bahwa

tokoh merujuk pada orang atau pelaku cerita, misalnya menjawab pertanyaan siapakah

tokoh utama novel itu? atau ada berapa orang jumlah tokoh dalam novel itu?. Menurut

Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2013: 247), tokoh cerita dapat disebut dengan istilah

karakter yaitu orang atau orang-orang yang ditampilkan dalam sesuatu karya naratif atau

drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral, dan kecenderungan

tertentu seperti diekspresikan dalam ucapan dan dilakukan dalam tindakan. Dengan

demikian, tokoh cerita atau karakter dibatasi sebagai orang atau pelaku tindakan yang

dalam karya sastra memiliki kualitas pribadi berupa (sifat atau watak) tertentu.

Perwujudan sifat atau watak tersebut diekspresikan dalam ucapan dan dilakukan dalam

tindakan.

Menurut Nurgiyatoro (2013: 258) tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam lima

kriteria atau lima sudut pandang tertentu. Perbedaan kriteria tersebut di antaranya

berdasarkan perannya dalam suatu cerita. Berdasarkan perannya dalam suatu cerita tokoh

dibedakan menjadi dua yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan. Menurut Zaidan, dkk.,

(2007: 207), tokoh utama atau tokoh sentral merupakan tokoh cerita baik pria ataupun

wanita yang memegang peranan terpenting dan menjadi tonjolan setiap persoalan,

sedangkan tokoh tambahan merupakan tokoh yang hanya memegang peranan kecil.

Menurut Suminto (2000: 74), tokoh utama atau tokoh sentral yaitu tokoh yang

mengambil bagian terbesar dalam peristiwa dalam cerita, sedangkan tokoh tambahan
11

yaitu tokoh yang mengambil bagian kecil dalam peristiwa dalam cerita. Nurgiyantoro

(2013: 258) mengatakan bahwa perbedaan tokoh mayor dan minor dapat dilihat dari atau

didasarkan kepada peran dan pentingnya seorang tokoh dalam cerita fiksi secara

keseluruhan. Tokoh yang tergolong penting dan ditampilkan secara terus menerus

sehingga mendominasi sebagian besar cerita maka tokoh tersebut dapat dikategorikan

sebagai tokoh utama cerita (central character).

Dengan demikian, tokoh utama adalah tokoh yang memiliki peran paling banyak

diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh utama

mendominasi cerita, sebaliknya tokoh tambahan merupakan tokoh yang tidak banyak

diceritakan dan tidak banyak melakukan tindakan dan dikenai tindakan. Tokoh tambahan

memiliki porsi yang sedikit. Kehadirannya hanya sebagai pelengkap atau tambahan.

Adapun demikian, para tokoh dalam penelitian ini diarahkan kepada tokoh utama dan

tokoh tambahan.

2. Penokohan

Tokoh-tokoh cerita dengan segala sifat dan kebiasaan tokoh tidak serta merta

hadir dalam sebuah cerita. Tokoh-tokoh tersebut diketahui pembaca lewat alat bantu

dalam penggambarannya atau pelukisannya. Alat bantu penggambarannya atau

pelukisannya tersebut berkaitan erat dengan penokohan. Zaidan, dkk., (2007: 206)

menyatakan bahwa penokohan yaitu proses penampilan tokoh dengan pemberian watak,

sifat atau kebiasaan tokoh pemeran dalam suatu karya sastra. Menurut Nurgiyantoro

(2013: 248), penokohan merujuk pada bagaimana pelukisan (tokoh dan watak) dalam

sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.

Dengan demikian, penokohan berarti pelukisan sifat, sikap, watak serta berbagai hal yang

berhubungan dengan jati diri tokoh dalam suatu karya sastra.


12

Beberapa ahli sastra memiliki istilah yang bermacam-macam untuk menunjukan

pelukisan tokoh dalam suatu karya sastra. Secara umum, pelukisan tokoh dalam suatu

karya sastra dapat dibedakan menjadi dua. Perbedaan itu yaitu yaitu pelukisan langsung

dan pelukisan tidak langsung. Altenbernd dan Lewis (dalam Nurgiyantoro, 2013: 279)

membedakan cara pelukisan tokoh dengan teknik ekspositori (penjelasan) untuk

pelukisan langsung dan teknik dramatik untuk pelukisan tokoh secara tidak langsung.

a. Teknik Ekspositori

Seperti yang telah diungkapkan di atas, Altenbernd menggunakan istilah teknik

penjelasan (ekspositori) untuk teknik pelukisan secara langsung. Dalam hal ini, menurut

Nurgiyantoro (2013: 279-282), teknik ekspositori disebut juga dengan teknik analitis.

