Anda di halaman 1dari 4

Dalam dunia botani, tumbuhan rotan termasuk dalam famili palmae.

Famili atau suku


palmae ini adalah salah satu kelompok tumbuhan berbunga dari sekitar ratusan famili
tumbuhan berbunga lainnya yang ada di muka bumi. Nama yang sering digunakan untuk famili
ini ialah suku pinang-pinangan, Palmae, atau Arecaceae (Jasni & Supriana, 2000). Rotan
adalah tumbuhan yang merambat di pohon-pohon penopang dengan bantuan duri-duri pengait
yang terdapat pada ujung tungkai daun. Rambatan ini tidak saja pada pohon penompangnya
akan tetapi juga pada pohon sekitarnya (Simamora & Bintoro, 2015).

Sifat fisika merupakan sifat materi yang dapat dilihat secara langsung dengan indra.
Sifat fisika antara lain wujud zat, warna, bau, titik leleh, titik didih, massa jenis, kekerasan,
kelarutan, kekeruhan, dan kekentalan (Tellu, 2008). Sifat mekanik adalah salah satu sifat
penting, karena sifat mekanik menyatakan kemampuan suatu bahan (termasuk juga komponen
yang terbuat dari bahan tersebut) untuk menerima beban/gaya/energi tanpa menimbulkan
kerusakan pada bahan/komponen tersebut. Sifat-sifat mekanik bahan merefleksikan hubungan
antara pembebanan yang diterima suatu bahan dengan reaksi yang diberikan atau deformasi
yang akan terjadi (Nikmatin, et. al, 2015).

Sifat fisika dan Mekanika adalah indicator yang penting untuk kekuatan dan bahkan
mutu rotan. Sifat-sifat ini berbeda untuk tiap jenis rotan sehingga ia menjadi karakter suatu
jenis rotan. Secara mendasar nilai sifat fisika dan Mekanika rotan ditentukan oleh susunan dan
orientasi sel penyusun dan komposisi kimia rotan sifat Fisika dan Mekanika rotan.

1. Sifat fisis

Sifat fisis dan mekanis adalah indikator yang penting untuk menentukan perilaku
penampakkan, kekuatan dan bahkan mutu rotan. Sifat sifat ini berbeda untuk tiap jenis
rotan sehingga ia menjadi karakter suatu jenis rotan. Secara mendasar nilai sifat fisis
mekanis rotan ditentukan oleh susunan dan orientasi sel penyusunan dan komposisi
kimia rotan. Sifat fisis mekanis rotan diuraikan sebagai berikut.

a. Kadar air

Dalam penggunaan rotan sebagai bahan baku industri, sangat penting untuk
mengetahui, bagaimana air berada dan bergerak di dalam bahan rotan. Hal ini
karena hampir semua sifat rotan dan produk rotan dipengaruhi oleh keberadaan air
dalam rotan. Pada saat rotan ditebas di hutan, kandungan airnya sangat tinggi
bahkan dapat melebihi berat zat rotannya. Ketika rotan dalam keadaan segar, yaitu
rotan yang baru ditebas, air dalam bentuk cairan berada dalam rongga sel, dinding
sel dan ruang antar sel rotan. Beberapa waktu setelah rotan ditebas jumlah air yang
ada dalam rotan akan terus berkurang sampai air hanya terdapat dalam dinding sel
dan uap airjenuh dalam rongga sel serta ruang antar sel. Keadaan ini disebut
sebagai titik jenuh serat (TJS). Setalah melewati titik jenuh serat, jumlah air akan
terus berkurang sampai tercapai keseimbangan dengan kelembaban udara di
sekelilingnya. Di Indonesia kandungan air tersebut berkisar 14 20% dari berat
rotan kering (tanpa air), tergantung pada kondisi lingkungan di mana rotan tersebut
berada. Banyaknya air dalam sepotong rotan dibandingkan dengan berat rotan
keringnya dan dinyatakan dalam persen disebut sebagai kadar air. Rotan segar
adalah rotan yang baru dipanen dengan kadar air melebihi 100%. Biasanya, terdapat
pada rotan yang baru ditebas. Rotan basah adalah rotan dengan kadar air di atas titik
jenuh serat, biasanya dibawah 100% dan di atas rotan kering udara. Nilai kadar air
rotan pada saat titik jenuh serat belum diketahui secara pasti. Nilai ini diduga sekitar
30%. Rotan kering udara atau disebut juga rotan kering adalah rotan dengan kadar
air 14 20% dan merupakan kadar air keseimbangan dengan kelembaban udara
atau keadaan cuaca di sekitar tempat rotan tersebut berada (Tellu, 2008).