Pelukisan tokoh cerita dengan cara ini dilakukan dengan menggambarkan segala hal yang

menyangkut jati diri tokoh dengan uraian atau penjelasan secara langsung. Pengarang

sebagai dalang menghadirkan tokoh cerita kehadapan pembaca dengan jalan

mendeskripsikan kediriaan tokoh berkaitan dengan sifat, sikap, serta ciri fisik tokoh yang

terdapat dalam karya sastra. Dengan demikian, teknik ekspositori merupakan

penggambaran sifat, watak, dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan tokoh secara

langsung. Pengarang memberikan gambaran jati diri tokoh secara langsung. Pengarang

memberitahukan atau menjelaskan secara langsung kepada pembaca perihal kedirian

tokoh, sifat, sikap, serta ciri fisik tokoh yang terdapat dalam karya sastra (novel) dengan

menguraikannya atau memberikan komentarnya.

b. Teknik Dramatik

Altenbernd menggunakan istilah teknik dramatik (dramatic) untuk teknik

pelukisan secara tidak langsung. Menurut Nurgiyantoro (2013: 283) teknik dramatik atau
13

dramatic artinya mirip ditampilkan pada drama, yaitu dilakukan secara tidak langsung.

Pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit atau tersurat sifat dan sikap serta

tingkah laku para tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh menunjukan jati dirinnya

sendiri. Tokoh melalui berbagai aktivitas verbal maupun nonverbal (tindakan) nantinya

secara sendirinya akan dapat diketahui bagaimana kualitas dirinnya. Dalam pelukisan

tokoh melalui teknik dramatik, pengarang membiarkan pembaca mengamati gerak-gerik

para tokoh. Pengarang menyiasati tokoh untuk menunjukan kualitas dirinya sendiri dalam

karya sastra (novel). Penunjukan kualitas diri tokoh dapat dilakukan lewat sejumlah

teknik. Pelukisan tokoh secara tidak langsung (teknik dramatik) dapat dilakukan dengan

berbagai cara. Menurut Nurgiyantoro, 2013: 286-296), pelukisan tokoh secara tidak

langsung yaitu: 1) teknik cakapan; 2) teknik tingkah laku; 3) teknik pikiran; 4) teknik

arus kesadaran; 5) teknik reaksi tokoh; 6) teknik reaksi tokoh lain; 7) teknik pelukisan

latar; 8) teknik pelukisan fisik.

1) Teknik Cakapan

Pada dasarnya, teknik cakapan wujudnya berupa dialog atau cakapan. Teknik

cakapan dimaksudkan menunjukan tingkah laku verbal yang berwujud kata-kata dan atau

dialog para tokoh. Bentuk percakapan dalam sebuah novel umunnya cukup banyak, baik

yang pendek maupun yang panjang. Akan tetapi, semua percakapan tidak selalu

menggambarkan kedirian tokoh. Namun demikian, penggunaan teknik cakapan ini

sebenarnya dapat membongkar segala hal yang berkaitan dengan tokoh bilamana

memang seorang pengarang menunjukannya dengan teknik ini.

2) Teknik Tingkah Laku

Teknik tingkah laku merujuk pada tindakan nonverbal atau fisik. Hal yang

dilakukan tokoh dalam bentuk tindakan dan tingkah laku dipandang sebagai bentuk
14

reaksi, tanggapan, sifat dan sikap yang mencerminkan perwatakan atau kediriannya.

Sama halnya dengan teknik cakapan, tingkah laku atau tindakan dalam cerita fiksi juga

terkadang bersifat netral. Hal ini berarti tidak semua menggambarkan jati diri tokoh.

3) Teknik Pikiran dan Perasaan

Pada intinya, tingkah laku verbal dan nonverbal merupakan perwujudan dari

aktivitas pikiran dan perasaan. Meskipun demikian, orang atau tokoh dapat berlaku yang

tidak sesuai dengan pikiran dan hatinya dalam sebuah cerita. Kepura-puraan tokoh ini

dapat terbongkar dengan penggunaan teknik pikran dan perasaan yang digunakan

pengarang. Pembaca dapat mengetahui tingkah laku tokoh yang tidak sesuai dengan

pikiran dan perasaanya. Dengan teknik ini, hal-hal yang berupa tipu muslihat dan jati diri

tokoh yang tidak sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya dapat diketahui secara pasti

dengan teknik pelukisan ini.

4) Teknik Arus Kesadaran

Teknik ini berkaitan erat dengan teknik pikiran dan perasaan. Keduanya tidak

dapat dibedakan secara pilah, bahkan mungkin dianggap sama. Hal ini karena kedua

teknik ini sama-sama menggambarkan tingkah laku batin seorang tokoh. Menurut

Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2013: 291), arus kesadaran merupakan sebuah teknik

narasi yang berusaha menangkap pandangan, pikiran, perasaan, ingatan, harapan dan

asosiasi-asosiasi acak dan aliran proses mental tokoh. Aliran kesadaran berusaha

mengungkapkan proses kehidupan batin, yang benar hanya terjadi di batin. Arus

kesadaran sering dinamakan dengan monolog batin, percakapan yang hanya terjadi dalam

diri sendiri. Umumnya ditampilkan dengan gaya aku. Penggunaan teknik ini dianggap

sebagai usaha untuk menangkap informasi yang sebenarnya tentang kedirian tokoh.
15

5) Teknik Reaksi Tokoh

Pada dasarnya, teknik ini melihat kecenderungan pada proses aksi-reaksi tokoh.

Teknik reaksi tokoh dapat diartikan sebagai reaksi tokoh terhadap suatu kejadian,

masalah, keadaan, kata dan sikap, tingkah laku orang lain. Seorang tokoh akan mendapat

rangsang terlebih dahulu dari luar. Reaksi tokoh atas rangsangan yang datang pada

dirinya dapat dipandang sebagai suatu bentuk penampilan yang mencerminkan sifat-sifat

kediriannya. Setelah itu, pembaca dapat menafsirkan jati diri tokoh dalam karya sastra

(novel).

6) Teknik Reaksi Tokoh Lain

Teknik ini menggunakan pandangan tokoh lain terhadap tokoh yang ingin

diketahui jati dirinya. Hal ini dikarenakan reaksi tokoh lain dimaksudkan sebagi reaksi

yang diberikan oleh tokoh lain terhadap tokoh utama atau tokoh yang dipelajari

kediriannya. Jati diri dapat berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar dan lain-lain.

Dengan demikian, tokoh lainlah yang memberikan penilaian terhadap tokoh yang sedang

dipelajari. Dalam hal ini, seolah pembaca dipandu untuk mengetahui jati diri tokoh yang

sedang dipelajari. Penilaian ini dapar berupa komentar, deskipsi, dialog, bahkan arus

kesadaran.

7) Teknik Pelukisan Latar

Suasana latar erat kaitannya dengan pelukisan tokoh. Pelukisan latar (tempat)

dapat digunakan sebagai alat bantu mempelajari kedirian tokoh. Hal ini dikarenakan, latar

selalu mengiringi tokoh yang dipelajari kediriaanya. Keadaan latar tertentu dapat

menimbukan kesan yang tertentu yang dapat ditangkap oleh pembaca. Hal ini disebabkan

karakter seorang tokoh dibentuk oleh latar/tempat ia dibesarkan terutama latar sosial.
16

8) Teknik Pelukisan Fisik

Tidak berbeda dengan latar, pelukisan wujud fisik pada hakikatnya untuk

mengintensifkan sifat kedirian tokoh. Keadaan fisik sering dikaitkan dengan keadaan

kejiwaan tokoh. Sebagai contoh, bibir tipis menunjukan tokoh yang ceriwis. Sebenarnya,

teknik lain mampu untuk menunjukan kedirian tokoh. Akan tetapi, teknik ini digunakan

untuk mengefektifkan dan mengonkretkan ciri-ciri kedirian tokoh.

Dengan demikian, teknik dramatik yaitu teknik pelukisan atau penggambaran

suatu tokoh dalam suatu karya sastra secara tidak langsung. Pengarang menggambarkan

jati diri tokoh dengan tidak memberikan komentarnya dalam bentuk ekpsosisi

(penjelasan) atau deskripsi (uraian) secara langsung. Dengan teknik ini, pengarang

menggambarkan jati diri tokoh dengan cara menunjukkan melalui verbal maupun

nonverbal. Penunjukkan kedirian tokoh ini ditunjukkan dengan berbagai aktivitas, ucapan

yang dilakukan oleh para tokoh ataupun berbagai fenomena di sekeliling tokoh. Dengan

demikian, pengarang menunjukkan kedirian tokoh dengan membiarkan pembaca

menyimpulkannya sendiri.

C. Psikologi Sastra

Psikologi berasal dari kata psyche yang diartikan jiwa dan logos berarti ilmu.

psikologi sering diartikan atau diterjemahkan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau

disingkat ilmu jiwa. Psikologi merupakan ilmu yang meneliti serta mempelajari perilaku

atau aktivitas-aktivitas sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Perilaku dapat berupa

perilaku yang menampak dan juga perilaku yang tidak menampak. Hal ini dikarenakan

jiwa itu sendiri tidak tampak, sehingga yang diobservasi ialah perilaku atau aktivitas-

aktivitas yang merupakan manifestasi atau penjelmaan jiwa itu. Jadi, psikologi ada

perilaku dan kehidupan jiwa atau psikis (Walgito, 2010: 1-10). Pada dasarnya, sastra
17

(novel) merupakan institusi sosial yang dalam perwujudannya memakai medium bahasa,

di dalamnya tersaji kehidupan atau rangkaian suatu peristiwa dan sebagian besar berupa

kenyataan sosial.