b. Berat jenis

Berat jenis (specific gravity) adalah salah satu sifat fisik yang paling penting
karena akan sangat mempengaruhi sifat kekuatan, kembang susut, sifat menyerap
bahan kimia dan finishing serta sifatsifat lain dalam pengolahan dan penggunaan.
Rotan berat, sedang atau ringan berkaitan dengan berat jenis yang tinggi, sedang
atau rendah. Rotan dengan berat jenis yang terlalu tinggi atau terlalu rendah tidak
disenangi karena terlalu kaku/ jeras atau terlalu lemah/ lunak. Berat jenis rotan
dipengaruhi pula oleh sebaran ikatan pembuluh (KIP). Semakin tinggi sebaran KIP
semakin tinggi BJ rotan, tetapi sebaran yang terlalu tinggi dan terlalu rendah
biasanya kurang disukai Di lapangan sering dipakai istilah kerapatan rotan yang
pada hakekatnya sama dengan BJ (Jasni & Roliadi, 2011).

2. Sifat mekanika
a. Keteguhan Lentur Static

Keteguhan lentur Static adalah ukuran kemampuan rotan menahan beban


lentur yang mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk. Perubahan dapat berupa
pelengkungan (bending), perpanjangan (tensile) atau torsi (beban putar). Tingkat
perubahan bisa sampai batas elastis dan sampai maksimum. Batas elastis diartikan
apabila perubahan bentuk yang terjadi akibat pembebanan akan kembali ke bentuk
semula jika beban dilepaskan. Sedangkan, batas maksimum adalah bila perubahan
bentuk akibat pembebanan tidak kembali ke bentuk semula jika beban dilepaskan.
Grafik hubungan pembebanan dan perubahan bentuk (stressstrain) dalam uji
lengkung (bending) pada kayu berbeda dengan rotan. Setelah mencapai batas
lengkungan (deflection) maksimum, kayu akan mengalami patah Sedangkan, pada
rotan tidak mengalami patah melainkan pertambahan lengkungan tidak lagi
menyebabkan kenaikan beban Titik maksimum, pada beberapa jenis rotan dicapai
pada lengkungan sekitar 25 mm (Lukman & Zulnely, 2017).

b. Keteguhan Tekan Sejajar Serat

Keteguhan Tekan (Compression stregth) Keteguhan tekan suatu jenis rotan


adalah kekuatan rotan untuk menahan muatan jika rotan itu dipergunakan untuk
tujuan tertentu. Dalam hal ini dibadakan dua macam tekan, yaitu tekan tegak lurus
arah serat dan yekan sejajar arah serat. Keteguhan tekan tegak lurus serat
menentukan ketahanan rotan terhadap beban. Ketegukan ini mempunyai hubungan
juga dengan kekerasan rotan dan keteguhan geser. Keteguhan tekan tegak lurus arah
serat pada semua rotan lebih kecil dibandingkan keteguhan sejajar arah serat (Jasni
& Supriana, 2000).

Daftar Pustaka

Jasni, D. M., & Supriana, N. 2000. Sari Hasil Penelitian Rotan. Bogor : Puslitbang Hasil
Hutan.
Simamora, T. T. H., & Bintoro, A. 2015. IDENTIFICATION OF LIANA AND ITS
CANTILEVER PLANT SPECIES AT PROTECTION BLOCK OF WAN ABDUL
RACHMAN GREAT FOREST PARK. Jurnal Sylva Lestari, 3(2): 31-42
Tellu, A. T. 2008. Sifat kimia jenis-jenis rotan yang diperdagangkan di propinsi Sulawesi
Tengah. Biodiversitas, 9(2), 108-111.
Nikmatin, S., Sudirman, L. I., & Kurniati, M. 2015. Pengembangan Teknologi Proses
Produksi Bionanokomposit Filler Biomassa Rotan. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 19(3),
163-168.
Jasni, J., & Roliadi, H. 2011. Daya Tahan 16 Jenis Rotan terhadap Bubuk Rotan (Dinoderus
minutus Fabr.). Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 29(2), 115-127.
Lukman, A. H., & Zulnely, Z. 2017. PENGOLAHAN TIGA JENIS ROTAN DENGAN
MENGGUNAKAN BERBAGAI KOMPOSISI CAMPURAN MINYAK PEMASAK. Jurnal
Penelitian Hasil Hutan, 17(3), 169-177.