Secara sepintas, psikologi dan sastra terkesan jauh berbeda, namun keduannya

sama-sama membahas objek yang sama, yaitu manusia. Hanya saja, manusia yang

menjadi objek psikologi merupakan manusia dalam realitas atau kenyataan kehidupan

sedangkan sastra mengkaji manusia di dalam suatu karya sastra. Fenomena kejiwaan

yang ada dalam karya sastra merupakan gejala kejiwaan yang diwujudkan dalam bentuk

tingkah laku atau aktivitas dari manusia yang diperankan oleh para tokoh cerita yang

imajiner. Psikologi mempelajari manusia secara konkret. Akan tetapi, psikologi dan

sastra dapat saling melengkapi untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam

terhadap kejiwaan manusia (Endraswara, 2008: 88).

Suatu karya sastra dalam hal ini novel dipandang sebagai fenomena psikologis

yang menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh atau manusia-manusia

yang ada di dalamnya (Endraswara, 2013: 97). Menurut Saad (via Noor, 2010: 37) sastra

dipandang sebagi produk masyarakat yang sarat pengalaman yang intens, yang

ditunjukan melalui keberadaan jiwa dan perilaku tokoh-tokohnya. Hal ini yang membuat

sastra memerlukan ilmu bantu dalam penerangan, penguraian dan penafisiran terhadap

aspek-aspek kejiwaan manusia yang mewarnai berbagai perilaku atau watak manusia.

Salah satu ilmu bantu tersebut yaitu psikologi dan membentuk interdisipliner psikologi

sastra. Pendekatan psikologi sangat penting dalam penggunaannya sebagai penelitian

karya sastra. Hai ini dikerenakan keduanya memanfaatkan objek yang sama yaitu

menjadikan setiap pengalaman manusia sebagai bahan penelitian (Endraswara, 2008: 15)

Hartoko (via Noor, 2010: 90) menyampaikan bahwa psikologi sastra adalah

cabang ilmu sastra yang mendekati karya sastra dari sudut psikologi. Dalam hal ini,
18

Wiyatmi (2011: 28) mengungkapkan bahwa psikologi sastra merupakan salah satu kajian

sastra yang bersifat antardisiplin. Hal ini dikarenakan memahami dan mengkaji sastra

dengan menggunakan berbagai konsep dan teori yang ada dalam psikologi. Zaidan

mengungkapkan hal yang tidak jauh berbeda. Menurut Zaidan (2007: 159) psikologi

sastra merupakan pendekatan yang bertolak dari psikologi.

Pada dasarnya, psikologi sastra memiliki objek kajian layaknya pendekatan

penelitian yang lain. Menurut Hartoko (dalam Noor, 2010: 90) perhatian psikologi dapat

diarahkan kepada pengarang, pembaca dan karya sastra. Roekhan (Endraswara, 2013:98)

menyampaikan bahwa psikologi sastra ditopang tiga pendekatan sekaligus. Pertama yaitu

pendekatan tekstual. Pendekatan tektual menaruh perhatiannya pada karya sastra yang

berupa teks sehingga dapat disebut tektual. Pendekatan tektual ini mengkaji aspek

psikologis tokoh dal karya sastra Kedua, pendekatan reseptif-pragmatik. Pendekatan ini

mengkaji aspek pembaca sebagai penikmat sastra. Ketiga, pendekatan ekpresif.

Pendekatan ini mengkaji aspek kejiwaaan seorang penulis ketika melakukan proses

kreatif yang terproyeksi lewat karyannya baik penulis sebagai pribadi maupun wakil

masyarakatnya.

Ratna (2013: 343) mengungkapkan bahwa pada dasarnya psikologi sastra lebih

memberikan perhatian mengenai unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang

terkandung dalam karya sastra. Menurut Wiyatmi (2011: 54), untuk melakukan kajian ini

(psikologi sastra), dua cara dapat dilakukan, yaitu pertama, teori-teori psikologi dipahami

terlebih dahulu, kemudian mengadakan analisis terhadap karya sastra. Kedua, objek atau

sasaran penelitian yang terdapat pada sebuah karya sastra ditentukan terlebih dahulu,

kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relevan untuk diterapkan dalam

analisis suatu karya sastra. Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa penelitian

depat dilakukan dengan dua cara yaitu menentukan teori terlebih dahulu kemudian
19

diterapkan pada karya sastra yanga akan dianalisis dan cara yang kedua adalah mencari

fenomena atau objek yang akan dianalisis lalu mencari teori yang dapat membedah objek

yang dijadikan sasaran analisis.

D. Patologi Sosial

Patologi sosial terdiri dari bentuk kata patologi dan sosial. Patologi berasal dari

pathos yang berarti penyakit dan logos berarti ilmu sehingga patologi sosial berarti ilmu

tentang gejala-gejala sosial yang dianggap sakit atau ilmu tentang penyakit masyarakat

(Kartono, 2011: 1). Dalam hal ini, Ahmadi (2009: 44) menyampaikan bahwa patologi

sosial merupakan cabang psikologi yang mempelajari tingkah laku yang menyimpang

dan gangguan kejiwaan. Kartono (2002: 4) menyatakan bahwa patologi sosial merupakan

ilmu tentang penyakit masyarakat atau ilmu tentang gejala-gejala sosial yang dianggap

sakit atau menyimpang dari pola perilaku umum atau ilmu yang membahas tentang

tingkah laku sosial yang dianggap tidak sesuai atau tidak terintegrasi dengan tingkah laku

umum.

Selain itu, menurut Kartono (2010: 1), patologi sosial merupakan semua

tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola

kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga,

disiplin, kebaikan, dan hukum formal. Berdasarkan pendapat di atas, maka patologi

sosial memiliki dua arti. Pertama, patologi sosial diartikan sebagai ilmu pengetahuan dan

arti yang kedua berarti tingkah laku masyarakat yang dianggap sakit. Penelitian ini lebih

membatasi pada definisi yang kedua yaitu tingkah laku sosial yang sakit atau abnormal

yang secara umum diwujudkan dalam bentuk tingkah laku- tingkah laku yang

menyimpang ataupun bertentangan dengan norma kebaikan dan hukum formal. Dengan

demikian, patologi sosial yaitu segala tingkah laku manusia yang dianggap tidak sesuai
20

dengan tingkah laku umum, menyimpang ataupun bertentangan (berlawanan) dengan

norma kebaikan, moral, dan hukum formal sehingga mencerminkan keadaan masyarakat

yang sakit atau abnormal dalam suatu masyarakat.

Suatu hal disebut sebagai penyakit sosial murni dengan ukuran moralistik.

Dengan demikian, kejahatan, pelacuran, alkoholisme, kecanduan, perjudian dan tingkah

laku yang berkaitan dengan semua peristiwa tadi dinyatakan sebagai gejala penyakit

sosial (dalam Kartono (2011: 1). Ukuran moralistik tersebut diperluas cakupannya

sehingga hal-hal (tingkah laku atau tindakan) yang bertentangan, menyimpang, tidak

sesuai dengan norma kebaikan, moral, hak milik dan hukum formal, maka hal tersebut

dapat disebut sebagai penyakit sosial atau patologi sosial. Adapun demikian, menurut

Chaeruddin dkk., (2008: 6) yang dimaksud tingkah laku yang bersifat melawan atau

bertentangan dengan hukum formal adalah perbuatan yang bertentangan dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jadi, segala tindakan yang tergolong

bertentangan dengan moral, hukum formal atau peraturan perundang-undangan legal, hak

milik dan dianggap menyimpang merupakan bentuk dari tindak patologi sosial. Peneliti

akan mengurai lebih lanjut menyenai bentuk tindak patologi sosial yaitu sebagai berikut:

1. Korupsi

Menurut (Chaeruddin, 2009: 6) perluasan perumusan UU. No 20 Tahun 2001

tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menegaskan bahwa korupsi bertentangan

dengan hukum dalam arti formil atau hukum formil. Menurut Siahaan (2013: 34), korupsi

adalah perbuatan yang bertentangan dengan hukum yang dapat merugikan keuangan

negara untuk dimiliki sendiri orang lain atau suatu badan negara serta dapat memiskinkan

rakyat. Kartono (2011: 90) menyatakan bahwa korupsi merupakan tingkah laku individu

yang menggunakan wewenang dan jabatan guna mengeduk keuntungan pribadi serta dan

merugikan kepentingan negara. Dengan demikian, korupsi merupakan tindakan yang


21

berupa penyalahgunaan wewenang atau salah urus dan salah pakai dari kekuasaan oleh

pihak-pihak yang memilikinya untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya dalam hal

mengeduk keuntungan, sehingga dapat merugikan negara dan masyarakat umum.

Salah satu subjek tindak korupsi adalah pejabat atau pegawai negeri. Pegawai

negeri merupakan orang-orang yang diangkat oleh pemerintah untuk melaksanakan tugas

negara atau sebagaimana dari tugas negara atau alat-alat pelengkapnnya dan diberikan

sustu pekerjaan yang dianggap umum Raad (via Chazawi, 2001: 41). Dalam UU No. 20

Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, pegawai negeri itu meliputi:

pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam UU kepegawaian, pegawai negeri

sebagaimana dimaksud dalam KUHP, orang yang menerima gaji dari keuangan negara

atau daerah, orang yang menerima gaji dari korporasi yang menerima bantuan dari

keuangan negara atau daerah atau orang yang menerima gaji dari korporasi lain yang

mempergunakan modal dan fasilitas dari negara (Siahaan, 2013: 28).

Dalam hal ini, Seidman (dalam Bakhri, 2009: 281) menyampaikan bahwa

korupsi memiliki beberapa macam bentuk. Bentuk korupsi itu di antaranya sebagai

berikut:

a. Penyuapan (bribery), yaitu suatu tindakan apabila pejabat menerima sejumlah nilai

yang dipertukarkan dengan suatu tindakan-tindakan tertentu demi keuntungan pihak

yang membayar.

b. Penggelapan (embezzlement), yaitu bilamana pejabat mengambil sejumlah kekayaan

dari sumber dana yang dipercayakan kepadanya.

c. Spekulasi (speculation), yaitu bilamana pejabat menggunakan kewenangan resminya

untuk membeli barang atau jasa dengan harga yang murah dan kemudian

menjualnnya, dengan keuntungan mendapat keuntungan bagi dirinnya sendiri

maupun orang lain.


22

d. Dukungan dan nepotisme (patronage and nepotisme) yaitu suatu keadaan di mana

pejabat menggunakan kewenangan resminya untuk memberikan pekerjaan dengan

tujuan anggota keluarga dan temannya bukan untuk kepentingan organisasi yang

mempekerjakannya.

e. Benturan kepentingan (conflict of interest), yaitu suatu keadaan di mana pejabat baik

sadar ataupun tidak sadar menggunakan diskresinnya yang sah untuk membuat

keputusan untuk kepentingan sendiri.

Dalam hal ini, Kartono (2011: 92) mengungkapkan bahwa praktik-praktik yang

dapat dikategorikan tindakan korupsi yaitu penggelapan, penyogokan, penggunaan

kekuatan hukum atau kekuatan bersenjata untuk imbalan dan upah materil, barter

kekuasaan politik dengan sejumlah uang, penjualan pengampunan pada oknum-oknum

yang melakukan tindak pidana agar tidak dituntut oleh yang berwajib dengan imbalan

agar tidak dituntut oleh yang berwajib dengan imbalan uang suap.

Menurut Hehamahua (dalam Maryanto, 2012:4) penyebab terjadinya korupsi itu

di antaranya sebagai berikut:

a. Pejabat yang Serakah

Pola hidup konsumerisme yang dilahirkan oleh sistem pembangunan mendorong

pejabat untuk menjadi kaya secara instan sehingga lahirlah sikap serakah. Pejabat

menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, melakukan mark up proyek-proyek

pembangunan bahkan berbisnis dengan pengusaha.

b. Law Enforcement Tidak Berjalan

Aparat penegak hukum bisa dibayar mulai dari polisi, jaksa, hakim, dan

pengacara, maka hukuman yang dijatuhkan kepada para koruptor sangat ringan sehingga

tidak menimbulkan efek jera bagi koruptor, bahkan tidak menimbulkan rasa takut,

sehingga pejabat dan pengusaha tetap melakukan proses korupsi, kolusi dan nepotisme.
23

c. Tidak Ada Keteladanan Pemimpin

Di Indonesia, pemimpin tidak bisa dijadikan teladan, maka bukan saja

perekonomian negara yang belum recovery bahkan tatanan kehidupan berbangsa dan

bernegara makin mendekati jurang kehancuran.

2. Penganiayaan

Chazawi (2001: 7) mengungkapkan bahwa kejahatan terhadap tubuh atau badan

yang dilakukan dengan sengaja disebut dengan penganiayaan atau misbandeling.

Penganiayaan merupakan perwujudan kejahatan terhadap tubuh manusia. Hal ini karena

objek yang diserang merupakan tubuh. Penganiayaan ini merupakan penyerangan atas

tubuh atau bagian dari tubuh yang mengakibatkan rasa sakit atau luka yang dilakukan

dengan sengaja. Jadi, hal-hal (perbuatan kekerasan) yang dilakukan dengan segaja dan

menimbulkan sakit atau luka pada tubuh seseorang dapat disebut dengan sebagai

perbuatan penganiayaan.

Menurut Lamintang dan Theo Lamintang (2012: 132), penganiayaan merupakan

kesengajaan berupa perbuatan atau tindakan yang dapat menimbulkan rasa sakit atau

menimbulkan luka pada tubuh orang lain yang menerimanya. Seseorang dapat dikatakan

melakukan penganiayaan terhadap orang lain jika orang tersebut melakukan

perbuatannya dengan disertai opzet atau kesengajaan atas perbuatan yang dilakukan

pelaku ditujukan untuk menyakiti atau melukai yang berupa perbuatan yang (disengaja)

menimbulkan rasa sakit pada orang lain, luka pada tubuh orang lain atau merugikan

kesehatan kepada orang lain. Dalam hal ini, menurut Chazawi (2001: 7-8) penganiayaan

dapat dibedakan menjadi enam macam yaitu: a. penganiayaan biasa; b. penganiayaan

ringan; c. penganiayaan berencana; d. penganiayaan berat; e. penganiayaan berat

berencana.
24

a. Penganiayaan biasa

Penganiayaan ini merupakan suatu bentuk penganiayaan yang menimbulkan

luka. Luka yang dimaksud dalam penganiayaan biasa merupakan luka yang harus berupa

luka ringan. Luka ringan ini menimbulkan penyakit atau luka yang menyebabkan

halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian. Dalam hal ini, luka

diartikan terdapatnya atau terjadinya perubahan dari tubuh, atau menjadi lain dari rupa

semula sebelum perbuatan itu dilakukan, misalnya bengkak pada pipi. Menimbulkan

halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian itu dapat diartikan

seseorang tersebut menjadi terhalang untuk mendapat pemasukan dari pekerjaannya.

b. Penganiayaan ringan

Penganiayaan ini merupakan penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit

atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian artinya tidak

menimbulkan halangan terhadap pegawai negeri. Penganiayaan ringan ini menimbulkan

rasa sakit saja artinya tidak menimbulkan bekas luka. Contoh penganiayaan jenis ini yaitu

menendang pantat seseorang. Penganiayaan jenis ini tidak menimbulkan penyakit artinya

tidak mendatangkan penyakit fisik atau gangguan organ tubuh manusia.

c. Penganiayaan berencana

Penganiayaan ini merupakan penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu yang

tidak berakibat luka berat atau kematian. Hal ini dapat berarti bahwa kesengjaan petindak

tidak ditujukan pada akibat luka berat dan atau kematian namun hanya menyengaja untuk

menyebabkan luka ringan dengan dilakukan secara berencana terlebih dahulu (Chazawi,

2001: 26-29).

d. Penganiayaan berat

Penganiayaan ini merupakan penganiayaan yang sengaja untuk menimbulkan

luka berat yang diterangkan dalam pasal 90. Rumusan pasal 90 tersebut yaitu jatuh
25

sakit/luka yang tidak akan sembuh sama sekali, tidak mampu terus menerus untuk

menjalankan tugas jabatan/pencaharian, kehilangan salah satu panca indra, cacat berat,

menderita sakit lumpuh, terganggunya daya pikir, gugurnya kandungan seorang

perempuan (Moeljatno, 2014: 36).

e. Penganiayaan berat berencana

Penganiayaan ini merupakan bentuk penganiayaan berat yang dilakukan dengan

rencana terlebih dulu (dalam Chazawi, 2001: 35). Hal ini berarti penganiayaan berat

berencana dapat terjadi apabila petindak menyengaja untuk melukai seseorang sehingga

seseorang terkena luka berat pada tubuh orang itu (sebagaimana penganiayaan berat

dalam pasal 90 yaitu jatuh sakit atau luka yang tidak akan sembuh sama sekali, tidak

mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pencaharian, kehilangan

salah satu panca indra, cacat berat, menderita sakit lumpuh, terganggunya daya pikir,

gugurnya kandungan seorang perempuan) melainkan juga direncanakan terlebih dahulu

oleh pelaku.

3. Pembunuhan

Pembunuhan atau perbuatan membunuh merupakan suatu perbuatan yang

bertentangan dengan hukum tertulis dan telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum

Pidana Bab XIX yaitu tentang kejahatan terhadap nyawa. Menurut (Chazawi, 2001: 56-

57), pembunuhan merupakan kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan dengan

sengaja dan mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Pada dasarnya pembunuhan

merupakan perwujudan dari kejahatan terhadap nyawa. Kejahatan terhadap nyawa adalah

penyerangan terhadap nyawa orang lain. Objek kejahatan ini adalah nyawa manusia.

Pembunuhan ini memiliki 3 syarat yang harus dipenuhi yaitu adanya wujud perbuatan,

suatu kematian orang lain dan hubungan kausalitas antara perbuatan dengan akibat
26

kematian atau hilangnya nyawa orang lain. Lamintang & Theo Lamintang (2014:1)

menyampaikan bahwa untuk menghilangkan nyawa orang lain tersebut, pelaku harus

melakukan sesuatu atau suatu rangkaian tindakan yang berakibat meninggalnya orang

lain dengan catatan bahwa opzet atau kesengajaan atas perbuatan yang dilakukan pelaku

ditujukan untuk membunuh. Perbuatan ini terdiri dari: a. pembunuhan biasa dalam bentuk

pokok (doodlag); b. pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului dengan tindak

pidana lain; c. Pembunuhan berencana (moord); d. pembunuhan ibu terhadap bayinya

pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan (Chazawi, 2001: 56).

a. Pembunuhan biasa dalam bentuk pokok (doodlag)

Pembunuhan ini merupakan kejahatan terhadap nyawa yang dilakukan dengan

sengaja dan dimuat dalam pasal 338 KUHP (Chazawi, 2001: 56). Rumusan KUHP pasal

338 tersebut adalah barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam,

karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama 15 tahun" (Moeljatno,2014:122).

b. Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului dengan tindak pidana lain

Pembunuhan ini merupakan kejahatan terhadap nyawa dengan maksud untuk

mempersiapkan dan mempermudah tindak pidana lain. Pembunuhan ini ditujukan untuk

menghindarkan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana atau untuk memastikan

diri penguasaan benda yang diperolehnya. Pembunuhan ini dimuat dalam KUHP Pasal

339 (Chazawi, 2001: 70). Adapun demikian, rumusan KUHP Pasal 339 yaitu:

"Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu tindak pidana yang
dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah
pelaksanaannya, atau untuk menghindarkan diri sendiri maupun peserta lainnya
dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan
benda yang diperolehnya secara melawan hukum (Moeljatno, 2014: 123).

c. Pembunuhan berencana (moord)

Pembunuhan ini merupakan pembunuhan yang terlebih dahulu direncanakan.

Pembunuhan ini mengandung 3 syarat atau unsur, yaitu memutuskan kehendak dalam
27

suasana tenang, ada tersedia waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak sampai

pelaksanaan kehendak, dan pelaksanaan kehendak (perbuatan) dalam suasana tenang.

Pembunuhan berencana merupakan pembunuhan yang paling berat dan dimuat dalam

KUHP pasal 340 (Chazawi, 2001: 70). Rumusan KUHP Pasal 339 adalah barang siapa

sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena

pembunuhan dengan rencana (moord) dengan pidana mati (Moeljatno, 2014: 123).

Menurut Dariyo (2013:15-16), penyebab terjadinya pembunuhan yaitu:

a. Mendapatkan Uang

Uang menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi seseorang. Hal ini dikarenakan,

uang dapat memenuhi segala kebutuhan hidup seseorang. Hal ini menyebabkan uang atau

harta menjadi penyebab terjadinya pembunuhan.

b. Pelampiasan Dendam

Salah satu sebab terjadinya pembunuhan adalah faktor pelampiasan dendam. Orang yang

merasa dendam maka kondisi jiwanya tak stabil hidupnya tak merasa tenang. Cara

melampiaskan dendam yang buruk dapat dilakukan dengan mengorbankan orang lain

sehingga dapat memunculkan tindak kejahatan berupa pembunuhan.

4. Tindak Pemaksaan

Tindak pemaksaan merupakan suatu perbuatan yang dapat dikategorikan

bertentangan dengan hukum secara formal. Hal ini dikarenakan perbuatan ini

bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tindakan ini

merupakan suatu perbuatan yang merugikan masyarakat dan menghambat terlaksananya

pergaulan masyarakat yang dianggap adil, bertentangan dengan hak milik, solidaritas

kekeluargaan, serta hidup rukun bertetangga. Pada dasarnya, tindak pemaksaan


28

merupakan bagian dari kejahatan terhadap kemerdekaan orang. Perilaku ini diatur dalam

bab XVIII pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP. Rumusan pasal tersebut adalah

Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan,
tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau
dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun yang tak
menyenangkan, atau dengan ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun
perlakuan yang tidak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun
orang lain (Moeljatno, 2014:122).

Menurut Fitrianggraeni (https://www.linkedin.com), setelah adanya putusan

Mahkamah Konstitusi Nomor 1/PUU-XI/2013, Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP

selengkapnya berbunyi:

Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan,
tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau
dengan memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun
orang lain.

Hal tersebut menunjukkan bahwa frasa sesuatu perbuatan lain maupun yang tak

menyenangkan telah dihapus dikarenakan dengan adannya frasa tersebut batasannya

menjadi kabur. Menurut Kossah (2012: 9), pasal 335 KUHP jelas bukan merupakan

perbuatan tidak menyenangkan, melainkan merupakan tindak pidana pemaksaan.

Dalam hal ini, suatu tingkah laku dapat dikatakan sebagai tindak pemaksaan bilamana

telah memenuhi unsur-unsur dalam pasal 335. Pertama, yang harus dibuktikan dalam

pasal ini adalah orang atau barangsiapa adalah pihak yang melakukan perbuatan

memaksa orang lain. Kedua, yang harus dibuktikan dalam pasal ini adalah bahwa ada

orang yang dipaksa dan memaksa untuk melakukan sesuatu, tidak melakukan sesuatu

atau membiarkan sesuatu. Selanjutnya, yang harus dibuktikan dalam pasal ini adalah ada

perbuatan memaksa orang lain dengan kekerasan atau ancaman kekerasan (dalam

Kossah, 2012: 10)